Anda di halaman 1dari 15

BAB I

SINOPSIS
The Bass Handbook of Leadership: Theory, Research, and Managerial
Applications karangan Bass & Bass pada chapter 17 ini khusus membahas tentang
tipe kepemimpinan otoriter dan demokratis. Pembahasan tersebut merupakan
salah satu dari beberapa tipe kepemimpinan yang palig sering dibicarakan karena
tipe kepemimpinan otoriter adalah tipe yang diangap paling tua, sedangkan
demokratis adalah tipe kepemimpinan yang berfokus pada aspirasi anggota.
A. Dua Pendekatan yang Berlawanan
Sikap pemimpin dan manager bervariasi dalam menyikapi tentang adanya
jenis kepemimpinan yang bertolak belakang yaitu kepemimpinan otoriter yang
bersifat ekstrim dan kepemimpinan yang bersifat demokratis. Sweeney, Fiechtner
dan Samores (1975) melakukan penelitian dan menemukan faktor-faktor dari
fokus kepemimpinan adalah: (1) Preferensi peran otoriter, (2) Tekanan peran
otoriter, (3) Preferensi peran egaliter, (4) Tekanan peran egaliter, (5) Manager
yang seimbang, (6) Orang yang berorientasi pada manager, (7) Asumsi kesamaan
dari dua hal yang berlawanan, (8) Menyinggung kesenangan orang lain, (9) Nilainilai yang mendukung, (10) teloransi orang, dan (11) toleransi organisasi.
B. Kelompok Kepemimpinan Otoriter
Kelompok otoriter meliputi sikap sewenang-wenang, suka mengatur,
berorientasi pada kekuatan atau kekuasaan, suka memaksa, suka memberi
hukuman dan memiliki cara berpikir yang tertutup. Dipandang negatif oleh
banyak ilmuwan sosial karena pemimpin dengan sifat ini memiliki kecenderungan
menguasai seluruh tanggung jawab dalam kegiatan pembuatan keputusan dan
mengatur setiap tindakan pegawainya. Pemimpin dengan karakter seperti ini
mengharuskan para pegawainya untuk taat, setia dan mengikui segala aturan yang
ada. Pemimpin dengan karakter otoriter ini sepanjang sejarah banyak dipuji
sebagai jenis kepemimpinan yang mampu menangani segala masalah yang ada

melalui keputusan-keputusan cepatnya. Hal negatif yang muncul dalam


kepemimpinan tipe ini adalah sering menimbulkan rasa takut dan tidak percaya,
menggunakan

paksaan

dan

melakukan

hukuman

yang

semena-mena,

mengacuhkan informasi yang berhubungan dengan pegawai serta masukan dalam


pembuatan keputusan dan menggunakan secara khusus suara satu orang pimpinan
sebagai pembuat keputusan mutlak. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
banyak ilmuan tersbut, pemimpin dengan karakteristik otoriter memiliki beberapa
ciri sifat yaitu suka memberikan perintah/mengatur, suka memaksa dan
membujuk, fokus pada kegiatan produksi, pembuat keputusan tunggal, pembuat
struktur, berpusat pada kegiatan produksi, menekankan pada tujuan dan berperan
sebagai fasilitator kerja, berorientasi pada tugas, fokus pada kinerja pegawai.
Lima tipe pemimpin otoriter dalam lingkungan kerja oleh Howard and Wellins
(1994): (1) Pengatur tentang bagaimana sebuah tugas harus dikerjakan, (2)
Pemberi komanado mengenai apa yang harus dilakukan dan mengharapkan
sebuah ketaatan dari pegawai, (3) Pembuat aturan dimana dialah orang yang
menentukan sebuah keputusan dalam lingkup kerja, (4) Hakim yang akan
mengoreksi dan menilai kinerja pegawai serta penentu apakah pegawai akan
diberikan hukuman atau hadiah berdasarkan kinerjanya, (5) Penjaga yang akan
melindungi segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan serta pengumpul
sumberdaya. Pemimpin dengan tipe ini tidak peduli dengan kebutuhan yang
diperlukan pegawainya dan hanya mementingkan tentang pekerjaan yang harus
diselesaikan oleh pegawai. Pemimpin otoriter percaya bahwa pada dasarnya
manusia itu malas sehingga sebagai seorang pemimpin harus mengarahkan dan
mengontrol agar segala tujuan yang dikehendaki tercapai dengan berbagai cara
seperti memberikan hadiah dan hukuman, membuat aturan ketat, memerintahkan
apa-apa saja yang harus dilakukan dan mendikte segala hal kepada pegawai.
Kepemimpinan dengan model otoriter lebih rawan konflik dan inti
kepemimpinannya adalah mengatur sehingga hal yang dianggap paling penting
oleh pemimpin model ini adalah hasil dan bukan cara bagaimana meraih hasil
tersebut.

C. Kelompok Kepemimpinan Demokratis


Kelompok karakter kepemimpinan demokratis memperhatikan para
pegawai dengan banyak cara. Kepemimpinan dengan gaya demokratis berarti
model pemimpin yang memperhatikan kebutuhan anak buah, demokratis,
konsultatif dan parsitipatif, berlaku secara umum atau tidak ada yang
mendapatkan kekhususan, berpusat pada pegawai, memperhatikan orang lain,
memperhatikan proses-proses perbaikan untuk menghasilkan hubungan yang baik
satu sama lain dalam lingkup pekerjaan, saling mendukung serta berorientasi pada
kegiatan memfasilitasi kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan, berorientasi
pada hubungan kerja, serta berorientasi pada pelaksanaan proses pengambilan
kebijaksanaa

secara

bersama-sama.

Pemimpin dengan

tipe

ini akan

mengumpulkan berbagai informasi dari pegawai baik berupa saran, opini serta
kritik dalam kegiatan pengambilan keputusan yang akan diberitahukan kepada
para pegawai. Pemimpin dengan tipe demokratis biasanya tergantung dengan
kemampuan pegawai mereka sebaik kemampuan mereka dalam mengetahui
kemampuan, kebutuhan, dan ketertarikan para pegawai. Pemimpin bertipe
demokratis percaya bahwa pegawai perlu mendapatkan motivasi untuk melakukan
sesuatu dengan baik, mencari kebebasan serta kesempatan untuk membuktikan
kemampuan mereka. Pemimpin-pemimpin seperti ini menggeser peran pembuatan
keputusan kepada level yang lebih rendah dalam organisasi yaitu melibatkan para
pegawai, memberikan stimulasi untuk meningkatkan keberanian pegawai
sehingga dapat ikut memberikan opini tentang bagaimana baiknya sebuah
pekerjaan dilakukan, membuka kritik dari pegawai, menyikapi kesalahan pegawai
sebagai sebuah kesempatan untuk belajar, merayakan keberhasilan pegawai
sebagai keberhasilan bersama serta mendukung ide pegawai untuk mendapatkan
posisi yang lebih tinggi. Namun kadang kepemimpinan jenis ini sering mengalami
permasalahan yang agak kacau karena melibatkan banyak pihak. Stanton (1960)
mengungkapkan bawa dari segi kepemimpinan yang memikirkan pegawai serta
hubungan antara pegawai dengan manajer, kepemimpinan dengan tipe demokratis
ini memiliki skor yang tinggi dibandingkan dengan tipe kepemimpinan lain,
namun dilihat dari segi kemampuan pemimpin dalam membuat struktur

manajemen dalam pekerjaan, kepemimpinan dengan tipe otoriter memiiki nilai


yang lebih tinggi.
D. Kepemimpinan Otoriter dan Demokratis
Maclver (1947) dan Bass (1960) memperhatikan bahwa pemimpin dengan
tipe otoriter mungkin akan tergantung dengan kekuatan atau kekuasaan mereka
untuk memaksa dan kemampuan mereka untuk membujuk para pegawai mereka
karena mereka percaya bahwa ketika para pegawai mengikuti apa yang
diinstruksikan oleh pemimpinnya maka akan menghasilkan kemampuan untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh kelompok tersebut. Seorang
pemimpin yang berkuasa berhasil dalam memaksa atau mendorong pegawainya
untuk melakukan perintah yang dilakukan karena posisi kekuatan pemimpin atau
kekuasaan seorang pemimpin yang akan memberikan hadiah kepada orang yang
dapat melakukan tugas dengan baik dan begitupula sebaliknya. Tipe-tipe
pemimpin otoriter seperti ini dijelaskan oleh F. C. Bartlett (1926) setelah
observasi yang dilakukannya bahwa pemimpin dalam setiap kelompok sosial yang
kompleks menjaga menjaga kesuksesannya tidak hanya karena prestise sosial atas
posisinya juga kemapuan personal mereka untuk mengesankan dan mendominasi
atau perilaku dari kapasitas pribadi mereka untuk bisa membujuk para pengikut
atau pekerja mereka. Dijelaskan bahwa kepemimpinan yang banyak berkembang
meliputi dua tipe pemimpin yaitu kepemimpinan yang bersifat ajakan yang
banyak menggunakan cara-cara diplomatis dan sugesti-sugesti cerdas; serta
kepemimpinan dengan menggunakan kemampuan personal yang banyak
menggunakan tekanan-tekana kuat dan sikap mendominasi orang lain atau banyak
juga disebut antara pemimpin yang mendominasi dan pemimpin yang
mengarahkan dan membimbing. Dalam proses kepemimpinan demokratis
biasanya mengikutsertakan sifat kedewasaan dan beberapa kegiatan pendidikan.
E. Dampak Kepemimpinan Otoriter dan Demokratis
Melanjutkan eksperimen terdahulu tentang kepemimpinan otoriter dan
demokratis yang banyak berkonsentrasi pada satu dari empat aspek perbedaan

antara kepemimpinan otoriter dan demokratis: (1) Pemimpin dalam kegiatan


pengambilan keputusam, (2) Pegawai yang memperhatikan pemimpinnya, (3)
Jarak sosial yang ada, (4) Hukuman dan paksaan yang digunakan.
Anggota organisasi yang dipimpin oleh pemimpin yang bertipe otoriter
ternyata lebih patuh terhadap pimpinan, meskipun akhirnya mereka tidak respect
dengan sesama anggota. Pemimpin otoriter sudah dilatih untuk menentukan aturan
bagi anggotanya, mendikte cara dan langkahnya untuk mencapai tujuan,
melakukan interaksi langsung dengan kelompok, memuji anggota kelompok atas
prestasi pribadinya (subjektif).
Anggota organisasi yang dipimpin oleh pemimpin yang bertipe demokratis
merasa bebas beraktifitas, tidak terlalu tertekan, dan bisa bertahan lebih lama
dalam grup. Pemimpin demokratis akan memberikan kebebasan untuk
menentukan aturan, memberikan penjelasan dan pemahaman dalam hal
pencapaian tujuan, menghargai setiap tindakan dan sikap anggotanya agar lebih
kreatif, memuji secara obyektif.
F. Penerapan Serta Perbedaan Sudut Pandang
Berdasarkan bukti ternyata jika diliat dari segi produksi, anggota atau grup
yang dipimpin melalui tipe otoriter lebih unggul daripada grup yang dipimpin
dengan gaya demokratis. Namun hanya untuk jangka pendek, sedangkan untuk
jangka panjang maka akan lebih efektif jika bekerja dibawah kepemimpinan
demokratis karena terbukti akan lebih memuaskan.
Kepemimpinan otoriter baik diterapkan dalam kondisi genting, ketika alur
kerja perlu dirubah secara cepat, jika menginginkan tingkat produksi yang tinggi.
Tipe ini menjadi tidak baik ketika tidak memperhatikan kondisi dan kebutuhan
anggota. Dampaknya adalah anggota menjadi tertekan, moral lebih rendah karena
dipaksa, banyak yang berhenti bekerja, tertutup, rasa tidak puas, tidak ada
keharmonisan sehingga jangka panjang dapat mengurangi tingkat produktifitas.
Kepemimpinan demokratis baik diterapkan karena dapat meningkatkan peran dan
kemampuan anggota. Dampak yang ditimbulkan dengan diterapkannya tipe
kepemimpinan demokratis adalah suasana kerja yang nyaman sehingga akan

meningkatkan produktifitas, kepercayaan satu sama lain tinggi, kepercayaan diri ,


kompetensi meningkat, lebih efktif, fisik dan mental lebih sehat, motivasi tinggi,
kepuasan bekerja meningkat, setia terhadap perusahaan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Kepemimpinan Otoriter
Dalam chapter 17 yang memiliki tema kepemimpinan otoriter versus
kepemimpinan

demokratis

ini

tentu

dapat

terlihat

bahwa

kedua

tipe

kepemimpinan ini saling bertolak belakang atau berkontradiksi, agar lebih jelanya
maka akan diperkaya dengan beberapa definisi. Menurut Sudarwan Danim kata
otokratik diartikan sebagai tindakan menurut kemauan sendiri, setiap produk
pemikiran dipandang benar, keras kepala, atau rasa aku yang keberterimaannya
pada khalayak bersifat dipaksakan (Danim, 2004: 75). Kepemimpinan otokratik
disebut juga kepemimpinan otoriter.
Mifta Thoha mengartikan kepemimpinan otokratis sebagai gaya yang
didasarkan atas kekuatan posisi dan penggunaan otoritas. Jadi kepemimpinan
otokratik adalah kepemimpinan yang dilakukan oleh seorang pemimpin dengan
sikapnya yang menang sendiri, tertutup terhadap saran dari orang lain dan
memiliki idealisme tinggi (Thoha, 2010: 49). Kepemimpinan otoriter disebut juga
kepemimpinan direktif atau diktator. Pemimpin memberikan instruksi kepada
bawahan, menjelaskan apa yang harus dikerjakan, selanjutnya karyawan
menjalankan tugasnya sesuai dengan yang diperintahkan oleh atasan. Gaya
kepemimpinan ini menggunakan metode pendekatan kekuasaan dalam mencapai
keputusan dan pengembangan strukturnya, sehingga kekuasaanlah yang paling
diuntungkan dalam organisasi.
Banyak pendapat yang menyatakan bahwa kepemimpinan otoriter ini
adalah tipe yang paling tua, tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan organisasi
pada jaman dahulu tentu tidak terbuka seperti saat ini. Anggota organisasi
mungkin banyak yang hanya dari kalangan buruh yang mayoritas adalah berlatar
pendidikan rendah. Dalam kondisi seperti itu memang tipe kepemimpian yang
paling tepat adalah gaya otoriter, yakni seluruh kekuasaan, instruksi, dan hukuman

seluruhnya hanya berasal dari pimpinan karena dianggap bahwa ide dari anggota
tidak bisa membuat organisasi lebih maju.
Apabila dikaji mendalam mengenai gaya kepemimpinan otoriter ini
ternyata akan menemukan alasan yang tepat bahwa gaya kepemimpinan ini
memang layak digunakan dalam kondisi dimana hasil lebih utama daripada
proses. Untuk mencapai tujuan organisasi secara cepat tentu dibutuhkan upaya
yang terpadu dari seluruh anggota organisasi, maka aturan-aturan yang mengikat
sehingga cenderung menekan adalah salah satu upaya agar anggota tersebut
bekerja mengikuti pemimpin.
Berdasarkan teori motivasi dari Douglas McGregor yang membagi 2 sifat
manusia yakni tipe X dan Y, maka gaya kepemimpinan otoriter sangat tepat untuk
memimpin anggota organisasi yang bertipe X. Orang yang bertipe tersebut
disebutkan adalah orang-orang yang tidak akan bekerja tanpa perintah atau malas.
Terkait dengan kondisi tersebut tentu pemimpin harus mencari cara agar para
anggotanya tetap bisa bekerja dengan sistem yang telah ditentukan maka caranya
adalah dengan aturan dan tekanan yang kuat ditambah hukuman sebagai motivasi
orang yang bertipe X tersebut.
Menurut Sudarwan Danim (2004: 75) pemimpin otokratik memiliki ciriciri antara lain:
1; Beban kerja organisasi pada umumnya ditanggung oleh pemimpin.
2; Bawahan, oleh pemimpin hanya dianggap sebagai pelaksana dan mereka

tidak boleh memberikan ide-ide baru.


3; Bekerja dengan disiplin tinggi, belajar keras, dan tidak kenal lelah.
4; Menentukan kebijakan sendiri dan kalaupun bermusyawarah sifatnya hanya

penawar saja.
5; Memiliki kepercayaan yang rendah terhadap bawahan dan kalaupun
kepercayaan diberikan, didalam dirinya penuh ketidak percayaan.
6; Komunikasi dilakukan secara tertutup dan satu arah.
7; Korektif dan minta penyelesaian tugas pada waktu sekarang.

B. Kepemimpinan Demokratis
Gaya kepemimpinan ini ditandai oleh adanya suatu struktur yang
pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang
kooperatif. Dalam gaya kepemimpinan ini, ada kerjasama antara atasan dengan
8

bawahan. Dibawah kepemimpinan demokratis bawahan cenderung bermoral


tinggi, dapat bekerja sama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan
diri sendiri.
Menurut Sudarwan Danim kepemimpinan demokratis bertolak dari asumsi
bahwa hanya dengan kekuatan kelompok, tujuan-tujuan yang bermutu tercapai
(Danim, 2004: 75). Pada intinya adalah tipe kepemimpinan ini mengakomodir
semua aspirasi anggota, tentu nantinya akan dipertimbangkan dalam keputusan
final. Namun setidaknya ada upaya melibatkan anggota organisasi untuk
mengeluarkan pendapatnya terkait dengan budaya dan sistem di dalam organisasi
tersbut. Mifta Thoha juga mengatakan gaya kepemimpinan demokratis dikaitkan
dengan kekuatan personal dan keikut sertaan para pengikut dalam proses
pemecahan masalah dan pengambilan keputusan (Thoha, 2010: 50).
Bertolak belakang dengan tipe sebelumnya yang merasa bahwa pemimpin
adalah yang paling sempurna dan berkuasa, maka tipe demokratis ini lebih bayak
melibatkan anggotanya dalam penyusunan keputusan. Tipe ini berpandangan
bahwa dalam mencapai tujuan tentu harus melibatkan seluruh anggotanya
(teamwork) karena ide dan inovasi dari anggota terkadang baik dan relevan untuk
kemajuan organisasi. Pada tipe ini biasanya anggota organisasi memiliki latar
belakang pendidikan yang baik sehingga gagasan-gagasan mereka memang
sejalan dengan tujuan organisasi.
Apabila pada tipe kepemimpinan otoriter tepat digunakan pada anggota
yang bertipe X, maka pada tipe kepemimpinan tipe demokratis ini lebih cocok
dengan anggota yang bertipe Y. Orang dengan tipe Y diyakini sebagai orang yang
sadar akan tugas dan tanggung jawabnya. Peran pemimpin disini lebih kepada
ajakan untuk bekerja bersama bukan hanya instruksi satu arah belaka. Anggota
dengan tipe Y ini akan bekerja sesuai tupoksinya masing-masing karena sadar
akan hak dan kewajibanya, sehingga tanpa diberi aturan yang mengikat serta
hukuman mereka tetap akan bekerja.
Menurut Sudarwan Danim (2004: 76) pemimpin demokratis memiliki ciri-ciri
antara lain:
1; Beban kerja organisasi menjadi tanggung jawab bersama personalia
organisasi itu.

2; Bawahan, oleh pemimpin dianggap sebagai komponen pelaksana secara

integral harus diberi tugas dan tanggung jawab.


3; Disiplin akan tetapi tidak kaku dan memecahkan masalah secara bersama.
4; Kepercayaan tinggi terhadap bawahan dengan tidak melepaskan tanggung
jawab pengawasan
5; Komunikasi dengan bawahan bersifat terbuka dan dua arah.
Otoriter
Semua determinasi policy

Demokratis
Semua policies merupakan bahan
pembahasan kelompok dan keputusan
kelompok yang dirangsang dan
dibantu
oleh pemimpin.
Teknik-teknik dan langkan-langkah
Perspektif aktivitas dicapai selama
aktivitas ditentukan oleh pejabat satu
diskusi
berlangsung.
Dilukiskan
persatu, hingga langkah-langkan
langkah-langkah umum ke arah tujuan
mendatang senantiasa tidak pasti.
kelompok dan apabila diperlukan
nasihat teknis, maka pemimpin
menyarankan dua atau lebih banyak
prosedurprosedur
alternatif yang dapatdipilih.
Pemimpin biasanya mendikte tugas
Para anggota bebas untuk bekerja
pekerjaan khusus dan teman sekerja setiapdengan siapa yang mereka kehendaki
anggota
dan pembagian tugas
terserah pada kelompok.
Dominator cenderung bersikap
Pemimpin bersifat objektif dalam
pribadi dalam pujian dan kritik pekerjaanpujian dan kritiknya dan ia berusaha
setiap anggota; ia tidak turut sertauntuk menjadi anggota kelompok
dalampartisipasi kelompok secara aktifsecara mental, tanpa terlampau
kecuali
apabila
ia
memberikanbanyak melakukan pekerjaan
demonstrasi.
tersebut.
C. Pandangan Terhadap Gaya Kepemimpinan Otoriter dan Demokratis
Gaya kepemimpina otoriter maupun demokratis tidak ada yang benar-benar

baik dan tidak ada yang benar-benar buruk. Dalam beberapa penelitian
menyebutkan bahwa apabila gaya kepemimpinan tersebut digunakan dalam situasi
yang tepat maka hasilnya akan tetap bisa berjalan efektif dan efisien bagi
kepentingan lembaga. Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang dapat
menyesuaikan kondisi organisi dan anggotanya dengan tipe kepemimpinan yang
digunakan.

Kemampuan

memimpin

10

bukan

hanya

dilihat

dari

gaya

kepemimpinanya namun juga dari beberapa faktor misalnya tingkat pendidikan,


pengalaman, latar belakang keluarga dan lain-lain.
Gaya kepemimpinan otoriter baik diterapkan dalam kondisi genting.
Kondisi yang memaksa sehingga seorang pemimpin menggunakan cara otoriter
untuk melindungi anggotanya dari hal yang tidak diinginkan. Contohnya adalah
ketika dalam suatu daerah sedang dijangkiti wabah penyakit yang menular,
sehingga kepala desa harus dengan cepat mengambil tindakan misalnya adalah
penyuntikan atau melakukan efakuasi terhadap penduduk.
Ketika alur kerja perlu dirubah secara cepat juga dibutuhkan gaya
kepemimpinan otoriter, bisa dilihat ketika Dirut KAI yang saat ini menjadi
Menteri yaitu Ignasius Jonan yang merumahkan sekitar 2000 karyawan KAI
karena dinilai kerjanya malas. Dengan strategi itu ternyata ampuh untuk merubah
budaya organisasi di KAI menjadi lebih produktif, efektif, dan efisien sehingga
sekarang predikat KAI masuk dalam 5 besar BUMN yang terbaik di Indonesia
Tipe ini menjadi tidak baik ketika tidak memperhatikan kondisi dan
kebutuhan anggota. Dampaknya adalah anggota menjadi tertekan, moral lebih
rendah karena dipaksa, banyak yang berhenti bekerja, tertutup, rasa tidak puas,
tidak ada keharmonisan sehingga jangka panjang dapat mengurangi tingkat
produktifitas.

Kepemimpinan

demokratis

baik

diterapkan

karena

dapat

meningkatkan peran dan kemampuan anggota. Dampak yang ditimbulkan dengan


diterapkannya tipe kepemimpinan demokratis adalah suasana kerja yang nyaman
sehingga akan meningkatkan produktifitas, kepercayaan satu sama lain tinggi,
kepercayaan diri , kompetensi meningkat, lebih efktif, fisik dan mental lebih
sehat, motivasi tinggi, kepuasan bekerja meningkat, setia terhadap perusahaan.
Berdasarkan beberapa hal diatas tentu dapat dilihat bahwa penyesuaiaan
keadaan organisasi terhadap gaya kepemimpinan menjadi hal utama yang harus
dimiliki seorang pemimpin agar pendekatan-pendakatn yang dilakukan relevan
dengan sifat anggota serta budaya organisasi.
D. Otoriter dan Demokratis dalam Pendidikan

11

Apabila dikaitkan dengan dunia pendidikan tentu sosok pemimpin di


satuan pendidikan adalah seorang kepala sekolah. kepala sekolah harus benarbenar memperhatikan semua elemen yang terdapat pada sekolah, sebut saja
perkembangan kinerja guru, administrasi, murid-murid dan sarana dan prasarana
yang dimiliki sekolah. Memang perkembangan semua ini merupakan tanggung
jawab kepala sekolah sebagai leader tapi tidak mungkin kepala sekolah bisa
mengerjakan ini dengan maksimal tanpa bantuan dari staf-staf yang ada baik dari
pihak guru, pegawai dan murid-murid.
Dalam hal ini kepala sekolah harus menjadi orang yang demokratis yang
selalu siap berbagi dengan para guru dan karawan karena dengan demikian
seluruh sistem akan berjalan dengan sesuai yang diinginkan oleh semua pihak.
Kepala sekolah yang demokratis memperlakukan bawahannya dengan cara yang
manusiawi. Untuk itu, semua pihak yang terdapat disekolah harus selalu sejalan
dalam peningkatan mutu pendidikan dan tentu saja kepala sekolah yang benarbenar harus membimbing para bawahannya agar semua berjalan sesuai dengan
harapan.
Hal lainya yang dapat disoroti adalah gaya kepemimpinan guru terhadap
murid-muridnya. Misalnya saja gaya otoriter yang digunakan oleh guru yang
biasanya peserta didik hanya akan aktif kalau ada guru dan kalau guru tidak
mengawasi semua aktivitas menjadi menurun. Aktivitas proses belajar mengajar
sangat tergantung pada guru dan menuntut banyak perhatian guru. Kebalikanya
apabila seorang guru menggunakan tipe kepemimpinan demokratis maka akan
lebih memungkinkan terbinanya sikap persahabatan guru dan peserta didik dengan
dasar saling memahami dan saling mempercayai. Peserta didik akan belajar secara
produktif baik pada saat diawasi guru maupun tanpa diawasi guru.

12

13

BAB III
KESIMPULAN
Gaya kepemimpinan otoriter adalah pemimpin yang menentukan segalagalanya. Semua aktivitas kelompok dijalankan atas instruksi pemimpin. Pemimpin
mengatur dan mendikte anggota. Anggota hanya sebagai pelaksana perintah
pemimpin. Kedudukan pemimpin seolah-oleh terpisah dari yang dipimpin karena
pimpinan berhubungan dengan anggota pada saat memberikan intruksi atau
perintah saja.
Gaya kepemimpinan demokratis adalah ketika ada kerja sama antar
pemimpin dan anggotanya. Semua kegiatan kelompok dijalankan atas keputusan
bersama. Semua perencanaan dan langkah-langkah pekerjaan ditentukan secara
musyawarah. Pemimpin menempatkan anggota sebagai kawan dan bukan sebagai
orang yang dipekerjakan. Tugas dan kewajiban dijalankan bersama-sama dengan
pemimpin. Pemimpin demokratis berusaha menampilkan keterlibatan dan
keikutsertaan yang maksimum dari setiap anggota dalam kegiatan kelompok dan
dalam menentukan tujuan kelompok. Berusaha membagi tanggungjawab dengan
anggotanya.
Gaya otoriter biasanya digunakan dalam unit produksi dan orientasinya
hasil dalam jangka pendek. Otoriter bagus dijalankan ketika dalam waktu genting,
ketika alur kerja perlu dirubah secara cepat, dan jika menginginkan tingkat
produksi yang tinggi. Gaya demokratis biasanya memberikan kepuasan secara
umun terhadap anggota dan dapat berlangsung dalam jangka waktu lama.

14

DAFTAR PUSTAKA

Bass, B.M. & Bass, R. (2008). The bass handbook of leadership: theory, research,
and managerial applications. New York: Free Press
Danim, Sudarwan. (2004). Motivasi kepemimpinan dan efektivitas kelompok.
Bengkulu: PT RINEKA CIPTA.
Miftah Thoha. (2010). Kepemimpinan dan manajemen. Devisi Buku Perguruan
Tinggi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Winardi. (2000). Manajer dan manajemen. Bandung: Citra Aditya Bakti.

15