Anda di halaman 1dari 6

KAKEKKU SEORANG PEMULUNG

OLEH : ZAHRA RADHIYA

Namaku Atika Sarifa. Orang orang terdekatku biasa memanggilku Ifa. Dari dulu
aku tidak pernah merasakan apa itu di cintai oleh nenek dan kakek. Kakek dan
nenekku baik dari pihak ayah maupun pihak ibu telah lama meningal sejak aku belum
lahir. Aku merasa seperti orang tidak beruntung. Mengapa aku berfikir seperti itu ?
Soalnya aku merasa iri kepada teman temanku karena mereka bisa merasakan
gimana rasanya disayangi sama kakek dan nenek. Pernah waktu hari minggu aku
datang ke rumah teman dekatku. Dia bernama Sari. Ternyata dirumahnya ada kakek
neneknya yang baru datang dari Yogyakarta.
Aku disana melihat Sari sangat senang karena dia dibawakan makanan kesukaan dari
neneknya yang pintar masak. Aku yang melihat kejadian itu merasa iri sekali. Aku
pun buru buru pulang. Agar rasa iri ini tidak bertambah.
Fa, tunggu donk kamu koq jalannya cepat banget, aku kan tadi masih beresin buku
kata Sari
Aku buru buru karena aku mau ngerjain pr kataku
Tidak biasanya kamu rajin ngerjain pr ? tanya Sari
Kamu ini giliran aku ngerjain pr kamu marah balasku
Tidak, aku tadi Cuma becanda kata Sari
Sudah ya, aku udah dijemput nih sama kakekku kata sari menambahkan
Kakek fikirku dalam hati. Enaknya jadi Sari udah orangnya pintar, baik, dia juga
punya kakek yang selalu menyayanginya. Tidak seperti aku yang tidak mempunyai
kakek dan nenek.
Ifa, kenapa wajah kamu cemberut tidak seperti biasanya tanya mama kepadaku saat
aku tiba dirumah
Ma, Ifa mau nanya tapi mama gak boleh marah yakataku
Memangnya anak mama ini mau nanya apa kata mama sambil membelai rambutku.

Ma, Se . . . Sebenarnya aku ini masih punya kakek gak? tanyaku


Mama sikapnya langsung berubah yang tadinya senyum tiba- tiba wajah mama
terlihat gelagapan.
Ma, iya atau tidak sih kataku ngotot
Ti . . tidak, kamu tidak punya kakek. Kakek kan udah meninggal kata mama
panjang lebar
Ooo gitu aku merasa kecewa
Kenapa koq kamu nanya begituan, bukannya mama pernah kasih tahu kamu tanya
mama
enggak koq ma, gak ada apa apa
Ya udah, sekarang kamu ganti baju baru makan siang. Mama sudah masakin
makanan kesukaanmu opor ayam
Baik mamaku yang tersayang jawabku sambil menuju kekamar.
....
Di sekolah
Ifa, nanti waktu hari ulang tahun sekolah kitakan diharuskan bawa kakek kita dan
menceritakan pengalaman kita bersama kakek. Setahu aku kamu kan tidak punya
kakek lagi tanya Sari
Aku juga tidak tahu datang atau nggak jawabku
Aku benci hari ulang tahun sekolahku tahun ini. Kenapa sekarang temanya adalah
kakek. Biasanya kan Cuma tema-tema biasa. Kenapa sekarang harus kakek tanyaku
dalam hati
Tet . . . tet . . . tet
Suara bunyi bel terdengar
Anak-anak sekarang kita akan menulis, temanya tentang kakek kata ibu guru
Ibu,

tidak

boleh

yang

menulis

tentang

hal

yang

lain

tanyaku

Maaf ya Ifa ini sudah ketentuan dari sekolah. Nanti tulisan siapa yang bagus akan
dibacakan diwaktu hari ulang tahun sekolah kata ibu guru lagi
Iya, Bu jawabku dengan terpaksa
Setelah sekian banyaknya kertas yang ku robek akhirnya aku menulis dibukuku.

MAAF YA IBU GURU AKU TIDAK MEMPUNYAI KAKEK JADI AKU TIDAK
BISA MENULISKAN TENTANG KAKEK. Aku pun langsung mengumpulkan tugas
yang diberikan oleh ibu guru. Untung saja waktu aku ngumpulin tugas bel sekolah
berbunyi. Jadi aku tidak perlu mendengar pertanyaan aneh aneh dari ibu guru.
Hari ini aku tidak dijemput oleh ayah. Karena hari ini ayah punya pertemuan penting
yang tak bisa ditinggal. Aku berjalan melamun, tanpa sadar aku telah menabrak
seorang kakek tua. Kakek itu terlihat sangat lusuh dan juga terlihat kelaparan. Aku
teringat bahwa didalam tas ku ada sepotong roti yang belum kumakan sangat istirahat
tadi.
Kakek, makanlah roti ini kataku
Tidak usah nak, biar kakek makan nasi yang ada di tong sampah, udah biasa
kogjawab kakek tua
Tapi Kek, nasi yang ada di tong sampah itukan sudah basi. Lebih baik kakek makan
roti ini saja kataku lagi
Nak, kamu baik sekali. Mau memberi makan kakek-kakek yang tua. kata kakek itu
Kakek aku mau pulang. Semoga aja dengan sepotong roti ini kakek bisa kenyang
kataku sambil pamit pulang
Hari ini aku bahagia sekali, karena aku bisa merasakan gimana diperhatikan oleh
kakek. Walaupun kakek yang aku temukan dijalan itu bukan lah kakekku yang
sebenarnya. Aku

ingin sekali bertemu dengan kakek itu lagi.

Keesokan harinya . . .
Setelah pulang sekolah aku buru-buru mencari kakek tersebut. Tapi dari tadi aku tidak
melihat kakek itu. Aku pun mulai putus asa. Namun terlihat dari jauh kakek itu sedang
mengais sampah . Tak tega aku melihatnya. Langsung saja aku menghampiri kakek
itu.
Halo kakek apa kabar tanyaku basa-basi
Oh, kamu anak yang kemarin ya. Kabar kakek baik-baik saja. jawab kakek
Ayo, kalau kamu mau ngobrol sama kakek kitaduduk dulu disana saj ajak kakek
Aku pun menurut apa yang kakek itu katakan. Kami pun duduk di sebuah kursi
taman.

Kakek, nama kakek siapa sih ? tanyaku lagi


Orang sekitar rumah kakek biasanya memanggil Kakek Tama. Oh ya nama adek
siapa kakek kan belum tahu? jawa kakek
Nama saya Atika Sarifa dan biasa dipanggil Ifa
Ifa, kenapa Ifa mencari kakek lagi?
Ifa sebenarnya mau tanya, tapi kakek jangan marah ya. Memangnya kakek tidak
punya keahlian ya selain jadi pemulung?
Kakek sebenarnya punya keahlian bisa memperbaiki mobil. Ya Ifa tahu lah sekarang
mana ada orang yang mau memperkerjakan kakek-kakek tua.
Ada koq kek. Kemarin saya dengar papa saya membutuhkan tenaga kerja yang bisa
memperbaiki mobil di bengkelnya, nanti saya bilangin.
Ifa kamu memang anak yang baik.
Setelah aku bertemu kakek itu. Aku langsung pulang kerumah untuk menyanyakan
kepada ayah. Tapi ketika sampai dirumah papa lagi sibuk, aku pun mengundurkan
niatku itu. Setelah melihat papa tidak sibuk baru aku menanyakan hal itu. Ternyata
papa mau menerima Kakek Tama untuk bekerja di bengkelnya. Papa meminta agar
aku membawa kakek Tama ke bengkel besok. Aku senang sekali. Aku pun buru-buru
kekamar untuk menyambut hari esok yang cerah.
Aku pun langsung mengajak Kakek Tama menemui ayah.
Papa, ini Kakek Tama yang aku bilang kemarin. ucapku.
Ya, silakan duduk. kata papa sambil membalikan badannya. Tapi ketika papa
melihat kakek Tama wajahnya langsung berubah. Begitu juga dengan Kakek Tama,
dia kelihatan kaget. Ifa, papa gak jadi menerima kakek ini. Dan papa mohon kamu
tidak lagi bertemu dengan kakek ini.
Tapi kemarin papa bilang papa mau menerima Kakek Tama. Walaupun umurnya
sudah tua. Papa bohong
Ifa, ikut papa sekarang kata papa sambil menarikku
Budi,jangan kasar dengan cucuku teriak kakek Tama. Aku terkejut kenapa Kakek
Tama mengetahui nama papa. Dan kenapa pula ia bilang aku ini cucunya.
Eh, kakek jangan sembarang bicara. Dia ini bukan cucu kakek. Jangan ngakungaku.
Budi, kenapa kamu tidak mau mengakui ayahmu sendiri

Kakek, bukan lah ayah saya. Satpam usir kakek ini teriak papa memanggil satpam.
Papa pun langsung mengajakku pulang. Ketika sampai dirumah aku langsung
menanyakan kepada papa kenapa Kakek Tama menganggapku cucunya. Namun papa
langsung marah dan menyuruhku masuk kedalam kamar. Didalam kamar aku
mengangis sejadi-jadinya. Aku masih bertanya-tanya tentang kejadian tadi. Aku pun
berencana menanyakan kejadian tadi kepada Kakek Tama.
Esok harinya setelah pulang sekolah. Aku pun buru-buru keluar kelas. Untuk
langsung bertemu Kakek Tama. Tapi sayangnya aku sudah dijemput. Besoknya juga
begitu, hingga beberapa minggu ini aku tidak bisa keluar rumah.
Tanpa sengaja aku mendengar percakapan antara papa dan mama. Mereka ternyata
sedang membicarakan Kakek Tama. Mama berkata bahwa papa harus mengakui
ayahnya sendiri. Aku terkejut mendengar kata mama tadi. Ternyata Kakek Tama
adalah ayahnya papa. Setelah mendengar itu aku pun tanpa permisi aku langsung
membuka pintu kamar. Papa dan mama terkejut karena tiba-tiba aku datang.
Ooo, jadi papa tidak mau mengakui ayah sendiri. Kenapa pa, apa jangan jangan
papa malu mempunyai ayah seorang pemulung. kataku sambil terisak isak
Bukan itu maksud papa jawab papa
Pa, selama ini aku menginginkan mempunyai kakek. Tapi papa dan mama selalu
bilang kalau aku tidak mmpunyai kakek. Dan sekarang aku minta papa untuk minta
maaf
Iya, baiklah papa akan segera meminta maaf kepada ayah papa. dengan raut wajah
menyesal
Oke, besok aku mengantar papa ke rumah Kakek Tamajawabku gembira
Setelah sampai didepan rumah Kakek Tama, aku pun mengetuk pintunya. Beberapa
saat kemudian terdengar derap kaki seseorang dan juga terdengar suara batuk.
Ternyata Kakek Tama sedang terserang batuk biasa. Setelah melihat Kakek Tama
papa pun langsung mencium kaki kakek dan papa minta maaf kepada Kakek Tama
karena dia tidak mau mengakui ayahnya sendiri. Aku yang melihat kejadian itu
menitikan air mata. Kakek Tama pun memaafkan papa.

Walaupun saya mempunyai kakek seorang pemulung. Saya tetap bangga. Karena dia
orang yang sabar dan tabah menghadapi cobaan. Inilah akhir cerita saya mengenai
kakek saya. Setelah aku selesai bercerita. Terdengar suara tepuk tangan penonton.
Aku pun langsung memeluk kakekku yang tercinta.
.