Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

KLIEN DENGAN KASUS


LABIRINITIS

Disusun Oleh:
Kelompok 1

Wahyu Gustiantoro
Lukman Nulhakim
Fandy Herman S.

STIKES KARYA HUSADA KEDIRI


TAHUN AJARAN 2014/2015
PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN

KATA PENGANTAR
Pertama-tama kami sampaikan rasa syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha
Esa, karena berkat rahmat dan hidayat-Nya penulisan makalah ini dapat di
selesaikan.
Makalah ini disajikan dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Sistem
Persepsi sensori dengan judul Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Kasus
Labirinitis yang dibimbing oleh Bapak Ns. M. Taukhid, M,Kep. Mudah
mudahan makalah ini dapat membantu para pembaca untuk memahami tentang
Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Labirinitis.
Penulis menyadari sepenuhnya makalah ini belum memuat bahan makalah
secara lengkap dan mendalam. Untuk itu, penulis mengharapkapkan kritik yang
sifatnya membangun agar sekiranya dapat memenuhi kesempurnaan tugas ini.

Kediri, 8 Juli 2015

Kelompok 1

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Labirinitis pada dasarnya dikenal dua macam dan dengan gejala yang
berbeda, labirinitis mengenai seluruh bagian labirin disebut dengan labirinitis
umum ( general ), dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat, kemudian yang
mengenai hanya sebagian atau terbatass disebut labinitis terbatas ( labirinitis
sirkumskripta) menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saja. (Cahyanur,
2010)
Deperkirakan penyebab albirinitis yang saling sering di absorbsi produk
bakteri di telinga dan mastoid ke dalam labirin, dibentuk ringan labirinitis srcara
selalu terjadi pada operasi telinga pada misalnya pada operasi fenestrasi, terjadi
singkat dan biasnya tidak menyebabkan gangugan pendengaran, kelainan
patologik seperti inflamasi non porulen.
B. TUJUAN
1. Tujuan umum
Untuk mendapatkan gambaran asuhan keperawatan pada system
pendenggaran sehingga apabila menemui pasien dengan penyakit labirinitis ini,
kita bisa melakukan dan memberikan asuhan keperawatan.
2. Tujuan kusus
a.
b.
c.

Untuk mengetahui definisi gangguan persepsi sensori, Labirinitis


Untuk mengetahui etiologi gangguan persepsi sensori, Labirinitis
Untuk mengetahui manifestasi klinis gangguan persepsi sensori,

Labirinitis
d. Untuk mengetahui mekanisme gangguan persepsi sensori, Labirinitis
e. Untuk mengetahui penatalaksanaan gangguan persepsi sensori, Labirinitis
f.
Untuk mengetahui WOC gangguan persepsi sensori, Labirinitis

g.

Untuk mengetahui asuhan keperawatan gangguan persepsi sensori,


Labirinitis
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. DEFINISI
Labirinitis adalah infeksi pada telinga dalam (labirin) yang disebabkan
oleh bakteri atau virus. (Eugster & Pescuvitz, 1998)
Labirinitis adalah radang pada telinga dalam (labirin). Labirinitis yang
mengenai seluruh bagian labirin, disebut labirinitis umum atau difus dengan
gejala vertigo berat dan tuli saraf yang berat, sedangkan labirinitis yang terbatas
atau labirinitis sirkumskripta menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saraf
saja. (Corwin, 2007)
Labirinitis adalah infeksi pada teling dalam, yang disebabkan oleh bakteri
atau virus, yang mana dapat terjadi karena komplikasi otitis media, meningitis,
ISP dan setelah infeksi telinga tengah. (Arif Muttaqin, 2009).
B. ETIOLOGI
Infeksi bakteri yang disebabkan otitis media, atau kolesteatoma, dapat
memasuki telinga tengah dengan menembus membrane jendela bulat atau oval.
Labirintitis viral merupakan diagnosis medis yang sering, namun hanya sedikit
yang diketahui mengenai kelainan ini, yang mempengaruhi baik keseimbangan
maupun pendengaran. Virus penyebab yang paling sering teridentifikasi adalah
gondongan, rubella, rubeola, dan influenza. (Hidayat, 2006)
Secara etiologi labirintis terjadi karena penyebaran infeksi ke ruang
perlimfa. Terdapat 2 bentuk labirinitis. Yaitu labiribnitis serosa dean labirinitis
supuratif. Labirinitis serosa dapat berbentuk labirinitis serosa difus dan labirinitis
supuratif kronik difus.

Pada labirinitis serosa taksin menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi


sel radang, sedangkan pada labirin supuratif dengan invasi sel radang ke labirin.
Sehingga terjadi kerusakan yang lereversibel. Seperti fibrosa dan osifikasi. Pada
kedua jenis labirinitis

tersebut operasi harus

segera dilakukan untuk

menghilangkan infeksi dari telinga tengah. Kadang kadang diperlukan juga


draifase nanah dari labirin untuk mencegah terjadinya meningitis. Pemberian
antibiotika yang adekuat terutama ditujukan pada pengobatan otitis media kronik.
Labirinitis serosa difus sering kali terjadi sekunder dari labirinitis
sirkumskrifta oleh pada terjadi primer pada otitis media akut. Masuknya toksin
oleh bakteri melalui tingkap bulat, tingkap lontong untuk melalui erosi tulang
labirin.

Infeksi

tersebut

mencapai

endosteum

melalui

seluruh

darah.

Diperkirakan penyebab labirinitis yang paling sering absorbsi produk bakteri di


telinga dan mastoid ke dalam labirin, dibentuk ringan labirinitis serosa selalu
terjadi pada operasi telinga dalam misalnya pada operasi fenestrasi, terjadi singkat
dan biasanya tidak menyebabkan gangguan pendengaran, kelainan patologiknya
seperti inflamasi non purulen labirin.
C. KLASIFIKASI
1. Labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin, disebut labirinitis umum
( general ), dengan gejala fertigo berat dan tuli saraf berat, sedangkan
labirinitis yang terbatas ( labirinitis sirkumskripta ) menyebabkan terjadinya
vertigo saja / tuli saraf saja.
2. Labirinitis terjadinya oleh karena penyebaran infeksi ke ruang perlimfa.
Terdapat dua bentuk labirinitis yaitu labirinitis serosa dan labirinitis supuratif.
Labirinitis serosa dapat berbentuk labirinitis serosa difus dan labirinitis serosa
sirkumskripta. Labirinitis supuratif dibagi dalam bentuk labirinitis supuratif
akut difus dan labirinitis supuratif kronik difus.
3. Labirinitis serosa toksin menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi sel
radang, sedangkan pada labirinitis supuratif, sel radang menginvasi labirin,
sehingga terjadi kerusakan yang ireversibel, seperti fibrosis dan osifikasi.

Pada kedua bentuk labirinitis itu operasi harus segera dilakukan untuk
menghilangkan infeksi dari telinga tengah. Kadang kadang diperlukan juga
drenase nanah dari labirin untuk mencegah terjadinya meningitis. Pemberian
antibiotika yang adekuat terutama ditujukan kepada pengobatan otitis media
kronik dengan atau tanpa kolesteatoma.

D. MANIFESTASI KLINIS
1. vertigo
2. mual dan muntah
3. kehilangan pendengaran derajat tertentu
4. Nyeri
Episode pertama biasanya serangan mendadak paling berat, yang
biasanya terjadi selama periode beberapa minggu sampai bulan, yang lebih
ringan.
Pengobatan untuk labirintitis balterial meliputi terapi antibiotika
intravena, penggantian cairan, dan pemberian supresan vestibuler maupun obat
anti

muntah.

Pengobatan

labirintitis

viral

adalah

sintomatik

dengan

menggunakan obatantimuntah dan antivertigo.


Gejala dan tanda :
Terjadi tuli total disisi yang sakit, vertigo ringan nistagmus spontan
biasanya kea rah telinga yang sehat dapat menetap sampai beberapa bulan atau
sampai sisa labirin yang berfungsi dapat menkompensasinya. Tes kalori tidak
menimbulkan respons disisi yang sakit dan tes fistulapur negatif walaupun dapat
fistula
E. PATOFISIOLOGI
Kira kira akhir minggu setelah serangan akut telinga dalam hampir
seluruhnya terisi untuk jaringan gramulasi, beberapa area infeksi tetap ada.

Jaringan gramulasi secara bertahap berubah menjadi jaringan ikat dengan


permulaan. Pembentukan tulang baru dapat mengisi penuh ruangan labirin dalam
6 bulan sampai beberapa tahun pada 50 % kasus.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Fistula dilabirin dapat diketahui dengan testula, yaitu dengan memberikan
tekanan udara positif ataupun nrgatif ke liang telinga melalui otoskop siesel
dengan corong telinga yang kedap atau balon karet dengan bentuk elips pada
ujungnya yang di masukan ke dalam liang telinga. Balon karet di pencet dan udara
di dalamnya akana menyebabkan perubahan tekanan udara di liang telinga. Bila
fistula yang terjadi masih paten maka akan terjadi kompresi dan ekspansi labirin
membrane. Tes fistula positif akan menimbulkan ristamus atau vertigo. Tes fistula
bisa negatif, bila fistulanya bisa tertutup oleh jaringan granulasi atau bila labirin
sudah mati atau paresis kanal.
Pemeriksaan radiologik tomografi atau CT Scan yang baik kadang
kadang dapat memperlihatkan fistula labirin, yang biasanya ditemukan dikanalis
semisirkularis

horizontal.

Pada fistula labirin / labirintis, operasi harus segera dilakukan untuk


menghilangkan infeksi dan menutup fistula, sehingga fungsi telinga dalam dapat
pulih kembali. Tindakan bedah harus adekuat untuk mengontrol penyakit primer.
Matriks kolesteatom dan jaringan granulasi harus diangkat dari fistula sampai
bersih dan didaerah tersebut harus segera ditutup dengan jaringan ikat / sekeping
tulang / tulang rawan.
G. PENATALAKSANAAN
Terapi local harus ditujukan kesetiap infeksi yang mungkin ada, diagnosa
bedah untuk eksenterasi labirin tidak diindikasikan, kecuali suatu focus dilabirin
untuk daerah perilabirin telah menjalar untuk dicurigai menyebar ke struktur
intrakronial dan tidak memberi respons terhadap terapi antibiotika bila dicurigai
ada focus infeksi di labirin atau di ospretosus dapat dilakukan drerase labirin
dengan salah satu operasi labirin setiap skuestrum yang lepas harus dibuang, harus
dihindari terjadinya trauma NUA. Bila saraf fosial lumpuh, maka harus dilakukan

dengan kompresi saraf tersebut. Bila dilakukan operasi tulang temporal maka
harus diberikan antibiotika sebelum dan sesudah operasi.

H. KOMPLIKASI
1.Tuli total
2.meningitis.

WOC

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A.

PENGKAJIAN
1. identitas klien
2. riwayat kesehatan

keluhan utama

:klien merasa pendengarannya kurang dan sering

pusing
Klien mengeluh nyeri pada telinga kanan

riwayat kesehatan sekarang

: Klien merasakan mual, muntah, vertigo

riwayatkesehatan keluarga

: Penyakit ini tidak diturunkan,

melainkan disebabkan oleh virus danbakteri.

Riwayat kesehatan dahulu

: klien tidak ada menderita penyakit ini

sebelunnya
3. Tanda-tanda vital

Nadi

: 59x/i

Td

: 100/90 mmhg

Pernafasan

: 16x/i

Suhu

: 36

4. Pemeriksaan fisik

Rambut

: rambut klien terlihat bersih dan tidak rontok

Leher

: tidak ada pembesaran kelenjar limfe

Telinga

Saat

pemeriksaan

telinga

menggunakan

otoskop

salurantelinga terlihat memerah, saat perawat berbicara di dekatklien, klien


hanya diam saja, menandakan bahwa fungsipendengaran klien kurang
baik. Saat di palpasi terasasakit pada daun telinga. Kaji vertigo yang
meliputiriwayat, awitan, gambaran serangan, durasi, frekwensi,dan adanya
gejala telinga yang terkait (kehilanganpendengaran, tinnitus, rasa penuh di
telinga).

Bibir

: bibir tampak kering

Mata

: pergerakan mata diluar kehendak.dan conjungtiva pucat

Wajah

:wajah klien terlihat pucat

Jantung :

Inspeksi: Terlihat iktus cordis pada dada kiri


Palpasi : Tidak dilakukan palpasi
Perkusi : Tidak dilakukan perkusi
Auskultasi : tidak dilakukan

Paru

Inspeksi : Bentuk dada simetris kanan dan kiri, RR 59 x/menit


Palpasi : tidak dilakukan
Perkusi: Tidak dilakukan perkusi.
Auskultas: Terdapat bunyi stidor pada paru sinistra dan wheezing pada paru
dextra.

Abdomen :

Inspeksi: Tidak ada psikatrik, tidak tampak distensi abdomen


Auskultasi: Tidak dilakukan auskultasi
Palpasi : Tidak dilakukan palpasi
Perkusi : Tidak dilakukan perkusi

Genetalia : Bersih, terpasang kateter

Rektal

Ekstremitas

Atas

: Bersih.

: Bagian kiri lemah, bagian kanan dapat digerakkan

Bawah

: tidak sianosis

Aktivitas :klien tidak dapat mealkukan aktivitas sehari-hari

Pola eiminasi

: klien mengatakan tidak ada bab semenjak sakit dan

bak 4x sehari

Pola metabolic : berat badan klien turun selama sakit karena klien bisa
menghabiskan makanan 1 porsi

Riwayat psikologi: klien sangat teganggu dengan keadaanya sekarang dan


klien snagat memikirkan mengenai penyakitnya.

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan perubahan mobilitas akibat vertigo
2. Resiko terjadi trauma berhubungan dengan perubahan keseimbangan
3. Resiko terhadap penurunan volume cairan berhubungan dengan oeningkatan
haluaran cairan.
No

Diagnosa

Tujuan

Keperawa
1.

Kriteria

Intervensi

Rasional

HasiL

tan
Resiko

Diharapka

Klien

a.kaji vertigo

a. Riwayat

tinggi

n cedara

mampu

meliputi riwayat,

penyakit

cedera

tidak

melakukan

durasi, frekuensi

memberikan

berhubung

terjadinya

aktivitas.

dan adanya gejala

dasar untuk

an dengan cidera

penyakit telinga.

intervensi

perubahan

b. Kaji luasnya

b. Luasnya

mobilitas

ketidakmampuan

ketidakmampu

akibat

dalam adl

an

vertigo.

c. Pemberian

menunjukkan

terapi antivertigo

resiko jatuh

d. Dorong klien

c. Obat vertigo

untuk istirahat

berguna untuk

bila pusing

mennghilangka

2.

e. Anjurkan klien

n gejala akut

tetap membuka

vertigo

mata dan

d. mengurangi

memandang lurus

jatuh dan

kedepan ketika

cedera

mengalami

e. Mengurangi

vertigo

perasaan

Resiko

Diharapka

Klien tidak a. lakukan

vertigo
a. kelainan

terjadi

n trauma

lagi

vestibular

trauma

klien

mengalami keseimbangan.

menyebabkan

berhubung

berkurang

trauma

b. Bantu ambulasi

gejala dan

an dengan

bila ada indikasi.

tanda ini,

perubahan

c. Bantu

b. Cara jalan

keseimban

mengidentifikasik

yang abnormal

gan

an bahaya di

menimbulkan

lingkungan

klien tidak bisa

rumah.

tegak

pengkajian test

c. Adaptasi
terhadap
lingkungan
rumah dapat
menurunkan
resiko jatuh
selama proses
3.

Resiko

Diharapka

Tercapainy a. kaji intake dan

rehabilitasi.
a. Pencatatan

terhadap

n intake

a volume

output

yang akurat

penurunan

oral klien

cairan

b. kaji indikator

merupakan

volume

terpenuhi

yang

dehidrasi

dasar untuk

seimbang

c. Dorong

penggantian

berhubung

konsumsi cairan

cairan

an dengan

oral dan hindari

b. pengenalan

cairan

peningkata

minuman yang

segera

n haluaran

mengandung

memungkinkan

cairan

kafein

intervensi

d. Pemberian

segera

antiemetik

c. Penggantian
cairan oral
dapat berguna
untuk
mengganti
kehilangan
cairan dan
kafein dapat
meningkatkan
diare
d. Antiemetik
mengurangi
mual dan
muntah
sehingga
mengurangi
kehilangan
cairan

D. Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor faktor yang
mempengaruhi masalah kesehatan klien.
Tujuan pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang
telah ditetapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit,
pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping.

Pendekatan tindakan keperawatan meliputi :


1. Independen
Adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh perawat tanpa petunjuk dan
perintah dari dokter atau tenaga kesehatan lainnya.
2. Interdependen
Adalah tindakan keperawatan yang menjelaskan suatu kegiatan yang
memerlukan kerjasama dengan tenaga kesehatan lainnya misalnya tenaga
sosial, ahli gizi, fisioterapi dan dokter.
3. Dependen
Adalah tindakan yang berhubungan dengan pelaksanaan rencana tindakan
medis
E.Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dengan cara
melakukan identifikasi sejauh mana diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan
pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Ada dua komponen untuk mengevaluasi
tindakan keperawatan yaitu :
1. Evaluasi formatif (Proses)
Fokus tipe evaluasi ini adalah aktivitas dari proses keperawatan dan hasil
kualitas pelayanan, tindakan keperawatan. Evaluasi proses kasus dilaksanakan
segera setelah perencanaan keperawatan dilaksanakan untuk membantu
keefektifan terhadap tindakan. Evaluasi ini berupa respon klien setelah
pelaksanaan tindakan keperawatan.
2. Evaluasi sumatif (Hasil)
Fokus evaluasi hasil adalah perubahan perilaku atau status kesehatan klien
pada akhir tindakan perawatan klien. Tipe evaluasi ini dilaksanakan pada akhir

tindakan keperawatan. Sistem penulisan ada tahap evaluasi ini bisa


menggunakan sistem SOAP atau model komponen lainnya.

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Labirinitis adalah inflamasi telinga dalam dan dapat disebabkan
bakteri ataupun virus (KMB Vol.3)

Labirinitis dapat disebabkan oleh bakteri atau virus. Pada labirinitis


akut, mikroorganisme penyebab S. Pneumoni, Streptokokus dan Hemofilus
influenza. Pada labirinitis kronik mikroorganisme penyebab biasanya
disebabkan campuran dari basil gram negatif, psseudomonas, proteus dan E.
coli. Virus citomegalo, virus campak, mumps dan Rubella, virus herpes,
influenza dan HIV merupakan patogen penyebab pada labirinitis viral.
4.2 SARAN
1.

Perawat bisa mengenal dengan cepat ciri-ciri dari gangguan penyakit


telinga dalam khususnya Labirintitis.

2. Perawat bisa menangani pasien dengan gangguan penyakit telinga dalam


khususnya labirintitis dengan cepat, teliti dan terampil.
3. Perawat dapat membuat Asuhan Keperawatan pada pasien yang menderita
gangguan penyakit telinga dalam khususnya Labirinitis dengan tepat.
4. Perawat dapat bekerjasama dengan baik dengan tim kesehatan lain maupun
pasien dalam tahap pengobatan

DAFTAR PUSTAKA

ADAMS BOIES HIGLER. Buku Ajar Penyakit THT. EDISI 6, JAKARTA: EGC
Anatomi Dan Fisiologi Untuk Para Medis.Jakarta : GramediaPustaka Utama.Price,
Sylvia A. 1995.

Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 1. Jakarta : EGC.Pearce, Evelyn
C. 1979.
Brunner & suddarth.2002. buku ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Vol 3,
Jakarta;EGC.
Patofisiologi Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit edis 4.Jakarta : EGC.Soepardi,
Efiaty Assyad dkk.
Telinga Hidung Tenggorok edisi 3. Jakarta. BalaiPenerbit FKUI.Syaifuddin.
1997.Anatomi Fisiologi untuk siswa Perawat edisi 2.Jakarta : EGC