Anda di halaman 1dari 35

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Mineral Tembaga
Mineral dan bijih logam banyak ditemukan di dalam kulit bumi. Kulit

bumi merupakan lapisan terluar dari bumi dimana memiliki ketebalan yang
mencapai 1200 km. Lapisan ini disebut juga lapisan litosfir (lithosphere). Mineral
adalah zat anorganik yang terbentuk secara alami yang memiliki komposisi kimia
dan struktur kimia tertentu. Contoh dari mineral adalah kalkosit (Cu2S), kalkopirit
(CuFeS2) dan lain sebagainya. Mineral terdapat pada batu-batuan di kulit bumi
yang dapat tersusun sebagai monomineral atau gabungan dari beberap jenis
mineral lain. Adapun bijih adalah deposit mineral yang mengandung satu atau
lebih jenis logam yang dapat diekstrak atau diolah menjadi logam secara
ekonomis. Kebanyakan bijih yang diolah berasal dari jenis oksida dan sulfida.
Mineral dapat dikategorikan kedalam beberapa kelas yang disusun
berdasarkan komposisi kimia dari mineral yaitu kelas silikat, karbonat, sulfat,
halida, oksida, phospat, native element, sulfida, borates, nitrates, molybdates.
Kebanyakan dari bijih yang diolah berasal dari kelas oksida dan sulfida.
Tembaga atau Cuprum (Cu) berasal dari bahasa yunani yaitu Kypros atau
Siprus yang berarti merah. Temabaga merupakan salah satu dari dua logam
dibumi selain emas yang berwarna merah atau kekuningan dan mempunyai nomor
atom 29 dengan kepadatan 8,92 g/ cm3. Tembaga murni akan melebur pada suhu
10830 C dan akan menjadi uap atau mendidih pada suhu 25670 C pada tekanan
normal. Logam tembaga digunakan sebagai konduktor listrik dan panas. Tembaga
memiliki kilap dan warna yang disukai, tembaga juga digunkan sebagai pemoles,
dan tembaga juga membentuk campuran dengan hampir semua logam.
Tembaga ditemukan diseluruh dunia sebagai mineral primer dalam lava
balistik. Deposit tembaga terbesar yang dikenal terdapat di Phoprhyries yang
terbentuk oleh aktifitas vulkanik di pegunungan Andean, Cili.

2.1.1 Sifat Tembaga


Dalam sistim periodik unsur tembaga masuk digolongan IB, satu golongan
dengan emas dan perak. Tembaga merupakan salah satu logam non-ferrous yang
paling penting dan banyak dipakai mulai dari industri sederhana sampai industri
berteknologi tinggi. Hal ini digunakan baik murni ataupun paduan dengan logam
lain. Secara fisika tembaga berwarna coklat kemerahan, lunak sehingga mudah di
tempa, dapat dibentuk dan merupakan konduktor panas dan penghantar listrik
yang baik. Tembaga adalah bahan penting dan sangat diperlukan dalam banyak
aplikasi karena sifiat fisik dan mekanis , termasuk konduktivitas listrik dan panas
luar biasa tinggi, ketahanan terhadap korosi yang tinggi, daktilitas yang baik
sehingga kemudahaan pengolahan dan mampu las yang baik.
Tabel 2.1 Sifat fisik Tembaga [Wiliam D Callister, 2007]
Sifat fisis

Satuan

Densitas

8920 kg/m3

Ekspansi thermal

16,5 x 10-6 K-1

Konduktivitas Panas

400 /mK

Tabel 2.2 Sifat mekanik tembaga [Wiliam D Callister, 2007]


Sifat mekanik

Satuan

Kuat tarik

200 N/mm2

Modulus Elastisitas

130 Gpa

Brinnel Hardness

874 m-2

2.1.2 Kalsifikasi dan Persebaran Bijih Tembaga di Dunia


Produksi bijih tembaga dapat dibagi kedalam tiga kelas utama, yaitu bijih
oksida, bijih karbonat dan bijih sulfida. Bijih oksida seperti cuprite dan tenorite,
bisa diolah langsung menjadi logam tembaga melalui pemanasan dengan karbon
dalam tungku. Bijih sulfida, seperti kalkopirit dan kalkosit, membutuhkan lebih
banyak perlakuan karena konsentrasi tembaga dalam bijihnya rendah sehingga
harus diperkaya dahulu sebelum peleburan dimulai.
Bijih tembaga sulfida sangat penting secara komersial. Setengah dari
deposit tembaga dunia berada dalam bijih kalkopirit.bijih ini dikeluarkan melalui
tambang terbuka atau melalui penambangan bawah tanah. Penambangan tembaga
di Indonesia terdapat di Papua, Sulut, Jabar, dan beberapa daerah lain di
Indonesia.

Gambar 2.1 Grafik produksi tembaga di berbagai negara [http://www.icsg.org/]

Chili menjadi produsen tembaga terbesar di dunia dan diikuti China


diposisi kedua. Produsen tembaga lainnya adalah Peru, Amerika Serikat,

Australia, Rusia, Zambia, Kanada, Kongo, Meksiko, Polandia, Khazakastan,


Indonesia, Iran, Brazil, Laos, Argentina, Papua New Guinea, Mongolia dan
Bulgaria.

Gambar 2.2 Produksi tembaga di dunia dari tahun 1900-2012


[http://www.icsg.org/]

Di Indonesia, persebaran tembaga bisa ditemukan hampir merata berada di


berbagai provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera
Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan
tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Timur dan Papua
[http://www.tekmira.esdm.go.id].

2.1.3 Aplikasi Tembaga


Produksi tembaga sebagian besar dipergunakan dalam industri kelistrikan,
karena tembaga mempunyai daya hantar listrik yang tinggi. Kotoran yang terdapat

10

dalam tembaga akan memperkecil/mengurangi daya hantar listriknya. Selain


mempunyai daya hantar listrik yang tinggi, daya hantar panasnya juga tinggi dan
tahan karat. Oleh karena itu tembaga juga dipakai untuk kelengkapan bahan
radiator, ketel, dan alat kelengkapan pemanasan. Tembaga mempunyai sifat dapat
dirol, ditarik, ditekan, ditekan tarik dan dapat ditempa (maleable).
Campuran penting dimana tembaga menjadi unsur utama adalah kuningan
(tembaga dan seng), perunggu (tembaga dan timah) dan nikel perak (tembaga,
seng dan nikel). Tembaga digunakan dalam hampir semua jenis uang koin dan
logam yang paling banyak digunakan setelah besi.

2.1.4 Bijih Kalkopirit


Kalkopirit adalah suatu mineral besi sulfida tembaga yang mempunyai
komposisi kimia yaitu CuFeS2. Kalkopirit merupakan mineral tembaga besi
sulfida yang secara umum memiliki komposisi 34,6 % Cu, 30,5 % Fe dan 34,9 %
S. Kalkopirit berasal dari bahasa yunani yaitu chalkos yang berarti tembaga dan
pyros yang berarti api. Bijih kalkopirit seperti kuningan dan mempunyai warna
keemasan serta mempunyai skala kekerasan 3,5 4.
Kalkopirit biasanya berasosiasi bersama dengan pirit (FeS 2), bornit
(Cu5FeS4) Spalerit (ZnS), kalkosit (Cu2S), kovelit (CuS), enargit (Cu3AsS4) atau
molibdenit (MoS2). Kalkopirit juga ditemukan bersama dengan azurit, malasit,
kuprit, native copper, chrysocolla, dan turquosise.

Gambar 2.3 Batuan kalkopirit [http://www.daviddarling.info]

11

Pada saat kalkopirit berada diudara terbuka maka kalkopirit akan


beroksidasi dengan berbagai oksida, hidroksida dan sulfat. Kalkopirit memiliki
kristal jarang dan sedikit rapuh. Warna kalkopirit kunig gelap dengan kehitaman.
Kalkopirit sering diikuti berbagai unsur-unsur lain seperti Fe, Mg, Zn, dan Sn.
2.2

Ekstraksi Bijih Tembaga

Proses pemurnian bijih tembaga dapat dilakukan dengan dua cara;


1. Pirometalurgi
Pirometalurgi

adalah

suatu

proses

pengolahan

mineral

dengan

memanfaatkan panas. Inti dari proses ini adalah pengolahan tembaga


dengan melalui suatu proses yang bertujuan untuk mengubah pengotor
senyawa

Sulfida

menjadi

Oksida

atau

disebut

dengan

proses

pemanggangan.
CuFeS2 + 9O2

2Cu2S + 2Fe2O3 + 6SO2

(2.1)

Pada persamaan kimia diatas menunjukan bahwa proses pemanggangan


bertujuan untuk mengubah Besi Sulfida menjadi Besi Oksida sedangkan
tembaga tetap sulfida. Diubahnya besi sulfida menjadi besi oksida adalah
agar pada proses selanjutnya yaitu smelting atau peleburan, tembaga
sulfida akan mencair meningalkan besi oksida yang bertitik cair lebih
tinggi dan akan ditinggalkan sebagai terak pengotor, sedangkan tembaga
yang telah mencair akan turun ke bawah karena berat jenis tembaga yang
lebih tinggi dari besi oksida.

2. Hidrometalurgi
Hidrometalurgi adalah suatu proses pengolahan mineral dari batuan alam
dengan berdasar pada air sebgai pengolahnya, namun maksud air adalah
bukan air biasa melainkan air yang telah dicampur dengan suatu asam
tertentu sebagai pelarutnya. Hidrometalurgi dipakai karena keuntungankeuntungannya antara lain.

12

Biaya pengolahan rendah

Recovery yang tinggi

Proses pengolahan relatif mudah

Investasi alat yang rendah sehingga memungkinkan percepatan


BEP (Break Event Point)

Dapat mengolah kadar bijih yang rendah

Logam dapat langsung diperoleh dalam bentuk murni dari larutan

Pengotor silikon yang terkandung dalam ore tidak mempengaruhi


proses leaching, sedangkan pada proses semlting silikon harus
dibuang menjadi slag

Penanganan produk leaching lebih mudah dan murah dibandingkan


dengan penanganan molten mattes, slag, dan logam.

Proses hidrometalurgi dapat dibagi ke dalam dua proses utama yaitu:


1. Mendapatkan mineral yang diinginkan dari bijih atau konsentrat dengan
melarutkannya kedalam larutan. Contohnya adalah leaching (pelindian).
2. Mendapatkan mineral yang diinginkan dengan cara mengeluarkannya dari
larutan. Contohnya adalah solvent extaction, ion exchange, adsorption,
dan precipitation.
Proses tambahan yang dilakukan sebelum mendapatkan mineral dari larutan
leaching adalah penyaringan (filtration) yang bertujuan untuk memisahkan
pregnant leach solution (larutan leaching yang mengandung logam larut) dengan
residu (zat yang tidak larut).
Tembaga biasanya berada di kerak bumi dalam bentuk tembaga-besisulfida dan mineral tembaga sulfida, misalnya chalcopyrite (CuFeS2), bornite
(Cu5FeS4) dan chalcocite (Cu2S). Konsentrasi mineral ini rendah. Tipe bijih
tembaga mengandung antara 0.5% Cu (tambang terbuka) hingga 1 atau 2% Cu
(tambang bawah tanah). Tembaga murni diproduksi dengan konsentrasi, smelting
dan refining. Terkadang terjadi oksidasi mineral tembaga (karbonat, oksida,
hidroksi-silikat, sulfat), tetapi tidak banyak. Logam tembaga yang merupakan dari
bijih

seperti

ini

biasanya

diproduksi

dengan

metode

hidrometalurgi.

13

Hidrometalurgi biasanya digunakan untuk memproduksi logam tembaga dari


chalcocite, Cu2S [Devenport, 2002].
Sekitar 80% tembaga dari bijihnya diperoleh dari flotasi, smelting dan
refining. Sisanya 20% menggunakan hidrometalurgi [Devenport, 2002]. Dalam
hidrometalurgi, terdapat dua proses penting yaitu leaching dan recovery. Leaching
(pelindian) merupakan reaksi pelarutan selektif, yang artinya melarutkan logam
berharga saja dengan leaching agent yang bersifat larutan aqueous. Sedangkan
recovery merupakan suatu proses mengambil logam berharga dari larutan kaya
(pregnant solution) hasil dari leaching.
10 kg H2SO4/m3
Make-up H2SO4

7m
Leach heap

Raffinate 0,3 kg Cu/m3

Pregnant solution
(1 to 6 kg Cu/m3 )

Cu Solvent extraction (loading)


Loaded solvent

Stripped solvent

Cu Solvent extraction (stripping)


Enriched electrolyte
45 kg Cu/m3

Electrolyte
storage

Depleted electrolyte
35 kg Cu/m3

Electrowinning cells
Cathode plates
Copper (<20ppm Impurities)

Gambar 2.4 Diagram alir ekstraksi tembaga secara hidrometalurgi


[Davenport et al, 2002]
Metode hidrometalurgi memiliki keuntungan pada daya penyesuaian yang
spesifik dan selektifitas tinggi. Metode ini tepat digunakan untuk proses oksidasi

14

kandungan tembaga lemah, campuran bijih tembaga oksida-sulfida, dump stock,


sisa pertambangan, atau produk pertengahan. Kerugiannya antara lain leaching
yang berlangsung relatif lama untuk larutan dengan volume yang besar per unit
massa tembaga, dan merupakan ekstraksi kompleks logam berharga yang residu
leaching-nya tetap. Masalah lainnya adalah menghilangkan sulfur dari bijih
sulfida. Meskipun oksida sulfur tidak terbentuk, larutan mengandung ion sulfur
yang harus

dipresipitasi dengan gipsum untuk menghindari pencemaran air

[Habashi, 1997].

Ekstraksi hidrometalurgi meliputi:


a. Leaching Cu dengan asam sulfat dari pecahan bijih untuk menghasilkan
larutan aqueous tembaga tidak murni.
b. Transfer Cu dari larutan tidak murni menjadi murni, elektrolit Cu tinggi
menggunakan solvent extraction.
c. Elektrowinning katoda tembaga murni dari elektrolit ini.

Leaching (pelindian) merupakan reaksi pelarutan selektif, yang artinya


melarutkan logam berharga saja dengan leaching agent yang bersifat larutan
aqueous.
Bijih yang biasanya dilakukan proses ini adalah:
a. Mineral tembaga oksida, misalnya karbonat, hydro-silikat, sulfat, hidroklorida.
b. Chalcocite, Cu2S.
Pada bijih oksida, oksidasi mineral sangat cepat terlarut oleh asam sulfat dengan
reaksi seperti:
Cu+2 + SO4-2 + H2O

CuO + H2SO4

(2.2)

Mineral sulfida, mengalami oksidasi dengan skema berikut:


Cu2S + 5/2 O2 + H2SO4

2Cu+2 + 2SO4-2 + H2O

(2.3)

[Devenport, 2002]. Dengan demikian, reaksi leaching secara sederhana dapat


dilihat sebagai reaksi sebagau berikut:
Cu+2 + H2SO4

CuSO4 + 2H+

(2.4)

15

Solvent Extraction yaitu proses untuk menghasilkan larutan murni (pure),


elektrolit Cu2+ yang tinggi dari campuran impure pregnant leach solutions.
Proses ini bertujuan untuk memurnikan logam yang diinginkan dari larutan kaya.

Gambar 2.5 Skematik proses solvent extraction tembaga


[Davenport et al, 2002]

Berikut ini adalah tahapan-tahapan pada proses solvent extraction:


1.

Reaksikan larutan kaya (1-6 kg Cu2+/m3, 0,5-5 kg H2SO4/m3) dengan


ekstraktan organik, menyebabkan ekstraksi Cu2+ dari larutan kaya ke
ekstraktan organik.

2. Pemisahan dengan gravitasi, Cu berkadar rendah (raffinate) dari Cu


organik ekstraktan. Reaksinya yaitu:
2RH + Cu2+ + SO42-

R2Cu + 2H+ + SO42-

(2.5)

Dimana RH yang digunakan aldomix atau ketomixe extractant.


3. Mengirimkan raffinate (low- Cu) untuk di leaching kembali.
4. Mengirimkan Cu organik ekstraktan agar bereaksi dengan asam sulfat
(H2SO4) pekat (170-200 kg H2SO4/m3). Reaksinya yaitu:
2H+ + SO42- + R2Cu

2RH + Cu2+ +SO42-

(2.6)

16

5. Memisahkan dengan gravitasi, Cu-stripped organik ekstraktan dari Cu


enriched aqueous electrolyte.
6. Mengembalikan Cu-stripped untuk kontak dengan larutan kaya.
7. Mengirimkan Cu2+ enriched electrolyte ke electrowinning, dimana Cu2+
diendapkan sebagai tembaga murni.

Elektrowinning adalah proses elektrokimia dimana terjadi proses


pengendapan pada kutub katoda menggunakan arus listrik yang mengalir
didalamnya larutan elektrolit (hasil dari pelarutan). Reaksi yang terjadi pada
elektrowinning:
Cu2+ + 2eH2O

Cu0

H+ + OH-

(reaksi katoda) E0 = +0,34 V


O2 + 2H+ + 2e- (reaksi anoda) E0 = -1,23 V

Reaksi total:
Cu2+ + SO42- +H2O

2.3

Cu0 + O2 + 2H+ +SO42-

E0 = -0,89 V

Leaching Tembaga Kalkopirit


Pada proses ini dipakai suatu asam sebagai leaching agent yaitu asam

sulfat (H2SO4) yang mudah didapatkan dan rendah biaya pengolahan. Dipakainya
asam sulfat sebagai leaching agent bertujuan untuk membentuk tembaga sulfat
(CuSO4). Tembaga adalah suatu unsur yang sangat mudah membentuk sulfida.
Maka dari itu asam sulfat dipakai sebagai pilihan.
Adapun reaksi leaching kalkopirit dengan asam sulfat dapat dilihat sebagai
berikut:
CuFeS2(s) + O2(g) + 2H2SO4(l)

CuSO4(l) + FeSO4(l) + 2 H2O(l) +2S(s) (2.7)

17

Ketika terjadi proses leaching dengan asam sulfat kalkopirit akan


membentuk senyawa tembaga sulfat, besi sulfat, air dan sulfur. Oksigen pada
reaksi diatas bertindak sebat pengoksidasi ketika proses leaching terjadi.

Jika dituliskan dalam setengah reaksi redoks yaitu


2S2 -

2S + 4e- (oksidasi)

O2 + 4H+ + 4e-

2H2O (reduksi)

2S2- + O2 + 4H+ + 4e-

2S + 2H2O

Reaksi redoks ini menunjukan adanya peningkatan bilangan oksidasi dari


S yang terkandung pada CuFeS2 dan penurunan bilangan oksidasi O dari oksigen
(O2)dan H dari (asam sulfat). Sehingga menyebabkan penurunan konsentrasi yang
terjadi pada asam sulfat dan peningkatan jumlah endapan S.

2.3.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi Leaching


Dalam bagian ini akan dibahas faktor-faktor yang mempengaruhi laju
reaksi. Pengetahuan tentang hal ini memungkinkan kita dapat mengendalikan laju
reaksi, yaitu melambatkan reaksi yang merugikan dan menambah laju reaksi yang
menguntungkan.
1. Konsentrasi Pereaksi
Konsentrasi memiliki peranan yang sangat penting dalam laju reaksi,
sebab semakin besarkonsentrasi pereaksi, maka tumbukan yang terjadi
semakin banyak, sehingga menyebabkan laju reaksi semakin cepat.
Begitu juga, apabila semakin kecil konsentrasi pereaksi, maka semakin
kecil tumbukan yang terjadi antar partikel, sehingga laju reaksi pun
semakin kecil. Jadi, laju reaksi sebanding dengan konsentrasi dari reaktan:
Laju Frekuensi tumbukan Konsentrasi

18

2. Temperatur
Temperatur juga turut berperan dalam mempengaruhi laju reaksi.
Apabila suhu pada suatu rekasi yang berlangusng dinaikkan, maka
menyebabkan partikel semakin aktif bergerak, sehingga tumbukan yang
terjadi semakin sering, menyebabkan laju reaksi semakin besar.
Sebaliknya, apabila suhu diturunkan, maka partikel semakin tak aktif,
sehingga laju reaksi semakin kecil
3. Keadaan fisik
Keadaan fisik suatu reaktan, reaktan padatan yang lebih halus atau
cairan, akan memiliki luas permukaan per unit volume lebih besar,
maka akan terjadi lebih banyak kontak antar reaktan, dan akan terjadi
reaksi yang lebih cepat.
4. Katalis
Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi kimia pada suhu
tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu
sendiri. Suatu katalis berperan dalam reaksi tapi bukan sebagai pereaksi
ataupun produk. Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat
atau memungkinkan reaksi pada suhu lebih rendah akibat perubahan
yang dipicunya terhadap pereaksi. Katalis menyediakan suatu jalur
pilihan dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Katalis mengurangi
energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi.
2.3.2 Laju Pelarutan Mineral Tembaga
Berdasarkan laju pelarutannya, mineral tembaga dikelompokan kedalam
lima kategori, yaitu: very rapid, rapid, moderate, slow, dan very slow (lihat
Gambar 2.6).
Pada kategori very rapid yaitu tembaga sulfat, klorida, dan karbonat.
Sulfat larut dalam air, tembaga sulfat larut sangat cepat melepaskan logam dan
asam. Tembaga klorida larut sangat cepat melepaskan logam dan klorida.
Tembaga karbonat larut dengan cepat melepaskan tembaga dan gas CO2.

19

Pada kategori rapid yaitu tembaga silikat dan oksida mengandung Cu2+,
Fe3+, dan Mn4+.

Pada kategori moderate yaitu native copper dan mineral oksida


mengandung Cu+ dan Fe2+. Mineral Cu-Fe larut lebih lambat dari pada dua
kelompok sebelumnya karena pelarutan dari mineral tembaga oksida reduced
memerlukan pelepasan elektron dari tembaga (dan dari besi jika ada):
Cu+

Cu2+ + e-

Dan diketahui bahwa proses transfer elektron merupakan proses yang


lambat.
VERY RAPID
(Second To minutes)
malachite
azurite
atacamite
chalcantite
antlerite
SLOW
(week to months)
chalcosite
covelite
digenite
djurleite

RAPID
(hour)
tenorite
chrysocolla

MODERATE
(days to week)
delafossite
native copper

VERY SLOW
(week to months)
chalcopyrite
bornite

DISSOLUTION RATE (in descending order)


CuSO4 5H2O
Cu+2 +SO42+
Cu2(OH)6 + 6H
2Cu2+ + SO42- + 6H2O
CuSiO4 H2O + 2H+
Cu+2 + H4SiO6
CuO + 2H+
Cu+2 + H2O
Cu2O + 2H+
2Cu+2 + H2O +2eCu2O + 4H2O
2Cu+2 + SO4-2 + 8H+ + 10eCuFeS2 + 8H2O
Cu+2 + Fe+2 + 2SO4-2 + 16H+
Gambar+17e2.6 Mekanisme laju pelarutan relatif dalam larutan asam sulfat
untuk mineral tembaga

20

Pada kategori slow yaitu mineral tembaga sulfida: chalcocite, covellite,


digenite. Pelarutan chalcocite memerlukan oksidasi sulfur dari S2- menjadi S6+
dengan melepaskan 8 elektron. Juga melibatkan oksidasi tembaga dari Cu+
menjadi Cu2+ dengan melepaskan satu elektron.
Pada kategori Sangat Lambat yaitu chalcopyrite dan bornite. Pelarutan
chalcopyrite memerlukan oksidasi besi dari Fe2+ menjadi Fe3+ dan oksidasi sulfur
dari S2- menjadi S6+ (dengan total pelepasan sebanyak 17 elektron) untuk setiap
ion tembaga yang terlepas ke larutan leaching.
Pada prakteknya, kategori mineral-mineral very rapid dan rapid
memiliki laju pelarutan yang tinggi dan diproses dengan teknik vat leaching
(waktu kontak sampai 48 jam). Mineral tembaga pada kategori moderate dan
slow diproses dengan teknik heap leaching (waktu kontak 30 sampai >300 hari).
Chalcopyrite larut sangat lambat dan tidak layak dengan metode heap leaching
karena sifatnya yang tidak larut (insoluble) dalam leaching asam sulfat [John
Dreier, 1999].
Walaupun bijih kalkopirit sangat lambat untuk dilakukan proses leaching
dengan menggunakan asam sulfat karena prosesnya lama, namun proses leaching
dapat digunakan untuk kadar yang sangat rendah.
2.3.3 Reaksi Padat Cair
Suatu padatan yang bereaksi dengan cairan dilindungi oleh stagnant film
dari cairan, dimana reaktan akan berdifusi sebelum terjadinya reaksi. Lapisan ini
disebut Nernst boundary layer dengan tebal lapisan 0,03 mm.
Interaksi antara padatan dan cairan terjadi dengan beberapa tahapan (Gambar 2.1):
1. Difusi molekul reaktan ke antar muka.
2. Adsorpsi pada antar muka.
3. Reaksi pada antar muka.

21

4. Desorpsi produk.
5. Difusi produk dari antar muka

Nernsts
boundary layer

Solid

Liquid

Gambar 2.7 Mekanisme reaksi padat cair [Habashi,1997]

2.3.4 Laju Reaksi


Laju merupakan perubahan variabel tertentu terhadap waktu. Dalam kasus
perubahan kimia, dimana laju reaksi yaitu perubahan konsentrasi reaktan atau
produk terhadap waktu. Laju reaksi kimia adalah jumlah mol reaktan per satuan
volume yang bereaksi dalam satuan waktu tertentu. Pada Konsentrasi reaktan
akan mengalami penurunan sedangkan konsentrasi produk meningkat. Jadi laju
reaksi dapat dinyatakan dalam mol dm-3. det-1. Bila dibuat sebuah kurva
penurunan konsentrasi reaktan sebagai fungsi waktu, maka akan diperoleh kurva
yang bentuknya seperti pada gambar 2.8. Dalam hal ini suhu selama reaksi
berlangsung dianggap tetap.

22

Konsentrasi
reaktan (c)
mol.dm-3

Dimana: Co = konsentrasi awal reaktan


Laju reaksi = - dc/dt

Waktu reaksi (s)

Gambar 2.8 Kurva konsentrasi sebagai fungsi waktu pada suhu tetap
Dari kurva terlihat bahwa slope kurva pada setiap titik selalu negatif,
karena konsentrasi reaktan akan menurun. Jadi laju reaksi pada setiap titik
sepanjang kurva sama dengan dc/dt. Tetapi apabila laju reaksi dituliskan sebagai
laju pembentukan produk, maka laju reaksi akan bernilai positif. Jika konsentrasi
produk setelah reaksi berlangsung t detik adalah x mol dm-3, maka laju reaksinya
+dx/dt.
Pengukuran kinetika reaksi pertama kali dilakukan oleh Wilhelmy pada
tahun 1850. Pada waktu itu Wilhelmy melakukan pengukuran laju inverse
sukrosa. Wilhelmy menyimpulkan bahwa laju reaksi pada setiap waktu sebanding
dengan konesentrasi sukrosa yang tersisa pada waktu itu (c), secara matematik
dapat ditulis:
-dc/dt =k1c

(2.8)

dc/dt sering kali disebut sebagai differential rate expression. k1 adalah konstanta
laju reaksi.
2.3.5 Hukum Laju
Hukum laju mengekspresikan laju sebagai fungsi dari konsentrasi reaktan,
konsentrasi produk, dan temperatur. Pada kasus ini, laju reaksi hanya bergantung
pada konsentrasi reaktan dan temperatur. Pertama, kita lihat pengaruh dari
konsentrasi terhadap laju reaksi pada temperatur tetap. Bentuk umum reaksi,

23

aA + bB +...

cC + dD +...

(2.9)

Maka bentuk hukum lajunya:


Laju = k [A]m[B]n...

(2.10)

[A] dan [B] merupakan parameter pada persamaan (2.10). Konstanta k disebut
konstanta laju pada reaksi spesifik. Eksponen m dan n disebut orde reaksi,
didefinisikan bagaimana laju dipengaruhi dengan konsentrasi reaktan.
Poin kunci yang perlu diingat adalah komponen-komponen hukum laju,
seperti: orde reaksi, dan konstanta laju hanya dapat dicari dengan eksperimen;
komponen tersebut tidak dapat simpulkan dari stoikiometri reaksi. Biasanya
dilakutan pendekatan eksperimen untuk mendapatkan komponen dengan cara:
1. Menggunakan pengukuran konsentrasi untuk mencari laju awal
2. Menggunakan laju awal dari beberapa eksperimen untuk menentukan
orde reaksi.
3. Menggunakan nilai-nilai tersebut untuk menghitung konstanta laju.
Kebanyakan peneliti menggunakan laju awal untuk menemukan orde
reaksi dan menghitung konstanta lajunya, karena hukum laju dapat digunakan
untuk memprediksi laju konsentrasi awal reaktan. Biasanya dilakukan tiga
pendekatan umum, yaitu metode spektroskopi, perubahan tekanan dan perubahan
konduktivitas.
2.4

Kapasitansi dan Dielektrik


Kapasitor adalah sepasang konduktor yang dipisahkan oleh bahan isolator.

Kapasitor adalah komponen elektronika yang dapat menyimpan muatan listrik.


Struktur sebuah kapasitor terbuat dari 2 buah plat metal yang dipisahkan oleh
suatu bahan dielektrik. Bahan-bahan dielektrik yang umum dikenal misalnya
udara vakum, keramik, gelas dan lain-lain. Jika kedua ujung plat metal diberi

24

tegangan listrik, maka muatan-muatan positif akan mengumpul pada salah satu
kaki (elektroda) metalnya dan pada saat yang sama muatan-muatan negatif
terkumpul pada ujung metal yang satu lagi. Muatan positif tidak dapat mengalir
menuju ujung kutup negatif dan sebaliknya muatan negatif tidak bisa menuju ke
ujung kutup positif, karena terpisah oleh bahan dielektrik yang non-konduktif.
Muatan elektrik ini tersimpan selama tidak ada konduksi pada ujung-ujung
kakinya. Ketika kapasitor dimuati, pada dua konduktor akan ada muatan sama
banyak Q dan beda jenis, dan potensial Vab dari konduktor bermuatan positif
terhadap yang bermuatan negatif berbanding lurus dengan Q.

Gambar 2.9 Prinsip dasar kapasitor

Kapasitansi C didefinisikan sebagai

C=

(2.11)
Kapasitor pelat paralel tersusun atas dua pelat penghantar dengan masing-

masing berluas A yang terpisah sejauh d. Bila mereka terpisah oleh vakum,
kapasitansinya adalah
C=

= 0

(2.12)

25

Satuan SI untuk kapasitansi adalah farad, disingkat F. Satu farad adalah satu
coulomb per volt: 1 F = 1 C/V. Satuan-satuan alternatif adalah: 1 F = 1 C2/Nm =
1 C2/J
Dielektrik adalah suatu lempengan tipis yang diletakkan di antara kedua
pelat kapasitor. Jika di antara lempengan bermuatan (+) dan lempengan
bermuatan () diisi dengan bahan dielektrik (isolator), kuat medan listrik di antara
lempengan akan menurun dan kapasitansi akan naik. Pengaruh pengguanaan
bahan dielektrik seperti terlihat pada Gambar 2.10

Gambar 2.10 Pengaruh dielektrik pada kapasitor


Ketika ruang antar konduktor diisi dengan bahan dielektrik, kapasitansi
naik dengan faktor K, yang disebut konstanta dielektrik bahan. Untuk kapasitor
pelat paralel dengan dielektrik, kapasitansinya menjadi

C = K C 0 = K 0

(2.13)

26

dengan = K 0 disebut permisivitas dielektrik. Untuk jumlah muatan tetap di


pelat kapasitor, muatan terimbas pada permukaan dielektrik akan menurunkan
medan listrik dan beda potensial antar pelat sebesar faktor K. Muatan permukaan
mengakibatkan polarisasi, penataan ulang muatan secara mikroskopis dalam
medan listrik atau terjadinya momen dipol imbas dalam bahan nonpolar. Dalam
medan listrik yang cukup kuat, dielektrik ini menjadi konduktor; ini disebut dadal
dielektrik. Besar medan listrik maksimum yang mampu ditahan suatu bahan tanpa
dadal disebut kekuatan dielektrik.
Konsanta dielektik r merupakan permitivitas relatif statis (medium) dari
material. Permitivitas atau biasa disebut sebagai konstanta dielektrik merupakan
tetapan yang menunjukkan rapat fluks elektrostatik dalam suatu bahan ketika
diberi potensial listrik. Nilai permitivitas bergantung pada jenis material yang
berhubungan dengan susceptibility listriknya, yaitu kemampuan suatu bahan
untuk mengalami polarisasi sebagai respon dari medan listrik.
Sifat bahan dielektrik ditentukan oleh konstanta dielektrik bahan. Bahan
ini merupakan bahan non konduktor yang tidak memiliki elektron-elektron bebas
sehingga tidak dapat menghantarkan listrik.

Tabel 2.3 Nilai konstanta dielektrik beberapa bahan [http://www.asiinstr.com]


No Bahan

Konstanta dielektrik

Vakum

1 (sesuai definisi)

Udara

1,00054

Polietilena

2,25

Kertas

3,5

PTFE (Teflon(TM))

2,1

Polistirena

2,4-2,7

Kaca pyrex

4,7

27

Karet

Silikon

11,68

10

Metanol

30

11

Air (200C)

80,10

12

Barium Titanat

1200

13

Formamid (68oF)

84,0

14

Hydrocyanic Acid

158

15

Hydrogen Cyanide

95,4

16

Iodine

118

17

Sulphuric Acid

84

18

Cupric Sulfate

10,3

19

Trimethyl Sulfanilic Acid

89

Sifat dielektrik atau permitivitas adalah suatu kuantitas fisik yang


menggambarkan bagaimana medan listrik mempengaruhi dan dipengaruhi oleh
suatu medium dielektrik, dan nilainya ditentukan oleh kemampuan bahan dari
medium untuk terpolarisasi sebagai respon dari medan tersebut yang pada
akhirnya juga mengurangi medan listrik dalam bahan. Jika molekul dielektrik
bersifat polar maka akan terbentuk suatu momen dipol dalam pengaruh medan
listrik. Adanya gaya torsi menyebabkan dielektrik akan menyerahkan diri dengan
medan listrik, yang tergantung pada kuat medan dan temperatur. Jika molekul
dielektrik bersifat non polar, molekul dielektrik akan menginduksi momenmomen dipol yang searah dengan medan listrik dan dikatakan terpolarisasi oleh
medan. Dipol-dipol molekuler menghasilkan suatu medan listrik tambahan yang

28

arahnya berlawanan dengan medan awal, sehingga dapat melemahkan medan


awal.
Pengaruh total dari polarisasi suatu dielektrik homogen adalah hadirnya
muatan permukaan pada bidang batas antara dielektrik dan plat kapasitor. Muatan
permukaan yang terikat pada dielektrik ini menghasilkan medan listrik yang
berlawanan dengan arah medan listrik yang disebabkan oleh muatan bebas pada
konduktor. Suatu material telah dikatakan terpolarisasi jika pada material yang
berbeda dalam medan listrik terjadi induksi dipol atau dua kutub (yaitu atom atau
kelompok atom dengan muatan tak seimbang atau momen muatan) dengan arah
sesuai medan yang diterapkan. Keadaan ini ditimbulkan oleh beberapa
kemungkinan, yaitu mekanisme elektronik, ionik atau molekuler. Pada polarisasi
elektronik, awan elektron suatu atom digeser terhadap inti ion bermuatan positif
dan membentuk dipol dengan momen c.
Pada padatan ionik yang berada dalam medan listrik, ikatan antar ion
mengalami deformasi elastik dan bergantung pada arah medan, jarak antara anionkation mengecil atau membesar. Dipol terinduksi ini menghasilkan polarisasi
yang dapat menimbulkan perubahan dimensi. Polarisasi molekuler terjadi dalam
material molekuler, beberapa diantaranya mengandung dipol alami. Material
seperti ini disebut polar dan pengaruh medan pada material ini akan mengubah
polarisasi dengan perpindahan atom dan dengan demikian terjadi perubahan
momen dipol (yaitu kemampuan polarisasi atomik) atau molekul secara
keseluruhan mengalami rotasi sehingga searah dengan medan yang diterapkan
(yaitu kemampuan polarisasi orientasi).
Jika dihilangkan, dipol tersebut tetap terarah, dan terjadi polarisasi
permanen. Dipol permanen dijumpai pada molekul asimetris seperti H2O, polimer
organik dengan struktur asimetris dan kristal keramik tanpa pusat simetri
[Smallman, 2000].
Apabila dua atom non logam berbeda kelektronegatifan berikatan, maka
pasangan elektron ikatan akan tertarik ke atom yang lebih elektronegatif, molekul

29

yang terbentuk dinamakan senyawa kovalen polar. Sebaliknya jika yang berikatan
senyawa kelektronegatifan yang sama, maka molekul yang terbentuk merupakan
molekul senyawa kovalen non polar. H2O merupakan senyawa polar karena ikatan
kovalennya polar dan bentuk molekul yang asimetris. Pada molekul H2O, atom O
sebagai atom pusat masih memiliki pasangan elektron bebas. Hal ini
menyebabkan molekul H2O tidak berbentuk linear (simetris), sehingga momen
ikatan yang terbentuk tidak saling menguatkan atau tidak saling meniadakan.

Gambar 2.11 Struktur molekul air


Ukuran kepolaran suatu senyawa ditentukan oleh momen dipol. Semakin
besar momen dipol suatu senyawa maka senyawanya semakin polar, sebaliknya
jika momen dipol nol maka berarti senyawa non polar. Selain momen dipol,
kepolaran suatu senyawa juga dapat ditentukan dengan melihat perbedaan
keelektronegatifan antara dua atom tersebut. Perbedaan keelektronegatifan antara
dua atom yang berikatan dapat menyebabkan kepolaran suatu senyawa. Pada
umumnya semakin besar perbedaan keelektronegatifannya maka semakin polar
senyawanya. Molekul polar mempunyai dipol yang permanen, dipol permanen
akan menginduksi (mengimbas) awan elektron molekul non polar sehingga
terbentuk dipol terinduksi.

30

2.5

Sensor Kapasitif 2 Channel , Data Aqusition System (DAS 2 Channel )


dan LCR meter
1. Desain Sensor Kapasitif 2 Channel

Elektroda

5 cm

D = 1,5 cm

2,25 cm

Gambar 2.12 Desain sensor kapasitif 2 channel


Sensor kapasitif 2 channel pada gambar diatas, elektroda nya terbuat dari pelat
tembaga jenis C1220. Elektroda tembaga menempel pada gelas ukur 10 mL
dengan tinggi elektroda 5 cm dan lebar 2,25 cm. Adapun komposisi kimia
tembaga C1220 yaitu sebagai berikut.
Tabel 2.4 Komposisi kimia tembaga C1220 sebagai elektroda
Unsur Kimia

Komposisi (%)

Unsur Kimia

Komposisi (%)

Cu

99,97

Ni

0,0023

Fe

0,0008

Zn

0,0014

Bi

0,0007

0,002

Sb

0,002

Pb

0,0015

As

0,0026

0,015

Sn

0,001

0,0015

31

2. Data Aqusition System (DAS 2 Channel )

Gambar 2.13 Rangkaian C-V Circuit


C-V circuit adalah suatu rangkaian elektronik yang digunakan untuk
mengubah nilai kapasitansi menjadi tegangan analog yang mengacu pada
rangkaian differensial seperti ditunjukkan dalam Gambar 3. Terdapat empat
bagian utama dalam proses pengukuran kapasitansi, yaitu Cx sebagai kapasitor
yang akan diukur nilai kapasitansinya bisa berupa kapasitor polar dan non-polar
ataupun bisa berupa dua buah plat yang berfungsi sebagai elektroda. Sebelah kiri
elektroda adalah sinyal generator untuk tegangan eksitasi yang digunakan untuk
memberikan sinyal sinusoidal dengan tegangan dan frekuensi tertentu, disebelah
kanan elektroda adalah rangkaian deteksi yang berupa operasional amplifier
(OpAmp) dan sebuah resistor Rf dan kapasitor Cf. Selanjutnya keluaran opamp
dihubungkan dengan sebuah oscilloscope untuk menganalisis sinyal yang
dihasilkan. Berdasarkan sinyal tersebut dapat dihitung berapa nilai kapasitansi
dari sebuah kapasitor tersebut. Dalam mengukur sebuah kapasitor ataupun
pasangan plat sejajar, akan dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya adalah
stray kapasitansi Cq1 dan Cq2 dan ini biasanya dipengaruhi oleh kabel yang
menghubungkan

elektroda

Cx

dengan

sinyal

generator

dan

rangkaian

elektroniknya dan juga dipengaruhi oleh tata letak komponen elektronik dan
desain PCB.

32

C-V circuit terdiri dari sebuah operasional amplifier AD827, resistor


feedback (Rf), dan kapasitor feedback (Cf) yang akan mengubah arus menjadi
tegangan AC Vo. Dengan pendekatan arus, yang menyatakan bahwa arus yang
masuk dan keluar op-amp adalah sama (i1=i2), maka akan didapatkan tegangan
yang merepresentasikan pengukuran kapasitansi.
V0 =

K=

(2.14)

(2.15)

Dimana Rf adalah resistansi feedback, Cf adalah kapasitansi feedback,


adalah frekuensi sinyal eksitasi, Cs adalah standing kapasitansi (Cx+Cq), V in
adalah tegangan eksitasi, sedangkan k adalah nilai impedansi rangkaian C-V
circuit. Rangkaian tersebut mengandung dua elemen yaitu kapasitansi dan
resistansi yang menyebabkan konduktansi, semakin kecil nilai resistansinya
semakin besar konduktansinya dan sebaliknya. Dalam metode pengukuran
kapasitansi ini, elemen resistansi akan diredam sehingga nilai konduktansinya
sangat kecil dengan cara mengatur nilai k mendekati 1. Persamaan konduktansi
adalah sebagai berikut:
G=
jika resistansi Rf >>> 1/ C , maka k =

(2.16)
C 1, maka nilai konduktansinya

mendekati 1 sehingga yang terukur dalam rangkaian hanyalah kapasitansinya saja.


Dengan demikian persamaan 6 dapat disederhanakan menjadi:

33

V0 =-

Vin

(2.17)

Cs =-

Cf

(2.18)

Gambar 2.14 Eksperimen Pengukuran Kapasitor


Berdasarkan Gambar 3 akan dibuat prototipenya menggunakan PCB
lubang seperti terlihat pada Gambar 4. Dalam eksperimen ini digunakan sinyal
generator yang terbuat dari mikrokontroller Attiny 2313 yang akan menghasilkan
sinyal kotak dengan frekuensi 2.5 MHz. Sinyal kotak ini kemudian diubah
menjadi sinyal AC dengan amplitude 20Vp-p menggunakan rangkaian integrator.
Karena menggunakan frekuensi 2.5 MHz maka pengukuran kapasitansi yang
sesuai dengan frekuensi tersebut adalah di bawah 1uF, untuk mengukur
kapasitansi lebih besar sebaiknya menggunakan ferkuensi lebih rendah. Dalam
eksperimen ini akan dicoba diukur kapasitansi di bawah 100 pF karena itu
kapsitor Cf diset sebesar 100 pF, dan untuk mendapatkan nilai konduktifitas kecil,
resistor Rf diset sebesar 10K dengan demikian nilai konstanta k adalah 0.94

34

sehingga persamaan 10 dapat digunakan. Untuk dapat menghitung Cx, terlebih


dahulu harus diukur stray kapasitansi Cq dengan menggunakan persamaan 10
dengan cara melepas kapasitor yang akan diukur, sinyal yang dihasilkan berupa
sinyal stray kapasitansi. Tegangan V0 yang terukur pada oscilloscope sebesar
0.28V, dengan menggunakan persamaan 10 dapat dihitung nilai stray kapasitansi
Cq sebesar 2.8pF. Untuk uji coba eksperimen ini digunakan kapasitor keramik
dari 1pF hingga 100pF dan hasil pengukuran ditunjukkan dalam Tabel 1,
sedangkan Gambar 6 menunjukkan perbandingan liniearitas pengukuran. Dari
Tabel 1 tersebut dapat dihitung sensitifitas rangkaian C-V circuit adalah sebesar
0.1 VpF-1. Gambar 5 menunjukkan contoh sinyal eksitasi dan sinyal hasil
keluaran dari Opamp. Untuk menghitung kapasitansi Cx adalah dengan cara
mengurangkan standing kapasitansi Cs dengan stray kapasitansi Cq.

Cx = Cs Cq

(2.19)

3. LCR meter
LCR HiTESTER HIOKI 3532 adalah salah satu jenis alat ukur impedansi
yang dioperasikan menggunakan layar sentuh (touch screen) sebagai media
penghubung antara pengguna dengan alat. Layar sentuh interaktif ini
memungkinkan pengguna untuk mengoperasikan alat ini dengan mudah dan
simpel, namun disayangkan sekali di dalam proses membaca data pengukuran dan
penyimpanannya, alat ukur ini hanya bisa mengambil data pada satu titik
pengukuran, serta masih dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu
yang lama. Oleh karena itu dirasakan perlu untuk mengembangkan suatu alat ukur
yang dapat mengukur sifat elektrik suatu bahan secara cepat, tepat dan akurat,
sehingga dapat diperoleh data yang bisa tersimpan dalam bentuk file spreedsheet,
tanpa mengurangi fungsi dari LCR HiTESTER HIOKI 3532 yang digunakan
selama ini. Melalui pengembangan alat ukur ini, parameter frekuensi ukur dapat
diatur nilainya dari 42 Hz sampai 5 MHz pada resolusi tinggi. Alat ukur ini

35

maksimum mampu mengukur setiap empat dari empat belas parameter uji, tidak
hanya impedansi | Z | dan sudut fasa , tetapi juga nilai induktansi (L), kapasitansi
(C), dan resistansi (R) dan lain-lain, serta pengukuran dapat dilakukan secara
simultan serta ditampilkan pada layar. Selain dari itu, aplikasi alat ukur ini dapat
diatur dengan pengaturan tegangan konstan dan arus konstan.
Cara kerja LCR meter pada umumnya adalah dengan memberi sumber
tegangan AC pada komponen yang diukur. Tegangan dan arus pada komponen
tersebut digunakan untuk menentukan impedansi. Sedangkan beda sudut fasa
antara tegangan dan arus digunakan untuk menentukan besar induktansi atau
kapasitansi dan/atau resistansi pada komponen tersebut.
Tabel 2.5 Perhitungan untuk rangkaian seri dan paralel
Parameter

Mode Rangkaian Seri

Mode Rangkaian Paralel

Z= = R + X

Z
Y

Y= = G + B

Rs = ESR = ZCos

X = ZSin

Rp =

= *

G = YCos *

B = YSin *

Ls =

Lp =

Cs =

Cp =

D=

Q = Tan =

36

* Sudut fasa dari admitansi Y ( )

Ls, Rs, Cs : Nilai pengukuran dari L, C, dan R di mode rangkaian seri.

2.6

Lp, Rp, Cp : Nilai pengukuran dari L, C, dan R di mode rangkaian paralel.

X-Ray Difraction (XRD)

Spektroskopi difraksi sinarX (X-ray difraction/XRD) merupakan salah


satu metode karakterisasi material yang paling tua dan paling sering digunakan
hingga sekarang ini. Teknik ini digunakan untuk mengidentifikasi fasa kristalin
dalam material dengan cara menentukan parameter struktur kisi serta untuk
mendapatkan ukuran partikel.
2.6.1 Hubungan Kristal dan X-ray
Material solid dideskripsikan sebagai amorphous dan kristalin. Amorphous
yaitu atom tersusun dalam pola acak, seperti kaca termasuk material amorphous.
Kristalin yaitu atom tersusun dalam pola tetap. Sekitar 95% dari seluruh material
padat dideskripsikan sebagai material kristalin. Ketika X-ray berinteraksi dengan
substansi kristalin (phase), didapatkan pola difraksi. Penggunaan utama dari XRD
adalah untuk mengidntifikasi komponen sampel dengan prosedur search / match.
Ketika sinar X-ray menabrak sebuah atom, elektron di sekeliling atom
tersebut akan mulai terombang-ambing (oscillate) dengan frekuensi yang sama
dengan sinar yang masuk. Pada segala arah, akan terjadi destructive interference,
yaitu gelombang akan keluar dari phase dan tidak ada resultan energi yang
meninggalkan sampel solid. Tetapi tidak demikian dengan atom kristal. Atom
pada kristal tersusun dalam pola yang teratur, dan pada beberapa arah akan
terdapat constructive interferences. Gelombang akan tetap pada phase dan
terdapat sinar X-ray yang meninggalkan sampel dan menghasilkan pola difraksi.

37

2.6.2 Prinsip Kerja XRD


Alat yang digunakan pada XRD adalah diffractometer. Spektrum difraksi
yang khas terdiri dari alur intensitas yang terefleksi melawan sudut detektor 2
theta atau theta yang bergantung pada konfigurasi goniometer, bagian
diffractometer yang memastikan posisi anguler objek.
Nilai 2 theta untuk peak (puncak) bergantung pada panjang gelombang
(wave lenght) dari material anoda X ray tube. Oleh karenanya adalah biasa untuk
mengurangi posisi peak ke interplanar spacing yang berkorespondensi dengan
bidang h, k, l yang menyebabkan refleksi. Nilai d-spacing hanya bergantung
kepada bentuk dari unit cell (elemen bervolume terkecil) d-spacing didapatkan
dari fungsi 2 theta dari Braggs law sebagai berikut:

Gambar 2.15 Proses Difraksi sinar-X [http://nanotech.co.id/jasa-analisa-xrd/]


d= n / 2sin
Keterangan:
= panjang gelombang sinar-X yang digunakan (nm)
n = orde pembiasan/ kekuatan intensitas

(2.20)

38

= sudut antara sinar datang dengan bidang normal


Setelah d-spacing sampel didapatkan, selanjutnya dicocokan dengan
International Center Data. Hal ini yang disebut dengan prosedur search/match.
Keuntungan utama penggunaan sinar-X dalam karakterisasi material
adalah kemampuan penetrasinya, sebab sinar-X memiliki energi yang sangat
tinggi akibat panjang gelombangnya yang pendek. Sinar-X adalah gelombang
elektromagnetik dengan panjang gelombang 0,5-2,0 mikron. Sinar ini dihasilkan
dari penembakan logam dengan elektron berenergi tinggi. Elektron itu mengalami
pelambatan saat masuk ke dalam logam dan menyebabkan elektron pada kulir
atom logam tersebut terpental membentuk kekosongan. Elektron dengan energi
yang lebih tinggimasuk ke tempat kosong dengan memancarkan kelebihan
energinya sebagai foton sinar-X.
2.7

Atomic absorption spectrophotometer (AAS)


Disebut juga spektroskopi serapan atom (SSA). Absorbsi atom adalah

spektroskopi atom yang pertama kali dapat diandalkan untuk menganalisa adanya
logam dalam sampel yang berasal dari lingkungan.
Monochromator
Detector

Hollow
cathode
lamp

Flame
Nebulizer

Test
solution

Gambar 2.16 Mekanisme uji AAS [http://web.nmsu.edu]

Data
processor

39

2.7.1 Prinsip Dasar AAS


Dalam AAS kita mengukur serapan (absorbsi) yang dialami oleh sebrkas
sinar yang melalui kumpulan atom-atom. Serapan akan bertambah dengan
bertambahnya jumlah atom yang menyerap sinar tersebut.
Sinar tersebut bersifat monokromatis dan mempnyai panjang gelombang
() tertentu. Suatu atom unsur X hanya bisa menyerap sinar yang panjang
gelombangnya sesuai dengan unsur X tersebut. Artinya, sifat menyerap sinar ini
merupakan sifat yang khas (spesifik) bagi unsur X tersebut. Misal : atom Cu
menyerap sinar dengan =589,0 nm sedangkan atom Pb menyerap dengan sinar
= 217,0 nm. Dengan menyerap sinar yang khas, atom tersebut akan tereksitasi
(elektron terluar dari atomya tereksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi).
Hubungan antara serapan yang dialami oleh sinar dengan konsentrasi
analit dalam larutan standar bisa dipergunakan untuk menganalisa larutan sampel
yang tidak diketahui, yaitu dengan mengukur serapan yang diakibatkan oleh
larutan sampel tersebut terhadap sinar yang sama. Biasanya terdapat hubungan
yang linier antara serapan (A) dengan konsentrasi (c) dalam larutan yang diukur
dan koefisien absorbansi (a).

A= a.b.c

(2.21)

Dari hukum Labert-Beer/ Bouguer-Beer


Bila cahaya monokromatis dilewatkan pda media transparan maka berkurangnya
intensitas cahaya yang ditransmisikan sebanding dengan ketebalan (b) dan
konsentrasi larutan.
Cara sederhana untuk menemukan konsentrasi unsur logam dalam
cuplikan adalah dengan membandingan nilai absorban (Ax) dari cuplikan dengan
absorbansi zat standar yang diketahui konesentrasinya.

Cx = Ax.Cs/ As

Dimana

(2.22)

40

Ax =absorbans sampel
As = Absorban standar
Cx = konsentrasi Sampel (ppm)
Cs= konsentrasi Standar (ppm)

2.7.2 Metode Atomic absorption spectrophotometer (AAS)


Ada 2 metode yang umum digunakan pada pengujian AAS, teknik nyala
dan teknik tanpa nyala.
1. Teknik nyala
Sampel diaspirasikan ke spray chamber lewat kapiler dari nebulizer.
Penyedotan ini akibat efek tekanan gas oksidan yang masuk ke nebulizer.
Aliran larutan ini keluar kapiler dengan kecepatan tinggi dan segera
menumbuk silica glass bead di depannya sehingga terpecahlah larutan
membentuk butir-butir kabut. Kabut ini bercampur dengan gas membentuk
aerosol. Setelah proses pengkabutan, campuran gas naik menuju burner
maka terjadi proses pemanasan dan pengatoman. Setelah itu terjadi
penyerapan sinar oleh atom, banyaknya sinar yang diserap berbanding
lurus dengan kadar zat. Metode ini dibagi 2 yaitu:
a. Hydride Generation (analisis logam volatile: AS, Sb, Se, Sn)
b. Flame (hampir semua logam, dalam ppm)
2. Teknik tanpa Nyala
Atomisasi tanpa nyala dilakukan dengan energi listrik pada batang karbon
yang biasanya berbentuk tabung grafit. Contoh diletakan dalam tabung
grafit dan listrik dialirkan melalui tabung tersebut sehingga tabung
dipanaskan dan contoh akan teratomisasikan. Temperatur tabung grafit
dapat diatur dengan merubah arus listrik yang dialirkan, sehingga kondisi
temperatur optimum untuk setiap macam contoh/ unsur yang dianalisa
dapat dicapai dengan mudah. Metode ini dibagi menjadi 2 yaitu
a. Grafit Furnace (Hampir semua logam, dalam ppb)
b. Cold Vapor (khusus logam Hg)