Anda di halaman 1dari 29

1.

Memahami dan Menjelaskan Anatomi Organ Limfoid


Anatomi Makroskopis
1. Lien

Limpa berasal dari differensiasi jaringan mesenkimal mesogastrium dorsale. Berat limpa ratarata berkisar antara 75-100 gr, pada dewasa berukuran 12 x 7 x 4 cm, biasanya sedikiut
mengecil dengan bertambahnya umur sepanjang tidak disertai adanya patologi lainnya.1,4,5
Letak organ ini dikuadran kiri atas dorsal di abdomen, kira-kira ditutupi oleh iga 9 sampai iga
11, pada permukaan bawah diafragma terlindung oleh kubah iga. Limpa terpancang
ditempatnya oleh lipatan peritonoium yng diperkuat oleh beberapa ligamenta suspensoria.
Ligamen gastroplenik berisi semua v. gastrika brevis. Ligament yang lainnya tak
berpembuluh kecuali pada hipertensi portal sangat banyak mengandung vena kolateral.4,5
Darah arteri dipasok melalui a. lienalis. Darah balik disalir melalui v.lienalis yang bergabung
dengan v.mesentrika superior membentuk v.porta. Limpa tambahan mungkin ditemukan pada
30% kasus. Letak limpa tambahan ini paling sering di hilus limpa, selebihnya di sekitar
a.lienalis dan omentum.4

2.Timus

Timus terdapat pada mediastinum superior, dorsal terhadap sternum. Dasar timus bersandar
pada perikardium, ventral dari arteri pulmonalis, aorta dan trakea. Timus terdiri dari 2 lobus.

3.Limfonodus

Merupakan struktur nodular yang tersebar di sepanjang pembuluh limfa. Berbentuk seperti
bintil-bintil kacang, berdiameter 2-35 mm. Berwarna kelabu-merah jambu. Setiap nodus
limfa dikelilingi oleh jaringan ikat yang berperan sebagai kapsula (pembungkus).
Mengandung leukosit yang berfungsi sebagai fagositosit. Sebagai tempat bermuaranya
cairan limfe sebelum kembali ke peredaran darah.
Nodus ditemukan di ketiak dan di lipat paha, sepanjang pembuluh2 besar di leher dan dlm
jumlah besar di toraks dan abdomen terutama dlm mesenterium.
4. Tonsil

a.Tonsil Linguinalis

Susunan jaringan lymphoid di bawah mukosa 1/3 posterior lidah, tepat di belakang papila
sirkumvalata,bercampur dengan muskular skelet. Permukaannya berbenjol benjol tidak
teratur .
b.Tonsil Palatina

Ada 2 buah.Terletak pada dinding lateral oropharinx, dalam fossa tonsillaris.Permukaan


medial menonjol bebas ke dalam pharynx. Permukaan lateral ditutupi selapis jaringan fibrosa
disebut capsula.
Batas-batas Tonsila palatina
Anterior

arcus palatoglossus

Posterior

arcus palatopharyngeus

Superior

palatum molle

Inferior sepertiga posterior lidah


menyatu dgn tonsila lingualis
Medial

Ruang oropharynx

c.Tonsil Faringea

Mrpk tonsila tunggal yg terletak dibagian supero-posterior faring (terdapat pada permukaan
medial dari dinding dorsal nasofaring).Bila membesar di sebut Adenoid.

Anatomi mikroskopis
1.Lien

Dibungkus oleh simpai jar.ikat padat yg menjulurkan trabekula yg membagi parenkim atau
pulpa limpa mjd kompartemen2 tdk sempurna. Pulpa limpa tdk mempunyai pembuluh limfe.
Limpa dibentuk oleh jalinan kerja jar.retikular yg mengandung sel limfoid, makrofag dan sel2
antigen-presenting. Pd permukaan irisan mel limpa segar, dg mata tampak bintik2 putih dlm
parenkim nodulus limfatikus (pulpa putih/pulpa alba). Pulpa alba tdp dlm jaringan merah
tua yg penuh dg darah pulpa merah/pulpa rubra. Pulpa rubra tda bangunan memanjang
yaitu Korda limpa (korda billroth) yg tdpt diantara sinusoid .

Pulpa putih

Terdiri dari jar. Limfoid yg menyelubungi A. sentralis dan nodulus limfatikus

Sel2 limfoid yg mengelilingi A. sentralis terutama Limfosit T dan membentuk


selubung periarteri.

Nodulus limfatikus terutama limfosit B

Diantara pulpa putih dan pulpa merah tdp ZONA MARGINALIS

Pulpa merah

Adalah jar.retikular dg ciri khas, yaitu adanya:

korda limpa yg tda sel dan serat retikular

makrofag

limfosit

sel plasma dan

banyak unsur darah (eritrosit, trombosit, granulosit)

Banyak tdp sinusoid

2.Timus

Timus memiliki suatu simpai jar. Ikat yg masuk ke dlm parenkim dan membagi timus mjd
lobulus.Setiap lobulus memiliki satu zona perifer gelap disebut korteks dan zona pusat yg
terang disebut medula. Korteks dan medula berisi sel2 limfosit. Sel limfosit berasal dr sel
mesenkim yg menyusup ke dlm suatu epitel primordium dr kantung faringeal ke 3 dan 4.
Korteks Timus
-limfosit T yg sangat banyak
-Sel retikular epitel yg tersebar
-Bbrp makrofag
Medula Timus
-Mengandung sel retikular dan limfosit
-Sel2 ini menyebabkan medula tampak lebih pucat dibanding bgn korteks
-Mengandung BADAN HASSAL yg mrpkn sel retikular epitel gepeng yg tersusun konsentris
mengalami degenerasi dan mengandung granula keratohialin.
-Fungsi BADAN HASSAL belum diketahui.

3.Limfonodus

Limfonodus memiliki sisi konveks (cembung) dan konkaf (cekung) yg disbt HILUS tempat
arteri dan saraf masuk dan vena keluar dr organ.
Korteks Limfonodus
a.Korteks Luar
Dibentuk oleh jar.limfoid yg tda satu jar. Sel retikular dan serat retikular yg dipenuhi oleh
Limfosit B. Di dlm jar.limfoid korteks terdapat struktur berbentuk sferis yg disebut
NODULUS LIMFATIKUS. Terdapat sinus subkapsularis, yg dibentuk oleh suatu jar.ikat
longgar dr makrofag , sel retikular dan serat retikular

b.Korteks Dalam
-Merupakan kelanjutan korteks luar, mengandung beberapa nodulus.
-Mengandung banyak limfosit T.

Medula Limfonodus

Terdiri atas KORDA MEDULARIS yg merupakan perluasan korteks dalam. Banyak


mengandung Limfosit B dan beberapa sel plasma. Korda medularis dipisahkan oleh struktur
seperti kapiler yg berdilatasi SINUS LIMFOID MEDULARIS yg mengandung cairan
limfe.

4.Tonsil
a.Tonsil Lingualis

Lebih kecil dan lebih banyak jumlahnya.Terletak pada pangkal lidah. Ditutupi epitel berlapis
gepeng. Masing-masing mempunyai sebuah kriptus .

b.Tonsil Palatina

Terletak pada dinding lateral faring bagian oral. Setiap tonsila memiliki 10-20 invaginasi
epitel (epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk) yang menyusup ke dalam parenkim
membentuk KRIPTUS yg mengandung sel2 epitel yg terlepas, limfosit hidup dan mati, dan
bakteri dlm lumennya . Yang memisahkan jar.limfoid dari organ-organ berdekatan adalah
satu lapis jaringan ikat padat yg disebut SIMPAI tonsila yg biasanya bekerja sebagai sawar
terhadap penyebaran infeksi tonsila.
c.Tonsil Faringea
Merupakan tonsila tunggal yang terletak dibagian supero-posterior faring. Ditutupi epitel
bertingkat silindris bersilia.Terdiri atas lipatan-lipatan mukosa dengan jar. Limfoid difus dan
nodulus limfatikus.Tidak memiliki kriptus. Simpai lebih tipis dari T. palatina

2. Memahami dan menjelaskan kekebalan


alami,didapat,humoral,selular,spesifik,dan non spesifik
Ada 2 sistem kekebalan tubuh:

Sistem kekebalan nonspesifik/innate/natural/native/nonadaptif


Sistem kekebalan spesifik/adaptive/acquired/didapat

Imunitas non spesifik : fisiologik berupa komponen normal tubuh,selalu ditemukan pada
individu sehat dan siap mencegah mikroba masuk tubuh dan dengan cepat
menyingkirkannya.Telah ada dan siap berfungsi sejak lahir.Tidak memiliki target tertentu dan
rekasi cepat.
Komponen imunitas non spesifik
Pertahanan fisik/mekanik
Dalam sistem pertahanan fisik atau mekanik kulit,selaput lendir,silia saluran
napas,batuk dan bersin yang merupakan pertahanan terdepan terhadap infeksi.Akan
tetapi lapisan epidermis kulit yang sehat dan epitel mukosa yang utuh tidak dapat
ditembus kebanyakan mikroba.
Pertahanan larut
PH asam keringat dan sekresi sebaseus,berbagai asam lemak yang dilepas kulit mempunyai
efek denaturasi terhadap protein membran sel sehingga dapat mencegah infeksi yang dapat
terjadi melalui kulit.Air susu ibu juga mengandung laktooksidase dan asam neuraminik yang
mempunyai sifat antibakterial terhadap E.Coli dan stafilokokus. HCL di lambung,enzim
proteolitik,antibodi dan empedu dalam usus halus membantu mencegah infeksi mikroba.
Sistem komplemen
Sistem komplemen merupakan sekumpulan protein dalam sirkulasi yang penting dalam
pertahanan terhadap mikroba. Banyak protein komplemen merupakan enzim proteolitik.

Aktivasi komplemen membutuhkan aktivasi bertahap enzim-enzim ini yang dinamakan


enzymatic cascade.
Aktivasi komplemen terdiri dari 3 jalur yaitu jalur alternatif, jalur klasik, dan jalur
lektin. Jalur alternatif dipicu ketika protein komplemen diaktivasi di permukaan mikroba
dan tidak dapat dikontrol karena mikroba tidak mempunyai protein pengatur komplemen
(protein ini terdapat pada sel tuan rumah). Jalur ini merupakan komponen imunitas non
spesifik. Jalur klasik dipicu setelah antibodi berikatan dengan mikroba atau antigen lain.
Jalur ini merupakan komponen humoral pada imunitas spesifik. Jalur lektin teraktivasi
ketika suatu protein plasma yaitu lektin pengikat manosa (mannose-binding lectin) berikatan
dengan manosa di permukaan mikroba. Lektin tersebut akan mengaktivasi protein pada jalur
klasik, tetapi karena aktivasinya tidak membutuhkan antibodi maka jalur lektin dianggap
sebagai bagian dari imunitas non spesifik.
Protein komplemen yang teraktivasi berfungsi sebagai enzim proteolitik untuk
memecah protein komplemen lainnya. Bagian terpenting dari komplemen adalah C3 yang
akan dipecah oleh enzim proteolitik pada awal reaksi complement cascade menjadi C3a dan
C3b. Fragmen C3b akan berikatan dengan mikroba dan mengaktivasi reaksi selanjutnya.
Ketiga jalur aktivasi komplemen di atas berbeda pada cara dimulainya, tetapi tahap
selanjutnya dan hasil akhirnya adalah sama.
Sistem komplemen mempunyai 3 fungsi sebagai mekanisme pertahanan. Pertama, C3b
menyelubungi mikroba sehingga mempermudah mikroba berikatan dengan fagosit (melalui
reseptor C3b pada fagosit). Kedua, hasil pemecahan komplemen bersifat kemoatraktan untuk
neutrofil dan monosit, serta menyebabkan inflamasi di tempat aktivasi komplemen. Ketiga,
tahap akhir dari aktivasi komplemen berupa pembentukan membrane attack complex (MAC)
yaitu kompleks protein polimerik yang dapat menembus membran sel mikroba, lalu
membentuk lubang-lubang sehingga air dan ion akan masuk dan mengakibatkan kematian
mikroba.
Mekanisme kerja komplemen

Pertahanan seluler
Sel natural killer (NK) adalah suatu limfosit yang berespons terhadap mikroba
intraselular dengan cara membunuh sel yang terinfeksi dan memproduksi sitokin
untuk mengaktivasi makrofag yaitu IFN-. Sel NK mengandung banyak granula
sitoplasma dan mempunyai penanda permukaan (surface marker) yang khas.Sel NK
dapat mengenali sel pejamu yang sudah berubah akibat terinfeksi mikroba.
Mekanisme pengenalan ini belum sepenuhnya diketahui. Sel NK mempunyai berbagai
reseptor untuk molekul sel pejamu (host cell), sebagian reseptor akan mengaktivasi
sel NK dan sebagian yang lain menghambatnya. Reseptor pengaktivasi bertugas untuk
mengenali molekul di permukaan sel pejamu yang terinfeksi virus, serta mengenali
fagosit yang mengandung virus dan bakteri.

Imunitas spesifik : Benda asing yang pertama kali terpajan dengan tubuh segera dikenal oleh
sistem imun spesifik.Pajanan tersebut menimbulkan sensitasi,sehingga antigen yang sama
dan masuk dalam tubuh untuk kedua kalinya akan dikenal lebih cepat dan kemudian
dihancurkan.
Komponen imunitas spesifik

Kekebalan humoral produksi antibodi oleh limfosit B (sel plasma).


Kekebalan selular produksi limfosit T yg teraktivasi.

Sistem Kekebalan Humoral


Pemeran utama dalam sistem imun spesifik humoral adalah limfosit B atau sel B.Humor
berarti cairan tubuh.Sel B berasal dari sumsum tulang.Sel B dirangsang oleh benda asing
akan berproliferasi,berdiferensiasi dan berkembang menjadi sel plasma yang memproduksi
antibodi.Antibodi yang dilepaskan dapat ditemukan didalam serum.Fungsi utama antibodi
adalah pertahanan terhadap infeksi ekstraseluler,virus dan bakteri serta menetralkan
toksinnya. Setiap antigen merangsang klon limfosit B yang berbeda untuk menghasilkan
antibodi
Imunitas aktif : Pembentukan antibodi akibat pajanan ke suatu antigen
Imunitas pasif : Imunitas yang diperoleh segera setelah menerima antibodi yang
sudah dikenal

Mekanisme kerja antibodi


Reaksi antigen-antibodi membentuk ikatan komplek,ikatan ini memungkinkan inaktivasi
antigen melalui proses fiksasi,netralisasi,aglutinasi,atau presipitasi.
1. Fiksasi komplemen, terjadi jika bagian molekul antibodi mengikat komplemen. Ikatan
komplemen diaktivasi melalui jalur klasik yang memicu efek cascade untuk mencegah
terjadinya kerusakan akibat organisme atau toksin penyusup.Efek yang paling penting
meliputi:
a. Opsonisasi. Salah satu produk komplemen ( C3b ) dengan kuat mengaktifkan fagositosis
netrofil dan makrofag,menyebabkan sel ini menelan bakteri yang telah dilekati komplek
antigen-antibodi.
b. Lisis. Kombinasi dari faktor-faktor komplemen multipel mengakibatkan rupturnya
membran plasma bakteri atau penyusup lain dan menyebabkan isi seluler keluar.
c. Inflamasi. Produk komplemen berkontribusi dalam inflamasi akut melalui aktivasi sel
mast,basofil, dan trombosit darah.
2. Netralisasi terjadi saat antibodi menutup sisi tosik antigen dan menjadikannya tidak
bebahaya.
3. Aglutinasi. ( penggumpalan ) terjadi bila antigen adalah materi partikulat, seperti bakteri
atau sel-sel darah merah.
4. Presipitasi, merubah antigen yang larut ( misal racun tetanus ) menjadi tak laru dan
membentuk presifitan ( endapan )

Sistem kekebalan Seluler


Limfosit T atau sel T berperan pada sistem imun spesifik seluler.Pada orang dewasa,sel T
dibentuk dalam sumsum tulang,tetapi proliferasi dan diferensiasinya di timus.Faktor timus
ditemukan dalam peredaran darah sebgai hormon aslidan dapat mempengaruhi diferensiasi
sel T di perifer.
Ada beberapa macam sel T:
Sitotoksik atau Sel T Killer (CD8+)
mengeluarkan limfotoksin yang menyebabkan lisis sel.
Sel T Helper (CD4+)
pengelola, mengarahkan respon imun.
mengeluarkan limfokin yang merangsang sel T Killer dan sel B untuk tumbuh dan
membelah diri,
memicu netrofil,
memicu makrofag untuk menelan dan merusak mikroba.
Sel T Supressor
menghambat produksi sel T Killer jika tak dibutuhkan lagi.
Sel T Memory
mengenal dan merespon patogen

3 Memahami Antigen
Definisi Antigen
Bahan yang berintrerakasi dengan produk respons imun yang di rangsang oleh imunogen
spesifik seperti antibodi atau TCR.
Antigen Lengkap adalah antigen yang mengiduksi baik respons imun maupun bereaksi
dengan produknya.
Pembagian Antigen
Antigen di bagi menurut epitop, spesifitas, ketergantungan terhadap sel T dan sifat kimiawi
1.

Pembagian antigen menurut epitop


a) Unideterminan univalen. Hanya satu jenis determinan pada satu molekul

b) Unideterminan multivalen. Hanya satu jenis determinan tetapi dua atau lebih
determinan tersebut di temukan pada satu molekul.
c) Multideterminan univalen. Banyak epitop tapi hanya satu dari setiap macamnya.
d) Multideterminan multivalen. Byk macam determinan dan banyak dari setiap macam
pada satu molekul.
2.

Menurut Spesifitas
a)
b)
c)
d)
e)

3.

Heteroantigen, yang dimiliki oleh banyak spesies.


Xenoantigen, yang hanya dimiliki spesies tertentu.
Aloantigen, yang spesifik untuk individu dalam satu spesies.
Antigen organ spesifik, yang hanya dimiliki organ tertentu.
Autoantigen, yang dimiliki alat tubuh sendiri.
Menurut ketergantungan terhadap sel T

a) T dependen, yang memerlukan pengenalan oleh sel T.


b) T independen, yang dapat merangsan sel B tanpa bantuan sel T untuk membentuk
antibodi.
4.

Menurut sifat kimiawi


a) Hidrat arang (polisakarida)
Umumnya imunogenik. Dapat menyebabkan respon imun terutama pembentukan
antibodi. Contoh, respon imun yang ditimbulkan golongan darah ABO.
b) Lipid
Biasanya tidak imunogenik. Lipid dianggap sebagai hapten. Contohnya sfingolipid.
c) Asam nukleat
Tidak imunogenik, tp dapat imunogebik jika diikat molekul protein pembawa.
d) Protein
Kebanyakan imunogenik, pada umumnya multideterminan univalen.

4 Memahami antibodi
Memahami definisi antibodi :
Antibodi tergolong protein yg disebut globulin dan dikenal sebagai immunoglobulin(Ig).
Immunoglobulin dibentuk oleh sel plasma yg berasal dari proliferasi sel B yg terjadi setelah
kontak dengan antigen. Fungsi utamanya adalah mengikat antigen dan menghantarkannya ke
sistem efektor pemusnahan.
Memahami macam-macam antibodi dan mekanisme kerjanya :
1. Immnunoglobulin G (IgG) :
Jenis antibodi yang paling umum, yang dihasilkan pada pemaparan antigen berikutnya.
IgG merupakan komponen utama serum, merupakan 75% dari semua immunoglobulin.
igG memiliki sifat opsonin yg efektif karena sel-sel fagosit, monosit dan makrofag
mempunyai reseptor untuk fraksi Fc dari IgG. IgG jg dapat menembus plasenta masuk ke

janin. Yang dapat melindungi janin dan bayi yang baru lahir sampai sistem kekebalan
bayi bisa menghasilkan antibodi sendiri.
Contoh: Setelah mendapatkan suntikan tetanus ii, maka 5-7 hari seorang anak akan
membentuk antibodi Ig.G.
2. Immnunoglobulin A (IgA) :
Jenis antibodi yang memegang peranan penting pada pertahanan tubuh terhadap
masuknya mikroorganisme melalui permukaan yang dilapisi selaput lendir, yaitu hidung,
mata, paru-paru, dan usus. Ig.A ditemukan didalam darah dan cairan tubuh. Namun juga
merupakan Ig utama dalam cairan sekresi seromukosa untuk menjaga permukaan luar
tubuh. IgA dapat menetralkan toksin,mengaglutinasikan kuman dan bekerja sebagai
opsonin. IgA sendiri dapat mengaktifkan komplemen jalur alternatif.
3. Immnunoglobulin M (IgM) :
IgM merupakan Ig terbesar. IgM juga merupakan Ig paling efektif dalam aktifasi
komplemen Jalur klasik. IgM dibentuk paling awal pada respons imun primer terhadap
kebanyakan antigen. IgM juga merupakan Ig yg predominan diproduksi janin.
Ig.M terdapat dalam darah didalam darah, tetapi tidak dalam normal, baik diorgan
maupun jarringan.
Contoh: Orang yang menerima vaksinasi tetanus i, maka 10-14 hari kemudian akan
terbentuk antibodi anti tetanus Ig.M (Respon antibodi primer).
4. Immnunoglobulin D (IgD) :
IgD ditemukan dalam serum dengan kadar yg sangat rendah.IgD merupakan komponen
permukaan utama sel B dan merupakan tanda dari differensiasi sel B yg sudah lebih
matang. IgD jg tidak mengikat komplemen dan tidak dilepas sel plasma.
5. Immnunoglobulin E (IgE) :
IgE berperan dalam pertahanan terhadap infeksi parasit pengerahan agen antimikrobial.
IgE terutama berperan dalam reaksi alergi dan dapat menimbulkan syok anafilaksis.

5 Memahami Vaksin dan Imunisasi


Definisi Vaksin dan Imunisasi
Vaksin adalah sebuah senyawa antigen yang berfungsi untuk
meningkatkan imunitas tubuh terhadap virus. Terbuat dari virus yag telah
dimatikan atau "dilemahkan" dengan menggunakan bahan-bahan
tambahan lainnya seperti formalaldehid, thymerosal dan lainnya.
Sedangkan vaksinasi adalah suatu usaha memberikan vaksin tertentu ke
dalam tubuh untuk menghasilkan sistem kekebalan tubuh terhadap
penyakit /virus tersebut.
Jenis-jenis vaksinasi yang ada antara lain vaksin terhadap penyakit
hepatitis, polio, Rubella, BCG, DPT, Measles-Mumps-Rubella (MMR) cacar
air dan jenis penyakit lainnya seperti influenza.

Di Indonesia, vaksinasi yang umum dilakukan pada bayi dan balita adalah
Hepatitis B, BCG, Polio dan DPT. Selebihnya seperti vaksinasi MMR adalah
bersifat tidak wajib. Ada pun vaksinasi terhadap penyakit cacar air
(smallpox) termasuk vaksinasi yang sudah tidak dilakukan lagi di
Indonesia.
Vaksin dan sistem kekebalan tubuh
Pemberian vaksin dilakukan dalam rangka untuk memproduksi sistem
immune (kekebalan tubuh) seseorang terhadap suatu penyakit.
Berdasarkan teori antibodi, ketika benda asing masuk seperti virus dan
bakteri ke dalam tubuh manusia, maka tubuh akan menandai dan
merekamnya sebagai suatu benda asing. Kemudian tubuh akan membuat
perlawanan terhadap benda asing tersebut dengan membentuk yang
namanya antibodi terhadap benda asing tersebut. Antibodi yang dibentuk
bersifat spesifik yang akan berfungsi pada saat tubuh kembali terekspos
dengan benda asing tersebut.
Dr Willian Howard dari USA mengatakan bahwa tubuh telah memiliki
metodenya sendiri untuk pertahanan, yang tergantung pada vitalitas
tubuh pada saat tertentu. Jika vitalitas tubuh cukup, maka tubuh akan
bertahan terhadap seluruh infeksi, tetapi sebaliknya jika tidak maka
pertahanan akan lemah. Sesungguhnya kita tidak dapat mengubah
vitalitas tubuh menjadi lebih baik justru dengan menggunakan berbagai
jenis racun (vaksin) ke dalam tubuh tersebut.

Tujuan Vaksin dan Imunisasi


Tujuan imunisasi atau vaksinasi adalah meningkatkan derajat imunitas,
memberikan proteksi imun dengan menginduksi respons memori terhadap
patogen tertentu / toksin dengan menggunakan preparat antigen nonvirulen/non-toksik
Klasifikasi vaksin
a. Vaksin hidup (Live attenuated vaccine)
Vaksin terdiri dari kuman atau virus yang dilemahkan, masih antigenik
namun tidak patogenik. Contohnya adalah virus polio oral. Oleh karena

vaksin diberikan sesuai infeksi


alamiah (oral), virus dalam vaksin akan hidup dan berkembang biak di
epitel saluran cerna, sehingga akan memberikan kekebalan lokal.
Sekresi IgA lokal yang ditingkatkan akan
mencegah virus liar yang masuk ke dalam sel tubuh.
b. Vaksin mati (Killed vaccine / Inactivated vaccine)
Vaksin mati jelas tidak patogenik dan tidak berkembang biak dalam
tubuh. Oleh karena itu diperlukan pemberian beberapa kali.
c. Rekombinan
Susunan vaksin ini (misal hepatitis B) memerlukan epitop organisme
yang patogen. Sintesis dari antigen vaksin tersebut melalui isolasi dan
penentuan kode gen epitop bagi sel
penerima vaksin.
d. Toksoid
Bahan bersifat imunogenik yang dibuat dari toksin kuman. Pemanasan
dan penambahan formalin biasanya digunakan dalam proses
pembuatannya.
Hasil
pembuatan
bahan
toksoid
yang jadi disebut sebagai natural fluid plain toxoid, dan merangsang
terbentuknya antibodi antitoksin. Imunisasi bakteriil toksoid efektif
selama
satu
tahun.
Bahan
ajuvan
digunakan
untuk
memperlama
rangsangan
antigenik
dan
meningkatkan
imunogenesitasnya.
e. Vaksin Plasma DNA (Plasmid DNA Vaccines)
Vaksin ini berdasarkan isolasi DNA mikroba yang mengandung kode
antigen yang patogen dan saat ini sedang dalam perkembangan
penelitian. Hasil akhir penelitian pada binatang percobaan
menunjukkan bahwa vaksin DNA (virus dan bakteri) merangsang
respon humoral dan selular yang cukup kuat, sedangkan penelitian
klinis pada manusia saat ini sedang dilakukan
Jenis vaksin untuk bayi
POLIO
Polio merupakan sebuah jenis penyakit lumpuh yang menyerang
sistem saraf pusat. Biasanya orang yang terkena polio akan terkena
lumpuh layu. Bahkan tak jarang hingga dewasa bisa menyebabkan
kelumpuhan total. Polio disebabkan oleh virus yang masuk melalui mulut
melalui makanan yang terkontaminasi feses dari seorang penderita polio.
Virus ini kemudian menginfeksi saluran usus, dari sini akan menyebabkan

melemahnya otot. Lalu mengapa virus ini sangat berbahaya bagi


manusia? Hal ini dikarenakan ketika terserang virus ini menyerang secara
tiba-tiba tanpa merasakan gejala apapun.
Pentingnya imunisasi saat anak-anak atau bayi, dikarenakan virus ini
menyerang manusia pada saat usia 3 hingga 5 tahun. Imunisasi terhadap
bayi akan memberikan kekebalan dari serangan polio. Pemberian
imunisasi ini biasanya melalui 2 cara yaitu lewat suntikan atau melalui
oral. Dan dilakukan dalam dua tahap, tahap pertama biasanya dilakukan
saat bayi berusia 0 bulan.
Selanjutnya pada usia 2,4 dan 6 bulan, terkadang sampai usia 18 bulan
dan 5 tahun. Pemberian imunisasi polio ini biasanya disertai dengan
pemberian imunisasi DPT (Difteri Pertusis Tetanus). Pemberian imunisasi
pada seorang balita biasanya akan menyebabkan diare ringan, pusingpusing dan sakit otot. Orang tua yang akan memberikan imunisasi polio
juga harus sedikit waspada, maksudnya ketika seorang anak dalam
keadaan demam (suhu lebih 38,5 C), muntah atau diare maka jangan
diberikan terlebih dahulu.
BCG
BCG (Bacille Calmette Guerin) merupakan salah satu vaksin yang
akan memberikan kekebalan terhadap penyakit TB. Seperti kita tahu , TB
Paru merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh virus yang
dinamakan mikrobakterium tuberkolosa. Bakteri ini merupakan bakteri
yang bersifat BTA( Bakteri Tahan Asam). Penyebaran bakteri ini melalui
udara saat penderita TBC batuk. Bakteri ini akan masuk dan berkembang
biak di paru-paru. Orang yang terkena virus TBC, biasanya akan
mengalami gejala demam (meskipun tidak terlalu tinggi), penurunan
nafsu makan, batuk selama lebih dari 3 minggu dan perasaan tidak enak.
Pada seorang bayi dengan usia 0-3 bulan, vaksin ini diberikan hanya
sekali saja. Berbeda dengan vaksin polio, pada vaksin polio, vaksin ini
tidak diperlukan lagi pengulangan, hal ini dikarenakan antibodi yang
diperoleh tinggi terus tak pernah turun. Jika pada vaksin polio, seorang
bayi setelah diimunisasi akan merasa pusing-pusing dan sakit otot, maka
pada jenis vaksin ini seorang bayi akan timbul bisul-bisul dan bernanah
pada daerah yang disuntik. Bisul ini sebenarnya tidak sakit dan hanya
akan menimbulkan bekas saja di daerah yang disuntik, bisul jenis ini
hanya menjadi penanda bahwa vaksin yang diberikan berhasil.

HEPATITIS B
Vaksin ini merupakan salah satu vaksin yang tercepat untuk
dimasukkan di tubuh manusia. Karena menurut salah satu jurnal, virus ini
harus diinjeksikan ke dalam tubuh bayi sekurangnya 12 jam setelah lahir.
Ada beberapa jenis hepatitis yaitu hepatitis A,B,C,D,E. Secara umum
hepatitis merupakan jenis peradangan pada hati atau liver. Penyebabnya
pun bermacam-macam, mulai dari virus sampai dengan obat-obatan.
Pada kasus hepatitis B, disebabkan oleh luka karena tusukan benda tajam,
seperti pisau, jarum suntiik yang terkontaminasi. Gejala virus ini hampir
sama dengan jenis hepatitis lainnya, seorang penderita yang terkena virus
ini biasanya mengalami hilangnya nafsu makan, mual muntah, demam,
rasa lelah dan mata kuning.

Sedikit berbeda dengan kedua jenis vaksin diatas, pada vaksin hepatitis B
dilakukan selama 3 kali. Antara suntikan pertama dan kedua berjarak
waktu satu bulan. Kemudian suntikan kedua dan ketiga berjarak 5 bulan.
Vaksin yang disuntikkan ke dalam tubuh seorang bayi biasanya akan
disertai dengan demam ringan dan akan timbul bekas suntikan. Jangan
panik dengan semua ini, karena gejala ini akan hilang dengan sendirinya,
akan tetapi jika perlu, orang tua dapat memebrikan parasetamol kepada
sang anak.
Jenis-jenis vaksin untuk orang dewasa
1. Tetanus
Tetanus adalah infeksi akut karena racun yang dibuat dalam tubuh
oleh bakteri Clostridium tetani. Penyakit ini bisa membuat kejang otot,
rahang terkancing, gangguan bernapas, dan kematian. Bakterinya
terdapat di debu, tanah, lalu masuk ke dalam tubuh manusia melalui
luka terpotong, luka terbuka, dan luka terbakar. Macam vaksinnya
adalah toksoid, diberikan dalam bentuk suntikan. Vaksinasi tetanus
biasanya diberikan sebagai imunisasi dasar pada bayi melalui
vaksinasi DPT dan perlu diulang setelah 10 tahun.
2. Meningitis meningokokus (Meningokok)
Penyakit radang selaput otak (meningitis) disebabkan oleh bakteri
Neisseria meningitidis (meningokokus). Cara penularannya melalui
udara, batuk, bersin dari orang yang telah terinfeksi bakteri, atau
kontak dengan sekret pernapasan (minum dari gelas yang sama).

Gejala penyakitnya berupa demam, sakit kepala, dan tidak enak


badan. Penyakit ini lebih sering terdapat di Afrika dan agak jarang
dijumpai di Indonesia. Biasanya, para calon jemaah haji diwajibkan
menjalani vaksinasi ini tiga minggu sebelum keberangkatan.
Vaksinnya diberikan dalam bentuk suntikan, dan bertahan di tubuh
selama 2-3 tahun.
3. Tifoid ( typhus atau demam Tifoid).
Penderita akan mengalami panas tubuh yang tinggi (di atas 40C), sakit
kepala, rasa lelah, dan hilang nafsu makan. Gejala lain, sakit pada
perut, buang-buang air, mual, dan menggigil. Penyakit ini disebabkan
oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Penularan terjadi akibat
mengonsumsi air atau makanan yang terkontaminasi bakteri.
Vaksinnya berupa bakteri yang dimatikan, diberikan melalui oral
(ditelan) atau suntikan (jenis vaksinnya Thyvim A). Satu kali vaksinasi
bertahan untuk tiga tahun.
4. Campak (Measle)
Penyakit yang disebabkan virus ini memiliki gejala demam, menggigil,
serta hidung dan mata berair. Timbul ruam-ruam pada kulit berupa
bercak dan bintil berwarna merah pada kulit muka, leher, dan selaput
lendir mulut. Saat penyakit memuncak, suhu tubuh bisa mencapai
40C. Terjadi pembengkakan di sekeliling mata, membuat penderita
silau melihat cahaya terang. Vaksin campak merupakan virus yang
dilemahkan, dan diberikan dalam bentuk suntikan. Imunisasi campak
memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak (tampek).
Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak berumur
9 bulan atau lebih.
5. Parotitis (Mumps) atau gondongan Parotitis
Disebabkan oleh virus yang menyerang kelenjar air liur di mulut, dan
banyak diderita anak-anak dan orang muda. Semakin tinggi usia
penderita, gejala yang dirasakan lebih hebat. Kebanyakan, orang
menderita penyakit ini hanya sekali seumur hidup. Tetapi, sekitar 10%
penderita kemungkinan bisa mengalami serangan kedua. Vaksinnya
merupakan virus yang dilemahkan, diberikan dalam bentuk suntikan.
6. Rubella (campak Jerman)
Rubella merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus,
mengakibatkan ruam pada kulit menyerupai campak, radang selaput
lendir, dan radang selaput tekak. Ruam ini biasanya hilang dalam
waktu 2-3 hari. Gejalanya berupa sakit kepala, kaku pada persendian,
dan rasa lemas. Biasanya diderita setelah penderita berusia belasan
tahun atau dewasa. Bila infeksi terjadi pada wanita yang sedang hamil

muda (tiga bulan pertama) dapat memengaruhi pertumbuhan bayi.


Nama vaksinasinya MMR (Measle Mumps Rubella). Vaksinasi ini
dianjurkan dilakukan sebanyak dua kali, yaitu ketika usia wanita
mencapai 18 tahun dan disarankan satu kali lagi ketika akan menikah.
Bila sudah menerima 2 kali, maka tidak perlu diulang lagi.
7. Yellow fever (demam kuning)
Penyakit ini disebabkan virus yang dibawa nyamuk Aedes dan
Haemagogus. Orang yang akan bepergian ke Afrika Selatan wajib
menjalani vaksinasi penyakit ini. Serangan ringan demam kuning
memberikan gejala mirip dengan flu. Bila lebih parah akan disertai
dengan timbulnya rasa mual, muntah-muntah, perdarahan, lalu kulit
menjadi kekuningan. Vaksin diberikan dalam bentuk suntikan. Satu kali
suntikan bertahan memberi perlindungan selama 10 tahun.
8. Hepatitis B
Vaksinasi hepatitis B diperlukan untuk mencegah gangguan hati yang
disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB). Gejala penyakitnya diawali
dengan timbulnya demam selama beberapa hari. Lalu timbul rasa
mual, keletihan, dan tetap terasa letih meski telah beristirahat cukup.
Urine (air seni) akan terlihat keruh seperti air teh. Bagian putih bola
mata dan kuku akan terlihat berwarna kuning. Cara penularannya
mirip dengan HIV/AIDS, yaitu melalui darah atau produk darah.
Misalnya, lewat transfusi darah yang telah tercemar HVB, penggunaan
bersama peralatan yang bisa melukai, seperti jarum suntik, pisau
cukur, jarum tindik, jarum tato, sikat gigi yang dipakai oleh penderita
HVB (karena bila terjadi luka berarti darah yang menempel di alat
tersebut bisa menjadi sumber penularan), dan melalui hubungan
seksual. Vaksin diberikan dalam bentuk suntikan, dilakukan tiga kali,
yaitu bulan ke-0 (saat pertama penyuntikan), ke-1, dan ke-6. Vaksinasi
diulang setelah 5-10 tahun.
9. Japanese B enchephalitis
Penyakit ini disebabkan oleh virus yang menimbulkan infeksi pada
otak. Virus dibawa oleh nyamuk Culex yang hidup di daerah Asia (dari
India Timur ke Korea, Jepang, dan Indonesia). Vaksinasi diberikan
melalui suntikan pada hari ke-0, 7, dan 28. Dilakukan vaksinasi
pendukung setahun kemudian. Vaksinasi diulang setiap 3 tahun.
10. Rabies
Penyakit infeksi pada otak ini disebabkan oleh virus. Penularannya
melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi virus rabies.
Hewan yang mungkin menularkan rabies adalah anjing, kucing,
kelelawar, monyet, dan lainnya. Vaksin diberikan melalui suntikan

sebanyak 3 kali, yaitu hari ke-0, 7, dan 28. Vaksinasi pendukung


dilakukan setahun kemudian. Vaksinasi rabies diulang setiap 5 tahun.
Bagi yang belum pernah menerima vaksinasi rabies, penyuntikan
dilakukan sebanyak 5 kali, yaitu pada hari ke-0, 3, 7, 14, dan 28.
Penyuntikan dilakukan lagi setelah 3 bulan.
11. Influenza
Penyakit yang disebabkan oleh virus dari keluarga Orthomyxoviridae
ini menimbulkan wabah berulang dengan aktivitas kuat serta kejadian
infeksi dan kematian yang tinggi pada semua usia. Influenza
merupakan penyakit yang cukup berat bila diderita oleh orang berusia
lanjut (di atas 65 tahun) serta penderita yang mempunyai penyakit
jantung, paru-paru, dan diabetes mellitus (kencing manis). Karena itu,
vaksinasi influenza sangat penting diterima oleh kelompok ini
ditambah dengan para penderita asma, gagal ginjal, dan penderita
dalam keadaan imunkompromais (orang yang kekebalan tubuhnya
menurun karena suatu hal. Misalnya, orang yang harus menjalani cuci
darah, penderita HIV/AIDS). Vaksin influenza diberikan setiap tahun
disesuaikan dengan virus terbaru yang ada.

Klasifikasi Imunisasi
Macam-macam / jenis-jenis imunisasi ada dua macam, yaitu

imunisasi pasif yang merupakan kekebalan bawaan dari ibu


terhadap penyakit
imunisasi aktif di mana kekebalannya harus didapat dari pemberian
bibit penyakit lemah yang mudah dikalahkan oleh kekebalan tubuh
biasa guna membentuk antibodi terhadap penyakit yang sama baik
yang lemah maupun yang kuat.

Teknik atau cara pemberian imunisasi umumnya dilakukan dengan


melemahkan virus atau bakteri penyebab penyakit lalu diberikan
kepada seseorang dengan cara suntik atau minum / telan. Setelah bibit
penyakit masuk ke dalam tubuh kita maka tubuh akan terangsang
untuk melawan penyakit tersebut dengan membantuk antibodi.
Antibodi itu umumnya bisa terus ada di dalam tubuh orang yang telah
diimunisasi untuk melawan penyakit yang mencoba menyerang.
Jenis-jenis imunisasi
a. Imunisasi DPT
Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap
difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang
menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang
serius atau fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada

saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta
bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama
beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat
sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga
dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan
kerusakan otak. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa
menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang
b. Imunisasi DT
Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang
dihasilkan oleh kuman penyebab difteri dan tetanus. Vaksin DT dibuat
untuk keperluan khusus, misalnya pada anak yang tidak boleh atau
tidak perlu menerima imunisasi pertusis, tetapi masih perlu menerima
imunisasi difteri dan tetanus.
c. Imunisasi TT
Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif
terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat
digunakan untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan
penyakit tetanus.
d. Imunisasi MMR
Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan
dan campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali. Campak
menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler dan mata
berair. Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia.
Campak juga bisa menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti
pembengkakan otak dan bahkan kematian. Gondongan menyebabkan
demam, sakit kepala dan pembengkakan pada salah satu maupun
kedua kelenjar liur utama yang disertai nyeri. Gondongan bisa
menyebabkan meningitis (infeksi pada selaput otak dan korda spinalis)
dan pembengkakan otak. Kadang gondongan juga menyebabkan
pembengkakan pada buah zakar sehingga terjadi kemandulan.
Campak Jerman (rubella) menyebabkan demam ringan, ruam kulit dan
pembengkakan kelenjar getah bening leher. Rubella juga bisa
menyebabkan pembengkakan otak atau gangguan perdarahan.
e. Imunisasi Hib
Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus
influenza tipe b. Organisme ini bisa menyebabkan meningitis,
pneumonia dan infeksi tenggorokan berat yang bisa menyebabkan
anak tersedak.
f. Imunisasi Varisella
Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air. Cacar
air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, kemudian
secara perlahan mengering dan membentuk keropeng yang akan
mengelupas.

g. Imunisasi HBV
Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Hepatitis
B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan
kematian.
h. Imunisasi Pneumokokus Konjugata
Imunisasi pneumokokus konjugata melindungi anak terhadap sejenis
bakteri yang sering menyebabkan infeksi telinga. Bakteri ini juga
dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan
bakteremia (infeksi darah).

Mekanisme Vaksin dan Imunisasi


Mekanisme vaksin
Berdasarkan teori antibodi, ketika benda asing masuk seperti virus dan
bakteri ke dalam tubuh manusia, maka tubuh akan menandai dan
merekamnya sebagai suatu benda asing. Kemudian tubuh akan membuat
perlawanan terhadap benda asing tersebut dengan membentuk yang
namanya antibodi terhadap benda asing tersebut. Antibodi yang dibentuk
bersifat spesifik yang akan berfungsi pada saat tubuh kembali terekspos
dengan benda asing tersebut.
Mekanisme imunisasi
Mekanisme Imunitas Pada Imunisasi
Imunisasi adalah penyediaan perlindungan yang spesifik untuk melawan
patogen yang umum dan mematikan. Adapun mekanisme dari imunitas
bergantung dari bentuk pathogen dan patogenesis dari pathogen
tersebut.
Contohnya, jika mekanisme dari patogennya melibatkan eksotosin , maka
reaksi imun yang efektif melawan itu adalah mengeluarkan antibodi yang
mencegah keterikatannya dengan reseptor yang tepat dan menunjukkan
pathogen tersebut kepada sel-sel fagosit. Dengan imunisasi diharapkan
limfosit dapat melihat antigen yang ada pada virus dan dapat membuat
anti bodi yang tepat, serta dapat mengingatnya dengan bantuan sel B
memori.
Ada dua jenis imunisasi, yaitu imunisasi aktif dan pasif.
Pemberian vaksin pada anak merupakan contoh imunisasi aktif, dalam hal
ini tubuh anak akan membuat sendiri zat anti setelah menerima suatu

rangsangan antigen dari luar tubuh, misalnya rangsangan virus yang telah
di lemahkan. Selanjutnya kadar antibodi dalam tubuh anak akan
meningkat
Pada imunisasi pasif dilakukan penyuntikan sejumlah zat anti, sehingga
kadar dalam darahnya meningkat. Tubuh kita memiliki dua macam sistem
kekebalan tubuh yaitu sistem kekebalan tubuh spesifik dan non-spesifik.
Spesifik penyerangannya bersifat spesifik, satu sel untuk satu serangan.
Sementara pada sistem kekebalan tubuh non-spesifik berarti menyerang
tanpa pandang bulu. Jadi sistem non-spesifik ini menyerang segala
macam yang dianggap sebagai benda asing oleh barrier dan sel-sel
fagositik.
Imunisasi bertujuan untuk membuat sel-sel limfosit dapat mengenali
antigen. Imunisasi bersifat dapat diingat. Jadi orang yang telah terinfeksi
tidak perlu diimunisasi lagi karena sudah memiliki efek yang sama. Pada
beberapa kasus ada antibodi yang diturunkan oleh orang tua, contohnya
hepatitis B. Untuk hal ini tidak perlu dilakukan imunisasi lagi, tetapi jika
dirasa perlu, imunisasi dapat dilaukan kembali. Imunisasi juga sebaiknya
di laksanakan tepat pada waktunya untuk mencegah penyakit
berkembang dalam tubuh kita.
Jenis respon imun dibagi menjadi;
Respon imun non-spesifik, yang memiliki sifat: biasanya bawaan (innate
immunity), pejuang garis depan,cepat bereaksi namun terbatas; dan
respon imun spesifik yang sifatnya didapat, timbul karena reaksi antigen,
pejuang garis kedua, lambat memulai tetapi lebih kuat dengan kecepatan
kembali yang tinggi.
Respon Imun non-spesifik terdiri dari dua yaitu barrier dan sel-sel
makrofag. Barrier terdiri dari kulit, membran mukosa dan sekretnya
(saliva, keringat[mengandung NaCl, asam yang mengakibatkan bakteri
menjadi mati]),air mata (mengandung liszim yang memecah dinding sel
bakteri), serta flora normal. Sel-sel makrofag terdiri atas Netrofil dan
Makrofag yang berperan pada proses fagositosis, memiliki sifat bergerak
dengan cara : diapedesis (terperas jika sudah ada sedikitnya bagian yang
masuk), ameboid, dan kemotaksis (dipengaruhi oleh racun, degeneratif
padz jaringan yang meradang, aktivitas kompleks komplemen yang
dinamakan opsonisaasi terutama pada C3b). Proses fagositosisnya
netrfil/makrofag melekat padabakteri yang akan dihacurkan, kemudian
membuat psedopodia (kaki semu), kemudian bakteri terbungkus dalam
gelembung fagositosik dan kemudian dicerna menggunakan enzim

lisosomal (proteolitik pada netrofil dan makrofag, lipase pada makrofag)


dan bahan bakterisidal (pengoksidasi kuat yang berasal dari organel
peroksisom). Perbedaan antara netrofil dan makrofag adalah netrofil
sudah matang (mature), sedangkan makrofag adalah pematangan dari
monosit. Dalam bekerja monosit tetap dapat menerima pelatihan. Hal
itu yang menimbulkan sistem makrofag-monosit. Sel-sel makrofag
selanjutnya adalah sistam makrofag-monosit (sistem retikuloendotelial),
bersifat tidak terlalu mobile. Memiliki berbagai nama yaitu Kupffer (pada
hati), makrofage alveolar (pada paru-paru), mikroglia (pada saraf pusat),
histiosit (pada subkutan). Kemudian ada eosinofil. Eosinofil berguna untuk
menghancurkan infeksi parasit, contohnya trichinella pada daging babi.
Bereaksi pada respon yang dihasilkan basofil. Terakhir basofil dan sel
mast. Mereka bertugas untuk menimbulkan reaksi peradangan.
Respon imun spesifik terdiri dari sel T (timus) dan sel B (bone marrow). Sel
T dibagi menjadi sel T helper (CD 4) yang berikatan dengan degan MHC 2
(Major Histocompabalility Complex). Menghasilkan sitokin interferongamma yang berfungsi memanggil makrofag yang lainnya, interleukin
2,4,5 yang merangsang sel B untuk berdiferensiasi jadi sel plasma.
Imterleukin 2 yang penting untuk pertumbuhan CD 4 dan 8 yang lain. Sel
T sitotoksik memiliki sifat berikatan dengan MHC 1, menghasilkan perforin
(untuk melubangi sel target) serta granzymes (enzim protease untuk
menghancurkan protein sel lawan). Sel T supresor bertugas untuk
menghentikan kerja dari T yang lain. Terakhir adalah sel T memori untuk
mengingat.
Sel B (bone marrow) yang ditemukan pertama kali pada burung dalam
Bursa Fabricus terdiri atas Sel Plasma yang berfungsi untuk menghasilkan
Imunoglobulin (Ig). Ig terdiri atas Ig M yang memiliki sifat berada di serum
permukaan sel B, paling primitif, besar, pentamer, berperan pada respon
primer, paling efisien dalam aglutinasi dan fiksasi komplemen. Ig G ada di
cairan interstisium, paling banyak dalam darah darah, mampu menembus
plasenta,monomer, berperan dalam respon sekunder, menghasilkan
imunitas pasif bagi bayi baru lahir, penting pada opsonisasi, prepitasi,
aglutinasi. Ketiga yaitu Ig A, merupakan Ig utama dalam sekresi termasuk
dalam asi, bentuk molekul dimer, menetralisasitoksin dalam darah,
pertahanan primer teradap invasi di selaput.

6 Memahami dan menjelaskan hokum Vaksinasi menggunakan bahan


haram dari tinjauan hokum Islam
Ada kaidah usul fiqih yang mengatakan bahwa mencegah kemudharatan lebih dilakukan
daripada mengambil manfaatnya. Demikian alasan yang dijadikan dasar hukum pengambilan

keputusan terhadap kehalalan vaksin sekalipun diketahui bahwa vaksin tersebut disediakan
dari bahan yang tidak diperkenankan dalam Islam.
Prinsip dalam pemberian vaksin atau imunisasi :
1. Memberikan asupan nutrisi atau zat gizi atau makanan tertentu yang memaksimalkan
pembangunan dan pemeliharaan sistem imun tubuh atau kekebalan tubuh manusia.
2. Memberikan asupan nutrisi atau zat gizi atau makanan tertentu yang memaksimalkan
dan menghilangkan zat yang bersifat menurunkan kerja sistem imun atau kekebalan
manusia.
3. Menjauhkan dan menghentikan asupan nutrisi yang bersifat menurunkan
pembangunan dan pemeliharaan sistem imun atau kekebalan tubuh manusia.
4. Tidak memberikan vaksinasi yang mengandung toksin/racun bahan berbahaya yang
menjadi ancaman manusia, seperti bahan kimiawi sintesis, logam berat (heavy metal),
hasil metabolit parsial, toksin bakteri, dan komponen dinding sel,
5. Tidak memberikan vaksinasi dan obat-obatan yang mengandung bahan yang haram
secara syariat.
a. Alkohol dan turunannya, yang dapat menyebabkan memabukkan.
b. Tidak mengandung darah, daging yang diharamkan, dan hewan yang ketika
disembelih tidak menyebutkan nama Allah.
6. Membiasakan untuk mengkonsumsi menu makanan sehari-hari yang bersifat
membangun sistem kekebalan tubuh manusia.
7. Membiasakan untuk tidak mengkonsumsi menu makanan sehari-hari yang bersifat
menurunkan sistem kekebalan tubuh manusia.
Vaksinasi dan imunisasi menurut islam
Menghalalkan bahan dan prosesnya, tiap ulama berbeda pendapat, jika proses dan bahannya
haram maka hukumnya haram, jika proses dan bahannya halal maka hukumnya halal.
Dasar-dasar kebolehan Vaksin dan imunisasi
-

Anjuran berobat
Batasan halal dan haramnya bahan obat
Tujuan dan akibat yang ditimbulkan

Hadis-hadis Nabi. antara lain:


Berobatlah, karena Allah tidak membuat penyakit kecuali membuat pula obatnya selain
satu penyakit, yaitu pikun (HR. Abu Daud dari Usamah bin Syarik).
Allah telah menurunkan penyakit dan obat, serta menjadikan obat bagi setiap penyakit;
maka, berobatlah dan janganlah berobat dengan berzdat yang haram (HR. Abu Daud dari
Abu Darda ).
Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali menurunkan (pula) obatnya. (HR. alBukhari dari Abu Hurairah).

Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas, dan diantara keduanya ada
perkara-perkara syubhat,Kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang
menjaga diri dari perkara syubhat tersebut, maka dia telah menjaga agamanya dan
kehormatannya,dan barangsiapa yang jatuh dalam perkara syubhat, maka dia jatuh
kepada hal yang haram.Seperti seorang pengambala yang mengembala disekitar daerah
larangan, lambat laun akan masuk kedalamnya. Ketahuilah, setiap raja memiliki daerah
larangan, sedangkan daerah larangan Allah adalah apa-apa yang diharamkan-Nya.
Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging, apabila dia baik maka
baiklah seluruh jasad, dan apabila dia buruk maka buruklah seluruh jasad. Ketahuilah, dia
adalah hati (Riwayat Bukhari & Muslim, dari Numan bin Basyir).