Anda di halaman 1dari 11

IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DLM PEMBELAJARAN VOKASI

Tugas Mandiri Teori dan Strategi Pembelajaran PTK, Program Pascasarjana Pendidikan
Teknologi dan Kejuruan Universitas Negeri Makassar

Disusun Oleh:
Bustamin B/13B20052

ABSTRAK
Dalam sejarah pendidikan di Indonesia sudah beberapa kali diadakan perubahan dan
perbaikan kurikulum yang tujuannya sudah tentu untuk menyesuaikannya dengan
perkembangan dan kemajuan zaman. Yang paling dekat yaitu perubahan dari kurukulum
berbasis kompetensi (KBK) menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP),
kemudian beralih lagi menjadi kurikulum 2013. Terlepas apapun penyebabnya entah itu
karena masalah politik, pergantian kepemimpinan/menteri ataupun karena memang
dipandang harus berubah yang pasti kurikulumnya telah berubah. Nah, sebagai seorang
akademisi minimalnya kita menganalisis hakikat dari kurikulum tersebut. Sehingga kita
mengetahui apa dan bagaimana implementasi Kurikulum 2013 dalam pembelajaran
kejuruan/vokasi tersebut.
Kurikulum 2013 memang baru mulai dilaksanakan, sejauh ini masih banyak pro dan
kontra dalam masyarakat, apalagi sosialisasinya belum terlaksana secara menyeluruh.
Namun sebagai anggota masyarakat, kita harus mengetahui garis besarnya agar dapat
memahami sehingga dapat mendukung program tersebut. Perubahan kurikulum sejatinya
dilakukan untuk mengatasi berbagai permasalahan pendidikan yang ada. Namun, karena
kurikulum hanya buatan manusia, pasti selalu ada kekurangan. Maka kitalah yang harus
memaksimalkan proses pendidikan agar memperoleh hasil yang baik. Dengan kurikulum
yang sesuai dan tepat, maka dapat diharapkan sasaran dan tujuan pendidikan akan dapat
tercapai secara maksimal.
A. PENDAHULUAN
Kurikulum 2013 yang diberlakukan secara bertahap mulai tahun ajaran 2013/2014
membawa harapan baru bagi guru pada semua Jenjang mulai dari tingkat SD, SMP, SMA
dan SMK. Harapan baru yang membawa guru memiliki kesempatan yang lebih besar dalam
mengelola pembelajaran didalam kelas dan memberikan hasil belajar yang maksimal bagi
peserta didik. Pada Kurikulum 2013 Pemerintah telah menyiapkan beberapa perangkat yaitu:
Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, Silabus dan Buku Pedoman guru, buku Siswa dan
serangkaian Permendikbud yang terkait dengan implementasi Kurikulum 2013. Perangkat
tersebut sangat membantu guru dalam menjalankan tugas utamanya sebagai guru. Tugas

utama guru yaitu Merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran dan melakukan


Evaluasi Pembelajaran.
Untuk memperoleh Perangkat Kurikulum 2013 guru bisa memperoleh melalui kegiatan
diklat kurikulum 2013, melalui wakasek kurikulum di sekolah yang bersangkutan atau
mengunduh langsung dari berbagai situs di Internet tentang Kurikulum 2013. Berdasarkan
beberapa perangkat tersebut, guru tinggal menyusun Rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP) kemudian melaksanakan pembelajaran didalam kelas dan Melaksanakan Evaluasi
pembelajaran. Beban guru menjadi berkurang dibandingkan kurikulum KTSP 2006. Dalam
KTSP 2006 guru hanya diberikan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, guru masih
dibebani dengan mencari materi ajar yang sesuai dengan SK dan KD ,menyusun silabus ,
mencari dan menentukan buku yang sesuai dengan SK dan KD.
Sejalan dengan implementasi kurikulum 2013 yang telah memasuki semester dua,
ternyata belum semua guru pada sekolah yang mengimplementasikan kurikulum 2013
memiliki kesempatan yang sama dalam menerima Perangkat kurikulum 2013, yaitu sekolah
menengah atas (SMA) dan sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Satu hal yang pasti untuk
jenjang SMA dan SMK pelatihan guru dan perangkat kurikulum baru pada tiga pelajaran,
sehingga ada yang menyebutnya dengan Kurikulum 3 Mata Pelajaran. Apalagi di SMK
khusus untuk guru yang mengampu Mata pelajaran Paket keahlian sama sekali belum
merasakan sentuhan kurikulum 2013, Padahal beberapa sekolah sasaran sudah dinyatakan
mengimplentasikan kurikulum 2013. Karena itu perlunya pengkajian tentang implementasi
kurikulum2013 di SMK.
B. KAJIAN TEORITIS
1.

Kurikulum 2013
a. Pengertian Kurikulum

Menurut Hilda Taba, Kurikulum adalah sebuah rancangan pembelajaran, yang


disusun dengan mempertimbangkan berbagai hal mengenai proses pembelajaran serta
perkembangan individu. Sedangkan Ronald C. Doll menjelaskan bahwa kurikulum
merupakan keseluruhan pengalaman yang ditawarkan pada anak-anak peserta didik di
bawah arahan dan bimbingan sekolah.
Daniel Tanner & Laurel Tanner berpendapat bahwa kurikulum adalah Pengalaman
pembelajaran yang terencana dan terarah, yang disusun melalui proses rekonstruksi
pengetahuan dan pengalaman yang sistematis di bawah pengawasan lembaga pendidikan
agar pembelajar dapat terus memiliki minat untuk belajar sebagai bagian dari kompetensi
sosial pribadinya. Menurut Romine, Kurikulum mencakup semua temu permbelajaran,
aktivitas dan pengalaman yang diikuti oleh anak didik dengan arahan dari sekolah baik di
dalam maupun di luar kelas.
Dr. Dede Rosyada, M.A. mengatakan bahwa kurikulum merupakan inti dari sebuah
penyelenggaraan pendidikan. Murray Print. mendefinisikan Kurikum sebagai semua ruang
pembelajaran terencana yang diberikan kepada siswa oleh lembaga pendidikan dan
pengalaman yang dinikmati oleh siswa saat kurikulum itu terapkan. Kurikulum adalah

sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh
sejumlah pengetahuan. Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang disediakan untuk
membelajarkan siswa. Dengan program itu, para siswa melakukan berbagai kegiatan belajar
sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa, sesuai dengan tujuan
pendidikan dan pembelajaran. Dengan kata lain, sekolah menyediakan lingkungan bagi
siswa yang memberikan kesempatan belajar.
Undang-undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan nasional dalam pasal 1
Butir 9 UUSPN menyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan
mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Rumusan tentang kurikulum ini mengandung
makna bahwa kurikulum meliputi rencana, isi, dan bahan pelajaran dan cara
penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
b. Fungsi Kurikulum
Kurikulum dalam pendidikan memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:
1) Fungsi kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Fungsi
kurikulum dalam pendidikan tidak lain merupakan alat untuk mencapai tujuan
pendididkan.dalam hal ini, alat untuk menempa manusia yang diharapkan
sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Pendidikan suatu bangsa dengan
bangsa lain tidak akan sama karena setiap bangsa dan Negara mempunyai
filsafat dan tujuan pendidikan tertentu yang dipengaruhi oleh berbagai segi,
baik segi agama, idiologi, kebudayaan, maupun kebutuhan Negara itu sendiri.
Dengan demikian, dinegara kita tidak sama dengan Negara-negara lain, untuk
itu, maka:

Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional,


Kuriulum merupakan program yang harus dilaksanakan oleh guru dan
murid dalam proses belajar mengajar, guna mencapai tujuan-tujuan itu,
kurikulum merupakan pedoman guru dan siswa agar terlaksana proses
belajar mengajar dengan baik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

2) Fungsi Kurikulum Bagi Sekolah yang Bersangkutan Kurikulum Bagi Sekolah


yang Bersangkutan mempunyai fungsi sebagai berikut:

Sebagai alat mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan


Sebagai pedoman mengatur segala kegiatan sehari-hari di sekolah
tersebut, fungsi ini meliputi:
a) Jenis program pendidikan yang harus dilaksanakan
b) Cara menyelenggarakan setiap jenis program pendidikan
c) Orang yang bertanggung jawab dan melaksanakan program
pendidikan.

3) Fungsi kurikulum yang ada di atasnya


Fungsi Kesinambungan Sekolah pada tingkat atasnya harus mengetahui
kurikulum yang dipergunakan pada tingkat bawahnya sehingga dapat
menyesuaikan kurikulm yang diselenggarakannya.
Fungsi Peniapan Tenaga Bilamana sekolah tertentu diberi wewenang
mempersiapkan tenaga guru bagi sekolah yang memerlukan tenaga guru
tadi, baik mengenai isi, organisasi, maupun cara mengajar.
4) Fungsi Kurikulum Bagi Guru Guru tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana
kurikulum sesuai dengan kurikulum yang berlaku, tetapi juga sebagai
pengembanga kurikulum dalam rangaka pelaksanaan kurikulum tersebut.
5) Fungsi Kurikulum Bagi Kepala Sekolah Bagi kepala sekolah, kurikulum
merupakan barometer atau alat pengukur keberhasilanprogram pendidikan di
sekolah yang dipimpinnya. Kepala sekolah dituntut untuk menguasai dan
mengontrol, apakah kcegiatan proses pendidikan yang dilaksanakan itu
berpijak pada kurikulum yang berlaku.
6) Fungsi Kurikulum Bagi Pengawas (supervisor) Bagi para pengawas, fungsi
kurikulum dapat dijadikan sebagai pedoman, patokan, atau ukuran dan
menetapkan bagaimana yang memerlukan penyempurnaan atau perbaikan
dalam usaha pelaksanaan kurikulum dan peningkatan mutu pendidikan.
7) Fungsi Kurikulum Bagi Masyarakat Melalui kurikulum sekolah yang
bersangkutan, masyarakat bisa mengetahui apakah pengetahuan, sikap, dan
nilaiserta keterampilan yang dibutuhkannya relevan atau tidak dengan kurikulum suatu sekolah.
8) Fungsi Kurikulum Bagi Pemakai Lulusan Instansi atau perusahaan yang
memper-gunakan tenaga kerja yang baik dalamarti kuantitas dan kualitas agar
dapat meningkatkan produktivitas.
c. Pengertian Kurikulum 2013
Pada tahun ajaran baru 2013/2014 pemerintah menetapkan diberlakukannya
kurikulum baru yaitu Kurikulum 2013 menggantikan KTSP. Penyusunan Kurikulum
2013 adalah bagian dari melanjutkan pengembangan KBK yang telah dirintis pada tahun
2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu,
sebagaimana amanat UU 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada
penjelasan pasal 35, dimana kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan
lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar
nasional yang telah disepakati (Sisdiknas, 2012).
Penyusunan kurikulum 2013 juga menitikberatkan pada penyederhanaan, tematikintegratif mengacu pada kurikulum 2006 (KTSP). di mana ada beberapa permasalahan di
antaranya:
4

(i) konten kurikulum yang masih terlalu padat, ini ditunjukkan dengan
banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan tingkat
kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia ana
(ii) belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan
tujuan pendidikan nasional
(iii) kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap,
keterampilan, dan pengetahuan; beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai
dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi
pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan)
belum terakomodasi di dalam kurikulum
(iv) belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat
lokal, nasional, maupun global
(v) standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran
yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan
berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru;
(vi) standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi
(proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara
berkala; dan
(vii)KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak
menimbulkan multi tafsir. Dalam alasan-alasan tersebut ada faktor
kompetensi masa depan, dimana lulusan harus mampu berkomunikasi,
berpikir jernih dan kritis, mampu mempertimbangkan segi moral suatu
permasalahan.
Disini terlihat bahwa lulusan yang lahir dari penerapan kurikulum berbasis
karakter ini dapat menjadi lulusan yang hebat dan mampu bersaing di dunia internasional
jika kurikulum dijalankan dengan baik dan benar oleh semua pihak yang bersangkutan.
Dalam sejarah pendidikan Indonesia, pelaksanaan kurikulum dan proses pergantian
sangatlah cepat. Seakan-akan, semuanya harus mengikuti apa yang dikehendaki
penguasa. Bila sudah tidak dikehendaki maka dibuang begitu saja dan berganti dengan
yang baru. Hal ini tentu saja menambah keruwetan pelaksanaan pendidikan. Akhirnya
yang menjadi korban adalah rakyat dan anak-anak yang sedang mengenyam pendidikan.
Pergantian kurikulum terus terjadi, Kurikulum 2004 yang disebut Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) masih seumur jagung tiba-tiba berubah menjadi Kurikulum 2006
yang disebut dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
d. Proses Perubahan dan Pengembangan Kurikulum
Bila kita bicara tentang perubahan kurikulum, kita dapat bertanya dalam arti apa
kurikulum digunakan. Kurikulum dapat dipandang sebagai buku atau dokumen yang
digunakan guru sebagai pegangan dalam proses belajar mengajar. Kurikulum dapat juga
dilihat sebagai produk yaitu apayang diharapkan dapat dicapai siswa dan bagaimana
proses mencapainya. Kurikulum dapat juga diartikan sebagai sesuatu yang hidup dan
berlaku selama jangka waktu tertentu dan perlu direvisi secara berkala agar tetap relevan
dengan perkembangan zaman.

C. METODE
Dengan berkembangnya kurikulum pendidikan, maka berkembang pula suatu pendidikan,
terutama dalam hal pembelajaran. Sesuai dengan Kurikulum 2013, bahwa dalam hal
pembelajaran peserta didik lebih ditekankan pada aspek pengembangan potensi individu
masing-masing. Hal ini dibuktikan dengan mulai adanya sistem pengelompokan berdasarkan
minat dari masing-masing peserta didik, tanpa melihat penjurusan IPA maupun IPS yang
pada kurikulum sebelumnya diterapkan.
Melihat pada tujuan umum diberlakukannya kurikulum 2013 ini, yaitu dalam rangka
mempersiapkan insan Indonesia untuk memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan
warganegara yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan peradaban dunia (Hasan, 2013 : 16)
Jika mengacu pada tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, Kurikulum 2013
mengacu pada peraturan pemerintah nomor 17 tahun 2012 tentang pengelolaan dan
penyelenggaraan pendidikan, yang bertujuan membangun landasan bagi berkembangan
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang:
a.
b.
c.
d.

Beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, dan
kepribadian luhur
Berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif
Sehat, mandiri, dan percaya diri dan
Toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab.

1. Pengembangan Pembelajaran
Pembelajaran (Instruction) merupakan akumulasi dari konsep mengajar (teaching)
dan konsep belajar (learning). Penekanannya terletak pada perpaduan antara keduanya,
yakni kepada penumbuhan aktivitas subjek didik. (Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan
Pengembangan Universitas Pendidikan Indonesia, 2011 : 132)
Pengembangan Kurikulum 2013 pada tataran tingkat lanjutan terlihat pada
kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara terpadu yang juga diterapkan
sebelunya pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di tahun 2004. Dengan kata lain,
proses pembelajaran didasarkan pada upaya menguasai kompetensi pada tingkat yang
memuaskan dengan memperhatikan karakteristik konten kompetensi dimana pengetahuan
adalah konten yang bersifat tuntas (mastery). Keterampilan kognitif dan psikomotorik
adalah kemampuan penguasaan konten yang dapat dilatihkan. Sedangkan sikap adalah
kemampuan penguasaan konten yang lebih sulit dikembangkan dan memerlukan proses
pendidikan lebih lanjut.
Dalam Kurikulum 2013, kompetensi yang semula diturunkan dari mata pelajaran
berubah sebaliknya, yaitu dimana mata pelajaran dikembangkan dari kompetensi.
Kompetensi tersebut dikembangkan melalui berbagai cara sesuai dengan jenjang pendidikan.
Untuk jenjang SMA, kompetensi dikembangkan melalui mata pelajaran wajib dan
pilihan/peminatan, sedangkan untuk SMK dikembangkan melalui mata pelajaran wajib,
pilihan, dan vokasi. Dengan pengembangan ini, sama halnya dengan pengelompokkan pada

jenjang SMP, sehingga siswa SMA maupun SMK akan lebih mendalami suatu mata
pelajaran.
Pandangan mengenai konsep pengajaran terus-menerus mengalami perubahan dan
perkembangan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pendidikan. Sejalan
dengan hal itu, pengembangan dalam motode, pendekatan, hingga model pembelajaran terus
dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik yang juga berubah di setiap
waktunya.
Pelajaran Vokasi yang sering dianggap sebagai suatu pelajaran yang monoton,
membosankan, dan pandangan negatif lainnya, menuntut guru Vokasi/Kejuruan melakukan
inovasi secara menyeluruh, khususnya metode, pendekatan, dan terutama model
pembelajaran yang fresh, dengan tujuan menarik minat peserta didik dalam mengikuti
pembelajaran Vokasi. Jika mengacu pada Kurikulum 2013 yang lebih berorientasi pada
potensi hingga penanaman nilai karakter, adapun model-model pembelajaran yang mungkin
cocok dikembangkan dalam pembelajaran Vokasi/Kejuruan saat ini, yaitu (Tim Pengembang
MKDP Kurikulum dan Pengembangan Universitas Pendidikan Indonesia, 2011 : 199-204):
a) Model Interaksi Sosial (Social Interaction Model)
Model ini menitikberatkan pada hubungan antara individu dengan masyarakat
atau dengan individu lainnya, yaitu tekanan pada proses realita. Model ini
berorientasi pada prioritas terhadap perbaikan kemampuan (abilitas) individu untuk
berhubungan dengan orang lain, perbaikan proses-proses demokratis dan perbaikan
masyarakat. Walaupun menitik beratkan pada hubungan sosial, namun tidak berarti
merupakan satu-satunya tujuan yang paling penting. Titik berat ini hanya
menunjukkan bahwa hubungan sosial sebagai suatu domain yang lebih penting
dibandingkan dengan domain-domain lainnya, misalnya perkembangan berpikir dan
diri (self).
b) Model Proses Informasi (Information Processing Models)
Model ini berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi dan sistemsistem yang dapat memperbaiki kemampuan tersebut. Pemrosesan informasi
mengarah kepada cara-cara mengumpulkan/menerima stimuli dari lingkungan,
mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep-konsep, dan
pemecahan masalah serta menggunakan simbol-simbol verbal dan non-verbal. Model
ini berkenaan dengan kemampuan intelektual umum (general intelectual ability).
c) Model Personal (Personal Models)
Model ini berorientasi pada individu dan pengembangan diri (self). Titik beratnya
pada pembentukan pribadi individu dan mengorganisasikan realita yang rumit.
Perhatiannya terutama tertuju pada kehidupan emosional perorangan, yang
diharapkan membantu individu untuk mengembangkan hubungan yang produktif
dengan lingkungannnya, dan menjadikannya sebagai pribadi yang mampu
membentuk hubungan-hubungan dengan pribadi lain dalam konteks yang lebih luas
serta mampu memproses informasi secara efektif. Sasaran utama model pembelajaran
ini adalah pengembangan pribadi atau kemampuan pribadi.
7

d) Model Modifikasi Tingkah Laku (Behavior Modification Models)


Model ini bermaksud mengembangkan sistem-sistem yang efisien serta mengarah
pada tugas-tugas belajar dan membentuk tingkah laku dengan cara memanipulasi
penguatan (reinforcement).
e) Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning)
Pembelajaran dimana tidak hanya memfokuskan pada pemberian pembekalan
kemampuan pengetahuan yang bersifat teoritis, akan tetapi bagaimana agar
pengalaman belajar yang dimiliki siswa senantiasa terkait dengan permasalahanpermasalahan aktual yang terjadi di lingkungannya.
Kurikulum SMK/MAK dirancang dengan pandangan bahwa SMA/MA dan SMK/MAK
pada dasarnya adalah pendidikan menengah, pembedanya hanya pada pengakomodasian
minat peserta didik saat memasuki pendidikan menengah. Oleh karena itu, struktur umum
SMK/MAK sama dengan struktur umum SMA/MA, yakni ada tiga kelompok Mata
pelajaran: Kelompok A, B, dan C.
Mata pelajaran Kelompok A dan C adalah kelompok Mata pelajaran yang substansinya
dikembangkan oleh pusat. Mata pelajaran Kelompok B adalah kelompok mata pelajaran yang
substansinya dikembangkan oleh pusat dan dapat dilengkapi dengan muatan lokal yang
dikembangkan oleh pemerintah daerah. Kegiatan Ekstrakurikuler SMA/MA, SMK/MAK:
Pramuka (wajib), OSIS, UKS, PMR, dan lain-lain, diatur lebih lanjut dalam bentuk Pedoman
Program Ekstrakurikuler.
Bidang keahlian pada SMK/MAK meliputi:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Teknologi dan Rekayasa


Teknologi Informasi dan Komunikasi
Kesehatan
Agribisnis dan Agroteknologi
Perikanan dan Kelautan
Bisnis dan Manajemen
Pariwisata
Seni Rupa dan Kriya
Seni Pertunjukan.

Dalam penetapan penjurusan sesuai dengan bidang/program/ paket keahlian


mempertimbangkan Spektrum Pendidikan Menengah Kejuruan yang ditetapkan oleh
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Pemilihan Peminatan Bidang Keahlian dan program keahlian dilakukan saat peserta didik
mendaftar pada SMK/MAK. Pilihan pendalaman peminatan keahlian dalam bentuk pilihan
Paket Keahlian dilakukan pada semester 3, berdasarkan nilai rapor dan/atau rekomendasi
guru BK di SMK/MAK dan/atau hasil tes penempatan (placement test) oleh psikolog. Pada
SMK/MAK, Mata Pelajaran Kelompok Peminatan (C) terdiri atas:

a. Kelompok Mata Pelajaran Dasar Bidang Keahlian (C1)


b. Kelompok Mata Pelajaran Dasar Program Keahlian (C2)

c. Kelompok Mata Pelajaran Paket Keahlian (C3).


Berikut ini Struktur Kurikulum SMA/MA dan SMK/MAK
MATA PELAJARAN
Kelompok A (Wajib)
Pendidikan Agama dan Budi
1
Pekerti
Pendidikan Pancasila dan
2
Kewarganegaraan
3 Bahasa Indonesia
4 Matematika
5 Vokasi Indonesia
6 Bahasa Inggris
Kelompok B (Wajib)
7
Seni Budaya
Pendidikan Jasmani, Olah Raga,
8
dan Kesehatan
9
Prakarya dan Kewirausahaan
Jumlah Jam Pelajaran Kelompok A
dan B per minggu
Kelompok C (Peminatan)
Mata Pelajaran Peminatan Akademik
(SMA/MA)
Mata Pelajaran Peminatan Akademik
dan Vokasi (SMK)
Jumlah Jam Pelajaran Yang Harus
Ditempuh Perminggu (SMA)
Jumlah Jam Pelajaran Yang Harus
Ditempuh Perminggu (SMK)

ALOKASI WAKTU PER


MINGGU
X
XI
XII
3

4
4
2
2

4
4
2
2

4
4
2
2

24

24

24

18

20

20

24

24

24

42

44

44

48

48

48

Sumber: Permendikbud no 70 tahun 2013


D. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan Monev dan sensus Kurikulum 2013 di SMK se-NTB selama semester satu,
implementasi Kurikulum 2013 untuk tiga pelajaran berjalan dengan baik. Sedangkan untuk
pelajaran yang lain Khususnya Kelompok Kelompok paket keahlian (C.3) masih banyak
keluhan dari guru, karena disamping belum mendapatkan buku Pedoman guru dan buku
siswa, juga belum mendapatkan Diklat. Sehingga banyak yang mengaku menggunakan
menggunakan Kurikulum KTSP 2006 dan spectrum 2009 , atau 2010.

Alasan Lain yang lebih penting yaitu tidak semua guru bisa dengan mudah memperoleh
perangkat kurikulum 2013 karena:
1. Di Sekolah Kejuruan Hanya 3 mata Pelajaran yang telah memiliki Buku Pedoman
guru dan buku Siswa yaitu: Matematika, bahasa Indonesia dan Vokasi. Ketiga mata
pelajaran tersebut dalam struktur kurikulum masuk kelompok mata pelajaran A.
2. Untuk Mata Pelajaran kelompok B dan C.1 dan C.2 baru tersedia Kompetensi inti,
Kompetensi dasar dan Silabus.
3. Untuk Mata pelajaran dalam Kelompok C.3 atau paket keahlian KI, KD, silabus,
Buku guru dan buku siswa sama sekali belum tersedia.
Berdasarkan Gambaran tersebut nampaklah bahwa guru-guru SMK khususnya yang
mengampu pelajaran dalam kelompok Mata Pelajaran Paket Keahlian (C.3) masih kesulitan
dalam mengimplementasikan kurikulum 2013. Permendikbud No 70 tahun 2013
menyatakan bahwa Mata pelajaran serta KD pada kelompok Mata pelajaran Paket keahlian
(C.3) ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan
dunia usaha dan industry. Tetapi hingga Implementasi Kurikulum 2013 memasuki semester
dua, kompetensi dasar dan perangkat lain belum juga tersosialisasikan.
Haruskah Implementasi kurikulum 2013 untuk kelompok mata pelajaran Paket
Keahlian( C.3) dikatakan gagal atau belum terimplementasikan?? Tentunya SMK yang
mengimplemetasikan Kurikulum 2013 tidak mau dikatakan gagal atau belum sama sekali
mengimplementasikan. Karena ada beberapa solusi yang telah dilakukan agar Kurikulum
2013 terimplementasikan dengan sebaik mungkin di SMK, termasuk kelompok
matapelajaran Paket keahlian (C.3). Beberapa solusi yang telah dilakukan antara lain:
1. Menerima dengan baik kurikulum 2013 dan melengkapi apa yang belum sempurna
dari kurikulum 2013, termasuk untuk Kelompok mata pelajaran paket keahlian
dengan cara belajar dari guru 3 mata pelajaran yang sudah didiklat dan menyesuaikan
dengan mata pelajran yang diampu.
2. Untuk Buku guru dan buku siswa , guru menyiasati dengan mengkompilasikan bukubuku sesuai kurikulum spectrum2009/2010 , dan buku referensi lain yang relevan.
3. Kompetensi Inti menyesuaikan dengan kurikulum 2013 yang terdiri dari Kompetensi
Sikap (Spiritual dan Sosial), Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Ketrampilan.
4. Mata pelajaran dan kompetensi dasar mengadopsi dari kurikulum sebelumnya
(spectrum2009/2010) sampai tersosialisasikannya mata pelajaran, Kompetensi Dasar
dan Spectrum 2013 ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
5. Penulisan perangkat pembelajaran menyesuaikan dengan sistematika kurikulum 2013
yaitu sesuai dengan permendiknas no 65 Th 2013 dan permendiknas No 81 A tentang
implementasi kurikulum. Pembelajaran menggunakan mendekatan Scientifik dan dan
penilaian Autentik.
Dari beberapa hal yang telah dilakukan menunjukan bahwa kurikulum 2013 bisa juga
diimplementasikan di SMK kelompok mata pelajaran paket keahlian, walaupun dengan

10

segala keterbatasan. Sesuai dengan semboyan SMK BISA Mudah-mudahan kedepan


Implementasi Kurikulum 2013 Khususnya Untuk SMK menjadi lebih baik lagi dan telah siap
segala perangkat untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013.
E. SIMPULAN
Kurikulum 2013 memang baru dicanangkan, kehadirannya dirasa mampu meningkatkan
efektivitas pendidikan, sehingga mampu memberikan bekal yang cukup bagi generasi masa
depan. Kurikulum ini diharapkan dapat menjawab tantangan dari perkembangan dunia,
dengan modal yang cukup kuat, kita akan memperoleh bonus demografi pada 2045,
sehingga perlu mempersiapkan generasi-generasi emas. Memang tidak ada yang benar-benar
sempurna, maka dalam pelaksanaannya harus terus dievaluasi kekurangannya, agar dapat
lebih ditingkatkan lagi di kemudian hari.
Sebaiknya pelaksanaan kurikulum 2013 itu ditunda dulu. Pemerintah tidak perlu terburuburu dan tergesa-gesa tapi dikaji secara mendalam sehingga bisa menjawab kebutuhan
generasi masa depan. Pemerintah menyusun kurikulumnya dulu secara lengkap (membuat
buku draft kurikulum yang lengkap) kemudian draft itu diuji oleh para pakar dan
masyarakat. Draft kemudian disempurnakan sesuai saran-saran pakar. Setelah lolos uji
pakar, barulah diperkenalkan pada guru-guru sehingga setiap guru memahami kurikulum
baru tersebut dengan baik. Dibuat pelatihan-pelatihan guru (in house training) untuk
memahami dengan baik kurikulum tersebut sebelum mereka melaksanakannya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim,2013,Pedoman Pemberian Implementasi Kurikulum 2013 Kementrian Pendidikan
dan Kebudayaan
Parlina susi Siswanti,2014 Implementasi Kurikulum 2013 Suatu Analisis Deskriptif
Kualitatif, Dikaji dari Komponen Pendidikan Program Studi Administrasi
Pendidikan,Program Pascasarjana,Universitas Pakuan,Bogor
Lilis Sulianita, S.Pd,MM,2014Di Keluhkan !! Implementasi Kurikulum 2013 Di Smk
Artikel Yang Diposting Pada Kompasiana.Com
Nurul Fajri,2013,Implementasi kurikulum 2013 dalam pembelajaran
sejarahhttp://sejarahakademika.blogspot.com/2013/08/implementasi-kurikulum2013-dalam.html
Tedjo Narsono Reksoatmodjo,2010,pemengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi
Kejuruan,Cetakan Pertama,Refika aditama, Bandung
Rusman,2013,Model-Model Pembelajaran (Mengembangkan Profesionalisme Guru)Seri
manajemen Sekolah Bermutu,Edisi pertama,PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran Universitas Pendidikan Indonesia,
2011,Kurikulum & PembelajaranPT. Raja Grafindo Persada, Jakarta

11