Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang

Manusia adalah makhluk sosial, dimana makhluk sosial tersebut


tidak dapat hidup sendiri. Dikatakan manusia tak dapat hidup sendiri
bahwa manusia memerlukan manusia lainnya untuk membantunya
dalam menyelesaikan masalahnya. Dalam hal ini untuk memenuhi nilai
tugas pada hukum perikatan penulis mengkaji persoalan tentang
kepengurusan masalah orang lain secara suka rela atau dapat
dikatakan dalam hukum perdata atau perikatan yaitu Zaakwaarneming.
Berdasarkan dengan rumusan pasal 1233 kitab Undang-Undang
Hukum Perdata, yang merupakan pasal pertama dalam buku III Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata tentang perikatan, yang menyatakan
bahwa Tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena persetujuan, baik
karena Undang-Undang, selain perjanjian, Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata menentukan bahwa perikatan dapat lahir dari undangundang dengan pernyataan ini, pembuat undang-undang hendak
menyatakan bahwa hubungan hukum dalam lapangan harta kekayaan
dapat terjadi setiap saat, baik karena dikehendaki oleh pihak yang
terkait

dalam

dikehendaki

perikatan

oleh orang

tersebut,

maupun

perorangan

yang

secara

yang

tidak

terikat (yang

wajib

berprestasi) tersebut.
Kitab Undang-Undang memberikan dua contoh perikatan yang
lahir dari undang-undang sebagai akibat dari perbuatan manuia yang
dperbolehkan oleh hukum:
1. Yang diatur dalam pasal 1354 Kitab Undang-Undang Hukum

Perdata yang disebut dengan nama zaakwaarneming. KUHPer


tidak memberikan arti atau definisi zaakwaarneming, walau

demikian jika melihat rumusan yag diberikat dalam pasal 1354


KUHPer yang menyatakan bahwa:
Jika seseorang dengan sukarela, tidak mendapat perintah
untuk itu, mewakili urusan orang lain, dengan atau tanpa
sepengetahuan orang ini, maka Ia secara diam-diam
mengikatkan dirinya untuk meneruskan serta menyelesaikan
urusan tersebut, hingga orang yang diwakili kepentingannya
dapat mengerjakan sendiri urusan itu. Ia memikul segala
kewajiban yang harus dipikulnya seandanya ia dikuasakan
dengan sesuatu pemberian kuasa yang dinyatakan dengan
tegas.
Dari rumusan yang diberikan tersebut diatas dapat kita lihat bahwa
zaakwaarneming adalah suatu perbuatan yang memenuhi unsurunsur sebagai berikut:1
a. Zaakwaarneming adalah suatu perbuatan hukum pengurusan

kepentingan pihak atau orang lain.


b. Zaakwaarneming dilakukan secara sukarela
c. Zaakwaarneming dilakukan tanpa adanya perintah (kuasa atau

kewenangan) yang diberikan oleh pihak yang kepentingannya


diurus.
d. Zaakwaarneming dilakukan dengan atau tanpa sepengetahuan

dari orang yang kepentingannya diurus


e. Pihak yang melakukan pengurusan (gestor) dengan dilakukannya

pengurusan, berkewajiban untuk menyelesaikan pengurusan


tersebut hingga selesai atau hingga pihak yang diurus
kepentingannya

tersebut

(dominus)

dapat

mengerjakan

kepentingan sendiri.

1 Kartin Muljadi, Perikatan PadaUumumnya, (Jakarta: PT Raja Grafindo Perasda, 2003),

Dengan

dilaksanakannya

zaakwaarneming

tersebut,

maka

diwajibkan untuk menyelesaikan pengurusan yang telah dilakukan, atau


hingga orang yang diurus mampu mengurusnya sendiri, seolah-olah ia
telah mengerjakannya dengan memperoleh kuasa untuk itu.

Zaakwaarneming berdasarkan pasal 1354 KUHPER diberikan


penjelasan bahwa tindakan seseorang yang mewakili urusan orang
lain, biasa disebut dengan perwakilan sukarela, yakni mewakili urusan
orang lain, seolah-olah mendapat kuasa secara tegas dari orang yang
diwakilinya. Dalam hal ini penulisan mencoba untuk menulis berkaitan
dengan tindakan medis dari pada dokter. Tindakan medis dokter inilah
yang

dikaji

agar dapat mengetahui

yang

manakah

termasuk

Zaakwaarneming dan bagaimana akibat hukum yang diakibatkan.


Maka dengan mengklasifikasikan Zaakwaarneming dalam tindakan
medis dokter dapat menjelaskan letak Zaakwaarneming di dalam
dokter menjalankan prakteknya.

1.2 Rumusan Masalah

Perumusan masalah paper ini tidak jauh dari judul paper dan latar
belakang yang dipaparkan maka rumusan masalahnya adalah sebagai
berikut:
1. Apakah

yang

dimaksud

dengan

Zaakwaarneming

dalam

kaidahnya?
2. Apa hubungan antara zaakwaaarneming dengan tindakan medis

dokter?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan paper tentangZaakwaarneming dalam kaidahnya dan


hubungannya dengan tindakan medis dokter adalah
1. Untuk memaparkan tentang Zaakwaarneming dalam kaidahnya
2. Untuk menjelaskan hubungan Zaakwaarneming dengan tindakan
medis dokter

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Zaakwaarneming

Berdasarkan pasal 1354 KUHPER yang berbunyi Jika seorang


dengan sukarela, dengan tidak mendapat perintah untuk itu, mewakili
urusan orang lain dengan atau tanpa sepengetahuan orang ini, maka
ia secara diam-diam mengikat dirinya untuk meneruskan serta
menyelesaikan

urusan

tersebut,

hingga

orang

yang

diwakili

kepentingannya dapat mengerjakan sendiri urusan itu. Ia memikul


segala kewajiban yang harus dipikulnya, seandainya ia dikuasakan
dengan suatu pemberian kuasa yang dinyatakan dengan tegas. 2
Dari pasal ini diberikan penjelasan bahwa tindakan seseorang
yang mewakili urusan orang lain, biasa disebut dengan perwakilan
2 Ahmadi Miru & Sakka Pati ,2008 Hukum Perikatan penjelasan makna pasal 1223 sampai 1456
BW

sukarela, yakni mewakili urusan orang lain, seolah-olah mendapat


kuasa secara tegas dari orang yang diwakilinya. Dalam penulisan
paper ini berkaitan dengan tindakan medis dari pada dokter.Tindakan
medis dokter inilah yang dikaji agar dapat mengetahui yang manakah
termasuk Zaakwaarneming dan bagaimana akibat hukum yang
diakibatkan.3
Dari pengertian tersebut diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa
persetujuan bukanlah unsur dari zaakwarneming, justru dengan
adanya persetujuan secara nyata maupun kuasa, maka perbuatan
tersebut bukan lagi menjadi Zaakwaarneming namun menjadi sebuah
perjanjian ataupun pemberian kuasa yang notabene merupakan hal
yang sangat berbeda. Dalam zaakwaneming persetujuan cukup
dilakukan dengan membiarkan gestor melakukan pengurusannya.
Jika dominus tidak menyetujui atau tidak memandang perlu
pengurusan yang dilakukan oleh gestor, dominus cukup menghentikan
kepengurusan tersebut dengan melakukan pengurusan itu sendiri
sehingga Zaakwaarneming akan terhenti(apabila pengurusan tersebut
masih berlangsung/belum selesai). Apabila pengurusan sudah selesai
para

pihak

tinggal

menyelesaikan

kewajibannya

saja,

seperti

memberikan kompensasi/ganti rugi kepada gestor (pasal 1357), atau


apabila

dalam

kepengursannya

tersebur

gestor

mendatangkan

kerugian bagi dominus, maka gestor harus memberikan tanggung


jawabnya pula kepada dominus.

2.2

3 Ibid

Unsur-unsur Zaakwaarneming

Berdasarkan Pasal 1354 BW Zaakwaarneming yaitu pengurusan


kepentingan orang lain tanpa perintah dari orang yang bersangkutan
ini memiliki 5 unsur yaitu4:
a. Zaakwaanerming

ialah

suatu

perbuatan

hukum

pengurusan

kepentingan pihak atauorang lain. Terkait dengan perbuatan


hukum, maka pelaksanaan pengurusan harussejalan dan sesuai
dengan hasil akhir yang dikendaki atau memang diharapkan
olehdominus. Untuk membatasi penyalagunaan Zaakwaanerming,

pasal 1357 KitabUndangUndang hukum perdata menyatakan

dengan tegas bahwa jika kepentingantelah diurus dengan baik


yang artinya sesuai dengan kehendak dan pengharapandari
dominus, maka dominus berkewajiban untuk mengganti segala
pengeluaranyang telah dikeluarkan oleh gestor yang dianggap
perlu dan atau berfaedah bagijalannya pengurusan kepentingan
yang baik tersebut .
Selanjutnya, Zaakwaanerming pelaksanaannya diatur pada pasal
1356

dan

pasal

harusdiperhatikan

1357
dan

mengungkapkan

dipertimbangkan

dua

hal

sehubungan

yang
dengan

pengurusan kepentingan pihak lain:

Berhubungan dengan makna kepentingan, pengurusan

harus selalu dikaitkandengan kepentingan dominus. Suatu hal


yang

merupakan

kepentingan

bagigestor

4 Muljadi & Widjaja, Perikatan yang lahir dari perjanjian, 2002

belum

tentu

kepentingan bagi dominus. Dalam kehidupan seharihari contoh

zaakwaanerming antara lain pembayaran tagihan listrik, tagihan

telepondan

lainlain.

Seiring

informasi

zaakwaanerming

dengan

jarang

kemajuan

dilakukan

teknologi

tanpa

pemberitahuan terlebih dahulu kepada dominus

Berhubungan dengan makna pengurusan dengan baik, dan

pengeluaran yangperlu dan berfaedah harus dilihat dari


kebiasaan, kepatutan dan kepantasan yang berlaku dimana
kegiatan zaakwaanerming dilakukan.
b. Zaakwaanerming dilakukan secara sukarela. Pernyataan sukarela
yang dimaksud ialah pekerjaan pengurusan kepentingan dominus
oleh gestor dilakukan tanpa maksud tertentu dalam lapangan harta
kekayaan. Pasal 1358, mengatur hal inimenegaskan setiap tindakan
pengurusan kepentingan dominus oleh gestor tidak memberi hak
kepada gestor untuk menuntut pemenuhan upah dari dominus.
Namun demikian seringkali ditemui pengurusan sukarela dalam
masyarakat untuk tujuan atau maksud tertentu, contoh karyawan
mengurus kepentingan pribadiatasannya agar mendapat kenaikan
gaji, seorang A mengurus pemakaman perijinan surat kematian

tetangganya di kekelurahan dan kecamatan. Dalam undangundang

hal tersebut tidak dilarang, bahkan dalam suatu masyarakat adalah


suatu bentuk kewajiban moral untuk saling membantu, yang jika
tidak dilaksanakan akanmendapat sanksi moral tertentu .
c. Zaakwanerming dilakukan tanpa adanya perintah (kuasa atau
kewenangan) yang diberikan oleh pihak yang kepentingannya
diurus. Unsur ini membedakan antara Zaakwanerming dengan
lastgeving (pemberian kuasa). Pada lastgeving, tidak hanya
memberikan kewenangan untuk melakukan pengurusan atas
kepentingan tertentu dari lastgever (pemberi kuasa), tetapi juga
membebani lasthebber (penerima kuasa) untuk menyelesaikan
tugas hingga selesai. Jika lasthebber bermaksud membebaskan diri
dari beban yang diberikan, ia wajib menyampaikan pemberitahuan
mengenai maksudnya kepada lastgever dalam suatu jangka waktu
tertentu yang layak, yang sesuai dengan beban yang harus
dijalankan kepengurusannya olehnya serta menurut pertimbangan
dan kepatutan yang berlaku dalam masyarakat. Jika terjadi kerugian
pada lastgever, maka lasthebber wajib mengganti kerugian tersebut.
d. Zaakwanerming dilakukan dengan atau tanpa sepengetahuan dari
orang yang kepentingannya diurus. Merupakan salah satu unsur
yang membedakan Zaakwanerming dengan lastgeving (pemberian
kuasa). Hal yang membedakannyaialah pada lastgeving selalu
diawali dengan penawaran dari seorang lastgeverkepada orang
yang akan menjadi lasthebber mengenai pemberian suatu beban.

Berdasarkan pasal 1795 dan 1796 Kitab UndangUndang Hukum

Perdata, lastgevingdibagi menjadi dua yaitu lastgeving yang bersifat


umum dan lastgeving yang bersifatkhusus. Lastgeving yang bersifat

umum dapat diwujudkan pada zaakwaanerming, karena pengurusan


kepentingan lastgever tidak mengandung hak bagi lasthebber untuk
mengalihkan kebendaan milik lastgever, maupun untuk membebani

kebendaan milik lastgever dengan jaminanjaminan kebendaan,

maupun halhal yang hanya dapat dilakukan oleh seorang pemilik

terhadap kebendaan yang

dimilikinya. Sedangkan lastgeving

bersifat khusus tidak dapat dilakukan melalui, karena bertujuan


untuk melakukan sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh seorang
pemilik sejati dari suatu kebendaan tidak dapat dilaksanakantanpa
perintah, kuasa atau kewenangan yang diberikan secara tegas oleh
pemilik tersebut .
e. Pihak yang melakukan pengurusan (gestor) dengan dilakukannya
pengurusan,
tersebut

berkewajiban

hingga

selesai

untuk

menyelesaikan

atau

hinggapihak

pengurusan
yang

diurus

kepentingannya tersebut (dominus) dapat mengerjakan sendiri


kepentingannya tersebut.
2.3 Hak dan kewajiban Gestor dan Dominus
Dalam hal ini perlu diketahui untuk memperjelas pemahaman
tentang zaakwaarneming mengenai hak dan kewajiban dari pihak yang
melakukan pengurusan atau disebut dengan gestor dan pihak yang

diurus kepentingannya disebut dominus, maka dijelaskan sebagai


berikut5:
1) Gestor berhak atas :
a) Penggantian atas segala biaya dan ganti kerugian yang

telah dikeluarkan oleh gestor yang perlu dan berfaedah bagi


pengurusan kepentian dominus, sebagai akibat penguruan
kepentian dominus olehnya, kecuali hak atas upah.
b) Menahan segala apa kepunyaan dominus yang berada di

tangannya, sekian lamanya, hingga kepadanya telah dibayar


lunas

segala

dikeluarkan

biaya

gestor

dan

ganti

kerugian

yang

telah

yang

perlu

dan

berfaedah

bagi

pengurusan kepentian dominus.


2) Kewajiban dari seorang gestor :
a) Menyelesaikan kepengurusan kepentingan dominus yang

telah mulai dilaksanakan atau dikerjakan olehnya, kecuali


jika kegiatan pengurusan tersebut diambil alih oleh dominus
setelah ia sendiri dapat mengerjakannya.
b) Dalam hal dominus meninggal, maka kepentingan yang

telah diurus oleh gestor tetap harus diselesaikan, hingga


dapat diambil alih oleh ahi waris dominus. Pada sisi
sebaliknya

jika

gestor

meninggal,

ahli

waris

gestor

berkewajiban menyelesaikan urusan terkait tersebut.


c) Melakukan

pengurusan

kepentingan

dominus

layaknya seorang bapak rumah tangga yang baik.

5Muljadi & Widjaja, Perikatan yang lahir dari perjanjian, 2002

10

sebagai

d) Memberikan laporan pertanggungjawaban tentang apa yang

telah dilakukan atau diperbuatnya sehubungan dengan


kepengurusan yang telah dimulai olehnya hingga selesai.
e) Memberikan perhitungan kepada dominus tentang segala

apa yang telah diterimanya kepada dominus (dikeluarkan


untuk kepentingan dominus) dalam kaitannya dengan
kepengurusan kepentingan dominus tersebut.
f)

Memberikan penggantian kerugian, biaya dan bunga kepada


dominus sebagai akibat kesalahan, maupun kelalaian dalam
melakukan pengurusan kepentingan dominus.

3) Dominus berhak atas :

Menuntut agar gestor melakukan

a)

pengurusan

kepentingan dominus sebagaimana layaknya bapak rumah


tangga yang baik
Meminta

b)

agar

gestor

menyampaikan

laporan

pertanggung jawaban tentang apa yang telah dilakukan atau


diperbuatnya olehnya sehubungan dengan kepenguran yang
telah dimulai olehnya tersebut hingga selesai
c)

Meminta gestor memberikan perhitungan kepada

dominus tentang segala apa yang telah diterimanya kepada


dominus (dikeluarkannya untuk kepentingan dominus) dalam
kaitannya dengan kepengurusan kepentingan dominus
tersebut.
d)

Menuntut gestor atas setiap kerugian, biaya dan

bunga yang diderita dominus sebagai akibat kesalahan,


maupun

kelalaian

kepentingan dominus.

11

dalam

melakukan

pengurusan

e)

Menuntut gestor untuk bertanggung jawab atas

setiap perikatan yang dibuat oleh gestor untuk kepentingan


dominus, yang telah dibuatnya secara tidak baik, yang tidak
perlu, dan berfaedah bagi kepentingan dominus.
1) Kewajiban dominus :
a)

Memberi penggantian atas seluruh biaya yang telah

dikeluarkan

gestor

yang

perlu

dan

berfaedah

bagi

pengurusan kepentingan dominus.


b)

Memberi ganti rugi atas setiap perikatan yang dibuat

oleh gestor, yang berfaedah dan perlu untuk kepentingan


dominus dalam rangka pengurusan kepentingan dominus.
c)

Memenuhi seluruh perikatan yang telah dibuat oleh

gestor, yang berfaedah dan perlu untuk kepentingan


dominus dalam rangka pengurusan kepentingan dominus.

2.4

Berakhirnya Zaakwaanerming

Berakhirnya Zaakwaanerming, hanya berlaku dalam hal:


a) Diselesaikannya pengurusan kepentingan dominus yang telah

dilaksanakan oleh gestor.


b) Diserahkannya pekerjaan pengurusan kepentingan dominus yang

telah dilaksanakan tapi belum selesai kepada dominus atau ahli


warisnya jika dominus telah meninggal, yang disertai dengan laporan
dan perhitungan mengenai perikatan yang telah dibuat atau

12

dilaksanakan serta biayabiaya yang telah dikeluarkan yang perlu dan

berfaedah bagi pengurusan kepentingan dominus 6.


2.5 HubunganZaakwaarneming dalamTindakan Medis Dokter
Suatu perikatan timbul karena adanya suatu kegiatan yang
menyebabkan pihak-pihak terikat oleh suatu perjanjian. Dalam hal ini
sama dengan hal tersebut yakni bahwa dalam dokter melakukan
tindakan medis didasari dengan adanya suatu perjanjian yang
dinamakan perjanjian terapeutik. Perjanjian terapeutik memiliki kaitan
dengan kepengurusan kepentingan orang lain yaitu zaakwaarneming.
Perjanjian terapeutik merupakan hubungan hukum antara dokter dan
pasien dalam pelayanan medis secara profesional didasarkan
kompetensi yang sesuai dengan keahlian dan keterampilan tertentu
dibidang Kedokteran.
Istilah transaksi atau perjanjian terapeutik memang tidak dikenal
dalam KUH Perdata tetapi dalam perjanjian lain sebagaimana
diterangkan dalam Pasal 1319 KUH Perdata, bahwa untuk semua
perjanjian baik yang mempunyai suatu nama khusus, maupun yang
tidak terkenal dengan suatu nama tertentu, tunduk pada peraturan
umum mengenai perikatan pada umumnya, dan peraturan umum
mengenai

perikatan

yang

bersumber

pada

perjanjian.Dengan

demikian suatu perikatan bisa timbul baik karena perjanjian maupun


karena Undang-Undang7.
Dikaitkan dengan isi dari hubungan hukum tersebut, yaitu
pelayanan medis yang mencakup berbagai tujuan makapelayanan
6Muljadi & Widjaja, Perikatan yang lahir dari perjanjian, 2002
7http://wibowomedia.blogspot.com/2010/02/informed-consent-dalam-kondisi.html

13

tersebut ada yang berobyekkan pelayanan denganukuran hasilnya


ada juga yang berobyekkan pelayanan sebagaiusaha atau ikhtiar.
Oleh karenanya, hubungan hukum tersebut dapat dikelompokkan
pada resultaatverbintennis (perikatanhasil) dan inspanningverbintenis
(perikatanihtiar).

Perbedaanyang

menonjol

diantara

dua

jenis

hubungan hukum tersebut adalah pada resultaatverbintenis yang


terpenting bagi pasien adalah hasil yang sesuai dengan keinginannya
sedangkan insparningverbintenispasen tidak dapat mengharapkan
hasilnya tetapi iktiar yang sebaik-baiknya dalam melakukan pelayanan
kesehatan. Sekalipun hubungan hukum yang berisi pelayanan
kesehatan dapat dibedakan pada hubungan hukum atas hasil dan
hubungan hokum atas ikhtiar ,pada umumnya persoalan-persoalan
hukum yang timbul dari hubungan hukum antara dokter dan pasien
adalah hubungan ikhtiar8.
Hubungan hokum antara rumah sakit/dokter dan pasien yang
bersumber dari undang-undang adalah hubungan hokum yang terjadi
karena undang-undang memberikan kewajiban kepada dokter untuk
memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. Artinya untuk
terjadinya hubungan hukum ini tidak diperlukan prakarsa bahkan
partisipasi pasien. Hubungan-hubungan hukum seperti ini terjadi
misalnya pada keadaan emergency yang tidak memungkinkan
meminta persetujuan pasien untuk terjadinya pelayanan kesehatan
padahal

undang-undang

memerintahkan

kepada

dokter

untuk

memberikan pertolongan.
Ketiadaan prakarsa bahkan partisipasi pasien tersebut dapat
terjadi sejak awal terjadinya hubungan hukum atau ditengah-tengah
berlangsungnya hubungan hukum. Pada yang terakhir ini awalnya
pasien dalam keadaan sadar dan memberikan persetujuan untuk
8H. M. Faiz Mufidi&Sri Pursetyowati, Penyelesaian sengketa medis dirumah sakit, warta
paramarta

14

dilakukannya tindakan tertentu, kemudian dalam proses pelaksanaan


pelayanan medis ketika pasien diletakkan dalam keadaan tidak sadar
(anestesi)

terjadi

sesuatu

yang

mengakibatkan

dokter

harus

melakukan tindakan tertentu untuk life saving, padahal sudah tidak


mungkin lagi untuk mendapatkan persetujuan pasien.
OIeh

karena

keadaan

pasien

yang

tidak

memungkinkan

memberikan partisipasi dalam hubungan-hubungan hokum seperti


dinyatakan diatas, maka ada yang berpendapat bahwa hubungan
hokum dokter dan pasien tersebut dapat dikualifikasi sebagai
hubungan

hukum

perwakilan

sukarela

(zaakwaarnemings)

sebagaimana diatur dalam Pasal 1354 KUHPerdata. Hubungan


hukum perwakilan sukarela sendiri dapat dirumuskan sebagai
hubungan hukum yang didalamnya seseorang mengurus urusan
orang lain dengan sukarela tanpa diminta oleh orang yang punya
urusan, baik diketahui atau tidak diketahui oleh yang punya urusan.
Pemilik urusan disebut dominus, sedang yang mengurus secara
sukarela disebut gestore. Mengingat titik berat hubungan hukum
perwakilan sukarela adalah kesukarelaan gestor tanpa adanya
pemberian kuasa, makadi dalamnya juga terkandung pengertian
tanpa kuasa atau perintah undang-undang. Sedangkan dalam kaitan
dokter memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien yang
membutuhkan dan sang pasien tidak mampu memberikan partisipasi
dalam proses pelayanan kesehatan tersebut merupakan kewajiban
undang-undang maka sangat tidak tepat apabila dikualifikasi sebagai
hubungan perwakilan sukarela. Dengan demikian seorang dokter
yang memberikan pertolongan dalam bentuk pelayanan kesehatan
kepada seseorang yang tidak meminta, misalnya dalam keadaan tidak
sadar, bukanlah memberikan pertolongan secara sukarela tetapi
melakukan kewajiban menurut undang-undang maka perikatan yang

15

timbul adalah perikatan menurut undang-undang yang bukan


zaakwaarneming.
Dapat dikatakan bahwa semua hubungan hukuman antara dokter
dan pasien yang bersumbedari undang-undang, tidak mungkin
menghasilkan

resultaat

verbintenis,

oleh

karena

pasien

tidak

mempunyai prakarsa bahkan partisipasi. Dengan demikian perikatan


yang dihasilkannya adalah inspanningverbintenis. Sebagai suatu
perikatan, sekalipun pasien tidak mempunyai prakarsa atau bahkan
partisipasi dalam terjadinya peristiwa hokum tersebut maka hak
pasien untuk memperoleh ikhtiar yang sebaik-baiknya dari dokter
dalam melaksanakan kewajiban memberikan pelayanan kesehatan
tetap mendapatkan perlindungan hukum. Dengan demikian apabila
dokter dalam melaksanakan kewajiban dalam bentuk pelayanan
kesehatan

atau

medis

melakukan

kesalahan

dan

kemudian

menimbulkan kerugian bagi pasien maka pasien tetap berhak


menggugat9.

9 H. M. Faiz Mufidi & Sri Pursetyowati, Penyelesaian sengketa medis dirumah sakit, warta
paramarta

16

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari uraian yang telah diterangkan diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwa Zaakwaanerming ialah suatu perbuatan hukum
pengurusan kepentingan pihak atau orang lain. Terkait dengan
perbuatan hukum, maka pelaksanaan pengurusan harus sejalan
dan sesuai dengan hasil akhir yang dikendaki atau memang
diharapkan oleh dominus. Untuk membatasi penyalagunaan

Zaakwaanerming, pasal 1357 Kitab UndangUndang hukum

perdata menyatakan dengan tegas bahwa jika kepentingan telah

17

diurus dengan baik yang artinya sesuai dengan kehendak dan


pengharapan dari dominus, maka dominus berkewajiban untuk
mengganti segala pengeluaran yang telah dikeluarkan oleh gestor
yang

dianggap

perlu

dan

atau

berfaedah

bagi

jalannya

pengurusan kepentingan yang baik tersebut. Dengan memiliki


syarat-syarat adanya zaakwaarneming adalah sebagai berikut:
a.

Yang

diurus

(diwakili)

oleh

zaakwaarnemer

adalah

kepentingan orang lain, bukan kepentingan dirinya sendiri.


b. Perbuatan pengurusan kepentingan orang lain itu harus
dilakukan zaakwaarnemer dengan sukarela, artinya karena
kesadaran sendiri tanpa mengharapkan imbalan/upah
apapun, dan bukan karena kewajiban yang timbul dari
undang-undang maupun perjanjian.
c. Perbuatan pengurusan kepentingan orang lain itu harus
dilakukan oleh zaakwaarnemer tanpa adanya perintah
(kuasa) melainkan atas inisiatif sendiri.
d. Harus terdapat suatu keadaan yang membenarkan inisiatif
seseorang

untuk

bertindak

sebagai

zaakwaarnemer

misalnya, keadaan yang mendesak untuk berbuat.


Jadi

dalam

tindakan

medis

dokter

dikatakan

sebagai

zaakwaarneming yaitu didasarkan atas kesukarelaan pengurusan


tindakan dokter tersebut, saat darurat misalkan karena adanya
undang-undang yang mengatur juga karena pasien tidak dapat
ditanya konfirmasinya atau tidak sadar. Dan perikatan yang
ditimbulkan adalah perikatan karena undang-undang bukan karena
zaakwaarneming.

18

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi Miru & Sakka Pati , 2008, Hukum Perikatan penjelasan makna
pasal 1223 sampai 1456 BW
H. M. Faiz Mufidi & Sri Pursetyowati, Penyelesaian sengketa medis
dirumah sakit, warta paramarta
Muljadi & Widjaja, Perikatan yang lahir dari perjanjian, 2002
http://wibowomedia.blogspot.com/2010/02/informed-consent-dalamkondisi.html

19