Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Berbuat baik kepada orang tua adalah perintah Allah SWT, baik
langsung melalui firman-Nya (Al-Quran) maupun melalui Nabinya
Muhammad Shalallahu alailhi Wa Sallam.
Sebenarnya, meskipun tak ada perintah Allah SWT. Kita tetap
seharusnya berbuat baik dan berbakti (akhlak) kepada orang tua, karena
merekalah hingga kita terlahir ke dunia ini, merawat dan mengasuh kita dari
kecil hingga tumbuh dewasa.

1.2. Rumusan Masalah


a. Apa pengertian akhlak ?
b. Bagaimana seharusnya akhlak kita kepada kedua orang tua ?
c. Apa saja ayat Al-Quran dan hadits nabi tentang akhlak kepada kedua
orang tua ?

1.3. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan kami menulis makalah ini adalah agar kita dapat
mengetahui akhlak kepada orang tua menurut Al-Quran dan hadits, serta
mengaplikasikannya di dalam kehidupan kita sehari-hari.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Akhlak


Dari segi bahasa Akhlaq berasal daripada kata khulq yang
bererti perilaku, perangai atau tabiat. Hal ini terkandung dalam perkataan
Sayyidah

Aisyah

berkaitan

dengan

akhlak

Rasulullah

saw

yaitu : Akhlaknya (Rasulullah) adalah al-Quran. Akhlak Rasulullah yang


dimaksudkan di dalam kata-kata di atas ialah kepercayaan, keyakinan,
pegangan, sikap dan tingkah laku Rasulullah saw yang semuanya
merupakan pelaksanaan dari ajaran al-Quran.
Dari segi istilah : Menurut Imam al-Ghazali, Akhlak ialah suatu sifat
yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan
dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan terlebih dahulu.
Menurut Ibnu Maskawih, Akhlak ialah keadaan jiwa seseorang yang
mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa pertimbangan
akal fikiran terlebih dahulu.
Menurut Profesor Dr Ahmad Amin, Akhlak ialah kehendak yang
dibiasakan dan ia akan menjadi kebiasaan yang mudah dilakukan.
Menurut Iman Al Ghazali, akhlak merupakan gambaran tentang
keadaan dalam diri manusia dan dari gambaran tersebut menumbuhkan
tingkah laku secara mudah dan senang tanpa memerlukan pertimbangan
atau pemikiran. Akhlak sangat penting dan pengaruhnya sangat besar dalam
membentuk tingkah laku manusia. Apa saja yang lahir dari manusia atau

segala tindak-tanduk manusia adalah sesuai dengan pembawaan dan sifat


yang ada dalam jiwanya.
Tepatlah apa yang dikatakan oleh Al-Ghazali dalam bukunya Ihya
Ulumuddin, Sesungguhnya semua sifat yang ada dalam hati akan lahir
pengaruhnya (tandanya) pada anggota manusia, sehingga tidak ada suatu
perbuatan pun melainkan semuanya mengikut apa yang ada dalam hati
manusia.
Tingkah laku atau perbuatan manusia mempunyai hubungan yang erat
dengan sifat dan pembawaan dalam hatinya. Umpama pokok dengan
akarnya. Bermakna, tingkah laku atau perbuatan seseorang akan baik
apabila baik akhlaknya, sebagaimana pokok, apabila baik akarnya maka
baiklah pokoknya. Apabila rusak akarnya maka akan rusaklah pokok
dan cabangnya. Allah Subhanahu Wa Taala berfirman:

Artinya: Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur


dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya
Hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda
kebesaran (kami) bagi orang-orang yang bersyukur. (QS. Al- Araf: 58)
Akhlak yang mulia adalah matlamat utama bagi ajaran Islam. Ini telah
dinyatakan oleh Rasulullah Sallallahualaihiwasallam dalam hadisnya (yang
bermaksud, antara lain: Sesungguhnya aku diutuskan hanyalah untuk
menyempurnakan akhlak yang mulia.
Hal ini ditegaskan lagi oleh ayat al-Quran dalam firman Allah:

Artinya: Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang


agung (QS. Al-Qalam: 4)

2.2. Akhlak Terhadap Orang Tua (Ibu Dan Bapak)


a. Akhlak terhadap orang tua yang masih hidup
Orang tua (ibu dan bapak) adalah orang secara jasmani menjadi
asal keturunan anak. Jadi anak adalah keturunan dari orang tuanya dan
darahnya adalah juga mengalir darah orang tuanya. Seorang anak
kandung merupakan bagian dari darah dan daging orang tuanya,
sehingga apa yang dirasakaan oleh anaknya juga dirasakan oleh orang
tuanya dan demikian sebaliknya.
Itu pula sebabnya secara kudrati, setiap orang tua menyayangi dan
mencintai anaknya sebagai mana ia menyayangi dan mencintai dirinya
sendiri. Kasih dan sayang ini mulai dicurahkan sepenuhnya terutama
oleh ibu, semenjak anak masih dalam kandungan sampai ia lahir dan
menyusui bahkan sampai tua.
Orang tua tidak mengharapkan balas jasa dari anak atas semua
pengorbanan yang diberikan kepada anak. Harapan orang tua hanya
satu yaitu kelak anaknya menjadi anak yang saleh dan salehah, anak
yang memberi kebahagiaan orang di dunia dan mendoakan mereka
setelah mereka meninggal dunia.
Atas dasar itu, antara lain yang menyebabkan seorang anak harus
berbakti kepada orang tua, bukan saja saat keduanya masih hidup, tetapi
kebaktian anak itu harus lanjut sampai kedua orang tuanya meninggal.
b. Akhlak terhadap orang tua yang Sudah Meninggal

Orang tua yang sudah meninggal dunia tidak lagi dapat menerima
apa-apa, selain apa yang mereka lakukan selama di dunia kecuali jika
mereka memiliki tiga hal yang mensubsidi bekal berupa pahala untuk
mereka di akhirat sebagai tambahan dari mereka bawa dari dunia, yaitu
sedekah jariyah, ilmu yang diajarkan, dan anak yang saleh yang
mendoakannya.
Seorang ayah atau ibu yang sudah meninggal dunia masih
memiliki hak mendapatkan limpahan pahala dari doa yang
disampaikan anaknya. Hal ini juga mengandung arti bahwa anak
memiliki kewjiban mendoakan orang tuanya yang sudah meninggal.
Dalam ajaran tasawuf, dikatakan, doa yang paling besar kemungkinan
diterima Allah adalah doa seorang anak untuk orang tuanya dan doa
oaring fakir untuk orang kaya.
Kita sebagai anak, meskipun orang tua kita sudah wafat, orang tua
tetap sebagai orang tua yang wajib dihormati, oleh sebab itu, kewajiban
anak terhadap mereka berlanjut sampai mereka wafat.

2.3. Akhlak Kepada Orang Tua Menurut Al-Quran dan Hadits


a. Al-Quran
1. Surat An-Nisaa ayat 36:

Artinya: Sembahlah

Allah

dan

janganlah

kamu

mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah


kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh,
dan

teman

sejawat,

ibnu

sabil

dan

hamba

sahayamu.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong


dan membangga-banggakan diri.
2. Surat Luqman ayat 15:
Artinya: Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan
dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu,
Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah
keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang
kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu,
Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.

3. Surat Al-Ahqaaf ayat 15:


Artinya: Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik
kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan
susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).
mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,
sehingga apabila dia Telah dewasa dan umurnya sampai empat
puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah Aku untuk
mensyukuri nikmat Engkau yang Telah Engkau berikan kepadaku
dan kepada ibu bapakku dan supaya Aku dapat berbuat amal yang
saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan
(memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya Aku
bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya Aku termasuk orangorang yang berserah diri".
b. Hadits

1. Dari Abdullah bin Amr r.a.




:



:

.
.
:




Abdullah bin Amr r.a. berkata: Seorang datang kepada Nabi saw.
minta izin untuk berjihad. Maka ditanya oleh Nabi saw.: Apakah
kedua ayah bundamu masih hidup? Jawabnya: Ya. Sabda Nabi
saw.: Di dalam melayani keduanya itulah anda berjihad. (HR.
Bukhari, Muslim).
2. Dari Abdullah bin Masud. r.a.










Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid telah
menceritakan kepada kami Syu'bah berkata; Al Walid bin 'Aizar
telah mengabarkan kepadaku dia berkata; saya mendengar Abu
'Amru Asy Syaibani berkata; telah mengabarkan kepada kami
pemilik rumah ini, sambil menunjuk kerumah Abdullah dia
;berkata; saya bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
9

"Amalan apakah yang paling dicintai Allah? Beliau bersabda:


"Shalat tepat pada waktunya." Dia bertanya lagi; "Kemudian
apa?" beliau menjawab: "Berbakti kepada kedua orang tua." Dia
bertanya; "Kemudian apa lagi?" beliau menjawab: "Berjuang di
jalan Allah." Abu 'Amru berkata; "Dia (Abdullah) telah
menceritakan kepadaku semuanya, sekiranya aku menambahkan
niscaya dia pun akan menambahkan (amalan) tersebut kepadaku."
(HR. Bukhari)
3. Dari Abu Hurairah r.a.



!




:




:
:





:

:
:





.


:


Artinya: Abu Hurairah r.a. berkata: Seorang datang kepada Nabi
saw. dan berkata: Ya Rasulullah, siapakah yang berhak aku layani?
Jawab Nabi saw.: Ibumu. Ditanya; Kemudian siapakah? Jawab
Nabi saw.: Ibumu. Ditanya: Kemudian siapakah? Jawab Nabi saw.:
Ibumu. Ditanya, kemudian siapakah? Jawab Nabi saw.: Ayahmu.
(Bukhari, Muslim).
Sebenarnya masih banyak lagi, baik ayat Al-Quran maupun hadits
nabi yang berbicara tentang akhlak kepada kedua orang tua, namun karena
keterbatasan halaman makalah ini menyebabkan kami tidak dapat
menampilkan semuanya. Meskipun demikian, dari ayat maupun hadits di
atas rasanya sudah cukup bagi kita untuk dapat menyimpulkan bahwa

10

akhlak baik kepada orang tua mempunyai kedudukan yang tinggi dihadapan
Allah SWT maupun Rasulullah Shalallahu alaihi Wa Sallam.

11

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari segi bahasa Akhlaq berasal daripada kata khulq yang
bererti perilaku, perangai atau tabiat. Hal ini terkandung dalam perkataan
Sayyidah

Aisyah

berkaitan

dengan

akhlak

Rasulullah

saw

yaitu : Akhlaknya (Rasulullah) adalah al-Quran. Akhlak Rasulullah yang


dimaksudkan di dalam kata-kata di atas ialah kepercayaan, keyakinan,
pegangan, sikap dan tingkah laku Rasulullah saw yang semuanya
merupakan pelaksanaan dari ajaran al-Quran.
Kewajiban kita untuk menunjukan akhlak atau bakti kepada kedua
orang tua tidak hanya ketika mereka masih hidup saja, tetapi juga ketia
mereka sudah meninggalpun dengan cara selalu mengirimkan doa serta
berbuat baik kepada saudara-saudari dan juga teman-teman mereka.
Banyak sekali ayat Al-Quran maupun hadits nabi yang menjelaskan
tentang akhlak kepada orang tua, hal ini menunjukkan bahwa akhlak kepada
orang tua merupakan sesuatu yang sangat penting menurut Islam, bukankah
ridho Allah itu tergantung ridho orang tua ?

3.2. Saran
Setelah membaca uraian di atas, kami menyarankan kepada diri kami
sendiri khususnya dan juga rekan-rekan semuanya untuk selalu berbakti

12

kepada orang tua yang telah melahirkan kita. Agar kita memperoleh
ridhonya yang bermuara pada ridho Allah.

13

DAFTAR PUSTAKA

Nawawi Muhammad. 1996. Nasehat Bagi Hamba Allah. Surabaya : Al-Hidayah


Ritonga, A. Rahman. 2005. Akidah merakit hubungan manusia dengan khaliknya
melalui pendidikan anak usia dini. Surabaya: Amalia
Zakie al-Kaaf, Abdullah. 2002. Etika Islami. Bandung : Pustaka Setia

14