Anda di halaman 1dari 126

PENENTUAN CADANGAN MINYAK SISA DENGAN METODE

DECLINE CURVE PADA LAPISAN DFORMASI WLAPANGAN “T”

SKRIPSI

“ D ” FORMASI “ W ” LAPANGAN “T” SKRIPSI Oleh : OKTARIA GALUHSARI NIM :

Oleh :

OKTARIA GALUHSARI NIM : 113 04 0100

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN

FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

YOGYAKARTA

2011

PENENTUAN CADANGAN MINYAK SISA DENGAN METODE

DECLINE CURVE PADA LAPISAN DFORMASI WLAPANGAN “T”

SKRIPSI

Fakultas Teknologi Mineral Yogyakarta
Fakultas Teknologi Mineral
Yogyakarta

Diajukan sebagai salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Teknik pada Program Studi Teknik Perminyakan

Universitas Pembangunan Nasional "Veteran"

Oleh :

OKTARIA GALUHSARI NIM : 113 04 0100

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN

FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

YOGYAKARTA

2011

i

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

Saya menyatakan bahwa judul dan keseluruhan isi dari skripsi ini adalah

asli karya ilmiah saya, dan saya menyatakan bahwa dalam rangka menyusun,

berkonsultasi dengan dosen pembimbing hingga menyelesaikan skripsi ini, tidak

pernah melakukan penjiplakan (plagiasi) terhadap karya orang atau pihak lain

baik karya lisan maupun tulisan, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

Saya menyatakan bahwa apabila dikemudian hari terbukti bahwa skripsi

saya ini mengandung unsur jiplakan (plagiasi) dari karya orang atau pihak lain.

Maka sepenuhnya menjadi tanggungjawab saya, diluar tanggungjawab dosen

pembimbing Dosen Pembimbing saya. Oleh karenanya saya sanggup bertanggung

jawab secara hukum dan bersedia dibatalkan/dicabut gelar kesarjanaan saya oleh

Otoritas / Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, dan

diumumkan kepada khalayak ramai.

Yogyakarta, Agustus 2011 Yang menyatakan

Oktaria Galuhsari

Nomor Telepon Alamat Email Nama dan Alamat Orang Tua

: 081328552345 : oktaria.galuhsari@gmail.com : Idayat Suprasmanto, Dukuh Ngestiharjo RT 021 RW 009 Wates, Kulonprogo

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia- Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul PENENTUAN CADANGAN MINYAK SISA DENGAN METODE DECLINE CURVE PADA LAPISAN DFORMASI WLAPANGAN “T” Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan penulis dalam integrasi ilmu yang disesuaikan pada kondisi lapangan dan dianggap menarik bagi penulis untuk dijadikan sebagai judul skripsi. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat akademis untuk mendapatkan gelar sarjana pada Program Studi Teknik Perminyakan, Fakultas Teknologi Mineral, UPN ”Veteran” Yogyakarta. Dengan selesainya Skripsi ini, penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada :

1. Prof. Dr. H. Didit Welly Udjianto, MS., selaku Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran “ Yogyakarta.

2. Dr. Ir. S. Koesnaryo, M.Sc. IPM,. selaku Dekan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.

3. Ir. Anas Puji Santoso, MT., selaku Ketua Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.

4. Ir. H. Avianto Kabul Pratiknyo, MT. selaku Sekretaris Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

5. DR. Ir. H. Sudarmoyo, SE, MS., selaku pembimbing I

6. M. Th Kristiati EA., ST, MT., selaku pembimbing II

7. Seluruh Staf pengajar dan pegawai Jurusan Teknik Perminyakan Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.

8. Berbagai pihak yang tidak dapat kami sebuttkan satu persatu yang telah membantu proses pembuatan skripsi ini.

iv

Penulis menyadari bahwa dalam tulisan ini masih banyak terdapat kekurangan, sehingga penulis mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun guna menyempurnakan skripsi ini. Harapan penulis semoga tulisan ini dapat bermanfaat yang memerlukannya,

v

Yogyakarta,

Agustus 2011

Penulis

HALAMAN PERSEMBAHAN

Puji syukur kepada Allah SWT yang pada akhirnya Skripsi dapat diselesaikan dan dipresentasikan dengan baik. Ucapan terimakasih ini dipersembahkan untuk beberapa pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian Skripsi ini, yaitu :

Kedua Orang Tua dan Keluarga yang telah memberi kasih sayang yang tidak pernah putus dalam bentuk dukungan materi, moral, semangat dan doa.

Kepada kedua motivator saya dan selaku dosen-dosen pembimbing yang sabar

menghadapi saya yaitu Bapak DR. Ir. H. Sudarmoyo, SE, MS. dan Ibu Mth. Kristiati EA, ST. MT. yang telah memberikan banyak motivasi dan bimbingan selama proses pembuatan Skripsi.

Kepada teman-teman Minyak Angkatan 02-06 yang telah berbagi ilmu, waktu dan kebersamaan untuk membantu menyelesaikan Skripsi ini.

Kepada sahabat-sahabat penulis yang telah banyak memberikan dukungan moral, spiritual dan waktu sampai Skripsi ini selesai.

vi

RINGKASAN

Lapisan DLapangan “T” memiliki data OOIP yang diketahui sebesar 2.938.000 STB. Sumur yang berproduksi pada Lapisan “D” ada 3 sumur yaitu TA-09, TA-18 dan TA-22. Jumlah sumur aktif sebanyak 2 sumur yaitu TA -09 dan TA-22 yang berproduksi secara commingle dengan lapisan lainnya. Produksi kumulatif minyak (Np) sampai bulan Juli 2009 sebesar 7.375,75 STB dan diperkirakan masih terdapat cadangan minyak sisa. Sehingga perlu dilakukan perhitungan estimasi cadangan minyak sisa yang masih dapat diproduksikan sampai batas economic limit dengan metode Decline Curve. Permasalahan yang timbul dalam penelitian ini adalah seberapa besar cadangan minyak sisa pada Lapisan “D” Lapangan “T”?. Metode penyelesaian untuk penelitian ini menggunakan Analisa Decline Curve dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Pengumpulan data : harga OOIP, data reservoir, biaya operasional, harga minyak, pajak untuk pemerintah dan data produksi minyak. 2. Menentukan RF dan EUR volumetrik. 3. Menghitung alokasi produksi tiap sumur yang memproduksikan minyak secara commingle dengan metode kapasitas aliran. 4. Plotting qo vs t tiap sumur. 5. Menentukan periode penurunan laju produksi. 6. Menentukan tipe Decline Curve berdasarkan nilai eksponen decline (b) dan Di menggunakan metode trial error dan x 2 -chisquare test. 7. Menentukan economic limit rate. 8. Menentukan qo forecast , Np forecast , EUR tiap sumur, EUR Lapisan “D”, umur produksi, RF Decline, cadangan minyak sisa (ERR), dan cadangan minyak sisa yang belum bisa diproduksi dengan metode Decline Curve. Dengan RF volumetrik sebesar 30,98 % maka diperoleh EUR sebesar 910.304,5 STB. Berdasarkan analisa Decline persumur diperoleh jenis Exponential Decline (b=0), Di sumur TA-09 = 0,042/Bulan dan Di sumur TA-22 = 0,049/Bulan. EUR untuk Lapisan Dsampai q limit (34,54 BOPM) adalah 12.757,40 STB dengan umur produksi 47 bulan dari Agustus 2009 sampai Juni 2013, RF saat Decline sebesar 0,43 %, sehingga cadangan minyak sisa (ERR) Lapisan “D” sebesar 5.381,65 STB. Cadangan minyak yang belum bisa diproduksi sebesar 897.547,13 STB atau 30,55 % dari OOIP.

vii

DAFTAR ISI

 

Halaman

HALAMAN JUDUL

i

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

ii

HALAMAN PENGESAHAN

iii

KATA PENGANTAR

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

vi

RINGKASAN

vii

DAFTAR ISI

viii

DAFTAR GAMBAR

xi

DAFTAR TABEL

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

xiv

BAB I. PENDAHULUAN

1

BAB II. TINJAUAN UMUM LAPANGAN T

6

2.1. Letak Geografis Lapangan T

6

2.2. Keadaan Geologi Lapangan T

7

2.2.1. Geologi Umum

7

2.2.2. Stratigrafi Lapangan T

7

2.2.3. Struktur Lapangan T

11

2.3. Kondisi Reservoir Lapisan “D” Lapangan “T”

12

2.4. Sejarah Produksi Lapisan “D” Lapangan “T”

13

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

22

3.1. Penentuan Jumlah Minyak Mula-mula Ditempat (OOIP)

22

3.1.1. Penentuan Recovery Factor Volumetrik

3.1.1.1. Recovery Factor dengan Tenaga Pendorong Water Drive Reservoir

24

3.1.1.2. Recovery Factor dengan Tenaga Pendorong Solution Gas Drive Reservoir

26

3.1.2. Estimated Ultimated Recovery Volumetrik

28

3.2. Penentuan Economic Limit Rate (q limit )

28

3.3. Produksi Kumulatif aktual (Np)

30

viii

3.4. Alokasi Produksi dari Commingle Completion dengan Metode Kapasitas Aliran

………………………………………………………

30

3.5. Metode Decline Curve

 

33

3.5.1.

Exponential Decline

36

3.5.1.1. Hubungan Laju Produksi Terhadap Waktu

36

 

3.5.1.2.

Hubungan Laju Produksi dengan Produksi Kumulatif

38

3.5.2. Hyperbolic Decline

 

39

 

3.5.2.1. Hubungan Laju Produksi Terhadap Waktu

39

3.5.2.2. Hubungan Laju Produksi dengan Produksi Kumulatif

42

3.5.3. Harmonic Decline

 

44

 

3.5.3.1. Hubungan Laju Produksi Terhadap Waktu

44

3.5.3.2. Hubungan Laju Produksi dengan Produksi Kumulatif

46

3.5.4. Penentuan Tipe Decline Curve

48

 

3.5.4.1. Metode Loss Ratio

48

3.5.4.2. Metode Trial Error-X 2 dan Chisquare Test

49

3.5.5. Prediksi Laju Produksi Minyak (qo) dan Kumulatif Produksi Forecast (Np tlimit ) …………………………………………………. 51

3.5.5.1. Prediksi Laju Produksi Minyak (qo) ……………………… 51

52

3.5.6. Estimated Ultimate Recovery (EUR) ………………………………. 52

3.5.7. Prediksi Umur Produksi

3.5.8. Recovery Factor ……………………………………………………. 53

3.5.5.2. Kumulatif Produksi Forecast (Np tlimit ) …………………

52

3.5.9. Estimasi Cadangan Minyak Sisa (ERR)

………………………

53

BAB IV. PERHITUNGAN DAN ANALISA DECLINE CURVE

54

4.1. Penentuan Jumlah Minyak Mula-mula di Tempat (OOIP)

54

4.2. Penentuan Economic Limit Rate

56

4.2.1. Biaya Operasional Lapangan

56

4.2.2. Harga Minyak ……………………………………………………….56

4.2.3. Pajak untuk Pemerintah

56

4.2.4. Perhitungan Harga Economic Limit Rate

56

4.3. Pengolahan Data Produksi Lapangan T

57

4.3.1. Perhitungan Alokasi Produksi

57

4.3.2. Plot Laju Produksi (qo) versus Waktu (t)

58

4.4. Penentuan Cadangan Minyak Sisa dengan Decline Curve

60

4.4.1. Pemilihan Periode (Trend) Produksi untuk Analisa Decline

60

4.4.2. Penentuan Nilai Eksponen Decline

62

4.4.2.1. Metode Loss-Ratio

62

4.4.2.2. Metode Trial Error dan X 2 Chisquare Test

64

4.4.3. Prediksi Laju Produksi Minyak (qo) dan Kumulatif Produksi

Forecast (Np tlimit ) Lapisan “D

72

4.4.3.1. Prediksi Laju Produksi Minyak (qo)

73

4.4.3.2. Kumulatif Produksi Forecast (Np tlimit )

73

4.4.4. Estimated Ultimate Recovery (EUR) Lapisan D

76

ix

4.4.5.

Prediksi Umur Produksi Lapisan “D”

76

4.4.6. Perhitungan Recovery Factor (RF) Lapisan “D”

77

4.4.7. Prediksi Cadangan Minyak Sisa (ERR) Lapisan “D”

77

4.4.8. Prediksi Cadangan Minyak Lapisan “D” yang Belum Terproduksi dengan analisa Decline Curve ……………………………………

78

BAB V. PEMBAHASAN

81

BAB VI. KESIMPULAN

84

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR SIMBOL

LAMPIRAN

x

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1.

Peta Lokasi Lapangan “T”

6

Gambar 2.2.

Stratigrafi Cekungan Barito

9

Gambar 2.3.

Pembagian Lapisan Pada Formasi Warukin Berdasarkan

Log listrik

10

Gambar 2.4.

Depth Structure Hasil Interpretasi Seismik Lapangan “T”

11

Gambar 2.5.

Grafik Sejarah Produksi Minyak Lapisan D Lapangan ”T”

14

Gambar 2.6.

Grafik Performance Production Lapisan D Lapangan ”T”

14

Gambar 2.7.

Grafik Sejarah Tekanan Lapangan ”T” Lapisan D

15

Gambar 2.8.

Profil sumur TA-09 Lapangan “T”

17

Gambar 2.9.

Profil sumur TA-18 Lapangan “T”

19

Gambar 2.10. Profil sumur TA-22 Lapangan “T”

21

Gambar 3.1.

Akumulasi Minyak dan Gas Bumi pada Perangkap Antiklin

23

Gambar 3.2.

Water Drive Reservoir

24

Gambar 3.3.

Grafik Hubungan Tekanan, Laju Alir Minyak, GOR dan

Water Cut pada Water Drive Reservoir

25

Gambar 3.4.

Solution Gas Drive Reservoir

26

Gambar 3.5.

Grafik Hubungan Tekanan, Laju Alir Minyak, GOR dan waktu

pada Solution Gas Drive Reservoir

27

Gambar 3.6.

Commingle Completion dengan Single Tubing Dual Packer

31

Gambar 3.7.

q vs t pada Analisa Decline Curve

34

Gambar 3.8.

Hubungan Laju Produksi terhadap Waktu

Pada Tipe Exponential Decline

37

Gambar 3.9.

Hubungan Laju Produksi terhadap Produksi Kumulatif

Pada Tipe Exponential Decline

39

Gambar 3.10. Hubungan Laju Produksi terhadap Waktu Pada Tipe Hyperbolic Decline Gambar 3.11. Hubungan Laju Produksi terhadap Waktu

41

xi

Pada Tipe Harmonic Decline

45

Gambar 3.12. Hubungan Laju Produksi terhadap Produksi Kumulatif Pada Tipe Harmonic Decline

46

Gambar 3.13. Tipe Grafik antara qo vs t dan qo vs Np Pada Ketiga Jenis Decline Curve

47

Gambar 4.1.

Grafik qo vs t Sumur TA-09 Lapisan D

59

Gambar 4.2.

Grafik qo vs t Sumur TA-18 Lapisan D

59

Gambar 4.3.

Grafik qo vs t Sumur TA-22 Lapisan D

60

Gambar 4.4.

Grafik qo vs t untuk Pemilihan Trend Analisa Sumur TA-09

Lapisan D

61

Gambar 4.5.

Grafik qo vs t untuk Pemilihan Trend Analisa Sumur TA-22

Lapisan D

61

Gambar 4.6.

Grafik qo vs t dari Trend Analisa Sumur TA-09 Lapisan D.

72

Gambar 4.7.

Grafik qo vs t dari Trend Analisa Sumur TA-22 Lapisan D.

72

Gambar 4.8.

Grafik (qo vs t) dan (Np vs t) Sumur TA-09 Lapisan D

79

Gambar 4.9.

Grafik (qo vs t) dan (Np vs t) Sumur TA-22 Lapisan D

80

xii

DAFTAR TABEL

 

Halaman

Tabel II-1.

Sifat Fisik Batuan Reservoir Lapisan DSifat Fisik Minyak Lapisan DPersamaan Decline Curve

 

12

Tabel II-2.

12

Tabel III-1.

48

Tabel IV-1. Cadangan Minyak Lapisan “D” Lapangan T”…………………

55

Tabel IV-2.

Penentuan Tipe Decline Curve dengan Metode Loss Ratio Sumur TA-09 Lapisan “D”

63

Tabel IV-3.

Penentuan Tipe Decline Curve dengan Metode Loss Ratio Sumur TA-22 Lapisan “D”

64

Tabel IV-4.

Penentuan Nilai b dari Trend dengan Metode Trial Error dan X 2 Chisquare Test Sumur TA-09 Lapisan “D” ……………… Penentuan Nilai b dari Trend dengan Metode Trial Error dan X 2 Chisquare Test Sumur TA-22 Lapisan “D”

69

Tabel IV-5.

70

Tabel IV-6. Prediksi Laju Produksi Minyak dan Kumulatif Produksi Forecast Sumur TA-09 Lapisan “D”

74

Tabel IV-7. Prediksi Laju Produksi Minyak dan Kumulatif Produksi Forecast Sumur TA-22 Lapisan D

76

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A. Riwayat Sumur TA-09

Lampiran B.

Riwayat Sumur TA-18 Riwayat Sumur TA-22 Alokasi Data Produksi Sumur TA-09 Lapangan "T"

Lampiran C.

Alokasi Data Produksi Sumur TA-18 Lapangan "T" Alokasi Data Produksi Sumur TA-22 Lapangan "T" Data Produksi (qo) dan Kumulatif Produksi Aktual (Np) Lapisan D

Lampiran D.

Data Gas Oil Ratio dan Water Cut Lapisan D

xiv

1.1. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN

Salah satu tugas dari seorang engineer adalah menghitung secara periodik cadangan minyak yang masih tersisa dan meramalkan umur produksi dimasa yang akan datang dari suatu reservoir. Hal ini penting dilakukan karena suatu reservoir yang telah diproduksikan akan mengalami penurunan laju produksi seiring dengan waktu. Lapangan “T” merupakan jenis lapangan minyak pada Formasi “W” yang dikembangkan sampai sekarang oleh Unit Bisnis Pertamina EP (UBEP) Tanjung di Blok Tanjung Raya Cekungan Barito, Kalimantan Selatan. Pada Oktober

2009, Lapangan “T” memiliki 25 sumur yang terdiri dari 6 sumur produksi, 13 sumur ditutup sementara serta 6 sumur ditinggalkan. Lapangan “T” terdapat beberapa lapisan yaitu lapisan Ca, Cb, C1, C2, D, E, F, J dan K. Sumur yang memproduksikan minyak dari Lapisan “D” ada 3 sumur produksi, yaitu TA-09, TA-18, TA-22. Ketiga sumur tersebut diproduksikan secara commingle dengan kondisi saat ini sumur yang aktif 2 sumur, yaitu sumur TA-09 dan TA-22. Lapisan “D” memiliki data OOIP yang diketahui sebesar 2.938.000 STB dan kumulatif produksi hingga Juli 2009 sebesar 7.375,75 STB. Sehingga perlu dilakukan perhitungan estimasi cadangan minyak sisa yang masih dapat diproduksikan sampai batas economic limit dengan metode Decline Curve. Analisa Decline Curve merupakan analisa penurunan produksi dengan menggunakan persamaan-persamaan yang dikembangkan oleh Arps yang telah banyak digunakan untuk memperkirakan cadangan (reserve) dan meramalkan performance suatu reservoir. Performance reservoir adalah perubahan karakteristik reservoir selama masa produksinya, antara lain adalah tekanan, laju produksi minyak, laju produksi gas, laju produksi air, perbandingan gas-minyak, prosentase produksi minyak air. Analisa Decline Curve yang digunakan untuk

1

2

menentukan cadangan minyak sisa adalah dengan mengekstrapolasikan perubahan trend karakteristik reservoir sampai batas ekonomisnya. Metode Decline Curve memerlukan data-data produksi yang diperoleh dari suatu reservoir yang telah berproduksi selama selang waktu tertentu dan mengalami penurunan produksi, sehingga karakteristik-karakteristik reservoir telah menunjukkan trend penurunan atau decline. Asumsi yang digunakan pada metode metode Decline Curve adalah performance pada masa yang akan datang sama dengan performance pada masa lalu.

1.2.

Permasalahan Permasalahan yang timbul dalam penelitian ini adalah :

Berapa harga economic limit pada Lapisan “D” Lapangan “T” ?

Tipe Decline Curve apa yang sesuai dengan penurunan laju produksi minyak pada Lapisan “D” Lapangan “T” ?

Sampai kapan umur Lapisan “D” Lapangan “T” dapat berproduksi ?

Berapakah besar cadangan minyak sisa dari Lapisan “D” Lapangan “T” ?

1.3.

Maksud dan Tujuan

Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperkirakan cadangan minyak sisa dari Lapisan “D” Lapangan “T” menggunakan Metode Decline Curve, dengan tujuan memperkirakan EUR (Estimated Ultimate Recovery), umur produksi, cadangan minyak sisa (Remaining Reserve) dan Recovery Factor sampai batas laju Economic Limit (q limit ).

1.4. Metodologi

Metode yang digunakan untuk menghitung cadangan minyak sisa dari Lapisan “D” Lapangan “T” adalah metode analisa Decline Curve. Langkah- langkah metode ini adalah sebagai berikut : 1. Pengumpulan data harga OOIP, data reservoir, biaya operasional, harga minyak, pajak untuk pemerintah dan data produksi minyak, 2. Menentukan RF dan EUR volumetrik, 3. Menghitung alokasi produksi tiap sumur yang memproduksikan minyak secara commingle dengan

3

metode kapasitas aliran, 4. Plotting qo vs t tiap sumur, 5. Menentukan periode penurunan laju produksi, 6. Menentukan tipe Decline Curve berdasarkan nilai eksponen decline (b) dan Di menggunakan metode loss ratio dan metode trial error dan x 2 -chisquare test, 7. Menentukan economic limit rate, 8. Menentukan qo forecast , Np forecast , EUR tiap sumur, EUR Lapisan “D”, umur produksi, RF, cadangan minyak sisa (ERR) dan cadangan minyak sisa yang belum bisa diproduksi dengan metode Decline Curve. Untuk memperjelas metodologi penelitian dapat dilihat pada Flowchart dibawah ini.

4

FLOW CHART

Harga OOIP Data reservoir: Sw a v g , K a v g , Φ,
Harga OOIP Data reservoir: Sw a v g , K a v g , Φ,

Harga OOIP Data reservoir: Sw avg , K avg , Φ, µ oi , μ ob , μ wi , B oi , B ob , Rs, Pi, Pb,Pa

-Biaya operasional sumur -Harga minyak/ barrel -Pajak untuk Pemerintah

o b , Rs, Pi, Pb,Pa -Biaya operasional sumur -Harga minyak/ barrel -Pajak untuk Pemerintah b=

b= 0, Exponential Decline

barrel -Pajak untuk Pemerintah b= 0, Exponential Decline Data Produksi: q, t, Np Plotting data q

Data Produksi: q, t, Np

b= 0, Exponential Decline Data Produksi: q, t, Np Plotting data q o vs t Lapisan

Plotting data q o vs t Lapisan D

b ≠ 0, b ≠ 1; 0<b<1, Hyperbolic Decline

D b ≠ 0, b ≠ 1; 0<b<1, Hyperbolic Decline Alokasi produksi Lapisan ” D ”
D b ≠ 0, b ≠ 1; 0<b<1, Hyperbolic Decline Alokasi produksi Lapisan ” D ”
D b ≠ 0, b ≠ 1; 0<b<1, Hyperbolic Decline Alokasi produksi Lapisan ” D ”
D b ≠ 0, b ≠ 1; 0<b<1, Hyperbolic Decline Alokasi produksi Lapisan ” D ”

Alokasi produksi Lapisan Ddari sumur berproduksi secara commingle

” D ” dari sumur berproduksi secara commingle Pemilihan periode (trend) penurunan laju produksi Penentuan

Pemilihan periode (trend) penurunan laju produksi

Penentuan tipe Decline Curve dengan metode loss ratio,trial error dan X 2 Chisquare

dengan metode loss ratio,trial error dan X 2 Chisquare b = 1, Harmonic Decline Recovery Factor

b = 1, Harmonic Decline

Recovery Factor Volumetrik

Recovery Factor Volumetrik Cadangan Volumetrik

Cadangan Volumetrik

Recovery Factor Volumetrik Cadangan Volumetrik
Recovery Factor Volumetrik Cadangan Volumetrik

Prediksi Laju Produksi Minyak (qo) dan Kumulatif Produksi (Np) Lapisan D

Penentuan economic limit

Estimasi umur produksi Lapisan D

Estimasi Ultimate Recovery (EUR)

Recovery Factor Decline Curve

Estimasi Cadangan Minyak Sisa

ERR Volumetric ERR = Cadangan Volumetric - Np

ERR volumetrik yang belum bisa diproduksi

ERR = EUR - Np

5

1.5. Hasil Penelitian

Berdasarkan data diketahui harga OOIP Lapisan “D” sebesar 2.938.000 STB. Harga recovery factor saat volumetrik sebesar 30,98 % maka diperoleh EUR sebesar 910.304,53 STB. Kumulatif produksi (Np) sampai Juli 2009 sebesar 7.375,75 STB, sehingga minyak sisa (volumetrik) adalah 902.928,78 STB. Analisa Decline Curve dilakukan untuk sumur TA-09 dan TA-22 dengan hasil kurva exponential decline pada sumur TA-09 dengan nilai b=0 dan Di=0,042/Bulan, sedangkan untuk sumur TA-22 nilai b =0 dan Di=0,049/Bulan sehingga EUR Lapisan “D” sampai q limit = 34,54 BOPM adalah 12.747,40 STB dengan umur produksi 47 bulan atau 3 tahun 11 bulan dari Agustus 2009 sampai bulan Juni 2013, RF saat Decline sebesar 0,43 %, sehingga cadangan minyak sisa (ERR) Lapisan “D” sebesar 5.381,65 STB. Cadangan minyak yang belum bisa diproduksi sebesar 897.547,13 STB atau 30,55 % dari OOIP.

1.6. Sistematika penulisan Sistematika penulisan pada penelitian ini terdiri dari : BAB I. Pendahuluan,

BAB II. Tinjauan Umum Lapangan “T”, BAB III. Tinjauan Pustaka, BAB IV. Perhitungan dan Analisa Decline Curve, BAB V. Pembahasan, BAB VI. Kesimpulan.

BAB II

TINJAUAN UMUM LAPANGAN “T”

2.1. Letak Geografis Lapangan “T”

Lapangan “T” merupakan bagian dari area lapangan pengembangan minyak

dan gas bumi (migas) yang dikelola oleh Unit Bisnis Pertamina EP (UBEP)

Tanjung di Blok Tanjung Raya Cekungan Barito, Kalimantan Selatan. Luas

Lapangan “T” ini kurang lebih 3,5 km 2 dari arah Barat Daya - Timur Laut dengan

produksi utama hidrokarbon dari Formasi Warukin. Secara geografis Lapangan

“T” berada pada 1 o 35 LS dan 115 o 30 BT dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Daerah Penelitian
Daerah Penelitian

Gambar 2.1. Peta Lokasi Lapangan “T” 7)

6

7

2.2. Keadaan Geologi Lapangan “T”

2.2.1. Geologi Umum

Pulau Kalimantan dibagi menjadi 4 cekungan besar seperti pada Gambar

2.1. Cekungan-cekungan tersebut antara lain :

Cekungan Barito : Bagian Barat Laut dibatasi Pegunungan Schwaner, bagian Timur dibatasi Pegunungan Meratus, dan bagian Utara dibatasi Cekungan Kutai.

Cekungan Kutai : Cekungan ini dibatasi dataran tinggi Mangkaliat di bagian Utara, Cekungan Barito di bagian Selatan, dataran tinggi Kuching di bagian Barat dan Selat Makassar di bagian Timur.

Cekungan Melawi : Bagian Selatan dibatasi Pegunungan Schwaner, bagian Utara dibatasi dataran tinggi Semitau yang memisahkan Cekungan Melawi dengan Cekungan Ketungau.

Cekungan Ketungau : Cekungan ini pada bagian Utara dibatasi lajur Kalimantan Tengah, bagian Selatan dibatasi dataran tinggi Semitau, bagian Timur dibatasi dataran tinggi Kuching dan bagian Barat dibatasi Ketungau area.

2.2.2. Stratigrafi Lapangan “T”

Stratigrafi Lapangan “T” yang terletak pada Cekungan Barito dapat dilihat pada Gambar 2.3. Urutan umur batuan dari yang tua sampai yang muda sebagai

berikut :

1. Batuan Pra-Tersier Basement Basement pra-tersier Cekungan Barito terdiri dari batuan beku andesit dan batuan metamorf dengan ketebalan kurang dari 200 meter.

2. Formasi Tanjung Formasi Tanjung terdiri atas batupasir kuarsa berselingan dengan batulempung dengan sisipan batubara, berumur Eosen, dan diendapkan dalam lingkungan paralik-neritik. Formasi Tanjung memiliki ketebalan 300-600 m.

3. Formasi Berai Formasi Berai mayoritas terdiri dari batugamping berwarna putih kelabu, berlapis baik dengan ketebalan 20-200 meter. Kaya akan koral, foraminifera

8

dan ganggang, bersisipan napal kelabu muda padat dan berlapis baik. Formasi Berai berumur Oligosen Akhir-Miosen Tengah dengan lingkungan pengendapan neritik.

4. Formasi Warukin Secara umum Formasi Warukin disusun oleh batupasir kuarsa, batulempung, batulanau, dan konglomerat di bagian bawah, serta sisipan batubara dan batugamping. Formasi ini menunjukkan kisaran umur Miosen Awal-Tengah, diduga merupakan endapan transisi darat (fluviatil)-laut dangkal (neritik) dan memiliki ketebalan 300-500 meter. Formasi Warukin merupakan reservoir utama penghasil hidrokarbon pada Lapangan “T” dengan lapisan utama yaitu Lapisan C yang terbagi kedalam 4 unit lapisan yaitu Lapisan Ca (38,5 ft), Cb (18,9 ft), C1 unit (3,8 ft), dan C2 (38,5 ft). Lapisan Ca dan Cb berada pada bagian atas (upper), Lapisan C2 berada pada bagian bawah (lower), sedangkan Lapisan C1 merupakan lapisan sand-shale member yang memisahkan antara bagian upper dan lower. Evaluasi secara geologi menunjukkan adanya lapisan-lapisan lain yang bertindak sebagai reservoir yaitu Lapisan D, Lapisan E, Lapisan F, Lapisan J, dan Lapisan K. Zona reservoir D-sand terdiri atas perselingan batupasir dengan coal, shale, dan sedikit lapisan tipis limestone. Kehadiran limestone ini merupakan indikasi bahwa lingkungan pengendapannya lebih mendekati arah marine. Pembagian lapisan Formasi Warukin dapat dilihat pada Gambar 2.3.

5. Formasi Dahor Formasi Dahor terdiri atas batupasir kuarsa dan konglomerat yang mengandung kepingan kuarsit dan basal, berselingan dengan batupasir berbutir sedang-sangat kasar, berstruktur silang-siur, sisipan batulempung dengan karbonat hingga gambut dan batulempung. Ketebalan formasi ini mencapai 300 m, berumur Pliosen-Plistosen dan berlingkungan endapan transisi darat (fluviatil).

9

9 Gambar 2.2. Stratigrafi Cekungan Barito 8 )

Gambar 2.2. Stratigrafi Cekungan Barito 8)

10

10 Gambar 2.3. Pembagian Lapisan pada Formasi Warukin Berdasarkan Log Listrik 7 )

Gambar 2.3. Pembagian Lapisan pada Formasi Warukin Berdasarkan Log Listrik 7)

11

2.2.3. Struktur Lapangan “T”

Lapangan “T” berada paling Timur dari area Blok Tanjung Raya dan terletak

kurang lebih 15 km dari Struktur Tanjung. Pemetaan struktur Lapangan “T”

berdasarkan interpretasi seismik dapat dilihat pada Gambar 2.4.

interpretasi seismik dapat dilihat pada Gambar 2.4. Gambar 2.4. Peta Depth Structure Hasil Interpretasi

Gambar 2.4. Peta Depth Structure Hasil Interpretasi Seismik Lapangan “T” 7)

Peta struktur kedalaman tersebut memperlihatkan adanya perangkap closure

antiklin yang dibatasi oleh sesar naik dengan arah Barat Daya-Timur Laut yang

mampu berperan sebagai sebagai perangkap hidrokarbon. Pada peta struktur dapat

dilihat pemetaan lokasi sumur-sumur. Menurut data bulan Oktober 2009

12

Lapangan “T” memiliki 25 sumur dengan 23 sumur berada di sekitar struktur,

yaitu: TA-01, TA-03, TA-04, TA-05, TA-06, TA-07, TA-08, TA-09, TA-10, TA-

11, TA-12, TA-13, TA-14, TA-15, TA-16, TA-17, TA-18, TA-19. TA-21, TA-22,

TA-23, TA-24, TA-25 serta 2 sumur lain yaitu sumur TA-02 dan TA-20 yang

merupakan umur deliniasi dan terletak di luar struktur.

2.3. Kondisi Reservoir Lapisan ”D” Lapangan “T”

Lapisan “D” berada pada Formasi Warukin memiliki tekanan awal reservoir

655 psi dengan temperatur 139˚F dari hasil uji tekanan sumur. Berdasarkan data

Lapisan “D” diketahui OOIP sebesar 2.938.000 STB. Sifat fisik batuan reservoir

pada Lapisan “D” dapat dilihat pada Tabel II-1, dan sifat fisik fluida reservoir

dapat dilihat pada Tabel II-2.

Tabel II-1. Sifat Fisik Batuan Reservoir pada Lapisan “D” 8)

Parameter Sifat Fisik Batuan

Besaran

Porositas rata-rata (Φ avg )

20

%

Saturasi awal rata-rata (S wi avg)

40

%

Permeabilitas rata-rata (K avg )

70 mD

Jenis Batuan

Batu pasir

Tabel II-2. Sifat Fisik Minyak pada Lapisan “D” 8)

Parameter Sifat Minyak

 

Besaran

0

API

38

Specific gravity

 

0,8

Viscositas minyak initial

oi

0,24 cp

Viscositas minyak dibawah Pb

ob

1,1 cp

Viscositas air initial

wi

1,5 cp

Faktor volume formasi minyak (Boi)

 

1,14 bbl/stb

Kelarutan gas dalam minyak (Rs)

 

882 scf/stb

Tekanan gelembung (Pb)

 

643

psi

Tekanan reservoir awal (Pi)

 

655

psi

Tekanan reservoir abandon (Pa)

 

160

psi

13

2.4. Sejarah Produksi Lapisan ”D” Lapangan “T” Lapangan “T” pertama kali dikelola oleh PERMINA, JOB PERTAMINA SOUTHERN CROSS, JOB PERTAMINA BOW VALLEY, JOB PERTAMINA TALISMAN (TANJUNG). Lapangan “T” dilakukan pemboran pertama kali pada sumur TA-01 pada bulan April 1967 oleh BPM (Shell Indonesia). Sumur tersebut berhasil menembus lapisan batu pasir formasi Middle- Warukin dan menemukan oil bearing pada kedalaman kurang dari 1264 m dan menghasilkan minyak sebesar 799 BOPD dengan kadar air 0 %. Sejak saat itu Lapangan “T” terus dikembangkan hingga sekarang dan dibagi menjadi beberapa lapisan yaitu lapisan Ca, Cb, C1, C2, D, E, F, J dan K. Sejak akhir tahun 2005 Lapangan “T” dikelola sepenuhnya oleh PERTAMINA EP dalam bentuk Unit Bisnis Pertamina EP Tanjung (UBEP Tanjung). Lapangan “T” memiliki 25 sumur yang terdiri dari 6 sumur produksi, 13 sumur ditutup sementara serta 6 sumur ditinggalkan. Sumur yang memproduksikan minyak dari Lapisan “D” ada 3 sumur produksi, yaitu :

Sumur TA-09 berproduksi dari Lapisan Cb, C1, C2 dan D secara commingle.

Sumur TA-18 berproduksi dari Lapisan C1, D, E dan F secara commingle.

Sumur TA-22 berproduksi dari Lapisan C1, C2, D dan F secara commingle. Sejarah produksi minyak Lapisan “D” mulai dari awal produksi hingga data terakhir dapat dilihat selengkapnya pada Lampiran B, Lampiran C dan Gambar

2.5.

Berdasarkan sejarah performance produksi Lapisan “D” yang dapat dilihat pada Gambar 2.6 dan Lampiran D serta sejarah tekanan pada Gambar 2.7., dapat diketahui bahwa Lapisan “D” memiliki penurunan tekanan yang relatif pelan, perbedaan harga GOR dapat dikatakan kecil, dan harga WOR yang terus meningkat selama masa produksi. Dari ketiga hal tersebut maka reservoir ini termasuk golongan reservoir dengan tenaga pendorong water drive.

14

qo vs waktu Lapisan "D"

qo total sumur aktif 10 1000 9 8 100 7 6 5 10 4 3
qo total
sumur aktif
10
1000
9
8
100
7
6
5
10
4
3
1
2
1
0
0
sumur aktif
qo, BOPM

waktu, bulan

Gambar 2.5. Grafik Sejarah Produksi Minyak Lapisan “D” Lapangan ”T” 11)

Grafik (qo vs waktu) dan (GOR & WC vs waktu) Lapisan "D"

GOR,SCF/STB & WC, % qo GOR WC 100000 1000 10000 100 1000 10 100 10
GOR,SCF/STB & WC, %
qo
GOR
WC
100000
1000
10000
100
1000
10
100
10
1
1
0,1
0,1
0,01
0,01
qo, BOPM

waktu, bulan

Gambar 2.6. Grafik Performance Production Lapisan “D” Lapangan ”T” 11)

15

Grafik sejarah tekanan Lapisan "D" tekanan Linear (tekanan) 1000 100 10 1 Jun-91 Dec-91 Jul-92
Grafik sejarah tekanan Lapisan "D"
tekanan
Linear (tekanan)
1000
100
10
1
Jun-91
Dec-91
Jul-92
Jan-93
Aug-93 Mar-94 Sep-94
Apr-95
Oct-95
waktu, bulan
tekanan, Psi

Gambar 2.7. Grafik Sejarah Tekanan Lapisan “D” Lapangan ”T” 11)

2.4.1. Sejarah Sumur TA-09

Sumur TA-09 pertama kali dilakukan pengeboran pada tanggal 26 Maret

1981. Sumur dibor sedalam 1450 m dan dikomplesi dengan perforated casing.

Pada bulan Mei 1981 dilakukan perforasi pada Lapisan D (1425,5-1427,5

m), C2 (1400-1402 m), C1 (1368-1370 m), Cb (1350-1353 m dan 1357-1360 m),

dan Ca (1324-1327 m). Lapisan yang berpotensi untuk diproduksikan hanya ada

dua lapisan, yaitu lapisan Ca dan Cb. Lapisan “D” diisolasi pada kedalaman 1420

m, lapisan C2 diisolasi pada kedalaman 1395 m, sedangkan lapisan C1 diisolasi

pada kedalaman 1365 m.

Bulan Juli 1981 sumur TA-09 berproduksi dengan dua lapisan secara

bersamaan yaitu lapisan Ca (1324-1327) m dan lapisan Cb (1350-1353, 1357-

1360) m. Sistem yang dipakai untuk produksi adalah dual string, dimana lapisan

Ca dan Cb diproduksikan melalui tubing yang berbeda setelah dipasang packer

pada kedalaman 1341 untuk memisahkan kedua lapisan tersebut.

Tanggal 25 Oktober 1984 pukul 09.30 sumur TA-09 ditutup sementara

karena dilakukan pressure build up test. Sumur kembali berproduksi pada tanggal

16

Bulan Januari 1986 lapisan Cb diisolasi dengan packer pada kedalaman 1341 m karena hasil produksi lapisan Cb terus menurun sehingga tidak efektif jika harus diproduksi. Sumur TA-09 hanya memproduksikan lapisan Ca dengan satu tubing. Bulan September 1987 sumur TA-09 yang merupakan sumur sembur alam berubah menjadi sumur articial lift yaitu gas lift. Namun karena hasil produksi lapisan Ca terus menurun maka dilakukan perubahan metode produksi dari gas lift menjadi pompa pada bulan Oktober 1987. Bulan Maret 1996 sumur TA-09 ditutup sementara karena tidak ada minyak yang mengalir. Kemudian pada bulan Februari 1999 dilakukan squeezed cementing untuk menutup lapisan Ca. Dilanjutkan pengeboran sampai kedalaman 1365 m dan menambah perforasi lapisan Cb pada kedalaman 1348-1350 m. Karena tidak ada produksi saat dilakukan tes produksi maka sumur ditutup sementara. Bulan Maret 1999 dilakukan perforasi tambahan pada lapisan Cb dengan kedalaman 1350-1353 m sehingga sumur TA-09 memproduksi lapisan Cb dengan tiga interval kedalaman yaitu 1348-1350 m, 1350-1353 m, dan 1357-1360 m. Bulan Mei 1999 sumur ditutup sementara karena harga water cut 100%. Bulan Juli 2001 cement retainer di kedalaman 1365 m dan 1395 m dikeluarkan dan dilakukan pengeboran sampai kedalaman 1420 m. Packer di kedalaman 1420 m didorong sampai kedalaman 1436 m untuk menambah perforasi di Lapisan “D” pada kedalaman 1425-1430 m dan menambah perforasi lapisan C2 pada kedalaman 1375-1405 m. Sumur berproduksi pada Lapisan Cb (1348-1350, 1350-1353, 1357-1360) m , Lapisan C1 (1368-1370) m, Lapisan C2 (1375-1405) m, dan Lapisan “D” (1425-1430) m. Sumur diproduksi dengan sistem commingle, dimana keempat lapisan diproduksi secara bersamaan melalui satu tubing dengan pengangkatan buatan pompa. Bulan Oktober 2001 sumur ditutup sementara karena harga water cut mencapai 98% dan minyak yang dihasilkan hanya 1,6 bopd namun sumur kembali berproduksi pada bulan Januari 2009. Profil sumur TA-09 dapat dilihat pada Gambar 2.8. dan riwayat sumur selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran A.

17

17 Gambar 2.8. Profil sumur TA- 09 Lapangan “T” 1 1 ) 2.4.2. Sejarah sumur TA-18

Gambar 2.8. Profil sumur TA-09 Lapangan “T” 11)

2.4.2. Sejarah sumur TA-18

Sumur TA-18 mulai dilakukan pengeboran pertama kali pada tanggal 11 Juli

1984. Kedalaman total sumur 2350 m dengan maksimal pembelokan 5º pada

kedalaman 2300 m dan dikomplesi dengan perforated casing pada formasi.

Bulan Agustus 1984 dilakukan perforasi di lapisan J dengan kedalaman

1982-1985 m dan diproduksi. Bulan Oktober 1984 diperoleh harga water cut yang

tinggi sehingga lapisan J diisolasi dengan cement retainer pada kedalaman 1980

m. Lapisan J ditambahkan perforasi pada kedalaman 1976-1979 m dan

menghasilkan gas lemah ke permukaan sehingga sumur ditutup sementara.

Bulan November 1987 dilakukan perforasi di lapisan C1 pada kedalaman

1295,5-1298,5 m dan menghasilkan air asin sehingga sumur kembali ditutup.

18

Bulan Mei 1991 lapisan C1 ditutup dengan squeezed cementing dan dilakukan perforasi pada lapisan C2 dengan tiga interval kedalaman yaitu 1351-1355,5 m, 1360-1366 m, 1370-1377 m. Dilakukan tes produksi dan hasilnya tidak ada produksi. Bulan Juni 1991 dilakukan stimulasi pada lapisan C2 dan menghasilkan minyak 1,12 bbl/d, air 13 bbl/d, dan water cut 91,3%. Bulan Juli 1991 lapisan C2 diisolasi dengan packer pada kedalaman 1340 m, kemudian dilakukan perforasi pada lapisan C1 dengan kedalaman 1301-1307 m, 1315-1318 m, dan 1324-1335,5 m. Hasil tes produksi menunjukkan bahwa lapisan C1 menghasilkan minyak sebesar 4 m³/d. Bulan September 1991 sumur ditutup sementara karena tidak ada produksi yang dihasilkan. Kemudian pada bulan Mei 1996 dilakukan perbaikan tubing 2⅞”. Bulan Juli 1996 dilakukan perforasi pada lapisan F dengan kedalaman 1720- 1730 m dan dilakukan evaluasi terhadap lapisan F. Bulan Agustus 1996 dilakukan rigged up dan pemasangan packer pada kedalaman 1695 m. Sumur berubah metode produksi menjadi pengangkatan buatan menggunakan pompa dan berproduksi dengan sistem commingle pada lapisan C1 (1301-1307, 1315-1318, 1324-1335,5) m dan lapisan F (1720-1730) m. Bulan Mei 1997 lapisan F dilakukan swabbed test selama 7 hari dan menghasilkan air 1490 bbl dan minyak 10 bbl. Bulan Oktober 1997 dilakukan penggantian pompa dan sumur berproduksi kembali. Bulan Januari 1998 sumur ditutup sementara, namun tidak ada riwayat yang jelas mengenai penyebab penutupan sumur. Bulan Mei 2006 plunger tersangkut saat dilakukan penggantian pompa dan tidak berhasil dikeluarkan sehingga sumur ditutup sementara. Bulan Juni 2006 dilakukan perforasi pada Lapisan “D” dengan kedalaman 1423-1425 m. Sumur beroperasi dengan produksi berasal dari lapisan C1 (1301- 1307, 1315-1318, 1324-1335,5) m, lapisan F (1720-1730) m, dan Lapisan “D” (1423-1425) m secara commingle. Bulan Agustus 2006 dilakukan penggantian pompa dan plunger tersangkut. Plunger berusaha dikeluarkan namun tidak berhasil sehingga sumur ditutup

19

sementara. Bulan Desember 2008 dilakukan perforasi pada lapisan E dengan

kedalaman 1546-1547,5 m. Setelah perforasi dilakukan sumur ditutup sementara

dan dilakukan swabbed test pada bulan Januari 2009 selama 12 jam dan ditutup

sementara.

Sumur TA-18 diaktifkan kembali pada bulan Februari 2009 dan berproduksi

secara commingle pada lapisan C1 (1301-1307, 1315-1318, 1324-1335,5) m,

lapisan F (1720-1730) m, Lapisan “D” (1423-1425) m dan lapisan E (1546-

1547,5) m. Pada bulan Maret 2009 dilakukan penggantian pompa namun mesin

pompa mengalami gangguan pada bulan April 2009 dan dihentikan pada bulan

Mei 2009 sehingga sumur ditutup sementara untuk mengecek kerusakan pada

pompa.

Profil sumur TA-18 dapat dilihat pada Gambar 2.9. dan riwayat sumur

selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran A.

dan riwayat sumur selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran A. Gambar 2.9. Profil sumur TA- 18 Lapangan

Gambar 2.9. Profil sumur TA-18 Lapangan “T” 11

20

2.4.3. Sejarah sumur TA-22 Sumur TA-22 dilakukan pengeboran sedalam 1923 m dan diselesaikan pada bulan Maret 1975 dengan produksi dari lapisan J yang diperforasi pada kedalaman 1805-1810 m secara sembur alam. Pada bulan September 1985 dilakukan penggantian metode produksi yang semula berupa sembur alam menjadi sucker rod pump. Bulan September 1987 sumur ditutup sementara karena terjadi problem kepasiran. Problem kepasiran diatasi dengan cara squeezed cementing pada bulan April 1988 dan dilakukan perforasi ulang pada lapisan J dengan kedalaman 1805-1810 m dan menambah perforasi dengan kedalaman 1789-1802 m. Bulan Juni 1988 sumur ditutup sementara karena harga water cut mencapai 100%. Bulan Maret 1989 lapisan J diisolasi dengan packer pada kedalaman 1735 m. Kemudian dilakukan perforasi pada lapisan F dengan kedalaman 1671-1674,5 m dan berproduksi kembali. Bulan Agustus 1989 dilakukan penambahan perforasi pada lapisan F dengan kedalaman 1638-1642 m. Bulan Januari 1990 dilakukan perforasi pada lapisan C2, Lapisan D, dan menambah perforasi di lapisan F. Lapisan C2 diperforasi dengan kedalaman 1381-1383 m dan 1388-1391 m. Lapisan “D” diperforasi dengan kedalaman 1433,5-1436,5 m. Lapisan F ditambahkan perforasi dengan kedalaman 1643-1646 m. Ketiga lapisan tersebut diproduksikan secara commingle sampai bulan Juli 1997. Bulan September 1999 ditambahkan perforasi pada lapisan C2 dengan kedalaman 1365-1375 m dan dilakukan perforasi pada lapisan C1 dengan kedalaman 1348-1352,5 m. Bulan Oktober 1999 lapisan F dengan kedalaman 1671-1674,5 m diisolasi dan metode produksi berubah dari sucker rod menjadi pengangkatan buatan dengan pompa konvensional secara commingle pada lapisan C1 (1348-1352,5) m, lapisan C2 (1365-1375, 1381-1383, 1388-1391) m, Lapisan “D” (1433,5-1436,5) m, lapisan F (1638-1642, 1643-1646) m. Bulan Februari 2000 sumur ditutup sementara karena menghasilkan water cut sebesar 66,7% tanpa ada produksi minyak dan gas. Bulan Mei 2005 dilakukan penggantian pompa dan sumur berproduksi kembali. Sumur berproduksi sangat

21

kecil pada bulan Maret 2009 sebesar 0,003 minyak dan air 0,15 bbl sehingga

sumur ditutup sementara. Profil sumur TA-22 dapat dilihat pada Gambar 2.10.

dan riwayat sumur selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran A.

dan riwayat sumur selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran A. Gambar 2.10. Profil Sumur TA- 22 Lapangan

Gambar 2.10. Profil Sumur TA-22 Lapangan “T” 11)

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

Metode untuk menghitung estimasi cadangan suatu reservoir dapat dikategorikan dalam dua bagian, yaitu berdasarkan karakteristik reservoir dan berdasarkan prilaku produksi reservoir (reservoir production performance). Estimasi cadangan reservoir berdasarkan karakteristik reservoir dapat dilakukan dengan metode volumetrik, sedangkan estimasi cadangan reservoir berdasarkan prilaku produksi reservoir dapat dilakukan dengan menggunakan metode Decline Curve. Metode Decline Curve adalah salah satu Metode yang dapat digunakan untuk menghitung cadangan minyak sisa atau gas dari suatu reservoir yang telah mengalami penurunan produksi dan tidak mengalami perubahan pada Metode produksinya. Selain itu Metode ini dapat dipakai untuk memperkirakan besarnya produksi minyak atau gas pada suatu waktu tertentu, serta sebagai bahan untuk analisa pengembangan lapangan. Penggunaan Metode ini memerlukan data-data produksi per-sumur ataupun produksi kumulatif per-reservoir sepanjang masa produksi reservoir tersebut, sedangkan data pendukung antara lain adalah jumlah cadangan awal minyak atau gas ditempat, data biaya operasional lapangan, harga minyak, dan pajak produksi untuk perhitungan economic limit rate-nya.

3.1. Penentuan Jumlah Minyak Mula-mula ditempat (Original Oil in Place OOIP) Pada mulanya hidrokarbon terbentuk dari bahan organik pada batuan induk (source rock). Karena proses penekanan maka hidrokarbon pada batuan induk tersebut berpindah ke batuan induk (reservoir rock) yang selanjutnya akan bermigrasi melalui jalur migrasi (carrier rock) ke suatu perangkap (trap). Pada lapisan atas perangkap reservoir ini terdapat batuan penyekat (cap rock), sehingga dapat dikatakan dengan kondisi tersebut diatas maka hidrokarbon tersebut tidak dapat lagi berpindah kecuali ada energi luar yang melakukannya.

22

23

Original Oil in Place adalah jumlah total hidrokarbon mula-mula yang

terperangkap dalam reservoir, baik yang bisa diproduksikan maupun yang tidak

dapat diproduksikan. Gambar 3.1. menunjukkan akumulasi minyak pada

perangkap antiklin.

3.1. menunjukkan akumulasi minyak pada perangkap antiklin. Gambar 3.1. Akumulasi Minyak dan Gas Bumi pada Perangkap

Gambar 3.1. Akumulasi Minyak dan Gas Bumi pada Perangkap Antiklin 7)

Besarnya cadangan minyak mula-mula ditempat untuk suatu reservoir

minyak dapat ditentukan dengan persamaan Volumetrik dimana Vb dalam satuan

acre-ft, sebagai berikut :

OOIP =

7758

Vb x

avg

x (1

Swi

avg

)

B oi

……………

Keterangan:

OOIP

7758 = Konversi satuan, dari Acre-feet ke Bbl.

Vb

= Volume bulk batuan, Acre-feet.

= Jumlah minyak mula-mula ditempat, STB.

avg

= Porositas rata-rata, fraksi.

…………(3-1)

Swi avg = Saturasi air mula-mula rata-rata, fraksi.

B oi

= Faktor Volume Formasi minyak mula-mula, Bbl/STB.

24

3.1.1. Penentuan Recovery Factor pada saat Volumetrik

Recovery Factor adalah perbandingan antara jumlah minyak yang dapat

diproduksikan dengan jumlah minyak mula-mula ditempat dalam suatu reservoir.

Recovery Factor pada saat volumetrik dapat dihitung dengan Metode JJ. Arps

berdasarkan tenaga pendorong reservoirnya.

3.1.1.1. Recovery Factor dengan Tenaga Pendorong Water Drive

Untuk reservoir jenis water drive, energi pendesakan yang mendorong

minyak untuk mengalir berasal dari air yang terperangkap bersama-sama dengan

minyak pada batuan reservoirnya.

bersama-sama dengan minyak pada batuan reservoirnya. Gambar 3.2. Water Drive Reservoir 5 ) Apabila dilihat dari

Gambar 3.2. Water Drive Reservoir 5)

Apabila dilihat dari terbentuknya batuan reservoir water drive, air merupakan

fluida pertama yang menempati pori-pori reservoir. Tetapi dengan adanya migrasi

minyak maka air yang berada dalam pori batuan tersingkir dan digantikan oleh

minyak.

Reservoir dengan tenaga pendorong water drive memiliki karakteristik

sebagai berikut :

Penurunan tekanan sangat pelan atau relatif stabil. Penurunan tekanan

yang kecil pada reservoir disebabkan volume produksi yang ditinggalkan

digantikan oleh sejumlah air yang masuk ke zona minyak.

Perubahan gas oil ratio selama produksi kecil, sehingga dapat dikatakan

bahwa gas oil ratio reservoir mendekati konstan.

Harga water cut naik tajam karena mobilitas air yang besar.

25

Hubungan antara tekanan, produksi minyak, gas oil ratio, dan water cut dengan

waktu apabila diplot akan membentuk grafik seperti pada Gambar 3.3.

diplot akan membentuk grafik seperti pada Gambar 3.3. Gambar 3.3. Grafik Hubungan Tekanan, Laju Alir Minyak,

Gambar 3.3. Grafik Hubungan Tekanan, Laju Alir Minyak, GOR. Water Cut versus waktu pada Water Drive Reservoir 5)

Pada awal tahun terlihat adanya peningkatan produksi minyak yang terjadi secara

bertahap. Bersamaan dengan hal tersebut, tekanan reservoir akan mengalami

penurunan secara perlahan (adanya fluida menempati ruang pori dari minyak yang

telah diproduksikan) sampai batas tekanan gelembung (P<Pb). Kemudian selang

beberapa waktu air berekspansi secara cepat dan GOR yang diproduksikan

kepermukaan terdapat sisa yang rendah.

Recovery factor untuk reservoir dengan tenaga pendorong water drive dapat

dihitung menggunakan persamaan sebagai berikut :

RF

Keterangan :

54,898   Φ(1 Sw)

Boi

0,0422

k μ

wi

μ

oi

0,0770

Sw

0,193

Pi

Pa

0,2159

.(3-2)

RF

= Recovery Factor, fraksi.

Φ

= Porositas, fraksi.

Sw

= Saturasi air, fraksi.

Boi

= Faktor volume minyak mula-mula, bbl/STB.

k

= Permeabilitas, mD.

µ wi

= Viskositas air formasi mula-mula, cp.

26

µ oi

= Viskositas minyak mula-mula, cp.

Pi

= Tekanan reservoir mula-mula, psi.

Pa

= Tekanan abandon, psi.

3.1.1.2. Recovery Factor dengan Tenaga Pendorong Solution Gas Drive

Reservoir solution gas drive memiliki tenaga pendorong berasal dari gas

yang terbebaskan dari minyak karena adanya perubahan fasa pada hidrokarbon

yang semula merupakan fasa cair menjadi fasa gas selama penurunan tekanan

reservoir. Gas yang semula larut dalam zona minyak kemudian terbebaskan lalu

mengembang dan mendesak minyak kemudian gas dan minyak terproduksi secara

bersamaan.

Setelah sumur selesai dibor menembus reservoir dan produksi minyak

dimulai, maka akan terjadi suatu penurunan tekanan di sekitar lubang bor.

Penurunan tekanan ini akan menyebabkan fluida mengalir dari reservoir menuju

lubang bor melalui pori-pori batuan. Penurunan tekanan di sekitar sumur bor akan

menimbulkan terjadinya fasa gas. Pada saat awal, karena saturasi gas tersebut

masih kecil (belum membentuk fasa yang kontinyu), maka gas tersebut

terperangkap pada ruang antar butiran batuan reservoirnya. Tetapi setelah tekanan

reservoir tersebut cukup kecil dan gas sudah terbentuk banyak, maka gas tersebut

turut serta terproduksi ke permukaan.

.

terbentuk banyak, maka gas tersebut turut serta terproduksi ke permukaan. . Gambar 3.4. Solution Gas Drive

Gambar 3.4. Solution Gas Drive Reservoir 5)

27

Pada awal produksi, gas yang dibebaskan dari minyak masih terperangkap

pada sela-sela pori batuan, maka gas oil ratio produksi akan lebih kecil jika

dibandingkan dengan gas oil ratio reservoir. Gas oil ratio produksi akan

bertambah besar bila gas pada saluran pori-pori tersebut mulai bisa mengalir dan

hal ini akan terus-menerus berlanjut hingga tekanan menjadi rendah. Bila tekanan

telah cukup rendah, maka gas oil ratio akan menjadi berkurang sebab volume gas

di dalam reservoir tinggal sedikit. Dalam hal ini gas oil ratio dan produksi gas

pada reservoir memiliki harga yang hampir sama

Reservoir dengan tenaga pendorong solution gas drive memiliki karakteristik

sebagai berikut :

Penurunan tekanan reservoir yang tajam.

Sedikit atau bahkan tidak ada air yang diproduksi bersama minyak selama

umur produksi.

Produksi minyak turun dengan cepat.

Gas oil ratio mula-mula rendah kemudian naik dengan cepat akibat

terbebaskannya sejumlah gas dari minyak sampai maksimum, kemudian

turun dengan tajam.

Hubungan antara tekanan, produksi minyak, GOR, dengan waktu apabila diplot

akan membentuk sebuah grafik seperti pada Gambar 3.5.

akan membentuk sebuah grafik seperti pada Gambar 3.5. Gambar 3.5. Grafik Hubungan antara Laju Alir Minyak,

Gambar 3.5. Grafik Hubungan antara Laju Alir Minyak, Tekanan, GOR versus Waktu pada Solution Gas Drive Reservoir 5)

28

Recovery factor untuk reservoir dengan tenaga pendorong solution gas drive dapat dihitung menggunakan persamaan sebagai berikut :

RF

41,815   Φ(1 Sw)

Bob

0.,611

k

μ

ob

0,0979

Sw

0,3722

Pb

Pa

0,1744

(3-3)

Keterangan :

RF

Φ

Sw

Bob

k

µ ob

= Recovery Factor, fraksi.

= Porositas, fraksi.

= Saturasi air, fraksi.

= Faktor volume formasi minyak di bawah tekanan gelembung, bbl/STB.

= Permeabilitas, mD. = Viskositas minyak di bawah tekanan gelembung, cp.

Pb

= Tekanan gelembung, psi.

Pa

= Tekanan abandon, psi.

3.1.2. Estimated Ultimated Recovery pada saat Volumetrik Apabila harga recovery factor telah diketahui maka dapat diperkirakan jumlah cadangan minyak yang mungkin dapat diproduksikan (Estimated

Ultimated Recovery). Estimated Ultimated Recovery (EUR) pada saat volumetrik dapat dihitung :

EUR

=

OOIP x RF……………

………………

…………

(3-4)

Keterangan :

EUR

OOIP = Jumlah minyak mula-mula di tempat, STB.

RF

= Estimated Ultimate Recovery, STB.

= Recovery factor pada saat volumetrik, fraksi.

3.2. Penentuan Economic Limit Rate (q limit )

Economic Limit Rate (q limit ) adalah laju produksi minimal dimana jumlah penghasilan yang diterima dari hasil penjualan produksi akan sama dengan jumlah biaya yang diperlukan untuk menghasilkan produksi tersebut. Sumur produksi akan ditinggalkan pada saat biaya untuk memproduksikan lebih besar dari

29

keuntungan yang diperoleh. Kerugian secara ekonomi akan terjadi jika tetap

melanjutkan produksi dibawah economic limit. Dasar estimasi cadangan dengan

Decline Curve terletak pada besarnya economic limit karena menentukan umur produksi dan jumlah cadangan minyak yang akan diproduksikan.

Secara matematis menurut Thompson. R. S.(1985) , q limit dapat dirumuskan :

q

(

OPC

) (

WI

)

limit (STB/hari) = (30,4) (1

PTR

) (

SP

) (

NRI

)

Keterangan:

q limit

OPC

WI

PTR

SP

NRI

30,4

= Economic limit rate, STB/hari. = Monthly Operating Cost, (Rp/bulan).

= Working Interest, fraksi.

= Production Tax Rate, fraksi.

=

= Net Revenue Interest, fraksi.

= WI (1-RI)

= Konversi satuan waktu dari bulan ke hari.

Sales Price, Rp/Bbl.

(3-5)

Biaya operasional (operating cost) merupakan biaya yang dikeluarkan baik

sehubungan dengan adanya operasi produksi (variable cost) maupun biaya yang pasti dikeluarkan oleh perusahaan berupa administrasi umum yang tidak

berpengaruh terhadap besar kecilnya produksi (fixed cost). Contoh biaya operasi

yang termasuk dalam variable cost adalah lifting cost, HSE, production tools dan equipment maintenance, gaji pegawai non staf dan sebagainya. Contoh biaya

operasi yang termasuk dalam fixed cost adalah general administration, yaitu meliputi finance & administration : audit, perpajakan, sewa kantor; technical services : pengadaan dan servis alat telekomunikasi & komputer; transportation cost : pengadaan, servis dan bahan bakar mobil kantor; salary & personal expenditure : gaji pegawai (staf), biaya training dan menyekolahkan pegawai;

community development : pembangunan fasilitas umum. Apabila kepemilikan perusahaan dimiliki oleh satu orang/pihak maka harga WI = 1 (100%), bila kepememilikan bersama maka harga WI tergantung dari kepemilikan yang besarnya berdasarkan kesepakatan dari pemilik saham.

30

Production Tax Rate (PTR) adalah pajak yang diberikan kepada pemerintah. Pajak adalah salah satu sumber pendapatan pemerintah. Pemerintah mengambil bagiannya dari hasil produksi minyak dan gas bumi melalui pajak yang dikenakan terhadap semua pemasukan kontraktor yang didapat dari usahanya tersebut. Sistem perpajakan yang dibuat oleh pemerintah dimaksudkan untuk memaksimalkan pendapatan pemerintah. Harga minyak mentah (sales price) Indonesia tergantung dari harga pasar minyak mentah dunia. Harga tersebut merupakan harga penjualan dengan sistem FOB (free on board), yang berarti harga minyak sesuai dengan harga minyak yang masuk ke Tanker. Harga ini akan naik apabila menggunakan sistem penjualan CIF (cost in freight) yang berarti minyak sampai di negara pembeli dan harganya menyesuaikan dengan regulasi yang berlaku atau kesepakatan antara kedua belah pihak. Harga minyak mentah dipengaruhi oleh o API, semakin besar harga o API suatu minyak maka minyak tersebut semakin ringan dan harganya semakin mahal. Net Revenue Interest (NRI) didefinisikan sebagai perkalian antara working interest dengan (1-royalty interest). Royalty Interest diberikan kepada pemerintah berdasarkan peraturan perundangan sebagai pemilik lahan atau area yang digunakan.

3.3. Produksi Kumulatif Aktual (Np)

Produksi

kumulatif

aktual

(Np)

diproduksikan sampai waktu (t).

adalah

jumlah

minyak

yang

telah

3.4. Alokasi Produksi dari Commingle Completion dengan Metode Kapasitas Aliran (KH) Pada dasarnya lapisan reservoir yang berlapis (multi layer) dapat diproduksikan secara bersama-sama. Pola produksi ini dikenal dengan sebutan Commingle Completion”. Contoh sumur yang berproduksi menggunakan sistem commingle completion dapat dilihat pada Gambar 3.6.

31

31 Gambar 3.6. Commingle Completion dengan Single Tubing Dual Packer 4 ) Perhitungan produksi dengan Decline

Gambar 3.6. Commingle Completion dengan Single Tubing Dual Packer 4)

Perhitungan produksi dengan Decline Curve dari suatu sumur berlapis dapat

dilakukan dengan alokasi produksi dari masing-masing lapisan yang ada pada

reservoir. Salah satu Metode pengalokasian produksi adalah dengan Metode

kapasitas aliran (kh).

Metode kapasitas aliran (kh) didasarkan atas besarnya kapasitas aliran,

dimana besarnya kontribusi masing-masing lapisan ditentukan berdasarkan

besarnya permeabilitas dan ketebalan masing-masing lapisan. Perhitungan

besarnya kontribusi aliran dari masing-masing lapisan berdasarkan asumsi :

Alirannya radial dengan jari-jari pengurasan (re) yang sama.

Draw down pressure (Pr Pwf) pada tiap lapisan adalah sama.

Faktor volume formasi dari minyak (Bo) dan viskositas minyak (μ o )

adalah sama.

Skin faktor (S) diabaikan.

Atas dasar asumsi-asumsi diatas maka persamaan Darcy untuk sistem aliran

radial dapat digunakan sebagai dasar perhitungan alokasi aliran dengan Metode

kapasitas aliran (kh) sebagai berikut:

q

o

7,08

10

3

  k h P  P r wf   o B o Ln
k h
P
 P
r
wf
 o
B o
Ln r
r
e
w

(3-6)

32

Keterangan:

q o

k

h

P

P

r

wf

o

B o

r

r

w

e

=

Laju alir minyak, BOPD

=

Permeabilitas batuan, mD

=

Ketebalan lapisan, feet

=

Tekanan reservoir, psi

=

Tekanan alir dasar sumur, psi

=

Viskositas minyak, cp

=

Faktor volume formasi minyak, bbl/Stb

=

Jari-jari pengurasan sumur, feet

=

Jari-jari lubang sumur, feet

Metode produksi dengan commingle completion hanya mencatat satu nilai

laju alir dari beberapa lapisan, jika diasumsikan ada 3 lapisan dari satu sumur

maka perhitungan laju alir dari masing-masing lapisan dapat ditulis dengan

persamaan-persamaan berikut:

(3-7)

Dari Persamaan (3-6), maka dapat dilakukan penjumlahan kedalam persamaan (3-

7), sebagai berikut:

q

total

q

1

q

2

q

3

k h ( P  P ) total total r wf   B o
k
h
(
P
 P
)
total
total
r
wf
B o
ln   r
e
o
r
w

k h ( P  P ) 1 1 r wf   B o
k h
(
P
 P
)
1
1
r
wf
B o
ln   r
e
o
r
w

k h ( P  P ) 2 2 r wf   B o
k
h
(
P
 P
)
2
2
r
wf
B o
ln   r
e
o
r
w

k total x h total = k 1 . h 1 + k 2 . h 2 + k 3 . h 3

k h ( P  P ) 3 3 r wf   B o
k h
(
P
 P
)
3
3
r
wf
B o
ln   r
e
o
r
w

(3-8)

(3-9)

Berdasarkan Persamaan (3-8), dapat dibuat persamaan kontribusi aliran

sebagai berikut:

FC

q

n

k

n

h

n

q total

k h

i

i

n

i 1

(3-10)

Jadi, untuk menghitung kontribusi aliran untuk lapisan 1 dapat dilakukan dengan

persamaan berikut:

33

q

1

q

total

k h

1

1

n

i 1

k h

i

i

Keterangan : FC = Kontribusi aliran, fraksi

(3-11)

3.5. Metode Decline Curve Metode Decline Curve merupakan salah satu Metode untuk memperkirakan

besarnya cadangan minyak sisa berdasarkan datadata produksi setelah selang waktu tertentu. Perkiraan cadangan kumulatif dan cadangan sisa dengan menggunakan Metode ini didasarkan pada data produksi. Syarat penggunaan Metode Decline Curve adalah :

1. Adanya grafik penurunan produksi.

2. Tidak ada penutupan sumur dalam waktu yang lama.

3. Tidak ada penggantian Metode produksi.

4. Sumur berproduksi dalam jumlah yang konstan

Penurunan laju produksi dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, diantaranya mekanisme pendorong reservoir, tekanan, sifat fisik batuan dan fluida reservoir. Pada dasarnya perkiraan jumlah cadangan minyak sisa menggunakan Metode Decline Curve adalah memperkirakan hasil ekstrapolasi (penarikan garis lurus) yang diperoleh dari suatu kurva yang dibuat berdasarkan plotting antara data produksi atau produksi kumulatif terhadap waktu produksinya. Beberapa macam tipe grafik yang dapat digunakan untuk peramalan cadangan dan produksi hidrokarbon adalah :

1. Laju produksi terhadap waktu (q vs t).

2. Laju produksi terhadap produksi kumulatif (q vs Np).

3. Persen minyak terhadap produksi kumulatif (% oil vs Np).

4. Produksi kumulatif gas terhadap produksi kumulatif minyak (Gp vs Np).

5. Tekanan reservoir terhadap waktu (P vs t).

6. P/Z vs produksi kumulatif (untuk reservoir gas).

34

Grafik yang umum digunakan adalah tipe pertama (q vs t) dan kedua (q vs Np)

dimana keduanya memberikan pendekatan grafis yang dinamakan Decline Curve ,

seperti terlihat pada Gambar 3.7.

Decline Curve , seperti terlihat pada Gambar 3.7 . Gambar 3.7. Grafik q vs t pada
Decline Curve , seperti terlihat pada Gambar 3.7 . Gambar 3.7. Grafik q vs t pada

Gambar 3.7. Grafik q vs t pada Analisa Decline Curve 6)

Kurva penurunan (Decline Curve) terbentuk akibat adanya penurunan

produksi yang disebabkan adanya penurunan tekanan statis reservoir seiring

dengan diproduksikannya hidrokarbon. Para ahli reservoir mencoba menarik

hubungan antara laju produksi terhadap waktu dan terhadap produksi kumulatif

dengan tujuan memperkirakan produksi yang akan datang (future production) dan

umur reservoir (future life).

Tahun 1927 R.H. Johansen dan A. L. Bollens menemukan Metode Loss Ratio

untuk memperkirakan future performance dan future life. Penggunaan Metode ini

berkembang baik dan dijadikan dasar oleh ahli-ahli reservoir di tahun-tahun

berikutnya. Tahun 1935, S.J. Pirson mengemukakan klasifikasi Decline Curve

atas dasar Metode Loss Ratio menurut analisa matematik menjadi tiga tipe, yaitu :

Exponential Decline Curve , Hyperbolic Decline Curve dan Harmonic Decline

Curve .

Tahun 1944, J. J. Arps mengembangkan Metode Loss Ratio berdasarkan

harga eksponen decline-nya atau lebih dikenal dengan “b”. Harga b berkisar 0

sampai dengan 1. Jika harga b=0 maka disebut sebagai exponential decline, jika

35

harga (0<b<1) maka disebut hyperbolic decline, dan jika harga b=1 disebut dengan harmonic decline. Beberapa istilah yang perlu diketahui dalam penggunaan Metode Decline Curve yaitu rate of decline (D) yang didefinisikan sebagai perubahan dalam laju relatif dari produksi per-unit waktu, tanda (-) menunjukkan arah slope yang dihadirkan plot antara laju produksi dan waktu dari kurva logaritma. Menentukan harga rate of decline menggunakan persamaan dibawah ini :

(

)

rate of decline menggunakan persamaan dibawah ini : ( ) (3-12) Definisi dari loss ratio (

(3-12)

Definisi dari loss ratio ( a ) adalah fungsi inverse dari rate of decline (D). Penentuan harga loss ratio menggunakan persamaan dibawah ini :

(3-13)

1

  dq dt      q 
dq dt
q

a 

q a   dq     dt  Keterangan :
q
a 
 dq
dt
Keterangan :

a

= Loss ratio, waktu.

(3-14)

dq/dt = Perubahan laju produksi terhadap waktu, BOPD.

Definisi dari eksponen decline (b) adalah fungsi turunan pertama dari loss ratio. Penentuan harga eksponen decline menggunakan persamaan dibawah ini :

b

da

dt

( (

) )

b  

Keterangan :

da

dt

b = Eksponen decline. q = Laju produksi, BOPD. t = Waktu, hari.

(3-15)

36

3.5.1. Exponential Decline Curve

Exponential Decline Curve disebut juga Geometric Decline atau Semilog

Decline atau Constant Percentage Decline mempunyai ciri khas yaitu penurunan

produksi pada suatu interval waktu tertentu sebanding dengan laju produksinya

(konstan).

Atas dasar hubungan di atas, apabila variabel-variabelnya dipisahkan maka

dapat ditarik beberapa macam hubungan yaitu hubungan antara laju produksi

terhadap waktu dan hubungan laju produksi terhadap produksi kumulatif.

3.5.1.1. Hubungan Laju Produksi terhadap Waktu

Kurva penurunan yang konstan ini hanya diperoleh bila eksponen decline

adalah nol (b=0). Maka pada exponential decline ini digunakan penggunaan limit

sebagai rumusan matematis (differensiasi fungsi eksponensial), sehingga akan

diperoleh :

m

e

Keterangan :

Lim 1

n 

m n

m = D i .t

1

= b

n

n

Lim

b

0

1

b

1/ b

(3-16)

Harga m dan n diatas disubstitusikan kepersamaan (3-17), sehingga menjadi :

Lim

1

b



1

D

i

. t

1

b

 

1

b

e

D

i

.

t

(3-17)

Secara matematis bentuk kurva penurunannya menjadi sebagai berikut :

q

q

i

e

D

i

.

t

Keterangan :

(3-18)

q

= Laju produksi pada waktu t, BOPD.

q

i

= Laju produksi minyak pada saat terjadi decline (initial), BOPD.

D i

= Initial nominal decline rate, fraksi/waktu.

t

= Waktu, hari.

e

= Bilangan logaritma (2,718).

37

Persamaan (3-18) merupakan persamaan untuk menentukan besarnya initial

nominal decline rate (D i ) :

q

ln

D

q e

i

D

i

.

t

q

q

i

D t

i

q

ln

q

i

i t

(3-19)

Hubungan antara D i dan D e ditunjukkan pada persamaan dibawah ini

sebagai contoh diambil waktu pada periode t (misal 1 tahun) dan besar q adalah

sama sehingga persamaan (3-18) dan (3-19) dapat disederhanakan menjadi :

q

q

q

i

i

.

.

=

e

e

q

D t

i

Di

=

=

q i q i .D e

q i (1 D e )

(3-20)

Initial Nominal decline rate merupakan fungsi dari effective decline rate,

sehingga:

(3-21)

Effective decline rate sebagai fungsi dari initial nominal decline rate:

(3-22)

Persamaan (3-18) akan membentuk suatu kurva linier apabila laju produksi

diplot terhadap waktu pada kertas semi log dengan kemiringan konstan sebesar D i ,

seperti terlihat pada Gambar 3.8.

D i = - ln (1 D e )

D e = 1 e -Di

i = - ln (1 – D e ) D e = 1 – e -

Gambar 3.8. Hubungan Laju Produksi Terhadap Waktu pada Exponential Decline 6)

38

3.5.1.2. Hubungan Laju Produksi terhadap Produksi Kumulatif Penentuan besarnya kumulatif produksi minyak pada setiap waktu dapat dilihat dalam persamaan dibawah :

Np

t

0

q dt

(3-23)

Mensubstitusikan persamaan (3-18), untuk harga q :

Np

q e

i

D t

i

dt

Mengintegralkan,

Np

Np

q

i

D

q

i

i

D

i

e

D t

i

e

D t

i

t

0

e

0

Sehingga menghasilkan :

Dimana

Np

q

i

q e

i

D t

i

D

i

q

q e

i

Dt

Np

q

i

q

D

i

(3-24)

Besarnya cadangan pada waktu limit (t l ) dapat dicari dengan mengekstrapolasi garis lurus sampai batas economic limit rate (q limit ) atau dihitung menggunakan persamaan :

Np t→limit

q

i

q

limit

D

i

(3-25)

Besarnya harga nominal decline rate dapat dihitung dari slope kemiringan grafik, yaitu :

D

i

q

i

q

Np

tlimit

tan

(3-26)

Lamanya waktu produksi sampai q limit dapat dihitung dengan Persamaan (3- 18) yaitu :

39

q

t

limit

limit

q

i

. e

ln(

q

Di tl

.

i

/

q

limit

)

D

i

(3-27)

Nilai D i disubstitusi dari persamaan (3-27) sehingga diperoleh persamaan :

t

limit

N pt limit

q

i

q

limit

ln

q

i

q

l

(3-28)

Persamaan (3-25) akan memberikan grafik garis lurus bila laju produksi (q)

diplot terhadap produksi kumulatif (N p ) pada kertas skala kartesian seperti terlihat

pada Gambar 3.9.

kertas skala kartesian seperti terlihat pada Gambar 3.9 . Gambar 3.9. Hubungan Laju Produksi terhadap Produksi

Gambar 3.9. Hubungan Laju Produksi terhadap Produksi Kumulatif pada Exponential Decline 6)

3.5.2. Hyperbolic Decline Curve

Hyperbolic Decline Curve adalah suatu tipe kurva dimana harga loss ratio (a)

mengikuti deret hitung, sehingga turunan pertama loss ratio terhadap waktu yaitu

eksponen decline (b) mempunyai harga konstan atau relatif konstan.

3.5.2.1. Hubungan Laju Produksi terhadap Waktu

Tipe ini dikatakan sebagai hyperbolic decline mempunyai harga (b>0, b≠1).

Persamaan hyperbolic decline dapat diuraikan seperti dibawah ini :

D

i

K q

.

K q b =

b



dq

qdt

dq

/

dt

q

40

K =

q dq qdt

b



dq dt

q

b1

Keterangan : K = konstanta Untuk kondisi awal :

K

D

i

=

dq

q i b q

b1

dt

Lalu mengintegralkan persamaan (3-29) :

t

D

i

0

q

b

i

. dt 

q

t dq

q

i

b 1

q

D

i

t

q

t

b

(

 

1)

dq

 

q

i

q

t

 

1

(

b

1)

1

q

i

 
 

q

b

qt qi

 

q

(

b

b

q

D

i

i

t

q

b

i

 q



D t

i

1

b

q

b

i

 

1)

1

i t q b i  q  D t i  1 b q b

a x = n ;

a = n 1/x

t i  1 b q b i   1) 1 a x = n

dq

b D

.

i

.

t

q

b

i

b.D .t

i

q

t

1

b

q

b

i

1

q

b

i

q

t

b

q

i

b

Kedua ruas dikali q i b

b Di t

q

i

b

q

t

b

1+ b D i t =

- 1

q

q

i

t

(1 + b D i t)