Anda di halaman 1dari 29

BAHAN AJAR

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
KELAS XI SEMESTER 2

Oleh :

I MADE SUKERTA, S.Pd


NIP. 19711225 200604 1 022

PEMERINTAH KABUPATEN BADUNG


DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA

SMA NEGERI 1 MENGWI

TAHUN PELAJARAN 2012/2013

BAHAN AJAR/MATERI PEMBELAJARAN


KOMPETENSI DASAR 1 : Mendeskripsikan pengertian, pentingnya dan saranasarana
hubungan internasional bagi suatu negara
Hubungan internasional
A.

Makna hubungan Internasional


1. Pengertian hubungan internasional
Pengertian Hubungan internasional menurut buku Rencana
Strategi Pelaksanaan politik Luar Negeri RI (RENSTRA) adalah
hubungan antar bangsa dalam segala aspeknya yang dilakukan
oleh suatu negara untuk mencapai kepentingan nasional
negaranya
Pengertian Hubungan internasional yang terdapat dalam
Encyclopedia Americana dilihat sebagai hubungan antarnegara
atau antarindividu dari negara yang berbeda-beda, baik berupa
hubungan politis, budaya, ekonomi, ataupun hankam. Konsep ini
berhubungan erat dengan subyek-subyek seperti organisasi
internasional, diplomasi, hukum internasional dan politik
internasional.
2. Pentingnya hubungan internasional
Adanya saling ketergantungan antar negara yang ada di dunia,
terutama di bidang ekonomi, sebagai akibat perkembangan ilmu
pengetahuan akan mempengaruhi secara langsung sifat hubungan
di masa mendatang, walaupun saling ketergantungan antar negara
sudah merupakan ciri dan diakui oleh semua negara.
Dampak lebih luas yang diharapkan masing-masing bangsa dalam
hubungan internasional adalah saling kenal, saling membantu dan
saling ketergantungan antar sesama negara.
Ignas Kleden
menyatakan . Adalah kebudayaan yang mengubah suatu
chaos
menjadi
kosmos,
suatu
kekacauan
menjadi
keteraturan . Issue keterbukaan secara internasional menjadi
semakin ramai dibicarakan terutama setelah Presiden Uni Sovyet,
Mikhail Gobachev melakukan serangkaian
gebrakan politik
tentang perestroika (restrukturisasi) dan glasnost (keterbukaan)
dan demokratisasi di negaranya. Dari issue keterbukaan inilah
setiap pemimpin negara sadar betapa penting dan perlunya
hubungan internasional dalam era globalisasi disegala aspek
kehidupan dewasa ini kalau tidak mau ketinggalan. Makna dan
arti penting dari hubungan internasional antara lain saling
kenal, saling membantu dan saling ketergantungan antar sesama
negara, yang akhirnya akan memperbesar rasa tanggung jawab
bersama, untuk itu adanya saling pengertian antar bangsa /
negara
sangatlah
penting,
menginternasionalkan
rasa
ketergantungan, rasa menghormati sehingga tercipta kedamaian
dan kejahteraan umat manusia di dunia
3. Perlunya kerja sama internasional
Ikut melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial merupakan
tujuan internasional negara Indonesia seperti yang tercantum
dalam Pembukaan UUD 1945. Dari tujuan ini diharapkan akan
terwujud kedamaian dan kesejahteraan hidup yang didambakan
oleh setiap manusia di dunia. Hal tersebut tidak akan dapat
dipenuhinya sendiri, sekalipun negara tersebut sangat maju dan
kaya raya, tentu banyak kebutuhan bangsanya yang tidak dapat
dipenuhi sendiri dari dalam negerinya. Begitu pula kemajuan
tekhnologi dan industrinya memerlukan pangsa pasar di negara
lain dan untuk dapat memenuhi bahan mentah atau bahan baku

industrinya memerlukan pula dari negara lainnya. Dengan


demikian negara maju, negara berkembang dan negara miskin
pada dasarnya saling membutuhkan. Oleh karena itu, perlu
diusahakan adanya hubungan persahabatan dan kerja sama antar
bangsa yang didasari sikap saling menghormati dan saling
menguntungkan.
Perlunya hubungan kerja sama internasional pada
dasarnya bertujuan untuk :
1.
memacu
pertumbuhan
ekonomi
setiap
negara
serta
menciptakan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh
rakyatnya
2.
menciptakan saling pengertian antar bangsa
dalam membina dan menegakkan perdamaian dunia
4.

Tujuan Kerjasama Internasional


Ikut melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial merupakan
tujuan internasional negara Indonesia seperti yang tercantum
dalam Pembukaan UUD 1945. Dari tujuan ini diharapkan akan
terwujud kedamaian dan kesejahteraan hidup yang didambakan
oleh setiap manusia di dunia. Hal tersebut tidak akan dapat
dipenuhinya sendiri, sekalipun negara tersebut sangat maju dan
kaya raya, tentu banyak kebutuhan bangsanya yang tidak dapat
dipenuhi sendiri dari dalam negerinya. Begitu pula kemajuan
tekhnologi dan industrinya memerlukan pangsa pasar di negara
lain dan untuk dapat memenuhi bahan mentah atau bahan baku
industrinya memerlukan pula dari negara lainnya. Dengan
demikian negara maju, negara berkembang dan negara miskin
pada dasarnya saling membutuhkan. Oleh karena itu, perlu
diusahakan adanya hubungan persahabatan dan kerja sama
antar bangsa yang didasari sikap saling menghormati dan saling
menguntungkan

Perlunya hubungan kerja sama internasional pada dasarnya


bertujuan untuk :
1.
memacu pertumbuhan ekonomi setiap negara serta
menciptakan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh
rakyatnya
2.
menciptakan saling pengertian antar bangsa dalam membina
dan menegakkan perdamaian dunia
5.

Dasar Hukum Kerjasama Internasional


Dasar pemikiran yang dijadikan pertimbangan kerja sama
internasional bagi bangsa Indonesia, sebagai berikut :
1.
Pembukaan UUD 1945 alenia empat pada kalimat : .. ikut
melaksanakan
ketertiban
dunia
yang
berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial
2.
Piagam PBB pada pasal 1 menyatakan sebagai berikut :
PBB
menciptakan
perdamaian
dan
keamanan
internasional serta berusaha mencegah timbulnya bahaya
yang mengancam perdamaian dan keamanan
PBB mengembangkan persahabatan atar bangsa atas
dasar persamaan dan hak menentukan nasib sendiri
dalam rangka perdamaian dunia
PBB mengembangkan kerja sama internasional dalam
rangka memecahkan persoalan-persoalan ekonomi, sosialbudaya, kemanusiaan serta menghormati hak azasi
manusia tanpa membeda-bedakan suku, jenis kelamin,
bahasa, dan agama
PBB menjadi pusat penyelesaian-penyelesaian pertikaian
internasional

6.

3.

Perjanjian Internasional (Traktat atau Treaty) merupakan


suatu persetujuan yang dibuat secara formal oleh dua negara
atau lebih mengenai penetapan atau ketentuan tentang hak
dan kewajiban masing-masing pihak yang terlibat perjanjian.

4.

Perjanjian Internasional, secara khusus terdapat dalam hukum


laut internasional, dimana Indonesia sejak 13 Desember 1957
memperjuangkan Deklarasi Juanda yang di dalamnya
menyatakan Negara Kesatuan Republik Indonesia dibatasi
oleh garis lurus dengan jarak 12 mil dari pangkal lurus yang
ditarik dari titik terluar pulau-pulau terluar sebagai laut
terluar. Deklarasi ini diakui oleh PBB pada tanggal 10
Desember 1982 dan disahkan oleh pemerintah Indonesia
dengan UU No. 17 Tahun 1985 tentang hukum laut

Azas-Azas Kerjasama Internasional


Dalam hubungan internasional (hubungan antar bangsa) bagi
Indonesia ada tiga azas yang harus ditaati (ditepati) dan
dihormati (Pacta Sunt Servada) dijadikan pedoman yaitu : azas
teritorial, azas kebangsaan dan azas kepentingan umum
Azas Teritorial, menurut azas ini berlaku kekuasaan negara
atas wilayahnya. Artinya hukum negara berlaku bagi semua
orang dan semua barang yang berada di wilayahnya, baik warga
negara asli maupun warga negara asing. Begitu sebaliknya bila
berada di negara lain akan berlaku hukum di negara tersebut.
Contoh tindak kriminal (kejahatan) seperti penyelundupan
barang terlarang
Azas Kebangsaan, menurut azas ini berdasarkan azas
kebangsaan atau kewarganegaraan, kekuasaan negara atas
warga negaranya. Berdasarkan azas ini setiap warga negara
dimanapun berada tetap mendapat perlakuan hukum dari
negaranya.
Berdasarkan
ketentuan
ini
berlaku
azas
eksteritorialitet artinya hukum negara tetap berlaku bagi setiap
warga negara walaupun berada di negara lain. Contohnya.
Pelaku korupsi walaupun sudah berada diluar negeri (lari ke
negara lain) tetap bisa tangkap dan diadili di negara asalnya
Azas Kepentingan Umum, berdasarkan azas ini negara tetap
berhak melindungi dan mengatur kepentingan dalam kehidupan
warga negaranya. Jadi hukum tidak terikat pada batas-batas
suatu wilayah negara. Contohnya hukum internasional akibat
dari perjanjian internasional antar dua atau lebih negara. Seperti
seorang atau beberapa orang warga negaranya (TKI atau TKW)
yang bermasalah di luar negeri dapat dibantu penyelesaiannya
oleh negara Indonesia.

7. Sarana-sarana hubungan internasional


Kerja Sama Bilateral
Kerja sama Bilateral merupakan hubungan kerja sama dua negara
yang
memiliki
kepentingan
sama
dalam
bidang
poleksosbudhankam. Dalam rangka mengadakan hubungan kerja
sama dua negara (bilateral) bagi negara Indonesia haruslah
bersifat demokratis dan terbuka, ini berarti bahwa bila negara
kita
mengadakan hubungan kerja sama dengan negara lain
terlebih dahulu harus mendapat persetujuan dari parlemen atau
DPR, disamping itu hubungan kerja sama dengan negara lain juga
harus dipublikasikan melalui media massa. Secara internasional
hubungan suatu negara dengan negara lain telah diatur dalam
Kovensi Wina pada tahun 1961 tentang Diplomatik (hubungan
bidang politik), dan Konvensi Wina tahun 1963 tentang Konsuler
(hubungan di luar bidang politik) sedangkan pemerintah Indonesia

telah mengeluarkan Keppres


Perwakilan Diplomatik RI.

No.

51

tahun

1961

tentang

Kerja Sama Regional


Kerja sama Regional merupakan kerja sama antarnegara yang
berada dalam satu kawasan, seperti negara-negara yang berada di
kawasan Asia Tenggara (ASEAN), di kawasan Eropa ( MEE) dan
dikawasan Arab (Liga Arab)
Kerja Sama Multilateral
Kerja sama multilateral merupakan suatu kerja sama yang dikuti
oleh lebih dari dua negara atau banyak negara. Sebenarnya kerja
sama Regional juga merupakan kerja sama multilateral karena
anggotanya lebih dari dua negara. Kerja sama yang akan dibahas
merupakan kerja sama yang tidak dalam satu kawasan (Regional)
tetapi yang keanggotaannya mencakup banyak kawasan atau
internasional, diantaranya OPEC, NATO, Negara-Negara Non Blok,
CGI, OKI, APEC dan PBB

BAHAN AJAR/MATERI PEMBELAJARAN :


Kompetensi Dasar 4.2 : Menjelaskan tahap-tahap perjanjian internasional
Perjanjian internasional

1.

Pengertian perjanjian internasional


Menurut Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, SH. LL.M
Perjanjian Internasional adalah perjanjian yang diadakan antar
bangsa yang bertujuan untuk menciptakan akibat-akibat hukum
tertentu
Menurut Oppenheimer dan lauterpacht
Perjanjian internasional adalah persetujuan antar negara yang
menimbulkan hak dan kewajiban di antara yang mengadakan
perjanjian
Menurut G. Schwarzenberger
Perjanjian internasional adalah suatu persetujuan antara subyeksubyek hukum internasional yang menimbulkan kewajibankewajiban yang mengikat, baik bilateral maupun multilateral.
Subyek hukum disini bukan saja lembaga-lembaga internasional
tetapi juga negara.
Menurut Konfrensi Wina 1969
Perjanjian Internasional adalah perjanjian yang diadakan oleh dua
negara atau lebih, yang bertujuan unuk mengadakan akibat-akibat
hukum tertentu.
Contoh :
Konvensi hukum Laut Internasional tahun 1984 di New
York telah menetapkan Landas Kontinental Teritorial laut Indonesia
bersyarat sejauh 200 mil, di luar itu merupakan Laut Bebas.
Istilah batas laut bersyarat Indonesia sejauh 200 mil tersebut
adalah ZEE (Zone Ekonomi Exlusif), pengertian batas bersyaratnya
adalah batas luar wilayah Indonesia ke laut bebas dihitung dari titik
luar kepulauan Indonesia pada waktu air surut sejauh 200 mil

2.

Azas-azas perjanjian internasional


Perjanjian Internasional memiliki 5 azas :
1. Azas Pacta Sunt Servada : azas yang harus ditaati (ditepati) dan
dihormati oleh negara yang mengadakan perjanjian
2. Azas tidak mencampuri urusan dalam negeri negara masingmasing

3. Azas saling menghormati


4. Azas timbal balik
5. Azas saling menguntungkan

3.

Istilah-istilah dalam perjanjian internasional


Istilah yang sering dipakai (muncul) dalam perjanjian internasional
sebagai berikut :
Traktat (Treaty), artinya perjanjian yang dilakukan oleh dua negara
atau lebih yang sifatnya formal karena mempunyai kekuatan hukum
yang lebih mengikat bagi pihak-pihak yang mengadakan perjanjian.
Dengan kata lain, para peserta yang membuat perjanjian tidak
dapat menarik diri dari kewajiban-kewajibannya tanpa persetujuan
dari pihak-pihak yang terlibat
Konvensi (Convention) , artinya jenis perjanjian yang digunakan bagi
hal-hal yang lebih khusus dibandingkan dengan traktat, namun
bersifat multilateral. Dengan kata lain, konvensi tidak menyangkut
kebijaksanaan tingkat tinggi dan harus ditandatangani oleh wakilwakil yang berkuasa penuh
Pakta (Pact), artinya persetujuan yang lebih khusus jika
dibandingkan dengan traktat. Jadi pakta merupakan traktat dalam
arti sempit sehingga pakta pun harus mendapat pengesahan
(ratifikasi)
Perikatan ( Arrangement), artinya suatu bentuk perjanjian yang tidak
seresmi traktat atau konvensi. Oleh karena itu, perikatan merupakan
persetujuan yang biasanya hanya digunakan bagi transaksitransaksi yang bersifat sementara
Persetujuan (Agreement), artinya suatu perjanjian yang bersifat
teknis/administratif sehingga persetujuan tidak seresmi traktat atau
konvensi cukup ditandatangani oleh wakil-wakil departemen dan
tidak perlu diratifikasi
Deklarasi (Declaration), artinya perjanjian yang digunakan dengan
tujuan menunjukkan suatu perjanjian yang menyatakan hukum yang
ada, membentuk hukum yang baru, atau untuk menguatkan
beberapa prinsip kebijaksanaan umum
Piagam (Statute), artinya perjanjian yang menunjukkan himpunan
peraturan yang ditetapkan oleh perjanjian internasional untuk
mengatur fungsi lembaga internasional atau anggaran dasarnya.
Seperti piagam mahkamah internasional (statute of the international
court of justice)
Convenant, artinya suatu istilah yang digunakan oleh piagam Liga
Bangsa-Bangsa (LBB) yang disebut dengan The convenant of the
league tahun 1920.
Charter , artinya istilah yang dipergunakan dalam perjanjian
internasional yang diadakan oleh PBB dan mempunyai fungsi
adminstrasi. Dengan kata lain PBB dalam membuat anggaran
dasarnya berbentuk charter. Misalnya Atlantic Charter 1941, The
Charter of the United Nations 1945
Protokol (Protocol), artinya perjanjian yang sifatnya kurang resmi
dibandingkan dengan traktat atau konvensi. Biasanya protokol
digunakan sebagai naskah tambahan dari konvensi.
Modus Vivendi, artinya perjanjian internasional yang merupakan
dokumen untuk mencatat persetujuan tanpa memerlukan ratifikasi
dan bersifat sementara.
Maksud sementara adalah sampai diwujudkan hasil perjanjian yang
lebih tetap (permanen) dan rinci (sistimatis)

Ketentuan Penutup (Final Act), artinya dokumen dalam bentuk


catatan ringkasan dari hasil konfrensi, seperti catatan mengenai
negara peserta, para utusan dari negara-negara yang turut dalam
perundingan, dan segala kesimpulan tentang hal-hal yang disetujui
konfrensi. Ketentuan penutup ini tidak memerlukan ratifikasi
Ketentuan Umum (General Act), artinya traktat yang bersifat resmi
atau tidak resmi. Liga Bangsa-Bangsa pernah mempergunakan
istilah ini, seperti dalam menyelesaikan permasalahan secara damai
dan pertikaian internasional (arbitrasi) pada tahun 1928

4.

Macam-macam perjanjian internasional


Menurut Subyeknya
a

Perjanjian internasional antarnegara yang dilakukan oleh banyak


negara yang merupakan subyek hukum internasional
b. Perjanjian internasional antara negara dan subyek hukum
internasional lainnya. Seperti negara Indonesia dengan MEE
c. Perjanjian
internasional
antar
sesama
subyek
hukum
internasional selain negara. Seperti antar organisasi internasional
( ASEAN dan MEE)
Menurut Isinya
a.
b.
c.
d.
e.

Segi politis, seperti fakta pertahanan dan fakta perdamaan, yaitu


NATO, SEATO, ANZUS
Segi ekonomi, seperti bantuan ekonomi dan bantuan keuangan,
yaitu CGI, IMF, Wold Bank, IBRD dan sebagainya
Segi Hukum, seperti status kewarganegaraan (Indonesia - RRC)
Segi Batas Wilayah, seperti batas kontinental laut dan udara
Segi Kesehatan, seperti masalah karantina (penyakit menular),
penanggulangan wabah, penyakit AIDS

Menurut Proses/Tahapan Pembentukannya


a.
b.

Perjanjian bersifat penting yang dibuat melalui proses


perundingan, penandatanganan dan ratifikasi
Perjanjian bersifat sederhana yang dibuat melalui dua tahap,
yaitu
perundingan
dan
penandatanganan
(biasanya
dipergunakan istilah persetujuan atau agreement)

Menurut Fungsinya
a.

b.

5.

Perjanjian yang membentuk hukum (Law Making Treaties) yaitu


suatu perjanjian yang meletakkan ketentuan-ketentuan atau
kaidah-kaidah hukum bagi masyarakat internasional secara
keseluruhan (bersifat multilateral). Perjanjian ini bersifat terbuka
bagi pihak ke tiga, seperti Konvensi Wina tahun 1958 tentang
hubungan diplomatik
Perjanjian yang bersifat khusus (Treaty Contract), yaitu perjanjian
yang menimbulkan hak dan kewajiban bagi negara-negara yang
mengadakan perjanjian saja (perjanjian bilateral), seperti RI
RRC tentang Kewarganegaraan (dwi kewarganegaraan) tahun
1955

Tahap-tahap perjanjian internasional


Dalam Konvensi Wina tahun 1969 tentang Hukum Perjanjian
Internasional disebutkan bahwa dalam pembuatan perjanjian baik
bilateral maupun multilateral dapat dilakukan dalam dua atau tiga
tahap atau proses tergantung dari penting tidaknya perjanjian
tersebut.
Tahap Perundingan (Negotiation)

Perundingan
merupakan
perjanjian
tahap
pertama
atara
pihak/negara tentang obyek tertentu. Penjajakan atau pembicaraan
pendahuluan
dilakukan
oleh
masing-masing
pihak
yang
berkepentingan.
Perundingan dapat dilakukan oleh Kepala Negara, Kepala
Pemerintahan, Menteri Luar Negeri, Duta Besar atau pejabat yang
dapat menunjukkan Surat Kuasa Penuh (full powers)
Perundingan yang diadakan dalam rangka perjanjian Bilateral
disebut Talk. Perjanjian Multilateral disebut Diplomatic Conference,
sedangkan perundingan yang tidak resmi disebut Corridor Talk
Isi dari perundingan yang dilakukan biasanya menyangkut beberapa
masalah pokok, antara lain : masalah politik, keamanan, pertikaian,
perdagangan, pertikaian dalam bidang ekonomi, pertikaian dalam
bidang sosial budaya, pertikaian dalam bidang pertahanan serta
masalah lainnya yang menyangkut pembentukan dan pelaksanaan
perjanjian internasional
Dalam rangka membentuk perjanjian internasional, tidak semua
orang dapat melakukan perundingan. Menurut ketentuan hukum
internasional tentang kuasa penuh (power full), seseorang baru
dianggap mewakili suatu negara dengan sah apabila ia dapat
menunjukkan surat kuasa penuh (power full atau credential). Kecuali
jika dari semula peserta konfrensi sudah menentukan bahwa surat
kuasa penuh seperti yang dijelaskan tidak diperlukan. Keharusan
menunjukkan surat kuasa penuh tidak berlaku bagi kepala negara,
kepala pemerintahan (Perdana Menteri), menteri luar negeri, atau
yang karena jabatannya dianggap sudah mewakili negaranya
dengan sah dan dapat melakukan segala tindakan untuk mengikat
negaranya pada perjanjian yang diadakan, termasuk perwakilan
diplomatik
Tahap Penandatanganan (Signature)
Setelah perundingan selesai, dilanjutkan dengan pengesahan bunyi
naskah yang merupakan tindakan formal. Bagi perjanjian
multilateral (perjanjian yang diadakan oleh banyak negara).
Lazimnya penandatanganan dilakukan oleh para Mentri Luar Negeri
atau Kepala Pemeritahan
Untuk perundingan yang bersifat multilateral penandatanganan teks
perjanjian sudah dianggap sah jika 2/3 suara peserta yang hadir
memberikan suara, kecuali ada ketentuan lain. Walaupun demikian
perjanjian belum bisa dilaksanakan sebelum ada ratifikasi oleh
masing-masing negara
Untuk perjanjian bilateral (perjanjian yang dilakukan oleh dua
negara) penerimaan secara bulat dan penuh mutlak diperlukan oleh
dua belah pihak yang melakukan perundingan. Persetujuan dalam
bentuk penandatanganan merupakan suatu tindakan yang sangat
penting dalam rangka mengikatkan diri dalam suatu perjanjian
internasional. Perjanjian tersebut dapat saja mulai berlaku sejak
penandatanganan tanpa harus menunggu adanya ratifikasi
(pengesahan) apabila perjanjian dapat menyatakan demikian
Tahap Pengesahan (Ratification)
Suatu negara mengikatkan diri pada suatu perjanjian dengan syarat
apabila telah disahkan oleh badan yang berwenang di negaranya,
seperti di Indonesia berdasarkan pasal 11 ayat 1 UUD 1945 yang
menyebutkan Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan
perang, perdamaian dan membuat perjanjian dengan negara lain.

Perjanjian yang baru pada tahap penandatanganan, perjanjian


tersebut masih bersifat sementara dan masih harus dikuatkan
dengan pengesahan atau penguatan. Pengesahan ini dinamakan
Ratifikasi

6.

Jenis-jenis perjanjian internasional


1. Perjanjian Bilateral
Perjanjian Bilateral bersifat khusus (treaty contract) karena hanya
mengatur hal-hal yang menyangkut kepentingan kedua negara saja.
Oleh karena itu perjanian bilateral bersifat tertutup. Artinya
tertutup kemungkinan bagi negara lain untuk turut serta dalam
perjanjian tersebut.
Perjanjian Bilateral adalah suatu perjanjian yang dibuat
negara

oleh dua

Contoh Perjanjian Bilateral


a.
Perjanjian Bilateral Republik Indonesia dengan Republik Rakyat
Cina tahun 1955 tentang dwikewarganegaraan
b.
Perjanjian antara Indonesia dengan Muangthai tentang Garis
Batas Laut Andaman di sebelah utara Selat Malaka tahun 1971
c.
d.

Perjanjian Ekstradisi antara Indonesia dengan Malaysia tahun


1974
Perjanjian antara Indonesia dengan Australia 16 Desember 1995
tentang Pertahanan Keamanan wilayah kedua negara

2. Perjanjian Multilateral
Perjanjian Multilateral adalah suatu perjanjian yang diadakan atau
dibuat oleh lebih dari dua negara atau banyak negara
Perjanjian Multilateral sering disebut sebagai Law Making Treaties
karena biasanya mengatur hal-hal yang menyangkut kepentingan
umum dan bersifat terbuka. Perjanjian Multilateral tidak saja
mengatur negara-negara yang mengadakannya, melainkan juga
negara lain yang tidak turut (bukan peserta) dalam mengadakan
perjanjian.
Contoh Perjanjian Multilateral :
1. Konvensi Jenewa tahun 1949 tentang Perlindungan Korban Perang
2. Konvensi Wina tahun 1961 tentang Hubungan Diplomatik
3. Konvensi Hukum Laut Internasional tahun 1982 tentang
Laut
Teritorial, Zone Bersebelahan, Zone Ekonomi Ekslusif dan Landas
Benua.

7.

Pelaksanaan Perjanjian interternasional


1. Ketaatan Terhadap Perjanjian Internasional
a. Perjanjian harus dipatuhi dan dihormati (pacta sunt servada)
Prinsip ini sudah merupakan kebiasaan, karena
sudah
melalui
suatu proses panjang di dalam pembuatannya
(perundingan, penandatangan dan ratifikasi)
b. Kesadaran hukum nasional
Suatu
negara
akan
menyetujui
ketentuan-ketentuan
perjanjian internasional yang sesuai dengan hukum
nasionalnya
(kepentingan
nasionalnya).
Perjanjian
internasional merupakan bagian dari hukum nasionalnya
2.

Penerapan Perjanjian

a. Daya berlaku surut (retroactivity)


Suatu perjanjian mulai berlaku setelah diratifikasi oleh
peserta, kecuali perjanjian menentukan bahwa penerapannya
dimulai
sebelum
ratifikasi
yaitu
sesuai
tanggal
penandatangan perjanjian oleh peserta
b. Wilayah penerapan (territorial scope)
Suatu perjanjian mengikat wilayah negara peserta, kecuali
ada ketentuan
lain, misalnya perjanjian bilateral tentang
wilayah perbatasan
c. Perjanjian penyusul (successive treaty)
Pada dasarnya suatu perjanjian tidak boleh bertentangan
dengan perjanjian serupa yang mendahuluinya, namun
apabila perjanjian yang sudah ada tidak sesuai lagi maka
dapat dibuatkan perjanjian pembaharuan
3. Penafsiran Ketentuan Perjanjian
Penafsiran terhadap ketentuan suatu perjanjian dalam
prakteknya dilakukan dengan menggunakan tiga metode yaitu
a. Metode dari aliran yang berpegang pada kehendak
penyusun perjanjian
b. Metode dari aliran yang berpegang pada naskah perjajian,
dengan penafsiran menurut arti yang umum dari kosa
katanya
c. Metode dari aliran yang berpegang pada obyek dan tujuan
perjanjian
Setelah perjanjian internasional diratifikasi atau disahkan oleh
negara-negara yang mengadakan perjanjian, maka secara
otomatis negara yang mengikat perjanjian tersebut terikat
dengan isi perjanjiannya dan selanjutnya perjanjian itu
meningkat statusnya menjadi hukum internasional dan kepada
setiap negara yang mengadakan hukum internasional,
menjadikan hukum internasional berlaku di negaranya sehingga
hukum internasional tersebut menjadi hukum nasional, yang
harus ditaati oleh seluruh warga negara dari negara yang
bersangkutan.

4. Pembatalan Perjanjian Internasional


Berdasarkan Konvensi Wina tahun 1969, karena berbagai alasan,
suatu perjanjian internasional dapat batal, karena :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Negara peserta atau wakil kuasa penuh melanggar


ketentuan-ketentuan hukum nasionalnya
Adanya unsur kesalahan (error) pada saat perjanjian itu
dibuat
Adanya unsur penipuan dari negara peserta terhadap negara
peserta lainnya waktu pembentukan perjanjian
Terdapat penyalahgunaan atau kecurangan (corruption) baik
melalui kelicikan atau penyuapan
Adanya unsur paksaan terhadap wakil suatu negara peserta.
Paksaan dapat berupa ancaman atau kekerasan
Bertentangan dengan kaidah umum hukum internasional

5. Berakhirnya Perjanjian Internasional


Menurut Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, SH. LL.M dalam buku
Pengantar Hukum Internasional mengatakan bahwa suatu
perjanjian berakhir karena hal-hal berikut ini :

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

telah tercapai tujuan dari perjanjian itu


masa berlakunya sudah habis
punahnya obyek perjanjian itu atau negara yang mengadakan
perjanjian
adanya kesepakan untuk mengakhiri perjanjian
adanya perjanjian baru dan meniadakan perjanjian terdahulu
syarat-syarat tentang penghakiran perjanjian sudah dipenuhi
perjanjian diakhiri oleh salah satu pihak dan diterima pihak
lain

BAHAN AJAR/MATERI PEMBELAJARAN :


Kompetensi Dasar : 4.3 Menganalisis fungsi perwakilan diplomatik
Politik Luar negeri RI

1. Pengertian Politik Luar Negeri


Pada hakekatnya semua negara mempunyai identitas dan cita-cita
nasional. Sejauh mana cita-cita nasional tersebut dapat terpenuhi,
merupakan perjuangan dan tantangan negara dan bangsa yang
bersangkutan. Dalam rangka memenuhi dan mencapai cita-cita
tersebut, hubungan dengan negara lain merupakan salah satu
keharusan. Agar cita-cita/ tujuan, identitas serta kemauan baik negara
dapat dimengerti oleh negara lain atau bangsa lain dibutuhkan
kebijakan luar negeri melalui politik luar negeri yang tepat.
Bagaimanapun, pelaksanaan politik luar negeri suatu negara akan
tetap memperhatikan faktor-faktor keamanan, kemerdekaan, ideologi
negara, kesejahteraan masyarakat dan lain-lainnya.
Politik luar negeri merupakan suatu kebijaksanaan negara dalam
mengendalikan hubungan-hubungan luar negeri sedemikian rupa,
sehingga dapat mencapai tujuan nasional
Pentingnya politik luar negeri suatu negara dalam hubungan
internasional menyangkut :
a. penyambung kehendak nasional ke dalam dunia internasional
b. pembela dan pengabdi kepentingan nasional
c. pemelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam hubungan
internasional.
Sifat politik luar negeri :
a. Bebas Aktif, anti imprialisme dan kolonialisme dalam segala
bentuk menifestasinya dan ikut serta melaksanaan ketertiban
dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan
keadilan sosial
b. Mengabdi kepada kepentingan nasional (bangsa) dan amanat
penderitaan rakyat
Di dalam penerapan politik luar negeri, pemerintah berpendapat
bahwa, pendirian yang harus kita ambil adalah pendirian dimana kita
bukannya menjadi obyek dalam pertarungan politik internasional,
tetapi harus tetap menjadi subyek yang berhak menentukan sikap
sendiri dan memperjuangkan tujuan sendiri, sesuai dengan yang
terdapat dalam Pembukaan UUD 1945.
Perjuangan kita harus dilaksanakan di atas dasar percaya akan diri
sendiri dan berjuang atas kesanggupan sendiri, dengan semboyan
atau dasar ini kita menjalin hubungan dengan bangsa-bangsa di
dunia.
Perjuangan atas dasar percaya dan kesanggupan akan diri sendiri
inilah yang selanjutnya menjadi dasar pertimbangan politik luar
negeri negara kita yaitu Bebas Aktif
Politik Luar Negeri yang Bebas Aktif mengandung pengertian :
Bebas berarti tidak memihak pada kekuatan-kekuatan yang pada
dasarnya tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia
Aktif berarti bahwa di dalam menjalankan kebijaksanaan luar
negerinya, Indonesia
ikut melaksanakan ketertiban dunia
berdasarkan atas kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial
Dengan politik luar negeri yang bebas aktif, Indonesia mendudukkan
dirinya sebagai subyek dalam hubungan luar negerinya dan tidak
sebagai obyek.
2. Landasan politik Luar Negeri
a. Landasan Idiil, Pancasila khususnya sila Kemanusiaan yang adil
dan beradab

b. Landasan Konstitusional :
- Pembukaan UUD 1945, Alenia I dan IV
- Pasal 11, 13 dan 27 (1) UUD 1945
c. Landasan Operasional :
- Tap MPRS No. XII/MPRS/1966 tentang pelaksanaan Politik
Luar Negeri RI
- Tap MPR RI tentang GBHN 1999 - 2004, bidang Politik Luar
Negri RI
3. Tujuan Politik Luar Negeri
Dasar Politik Luar Negeri RI yang bebas aktif yang diletakkan untuk
pertamakalinya oleh Drs. Mochammad Hatta pada tanggal 2
September 1948 di depan sidang Badan Pekerja Komite Nasional.
Mengenai tujuan politik luar negeri RI dapat kita jumpai dalam buku
yang berjudul Dasar Politik Luar Negeri RI oleh Drs. Mochammad Hatta
sebagai berikut :.
a.
Mempertahankan kemerdekaan bangsa dan menjaga keselamatan
Negara
b.
Memperoleh barang-barang yang diperlukan dari luar untuk
memperbesar kemakmuran rakyat apabila barang-barang itu tidak
atau belum dapat dihasilkan sendiri
c.
Meningkatkan perdamaian internasional, hanya ada dalam
keadaan damai, Indonesia dapat membangun dan memperoleh
syarat-syarat yang diperlukan untuk memperbesar kemakmuran
rakyat
d.
Meningkatkan persaudaraan segala bangsa sebagai pelaksanaan
cita-cita yang tersimpul di dalam Pancasila, dasar dan filsapat
negara kita
4.

Pedoman perjuangan Politik Luar Negeri


Pedoman perjuangan politik luar negeri yang bebas aktif berdasarkan
faktor-faktor sebagai berikut
a. Dasa Sila Bandung, yang mencerminkan solidaritas negara-negara
Asia Afrika dan perjuangan melawan imprialisme dan
kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, serta
mengandung sifat non intervensi (tidak turut campur urusan
negara lain)
b. Prinsip bahwa masalah Asia hendaknya dipecahkan oleh bangsa
Asia sendiri dengan kerja sama regional
c. Pemulihan kembali kepercayaan negara-negara/bangsa-bangsa
lain terhadap maksud dan tujuan revolusi Indonesia dengan cara
memperbanyak kawan daripada lawan, menjauhkan kontradiksi
dengan mencari keserasian yang sesuai dengan falsapah Pancasila
d. Pelaksanaan dilakukan dengan keluwesan dengan pendekatan dan
penaggapan sehingga pengarahannya harus dilakukan untuk
kepentingan nasional terutama untuk kepentingan ekonomi rakyat

5.

Prinsip Politik Luar Negeri


Ada beberapa prinsip dasar/pokok politik luar negeri yang bebas aktif
diantaranya :
a. Negara kita menjalankan politik damai
b. Negara kita bersahabat dengan segala bangsa atas dasar saling
menghargai dengan tidak mencampuri soal susunan dan corak
susunan pemerintahan masing-masing
c. Negara kita memperkuat sendi-sendi hukum internasional dan
organisasi internasional untuk menjamin perdamaian yang kekal
d. Negara kita berusaha mempermudah jalannya pertukaran
pembayaran internasional
e. Negara kita membantu pelaksanaan keadilan sosial internasional
dengan berpedoman pada Piagam PBB
f. Negara kita dalam lingkungan PBB berusaha menyokong
perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa yang masih di jajah
sebab tanpa kemerdekaan, persaudaraan dan perdamaian
internasional itu tidak akan tercapai

6.

Pelaksanaan Politik Luar Negeri


Pelurusan pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif yang pernah
disimpangkan pelaksanaannya pada masa Orde Lama yaitu dengan
pelaksanaan politik luar negeri yang membentuk poros Jakarta
Veking Pyongyang yang berbau Komunis sangat menyimpang
dari kepribadian bangsa dan falsapah bangsa Indonesia yaitu
Pancasila
Dengan dikeluarkannya Ketetapan MPRS No. XII/MPRS/1966 tentang
pelaksanaan Politik Luar Negeri yang Bebas Aktif, selanjutnya
dijadikan pedoman bagi pemerintah di dalam melaksanakan politik
luar negerinya, dan selanjutnya sebagai garis kebijakan pemerintah
setiap lima tahunnya MPR dalam Sidang Umum telah menetapkan
GBHN yang di dalamnya memuat bidang Politik luar negeri selalu
dijadikan landasan operasional

Perwakilan Negara RI di Luar Negeri


1. Departemen Luar Negeri
Sebagai sarana untuk mengembangkan kerja sama internasional
maka dilakukan perjanjian. Perjanjian yang dilakukan antara dua
negara disebut bilateral, sedangkan perjanjian yang dilakukan oleh
lebih dari dua negara disebut multilateral
Kepala Negara atau Menteri Luar Negeri mempunyai kewenangan
bertindak atas nama negara untuk melakukan hubungan atau
transaksi antar negara. Hal itu diakui di dalam hukum internasional.
Akan tetapi dalam praktik keduanya tidak mungkin selalu
melaksanakan sendiri kewenangan tersebut. Oleh karena itu, untuk
melaksanakan transaksi internasional, negara perlu membentuk
perwakilan luar negeri.
Departemen luar negeri merupakan departemen yang bertanggung
jawab atas hubungan suatu negara dengan negara lain dan Organisasi
Internasional. Nama dan tanggung jawabnya tergantung pada aturan
hukum nasional tiap-tiap negara. Pada kebanyakan negara sebutan
Menteri Luar Negeri adalah Minister of Foreign Affairs.
Departemen
luar
Negeri
memiliki
fungsi
ekskutif
untuk
mengimplementasikan politik luar negeri dan mengelola hubungan
internasional. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan dalam hubungannya
dengan misinya sendiri (perwakilan diplomatik). Misalnya, pemberian
instruksi permintaan laporan. Selain itu, dalam hubungannya dengan
korp diplomatik untuk membicarakan kepentingan antar dua negara
yang menyangkut saluran antara pemerintahannya dengan wakil
negara asing.
2.

Perwakilan Diplomatik
Persyaratan yang harus dipenuhi dalam pembukaan atau pertukaran
perwakilan diplomatik (dalam arti politik) maupun konsuler (dalam arti
nonpolitik) dengan negara lain sebagai berikut :
1.
Harus ada kesepakatan antara ke dua belah pihak (negara
pengirim dan negara penerima)
2.
Harus sesuai dengan prinsip-prinsip hukum internasional yang
berlaku
Tujuan diadakannya perwakilan di negara lain :
1.
Memelihara kepentingan negaranya di negara penerima, sehingga
bila terjadi sesuatu urusan, perwakilan tersebut dapat mengambil
langkah untuk menyelesaikannya dengan cepat
2.
Melindungi warga negara sendiri yang bertempat tinggal di negara
penerima
3.
Menerima pengaduan-pengaduan untuk diteruskan kepada
pemerintah negara penerima

Dengan telah dibukanya hubungan internasional dengan negara lain


melalui pembukaan Konsuler atau Diplomatik maka barulah
ditingkatkan dengan hubungan kerja sama dengan negara lain baik
berupa hubungan Bilateral, Regional dan Multilateral.
Hubungan diplomatik yang paling kuat dan effektif apabila hubungan
itu dibentuk atas dasar kehendak bersama, saling mengirim dan
menerima serta dalam derajat yang sama pula. Hal ini selain
menunjukkan erat tidaknya hubungan antar negara, sekaligus
merupakan manifestasi saling menghormati antar negara
Menurut Rglemen Wina, yang ditetapkan dalam Kongres Wina pada
tahun1815 dan Kongres Achen pada tahun 1918, mengatur tentang :
CD (Corp Diplomatic) dan CC (Corp Consuler)
Corp diplomatik (perwakilan bidang politik) berkedudukan di ibu
kota negara, dapat mewilayahi satu atau beberapa negara yang
selalu berhubungan dengan pemerintahan pusat.
Corp diplomatik dibagi dalam 4 kelas atau tingkatan :
- Duta Besar ( Ambassador)
- Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh
- Mentri Residen ( Minister Residen)
- Kuasa Usaha (Charge daffaires)
Duta besar yang diangkat menjadi ketua perwakilan asing disebut
Doyen dan seorang corp diplomatik baru dianggap sah apabila
telah menyerahkan surat kepercayaan (letter de creance),
Permintaan persetujuan penempatan seorang calon Corp Diplomatik
oleh negara yang akan menempatkannya atau mengirimnya di
tempat negara yang menerimanya disebut dengan Agreement atau
demonde dagregation (persetujuan). Dagregation (persetujuan)
ada dua : negara penerima tidak keberatan atas calon duta dan
negara penerima setuju atas calon duta tersebut. Begitu pula calon
seorang Corp Diplomatik atau seorang diplomatik yang sudah
ditugaskan di negara lain ternyata ditolak atau yang sudah bertugas
diusir karena tidak disenangi disebut dengan Persona Non Grata.
Seorang duta dapat bertugas lebih dari satu negara (tugas rangkap)
karena pertimbangan tehnis dan kepentingan.
Berhentinya wakil diplomatik dan konsuler tidak ada hubungannya
dengan putusnya hubungan diplomatik dan konsuler antar dua
negara. Berhentinya wakil diplomatik karena bebera sebab :
1.
meninggal dunia
2.
ada tugas khusus di negara lain (mutasi atau pindah tugas)
3.
habis masa tugasnya
4.
ditarik kembali oleh negara pengirim
5.
membahayakan keselamatan CD atau CC karena di negara
bertugas ada perang
3. Perwakilan Konsuler
Corp Konsuler mengurus bidang ekonomi, sosial dan budaya
dalam melaksanakan tugasnya berkedudukan di ibu kota propinsi dan
tidak memiliki hak kekebalan hukum ( hak immunitet ) berbeda
dengan Corp diplomatik
Menurut tingkatannya Consul ada 4 :
1.
Konsul Jendera (Konjen)
2.
Konsul
3.
Wakil Konsul
4.
Agen Konsul
Seorang Konsul baru dianggap sah apabila telah menerima
dokumen Eskuatur negara penerima . Jika di negara penerima
Konsul tidak mempunyai hubungan diplomatik, pejabat-pejabat
Konsuler dapat melakukan tugas-tugas diplomatik dengan seijin
negara penerima. Berbeda dengan Corps Diplomatique (CD) yang

kantor perwakilannya berada di ibu kota negara, sedangkan Corp


Consulair (CC) berada di daerah ibu kota Provinsi atau negara bagian
yang wilayah kekuasaannya sangat terbatas. Ini berarti Konsul bisa
terdapat disetiap ibu kota Provinsi, jika diperlukan.

BAHAN AJAR/MATERI PEMBELAJARAN :


Kompetensi Dasar : 4. 4 Mengkaji peranan organisasi internasional dalam
meningkatkan
perdamaian dan
hubungan internasional
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)
1. Sejarah Singkat PBB
Perang Dunia I yang berlangsung dari tahun 1914 1918 telah
memporak porandakan tatanan kehidupan manusia, dimana
nyawa manusia seperti tidak ada harganya sama sekali. Melihat
dari kenyataan inilah atas usul Presiden Amerika Serikat,
Woodrow Wilson, akhirnya pada tanggal 10 Januari 1920
terbentuklah suatu organisasi internasional yang bernama Liga
Bangsa-Bangsa (league of nations)
Tujuan
dari
Liga
Bangsa-Bangsa
(LBB)
ini
adalah
mempertahankan perdamaian internasional dan meningkatkan
kerja sama internasional
Tugas dari liga Bangsa Bangsa adalah menyelesaikan
sengketa secara damai, sehingga peperangan dapat dicegah
Ternyata LBB tidak dapat melaksanakan tugas dan tujuannya,
karena tidak mampu menciptakan perdamaian dunia. Hal ini
karena munculnya suatu kekuatan Facis dipimpin Mussolini,
dimana kekuasaan kaum Nazi Jerman di bawah pimpinan
Hittler, dan imprialisme Jepang yang telah merobek-robek dan
menghianati isi perjanjian LBB.
Setelah LBB gagal di dalam mengemban tugasnya maka
meletuslah Perang Dunia II dari tahun 1939 1945, ternyata
meletusnya Perang Dunia II sangat memperihatinkan tokoh-tokoh
dunia akan keselamatan umat manusia, dari alasan inilah timbul
lagi ide untuk membentuk suatu organisasi dunia yang nantinya
bertugas untuk dapat mengendalikan perdamaian dunia.
Diawali dengan pertemuan Presiden Amerika Serikat Franklin
Delano Roosevell dan Perdana Mentri Inggris, Winston
Churchill di atas sebuah kapal perang milik AS yang bernama
Augusta, pada tahun 1941 di laut Atlantik akhirnya menghasilkan
sebuah Piagam Atlantik (Atlantic Charter)
Isi dari Atlantic Charter :
a. Tidak melakukan perluasan wilayah diantara sesamanya
b.
Menghormati hak setiap bangsa untuk memilih bentuk
pemerintahan dan nasibnya sendiri

Mengakui hak semua negara untuk turut serta dalam


perdagangan dunia
d.
Mengusahakan terbentuknya perdamaian dunia dimana setiap
bangsa berhak mendapatkan kesempatan untuk hidup bebas
dari rasa takut dan kemiskinan
e.
Mengusahakan penyelesaian sengketa secara damai
c.

Pokok-pokok Piagam Atlantik itulah akhirnya pada tanggal 14


Agustus 1941 menjadi dasar konfrensi-konfrensi internasional
selanjutnya di dalam menyelesaikan Perang Dunia II dan menuju
pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Piagam PBB terdiri dari:
I. Mukadimah 4 Alenia
II. Batang Tubuh 19 Bab, dengan 111 pasal
Dalam catatan sejarah Indonesia sebagai anggota PBB, setelah
Indonesia merdeka 17 Agustus 1945, usaha untuk menjadi
anggota PBB sudah dilakukan, namun baru tanggal 28 September
1950 berhasil, namun pernah ke laur dari PBB pada tanggal 7
Januai 1965 dan masuk lagi pada tanggal 28 September 1966.
2. Azas Organisasi PBB
1. Berdasarkan persamaan kedaulatan dari semua anggota
2. Semua anggota harus memenuhi
dengan ikhlas kewajibankewajiban mereka sebagaimana tercantum dalam Piagam PBB
3.
Semua anggota harus menyelesaikan persengketaanpersengketaan internasional dengan jalan damai tanpa
membahayakan perdamaian, keamanan dan keadilan
4. Dalam hubungan internasional semua anggota harus menjauhi
penggunaan ancaman atau kekerasan terhadap negara lain
5. Pemberian bantuan yang diperlukan PBB
6. PBB tidak berwenang mencampuri urusan dalam negeri negara
anggota
7. Keanggotaan PBB terbuka bagi semua negara yang cinta damai
menerima syarat-syarat piagam PBB
3. Tujuan Organisasi PBB
Memelihara perdamaian dan keamanan internasional
2. Mengembangkan hubungan persaudaraan antar bangsa
3.
Menciptakan kerja sama dalam memecahkan masalah
internasional dalam bidang ekonomi, Sosial budaya dan hak
asasi
4. Menjadikan PBB sebagai pusat mewujudkan tujuan dan cita-cita
bersama
1.

4.

Struktur Organisasi PBB


a. Majelis Umum (General Assembly)
b. Dewan Keamanan (Scurity Council)
c. Dewan Economi dan Sosial (Economic and Social Council)
d.Dewan Perwalian (Trusteeship Council)
e. Mahkamah Internasional (Internasional Court and justice)
f.
Sekretariat

Fungsi dan Peranan PBB


Fungsi PBB
Memelihara perdamaian dan keamanan internasional
Tempat atau pusat penyelesaian sengketa hukum internasional
3.
Memberi sanksi terhadap pelanggar Asas dan Tujuan PBB sesuai
Piagam PBB
1.
2.

Peranan PBB
1.
2.
3.
4.
5.

Menciptakan perdamaian dan keamanan internasional


Memajukan Persahabatan dengan jalan saling menghormati
antar bangsa atas dasar persamaan derajat (kedaulatan)
Memajukan kerja sama antar bangsa dalam bidang ekonomi, sosial,
budaya, pendidikan dan kesehatan
Memberikan solusi atas permasalahan dalam negeri negara anggota
apabila diminta
Memberi bantuan kepada negara yang memerlukan melalui Badanbadan PBB

BAHAN AJAR/MATERI PEMBELAJARAN


KOMPETENSI : 4.5
Menghargai
Internasioal

Kerja

Sama

dan

Perjanjian

Negara Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh,


berhak menentukan nasibnya sendiri, begitu pula bebas mengadakan
hubungan kerja sama dengan semua negara yang ada di dunia atas
dasar saling menguntungkan yang berpedoman kepada pelaksanaan
Politik Luar Negeri Indonesia dan Piagam PBB.
Kerja sama maupun Hubungan Internasional Indonesia selalu mendapat
dukungan rakyat melalui wakil-wakilnya di DPR secara positif, hal ini
terbukti dari banyaknya kerja sama maupun hubungan internasional
yang telah di ratifikasi oleh DPR, seperti kerja sama atau hubungan
internasional yang bersifat bilateral, regional maupun multilateral,
dimana Indonesia ikut sebagai anggotanya
Beberapa contoh hasil positif yang sudah dirasakan dari kerja sama
dan hubungan internasional, seperti pengakuan negara lain baik secara
de facto maupun de yure terhadap kemerdekaan Indonesia, bantuan
badan-badan internasional terhadap masalah dalam negeri Indonesia
(CGI, UNICEF, World Bank, dll), stabilitas kawasan Asia Tenggara dengan
adanya ASEAN, stabilitas harga minyak dunia dengan adanya OPEC,
kembalinya Irian Barat melalui Pemerintahan Sementara PBB (UNTEA =
United Nations Temporary Executive Authority ), terbentuknya Pasukan
Keamanan PBB di Irian Barat yaitu UNSF ( United Nations Security
Forces), terbentuknya komisi PBB untuk Indonesia yaitu UNCI (United
Nations Commission for Indonesian) menghasilkan pengakuan Belanda
terhadap kemerdekaan Indonesia dan lain-lainnya.
Dalam dunia internasional, peranan Indonesia untuk membina dan
mempererat persahabatan dan kerja sama saling menguntungkan antar
bangsa perlu diperluas dan ditingkatkan.
Berlandaskan pada konsep dasar pelaksanaan politik luar negeri
Indonesia yang bebas aktif, ini berarti negara kita akan selalu aktif
dalam kerja sama dan hubungan internasional baik secara bilateral,
regional maupun multilateral dalam bingkai dunia yang berlandaskan
persamaan derajat dan kedaulatan.
Sejak awal kemerdekaan Indonesia telah menggariskan kebijaksanaan
luar negerinya dengan ikut aktif menciptakan perdamaian dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, hal

ini dapat terwujud melalui kerja sama dan hubungan internasional yang
saling menguntungkan.
Beberapa contoh mengenai peranserta Indonesia dalam kerja sama dan
hubungan internasional yang bermanfaat bagi dunia dan Indonesia:
- Keaktifan Indonesia dalam mengirim pasukan perdamaian (pasukan
Garuda) ke negara-negara Kongo, Timur Tengah, Vietnam, Kamboja,
Bosnia, Herzegovina dan Lebanon
- Melalui Gerakan Non Blok (GNB) telah mampu meredakan
ketegangan pada masa perang dingin blok barat dan blok timur
- Mendukung pembentukan pasar bebas di kawasan ASEAN (AFTA),
Asia Fasipik (APEC) dan zone bebas nuklir di kawasan ASEAN
- Selalu menyerukan dunia bebas nuklir dan menentang kolonialisme,
imprialisme serta terorisme internasional
- Secara aktif memajukan kerja sama ekonomi, sosial, budaya, politik,
hukum, pendidikan melalui kerja sama bilateral, regional dan
multilateral
Dari contoh-contoh yang sudah dikemukakan di atas mengenai kerja
sama dan hubungan internasional, maka sudah menjadi kewajiban kita
untuk senantiasa mendukung setiap usaha pemerintah dalam upaya
ikut mewujudkan keamanan, ketertiban, kedamaian dunia serta
peningkatan kemakmuran dalam negeri melalui kerja sama dan
hubungan internasional

BAHAN AJAR/MATERI PEMBELAJARAN :


Kompetensi Dasar : 5.1 Mendeskripsikan
internasional

sistem

hukum

dan

peradilan

Sistem Hukum dan Pengadilan Internasional


1. Pengertian Hukum Internasional
Pandangan Grotius (Hugo de Groot) tentang hukum dan hubungan
internasional didasarkan atas kemauan bebas dan persetujuan
beberapa atau semua negara. Hal ini ditujukan demi kepentingan
bersama dari mereka yang menyatukan diri di dalamnya
Pandangan J. G. Starke, hukum internasional adalah sekumpulan
hukum yang sebagian besar terdiri dari azas-azas dan karena itu
biasanya ditaati dalam hubungan antarnegara.
Pandangan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, SH.,LL.M, hukum
internasional adalah keseluruhan kaidah-kaidah dan azas-azas yang
mengatur hubungan atau persoalan yang melintas batas-batas negara.
Hukum Internasional mencakup dua hal yaitu : Hukum Perdata
Internasional dan hukum Publik Internasional
Hukum Perdata Internasional adalah hukum internasional yang
mengatur hubungan hukum antara warga negara suatu negara dan
warga negara dari negara lain (hukum antarbangsa)
Hukum Publik Internasional adalah hukum internasional yang
mengatur negara yang satu dengan negara yang lain dalam
hubungan internasional (hukum antarnegara)
Kedua hukum internasional ini memiliki persamaan dan perbedaan
sebagai berikut :
Persamaannya : keduanya mengatur hubungan antara persoalanpersoalan yang melintasi batas-batas negara
Perbedaannya : kalau Hukum Perdata Internasional menyangkut
hubungan atau persoalan antar warganegara atau antar bangsa secara

internasional. Sedangkan Hukum Publik Internasional menyangkut


hubungan atau persoalan internasional antar negara.
2. Azas-Azas Hukum Internasional
Berlakunya hukum internasional dalam rangka menjalin hubungan
antarnegara, harus memperhatikan azas-azas berikut : azas
teritorialitet, azas kebangsaan dan azas kepentingan umum
Azas Teritorialitet : azas ini didasarkan atas kekuasaan negara
kepada daerahnya. Berdasarkan azas ini negara melaksanakan hukum
bagi semua orang dan semua barang yang ada di wilayahnya.
Berdasarkan azas ini setiap orang atau barang yang berada diwilayah
negara tertentu bila melakukan pelanggaran hukum internasional akan
diberlakukan hukum internasional pula
Azas Kebangsaan : azas ini didasarkan atas kekuasaan negara untuk
warga negaranya dimanapun mereka berada baik di dalam maupun di
luar negeri bila melanggar hukum negaranya. Azas ini mempunyai
kekuatan Exteritorial yang artinya hukum dari negara tersebut tetap
berlaku juga bagi warga negaranya walaupun berada di negara asing.
Azas Kepentingan Umum : azas ini didasarkan pada wewenang
negara untuk melindungi dan mengatur kepentingan dalam kehidupan
bermasyarakat. Dalam hal ini, negara dapat menyesuaikan diri dengan
semua keadaan dan peristiwa yang bersangkut paut dengan
kepentingan umum. Jadi, hukum tidak terikat pada batas-batas wilayah
suatu negara.
Apabila ketiga azas ini kurang diperhatikan, akan timbul kekacauan
hukum dalam hubungan antarbangsa. Oleh karena itu perlu adanya
lembaga hukum internasional.

3. Sumber Hukum Internasional


Menurut Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, SH. LL.M sumber
hukum internasional dapat dibedakan dalam: sumber hukum dalam arti
formal dan material
Sumber Hukum dalam Arti Formal adalah sumber dari mana kita
mendapatkan
atau
menemukan
ketentuan-ketentuan
hukum
internasional. Menurut Brierly, sumber hukum internasional dalam arti
formal merupakan sumber hukum yang paling utama dan memiliki
otoritas tertinggi dan otentik yang dapat dipergunakan oleh Mahkamah
Internasional di dalam memutuskan sengketa internasional adalah
sumber hukum yang terdapat pada pasal 38 Piagam Mahkamah
Internasional Permanen tanggal 16 Desember 1920 yaitu :
- Perjanjian Internasional (traktat atau treaty)
- Kebiasaan internasional yang terbukti dalam praktek umum dan
diterima sebagai hukum
- Azas-azas umum hukum yang diakui bangsa-bangsa beradab
- Keputusan-keputusan hakim (judicial decisions)
dan ajaran-ajaran
para ahli hukum internasional dari berbagai negara sebagai alat
tambahan untuk menentukan hukum (karya hukum)
- Pendapat-pendapat para ahli hukum yang terkemuka

4. Subyek Hukum Internasional


Subyek hukum internasional yaitu : Negara, Tahta Suci, Palang Merah
Internasional, Organisasi Internasional, Orang Perseorangan (Individu),
Pemberontak dan Pihak dalam Sengketa

Negara, sebagai subyek hukum internasional, karena


internasional merupakan hasil dari perjanjian antarnegara

hukum

Tahta Suci, sebagai subyek hukum internasional, karena Tahta Suci


yang berkedudukan di Vatikan Roma tidak hanya mengurusi masalah
agama atau gereja Roma saja tetapi juga dunia. Dan status Vatikan
disamakan dengan negara karena memiliki syarat berdirinya negara
dan bahkan ada pengakuan dari negara lain, ini terbukti Vatikan
memiliki perwakilan diplomatik di beberapa ibu kota negara.
Palang Merah Internasional, berkedudukan di Jenewa dijadikan
subyek hukum internasional, karena banyak mengurusi masalah
perlindungan kemanusiaan akibat perang yang terjadi antarnegara
Organisasi Internasional, yang dijadikan subyek hukum internasional
adalah semua badan dunia seperti PBB dengan alat kelengkapannya
Orang Perseorangan (Individu), karena kejahatannya waktu
memimpin suatu negara sehingga mengakibatkan kehancuran terhadap
kemanusiaan karena kepemimpinan yang otoriter, melakukan kejahatan
terhadap kemanusiaan, kejahatan perang berdasarkan penilaian
Mahkamah Internasional. Termasuk juga para turis, para pelajar, para
olah ragawan, para musisi dan perorangan lainnya yang sedang
melakukan lawatan atau tugas selanjutnya melakukan tidak kejahatan
internasional seperti terorisme setelah mendapat penilaian Mahkamah
Internasional mereka dapat menjadi subyek hukum internasional
Pemberontak dan Pihak dalam Sengketa, dapat dijadikan subyek
hukum internasional karena dapat menentukan nasibnya sendiri,
memiliki hak secara bebas memilih sistem ekonomi, politik, sosial
sendiri dan dapat menguasai sumber daya alam di wilayah yang
didudukinya.
5.

Lembaga Peradilan Internasional


Mahkamah Internasional bekerja dalam badan Peradilan Internasional
berkedudukan di Den Haag Belanda. Mahkamah Internasional dapat
bersidang di luar markasnya di Den Haag apabila dianggap perlu.
Mahkamah Internasional bersidang setiap tahun kecuali hari-hari besar
dan libur.
Mahkamah Internasional atau Peradilan Internasional dapat mengadili
semua perselisihan yang terjadi antar negara baik anggota maupun
bukan anggota PBB. Dalam penyelesaian ini, mengusahakan jalan
damai yang selaras dengan asas-asas
keadilan dan hukum
internasional
Mahkamah Internasional beranggotakan 15 orang hakim yang berasal
dari 15 negara anggota PBB yang dipilih dalam Sidang Majelis Umum
PBB dengan masa kerja 9 tahun. Mahkamah memilih ketua dan wakil
ketua untuk masa jabatan tiga tahun dan dapat dipilih kembali. Adapun
bahasa resmi yang dipergunakan selama persidangan adalah bahasa
Perancis dan Inggris. Namun atas permintaan salah satu dari fihak yang
bersengketa
dapat
meminta,
Mahkamah
Internasional
dapat
mengijinkan penggunaan bahasa lain.

6. Proses Ratifikasi Hukum Internasional


Lahirnya hukum internasional berawal dari adanya proses perjanjian
internasional yang dilakukan secara bilateral maupun secara
multilateral yang selanjutnya memiliki kekuatan hukum mengikat
diantara negara yang melakukan perjanjian tersebut. Proses ratifikasi
atau pengesahan suatu perjanjian internasional didahului oleh adanya
tahap perundingan (negotiation) yang dilanjutkan dengan tahap
penandatanganan (signature).

Dalam Konvensi Wina tahun 1969 tentang Hukum Perjanjian


Internasional (baca hukum internasional) disebutkan bahwa dalam
pembuatan perjanjian baik bilateral maupun multilateral dapat
dilakukan dalam dua atau tiga tahap tergantung dari penting tidaknya
perjanjian tersebut.
Tahap Perundingan (Negotiation)
Perundingan merupakan perjanjian tahap pertama antara pihak yang
berunding tentang obyek tertentu. Penjajakan atau pembicaraan
pendahuluan
dilakukan
oleh
masing-masing
pihak
yang
berkepentingan.
Perundingan dapat dilakukan oleh Kepala Negara, Kepala Pemerintahan,
Menteri Luar Negeri, Duta Besar atau pejabat yang dapat menunjukkan
Surat Kuasa Penuh (full powers)
Perundingan yang diadakan dalam rangka perjanjian Bilateral
disebut Talk. Perjanjian Multilateral
disebut Diplomatic
Conference, sedangkan perundingan yang tidak resmi disebut
Corridor Talk
Tahap Penandatanganan (Signature)
Lazimnya penandatanganan dilakukan oleh para Menteri Luar Negeri
atau Kepala Pemeritahan
Untuk perundingan yang bersifat multilateral penandatanganan teks
perjanjian sudah dianggap sah jika 2/3 suara peserta yang hadir
memberikan suara, kecuali ada ketentuan lain. Walaupun demikian
perjanjian belum bisa dilaksanakan sebelum ada ratifikasi oleh masingasing negara
Tahap Pengesahan (Ratification)
Suatu negara mengikatkan diri pada suatu perjanjian dengan syarat
apabila telah disahkan oleh badan yang berwenang di negaranya,
seperti di Indonesia berdasarkan pasal 11 ayat 1
UUD 1945 yang
menyebutkan Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang,
perdamaian dan membuat perjanjian dengan negara lain. Lebih lanjut
dari pelaksanaan pasal 11 UUD 1945 dituangkan kedalam UU. No. 24
Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional.
Perjanjian yang baru pada tahap penandatanganan, perjanjian tersebut
masih bersifat sementara dan masih harus dikuatkan dengan
pengesahan atau penguatan. Ini dinamakan Ratifikasi
Ratifikasi Perjanjian Internasional dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Ratifikasi oleh badan ekskutif
Sistem ini biasanya dilakukan oleh raja-raja absolut atau
pemerintahan yang otoriter
b.
Ratifikasi oleh badan legeslatif (
Sistem ini jarang
digunakan )
c. Ratifikasi Campuran (DPR Pemerintah)
Sistem ini paling banyak dilakukan karena peranan legeslatif dan
ekskutif sama-sama menentukan dalam proses ratifikasi suatu
perjanjian
Setelah perjanjian internasional diratifikasi atau disahkan oleh negaranegara yang mengadakan perjanjian, maka secara otomatis negara
yang mengikat perjanjian tersebut terikat dengan isi perjanjiannya dan
selanjutnya perjanjian itu meningkat statusnya menjadi hukum
internasional dan kepada setiap negara yang mengadakan hukum
internasional, menjadikan hukum internasional berlaku di negaranya

sehingga hukum internasional tersebut menjadi hukum nasional, yang


harus ditaati oleh seluruh warga negara dari negara yang bersangkutan

BAHAN AJAR/MATERI PEMBELAJARAN :


Kompetensi Dasar : 5.2 Menjelaskan penyebab timbulnya sengketa
internasional dan cara
penyelesaian oleh Mahkamah Internasional
5.3 Menghargai putusan Mahkamah Internasional
Sengketa internasional
1. Sebab-sebab sengketa internasional
Kalau kita perhatikan timbulnya sengketa internasional, karena
adanya pelanggaran terhadap kebebasan atau kemerdekaan dari
suatu negara oleh negara lain yang menyebabkan terganggunya
ketenangan atau kedamaian negara tersebut.
Sebab-sebab sengketa internasional tersebut dapat berupa :
1. pelanggaran batas wilayah berupa penyusupan, mata-mata,
lintas batas, pelanggaran zone batas teritorial hukum laut
internasional dan lintas batas kedaulatan udara,
2. mendukung pemberontak atau pengacau keamanan di negara
lain, membiayai terorisme di suatu negara
3. pelangaran terhadap isi perjanjian yang telah disepakati bersama
secara sepihak,
4. perebutan sumber-sumber untuk kehidupan (missal : sumber
daya alam seperti minyak, sumber perdagangan),
5. perluasan pengaruh politik,
6. adanya perbedaan kepentingan ideologi, ekonomi, sosial, budaya
2.

Penyelesaian sengketa internasional


Cara yang dapat ditempah dalam menyelesaikan pertikaian
internasional dapat digolongkan dalam dua cara yaitu penyelesaian
pertikaian secara damai dan kekerasan.
1. Penyelesaian secara damai :
1). Penyelesaian perdamaian melalui peradilan internasional
Penyelesaian perdamaian melalui peradilan internasional
dapat ditempuh melalui arbitrase internasional dan
pengadilan internasional
a. Arbitrase internasional
Penyelesaian pertikaian atau sengketa internasional
adalah
pengajuan
sengketa
internasional
kepada
arbitrator (wasit) yang dipilih secara bebas oleh para
pihak yang bersengketa
Arbitrase merupakan suatu penerapan prinsip hukum
terhadap suatu sengketa dalam batas-batas yang telah
disetujui sebelumnya oleh pihak yang bertikai atau
bersengketa. Jadi yang mengatur arbitrase adalah pihak
yang bertikai

Arbitrase terdiri dari : 1. seorang Arbitrator, 2. Komisi


bersama antara anggota-anggota yang bersengketa, 3.
Komisi campuran yang terdiri atas orang-orang yang
diajukan oleh para pihak yang bersengketa dan ditambah
dari anggota dari cara yang lain
b. Pengadilan Internasional
Penyelesaian sengketa internasional melalui pengadilan
yang dilakukan di lingkungan masyarakat internasional
dengan
mengajukan
perkara
itu
ke
Mahkamah
Internasional. Sebuah lembaga di bawah PBB.
Mahmakah Internasional memiliki dua kewenangan :
memutus perkara dan memberi nasihat
2). Penyelesaian Secara Damai di luar pengadilan
a. Negoisasi atau perundingan antara para pihak yang
bersengketa untuk memperoleh penyelesaian secara
damai
b. Perantara dan Jasa Baik (mediasi) yang diberikan oleh
pihak ke tiga untuk mengadakan penyelesaian. Jasa baik
dapat
diberikan
oleh
Negara
atau
oraganisasi
internasional.
Ada perbedaan antara jasa baik dan perantara
- jasa baik yang diberikan oleh pihak ke tiga sudah selesai
dalam arti tidak terlibat lagi apabila pihak ke tiga sudah
mempertemukan ke dua belah pihak
- perantara mempunyai peranan yang lebih aktif dan ikut
serta dalam perundingan-perundingan
c. Konsiliasi dalam arti luas berarti menyelesaikan sengketa
secara damai melalui bantuan negara-negara lain atau
badan penyelidikan yang tidak memihak disebut juga
komite penasihat.
Konsiliasi
dalam
arti
sempit
berarti
pengajuan
persengketaan kepada komisi atau komite untuk membuat
laporan dengan usulan-usulan penyelesaian yang tidak
mengikat
d. Penyelesaian yang diadakan di bawah pimpinan PBB.
Penyelesaian ini diatur dalam Pasal 2 Piagam PBB. Para
anggota
PBB
berjanji
untuk
menyelesaikan
persengketaan-persengketaan mereka tanpa melalui
kekerasan atau perang. Tanggung jawab diserahkan
kepada Majelis Umum dan Dewan Keamanan PBB. Dewan
Keamanan memiliki kekuasaan yang lebih luas. Dewan
Keamanan
bertindak
dalam
beberapa
hal
yaitu
menyelesaikan persengketaan yang membahayakan
perdamaian dan keamanan internasional, peristiwa yang
mengancam perdamaian, melanggar perdamaian atau
tindakan penyerangan atau agresi
2. Penyelesaian Persengketaan Melalui Jalan Paksaan (Kekerasan)
a. Perang,
tujuan
perang
untuk
menaklukkan
atau
mengalahkan lawan.
b. Retorasi atau balas dendam
c. Blokade berarti memblokir lalu lintas darat, air dan udara
terhadap suatu negara agar dipenuhi tuntutannya. Blokade
bisa berupa kekuatan militer, bisa juka blokade ekonomi
d. Intervensi berarti campur tangan urusan dalam negeri
negara lain

BAHAN AJAR/MATERI PEMBELAJARAN :


Kompetensi Dasar : 5.3 Menghargai putusan Mahkamah Internasional
Mahkamah Internasional
1. Mekanisme kerja Mahkamah Internasional
Ketentuan-ketentuan prosedural atau mekanisme kerja Mahkamah
Internsional dalam penyelesaian sengketa internasional berada di luar
kekuasaan negara-negara yang bersengketa. Ketentuan tersebut
sudah ada sebelum di keluarkannya suatu Statuta merupakan suatu
konvensi, aturan prosedural perbuatan unilateral Mahkamah yang
mengikat negara-negara yang bersengketa.
Mengenai prosedur proses penanganan penyelesaian suatu sengketa
internasional di mahkamah internasional memiliki banyak kesamaan
dengan yurisdiksi intern suatu negara, yaitu
1. prosedur tertulis dan perdebatan lisan diatur sedemikian rupa
untuk menjamin setiap pihak dalam mengemukakan pendapatnya
2. sidang-sidang mahkamah terbuka untuk umum, sedangkan
sidang-sidang
arbritrase
tertutup
(rapat
hakim sebelum
memutuskan perkara bersifat tertutup)
2. Keputusan Mahkamah Internasional
Dasar Pertimbangan (alasan) jarangnya negara-negara yang
bersengketa mengajukan permohonan ke Mahkamah Internasional
untuk menyelesaikan perkara adalah :
1. Proses ini hanya ditempuh sebagai jalan terakhir, bila jalan lain
mengalami kemacetan
2. Proses ini memakan waktu lama dan biaya yang cukup mahal
3. Proses ini dipergunakan hanya untuk sengketa internasional yang
besar
4. Mahkamah Internasional tidak memiliki juridiksi yang wajib
Mahkamah Internasional memutuskan masalah berdasarkan hukum.
Keputusan dapat dilakukan berdasarkan kepantasan dan kebaikan
apabila disetujui oleh negara yang bersengketa. Keputusan
Mahkamah Internasional berdasar keputusan suara mayoritas hakim.
Apabila jumlah suara sama atau seimbang maka keputusan
ditentukan oleh Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Internasional.
Keputusan Mahkamah Internasional bersifat mengikat, final dan tanpa
banding. Keputusan Mahkamah Internasional mengikat para pihak
yang bersengketa dan hanya untuk perkara yang disengketakan

Keputusan Mahkamah Internasional diambil dengan suara mayoritas


dari hakim-hakim yang hadir dan memimpin sidang. Dan jika terjadi
suara seimbang ketua dan wakil ketualah yang menentukan.
Keputusan Mahkamah Internasional terdiri dari tiga bagian :

1. Bagian pertama : berisikan komposisi Mahkamah, informasi


mengenai pihak-pihak yang bersengketa serta wakil-wakilnya,
analisis tentang fakta-fakta, dan argumentasi hukum pihak yang
bersengketa
2. Bagian ke dua : berisi penjelasan mengenai motivasi Mahkamah
Internasional
3. Bagian ke tiga:
berisi disposisi yang berisikan keputusan
Mahkamah Internasional yang mengikat negara-negara yang
bersengketa
3.

Prinsip hidup berdampingan secara damai berdasarkan persamaan

derajat
Prinsip penyelesaian sengketa internasional secara damai didasarkan
atas prinsip-prinsip hukum internasional yang berlaku secara
universal. Hal tersebut dimuat dalam deklarasi persahabatan dan
kerja sama antar negara No. A/RES/2625/XXV tertanggal 24 Oktober
1970 dan deklarasi Manila mengenai penyelesaian sengketa
internasional secara damai No. A/RES/37/10 tertanggal 15 November
1982 menyebutkan adanya prinsip-prinsip sebagai berikut :
a. negara tidak dapat menggunakan
kekerasan yang bersifat
mengancam integritas teritorial yang bertentangan dengan
piagam PBB
b. non intervensi dalam urusan dalam dan luar negeri
c. persamaan hak dalam menentukan nasib sendiri bagi stiap bangsa
d. persamaan kedaulatan negara
e. itikad baik dalam hungan internasional
f. keadilan dalam hukum internasional