Anda di halaman 1dari 6

SAMBUTAN

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA


PADA
PERESMIAN MONUMEN PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN
NKRI
DI MABES TNI, CILANGKAP, JAKARTA
TANGGAL 22 JULI 2013

Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Saudara Wakil Presiden, para Tamu Undangan dan para
Sesepuh TNI dan Polri yang saya muliakan,
Panglima TNI dan Kapolri beserta Jajaran TNI dan Polri yang
saya cintai dan saya banggakan,

Alhamdulillah, hari ini, seraya menjalankan ibadah puasa di


bulan suci Ramadan ini, kita dapat hadir di tempat ini untuk
menghadiri satu acara yang penting, yaitu peresmian Monumen
Perjuangan Mempertahankan NKRI. Kita telah mendengar apa
yang telah disampaikan oleh Panglima TNI tadi, latar belakang,

tujuan, dan pelaksanaan pembangunan monumen yang insya


Allah akan segera kita resmikan pada sore hari ini.

Hadirin sekalian yang saya hormati,


Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati para
pahlawan, para pejuang, dan para pendahulunya. Sedangkan
bangsa yang cerdas adalah bangsa yang bisa memetik pelajaran
dari apa yang dialami di masa lalu untuk kepentingan yang baik di
masa depan. Oleh karena itu, kita terus membangun diri agar
bangsa Indonesia benar-benar menjadi bangsa yang besar dan
bangsa yang cerdas. Kegiatan hari ini atau dibangunnya
monumen ini adalah bagian dari upaya kita, upaya bersama agar
bangsa kita menjadi bangsa yang besar dan bangsa yang cerdas.
Kita sering mendengar ucapan di antara kita bahwa seolah
generasi muda kita kurang memahami sejarah, kurang
memahami apa yang dilakukan oleh para pendahulupendahulunya. Kalau ini benar, mari kita telaah mengapa itu
terjadi, apakah karena perubahan zaman dengan segala sistem
nilai yang berlaku baik pada tingkat dunia maupun pada tingkat
nasional, atau kita justru harus melakukan upaya yang lebih agar
generasi muda, agar anak-anak kita benar-benar mengerti
sejarah negerinya sendiri. Oleh karena itu, ada satu keperluan
agar kita melalui pendidikan dan berbagai upaya, benar-benar
memastikan generasi bangsa apa pun selalu mengerti dan
memahami sejarah bangsanya sendiri.
Kita bisa menerbitkan buku-buku, kita bisa membuat film
dokumentasi ataupun apa pun yang kira-kira mengarah kepada
pencapaian tujuan itu. Saya berpendapat, pembangunan
museum dan monumen dengan segala pengelolaannya,
sebagaimana yang akan kita resmikan hari ini, juga patut kita
letakkan agar generasi muda Indonesia masa kini dan masa

depan benar-benar mengerti perjalanan bangsanya, termasuk


sejarah perjuangan di dalam mempertahankan kemerdekaan itu.
Saudara-saudara, Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Kita ingat, ketika pada tanggal 20 Mei tahun 2002, TimorTimur yang sekarang menjadi Timor Leste lepas dari bagian
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ada satu pemikiran
bagaimana kita mengenang perjuangan dan pengorbanan
banyak prajurit yang waktu itu mengemban tugas di Timor-Timur.
Itulah sebabnya pada waktu itu era kepemimpinan Ibu Megawati
Soekarnoputri, kita berembuk, sebagian ada di sini ikut hadir
dalam acara ini, bagaimana kita bisa menghadirkan satu tempat
di mana para keluarga prajurit yang gugur di Timor-Timur bisa
datang, bisa melihat nama-nama yang disayanginya, yang telah
mengorbankan jiwa dan raganya di Timor-Timur. Akhirnya,
lahirlah gagasan untuk mendirikan Monumen Seroja yang
sekarang berdiri megah di pelataran Cilangkap ini.
Pada masa berikutnya lagi, ketika saya mengemban tugas
sebagai Presiden, terpikir oleh kita semua waktu itu, mengapa
tidak sekaligus kita bangun dua peristiwa bersejarah yang amat
besar, yang kita kenal dengan perjuangan atau Operasi Trikora
dan kemudian perjuangan dan Operasi Dwikora. Alhamdulillah,
kedua monumen itu juga bisa dihadirkan di tempat ini.
Yang terakhir, beberapa tahun yang lalu, kami berdiskusi
kembali. Muncul gagasan, mengapa tidak kita lengkapi justru
periode awal ketika negara ini diproklamasikan dan kemudian
ketika kita berusaha untuk mempertahankan kemerdekaan itu
dari berbagai rongrongan dan ancaman. Maka lahirlah ide ini,
untuk mendirikan monumen yang juga paling penting untuk kita
ingat bersama, yaitu sebenarnya episode perang kemerdekaan
dan berbagai operasi militer untuk mempertahankan Negara
Kesatuan Republik Indonesia, yang namanya tadi telah

disampaikan oleh Panglima TNI, yaitu Monumen Perjuangan


Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kita berharap, Bapak-Ibu dan Hadirin sekalian yang saya
muliakan, rakyat kita bisa kita undang untuk berkunjung ke
tempat-tempat ini. Bahkan, barangkali bagi Panglima TNI, para
Kepala Staf Angkatan, Kapolri juga bisa menghadirkan para siswa
di jajarannya masing-masing juga untuk berkunjung ke tempat ini.
Tentu bukan sekadar berkunjung, tapi bagian dari studi mereka.

Bapak-Ibu, Hadirin yang saya muliakan,


Ada satu hal yang ingin saya kedepankan pada kesempatan
yang baik ini, yaitu korelasi antara politik dan militer. Kita tahu
bahwa keputusan untuk perang adalah keputusan politik. Dalam
Undang-Undang Dasar dan undang-undang yang berlaku, klausul
itu sekarang makin dipertegas. Sedangkan berperang adalah misi
dari sebuah angkatan bersenjata atau angkatan perang yang di
Indonesia kita kenal sekarang Tentara Nasional Indonesia. Oleh
karena itu, apa pun pertimbangan politik yang melatarbelakangi
dan yang mendorong dilaksanakannya peperangan itu, bagi
prajurit, bagi tentara yang mengemban tugas pertempuran itu,
hakikatnya mereka adalah pahlawan, dan tidak boleh disalahkan
mereka-mereka yang berjuang dan berkorban itu oleh urusan
politik yang melandasi dan mendorong dilaksanakannya
peperangan itu. Tentu yang penting, sebagaimana yang berlaku
secara universal, para prajurit yang mengemban tugas itu tentu
tidak terlibat dalam kejahatan perang yang itu juga diatur di dalam
ketentuan internasional dan ketentuan yang berlaku di negeri kita
sendiri.
Kalau kita memetik pelajaran dari semua peristiwa yang ada
di pelataran Cilangkap ini, mulai dari monumen ini, Monumen
Trikora, Monumen Dwikora, dan Monumen Seroja, maka juga ada

keperluan untuk memastikan. Karena kedaulatan adalah harga


mati, NKRI tidak bisa kita kompromikan, maka Indonesia
memerlukan tentara yang kuat dan modern. Alhamdulillah, ketika
perekonomian kita pada tahun-tahun terakhir ini tumbuh baik,
anggaran negara juga meningkat, maka kita bisa mengalokasikan
anggaran pertahanan lebih banyak lagi. Oleh karena itulah, lima
tahun terakhir ini, kita lakukan modernisasi alutsista dan
pembangunan kekuatan militer secara lebih signifikan, agar sekali
lagi tentara kita benar-benar menjadi tentara yang kuat dan
modern, yang bisa mengemban tugas yang telah diamanatkan
oleh konstitusi kita dan oleh bangsa dan negara kita.

Bapak-Ibu, Hadirin sekalian yang saya muliakan,


Saya tidak ingin menjelaskan apa saja yang ada dalam
monumen ini karena Panglima TNI sudah menjelaskan, dan nanti
ketika kita meninjau monumen ini, saya yakin akan dipandu
penjelasan dari palagan demi palagan, adegan demi adegan.
Oleh karena itu, saya akan akhiri sambutan saya ini dengan
mengatakan bahwa demi penghormatan, penghargaan, dan
ucapan terima kasih kepada para pahlawan dan pejuang bangsa,
baik yang telah dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa maupun
yang masih bersama-sama kita sekarang ini, demi terpeliharanya
jiwa dan semangat kepejuangan di negeri tercinta ini, dan demi
pembelajaran yang dapat kita petik dalam upaya meningkatkan
pertahanan dan keamanan negara di masa kini dan masa depan,
maka dengan terlebih dahulu memohon ridho Allah SWT dan
dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Monumen
Perjuangan Mempertahankan NKRI dengan resmi saya nyatakan
dimulai penggunaannya.
Sekian.
Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.