Anda di halaman 1dari 10

EMBRYO VOL. 5 NO.

JUNI 2008

ISSN 0216-0188

LAJU PERTUMBUHAN KARANG PORITES LUTEA DI KARIMUNJAWA DAN


BANGKALAN, INDONESIA
Wahyu Andy Nugraha. Dosen Jurusan Ilmu Kelautan Fak. Pertanian Unijoyo

Abstract
Corals are sessile benthic animals, so their life expression, such on their growth rate was indicate
the environmental condition where corals life. This study is a survey research, while the coral growth rate
was examined with retrospective method and descriptive analysis used table and graph.
The results of the observation are as follow: Growth rate of P. lutea in Karimunjawa Island tend to
be faster than Bangkalan waters, however there was no significant different from both sides. The fastest
coral growth rate was commonly found in the first year of the coral growth. The regression analysis
between annual rainfall and annual coral growth rate confirmed that more rainfall density, the growth rate
tend to slower.
Key Words : Growth rate, Porites lutea, Retrospective Method

Menurut Tomascik et al. (1997) koloni

PENDAHULUAN
Terumbu karang merupakan ekosistem

massive genus Porites (seperti Porites lutea,

yang khas terdapat di daerah tropis. Ekosistem

Porites lobata) adalah karang penting dalam

ini mempunyai produktivitas yang tinggi.

menyusun terumbu karang di Kepulauan

Komponen biota terpenting di suatu terumbu

Indonesia. Lebih lanjut menurut Suharsono

karang adalah hewan karang batu (stony coral),

(1996) karang Porites mempunyai persebaran

hewan yang tergolong ordo Scleractinia yang

yang luas dan tersebar di seluruh Indonesia.

kerangkanya

kapur.

Hal ini disebabkan karang Porites merupakan

Ekosistem terumbu karang ditandai dengan

karang yang mampu hidup pada berbagai

perairan yang selalu hangat dan jernih,

kondisi Iingkungan seperti pada daerah yang

produktif dan kaya CaCO3 (kapur). Terumbu

tersedimentasi

karang juga merupakan tempat hidup bagi

tersedimentasi tlnggi, daerah yang mempunyai

berbagai biota laut tropis Iainnya sehingga

salinitas rendah dan tinggi (Morton, 1990).

terumbu karang memiliki keanekaragaman

Disamping itu, Porites dapat hidup pada

jenis biota sangat tinggi dan sangat produktif,

berbagai macam habitat seperti pada daerah

keanekaragaman biota di terumbu karang

yang berbatu, berpasir, dan pada pecahan

dengan bentuk dan warna yang beranekaragam

karang (Sakai dan Yamazato, 1986).

terbuat

dari

bahan

rendah

dan

daerah

pula menjadikan terumbu karang merupakan

Pertumbuhan karang sangat berguna

panorama di dasar laut yang sangat indah

untuk berbagai kepentingan seperti untuk

(Suharsono, 1996).

kepentingan

24

studi

biologi

yaitu

untuk

Laju Pertumbuhan Karang.....

24 - 33

(Wahyu Andy Nugraha)

mengetahui kecepatan tumbuh karang dan

Laju pertumbuhan karang berbeda-

untuk studi ekologi yaitu untuk mengetahui

beda tergantung pada umur, spesies, dan

kondisi

karang

kondisi lingkungan dimana karang itu tumbuh

(Buddemeier dan Kinzie, 1976) Untuk itu studi

seperti faktor kedalaman, laju sedimentasi,

pertumbuhan karang sangatlah penting dalam

cahaya, dan suhu (Buddemeier dan Kinzie,

kontribusi perkembangan IPTEK kelautan.

1976). Sehingga untuk melakukan upaya

optimum

Sebagai

pertumbuhan

ekosistem

yang

sangat

rehabilitasi

dan

konservasi

perlu

produktif pengelolaan terumbu karang secara

memperhatikan laju pertumbuhan di tempat

lestari

tersebut.

dan

berkesinambungan

sangatlah

penting artinya. Usaha konservasi terumbu


karang

membutuhkan

suatu

Karang

pengetahuan

Porites

lutea

merupakan

karang masif (berbentuk seperti batu) yang

tentang pertumbuhan karang khususnya laju

merupakan

pertumbuhannya (Buddemeier dan Kinzie,

terumbu karang di kawasan Indo-Pasifik.

1976).

Karang jenis ini sangat melimpah di perairan

komponen

penting

penyusun

Laju pertumbuhan karang dapat diukur

Indonesia (Suharsono, 1996). Oleh karena itu,

dengan berbagai cara seperti pengukuran

laju pertumbuhan karang Porites lutea ini perlu

pertambahan panjang linier, area, volume, atau

dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk

berat kerangka kalsiumnya dan dengan metode

mengetahui

seberapa

retrospektif.

pertumbuhan

karang

Tetapi

untuk

mengamati

cepatkah

Porites

lutea

laju
yang

pertumbuhan tahunan karang dengan cara

tumbuh di perairan Karimunjawa dan perairan

pengukuran pertambahan panjang linier, area,

Bangkalan.

volume, atau berat kerangka kalsiumnya


membutuhkan waktu yang cukup lama dan
tidak

dapat

menentukan

karang

Pengambilan sampel dilaksanakan pada

(Buddemeier dan Kinzie, 1976)., maka dengan

bulan September 2002 dan Mei 2006 di

metode yang berkenaan dengan tinjauan ke

perairan Bangkalan, sedangkan penyinaran

belakang

pembentukan

dengan sinar-X dilakukan di instalasi radiologi

keuntungan

RSU dr. Karyadi Semarang pada bulan

tersendiri, karena pengujian pertumbuhan masa

Oktober 2002 dan RSU dr. Sutomo Surabaya

lalu sudah tergambar pada kerangka (Brown,

pada bulan Juni 2006.

1985). Metode retrospektif yaitu metode

Pengambilan dan persiapan sampel

(retrospektif)

kerangka

pengukuran

karang

laju

umur

METODE PENELITIAN

dan

diperoleh

pertumbuhan

dengan

Pengambilan sampel dilakukan dengan

pemotretan kerangka karang dengan peralatan

menggunakan peralatan SCUBA dan palu serta

radiologi (sinar-X).

25

EMBRYO VOL. 5 NO. 1

JUNI 2008

ISSN 0216-0188

tatah. Sampel karang yang diambil mempunyai


ukuran

yang

relatif

sama

Analisa laju pertumbuhan P. lutea

untuk

tersebut diambil secara vertikal dari pola

menghilangkan kesalahan interpretasi, yaitu

pertumbuhannya

untuk

setiap

diameter sekitar 10 cm

dimana

tahun

paling

karena ukuran ini

lingkar

specimen,
atas

yang

diharapkan tidak terlalu kecil dan tidak terlalu

diasumsikan sebagai tahun yang paling muda.

besar, sehingga tidak merusak ekosistem, dan

Data diperoleh dengan mengambil dua garis

koloni pada diameter 10 cm sudah dapat

secara vertikal dari titik pertumbuhan ke ujung

menggambarkan

koloni

pertumbuhan. Dalam satu tahun terdapat warna

karang. Jumlah koloni sampel yang diambil

gelap dan terang yang menunjukkan dalam

sebanyak 10 sampel per lokasi penelitian.

satu

laju

Kemudian

pertumbuhan

koloni

karang

menunjukkan

porselin)

melintang

dari

atas

ketebalan

sekitar

ke
6-7

dengan
bawah,
mm,

dua

musim

yang

pertumbuhan

karang

ketika

kondisi cuaca kurang baik atau musim hujan

Selanjutnya sampel dipotong dengan gergaji


(gergaji

terdapat

mempengaruhi pertumbuhan. Warna hitam

tersebut

dicuci dengan air tawar dan dikeringkan.

mesin

tahun

sehingga cahaya kurang terang

posisi

dan laju

kalsifikasi biasanya kurang cepat dan densitas

dengan

kapur yang terbentuk tinggi (biasanya di sebut

kemudian

high density/HD). Warna terang menunjukkan

dibersihkan sisa kapurnya dan siap untuk di

pertumbuhan karang pada saat musim panas

sinar-X (Lough dan Barnes, 1992; Edinger,

atau kemarau, cahaya cukup terang, laju

1998).

kalsifikasi sangat cepat dan densitas kapur


Analisa

pertumbuhan dengan metode

yang dibentuk rendah (low density/LD) (Lough

retrospektif

and Barnes,1992).

Potongan koloni karang ditempatkan


pada media alumunium disusun rapi, dan

HASIL DAN PEMBAHASAN

disinar-X dalam peralatan tertutup. Sampel

Laju pertumbuhan Porites lutea di

difoto dengan sumber dari film berjarak 1 m.

Perairan Karimunjawa berkisar antara 5.38-17

Laju pertumbuhan P. lutea dapat dihitung dari

mm/tahun dengan umur berkisar antara 4-8

hasil sinar-X yang berupa film negatif, (Lough

tahun, sedangkan laju pertumbuhan karang di

dan Barnes, 1992; Edinger, 1998), yang

Perairan Bangkalan berkisar antara 6 15

selanjutnya di scan dengan scanner bercahaya

mm/tahun. Tiap koloni karang mempunyai laju

ganda sehingga didapatkan hasil gambar yang

pertumbuhan

jelas. Kemudian hasil gambar scan di cetak

yang

berbeda-beda.

Namun

secara umum karang Porites lutea di Perairan

dengan printer pada ukuran yang sebenarnya.

26

Laju Pertumbuhan Karang.....

24 - 33

(Wahyu Andy Nugraha)

Bangkalan mempunyai laju pertumbuhan yang

Hal ini terlihat dari parameter perairan lokasi

normal.

penelitian
Menurut

Buddemeier

dan

yang

cukup

bagus

yang

Kinzie

memungkinkan karang hidup. Dilihat dari

(1976) laju pertumbuhan karang massive

temperaturnya, kedua lokasi penelitian cukup

berkisar antara 4 20 mm/th. Dari laju

hangat untuk tumbuhnya karang dengan cepat.

pertumbuhan karang Porites lutea di kedua

Suhu air ideal untuk pertumbuhan karang

lokasi penelitian dapat dikatakan mempunyai

adalah 28-31C (Lough and Barnes, 2000;

laju pertumbuhan yang normal.

Howe and Marshall, 2002).

Laju pertumbuhan yang normal ini


kemungkinan besar karena lokasi pertumbuhan
masih mempunyai kondisi yang cukup bagus.

Tabel 1. Faktor fisika perairan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan karang di kedua lokasi
penelitian
Parameter
Karimunjawa
Bangkalan
Suhu (0C)

30

28

Salinitas ()

33

30

Sedimentasi (mg/cm2/hari)

3.5

12.2

6.2

Kecepatan arus (cm/det)

Kecepatan arus di lokasi perairan juga


sangat

mendukung

pertumbuhan

masih muda dan ukuran karang Porites lutea di

karang.

kedua

lokasi

penelitian

yang

rata-rata

Karang membutuhkan aliran air yang cukup

berukuran kecil ini mengindikasikan bahwa

untuk

karang ukuran ini merupakan karang hasil

melakukan

pertumbuhan.

Hasil

penelitian Nakamura dan Yamasaki (2005)

rekrutmen baru.

pada karang Pocillopora damicornis and


Stylophora

pistillata

menunjukkan

Laju pertumbuhan setiap tahun pada

bahwa

satu koloni tidak sama, pada tahun yang sama

kedua karang menunjukkan pertumbuhan yang

pun laju pertumbuhan tiap koloni tidak sama

baik pada percobaan dengan arus yang cukup.

antara satu koloni dengan koloni yang lain

Umur koloni karang pada diameter

pada lokasi dan kedalaman yang sama.

yang relatif sama (10 cm) mempunyai umur

Menurut Nybakken (1988) laju pertumbuhan

yang berbeda-beda berkisar antara 4 - 8 tahun.

pada koloni koloni adalah berbeda, yang

Menurut Veron (1986) umur karang Porites

disebabkan oleh umur dan faktor lingkungan di

dapat mencapai hampir 100 tahun. Umur yang

mana karang itu tumbuh. Pada koloni karang

27

EMBRYO VOL. 5 NO. 1

JUNI 2008

ISSN 0216-0188

yang muda cenderung untuk tumbuh lebih

sama (uniform) maka kemungkinan besar

cepat daripada koloni karang yang sudah tua.

perbedaan

Kondisi lingkungan juga sangat berpengaruh

disebabkan oleh sifat bawaan maupun genetis

terhadap

(Isdale, 1986).

pertumbuhan

karang.

Kondisi

lingkungan yang baik dan sesuai untuk

laju

Sedimentasi

pertumbuhan

tersebut

juga

berpengaruh

pertumbuhan

karang. Laju

tumbuhnya karang, maka karang akan tumbuh

terhadap

dengan baik dan relatif cepat.

sedimentasi di Perairan Karimunjawa adalah

laju

Pada diameter koloni yang sama

termasuk kategori kecil-sedang, sedangkan laju

ternyata memiliki umur yang berbeda. Hal ini

sedimentasi di Perairan Bangkalan termasuk

sesuai pernyataan Buddemeier dan Kinzie

kategori sedang-besar. Menurut Pastorok dan

(1976) yang menyatakan bahwa tidak ada

Bilyard (1985) pengaruh sedimentasi terhadap

ukuran

pertumbuhan karang dapat terjadi secara

koloni

pertumbuhan

yang

yang

mempengaruhi

diekspresikan

dengan

langsung maupun tidak langsung mematikan

pertambahan panjang atau jarak. Hal ini

binatang

disebabkan laju pertumbuhan setiap koloni

tersebut ukurannya cukup besar atau banyak

berbeda, sehingga pada ukuran diameter yang

sehingga menutupi polip atau mulut karang

sama

berbeda.

sehingga aktifitas karang menjadi terganggu.

Pertumbuhan pada koloni yang sama dan pada

Pengaruh tidak langsung adalah perairan

tahun yang berbeda adalah berbeda, hal ini

menjadi keruh dan mengakibatkan turunnya

disebabkan faktor lingkungan yang selalu

penetrasi cahaya matahari yang penting untuk

berubah setiap saat. Menurut Buddemeier dan

fotosintesis

Kinzie

zooxanthellae, dan banyaknya energi yang

mampunyai

(1976)

umur

yang

pertumbuhan

karang

karang,

alga

yaitu

apabila

simbion

sedimen

karang,

yaitu

dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti

dikeluarkan

cahaya, suhu, salinitas, dan kedalaman, dan

menghalau sedimen tersebut, yang berakibat

laju sedimentasi.

turunnya laju pertumbuhan karang (Pastorok

Pada

tahun

yang

sama,

laju

binatang

karang

untuk

dan Bilyard, 1985).

pertumbuhan setiap koloni juga berbeda, hal


ini

oleh

Laju pertumbuhan rata-rata tahunan

diduga disebabkan karena faktor intern

karang porites lutea tertinggi pada tahun

karang itu sendiri seperti umur dan sifat

pertama

genetik. Jika perbedaan laju pertumbuhan yang

pertumbuhan rata terendah tahun terakhir

sangat berbeda terjadi pada lingkungan yang

pertumbuhan (Gambar 1).

28

pertumbuhan,

sedangkan

laju

Laju Pertumbuhan Karang.....

24 - 33

(Wahyu Andy Nugraha)

12
(mm/tahun)

Laju pertumbuhan rata-rata

14

10
8

Karimunjawa

Bangkalan

4
2
0
1

Tahun

Gambar 1.

Laju Pertumbuhan Rata-rata Tahunan Karang Porites lutea di kedua lokasi


penelitian

Hal ini sesuai dengan pernyataan


Buddemeier

dan

Kinzie

(1976)

ruang

yang

dengan

membersihkan

karang

lain

maupun

sedimen

yang

menyumbat

menyatakan bahwa pertumbuhan lebih cepat

polipnya yang cukup besar (Chadwick-Furman

pada tahap awal pertumbuhan setelah terjadi

and Loya, 1992). Bramanti, et al (2005) juga

settling planula. Hal ini diduga kuat karena

menemukan bahwa laju pertumbuhan karang

energi yang didapatkan karang pada awal

merah Corallium rubrum semakin berkurang

pertumbuhan

dengan bertambahnya umur.

banyak

digunakan

untuk

pertumbuhan. Hal ini terjadi karena karang

Laju pertumbuhan rata-rata tahunan

berusia muda masih belum berusaha untuk

karang porites lutea di Perairan Karimunjawa

menggunakan energi yang diperoleh lewat

lebih

fotosintesis

selain

pertumbuhan di Perairan Bangkalan (Gambar

pertumbuhan. Berbeda dengan karang dewasa

1). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh

yang mempergunakan energi yang diperoleh

tingginya tekanan lingkungan di Perairan

untuk

Bangkalan dibandingkan dengan tekanan di

untuk

berbagai

aktivitas

macam

lain

aktivitas

seperti

persaingan atau kompetisi memperebutkan

tinggi

Perairan

29

dibandingkan

dengan

laju

Karimunjawa.

EMBRYO VOL. 5 NO. 1

JUNI 2008

ISSN 0216-0188

Laju pertumbuhan (mm)

Karimunjawa
8
7
6
5
4
3
2
1
0

Kemarau
Hujan

10

Karang

Laju pertumbuhan (mm)

Bangkalan
8.00
7.00
6.00
5.00
4.00
3.00
2.00
1.00
0.00

Kemarau
Hujan

10

Karang

Gambar 2. Laju Pertumbuhan Musiman Karang Porites lutea di kedua lokasi penelitian

Secara

umum,

laju

pertumbuhan

menunjukkan bahwa karang tumbuh lebih

karang Porites lutea di kedua lokasi penelitian

cepat dengan cahaya yang cukup (Houck, et al,

pada musim kemarau lebih tinggi atau cepat

1977), dan laju pertumbuhan karang berkurang

daripada laju pertumbuhan pada musim hujan

hampir setengahnya dalam kondisi gelap

(Gambar 2). Hasil ini sesuai dengan hasil yang

(Hidaka, 1992).

diperoleh oleh Loya (1985) di Laut Merah,

Laju pertumbuhan juga berhubungan

dimana karang tumbuh lebih cepat pada musim

dengan curah hujan tahunan. Analisis regresi

panas daripada musim dingin. Hal ini diduga

antara

kuat dikarenakan intensitas cahaya yang lebih

pertumbuhan rata-rata menunjukkan bahwa

banyak pada musim kemarau daripada musim

apabila

hujan. Intensitas cahaya yang cukup sangat

meningkat maka laju pertumbuhan rata-rata

dibutuhkan karang untuk pertumbuhan. Studi

tahunan akan semakin lambat (Gambar 3).

30

curah

curah

hujan

hujan

tahunan

rata-rata

dan

laju

tahunan

Laju Pertumbuhan Karang.....

24 - 33

(Wahyu Andy Nugraha)

Laju pertumbuhan ratarata (mm)

Karimunjawa
16
14
12
10
8
6
4
2
0
2000

y = -0.0055x + 24.844
R2 = 0.6949

2200

2400

2600

2800

3000

3200

Curah hujan tahunan (mm)

14

y = -0.0067x + 24.574
R2 = 0.7092

12
rata (mm)

Laju pertumbuhan rata-

Bangkalan

10
8
6
4
2
0
2000

2100

2200

2300

2400

2500

2600

Curah hujan tahunan (mm)

Gambar 3.

Analisa regresi antara laju pertumbuhan rata-rata dan curah hujan tahunan

rata

KESIMPULAN
Laju pertumbuhan rata-rata tahunan

tinggi

dibandingkan

dengan

meningkat

maka

laju

pertumbuhan rata-rata tahunan akan semakin

karang porites lutea di Perairan Karimunjawa


lebih

tahunan

lambat.

laju

pertumbuhan di Perairan Bangkalan meskipun

DAFTAR PUSTAKA

tidak ada perbedaan laju pertumbuhan yang

Brown, B.E. 1985. Human Induce Damage to

signifikan pada kedua lokasi. laju pertumbuhan

Coral Reefs. Result of A Regional

tertinggi terjadi pada tahap awal pertumbuhan.

UNESCO (COMAR) Work Shop With

Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa curah

Advanced

hujan sangat berpengaruh pada pertumbuhan

University-National

karang. Analisis regresi antara curah hujan

Oceanology. Jakarta.

tahunan

dan

laju

pertumbuhan

rata-rata

menunjukkan bahwa apabila curah hujan rata-

31

Training.

Diponegoro
Institute

of

EMBRYO VOL. 5 NO. 1

JUNI 2008

ISSN 0216-0188

Bramantia, L., G. Magagninia, L. De Maiob,

Houck, E. H., R. W. Buddemeier, S. V. Smith,

and G. Santangelo. 2005. Recruitment,

and P. L. Jokiel. 1977. The respons of

early survival and growth of the

coral

Mediterranean red coral corallium

strontium content to light intensity and

rubrum (L 1758), a 4-year study.

water temperature. Proceedings of the

Journal

Third

of

Experimental

Marine

Biology and Ecology, 314 : 69 78

growth

rate

and

International

skeletal

Coral

Reef

Symposium, Miami, 425-431

Buddemeler, R.W. and R.A. Kinzie III. 1976.

Howe,

S.A.

and

A.T.

Marshall.

2002.

Coral growth. Ocea. Mar. Biol. Ann.

Temperature effects on calcification

rev. 14:183-225.

rate and skeletal Deposition in the


temperate coral, Plesiastrea versipora

Chadwick, N.F. and Y. Loya. 1992. Migration,

(Lamarck). Journal of Experimental

habitat use, and competition among

Marine Biology and Ecology, 275:63

mobil corals (scleractinia : fungiidae)

81

in the gulf of eilat, red sea. Marine


Biology, 114:617-623

Huston, M. A. 1985. Pattern of spesies


diversity on coral reefs. Ann. Rev.

Edinger, E.N. 1998. Effect of Land Based

Ecol. Sys, 16:147-177.

Pollution on Indonesia Coral Reefs :


Biodiversity,

Growth

Isdale, P. 1977. Variation in growth rate of

Rates,

Bioerosian, and Applications to The

hermatypic

coral

in

uniform

Fossil Record. McMaster University.

environment. Proceedings of the Third

(PhD Thesis). 297 pp.

International Coral Reef Symposium,


Miami, 403-408

Hidaka, M. 1992. Skeletal Growth Rate and


Lough,

Surface Structure of the Coral Galaxea

J.M.

and

Comparisons

fascicularis Kept in Darkness for

D.J.
of

Barnes.
skeletal

1992.
density

variations in Porites from the central

Various Lengths of Time. Proceedings

Great

of the Seventh International Coral

Barrier

Reef.

Journal

of

Experimental Marine Biology and

Reef Symposium, Guam, Vol. 1, 521-

Ecology., 155: 1-25.

526

32

Laju Pertumbuhan Karang.....

Lough,

24 - 33

(Wahyu Andy Nugraha)

J.M., and D.J. Barnes. 2000.

Pastorok, R.A. and G.R Bilyard. 1985. Effects

Environmental controls on growth of

of sewage pollution on coral-reef

the massive coral porites. Journal of

communities.

Experimental Marine Biology and

Progress Series, 21:175-189

Marine

Ecology

Ecology, 45 : 225243
Sakai, K. and K. Yamazato. 1986. Distribution
Loya, Y. 1985. Seasonal changes in growth

and community structure of hermatypic

rate of a red sea coral population.

corals in the Sinchang Island, inner part

Proceedings of the Fifth International

of gulf of Thailand. Galaxea. 5: 27-74.

Coral Reef Symposium, Tahiti, 187191

Supriharyono, 2000. Pengelolaan Ekosistem


Terumbu Karang. Djambatan, Jakarta,

Morton, J. 1990. The Shore Ecology of the

108 hal.

Tropical Pasific. Unesco, 282 pp.


Tomascik, T, A.J. Mah, A. Nontji, M.K.
Nakamura, T. and
Requirement

H. Yamasaki. 2005.
of

water-flow

Moosa. 1997. The Ecology of the

for

Indonesian Seas. Part 1. Periplus

sustainable growth of pocilloporid


corals

during

high

Editions. Singapore. 642 pp.

temperature

periods. Marine Pollution Bulletin, 50

Van Woesik, R. 1998. Colonial organism and

: 11151120

coral growth. (Tidak Dipublikasikan).


University of Ryukus, Japan.

Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut Suatu


Pendekatan Ekologi. P.T. Gramedia,

Veron, J.E.N. 1986. Corals of Australia and

Jakarta, 457 hIm.

The Indo Pasific. Angus and Robertson


, Sydney Australia, 644 pp.

33