Anda di halaman 1dari 26

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

LAPORAN KASUS
September 2015

ENDOFTALMITIS

Oleh :
Iin Alfriani Amran S.Ked
10542 0187 10

PEMBIMBING :
dr. Yuyun Rahayu Gobel, Sp.M

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji syukur saya panjatkan ke khadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat,
taufik serta hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas laporan kasus ini
dengan baik dan lancar. Tak lupa penulis mengucap shalawat dan salam kepada Nabi
Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah menuntun kita kepada
kebenaran dalam ajarannya. Penulisan laporan kasus ini yang berjudul Endoftalmitis
merupakan salah satu tugas yang diberikan di stase mata pada program kepaniteraan klinik di
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.
Berbagai bentuk kesulitan yang penulis hadapi dalam pembuatan tugas ini tidak dapat
dihadapi dan terlewati dengan mudah sehingga saya ucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada dr. Yuyun Rahayu Gobel, Sp.M, sebagai dosen pembimbing saya untuk
tugas ini.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh
karena itu penulis masih mengharapkan kritik dan saran dari pembaca terutama teman
sejawat untuk penyempurnaannya. Harapan penulis agar laporan kasus ini dapat bermanfaat
bagi semua pihak. Amin.

Wassalamualaikum Wr. Wb.


Iin Alfriani Amran

LAPORAN KASUS

A. Identifikasi Pasien
Nama

: Caddi Dg. Naba

Umur

: 69 tahun

Jenis Kelamin

: Laki laki

Alamat

: Pammase

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Petani

Tanggal masuk rumah sakit : 26 Agustus 2015


B. Anamnesis
Tipe Anamnesis

: Autoanamnesis dan Alloanamnesis

Keluhan utama

Mata kiri terasa nyeri dan tidak dapat melihat.


Anamnesis

:
Pasien datang ke poliklinik mata dengan keluhan mata sebelah kiri nyeri,

merah dan kelopak mata kiri bengkak sejak 5 hari yang lalu sebelum datang ke
poliklinik. Pasien mengaku mata kirinya terasa berair dan nyerinya semakin bertambah
hingga menjalar sampai ke kepala. Pasien sempat muntah muntah sebelum akhirnya di
antar ke poliklinik mata.
Riwayat pernah tertusuk daun padi pada mata kiri 10 tahun yang lalu
( tahun 2005). Setelah itu penglihatan mata kiri pasien semakin memburuk, menjadi tidak
dapat melihat. Pasien mengaku bagian mata kiri yang berwarna hitam berubah warna
menjadi putih, lalu pasien berobat ke dr.Sp.M dan diberi obat tetes mata serta obat

minum. Keadaan pasien menjadi agak membaik tetapi pasien tetap tidak dapat melihat.
Setelah dirasa membaik pasien tidak pernah melakukan kontrol lagi ke dokter (putus
berobat) dan hari sabtu tanggal 22 Agustus 2015 pasien merasakan nyeri pada mata
kirinya disertai bengkak dan berair. Pasien kemudian berobat ke RSUD Kab Gowa dan
oleh dokter Sp.M disarankan rawat inap, kemudian dijadwalkan untuk operasi. Pasien
diketahui memiliki riwayat penyakit TB paru.

C. Status Present
Sakit sedang/ Composmentis
Berat badan
Tinggi badan
IMT
Tekanan darah
Nadi
Pernapasan
Suhu Badan

: Tidak diukur
: Tidak diukur
: Tidak diukur
: 140/90 mmHg
: 68x/menit
: 20x/menit
: 36,5 C

D. Status General
Kepala

: Bentuk bulat, simetris, Rambut tidak mudah dicabut

Mata
Leher
Thoraks
Pulmo
Jantung
Abdomen
Ekstremitas

:
:
:
:
:
:
:

Lihat status oftalmologis


Tidak ada pembesaran KGB dan nyeri tekan (-)
Simetris kiri dan kana
Bising + : Ronkhi basah kasar
Dalam batas normal
Dalam batas normal
Dalam batas normal

E. Status Lokalisasi Oftalmologis


OD
20/80
Sentral

Kesegalah Arah
Lunak perpalpasi

Visus
Kedudukan

OS
0
Sentral

Pergerakan
Bola Mata

Sde

TIO

Keras perpalpasi

Bentuk normal, edema (-)


Normal, tumbuh teratur
Hiperemi (-)
Jernih
Hiperemi (-)
Normal
Reguler
Sentral, regular, 3 mm,
reflek cahaya (+)
Jernih

Palpebra
Cilia
Konjungtiva
Kornea
Sklera
COA
Iris
Pupil
Lensa

Edema (+) hiperemis (+)


Sekret (+)
Mix Injeksi (+), kemosis (+)
Keruh (+), Infiltrate (+) , Ulkus (+)
Hiperemi (+) atrofi (+)
Hipopion (+)
Sde
Sde
Sde

F. RESUME
Tn. C, 69 tahun, dengan keluhan mata kiri terasa nyeri sejak 5 hari yang lalu.
Keluhan tersebut disertai dengan mata yang tampak merah, membengkak. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran
composmentis. Tekanan darah : 140/90mmHg, nadi: 68x/menit, frekuensi napas:
20x/menit, suhu:36,5 C. Pada pemeriksaan kepala didapatkan bentuk bulat, simetris,
rambut tidak mudah dicabut. Pada pemeriksan mata Oculi sinistra (OS) : visus: 0,
Kedudukan: sentral, Pergerakan bola mata: sulit dievaluasi, TIO : keras perpalpasi
palpebra superior/ inferior: Edema dan Hiperemis, konjungtiva: mix injection dan
kemosis, kornea: keruh berisi infiltrate dan ulkus, camera oculi anterior (COA):
hipopion, iris: sulit dinilai, pupil: sulit dinilai, lensa: sulit dinilai. Oculi dekstra
(OD): visus: 20/80, kedudukan ,pergerakan bola mata, palpebra, konjungtiva, kornea,

skelera, COA, iris, pupil dan lensa : dalam batas normal. Pada pemeriksaan leher
tidak ditemukan adanya pembesaran KGB dan nyeri tekan, inspeksi thorax simetris
kiri dan kanan, Auskultasi pulmo didapatkan bising ronkhi basa kasar. Pada
pemeriksaan jantung, abdomen dan ekstremitas dalam batas normal.
G. DIAGNOSA KLINIS
OS Endoftalmitis

H.
I.

PENATALAKSANAAN
Ceftriaxone 1 gr/ 12 jam/ iv
Dexametason 1 amp/ 3 jam/ iv
Ketorolac 1 amp/ 8 jam/ iv
Ulsikur 1 amp/ 8 jam/ iv
Manitol / 1 jam/ iv lanjut RL
PROGNOSI
Dubia ad malam

J.

DISKUSI
Dilaporkan sebuah kasus seorang laki-laki 69 tahun dengan keluhan utama

mata kiri nyeri dan tidak bisa melihat. Pasien ini didiagnosis Endoftalmitis OS.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, dan pemeriksaan fisik.
Dari anamnesis diketahui pasien mengeluh mata kiri merah dan nyeri disertai
dengan penurunan penglihatan. Pasien juga mengeluh semakin hari nyeri pada mata
kiri semakin bertambah dan mata kiri pasien akhirnya tidak dapat melihat lagi. Hal
ini sesuai dengan kebanyakan kasus endoftalmitis dimana sering dijumpai adanya
penurunan tajam penglihatan.3
Pasien mengaku bagian mata kiri yang berwarna hitam berubah menjadi
berwarna putih. Dari pemeriksaan fisik status oftalmologis kiri didapatkan visus = 0,
konjungtiva dan sklera hiperemis, kornea keruh dan terdapat hipopion. Hal ini sesuai

dengan gejala pada endoftalmitis. Endoftalmitis merupakan radang purulen pada


seluruh jaringan intraokuler, disertai dengan terbentuknya abses di dalam badan
kaca.3,4
Pada mata timbul gejala berupa mata sakit, merah, kelopak bengkak, refleks
fundus hilang akibat adanya nanah di dalam badan kaca. Tajam penglihatan sangat
menurun dan peningkatan TIO.
Tekanan bola mata meningkat akibat massa supuratif yang tertumpuk di dalam bola
mata.3 Pada Endoftalmitis terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuclear, sel plasma,
leukosit polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang
tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan
permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbullah ulkus.5
Pasien bekerja sebagai petani dan memiliki riwayat mata kiri pernah tertusuk
daun pada sebelum akhirnya pasien tidak dapat melihat. Hal ini sesuai kepustakaan
Penyebab terjadinya endoftalmitis adalah faktor eksogen, karena dari anamnesis
yang dilakukan pasien mengaku ada riwayat trauma pada mata. bentuk endoftalmitis
yang paling sering dijumpai adalah endoftalmitis infeksi jamur yang masuk bersama
trauma tembus (eksogen).5
Pasien memiliki riwayat KP , dimana secara Endogen, endoftalmitis dapat
terjadi melalui penyebaran bakteri lewat aliran darah atau jamur saat septikemia.5
Pada pasien ini penyebab terjadinya endoftalmitis adalah faktor eksogen dan
endogen, karena dari anamnesis yang dilakukan pasien mengaku ada riwayat trauma
pada mata dan memiliki riwayat KP.
Penanganan untuk endoftalmitis adalah dengan terapi antibiotik dan terapi
suportif

1,2

. Terapi antibiotik yang diberikan adalah injeksi ceftriaxone 1 gr setiap

12 jam. Selain itu sebagai anti inflamasi diberikan injeksi dexamethason.

Dexamethason merupakan adrenokortikosteroid yang mempunyai aktifitas anti


inflamasi, anti alergi, hurmonal dan efekmetabolik.5 Injeksi ketorolac 1 ampul setiap
8 jam sebagai anti analgetik, selain itu ketorolac memberikan efek anti inflamasi
menghambat migrasi leukosit polimorfonuklear dan makrofag ke tempat
peradangan. Manitol 20% diberikan pre operasi untuk menurunkan TIO ( Tekanan
Intra Okuler).7
Sebagai terapi suportif diberikan Ulsikur sebagai sebagai cytoprotektor
terhadap mukosa lambung penderita endoftalmitis akibat efek samping pemberian
obat terapi lain. 6
Pada kasus ini direncanakan dilakukan OS Eviserasi. Eviserasi untuk
mengurangi rasa nyeri pada mata penderita (terapeutik) dan juga untuk tujuan
kosmetik. Untuk eviserasi bulbi dilakukan pada mata dengan panoftalmitis dan
endoftalmitis berat.
Pasien pada kasus ini mempunyai prognosis dubia ad malam karena pasien
tersebut sudah mengalami kebutaan. Dengan terapi yang optimal sekalipun,
endoftalmitis memiliki prognosis yang buruk.4 Prognosis penderita endoftalmitis
tergantung dari kondisi imunitas penderita, durasi dari endoftalmitis, virulensi
bakteri, jangka waktu infeksi sampai penatalaksanaan. Pada kasus ini, prognosis
pasien dubia ad malam karena mengingat umur penderita yang sudah cukup tua.2

TINJAUAN PUSTAKA
ENDOFTALMITIS
A. PENDAHULUAN
Endoftalmitis termasuk kegawatdaruratan dalam bidang oftalmologi meskipun
bukan 5 besar penyebab terjadinya kebutaan. Endoftalmitis merupakan peradangan
berat dalam bola mata, biasanya akibat infeksi setelah trauma atau bedah atau endogen
akibat sepsis. Berbentuk radang supuratif di dalam rongga mata dan struktur didalamnya.
Peradangan supuratif didalam bola mata akan memberikan abses didalam badan kaca.
Penyebab endoftalmitis supuratif adalah kuman dan jamur yang masuk bersama trauma
tembus (eksogen) atau sistemik melalui peredaran darah (endogen).1,2,3

Endoftalmitis

jarang

ditemukan

namun

merupakan

komplikasi

yang

membahayakan. Endoftalmitis sering terjadi setelah trauma pada mata termasuk setelah
dilakukannya operasi mata yang merupakan faktor risiko masuknya mikroorganisme ke
dalam mata. Mikroorganisme ini menyebabkan infeksi intraokuler yang disebut
endoftalmitis.1,2
Diagnosis endoftalmitis selalu berdasarkan kondisi klinis. Ini biasanya ditandai
dengan edema palpebra, kongesti konjungtiva, dan hipopion atau eksudat pada COA.
Visus menurun bahkan dapat menjadi hilang. Karena hasil pengobatan akhir sangat
tergantung pada diagnosis awal, maka penting untuk melakukan diagnosis sedini
mungkin. Pengobatan bukan untuk mengobati visusnya, karena visus tidak dapat
diperbaiki lagi. Cara yang paling muktahir dalam pengobatan endoftalmitis adalah
dengan melakukan vitrektomi atau Eviserasi.1,2

B. ANATOMI dan FISIOLOGI VITREOUS HUMOUR


Vitreous humour atau badan kaca menempati daerah belakang lensa. Struktur ini
merupakan gel transparan yang terdiri atas air (lebih kurang 99%), sedikit kolagen, dan
molekul asam hialuronat yang sangat terhidrasi. Badan vitreous mengandung sangat
sedikit sel yang menyintesis kolagen dan asam hialuronat. Berfungsi mengisi ruang
untuk meneruskan sinar dari lensa. Kebeningan badan vitreous disebabkan tidak
terdapatnya pembuluh darah dan sel. Pada pemeriksaan tidak terdapatnya kekeruhan
badan vitreous akan memudahkan melihat bagian retina pada pemeriksaan oftamoskopi.8

Gambar 1 anatomi penampang sagital bola mata


C. DEFENISI
Endoftalmitis merupakan peradangan berat dalam bola mata, biasanya akibat
infeksi setelah trauma atau bedah, atau endogen akibat sepsis. Berbentuk radang
supuratif di dalam rongga mata dan struktur di dalamnya peradangan supuratif di
dalam bola mata akan memberikan abses di dalam badan kaca.9
D. ETIOLOGI

Endoftalmitis Endogen Endoftalmitis endogen terjadi akibat penyebaran bakteri,


jamur atau parasit dari fokus infeksi di dalam tubuh yang menyebar secara
hematogen atau akibat penyakit sistemik lainnya, misalnya endocarditis.

Endoftalmitis Eksogen Endoftalmitis eksogen dapat terjadi akibat trauma


tembus, infeksi sekunder dan komplikasi yang terjadi pada tindakan pembedahan
yang membuka bola mata. Bakteri yang sering merupakan penyebab adalah
stafilokok, streptokok, pneumokok, pseudomonas, dan basil sublitis.

Endoftalmitis

Fakoanafilaktik

Endoftalmitis

fakoanalitik

merupakan

endoftalmitis unilateral atau bilateral yang merupakan reaksi uvea granulomatosa


terhadap lensa yang mengalami ruptur. Merupakan suatu penyakit autoimun
terhadap jaringan tubuh, tidak mengenal jaringan lensa yang tidak terletak di
dalam kapsul. Tubuh membentuk antibodi terhadap lensa sehingga terjadi reaksi
antigen antibodi yang akan menimbulkan gejala endotalmitis fakoanafilaktik.9

E.

EPIDEMIOLOGI

Endophthalmitis endogen jarang terjadi, hanya terjadi pada 2-15% dari semua
kasus endophthalmitis. Kejadian rata-rata tahunan adalah sekitar 5 per 10.000 pasien
yang dirawat. Dalam beberapa kasus, mata kanan dua kali lebih mungkin terinfeksi
sebagai mata kiri, mungkin karena lokasinya yang lebih proksimal untuk
mengarahkan aliran darah ke arteri karotid kanan. Sejak tahun 1980, infeksi Candida
dilaporkan pada pengguna narkoba suntik telah meningkat. Jumlah orang yang
beresiko mungkin meningkat karena penyebaran AIDS, sering menggunakan obat
imunosupresif, dan lebih banyak prosedur invasif (misalnya, transplantasi sumsum
tulang).
Sebagian besar kasus endophthalmitis eksogen (sekitar 60%) terjadi setelah
operasi intraokular. Ketika operasi merupakan penyebab timbulnya infeksi,
endophthalmitis biasanya dimulai dalam waktu 1 minggu setelah operasi. Di Amerika
Serikat, endophthalmitis postcataract merupakan bentuk yang paling umum, dengan
sekitar 0,1-0,3% dari operasi menimbulkan komplikasi ini, yang telah meningkat
selama beberapa tahun terakhir. Walaupun ini adalah persentase kecil, sejumlah besar
operasi katarak yang dilakukan setiap tahun memungkinkan untuk terjadinya infeksi
ini lebih tinggi.
Post traumatic Endophthalmitis terjadi pada 4-13% dari semua cedera
penetrasi okular. Insiden endophthalmitis dengan cedera yang menyebabkan perforasi
pada bola mata di pedesaan lebih tinggi bila dibandingkan dengan daerah perkotaan.
Keterlambatan dalam perbaikan luka tembus pada bola mata berkorelasi dengan
peningkatan resiko berkembangnya endophthalmitis. Kejadian endophthalmitis yang
disebabkan oleh benda asing intraokular adalah 7-31%. 10
F.

PATOFISIOLOGI

Dalam keadaan normal, sawar darah-mata (blood-ocular barrier) memberikan


ketahanan alami terhadap serangan dari mikroorganisme. Dalam endophthalmitis
endogen, mikroorganisme yang melalui darah menembus sawar darah-mata baik oleh
invasi langsung (misalnya, emboli septik) atau oleh perubahan dalam endotelium
vaskular yang disebabkan oleh substrat yang dilepaskan selama infeksi. Kerusakan
jaringan intraokular dapat juga disebabkan oleh invasi langsung oleh mikroorganisme
dan atau dari mediator inflamasi dari respon kekebalan.
Endophthalmitis dapat terlihat nodul putih yang halus pada kapsul lensa, iris,
retina, atau koroid. Hal ini juga dapat timbul pada peradangan semua jaringan okular,
mengarah kepada eksudat purulen yang memenuhi bola mata. Selain itu, peradangan
dapat menyebar ke jaringan lunak orbital. Setiap prosedur operasi yang mengganggu
integritas bola mata dapat menyebabkan endophthalmitis eksogen.10
Secara rinci, patofisiologi dari endoftalmitis dapat diakibatkan dengan mekanisme
sebagai berikut11 :
1. Endoftalmitis Eksogen
Infeksi purulent yang terjadi disebabkan karena infeksi eksogen yang diikuti
oleh cedera yang mengakibatkan perforasi, perforasi dari ulkus kornea yang
terinfeksi atau akibat infeksi luka post-operasi diikuti oleh operasi intraokuler.
Organisme yang biasanya terdapat pada konjungtiva, palpebra atau pada alis mata
biasanya merupakan penyabab pada endoftalmitis post-operatif. Sebagian besar
kasus dari endoftalmitis eksogen terjadi paska operasi atau setelah trauma
terhadap mata. Bakteri gram positif merupakan penyabab utama, dengan angka
kejadian hampir 90% dari setiap kasus dan merupakan flora normal dari
konjungtiva.
2. Endoftalmitis Endogen

Dalam endophthalmitis endogen, mikroorganisme yang melalui darah (terlihat


pada pasien yang bacteremic dalam situasi seperti endokarditis) menembus sawar
darah-mata baik oleh invasi langsung (misalnya, emboli septik) atau oleh
perubahan dalam endotelium vaskular yang disebabkan oleh substrat yang
dilepaskan selama infeksi. Kerusakan jaringan intraokular dapat juga disebabkan
oleh invasi langsung oleh mikroorganisme dan / atau dari mediator inflamasi dari
respon kekebalan. Hal-hal bakteremia tersebut dapat terjadi pula pada infeksi
caries gigi dan perperal sepsis.
Individu yang mempunyai faktor resiko

menjadi endoftalmitis endogen

biasanya memiliki faktor komorbid seperi diabetes mellitus, gagal ginjal gangguan
katup jantung, SLE, AIDS, leukemia dan kondisi keganasan lainya. Prosedur
invasif dapat menyebabkan bakteremia seperti hemodialisis, kateter urin,
endoskopi gastrointestinal, tindakan kedokteran gigi juga dapat menyebabkan
endoftalmitis. Infeksi jamur dapat terjadi sampai dengan 50% pada semua kasus
endoftalmitis endogen, C.albicans merupakan salah satu patogen yang tersering.
Pada penyebab bakteri, S.aureus merupakan bakteri gram positif yang biasanya
diikuti oleh penyakit sistemik yang kronis, seperti diabetes mellitus atau gagal
ginjal.9,10
G.

MANIFESTASI KLINIK

Gambar 2. Endoftalmitis

Dalam menegakkan diagnosis, anamnesis dan pemeriksaan fisik merupakan


modal utama bagi seorang dokter umum untuk meneggak diagnosis. Pada anamnesis,
dapat ditemukan gejala sebagai berikut10 :

Endoftalmitis bakteri biasanya menimbulkan

gejala berupa nyeri yang akut,

kemerahan pada mata, pembengkakan, dan penurunan visus. Pada beberapa bakteri
(misalnya, Propionibacterium acnes) dapat menyebabkan radang kronis dengan
gejala ringan. Organisme ini adalah flora kulit yang khas dan biasanya masuk pada
saat operasi intraokular.

Endophthalmitis jamur akan menimbulkan gejala selama beberapa hari sampai


minggu. Gejala sering penglihatan kabur, rasa nyeri, dan penurunan visus. Riwayat
trauma tembus dengan tanaman atau benda asing yang terkontaminasi dengan tanah
mungkin sering diperoleh. Individu dengan infeksi Candida akan timbul demam
tinggi, disusul beberapa hari kemudian dengan gejala okular. Demam persistent yang
tidak diketahui dapat dikaitkan dengan infeksi jamur.

Riwayat operasi mata, trauma mata, atau bekerja dalam industri sering ditemukan.
Dalam kasus endophthalmitis pascaoperasi, infeksi paling sering terjadi setelah
pembedahan (misalnya, pada minggu pertama), tetapi mungkin terjadi bulan atau
tahun kemudian seperti dalam kasus P.acnes.11

Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan dari pemeriksaan visus, inspeksi struktur luar
mata, ophthalmoscope, pemeriksaan fundus dan pemeriksaan slit lamp. Pemeriksaan fisk
yang dapat ditemukan pada pasien dengan endoftalmitis diantaranya adalah :

Kelopak mata bengkak dan eritema

Konjungtiva tampak chemosis

Kornea edema, keruh, tampak infiltrate

Hypopion (lapisan sel-sel inflamasi dan eksudat di camera oculi anterior)

Iris odem dan keruh

Pupil tampak yellow reflex akibat eksudat purulent pada corpus vitreum

Eksudat pada vitreus

TIO meningkat atau menurun.TIO meningkat pada fase awal, namun pada
kasus yang berat, prosesus siliaris mungkin dapat mengalami kerusakan dan
mengakibatkan penurunan tekanan intraokuler.

Tepi luka menjadi berwarna kuning atau nekrosis11

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Karena endophtalmitis adalah penyakit yang serius dan menyebabkan
gangguan

penglihatan,

maka

harus

dapat

diagnosa

dini

dan

dilakukan

penatalaksanaan yang tepat untuk mencegah terjadinya kebutaan yang merupakan


resiko yang paling ditakuti. Prosedur diagnosis yang harus dilakukan adalah :

Ophthalmological evaluation
Pemeriksaan tajam penglihatan

Tonometri untuk memeriksa tekanan bola mata

Pemeriksaan funduskopi

Memeriksa kedua mata dengan slit lamp biomicroscopy2,3


I. KLASIFIKASI ENDOFTALMITIS
1. Endoftalmitis Eksogen
1.a Endoftalmitis Post-operatif akut
a. Endoftalmitis Akut Pasca Bedah Katarak
Merupakan bentuk yang paling sering dari endoftalmitis, dan hampir selalu
disebabkan oleh infeksi bakteri. Tanda-tanda infeksi dapat muncul dalam waktu

satu sampai dengan enam minggu dari operasi. Namun, dalam 75-80% kasus
muncul di minggu pertama pasca operasi. Sekitar 56-90% dari bakteri yang
menyebabkan endoftalmitis akut adalah gram positif, dimana yang paling sering
adalah Staphylococcus epidermis, Staphylococcus aureus dan Streptococcus. Pada
pasien dengan endoftalmitis akut pasca operasi biasa ditemui Injeksi silier,
hilangnya reflek fundus, hipopion, pembengkakan kelopak mata, fotofobia,
penurunan visus dan kekeruhan vitreus.12,13

b Endoftalmitis Pasca Operasi Filtrasi Antiglaukoma


Diantara semua kasus endoftalmitis pasca operasi, komplikasi ini terjadi
pasca operasi filtrasi antiglaukoma yang terjadi sebanyak 10% dari kasus. Dari
total jumlah kasus dengan operasi filtrasi antiglaukoma, endoftalmitis terjadi
dalam persentase yang sama seperti di Katarak (0,1%). Trabeculectomy dan
trepanotrabeculectomy, sebagai metode yang tersering, membentuk

filtrasi

fistula yang mengarahkan cairan ke ruang bawah konjungtiva. Akumulasi cairan


ini memungkinkan menjadi tempat peradangan yang dapat disebabkan oleh
inokulasi bakteri selama operasi, atau bisa terjadi selama periode pasca operasi.
Tanda-tanda endoftalmitis muncul empat minggu setelah operasi pada 19%
pasien, atau bahkan kemudian dalam sebagian besar kasus. Infeksi juga dapat
terjadi satu tahun berikutnya setelah operasi. Manfestasi klinis yang terjadi sangat
mirip dengan salah satu endoftalmitis akut dengan tanda-tanda kumpulan pus di

tempat akumulasi cairan dan kerusakan nekrotik dari sclera sebagai konsekuensi
dari efek toksik. Bakteri penyebab paling umum adalah jenis Streptococcus dan
Staphylococcus aureus, disamping itu Haemophilus influenza juga menjadi salah
satu penyebabnya.13,14
1.b Endoftalmitis Post-operatif kronis
a. Endoftalmitis Pseudofaki Kronik
Endoftalmitis pseudofaki kronik biasanya berkembang empat minggu hingga
enam minggu. Biasanya, keluhan pasien ringan dengan tanda-tanda mata merah,
penurunan ketajaman visus dan adanya fotofobia. Sedangkan tanda-tanda yang
dapat ditemui yaitu adanya eksudat serosa dan fibrinous dari berbagai derajat
dapat diamati, dihubungkan dengan adanya hipopion dan tanda-tanda moderat
dari kekeruhan dan opacity dalam vitreous body.
Salah satu yang khas dari endoftalmitis pseudofaki kronik adalah adanya plak
kapsul putih dan secara proporsional tingkat kekeruhan badan vitreous yang lebih
rendah dibandingkan dengan endophthalmitis akut. Hal ini dianggap bahwa
penyebab endoftalmitis pseudofaki kronik adalah adanya beberapa bakteri yang
memiliki virulensi rendah, dengan tanda-tanda inflammation yang berjalan
lambat. Frekuensi paling sering yang menjadi penyebab dari chronic
endiphthalmitis adalah Propionibacterium acnes dan Corynebacterium species.13,14

Gambar.Endoftalmitis Pseudofaki Kronik


1.c Endoftalmitis Post-traumatik
a. Endoftalmitis Pasca Trauma
Setelah terjadinya cedera mata, endoftalmitis terjadi dalam persentase tinggi
(20%), terutama jika cedera ini terkait dengan adanya benda asing intraokular.

Dengan temuan klinis berupa luka perforasi, infeksi berkembang sangat cepat.
Tanda-tanda infeksi biasanya berkembang segera setelah cedera, tapi biasanya
diikuti oleh reaksi post-traumatic jaringan mata yang rusak. Informasi yang
sangat penting dalam anamnesis adalah apakah pasien berasal dari lingkungan
pedesaan atau perkotaan, cedera di lingkungan pedesaan lebih sering diikuti oleh
endoftalmitis (30%) dibandingkan dengan pasien dari lingkungan perkotaan.
(11%). Secara klinis, Endoftalmitis pasca-trauma ditandai dengan rasa sakit,
hiperemi ciliary, gambaran hipopion dan kekeruhan pada vitreous body. Dalam
kasus endoftalmitis pasca-trauma, agen causative paling umum adalah bakteri
dari kelompok Bacillus dan Staphylococcus. Dalam Endoftalmitis post-traumatik,
khususnya dengan masuknya benda asing, sangat

penting untuk dilakukan

vitrekomi sesegera mungkin, dengan membuang benda asing intraokular dan


aplikasi terapi antibiotik yang tepat.14
2. Endoftalmitis Endogen
2.a Endoftalmitis Bakterial
Pada bentuk endoftalmitis ini tidak ada riwayat operasi mata ataupun trauma
mata. Biasanya ada beberapa penyakit sistemik yang mempengaruhi, baik melalui
penurunan mekanisme pertahanan host atau adanya fokus sebagai tempat potensial
terjadinya infeksi. Dalam kelompok ini penyebab tersering adalah; adanya
septicaemia, pasien dengan imunitas lemah, penggunaan catethers dan Kanula
intravena kronis. Agen bakteri yang biasanya menyebabkan endoftalmitis endogen
adalah Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan spesies Streptococcus. Namun,
agen yang paling sering menyebabkan Endoftalmitis endogen adalah jamur (62%),
gram positive bakteri (33%), dan gram negatif bakteri dalam 5% dari kasus. 14

Gambar .Endoftalmitis Endogen

2.b Fungal endoftalmitis


Fungal endoftalmitis dapat berkembang melalui mekanisme endogen setelah
beberapa trauma atau prosedur bedah dengan inokulasi langsung ke ruang anterior
atau vitreous body, atau transmisi secara hematogen dalam bentuk candidemia. Tidak
seperti fungal chorioretinitis yang disebabkan oleh kandidiasis, yang disertai dengan
tanda peradangan minimal pada vitreous body, fungal endoftalmitis merupakan
penyakit serius dengan karakteristik tanda-tanda endoftalmitis akut.13,14

Gambar . Fungal Endoftalmitis


J. DIAGNOSIS BANDING
Panoftalmitis
Panoftalmitis merupakan peradangan seluruh bola mata termasuk sklera dan
kapsul Tenon sehingga bola mata merupakan rongga abses. Infeksi kedalam bola mata
dapat melalui peredaran darah (endogen) atau perforasi bola mata dan akibat tukak
kornea perforasi (eksogen).
Umumnya pasien datang dengan keluhan demam, sakit kepala dan kadangkadang muntah, rasa nyeri, mata merah, kelopak mata bengkak atau edem, serta
terdapat penurunan tajam penglihatan. Pada pemeriksaan fisik dapata ditemukan
injeksi konjungtiva dan siliar yang hebat, chemosis konjungtiva selalu ada dan kornea
tampak keruh. Pupil mengecil permanen, pada COA sering terdapat hipopion dan
adanya peningkatan tekanan intraokuler. Oleh karena adanya radang pada kapsul
tenon akan mengakibatkan terbatasnya gerakan bola mata. Bila panoftalmitis akibat
bakteri maka perjalanan penyakit cepat dan berat, sedang bila akibat jamur perjalanan
penyakit perlahan-lahan dan gejala terlihat beberapa minggu setelah infeksi.
Pengobatan panoftalmitis ialah dengan antibiotic dosis tinggi dan bila gejala
radang sangat berat dilakukan segera eviserasi isi bola mata. Penyulit panoftalmitis
dapat membentuk jaringan granulasi disertai vaskularisasi dari koroid. Panoftalmitis
dapat berakhir dengan terbentuknya jaringan fibrosis yang akan mengakibatkan ftisis
bulbi.1
K. PENATALAKSANAAN
Tatalaksana endoftalmitis dilakukan di ruang gawat darurat. Jika telah
didiagnosis atau diduga kuat endoftalmitis, pasien harus dirujuk segera ke spesialis
mata untuk evaluasi lebih lanjut. Tatalaksana diberikan berdasarkan penyebab

endoftalmitis. Pada endoftalmitis endogen, terapi antibiotik yang tepat adalah kunci
keberhasilan tatalaksana. Endoftalmitis endogen responsif terhadap pemberian
antibiotik intravena, sedangkan pada endoftalmitis eksogen tidak selalu perlu
diberikan antibiotik. Antibiotik sistemik juga diberikan untuk membunuh fokus
infeksi yang jauh dan mencegah berlanjutnya bakteremia, dengan demikian
mengurangi kemungkinan endoftalmitis pada mata lainnya. Terapi parenteral tidak
diperlukan pada endoftalmitis pasca operasi kecuali ada bukti infeksi di luar bola
mata. Pada endoftalmitis bentuk lain, perlu diberikan antibiotik spektrum luas bila
kultur positif.8
Antibiotik empirik spektrum luas yang digunakan adalah vankomisin dan
aminoglikosida atau sefalosporin generasi tiga. Sefalosporin generasi tiga mampu
mempenetrasi jaringan okular dan efektif terhadap bakteri Gram negatif.
Injeksi antibiotik intravena telah merevolusi tatalaksana endoftalmitis eksogen
namun pada kasus endoftalmitis endogen, keefektifannya masih kontroversial.
Demikian juga intervensi bedah, seperti vitrektomi, dilakukan pada endoftalmitis
pasca operasi dan pasca trauma tapi kegunaannya pada kasus endogen diperdebatkan.
Sumber infeksi dapat digunakan sebagai pedoman pemilihan antibiotik. Pada
kasus dengan riwayat infeksi gastrointestinal atau genitourinaria, antibiotik pilihannya
adalah sefalosporin generasi dua atau tiga dan aminoglikosida. Vankomisin digunakan
untuk penyalahguna obat untuk mengatasi kemungkinan infeksi Bacillus. Bila sumber
infeksinya diperkirakan luka, digunakan oksasilin atau sefalosporin generasi pertama.
Jika anamnesis pasien, pewarnaan, atau kultur mengarah pada infeksi jamur, rejimen
obat harus menyertakan amfoterisin B, flukonazol, atau itrakonazol.
Intervensi bedah disarankan terutama untuk pasien yang terinfeksi organisme
virulen, visus 20/400 atau kurang, atau keterlibatan vitreus berat. Kadang
endoftalmitis posterior difus atau panoftalmitis menyebabkan kebutaan meski telah
ditatalaksana dengan baik, namun vitrektomi dan antibiotik intravitreal mencegah
atrofi okular atau keharusan enukleasi.
Beberapa kerusakan berhubungan dengan mediator inflamasi. Steroid seperti
deksametason diberikan intravitreal, meskipun perannya belum jelas. Secara empiris,
steroid topikal diberikan pada pasien dengan endoftalmitis fokal anterior atau difus
untuk mencegah komplikasi seperti glaukoma dan sinekiae.8
Pada kasus-kasus yang sudah berat biasanya diperlukan penatalaksanaan
secara operatif seperti :
1. Virectomy

Vitrectomy adalah tindakan bedah dalam terapi endophthalmitis. Bedah


debridemen rongga vitreous terinfeksi menghilangkan bakteri, sel-sel
inflamasi, dan zat beracun lainnya untuk memfasilitasi difusi vitreal, untuk
menghapus membran vitreous yang dapat menyebabkan ablasio retina, dan
membantu pemulihan penglihatan. Endophthalmitis vitrectomy Study (EVS)
menunjukkan bahwa di mata dengan akut endophthalmitis operasi postcataract
dan lebih baik dari visi persepsi cahaya. Vitrectomy juga memainkan peran
penting dalam pengelolaan endoftalmitis yang tidak responsif terhadap terapi
medikamentosa.6,7
2. Enukleasi
Enukleasi bulbi merupakan tindakan pembedahan mengeluarkan bola
mata dengan melepas dan memotong jaringan yang mengikatnya didalam
rongga orbita. Jaringan yang dipotong adalah seluruh otot penggerak mata,
saraf optik dan melepaskan conjungtiva dari bola mata. Enukleasi bulbi
biasanya

dilakukan

pada

keganasan

intraokular,

mata

yang

dapat

menimbulkan oftalmia simpatika, mata yang tidak berfungsi dan memberikan


keluhan rasa sakit, endophthalmitis supuratif dan pthisis. Biasanya pasien
setelah enukleasi bulbi diberi mata palsu atau protesis.

L. PENCEGAHAN
Pencegahan endoftalmitis meliputi kebiasaan hidup yang baik sehingga terhindar
dari mikroorganisme yang pathogen.

Jika pernah mengalami operasi katarak, pencegahan resiko terjadinya infeksi


dengan cara mengikuti instruksi dokter tentang perawatan mata setelah operasi dan
juga kontrol yang teratur ke dokter mata untuk mengetahui perkembangan
perbaikan mata setelah operasi.

Untuk mencegah endoftalmitis yang disebabkan karena trauma mata, gunakan


pelindung mata di tempat kerja dan saat berolahraga berat. Kacamata pelindung

atau helm dapat melindungi dari terjadinya trauma pada mata di tempat kerja.9
M. KOMPLIKASI
Komplikasi yang paling sering terjadi adalah meluasnya peradangan sehingga
mengenai ketigalapisan mata (retina, koroid, sklera) dan badan kaca sehingga
terjadilah panoftalmitis. Selain itu komplikasi lainnya dapat berupa vitreous
hemoragik, endoftalmitis rekuren, ablasio retina, dan glaukoma sekunder.9
N. PROGNOSIS
Prognosis endoftalmitis bervariasi tergantung pada tingat keparahan infeksi,
organisme yang terlibat dan jumlah kerusakan mata menopang dari peradangan dan
jaringan parut. Kasus ringan endoftalmitis dapat memiliki hasil visual yang sangat
baik. Kasus yang parah dapat menyebabkan tidak hanya dalam kehilangan
penglihatan, tapi akhirnya hilang seluruh mata. Fungsi penglihatan pada pasien
endoftalmitis sangat tergantung pada kecepatan diagnosis dan tatalaksana.
Prognosisnya sangat bervariasi tergantung penyebab. Prognosis endoftalmitis sangat
buruk terutama bila disebabkan jamur atau parasit. Faktor prognosis terpenting adalah
visus pada saat diagnosis dan agen penyebab. Prognosis endoftalmitis endogen secara
umum lebih buruk dari eksogen karena jenis organisme yang menyebabkan
endoftalmitis endogen biasanya lebih virulen.10

PENUTUP

Telah dilaporkan kasus endoftalmitis oculi sinistra pada seorang laki-laki usia 69
tahun yang datang ke poliklinik di bagian mata RSUD Syekh Yusuf Kab. Gowa. Diagnosis

ditegakkan berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik, yaitu keluhan mata kiri nyeri dan
merah dan pandangan mata kabur secara tiba-tiba setelah pasien tertusuk daun padi. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan konjungtiva hiperemia, kornea keruh, sklera yang hiperemis dan
camera okuli anterior dangkal dan berisi hipopion. Pasien pada kasus ini mempunyai
prognosis dubia ad malam karena pasien tersebut sudah mengalami kebutaan. Dengan terapi
yang optimal sekalipun, endoftalmitis memiliki prognosis yang buruk. Karena pada kasus ini
endoftalmitis sudah berat maka tidakan yang dilakukan yaitu Eviserasi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas, S. Mata merah dengan penglihatan turun mendadak. Dalam: Ilmu
Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
2009: Hal 175-176

2. Christiana.
Endoftalmitis.
Available
at:
http://cpddokter.com/
home/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=1661: Accesed 2015,
September 5.
3. Rooseno,
D.
Endoftalmitis.
Available
at:
http://www.scribd.com/
doc/44504681/endoftalmitis. Accesed 2015, September 5.

4. Ehlers, J., Shah, C,. Postoperative endophtalmitis. Dalam: The Wills Eye Manual.
Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment of Eye Disease. Fifth
Edition. Philadelphia: Wolters Kluwer Lippincott Williams & Wilkins; 2005.

5. Suhardjo, Hartono. Ilmu Kesehatan Mata. Bagian Ilmu Penyakit Mata : Fakultas
kedokteran Gadjah Mada. Yogyakarta ED 1st. 2007
6. Isiantoro, H., Gan, V. Amnioglikosid. Dalam: Farmakologi dan Terapi. Edisi 5.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Indonesia; 2007: Hal. 705-717
7. Suherman, S., Ascobat, P. Adrenokortikotropin, adrenokortikosteroid, analogsintetik dan antagonisnya. Dalam: Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Indonesia; 2007: Hal.496-516.
8. Radnansuk.
Bedah
Mata.
Available
at
http://pintersains.blogspot.com/2010/10/mata-bagian-1.html?m=1. Accesed 2015, september
8
9. Ilyas HS. Penuntun ilmu penyakit mata. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai penerbit
2010.h..175-7.
10. Kalamalarajah S, Silvestri G, Sharma N. Surveillance of endophthalmitis
following
cataract surgery in the UK. Eye 2004; 18:6: 580-7.

11. Khurana AK. Comprehensive ophthalmology. 4th ed. Anshan publishers 2007.346352.

12. Ojaimi Elvis and David T Wong.


Treatment.University of Toronto.2013

Endophthalmitis,

Prevention

and

13. Hatch WV, Cernat G, Wong D, Devenyi R, Bell CM. Risk factors for acute
endophthalmitis after cataract surgery: a population-based study. Ophthalmology
2009;116(3):425-30.

14. Cooper Ba, Holekamp Nm, Bohigian G, Thompson PA. Case- control study of
endophthalmitis after cataract surgery comparing scleral and corneal wounds. Am J
Ophtalmol 2003; 136: 300-5.