Anda di halaman 1dari 23

PERSPEKTIF KOMBINASI: PENILAIAN ULANG

PENGEMBANGAN WILAYAH SUMATERA


BARAT
Fider Tendiardi1 dan Raldi Hendro Koestoer2
Abstrak
Paradigma pengembangan wilayah dengan menggunakan sebuah pendekatan
sektoral semata saat ini sudah banyak ditinggalkan. Hal ini banyak disebabkan
karena permasalahannya mencakup kompleksitas tinggi, dan untuk itu perlu
adanya pendekatan integratif. Pendekatan kombinasi metode Input-Output dan
Location Quotient adalah contoh perlakuan integratif yang dapat dilakukan
dalam upaya menentukan arah pengembangan suatu wilayah secara optimal.
Aplikasi dimaksud diterapkan dalam kasus Provinsi Sumatera Barat dimana
sebaran sektor-sektor potensial secara sekaligus dicerminkan dalam konteks
spatial, dan pada gilirannya dipahami potensi sektor menurut region.
Abstract
Regional development paradigm using purely a single approach is relatively
unacceptable . This is due highly to problems composing high complexity, and
therefore it is highly indispensable an integrative approach. A combination
approach of Input-Output and Location Quotient is an example of an integrative
treatment that can be applied to find solution of optimal development for region
concerned. Application is implemented in the case of West Sumatra province
where the distribution of potential sectors are simultaneously reflected in a
spatial context, and in turn to understand the potential of the sector in the
region.

I. PENDAHULUAN
Perkembangan
ilmu
pengetahuan
saat
ini
menuntut
adanya
penyempurnaan
pendekatan
dalam
memahami
permasalahan
pengembangan wilayah. Pandangan sektoral untuk mengatasi suatu
permalasahan dirasakan belum dapat memberikan hasil akurat dalam
analisis dan pengambilan keputusan. Permasalahan pengembangan
1 Lulusan Magister Sains Geografi Universitas Indonesia, e mail:
tendi_thole03@yahoo.com
2 Peneliti dan Dosen Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia, e mail:
ralkoest@yahoo.co.uk

wilayah saat ini cukup kompleks dan untuk itu pandangan terhadap
perspektif sektor semata, perlu ditinjau ulang. Alternatifnya adalah
diusulkan pendekatan terpadu. Ciri pendekatan integratif antara lain
meninjau dari berbagai sisi sudut pandang.

Proses perencanaan pengembangan wilayah selalu berhadapan dengan


objek-objek perencanaan yang memiliki sifat keruangan (spasial). Oleh
karenanya dalam analisis perencanaan wilayah, tinjauan yang
menyangkut berbagai objek dalam sistem keruangan menjadi sangat
penting. Tidak mengherankan proses perencanaan pengembangan
wilayah membutuhkan suatu pendekatan yang integratif.
Sejak diberlakukan Undang-undang otonomi daerah tahun 2004, provinsiprovinsi di Indonesia saling berlomba-lomba guna mengembangkan
daerahnya masing-masing. Provinsi Sumatera Barat, sebagai contoh, yang
merupakan bagian integral dari perekonomian Indonesia, perkembangan
ekonominya cenderung merujuk dan bersinergi dalam mewujudkan
resultante pembangunan nasional. Sjafrizal (2008) dalam studinya
mengenai pertumbuhan ekonomi regional Sumatera Barat tahun 2000
2005 melakukan analisis untuk mengetahui potensi daerah yang dimiliki
Sumatera Barat dengan menggunakan pendekatan integratif, diantaranya
adalah teknik Location Quotient dan Input-Output. Pengelompokkan
sektor-sektor berdasarkan Location Quotient pada dasarnya masih bersifat
kasar karena hanya didasarkan pada informasi sekunder, yaitu nilai
tambah produksi. Untuk memperoleh hasil yang lebih akurat
perlu
dilakukan survei lapangan.
Selanjutnya, Sjafrizal hanya dapat menggunakan data tabel Input-Output
Sumatera Barat tahun 1999. Hal ini tentu perlu dinilai kembali analisis
data I-O yang lebih mutahir. Makalah ini berupaya mengelaborasi hasil
kajian sektor (I-O) dan menelusuri kekuatan sektor dimaksud secara
spatial. Data yang digunakan adalah data I-O 2007, dan diaplikasikan
secara kombinasi dengan ulasan Location Quotient guna mendapatkan
penilaian kombinasi yang lebih versatile.

II. METODE INPUT-OUTPUT & LOCATION QUOTIENT


Analisis Input-Output adalah suatu analisis atas perekonomian suatu
wilayah secara komprehensif karena melihat keterkaitan antarsektor
ekonomi wilayah tersebut secara keseluruhan. Dengan demikian, apabila
terjadi perubahan tingkat produksi atas sektor tertentu, dampaknya
terhadap sektor lain dapat dilihat (Tarigan, 2005). Model Input-Output

dapat menjadi dasar keputusan terhadap arah pengembangan suatu


sektor ekonomi di suatu wilayah tertentu. Dengan melakukan analisis
tabel input output, dapat dilihat keterkaitan antar sektor ekonomi dalam
suatu wilayah tertentu secara komprehensif.
Tabel input-output adalah uraian dalam bentuk matriks baris dan kolom
yang menggambarkan transaksi barang-barang dan jasa serta keterkaitan
antara sector lainnya. Dalam konsep dasar model input-output
ditunjukkan pada proses industri untuk memproduksi suatu keluaran
(output), setiap sektor memerlukan masukan (input) tertentu dari sektorsektor lain. Kemudian masing-masing sektor tersebut menjual
keluarannya kepada sektor lainnya, sehingga dapat memenuhi kebutuhan
bahan
antara
(intermediate
input-output).
Seberapa
besar
ketergantungan sektor-sektor terhadap sektor lainnya ditentukan oleh
besarnya input yang digunakan dalam proses produksi, dengan kata lain
pengembangan suatu sektor tidak akan tercapai apabila tidak didukung
oleh input sektor lain (Rustiadidkk., 2009).
Location Quotient (LQ) adalah suatu ratio perbandingan tentang besarnya
peranan suatu sektor/industri di suatu wilayah terhadap besarnya peranan
sektor/industri tersebut terhadap wilayah yang lebih besar secara
nasional. LQ dapat digunakan sebagai petunjuk adanya keunggulan
komparatif bagi sektor-sektor yang telah berkembang (Tarigan, 2005).
Adapun rumus yang digunakan dalam teknik LQ adalah sebagai berikut
LQ=

Si/
S/N

Dimana:
Si = Nilai Sektor A di suatu wilayah
Ni = Total Sektor di suatu wilayah
S = Nilai Sektor A di wilayah referensi
N = Total sektor di wilayah referensi.
Nilai LQ yang diperoleh akan berada dalam kisaran lebih kecil atau sama
dengan satu sampai lebih besar dari angka 1 (1 > LQ > 1). Bila nilai LQ <
1 dapat dikatakan komoditas pada daerah tersebut tidak terspesialisasi
(non basis), sebaliknya bila nilai LQ > 1 maka dapat dikatakan komoditas
pada daerah tersebut terspesialisasi (basis). Besaran nilai LQ
menunjukkan besaran derajat spesialisasi atau konsentrasi dari suatu
komoditas di wilayah yang bersangkutan relatif terhadap wilayah

referensi. Artinya semakin besar nilai LQ di suatu wilayah, semakin besar


pula derajat konsentrasinya di wilayah tersebut.
2.1 ULASAN INPUT-OUTPUT (I-O)
Analisis Input-Output (I-O) merupakan suatu metode perhitungan untuk
menganalisis struktur perekonomian suatu wilayah secara rinci. Model
analisis I-O mampu menyajikan gambaran rinci mengenai struktur
ekonomi dan hubungan antar sektor dalam perekonomian suatu wilayah
pada satu waktu tertentu (Setiono, 2011). Analisis I-O merupakan bentuk
analisis antar sektor. Sistem I-O disusun berdasarkan asumsi perilaku
ekonomi yang merupakan penyederhanaan kerangka untuk mengukur
aliran masukan (input) dan keluaran (output) berbagai faktor kegiatan
ekonomi dalam suatu wilayah. Sistem penghitungan ini mengikuti arus
barang dan juga jasa dari satu sektor produksi ke sektor produksi lainnya.
Input-Output menunjukkan dalam perekonomian secara keseluruhan
terkandung saling berhubungan dan saling ketergantungan antar sektor.
Output suatu sektor merupakan input bagi sektor lainnya begitu pula
sebaliknya, sehingga pada akhirnya saling keterkaitan tersebut akan
membawa kearah keseimbangan antara penerimaan dan penawaran
dalam perekonomian secara keseluruhan.
Tujuan umum model I-O ialah menjelaskan besaran aliran antar industri
dalam hubungannya dengan tingkat produksi dalam setiap sektor. Satu
aspek yang sangat penting dalam perekonomian yaitu hubungan antar
industri. Hubungan ini bersifat saling ketergantungan satu dengan yang
lain. Hasil produksi satu macam produksi berarti bahan dasar bagi
industri lain, atau dengan kata lain, keluaran industri i merupakan
masukan bagi industri k. Oleh karena itu perubahan pada suatu industri
akan berpengaruh pada industri yang lainnya. Model I-O pada umumnya
disajikan dalam bentuk tabel (Rustiadi et al, 2009).
Tabel I-O pada mulanya dikembangkan oleh Prope K.W Leontief pada
tahun 1936, ketika ia pertama kalinya menyusun tabel I-O Amerika
Serikat. Pendekatan analisisnya didasarkan pada ajaran neo-klasik yang
berpijak pada teori keseimbangan ekonomi. Ia menyusun hubungan
kuantitatif antara suatu kegiatan ekonomi dengan kegiatan-kegiatan
ekonomi lainnya melalui data emperis. Model-model ekonominya
merupakan persamaan linear yang menurunkan koefesien teknis yang
kemudian disusun dalam bentuk matriks dan dikenal dengan Matriks
Kebalikan Leontief.

Tabel I-O Indonesia dikenalkan dan disusun oleh suatu tim yang terdiri dari
LIPI dan Kyoto University Japan pada tahun 1996, tetapi lebih banyak
bersifat studi daripada penyusunan sungguhan. Kemudian dibentuk tim
yang terdiri dari BPS, BI, Institute of Developing Economics Japan dan
Kyoto University Japan yang menghasilkan tabel I-O Indonesia 1971
sungguhan. Penyusunan tabel I-O selanjutnya dilakukan secara berkala
lima tahun sekali yaitu dimulai dari tabel I-O Indonesia 1975, 1980, 1985,
1990, 1995, 2000, dan yang terakhir tabel I-O Indonesia 2005 (BPS,
2009).
Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa maksud Leontief menyusun
Tabel I-O adalah untuk menyajikan matriks kebalikan. Namun tabel itu
sendiri secara otomatis menghasilkan nilai tambah bruto sektoral. Nilai
tambah bruto itu sudah seharusnya diterima oleh para produsen domestik
sebagai balas jasa dari faktor produksi yang mereka pergunakan dalam
proses produksi. Jika nilai tambah semua sektor dijumlahkan dan
ditambahkan lagi PPN impor dan bea masuk, maka akan diperoleh Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB). Secara teoritis angka-angka nilai tambah
bruto yang diperoleh dari tabel I-O seharusnya sama dengan PDB/PDRB,
akan tetapi kenyataanya berbeda satu sama lain.
Konsep dan definisi yang digunakan dalam perhitungan PDB/PDRB tidak
berbeda dengan yang digunakan pada tabel I-O. Perbedaan antara
keduanya ditimbulkan akibat dari ruang lingkup, metode estimasi, metode
pendekatan dan data yang digunakan. Pembagian sektor (lapangan
usaha) pada perhitungan PDB/PDRB masih tergolong global, sedangkan
pada tabel I-O sudah terperinci, sehingga perhitungan pada Tabel I-O akan
lebih teliti dibanding PDB/PDRB.
2.2 Ulasan Location Quotient (LQ)
Location Quotient (LQ) adalah salah satu teknik untuk menghitung
kapasitas ekspor suatu perekonomian (wilayah) dan juga untuk
mengetahui derajat kemandirian suatu sektor di perekonomian wilayah
tersebut (Setiono, 2011). Teknik LQ merupakan salah satu pendekatan
yang umum digunakan dalam model basis ekonomi untuk memahami
sektor
kegiatan
yang
menjadi
pemacu
pertumbuhan
suatu
daerah/wilayah. LQ mengukur konsentrasi relatif atau derajat spesialisasi
kegiatan ekonomi melalui pendekatan perbandingan.
Teori basis ekonomi mendasarkan pandangannya bahwa laju
pertumbuhan ekonomi suatu wilayah ditentukan oleh besarnya
peningkatan ekspor dari wilayah tersebut (Tarigan, 2005). Ekspor itu

sendiri tidak terbatas pada bentuk barang-barang jasa, akan tetapi dapat
juga berupa pengeluaran orang asing yang berada di daerah/wilayah
tersebut terhadap barang-barang tidak bergerak.
Teori basis ekonomi mengklarifikasikan seluruh kegiatan ekonomi ke
dalam dua sektor yaitu sektor basis dan sektor non basis. Deliniasi
wilayah dilakukan berdasarkan konsep-konsep pengwilayahan yaitu
konsep homogenitas, nodalitas, dan administrasi.
Dalam proses perhitungan, analisis LQ menggunakan perbandingan
antara kondisi perekonomian suatu wilayah dengan perekonomian acuan
yang melingkupi wilayah yang lebih besar. Metode ini relatif tidak terlalu
sulit, karena prosesnya sederhana dan tidak membutuhkan banyak data,
sehingga mudah dilakukan dan cepat memberikan hasil perhitungan
(Setiono, 2011)

III. GAMBARAN UMUM SUMATERA BARAT: Lokasi, Penduduk dan


Ekonomi.
Sumatera Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di
pesisir barat pulau Sumatera dengan ibu kota Padang. Sumatera Barat
berbatasan langsung dengan Samudra Hindia di sebelah barat, provinsi
Jambi dan provinsi Bengkulu di sebelah selatan, provinsi Riau di sebelah
timur, dan provinsi Sumatera Utara di sebelah utara.

Provinsi yang terletak antara 0,45o LU dan 3,30o LS serta antara 98,36o
dan 101,53o BT. Sumatera Barat memiliki luas 42.297,30 km 2, terdiri dari
12 kabupaten dan 7 kota, Lihat Gambar 1; serta memiliki 391 pulau yang
191 diantaranya belum bernama.

Gambar 1. Administrasi
Penduduk Sumatera Barat terus bertambah dari waktu ke waktu.
Tahun 1971 jumlah penduduk Sumatera Barat 2,8 juta jiwa. Tahun
1980 sebnyak 3,0 juta jiwa. Tahun 1990 sebanyak 3,5 juta jiwa.
Tahun 2000 sebanyak 4,2 juta jiwa, dan pada tahun 2010 sudah
mencapai 4,8 juta jiwa. Jumlah penduduk Sumatera Barat menurut sensus
tahun 2010 adalah 4.827.973 jiwa, dengan jumlah penduduk laki-laki
sebanyak 2.367.599 jiwa dan jumlah penduduk wanita sebanyak
2.460.374 jiwa. Daerah dengan jumlah penduduk terbesar adalah Kota
Padang, yaitu sebesar 875.548 jiwa, dan daerah dengan jumlah penduduk
terkecil adalah Kota Sawahlunto yaitu sebesar 54.685 jiwa.
Kepadatan penduduk menurut kabupaten menunjukkan pada gambaran
yang tidak merata. Kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Kota Bukit
Tinggi yaitu 4656 jiwa/km2 dan kepadatan penduduk terendah berada di
Kabupaten Kepulauan Mentawai yaitu 13 jiwa/km2. Laju Pertumbuhan
Penduduk Sumatera Barat per tahun selama sepuluh tahun terakhir,
tahun 20002010, sebesar 1,34 persen. Laju pertumbuhan penduduk
Kabupaten Dharmasraya adalah yang tertinggi dibandingkan dengan
Kabupaten/Kota sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Tanah Datar
yakni 0,33 persen.
Struktur perekonomian Sumatera Barat sampai dengan tahun 2011 masih
di dominasi oleh sektor pertanian yaitu sebesar 23,5 persen dari distribusi
PDRB Sumatera Barat. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi
Sumatera Barat tahun 2007 2011 memperlihatkan bahwa sektor
pertanian masih menjadi sektor andalan. Padi, kelapa sawit, karet,
cengkeh, dan lada merupakan komoditas unggulan dari Sumatera Barat.

Tabel 1. Distribusi persentase sektor pertanian terhadap PDRB atas harga


berlaku 2007 2011 (dalam persen)

Sumber:

IV. PEMBAHASAN
4.1 Strategi Pembangunan Sumatera Barat
Strategi dan kebijakan pembangunan ekonomi Povinsi Sumatera Barat
periode 2005 2020 dirumuskan dengan memperhatikan analisa struktur
ekonomi daerah. Selain perubahan lingkungan strategis daerah seperti
semakin mantapnya pelaksanaan otonomi daerah dan
terjadinya
globalisasi dalam kegiatan ekonomi internasional, distribusi kewenangan
dalam pengelolaan pembangunan ekonomi antara pemerintah pusat dan
daerah juga turut diperhatikan dalam perumusan strategi dan kebijakan
pembangunan ekonomi daerah Sumatera Barat untuk periode 2005
2020.
Arah pembangunan jangka panjang daerah Sumatera Barat disusun
berdasarkan analisis potensi atau keunggulan daerah. Hasil kajian dengan
metode pengukuran basis ekonomi memberikan gambaran tentang
keunggulan daerah dan daya saing daerah berkaitan erat dengan potensi
atau sumberdaya daerah. Dalam penulisan ini metode pengukuran basis
ekonomi Provinsi Sumatera Barat dilakukan melalui metode Input-Output.
Analisis dilakukan berdasarkan tabel Input Output Provinsi Sumatera
Barat tahun 2007 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi
Sumatera Barat. Dari analisis input-output Sumatera Barat tersebut
selanjutnya dilakukan analisis keruangan dengan menggunakan metode
Location Quotient (LQ) dan superimposed peta. Analisis keruangan
dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih pasti tentang
distribusi spasial potensi-potensi sumberdaya yang dimiliki oleh Provinsi
Sumatera Barat.

4.2 Input-Output Sumatera Barat

Tabel I-O Sumatera Barat, mengelompokkan sektor-sektor produksi


menjadi 9 kelompok, yaitu:
1. Pertanian, Perburuan, Kehutanan, dan Perikanan
2. Pertambangan dan Penggalian
3. Industri Pengolahan
4. Listrik, Gas dan Air Bersih
5. Bangunan
6. Perdagangan, Perhotelan, dan Restoran
7. Pengangkutan dan Komunikasi
8. Keuangan, Real Estate, Dan Jasa Perusahaan
9. Jasa Jasa
Berdasarkan tabel I-O Sumatera Barat diperoleh hasil analisis sebagai
berikut:
1. Struktur permintaan dan penawaran
Dilihat dari segi sudut permintaan, seluruh produksi barang dan jasa yang
tercipta akan digunakan baik untuk melakukan proses produksi lebih
lanjut maupun digunakan oleh konsumen akhir. Produksi yang digunakan
oleh sektor produksi dalam rangka kegiatan produksinya disebut sebagai
permintaan antara, sedangkan produksi yang digunakan untuk memenuhi
konsumsi akhir domestik disebut sebagai permintaan akhir. Permintaan
akhir tersebut terdiri atas konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta
nirlaba, konsumsi pemerintahan, pembentukan modal tetap bruto dan
perubahan stok.
Secara total, produksi domestik mampu menguasai 94,77 persen dari
seluruh penyediaan barang dan jasa yang ada di Provinsi Sumatera Barat,
sisanya sebesar 5,23 persen berasal dari luar Provinsi Sumatera Barat.
Sementara bila dilihat dari sisi permintaan sebesar 39,98 persen
permintaan berasal dari sektor produksi di Provinsi Sumatera Barat yang
merupakan permintaan antara dan 46,28 persen digunakan sebagai
konsumsi akhir domestik. Sisanya sebesar 13,75 persen permintaan
datang dari luar Provinsi Sumatera Barat.
Di Provinsi Sumatera Barat, sektor pertanian sangat berperan banyak. Hal
tersebut terlihat dari 99,01 persen permintaan dipenuhi oleh penyediaan
produksi domestik di Provinsi Sumatera Barat sedangkan produk pertanian
yang harus dipenuhi oleh barang impor dari luar Provinsi Sumatera Barat
hanya sebesar 0,99 persen dari total penyediaan. Dari sisi permintaan,
sebesar 47,46 persen produksi pertanian digunakan untuk memenuhi
permintaan antara, sebesar 37,27 persen untuk memenuhi konsumsi
domestik dan hanya 15,27 persen yang diekspor.

Sektor perdagangan menjadi sektor yang kedua terbesar di Provinsi


Sumatera Barat. Peranannya dalam pembentukan PDRB Provinsi
Sumatera Barat mencapai 17,74 persen, output yang mampu diciptakan
oleh sektor ini adalah sebesar 17.202,64 miliar rupiah. Nilai ini mampu
memenuhi 99,32 persen kebutuhan pada sektor ini, dan hanya sebesar
0,68 persen yang harus diimpor dari luar Provinsi Sumatera Barat.
2. Struktur Ouput
Sektor perdagangan besar dan eceran merupakan sektor terbesar
pertama menurut peringkat outputnya. Output sektor tersebut
memberikan andil 16,63 persen. Sektor angkutan jalan raya merupakan
sektor terbesar kedua yaitu memberikan kontribusi sebesar 11,92 persen.
Sektor jasa pemerintahan umum dan pertahanan sebesar 8,28 persen,
sektor kontruksi sebesar 6,42 persen, sektor padi 4,80 persen, sektor
industri tekstil, pakaian & kulit sebesar 3,85 persen, sektor industri
minyak dan lemak sebesar 3,74 persen, sektor industri beras sebesar 2,79
persen, sektor kelapa sawit sebesar 2,70 persen dan yang kesepuluh
sektor jasa perorangan sebesar 2,43 persen.
3. Dampak Kebutuhan Tenaga Kerja
Sektor yang terbanyak menyerap tenaga kerja di Propinsi Sumatera Barat
adalah sektor pertanian yaitu sebesar 47.93 persen atau sebanyak
905.575 orang. Sektor kedua terbesar dalam penyerapan tenaga kerja
adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran yang mencapai 20,33
persen atau sebanyak 384.094 orang. Dan sektor ketiga terbesar dalam
penyerapan tenaga kerja adalah sektor jasa-jasa yang mencapai 11,89
persen atau sebanyak 224.592 orang.
Berdasarkan besaran remental Labour Output Ratio (ILOR) diperoleh
sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel & restoran, dan sektor
industri pengolahan merupakan 3 sektor dalam perekonomian Sumatera
Barat yang memiliki nilai ILOR yang relatif tinggi. Hal ini menunjukkan
bahwa semakin tinggi output pada sektor pertanian, perdagangan hotel &
restoran, dan sektor industri pengolahan maka semakin tinggi pula
kesempatan kerja yang tercipta, dengan asumsi kenaikan output seolaholah
4. Sektor-Sektor Strategis dalam Pembangunan Sumatera Barat
Berdasarkan indeks daya penyebaran (IDP) dan indeks daya kepekaan
(IDK) diketahui bahwa sektor-sektor yang strategis untuk dikembangkan

dalam pembangunan daerah Sumatera Barat adalah sebagai barikut :


kelapa sawit, industri makanan lainnya, industri tekstil pakaian & kulit,
industri barang karet & plastik, listrik, konstruksi, perdagangan besar dan
eceran, dan angkutan jalan raya.

Tabel 2. Sektor-sektor strategis menurut Indeks Daya Penyebaran dan


Indeks Derajah Kepekaan tabel input-outpu Sumatera Barat 2007

Sumber: BPS, Sumatra Barat

4.3 Analisis Location Quotient (LQ)


Meskipun model Input-Output merupakan kerangka analisis andalan yang
digunakan untuk melakukan perencanaan pengembagan wilayah, namun
model ini pun tidak lepas dari kelemahan-kelemahan. Model Input-Output
hanya dapat memberikan gambaran mengenai karakteristik struktur
ekonomi suatu wilayah saja tanpa dapat memberikan distribusi
spasialnya. Oleh karena itu agar dapat memberikan analisis keruangan
yang lebih detil tentang potensi pengembangan wilayah Sumatera Barat,
selanjutnya dilakukan analisis location quotient (LQ) untuk mengetahui
sektor-sektor perekonomian yang menjadi basis di suatu daerah.
1. Sektor Pertanian

Berdasarkan hasil analisis LQ, diketahui bahwa terdapat 13


kabupaten/kota di Sumatera Barat dengan nilai LQ lebih dari 1, atau dapat
dikatakan terdapat 13 kabupaten/kota yang menjadi basis sektor
pertanian di Sumatera Barat. Adapun kabupaten/kota tersebut adalah
Agam, Dharmasraya, Kepulauan Mentawai, Limapuluh Kota, Padang
Pariaman, Pariaman, Pasaman, Pasaman Barat, Pesisir Selatan, Sijunjung,
Solok Selatan, Kabupaten Solok dan Tanah Datar, dengan tingkat
spesialisasi tertinggi terdapat di Kepulauan Mentawai (LQ = 2,39).
2. Sektor Industri
Berdasarkan hasil analisis LQ, diketahui bahwa terdapat 4 kabupaten/kota
di Sumatera Barat dengan nilai LQ lebih dari 1, atau dapat dikatakan
terdapat 4 kabupaten/kota yang menjadi basis sektor industri di Sumatera
Barat. Adapun kabupaten/kota tersebut adalah Padang, Pariaman,
Pasaman Barat, dan Pesisir Selatan dengan tingkat spesialisasi tertinggi
adalah Kota Pariaman (LQ = 2,24).
3. Sektor Konstruksi
Berdasarkan hasil analisis LQ, diketahui bahwa terdapat 9 kabupaten/kota
di Sumatera Barat dengan nilai LQ lebih dari 1, atau dapat dikatakan
terdapat 9 kabupaten/kota yang menjadi basis sektor industri di Sumatera
Barat. Adapun kabupaten/kota tersebut adalah Dharmasraya, Sawahlunto,
Kota Solok, Padang Panjang, Pariaman, Payakumbuh, Sijunjung, Solok
Selatan, dan Tanah Datar, dengan tingkat spesialisasi tertinggi adalah
Kota Solok (LQ = 2,53).
4. Sektor Listrik
Berdasarkan hasil analisis LQ, diketahui bahwa terdapat 7 kabupaten/kota
di Sumatera Barat dengan nilai LQ lebih dari 1, atau dapat dikatakan
terdapat 7 kabupaten/kota yang menjadi basis sektor industri di Sumatera
Barat. Adapun kabupaten/kota tersebut adalah Bukit Tinggi, Padang,
Padang Panjang, Padang Pariaman, Pariaman, Payakumbuh, Sijunjung,
Solok Selatan dan Tanah Datar, dengan tingkat spesialisasi tertinggi
adalah Sijunjung (LQ = 2,16).
5. Sektor Perdagangan
Berdasarkan hasil analisis LQ, diketahui bahwa terdapat 7 kabupaten/kota
di Sumatera Barat dengan nilai LQ lebih dari 1, atau dapat dikatakan
terdapat 7 kabupaten/kota yang menjadi basis sektor industri di Sumatera
Barat. Adapun kabupaten/kota tersebut adalah Bukit Tinggi, Kepulauan
Mentawai, Limapuluh Kota, Padang, Pasaman Barat, Payakumbuh, dan
Pesisir Selatan, dengan tingkat spesialisasi tertinggi adalah Pasaman
Barat (LQ = 1,43).

6. Sektor Angkutan
Berdasarkan hasil analisis LQ, diketahui bahwa terdapat 7 kabupaten/kota
di Sumatera Barat dengan nilai LQ lebih dari 1, atau dapat dikatakan
terdapat 7 kabupaten/kota yang menjadi basis sektor industri di Sumatera
Barat. Adapun kabupaten/kota tersebut adalah, Bukit Tinggi, Kota Solok,
Padang, Padang Panjang, Padang Pariaman, Pariaman, dan Payakumbuh,
dengan tingkat spesialisasi tertinggi adalah Padang Pariaman (LQ = 1,70).
Untuk lebih jelasnya mengenai hasil perhitungan LQ untuk tiap sektor di
Sumatera Barat dapat dilihat pada tabel 2 dan peta 1 sampai peta 6.

4.4 Potensi Pengembangan Wilayah Sumatera Barat


Berdasarkan analisis struktur ekonomi Sumatera Barat, PDRB Sumatera
Barat memperlihatkan sektor pertanian masih menjadi andalan bagi
Sumatera Barat untuk melaksanakan proses pembangunan. Dengan
persentase distribusi sebesar 24,67 persen, menjadi sektor pertanian
sebagai sektor penyumbang PDRB terbesar di Sumatera Barat. Sektor
perdagangan menempati urutan kedua dalam PDRB Sumatera Barat
dengan persentase sebesar 17,34 persen.
Perencanaan pengembangan wilayah sudah seharusnya dilakukan
berdasarkan potensi yang dimiliki oleh wilayah tersebut. Hal ini untuk
menghindari terjadinya kesalahan dalam penetapan arah kebijakan yang
akan diambil terkait proses pembangunan. Sumatera Barat sebagai salah
satu wilayah pesisir dengan potensi pertanian cukup besar perlu
melakukan perencanaan pengembangan wilayah sehingga tercapai tujuan
pembangunan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Model I-O sebagai salah satu metode analisis struktur perekonomian suatu
wilayah, merupakan kerangka landasan analisis yang dapat digunakan
untuk kebutuhan perencanaan pembangunan dan pengembangan wilayah
dan hasil-hasil pembangunan di Provinsi Sumatera Barat. Model inputoutput yang tersaji dalam bentuk tabel, akan menunjukkan sektor-sektor
potensial yang dapat dikembangkan lebih lanjut dalam rangka
pengembangan wilayah.
Berdasarkan indeks daya penyebaran (IDP) dan indeks daya kepekaan
(IDK) diketahui bahwa sektor-sektor yang strategis untuk dikembangkan
dalam pembangunan daerah Sumatera Barat adalah kelapa sawit, industri
makanan lainnya, industri tekstil pakaian dan kulit, industri barang karet
dan plastik, listrik, konstruksi, perdagangan besar dan eceran, dan

angkutan jalan raya. Kelapa sawit (sektor pertanian), dan sektor industri
berdasarkan struktur PDRB diketahui merupakan penyumbang terbesar di
Sumatera Barat, hal ini menyebabkan kedua sektor tersebut menjadi
sektor andalan dalam rangka pengembangan wilayah.
Jika dari model input-output kita hanya dapat mengetahui sektor-sektor
mana saja yang memiliki peran strategis untuk dikembangkan dalam
pembangunan Sumatera Barat, maka analisis location quotient (LQ) dapat
dilakukan untuk mengetahui distribusi spasial daerah-daerah di Sumatera
Barat yang potensial untuk mengembangkan sektor-sektor strategis tadi.
Gambar 2 sampai 6 menunjukkan daerah-daerah di Sumatera Barat yang
berpotensi untuk dikembangkan sebagai basis sektor-sektor unggulan.
Kecuali untuk komoditas kelapa sawit, penjelasan lebih lanjut mengenai
potensi pengembangan komoditas kelapa sawit dapat kita lihat pada
Gambar 7 tentang distribusi produksi kelapa sawit di Sumatera Barat. Dari
Gambar 7, dapat terlihat bahwa Pasaman Barat merupakan daerah yang
berpotensi untuk dikembangkan sebagai basis komoditas kelapa sawit
karena memiliki tingkat produksi kelapa sawit yang tinggi dan nilai LQ
untuk sektor pertanian lebih dari 1 (basis).

V. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis model input-output dapat diketahui sektor-sektor
strategis yang dapat dikembangkan dalam rangka pengembangan wilayah
Sumatera Barat adalah (i) kelapa sawit, (ii) industri makanan lainnya, (iii)
industri tekstil pakaian-kulit, (iv) industri barang karet & plastik, (v) listrik,
(vi) konstruksi, (vii) perdagangan besar dan eceran, dan (viii) angkutan
jalan raya. Hasil analisis I-O masih pada tataran sektor-wise, dan belum
dapat menunjukkan dimana kapasitas sektor unggulan tersebut berada.
Untuk itu, analisis LQ melengkapi temuan tentang persebaran daerahdaerah yang potensial secara agregatif untuk mengembangkan sektorsektor unggulan tersebut adalah:
1. Sektor pertanian (kelapa sawit) dapat dikembangakan di Pasaman
Barat.
2. Sektor industri dapat dikembangkan di Kota Pariaman.
3. Sektor konstruksi dapat dikembangkan di Kota Solok
4. Sektor listrik dapat dikembangkan di Sijunjung
5. Sektor perdagangan dapat dikembangkan di Pasaman Barat, dan
6. Sektor angkutan dapat dikembangkan di Padang Pariaman
Penilaian ulang dengan menggunakan sekuensial analisis Input-Output
dan analisis Location Quotient dalam menentukan potensi pengembangan
wilayah Provinsi Sumatera Barat dapat memberikan gambaran yang lebih

nyata mengenai sebaran potensi yang dimiliki oleh tiap-tiap wilayah. Jika
metode analisis Input-Output hanya dapat memberikan gambaran sektorsektor unggulan semata; keterbatasan ini, disolusikan melalui metode
analisis LQ, dimana hasil penilaian versi LQ dapat memberikan gambaran
lebih detil tentang sebaran wilayah dimana potensi sektor-sektor
unggulan ala I-O dapat dikembangkan lebih lanjut dalam rangka
pengembangan wilayah Sumatera Barat. Lihat Gambar Potensi dalam
Sebaran Ruang, Gambar 2-7.
Tidak ada suatu pendekatan yang robust untuk semua hal. Oleh karena
itu kombinasi antara kedua pendekatan akan melengkapi temuan yang
diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku
BPS. 2009. Sumatera Barat Dalam Angka 2008. Sumatera Barat: BPS.
BPS. 2009. Penghitungan dan Analisis Tabel Input-Output Sumatera Barat
2007. Sumatera Barat: BPS dan Bappeda Sumatera Barat
BPS. 2010. Sumatera Barat Dalam Angka 2009. Sumatera Barat: BPS
Rustiadi, Ernan, Sunsun Saefulhakim, Dyah R. Panju.2009. Perencanaan
dan Pengembangan Wilayah. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Setiono, Dedi NS. 2011. Ekonomi Pengembangan Wilayah: Teori dan
Analisis. Jakarta:
Lembaga Penerbit FEUI
Sjafrizal. 2008. Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi. Sumatera Barat:
Baduose Media
Tarigan, Robinson. 2005. Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi. Jakarta:
Bumi Aksara

Sumber Internet:
Sumber: http://sumbar.bps.go.id/web/arc/pdrblapanganusaha20072011/index.html
Krugman, P. 2008, The Increasing Returns Revolution in Trade and Geography.
Paul Krugman delivered his Prize Lecture on 8 December 2008 at Aula Magna,
Stockhaol
University.,
http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/economicsciences/laureates/2008/krugman-lecture.html

Tabel 2. PDRB Sumatera Barat Menurut Harga Berlaku Tahun 2007.

No
1

Lapangan Usaha
Pertanian
a. Tanaman pangan & hortikultura
b. Perkebunan
c. Peternakan
d. Kehutanan
e. Perikanan

Pertambangan/Penggalian
a. Minyak dan gas bumi
b. Petambangan tanpa migas
c. Penggalian

Industri Pengolahan
a. Industri migas
b. Industri tanpa migas

Listrik, Gas, dan Air Minum


a. Listrik
b. Gas
c. Air Minum

Bangunan/Konstruksi

Perdagangan, Hotel & Restoran


a. Perdagangan besar dan eceran
b. Hotel
c. Restoran

2.059.937,
26
285.849,95
1.774.087,
31
7.179.242,
77
7.179.242,
77
822.189,05
756.759,22
65.429,83
3.290.146,
38
10.367.999
,17
10.015.331
,06
93.062,13
259.605,98

b. Komunikasi

9.009.321,
18
7.372.707,
80
1.636.613,
38

Keuangan, Persewaan, dan Jasa

2.963.365,

Pengangkutan & Komunikasi


a. Pengangkutan

Jumlah
14.754.867
,49
7.489.661,
97
3.353.780,
05
1.206.850,
05
934.184,67
1.770.390,
95

Distribusi Persentase
24,67
12,52
5,61
2,02
1,56
2,96

3,44
0,48
2,97

12,01

12,01
1,37
1,27
0,11

5,5

17,34
16,75
0,16
0,43

15,07
12,33
2,74
4,96

Perusahaan
a. Bank
b. Lembaga keuangan tanpa bank &
Jasa
c. Sewa bangunan
d. Jasa perusahaan

Jasa-Jasa
a. Pemerintah umum dan pertahanan
b. Swasta

97
925.267,34

1,55

744.010,38
1.211.606,
90
82.481,36

1,24
2,03
0,14

9.351.975,
83
6.416.216,
34
2.935.759,
49

15,64
10,73
4,91

Tabel 3. LQ Sektor produksi Sumatera Barat


KABUPATEN

PERTANIA
N

INDUSTR
I

KONSTRUKSI

LISTRIK

PERDAGANGA
N

ANGKUTAN

Agam

1,71

0,91

0,94

0,70

0,87

0,36

Bukittinggi

0,10

0,80

0,80

1,93

1,21

1,57

Dharmasraya
Kepulauan
Mentawai
Kota Sawah
Lunto

1,51

0,47

2,39

0,91

0,69

0,50

2,39

0,56

0,66

0,11

1,09

0,44

0,37

0,80

1,36

0,82

0,62

0,74

Kota Solok

0,38

0,73

2,53

0,42

0,59

1,51

Lima Puluh Koto

1,45

0,79

0,53

0,31

1,20

0,40

Padang

0,25

1,19

0,82

1,63

1,19

1,67

Padang Panjang

0,43

0,68

1,51

2,10

0,59

1,62

Padang Pariaman

1,05

0,89

0,84

1,10

0,62

1,70

Pariaman

1,23

2,24

1,52

1,02

0,61

1,07

Pasaman

2,26

0,35

0,58

0,02

0,69

0,28

Pasaman Barat

1,36

1,85

0,54

0,11

1,43

0,25

Payakumbuh

0,44

0,54

1,52

1,19

1,04

1,60

Pesisir Selatan
Sawahlunto/Sijun
jung

1,49

1,01

0,87

0,54

1,19

0,23

1,14

0,34

2,16

1,07

0,64

0,58

Solok

1,92

0,29

0,51

0,09

0,73

0,78

Solok Selatan

1,68

0,72

1,34

0,79

0,99

0,48

Tanah Datar

1,63

0,91

1,39

0,78

0,70

0,44

Sumber: Dihitung oleh Peneliti, 2012

Gambar 2,

Gambar 3,

Gambar 4,

Gambar 5,

Gambar 6,

Gambar 7,