Anda di halaman 1dari 95

ISSN 2086 - 7352

JURNAL

KONSTRUKSIA
VOLUME 5 NOMER 1

DESEMBER 2013

PERAN ENJINIR TERHADAP TERJADINYA KLAIM KONSTRUKSI


DI PROYEK INFRASTRUKTUR PINJAMAN LUAR NEGERI
(DENGAN REFERENSI FIDIC MDB 2006)
Marlia Dyah Salindri / Sarwono Hardjomuljadi

ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KLAIM PADA PROYEK KONSTRUKSI


YANG MENGGUNAKAN FIDIC CONDITIONS OF CONTRACT
FOR PLANT AND DESIGN BUILD
Galih Adya Taurano / Sarwono Hardjomuljadi

STUDI ANALISIS LENTUR BALOK YANG MENGALAMI PROSES


PENGEROPOSAN BETON TINJAUAN DAERAH LAPANGAN
Firmansyah / Nadia

ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN


SUBKONTRAK KONSTRUKSI BANGUNAN GEDUNG DI INDONESIA
Henrico / Anton Soekiman

KINERJA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL II


DALAM PENGELOLAAN JALAN DI SUMATERA BARAT
Rika Julitasari / Anton Soekiman

KAJIAN DAN EVALUASI PEMILIHAN KONSULTAN DI LINGKUNGAN


PENATAAN RUANG, KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM
Abdul Mutholib / Andreas Franskie Van Roy

PENGARUH VARIASI PANJANG SAMBUNGAN LAS


TERHADAP KAPASITAS KUAT TARIK BAJA TULANGAN
Abdul Rokhman / Adi Supriatna

STUDI PENGARUH JARAK TIANG PANCANG PADA KELOMPOK TIANG


TERHADAP PERUBAHAN DIMENSI PILE CAP
Dona Dwi Saputro / Haryo Koco Buwono

TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


Volume 5 Nomor 1| Halaman 1 92 Desember 2013

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomor 1 | Desember 2013

JURNAL

KONSTRUKSIA
REDAKSI
Penanggung Jawab

: Ir. Aripurnomo Kartohardjono, DMS, Dipl.TRE.

Pemimpin Redaksi

: Ir. Haryo Koco Buwono, MT.

Mitra Bestari

: Prof. Ir. Sofia W. Alisjahbana, MSc., PHD.


DR. Ir. Rusmadi Suyuti, ME.
DR. Ir. Saihul Anwar, M.Eng.
DR. Ir. Sarwono Hardjomuljadi

Staf Redaksi

: Ir. Nadia, MT.


Ir. Trijeti, MT.
Ir. Iskandar Zulkarnaen
Basit Al Hanief, ST
Andika Setiawan
Farid Aulia

Seksi Umum

: Ir. Saifullah
Imam Susandi

Disain Kreatif

: Ir. Haryo Koco Buwono, MT.

Administrator Web

: Riyadi, ST

Terbit

: Per Semester Juni dan Desember ( Dua Kali Setahun )

Alamat Redaksi

: Jurnal Konstruksia Jurusan Teknik Sipil


Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Jl. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat.10510

Website

: www.konstruksia.org

Email

: redaksi@konstruksia.org

Ilustrasi cover diambil dari:


http://2.bp.blogspot.com/turnkey1.jpg

ISSN 2086-7352

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomor 1 | Desember 2013

JURNAL

KONSTRUKSIA
Volume 5 Nomor 1 Desember 2013

Diterbitkan oleh: Divisi Jurnal, Teknik Sipil Fakultas Teknik


Universitas Muhammadiyah Jakarta

ISSN 2086-7352

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomor 1 | Desember 2013

ISSN 2086-7352

JURNAL

KONSTRUKSIA
Volume 5 Nomor 1 Desember 2013

PENGANTAR REDAKSI
Dengan mengucap syukur yang mendalam seiring terbitnya JURNAL KONSTRUKSIA volume 5
Nomer 1 di bulan Desember 2013 ini.
Pada edisi ini mendapatkan respons positif dalam rangka menunjang keputusan menteri tentang
Lulusan Magister diwajibkan telah menulis di Jurnal Ilmiah Nasional. Adapun yang sudah
menangkap respon tersebut, salah satunya adalah dari Magister Teknik Sipil, Universitas
Parahyangan Bandung. Adapun tema yang ditampilkan sangat beragam, mulai dari Kontrak
manajemen, hingga pengujian bahan material struktur. Hal ini tidak lepas dari peran serta jalinan
hubungan baik antar institusi agar membantu lulusannya untuk dapat segera terjun ke masyarakat
atas gelar yang disandangnya.
Penerbitan ini tentunya tidak lepas dari peran serta banyak pihak. Semoga Jurnal ini salah satu
tonggak untuk dapat segera terakreditasi. Aamiin

Jakarta, Desember 2013

Pemimpin Redaksi

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomor 1 | Desember 2013

ISSN 2086-7352

JURNAL

KONSTRUKSIA
Volume 5 Nomor 1 Desember 2013

DAFTAR ISI
Redaksi
Pengantar Redaksi
Daftar Isi
PERAN ENJINIR TERHADAP TERJADINYA KLAIM KONSTRUKSIDI PROYEK
INFRASTRUKTUR PINJAMAN LUAR NEGERI (DENGAN REFERENSI FIDIC MDB 2006)

1 11

ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KLAIM PADA PROYEK KONSTRUKSI


YANG MENGGUNAKAN FIDIC CONDITIONS OF CONTRACT
FOR PLANT AND DESIGN BUILD .....

13 24

STUDI ANALISIS LENTUR BALOK YANG MENGALAMI PROSES


PENGEROPOSAN BETON TINJAUAN DAERAH LAPANGAN ..

25 32

ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN


SUBKONTRAK KONSTRUKSI BANGUNAN GEDUNG DI INDONESIA

33 47

KINERJA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL II DALAM


PENGELOLAAN JALAN DI SUMATERA BARAT

49 58

KAJIAN DAN EVALUASI PEMILIHAN KONSULTAN


DI LINGKUNGAN PENATAAN RUANG, KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM ................

59 75

PENGARUH VARIASI PANJANG SAMBUNGAN LAS TERHADAP KAPASITAS


KUAT TARIK BAJA TULANGAN ..

77 83

STUDI PENGARUH JARAK TIANG PANCANG PADA KELOMPOK TIANG TERHADAP


PERUBAHAN DIMENSI PILE CAP ..

85 92

Peran Enjinir Terhadap Terjadinya Klaim Konstruksi Di Proyek Infrastruktur (Marlia Dyah - Sarwono)

PERAN ENJINIR TERHADAP TERJADINYA KLAIM KONSTRUKSI


DI PROYEK INFRASTRUKTUR PINJAMAN LUAR NEGERI
(DENGAN REFERENSI FIDIC MDB 2006)
Marlia Dyah Salindri Hardjito
Magister Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan
Email : hai_marlia@yahoo.com
Sarwono Hardjomuljadi
Dosen Magister Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan
Email: info@sarwonohm.com
ABSTRAK : Klaim didunia konstruksi adalah suatu tuntutan dari pihak yang merasa hak-haknya belum
diterima sehingga meminta kompensasi baik itu berupa uang atau tambahan waktu yang mana belum
dituliskan dalam kontrak. Untuk meminimalisasi terjadinya klaim, penulis bermaksud untuk melihat
pengaruh dari peran enjinir yaitu wewenang, tugas dan tanggung jawab yang dominan apa saja didalam
FIDIC MDB 2006 terhadap terjadinya klaim konstruksi di proyek infrastruktur pinjaman luar negeri. Hasil
penelitian menunjukkan dari 66 peran enjinir didapatkan 7 peran enjinir yang dominan dan berpengaruh
terhadap terjadinya klaim konstruksi yaitu : (a) melakukan verifikasi data atas klaim yang diajukan oleh
kontraktor (b) melakukan perhitungan terhadap pekerjaan yang diselesaikan oleh kontraktor sampai
dengan terjadinya force major dan menerbitkan Berita Acara Pembayaran (c) melakukan perhitungan
terhadap pekerjaan yang sudah dikerjakan oleh kontraktor terkait dengan pemutusan kontrak (d)
melakukan penetapan sesuai dengan kontrak atas permintaan kontraktor (e) menetapkan sertifikat
pembayaran sementara yang diajukan oleh kontraktor (f) menerbitkan gambar rencana sesuai waktu
tertentu yang wajar (g) melakukan peninjauan terhadap usulan perpanjangan waktu penyelesaian oleh
kontraktor. Upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi terjadinya klaim konstruksi akibat peran
enjinir adalah: (a) Perusahaan konsultan menyediakan personil sesuai dengan kualifikasi yang tertera di
kontrak (b) dalam pengadaan konsultan supervisi, pengguna jasa dapat menggunakan metoda lelang QBS
(Quality Base Selection) dengan konsukuensi nilai kontrak menjadi lebih tinggi dan melakukan tes
kemampuan personil (c) disarankan adanya revisi sub-klasula 3.1(c) yaitu penambahan sanksi kepada
enjinir apabila enjinir lalai (d) di dalam kontrak antar pemilik proyek dan konsultan perlu ditambahkan
sanksi berupa biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan konsultan bukan hanya sanksi berupa
penundaan pembayaran
Kata kunci : Enjinir, Kontraktor, Klaim, FIDIC MDB 2006, Pinjaman Luar Negeri
ABSTRACT: Claim construction is a demand in the world of those who feel their rights have not been well
received thus require compensation in the form of money or extra time which has not been written in the
contract . To minimize the occurrence of a claim , the author intends to look at the effect of the role of
engineer is the authority , duties and responsibilities of any dominant FIDIC MDB in 2006 against the claim
construction in infrastructure projects overseas loans . The results showed than 66 roles available 7 engineer
dominant role and influence on the construction claim are: ( a) consulting firm providing qualified personnel
in accordance with that stated in the contract ( b ) in the procurement of consultant supervision , employeer
can use the auction method of QBS ( Quality Base Selection ) where the the auction method is more in priority
on the quality of personnel with konsukuensi contract value to be higher and to test to determine the ability
of personnel trial period ( c ) Engineer perform the calculations of the work that already done by the
contractor related to the termination of the contract ( d ) Engineer make the determination in accordance
with the contract at the request of the contractor ( e )Engineer establish interim payment certificate
submitted by the contractor ( f ) Engineer publish design on the time plan reasonable given ( g )Engineer
carry out a review of the proposed extension of time of completion by the contractor.
1|K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

Efforts should be made to minimize the effect of construction claims enjinir role is: (a) consulting firm
providing qualified personnel in accordance with the contract (b) employeer can use the auction method of
QBS (Quality Base Selection),the consequences of a higher contract value and doing test to determine the
ability of personnel (c) suggested a revision of the sub-klasula 3.1 (c) is the addition to the sanctions if
engineer negligent (d) in the contract between the project employeer and the consultant should be added
sanction of costs to be borne by the consulting firm not only sanctions by withholding payment
Keywords: Engineer, Contractor, Claim, FIDIC MDB edition 2006, Loan.

LATAR BELAKANG
Pemerintah
Indonesia
dalam
hal
pembangunan konstruksi di Indonesia
tidak terlepas dari adanya campur tangan
investor ataupun pendanaan yang berasal
dari pinjaman luar negeri dan seiring
meningkatnya pinjaman luar negeri di
Indonesia (gambar 1.1) menyebabkan
pertumbuhan
jumlah
perusahaan
kontraktor dan konsultan asing di
Indonesia semakin meningkat yaitu dilihat
dari lima tahun terakhir pertambahan
konsultan dan kontraktor asing di
Indonesia sangat besar sejak pencanangan
MP3EI naik hingga 22,2% sehingga
akumulasi jumlah sampai dengan tahun
2012 mencapai 255 perusahaan [akhmad
suraji , 2012]

Gambar .1 Pinjaman Luar negeri


Kementerian Pekerjaan Yang Berdasarkan
Pemberi Pinjaman Desember 2012
Namun pada pelaksanaannya, penyerapan
pinjaman luar negeri rendah dikarenakan
banyaknya perubahan yang terjadi di dalam
kontrak. Perubahan didalam kontrak dapat
menyebabkan
tambahan
pekerjaan
sehingga waktu dan biaya juga ikut
2|K o n s t r u k s i a

bertambah dan apabila tuntutan tambahan


waktu dan biaya tidak dipenuhi maka akan
terjadi klaim kontruksi. Pelaku jasa
konstruksi dalam hal ini Pengguna Jasa,
Kontraktor dan Konsultan mempunyai
andil sampai terjadinya perubahan di
dalam kontrak.
PERMASALAHAN UTAMA
Proyek Infrastruktur Pinjaman Luar Negeri,
sebagian besar kontraknya berbasiskan
FIDIC MDB 2006. Di dalam FIDIC MDB
2006 dijelaskan enjinir mempunyai peran
yaitu wewenang, tugas dan tanggung jawab
untuk setiap pelaksanaan pekerjaan di
lapangan yang ditunjuk oleh pemilik royek
bertindak
sebagai
enjinir
untuk
kepentingan kontrak. Setiap peranan yang
dilakukan enjinir baik itu instruksi,
pemeriksaan dan pengambilan keputusan
mempunyai dampak terhadap pelaksanaan
proyek yang bisa berakibat terjadinya
klaim konstruksi atau terjadinya klaim
konstruksi. Peran enjinir yang mempunyai
pengaruh besar terhadap terjadinya klaim
konstruksi tidak di tunjang dengan
tanggung jawab enjinir berupa sanksi yang
tertulis di dalam kontrak antara konsultan
dan pengguna jasa apabila enjinir
melakukan suatu kelalaian. Salah satu
contoh isi kontrak konsultan supervisi
proyek pinjaman luar negeri klausula 2.8
The Client may, by written notice of
suppension to the consultant, suspend all
payments to the consultant hereunder if the
consultant fails to perform any of its

Peran Enjinir Terhadap Terjadinya Klaim Konstruksi Di Proyek Infrastruktur (Marlia Dyah - Sarwono)

obligations under this Contract. (sumber:


Contract Of Technical Assitance For
Western Indonesia Road Improvement
Project-WINRIP).
Dari kutipan klausula bisa disimpulkan
sanksi
yang
diberlakukan
kepada
perusahaan konsultan apabila enjinirnya
melakukan kesalahan adalah hanya
menunda pembayaran. Hal ini tidak
seimbang
apabila
terjadinya
klaim
konstruksi yang diakibatkan oleh kelalaian
enjinir. Kelalainan enjinir dapat merugikan
pihak pengguna jasa dan kontraktor dari
segi materi dan non-materi
RUMUSAN MASALAH
Melihat kenyataan diatas, penulis merasa
perlu untuk melakukan suatu penelitian
mengenai peranan enjinir yang dominan
didalam klasula - klausula FIDIC MDB 2006
terhadap terjadinya klaim konstruksi.
MAKSUD DAN TUJUAN
Mengidentifikasi dan menganalisis peranan
enjinir yang dominan apa saja pada
klausula-kalusula FIDIC MDB 2006 yang
berpengaruh terhadap klaim konstruksi di
Proyek Infrastruktur Pinjaman Luar Negeri.
LANDASAN TEORI
Pengertian Enjinir
Berikut ini beberapa definisi enjnir
menurut peneliti, jurnal dan dokumen
penawaran:
Orang yang di tunjuk oleh pemilik
proyek untuk bertindak sebagai enjinir
untuk
kepentingan
kontrak
dan
disebutkan dalam data kontrak atau
orang lain yang di tunjuk oleh pemilik
proyek dari waktu ke waktu dan di
beritahukan
kepada
kontraktor
bedasarkan
sub
klausula
3.4
(Penggantian Enjinir) [FIDIC MDB 2006]

Enjnir adalah seorang penasehat ahli


dan perwakilan dari klien dan diminta
untuk bertidak independen, adil dan
tidak memihak pihak manapun. Enjinir
juga mempunyai peranan yang penting
dalam adminitrasi kontrak dan memiliki
banyak tugas untuk melakukan atau
memberikan arahan kepada kontraktor
melalui penilaian pekerjaan, untuk
mengeluarkan sertifikat dan jadwal
pembayaran, yang semuanya harus
dilakukan tanpa adanya keterlambatan
(Abernethey.M, 2007)
Seseorang yang disebutkan dalam
kontrak (atau orang lain yang
berkompeten yang ditunjuk oleh pemilik
proyek dan diberitahukan kepada
kontraktor untuk bertindak dalam
penggantian manajer proyek) yang
bertanggung jawab untuk mengawasi
pelaksanaan pekerjaan dan adminitrasi
kontrak (Standard Bidding Documents,
The African Development Bank , 2007)
orang yang ditunjuk oleh pemilik proyek
dari waktu ke waktu secara tertulis
yang dinyatakan didalam klausula 5
sebagai
pengawas
dan
adanya
pemberitahuan secara tertulis kepada
kontraktor oleh pengguna jasa (AS
4000,1997)
orang atau badan usaha yang di
identifikasikan sebagai seorang enjinir
dalam perjanjian dan disebutkan
didalam dokumen kontrak (AIA, 2007)
Pengertian Klaim :
adalah Suatu tindakan seseorang untuk
meminta sesuatu, dimana hak seseorang
tersebut telah hilang sebelumnya,
karena yang bersangkutan beranggapan
mempunyai hak untuk mendapatkan
kembali (Hardjomuljadi S, 2009)
adalah permintaan yang sah untuk
kompensasi tambahan )biaya dan/atau

3|K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2012

waktu) karena perunahan dalam syaratsyarat kontrak (Wideman, R, M.,1990)


adalah tindakan seseorang untuk
meminta sesuatu, dimana hak seseorang
tersebut hilang sebelumnya, karena yang
bersangkutan beranggapan mempunyai
hak untuk mendapatkan kembali
(Hardjomuldjadi S, et al.,2006)
adalah merupakan suatu upaya dari
salah satu pihak yang terlibat dalam
suatu proyek atau kegiatan untuk
mendapatkan apa yang seharusnya
menjadi haknya yang disertai dengan
bukti yang daat mendukung permintaan
tersebut (Rahmah, E, E.,2012)
METODA PENELITIAN
Penelitian
ini
dilakukan
dengan
respondennya adalah pelaku jasa yaitu
pemilik proyek, kontraktor dan konsultan.
Pelaksanaan penelitian:
1. Menyusun
Instrumen
Penelitian.
Melakukan identifikasi terhadap peran
enjinir di dalam klausula - klausula
FIDIC MDB 2006 yang mendasari
terjadinya Klaim Konstruksi. Peran
enjinir di kategorikan berdasarkan
wewenang, tugas dan tanggung jawab.
Terdapat 65 peran enjinir yang
berpengaruh terhadap
terjadinya
klaim konstruksi.
2. Klarifikasi terhadap pakar.
Melakukan
klarifikasi
instrumen
penelitian kepada pakar sebanyak 5
orang dengan pengalaman > 7 tahun
guna mendapatkan instrumen yang
valid
3. Penyusunan Kuisoner.
Penyebaran kuisoner kepada pelaku
jasa konstruksi berdasarkan pada
instrumen yang sudah di setujui oleh
pakar. Syarat responden adalah
pengalaman >3 tahun.

4|K o n s t r u k s i a

4.

Pengumpulan dan pengolahan data.


Pengumpulan
dilakukan
dengan
menyebarkan secara langsung, email
dan data diolah dengan menggunakan
piranti lunak SPSS 17.

Data diolah secara deskriptif, korelasi dan


regresi. Kuisoner menggunakan skala
pengukuran likert dengan rincian skala 1
(tidak mempengaruhi), skala 2 (sedikit
berpengaruh),
3
(berpengaruh),
4
(berpengaruh besar), 5 (berpengaruh
sangat besar).
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Hasil validasi terhadap pakar, didapatkan
penambahan indikator dari 65 indikator
menjadi 66 indikator yaitu penambahan
indikator
mengenai
kegiatan
yang
berkaitan dengan lingkungan di dalam
dokumen kontrak. Jumah responden adalah
68.
Analisa Deskriptif
Analisa deskriptif mempunyai tujuan untuk
memberikan gambaran data dari nilai mean
dan median fungsinya untuk mendapatkan
gambaran kualitatif atas pengaruh peranan
enjinir di dalam klausula FIDIC MDB 2006
terhadap terjadinya klaim konstruksi di
proyek infrastruktur Pinjaman Luar Negeri.
Tabel 1 dan Gambar 2 menunjukkan
prosentase responden memilih skala 4
(berpengaruh
besar)
yaitu
57,4%
dibandingkan dengan skala lainnya. Hal ini
menunjukkan bahwa sebagian besar
responden
sepakat
bahwa
adanya
pengaruh yang besar antara peranan
enjinir terhadap
terjadinya klaim
konstruksi
di
proyek
infrastruktur
pinjaman luar negeri.

Peran Enjinir Terhadap Terjadinya Klaim Konstruksi Di Proyek Infrastruktur (Marlia Dyah - Sarwono)

Tabel 1. Hasil Analisis Deskriptif Variabel B


Frek

Valid

Valid
(%)

Cumm.
(%)

Sedikit
Berpengaruh

5,9

5,9

5,9

Berpengaruh

14

20,6

20,6

26,5

Berpengaruh
besar

39

57,4

57,4

83,8

Berpengaruh
sangat besar

11

16,2

16,2

100,0

Total

yang artinya korelasi antara variabel A dan


B mempunyai hubungan yang kuat. Tabel 2
menyajikan hasil korelasi Spearmans
dengan tingkat probabilitas <0.01 dengan
parameter >0,5
Tabel 2. Korelasi Spearmans dengan level
of Significant < 0,05 (**)
Koef.
No

68

100,0

100,0

Gambar 2. Histogram Variabel B


Analisis Korelasi
Analisa
korelasi
bertujuan
untuk
mengetahui dan menemukan ada tidaknya
hubungan antara variabel peran enjinir
didalam klausula-klausula FIDIC MDB 2006
dengan variabel klaim konstruksi.
Referensi parameter yang digunakan
menurut sugiyono (2001) adalah 0 0,025
(korelasi sangat lemah) ; 0,25 0,50
(korelasi cukup) ; 0,50 0,75 (korelasi
kuat) ; 0,75 100 (korelasi sangat kuat),
dengan teknik korelasi yang digunakan
adalah korelasi Spearmans.
Hipotesis statistik :
Ho : = 0
Ha : 0
Dasar pengambilan keputusan :
Jika probabilitas < 0,05, maka Ho diterima
Jika probabilitas > 0,05, maka Ho ditolak
Dari 66 variabel didapatkan 53 variabel
yang memiliki tingkat probabilitas < 0,01

Korelasi
thd B

0,657 **

0,629**

0,627**

0,625**

0,598**

Kode

A29

A56

A57

A59

A20

Variabel

Melakukan perhitungan
terhadap pekerjaan yang
diselesaikan oleh
kontraktor sampai dengan
terjadinya force major
dan menerbitkan Berita
Acara Pembayaran (SubKlausula 19.6)
Melakukan perhitungan
jumlah yang akan di
bayarkan kepada
kontraktor akibat
penyesuaian perubah
biaya (Sub-Klausula 13.8)
Enjinir mengeluarkan
Berita Acara Pembayaran
Akhir yang menyatakan
jumlah akhir yang harus di
bayarkan kepada
kontraktor (Sub-Klausula
14.13)
Melakukan perhitungan
terhadap
Pekerjaan,barang-barang
dan dokumen kontraktor
serta biaya lain yang
menjadi hak kontraktor
akibat pemutusan oleh
Pengguna Jasa (SubKlausula 15.3)
Menanggapi dengan
persetujuan atau
penolakan terhadap
usulan variasi oleh
kontraktor (Sub-Klausula
13.3)

5|K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2012

10

11

12

13

0,529**

0,529**

0,522**

0,519**

0,510**

0,508**

0,507**

0,502**

A16

A50

A30

A35

A12

A19

A55

A36

Menginstruksikan
pengujian ulang kepada
konraktor terhadap
pekerjaan cacat mutu
(Sub-Klausula 11.6)
Melakukan perhitungan
terhadap denda
keterlambatan yang
diakibatkan oleh
kontraktor (Sub-Klausula
8.7)
Menanggapi baik itu
menerima atau menolak
klaim yang diajukan oleh
kontraktor (Sub-Klausula
20.1)
Pemeriksaan atas
perubahan atau
pengurangan terhadap
harga kontrak yang
mempengaruhi nilai
jaminan pelaksanaan
(Sub-Klausula 4.2)
Memberikan instruksi
kepada kontraktor guna
mempercepat pekerjaan
(Sub-Klausula 8.6)
Melakukan peninjauan
terhadap perubahan yang
mengakibatkan
pengurangan nilai kontrak
untuk menyetujui atau
menentukan bayaran yang
akan dimasukan ke dalam
kontrak (Sub-Klausula
13.2)
Melakukan peninjauan
terhadap harga kontrak
dengan mengevaluasi
setiap item pekerjaan
(Sub-Klausula 12.3)
Memberitahu kepada
kontraktor terhadap
tanda-tanda batas (titik,
garis dan ketinggian
referensi yang dinyatakan
dalam kontrak) (SubKlausula 4.7)

Sumber : Data Olahan SPSS 17

6|K o n s t r u k s i a

Tabel 3. Variabel Entered/Removed


Model

Variables
Entered

A29

A59

A30

A26

A33

A3

A49

Variables
Removed

Method

Stepwise (Criteria:
Probability-of-Fto-enter <= ,050,
Probability-of-Fto-remove >=
,100).

Stepwise (Criteria:
Probability-of-Fto-enter <= ,050,
Probability-of-Fto-remove >=
,100).

Stepwise (Criteria:
Probability-of-Fto-enter <= ,050,
Probability-of-Fto-remove >=
,100).

Stepwise (Criteria:
Probability-of-Fto-enter <= ,050,
Probability-of-Fto-remove >=
,100).

Stepwise (Criteria:
Probability-of-Fto-enter <= ,050,
Probability-of-Fto-remove >=
,100).

Stepwise (Criteria:
Probability-of-Fto-enter <= ,050,
Probability-of-Fto-remove >=
,100).

Stepwise (Criteria:
Probability-of-Fto-enter <= ,050,
Probability-of-Fto-remove >=
,100).

Sumber : Data Olahan SPSS 17

Peran Enjinir Terhadap Terjadinya Klaim Konstruksi Di Proyek Infrastruktur (Marlia Dyah - Sarwono)

Sumber : Data Olahan SPSS 17


Gambar 3. Korelasi Regresi
Berdasarkan perhitungan komposisi data
koefisien, dapat ditentukan persamaan
model regresi sebagai berikut :
B =

0,084 + 0,319A29 + 0,242A59 +


0,517A30 0,179A26 + 0,226A33
0,229A3 + 0,132A49

Keterangan :
B
= Klaim Konstruksi
A29 = Menetapkan nilai pekerjaan yang
diselesaikan oleh kontraktor
sampai dengan terjadinya force
major dan menerbitkan Berita
Acara Pembayaran (Sub-Klausula
19.6)
A59 = Melakukan perhitungan terhadap
Pekerjaan,barang-barang
dan
dokumen kontraktor serta biaya
lain yang menjadi hak kontraktor
akibat pemutusan oleh Pengguna
Jasa (Sub-Klausula 15.3)
A30 = Memutuskan untuk menerima/
menolak klaim berdasarkan
catatan
kontraktor
yang

A26

A33

A3

A49

diberikan kepada enjinir (SubKlausula 20.1)


Melakukan peninjauan kembali
terhadap klaim kontraktor akibat
biaya
yang
di
keluarkan
kontraktor
disebabkan
oleh
penghentian pekerjaan (SubKlausula 16.1)
Menerbitkan gambar rencana
sesuai waktu tertentu yang layak
(Sub-Klausula 1.9)
Melakukan
penetapan/persetujuan
sesuai
dengan kontrak atas permintaan
kontraktor (Sub-Klausula 3.5)
Melakukan evaluasi terhadap
usulan
perpanjangan waktu
penyelesaian oleh kontraktor
(Sub-Klausula 8.4)

Uji Test Koefesien Penentu atau (R2)


Test
Setelah melakukan regresi perlu dilakukan
analisa koefesien determinasi untuk
mengetahui tepat apa tidaknya penggunaan
persamaan regeresi atau tepat tidaknya
variabel-variabel
bebas
yang
mempengaruhi variabel terikat.
Pada lampiran 1 nilai adjusted r square
bernilai 0,787. Nilai tersebut mempunyai
arti ketujuh variabel independen mampu
mejelaskan variasi dari variabel dependen (
klaim
konstruksi)
sebesar
78,7%
sementara sisanya mampu dijelaskan oleh
faktor-faktor lain yang tidak dapat
dijelaskan dalam model.
Uji Koefesien Regresi (Uji F)
F test digunakan untuk mengetahui apakah
ketujuh variabel independen secara
bersama sama berpengaruh signifikan
terhadap variabel dependen (B).
Dari hasil output SPSS 17 didapatkan F
hitung 36,306. Dari tabel nilai untuk
7|K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2012

distribusi F dengan df = 7 (regression) dan


df = 60 (residual) maka diperoleh F hitung
sebesar 3,30 dengan level signifikan 0,05.
F hitung > F tabel (36,306 > 3,30) = Ha
ditolak artinya terdapat pengaruh cukup
signifikan antara peran enjinir terhadap
terjadinya klaim konstruksi.
Uji Autokorelasi
Dalam dunia statistik , Uji Durbin Watson
adalah sebuah test yang digunakan untuk
mendeteksi autokorelasi pada nilai residual
(prediction errors) dari sebuah analisis
regresi. Uji Autokorelasi juga bisa dikatakan
untuk mengetahui ada atau tidaknya
penyimpangan asumsi klasik, yaitu korelasi
yang terjadi antara residual pada satu
pengamatan lain pada model regresi.
Prasyarat yang harus terpenuhi adalah
tidak adanya autokorelasi dalam model
regresi.
Syarat yang harus dipenuhi adalah adanya
autokorekasi dalam model regresi dan
metoda yang dipakai adalah Uji Durbin
Watson. Dari Hasil Output SPSS 17
didapatkan nilai DW dari hasil regresi
adalah 1,870 sementara dari tabel DW
dengan signifikan 0,05 dan jumlah data (n)
= 66 , serta k = 1 diperoleh nilai dL = 1,5704
dan dU = 1,6318.

DW
1,870
dL

dU

4-dU

4-dL

1,5704

1,6318

2,3682

2,4296

Gambar 4 Uji Durbin Watson


Karena nilai DW adalah 1,80 berada
diantara dU dan 4-dU, dapat disimpulkan

8|K o n s t r u k s i a

bahwa tidak ada autokorelasi pada model


regresi yang dihasilkan sehingga model
dapat diterima
PEMBAHASAN
Analisa regresi linear dilakukan untuk
mendapatkan tingkat signifikan pengaruh
variabel peran enjinir yang berdampak
pada terjadinya klaim konstruksi. Dari hasil
regresi yang dilakukan didapatkan 7
variabel peran enjinir yang berpengaruh
terhadap
terjadinya klaim konstruksi
seperti yang tertulis pada persamaan
diatas.
Konstanta
sebesar
0,084
menyatakan bahwa jika enjinir tidak
melakukan wewenang dan tangung jawab
seperti yang di tuliskan untuk setiap
variabel diatas maka klaim konstruksinya
sebesar 0,084. Koefesien regeresi 0,319;
0,242;
0,517;
0,226
dan
0,312
menunjukkan bahwa setiap tugas dan
tanggung jawab enjinir bertambah + 1
point, maka klaim konstruksinya akan
bertambah 0,319; 0,242; 0,517; 0,226 dan
0,312 . Tanda (+) dapat di interpretasikan
(-) karena dapat menyebabkan terjadinya
klaim konstruksi. Secara kualitatif tidak ada
tugas dan tanggung jawab enjinir yang
minus tetapi lebih kepada kelalaian
enjinir dalam melakukan tugas dan
tanggung
jawabnya.
Sementara
itu
koefesien regeresi -0,179 dan - 0,229
artinya jika variabel independen lain
nilainya tetap dan koefesien regresi
variabel untuk (A.26) dan (A.3) mengalami
kenaikan 1%, maka klaim konstruksi akan
mengalami penurunan sebesar -0,179 dan 0,229. Tanda (-) pada persamaan (4.1)
dapat di interpretasikan (+) karena
mengurangi terjadinya klaim konstruksi.
Variabel A.26 dan A.3 menununjukkan
wewenang enjinir untuk melakukan
penetapan atas semua pekerjaan yang
dilakukan
oleh
kontraktor.
Dalam
melakukan penetapan, enjinir mengacu

Peran Enjinir Terhadap Terjadinya Klaim Konstruksi Di Proyek Infrastruktur (Marlia Dyah - Sarwono)

pada sub-klausula 3.5 yaitu enjinir harus


berkonsultasi dengan masing-masing pihak
dalam usahanya mencapai kesepakatan.
Apabila tidak terjadinya kesepakatan,
enjinir harus melakukan penetapan secara
adil sesuai dengan kontrak dengan
memperhatikan hal-hal yang dianggap
terkait . Berdasarkan kutipan diatas jelas
enjinir sebelum menetapkan secara
sepihak, enjinir diharuskan melakukan
kesepakatan antara pelaku jasa konstruksi
dalam hal ini adalah pengguna jasa dan
kontraktor untuk memungkinkan agar
tidak terjadinya ketidakadilan sehingga
tidak menimbulkan kerugian. Dengan tidak
adanya kerugian dari pihak pelaku jasa
konstruksi maka tidak adanya tuntutan
klaim yang diajukan oleh masing-masing
pelaku jasa konstruksi sehingga dapat
mengurangi klaim konstruksi.
3.
Upaya yang dapat dilakukan untuk
meminimalisasi
terjadinya
klaim
konstruksi adalah sebagai berikut :
1. Semaksimal
mungkin
mencegah
terjadinya pergantian personil di dalam
struktur organisasi konsultan supervisi
khususnya enjinir dan tenaga ahli di
lapangan
karena
berakibat
terlambatnya
atau
tertundanya
pekerjaan terutama terhambatnya
proses pembayaran Money Certificate
(MC). Untuk mencegah terjadinya
pergantian
personil,
perusahaan
konsultan
supervisi
selayaknya
menyediakan personil sesuai dengan
kualifikasi yang tertera di dalam
kontrak.
2. Minimnya sumber daya manusia yang
mempunyai
kemampuan
atau
kompetensi yang layak baik dari segi
teknis maupun dari sisi administrasi
kontrak karena proyek pinjaman luar
negeri banyak mengandung klasula
yang dibatasi oleh waktu sehingga

4.

setiap keterlambatan dalam proses


peninjauan atau persetujuan dapat
menjadi peluang bagi kontraktor untuk
mendapatkan tambahan keuntungan
dari sisi segi non materi. Perlu
mendapatkan seorang enjinir yang
memang paham benar dengan teknis
dan dokumen kontrak sehingga tidak
terjadinya
kesalahapaham
dalam
pembacaan isi kontrak sehingga
terhindar dari kesalahan pengambilan
keputusan khususnya proyek pinjaman
luar
negeri.
Dalam
pengadaan
konsultan supervisi, pengguna jasa
dapat menggunakan metoda lelang QBS
(Quality Base Selection) dimana pada
metoda ini lelang lebih di utamakan
pada
kualitas
personil
dengan
konsukuensi nilai kontrak menjadi
lebih tinggi.
Didalam buku FIDIC MDB 2006 tidak
membahas mengenai sanksi bagi
enjinir apabila enjinir lalai dan dapat
mengakibatkan
terjadinya klaim
konstruksi baik itu dari sisi pengguna
jasa dan kontraktor. Di tuliskan dalam
sub-klausula 3.1 (c) tidak akan
membebaskan
kontraktor
dari
tanggung
jawab
yang
dimiliki
berdasarkan
kontrak,
termasuk
tanggung jawab atas kekeliruan,
pengabaian dan ketidaksesuaian.
Menurut kutipan diatas, kesalahan
enjinir baik dari segi kekeliruan,
pengabaian dan ketidaksesuaian yang
dilakukan oleh enjinir merupakan
tanggung
jawab
kontraktor.
Disarankan adanya revisi sub-klausula
3.1 (c) yaitu penambahan sanksi
kepada enjinir apabila enjinr lalai
dalam melakukan tugasnya.
Seperti yang dicantumkan di dalam
kontrak antara konsultan supervisi dan
pengguna jasa pada identifikasi
masalah. Disarankan bukan hanya
9|K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2012

sanksi berupa penundaan pembayaran


tetapi juga sanksi berupa biaya yang
harus ditanggung oleh perusahaan
konsultan akibat kelalaian enjinirnya
sehingga menyebabkan timbulnya
klaim.
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil
penelitian
yang
dilakukan
setelah
melalui
analisa
sebelumnya, dapat diambil kesimpulan :
1. Hasil
analisa
deskriptif,
57,4%
responden memilih peran enjinir
mempunyai
peran
mempunyai
pengaruh besar terhadap terjadinya
klaim konstruksi.
2. Hasil analisa korelasi didapatkan 13
variabel yang mempunyai pengaruh
kuat dengan parameter > 0,5 dari 53
variabel yang berpengaruh terhadap
terjadinya klaim konstruksi dengan
nilai signifikansi diatas 99% .
3. Masing-masing pelaku jasa konstruksi
memiliki pandangan yang berbeda
mengenai urutan peringkat peran
enjinir terhadap
terjadinya klaim
konstruksi. Pengguna jasa memiiki
pandangan bahwa wewenang enjinir
untuk memutuskan nilai pekerjaan
kontraktor akibat force major sebagai
urutan
teratas
sementara
itu
kontraktor menganggap wewenang
enjinir untuk menerima variasi dari
kontraktor sebagai urutan teratas.
Konsultan berasumsi bahwa tugas
enjinir untuk mengingatkan kepada
pengguna jasa akan cacat mutu atau
pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi
sebagai peringkat teratas.
4. Dari persamaan regresi didapatkan 7
faktor peran enjinir yang dominan dan
berpengaruh
terhadap
klaim
konstruksi .Variabel dimulai dari nilai
koefesien regresi yang paling besar
yaitu variabel A.30 : tugas enjinir
10 | K o n s t r u k s i a

5.

melakukan verifikasi data atas klaim


yang diajukan oleh kontraktor, urutan
kedua yaitu A.29 yaitu tugas enjinir
untuk melakukan pehitungan nilai
pekerjaan kontraktor akibat force
major, urutan ketiga yaitu A.59 yaitu
tugas enjinir melakukan perhitungan
terhadap pekerjaan kontraktor akibat
putus kontrak, urutan keempat yaitu
A.3
wewenang
enjinir
untuk
melakukan penetapan sesuai dengan
kontrak atas permintaan kontraktor
urutan ke lima yaitu A.33 tugas enjinir
menerbitkan gambar rencana sesuai
waktu tertentu yang wajar, urutan ke
enam yaitu A.26 tugas enjinir untuk
menetapkan sertifikat pembayaran
sementara
yang
diajukan
oleh
kontraktor dan yang mempunyai nilai
koefesien paling kecil adalah variabel
A.49 yaitu tugas enjnir untuk
melakukan
peninjauan
terhadap
perpanjangan waktu
Upaya yang dapat dilakukan untuk
meminimalisasi
terjadinya klaim
konstruksi akibat peran enjinir adalah
(a)
Perusahaan
konsultan
menyediakan personil sesuai dengan
kualifikasi yang tertera di kontrak (b)
dalam pengadaan konsultan supervisi,
pengguna jasa dapat menggunakan
metoda lelang QBS (Quality Base
Selection) dimana pada metoda ini
lelang lebih di utamakan pada kualitas
personil dengan konsukuensi nilai
kontrak menjadi lebih tinggi dan
melakukan tes kemampuan personil
secara tertulis untuk menentukan masa
percobaan personil konsultan (c) Perlu
adanya revisi sub-klsusula 3.1.c yaitu
penambahan sanksi kepada enjinir
apabila enjinir lalai dalam melakukan
tugasnya (d) Sanksi berupa biaya yang
harus
ditanggung
perusahaan
konsultan harus di cantumkan di dalam

Peran Enjinir Terhadap Terjadinya Klaim Konstruksi Di Proyek Infrastruktur (Marlia Dyah - Sarwono)

kontrak
apabila
melakukan kelalaian

personil

nya

DAFTAR PUSTAKA
1. Abernethey,M. (2007), The Role of The
Engineer Technical Advisor, New
Zealand
Contractors
Federation,
Contractor Vol.31 No.6 July 2007
2. ADB : Standard Bidding Document
Procurement of Work Medium Value
Contract. (January, 2007), The African
Development Bank, Africa
3. AIA : General Condition of The Contract
For Reconstruction. (2007), American
Institute of Architect, America
4. AS 4000-1997 : General Condition of
Contract. (1997), Australian Standard,
Australia
5. Badan Pembinaan Konstruksi. (2012),
Membangun
Struktur
Industri
Konstruksi nasional Yang Kokoh, Andal
dan Beradayasaing Serta memberikan
Kesempatan Kepada Para pelaku Usaha
Tumbuh dan Berkembang Secara Adil
Melalui Restrukturisasi Sistem ,
Buletin Dwi Wulan badan Pembinaan
Konstruksi kementerian Pekerjaan
Umum, edisi IV
6. Biro Perencanaan dan Kerajasama Luar
Negeri (2012), Laporan Bulanan
Monitoring Proyek-Proyek PHLN di
Lingkungan Kementerian Pekerjaan
Umum Desember 2012 Sekretariat
Jenderal Biro Perencanaan dan
Kerjasama Luar Negeri
7. FIDIC MDB 2006: Condition of Contract
For Construction MDB Harmonised
Edition For Building And Engineering
Work Designed By The Employer,
Internasional Federation Of Consulting
Engineers, Switzerland
8. Hardjomuldjadi S, et al. (2006). Strategi
Klaim Berdasarkan FIDIC Condition of
Contract. Pola Grade, Jakarta, Indonesia

9.

Rahmah, E, E. (2012), Analisa klausula


klausula FIDIC General Condition Of
Contract For Construction MDB
Harmonised Edition, Tesis Fakultas
Pasca Sarjana Manajemen Proyek
Konstruksi, Tesis Universitas Katolik
Parahyangan, Bandung
10. The Government of The Republic of
Indonesia Ministry of Public Works et
al : Contract Consulting Services for
Design and Supervision Consultant
(DSC) For Western Indonesia National
Road Improvment Project WINRIP
(2013), Indonesia
11. Wideman, R, M. (1990). Construction
Claims Identification, Communication
& Record Keeping. A Paper Presented
to a TUNS/Revay Seminar ; Vancouver
12. http://junaidichaniago.wordpress.com
-Tabel Durbin Watson (tanggal unduh
8 agustus 2013)

11 | K o n s t r u k s i a

ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KLAIM PADA PROYEK KONSTRUKSI (Galih Adya - Sarwono)

ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KLAIM PADA PROYEK KONSTRUKSI


YANG MENGGUNAKAN FIDIC CONDITIONS OF CONTRACT
FOR PLANT AND DESIGN BUILD
Galih Adya Taurano
Magister Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan Bandung
email: galih_adya_taurano@yahoo.co.id
Sarwono Hardjomuljadi
Dosen Magister Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan
Email : info@sarwonohm.com
ABSTRAK : Dalam proyek konstruksi diperlukan ikatan kerja antara pengguna jasa dan penyedia jasa
sebagai dasar hukum yang berbentuk kontrak konstruksi dan salah satu kontrak konstruksi yang
dipergunakan di Indonesia yaitu FIDIC yang merupakan persyaratan umum kontrak yang didorong oleh
institusi internasional pemberi pinjaman. Salah satu tipe kontrak FIDIC yaitu FIDIC Conditions of Contract
for Plant and Design Build dimana penyedia jasa menyiapkan desain dan melaksanakan pembangunan
sesuai desain dengan batasan persyaratan/kebutuhan pengguna jasa dan pengguna jasa menempatkan
enjinir sebagai wakilnya dalam pengawasan pelaksanaan proyek, tipe kontrak ini digunakan dengan alasan
tidak siapnya desain pada saat dilakukan tender dan dengan harapan bahwa risiko di pihak pengguna jasa
akan mengecil. Dalam kontrak terkadang terjadi perbedaan baik interpretasi ataupun hal-hal lain sehingga
menyebabkan tuntutan atau klaim yang bisa berlanjut ke dalam sengketa/dispute. Penelitian ini dilakukan
untuk mengetahui faktor-faktor penyebab timbulnya klaim pada proyek yang menggunakan tipe kontrak ini.
Telah diidentifikasi sebanyak 71 (tujuh puluh satu) faktor penyebab timbulnya klaim berdasarkan klausula
dengan kajian pustaka yang kemudian dirancang dalam bentuk kuesioner yang dibagikan kepada pihak
pengguna jasa dan penyedia jasa serta konsultan yang terlibat dalam pelaksanaan proyek dengan tipe
kontrak ini. Melalui metode analisis faktor menggunakan piranti lunak SPSS didapatkan 7 (tujuh) faktor
utama yang menjadi penyebab timbulnya klaim pada proyek dengan tipe kontrak ini yaitu Faktor kelalaian
Pengguna Jasa yang berkaitan dengan pembayaran, Faktor kegagalan Kontraktor memperbaiki cacat mutu,
Faktor hal yang mempengaruhi kemajuan pekerjaan, Faktor kegagalan menyelesaikan pekerjaan karena
faktor keuangan para pihak, Faktor terkait Enjinir, Faktor administrasi kontrak dan item yang disiapkan
Pengguna Jasa dan Faktor pelanggaran prosedur.
Kata kunci : FIDIC, kontrak, klaim, analisis faktor

ABSTRACT: In a construction project required working ties between employers and contractors as a legal
basis in the form of construction contract and one of the construction contracts used in Indonesia is FIDIC,
which is a contracts are driven by international institutional lenders. One type of the FIDIC contracts is FIDIC
Conditions of Contract for Plant and Design Build services where contractors prepare design and carry out
development in accordance with the design constraints employers requirements and employers put enjinir as
its deputy in supervising the implementation of the project, the type of this contract is used to reason where
the design unprepared at the time of the tender and the hope that risk on behalf of employers will shrink.
Sometimes there is a difference in either contract interpretation or other things that causes the claim that
could lead to the dispute. This study was conducted to determine the factors that cause the onset of the
project claim that using this type of contract. Has identified as many as 70 (seventy one) factors causing a
claim under clause with the study of literature who later designed in the form of a questionnaire distributed
to the users of employers, contractors and consultants involved in the project with this type of contract.

13 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

Through factor analysis method using the software SPSS obtained 7 (seven) major factors which causes
claims on the project with this type of contract.
Keywords: FIDIC, contract, claim, factor analysis

PENDAHULUAN
Industri konstruksi merupakan salah satu
faktor yang menjadi penyumbang terhadap
pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam
proyek konstruksi diperlukan adanya
sebuah ikatan kerja antara pengguna jasa
dengan penyedia jasa yang digunakan
sebagai dasar hukum, berbentuk kontrak
konstruksi.
Di
Indonesia,
kontrak
konstruksi yang dipergunakan antara lain,
yaitu: Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun
2010 & Peraturan Presiden Nomor 70
Tahun 2012, FIDIC, JCT, AIA, SIA. Untuk
meningkatkan kompetensi pelaku jasa
konstruksi nasional agar lebih mampu
bersaing di pasar global, Kementerian
Pekerjaan Umum mendorong kontraktor
menggunakan kontrak sesuai standar
Federation Internationale des Ingeniuer
Conseils (FIDIC) yang merupakan standar
internasional, bahwa melalui FIDIC antara
penyedia dan pengguna memiliki kepastian
karena kontrak konstruksi biasanya masa
pelaksanaan, kompleksitas, dan ukurannya
serta harga yang disepakati dan lingkup
pekerjaan dapat berubah sejalan dengan
pelaksanaan proyek. Klausula dalam
kontrak konstruksi harus menyediakan tiga
aturan dasar untuk: risk sharing, variation,
dispute
resolution
dan
FIDIC
mengakomodir hal tersebut. Salah satu
jenis kontrak FIDIC yaitu Conditions of
Contract for Plant and Design-Build,. Pada
persyaratan umum kontrak ditetapkan
batas waktu untuk penyampaian klaim
begitu pula klausula di FIDIC yang
mengatur tata cara klaim. Klaim dapat
terjadi dimana saja dan kapan saja, oleh
karena itu klaim adalah sesuatu yang wajar
dan lumrah dan bukanlah sesuatu yang
14 | K o n s t r u k s i a

tabu atau menakutkan sehingga tidak


disukai, namun harus dilayani dan dipenuhi
agar tidak menjadi perselisihan/sengketa.
Kontrak FIDIC for Plant and Design-Build
akhir-akhir ini banyak dipakai karena
kontrak jenis ini dapat mengalihkan risiko
ke penyedia jasa karena yang membangun
dan merancang adalah penyedia jasa.
Kontrak jenis ini dipakai karena memiliki
kelebihan yaitu pemilik proyek membuat
kontrak
tunggal
untuk
pekerjaan
perancangan dan pelaksanaan proyek
dengan satu kontraktor yang memiliki
kemampuan tersebut sehingga Overlap
antara
pekerjaan
perancangan
dan
pelaksanaan dapat menjadikan durasi
proyek menjadi lebih singkat dibanding jika
perancangan harus selesai dahulu baru
kemudian diikuti dengan pelaksanaan.
Kajian tentang penyebab munculnya klaim
sudah banyak dilakukan tetapi yang
spesifik membahas jenis kontrak Plant and
Design Build masih kurang. Pemahaman
bagi para pihak pelaku jasa konstruksi
tentang klaim pada jenis kontrak ini
diperlukan untuk mengurangi terjadinya
klaim tersebut.
LANDASAN TEORI
Kontrak Konstruksi
kontrak konstruksi adalah seperangkat
kriteria atau harapan yang mengikat para
pihak dalam kontrak. dokumen yang
mempunyai kekuatan hukum yang memuat
persetujuan bersama secara sukarela
antara pihak kesatu dan pihak kedua. Pihak
kesatu berjanji untuk memberikan jasa dan
menyediakan material untuk membangun
proyek bagi pihak kedua. Pihak kedua

ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KLAIM PADA PROYEK KONSTRUKSI (Galih Adya - Sarwono)

berjanji untuk membayar sejumlah uang


sebagai imbalan jasa dan material yang
telah digunakan.

SUBYEK
KONTRAK
KONSTRUKSI

PENGGUNA
JASA

PERJANJIAN/KONTRAK

PENYEDIA
JASA

LAYANAN JASA
KONSTRUKSI

PERENCANAAN

PELAKSANAAN

Subyek kontrak adalah Para


Pihak,
yaitu
orang
perseorangan, atau badan
hukum (Ps. 14 UUJK :
pengguna
jasa
dan
penyedia jasa)

PENGAWASAN

Obyek dari kontrak adalah


Prestasi yaitu: kewajiban
untuk
memberikan/menyerahkan
sesuatu, dan berbuat/tidak
berbuat sesuatu

Gambar 1. Subyek dan Obyek Kontrak


Konstruksi
Klaim Konstruksi
Begitu banyak definisi tentang klaim dan
intinya adalah tentang sebuah permintaan.
Perbedaan interpretasi/pandangan/sudut
pandang ataupun perubahan substansisubstansi yang sebelumnya telah disetujui
oleh para pihak dapat menyebabkan
perselisihan
yang
berakibat
pada
munculnya klaim. Di negara Barat yang
industri jasa konstruksinya sudah maju
dengan para pelaku industri jasa konstruksi
yang menyadari betul arti sebuah klaim,
maka klaim menjadi suatu hal yang biasa.
Jadi sebagaimana dengan perubahan
pekerjaan, klaim dapat berasal dari mana
saja. Walaupun munculnya klaim dapat
disebabkan oleh beberapa hal, tetapi
hampir semuanya berasal dari salah satu

pihak dalam kontrak, namun dapat juga


terjadi oleh sebab-sebab dari pihak ketiga,
tindakan/keinginan Tuhan, atau hal lain
yang menyebabkan pihak yang mengajukan
klaim menderita rugi. Penyebab klaim
antara lain Desire atau Interest dan Chance.
Desire atau Interest timbul dari dalam
organisasi kontraktor. Terdapat keinginan
mendapat keadilan untuk menghindari
kerugian maupun keinginan mendapatkan
keuntungan lebih. Sedangkan Chance
adalah
adanya
kesempatan
untuk
mendapatkan 'sesuatu' yang dimungkinkan
oleh sistem yang ada. Kesempatan ini dapat
mendorong seseorang yang sebelumnya
tidak berniat mengajukan klaim, namun
terdorong melakukan klaim karena
dimungkinkan oleh sistem. Dalam klaimklaim konstruksi yang terjadi, bila salah
satu pihak mengajukan klaim maka pihak
yang lain harus secepat mungkin berusaha
untuk menyelesaikan klaim karena akibat
dari klaim adalah penambahan biaya,
penambahan waktu dan penurunan
kredibilitas.
Perselisihan & Sengketa
Sengketa (dispute) atau perselisihan adalah
pertentangan atau ketidaksesuaian antara
para pihak yang akan dan sedang
mengadakan hubungan atau kerjasama.
Perselisihan dapat terjadi antara dua pihak
atau lebih. Dalam pekerjaan di industri
konstruksi umumnya membutuhkan waktu
yang amat panjang dan mempunyai
kompleksitas yang tinggi. Walaupun para
pihak telah saling setuju untuk saling
mengikatkan diri dalam perjanjian namun
dalam perjalanannya para pihak sering
menemukan kesulitan atau permasalahan.
Permasalahan yang timbul apabila tidak
ditangani dengan baik maka mungkin akan
memunculkan perselisihan atau sengketa
antar pihak. Sengketa konstruksi adalah
sengketa yang terjadi sehubungan dengan
15 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

pelaksanaan suatu usaha jasa konstruksi


antara para pihak tersebut dalam suatu
kontrak konstruksi.
Sumber penyebab klaim

Informasi desain tidak tepat


Informasi desain tidak sempurna
Investigasi lokasi tidak sempurna
Reaksi klien yg terlambat
Komunikasi yg buruk
Sasaran waktu yg tidak realistis
Administrasi kontrak yg tdk sempurna
Kejadian eksternal yg tidak terkendali
Informasi tender yg tidak lengkap
Alokasi risiko yg tdk jelas
Keterlambatan pembayaran
Keterlambatan waktu pelaksanaan
Keterlambatan kedatangan material

Tuntutan atau Klaim (Claim)


Tidak disetujui
Perselisihan atau sengketa
(Dispute)

Gambar 2. Mekanisme terjadinya


perselisihan (sengketa)
Indonesia dalam mengatasi masalah
sengketa khususnya di bidang konstruksi
mengenal penyelesaian sengketa dengan
cara litigasi, arbitrase, dan alternatif
penyelesaian sengketa di luar pengadilan
(Alternative Dispute Resolution ADR).
Untuk alternatif penyelesaian sengketa
dapat berbentuk negosiasi, mediasi dan
konsiliasi.
FIDIC & Metoda Rancang Bangun
Pada Pameran Eksibisi Dunia tahun 1913,
sejumlah konsultan teknik bertemu untuk
membahas
kemungkinan
membentuk
federasi global. Pertemuan itu sukses
membuat konstitusi resmi pada tanggal 22
Juli 1913 yaitu FIDIC, Fdration
Internationale des Ingnieurs Conseils atau
yang dikenal dengan Federasi Internasional
Konsultan Teknik. Menerapkan prinsip
16 | K o n s t r u k s i a

Kualitas, Integritas dan Berkelanjutan.


Sesungguhnya kontrak konstruksi FIDIC
melingkupi empat dokumen utama yaitu
(1) Agreement/Contract Agreement, (2)
Form of Tender, (3) General Conditions dan
(4) Conditions of Particular Application.
Kelebihan dan keuntungan dari kontrak
FIDIC:
Balanced. Membagi secara adil risiko,
hak dan kewajiban antara pihak terkait
Well tried.
Accepted.
Dikenal
karena
penggunaannya secara luas sebagai
kontrak internasional
Supported. Direkomendasikan oleh
development banks, ISPA, dll
Effective. Kondisi lengkap, batasan
waktu dan ketentuan untuk putusan
hakim.
Metoda rancang bangun sama dengan
metoda kontrak umum hanya saja profesi
konsultan dan kontraktor dirangkap oleh
satu (organisasi) perusahaan yang memang
mempunyai kemampuan keduanya. Oleh
karena dalam metoda ini perancangan dan
pelaksanaan
dilakukan
oleh
satu
(organisasi) perusahaan maka pelaksanaan
sebagian
pekerjaan
dapat
mulai
dilaksanakan tanpa menunggu disain
selengkapnya selesai.
Salah satu standar/sistem kontrak yang
dikeluarkan FIDIC yaitu Conditions of
Contract for Plant and Design-Build for
Electrical and Mechanical Plant and for
Building and Engineering Works Designed
by the Contractor: The Plant and DesignBuild Contract. Desain oleh kontraktor,
semuanya harus memenuhi kebutuhan
pengguna jasa, enjinir mengatur kontrak,
memonitor
hasil
dan
pelaksanaan
dilapangan atau pekerjaan konstruksi dan
memastikan pembayaran.

ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KLAIM PADA PROYEK KONSTRUKSI (Galih Adya - Sarwono)

Employer
Contractor
Engineer

Gambar 3. Skema FIDIC Conditions of


Contract for Plant and Design-Build

Tanggung Jawab desain dari kontraktor


Tetapi beberapa desain boleh di buat
oleh Employer ( Engineering Personell)
Pemilik Proyek memberikan draft list
untuk kebutuhan/ keinginan dan
kontraktor mendesainnya
Administrasi kontrak , supervisinya,
dan sertifikasinya oleh Engineer

STATISTIK DALAM PENELITIAN


Uji validitas digunakan untuk mengukur
sah atau valid tidaknya suatu kuesioner.
Suatu kuesioner dikatakan valid jika
pertanyaan pada kuesioner mampu untuk
mengungkapkan sesuatu yang akan diukur
oleh kuesioner tersebut. Jadi validitas ingin
mengukur apakah pertanyaan dalam
kuesioner yang sudah kita buat betul-betul
dapat mengukur apa yang hendak kita
ukur. Realibilitas adalah alat untuk
mengukur
suatu
kuesioner
yang
merupakan indikator dari variabel atau
konstruk. Dengan kata lain, suatu kuesioner
dikatakan reliabel atau handal jika jawaban
seseorang terhadap pernyataan adalah
konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.
Analisis Faktor merupakan salah satu dari
analisis ketergantungan (interdependensi)
antar variabel. Pada dasarnya tujuan
analisis faktor adalah untuk melakukan
data summarization untuk variabelvariabel
yang
dianalisis,
yakni
mengidentifikasi adanya hubungan antar

variabel, juga data reduction yakni setelah


melakukan korelasi, dilakukan proses
membuat sebuah variable set baru yang
dinamakan factor, atau dengan kata lain
mencari seminimal mungkin faktor dengan
prinsip kesederhanaan atau parsimoni yang
mampu menghasilkan korelasi diantara
indikator-indikator yang diobservasi.
Seluruh
proses
pengolahan
data
mempergunakan alat bantu SPSS. Tahapan
analisis faktor adalah sebagai berikut:
1. Tabulasi data pada data view (tabulasi
hasil angket/kuesioner ke dalam
komputer (SPSS)).
2. Pembentukan matrik korelasi. Matriks
yang memuat koefisien korelasi dari
semua penelitian ini. Digunakan untuk
mendapatkan nilai kedekatan hubungan
antar variable penelitian. Nilai kedekatan
ini dapat digunakan untuk melakukan
beberapa
pengujian
untuk
melihat
kesesuaian dengan nilai korelasi yang
diperoleh dari analisis faktor
Menentukan besaran nilai Barlett Test
of Sphericity, yang digunakan untuk
mengetahui apakah ada korelasi yang
signifikan antar variable
Keiser-Meyers-Oklin (KMO) Measure of
Sampling Adequacy, digunakan untuk
mengukur kecukupan sampel dengan
cara
membandingkan
besarnya
koefisien korelasi yang diamati dengan
koefisien korelasi parsialnya
Menurut Santoso angka MSA berkisar
antara 0 sampai dengan 1, dengan kriteria
yang digunakan untuk interpretasi adalah
sebagai berikut:
a. Jika MSA = 1, maka variabel tersebut
dapat diprediksi tanpa kesalahan oleh
variabel yang lainnya.
b. Jika MSA lebih besar dari setengah
(>0,5) maka variabel tersebut masih
17 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

dapat diprediksi dan bisa dianalisis lebih


lanjut.
c. Jika MSA lebih kecil dari setengah ( < 0,5
) dan atau mendekati nol (0), maka
variabel tersebut tidak dapat di analisis
lebih lanjut, atau dikeluarkan dari
variabel lainnya.
Tabel 1. Ukuran Keisers-Meyers-Oklin
Ukuran KMO

Rekomendasi

0,90
0,80
0,70
0,60
0,50
Di bawah 0,50

Baik Sekali
Baik
Sedang
Cukup
Kurang
Di Tolak

3. Ekstraksi faktor. Dilakukan proses inti


dari analisis faktor, yaitu melakukan
ekstraksi terhadap sekumpulan variabel
yang ada KMO > 0,5 sehingga terbentuk
satu atau lebih faktor.
Metode yang digunakan untuk maksud
ini adalah Principal Component Analysis
4. Rotasi
faktor.
Matrik
faktor
ditransformasikan ke dalam matrix yang
lebih sederhana, sehingga lebih mudah
diinterpretasikan. Metode Varimax.
Interpretasi hasil dilakukan dengan
melihat faktor Loading yaitu angka yang
menunjukkan besarnya korelasi antara
suatu variabel dengan faktor satu, faktor
dua, faktor tiga, faktor empat atau faktor
lima yang terbentuk. Proses penentuan
variabel mana akan masuk ke faktor
yang
mana,
dilakukan
dengan
melakukan perbandingan besar korelasi
pada setiap baris di dalam setiap tabel
5. Penamaan faktor yang terbentuk.
diberikan nama-nama faktor yang telah
terbentuk berdasarkan faktor loading
suatu
variabel
terhadap
faktor
18 | K o n s t r u k s i a

terbentuknya. Sehingga didapatkanlah


beberapa faktor baru dari variabelvariabel yang ada
METODE PENELITIAN
Yang pertama adalah identifikasi faktorfaktor penyebab klaim berdasarkan
referensi/kajian pustaka yang telah
dihimpun dan dibreakdown sesuai dengan
Klausula FIDIC CC for Plant and DesignBuild. Dengan sampel/responden pihak
Pengguna Jasa dan Kontraktor pelaksana
kontrak Plant and Design-Build di Indonesia
lingkup Pemerintah, BUMN dan swasta.
Dilakukan uji validitas, pengujian dengan
menggunakan pendapat para ahli (expert
judgement) kepada responden yang
dianggap Pakar untuk diminta pendapatnya
tentang variabel yang telah disusun. Data
dari hasil uji coba tersebut digunakan
untuk validasi instrumen kemudian
dilanjutkan uji realibilitas terhadap
pertanyaan yang valid saja, pengujian
menggunakan piranti lunak SPSS 20.
Setelah mendapatkan variabel yang valid
dan reliabel lalu disebarkan sesuai sampel
dan responden dengan memberikan skala
tingkat pengaruh pada tiap-tiap variabel
yang ada, lalu dengan metoda Analisis
Faktor menggunakan SPSS 20 dilakukan
pengelompokkan variabel-variabel yang
terkait menjadi sebuah faktor baru yang
selanjutnya dilakukan penamaan faktor
tersebut.
HASIL PENELITIAN
Uji Validitas
dilakukan dengan menguji coba kuesioner
kepada responden yang dianggap pakar,
pakar yang dimaksud disini yaitu
responden dengan pengalaman lebih dari 5
tahun dalam proyek konstruksi yang
menggunakan Kontrak Plant and Design
Build dan dengan pendidikan minimal

ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KLAIM PADA PROYEK KONSTRUKSI (Galih Adya - Sarwono)

tingkat Strata 1. Didapatkan sampel


responden sejumlah 15 (lima belas) yang
berarti N = 15. Pengujian dilakukan dengan
membandingkan nilai rtabel Product
Moment dengan tingkat kesalahan 5%
dengan N = 15 didapat rtabel sebesar 0,514

Tabel 3. Output Uji Reliabilitas

Case Processing Summary


N
Valid
Cases

Tabel 2. Output Uji Validitas

Cases

Excludeda
Total

15

100.0

.0

15

100.0

Excludeda
Total

Case Processing Summary

Valid

Listwise deletion based


variables in the procedure.

%
15

100.0

.0

15

100.0

on

all

Reliability Statistics
Cronbach's

N of Items

Alpha

Listwise deletion based on all variables


in the procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's

N of Items

Alpha
.939

71

Instrumen dinyatakan valid jika Corrected


Item Total Correlation > rtabel (0,514)
dan instrumen tidak valid sebaliknya.
Didapatkan 31 (tiga puluh satu) variabel
yang valid dan 40 (empat puluh) variabel
tidak valid sehingga tidak digunakan dalam
penelitian ini.
Uji Reliabilitas
Perhitungan uji reliabilitas dilakukan
dengan memperhatikan nilai koefisien Cronbach setiap variabel, dimana jika nilai
koefisien -Cronbach lebih besar dari pada
0,6 maka variabel dinyatakan reliabel
untuk digunakan sebagai instrumen dalam
penelitian ini

.959

31

Setelah dilakukan uji realibilitas terdapat 2


(dua) variabel yang nilai Corrected ItemTotal Correlation nya lebih kecil dari nilai
rtabel (0,514) jadi dinyatakan tidak
reliabel. Sehingga butir-butir variabel
penelitian yang digunakan dalam kuesioner
sebanyak 29 (dua puluh sembilan) variabel.
ANALISIS FAKTOR
Nilai KMO
Kuesioner dengan 29 (dua puluh sembilan)
variabel tersebut disebarkan kepada 120
(seratus dua puluh) responden yang
berasal dari pihak Pengguna Jasa serta
Kontraktor baik BUMN maupun swasta juga
konsultan pelaksana. Kuesioner yang diisi
dan dikembalikan serta layak untuk
digunakan sebagai data dalam penelitian ini
adalah sebanyak 97 (sembilan puluh tujuh)
kuesioner. Hal ini berarti bahwa tingkat
tanggapan terhadap kuesioner yang disebar
dan dikembalikan (response rate) adalah
sebesar 81 %.

19 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

Kemudian data jawaban dimasukkan ke


dalam software SPSS for Windows Version
20. Hasil komputasi menunjukkan KaiserMeyer Olkin mengenai measure of sampling
adequacy (KMO MSA) sebesar 0,810
dengan signifikansi sebesar 0,000. Nilai
MSA sebesar 0,810 berada diatas 0,5 maka
dapat dianalisis lebih lanjut. Hasil
komputasi seperti yang terlihat pada tabel
dibawah ini
Tabel 4. Tabel KMO and Bartletts Test
Ujicoba 1

Pada Tabel Anti Image Matrices pada kolom


dan baris Anti Image Correlation (AIC) ada
kode a yang artinya tanda untuk MSA dan
ditemukan satu variabel dengan MSA
dibawah
0,5.
Selanjutnya
yaitu
mengeluarkan variabel tersebut. Setelah
dikeluarkan maka jumlah variabel yang
tersisa sebanyak 28 (dua puluh delapan)
variabel, dan dianalisis kembali. Hasil
komputasinya seperti terdapat dalam tabel
dibawah ini
Tabel 5. Tabel KMO and Bartletts Test
Ujicoba 2

Dari tabel dapat ditunjukkan bahwa nilai


KMO MSA sebesar 0,820 lebih besar dari
20 | K o n s t r u k s i a

0,5 maka dapat dianalisis lebih lanjut. Pada


Tabel Anti Image Matrices pada kolom dan
baris Anti Image Correlation (AIC) tidak ada
lagi variabel dengan nilai MSA kurang dari
0,5 maka selanjutnya mengekstraksi faktor
dan merotasi faktor.
Ekstraksi dan Rotasi Faktor
Ekstraksi
menggunakan
Principal
Component
Analysis
(PCA).
Dalam
penelitian ini, meskipun pada mulanya
variabel-variabel yang dianalisis telah
dikelompokkan secara teoritis ke dalam
sejumlah faktor tertentu, namun untuk
penentuan jumlah faktor yang dianalisis
dan diinterpretasi selanjutnya akan
didasarkan pada hasil analisis tahap ini.
Pada menu Factor Analysis: Extraction
aktifkan screen plot dan Unrotated factor
solution.
Merotasi
faktor
dengan
mengaktifkan Varimax pada menu Rotation
Method. Maka hasilnya dapat dilihat seperti
berikut ini
Tabel 6. Output Ekstraksi dan Rotasi Faktor

ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KLAIM PADA PROYEK KONSTRUKSI (Galih Adya - Sarwono)

korelasi yang tinggi. Diagonal faktor


(component) 1, dan 2 menunjukkan angka
dibawah 0,5
yang menunjukkan
component lain pada masing-masing faktor
yang mempunyai korelasi cukup tinggi.
Dengan demikian terbentuknya Faktor 3,
Faktor 4, Faktor 5, Faktor 6 dan Faktor 7
sudah tepat karena mempunyai korelasi
yang tinggi. Faktor 1 dan Faktor 2,
mempunyai korelasi yang rendah sehingga
masih ada korelasi dengan faktor yang lain
atau dengan kata lain cenderung terjadi
interkorelasi antara ketdua faktor tersebut.

Gambar 4. Output Ekstraksi dan Rotasi


Faktor
Tabel 7. Component Transformation Matrix

Pada tabel diatas dapat dijelaskan bahwa


pada diagonal faktor (component) 3, 4, 5, 6
dan 7 jatuh diatas angka 0,5 (0,591; 0,728 ;
-0,722 ; 0,907 ; -0,884) membuktikan
bahwa kelima faktor (component) yang
terbentuk sudah tepat karena mempunyai

Interpretasi Faktor
Dari output komputasi telah terbagi
menjadi 7 faktor (component), langkah
selanjutnya adalah interpretasi faktor.
Dimana
interpretasi
merupakan
pendefinisian variabel yang mempunyai
bobot yang terbesar pada faktor yang sama.
Faktor
tersebut
kemudian
diinterpretasikan dengan kata-kata.
Tahapan
interpretasi
faktor
dapat
dilakukan dengan memeriksa matrik faktor
(rotated component matrixa), dimana
dipilih variabel yang mempunyai bilangan
yang paling besar yang menunjukkan dalam
faktor mana setiap variabel tersebut
berada, dengan demikian dapat diketahui
variabel mana saja yang masuk ke dalam
faktor.
Lalu setelah itu tiap variabel disusun
berdasarkan faktor mana dia berada dan
diberi nama
Faktor 1, dengan 5 variabel yaitu H8, M1,
M2, O1, P1 dinamakan Faktor kelalaian
Pengguna Jasa yang berkaitan dengan
pembayaran
Faktor 2, dengan 4 variabel yaitu K1, K2,
K3, N2 dinamakan Faktor kegagalan
Kontraktor memperbaiki cacat mutu
21 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

Faktor 3, dengan 6 variabel yaitu D13,


E3, F2, G1, G2, H1 dinamakan Faktor hal
yang
mempengaruhi
kemajuan
pekerjaan
Tabel 8. Hasil Analisis Tabel Interpretasi
Faktor
Nilai

Kolom

Terbesar

component
6

B2

0,686
0,623

B4

0,517

C1

0,478

C3

0,621

C4

0,752

5
5

5
5

D4

0,639

D5

0,427

D12

0,419

D13

0,421

E3

0,550

F2

0,573

G1

0,819

G2

0,734

H1

0,573

H8

0,480

K1

0,828

K2

0,840

K3

0,731

M1

0,854

M2

0,770

N2

0,532

N3

0,489

N4

0,542

N5

0,883

O1

0,757

O3

0,834

P1

0,598

Variabel
A1

Faktor

Faktor 4, dengan 3 variabel yaitu N3, N5,


O3 dinamakan Faktor kegagalan
22 | K o n s t r u k s i a

menyelesaikan pekerjaan karena faktor


keuangan para pihak
Faktor 5, dengan 4 variabel yaitu B4, C1,
C3, C4 dinamakan Faktor terkait Enjinir
Faktor 6, dengan 4 variabel yaitu A1, B2,
D5, D12 dinamakan Faktor administrasi
kontrak dan item yang disiapkan
Pengguna Jasa
Faktor 7, dengan 2 variabel yaitu D4, N4
dinamakan Faktor pelanggaran prosedur

KESIMPULAN
Dari hasil analisis didapatkan 7 faktor
penyebab timbulnya klaim berdasarkan
kontrak FIDIC Plant and Design Build, yaitu:
1. Faktor kelalaian Pengguna Jasa yang
berkaitan dengan pembayaran, yang
terdiri dari : penghentian pekerjaan oleh
enjinir, pengguna jasa terlambat/ingkar
membayar, terkait pembayaran akhir,
keterlambatan pemberitahuan tanggal
mulai pekerjaan oleh enjinir kepada
kontraktor, kelalaian dalam pemberian
ganti rugi.
2. Faktor
kegagalan
Kontraktor
memperbaiki cacat mutu, yang terdiri
dari : Pekerjaan yang cacat mutu,
Kegagalan menangani cacat mutu,
Kewajiban kontraktor membersihkan
lapangan, Kontraktor mengabaikan
pekerjaan.
3. Faktor
hal
yang
mempengaruhi
kemajuan pekerjaan, yang terdiri dari :
Kontraktor tidak menyampaikan laporan
kemajuan
pekerjaan,
Desain
&
Spesifikasi yg tidak sesuai Standar
Teknis & Peraturan, Ketersediaan tenaga
kerja, Pengguna jasa gagal mematuhi
ketentuan
pembayaran,
Masalah
Inspeksi oleh Personil Pengguna Jasa,
Teknis pekerjaan tidak sesuai kontrak.
4. Faktor
kegagalan
menyelesaikan
pekerjaan karena faktor keuangan para

ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KLAIM PADA PROYEK KONSTRUKSI (Galih Adya - Sarwono)

pihak, yang terdiri dari : Kontraktor


gagal melanjutkan pekerjaan, Kontraktor
jatuh pailit/dilikuidasi, Pengguna jasa
jatuh pailit/dilikuidasi.
5. Faktor terkait Enjinir, yang terdiri dari :
Pengaturan keuangan pengguna jasa,
Manajemen enjinir yg kurang baik,
Personil enjinir, Penggantian enjinir
(tidak kurang dari 42 hari).
6. Faktor administrasi kontrak dan item
yang disiapkan Pengguna Jasa, yang
terdiri dari : Administrasi kontrak yang
kurang memadai, Pengguna jasa lambat
terhadap izin & persetujuan, Item yang
disiapkan oleh Pengguna Jasa, Jaminan
Kualitas yang disampaikan kepada
enjinir(p.jasa tidak terlibat).
7. Faktor pelanggaran prosedur, yang
terdiri dari : Tidak mematuhi ketentuan
prosedur
keselamatan
dan
Mensubkontrakkan seluruh pekerjaan.
Dari ketujuh faktor tersebut pada faktor 1
dan 5 masuk kelompok domain Pengguna
Jasa, pada faktor 2 dan 7 masuk kelompok
domain Penyedia Jasa (Kontraktor), pada
faktor 3 dan 6 masuk kelompok domain
gabungan Pengguna Jasa Penyedia Jasa
(Kontraktor)

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.
DAFTAR PUSTAKA
1. Abdurrasyid,
Priyatna
(2002),
Arbitrase & Alternatif Penyelesaian
Sengketa; Suatu Pengantar, PT. Fikahati
Aneska dan Badan Arbitrase Nasional
Indonesia (BANI); Jakarta
2. Adebayo, Oladapo dan Babajide,
Onabando (2009), A Study of the Causes
and Resolution of Disputes in The
Nigerian Construction Industry, RICS
COBRA Research Conferencel Nigeria
3. Alwie,
Syamsul
Adnan
(2004),
Identifikasi
Indikator
Potensial
Perselisihan Konstruksi, Tesis Teknik
Sipil Universitas Indonesia; Depok

11.

12.

13.

An American National Standart. (2004),


A Guide to the Project Management
Body of Knowledge (PMBOK Guide)
Third Edition, Project Management
Institute; USA
Arditi, David dan Bhupendra, K Patel
(2006), Expert System for Claims
Management in Construction Projects.
Butterworth & Co. Ltd, vol. 7 No.3
Agustus 1989
Bristow, D dan Vasilopoulous, R
(1995), The new CCDC2: Facilitating
Disputes Resolution of Construction
Projects, Construction Law Journal vol.
11 no. 2 hal. 95-117
Briefing Paper 2 Part A Built to Resist
Earthquakes, ATC/SEAOC Joint Venture
Training Curriculum
B.W. Totterdill (1991), Does the
Construction Industry Need Alternative
Dispute Resolution? The Opinion of an
Engineer, Construction Law Journal,
vol.7, no.3, hal. 189-199
Diekman, J., Girald, M., and Hadi, Abdul
(1994), Disputes Potential Index; a
study into the Predictability of Contract
Disputes,
Construction
Industry
Institute, Source Dociment 101. Univ
Texas; Austin
Driscoll, Thomas J (1971. Claims In
Contractors Management Handbook,
Chapter 16. Edited by James J. OBrien
and R.G.Zilly. New York : McGraw-Hill
Fauchier, Dan (2001) Construction
Claims: How to Manage so Disputes are
Completely
Hardjomuljadi, Sarwono, Abdulkadir,
Ariono dan Takei, Masaru (2006),
Strategi Klaim Konstruksi berdasarkan
FIDIC Conditions of Contract, Pola
Grade; Jakarta
Hewitt,
John
(1991),
Winning
Construction
Disputes-Strategic
Planning for Major Litigation, in Love,
Peter ED
23 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

14. Johnson&Bhatttacharyya
(2010).
Statistics Principles and Methods,
Second Edition. Madison: John Wiley
&Sons, Inc
15. Kumarswamy, Mohan M. (1997),
Common Categories and Causes of
Construction Claims. Construction Law
Journal. Vo. 13 no. 1 hal.21-34
16. Killian, J (2003) A Forensic Analysis of
Construction Litigation, US Naval
Facilities
Engineering
Command,
Unpublished Master Thesis, Texas
University; Austin
17. Nazarkhan Yasin (2004), Mengenal
Klaim Konstruksi dan Penyelesaian
Sengketa Konstruksi, Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama
18. Pasal 22 ayat 2 Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 18 Tahun
1999 tentang Jasa Konstruksi
19. P. Sheridan (2003), Claim and Disputes
in Construction, Construction Law
Journal. Vo. 12, no.1, hal 3-13
20. P. Brooker (2002), Construction
Lawyers, Construction Law Journal vol.
8 no. 2 hal. 97-116
21. Rhys, Jones, S (1994), How Constructive
is Constructon Law? In Construction
Law Journal, vol. 10, no. 1, hal 28-38
22. Semple, Cheryl., HartmanF., dan
Jergeas, George (1994), Construction
Claims and Disputes: Causes and
Cost/Time Overruns, ASCE Journal of
Construction
Engineering
and
Management, vol. 120, no. 4, hal 785795
23. Spearman, C (1904). General
Intelligence Objectivity, Objectively
Determined and Measured, American
Journal of Psychology, Vol. 15, No.1,
201-293
24. Sykes, J (1996), Claims and Disputes in
Construction, Construction Law Journal,
vol. 12, no.1, hal.95-117

24 | K o n s t r u k s i a

25. Spittler, J.R. dan Jentzen G.H. (1992),


Disputes
Resolution:
Managing
Construction
Conflict
with
Step
Negotiations,
AACE
International
Transactions hal. D.9.1-D.9.10
26. Thomas, Reg (2001) Construction
Contract Claims Second Edition
27. Watts, V.M and Scrivener, J.C. (1993),
Review of Australian Building Disputes
Settled by Litigation-Comparasion of
Australian and UK Practices, Building
Research and Information, vol. 23 no.1
hal. 31-38
28. Waldron, Blake Dawson (2006), Scope
for improvement: A Survey of Pressure
Point in Australian Construction and
Infrastructure Projects. A Report
Prepared for Australian Constructor,
Sydney; Australia
29. Wilson, Clark (2002), An Overview of
Construction Claims: How They Arise
and How to Avoid Them
30. Wulfram
I.
Ervianto
(2005),
Manajemen
Proyek
Konstruksi,
Yogyakarta: Andi Offset
31. Yates, D.J. (1998), Conflict and Disputes
in the Development Process: A
transaction Cost Economic Perspective
32. Zaneldin,
Essam
K.
(2006),
Construction claims in United Arab
Emirates: Type, Causes and Frequency,
International Journal of Project
Management vol. 24, hal. 453-459

STUDI ANALISIS LENTUR BALOK YANG MENGALAMI PROSES PENGEROPOSAN (Firmansyah - Nadia)

STUDI ANALISIS LENTUR BALOK YANG MENGALAMI PROSES PENGEROPOSAN


BETON TINJAUAN DAERAH LAPANGAN
Firmansyah
Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta
Nadia
Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta
Email : nd7988@yahoo.co.id

ABSTRAK : Beton adalah bahan bangunan yang paling penting dalam setiap pembangunan, terutama dalam
hal-hal kemudahan pengerjaanya dan juga pelaksanaanya serta perawatannya.Tap idalam pelaksanaan
pengecoran, penuangan kecetakannya dan pemadatan yang tidak sempurna, maka campuran beton tidak
akan menjadi homogen. Hal ini yang mengakibatkan rongga-rongga didalam beton yang menyebabkan
beton menjadi keropos.Maka dari itu akan diteliti, bagaimana pengaruh keropos pada posisi didaerah
lapangan balok beton ini terhadap kuat lenturnya. Dan apakah grouting dapat menyelesaikan masalah ini.
Berdasarkan hasil dari sejumlah pengujian, dengan SNI 03-4431-1997, Metode Pengujian Kuat Lentur
Normal dengan Dua Titik Pembebanan. analisis dan pembahasan di dapatkan Tegangan lentur pada balok
beton keropos mengalami penurunan kuat lentur sebesar 20% terhadap kuat lentur balok yang tanpa
mengalami keropos (normal). Tegangan lentur pada balok beton yang sudah di-grouting mengalami
penurunan kuat lentur sebesar 13.33% terhadap kuatlenturbalok yang tanpa mengalami keropos
(normal).Tegangan lentur pada balokbeton yang keropos mengalami penurunan kuat lentur sebesar 6.67%
terhadap kuatl entu rbalok yang sudah di-grouting.
Kata kunci : Beton, SNI, Keropos, grouting, Kuat Lentur, Normal

ABSTRACT: Concrete is the most important building material in any construction, especially in matters of
convenience works and implementation and maintenance. But the implementation of the foundry, casting
and solidification formwork imperfect, then mix concrete will not be homogeneous. This is a result of cavities
within the concrete causing the concrete to become brittle. Thus it will be observed, the influence of loss on
the position of Concrete Beams Field area is strong against bending. And if grouting can solve this problem.
Based on the results of a test, with SNI 03-4431-1997, Flexural Strength Testing Methods Normal With Two
final two points.analysis and discussion on the bending stress get the concrete beam flexural strength loss
decreased by 20% compared to the beam flexural strength without experiencing loss (normal). Bending stress
in the beam is in the grouting concrete flexural strength decreased by 13.33% of the beam flexural strength
without experiencing loss (normal). Bending stress in the porous concrete beam flexural strength decreased
by 6.67% against the beam flexural strength already in the grouting.
Keywords: Concrete, SNI, Brittle, in Grouting, flexible Strong, Normal

PENDAHULUAN
Beton adalah salah satu bahan bangunan
yang paling penting dalam setiap
pembangunan,
terutama
dalam
hal
kemudahan pengerjaanya, pelaksanaanya

dan perawatannya. Tapi dalam pelaksanaan


pengecoran, penuangan kedalam cetakan
(bekisting) dan pemadatan yang tidak
sempurna, campuran beton bisa tidak
homogen. Hal ini yang mengakibatkan
25 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

terdapat rongga didalam beton (beton


keropos). Pada waktu pengecoran struktur
balok, keropos sering diakibatkan oleh:
Pada struktur balok, keropos ini dapat
terjadi dibeberapa posisi, salah satunya
adalah posisi di lapangan (titik antara 2
tumpuan).

Beton normal adalah beton yang


mempunyai berat sisi antara 2200 sampai
dengan 2500 kg/m3 dengan bahan
penyusun air, pasir, semen portland
danbatu alam baik yang dipecah atau tidak,
tanpa menggunakan bahan tambahan(SNI
03-2834-1992).

RUMUSAN MASALAH
Keropos
pada
beton,
merupakan
perlemahan struktur yang dalam hal ini
dapat mengurangi kekakuan / kekuatan
beton, sehingga akan mempengaruhi kuat
lenturnya. Cara-cara umum yang dilakukan
untuk mengisi rongga-rongga udara pada
beton keropos adalah dengan cara grouting.
Namun apakah grouting ini dapat
mengembalikan fungsi beton itu sendiri
seperti beton asli (tanpa keropos)? Dengan
demikian kondisi balok beton yang
keropos, tidak keropos maupun setelah digrouting perlu diteliti pengaruhnya
terhadap kuat lenturnya.

Beton dibentuk oleh pengerasan campuran


semen, air, agregat halus, agregatkasar
(batu pecah / kerikil), udara dan kadangkadang
campuran
tambahan
lainnya.Campuran yang masih plastis ini
dicor ke dalam acuan dan dirawat untuk
mempercepatreaksi.Hidrasi campuran airsemen yang menyebabkan pengerasan
beton. Bahan
yang terbentuk ini
mempunyai kekuatan tekan tinggi dan
ketahanan tarik yang rendah, atau kira-kira
kekuatan tariknya 0,1 kali kekuatan
terhadap tekan. Maka penguatan tarik atau
geser harus diberikan pada daerah tarik
dari
penampang
untuk
mengatasi
kelemahan pada daerah tarik dari elemen
beton bertulang (Edward G. Nawy).

MAKSUD DAN TUJUAN


1.

2.

Untuk mengetahui pengaruh keropos


diposisi daerah lapangan balok
terhadap kuat lentur beton.
Untuk mengetahui pengaruh keropos
setelah digrouting diposisi daerah
lapangan balok terhadap kuat lentur
beton.antara para pihak tersebut dalam
suatu kontrak konstruksi.

LANDASAN TEORI
Beton
Beton adalah campuran antara semen
Portland atau semen hidrolik yang lain,
agregat halus, agregat kasar dan air, dengan
atau
tanpa
bahantambahan
yang
membentuk massa padat (SNI 03-28472002).

26 | K o n s t r u k s i a

Dari pemakaiannya yang begitu luas maka


dapat diduga bahwa struktur beton
mempunyai banyak
keunggulan dan
kelemahandibandingkan materi struktur
yang lain (Antonio dan Nugraha
Semen (Portland Cement)
Portland cement merupakan bahan
pengikat utama untuk adukan beton dan
pasangan batu yang digunakan untuk
menyatukan bahan
menjadi satu kesatuan yang kuat. Jenis atau
tipe semen yang digunakan merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi kuat
tekan beton.
Agregat
Pada beton biasanya terdapat sekitar 70%
sampai 80 % volumeagregat terhadap

STUDI ANALISIS LENTUR BALOK YANG MENGALAMI PROSES PENGEROPOSAN (Firmansyah - Nadia)

volume keseluruhan beton, karena itu


agregatmempunyai peranan yang penting
dalam propertis suatu beton (Mindesset al).
Agregat ini harus bergradasi sedemikian
rupa sehinggaseluruh massa beton dapat
berfungsi sebagai satu kesatuan yang
utuh,homogen, rapat, dan variasi dalam
perilaku (Edward G. Nawy). Dua jenis
agregat adalah :
A. Agregat halus (pasir alami dan
buatan)
Agregat halus disebut pasir, baik berupa
pasir alami yang diperoleh langsung dari
sungai atau tanah galian, atau dari hasil
pemecahan batu. Agregat halus adalah
agregat dengan ukuran butir lebih kecil dari
4,75 mm (ASTM C 12506). Agregat yang
butir-butirnya lebih kecil dari 1,2 mm
disebut pasir halus, sedangkan butir-butir
yang lebihkecil dari 0,075 mm disebut silt,
dan yang lebih kecil dari 0,002 mm disebut
clay (SK SNI T-15-1991-03).Persyaratan
mengenai proporsiagregat dengan gradasi
ideal yang direkomendasikan terdapat
dalam standar (ASTM C 33-03) Standard
Spesification for ConcreteAggregates.
B. Agregat kasar
Menurut (ASTM C 3303) dan (ASTM C
12506), agregat kasar adalahagregat
dengan ukuran butir lebih besar dari 4,75
mm.
Persyaratan mengenai proporsi gradasi
saringan
untuk
campuran
beton
berdasarkan
standar
yang
direkomendasikan (ASTM C 33-03)
Standard Spesification for Concrete
Aggregates.

Air
Fungsi dari air disini antara lain adalah
sebagai bahan pencampur dan pengaduk

antara semen dan agregat. Pada umumnya


air yang dapat diminum memenuhi
persyaratan sebagai air pencampur beton,
air ini harus bebas dari padatan tersuspensi
ataupun padatan terlarut yang terlalu
banyak, dan bebas dari material organik
(Mindesset al).
Persyaratan air sebagai bahan bangunan,
sesuai dengan penggunaannya harus
memenuhi syarat menurut Persyaratan
Umum Bahan Bangunan di Indonesia
(PUBI-1982), antara lain:
Bahan additive
Bahan tambah (additive) ditambahkan
pada saat pengadukan dilaksanakan. Bahan
tambah (additive) lebih banyak digunakan
untuk penyemenan (cementitious), jadi
digunakan
untuk
perbaikan
kinerja.Menurut
standar
(ASTM
C
494/C494M

05a),
accelerating
admixtures
Lentur pada balok beton
Beban yang bekerja pada struktur, baik
yang berupa grafitasi (berarah vertikal)
maupun beban-beban lain, seperti beban
angin (dapat berarah horisontal), atau juga
beban karena susut dan beban karena
perubahan temperature, menyebabkan
adanya lentur. Lentur pada balok
merupakan akibat dari adanya regangan
yang timbul karena adanya beban luar.
Apabila suatu gelagar balok bentang
sederhana
menahan
beban
yang
mengakibatkan timbulnya momen lentur,
akan terjadi deformasi lentur didalam balok
tersebut pada kejadian momen lentur
positif, tegangan tekan akan terjadi
dibagian atas dan tegangan tarik terjadi
dibagian
bawah
dari
penampang.
Tegangan-tegangan tersebut harus ditahan
oleh balok, yaitu tegangan tekan disebelah
27 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

atas dan tegangan tarik disebelah bawah.


Jika beban bertambah, maka pada balok
terjadi deformasi dan tegangan tambahan
yang mengakibatkan bertambahnya retak
lentur pada balok.
Bila beban semakin bertambah, pada
akhirnya terjadi keruntuhan elemen
struktur, yaitu pada saat beban luarnya
mencapai kapasitas elemen. Karena itu
penampangnya harus di-design sedemikian
rupa sehingga tidak terjadi retak
berlebihan pada saat beban bekerja serta
masih mempunyai kekuatan cadangan
untuk menahan beban dan tegangan tanpa
mengalami
keruntuhan,
untuk
memperhitungkan
kemampuan
dan
kapasitas dukung komponen struktur beton
terlentur (balok, plat, dinding dan
sebagainya), sifat utama bahwa bahan
beton kurang mampu menahan tegangan
tarik akan menjadi dasar pertimbangan.
Apabila bebannya bertambah, maka pada
balokterjadi deformasi dan regangan
tambahan yang mengakibatkan timbulnya
(atau
bertambahnya)
retak
lentur
disepanjang balok.

yang langsing mengalami tegangan akibat


lentur (Yatna Supriyatna).
Kekuatan lentur merupakan kekuatan
beton dalam menahan lentur yang
umumnya terjadi pada balok struktur.Kuat
lentur dapat diteliti dengan membebani
balok pada tengah-tengah bentang atau
pada tiap sepertiga bentang dengan beban
titik.Beban ditingkatkan sampai kondisi
balok mengalami keruntuhan lentur,
dimana retak utama yang terjadi terletak
pada sekitar tengah-tengah bentang.
Besarnya momen akibat gaya pada saat
runtuh ini merupakan kekuatan maksimal
balok beton dalam menahan lentur. Benda
uji untuk pengujian kuat lentur beton
mempunyai dimensi standar lebar 15 cm,
tebal 15 cm, panjang 53 cm. Secara
matematis kuat lentur beton dihitung
dengan persamaan metode pengujian kuat
lentur
normal
dengan
dua
titik
pembebanan (SNI 03-4431-1997):

Tegangan-tegangan lentur merupakan hasil


dari momen lentur luar.Tegangan ini
hampir selalu menentukan dimensi
geometris penampang beton bertulang.
Proses design yang mencakup pemilihan
dan analisis penampang biasanya dimulai
dengan pemenuhan persyaratan terhadap
lentur.
Gambar 1. Dengan dua titik pembebanan
Pada saat beton struktur bekerja menahan
beban-beban yang dipikulnya, balok beton
akan tegangan-tegangan pada badannya.
Salah satu tegangan yang terjadi adalah
tegangan tarik akibat lenturan dari pada
serat tepi bawah pada balok dengan
tumpuan sederhana.Hampir semua balok

28 | K o n s t r u k s i a

STUDI ANALISIS LENTUR BALOK YANG MENGALAMI PROSES PENGEROPOSAN (Firmansyah - Nadia)

Gambar 2. Penampang benda uji dengan


sistem dua titik pembebanan

Gambar 4. Benda uji patah diluar 1/3


bentang dan garis > 5%
Grouting
Pekerjaan injeksi beton dan grouting sangat
cocok untuk daerah perbaikan yang sulit.
Jenis kerusakan ini timbul karena
pengerjaan beton yang kurang baik, agregat
terlalu kasar, kurangnya butiran halus yang
termasuk semen, faktor air semen tidak
tepat, pemadatan yang tidak sempurna
karena rapatnya tulangan, pasta semen
keluar dari cetakan yang tidak rapat dan
lain-lainnya.

Untuk Pengujian dimana patahnya benda


uji ada di luar pusat (diluar daerah 1/3
jarak titik perletakan) di bagian tarik beton,
dan jarak antara titik pusat dan titik patah
kurang dari 5% dari panjang titik
perletakan maka kuat lentur betondihitung
menurut persamaan:

Kerusakan
semacam
ini
biasanya
disebabkan oleh cetakan (bekisting) yang
tidak rapi atau rapat.Hal ini menyebabkan
pasta semen mengalir keluar, yang
mengakibatkan beton keropos. Dengan
menginjeksi bahan grouting yang relatif
cair ke dalam cetakan, sehingga ikatan
antara tulangan dan beton kembali seperti
semula dan betonpun dianggap masif.
Tekanan
injeksi
beton
untuk
perbaikanretakan dan grouting untuk
perbaikan dimensi beton (ASTM C-1107).

Untuk benda uji yang patahnya di luar 1/3


lebar pusat pada bagian tarik betondan
jarak antara titik pembebanan dan titik
patah
lebih
dari
5%
bentang,
hasilpengujian tidak dipergunakan.

HASIL PENELITIAN
Hasil Pengujian Kuat Lentur Beton
Kuat lentur adalah kemampuan beton yang
diletakan pada dua perletakan untuk
menahan gaya dengan arah tegak lurus
sumbu benda uji yang diberikan padanya
sampai benda uji tersebut patah.(SNI 034431-1997).

Gambar 3. Benda uji patah pada 1/3


bentang

29 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

Tabel 2. Benda uji kondisi keropos


Dari hasil kuat lentur balok beton ukuran
150x150x600mm pada umur beton 28 hari
dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Gambar 5. Pengujian kuat lentur yang telah


dilaksanakan
a. Kuat lentur untuk benda uji dalam
kondisi normal
b. Kuat lentur untuk benda uji dalam
kondisi keropos
c. Kuat lentur untuk benda uji dalam
kondisi
keropossudah
di-grouting
(perbaikan) dengan menggunakan sika
grout 215.
Data pengujian di Laboratorium Sipil
Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Hasil
penge
tesan

Umu
r
pera
wata
n

Tgl
pembuatan

B1

28

28/11/2012

27/12/2012

B2

28

28/11/2012

27/12/2012

B3

28

28/11/2012

27/12/2012

6,5

B4

28

28/11/2012

27/12/2012

Bend
a uji

Tgl
pengetesan

(KN)

Tabel 3. Benda uji kondisi telah di-grouting


Ben
da
uji

C1
C2
C3
C4

Tgl
pembuatan

Tgl
grouting

Tgl
pengetesan

28

21/11/2012

20/12/2012

27/12/2012

6,5

28

21/11/2012

20/12/2012

27/12/2012

28

21/11/2012

20/12/2012

27/12/2012

6,5

28

21/11/2012

20/12/2012

27/12/2012

6,5

(KN)

Tabel 1. Benda uji kondisi normal


Ben
da
uji

Umur
pera
wata
n

Tgl
pembuatan

Tgl
pengetesan

Hasil
penge
tesan
(KN)

A1

28

21/11/2012

20/12/2012

7,5

A2

28

21/11/2012

20/12/2012

7,5

A3

28

21/11/2012

20/12/2012

7,5

A4

28

21/11/2012

20/12/2012

ANALISIS RATA RATA PERBANDINGAN


Tabel 4. Rata-rata perbandingan Benda Uji
Kondisi

Tegangan lentur

normal

0,5

keropos

0,4

grouting

0,433

Maka dari tersebut kita harus menghitung


nilai perbandingannya dengan cara
sebagai berikut :

30 | K o n s t r u k s i a

Hasil
pengete
san

Um
ur
pera
wat
an

STUDI ANALISIS LENTUR BALOK YANG MENGALAMI PROSES PENGEROPOSAN (Firmansyah - Nadia)

Tabel 5. Perhitungan Benda Uji


Kondisi

Perhitungan % reduksi

normal

100.00

Keropos ke normal

80.00

Grouting ke normal

86.67

Keropos ke grouting

92.31

tengah (daerah lapangan) mengalami


penurunan kuat lentur sebesar 13.33%
terhadap kuat lentur balok yang tanpa
mengalami keropos (normal).
3. Tegangan lentur pada balok beton yang
keropos posisi di tengah-tengah (daerah
lapangan) mengalami penurunan kuat
lentur sebesar 6.67% terhadap kuat
lentur balok yang sudah di-grouting.
4. Kondisi balok yang mengalami keropos
di posisi lapangan dengan luas berkisar
5%
kuat
lenturnya
mengalami
penurunan sebesar 20 % terhadap
kondisi beton normal.
5. Kondisi beton yang mengalami keropos
dan sudah mengalami perbaikan dengan
di-grouting
tetap
hasil
tegangan
lenturnya lebih rendah terhadap beton
kondisi normal.

DAFTAR PUSTAKA

Gambar 6. Hasil pengujian kuat lentur


beton
KESIMPULAN
1. Tegangan lentur pada balok beton yang
keropos
posisi
di
tengah-tengah
(daerahlapangan)
mengalami
penurunan kuat lentur sebesar 20%
terhadap kuat lentur balok yang tanpa
mengalami keropos (normal).
2. Tegangan lentur pada balok beton yang
sudah di-grouting posisi di tengah-

1. Antonidan
Paul
Nugraha,
Teknologibeton, Andi Offset, Yogyakarta
2003
2. ASTM C 33-03, Standart Specification
For Concrete Aggregat, 2003
3. ASTM C 125-03, StandartTerminology
Relating to Concrete and Concrete
Aggregat, 2003
4. ASTM C 150-05, Standart Specification
For Portland Cement, 2005
5. ASTM C 494/C 494M-05, Standart
Specification for Chemical Admixtures
for Concrete2005
6. ASTM C 1107-05, Standart Specification
for Packaged Dry, Hydrolic-Cement
Grout 2005
7. Mulyono,Tri. Teknologi Beton. Penerbit
Andi Offset, Yogyakarta 2003
8. Mindess, S., Young, J.F., and Darwin, D.,
Concrete second edition, New Jersey:
Prentice Hall 2003

31 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

9. Sjafe iAmri,Teknologi Beton A-Z.Yayasan


John Hi-tech Idetama Jakarta 2004
10.
Sugiyono,
Statistika
Untuk
Penelitian. Penerbit Alfabeta, Bandung
2006

32 | K o n s t r u k s i a

ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN SUBKONTRAK (Henrico - Anton)

ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN


SUBKONTRAK KONSTRUKSI BANGUNAN GEDUNG DI INDONESIA
Henrico
Magister Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan
Email : henrico.harianja@gmail.com
Anton Soekiman
Dosen Magister Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan
Email: soekiman@unpar.ac.id
ABSTRAK : Ketimpangan komposisi kontraktor kecil yang bersifat spesialis di Indonesia sangat ditentukan
oleh pasar jasa konstruksi subkontrak terhadap usaha spesialis. Sebagai salah satu langkah awal mendorong
pelaksanaan subkontrak konstruksi kepada kontraktor spesialis adalah dengan mengetahui perilaku
kontraktor utama dalam pelaksanaan subkontrak konstruksi termasuk didalamnya faktor-faktor yang
terkait keputusan kontraktor utama melakukan subkontrak konstruksi, aspek dominan yang menjadi dasar
dalam pemilihan subkontraktor, metode pemilihan subkontraktor, metode pembayaran subkontraktor, serta
persepsi kontraktor terhadap kinerja subkontraktor. Selain itu, juga diperlukan suatu identifikasi alternatif
kebijakan sebagai upaya untuk mendorong pelaksanaan subkontrak konstruksi. Berdasarkan survey yang
dilakukan terhadap 37 project manager, project engineer, project supervisor dari 8 kontraktor besar di
Indonesia, memberikan informasi bahwa faktor ketersediaan kontraktor lokal yang memiliki pengalaman
dan peralatan yang sesuai adalah faktor dominan bagi kontraktor utama dalam memutuskan akan
mensubkontrakkan suatu pekerjaan. Namun demikian, hasil analisa korelasi terhadap tingkat subkontrak
dari pekerjaan-pekerjaan dalam lingkup proyek bangunan gedung, memberikan indikasi bahwa minimnya
kontraktor lokal yang memiliki kemampuan dan kapasitas khususnya dalam hal pengalaman dan
kepemilikan peralatan menjadi salah satu faktor keengganan kontraktor utama melakukan subkontrak
konstruksi di Indonesia. Oleh sebab itu, upaya mendorong pelaksanaan subkontrak konstruksi harus lebih
fokus diarahkan kepada pengembangan kemampuan dan daya saing (competitivenes) kontraktor kecil
dilevel lokal dibandingkan dengan kebijakan yang mewajibkan kontraktor utama melakukan subkontrak
konstruksi. Selain itu, berdasarkan 3 responden ahli yang disurvey dengan menggunakan metode Analytical
Hiearracy Process (AHP) menghasilkan alternatif kebijakan prioritas antara lain pengaturan yang
mewajibkan peserta lelang untuk mencantumkan rencana pengguna subkontraktor dalam dokumen
penawaran, memberikan pelatihan kepada penanggungjawab teknik kontraktor kecil serta meningkatkan
akuntabilitas proses sertifikasi dan registrasi kontraktor.
Kata kunci : Subkontrak konstruksi, Kebijakan, Daya saing, Kontraktor Spesialis

ABSTRACT: Inequality in composition of small contractors who are specialists in Indonesia is largely
determined by the market of construction services subcontracted to specialist businesses. As one of the initial
steps to encourage the implementation of the construction subcontract to specialist contractor is to study the
behavior of the prime contractor in the execution of construction subcontracts including dominan factors
related to the decision made by the main contractor to subcontract some of the construction work, what is the
dominant aspect in the selection of subcontractors, subcontractor selection methods, payments methods of
the subcontractor, as well as perceptions of the performance of the contractor against the subcontractor.
Moreover, it also required an identification of policy alternatives in an effort to encourage the
implementation of the construction subcontract. Based on a survey conducted on 37 project manager , project
engineer , project supervisor of 8 major contractor in Indonesia, providing information that the availability of
33 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

local contractors who have the experience and the proper equipment is the dominant factor in deciding the
prime contractor will subcontract some of the construction work . Nevertheless, the results of correlation
analysis of the level of subcontracting of the construction work within the scope of the building project, the
dominant factor was not significantly correlated with the level of subcontracting especially for work related
to structure work and architectural work. This gives an indication that the lack of local contractors who have
the ability and capacity, especially in terms of experience and ownership of the equipment to be one factor
that prime contractor reluctance to subcontract some of construction works in Indonesia . Therefore, efforts
to encourage the implementation of construction subcontracts should be focused on capacity building and
competitiveness at the level of local small contractors compared to the policy that requires prime contractors
to subcontract some of the construction work . Based on survey conducted to 3 experts respondents using
Hiearracy Analytical Process ( AHP ) generating alternatives include setting policy priorities that require
bidders to include subcontracting plan in bidding documents , provide technical training to managers of
small contractors and increase the accountability of contractor certification and registration process.
Keywords: Construction Subcontract, Construction Policy, Competitiveness, Specialist Contractors

PENDAHULUAN
Struktur usaha yang kokoh, sesuai dengan
penjelasan Undang-Undang Nomor 18
Tahun 1999, diimplementasikan dalam
bentuk tercapainya kerjasama yang sinergis
antara Badan Usaha Jasa Konstruksi (BUJK)
kualifikasi besar, menengah dan kecil serta
BUJK Umum, Spesialis dan Keterampilan
Tertentu. Dari data Badan Pembinaan
Konstruksi (2011) diketahui 88 %
kontraktor di Indonesia merupakan
kontraktor kecil, dan 99.95 % diantaranya
adalah kontraktor kecil yang bersifat
umum.
Bila dibandingkan dengan komposisi
kontraktor umum-spesialis pada negara
lain seperti Inggris yang merupakan salah
satu satu negara maju dibidang jasa
konstruksi dimana kontraktor dengan
kualifikasi kecil cenderung untuk menjadi
kontraktor
yang
bersifat
spesialis.
Kontraktor kecil di Indonesia yang
cenderung bersifat umum salah satunya
disebabkan oleh struktur usaha yang
dibentuk karena adanya regulasi pada
Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010
Tentang
Pengadaan
Barang/Jasa
Pemerintah yang menyatakan pekerjaan
34 | K o n s t r u k s i a

konstruksi dibawah Rp 2.5 Milyar


diperuntukkan untuk usaha kecil sehingga
secara jumlah paket pekerjaan, akan lebih
banyak
paket
pekerjaan
yang
diperuntukkan bagi kontraktor kecil.
Namun
secara
total
nilai
paket,
berdasarkan
data
paket
pekerjaan
konstruksi di 3 provinsi misalnya yakni
Sumatera Utara, Kalimantan Tengah dan
Banten yang bersumber dari APBN/APBD
pada tahun 2011 menunjukkan 92 % dari
total nilai paket pekerjaan konstruksi yang
bersumber dari dana APBN dan 70 % total
nilai paket pekerjaan konstruksi yang
bersumber dari APBD merupakan paket
yang diperuntukkan untuk usaha non-kecil.
Paket pekerjaan yang diperuntukkan bagi
usaha non-kecil tersebut, sesungguhnya
didalamnya
terkandung
pasar
bagi
subkontrak konstruksi terhadap kontraktor
kecil yang bersifat spesialis. Namun
demikian, besar pasar subkontrak kepada
kontraktor spesialis tersebut sangat
dipengaruhi oleh perilaku kontraktor
utama dalam pelaksanaan subkontrak
konstruksi.

ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN SUBKONTRAK (Henrico - Anton)

RUMUSAN MASALAH
Sebagai salah satu upaya untuk dapat
mendorong kontraktor kecil menjadi
kontraktor yang bersifat spesialis adalah
dengan mengetahui perilaku kontraktor
utama dalam pelaksanaan subkontrak
konstruksi termasuk didalamnya faktorfaktor yang terkait keputusan kontraktor
utama melakukan subkontrak konstruksi,
aspek dominan yang menjadi dasar dalam
pemilihan
subkontraktor,
metode
pemilihan
subkontraktor,
metode
pembayaran subkontraktor, serta persepsi
kontraktor terhadap kinerja subkontraktor.
Selain itu, identifikasi alternatif kebijakan
yang dapat dilakukan Pemerintah untuk
mendorong kontraktor utama melakukan
subkontrak
konstruksi
juga
perlu
dilakukan.
MAKSUD DAN TUJUAN
Melakukan analisa perilaku kontraktor
utama dalam pelaksanaan subkontrak
konstruksi
di
Indonesia
serta
mengidentifikasi
dan
menganalisa
alternatif-alternatif kebijakan yang menjadi
prioritas dalam rangka mendorong
pelaksanaan subkontrak konstruksi di
Indonesia.

kontrak utama dengan kinerja tertentu


(bussinesdictionary.com, 2013). Salah satu
proses yang harus dilakukan oleh
kontraktor sebelum fase mobilisasi adalah
menentukkan bagian pekerjaan yang akan
disubkontrakkan (Bennet, 2003). Ketika
kontraktor
memutuskan
untuk
menentukkan bagian pekerjaan yang akan
disubkontrakkan,
maka
beberapa
pertimbangan seperti keuntungan dan
kerugian melakukan subkontrak untuk
bagian pekerjaan tersebut harus dievaluasi
(Bennet, 2003). Faktor faktor yang
mempengaruhi
keputusan
kontraktor
utama melakukan subkontrak berserta
referensi sumber dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1 Faktor Keputusan Subkontrak
Referensi

Input dari perencanaan


pengadaan proyek antara lain:

PMBOK, 2004

LANDASAN TEORI
Penerapan
subkontrak
di
industri
konstruksi telah menjadi praktik yang biasa
dilakukan oleh kontraktor utama dimana
kontraktor utama hanya berperan dalam
melaksanakan manajemen dan aktivitas
koordinasi. Subkontrak secara definisi
merupakan suatu perjanjian, perintah
pesanan atau instrumen legal lainnya,
dibawah kontrak utama, antara kontraktor
utama dengan pihak ketiga yakni
subkontraktor untuk melaksanakan suatu
pekerjaan atau produksi atau jasa yang
merupakan bagian tertentu dari lingkup

Faktor Subkontrak

Moschuris,
2007

Madras
Management
Training
Institute

1. Faktor Lingkungan
Perusahaan (ketersediaan
supplier)
2. Aset Proses Perusahaan
(Prosedur, Panduan,
Kebijakan)
3. Ruang Lingkup Proyek
4. WBS
5. Daftar Risiko Proyek
6. Estimasi kebutuhan sumber
daya aktivitas
7. Estimasi Biaya
8. Jadwal Induk Proyek
Isu dari keputusan melakukan
subkontrak dipicu oleh:
1. Kualitas;
2. Biaya;
3. Kapasitas sumber daya dari
perusahaan;
4. Kinerja supplier;
5. Fluktuasi penjualan;
6. Teknologi baru
Faktor pekerjaan tertentu
disubkontrakkan:
1. Lebih murah
2. Keahlian tidak tersedia atau

35 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

(MMTI), 2008

Peraturan
Presiden
Nomor 54
Tahun 2011

BPKSDM, 2009

Iwantono,
2004

BPKSDM, 2004

OBrien dan
Marakas,2009)

tidak ada
3. Volume pekerjaan terlalu
kecil
4. Lebih efesien
5. Transfer risiko
6. Ketersediaan subkontraktor
7. Tim proyek dapat fokus
kepada pekerjaan lain
Pekerjaan bukan merupakan
bukan pekerjaan utama

1. Kontraktor utama melakukan


subkontrak karena adanya
pengaturan dimana untuk
proyek besar, peserta tender
diwajibkan
untuk
mencatumkan
daftar
kontraktor
spesialis/
keterampilan sebagai mitra
kerjanya.
2. Kontraktor utama melakukan
subkontrak karena adanya
pengaturan dari Pemerintah
yang mendorong pengguna
jasa untuk menggunakan
nominated
subcontractor
pada proyek besar.
Pemberian insentif kepada
kontraktor utama dalam hal
melakukan subkontrak dengan
usaha kecil.
1. Kontraktor
utama
melakukan
subkontrak
sebagai bagian dari mitigasi
risiko kepemilikan peralatan
dan keahlian.
2. Kontraktor
utama
melakukan
subkontrak
karena
bagian
dari
kebijakan Corporate Social
Responsibility Perusahaan
3. Kontraktor
utama
melakukan
subkontrak
karena
memiliki
anak/cabang
perusahaan
yang
memiliki
sifat
spesialis/keterampilan
ketersediaan sistem informasi
database subkontraktor secara
nasional.

36 | K o n s t r u k s i a

Selain faktor-faktor keputusan subkontrak,


perilaku lain dalam subkontrak hasil dari
studi literatur yang dilakukan antara lain
seperti dapat dilhat pada tabel 2.
Tabel 1 Perilaku Kontraktor Utama Dalam
Subkontrak.
Variabel Perilaku

Subvariabel Perilaku

Jenis Pekerjaan
Yang
Disubkontrakkan

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Sistem Pengadaan
Subkontraktor
Waktu Pemilihan
Subkontraktor

Aspek Evaluasi
Subkontraktor

Metode
Pembayaran

Jenis Subkontrak

Proses
Pengambilan
Keputusan
subkontrak dan
pelaksanaan
pengadaan
subkontraktor

Persepsi Terhadap
Kinerja
Subkontraktor

Pekerjaan lahan (sitework)


Pekerjaan Struktural
Pekerjaan Arsitektural
Pekerjaan Mekanikal
Pekerjaan Elektrikal;
Pekerjaan
fasilitas
eksterior
bangunan
7. Pekerjaan interior
1. Metode
pelelangan
terbuka
dengan Prakualifikasi atau Pasca
Kualifikasi.
1. Penunjukkan subkontraktor yang
dilakukan sebelum kontraktor utama
melakukan penawaran
2. Penunjukkan subkontraktor yang
dilakukan setelah kontraktor utama
melakukan penawaran
1. Aspek Pengalaman
2. Aspek Tenaga Ahli dan/atau
terampil
serta
kesesuaian
kompetensi
dengan
lingkup
pekerjaan
3. Aspek
beban
kerja
dari
subkontraktor yang sedang berjalan
4. Aspek kemampuan finansial
5. Aspek teknis penawaran
6. Aspek harga penawaran
1. Secara bertahap sesuai progress
dengan uang muka.
2. Pembayaran yang dilakukan jika
pengguna jasa sudah melakukan
pembayaran untuk pekerjaan yang
dilaksanakan oleh subkontraktor.
1. Subkontrak tenaga kerja
2. Subkontrak tenaga kerja, material,
maupun peralatan.
3. Subkontrak Peralatan
1. Keputusan
subkontrak
dan
penunjukkan
subkontraktor
diserahkan sepenuhnya kepada
organisasi proyek.
2. Keputusan
subkontrak
dan
penunjukkan
subkontraktor
diserahkan sepenuhnya kepada
manajemen pusat.
3. Keputusan
subkontrak
dan
penunjukkan
subkontraktor
tergantung kepada nilai proyek
Kinerja Mutu, Kinerja Waktu, Kinerja
Keselamatan Kerja dan Kinerja
Kepedulian lingkungan

ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN SUBKONTRAK (Henrico - Anton)

ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Perilaku Kontraktor Utama Dalam
Pelaksanaan Subkontrak
Profil responden yang melakukan pengisian
kuisioner perilaku subkontrak dapat dilihat
pada gambar 1. profil responden kuisioner
perilaku subkontrak.

Tabel 3 Uji validitas dan reliabilitas


kuisioner

Correcte
d Item

No.

Scale
Mean if
Item
Deleted

Scale
Variance
if Item
Deleted

57.19

251.55

0.62

0.32

0.93

Valid

57.08

254.52

0.58

0.32

0.93

Valid

57.00

252.06

0.62

0.32

0.93

Valid

57.49

258.09

0.55

0.32

0.93

Valid

57.49

259.09

0.49

0.32

0.93

Valid

57.08

254.35

0.65

0.32

0.92

Valid

57.43

252.64

0.63

0.32

0.92

Valid

57.35

259.62

0.51

0.32

0.93

Valid

56.84

267.20

0.36

0.32

0.93

Valid

10

57.03

255.30

0.59

0.32

0.93

Valid

11

56.46

250.64

0.67

0.32

0.92

Valid

12

56.22

248.56

0.69

0.32

0.92

Valid

13

56.32

249.89

0.72

0.32

0.92

Valid

14

56.70

253.94

0.61

0.32

0.93

Valid

15

56.43

253.09

0.69

0.32

0.92

Valid

16

56.46

253.26

0.66

0.32

0.92

Valid

17

56.57

252.64

0.60

0.32

0.93

Valid

18

56.86

257.45

0.56

0.32

0.93

Valid

19

56.62

255.19

0.59

0.32

0.93

Valid

20

57.54

260.09

0.44

0.32

0.93

Valid

21

56.97

248.25

0.73

0.32

0.92

Valid

Profil Responden Berdasarkan Besar Proyek Pengalaman

-Total
Correlati
on

nilai
R tabel
product
moment

Cronbach's
Alpha if
Item
Deleted

Profil Responden Berdasarkan Jabatan

Profil Responden Berdasarkan Lama Pengalaman

Gambar 1 Profil Responden Kuisioner


Perilaku Subkontrak
Dari hasil pengisian kuisioner perilaku
subkontrak dilakukan uji validitas dan
reliabilitas dengan menggunakan SPSS
versi 20 sebagaimana dapat dilihat pada
tabel 3. dimana setelah dilakukan uji
validitas dan reliabilitas seluruh item
pertanyaan
dalam
kuisioner
dapat
dianggap valid dan reliabel

Diolah SPSS 20
Setelah dilakukan uiji validitas dan
reliabilitas, dapat dilihat pada tabel 4
Analisa
Deskriptif
Faktor-Faktor
Subkontrak.

37 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

Tabel 2 Analisa
Subkontrak

Deskriptif

Faktor
Mean

Indikator

Statistic

Std. Error

Ketersediaan subkontraktor
lokal yang memiliki
pengalaman yang sesuai

3.5405

Ketersediaan subkontraktor
lokal yang memiliki peralatan
yang sesuai

3.4324

.20335

Ketersediaan subkontraktor
mitra yang memiliki
pengalaman yang sesuai

3.3243

.19005

Penawaran harga pekerjaan


yang lebih murah dibanding
kan estimasi biaya pekerjaan
mandiri oleh kontraktor utama

3.2973

.21176

Ketersediaan subkontraktor
mitra yang memiliki Peralatan
yang sesuai

3.2973

.19707

Ketersediaan subkontraktor
mitra yang memiliki SDM yang
sesuai

3.1892

.21864

Regulasi penggunaan
subkontraktor

3.1351

.20195

Ketersediaan subkontraktor
lokal yang memiliki SDM Lokal
yang sesuai

3.0541

.20484

Nominated subcontractor

2.8919

.19291

Memiliki cabang perusahaan

2.8108

.18518

Tersedianya sistem informasi

2.7838

.21272

Pekerjaan membutuhkan
teknologi baru

2.7568

.21715

Kelancaran arus kas

2.7297

.20003

Mitigasi risiko kepemilikan


alat

2.6757

.19005

perusahaan tidak memiliki


basis peralatan dilokasi proyek

2.6757

.20887

Utilisasi peralatan yang


dimiliki perusahaan sudah
maksimal

2.5676

.22104

Program CSR

2.4054

.18768

Mitigasi risiko SDM

2.3243

.20887

Utilisasi SDM Terampil sudah


maksimal

2.2703

.20003

Utilisasi SDM Ahli sudah


maksimal

2.2703

.18844

Insentif pegguna jasa

2.2162

.20916

.22123

Adapun 5 faktor paling dominan yang


menjadi pertimbangan ketika kontraktor
utama akan melakukan subkontrak
konstruksi adalah:
1. Ketersediaan subkontraktor lokal yang
memiliki pengalaman yang sesuai.
2. Ketersediaan subkontraktor lokal yang
memiliki peralatan yang sesuai.
3. Ketersediaan subkontraktor mitra yang
memiliki pengalaman yang sesuai.
4. Penawaran harga pekerjaan yang lebih
murah dibanding kan estimasi biaya
pekerjaan mandiri oleh kontraktor
utama.
5. Ketersediaan subkontraktor mitra yang
memiliki Peralatan yang sesuai.
Berdasarkan data pendukung lain yang
berhasil didapat, maka perilaku kontraktor
utama dalam pelaksanaan subkontrak juga
dapat secara spesifik dilihat pada tabel 5.
Informasi Perilaku Subkontrak.
Tabel 5 Informasi Perilaku Subkontrak
Nama

PerilakuTerkait Dengan
Penggunaan Subkontraktor

PT Hutama
Karya

Subkontrakor yang bekerja di PT


Hutama Karya adalah subkontraktor
yang memiliki pengalaman dan sudah
diseleksi oleh kantor wilayah.
Subkontraktor yang sudah memenuhi
persyaratan akan masuk kedalam
suatu Daftar Rekanan Tetap (DRT).
Pada setiap pelaksanaan:
1.

38 | K o n s t r u k s i a

Project

Manager

akan

ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN SUBKONTRAK (Henrico - Anton)

mengajukan
rencana
penggunaan subkontraktor
yang ada dalam DRT.
2. Site Engineering Manajer akan
melakukan
penilaian
terhadap
subkontraktor, baik subkontraktor
badan usaha maupun subkontraktor
perorangan
serta
melaporkan
sesuai dengan standard operating
procedur
(SOP)
Prosedur
Pengadaan Jasa dan Prosedur
Pengendalian
Operasional
Subkontraktor
3. Site Engineering Manajer akan
melaporkan ke tingkat wilayah
daftar subkontraktor terpakai yang
diambil dari DRT.
Subkontraktor yang dipilih pada setiap
proyek PT. Total Bangun Persada,
merupakan subkontraktor yang sudah
melewati tahap seleksi baik kinerja
maupun performanya, sehingga mutu
dan kualitasnya terjamin. Berdasarkan
kebijakan mutu TOTAL yang berbunyi
Bermitra kerja dengan Pemasok /
Subkontraktor pilihan yang dikelola
secara efektif, TOTAL menjaga
hubungan baik dengan pemasok/
subkontraktor dengan cara
melaksanakan pelatihan spesifik yang
intensif (training) untuk personil di
lapangan dan pemasok/
Subkontraktor.

PT. Total
Bangun
Persada

Sumber: Kinerja Proyek Konstruksi, 2013


Sedangkan untuk tingkat subkontrak dari
item pekerjaan dalam lingkup proyek
bangunan gedung menurut persepsi para
responden adalah sebagaimana dapat
dilihat pada tabel 6. Tingkat subkontrak
item pekerjaan
Tabel 6
Pekerjaan

Tingkat

Subkontrak

Item

Descriptive Statistics

Mean

Statistic
Pekerjaan
Lahan

2.567

Std.
Error
.18801

Std.
Deviation

Variance

Statistic

Statistic

1.14359

1.308

Pekerjaan
Struktur

2.027

.17962

1.09256

1.194

Pekerjaan
Arsitektur

2.405

.19552

1.18929

1.414

Pekerjaan
Mekanikal

3.8108

.18518

1.12640

1.269

Pekerjaan
Elektrikal

3.7838

.19810

1.20497

1.452

Pekerjaan
fasilitas
eksterior
bangunan

3.1944

.20633

1.23796

1.533

Pekerjaan
Interior
bangunan

3.2973

.21874

1.33052

1.770

Pada tabel 6. Tingkat subkontrak item


pekerjaan, dapat dilihat bahwa pekerjaan
yang dominan disubkontrakkan adalah
pekerjaan mekanikal, pekerjaan elektrikal
serta pekerjaan interior bangunan.
Secara umum, perilaku dominan kontraktor
utama dalam pelaksanaan subkontrak hasil
dari pengisian kuisioner dapat dilihat pada
tabel 7. Perilaku Dominan Terkait
Subkontrak
Tabel 7 Perilaku
Subkontrak
Variabel
Perilaku

Dominan

Terkait

Perilaku Dominan

Ketersediaan subkontraktor lokal


yang memiliki pengalaman yang
sesuai
Pekerjaan
Disubkontrakkan 2. Ketersediaan subkontraktor lokal
yang memiliki peralatan yang sesuai
3. Ketersediaan subkontraktor mitra
yang memiliki pengalaman yang
sesuai
Aspek Pemilihan 1. Aspek pengalaman
2. Aspek Harga Penawaran
Subkontraktor
3. Aspek Peralatan
Faktor

Pekerjaan
Dominan Yang
Disubkontrakkan

1.

1. Pekerjaan Mekanikal
2. Pekerjaan Elektrikal
3. Pekerjaan Interior bangunan

39 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

Metode
Pemilihan

Waktu
Pemilihan

Metode
Pembayaran

Persepsi
Mengenai
Kinerja

Pelelangan Umum bukan merupakan


metode umum yang digunakan dalam
pemilihan subkontraktor dan
cenderung kepada metode pelelangan
terbatas atau penunjukkan langsung
Pemilihan subkontraktor cenderung
dilakukan setelah Kontraktor Utama
memasukkan penawran kepada
Pengguna Jasa
Metode pembayaran Kepada
Subkontraktor Sesuai Kemajuan Proyek
Dengan Uang Muka lebih cenderung
dilakukan dibandingkan metode pay
when paid

Tabel 3 Responden Identifikasi Alternatif


Kebijakan
No.

Nama
Responden

1.
1.

Dr. Putut
Marhayudi

2.

Ir. H. Ruslan
Rivai, M.M
2.

1.
2.
3.

40 | K o n s t r u k s i a

2.

1.

Subkontraktor cenderung memiliki


kinerja kepedulian lingkungan dan
keselamatan dan kesehatan kerja yang
masih minim.

Identifikasi
Alternatif
Kebijakan
Subkontrak Konstruksi
Seperti telah disebutkan sebelumnya, pada
penelitian ini juga dilakukan identifikasi
dan pemilihan alternatif kebijakan yang
dapat mendorong pelaksanaan subkontrak
konstruksi. Responden yang merupakan
pengambil kebijakan atau praktisi yang
memiliki pengalaman dibidang jasa
konstruksi akan melakukan penilaiai
terhadap kriteria penilaian alternatif
kebijakan
serta
penilaian
terhadap
alternatif kebijkan secara perbandingan
berpasangan dengam responden pada tabel
8. Responden Identifikasi Alternatif
Kebijakan

Pengalaman

Ir. Suryanto

3.

4.

Wakil Ketua LPJKN


bidang sertifikasi dan
registrasi
Kepala Bidang Regulasi
dan Perizinan Usaha
Jasa Konstruksi
Anggota Pengurus
LPJKN Nasional Dari
Kelompok Unsur
Asosiasi Perusahaan.
Wakil Sekretaris
Jendera I BPP GAPENSI
periode 2008-2013.
Mantan Direksi PT.
Hutama Karya
Pengurus Asosiasi
Kontraktor Indonesia
Salah Satu Tenaga Ahli
Restrukturisasi Usaha
Jasa Konstruksi
Juri Penilaian Lomba
Kinerja Proyek
Konstruksi Indonesia

Adapun hasil dari pemilihan kebijakan


dengan menggunakan AHP oleh responden
tersebut dihasikan peringkat alternatif
kebijakan sebagai mana pada tabel 9.
Peringkat Alternatif Kebijakan.
Tabel 4 Peringkat Alternatif Kebijakan
Resp.3

Resp.1

Resp.2

Ratarata

Meningkatkan
akuntabilitas proses
sertifikasi dan
registrasi.

0.095

0.168

0.153

0.139

Pendidikan dan
Pelatihan bagi
Penanggung Jawab
Teknik Badan Usaha
Kecil

0.172

0.203

0.174

0.183

Pemberian insentif
pajak bagi kontraktor
kecil yang bersifat
spesialis/keterampilan

0.031

0.039

0.059

0.043

Alternatif Kebijakan

ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN SUBKONTRAK (Henrico - Anton)

Memberikan akses
pendanaan yang lebih
mudah bagi
kontraktor
spesialis/keterampilan

0.259

0.062

0.056

0.126

Kewajiban
menggunakan
nominated
subcontractor pada
proyek besar dengan
nilai tertentu

0.067

0.056

0.166

0.096

Pengaturan yang
mewajibkan peserta
lelang untuk
mencantumkan
rencana pengguna
subkontraktor dalam
dokumen penawaran

0.218

0.204

0.234

0.219

Pengaturan pemberian
insentif bagi
kontraktor yang
menggunakan
subkontraktor pada
proyek besar dengan
nilai tertentu

0.074

0.075

0.110

0.086

Pengembangan sistem
informasi yang
meliputi database
kontraktor
spesialis/keterampilan
termasuk sumber daya
yang dimiliki,
pengalaman, serta
sebarannya untuk
setiap daerah di
Indonesia

0.083

0.188

0.044

0.105

PEMBAHASAN
Dalam rangka pembahasan faktor-faktor
yang mempengaruhi keputusan kontraktor
utama melakukan subkontrak konstruksi,
maka
dilakukan
analisa
korelasi
spearmans dengan hipotesis statistik dasar
pengambilan keputusan adalah sebagai
berikut:
Jika probabilitas < 0,05, maka Ho diterima
Jika probabilitas > 0,05, maka Ho ditolak

Adapun hasil dari analisa korelasi


spearmans terhadap 5 faktor dominan
yang mempengaruhi keputusan subkontrak
beserta korelasinya dengan persepsi
responden terhadap tingkat subkontrak
masing-masing pekerjaan sebagaimana
dapat dililhat pada lampiran 1. Analisa
Korelasi Dari Faktor-Faktor Dominan
Keputusan Subkontrak Terhadap Tingkat
Subkontrak Pekerjaan.
Berdasarkan lampiran 1. Analisa Korelasi
Dari Faktor-Faktor Dominan Keputusan
Subkontrak Terhadap Tingkat Subkontrak
Pekerjaan, dari 5 faktor dominan yang
menurut
responden
penting
bagi
kontraktor utama dalam memutuskan
suatu pekerjaan akan disubkontrakkan atau
tidak, 2 faktor pertama adalah faktor yang
terkait dengan kemampuan kontraktor
lokal
yakni
faktor
ketersediaan
subkontraktor
lokal
yang
memiliki
pengalaman yang sesuai dan ketersediaan
subkontraktor
lokal
yang
memiliki
peralatan yang sesuai. Namun demikian
dilihat hasil korelasi antara kedua faktor
dominan
tersebut
dengan
tingkat
subkontrak
masing-masing
pekerjaan
secara statistik tidak cukup signifikan.
Faktor ketersediaan subkontraktor yang
memiliki pengalaman hanya berkorelasi
secara signifikan dengan pekerjaan interior
bangunan
dan
faktor
ketersediaan
subkontraktor yang memiliki peralatan
hanya berkorelasi signifikan secara statistik
dengan pekerjaan mekanikal dan elektrikal.
Hal ini memberikan informasi bahwa faktor
yang menurut kontraktor utama paling
penting
ketika
memutuskan
akan
mensubkontrakkan pekerjaan yakni faktor
yang
terkait
dengan
kemampuan
kontraktor lokal, belum menjadi faktor
yang secara riil menjadi alasan kontraktor
utama melakukan subkontrak pekerjaan
konstruksi, yang artinya, keengganan
kontraktor utama dalam melakukan
subkontrak konstruksi lebih cenderung

41 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

disebabkan
oleh
ketersediaan
subkontraktor
lokal
yang
memiliki
pengalaman dan peralatan masih sangat
terbatas
atau
dengan
kata
lain
subkontraktor yang memiliki kemampuan
yang sesuai masih sangat minim.
Sedangkan
pada
aspek
pemilihan
subkontraktor, kontraktor utama juga
cenderung menjadikan aspek pengalaman
menjadi aspek yang paling penting ketika
akan memiliki subkontraktor. Dari hasil ini,
terlihat bahwa sesuai dengan karakteristik
jasa konstruksi dimana aspek-aspek terkait
kepercayaan (bussiness trust) masih
menjadi dasar bagi kontraktor utama untuk
menjalin kerjasama dengan pihak ketiga
untuk melakukan sebagian pekerjaan
dalam suatu proyek. Hal ini dapat dipahami
karena ketika sebagian pekerjaan tersebut
terlambat atau mutu pekerjaan tidak sesuai
dengan spesifikasi yang ditetapkan
pengguna jasa, maka risiko tersebut akan
ditanggung oleh kontraktor utama.
Lebih jauh lagi, kontraktor utama juga
melihat jika suatu pekerjaan dilakukan oleh
subkontraktor lokal memiliki beberapa
keuntungan
seperti
pengetahuan
(knowledge) terhadap akses material dan
peralatan lokal dengan harga yang
kompetitif serta sumber daya manusia lokal
yang pasti lebih baik dibandingkan dengan
subkontraktor non-lokal. Selain itu, dengan
bekerjasama dengan subkontraktor lokal,
kontraktor utama dapat menjadikan hal itu
sebagai bagian dari kebijakan Corporate
Social Responsibillity (CSR) dengan tujuan
mengembangkan perekonomian lokal dan
membantu
untuk
meningkatkan
kemampuan dan kapasitas kontraktor
lokal. Apalagi dengan kondisi dimana
kontraktor
lokal
melalui
asosiasi
kontraktor
yang
meminta
untuk
mendapatkan pekerjaan dari kontraktor
utama yang bekerja diwilayahnya.
Namun demikian, meskipun kontraktor
utama melihat bahwa bekerjasama dengan
42 | K o n s t r u k s i a

subkontraktor lokal memiliki keuntungan


yang lebih dibanding dengan bekerjasama
dibandingka non-lokal atau bahkan
dibandingkan dengan melakukan pekerjaan
secara swakelola, kontraktor utama masih
sangat berhati-hati untuk bekerja sama
dengan
subkontraktor
yang
belum
mendapatkan
aspek
kepercayaan
(bussiness trust) dari kontraktor utama
atau dengan kata lain, kontraktor utama
tidak mau mengambil risiko memberikan
pekerjaan kepada subkontraktor lokal
dengan alasan hanya memberdayakan dan
ingin mengembangkan kontraktor lokal.
Hal ini yang menjadi informasi penting juga
bagi pengambil kebijakan, bahwa usaha
untuk meningkatkan kemitraan sinergis
sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18
Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi harus
dengan upaya yang serius untuk
meningkatkan kapasitas dan kemampuan
kontraktor lokal. Upaya yang cenderung
memaksakan agar kontraktor utama
melakukan subkontrak konstruksi tanpa
diikuti dengan pengembangan kemampuan
kontraktor
lokal,
akan
membuat
pelaksanaan konstruksi akan menjadi tidak
efisien karena kontraktor utama akan
cenderung membawa subkontraktor mitranya yang bukan berasal dari wilayah
tempat
proyek
berlangsung
atau
melaksanakan pekerjaan secara swakelola.
Selain itu, sesuai dengan pendapat ahli dari
Kepala Pusat Penyelenggaraan Konstruksi,
Kementerian Pekerjaan Umum dalam Focus
Group Discussion (FGD) Rekonstruksi
Struktur Usaha Jasa Konstruksi, yang
menilai kontraktor utama masih sangat
berhati-hati untuk melakukan subkontrak
konstruksi karena adanya pengaturan
dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun
2010 Tentang Pengadaan Barang dan Jasa
Oleh Pemerintah dimana pekerjaan yang
termasuk kedalam pekerjaan utama atau
pekerjaan
inti
dilarang
untuk
disubkontrakkan
meskipun
terdapat
kalimat selanjutnya yang menyatakan

ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN SUBKONTRAK (Henrico - Anton)

bahwa subkontrak sebagaian pekerjaan


utama masih diperkenankan dengan
catatan pekerjaan tersebut diberikan
kepada kontraktor spesialis. Hal ini juga
ditekankan oleh perwakilan dari PT.
Waskita Karya yang menyatakan perlu
diberikan ruang gerak yang lebih kepada
kontraktor utama untuk melakukan
subkontrak
termasuk
didalamnya
melakukan subkontrak pekerjaan utama
dengan catatan adanya regulasi yang
memberikan wewenang kepada pengguna
jasa untuk melakukan pengawasan yang
lebih
terkait
dengan
penggunaan
subkontraktor.
Terkait perjanjian kerjasama subkontrak,
seperti yang diutarakan oleh Dr, Sarwono
Hardjomuljadi, perlu adanya suatu standar
kontrak
untuk
ikatan
kerjasama
subkontrak
konstruksi
yang
dapat
menjamin kesetaraan antara kontraktor
utama dengan subkontraktor, terutama
untuk mengantisipasi berlakunya pasar
tunggal ASEAN pada tahun 2015, dimana
kontraktor nasional kemungkinan akan
cukup banyak yang menjadi subkontraktor
bagi kontraktor asing. Contohnya terkait
dengan
metode
pembayaran
oleh
kontraktor utama yang dilakukan secara
pay if paid bukan pay when paid, dalam
terminologi pay if paid, kontraktor utama
melakukan pembayaran apabila pengguna
jasa telah melakukan pembayaran terkait
dengan pekerjaan yang dilakukan oleh
subkontraktor, namun demikian waktu
pembayaran tidak dijelaskan secara pasti
kapan kontraktor utama harus melakukan
pembayaran tersebut, berbeda dengan
terminologi pay when paid dimana ada
unsur kepastian waktu yang jelas, yakni
ketika
pengguna
jasa
melakukan
pembayaran terkait dengan pekerjaan yang
dilakukan oleh subkontraktor, maka ketika
itu juga kontraktor utama harus melakukan
pembayaran kepada subkontraktor untuk
pekerjaan tersebut.

Namun demikian, untuk melakukan analisa


yang lebih mendalam terkait dengan
metode pembayaran oleh kontraktor utama
serta praktik riil nya dilapangan diperlukan
penelitian khusus membahas mengenai hal
tersebut.
Aspek perilaku subkontrak lainnya adalah
terkait dengan jenis subkontrak, dimana
subkontrak tenaga kerja juga cukup
signifikan menjadi praktik dilapangan,
meskipun responden menyatakan bahwa
subkontrak terima jadi masih dominan
dilakukan namun dari penelitian ini juga
dapat dilihat bahwa subkontrak tenaga
kerja dilakukan oleh kontraktor utama
dengan frekuensi yang cukup tinggi. Namun
demikian, sesuai dengan pernyataan dari
Prof. Rizal Tamin yang menjadi responden
dalam FGD Rekonstruksi Struktur Usaha
Jasa Konstruksi, bahwa kecenderungan
subkontraktor yang hanya men-supply
tenaga kerja tidak memiliki entitas hukum
yang jelas, yang membuat subkontraktor
tenaga kerja tersebut tidak memiliki
kekuatan yang cukup untuk bernegosiasi
terkait dengan hal-hal dalam pelaksanaan
pekerjaan dan pembayaran oleh kontraktor
utama.
Selain itu, responden tersebut juga
menyatakan bahwa subkontrak tenaga
kerja memiliki keuntungan tersendiri bagi
kontrkator
utama
terkait
dengan
pembayaran pajak, dimana subkontrak
terima jadi yang biasanya dilakukan kepada
subkontraktor dengan entitas hukum yang
jelas, maka setiap kerjasama dan transaksi
pembayaran didalamnya menjadi objek
pajak yang akan membuat biaya pekerjaan
konstruksi menjadi lebih besar bila
pekerjaan tersebut tidak disubkontrakkan.
Hal ini juga diidentifikasi menjadi salah
satu
kengganan
kontraktor
utama
melakukan subkontrak untuk pekerjaan
yang bernilai besar.

43 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

Pembahasan
Kebijakan
Konstruksi

Pengembangan Alternatif
Pendorong
Subkontrak

Hasil dari pengembangan alternatif


kebijakan
mendorong
subkontrak
konstruksi juga searah dengan perilaku
kontraktor utama dalam pelaksanaan
subkontrak konstruksi, dimana menurut
para responden terdapat 2 alterrnatif
kebijakan prioritas adalah yang terkait
dengan pengembangan kontraktor kecil
yang bersifat spesialis. 3 Alternatif
kebijakan dengan nilai tertinggi hasil
penilaian perbandingan berpasangan oleh
para responden adalah sebagai berikut:
1.

2.

Pengaturan yang mewajibkan peserta


lelang untuk mencantumkan rencana
pengguna
subkontraktor
dalam
dokumen penawaran. Kebijakan ini
memang sudah tercantum didalam
Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun
2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa
Oleh Pemerintah, sehingga dari kriteria
keselarasan
dengan
peraturan
perundangan
ketiga
responden
berpendapat dari seluruh alternatif
kebijakan, yang paling selaras dengan
peraturan
perundangan
adalah
alternatif ini. Selain itu, alternatif ini
juga dianggap memiliki akseptabilitas
yang cukup baik bagi pelaku usaha
serta efisien dalam segi penggunaan
sumber daya dalam penerapannya.
Memberikan
pelatihan
bagi
penanggung jawab teknik kontraktor
kecil yang bersifat spesialis. Kebijakan
ini juga merupakan salah satu upaya
untuk meningkatkan kemampuan dan
kapasitas kontraktor kecil yang bersifat
spesialis dengan cara memberikan
pelatihan terkait kemamuan manajerial
manajemen proyek.
Diharapkan
dengan memberikan pelatihan ini,
kontraktor kecil yang bersifat spesialis
dapat lebih memiliki kemampuan
melaksanakan pekerjaan tepat waktu
dan tepat mutu.

44 | K o n s t r u k s i a

3.

Proses Sertifikasi dan registrasi yang


akuntabel dan bertanggung jawab.
Proses sertifikasi dan registrasi
kontraktor yang keluarannya adalah
Sertifikat
Badan
Usaha
(SBU)
sebetulnya dapat dijadikan dasar bagi
kontraktor utama untuk melakukan
subkontrak
konstruksi
dengan
subkontraktor lokal.
Namun demikian, perilaku kontraktor
utama lebih dominan untuk membuat
suatu
daftar
rekanan
internal
perusahaan dengan mengesampingkan
kepemilikan SBU. Artinya, kontraktor
utama memandang bahwa SBU belum
bisa dijadikan jaminan kemampuan
dan kapasitas kontraktor sehingga
lebih cenderung hanya percaya kepada
pengalaman yang dapat ditunjukkan
oleh calon subkontraktor. Oleh sebab
itu, proses sertifikasi dan registrasi
untuk mendapatkan SBU perlu
dievaluasi oleh pengambil kebijakan.
Saat ini memang sudah terjadi
perubahan tata cara sertifikasi dan
registrasi dimana proses sertifikasi
dilakukan oleh unit sertifikasi yang
independen.
Pengawasan dari Pemerintah selaku
pembina jasa konstruksi terhadap
proses sertifikasi dan registrasi ini
perlu dilakukan secara ketat, agar SBU
betul-betul dapat menjadi jaminan dan
cerminan
kemampuan
suatu
kontraktor,
dengan
demikian
kontraktor
utama
ketika
ingin
melakukan
subkontrak,
calon
subkontraktor tidak harus ada dalam
daftar rekanan milik kontraktor utama
namun cukup dibuktikan dengan
kepemilikan SBU, namun ketika
evaluasi penawaran, aspek pengalaman
memang tetap harus menjadi salah
satu aspek yang dinilai oleh kontraktor
utama, namun dengan tujuan hanya
memastikan
bahwa
calon
subkontraktor memiliki pengalaman

ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN SUBKONTRAK (Henrico - Anton)

mengerjakan suatu pekerjaan yang


sesuai dengan pekerjaan yang akan
disubkontrakkan
oleh
kontraktor
utama.
Setelah melakukan pengolahan data dan
pembahasan tersebut diatas, maka dapat
dibuat suatu tabulasi upaya-upaya yang
dapat
dilakukan
untuk
mendorong
pelaksanaan subkontrak dalam rangka
kemitraan sinergis di sektor jasa konstruksi
berdasarkan
hasil
analisa
perilaku
kontraktor utama dalam melakukan
subkontrak,
hasil
perbandingan
berpasangan
yang
dilakukan
oleh
responden terhadap alternatif kebijakan
serta hasil dari data pendukung yang
berhasil didapat serta wawancara yang
telah dilakukan sebagaimana dapat dilihat
pada tabel 10 Tabulasi Upaya Mendorong
Subkontrak Konstruksi
Tabel 10 Tabulasi Upaya Mendorong
Subkontrak Konstruksi
Alternatif Kebijakan

Hasil
Kuisioner
Perilaku

Upaya mendorong pelaksanaan


subkontrak konstruksi di Indonesia
sebagai bagian kemitraan sinergis
harus difokuskan kepada usaha
meningkatkan kemampuan dan daya
saing kontraktor kecil yang bersifat
spesialis di tingkat lokal.
Prioritas kebijakan:

Hasil AHP dari


Alternatif
Kebijakan

Data
Pendukung
Lain (hasil
wawancara
dan FGD

1. Pengaturan
yang
mewajibkan
peserta
lelang
untuk
mencantumkan rencana pengguna
subkontraktor dalam dokumen
penawaran
2. Memberikan
pelatihan
bagi
penanggung
jawab
teknik
kontraktor kecil yang bersifat
spesialis.
3. Proses Sertifikasi dan registrasi
yang akuntabel dan bertanggung
jawab.
1. Merubah regulasi subklasifikasi dan
subkualifikasi.
2. Memberikan ruang yang lebih
kepada kontraktor utama untuk
dapat mensubkontrakkan sebagian
pekerjaan utama.
3. Insentif pajak bagi pelaksanaan

subkontrak konstruksi.
4. Meningkatkan azas nyata SBU
5. 5. Mendorong terbentuknya BANK
Konstruksi
untuk
pinjaman
pendanaan pelaksanaan proyek

Pada tabel 10, hasil analisa perilaku


kontraktor utama dalam melakukan
subkontrak konstruksi, upaya untuk
mendorong pelaksanaan subkontrak harus
difokuskan kepada upaya yang dapat
meningkatkan kemampuan dan daya saing
kontraktor kecil yang bersifat spesialis
ditingkat lokal. Upaya ini dapat dilakukan
dengna melibatkan Pemerintah Provinsi
dan Pemerintah Kabupaten/Kota sebagai
pembina jasa konstruksi didaerah. Namun
demikian, sampai dengan saat ini, peran
Pemerintah Daerah untuk melakukan
pembinaan jasa konstruksi masih dirasakan
sangat terbatas sehingga, upaya pembinaan
jasa konstruksi lebih banyak dilakukan
ditingkat nasional yang belum dapat
menyentuk tingkat daerah secara optimal.
Beberapa upaya lain seperti dari hasil dari
FGD Restrukturisasi Usaha Konstruksi,
yang menyatakan agar regulasi diubah agar
dapat memberikan ruang yang lebih
sehingga
kontraktor
utama
dapat
melakukan subkontrak konstruksi untuk
pekerjaan utama memerlukan studi
mendalam lebih lanjut. Karena dengna
memberikan ruang yang lebih sehingga
kontraktor
utama
dapat
mensubkontrakkan pekerjaan utama, maka
akan ada kecenderungan kontraktor utama
hanya
akan menjadi agen dalam
pelaksanaan proyek konstruksi namun
tidak memiliki kompetensi inti (core
competencies).
Upaya lain seperti perubahan regulasi
subklasifikasi dan subkualifikasi juga
memerlukan studi yang mendalam,
mengingat pengaturan subklasifikasi dan

45 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

subkualifikasi sudah dibuat dengan


mempertimbangkan
kondisi
jasa
konstruksi nasional dan disesuaikan
dengan peraturan perundangan yang
berlaku serta klasifikasi yang berlaku
secara
internasional
dalam
rangka
mempersiapkan pelaku konstruksi nasional
dalam menghadapi perjanjian perdagangan
bebas antar negara dan antar regional yang
diikuti oleh Indonesia.
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil
hasil dari penelitian ini antara lain:
1. Faktor dominan bagi kontraktor utama
dalam
memutuskan
akan
mensubkontrakkan suatu pekerjaan
adalah ketersediaan subkontraktor
lokal yang memiliki pengalaman dan
peralatan yang sesuai dengan lingkup
pekerjaan.
2. Aspek dalam pemilihan subkontraktor
yang
paling
memiliki
tingkat
kepentingan yang tinggi adalah aspek
pengalaman, peralatan dan harga
penawaran.
3. Perilaku lain dari kontraktor utama
dalam
pelaksanaan
subkontrak
konstruksi adalah:
a. Jenis pekerjaan yang paling sering
disubkontrakkan adalah pekerjaan
mekanikal, elektrikal dan interior
b. Metode pemililhan subkontraktor
yang paling serig dilakukan adalah
dengan
melakukan
pelelangan
terbatas kepada subkontraktor yang
ada
dalam
daftar
rekanan
perusahaan
c. Pemilihan subkontraktor cenderung
dilakukan setelah kontraktor utama
memasukkan penawaran kepada
pengguna jasa
d. Metode pembayaran yang paling
sering
digunakan
adalah
pembayaran secara bertahap sesuai
46 | K o n s t r u k s i a

4.

5.

tingkat kemajuan pekerjaan disertai


dengan uang muka
e. Kinerja
subkontraktor
yang
dianggap masih kurang baik adalah
kinerja keselamatan kerja dan
kepedulian lingkungan.
Tingkat subkontrak untuk pekerjaan
struktur dan arsitektural
masih
terbilang cukup rendah (terutama
untuk pekerjaan struktur dengan hasil
jarang atau 20 -40 % disubkontrakkan)
dan berdasarkan analisa korelasi yang
telah dilakukan, hal ini terindikasi
disebabkan
oleh
ketersediaan
subkontraktor lokal yang memiliki
pengalaman dan peralatan yang masih
terbatas.
Alternatif kebijakan yang perlu
mendapatkan
prioritas
untuk
mendorong pelaksanaan subkontrak
antara lain:
a. Pengaturan yang mewajibkan
peserta
lelang
untuk
mencantumkan rencana pengguna
subkontraktor dalam dokumen
penawaran.
b. Memberikan
pelatihan
bagi
penanggung
jawab
teknik
kontraktor kecil yang bersifat
spesialis
c. Meningkatkan akuntabilitas proses
sertifikasi dan registrasi sehingga
SBU dapat menjadi azas nyata
kemampuan kontraktor.

DAFTAR PUSTAKA
1. Abduh, Muhamad., Soemardi, Biemo.
W., dan Wirahadikusumah, Reini. D.
(2007), Sistem Informasi Kinerja
Industri
Konstruksi
Indonesia:
Kebutuhan Akan Benchmarking dan
Integrasi
Informasi,
Konferensi
Nasional Teknik Sipil I-Universitas
Atmajaya, Yogyakarta. Pp. 265-274.

ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN SUBKONTRAK (Henrico - Anton)

2.

Benton, W.C. dan McHenry, Linda. F.


(2010), Construction Purchasing And
Supply Chain Management. 1st Ed.
Mcgraw Hill, New York, NY.
3. Bennett, Lawrence. F. (2003), The
Management Of Construction: A Project
Lifecycle
Approach.
ButterworthHeinemann, Burlington, MA.
4. Susilawati dan Wirahadikusuma, Reini.
D. (2006), Kajian Pengadaan Oleh
Kontraktor
Pelaksana
Bangunan
Gedung, Jurnal Teknik Sipil ITB.
Bandung, 133-150.
5. Humphreys, Paul., Matthews, Jason.
dan Kumaraswamy, Monan. (2003),
Pre-Construction Project Partnering:
From Adversial To Collaborative
Relationship,
Supply
Chain
Management: An International Journal.
Volume 8, pp.166-178.
6. Kementerian Pekerjaan Umum (2012),
Pedoman Bahan Konstruksi Bangunan
dan Rekayasa Sipil: Analisis Harga
Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan
Umum,
Kementerian
Pekerjaan
Umum, Jakarta.
7. Moschuris,
Socrates.
J.
(2007),
Triggering Mechanisms In Make or
Buy Decisions: An Emperical Analysis,
Journal Of Supply Chain Management,
pp 40-49.
8. Madras Management Training Institute
(2008),
Project
Management
Professional Examination Preparation.
Madras Management Training Institute,
Madras.
9. Orczyk, Joseph (1993), Subcontractor
Management For Public Buildings,
Transactions of AACE International, pg.
G.7.1
10. Peterson,
Steven.
J.
(2009),
Construction Accounting And Financial
Management. 2nd Ed. Prentice Hall,
New Jersey.

11. Project Management Institute (2004),


A Guide To The Project Management
Body Of Knowledge.3th Ed. Project
Management Institute, Four Campus
Boulevard, Newtown Square, PA.
12. Pemerintah Republik Indonesia (1999),
Undang-Undang Nomor 18 Tahun
1999 Tentang Jasa Konstruksi ,
Pemerintah
Republik
Indonesia,
Jakarta.
13. Pemerintah Republik Indonesia (2010).
Peraturan Pemerintah Nomor 04
Tahun 2010 Tentang Perubahan
Pertama Atas Peraturan Pemerintah
Nomor 28 Tahun 2000 Tentang Peran
dan
Usaha
Masyarakat
Jasa
Konstruksi, Pemerintah Republik
Indonesia, Jakarta.
14. Smith, Jason. G. dan Hinze, Jimmy.
(2010), Construction Management:
Subcontractor Scopes Of Work. CRC
Press, New York, NY.
15. Yik, F.W.H., Lai, J.H.K., Chan, K.T. dan
Yiu, E.C.Y. (2006), Problems With
Specialist Subcontracting In The
Construction
Industry,
Building
Service Engineering. Res. Technology.
27,3. pp. 183-193

47 | K o n s t r u k s i a

KINERJA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL II (Rika - Anton)

KINERJA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL II


DALAM PENGELOLAAN JALAN DI SUMATERA BARAT
Rika Julitasari
Magister Teknik Sipil, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung
Email: rheeka_1207@yahoo.com
Anton Soekiman
Dosen Magister Teknik Sipil, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung
Email: soekiman@unpar.ac.id

ABSTRAK : Parameter keberhasilan suatu instansi pemerintah adalah dengan tercapainya produk-produk
yang dihasilkan oleh instansi tersebut. Kinerja instansi pemerintah merupakan prestasi kerja, pelaksanaan
kerja, pencapaian kerja atau hasil kerja yang dilakukan oleh instansi pemerintah dalam menjalankan tugastugas yang dibebankan. Peningkatan kinerja merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan oleh suatu
organisasi dalam upaya peningkatan produksi atau hasil yang ingin dicapai. Tujuan penelitian ini adalah
adalah untuk menganalisis gambaran kinerja yang diterapkan di BBPJN II dalam pengelolaan jalan di
Sumatera Barat; menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja BBPJN II; dan menganalisis tingkat
kepuasaan masyarakat terhadap kinerja BBPJN II dalam pengelolaan jalan di Sumatera Barat. Data yang
dianalisis berasal dari penyebaran kuesioner kepada pegawai BBPJN II dan masyarakat yang dijadikan
sampel dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kinerja BBPJN II dalam
pengelolaan jalan di Sumatera Barat sudah memiliki tingkat kinerja yang tinggi sebesar 75,38%; dan untuk
keempat aspek faktor yang mempengaruhi kinerja BBPJN II yaitu aspek substansi kebijakan, aspek
implementasi kebijakan, aspek lingkungan internal, dan aspek lingkungan eksternal, semuanya memiliki
nilai pengaruh yang tinggi; sedangkan untuk tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja BBPJN II dalam
pengelolaan jalan di Sumatera Barat berada pada interval sedang, yaitu sebesar 62,60%.
Kata kunci : instansi pemerintah, kinerja, jalan, sumatera barat, bbpjn II

ABSTRACT: Parameters success was a government institution with the products produced by institutions.
Government institutions are working performance; accomplishment the work, the employment or the work
done by a government institution in conducting duties levied. The performance was an absolutely required by
an organization in order to increase the production or result is to be achieved. The aim of this research has
analyzed the performance applied on road management BBPJN II in West Sumatera; analyzing the factors
influence of BBPJN II performance; and analyzed levels of satisfaction BBPJN II towards the people in the
street in West Sumatera. The analyzed data derived from the spread of a questionnaire to employees BBPJN II
and society which made the sample in this experiment. The result showed that the level of performance BBPJN
II in the street in West Sumatera have a high level of performance 75,38 %; and the four aspects of factors
affect the BBPJN II aspect, namely: the substance of policy, the implementation of the policy, the internal and
the external environment, they have an impact on high; while for the public satisfaction towards the BBPJN II
in the street in West Sumatera is at intervals being, 62,60 %.
Keywords: Government institution, performance, the road, west sumatera, bbpjn II

49 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

PENDAHULUAN
Saat ini bangsa Indonesia dihadapkan pada
krisis kegagalan mengembangkan sistem
manajemen
pemerintahan
dan
pembangunan yang didasarkan pada
prinsip-prinsip good governance. Birokrasi
pemerintah Indonesia sebagai salah satu
penggerak dari organisasi sektor publik
tidak lepas dari citra yang sangat buruk,
khususnya dari sisi kinerja. Parameter
keberhasilan suatu instansi pemerintah
adalah dengan tercapainya produk-produk
yang dihasilkn oleh instansi tersebut.
Seperti misalnya Balai Besar Pelaksanaan
Jalan Nasional II (BBPJN II) yang sangat
erat hubungannya dengan proyek-proyek
jalan nasional. Disini masyarakat dapat
menilai kinerja dari BBPJN II dari produk
proyek yang dihasilkan, apakah proyek
tersebut dapat berfungsi dan bermanfaat
dengan baik serta memenuhi spesifikasi
yang telah ditentukan sebelumnya. Apabila
semua
itu
sudah
terpenuhi,maka
masyarakat menyimpulkan bahwa kinerja
dari BBPJN II sudah baik dan begitu
sebaliknya.
Kenyataan
dilapangan
masih
ada
ditemukan proyek-proyek jalan yang
bermasalah, seperti yang terjadi di
Sumatera Barat yang selanjutnya akan
dijadikan studi kasus dalam penulisan ini.
Gambaran
bahwa
pegawai
dalam
melaksanakan
aktivitas
pekerjaannya
mengalami berbagai faktor kendala, baik itu
berkaitan dengan faktor internal maupun
faktor eksternal. Hal ini dirasa menarik
diteliti untuk mengetahui bagaimana
kinerja BBPJN II dalam pengelolaan jalan
khususnya di wilayah Sumatera Barat
apakah sudah berjalan dengan baik atau
belum dalam upaya untuk mencapai
produk atau outcome yang diharapkan oleh
masyarakat.

50 | K o n s t r u k s i a

Permasalahan secara umum yang akan


diangkat dalam penulisan ini adalah
meneliti
kinerja
BBPJN
II
dalam
pengelolaan jalan di Sumatera Barat , dan
faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja
BBPJN II, serta pengukuran tingkat
kepuasan
dari
masyarakat
sebagai
pengguna jalan. Sehingga penelitian ini
diharapkan menjadi info yang berguna
khususnya dalam peningkatan kinerja
BBPJN II dalam pengelolaan jalan di
Sumatera Barat, dalam upaya mencapai
tujuan proyek dan mencapai semua
harapan dari pengguna produk.
RUMUSAN MASALAH
Konsep Penelitian
Penelitian
ini
menggunakan
teknik
sampling untuk menentukan responden
dari BBPJN II. Teknik sampling yang
digunakan adalah nonprobability berupa
sampling purposive yaitu teknik penentuan
sampel dengan pertimbangan tertentu.
Pokok utama pengumpulan data pada
penelitian ini adalah dengan metoda
kuesioner, dimana objek pengambilan data
di lapangan adalah pegawai yang bekerja di
lingkungan BBPJN II. Dan yang berhak
memberikan penilaian kinerja adalah
Kepala Balai yang memberikan penilaian
pada kinerja Kepala Bidang, Kepala Bidang
memberikan penilaian pada Kepala Seksi,
dan Kepala Seksi memberikan penilaian
pada kinerja staf. Jumlah sampel yang ada
di BBPJN II adalah 13 responden.
Sedangkan teknik sampling yang digunakan
untuk
menentukan
responden
dari
masyarakat adalah nonprobability berupa
sampling aksidental yaitu teknik penentuan
sampel berdasarkan faktor spontanitas,
artinya siapa saja yang secara tidak sengaja
bertemu dengan peneliti dan sesuai dengan
karakteristik, maka orang tersebut dapat
digunakan sebagai responden. Pengambilan

KINERJA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL II (Rika - Anton)

sampel dibatasi sebanyak 30 orang dari


masyarakat.
Instrumen Penelitian
a. Instrumen yang berhasil disusun
kedalam bentuk kuesioner dengan
lingkup pertanyaan tentang kinerja
BBPJN II, dapat dilihat pada Tabel 1.
b. Instrumen yang berhasil disusun
kedalam bentuk kuesioner dengan
rumusan dan lingkup permasalahan
yang
mempertanyakan
faktorfaktor yang berpengaruh terhadap
kinerja BBPJN II dalam pengelolaan
jalan di
Sumatera Barat, dapat dilihat
pada Tabel 2.
c. Instrumen yang berhasil disusun
kedalam bentuk kuesioner dengan
rumusan dan lingkup permasalahan
yang
mempertanyakan
tingkat
kepuasan masyarakat terhadap kinerja
BBPJN II dalam pengelolaan jalan di
Sumatera Barat, dapat dilihat pada
Tabel 3.

9
10

11

12

13

14

Tabel 1. Lingkup Materi Instrumen Kinerja


BBPJN II dalam Pengelolaan Jalan di
Sumatera Barat
No.

LINGKUP MATERI INSTRUMEN


Dalam proyek
jenis dan intensitas
kegiatan mengalami perubahan yang
cepat, untuk itu pengelola harus cepat
tanggap terhadap perubahan yang terjadi.
Apakah anda sudah melakukan hal
tersebut?
Metoda pemantauan dan pengendalian
yang sensitif sangat dibutuhkan, agar tidak
terjadi penyimpangan yang parah. Apakah
anda sudah melakukan hal tersebut?
Dalam setiap pelaksanaan pekerjaan,
apakah
anda
sudah
melakukan
perencanaan dan pengendalian secara
terpadu?
Karena sifat kegiatan yang nonrutin
dengan sasaran jelas dan waktu terbatas,
apakah ada perhatian khusus oleh tim
yang berdedikasi?
Apakah ada individu yang diserahi
tanggung jawab sepenuhnya untuk
mengelola kegiatan pekerjaan?

Karena sifat kegiatan pekerjaan yang


bermacam-macam dan meliputi berbagai
keahlian, sedangkan waktu datangnya
proyek bersamaan. Agar lebih efisien,
apakah
penggunaan
sumber
daya
dilakukan pemakaian bersama?
Salah
satu
sifat
proyek
adalah
multikompleks, untuk itu dibutuhkan
hubungan dengan berbagai pihak yang
berkepentingan. Apakah pernah diadakan
rapat koordinasi atau kontak bentuk lain
dengan pihak-pihak yang berkepentingan?
Apakah dibentuk panitia ad-hoc untuk
setiap kegiatan pekerjaan dengan anggota
dari
wakil
organisasi
yang
berkepentingan?
Apakah juga dibuat prosedur dan
peraturan kerjasama?
Apakah membuat rencana kerja dengan
melibatkan
pihak-pihak
yang
berkepentingan?
Karena kegiatan berlangsung dengan
kadar resiko tinggi, apakah dilakukan
pengkajian yang menyoroti semua aspek
kelayakan proyek, sebelum memasuki
tahap implementasi?
Apakah pengkajian dilakukan tahap demi
tahap?
Untuk menghindari kesalahan, apakah
dibuat perencanaan pekerjaan seteliti
mungkin dengan memakai metoda sesuai
keperluan?
Pada suatu proyek, peserta mempunyai
multi sasaran yang seringkali berbeda
bahkan
berlawanan,
apakah
anda
menggunakan pendekatan sistem agar hal
tersebut tidak terjadi sehingga terwujud
suatu prioritas tunggal, yaitu kepentingan
proyek?

Tabel 2. Lingkup Materi Instrumen Faktorfaktor yang Menpengaruhi Kinerja BBPJN II


dalam Pengelolaan Jalan di Sumatera Barat
No.

LINGKUP MATERI INSTRUMEN

A. SUBSTANSI KEBIJAKAN
1

Apakah kebijakan yang ada merespon


secara tepat permasalahan birokrasi secara
komprehensif?

B. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN
2

Apakah kebijakan yang ada dalam


implementasinya
dilaksanakan
secara
konsisten?

C. LINGKUP INTERNAL
3
4

Apakah kompetensi SDM berpengaruh


terhadap kinerja?
Apakah penempatan SDM berpengaruh
terhadap kinerja pegawai?

51 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

5
6

7
8

Apakah
kelemahan
manajemen
berpengaruh terhadap kinerja?
Apakah reward dan punishment yang
tidak jalan dengan baik berpengaruh
terhadap kinerja?
D. LINGKUP EKSTERNAL
Apakah intervensi kekuatan politik
berpengaruh terhadap kinerja?
Apakah intervensi kekuatan pengusaha
berpengaruh terhadap kinerja?

Tabel 3. Lingkup Materi Instrumen Tingkat


Kepuasan Masyarakat terhadap Kinerja
BBPJN II dalam Pengelolaan Jalan di
Sumatera Barat
No.

LINGKUP MATERI INSTRUMEN

3
4

9
10

A. KINERJA TEKNIS
Dalam pelaksanaan pekerjaan di
lapangan, apakah mutu pekerjaan sudah
sesuai dengan acuan/kontrak yang
sudah disusun dan disetujui?
Kuantitas/volume
yang
dikerjakan
dalam proyek, apakah sudah sesuai
dengan acuan/kontrak yang sudah
disusun dan disetujui?
Apakah proyek yang ada dapat
difungsikan dengan baik?
Apakah proyek yang ada dapat
memberikan manfaat atau dapat
mensejahterakan masyarakat?
B. KINERJA MANAJEMEN PROYEK
Dalam pelaksanaan pekerjaan, apakah
sudah sesuai dengan waktu yang telah
ditetapkan?
Apakah disebutkan nilai/biaya dari
proyek yang dikerjakan dalam papan nama
proyek?
C. KINERJA KEUANGAN
Dalam pelaksanaan pekerjaan, apakah
biaya yang dianggarkan dengan produk
pekerjaan yang dihasilkan sudah sesuai?
Apakah pekerjaan yang ada sudah
efektif, ditinjau dari besaran dana yang
dikeluarkan?
D. KINERJA ORGANISASI
Dalam suatu pelaksanaan pekerjaan,
apakah masyarakat dilibatkan pada
tahap konseptual dan perencanaan?
Apakah masyarakat dilibatkan dalam
pengawasan pelaksanaan pekerjaan?

Skala Pengukuran
Dalam penelitian ini dilakukan pengukuran
dengan skala interval. Keuntungan dari
skala interval adalah dapat mengetahui

52 | K o n s t r u k s i a

nilai rata-rata dari jawaban responden


terhadap suatu pertanyaan. Biasanya
digunakan skala 1 s/d 5, dengan
pertimbangan bahwa interval ini dapat
memberikan gambaran lebih jelas terhadap
sikap atau tanggapan responden. Skala
interval yang telah dikembangkan adalah
skala Likert, yang digunakan untuk
mengukur pendapat seseorang atau
sekelompok orang tentang fenomena obyek
yang diteliti. Skala Likert mempunyai
gradasi dari yang sangat negatif sampai
sangat positif, yaitu sebagai berikut:
1= sangat jarang
2= jarang
3= kadang-kadang
4= sering
5= sangat sering

atau

1
2
3
4
5

= sangat tidak setuju


= tidak setuju
= ragu-ragu
= setuju
= sangat setuju

Pengujian Item Instrumen


Sebelum disebarkan kepada responden,
daftar isian kuesioner (item istrumen) yang
berhasil dikumpulkan, terlebih dahulu di uji
validitas dan reliabilitasnya. Hal ini
dilakukan karena dari banyaknya item
pertanyaan yang terkumpul belum tentu
semuanya dapat terpakai, mengingat
kemungkinan adanya pertanyaan yang
tidak atau kurang relevansinya atau biasa
dinyatakan sebagai nilai korelasi yang
rendah. Jumlah pertanyaan yang disebar
untuk uji masing-masing instrumen adalah:
14 (empat belas) butir pertanyaan untuk
kinerja BBPJN II di Sumatera Barat, 8
(delapan) butir pertanyaan tentang faktorfaktor yang berpengaruh pada kinerja
BBPJN II, dan 10 (sepuluh) butir
pertanyaan untuk tingkat kepuasan
masyarakat. Jumlah responden untuk
semua uji instrumen adalah sebanyak 10
(sepuluh) orang. Hasil dari pengujian
validitas dapat dilihat pada Tabel 4 s/d
Tabel 6.

KINERJA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL II (Rika - Anton)

Tabel 4. Hasil Uji Validitas Item Instrumen


Kinerja BBPJN II di Sumbar
Item
Instrumen
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Koefisien
Korelasi
(r)
0,675
0,728
0,571
0,751
0,724
0,807
0,622
0,706
0,659
0,643
0,650
0,785
0,800
0,720

Harga
thitung

Harga
ttabel

Keputusan

2,585
3,004
1,968
3,215
2,971
3,871
2,245
2,818
2,479
2,373
2,418
3,588
3,768
2,933

1,86
1,86
1,86
1,86
1,86
1,86
1,86
1,86
1,86
1,86
1,86
1,86
1,86
1,86

Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

5
6
7
8
9
10

1
2
3
4
5
6
7
8

Harga
ttabel

Keputusan

Item
Instrumen

3,208

1,86

Valid

0,835

4,290

1,86

Valid

0,636

2,332

1,86

Valid

0,617

2,216

1,86

Valid

0,667

2,534

1,86

Valid

0,835

4,290

1,86

Valid

0,812

3,928

1,86

Valid

0,636

2,332

1,86

Valid

8
9

Tabel 6. Hasil Uji Validitas Item Instrumen


Tingkat Kepuasan Masyarakat
Item
Instrumen
1
2
3
4

Koefisien
Korelasi
(r)
0,633

1,86

Valid

0,828

4,184

1,86

Valid

0,586

2,047

1,86

Valid

0,564

1,932

1,86

Valid

0,586

2,047

1,86

Valid

0,722

2,951

1,86

Valid

Tabel 7. Hasil Uji Reliabilitas Item


Instrumen Kinerja BBPJN II

Harga
thitung

Koefisien
Korelasi
(r)
0,750

2,220

Dari Tabel 4 s/d Tabel 6, dapat terlihat


hasil uji validitas item instrumen
menunjukkan semua valid, ini ditandai
dengan thitung > ttabel. Untuk hasil dari
pengujian reliabilitas dapat dilihat pada
Tabel 7 s/d Tabel 9.

Tabel 5. Hasil Uji Validitas Item Instrumen


Faktor yang Mempengaruhi Kinerja BBPJN
II di Sumbar
Item
Instrumen

0,617

10

Harga
thitung

Harga
ttabel

Keputusan

11

2,311

1,86

Valid

12

0,554

1,882

1,86

Valid

13

0,758

3,291

1,86

Valid

14

0,835

4,291

1,86

Valid

Koefisien
Korelasi
(r)
0,675

Harga
rhitung

Harga
rtabel

Keputusan

0,806

0,707

Riliabel

0,728

0,843

0,707

Riliabel

0,571

0,727

0,707

Riliabel

0,751

0,858

0,707

Riliabel

0,724

0,840

0,707

Riliabel

0,807

0,893

0,707

Riliabel

0,622

0,767

0,707

Riliabel

0,706

0,828

0,707

Riliabel

0,659

0,795

0,707

Riliabel

0,643

0,783

0,707

Riliabel

0,650

0,788

0,707

Riliabel

0,785

0,880

0,707

Riliabel

0,800

0,889

0,707

Riliabel

0,720

0,837

0,707

Riliabel

53 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

Tabel 8. Hasil Uji Reliabilitas Faktor yang


Mempengaruhi Kinerja BBPJN II
Item
Instrumen
1
2
3
4
5
6
7
8

Koefisien
Korelasi
(r)
0,750

Harga
rhitung

Harga
rtabel

Keputu
san

0,857

0,707

Riliabel

0,835

0,910

0,707

Riliabel

0,636

0,778

0,707

Riliabel

0,617

0,763

0,707

Riliabel

0,667

0,800

0,707

Riliabel

0,835

0,910

0,707

Riliabel

0,812

0,896

0,707

Riliabel

0,636

0,778

0,707

Riliabel

adalah analisa uji statistik paremetris, yaitu


menggunakan
skala
Likert
untuk
mengetahui tingkat kinerja BBPJN II serta
faktor-faktor yang paling berpengaruh, dan
akan dianalisis juga tingkat kepuasan
masyarakat terhadap kinerja BBPJN II di
Sumatera Barat dalam pelaksanaan
pekerjaan jalan.
Langkah-langkah analisis dalam skala
Likert adalah sebagai berikut:
1. Hasil item-item pertanyaan yang cukup
banyak
dikumpulkan,
kemudian
dihitung skor masing-masing skala dari
yang terbesar sampai terkecil. Dengan
rumus sebagai berikut:
Skala tertinggi x Jumlah responden x Jumlah
pertanyaan

Tabel 9. Hasil Uji Reliabilitas Tingkat


Kepuasan Masyarakat terhadap BBPJN II
Item
Instrumen
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Koefisien
Korelasi
(r)
0,633

Harga
rhitung

Harga
rtabel

Keputusan

0,775

0,707

Riliabel

0,554

0,713

0,707

Riliabel

0,758

0,863

0,707

Riliabel

0,835

0,910

0,707

Riliabel

0,617

0,764

0,707

Riliabel

0,828

0,906

0,707

Riliabel

0,586

0,739

0,707

Riliabel

0,564

0,721

0,707

Riliabel

0,586

0,739

0,707

Riliabel

0,722

0,8385

0,707

Riliabel

Dari Tabel 7 s/d Tabel 9, dapat terlihat


hasil uji reliabilitas item instrumen
menunjukkan semua riliabel, ini ditandai
dengan rhitung> rtabel.
3. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Dalam penelitian ini, teknik yang digunakan
untuk menganalisis data hasil kuesioner
54 | K o n s t r u k s i a

2.

Mengukur persepsi responden, dengan


rumus sebagai berikut:
Persepsi responden =
x
100%

3.

4.

Dari jawaban atau persepsi responden,


kemudian
ditotal
berdasarkan
kelompok responden dan dibuat
persentasenya dengan membuat skala
interval tingkat kinerja BBPJN II,
faktor-faktor yang berpengaruh, dan
tingkat kepuasan masyarakat terhadap
kinerja BBPJN II dalam pengelolaan
jalan.
Langkah terakhir, menganalisis hasil
yang telah didapat untuk mengetahui
item-item mana yang sangat nyata
batasan antara skor kriterium rendah
dengan skor kriterium tinggi dalam
skala total. Kriteria interpretasi skor
dapat dilihat pada Tabel 10.

KINERJA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL II (Rika - Anton)

Tabel 10. Kriteria Interpretasi Skor


1 x 1,8

1,8< x 2,6

2,6< x 3,4

3,4< x 4,2

4,2 < x 5

Sangat
rendah
20% x
36%

Rendah

Sedang

Tinggi

Sangat tinggi

36% < x
52%

52% < x
68%

68% < x
84%

84% < x
100%

Tingkat Kinerja BBPJN II


Untuk menilai tingkat kinerja BBPJN II
dalam pelaksanaan pekerjaan jalan di
Sumatera Barat, digunakan skala 5, 4, 3, 2, 1
dengan pemberian bobot sebagai berikut:
Skala 5 = 5 x 13 x 14 = 910 kriterium
(skor tertinggi)
Skala 4 = 4 x 13 x 14 = 728
Skala 3 = 3 x 13 x 14 = 546
Skala 2 = 2 x 13 x 14 = 364
Skala 1 = 1 x 13 x 14 = 182
Tingkat Kinerja BBPJN II
=
=

Pada Tabel 11, dapat dilihat bahwa item


pertanyaan 4 memiliki tingkat kinerja
sedang, dan untuk item pertanyaan 8
memiliki tingkat kinerja yang rendah. Itemitem tersebut adalah sebabgai berikut:
1)
Item 4, disini mempertanyakan
tentang perhatian khusus oleh tim yang
berdedikasi.
2)
Item 8, disini terkait tentang
pembentukan panitia ad-hoc, dengan
anggota terdiri dari wakil organisasi yang
berkepentingan.
Kedua
item
tersebut
perlu
mendapatkan perhatian khusus, disamping
item-item yang lain yang sudah berada
pada interval tinggi dan sangat tinggi guna
melakukan
perbaikan
kinerja
berkesinambungan di masa-masa yang
akan datang.
Tabel 11. Bobot Penilaian Item Pertanyaan
untuk Tingkat Kinerja BBPJN II

= 75,38 %

Nilai 686 diatas diperoleh dari data


jawaban responden sebanyak 13 (tiga
belas) orang, sedangkan nilai 910
merupakan skor total tertinggi pada tingkat
penerapan 100% (skala 5).
Tingkat kinerja sebesar 75,38% di atas
berdasarkan penilaian tingkat kinerja dan
interen BBPJN II, yang terdiri dari 14
(empat belas) pertanyaan. Ini berarti ratarata BBPJN II di Sumatera Barat berada
pada tingkat kinerja yang tinggi (68% < x
84%). Walaupun berada pada tingkat
kinerja yang tinggi, hal ini masih dapat
ditingkatkan lagi sesuai dengan prinsip
perbaikan yang berkesinambungan dengan
cara mencari aspek-aspek atau dari item
pertanyaan yang memiliki bobot nilai
rendah.

Item
Pertanyaan

Rata-rata

Tingkat
Kinerja

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

4,231
4,538
3,923
2,667
3,923
3,538
3,385
1,846
3,923
3,923
4,154
4,462
4,308
4,077

Tinggi
Sangat Tinggi
Tinggi
Sedang
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Rendah
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Sangat Tinggi
Sangat Tinggi
Tinggi

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja

BBPJN II
Faktor yang mempengaruhi
=
=

= 71,73%

55 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

Nilai 373 diatas diperoleh dari data


jawaban responden sebanyak 13 (tiga
belas) orang, sedangkan nilai 520
merupakan skor total tertinggi pada tingkat
penerapan 100% (skala 5).

Tingkat Kepuasan Masyarakat Terhadap


Kinerja BBPJN II

Tingkat pengaruh kinerja sebesar 71,73%


di atas berdasarkan penilaian terhadap
faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
kinerja, yang meliputi beberapa aspek,
yaitu aspek substansi kebijakan, aspek
implementasi kebijakan, aspek lingkungan
internal, dan aspek lingkungan eksternal.
Ini berarti bahwa faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap kinerja BBPJN II dari
aspek-aspek yang berada pada interval
tinggi (68% < x 84%).

Pada Tabel 12, dapat dilihat bahwa


keempat aspek yaitu, substansi kebijakan,
implementasi kebijakan, lingkup internal,
dan lingkup eksternal memiliki nilai yang
tinggi dalam pengelolaan jalan di Sumatera
Barat. Pengaruh yang tinggi, artinya bahwa
faktor-faktor ini akan memberikan dampak
yang negatif pada kinerja BBPJN II atau
dengan kata lain kinerja menjadi rendah.
Tabel 12. Bobot Penilaian Item Pertanyaan
untuk Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
BBPJN II
Item
Pertanyaan

Ratarata

1
2
3
4
5

2,967
2,967
3,533
4,300
3,300

3,900

Tinggi
3,600

7
8
9
10

2,967
3,033
2,267
2,067

Sedang
3,000
Rendah
2,167

56 | K o n s t r u k s i a

Tingkat
Kinerja

Tingkat
Kepuasan

Tinggi

Kinerja
Teknis

3,442
Kinerja
Manajemen
Proyek
Kinerja
Keuangan
Kinerja
Organisasi

Tingkat Kepuasan Masyarakat


=
= 62,60%

Nilai 939 diatas diperoleh dari data


jawaban responden sebanyak 30 (tiga
puluh) orang, sedangkan nilai 1500
merupakan skor total tertinggi pada tingkat
penerapan
100%
(skala
5).Tingkat
kepuasan sebesar 62,60% di atas
berdasarkan penilaian tingkat kinerja
BBPJN II dari berbagai aspek, yang terdiri
dari 10 (sepuluh pertanyaan).
Dari analisis di atas, maka dapat di
identifikasi secara umum tingkat kepuasan
masyarakat terhadap kinerja BBPJN dalam
pengelolaan jalan di Sumatera Barat berada
pada tingkatan yang sedang. Namun apabila
ditinjau
dari
aspek-aspek
yang
mempengaruhi
tingkat
kepuasan
masyarakat, maka masih ditemukan aspekaspek dengan bobot < 3,4 atau dengan kata
lain masih dalam interval rendah.
Pada Tabel 13, dapat dilihat bahwa aspek
kinerja
organisasi
memiliki
tingkat
kepuasan paling rendah dengan nilai 2,167,
ini berarti bahwa aspek kinerja organisasi
harus mendapatkan prioritas utama dalam
perbaikan kinerja BBPJN II yang ditinjau
dari opini masyarakat. Selain aspek kinerja
organisasi, aspek lain yang masih berada
pada
interval
sedang
dan
perlu
mendapatkan perhatian adalah aspek
kinerja keuangan. Sedangkan untuk aspek
kinerja teknis dan kinerja manajemen
proyek berada pada interval yang tinggi,
namun tetap dibutuhkan perbaikan secara
berkesinambungan di masa-masa yang

KINERJA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL II (Rika - Anton)

akan datang, guna mendapatkan produk


jalan yang lebih baik.
Tabel 13. Bobot Penilaian Item Pertanyaan
untuk Tingkat Kepuasaan Masyarakat
terhadap Kinerja BBPJN II

Item
Pertanyaan

Ratarata

Tingkat
Kinerja

Tingkat
Kepuasan

1
2
3

2,967
2,967
3,533

Tinggi

Kinerja
Teknis

4,300

3,442

3,300

3,900

7
8
9
10

2,967
3,033
2,267
2,067

Tinggi
3,600

Kinerja
Manajemen
Proyek

Sedang
3,000

Kinerja
Keuangan

Rendah
2,167

Kinerja
Organisasi

4. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa,
kinerja BBPJN II dalam pengelolaan jalan di
Sumatera Barat sudah memiliki tingkat
kinerja yang tinggi sebesar 75,38% (68% <
x 84%). Namun dilihat dari item-item
pertanyaan yang ada, terdapat beberapa
item yang masih memiliki kinerja rendah
dan sedang, yaitu item yang terkait tentang
pembentukan panitia ad-hoc dengan
anggota terdiri dari wakil organisasi yang
berkepentingan dan perhatian khusus oleh
tim berdedikasi. Dan untuk faktor-faktor
yang berpengaruh terhadap kinerja BBPJN
II dalam pengelolaan jalan di Sumatera
Barat, terdiri dari keempat aspek yaitu,
aspek
substansi
kebijakan,
aspek
implementasi kebijakan, aspek lingkungan
internal, dan aspek lingkungan eksternal.
Dari keempat aspek tersebut, semuanya
memiliki nilai pengaruh yang tinggi dalam
pengelolaan jalan di Sumatera Barat,
dengan masing-masing bobot nilai sebesar
3,654 untuk aspek lingkungan internal;
3,577 untuk aspek lingkungan eksternal;
dan 3,462 untuk aspek implementasi

kebijakan; serta 3,429 untuk aspek


substansi kebijakan. Sedangkan tingkat
kepuasan masyarakat terhadap kinerja
BBPJN II dalam pengelolaan jalan di
Sumatera Barat berada pada interval
sedang (52% < x 68%) dengan
persentase
sebesar 62,60%. Namun
apabila
dilihat dari aspek-aspek yang
dijadikan ukuran tingkat kepuasan, dimana
aspek secara garis besar dikelompokkan
menjadi 4 (empat), yaitu aspek kinerja
teknis, aspek kinerja manajemen proyek,
aspek kinerja keuangan, dan aspek kinerja
organisasi. Dari keempat aspek yang ada,
aspek kinerja organisasi memiliki nilai
tingkat kepuasaan yang rendah sebesar
2,167; aspek kinerja keuangan dengan
kepuasaan masyarakat dalam tingkat
sedang sebesar 3,0; kemudian aspek kinerja
teknis dan kinerja manajemen proyek
sudah berada pada tingkat kepuasan yang
tinggi yaitu sebesar 3,442 dan 3,60.
DAFTAR PUSTAKA
1. Asosiasi Pengusaha Indonesia. (2005)
Laporan
Pelatihan
Manajemen
Kinerja.
2. Direktorat Aparatur Negara. (2006)
Manajemen yang Berorientasi pada
Peningkatan
Kinerja
Instansi
Pemerintah
(Suatu
Profil),
Kementerian Negara Perencanaan
Pembangunan
Nasional/Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional.
3. Flippo, Edwin B. Masud Moh (alih
bahasa),1990.Manajemen Personalia.
Edisi Keenam. Jilid Kedua. Jakarta :
Erlangga.
4. Frecilia, Nanda. 2012 The Influence Of
Leadership Style and Communication
Effectivity
To
The
Employee
Performance Of Badan Promosi Dan
Perizinan Penanaman Modal Daerah (
BP3MD ) Province Of South Sumatera.
Artikel Ilmiah. Universitas Sriwijaya.
57 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.
12.

13.

14.

15.

Handoko, Hani T, Dr.MBA dan


Reksohadiprodjo
Sukanto,
Dr.
M.Com.1996. Organisasi Perusahaan.
Edisi kedua Yogyakarta : BPFE.
Ibrahim, Budi. (1997), TQM (Total
Quality Management) : Panduan
Menghadapi
Persaingan
Global,
Djambatan, Jakarta.
Kepmen Pendayagunaan Aparatur
Negara
Nomor:
Kep/25/M.PAN/2/2004,
tentang
Pedoman Umum Penyusunan Indeks
Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan
Instansi Pemerintah.
Lembaga Penelitian, Pendidikan dan
Penerangan Ekonomi dan Sosial
(2007), Laporaan Akhir Kajian Cepat
terhadap
Program-program
Pengentasan
Kemiskinan
Pemerintah Indonesia : Program
Infrastruktur Pedesaan (PPIP, PMPD,
dan P2MPD.
Mathis, Robert L dan John H Jackson,
2001.Manajemen
Sumber
Daya
Manusia. Buku 2 Jilid Pertama. Jakarta :
Salemba Empat.
Oka, Bagus. 2009. Kinerja DPU dalam
Pengelolaan Proyek Konstruksi di
Bali.Tesis.
Bandung:
Universitas
Katolik Parahyangan.
Riduwan. (2004), Metode dan Teknik
menyusun Tesis, Alfabeta. Bandung.
Sedarmayanti.
2009. Manajemen
Sumber Daya Manusia, Reformasi
Demokrasi dan Manajemen Pegawai
Negeri Sipil. Cetakan ketiga. Bandung :
PT. Refika Aditama.
Soeharto, Imam. (1997). Manajemen
Proyek : Dari Konseptual sampai
Operasional, Erlangga. Jakarta.
Zainum, D, 2002. Sistem Manajemen
Kinerja. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama.
www.pu.go.id, Kondisi Ruas Jalan
Nasional BBPJN II.

58 | K o n s t r u k s i a

KAJIAN DAN EVALUASI PEMILIHAN KONSULTAN DI LINGKUNGAN PENATAAN RUANG (Mutholib - Andreas)

KAJIAN DAN EVALUASI PEMILIHAN KONSULTAN


DI LINGKUNGAN PENATAAN RUANG, KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM
Abdul Mutholib
Magister Teknik Sipil, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung
Email: rmutholib@yahoo.com
Andreas Franskie Van Roy
Dosen Magister Teknik Sipil, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung

ABSTRAK : Evaluasi teknis merupakan tahapan yang penting dalam proses pemilihan konsultan, karena
hasil dari evaluasi tersebut akan menghasilkan peringkat teknis yang kemudian digunakan dalam
menentukan konsultan pemenang. Didasari oleh kepedulian dan rasa ingin tahu terhadap proses pemilihan
jasa konsultansi khususnya pada tahap evaluasi teknis maka dilakukan penelitian guna mengetahui faktorfaktor penilaian berdasarkan peraturan yang berlaku dan juga fakta yang terjadi di lapangan. Disamping itu
penelitian ini juga membandingkan antara hasil evaluasi teknis yang telah dilakukan oleh panitia
pengadaan dilapangan dengan metode pengambilan keputusan yang berdasar pada pedoman evaluasi yang
berlaku. Penelitian ini dilakukan dengan data evaluasi teknis yang telah dilakukan oleh panitia pengadaan
khususnya pada direktorat jenderal penataan ruang, kementerian pekerjaan umum. Data tersebut dianalisis
dengan metode pengambilan keputusan yaitu AHP (analytical hierarcy process) dan TOPSIS (Technique For
Others Reference by Similarity to Ideal Solution).
Kata kunci : Evaluasi Teknis, Pemilihan Konsultan, Metode Pengambilan Keputusan, AHP, TOPSIS

ABSTRACT: Technical evaluation is an important stage in the process of selecting a consultant, because the
results of these evaluations will result in technical ratings are then used to determine the winner consultant.
Based on the concern and curiosity about the selection process consulting services, especially at the stage of
technical evaluation conducted research to determine the factors assessment based on state laws and also the
fact that occur in the field. Besides, this study also compared the results of technical evaluations that have
been conducted by procurement committee in the field with decision-making method based on the evaluation
of the applicable guidelines. This research was conducted with the technical evaluation of the data was done
by the procurement committee, in particular the directorate general of spatial planning, ministry of public
works. The data were analyzed by the method of decision-making that is AHP (Analytical Hierarcy process)
and TOPSIS (Technique For Others Reference by Similarity to Ideal Solution).
Keywords: Technical Evaluation, Selection Consultant, Decision Making Methods, AHP, TOPSIS

LATAR BELAKANG
Saat ini sebagian panitia pengadaan dan
penyedia jasa konsultansi belum dapat
dikatakan sepenuhnya memahami metode
pemilihan dan tata cara evaluasi
penawaran jasa konsultansi, hal ini
ditunjukkan oleh seringnya sanggahan atau
keberatan penyedia jasa terhadap panitia

pengadaan hal ini dapat terlihat dengan


jumlah sanggahan yang diterima panitia
pengadaan relatif meningkat dari tahun ke
tahun, sebagaimana dapat dilihat pada
gambar 1. :

59 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

Gambar 1. Jumlah Sanggahan Kementerian


Pekerjaan Umum 2009 - 2013
Sumber : Bidang Penyelenggaraan Sistem
Jaringan dan Aplikasi, Pusat Pengolahan
Data, Kementerian Pekerjaan Umum
Umumnya sanggahan yang diajukan oleh
penyedia barang/jasa berisi tentang
ketentuan dan prosedur yang digunakan
oleh panitia pengadaan berdasar pada
Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010
tentang
Pengadaan
Barang/jasa
Pemerintah dan Peraturan Presiden Nomor
70 Tahun 2012 tentang perubahan kedua
atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun
2010 tentang Pengadaan Barang/jasa
Pemerintah serta ketentuan dan prosedur
yang ditetapkan oleh panitia pengadaan
dalam dokumen pengadaan barang/jasa.
Sanggahan
yang
berisikan
tentang
ketentuan dan prosedur menggambarkan
bahwa adanya perbedaan pandangan
antara penyedia jasa selaku peserta
pengadaan dan panitia pelelangan selaku
tim penilai peserta pengadaan. Hal ini
disebabkan
karena
belum
adanya
peraturan atau pedoman yang mengatur
ketentuan dan prosedur pengadaan
barang/jasa secara jelas dan rinci sehingga
antara penyedia jasa dan panitia pengadaan
tidak memiliki pandangan yang sama
terhadap
ketentuan
dan
prosedur
pengadaan barang/jasa.

60 | K o n s t r u k s i a

Dalam
hal
pengadaan
barang/jasa
pemerintah sanggahan/keberatan penyedia
jasa telah diatur dalam Peraturan Presiden
Nomor 54 Tahun 2010 dan Peraturan
Presiden Nomor 70 Tahun 2012 khususnya
pada pasal 81 tertuang bahwa peserta
pemilihan Penyedia Barang/Jasa yang
merasa dirugikan, baik secara sendiri
maupun bersama-sama dengan peserta
lainnya dapat mengajukan sanggahan
secara tertulis apabila menemukan:
a. Penyimpangan terhadap ketentuan dan
prosedur yang diatur dalam Peraturan
Presiden ini dan yang telah ditetapkan
dalam
Dokumen
Pengadaan
Barang/Jasa;
b. Adanya rekayasa yang mengakibatkan
terjadinya persaingan yang tidak sehat;
dan/atau
c. Adanya penyalahgunaan wewenang oleh
ULP dan/atau Pejabat yang berwenang
lainnya.
Merujuk pada gambar 1.1 dan pada tiga
point diatas terlihat bahwa kecurigaan
penyedia jasa terhadap panitia pengadaan
yang memihak dan atau perbedaan
pandangan antar penyedia jasa dan panitia
pengadaan dalam proses pemilihan
penyedia jasa cenderung meningkat.
Di dalam metode pemilihan penyedia jasa,
terdapat
hal
penting
yang
harus
diperhatikan yaitu metode evaluasi
penawaran.
Evaluasi
penawaran
merupakan kegiatan panitia pengadaan
dalam meneliti dan menilai semua
dokumen penawaran yang disampaikan
oleh penyedia jasa. Evaluasi penawaran
merupakan tahapan krusial dalam proses
pengadaan barang/jasa. Untuk itu adalah
menjadi sangat penting bila panitia
pengadaan mengerti dan memahami
tentang tata cara evaluasi penawaran. Jika
tata cara evaluasi penawaran tidak
dipahami dengan baik maka kualitas dari

KAJIAN DAN EVALUASI PEMILIHAN KONSULTAN DI LINGKUNGAN PENATAAN RUANG (Mutholib - Andreas)

evaluasi itu sendiri sangat diragukan


tingkat keakuratannya, hingga pada
gilirannya dapat dipertanyakan tingkat
keabsahannya.
Kriteria yang digunakan dalam proses
pemilihan konsultan merupakan kriteria
yang majemuk/multi kriteria. Kriteria
majemuk ini ditujukan untuk mengukur
kemampuan konsultan dari berbagai sisi
sesuai dengan kebutuhan proyek yang
ditenderkan. Kriteria disusun berdasarkan
peraturan yang berlaku tentang pemilihan
konsultan. Terdapat 3 (tiga) kriteria utama
yaitu pengalaman perusahaan, pendekatan
dan metodologi serta kualifikasi tenaga
ahli. Masing-masing kriteria utama tersebut
memiliki kriteria turunan. Hal ini
menunjukkan
bahwa
kriteria
yang
digunakan dalam proses pemilihan
konsultan merupakan kriteria yang
majemuk dan berjenjang.
Dalam proses pengambilan keputusan
untuk menentukan pemenang dengan
kriteria yang majemuk dan berjenjang
tersebut tentunya bukan perkara mudah.
Pada kondisi ini tingkat objektivitas
menjadi
sesuatu
yang
mudah
dipertanyakan. Penentuan bobot dari
masing-masing kriteria menjadi sesuatu
yang krusial. Seringkali tanpa metode yang
jelas bobot ditentukan dengan pendekatan
subjektif. Upaya meminimalisir tingkat
subjektivitas adalah sebuah usaha yang
sudah sewajarnya dilakukan.
Atas adanya fenomena-fenomena yang
menggambarkan kendala-kendala tersebut
serta adanya peluang Teknik pengambilan
keputusan (TPK) dapat mengatasi kendalakendala yang ada, maka dirasa perlu
melakukan kajian terhadap implementasi
proses pemilihan penyedia jasa dilapangan.
Kajian bertujuan untuk mengukur sejauh

mana keberhasilan panitia pengadaan


dalam memilih penyedia jasa sesuai dengan
kriteria pemilihan yang telah ditetapkan,
sekaligus memberikan gambaran tingkat
pemahaman panitia pengadaan terhadap
peraturan yang berlaku. Disamping itu
kajian ini juga diharapkan dapat membantu
panitia pengadaan dalam menentukan
pembobotan kriteria pemilihan konsultan
karena pada saat ini tidak ada peraturan
atau pedoman yang mengatur mengenai
pembobotan kriteria evauasi penawaran
secara jelas dan rinci. Kajian ini juga dapat
membantu panitia pengadaan dalam
menentukan konsultan pemenang tender
sesuai dengan peraturan perundang undangan yang ada. Untuk itu penggunaan
teknik pengambilan keputusan yang cocok
dapat digunakan sebagai alat untuk
menstrukturkan kriteria yang majemuk dan
kompleks serta memudahkan panitia
pengadaan dalam proses meneliti dan
menilai penawaran penyedia jasa.
RUANG LINGKUP PENELITIAN
Pembatasan
ruang
lingkup
pada
pembahasan penelitian ini, adalah sebagai
berikut :
1. Prosedur pengadaan jasa konsultansi
metode 2 (dua) sampul dengan kontrak
lumpsum, tidak membahas tentang
pengadaan barang/jasa dengan metode
pasca kualifikasi;
2. Kriteria-kriteria evaluasi penawaran
pada
pembahasan
ini
hanya
memfokuskan pada evaluasi penawaran
jasa konsultansi pada kementerian
Pekerjaan
Umum,
khususnya
di
Direktorat Jenderal Penataan Ruang
mulai tahun 2009 s/d tahun 2013
dengan jumlah proyek sekitar 50 (lima
puluh) paket kegiatan;
3. Evaluasi
penawaran
teknis
jasa
konsultansi yang ada di Direktorat
61 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

Jenderal Penataan Ruang dengan


peraturan perundang-undangan yang
ada;
4. Pemodelan dengan 2 (dua) metode
pengambilan
keputusan
yang
dikhususkan pada evaluasi penawaran
panitia pengadaan jasa konsultansi di
Direktorat Jenderal Penataan Ruang;
5. Perbandingan antara metode-metode
pengambilan keputusan dengan hasil
evaluasi penawaran yang telah di
lakukan oleh panitia pengadaan di
Direktorat Jenderal Penataan Ruang.
RUMUSAN MASALAH
Seringnya sanggahan atau keberatan
penyedia jasa terhadap panitia pengadaan
menunjukkan
adanya
rasa
ketidakpercayaan penyedia jasa karena
menganggap panitia pengadaan bersikap
subjektif dalam proses evaluasi teknis.
Untuk mencegah dan mengurangi hal
tersebut maka perlu diadakan kajian ilmiah
terhadap proses evaluasi teknis, karena
penentuan
pemenang
pelelangan
ditentukan pada tahapan evaluasi teknis
ini.
Pada sisi lain pihak panitia pengadaan
seringkali
merasa
kesulitan
dalam
melakukan penilaian dikarenakan harus
mengkuantifikasikan dokumen penawaran
teknis penyedia jasa yang bersifat kualitatif.
bila ditarik sedikit lebih kebelakang panitia
pengadaan
juga
merasa
kesulitan
melakukan pembobotan terhadap kriteriakriteria pemilihan konsultan, karena
kriteria-kriteria
pemilihan
konsultan
merupakan kriteria yang majemuk dan
kompleks, sehingga pada saat melakukan
pembobotan kriteria timbul tindakan
subjektif panitia. Kajian ini diharapkan
dapat memberikan sebuah alternatif
penyelesaian
permasalahan
panitia

62 | K o n s t r u k s i a

pengadaan dengan menggunakan metode


teknik pengambilan keputusan.
TUJUAN PENELITIAN
Adapun
tujuan
penulis
melakukan
penelitian ini adalah untuk :
1. Mengindentifikasi prosedur dan kriteria
evaluasi
proses
pengadaan
jasa
konsultansi sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang ada;
2. Mengindentifikasi prosedur dan kriteria
evaluasi
proses
pengadaan
jasa
konsultansi yang digunakan panitia
pengadaan jasa konsultansi;
3. Mengevaluasi dengan membandingkan
kriteria
yang
digunakan
panitia
pengadaan jasa konsultansi dengan
kriteria-kriteria evaluasi penawaran
pengadaan
jasa
konsultansi
berdasarkan peraturan perundangundangan yang ada dalam rangka
mencari persamaan atau perbedaan
antara kriteria panitia dengan kriteria
peraturan dan perundang-undangan
yang ada;
4. Melakukan
pembobotan
kriteria
pemilihan
konsultan
dengan
menggunakan metode AHP;
5. Membandingkan
hasil
evaluasi
penawaran yang telah dilakukan oleh
panitia dengan metode AHP dan TOPSIS.
LANDASAN TEORI
Prosedur Pengadaan Barang Dan Jasa
Pemerintah
Pelaksanaan
pengadaan
barang/jasa
pemerintah
pada
prinsipnya
harus
mengacu pada Peraturan Presiden Nomor
70 Tahun 2012 tentang perubahan kedua
atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun
2010.
Beberapa
ketentuan
tentang
prosedur pengadaan barang/jasa metode 2
(dua) sampul dengan kontrak lumpsum

KAJIAN DAN EVALUASI PEMILIHAN KONSULTAN DI LINGKUNGAN PENATAAN RUANG (Mutholib - Andreas)

yang diatur dalam Perpres No. 70 Tahun


2012 adalah sebagai berikut :
a. Metode evaluasi kualitas, metode dua
sampul yang meliputi kegiatan:
1) pengumuman prakualifikasi;
2) pendaftaran
dan
pengambilan
Dokumen Kualifikasi;
3) pemberian penjelasan (apabila
diperlukan);
4) pemasukan dan evaluasi Dokumen
Kualifikasi;
5) pembuktian kualifikasi;
6) penetapan hasil kualifikasi;
7) pemberitahuan/pengumuman hasil
kualifikasi;
8) sanggahan kualifikasi;
9) undangan;
10) pengambilan Dokumen Pemilihan;
11) pemberian penjelasan;
12) pemasukan Dokumen Penawaran;
13) pembukaan dokumen sampul I;
14) evaluasi dokumen sampul I;
15) penetapan peringkat teknis;
16) pemberitahuan/pengumuman
peringkat teknis;
17) sanggahan;
18) sanggahan
banding
(apabila
diperlukan);
19) undangan pembukaan dokumen
sampul II;
20) pembukaan dan evaluasi dokumen
sampul II;
21) undangan klarifikasi dan negosiasi;
22) klarifikasi dan negosiasi;
23) pembuatan Berita Acara Hasil
Seleksi.
b. Metode evaluasi kualitas dan biaya,
metode dua sampul yang meliputi
kegiatan:
1) pengumuman prakualifikasi;
2) pendaftaran
dan
pengambilan
Dokumen Kualifikasi;

3) pemberian penjelasan (apabila


diperlukan);
4) pemasukan dan evaluasi Dokumen
Kualifikasi;
5) pembuktian kualifikasi;
6) penetapan hasil kualifikasi;
7) pemberitahuan/pengumuman hasil
kualifikasi;
8) sanggah kualifikasi;
9) undangan;
10) pengambilan Dokumen Pemilihan;
11) pemberian penjelasan;
12) pemasukan Dokumen Penawaran;
13) pembukaan dokumen sampul I;
14) evaluasi dokumen sampul I;
15) penetapan peringkat teknis;
16) pemberitahuan/pengumuman
peringkat teknis;
17) undangan pembukaan dokumen
sampul II;
18) pembukaan dan evaluasi sampul II;
19) penetapan pemenang;
20) pemberitahuan/pengumuman
pemenang;
21) sanggahan;
22) sanggahan
banding
(apabila
diperlukan);
23) undangan klarifikasi dan negosiasi;
24) klarifikasi dan negosiasi;
25) pembuatan Berita Acara Hasil
Seleksi.
EVALUASI TEKNIS
1) Evaluasi teknis dilakukan terhadap
peserta yang memenuhi persyaratan
administrasi.
2) Unsur-unsur yang dievaluasi harus
sesuai dengan yang ditetapkan dalam
Dokumen Pemilihan.
3) Evaluasi penawaran teknis dilakukan
dengan cara memberikan nilai angka
tertentu pada setiap kriteria yang
dinilai dan bobot yang telah ditetapkan
dalam Dokumen Pemilihan, kemudian
63 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

membandingkan jumlah perolehan


nilai dari para peserta, dengan
ketentuan:
(a) unsur-unsur pokok yang dinilai
adalah: pengalaman perusahaan,
pendekatan dan metodologi, serta
kualifikasi tenaga ahli;
(b) penilaian
dilakukan
sesuai
pembobotan dari masing-masing
unsur yang telah ditentukan dalam
Dokumen Pemilihan;
(c) acuan yang digunakan untuk
pembobotan sebagai berikut:
i. pengalaman perusahaan (10
20 %);
ii. pendekatan dan metodologi
(20 40 %);
iii. kualifikasi tenaga ahli (50 70
%);
iv. jumlah (100 %);
v. penetapan
bobot
yang
digunakan untuk masingmasing unsur, dalam rentang
tersebut di atas didasarkan
pada jenis pekerjaan yang
akan dilaksanakan.
(d) untuk jasa studi analisis perlu
diberikan
penekanan
kepada
pengalaman
perusahaan
dan
pendekatan
metodologi,
sedangkan untuk jasa supervisi
dan
perencanaan
teknis,
penekanan lebih diberikan kepada
kualifikasi tenaga ahli.
4) Pengalaman Perusahaan, penilaian
dilakukan atas:
(a) pengalaman perusahaan peserta
dalam melaksanakan pekerjaan
sejenis dengan pekerjaan yang
dipersyaratkan dalam KAK untuk
10 (sepuluh) tahun terakhir;
(b) pengalaman kerja di lokasi
kegiatan mendapat tambahan nilai;

64 | K o n s t r u k s i a

(c) pengalaman tersebut diuraikan


secara
jelas
dengan
mencantumkan informasi: nama
pekerjaan yang dilaksanakan,
lingkup dan data pekerjaan yang
dilaksanakan
secara
singkat,
lokasi, pemberi tugas, nilai, dan
waktu pelaksanaan (menyebutkan
bulan dan tahun);
(d) penilaian juga dilakukan terhadap
jumlah pekerjaan yang sedang
dilaksanakan
oleh
peserta,
disamping
untuk
mengukur
pengalaman
juga
dapat
dipergunakan untuk mengukur
kemampuan/ kapasitas peserta
yang
bersangkutan
dalam
melaksanakan tugasnya;
(e) pengalaman perusahaan peserta
dilengkapi
dengan
referensi/kontrak
sebelumnya,
yang
menunjukkan
kinerja
perusahaan
peserta
yang
bersangkutan selama 10 (sepuluh)
tahun
terakhir
dan
dapat
dibuktikan kebenarannya dengan
menghubungi
penerbit
referensi/PPK/pemiik pekerjaan.
Apabila referensi dari pengguna
jasa dipersyaratkan, pengalaman
perusahaan peserta yang tidak
memiliki referensi, tidak diberi
nilai. Sub unsur yang dinilai, antara
lain:
i. pengalaman
melaksanakan
kegiatan sejenis;
ii. pengalaman melaksanakan di
lokasi kegiatan;
iii. pengalaman manajerial dan
fasilitas utama;
iv. kapasitas perusahaan dengan
memperhatikan jumlah tenaga
ahli tetap.

KAJIAN DAN EVALUASI PEMILIHAN KONSULTAN DI LINGKUNGAN PENATAAN RUANG (Mutholib - Andreas)

5) Pendekatan dan Metodologi, penilaian


dilakukan atas:
(a) pemahaman perusahaan peserta
atas
lingkup
pekerjaan/jasa
layanan yang diminta dalam KAK,
pemahaman atas sasaran/tujuan,
kualitas metodologi, dan hasil
kerja, sub unsur yang dinilai antara
lain:
i. pemahaman atas jasa layanan
yang tercantum dalam KAK,
penilaian terutama meliputi:
pengertian terhadap tujuan
kegiatan, lingkup serta jasa
konsultansi yang diperlukan
(aspek-aspek utama yang
diindikasikan dalam KAK), dan
pengenalan lapangan;
ii. kualitas metodologi, penilaian
terutama meliputi: ketepatan
menganalisa masalah dan
langkah pemecahan yang
diusulkan
dengan
tetap
mengacu kepada persyaratan
KAK,
konsistensi
antara
metodologi dengan rencana
kerja, tanggapan terhadap
KAK khususnya mengenai data
yang tersedia, uraian tugas,
jangka waktu pelaksanaan
laporan-laporan
yang
disyaratkan, program kerja,
jadwal
pekerjaan,
jadwal
penugasan, organisasi dan
kebutuhan fasilitas penunjang;
iii. hasil
kerja
(deliverable),
penilaian meliputi antara lain:
analisis, gambar-gambar kerja,
spesifikasi teknis, perhitungan
teknis, dan laporan-laporan.
(b) peserta yang mengajukan gagasan
baru yang meningkatkan kualitas
keluaran yang diinginkan dalam
KAK diberikan nilai lebih.

6) Kualifikasi Tenaga Ahli, penilaian


dilakukan atas:
(a) tenaga ahli yang diusulkan untuk
melaksanakan pekerjaan dengan
memperhatikan jenis keahlian,
persyaratan, serta jumlah tenaga
yang telah diindikasikan di dalam
KAK;
(b) sub unsur yang dinilai pada tenaga
ahli, antara lain:
i. tingkat pendidikan, yaitu
lulusan
perguruan
tinggi
negeri atau perguruan tinggi
swasta yang telah lulus ujian
negara atau yang telah
diakreditasi, atau perguruan
tinggi luar negeri yang telah
diakreditasi,
dibuktikan
dengan salinan ijazah;
ii. pengalaman kerja profesional
seperti
yang
disyaratkan
dalam KAK. Bagi tenaga ahli
yang
diusulkan
sebagai
pemimpin/wakil
pemimpin
pelaksana pekerjaan (team
leader/co team leader) dinilai
pula pengalaman sebagai
pemimpin/wakil
pemimpin
tim;
iii. sertifikat
keahlian/profesi
yang dikeluarkan oleh pihak
yang
berwenang
mengeluarkan, sesuai dengan
keahlian/profesi
yang
disyaratkan
dalam
KAK,
seperti sertifikat ahli arsitek
yang dikeluarkan oleh Ikatan
Arsitek Indonesia. Apabila
sertifikat
keahlian/profesi
dipersyaratkan, tenaga ahli
yang tidak memiliki sertifikat
keahlian/profesi, tidak diberi
nilai;
iv. lain-lain: penguasaan bahasa
Inggris, bahasa Indonesia
65 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

(bagi konsultan Asing), bahasa


setempat, aspek pengenalan
(familiarity) atas tata-cara,
aturan, situasi, dan kondisi
(custom) setempat. Personil
yang menguasai/memahami
aspek-aspek tersebut di atas
diberikan
nilai
secara
proporsional.
(c) tingkat pendidikan tenaga ahli
yang
kurang
dari
tingkat
pendidikan yang dipersyaratkan
dalam KAK diberi nilai 0 (nol).
(d) kualifikasi dari tenaga ahli yang
melebihi dari kualifikasi yang
dipersyaratkan dalam KAK tidak
mendapat tambahan nilai.
7) Hasil evaluasi teknis harus melewati
ambang batas nilai teknis (passing
grade)
yang
ditetapkan
dalam
Dokumen Pemilihan.
8) Peserta yang lulus ambang batas nilai
teknis dengan peringkat terbaik akan
diundang untuk menghadiri acara
pembukaan Dokumen Sampul II
dengan ketentuan :
(a) tidak ada sanggahan dari peserta;
(b) sanggahan terbukti tidak benar;
atau
(c) masa sanggah berakhir.
9) Apabila hanya ada 1 (satu) atau 2 (dua)
peserta yang lulus evaluasi teknis,
maka proses seleksi tetap dilanjutkan;
dan
10) Apabila tidak ada peserta yang lulus
evaluasi teknis, Seleksi dinyatakan
gagal.

66 | K o n s t r u k s i a

AHP (Analytical Hierarchy Process)


Metode Analytic Hierarchy Process (AHP)
dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada
tahun 1980 dalam bukunya The analytic
hierarchy
process.
Metode
AHP
merupakan salah satu metode yang dapat
dipakai
pada
teknis
pengambilan
keputusan dengan memperhatikan itemitem persepsi, pengalaman dan intuisi. AHP
mampu
menggabungkan
aspek-aspek
penilaian pribadi ke dalam satu cara yang
mampu dibuktikan secara ilmiah (logis).
AHP yang dikembangkan oleh Thomas L.
Saaty, dapat memecahkan masalah yang
kompleks dimana aspek atau kriteria yang
diambil cukup banyak. Juga kompleksitas
ini disebabkan oleh struktur masalah yang
belum jelas, ketidakpastian persepsi
pengambil keputusan serta ketidakpastian
tersedianya data statistic akurat bahkan
tidak ada sama sekali (Suryadi dan
Ramdhani,2002,h.131).
Menurut
Suryadi
dan
Ramdhani
(2002,h.131) kelebihan AHP dibanding
metode lain, diantaranya sebagai berikut.:
1. Struktur yang berhirarki, sebagai
konsekuensi dari kriteria yang dipilih
sampai pada subkriteria yang paling
dalam. Kriteria menjadi level kedua
setelah sasaran (goal), yakni pemilihan
alternatif. Penentuan kriteria dilakukan
berdasarkan kebijakan lembaga atau
institusi yang menyelenggarakan.
2. Memperhitungkan validitas sampai
dengan batas toleransi inkonsistensi
berbagai kriteria dan alternatif yang
dipilih oleh para pengambil keputusan.
Konsistensi setiap level diperiksa, baik
level kriteria (kriteria pemilihan)
maupun level alternatif.
3. Memperhitungkan daya tahan atau
ketahanan output analisis sensitivitas
pengambilan keputusan. Selain itu,

KAJIAN DAN EVALUASI PEMILIHAN KONSULTAN DI LINGKUNGAN PENATAAN RUANG (Mutholib - Andreas)

AHP mempunyai kemampuan untuk


memecahkan
masalah
yang
multiobjektif dan multikriteria yang
berdasar
pada
perbandingan
preferensi darisetiap elemen dalam
hirarki. Jadi, model ini merupakan
suatu model pengambilan keputusan
yang komprehensif.
Menurut
Suryadi
dan
Ramdhani
(2002,h.131-132) pada dasarnya langkahlangkah dalam metode AHP , adalah sebagai
berikut.
1. Mendefinisikan
masalah
dan
menentukan solusi yang diinginkan.
2. Membuat struktur hirarki yang diawali
dengan
tujuan
umum,kriteria/komponen yang dinilai
dan alternatif-alternatif pada tingkatan
yang paling bawah. Struktur hirarki yang
dimaksud dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Struktur Hirarki dalam AHP


3. Membuat
matriks
perbandingan
berpasangan yang menggambarkan
kontribusi relatif atau pengaruh setiap
elemen terhadap masing-masing tujuan
dan kriteria yang setingkat di atasnya.
Perbandingan dilakukan berdasarkan
judgement dari pengambil keputusan
dengan menilai tingkat kepentingan
suatu elemen dibanding elemen lainnya.
Matriks perbandingan berpasangan
dapat dilihat pada gambar 3

Gambar 3. Matriks Perbandingan


Berpasangan
4. Melakukan perbandingan berpasangan
sehingga
diperoleh
judgement
seluruhnya sebanyak n [ (n-1) /2]
buah, dengan n adalah banyaknya
elemen yang dibandingkan.
5. Apabila terdapat 5 kriteria yang
diperbandingkan maka kita harus
melakukan judgement perbandingan
berpasangan sebanyak 10 kali.
6. Menghitung nilai eigen dan menguji
konsistensinya, jika tidak konsisten
maka pengambilan data diulang.
7. Mengulangi langkah 3, 4, dan 5 untuk
seluruh tingkat hirarki.
8. Menghitung vector eigen dari setiap
matriks perbandingan berpasangan.Nilai
vector eigen merupakan bobot setiap
elemen. Langkah ini untuk mensintensis
judgement dalam penentuan prioritas
elemen-elemen pada tingkat hirarki
terendah sampai pencapaian tujuan.
9. Memeriksa konsistensi hirarki. Jika nilai
lebih dari 10 persen maka penilaian data
judgement harus diperbaiki.
Menurut
Suryadi
dan
Ramdhani
(2002,h.132-133)
secara
naluri,
manusiadapat
mengestimasi
besaran
sederhana melalui inderanya. Proses yang
paling mudah adalah membandingkan dua
hal dengan keakuratan perbandingan
tersebut dapat dipertanggung jawabkan.
Untuk itu Saaty (1980) menetapkan skala
kuantitatif 1 sampai dengan 9 untuk
menilai perbandingan tingkat kepentingan
67 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

suatu elemen terhadap elemen lain. Skala


kuantitatif menurut Saaty dapat dilihat
pada gambar 4.

Gambar 4. Skala Kuantitatif


TOPSIS (Technique For Others Reference
by Similarity to Ideal Solution)
Permasalahan pengambilan keputusan
merupakan proses pencarian opsi terbaik
dari seluruh alternative fisibel. Multiple
criteria decision making merupakan bagian
dari problem pengambilan keputusan yang
relatif kompleks, yang mengikutsertakan
beberapa orang pengambil keputusan,
dengan sejumlah kriteria yang beragam
yang harus dipertimbangkan, dan masingmasing kriteria itu memiliki nilai bobot
tertentu,
dengan
tujuan
untuk
mendapatkan solusi optimal atas suatu
permasalahan. Salah satu metode yang
digunakan untuk menangani permasalahan
ini,
adalah
Technique
for
Order
Performance by Similarity to Ideal Solution
(TOPSIS).
Metode TOPSIS dikembangkan oleh Hwang
and Yoon (1981), prinsip dasarnya adalah
alternatif yang dipilih harus memiliki jarak
terpendek dari positif solusi ideal (PIS) dan
jarak terjauh dari negatif solusi ideal (NIS).
Solusi ideal positif didefinisikan sebagai
jumlah dari seluruh nilai terbaik yang dapat
68 | K o n s t r u k s i a

dicapai untuk setiap atribut, sedangkan


solusi negatif-ideal terdiri dari seluruh nilai
terburuk yang dicapai untuk setiap atribut.
TOPSIS mempertimbangkan keduanya,
jarak terhadap solusi ideal positif dan jarak
terhadap solusi ideal negatif dengan
mengambil kedekatan relatif terhadap
solusi ideal positif.
Berdasarkan perbandingan terhadap jarak
relatifnya, susunan prioritas alternatif bisa
dicapai. Metode ini banyak digunakan
untuk
menyelesaikan
pengambilan
keputusan secara praktis. Hal ini
disebabkan konsepnya sederhana dan
mudah dipahami, komputasinya efisien,
dan memiliki kemampuan mengukur
kinerja relatif dari alternatif-alternatif
keputusan.
Berikut adalah
metode TOPSIS:
1.

langkah-langkah

dari

TOPSIS dimulai dengan membangun


sebuah matriks keputusan.
Matriks
keputusan
X
mengacu
terhadap m alternatif yang akan
dievaluasi berdasarkan n kriteria.
Matriks keputusan X dapat dilihat pada
gambar 5.

Gambar 5. Matix Keputusan X


dimana a i ( i = 1, 2, 3, . . . , m ) adalah
alternatif-alternatif yang mungkin, x j (

KAJIAN DAN EVALUASI PEMILIHAN KONSULTAN DI LINGKUNGAN PENATAAN RUANG (Mutholib - Andreas)

j = 1, 2, 3, . , n) adalah atribut dimana


performansi alternatif diukur, x ij
adalah performansi alternatif a i
dengan acuan atribut x j .

, dengan i = (1,2,3, . . . , m)

={
2.

Membuat matriks keputusan yang


ternormalisasi.
Persamaan
yang
digunakan untuk mentransformasikan
setiap elemen x ij adalah

dengan i = 1, 2, 3, . . . , m; dan j = 1, 2, 3, .
. . , n; dimana rij adalah elemen dari
matriks keputusan yang ternormalisai
R, xij adalah elemen dari matriks
keputusan X.
3.

Membuat matriks keputusan yang


ternormalisasi terbobot.
Dengan bobot wj = (w1 , w2 , w3 , . . . ,
w n ), dimana wj adalah bobot dari
kriteria ke-j dan _(j=1)^n w_j =1,
maka normalisasi bobot matriks V
adalah v_ij= w_(j ) r_ij dengan i = 1, 2,
3, . . . , m; dan j = 1, 2, 3, . . . , n. Dimana
vij adalah elemen dari matriks
keputusan yang ternormalisai terbobot
V, wj adalah bobot dari kriteria ke j, rij
adalah elemen dari matriks keputusan
yang ternormalisai R.
Menentukan matriks solusi ideal positif
dan solusi ideal negatif. Solusi ideal
positif dinotasikan A+ , sedangkan
solusi ideal negatif dinotasikan A-.
Berikut ini adalah persamaan dari A+
dan A- :

, dengan i = (1,2,3, . . . , m}

={

J = { j = 1, 2, 3, . . . , n dan J merupakan
himpunan kriteria keuntungan (benefit
criteria)}.
J = { j = 1, 2, 3, . . . , n dan J merupakan
himpunan kriteria biaya (cost criteria)}.
dimana vij adalah elemen dari matriks
keputusan yang ternormalisai terbobot V,
( j =1, 2, 3, . . . , n ) adalah elemen matriks
solusi ideal positif,
( j =1, 2, 3, . . . , n ) adalah elemen matriks
solusi ideal negatif.
5.

Menghitung separasi.
a. S+ adalah jarak alternatif dari solusi
ideal positif didefinisikan sebagai:
, dengan i =
1, 2, 3, . . . , m
S- adalah jarak alternatif dari solusi
ideal negatif didefinisikan sebagai:
, dengan i = 1,
2, 3, . . . , m
Dimana
adalah jarak alternatif
ke-i dari solusi ideal positif,
adalah jarak alternatif ke-i dari
solusi ideal negatif,
adalah elemen dari matriks
keputusan
yang
ternormalisai
terbobot V,
adalah elemen matriks solusi
ideal positif,
adalah elemen matriks solusi
ideal negatif.

69 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

6.

Menghitung kedekatan relatif terhadap


solusi ideal positif. Kedekatan relatif
dari setiap alternatif terhadap solusi
ideal positif dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan berikut :

dengan i = 1, 2, 3, . . . , m
dimana
adalah kedekatan relatif
dari alternatif ke-i terhadap solusi ideal
positif,
adalah jarak alternatif ke-i dari
solusi ideal positif,
adalah jarak alternatif ke-i dari
solusi ideal negatif.
7.
Merangking Alternatif.
Alternatif diurutkan dari nilai C+ terbesar
ke nilai terkecil. Alternatif dengan nilai C+
terbesar merupakan solusi yang terbaik.
HASIL ANALISA
Perbandingan Kriteria Evaluasi Teknis
Kriteria-kriteria evaluasi teknis yang telah
dilakukan oleh panitia pengadaan dalam
proses tender pada tahun 2009 s/d 2013
disandingkan dengan faktor penilaian
menurut Permen PU No. 07/PRT/M/2011
seperti yang terlihat pada tabel 1.
Merujuk pada tabel 1. hampir setiap tahun
terdapat perbedaan faktor-faktor penilaian
dalam meneliti dokumen pengadaan
penyedia
jasa.
Perbedaan
ini
menggambarkan bahwa setiap tahun
pandangan panitia pengadaan terhadap
peraturan perundangan yang mengatur
tentang tata cara evaluasi teknis selalu
berubah, katakanlah kriteria evaluasi untuk
fasilitas pendukung kriteria tersebut
digunakan oleh panitia pengadaan dalam

70 | K o n s t r u k s i a

rentang waktu 2009 s/d 2012 kriteria


tersebut digunakan sebagai salah satu
kriteria untuk mengukur kemampuan
penyedia jasa karena kriteria tersebut
diatur dalam peraturan akan tetapi pada
tahun 2013 kriteria tersebut tidak lagi
digunakan dalam mengukur kemampuan
penyedia jasa. Hal ini disebabkan karena
belum adanya peraturan atau pedoman
yang mengatur ketentuan dan prosedur
pengadaan barang/jasa secara jelas dan
rinci sehingga antar panitia pengadaan atau
bahkan sesama panitia pengadaan memiliki
pandangan yang sama terhadap peraturan
perundangan yang berlaku.
Menjadi sangat penting untuk diperhatikan
bahwa pedoman evaluasi dokumen
penawaran jasa konsultansi yang tertuang
dalam Peraturan Menteri PU No.
07/PRT/M/2011 tentang Petunjuk Teknis
Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012
tentang perubahan kedua atas Peraturan
Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang
Standar
dan
Pedoman
Pengadaan
Pekerjaan Konstruksi merupakan produk
peraturan yang untuk seluas-luasnya di
ketahui oleh penyedia jasa pada umumnya
dan jasa konsultansi pada khususnya, hal
tersebut menjadi dasar para penyedia jasa
untuk melakukan penawaran.
Terhadap faktor-faktor tersebut, dilakukan
penilaian
penyedia
jasa
tentang
Pengalaman perusahaan, kualitas dan
metodologi serta kualifikasi tenaga ahli
yang ditawarkan oleh penyedia jasa. Ketiga
kriteria tersebut beserta turunannya akan
dikuantifikasikan oleh panitia pengadaan
berdasarkan penilaian objektif panitia
pengadaan, selanjutnya penilaian-penilaian
tersebut akan dibobotkan sesuai dengan
bobot masing-masing faktor, setelah itu
seluruh faktor akan dijumlahkan untuk

KAJIAN DAN EVALUASI PEMILIHAN KONSULTAN DI LINGKUNGAN PENATAAN RUANG (Mutholib - Andreas)

mendapat nilai akhir dari masing-masing


penyedia jasa.
Tabel 1. Perbandingan Kriteria
Kriteria, Sub Kriteria dan Sub-sub Keriteria
PENGALAMAN PERUSAHAAN
Pengalaman Pekerjaan Sejenis
Pengalaman di Lokasi Yang Sama
Pengalaman Manajerial
Jumlah pekerjaan/tahun selama 10 tahun
Ketersediaan fasilitas utama

Peraturan

2009

2010

2011

2012

2013

Jumlah pengalaman sebagai Lead Firm


Nilai Kontrak Tertinggi

PENDEKATAN DAN METODOLOGI

Pemahaman Pekerjaan
Pemahaman tujuan
Pemahaman lingkup
Pemahaman Keluaran

Deskripsi lapangan
Kualitas Metodologi

Uraian dan Proses Pekerjaan


Uraian sub-stansi pelapor-an

Data & Analisis vs rencana kerja

Kapasitas Penyedia Jasa

Metodologi vs penugasan TA
Apresiasi Terhadap Inovasi
Kebutuhan Fasilitas Penunjang
Inovasi

Hasil kerja
Fasilitas pendukung

KUALIFIKASI TENAGA AHLI

Kesesuaian Pendidikan
Pengalaman Profesional
Profesi/Keahlian
Pengalaman Profesional Sejenis
Pengetahuan Bahasa

Perbandingan Pembobotan Kriteria


Terdapat perbedaan yang mendasar pada
pembobotan kriteria evaluasi teknis panitia
pengadaan dan penyedia jasa yaitu pada 3
(tiga)
kriteria
utama
Pengalaman
perusahaan, pendekatan dan metodologi
serta kualifikasi tenaga ahli. Pada panitia
pengadaan
pembobotan
pengalaman
perusahaan sebesar 32,1%, sedangkan
pada penyedia jasa sebesar 50,1%, dan
pendekatan metodologi sebesar 31,3%
pada panitia pengadaan sedangkan pada
penyedia jasa sebesar 26,5%, serta
perbedaan otomatis terjadi pada kriteria
kualifikasi tenaga ahli yaitu pada panitia
sebesar 36,7% sedangkan pada penyedia
jasa sebesar 23,3%. Pembobotan kriteria
evaluasi teknis pada panitia dan penyedia
jasa tergambar bahwa panitia pengadaan

hampir memandang ketiga kriteria utama


(Pengalaman perusahaan, pendekatan dan
metodologi serta kualifikasi tenaga ahli)
dengan bobot yang seimbang yang berturut
diberikan pembobotan sebesar (32,1%,
31,3%, 36,7%), hal ini berbeda dengan
penyedia jasa yang memandang bahwa
pengalaman perusahaan lebih prioritas
dibandingkan dengan kedua kriteria utama
lainnya yaitu pendekatan dan metodologi
serta kualifikasi tenaga ahli, penyedia jasa
memberikan pembobotan pada tiga kriteria
utama
(Pengalaman
perusahaan,
pendekatan
dan
metodologi
serta
kualifikasi tenaga ahli) dengan bobot yang
berturut sebesar (50,1%, 26,5%, 23,3%).
Pembobotan pada tiga kriteria utama
teralah diatur oleh peraturan maupun
pedoman pelaksanaan evaluasi teknis, yaitu
dalam rentang 10% 20% untuk
pengalaman perusahaan, 20% 40% untuk
pendekatan dan metodolodi serta 50%
70% untuk kualifikasi tenaga ahli. Akan
tetapi hasil analisis pembobotan panitia
pengadaan dan penyedia jasa berkata lain,
katakan saja untuk pengalaman perusahaan
yang diberikan rentang sebesar 10%-20%,
akan tetapi hasil analisis pembobotan
panitia
pengadaan
memberikan
pembobotan sebesar 32,1% sedangkan
penyedia jasa memberikan pembobotan
sebesar 50,1%, kedua hasil ini tidak
sependapat dengan peraturan maupun
pedoman evaluasi teknis, hasil ini
menunjukkan bahwa seharusnya pedoman
memberikan rentang pembobotan yang
lebih besar pada pengalaman perusahaan.
Disisi lain pada kualifikasi tenaga ahli
peraturan dan pedoman evaluasi teknis
memberikan rentang sebesar 50%-70%,
akan tetapi hasil analisis pembobotan
panitia pengadaan dan penyedia jasa
memberikan pembobotan sebesar 36,7%

71 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

untuk panitia pengadaan dan 23,3% untuk


penyedia jasa, kedua hasil ini juga
menunjukkan perbedaan pandangan antara
peraturan dan pelaku jasa konsultansi
dilapangan yang berpendapat bahwa
peraturan dan pedoman evaluasi teknis
memberikan pembobotan yang terlalu
besar seharusnya kualifikasi tenaga ahli
diberikan pembobotan yang lebih kecil.
Tabel 2.
Kriteria

Perbandingan

Pembobotan

dan penyedia jasa berturut-turut yaitu


sebesar 31,3% dan 26,5%, hal ini
menunjukkan
sependapatnya
panitia
pengadaan dan penyedia jasa dengan
peraturan dan pedoman evaluasi teknis
pada pendekatan dan metodologi yang
diberi rentang sebesar 20%-40%. Seperti
yang terlihat pada tabel 2.
HASIL ANALISIS PERINGKAT TEKNIS
DENGAN METODE AHP-TOPSIS VERSI
PANITIA PENGADAAN

Berdasarkan analisis peringkat teknis yang


dilakukan dengan metode AHP-TOPSIS
bahwa telah terjadi perbedaan peringkat
antara perhitungan metode AHP-TOPSIS
dengan
fakta
perhitungan
panitia
dilapangan.

Disamping dua perbedaan pandangan pada


pembobotan
dua
kriteria
utama
(Pengalaman perusahaan dan kualifikasi
tenaga ahli) yang telah digambarkan diatas,
terdapat satu kriteria utama (pendekatan
dan metodologi) yang antara peraturan dan
pedoman serta panitia pengadaan dan
penyedia jasa berpandangan sama yaitu
rentang pembobotan yang diberikan pada
pedoman dan peraturan evaluasi teknis
pada pendekatan dan metodologi sebesar
20%40%, hal ini sesuai dengan hasil
analisis pembobotan panitia pengadaan

72 | K o n s t r u k s i a

Pada tahun 2009 terjadi 18,33%


perubahan peringkat

Pada tahun 2010 terjadi 36,36%


perubahan peringkat

Pada tahun 2011 terjadi 10,81%


perubahan peringkat

Pada tahun 2012 terjadi 37,18%


perubahan peringkat

Pada tahun 2013


perubahan peringkat

terjadi

8,16%

*
Prosentase
diatas
dihitung
berdasarkan perubahan peringkat metode
AHP-TOPSIS versi panitia pengadaan
terhadap fakta lapangan dibagi dengan
jumlah penyedia jasa yang diteliti.

Bila dirata-rata maka perubahan peringkat


selama 5 (lima) tahun terakhir sebesar

KAJIAN DAN EVALUASI PEMILIHAN KONSULTAN DI LINGKUNGAN PENATAAN RUANG (Mutholib - Andreas)

22,17%. Detail perubahan peringkat dapat


dilihat pada tabel 3 dan tabel 4 dibawah ini:

Pada tahun 2013


perubahan peringkat

Tabel 3. Perubahan Per Tahun Anggaran


Versi Panitia Pengadaan

*
Prosentase
diatas
dihitung
berdasarkan perubahan peringkat metode
AHP-TOPSIS versi panitia pengadaan
terhadap fakta lapangan dibagi dengan
jumlah penyedia jasa yang diteliti.

Tabel 4. Perubahan Per Peringkat Per


Tahun Anggaran Versi Panitia Pengadaan

terjadi

26,53%

Bila dirata-rata maka perubahan peringkat


selama 5 (lima) tahun terakhir sebesar
36,39%. Detail perubahan peringkat dapat
dilihat pada tabel 5 dan tabel 6 dibawah ini:
Tabel 5. Perubahan Per Tahun Anggaran
Versi Penyedia Jasa

Hasil Analisis Peringkat Teknis Dengan


Metode Ahp-Topsis Versi Penyedia Jasa

Tabel 6. Perubahan Per Peringkat Per


Tahun Anggaran Versi Panitia Pengadaan

Berdasarkan analisis peringkat teknis yang


dilakukan dengan metode TOPSIS bahwa
perubahan atau perbedaan peringkat
antara perhitungan metode AHP-TOPSIS
dengan
fakta
perhitungan
panitia
dilapangan juga terjadi pada versi penyedia
jasa, berikut adalah prosentase perubahan
peringkat yang terjadi :
Pada tahun 2009
perubahan peringkat

terjadi

45,00%

Pada tahun 2010


perubahan peringkat

terjadi

43,18%

Pada tahun 2011


perubahan peringkat

terjadi

10,81%

Pada tahun 2012


perubahan peringkat

terjadi

56,41%

73 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

KESIMPULAN
Penelitian ini menggambarkan bahwa
adanya perbedaan yang mendasar antara
peraturan perundangan yang ada dengan
fakta lapangan yang terjadi sehingga
menimbulkan hasil yang bias yang dapat
diragukan tingkat keabsahannya, hal ini
menjadi sangat mudah terjadi apabila tidak
ada peraturan ataupun pedoman yang
mengatur secara rinci dan jelas tentang
sesuatu yang teknis pada umumnya dan
pada evaluasi teknis pada khususnya.
Perbedaan-perbedaan mendasar tersebut
antara lain :
1. Perbedaan kriteria;
Bila kita sandingkan antara fakta
lapangan
dengan
peraturan
perundangan yang ada seperti yang
terlihat pada Tabel 1. Perbandingan
Kriteria dengan Faktor Penilaian
Menurut
Permen
PU
No.
07/PRT/M/2011, perbedaan tersebut
lebih kepada penambahan kriteria
minimal sebagaimana yang telah diatur
oleh Permen PU No. 07/PRT/M/2011.
Pada dasarnya penambahan kriteria
sah-sah saja akan tetapi hal ini dapat
menjadi pertanyaan terutama penyedia
jasa jika penambahan kriteria tersebut
berubah-ubah setiap tahunnya. Dengan
adanya penelitian ini diharapkan dapat
membantu panitia pengadaan dalam
menentukan
kriteria
sekaligus
membantu penyedia jasa agar dapat
menilai perusahaan mereka sendiri
sebelum menentukan paket kegiatan
yang diminati.
2. Perbedaan Pembobotan;
Pembobotan kriteria evaluasi teknis
menjadi suatu hal yang tidak kalah
penting dibandingkan dengan kriteria
74 | K o n s t r u k s i a

evaluasi teknis itu sendiri, seperti


halnya
kriteria
evaluasi
teknis
perbedaan pembobotan ini terjadi pula
dikarenakan tidak detailnya peraturan
perundangan yang mengatur tentang
pemilihan konsultan terlebih pada
evaluasi teknis. Menjadi sangat penting
apabila terdapat penelitian tentang
pembobotan kriteria evaluasi teknis
karena hal ini dapat menjadi masukan
kepada seluruh stakeholder yang ada
dalam lingkungan jasa konsultansi, baik
itu panitia pengadaan, penyedia jasa
maupun pemerintah sebagai bahan
masukan dalam menyempurnakan
peraturan maupun pedoman tentang
pemilihan konsultan yang berlaku saat
ini.
Sebagai turunan dari kedua perbedaan
mendasar diatas, yaitu perbedaan
kriteria dan perbedaan pembobotan
lahirlah perbedaan peringkat teknis.
Selama ini panitia pengadaan dalam
meneliti dokumen penawaran penyedia
jasa tidak menggunakan metode yang
ilmiah yang telah teruji tingkat ke-validannya dan telah diakui didunia
akademisi, oleh sebab itu setelah diuji
dengan metode teknik pengambilan
keputusan peringkat teknis yang telah
digunakan panitia pengadaan menjadi
berubah. Hal ini perlu menjadi
perhatian, mengingat setiap tahunnya
panitia pengadaan memilih penyedia
jasa pemenang berdasarkan hasil
penelitian mereka terhadap dokumen
penawaran penyedia jasa, disamping itu
metode ilmiah dapat juga mengurangi
tindakan subjektif panitia pengadaan
yang dikarenakan oleh tidak adanya
peraturan yang mengatur pembobotan
evaluasi teknis yang jelas. Maka dari itu
penelitian ini diharapkan dapat
membantu panitia pengadaan dalam

KAJIAN DAN EVALUASI PEMILIHAN KONSULTAN DI LINGKUNGAN PENATAAN RUANG (Mutholib - Andreas)

menentukan konsultan yang tepat dan


berkompeten sesuai dengan harapan
pengguna jasa.

implementasi konsep pengambilan


keputusan, PT. Remaja Rosdakarya,
Bandung.

PUSTAKA
1. Hwang, C. L., & Yoon, K. (1981). Multiple
attribute decision making: Methods and
applications. New York: SpringerVerlag.
2. Kementerian Pekerjaan Umum (2011),
Peraturan Menteri PU No. 07/ PRT /M/
2011 tentang Standar dan Pedoman
Pengadaan Pekerjaan Konstruksi dan
Jasa Konsultansi, Jakarta.
3. Kementerian Pekerjaan Umum (2011),
Peraturan
Menteri
PU
No:
13/SE/M/2011 tentang Pelaksanaan
Pemilihan Penyedia Barang/ Jasa
Pemerintah Secara Elektronik (eProcurement), Jakarta.
4. Lembaga
Kebijakan
Pengadaan
Barang/Jasa
Pemerintah
(2012),
Peraturan Kepala LKPP No. 14 Tentang
Petunjuk Teknis Peraturan Presiden
Nomor 70 Tahun 2012 Tentang
Perubahan Kedua Atas Peraturan
Presiden Nomor 54 Tahun 2010
Tentang
Pengadaan
Barang/Jasa
Pemerintah, Jakarta.
5. Pemerintah Repubik Indonesia (2010),
Peraturan Presiden No. 54 Tentang
Pengadaan barang/jasa pemerintah,
Jakarta.
6. Pemerintah Republik Indonesia (2012),
Peraturan Presiden No. 70 Tahun 2012
Tentang Perubahan Kedua Atas
Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun
2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah, Jakarta.
7. Saaty, Thomas. L, (1980), The analytic
hierarchy process, McGraw-Hill, New
York.
8. Suryadi, K dan Ramdhani, M.A, (2002),
Sistem Pendukung Keputusan : Suatu
wacana
struktur
idealisasi
dan
75 | K o n s t r u k s i a

PENGARUH VARIASI PANJANG SAMBUNGAN LAS TERHADAP KAPASITAS KUAT TARIK (Abdul - Adi)

PENGARUH VARIASI PANJANG SAMBUNGAN LAS


TERHADAP KAPASITAS KUAT TARIK BAJA TULANGAN
Abdul Rokhman
Dosen Jurusan Teknik Sipil, Sekolah Tinggi Teknik PLN
email : abdul_sipsttpln@yahoo.com
Adi Supriatna
Jurusan Teknik Sipil, Sekolah Tinggi Teknik - PLN

ABSTRAK : Pada proses suatu konstruksi bangunan sering menggunakan adanya sambungan tulangan baja
terutama untuk struktur dari beton bertulang. Sambungan yang sudah umum dilakukan yaitu dengan
memakai sambungan lewatan dengan mengikuti aturan panjang lewatan sebesar 14D dari tulangan yang
dipakai. Dengan pemasangan sambungan seperti ini berakibat akan terjadi pemborosan tulangan yang
dipakai sebagai akibat adanya panjang lewatan tersebut. Alternatif sambungan yang dipakai yaitu dengan
pengelasan antara tulangan baja yang disambung.
Penelitian ini menggunakan tiga buah model untuk setiap sampel panjang pengelasan. Variasi panjang
pengelasan yang digunakan masing masing bernilai 6 cm, 8 cm,, 10 cm, 12 cm, 16 cm, 20 cm dan tulangan
referensi dengan tanpa sambungan. Pengujian yang dilakukan dengan menggunakan beban statis terpusat
pada tengah bentang dengan memberikan kekangan pada kedua ujung tumpuannya. Hasil pengujian
menunjukkan bahwa hampir semua benda uji menunjukkan daerah leleh terjadi pada daerah tulangan
utuhnya bukan pada sambungan las namun ada satu benda uji yaitu pada panjang pengelasan 6 cm
mengalami kegagalan pada sambungan lasnya.
Kata kunci : Sambungan Las, Kapasitas Tarik Baja Tulangan

ABSTRACT: In the construction process of a building often use the presence of steel reinforcement connection
especially for reinforced concrete structures . The connection is already commonly done is by using the
connection throughput by following the rules of long passes 14D of reinforcement used . With this kind of
connection would result in wastage of reinforcement is used happens as a result of the lap splices . Alternative
connections are used by welding between steel reinforcement to be joined.This study uses three models for
each sample length welding . Variations in length are used welding each worth 6 cm , 8 cm , 10 cm , 12 cm , 16
cm , 20 cm and reinforcement without reference to the connection . Tests were performed using a static load
concentrated at midspan to provide restraints on both ends of the pedestal . The results show that almost all
the area of the test specimen showed melting occurs in areas not on the reinforcement intact but there is a
weld test specimen is at 6 cm length of weld failure on welding connection .
Keywords: Weld connection, tension strength of rebar

LATAR BELAKANG
Pada proses suatu konstruksi bangunan
sering digunakan sambungan tulangan baja
terutama untuk struktur yang terbuat dari
beton bertulang. Elemen struktur yang

sering dijumpai adanya sambungan


tulangan di daerah tengah bentang
misalnya pada elemen struktur kolom, dan
dinding geser. Sambungan yang sudah
umum dilakukan yaitu dengan memakai
77 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

sambungan lewatan dengan mengikuti


aturan panjang lewatan sebesar 14D dari
tulangan yang dipakai. Dengan pemasangan
sambungan seperti ini berakibat akan
terjadi pemborosan tulangan yang dipakai
sebagai akibat adanya panjang lewatan
tersebut. Alternatif sambungan yang
dipakai yaitu dengan pengelasan antara
tulangan baja yang disambung. Pengelasan
dilakukan dengan memberikan alat
sambung tulangan dengan panjang tertentu
dan diameter yang sama dengan tulangan
yang disambung dengan memanfaatkan
sisa dari pemotongan tulangan yang ada
sehingga dapat mengurangi waste tulangan.
TINJAUAN PUSTAKA
Panjang Penyaluran
Menurut SNI 03-2847-2002 Pasal 3.36,
yang dimaksud dengan panjang penyaluran
adalah panjang tulangan tertanam yang
diperlukan untuk mengembangkan kuat
rencana tulangan pada suatu penampang
kritis. SNI 03-2847-2002 Pasal 14.2.1
menyatakan panjang penyaluran ld,
dinyatakan dalam diameter db untuk
batang ulir dan kawat ulir dalam kondisi
tarik, harus ditentukan sesuai Tabel 1 atau
Persamaan 2.1, tetapi ld tidak boleh kurang
dari 300 mm. Untuk batang ulir atau kawat
ulir, l_d/d_b harus diambil:
. (2.1)
Dengan nilai

tidak boleh lebih besar

dari 2,5.
(2.2)

78 | K o n s t r u k s i a

Tabel 1 Panjang penyaluran batang ulir ulir


(SNI 03-2847-2002 Pasal 14.2.2 )
Batang D-19 dan
lebih kecil atau
kawat ulir

Batang D-22
atau lebih
besar

Spasi bersih batangbatang yang disalurkan


atau disambung tidak
kurang dari db, selimut
beton bersih tidak kurang
dari db, dan sengkang
atau sengkang ikat yang
dipasang melingkupi ld
tidak
kurang
dari
persyaratan
minimum
sesuai peraturan atau
spasi
bersih
batangbatang yang disalurkan
atau disambung tidak
kurang dari 2db dan
selimut beton bersih
tidak kurang dari db.
Kasus-kasus lain

Sambungan Lewatan
Menurut SNI 03-2847-2002 Pasal 14.15.1,
panjang minimum sambungan lewatan
tulangan tarik diambil berdasarkan
persyaratan kelas yang sesuai tetapi tidak
kurang dari 300 mm. Ketentuan masingmasing kelas sambungan tersebut adalah :
Sambungan Kelas A .. 1,0 ld
Sambungan Kelas B .. 1,3 ld
ld adalah panjang penyaluran tarik untuk
kuat leleh fy.
Thompson et.al. (2003) melakukan
penelitian tentang pengaruh sambungan
lewatan tulangan tarik dengan tipe
tulangan berkepala pada ujungnya (headed
reinforcement) yang diterapkan pada balok.
Penelitian ini memfokuskan pengaruh
variasi pada ukuran / bentuk kepala
tulangan, panjang lewatan, jarak (spasi Sb)
antar tulangan, konfigurasi lewatan
tulangan dan tipe pengekangan pada
daerah sambungan.

PENGARUH VARIASI PANJANG SAMBUNGAN LAS TERHADAP KAPASITAS KUAT TARIK (Abdul - Adi)

Gambar 1 Konfigurasi sambungan lewatan


(Thompson et.al. 2003)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
semakin besar nilai panjang lewatan yang
digunakan akan memperbesar kapasitas
momen lentur yang terjadi. Semakin kecil
spasi tulangan yang terpasang akan
menurunkan kapasitas dari sambungan.
Bentuk dan ukuran kepala tulangan tidak
mempengaruhi
mekanisme
transfer
tegangan (Gambar 1).

Sambungan Las
Salmon G dan Jhonson E., (1994) Proses
Pengelasan adalah proses penyambungan
bahan yang menghasilkan peleburan bahan
dengan memanasinya hingga suhu yang
tepat dengan atau tanpa pemberian tekanan
dan dengan atau tanpa pemakaian bahan
pengisi. Empat jenis las yang umum adalah
las tumpul, sudut, baji ( slot ), dan pasak (
plug ). Setiap jenis las memiliki keuntungan
tersendiri yang menentukan jangkauan
pemakaiannya. Secara kasar, persentase
pemakaian keempat jenis tersebut untuk
kontruksi las adalah sebagai berikut : Las
Tumpul 15 %, Las Sudut 80 %, dan sisanya
terdiri dari las baji, las pasak dan las khusus
lainnya.
Kemungkinan pengelasan baja beton
tergantung dari komposisi kimia baja.
Dalam hal ini unsur karbon memainkan
peranan penting tetapi tidak menentukan
sifat-sifat mekanis baja. Bila kadar karbon
menanjak, maka kuat tarik menurun tetapi
kegetasan baja akan naik pula. Selain unsur

karbon (C) unsur-unsur yang lain juga


mempengaruhi perubahan struktur. Unsurunsur ini adalah : Mangan (Mn), Nikel (Ni),
Molibden (Mo), Vanadium (V), Tembaga
(Cu), dan Khrom (Cr).
Menurut Welding Handbook, Proses
Pengelasan adalah proses penyambungan
bahan yang menghasilkan peleburan bahan
dengan memanasinya hingga akan yang
tepat dengan atau tanpa pemberian
tekanan dan dengan atau tanpa pemakaian
bahan pengisi. Beberapa proses pengelasan
dipakai khusus untuk logam dan
dipengaruhi oleh ketebalan. Macam-macam
proses pengelasan adalah sebagai berikut:
Bidang Las Efektif
Luas Bidang Efektif Las Tumpul atau Sudut
sama dengan hasil kali tebal efektif tedan
panjang las. Dimensi tebal efektif las sudut
adalah jarak nominal terpendek dari titik
siku ke muka las. Dengan menganggap las
sudut memiliki panjang kaki nominal yang
sama dengan a, tebal efektif te. adalah 0,707
a. Pembatasan pada ukuran dan panjang las
sudut
maksimum
dan
minimum
berhubungan
dengan
pertimbangan
perencanaan praktis. Syarat tersebut
berkaitan dengan ukuran las yang
sesungguhnya dibuat. Namun bila kita
meninjau kekuatan, ukuran las tentunya
tidak boleh direncanakan dengan tegangan
yang lebih besar dari tegangan ijin bahan
dasar didekatnya.
METODOLOGI PENELITIAN
Bahan Penelitian
1. Baja Tulangan yang digunakan terdiri
dari baja berdiameter 10 mm polos.
2. Sambungan yang digunakan dengan
diameter tulangan yang sama dengan
tulangan yang disambung.
3. Metode
pengelasan
dengan
menggunakan las listrik.
Pelaksanaan Penelitian
1. Persiapan meliputi pengadaan bahan
dan persiapan peralatan yang akan
digunakan untuk pembuatan benda uji.
2. Pemotongan benda uji untuk sambungan
yang akan di las antara lain untuk
79 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

panjang sambungan 6 cm, 10 cm, 12 cm,


16 cm, 20 cm.
3. Pengujian tarik baja dengan pengujian
tarik baja dilakukan untuk mengetahui
secara pasti kuat tarik baja yang akan
dipakai sebagai tulangan.
4. Pengelasan benda uji sesuai dengan
variasi panjang yang telah ditentukan.

pengamatan terlihat benda uji putus di


daerah tengah panjang benda uji seperti
yang ditunjukkan gambar 3.

Gambar 3 Hasil pengujian tarik benda uji


tanpa sambungan

Gambar 2. Benda uji dengan variasi panjang


pengelasan

HASIL PENELITIAN
Hasil Pengujian Benda Uji
Dari hasil pengujian didapatkan bahwa
bendaa uji tulanganbaja
yang dipakai
mempunyai tegangan leleh adalah seperti
yang tercantum dalam tabel 2.
Tabel 2 Hasil pengujian kuat tarik baja
tulangan
(benda uji tanpa sambungan)
P
leleh

P
putus

(N)

(N)

29000

44000

28000

29000

Benda
uji

Tegangan
Leleh

Tegangan
Putus

(MPa)

(MPa)

78,5

369,4

560,5

42000

78,5

356,7

535,0

43000

78,5

369,4

547,8

365,1

547,8

Nilai rata-rata

A
(mm2)

Hasil pengujian tarik tulangan utuh tanpa


sambungan, maka didapatkan tegangan
leleh rata-rata 365,1 MPa dan tegangan
putus rata-rata
547,8 MPa. Dari

80 | K o n s t r u k s i a

Pada pengujian benda uji yang divariasikan


sambungan, untuk panjang variasi 6 mm
dari ketiga benda uji
menunjukkan
tegangan leleh terjadi pada nilai 369 MPa,
sedangkan tegangan putusnya untuk dua
benda uji terjadi pada nilai 535 MPa, dan
satu benda uji memiliki tegangan putus
sebesar 471 MPa. Adanya perbedaan
tegangan putus ini dikarenakan oleh terjadi
kegagalan atau terlepasnya lasan pada
sambungan.
Peristiwa
ini
terjadi
dikarenakan kekuatan las dengan panjang
sambungan sebesar 6 mm sudah mendekati
kekuatan kuat putus baja tulangannya.
Sedang untuk dua benda uji lainnya terjadi
putus pada bahan dasarnya artinya
kekuatan sambungan las lebih besar dari
kuat bahan dasarnya.
Tabel 3 Hasil pengujian kuat tarik baja
tulangan
(variasi sambungan 6 cm)
P
leleh

P
putus

(N)

(N)

29000

42000

29000

29000

Benda
uji

Tegangan
Leleh

Tegangan
Putus

(MPa)

(MPa)

78,5

369

535

42000

78,5

369

535

37000

78,5

369

471 *)

369

535

Rata-rata

A
(mm2)

*) Benda uji ke tiga mengalami


putus pada sambungan las.

PENGARUH VARIASI PANJANG SAMBUNGAN LAS TERHADAP KAPASITAS KUAT TARIK (Abdul - Adi)

Gambar 4 Hasil pengujian tarik benda uji


variasi sambungan 6 cm
Pada pengujian benda uji variasi panjang
sambungan 8 cm, dari hasil pengujian
pengujian menunjukkan tegangan leleh
rata-rata terjadi pada 365 MPa dan
tegangan putus rata-rata terjadi pada nilai
535 MPa. Pada pengujian ini semua benda
uji putus pada material dasar, karena
kekuatan las dengan panjang sambungan 8
cm mempunyai kekuatan yang lebih besar
dengan kuat putus bahan dasarnya.
Tabel 4 Hasil pengujian kuat tarik baja
tulangan
(variasi panjang sambungan 8 cm)
P
leleh

P
putus

(N)

(N)

29000

42000

28000

29000

Benda
uji

Tegangan
Leleh

Tegangan
Putus

(MPa)

(MPa)

78,5

369

535

42000

78,5

357

535

42000

78,5

369

535

365

535

Rata-rata

A
(mm2)

pengujian tegangan leleh rata-rata terjadi


pada nilai 365 MPa dengan tegangan putus
rata-rata 539,3 MPa. Pada pengujian ini,
semua benda uji putus pada material dasar,
hal ini dikarenakan kekuatan sambungan
dengan panjang pengelasan sebesar 10 cm
sudah melebihi dari kekuatan putus dari
bahan dasarnya. Dari gambar 6 terlihat
bahwa dua dari tiga benda uji mengalami
putus pada bahan dasar di daerah tepi
sambungan lasnya. Hal ini disebabkan
karena adanya konsentrasi tegangan yang
sangat besar terjadi di daerah tepi
sambungan las tersebut.
Tabel 5 Hasil pengujian kuat tarik baja
tulangan
(variasi sambungan 10 cm)
P
leleh

P
putus

(N)

(N)

28000

43000

29000

29000

Benda
uji

Tegangan
Leleh

Tegangan
Putus

(MPa)

(MPa)

78,5

357

548

42000

78,5

369

535

42000

78,5

369

535

365

539,3

Rata-rata

A
(mm2)

Gambar 6 Hasil pengujian tarik benda uji


variasi sambungan 10 cm

Gambar 5 Hasil pengujian tarik benda uji


variasi sambungan 8 cm
Pada pengujian benda uji dengan variasi
panjang pengelasan 10 cm, dari hasil

Pada pengujian benda uji dengan variasi


panjang pengelasan 12 cm, dari hasil
pengujian tegangan leleh rata-rata terjadi
pada nilai 369 MPa dengan tegangan putus
rata-rata 535 MPa. Pada pengujian ini,
semua benda uji putus pada material dasar,
hal ini dikarenakan kekuatan sambungan
dengan panjang pengelasan sebesar 12 cm
81 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

sudah melebihi dari kekuatan putus dari


bahan dasarnya.
Tabel 6 Hasil pengujian kuat tarik baja
tulangan
(variasi panjang sambungan 12 cm)
Benda
uji

P
leleh

P
putus

A
(mm2)

Tegangan
Leleh

Tegangan
Putus

(MPa)

(MPa)

(N)

(N)

29000

42000

78,5

369

535

29000

42000

78,5

369

535

29000

42000

78,5

369

535

369

535

Rata-rata

Tabel 7 Hasil pengujian kuat tarik baja


tulangan
(variasi panjang sambungan 16 cm)
P
leleh

P
putus

(N)

(N)

29000

42000

29000

29000

Benda
uji

Tegangan
Leleh

Tegangan
Putus

(MPa)

(MPa)

78,5

369

535

41000

78,5

369

522

41000

78,5

369

522

369

526,3

Rata-rata

A
(mm2)

Gambar 8 Hasil pengujian tarik baja benda


uji variasi panjang sambungan 16 cm

Gambar 7 Hasil pengujian tarik benda uji


variasi sambungan 12 cm

Pada pengujian benda uji dengan variasi


panjang pengelasan 16 cm, dari hasil
pengujian tegangan leleh rata-rata terjadi
pada nilai 369 MPa dengan tegangan putus
rata-rata 526,3 MPa. Pada pengujian ini,
semua benda uji putus pada material dasar,
hal ini dikarenakan kekuatan sambungan
dengan panjang pengelasan sebesar 16 cm
sudah melebihi dari kekuatan putus dari
bahan dasarnya.

82 | K o n s t r u k s i a

Pada pengujian benda uji dengan variasi


panjang pengelasan 20 cm, dari hasil
pengujian tegangan leleh rata-rata terjadi
pada nilai 369,3 MPa dengan tegangan
putus rata-rata 539,3 MPa. Pada pengujian
ini, semua benda uji putus pada material
dasar, hal ini dikarenakan kekuatan
sambungan dengan panjang pengelasan
sebesar 20 mm sudah melebihi dari
kekuatan putus dari bahan dasarnya. Dari
gambar 9 terlihat bahwa semua mengalami
putus pada bahan dasar dengan posisi
putus jauh tepi sambungan lasnya. Hal ini
disebabkan karena pengaruh kekuatan
sambungan las yang besar sehingga
konsentrasi tegangan berada jauh dari titik
sambuungan.

PENGARUH VARIASI PANJANG SAMBUNGAN LAS TERHADAP KAPASITAS KUAT TARIK (Abdul - Adi)

Tabel 8 Hasil pengujian kuat tarik baja


tulangan
(variasi panjang sambungan 20 cm)
Benda
uji

P
leleh

P
putus

A
(mm2)

Tegangan
Leleh

Tegangan
Putus

(MPa)

(MPa)

(N)

(N)

30000

43000

78,5

382

535

29000

42000

78,5

369

548

28000

43000

78,5

357

535

369,3

539,3

2.

3.

4.

Rata-rata

5.

6.

Gambar 9 Hasil pengujian tarik benda uji


variasi sambungan 20 cm

(Berdasarkan SNI 03- 1729-2002,


Penerbit Erlangga Jakarta.
Charles G. Salmon , Jhon E Jhonson,
Wira , 1990 , Desain dan Perilaku ,
Erlangga , Jakarta
Chu- Kia Wang , Charles G. Salmon ,
Binsar Hariandja. 1989 , Desain Beton
Bertulang Edisi Keempat Erlangga ,
Jakarta .
James M Gere, Stephen P Timoshenko ,
Hans J Wospakrik , 1987 , Mekanika
Bahan, Edisi Kedua Versi Si Erlangga ,
Jakarta
Purwono, R. dkk. (2007, Tata Cara
Perhitungan Struktur Beton untuk
Bangunan Gedung (SNI 03-2847-2002)
Dilengkapi Penjelasan (S-2002) .
ITSpress.
Thompson M.K. et all, 2003, Anchorage
Behavior of Headed Reinforcement,
Research Report 1855-3, Center For
Transportation Research Bereau of
Engineering Research The University of
Texas at Austin.

KESIMPULAN
1. Hasil pengujian kuat tarik baja
tulangan
, menunjukkan bahwa mutu
baja yang digunakan dalam penelitian ini
mempunyai nilai tegangan leleh fy =
365,1 MPa dan fu = 547,8 MPa. .
2. Variasi panjang sambungan las 6 cm
menghasilkan kekuatan sambungan las
sudah mendekati kekuatan bahan
dasarnya.
3. Variasi panjang sambungan las 20 cm
benda uji akan mengalami putus pada
titik yang jauh terhadap posisi
sambungan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Agus Setiawan, 2008, Perencanaan
Struktur Baja dengan Metode LRDF
83 | K o n s t r u k s i a

STUDI PENGARUH JARAK TIANG PANCANG PADA KELOMPOK TIANG (Dona Haryo K)

STUDI PENGARUH JARAK TIANG PANCANG PADA KELOMPOK TIANG


TERHADAP PERUBAHAN DIMENSI PILE CAP
Dona Dwi Saputro
Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta
email : donadwisaputro@gmail.com
Haryo Koco Buwono
Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta
email: haryo@antisintesa.com

ABSTRAK : Pile cap adalah suatu elemen struktur yang menyatukan satu atau beberapa pondasi tiang
terhadap kolom atau elemen struktur lain di atasnya. Pile cap berfungsi menerima beban dari kolom yang
kemudian disebarkan ke tiang pancang. Dalam suatu perencanaan, pile cap memiliki beragam bentuk
modelisasi. Pada suatu pekerjaan pondasi, bentuk pile cap akan berbeda tergantung dari jumlah tiang
pancang yang dikelompokkan dalam satu pile cap. Pondasi merupakan bagian bangunan yang
menghubungkan bangunan dengan tanah, yang menjamin kestabilan bangunan terhadap berat sendiri,
beban berguna dan gaya-gaya luar terhadap gedung seperti tekanan angin dan gempa bumi, menurut Heinz
Frick, 2001.
Berdasarkan analisis perhitungan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara jarak
antar tiang 2D, 2,5D dan 3D dengan tebal pile cap, menunjukkan grafik linear. Persamaan Korelasi antara
Tebal Pile Cap dan jarak antar tiang dengan trend Linear Negatif. Berdasarkan analisis, rumusan yang
dihasilkan tPC = -23,571(Lt) + 1371,4 untuk 3 pile, sedang untuk 6 pile adalah tPC = -25(Lt) +1375, dimana tPC
adalah tebal pile cap, dan Lt adalah Jarak antar tiang. Analisis pengaruh jarak antar tiang pancang terhadap
luasan pile cap, disimpulkan bahwa semakin panjang jarak antar tiang, luasan pile cap akan semakin besar.
Pada analisis pengaruh jarak antar tiang pancang terhadap tebal pile cap, disimpulkan bahwa semakin
panjang jarak antar tiang, tebal pile cap akan semakin kecil.
Kata kunci : pile cap, tiang pancang, kelompok tiang, jarak antar tiang

ABSTRACT: Pile cap is an element of the structure which unites one or several columns or pillars foundation
of the elements of another structure on it.And serves to receive a stamp from the then whispered in piles.In a
planning, pile cap models have various shapes. On a foundation work the pile cap would be different
depending on the number of piles are grouped in one pile cap. Are the foundations of buildings that connects
building with the ground that ensures stability, a building on its own weight the use and many forces outside
the building as the wind an earthquake, and the frick, heinz 2001.
Based on the analysis that has been done can be concluded that the relationship between the gap between the
2D, 2,5D and 3D with thick pile cap, showing graphically the linear.A correlation between thick pile cap and a
linear distance between the negative trend. Based on the analysis, the act that results tPC = -23,571 (Lt) +
1371,4 for 3 piles, and tPC = -25 (Lt) + 1375 for 6 piles, where the tpc is thick pile cap, and Lt the gap between
the pile. The analysis between gap the piles against area pile cap, conclude that the long distance between the
pile cap the huge area. In an analysis of the gap between piles against the thick pile cap, conclude that the
long distance between the tree thick pile cap getting smaller.
Keywords: pile cap, pile, pile group, gap of pile

85 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

LATAR BELAKANG
Pile cap adalah suatu elemen struktur yang
menyatukan satu atau beberapa pondasi
tiang terhadap kolom atau elemen struktur
lain di atasnya. Pile cap berfungsi
menerima beban dari kolom yang
kemudian disebarkan ke tiang pancang.
Dalam suatu perencanaan, pile cap
memiliki beragam bentuk modelisasi. Pada
suatu pekerjaan pondasi, bentuk pile cap
akan berbeda tergantung dari jumlah tiang
pancang yang dikelompokkan dalam satu
pile cap. Pada studi kasus ini, ditemukan
bentuk pile cap yang berbeda sesuai
dengan kebutuhan jumlah tiang pancang
dalam satu pile cap dan juga adanya
perbedaan jarak antar tiang dalam satu pile
cap terhadap pile cap lainnya.

Pondasi merupakan suatu komponen yang


memiliki fungsi sebagai kekuatan struktur
ke zona yang berdekatan dengan tanah atau
batuan
(Geotechnical
Engineering
Foundation Design John N. Cernica).
Pondasi atau pandemen ialah suatu
konstruksi, guna menjamin kedudukan
bangunannya. Pandemen meneruskan
berat bangunan dengan muatan-muatannya
kepada tanah dibawahnya (Iman Subarkah,
1956 : 70).
Pile Cap/Kepala Tiang
Pile cap merupakan pelat beton bertulang
yang digunakan untuk menyalurkan beban
konstruksi yang berada di atasnya, untuk
selanjutnya diteruskan ke tiang pancang.
Perencanaan pile cap harus dilakukan
dengan teliti agar tidak terjadinya
kegagalan struktur.

MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud dari penelitian ini adalah agar
dapat membandingkan efisiensi tebal pile
cap terhadap perubahan jarak antar tiang
pancang yang telah menerima beban
konstruksi perencanaan.
Tujuan dari penelitian ini yaitu :
1. Untuk mengetahui efisiensi tebal pile
cap dari jarak efektif antar tiang
pancang, yaitu 2D; 2,5D; dan 3D
2. Untuk mengetahui perbedaan dimensi
luas pile cap untuk jarak efektif antar
tiang pancang, yaitu 2D; 2,5D; dan 3D
3. Mendapatkan grafik perbandingan
antara tebal pile cap terhadap jarak
antar tiang pancang.
LANDASAN TEORI
Pondasi
Pondasi merupakan bagian bangunan yang
menghubungkan bangunan dengan tanah,
yang menjamin kestabilan bangunan
terhadap berat sendiri, beban berguna dan
gaya-gaya luar terhadap gedung seperti
tekanan angin dan gempa bumi (Heinz
Frick, 2001 : 40).

86 | K o n s t r u k s i a

Tampak Atas

Tampak Samping

Gambar 1 Pile Cap


Perhitungan Daya Dukung Aksial Tiang
Pancang
Daya dukung aksial merupakan kekuatan
tiang pancang dalam menerima beban
maksimal. Sedangkan daya dukung aksial
ijin merupakan kekuatan maksimal tiang
pancang dalam menerima beban yang
kemudian dikalikan dengan faktor reduksi
guna mengurangi risiko keruntuhan.
Pada prinsipnya, ada tiga kategori dalam
perhitungan daya dukung aksial tiang
pancang. Diantaranya dengan cara statis,
dinamis dan loading test.

STUDI PENGARUH JARAK TIANG PANCANG PADA KELOMPOK TIANG (Dona Haryo K)

Pada perhitungan cara statis, pondasi tiang


pancang memperoleh daya dukungnya dari
dua tahanan, yaitu :
1. Tahanan ujung tiang (end bearing pile),
dimana daya dukung ini dipengaruhi
tahanan ujung tiang yang umumnya
berada pada zona tanah lunak di atas
lapisan tanah keras.
2. Tahanan gesek tiang (friction pile),
dimana daya dukung ini ditentukan oleh
gaya gesek tiang dengan dinding tanah
di sekitarnya.
Berdasarkan Data Bahan
Perhitungan
daya
dukung
aksial
berdasarkan data bahan, dihitung sesuai
dengan PBI 1971 dimana kuat tekan beton
dikali dengan faktor reduksi yaitu sebagai
berikut :

dimana :
Pn
= daya dukung nominal tiang
pancang (KN)
Ap
= luas penampang tiang (m2)
fc
= kuat tekan beton tiang pancang
(KPa)
L
= panjang tiang pancang (m)
Wp
= berat tiang pancang (KN)
Wc
= berat beton bertulang (KN/m3)
Berdasarkan Data Sondir
Perhitungan
daya
dukung
aksial
berdasarkan data sondir dihitung dengan
menggunakan metode Meyerhof, yaitu
sebagai berikut :

dimana :
Pn
= daya dukung nominal tiang
pancang (kg)
qc
= nilai konus (kg/cm2)
Ap
= luas penampang tiang (cm2)
JHL
= jumlah hambatan lekat (kg/cm)
Ka
= keliling selimut tiang (cm)

Berdasarkan Data SPT


Perhitungan
daya
dukung
aksial
berdasarkan data SPT dihitung dengan
menggunakan metode Meyerhof (1976),
yaitu sebagai berikut :

dimana :
Pn = daya dukung nominal tiang pancang
(KN)
Ap = luas penampang tiang pancang (m2)
Nb = nilai N-SPT rata-rata pada elevasi
dasar tiang pancang
Nb = (N1+N2)/2
N1 = SPT pada kedalaman 3D pada ujung
tiang ke bawah
N2 = SPT pada kedalaman 8D pada ujung
tiang ke atas
= nilai SPT rata-rata di sepanjang tiang
As = luas selimut tiang (m2)
L = panjang tiang (m)
Hasil perhitungan berdasarkan data SPT
harus memenuhi syarat dimana :

Daya Dukung Tiang Kelompok


Dalam menentukan daya dukung, tidak
cukup hanya dengan meninjau daya dukung
satu tiang (single pile). Sebab daya dukung
kelompok tiang belum tentu sama dengan
daya dukung satu tiang dikalikan dengan
jumlah tiang. Terdapat dua cara dalam
menentukan daya kelompok tiang (Pondasi
Tiang Pancang Ir. Hardjono HS), yaitu :
1. Berdasarkan cara pemindahan beban
2. Berdasarkan beban yang diijinkan di
atas satu tiang
3. Berdasarkan efisiensi kelompok tiang
Berdasarkan Cara Pemindahan Beban
Perhitungan daya dukung kelompok tiang
ditinjau dari
cara pemindahan beban
dilakukan
berdasarkan
acuan
yang
bersumber pada buku Pondasi Tiang
Pancang Jilid 1 Ir. Sardjono HS, yaitu
sebagai berikut:
a. Point Bearing Piles

87 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

Dimana :
Png = daya dukung kelompok tiang (KN)
Pn = daya dukung tiang tunggal/single pile
(KN)
pile = jumlah tiang pancang

dimana :
Pn
= daya dukung single pile / tiang
tunggal (KN)
pile = jumlah tiang pancang

b.

2.

Friction Piles (faktor keamanan 3)

Dimana :
Png = daya dukung yang kelompok tiang
ijin (KN)
c = kekuatan geser tanah
Nc = faktor daya dukung ang dapat
diperoleh dari grafik menurut Skempton
A = luas kelompok tiang
B = lebar kelompok tiang
Y = panjang kelompok tiang
L = panjang tiang
Berdasarkan Beban yang Diijinkan di
Atas Satu Tiang
Perhitungan daya dukung kelompok tiang
ditinjau dari beban yang diijinkan di atas
satu tiang dilakukan berdasarkan acuan
yang bersumber pada buku Pondasi Tiang
Pancang Jilid 1 Ir. Sardjono HS, yaitu
sebagai berikut :

dimana :
Epg = nilai efisiensi kelompok tiang
m = jumlah baris
n = jumlah tiang dalam satu baris
=
d = diameter tiang (m)
s = jarak antar tiang (m)
3.

Berdasarkan Efisiensi Kelompok Tiang


Perhitungan daya dukung kelompok tiang
ditinjau dari
efisiensi kelompok tiang
dilakukan
berdasarkan
acuan
yang
bersumber pada buku Pondasi Tiang
Pancang Jilid 1 Ir. Sardjono HS, yaitu
sebagai berikut:
1. Metode Feld

88 | K o n s t r u k s i a

Seiler Kenny

dimana :
Epg = nilai efisiensi kelompok tiang
s = jarak antar tiang (m)
m = jumlah baris
n = jumlah tiang dalam satu baris
Perhitungan Dimensi Pile Cap
Perencanaan dimensi pile cap yang
digunakan dalam penelitian ini bersumber
dari Pile Design and Construction Practice
Fifth Edition, Michael Tomlinson & John
Woodward, yaitu sebagai berikut :
1.
a.

Jadi daya dukung tiap tiang menurut Feld :

Los Angeles Group Action Formula

dimana :
Epg = Nilai efisiensi kelompok tiang
n = jumlah tiang dalam satu baris
m = jumlah baris
d = diameter tiang (m)
s
= jarak antar tiang (m)
4.

Diimana :
Qpg = daya dukung kelompok tiang (KN)
Pn = daya dukung tiang tunggal/single pile
(KN)
pile = jumlah tiang pancang

Uniform Building Code (AASHO)

Pile Cap dengan Tiga Tiang


Panjang Pile Cap

dimana :
lw = panjang pile cap (mm)

STUDI PENGARUH JARAK TIANG PANCANG PADA KELOMPOK TIANG (Dona Haryo K)

k = variabel jarak pile cap


D = diameter pile (mm)
b.

Lebar Pile Cap

dimana :
bw = lebar pile cap (mm)
k = variabel jarak pile cap
D = diameter pile (mm)

Gambar 2. Pile Cap dengan Tiga Tiang


2.
a.

Pile Cap dengan Enam Tiang


Panjang Pile Cap

dimana :
lw = panjang pile cap (mm)
k = variabel jarak pile cap
D = diameter pile (mm)
b.

HASIL ANALISIS
Perhitungan Daya Dukung Tiang
Pada analisis perhitungan daya dukung
tiang pancang, terdapat tiga bentuk
tinjauan perhitungan. Diantaranya adalah
daya dukung aksial tunggal, daya dukung
aksial kelompok dan daya dukung lateral
tiang. Berikut
adalah data yang
dipergunakan dalam perhitungan daya
dukung tiang pancang :
Bentuk tiang pancang: Bujur sangkar
Diameter tiang pancang (D): 250 mm
Panjang tiang pancang (L): 9 m
Berat beton bertulang (Wc): 24 KN/m3
Kuat tekan beton tiang pancang (fc): 37
Mpa
Nilai konus (qc): 125 kg/cm2
Jumlah Hambatan Lekat (JHL): 1.275
kg/cm
Daya Dukung Lateral Tiang
Perhitungan daya dukung lateral dihitung
berdasarkan defleksi toleransi (Broms).
Berikut adalah langkah-langkah yang harus
dihitung dalam perhitungan daya dukung
lateral :

1. Momen Inersia
Analisis perhitungan momen inersia, yaitu
sebagai berikut :

Lebar Pile Cap

dimana :
bw = lebar pile cap (mm)
k = variabel jarak pile cap
D = diameter pile (mm)

Gambar 3. Pile Cap dengan Enam Tiang

2. Modulus Elastis Tiang


Analisis perhitungan modulus elastis tiang,
yaitu sebagai berikut :

3. Koefisien Defleksi Tiang


Analisis perhitungan koefisien defleksi
tiang, yaitu sebagai berikut :
89 | K o n s t r u k s i a

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

Gaya Aksial dengan Enam Tiang


Perhitungan gaya aksial untuk satu tiang
pancang, yaitu sebagai berikut :

Cek
, jika nilai Qu lebih besar dari Pn
maka tidak memenuhi syarat.

4. Tiang Panjang dengan Ujung Jepit


syarat untuk klasifikasi tiang berdasarkan
panjang tiang, yaitu sebagai berikut :

memenuhi syarat
untuk jarak 2D
memenuhi syarat
untuk jarak 2,5D
memenuhi syarat

5. Daya Dukung Nominal Lateral


Analisis perhitungan daya dukung nominal
lateral, yaitu sebagai berikut :

Perhitungan Gaya Aksial Tiang


Beban aksial terfaktor kolom pada
perhitungan gaya aksial tiang baik pada 3
pile dan 6 pile bersumber pada
perencanaan awal gedung. Dimana pada
pile cap dengan 3 pile sebesar 1.470 KN dan
pile cap dengan 6 pile sebesar 2.900 KN.
Gaya Aksial dengan Tiga Tiang
Perhitungan gaya aksial untuk satu tiang
pancang sebagai berikut :

Cek

, jika nilai

lebih besar dari

maka tidak memenuhi syarat.


memenuhi syarat

untuk jarak 3D
Perhitungan Gaya Lateral Tiang
Beban lateral pada perhitungan gaya lateral
tiang baik pada 3 pile dan 6 pile bersumber
pada perencanaan awal gedung. Dimana
pada pile cap dengan 3 pile untuk arah X
sebesar 2.265,81 kg dan arah Y sebesar
262,68 kg. Sedangkan pada pile cap dengan
6 pile untuk arah X sebesar 981,45 kg dan
arah Y sebesar 4.132,17 kg.
Gaya Lateral dengan Tiga Tiang
Langkah-langkah perhitungan gaya lateral
untuk satu tiang pancang yaitu sebagai
berikut :

1. Gaya Lateral Arah X


Perhitungan gaya lateral arah X dihitung
berdasarkan persamaan 2.25, yaitu sebagai
berikut :

2. Gaya Lateral Arah Y


Perhitungan gaya lateral arah Y dihitung
berdasarkan persamaan 2.26, yaitu sebagai
berikut :

untuk jarak 2D
memenuhi syarat
untuk jarak 2,5D
memenuhi syarat
untuk jarak 3D
90 | K o n s t r u k s i a

3. Gaya Lateral Maksimum


Perhitungan gaya lateral maksimum
dihitung berdasarkan persamaan 2.27 dan

STUDI PENGARUH JARAK TIANG PANCANG PADA KELOMPOK TIANG (Dona Haryo K)

harus

memenuhi

syarat

persamaan 2.28 dimana


sebagai berikut :

berdasarkan
, yaitu

Cek

memenuhi

syarat
Gaya Lateral dengan Enam Tiang
Langkah-langkah perhitungan gaya lateral
untuk satu tiang pancang yaitu sebagai
berikut :
1. Gaya Lateral Arah X
Perhitungan gaya lateral arah X dihitung
berdasarkan persamaan 2.25, yaitu sebagai
berikut :

2. Gaya Lateral Arah Y


Perhitungan gaya lateral arah Y dihitung
berdasarkan persamaan 2.26, yaitu sebagai
berikut :

Analisis Pengaruh Jarak antar Tiang


Terhadap Efisiensi Tebal
Pile Cap
Perhitungan efisiensi tebal pile cap
dimaksudkan untuk merencanakan suatu
pile cap guna memperhitungan jumlah
volume beton yang digunakan maupun
jumlah tulangannya jika ditinjau dari
perbedaan jarak antar tiang dalam satu pile
cap. Berikut adalah hasil analisis
perhitungan efisiensi tebal pile cap yang
ditinjau dari segi jarak antar tiang :
Tabel 1 Spesifikasi Perencanaan Pile Cap
dengan Tiga Tiang
Tiga Tiang
Spesifikasi Pile Cap
2D

2,5D

3D

Panjang Pile Cap (mm)

1.150

1.175

1.300

Lebar Pile Cap (mm)

1.070

1.090

1.200

Tebal Pile Cap (mm)

1.350

1.325

1.225

Tulangan Bawah Arah X

D16 70

D16 70

D16 80

Tulangan Bawah Arah Y

D16 70

D16 70

D16 80

Tulangan Atas Arah X

D16 150

D16 150

D16 170

Tulangan Bawah Arah Y

D16 160

D16 170

D16 190

Tabel 2. Spesifikasi Perencanaan Pile Cap


dengan Enam Tiang
Enam Tiang
Spesifikasi Pile Cap

3. Gaya Lateral Maksimum


Perhitungan gaya lateral maksimum
dihitung berdasarkan persamaan 2.27 dan
harus memenuhi syarat berdasarkan
persamaan 2.28 dimana
sebagai berikut :

, yaitu

2D

2,5D

3D

Panjang Pile Cap (mm)

1.750

1.800

2.050

Lebar Pile Cap (mm)

1.150

1.175

1.300

Tebal Pile Cap (mm)

1.350

1.325

1.200

Tulangan Bawah Arah X

D16 70

D16 70

D16 90

Tulangan Bawah Arah Y

D16 80

D16 80

D16 90

Tulangan Atas Arah X

D16 160

D16 170

D16 190

Tulangan Bawah Arah Y

D16 170

D16 180

D16 190

cek

memenuhi

syarat
91 | K o n s t r u k s i a

Tebal Pile Cap

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

Jarak Antar Tiang (mm)


2D

2,5D

3D

Gambar 4 Grafik Hubungan Tebal Pile Cap


dengan Jarak Antar Tiang pada Tiga Tiang

Terkait grafik hubungan tebal pile cap


dengan jarak antar tiang, baik tiga tiang dan
enam tiang, dapat disimpulkan bahwa :
1. Pada analisis pengaruh jarak antar
tiang pancang terhadap luasan pile cap,
disimpulkan bahwa semakin panjang
jarak antar tiang, luasan pile cap akan
semakin besar.
2. Pada analisis pengaruh jarak antar
tiang pancang terhadap tebal pile cap,
disimpulkan bahwa semakin panjang
jarak antar tiang, tebal pile cap akan
semakin kecil.

Tebal Pile Cap

DAFTAR PUSTAKA

Jarak Antar Tiang (mm)


2D

2,5D

3D

Gambar 5. Grafik Hubungan Tebal Pile Cap


dengan Jarak Antar Tiang pada Enam Tiang
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis perhitungan yang
telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
hubungan antara jarak antar tiang dengan
tebal pile cap, menunjukkan grafik linear.
Persamaan Korelasi antara Tebal Pile Cap
dan jarak antar tiang dengan trend Linear
Negatif adalah sebagai berikut:
1.

Kondisi 3 Tiang
tPC = -23,571(Lt) + 1371,4

2.

Kondisi 6 Tiang
tPC = -25(Lt) +1375
tPC = tebal pile cap
(Lt) = Jarak antar tiang

92 | K o n s t r u k s i a

1. Bowles, J.E. 1986. Analisa Dan Desain


Pondasi Jilid 2. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
2. Bowles, J.E. 1991. Analisa Dan Desain
Pondasi Jilid 1. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
3. Bowles, J.E. 1992. Sifat-Sifat Fisis dan
Geoteknis Tanah. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
4. Das, B.M. 1994. Mekanika Tanah,
Prinsip-Prinsip Rekayasa Geoteknik.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
5. Nakazawa, S. 2000. Mekanika Tanah dan
Teknik Pondasi. Jakarta: Penerbit
PT.Pradnya Paramita.
6. Smith, M.J. 1992. Mekanika Tanah.
Jakarta: Penerbit Erlangga.

Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

ISSN 2086-7352

JURNAL

KONSTRUKSIA
Kriteria Penulisan
1. Jurnal KONSTRUKSIA. Menerima naskah ilmiah dari ilmuwan/akademisi dan praktisi
bidang teknik atau yang terkait, bias berupa hasil penelitian,studi kasus, pembahasan teori
dan resensi buku, serta inovasi-inovasi baru yang belumpernah dipublikasikan.
2. Jurnal KONSTRUKSIA terbit berkala tiap semester, pada bulan Juni dan Desember.
3. Naskah ilmiah hendaknya ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris yang baik
dan benar. Penulis setuju mengalihkan hak ciptanya ke Redaksi Jurnal KONSTRUKSIA
Teknik Sipil UMJ, jika dan pada saat naskah diterima dan diterbitkan.
4. Naskah tidak akan dimuat, jika mengandung unsur SARA, politik, komersial, Subyektifitas
yang berlebihan, penonjolan seseorang yang bersifat memuji ataupun merendahkan.
5. Naskah/tulisan hendaknya lengkap memuat :
a. Judul
b. Nama Penulis (tanpa gelar) dan alamat email
c. Nama Lembaga atau institusi tempat penulis beraktifitas
d. Abstrak dan kata kunci dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, panjang abstrak
tidak lebih dari 200 kata
e. Isi Naskah (pembahasan), penutup (kesimpulan), daftar pustaka dan lampiran
(jika ada)
6. Naskah /artikel diketik pada kertas HVS ukuran A4 dan dengan format margin kiri, kanan,
atas dan bawah 30 mm, serta harus diketik dengan jenis huruf Arial dengan font 10 pt
(kecuali judul), satu spasi. Judul ditulis miring (italic), jumlah halaman 7-10.
7. Naskah dikirim ke redaksi dalam bentuk print out atau soft copy (CD) atau email ke
redaksi@konstruksia.org.

Alamat redaksi :
Jurnal KONSTRUKSIA
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
Jl. Cempaka Putih tengah 27 Jakarta Pusat.
Telp. 42882505, Fax. 42882505
Website: www.konstruksia.org
Email: redaksi@konstruksia.org

ISSN 2086 - 7352