Anda di halaman 1dari 10

TUGAS KELOMPOK

KIMIA KATALIS
Dosen Pengampu : Restina Bemis, M.Si

KELOMPOK 4
MEITRI WULANDARI

F1C112008

WINDA MUSTIKA SARI

F1C112012

MUKMINATUN

F1C112022

M. KHULAFA

F1C112025

NURLIANA

F1C112034

ATIKA ZULFA

F1C112043

AMRUL DANI. S

F1C112048

PROGRAM STUDI KIMIA


JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS JAMBI

TUGAS 1

Carilah tiga industri kimia yang menggunakan katalis dan jelaskan!


1. Industri Petrokimia
Industri petrokimia merupakan industri yang memproduksi barang yang berbahan
baku minyak bumi dan gas. Industri ini berkembang berdasarkan suatu pola yang
mengkaitkan suatu produk-produk industri minyak bumi yang tersedia, dengan
kebutuhan masyarakat akan bahan kimia atau bahan konsumsi dalam kehidupan seharihari. Industri petrokimia yang ada memiliki dua jenis, yaitu hilir dan hulu. Industri
bagian hulu memproduksi produk yang dasar (primer) dan stengah jadi. Industri ini
disebut juga upstream petrochemical. Contoh produk primer dari industri ini adalah
etilena, propilena, butadiene, benzene, toluene, xilena dan n-parafin. Contoh produk
antara atau setengah jadi di antaranya adalah ammonia, methanol, carbon black, etanol,
etil klorida, nitrobenzene, nitrotoluena, PTA (Purified Terepthalic Acid), TPA
(Terepthalic Acid), DMT (Dimethyl terepthalate), kaprolaktam, LAB (Linear Alkyl
Benzene). Sedangkan industri yang memproduksi produk akhir petrokimia ini disebut
industri hilir atau downstream petrochemical. Contoh produk akhir dari industri ini
adalah urea, formaldehida, polietilena, polipropilena, poli vinil klorida, polistirena, TNT
(Trinitrotoluena), polyester, dan nilon.
Beberapa proses dasar dalam industri petrokimia antara lain cracking,
isomerisation dan reforming. Dalam proses dasar dalam pengolahan minyak bumi, ada
tahap yang menggunakan katalis, tahap tersebut adalah tahap cracking. Cracking atau
perengkahan adalah reaksi pemecahan senyawa hidrokarbon molekul besar pada
temperatur tinggi menjadi molekul-molekul yang lebih kecil. Hidrokarbon akan
merengkah jika dipanaskan jika temperaturnya melebihi 350-400 oC dengan atau tanpa
bantuan katalis. Proses perengkahan yang terjadi hanya karena pemanasan dinamakan
perengkahan termal (thermal cracking). Sedangkan proses perengkahan yang terjadi
dengan bantuan katalis disebut perengkahan katalitik (catalytic cracking).
Perengkahan secara katalitik didasarkan pada proses yang diperkenalkan oleh
Alex Golden Oblad sekitar tahun 1936. Pada geologi minyak bumi dan kimiawi,
perengkahan adalah proses dimana molekul organik kompleks terkonversi menjadi
molekul sederhana dengan cara pemutusan ikatan rangkap C=C pada awalnya. Laju
perengkahan dan produk akhir sangat dipengaruhi oleh temperatur dan keberadaan
katalis. Metode Catalytic Cracking ini menggunakan katalis asam padat dan

menggunakan temperatur yang tinggi untuk menguraikan molekul hidrokarbon yang


besar menjadi yang kecil. katalis yang biasa digunakan adalah alumina, silica, zeolit,
dan beberapa jenis lainnya seperti clay. Hidrokarbon dicampur dengan bubuk katalis
yang sangat halus. Katalis yang digunakan adalah zeolit (aluminosilikat kompleks)
katalis ini lebih efisien daripada campuran yang berasal dari aluminium oksida dan
silikon dioksida.
Seluruh campuran ditiup melalui ruang reaksi pada suhu sekitar 500 C. Karena
campuran bersifat seperti cairan, maka disebut cairan catalytic cracking atau fluidised
catalytic cracking. Campuran antara gas dan padatan bersifat cairan, dengan demikian
merupakan contoh katalisis heterogen, dimana katalis memiliki fasa yang berbeda
dengan reaktan. Oleh karena itu katalis yang digunakan dapat dipsahkan setelah proses
selesai melalui pendinginan dan fraksinasi.

2. Pembuatan Formalin dari Metanol dan Udara


Formaldehid (disebut juga metanal), dengan rumus kimia H2CO merupakan
senyawa sederhana dari gugus aldehid yang paling sederhana, bentuknya gas, tidak
berwarna, berbau menyengat pada keadaan gas, lebih ringan dari udara, (density uap =
1,067 gr/cm2). Dalam industri, formaldehid kebanyakan dipakai dalam produksi
polimer dan berbagai bahan kimia. Kalau digabungkan dengan fenol, urea, atau
melamin, formaldehid menghasilkan resin termoset yang keras. Kegunaan lain dari
formalin antara lain:
a. Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea
b. Bahan untuk pembuatan produk parfum
c. Bahan pembuatan sutra sintetis dan zat pewarna
d. Bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku
e. Pembasmi lalat dan serangga penggangu lainnya
dalam proses pembuatan formlin dari metanol dan udara digunakan bantuan
katalis, dimana proses yang digunakan ada dua yakni silver catalyst dan metal oxide
catalyst.
1) Proses Silver Catalyst

Proses ini menggunakan katalis perak dengan reaktor fixed bed multitube. Katalis ini
berbentuk kristal-kristal perak atauspherical yang ditumpuk pada tube. Katalis ini
mempunyai umur sekitar 812 bulan dan mudah teracuni oleh sulfur dan beberapa
logam dari golongan transisi. Reaksi yang terjadi adalah:
a. Oksidasi
1
Ag
CH 3 OH + O2
HCHO+ H 2 O H =37,3 kkal/mol
2
P=1,5 atm ,T =600

b. Dehidrogenasi
CH 3 OH

Ag
HCHO+ H 2 H =20,3 kkal/mol
P=1,5 atm , T =600

Katalis perak dalam reaksi ini berfungsi untuk mengarahkan reaksi pada formaldehid.
Proses oksidasi metanol dengan katalis perak banyak digunakan dalam pabrik secara
komersial karena katalis perak (Ag) memiliki beberapa kelebihan, yaitu:
1. Katalis dapat diregenerasi.
2. Proses berlangsung pada tekanan rendah.
3. Produk yang dihasilkan stabil karena kandungan metanol cukup.
4. Mampu menghasilkan produk formalin 3755 %.
2) Proses Metal Oxide Catalyst
Proses ini mula-mula menggunakan katalis Vanadium (V) Oksida yang diikuti
dengan katalis Oksida besi dan oksida molibdenum yang direaksikan dengan oksigen.
Jenis katalis metal oxide mempunyai umur efektif 1218 bulan. Proses pembuatan
formaldehid menggunakan metanol dan udara dengan katalis oksidasi besi-molibdenum.
Proses ini beroperasi pada suhu 250 400 , dan tekanan 1 1,5 atm. Metanol
direaksikan dengan udara dengan bantuan katalis oksidasi besi-molibdenum dalam
sebuah reaktor fixed bed multitube. Konversi yang diperoleh mencapai 95%
dengan yield formaldehid 94,4% (Mc Ketta,1992).
Reaksi utama
1
FeMn
CH 3 OH + O2
CH 2 O+ H 2 O H=37,28 kkal/mol
2 P=1,5 atm ,T =300

Reaksi samping
1
FeMn
CH 2 O+ O2
CO+ H 2 O H=51 kkal/mol
2
P=1,5 atm , T =300

3. Pembuatan Asam Sulfat


Asam Sulfat mempunyai rumus kimia H2SO4 , merupakan asam mineral
(anorganik) yang kuat. Zat ini larut dalam air pada semua perbandingan. Di atmosfer,
zat ini termasuk salah satu bahan kimia yang menyebabkan hujan asam. asam sulfat di
pakai dalam berbagai industri, tetapi jarang muncul dalam produk akhir. Kegunaan
asam sulfat antara lain pada pemrosesan bijih mineral, sintesis kimia, pemrosesan air
limbah, pengilangan minyak, pembuatan pupuk, plat timah, dan pewarna tekstil.
Bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatan asam sulfat adalah belerang (S),
oksigen (O2), air (H2O) dan katalis (V2O5,NO2 ) sebagai bahan pembantu.
DASAR PROSES
Proses pembuatan asam sulfat ada 2, yaitu :
1. Proses Kamar Timbal
Pada proses ini digunakan katalis NO2 yang diperoleh dari oksidasi NH3 . Proses
yang terjadi adalah sebagai berikut.
a. Pembakaran belerang menjadi SO2
S(s) + O2 (g) SO2 (g)
b.

Gas SO2 dioksidasi dengan katalis NO2 sebagai pembawa oksigen dalam air.
SO2 (g) + NO2 (g) + H2O( l ) H2SO4 (s) + NO(g)

c. NO yang terbentuk bereaksi dengan oksigen membentuk NO2 kembali.


2NO(g) + O2 (g) 2NO2(g)
2. Proses Kontak berbeda dengan proses kamar timbal. proses kontak menggunakan
katalis vanadium pentaoksida (V2O5).
Proses yang terjadi sebagai berikut:
a) Belerang dibakar menjadi belerang dioksida.
S(s) + O2 (g) SO2(g)

b) SO2 yang terbentuk dioksidasi di udara menjadi belerang trioksida dengan


bantuan katalis vanadium pentaoksida (V2O5 ). Reaksinya berbentuk
kesetimbangan:
2SO2 (g) + O2 (g) 2SO3(g) + 45 kkal
Menurut kesetimbangan di atas, makin rendah suhunya makin banyak SO 3 yang
dihasilkan. Akan tetapi, pada suhu rendah reaksi berjalan lambat. Dengan
memperhitungkan faktor- faktor waktu dan hasil, dipilih dipilih suhu 400 C
karena hasil yang diperoleh pada suhu ini kira-kira 98%.
c) Oleh karena gas SO3 agak sukar larut dalam air, maka SO 3 dilarutkan dalam
H2SO4 pekat. SO3 + H2SO4 H2S2O7 (asam pirosulfat )
d) Asam pirosulfat kemudian disirami air menurut reaksi: H 2S2O7 + H2O
2H2SO4 dan didapatlah asam sulfat dalam rasio hasil reaksi yang mencapai 99,5
%.
4. Produksi Biodiesel
Biodiesel dibuat melalui suatu proses kimia yang disebut transesterifikasi dimana
gliserin dipisahkan dari minyak nabati. Proses ini menghasilkan dua produk yaitu metil
esters (biodiesel)/mono-alkyl esters dan gliserin yang merupakan produk samping.
Bahan baku utama untuk pembuatan biodiesel antara lain minyak nabati, lemak hewani,
lemak bekas/lemak daur ulang. Semua bahan baku ini mengandung trigliserida, asam
lemak bebas (ALB) dan zat-pencemar dimana tergantung pada pengolahan pendahuluan
dari bahan baku tersebut. Sedangkan sebagai bahan baku penunjang yaitu alkohol. Pada
ini pembuatan biodiesel dibutuhkan katalis untuk proses esterifikasi, katalis dibutuhkan
karena alkohol larut dalam minyak. Minyak nabati kandungan asam lemak bebas lebih
rendah dari pada lemak hewani, minyak nabati biasanya selain mengandung ALB juga
mengandung phospholipids, phospholipids dapat dihilangkan pada proses degumming
dan ALB dihilangkan pada proses refining. Minyak nabati yang digunakan dapat dalam
bentuk minyak Produk biodiesel tergantung pada minyak nabati yang digunakan sebagai
bahan baku seta pengolahan pendahuluan dari bahan baku tersebut.
Alkohol yang digunakan sebagai pereaksi untuk minyak nabati adalah methanol,
namun dapat pula digunakan ethanol, isopropanol atau butyl, tetapi perlu diperhatikan
juga kandungan air dalam alcohol tersebut. Bila kandungan air tinggi akan
mempengaruhi hasil biodiesel kualitasnya rendah, karena kandungan sabun, ALB dan
trig;iserida tinggi. Disamping itu hasil biodiesel juga dipengaruhi oleh tingginya suhu

operasi proses produksi, lamanya waktu pencampuran atau kecepatan pencampuran


alkohol.
Katalisator dibutuhkan pula guna meningkatkan daya larut pada saat reaksi
berlangsung, umumnya katalis yang digunakan bersifat basa kuat yaitu NaOH atau
KOH atau natrium metoksida. Katalis yang akan dipilih tergantung minyak nabati yang
digunakan, apabila digunakan minyak mentah dengan kandungan ALB kurang dari 2 %,
disamping terbentuk sabun dan juga gliserin. Katalis tersebut pada umumnya sangat
higroskopis dan bereaksi membentuk larutan kimia yang akan dihancurkan oleh reaktan
alkohol. Jika banyak air yang diserap oleh katalis maka kerja katalis kurang baik
sehingga produk biodiesel kurang baik. Setelah reaksi selesai, katalis harus di netralkan
dengan penambahan asam mineral kuat. Setelah biodiesel dicuci proses netralisasi juga
dapat dilakukan dengan penambahan air pencuci, HCl juga dapat dipakai untuk proses
netralisasi katalis basa, bila digunakan asam phosphate akan menghasil pupuk
phosphat(K3PO4).Proses transesterifikasi yang umum untuk membuat biodiesel dari
minyak nabati (biolipid) ada tiga macam yaitu :

Transesterifikasi dengan Katalis Basa


Transesterifikasi dengan Katalis Asam Langsung
Konversi minyak/lemak nabati menjadi asam lemak dilanjutkan menjadi

biodiesel
Hampir semua biodiesel diproduksi dengan metode transesterifikasi dengan katalisator
basa karena merupakan proses yang ekonomis dan hanya memerlukan suhu dan tekanan
rendah. Hasil konversi yang bisa dicapai dari proses ini adalah bisa mencapai 98%.
Proses ini merupakan metode yang cukup krusial untuk memproduksi biodiesel dari
minyak/lemak nabati. Proses transesterifikasi merupakan reaksi dari trigliserin
(lemak/minyak) dengan bioalkohol (methanol atau ethanol) untuk membentuk ester dan
gliserol. Minyak nabati dengan kadar asam lemak bebas (ALB)-nya rendah (< 1%), bila
lebih, maka perlu pretreatment karena berakibat pada rendahnya kinerja efisiensi.
Padahal standar perdagangan dunia kadar ALB yang diijinkan hingga 5%. Jadi untuk
minyak nabati dengan kadar ALB >1%, perlu dilakukan deasidifikasi dengan reaksi
metanolisis atau dengan gliserol kasar. R1, R2, dan R3 adalah alkil dari ester. Selama
proses esterifikasi, trigliserin bereaksi dengan alkohol dengan katalisator alkalin kuat
(NaOH, KOH atau sodium silikat).

TUGAS 2
Cari 3 reaksi autokatalitik dan jelaskan!
Pada reaksi-reaksi tertentu, terdapat salah satu produk reaksi yang dapat berfungsi
sebagai katalis untuk reaksi yang bersangkutan. Zat atau produk ini disebut dengan
autokatalis, sedangkan reaksinya disebut dengan reaksi autokatalitik. Adapun contoh
dari reaksi autokatalitik adalah:
1. CH3COOCH3 + H2O
CH3COOH + CH3OH
Pada reaksi ini yang berlaku sebagai autokatalis adalah CH 3COOH yang
dihasilkan dari reaksi metil asetat dengan air, dengan terbentunya CH 3COOH
maka reaksi yang terjadi menjadi bertambah cepat, katalis dapat mempercepat
reaksi dengan cara menurunkan harga energi aktivasi (Ea).
2. 2 KMnO4 + 5 H2C2O4 + 3 H2SO4
2 MnSO4 + K2SO4 + 8 H2O + 10 CO2
Pada reaksi antara kalium permanganat (KMnO4) dengan asam oksalat (H2C2O4)
salah satu hasil reaksinya berupa senyawa mangan sulfat (MnSO 4) merupakan
autokatalis pada reaksi ini, karena semakin lama laju reaksinya akan semakin
cepat karena MnSO4 yang terbentuk berfungsi sebagai katalis.
3. 2 AsH3
2 As + 3 H2
Pada reaksi ini yang berlaku sebagai autokatalis adalah As karena As yang
terbentuk dapat mempercepat reaksi yang terjadi seperti yang telah diketahui
autokatalis adalah zat hasil reaksi yang berfungsi sebagai katalis di dalam reaksi
itu sendiri.

Anda mungkin juga menyukai