Anda di halaman 1dari 13

TUGAS PENGANGGARAN

ANALISIS BREAK EVENT POINT


D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
1.DATI ARIMBI

132102004

2.AYU SUNDARI

132102023

3.MAULIA AZHARI

132102015

4.PURWATHOMI H M

132102025

D-III AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Analisa Break event Point (BEP)

Analisa Break Event adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari hubungan antara Biaya
Tetap, Biaya Variabel, Keuntungan dan Volume aktivitas. Masalah Break Event baru akan
muncul dalam perusahaan apabila perusahaan tersebut mempunyai Biaya Variabel dan Biaya
Tetap. Suatu perusahaan dengan volume produksi tertentu dapat menderita kerugian dikarenakan
penghasilan penjualannya hanya mampu menutup biaya variabel dan hanya bisa menutup
sebagian kecil biaya tetap.
Namun ada juga yang membuat pengertian break even point sebagai berikut :
1. Menurut S. Munawir (2002) Titik break even point atau titik pulang pokok dapat
diartikan sebagai suatu keadaan dimana dalam operasinya perusahaan tidak memperoleh
laba dan tidak menderita rugi (total penghasilan = Total biaya).
2. Menurut Abdullah (2004) Analisis Break even point disebut juga Cost Volume Profit
Analysis. Arti penting analisis break even point bagi menejer perusahaan dalam
pengambilan keputusan keuangan adalah sebagai berikut, yaitu :
1. Guna menetapkan jumlah minimal yang harus diproduksi agar perusahaan tidak
mengalami kerugian.
2. Penetapan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk mendapatkan laba tertentu.
3. Penetapan seberapa jauhkan menurunnya penjualan bisa ditolerir agar perusahaan tidak
menderita rugi.
1. Menurut Purba (2002) Titik impas (break even) berlandaskan pada pernyataan sedarhana,
berapa besarnya unit produksi yang harus dijual untuk menutupi seluruh biaya yang
dikeluarkan untuk menghasilkan produk tersebut.
2. Menurut PS. Djarwanto (2002) Break even point adalah suatu keadaan impas yaitu
apabila telah disusun perhitungan laba dan rugi suatu periode tertentu, perusahaan
tersebut tidak mendapat keuntungan dan sebaliknya tidak menderita kerugian.
3. Menurut Harahap (2004) Break even point berarti suatu keadaan dimana perusahaan tidak
mengalami laba dan juga tidak mengalami rugi artinya seluruh biaya yang dikeluarkan
untuk kegiatan produksi ini dapat ditutupi oleh penghasilan penjualan. Total biaya (biaya
tetap dan biaya variabel) sama dengan total penjualan sehingga tidak ada laba tidak ada
rugi.
4. Menurut Garrison dan Noreen (2004) Break even point adalah tingkat penjualan yang
diperlukan untuk menutupi semua biaya operasional, dimana break even tersebut laba
sebelum bunga dan pajak sama dengan nol (0). Langkah pertama untuk menentukan
break even adalah membagi harga pokok penjualan (HPP) dan biaya operasi menjadi
biaya tetap dan biaya variabel. Biaya Tetap merupakan fungsi dari waktu, bukan fungsi
dari jumlah penjualan dan biasanya ditetapkan berdasarkan kontrak, misalnya sewa

gudang. Sedangkan biaya variabel tergantung langsung dengan penjualan, bukan fungsi
dari waktu, misalnya biaya angkut barang.

Contribution Margi adalah selisih antara penghasilan penjualan dan biaya variabel, yang
merupakan jumlah untuk menutup biaya tetap dan keuntungan. Perusahaan akan memperoleh
keuntungan dari hasil penjualannya apabila Contribution Marginnya lebih besar dari Biaya Tetap,
yang berarti total penghasilan penjualan lebih besar dari total biaya.
Break Event Point menyatakan volume penjualan dimana total penghasilan tepat sama
besarnya dengan total biaya, sehingga perusahaan tidak memperoleh keuntungan dan juga tidak
menderita kerugian.
Break Event Point ditinjau dari konsep Contribution Margin menyatakan bahwa volume
penjualan dimana Contribution Margin tepat sama besarnya dengan total Biaya Tetapnya.
Asumsi Break Event Point
Asumsi dasar dalam analisa breakevent, antara lain :
a.Biaya dapat diklasifikasikan kedalam komponen biaya variabel dan biaya tetap.
b.Total biaya variabel berubah secara proporsional dengan volume produksi atau penjualan,
sedangkan total biaya variabel per unit tetap konstan.
c.Total biaya tetap tidak mengalami perubahan, meskipun ada perubahan volume produksi atau
penjualan, sedangkan biaya tetap per unit akan berubah karena adanya perubahan volume
kegiatan.
d.Harga jual per unit tidak akan berubah selama periode melakukan analisa.
e.Perusahaan hanya membuat dan menjual satu jenis produk. Jika membuat dan menjual lebih
dari satu jenis produk, maka perbandingan penghasilan
f.Penjualan antara masing-masing produk (disebut sebagai Sales Mix) akan tetap konstan.
g.Kapasitas produksi pabrik relatif konstan.
h.Harga faktor produksi relatif konstan.
i.Efisiensi produksi tidak berubah.
j.Perubahan pada persediaan awal dan akhir jumlahnya tidak berarti.
k.Volume merupakan faktor satu-satunya yang mempengaruhi biaya.
Asumsi dan Keterbatasan Analisis BEP

Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa satu kelemahan analisis BEP adalah karena
banyaknya asumsi yang mendasari analisis ini. Akan tetapi, asumsi-asumsi ini memang harus
dilakukan jika kita mau analisis ini dapat dilakukan secara tepat. Kemudian dengan asumsiasumsi ini, analisis BEP dapat dilakukan secara cepat dan akurat. Hanya sajaasumsi-asumsi yang
dilakukan terkadang terlalu memaksa dan pertanggungjawabannya sering diambangkan. Oleh
karena itu para manager menganggap bahwa asumsi ini harus tetap dilakukan dan ini merupakan
salah satu keterbatasan analisis BEP bila kita maumenggunakannya.Adapun asumsi-asumsi dan
keterbatasan analisis BEP adalah sebagai berikut :
1. Biaya dalam analisis BEP,
Hanya digunakan dua macam biaya, yaitu fixed cost dan variablecost. Oleh karena itu, kita
harus memisahkan dulu komponen antara biaya tetap dan biaya variabel. Artinya
mengelempokkan biaya tetap disatu sisi dan biaya variabeldisisi lain. Dalam hal ini secara umum
untuk memisahkan kedua biaya ini relatif sulit karena ada biaya yang tergolong semi variabel
dan tetap. Untuk memisahkan biaya ini dapat dilakukan melalui dua pendekatan sebagai berikut :
a.pendekatan analitis, yaitu kita harus meneliti setiap jenis dan unsur biaya yangterkandung satu
per satu dari biaya yang ada beserta sifat-sifat biaya tersebut.
b.Pendekatan historis, dalam hal ini yang harus dilakukan adalah memisahkan biaya tetap dan
variabel berdasarkan angka-angka dan data biaya masa lampau.
2. Biaya tetap (Fixed Cost)
Biaya tetap merupakan biaya yang secara total tidak mengalami perubahan,walaupun ada
perubahan volume produksi atau penjualan (dalam batas tertentu).Artinya kita menganggap
biaya tetap konstan sampai kapasitas tertentu saja, biasanyakapasitas produksi yang dimiliki.
Namun, untuk kapasitas produksi bertambah, biayatetap juga menjadi lain. Contoh biaya tetap
adalah seperti gaji, penyusutan aktivatetap, bunga, sewa atau biaya kantor dan biaya tetap
lainnya.
3. Biaya variabel (Variable Cost)
Biaya variable merupakan biaya yang secara total berubah-ubah sesuai dengan perubahan
volume produksi atau penjualan. Artinya asumsi kita biaya variabel berubah-ubah secara
sebanding (proporsional) dengan perubahan volume produksi atau penjualan. Dalam hal ini sulit
terjadi dalam praktiknya karena dalam penjualan jumlah besar akan ada potongan-potongan
tertentu, baik yang diterima maupundiberikan perusahaan . contoh biaya variabel biaya variabel
adalah biaya bahan baku, upah buruh langsung, dan komisi penjualan biaya variabel lainnya.
4. Harga Jual
Harga jual maksudnya dalam analisis ini hanya digunakan untuk satu macam harga jual atau
harga barang yang dijual atau diproduksi.
5. Tidak Ada Perubahan Harga Jual
Artinya diasumsikan harga jual per satuan tidak dapat berubah selama periodeanalisis. Hal
ini bertentangan dengan kondisi yang sesungguhnya, dimana harga jualdalam suatu periode
dapat berubah-ubah seiring dengan perubahan biaya-biayalainnya yang berhubungan langsung
dengan produk maupun tidak.

Tujuan Analisis Titik Impas / BEP


Penggunaan analisis BEP memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai, yaitu :
1. Mendesain spesifikasi produk
2. Menentukan harga jual persatuan
3. Menentukan jumlah produksi atau penjualan minimal agar tidak mengalami kerugian
4. Memaksimalkan jumlah produksi
5. Merencanakan laba yang diinginkan
Disamping memiliki tujuan dan mampu memberikan manfaat yang cukup
banyak bagi pemimpin perusahaan, analisis BEP juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu
1. Perlu asumsi, terutama mengenai hubungan antara biaya dengan pendapatan
2. Bersifat statis, artinya analisis ini hanya digunakan pada titik tertentu, bukan pada suatu
periode tertentu.
3.Tidak digunakan untuk mengambil keputusan akhir, analisis BEP hanya baik digunakan jika
ada penentuan kegiatan lanjutan yang dapat dilakukan.
4.Tidak menyediakan pengujian aliran kas yang baik, artinya jika aliran kas telah ditentukan
melebihi aliran kas yang harus dikeluarkan, proyek dapat diterima danhal-hal lainnya dianggap
sama.
5.Kurang memperhatikan resiko-resiko yang terjadi selama masa penjualan,misalnya kenaikan
harga bahan baku.
Manfaat Break Event Point
1. Menentukan posisi laba-rugi perusahaan
2. Menentukan penjualan minimal yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami
kerugian
3.Menentukan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu.
Kelemahan dalam Analisis Break Event Point
Menurut Sofyan Syafri Harahap ( 1997 : 364 ) mengungkapkan bahwa terdapat kelemahankelemahan di dalam analisis BEP antara lain:
a). Asumsi yang menyebutkan harga jual konstan padahal kenyataannya harga ini kadang-kadang
harus berubah sesuai dengan kekuatan permintaan dan penawaran di pasar.
b). Asumsi terhadap cost
penggolongan biaya tetap dan biaya variable juga mengandung kelemahan. Dalam keadaan
tertentu untuk memenuhi volume penjualan biaya tetap tidak bisa tidak harus berubah karena
pembelian mesin-mesin dan peralatan lainnya. Dengan demikian juga perhitungan biaya variable
perunit juga akan dapat di pengaruhi perubahan ini.
c). Biaya tetap juga tidak selalu tetap pada berbagai kapasitas.
d). biaya variable juga tidak selalu berubah sejajar dengan perubahan volume.
Perubahan Titik BEP
1. Perubahan harga jual per unit
2. Perubahan biaya variabel
3. Perubahan biaya tetap
4. Perubahan komposisi sales mix
Perubahan harga jual per unit

Perubahan harga jual per unit akan mempengaruhi besarnya BEP. Apabila harga jual per unit
naik sementara biaya tidak berubah, maka akan menurunkan BEP, demikian pula sebaliknya bila
harga jual turun akan menaikkan BEP
Perubahan Biaya Variabel per Unit
Perubahan pada biaya variabel juga akan merubah posisi BEP, yakni apabila biaya variabel
naik akan menaikkan BEP dan bila turun akan menurunkan BEP
Perubahan komposisi sales mix
Dalam asumsi disebutkan bahwa perusahaan hanya menghasilka satu macam produk, dan
bila menghasilkan lebih dari dua macama produk, maka tidak boleh ada perubahan komposisi
dalam sales mix nya. Sales mix menunjukkan perimbangan penjualan antara beberapa macam
produk yang dihasilkan. Apabila ada perubahan sales mix nya akan menyebabkan perubahan
pada BEP secara total,
Rumus Break Event Point (BEP)
Rumus Break Event Point (BEP) untuk single product adalah:
BEP(unit/x) = FC
Dimana :
(S VC)
FC = fixed cost (biaya tetap),
atau
VC = variable cost (biaya variabel),
BEP(rupiah) = FC
S = sales (penjualan).
(1 (VC/S))
Rumus BEP untuk multiple product adalah:
BEP(rupiah) = FC
Dimana :
(1 (TVC/TR))
TVC = total variable cost (total biaya variabel)
TR = total revenue (total pendapatan).
Atau dengan :
a. Pendekatan grafik :
Breakevent Point terjadi pada titik persilangan antara garis penghasilan penjualan dan garis total
biaya.
b. Metode Trial and Error
c. Pendekatan matematis :
Rumus matematika untuk menentukan BEP adalah :
BEP (unit) = Total Biaya Tetap
Harga jual per unit Biaya Variabel/unit
BEP (Rp) = Total Biaya Tetap
1 - Total Biaya Variabel
Total hasil penjualan
Contoh Aplikasi :
Perusahaan Indojaya yang bergerak di bidang produksi kain, memiliki :
- Biaya tetap sebesar Rp. 300.000,-.

- Biaya variabel per unit Rp.40,- Harga jual per unit Rp. 100,- Kapasitas produksi maksimal 10.000 unit.
Perhitungan Break Event Point
Cara Trial and Error :
yaitu dengan menghitung keuntungan operasi suatu volume produksi/penjualan tertentu.
- Apabila perhitungan tersebut menghasilkan keuntungan maka diambil volume
penjualan/produksi yang lebih rendah, dan sebaliknya.
- Demikian dilakukan seterusnya hingga dicapai volume penjualan produksi dimana penghasilan
penjualan tepat sama dengan besarnya biaya total.
Misal dari contoh aplikasi, diambil volume produksi 6.000 unit, maka dapat dihitung keuntungan
operasi adalah:
(6.000 x Rp100) (Rp300.000 + (6.000 x Rp40))
Rp600.000 (Rp300.000 + Rp240.000)
Rp.60.000 atau
hasil dalam unit adalah Rp. 60.000 / Rp 100 = 6000 unit
Jadi, pada volume produksi 6.000 unit perusahaan masih mendapatkan keuntungan. Ini
berarti bahwa BEP-nya terletak di bawah 6.000 unit.
Rumus Aljabar/Matematis
a. Dasar unit
b. Dasar sales (dalam rupiah)
Gambar Break-Even PointEfek Perubahan Berbagai Faktor Terhadap BEP

1. Efek perubahan harga jual per unit dan jumlah biaya terhadap BEP
- Analisa BEP digunakan asumsi bahwa harga jual per unit tetap konstan(P).
- Bila P naik memiliki efek yang menguntungkan karena BEPnya akan turun.
Dalam gambar BEP, titik break-even-nya akan bergeser ke kiri, yang berarti untuk tercapainya
BEP cukup diperlukan jumlah produk yang lebih kecil.

2. Efek perubahan sales-mix terhadap BEP


- Sales-mix untuk mencari break-even point dari dua atau lebih produk yang dihasilkan
perusahaan.
- Apabila ada perubahan sales-mix, maka BEP-nya secara totalitas akan berubah.
- Perhitungannya dengan cara mencari break-even point satu jenis produk karena adanya variable
cost dan harga jual per unit yang berbeda dari masing-masing jenis produk.
Contoh:
Perusahaan IndoJaya bergerak dalam bidang produksi kain batik dan stagen merencanakan
perluasan daerah pemasarannya.
Penjualan kain batik direncanakan sebesar 25.000 unit @ Rp 3.500 dan stagen sebesar 15.000
unit @ Rp 1.000.
Variable cost untuk setiap jenis produk adalah Rp 2.000 per unit kain batik, dan Rp 600 per unit
stagen.
Fixed cost untuk kedua jenis produk tersebut adalah Rp 28.275.000.
Hitunglah break-even point untuk kedua jenis produk tersebut!
Keterangan
Kain Batik
Stagen
Penjualan
87.500.000
15.000.000
Fixed Operation Cost
Variabel Operating cash
50.000.000
9.000.000

Total
102.500.000
28.275.000
59.000.000

= Rp. 66.625.000,- (pembulatan)

Margin of Safety (MoS)


Margin of Safety adalah batas keamanan yang menyatakan sampai seberapa jauh volume
penjualan yang dianggarkan boleh turun agar perusahaan tidak menderita rugi atau dengan kata
lain, batas maksimum penurunan volume penjualan yang dianggarkan, yang tidak
mengakibatkan kerugian.
Misalnya margin of safety ditemukan 30%, artinya realisasi penjualan dipertahankan jangan
sampai turun lebih dari 30%. Apabila realisasi penjualan turun lebih dari 30%, maka perusahaan
akan menderita kerugian, sedang bila penurunan sampai 30% perusahaan dalam kondisi Break
even yang digunakan untuk mencari tingkat keamanan atau MoS adalah sebagai berikut.
1.penjualan MoS yang direncanakan
MoS = Penjualan per budget
x 100
Penjualan per titik impas
2. Penjualan MoS

MoS = penjualan per budget penjualan per titik impas x 100


penjualan per budget
Mencari Margin of safety :
sales budget/rencana penjualan = 50 juta
penjualan per BEP = 37,5 juta
= 133,33 %
Hal ini berarti bahwa tingkat penjualan perusahaan tersebut tidak boleh turun lebih dari 33,33 %
dari penjualan break even.
33,33 % X Rp 37 500 000= Rp 12.500.000,Realisasi penjualan tidak boleh turun lebih dari Rp. 12.500.000,- dari penjualan yang
direncanakan.
Atau bisa juga dihitung :
(sales budget-sales BE)/sales budget
(Rp 50 juta- Rp 37,50 juta)/Rp 50 juta= 25 %
Artinya penjualan tidak boleh turun lebih dari 25 % penjualan yang direncanakan.
25 % X Rp 50 juta = Rp 12 500 000,Realisasi penjualan tidak boleh turun lebih dari Rp. 12.500.000,- dari penjualan yang
direncanakan.

Degree of Operating Leverage (DOL)


Financial Leverage adalah kemampuan perusahaan dalam menggunakan dana yang
mempunyai beban tetap untuk memperbesar pengaruh perubahan EBIT terhadap perubahan EPS,
sehingga dapat disimpulkan maksud dari analisis financial leverage adalah serangkaian proses
perhitungan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan perusahaan dalam mengguanakan
dana yang mempunyai beban tetap untuk memperbesar pengaruh perubahan EBIT terhadap
perubahan EPS. Semakin besar dana yang berasal dari luar yang disertai dengan beban keuangan
tetap, maka akan semakin besar pula beban keuangan yang harus dibayar.
Menurut Warsono (2003:217) ada 2 macam biaya keuangan tetap yang dapat ditemukan dalam
perusahaan, yaitu :
1.Bunga atas utang, dan
2.Dividen saham preferen.
Kedua biaya tersebut harus tetap dibayar tanpa menghiraukan jumlah EBIT yang tersedia untuk
membayarnya.
Leverage operasi
Menurut warsono (2003:213) operating leverage dapat didefinisikan sebagai penggunaan
potensial biaya-biaya operasi untuk memperbesar pengaruh perubahan dalam penjualan terhadap
laba sebelum bunga dan pajak perusahaan. Berarti, analisis leverage operasi digunakan untuk
melihat seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menggunakan biaya operasi tetap untuk
memperbesar pengaruh perubahan volume penjualan terhadap EBIT.

Masalah Finansial Leverage


Masalah financial leverage baru timbul setelah perusahaan meggunakan dana dengan beban
tetap, seperti halnya masalah operating leverage baru timbul setelah perusahaan dalam
operasinya mempunyai biaya tetap. Perusahaan yang menggunakan dana dengan beban tetap
dikatakan menghasilkan leverage yang menguntungkan (favorable financial leverage) .
Rasio Leverage
Rasio leverage ada 2 macam :
1. Rasio utang terhadap ekuitas
Untuk menilai sejauh mana perusahaan menggunakan uang yang dipinjam, kita dapat
menggunakan beberapa rasio utang (debt ratio) yang berbeda. Rasio utang terhadap ekuitas dapat
dihitung dengan membagi total hutang perusahaan (termasuk kewajiban jangka pendek) dengan
ekuitas pemegang saham. Rumus :
Rasio hutang terhadap ekuitas = total hutang : ekuitas pemegang saham
2. Rasio hutang terhadap total aktiva
Rasio hutang terhadap total aktiva didapat dari membagi total hutang dalam perusahaan
dengan total aktivanya. Rumus :
Rasio hutang terhadap total aktiva = total hutang : total aktiva
Perhitungan Tingkat Leverage operasi secara aljabar
Tingkat leverage operasi = perubahan presentase laba operasi
perubahan % unit yang terjual
atau pendapatan total
Contoh Soal :
Diketahui
Mesin A
Mesin B
Penjualan
2.500.000
2.500.000
Biaya Variabel
2.500.000
2.500.000
Kontribusi Margin
2.000.000
1.500.000
Biaya Tetap
500.000
1.000.000
EBIT
100.000
500.000
1. Berapakah degree of operating leverage (DOL) Cv. Sekar Adina untuk mesin A?
Jawab :
Degree of Operating Leverage (DOL)
DOL = S-BV
=
Qx(P-V)
Dimana:
S-BV-T
Qx(P-V)-BT
Q= jumlah unit produk
P= harga jual per unit
V= biaya variabel per unit
T= biaya tetap
Pemecahan:
DOL = S-BV
S-BV-T

Qx(P-V)
Qx(P-V)-BT

DOL = 00x(5000-4000)
5000x(5000-4000)-100.000

= 1,25

2. Berapakah degree of operating (DOL) Cv. Sekar Adina untuk mesin B?


Jawab :
Degree of Operation Leverage (DOL)
DOL = S-BV
=
Qx(P-V)
S-BV-T
Qx(P-V)-BT

Pemecahan:
DOL = S-BV
S-BV-T
DOL =

Dimana:
Q= jumlah unit produk
P= harga jual per unit
V= biaya variabel per unit
T= biaya tetap

Qx(P-V)
Qx(P-V)-BT

_500x(5000-3000)
5000x(5000-3000)-500.000

=2

3. Berapakah Degree of Financial Leverage (DFL) Cv. Sekar Adina untuk mesin A, bila
diketahui mesin A menanggung biaya bunga sebesar Rp. 100.000 dan beban pajak 40%?
Jawab :
Degree of Financial Leverage (DFL)
DFL = EBIT = Qx(P-V)-BT
EBIT-I
Qx(P-V)-BT-I

Dimana:
Q= jumlah unit produk
P= harga jual per unit
V= biaya variabel per unit
T= biaya tetap
I= biaya bunga

4. Berapakah Degree of Financial Leverage (DFL) Cv.Sekar Adina untuk mesin A, bila diketahui
mesin A menanggung biaya bunga sebesar Rp. 300.000 dan beban pajak 40%?
Jawab :
Degree of Financial Leverage (DFL)
DFL =
EBIT =
Qx(P-V)-BT
Dimana:
EBIT-I
Qx(P-V)-BT-I
Q= jumlah unit produk
P= harga jual per unit
V= biaya variabel per unit
T= biaya tetap
I= biaya bunga
Penjualan
Biaya variabel
Kontribusi margin

Mesin A
2.500.000
1.500.000
1.000.000

Biaya tetap
EBIT
Biaya bunga
EBT
Pajak 40%
EAT

500.000
500.000
300.000
200.000
80.000
120.000

Pemecahan:
DFL = EBIT = Qx(P-V)-BT
EBIT-I
Qx(P-V)-BT-I
DFL

= _500.000
500.000-300.000

= 2,5