Anda di halaman 1dari 3

Hubungan antara acne dan intake produk susu dan karbohidrat dengan

indeks glikemik yang tinggi: sebuah studi kasus terkontrol

Pendahuluan
Acne adalah penyakit kulit kronik inflamasi yang sering muncul pada remaja
dan berlanjut sampai dewasa. Diperkirakan ada lebih dari 45 juta orang di amerika
serikat menderita acne vulgaris (Lehmann et al, 2002). Prevalensi acne berbedabeda di berbagai negara dan masyarakat dengan nilai 0 sampai 90% (ghodsi et al,
2006). Remaja-remaja di Tehran, Ardabil, Hamedan, Mashhad dilaporkan menderita
acne sebesar 91%, 87.3%, 79.7% dan 78.5% (Ghodsi et al, 2006; Ansar et al, 2007;
Edalatkhah et al, 2002; Moein et al, 1995). Penyakit konsekuensinya jauh melebihi
gejala yang terbatas dan nampak pada wajah dan hal ini janganlah diaggap sepele.
Keadaan ini bisa memberi dampak kepada psikologis seseorang, termasuk
hilangnya kepercayaan diri, menjauhkan diri dari masyarakat, depresi, kebingungan
dan rasa malu (Koo, 1995; Gaputa, 1990). Meningkatnya hormon androgen pada
masa puber adalah faktor yang paling penting dalam insiden acne. Androgen atau
testosterone adalah hormon pria yang bisa menyebabkan peningkatan produksi
minyak dan keratosis (James WD, 2005). Penyebab lain dari acne adalah keturunan,
stress, perubahan hormonal dan diet (Ballangera F et al, 2005; Chiu Annie et al,
2003; USA, 2012; Ferdowsian HR, 2010). Studi yang berbeda-beda menunjukkan
hasil yang tidak senada. Banyak penemuan sebelumnya mengatakan bahwa tidak
ada hubungan antara diet dan acne (Michaelson G, 1981; Rasmussen JE, 1977;
Loeffel ED, 1972). Tapi studi terkini menemukan adanya peran dari faktor diet
terutama susu dan karbohidrat dengan indeks glikemik yang tinggi pada kejadian
acne (Adebamowo et al, 2005; Adebamowo et al, 2006; Adebamowo et al 2008;
Kyamak, 2007; Smith RN, 2007; Smith R, 2008). Studi ini dilakukan dengan
menggunakan kuesioner semi-kuantitatif pada wanita dengan acne mengenai diet
mereka di Iran. Jadi hubungan antara susu dan produk susu serta pasokan
karbohidrat khususnya yang berindeks glikemik tinggi dengan acne dinilai.
Metodologi dan Subjek Penelitian
Studi ini dirancang sebagai studi kasus terkontrol. Ukuran sampel ditentukan
berdasarkan rata-rata index glikemik makanan yang dimakan oleh wanita yang beracne (seperti dalam kasus) dan wanita sehat (sebagai control) dengan batas
minimum 15 unit perbedaan dan hipotesis null adalah tidak ada efek indeks
glikemik pada acne dengan tingkat error probability = 31 (Noohasani et al, 2012).
Ukuran sampel tiap grup adalah 70. Studi ini dilakukan pada 70 wanita dengan acne
yang dirujuk dari klinik dermatologi RS Imam Khomeini dan 70 wanita sehat (wanita
sehat yang pergi berobat ke klinik dermatologi sebagai pasien juga wanita yang
berobat karena gigitan, ruam, dan gatal). Kriteria inklusi adalah acne ringan atau
moderat, dirujuk awalnya untuk mengobati wanita dengan usia antara 18-30 tahun.

Kriteria eksklusi adalah wanita dengan usia kurang dari 18 tahun dan lebih dari 30
tahun, memiliki masalah hormonal atau penyakit, sedang menjalani pengobatan,
dan jika pasien tidak bisa diajak bekerja sama pada akhir studi. Peneliti setelah
menjelaskan studi dan pasien melengkapi informed consent penilaian intake
makanan secara semi-kuantitatif berdasarkan kuesioner frekuensi (FFQ) akan
dilakukan. FFQ semi-kuantitatif mencakup daftar 148 jenis makanan dengan ukuran
standard dan sudah divalidasi kadar glukosa dan lipidnya dalam studi Tehran pada
tahun 2004. Para subjek diminta untuk melaporkan frekuensi konsumsi tiap
makanan sesuai dengan nilai yang diperoleh tahun sebelumnya. Frekuensi dari
konsumsi makanan dihitung per hari, minggu atau bulan sesuai pertanyaan. Jumlah
yang terdaftar akan dikonversi ke gram untuk setiap makanan menggunakan
timbangan biasa. Makanan dikategorikan berdasarkan indeks glikemik menjadi 3
grup, yaitu makanan dengan index glikemik rendah (kurang dari atau sama dengan
55), moderat (56-69), dan tinggi (lebih dari atau sama dengan 70). Makanan seperti
roti, pita, baguette, kentang, wortel, roti tawar, roti gandum dan kurma Bam adalah
makanan dengan indeks glikemik tinggi. Makanan seperti kacang polong, roti
Barbari, split peas, jagung, kacang lentil, kacang dengan kulit, roti, kentang goreng,
kacang-kacangan, beri kering, roti, kismis, kacang merah, kurma Zahedi kuning,
buah ara kering dan kacang adalah makanan dengan index glikemik rendah.
Mengelompokkan masing-masing makanan menurut karbohidrat berdasarkan
indeks glikemik tinggi (GI>70) dilakukan dengan data index glikemik makanan Iran
(Taleban et al, 1999). Setelah mengumpulkan data, perangkat lunak SPSS16 dan
Nutritionist3 (perangkat lunak khusus untuk penelitian glukosa dan lipid pada studi
Tehran) digunakan untuk analisa. Nilai P kurang dari 0.05 dianggap signifikan.
Hasil
Tujuh puluh persen wanita dalam kedua grup berstatus menikah dan tetap
melajang. Perbedaan tingkat pendidikan dalam kasus dan control hasilnya
signifikan, yaitu 54% dari kasus dan 33% dari control memiliki ijazah perguruan
tinggi atau setingkat (P<0.005). Perbedaan lainnya dapat dilihat dalam tabel 1 dan
2.
Diskusi
Studi ini menunjukkan hubungan positif signifikan antara pasokan makanan dengan
index glikemik tinggi dan acne. Dalam studi ini kebanyakan wanita dengan acne
mengkonsumsi makanan dengan index glikemik tinggi dan kebanyakan dari wanita
sehat mengkonsumsi makanan dengan index glikemik rendah. Perbedaannya
signifikan sehingga bisa disimpulkan bahwa makanan dengan index glikemik tinggi
berhubungan dengan kejadian acne. Hasil dari studi ini konsisten dengan studi lain
yang terkini. Metodologi yang dilakukan dalam studi ini bereda dengan studi lain
dan pertama kali dibuat di Iran. Dalam sebuah studi kasus terkontrol di Malaysia,
ditemukan bahwa mereka yang ber-acne mengkonsumsi makanan dengan index
glikemik tinggi (Noorhasani et al, 2012). Dalam studi lain yang meneliti pria berusia

15-25 tahun dengan acne dan mengkonsumsi diet rendah glikemik indekx bisa
meningkatkan perbaikan gejala acne (Smith RN et al, 2007). Dalam studi kasus
terkontrol sebelumnya di Korea menunjukkan bahwa mereka yang tidak beracne
cenderung mengkonsumsi makanan yang porsi sayuran lebih banyak dan mereka
yang mengkonsumsi makanan dengan index glikemik tinggi memiliki peran dalam
menyebabkan acne (Jung JY et al, 2010). Makanan dengan index glikemik tinggi
menyebabkan meningkatnya insulin-like growth factor (IGF-1) bisa menyebabkan
acne. Makanan dengan index glikemik tinggi bisa menyebabkan hiperglikemi dan
selanjutnya hiperinsulinemia yang menyebabkan peningkatan pengikatan IGF-1
dengan IGFBP-3. IGFBP-3 mencegah IGF-1 untuk terikat ke reseptornya dan
menyebabkan peningkatan IGF-1. IGF-1 penting dalam stimulasi produksi sebum
pada acne. IGF-1 juga menstimulasi sintesis androgen oleh ovarium dan testis,
menginhibisi sintesis sex hormone binding globulin yang adalah hasil akhir dari
peningkatan androgen dalam sirkulasi, sehingga menstimulasi produksi sebum
(Noorhasani et al, 2012; Jung JY et al, 2010; Cordain et al, 2002). Pada studi ini
hubungan positif yang signifikan ditemukan pada konsumsi susu, yogurt, es krim
dan acne (Tabel 2). Hasil dari studi ini konsisten dengan studi lainnya yang terkini.
Dalam studi kasus terkontrol di Korea ditemukan bahwa makanan mengandung
susu memiliki pengaruh dalam eksaserbasi acne (Jung JY et al, 2010). Studi kohort
lainnya menunjukkan bahwa susu dan keju berhubungan dengan acne (Adebamowo
et al, 2005). Selain itu dalam studi yang dilakukan di Malaysia menemukan bahwa
konsumsi susu dan es krim lebih cenderung bisa menyebabkan acne dan tidak ada
asosiasi antara acne dan konsumsi keju karena jumlah yang dikonsumsi sedikit
(Noorhasani et al, 2012). Susu mengandung hormone dan molekul bioaktif seperti
androgen, estrogen, progesterone dan IGF-1. Jadi susu bisa meningkatkan stimulasi
IGF-1 yang menyebabkan produksi sebum dan akhirnya acne (Danby FW, 2010;
Hartmann, 1998). Selain itu androgen dalam sirkulasi menstimulasi produksi sebum.
Dalam studi ini tidak ditemukan hubungan sebab akibat antara pasokan kelompok
makanan golongan lain dengan acne, sehingga konsisten dengan studi sebelumnya.
Kesimpulan
Karbohidrat dengan index glikemik tinggi seperti susu, yogurt dan es krim
berhubungan positif dan signifikan dengan kejadian acne. Penemuan ini mendukung
hipotesa bahwa pasokan makanan berpengaruh pada acne. Untuk mencegah acne
maka makanan dengan index glikemik rendah harus dikonsumsi dan konsumsi susu
dan produk susu harus diseimbangkan.