Anda di halaman 1dari 14

PENDAHULUAN

Kita sebagai dokter, di mana sebagai pelayan kesehatan tidak hanya memerlukan
landasan hukum dalam melakukan ataupun melaksanakan suatu tindakan medis. Akan tetapi
juga diperlukan bioetik didalamnya. Etika telah menjadi suatu bagian dari dunia kedokteran
sejak awal perkembangannya. Pada masa seperempat abad terakhir dari abad ke-20,
pertimbangan etika menjadi perhatian utama oleh karena beberapa alasan.
Etik merupakan cabang dari ilmu filsafat, yang mempelajari tentang moralitas. Etik
dibagi menjadi;1
a. Etik normatif menerangkan apa yang benar secara moral dan apa yang salah
secara moral dalam kaitannya dengan tindakan manusia.
b. Metaetik di mana seseorang memperhatikan analisis kedua konsep moral
tersebut.
Sedangkan, bioetik sendiri adalah salah satu cabang dari etik normatif. Merupakan etik
yang berhubungan dengan dunia kedokteran serta penelitian dalam bidang biomedis. Akan
tetapi, di dalam praktek kedokteran terdapat aspek etik dan aspek hukum yang sangat luas,
yang sering tumpang-tindih pada suatu issue tertentu, seperti pada informed consent, wajib
simpan rahasia kedokteran, profesionalisme, dan lain sebagainya. Bahkan di dalam praktek
kedokteran, aspek etik seringkali tidak dapat dipisahkan dari aspek hukumnya, oleh karena
banyaknya norma etik yang telah diangkat menjadi norma hukum, atau sebaliknya norma
hukum yang mengandung nilai-nilai etika.
Etika kedokteran mulai dikenal sejak tahun 1800 sebelum Masehi dalam bentuk Code
of Hammurabi dan Code of Hittites.2 Seiring dengan berkembangannya, berubah dalam
bentuk sumpah dokter yang lebih dikenal dengan nama Sumpah Hippocrates (460-370 SM).
World Medical Association dalam Deklarasi Geneva pada tahun 1968 menelorkan sumpah
dokter (dunia) dan Kode Etik Kedokteran Internasional. Kode Etik Kedokteran Internasional
berisikan tentang kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien, kewajiban terhadap sesama
dan kewajiban terhadap diri sendiri. Selanjutnya, Kode Etik Kedokteran Indonesia dibuat
dengan mengacu kepada Kode Etik Kedokteran Internasional.2
Selain etika kedoteran, seorang dokter juga memegang prinsip-prinsip moral, yang
dijadikan acuan dalam memutuskan suatu keputusan dan melaksanakan suatu tindakan, serta
1

menilai baik buruknya tindakan tersebut (dalam kasus ini yang dimaksud tindakan adalah
tindakan medis) yang dilihat dari segi moral.

PEMBAHASAN
Berdasarkan kasus yang didapat, di mana seorang pasien berusia 62 tahun datang ke
rumah sakit dengan karsinoma kolon yang telah terminal. Pasien masih cukup sadar
berpendidikan cukup tinggi. Ia memahami benar posisi kesehatannya dan keterbatasan
kemampuan ilmu kedokteran saat ini. Ia juga memiliki pengalaman pahit sewaktu kakaknya
menjelang ajalnya dirawat ICU dengan peralatan bermacam-macam tampak sangat
menderita, dan alat-alat tersbut tampaknya hanya memperpanjang deritanya saja. Oleh
karena itu ia meminta kepada dokter, apabila dia mendekati ajalnya agar menerima terapi
yang minimal saja (tanpa antibiotika, tanpa peralatan ICU, dan lain-lain ). Dan ia ingin
mati dengan tenang dan wajar. Namun ia tetap saja setuju apabila ia menerima obat-obatan
penghilang rasa sakit bila memang dibutuhkan.

Pada kasus tersebut, penting bagi kita untuk mengetahui :


1. Apakah pasien sadar dalam mengambil dan memutuskan tindakannya tersebut.
2. Dan apakah, pasien benar-benar telah mengerti dan memahami betul tentang
penyakit yang ia derita, kemudian
3. Bagaimana tanggapan dari keluarga pasien tersebut
Jika memang diperlukan, maka kita dapat merujuk pasien pada bagian psikiatri.

I. Etika Kedokteran
Deontologi dan teleologi merupakan teori etika yang banyak dianut oleh orang.
Deontologi, melihat baik buruknya suatu perbuatan harus dilihat dari perbuatan itu sendiri
Sedangkan teleologi mengajarkan seseorang tentang baik buruknya tindakan dengan melihat
serta menilai hasilnya atau akibatnya.
Prinsip-prinsip etika kedokteran sendiri, ada 4.1 Prinsip-prinsip atau kaidah dasar moral
itu antara lain :
1. Prinsip otonomi, prinsip ini mengajarkan kita untuk dapat menghormati serta
menghargai hak-hak serta keputusan yang diambil oleh pasien.
2. Prinsip beneficence, prinsip ini mengajarkan kita untuk melakukan tindakan yang
mengutamakan kebaikan untuk pasien.
3. Prinsip non maleficence, prinsip ini mengajarkan kita untuk tidak memperburuk
keadaan pasien do no harm
4. Prinsip justice, di sini kita dituntut untuk bersikap dan berlaku adil.

Di dalam lapangan, kita juga memerlukan etika klinik. Di mana etika klinik ini
membantu kita dalam membuat keputusan etik terutama dalam situasi klinik. Menururt
Jonsen, Siegler dan Winslande (2002) mengembangkan teori etik yang menggunakan 4 topik,
yaitu :1
a. Medical indication, menyangkut prosedur diagnostik dan terapi.
b. Patient preferrences, memperhatikan nilai dan penilaian pasien tentang manfaat
dan beban yang akan diterimanya.
c. Quality of life
d. Contextual features, menyangkut faktor keluarga, ekonomi, agama, budaya,
kerahasiaan, alokasi sumber daya, dan faktor hukum.

II. Aspek Hukum


4

Etika kedokteran, secara hukum terkandung dalam beberapa undang-undang dan


peraturan, antara lain :

Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 1960 sumpah dokter

Peraturan Pemerintah No.10 tahun 1966 di mana seorang dokter wajib untuk
menyimpan rahasia kedokteran.

Undang-undang No.36 tahun 2009 tentang kesehatan

KEPMENKES No. 269 tahun 2008 tentang rekam medis

Selain itu, pasien sendiri juga memiliki haknya masing-masing. Pada dasarnya, hak
pasien terdiri dari dua, yaitu :

The Rights to health care

The Rights to self determination

Secara tegas the world Medical Association telah mengeluarkan Declaration of Lisbon on
the Rights of the Patient (1991), yaitu hak untuk memilih dokter secara bebas, hak dirawat
oleh dokter yang bebas dalam membuat keputusan klinis dan etis, hak untuk menerima atau
menolak pengobatan setelah menerima informasi yang adekuat, hak untuk dihormati
kerahasiaan dirinya, hak untuk mati secara bermartabat, dan hak untuk menerima atau
menolak dukungan spiritual atau moral.1 Di dalam undang-undang kesehatan sendiri juga
disebutkan beberapa hak pasien, antara lain :
a. Hak atas informasi
b. Hak atas second opinion
c. Hak untuk memberi persetujuan atau menolak suatu tindakan medis
d. Hak untuk kerahasiaan
e. Hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan

f. Hak untuk memperoleh ganti rugi apabila ia dirugikan akibat kesalahan tenaga
kesehatan.
Semuanya secara umum tercantum dalam undang-undang RI No.44 tahun 2009, bab VIIIbagian keempat- pasal 32 : Setiap pasien mempunyai hak;3
a. memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit;
b. memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien;
c. memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi;
d. memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar
prosedur operasional;
e. memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik
dan materi;
f. mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan;
g. memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan yang
berlaku di Rumah Sakit;
h. meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang mempunyai
Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit;
i. mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data
medisnya;
j. mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan
medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis
terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan;
k. memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga
kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya;
l. didampingi keluarganya dalam keadaan kritis;
m. menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak
mengganggu pasien lainnya;
n. memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit;
o. mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya;
p. menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan kepercayaan
yang dianutnya;

q. menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan
pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana; dan
r. mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan melalui
media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dan beberapa undang-undang lainnya, seperti;

UU No.36 tahun 2009 tentang kesehatan; pasal 53 hak pasien

UU No.29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran, pasal 52 dan 53

SE Ditjen Yanmed Depkes RI No YM.02.04.3.5.2504 : pedoman hak dan


kewajiban pasien, dokter dan rumah sakit.

Euthanasia,
Berasal dari bahasa Yunani, eu yang berarti baik dan thanatos yang berarti kematian. 4
Hippokrates pertama kali menggunakan istilah "eutanasia" ini pada "sumpah Hippokrates"
yang ditulis pada masa 400-300 SM.4 Sumpah tersebut berbunyi: "Saya tidak akan
menyarankan dan atau memberikan obat yang mematikan kepada siapapun meskipun telah
dimintakan untuk itu".4 Berdasarkan sejarah hukum Inggris yaitu common law sejak tahun
1300 hingga saat "bunuh diri" ataupun "membantu pelaksanaan bunuh diri" tidak
diperbolehkan.
Kemudian, sejak abad ke-19, eutanasia telah memicu timbulnya perdebatan dan
pergerakan di wilayah Amerika Utara dan di Eropa Pada tahun 1828 undang-undang anti
eutanasia mulai diberlakukan di negara bagian New York, yang pada beberapa tahun
kemudian diberlakukan pula oleh beberapa negara bagian. Setelah masa Perang Saudara,
beberapa advokat dan beberapa dokter mendukung dilakukannya eutanasia secara sukarela. 4
Kelompok-kelompok pendukung eutanasia mulanya terbentuk di Inggris pada tahun 1935 dan
di Amerika pada tahun 1938 yang memberikan dukungannya pada pelaksanaan eutanasia
agresif, walaupun demikian perjuangan untuk melegalkan eutanasia tidak berhasil digolkan di
7

Amerika maupun Inggris.4 Pada tahun 1937, eutanasia atas anjuran dokter dilegalkan di
Swiss sepanjang pasien yang bersangkutan tidak memperoleh keuntungan dari padanya. 4
Pada era yang sama, pengadilan Amerika menolak beberapa permohonan dari pasien yang
sakit parah dan beberapa orang tua yang memiliki anak cacat yang mengajukan permohonan
eutanasia kepada dokter sebagai bentuk "pembunuhan berdasarkan belas kasihan". 4 Pada
tahun 1939, pasukan Nazi Jerman melakukan suatu tindakan kontroversial dalam suatu
"program" eutanasia terhadap anak-anak di bawah umur 3 tahun yang menderita
keterbelakangan mental, cacat tubuh, ataupun gangguan lainnya yang menjadikan hidup
mereka tak berguna.4 Program ini dikenal dengan nama Aksi T4 ("Action T4") yang kelak
diberlakukan juga terhadap anak-anak usia di atas 3 tahun dan para jompo / lansia. 4 Setelah
dunia menyaksikan kekejaman Nazi dalam melakukan kejahatan eutanasia, pada era tahun
1940 dan 1950 maka berkuranglah dukungan terhadap eutanasia, terlebih-lebih lagi terhadap
tindakan eutanasia yang dilakukan secara tidak sukarela ataupun karena disebabkan oleh
cacat genetika.4
Eutanasia dapat diabgi menjadi 3, yaitu :
a. Euthanasia pasif, di mana tidak dilakukannya suatu tindakan medis, atau hanya
melaksanankan tindakan medis yang minimal. Ini serinng ditemukan pada pasien
yang menolak untuk diberikan terapi.
b. Euthanasia tidak langsung: Usaha untuk memperingan kematian dengan efek
sampingan. Dengan harapan, pasien barangkali meninggal lebih cepat. Dalam hal
ini termasuk pemberian segala macam obat narkotika, hipnotika, dan analgetika
yang secara tidak langsung dapat memperpendek kehidupan walaupun hal
tersebut tidak disengaja.
c. Euthanasia aktif: Proses kematian diperingan dengan memperpendek kehidupan
secara terarah dan langsung.
Kemudian, juga ada yang membaginya ke dalam empat metode :5

Euthanasia sukarela: ini dilakukan oleh individu yang secara sadar menginginkan
kematian.

Euthanasia non sukarela: ini terjadi ketika individu tidak mampu untuk menyetujui
karena faktor umur, ketidak mampuan fisik dan mental. Sebagai contoh dari kasus ini
8

adalah menghentikan bantuan makanan dan minuman untuk pasien yang berada di
dalam keadaan vegetatif (koma).

Euthanasia tidak sukarela: ini terjadi ketika pasien yang sedang sekarat dapat
ditanyakan persetujuan, namun hal ini tidak dilakukan. Kasus serupa dapat terjadi
ketika permintaan untuk melanjutkan perawatan ditolak.

Bantuan bunuh diri: ini sering diklasifikasikan sebagai salah satu bentuk euthanasia.
Hal ini terjadi ketika seorang individu diberikan informasi dan wacana untuk
membunuh dirinya sendiri. Pihak ketiga dapat dilibatkan, namun tidak harus hadir
dalam aksi bunuh diri tersebut. Jika dokter terlibat dalam euthanasia tipe ini, biasanya
disebut sebagai bunuh diri atas pertolongan dokter. Di Amerika Serikat, kasus ini
pernah dilakukan oleh dr. Jack Kevorkian.

Berdasarkan hukum di Indonesia maka eutanasia adalah sesuatu perbuatan yang


melawan hukum, hal ini dapat dilihat pada peraturan perundang-undangan yang ada yaitu
pada Pasal 344 Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa "Barang siapa
menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya
dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun".4,6 Juga
demikian halnya nampak pada pengaturan pasal-pasal 338, 340, 345, dan 359 KUHP yang
juga dapat dikatakan memenuhi unsur-unsur delik dalam perbuatan eutanasia. Dengan
demikian, secara formal hukum yang berlaku di negara kita memang tidak mengizinkan
tindakan eutanasia oleh siapa pun.4 Ketua umum pengurus besar Ikatan Dokter Indonesia
(IDI) Farid Anfasal Moeloek dalam suatu pernyataannya yang dimuat oleh majalah Tempo
Selasa 5 Oktober 2004 menyatakan bahwa : Eutanasia atau "pembunuhan tanpa penderitaan"
hingga saat ini belum dapat diterima dalam nilai dan norma yang berkembang dalam
masyarakat Indonesia.4 "Euthanasia hingga saat ini tidak sesuai dengan etika yang dianut oleh
bangsa dan melanggar hukum positif yang masih berlaku yakni KUHP.4 Dalam KODEKI
pasal 2 dijelaskan bahwa; seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan
profesinya sesuai dengan standar profesi tertinggi. Jelasnya bahwa seorang dokter dalam
melakukan kegiatan kedikterannya sebagai seorang profesi dokter harus sesuai dengan ilmu
kedikteran mutakhir, hukum dan agama. KODEKI pasal 7d juga menjelaskan bahwa setiap
dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup insani. Artinya dalam

setiap tindakan dokter harus bertujuan untuk memelihara kesehatan dan kebahagiaaan
manusia. Jadi dalam menjalankan prifesinya seorang dokter tidak boleh melakukan;
Menggugurkan kandungan (Abortus Provocatus),
mengakhiri kehidupan seorang pasien yang menurut ilmu dan pengetahuan tidak
mungkin akan sembuh lagi (euthanasia).

III. Rekam Medik


Ada beberapa pengertian tentang arti rekam medis, diantaranya adalah;
Menurut Edna K Huffman: Rekam Medis adalab berkas yang menyatakan siapa,
apa, mengapa, dimana, kapan dan bagaimana pelayanan yang diperoleb seorang
pasien selama dirawat atau menjalani pengobatan.
Menurut Permenkes No. 749a/Menkes!Per/XII/1989: Rekam Medis adalah
berkas yang beiisi catatan dan dokumen mengenai identitas pasien, basil
pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lainnya yang diterima pasien
pada sarana kesebatan, baik rawat jalan maupun rawat inap.
Menurut Gemala Hatta : Rekam Medis merupakan kumpulan fakta tentang
kehidupan seseorang dan riwayat penyakitnya, termasuk keadaan sakit,
pengobatan saat ini dan saat lampau yang ditulis oleh para praktisi kesehatan
dalam upaya mereka memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien.

Waters dan Murphy : Kompendium (ikhtisar) yang berisi informasi tentang


keadaan pasien selama perawatan atau selama pemeliharaan kesehatan.

IDI :Sebagai rekaman dalam bentuk tulisan atau gambaran aktivitas pelayanan
yang diberikan oleh pemberi pelayanan medik/kesehatan kepada seorang pasien.
Secara etik, kita dilarang untuk melakukan pencatatan mundur dan pengubahan catatan
dalam rekam medis agar disesuaikan dengan hasil layanan yang terjadi. Permenkes no 749a
tahun 1989 mengatur tentang rekam medis.1 Akan tetapi sekarang ada Permenkes baru, yaitu
no 269 tahun 2008.

10

Isi Rekam Medis merupakan catatan keadaan tubuh dan kesehatan, termasuk data tentang
identitas dan data medis seorang pasien. Secara umum isi Rekam Medis dapat dibagi dalam
dua kelompok data yaitu:
a. Data medis atau data klinis: Yang termasuk data medis adalah segala data
tentang riwayat penyakit, hasil pemeriksaan fisik, diagnosis, pengobatan
serta basilnya, laporan dokter, perawat, hasil pemeriksaan laboratorium,
ronsen dan sebagainya. Data-data ini merupakan data yang bersifat
rahasia (confidential) sehingga tidak dapat dibuka kepada pihak ketiga
tanpa izin dari pasien yang bersangkutan kecuali jika ada alasan lain
berdasarkan

peraturan

atau

perundang-undangan

yang

memaksa

dibukanya informasi tersebut.


b.

Data sosiologis atau data non-medis: Yang termasuk data ini adalah
segala data lain yang tidak berkaitan langsung dengan data medis, seperti
data identitas, data sosial ekonomi, alamat dan sebagainya. Data ini oleh
sebagian orang dianggap bukan rahasia, tetapi menurut sebagian lainnya
merupakan data yang juga bersifat rahasia (confidensial).

Kegunaan rekam medis menurut Permenkes no. 749a tahun 1989 menyebutkan bahwa
Rekam Medis memiliki 5 manfaat yaitu:
1. Sebagai dasar pemeliharaan kesehatan dan pengobatan pasien.
2. Sebagai bahan pembuktian dalam perkara hukum
3. Bahan untuk kepentingan penelitian c
4. Sebagai dasar pembayaran biaya pelayanan kesehatan dan
5. Sebagai bahan untuk menyiapkan statistik kesehatan.
Dalam kepustakaan dikatakan bahwa rekam medis memiliki 6 manfaat, yang untuk
mudahnya disingkat sebagai ALFRED, yaitu:
1. Adminstratlve value: Rekam medis merupakan rekaman data adminitratif
pelayanan kesehatan.
2. Legal value: Rekam medis dapat.dijadikan bahan pembuktian di pengadilan
3. Fmanclal value: Rekam medis dapat dijadikan dasar untuk perincian biaya
pelayanan kesehatan yang harus dibayar oleh pasien
4. Research value: Data Rekam Medis dapat dijadikan bahan untuk penelitian dalam
lapangan kedokteran, keperawatan dan kesehatan.

11

5. Education value: Data-data dalam Rekam Medis dapat bahan pengajaran dan
pendidikan mahasiswa kedokteran, keperawatan serta tenaga kesehatan lainnya.
6. Documentation value: Rekam medis merupakan sarana untuk penyimpanan
berbagai dokumen yang berkaitan dengan kesehatan pasien.
Selain hukum, peraturan dan standart akreditasi, retensi rekam medis bergantung juga pada
penggunaannya dalam suatu institusi kesehatan.1 Dan dari rekam medis, maka seorang dokter
ataupu

sekelompok

dokter

dapat

mempelajari

serta

mengetahui

riwayat

hingga

perkembangan dari penyakit pasien.

IV. Informed Consent


Dalam informed consent, terkandung akan berbagai hak-hak pasien, serta prinsip moral
autonomi dan justice. Informed consent adalah suatu proses yang menunjukkan komunikasi
efektif antara dokter dengan pasiennya, dan bertemunya pemikirian tentang apa yang akan
dan apa yang tidak akan dilakukan terhadap pasien. 1 Bila lihat lebih teliti lagi, informed
consent lebih mengarah kepada persetujuan sepihak atas layanan yang akan ditawarkan oleh
pihak yang lainnya.
Informed consent memiliki 3 elemen, yaitu :1
1. Treshold elements, sifatnya lebih kearah syarat, yaitu pemberian consent haruslah
seseorang yang kompeten. Kompeten di sini dikaitkan sebagai kapasitas untuk
membuat keputusan medis. Kompetensi itu sendiri sebenarnya merupakan suatu
kontinuum. Diantaranya tedapat berbagai tingkat kompetensi membuat keputusan
tertentu. Secara hukum, orang dianggap kompeten jika orang tersebut telah
dewasa, sadar dan berada dalam keadaan mental yang tidak dibawah
pengampuan, usia telah mencapai 21 tahun atau telah pernah menikah.
2. Information elements, terdiri dari dua bagian, yaitu disclosure (pengungkapan)
dan understanding (pemahaman). Dalam hal ini seberapa baikk informasi harus
diberikan kepada pasien, dapat dilihat dari 3 standart, yaitu:
a. Standart praktek profesi, bahwa kewajiban memberikan informasi dan
kriteria keadekuatan informasi ditentukan bagaimana biasanya dilakukan
dalam komunitas tenaga medis. Akan tetapi kita juga tidak boleh

12

mengabaikan kemampuan pasien atau individu yang diharapkan dalam


menerima inforamsi tersebut.
b. Standart subyektif, di mana keputusan harus didasarkan atas nilai-nilai
yang dianut oleh pasien secara pribadi, sehingga informasi yang diberikan
harus memadai untuk pasien tersebut dalam membuat keputusan.
c. Standar pada reasonable person, merupakan hasil kompromi dari kedua
standar sebelumnya. Dianggap cukup apabila informasi yang diberikan
telah memenuhi kebutuhan pada umumnya orang awam.
3. Consent elements, terdiri dari dua bagian, yaitu; (a). voluntariness (kesukarelaan,
kebebasan ) mengharuskan tidak adanya tipuan, misrepresentasi ataupun
paksaan. Pasien juga harus bebas dari tekanan yang dilakukan tenaga medis
yang bersikap seolah-olah akan dibiarkan apabila tidak menyetujui tawaran
(b). Authorization.
Proxy consent adalah consent yang diberikan oleh orang yang bukan si pasien itu sendiri,
dengan syarat bahwa pasien tidak mampu memberikan consent secara pribadi, dan consent
tersebut harus mendekati apa yang sekitarnya akan diberikan oleh pasien apabila ia mampu
memberikannya.1

13

KESIMPULAN
Pada kasus, di mana seorang pasien berjenis kelamin laki-laki berusia 62 tahun
menderita karsinoma kolon stadium terminal, yang seharusnya mendapatkan perawatan
medis seperti kemoterapi dan atau operasi, akan tetapi pasien tersebut menolak untuk
dilakukan terapi yang intensif dengan berbagai alasannya. Kita sebagai dokter, walaupun
pasien memiliki hak autonomi, tapi kita harus mengingat kondisi demikian, yang dibutuhkan
kemudian adalah perawatan dan pendampingan, baik bagi si pasien maupun bagi pihak
keluarga. Perhatian dan kasih sayang sangat diperlukan bagi penderita sakit terminal, bukan
lagi bagi kebutuhan fisik, tetapi lebih pada kebutuhan psikis dan emosional. Karena pada
pasien dengan kasus kanker stadium terminal, yang paling penting adalah kualitas hidup.
Sedangkan masalah eutanasia, jelas bahwa hukum (pidana) positif di Indonesia belum
memberikan ruang bagi euthanasia baik euthanasia aktif maupun euthanasia pasif.

14