Anda di halaman 1dari 11

REFERAT

GANGGUAN PANIK

Muhammad Guruh Susanto


(1102010180)
Pembimbing

Gang
guan
panik

Reak
si
stres
s
akut

Gang
guan
camp
uran
anxie
tas
dan
depre
si
Gangg
uan
cemas
menye
luruh
Gang
guan
stres
s
pasc
a
trau
ma

Gang
gua
fobia

Gang
guan
obses
if
komp
ulsif

DEFINISI
Gangguan panik (panic disorder) adalah suatu kondisi di mana
seseorang menderita serangan panik berulang. Serangan panik
terjadi mendadak tanpa disebabkan oleh zat (seperti kafein),
pengobatan, atau kondisi medis (seperti tekanan darah tinggi)
selama serangan penderita mungkin mengalami sensasi seperti
detak jantung meningkat atau tidak teratur, sesak napas, pusing,
atau takut kehilangan control

Gangguan panik merupakan salah satu jenis gangguan


cemas kronik yang ditandai oleh serangan panik parah yang
berulang dan tak terduga, frekuensi serangannya bervariasi
mulai dari beberapa kali serangan dalam setahun hingga

EPIDEMIOLOGI
Berdasarkan hasil survey yang
dilakukan oleh Direktorat
Kesehatan Jiwa pada tahun 1996 di
Indonesia diperkirakan 6 juta
penduduknya mengalami
gangguan cemas. Ditemukan,
setiap 20 orang per 1000 anggota
keluarga menderita gangguan
cemas.

ETIOLOGI

Faktor
biologik

Faktor
Genetik

Faktor
Psikoso
sial

FAKTOR PENCETUS
Cedera (oleh sebab kecelakaan atau operasi)
Penyakit somatic
Adanya konflik dengan orang lain
Penggunaan ganja
Penyalahgunaan stimulan seperti caffeine, decongestant, cocaine dan obatobatan simpatomimetik (seperti amfetamin, MDMA)
Berada pada tempat-tempat tertutp atau tempat umum (terutama pada
gangguan panik yang disertai agoraphobia)
Penggunaan sertraline, yang dapat menginduksi pasien gangguan panik yang
awalnya asimptomatik
Sindrom putus obat golongan SSRI, yang dapat mendinduksi gejala-gejala yang
menyerupai gangguan panik.

DIAGNOSIS
Menurut DSM-IV, kriteria diagnosis gangguan panik harus
dibuktikan dengan adanya serangan panik yang berkaitan
dengan kecemasan persisten berdurasi lebih dari 1 bulan
terhadap:
Serangan panik baru
Konsekuensi serangan
Terjadi perubahan perilaku yang signifikan berhubungan
dengan serangan.

Selain itu untuk mendiagnosis serangan panik, kita harus menemukan


minimal 4 gejala dari 13 gejala berikut ini:

Merasa pusing, tidak stabil berdiri, hingga pingsan


Merasa kehilangan kontrol, seperti mau gila
Takut mati
Leher serasa dicekik
Palpitasi, berdebar-debar, denyut jantung bertambah cepat
Nyeri dada, rasa tidak nyaman di dada
Merasa sesak, bernapas pendek
Mual atau distress abdominal
Gemetaran
Berkeringat
Rasa panas dikulit, menggigil
Mati rasa, kesemutan
Derealisasi, depersonalisasi (merasa seperti terlepas dari diri sendiri)

TATA LAKSANA
Terapi oksigen
Membaringkan pasien dalam posisi Fowler
Memonitor tanda-tanda vital, saturasi oksigen, dan EKG
Memberikan penjelasan dan motivasi pada pasien kalau semua keluhan
yang dialaminya dapat berkurang jika dia menenangkan diri.
Memberikan injeks lorazepam 0.5 mg IV q20min untuk menenangkan dan
mengurangi impuls tak terkontrol pasien.1

TATA LAKSANA
Penatalaksanaan Gangguan Panik Ketika Tidak Ada Serangan
Cognitive-behavioral therapy (CBT)
Terapi restrukturisasi
Terapi relaksasi dan bernapas
Interoceptive therapy

Terapi Medikasi
Terdapat 3 golongan besar obat yang dianjurkan untuk mengatasi
gangguan panik, yakni

Golongan SSRI, trisiklik, dan MAOI (Monoamine oxidase inhibitor).


Sedangkan golongan benzodiazepin hingga saat ini masih
dianggap kontoversial dalam terapi gangguan panik

KESIMPULAN

Gangguan panik merupakan suatu gangguan kejiwaan yang


membutuhkan penanganan jangka panjang. Adapun
penatalaksanaan yang dianggap efektif untuk menanganinya
adalah terapi CBT, terapi medikasi SSRI dan trisiklik sebagai
terapi lini pertama dan golongan benzodiazepin potensi
tinggi, MAOI dan obat anti-panik jenis lain menjadi terapi lini
kedua. CBT saja mungkin efektif digunakan untuk terapi
jangka panjang, namun efikasi terapi dapat bertambah serta
tingkat relaps dapat berkurang jika CBT dikombinasikan
dengan terapi medikasi.