Anda di halaman 1dari 10

Laboratorium Endapan Mineral 2015

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Penilitian
Indonesia merupakan Negara yang kaya akan kekayaan sumber daya
alamnnya. Banyak kekayaan alamnya berupa mineral, panas bumi, dan sebagainya
yang sudah diketahui. Akan tetapi banyak kekayaan alam berupa mineral biji,
panasbumi dan lainnya yang belum juga diketahui. Untuk itulah sangat penting sekali
untuk mengetahui penyebaran dari mineral-mineral tersebut.
Dengan mengetahui dan mempelajari deskripsi secara megaskopis maupun
mikroskopis, Genesanya, Penyebarannya di Indonesia, serta cara penambangannya,
diharapkan akan lebih tahu dan mengerti dari kegunaan mineral tersebut.
Berangkat dari latar belakang diatas maka, sangat penting untuk mengetahui
berbagai mineral tersebut serta manfaatnya. Contoh mineral tersebut ialah Bentonit
dan Polibasit.
I.2 Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalahnya ialah :
1.
2.
3.
4.

Bagaimana Mendeskripsikan Bentonit dan Polibasit?


Bagaimana Genesa Pembentukan Bentonit dan Polibasit?
Bagaimana Cara penambangan Bentonit dan Polibasit?
Bagaimana persebaran Bentonit dan Polibasit di Indonesia?

I.3 Maksud dan Tujuan penilitian


Adapaun Maksud Penilitian adalah Agar Praktikan lebih memahami dan tahu
apa itu Bentonit dan Polibasit.
Sedangkan tujuan dari penilitian adalah untuk mengetahui deskripsi, genesa,
persebaran di Indonesia dan Cara penambangan dari Bentonit dan Polibasin di
Indonesia.

Nama : Delvianus Kaesmetan


Nim
: 111.130.066
Plug
:7

Page 1

Laboratorium Endapan Mineral 2015

BAB II
METODOLOGI PENILITIAN

Nama : Delvianus Kaesmetan


Nim
: 111.130.066
Plug
:7

Page 2

Laboratorium Endapan Mineral 2015


II.1 Metode Penilitian.
Adapun metode penilitian yang dilakukan adalah dengan menggunakan
Tinjauan Pustaka, dimana peniliti mencari informasi sebanyak mungkin dari berbagai
sumber yaitu Internet dan Buku Bacaan, maupun materi dari Dosen.
II.2 Data dan Peralatan Penilitian.
Adapun data yang digunakan ialah data yang berasal dari tinjauan pustaka,
seperti dari Buku-buku yang tersedia di perpustakaan dan beberapa bersumber dari
internet.
III.3 Diagram Alir Penilitian.
Mulai

Pengambilan data

Sumber : Buku dan Internet

Penulisan Laporan Penilitian

Selesai

Gambar II.1 Diagram Alir

BAB III
PEMBAHASAN

Nama : Delvianus Kaesmetan


Nim
: 111.130.066
Plug
:7

Page 3

Laboratorium Endapan Mineral 2015


III.1 Minera Bentonit
Deskripsi Megaskopis.
Bentonit adalah jenis lempung yang 80% lebih terdiri dari mineral monmorilonite
(Na.Ca)

(Al.Mg)

0,33

12

Si4 O10 (OH)2 n H2O, bersifat lunak (kekerasan 1 Skala Mohs,

Berat Jenis antara 1,7-2,7, mudah pecah terasa berlemak, mempunyai sifat
mengembang apabila kena air. Sifat bentonit antara lain :

Berkilap lilin umumnya lunak, plastis dan sarang.


Berwarna pucat dengan kenapakan putih, hijau muda, kelabu dalam keadaan

segar dan menjadi krem yang kemudian lapuk menjadi kuning dan hitam.
Bila diraba terasa licin seperti sabun dan kadang-kadang pada permukaannya

dijumpai cermin sesar


Bila dimasukan kedalam air akan mengisap air sedikit atau banyak
Bila kena hujan singkapan bentonik menjadi bubur dan bila kering akan

menjadi rekahan yang nyata.


Genesa.
Terbentuknya bentonit disebabkan oleh :
Proses Pelapukan
Faktor Utama yang menyebabkan terbentuknya mineral lempung
adalah komposisi batuan, komposisi kimia air dan daya lalu air tersebut pada
batuan. Yang tersebut terakhir ini dipengaruhi oleh iklim macam batuan dan relief
serta tumbuhan yang berada diatas batuan tersebut. Pembentukan lempung karena
pelapukan sebagai akibat reaksi ion- ion H+ yang terdapat dalam air tanah dengan
mineral-mineral silikat. H+ umunya berasal dari asam karbon yang terbentuk
sebagai akibat pembusukan oleh bakteri terhadap zat- zat organic yang terdapat
dalam tanah.
Menurut Keller (1957) ion Hidrogen ini dapat pula berasal dari:

Asam asam organik

Akar halus tumbuhan

Beasal dari air itu sendiri

Menurut Wollast (1967) pada proses pelapukan:


Nama : Delvianus Kaesmetan
Nim
: 111.130.066
Plug
:7

Page 4

Laboratorium Endapan Mineral 2015

Bila laju aliran lebih cepat disbanding dengan pelarutan yang terjadi maka

akan terbentuk gibsit

Bila laju aliran makin rendah dibandingkan dengan pelarutan yang terjadi

maka akan terbentuk koalinit

Bila laju aliran hampir terhenti, suatu reaksi yang lambat akan terjadi antara

kation dengan Al(OH)3 dan silika membentuk monmorilonit


Proses hydrothermal
Pada alterasi hydrothermal yang sangat lemah, mineral- mineral yang kaya
akan magnesium seperti hornblende dan biotit cenderung membentuk klorit. Pada
alterasi lemah, kehadiran unsur-unsur logam alkali dan alkali tanah, kecuali kalium,
mineral mika, fero magnesium dan feldspar plagioklas umumnya akan membentuk
monmorilonit.

Terjadinya

monmorilonit

terutama

disebabkan

oleh

adanya

magnesium. Kehadiran kalium yang berasal dari feldspar ataupun mika primer yang
terbentuk karena alterasi hydrothermal sering ditemukan zona- zona yang terbentuk
lingkaran dengan susunan dari dalam keluar adalah:

Yang terdalam serisit

Kemudian kaolinit

disusul monmorilonit dan terakhir klorit bentonit di Ponza Itali terbentuk oleh

alterasi dari abu gunung api.


Proses trasformasi/detrivikasi
Proses trasformasi/detrivikasi dari abu gunung api yang sempurna akan terjadi
apabila debu gunung api tersebut diendapkan dalam cekungan danau atau laut. Gelas
alam (natural glass) yang dikandungan abu gunung api lambat laun akan mengalami
dertrivikasi seperti pada endapan piroklastik di Laut Tengah dekat G. Vesuvius dan
Sisilia. Monmorilonit dijumpai pula pada endapan resen disekitar kepulauan Azores
yang bersifat vulkanis dan diduga tidak ada sangku pautnya sama sekali dengan
endapan- endapan yang dibawa dari daratan.

Nama : Delvianus Kaesmetan


Nim
: 111.130.066
Plug
:7

Page 5

Laboratorium Endapan Mineral 2015

Proses pengendapan kimia


Menurut Millot (1970) Monmorilonit dapat terbentuk tidak saja dari tufa
tetapi merupakan endapan sedimen dalam suasana basa (alkali) yang sanagt silikaan.
Mineral- mineral yang terbentuk secara sedimentasi dan tidak berasosiasi dengan tufa
adalah attpulgit, sepeolit dan Monmorilonit, terbentuk dalam cekungan sedimen yang
bersifat basa dimana karbonat, silika pipih, fosfat laut dan sebagainya terbentuknya.
Perlu ditekankan disini bahwa pada lingkungan ini banyak mengandung larutan silika
yang dalam beberapa hal dapat mengendap sebagai flint, kristobalit (dan
Monmorilonit) atau bersenyawa dengan aluminium dan magnesium.
Penyebaran di Asia Tenggara.
Di Indonesia : Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sumatra Selatan, Bengkulu, Jawa Barat,
Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Utara.
Timor Leste : Kab Bobonaro.
Cara Penambangan.
Proses pengaktifan
Proses

pengaktifan

khusus dilakkukan untuk jenis bentonit yang tidak

mengembang (Ca-Mg bentonit). Jenis ini dapat dibagi dua macam yaitu yang aktif
dan tidak aktif. Pengaktifan disini adalah bertujuan untuk melarutkan unsur-unsur
pengganggu seperti ; Ca, Al, Mg, Fe, Na, K dan lain-lain dengan memakai media
pengaktif

H 2 HO 4

(5%) dan HCl (5%) pada suhu

100

C dalam selang waktu 2-

4 jam. Hasil proses ini umumnya dapat dipakai untuk menjernihkan minyak kelapa.
Proses pengubahan ion

Nama : Delvianus Kaesmetan


Nim
: 111.130.066
Plug
:7

Page 6

Laboratorium Endapan Mineral 2015


Kation yang bervalensi tinggi atau yang berukuran kecil pada umumnya akan
mengaktifkan kation yang bervalensi rendah atau yang berukuran besar. Atas dasar ini
maka kation

+
K , seperti terlihat pada urutan berikut :
+
H >

+
M Ca++ >Li++>Na+>K+

Kation Ca++ pada bentonit dapat juga didesak oleh Na+, asal konsentrasi Na+ cukup
tinggi. Pengubahan kation ini dilakukan dengan menghilangkan atau mengeluarkan
dari sistim produk samping yang terjadi, seperti terlihat pada reaksi berikut :
Ca-benoit + Na2CO 3

Na- bentoit + CaCO3

Produk CaCO3 yang terbentuk selalu dikeluarkan dari system, maka reaksi akan
berlangsung ke kanan.
Kegunaan.
Penguunaan utama dari natrium bentonit adalah pada industry lumpur bor,
yaitu lumpur pembilas dalam pemboboran minyak bumi, gas bumi dan uap panas
bumi. Selain yang tersebut di atas Na-bentonit juga dapat digunakan dalam industry
minyak sawit, industry kimia, farmasi dan penggunaan-penggunaan yang lain serta
kecil-kecil masih banyak lagi seperti sebagai bahan penyumbat kebocoran bendungan
dan kolam-kolam, pencampur semen, insektisida, sabun dan sebagainya.
Sedangkan untuk jenis Kalsium-Magnesium bentonit yakni suatu jenis selain
mempunyai sifat menghisap secara alamiah juga dapat diperoleh dengan cara buatan
yaitu dengan cara pengaktipfan dengan asam. Jenis Ca-Mg bentonit ini umumnya
dipergunakan dalam industry penyaringan lilin, minyak kelapa, industribasi baja yaitu
sebagai zat perekat pasir cetak dalam proses pengocoran baja, dalam industry kimia
sebagai katalisator, zat pemutih, zat penyerap, pengis, lateks, tinta cetak dan lain-lain
sebagainya.

Nama : Delvianus Kaesmetan


Nim
: 111.130.066
Plug
:7

Page 7

Laboratorium Endapan Mineral 2015

III.2 Mineral Pilobasit


Deskripsi Megaskopis.

Nama : Delvianus Kaesmetan


Nim
: 111.130.066
Plug
:7

Page 8

Laboratorium Endapan Mineral 2015

Gambar 3.1 Mineral Pilobasit


Polybasite adalah mineral dari kelas mineral sulfida, dan dalam hal ini milik
yang disebut "kelompok Pearceite". Hal ini dikenal sejak zaman kuno, dengan
penyebarannya di seluruh dunia.
Kategori

:Mineral sulfida

Rumus kimia

:Cu (Ag, Cu) 9 6 Ag Sb 2 S 11

Warna

:Perak-putih dengan patina abu-abu kehitaman dari perubahan

Garis

:Hitam merah

Kilau

:Metalik

Sistem Kristal

:Monoklin, prismatik

Kekerasan

:Dari 2,5 sampai 3 (Mohs)

Genesa.
Mineral ini dibentuk oleh ubahan hidrotermal dan suhu rata-rata yang rendah
dari urat-urat perak. Biasanya mineral ini ditemukan bersamaan dengan mineral
lainnya seperti emas, kuarsa, kalsit, dolomit atau barit. Terdapat di urat pegmatikpneumatolitik dan urat hidrotermal bersama galena, argentit, greenkit, kalkopirit,
barit, dan fluorit. Juga terdapat di batuan metamorf yaitu skarn.
Nama : Delvianus Kaesmetan
Nim
: 111.130.066
Plug
:7

Page 9

Laboratorium Endapan Mineral 2015


Kelompok sulfida merupakan kombinasi antara logam atau semilogam dengan
belerang (S). Biasanya terbentuk disekitar wilayah gunung api yang memiliki sulfur
yang tinggi. Proses mineralisasinya terjadi pada tempat-tempat keluarnya atau sumber
sulfur. Unsur utama yang bercampur dengan sulfur tersebut berasal dari magma
kemudian terkontaminasi oleh sulfur yang ada disekitarnya. Pembentukan mineralnya
biasanya terjadi dibawah kondisi air tempat terendapnya unsur sulfur. Proses tersebut
biasanya dikenal sebagai alterasi mineral dengan sifat pembentukan yang terkait
dengan hidrotermal.

Penyebaran di Asia Tenggara.


Thailand, Malaysia, dan Indonesia.
Cara Eksplorasi.
Metode eksploitasi galena umumnya menggunakan peledakan atau membuka
singkapan dengan alat berat kemudian mengambil secara manual. Kondisi ini berlaku
untuk cadangan yang jumlah besar, sedangkan pada lokasi dengan cadangan sedikit
sedikit, cukup dilaksanakan penggalian dan pengambilan secara manual.

Kegunaan

Nama : Delvianus Kaesmetan


Nim
: 111.130.066
Plug
:7

Page 10