Anda di halaman 1dari 36

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN SISWA-SISWI SMK KESEHATAN

SUMBAWA TENTANG PENYAKIT DIABETES MELLITUS PADA TAHUN 2015


Proposal Mini Project ini disusun dalam rangka
memenuhi tugas internsip di Puskesmas Kembangbahu

Disusun oleh :
dr. I Gede Ariana

Pembimbing :
dr. Lita Feradila Rosa

PUSKESMAS UNIT I SUMBAWA BESAR


KABUPATEN SUMBAWA BESAR
SEPTEMBER 2015

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Penyakit diabetes melitus atau yang lebih dikenal dengan penyakit kencing manis
adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam
darah atau hiperglikemia1. Diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme yang secara
genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi
karbohidrat (Prince & Wilson, 2006). Diabetes melitus dan komplikasinya telah menjadi
masalah masyarakat yang serius dan merupakan penyebab yang penting dari angka
kesakitan, kematian, dan kecacatan di seluruh dunia.
Fenomena diabetes melitus yang meningkat secara drastis di negara-negara
berkembang dan di negara-negara maju membuat diabetes melitus menjadi penyebab
kematian keempat terbesar di dunia saat ini. Jumlah pasien diabetes di dunia mencapai 336
juta jiwa pada tahun 2011 ini dan diprediksikan angka tersebut akan terus bertambah
menjadi 350 juta jiwa pada tahun 2020. Intenational Diabetes Federation (IDF) tahun 2003
menyatakan prevalensi diabetes melitus di dunia adalah 5,1% atau sekitar 194 juta
penduduk menderita diabetes melitus pada kelompok umur 20 sampai 79 tahun. Prevalensi
diabetes di Asia Tenggara sebanyak 46 juta jiwa dan diperkirakan meningkat hingga 119
juta jiwa2.
Jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia selalu bertambah dari tahun ke tahun.
Berdasarkan data WHO, jumlah penderita diabetes di Indonesia saat ini berada di peringkat
keenam setelah India, China, Rusia, Jepang, dan

Brasil. Prevalensi diabetes melitus di

Indonesia sebanyak 8,4 juta jiwa pada tahun 2000, 13,8 juta jiwa merupakan penderita
diabetes pada tahun 2003, dan pada tahun 2030 diperkirakan penderita diabetes sebesar
21,3 juta jiwa yang akan menjadikan Indonesia sebagai nomor empat di dunia (DITJEN
PP

&

PL, 2008). Internasional Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2009,

memperkirakan kenaikan jumlah penyandang diabetes melitus dari 7,0 juta tahun 2009
menjadi 12,0 juta tahun 2030. Laporan keduanya menunjukan adanya peningkatan jumlah
penyandang diabetes sebanyak 2-3 kali lipat pada tahun 2030. Kejadian diabetes di
Indonesia diperkirakan jauh lebih tinggi dari data prevalensi yang ada karena banyak
yang belum terdeteksi2.
Internasional Diabetes Federation (IDF), Diabetes Atlas dalam Susilo (2011)
menunjukan 285 juta orang menderita diabetes ternyata lebih banyak kaum muda. Lebih

dari separuh jumlah tersebut adalah penduduk usia muda antara 20-60 tahun. Sebagian besar
kasus diabetes melitus adalah diabetes tipe-2 yang juga disebabkan oleh faktor keturunan,
tetapi faktor keturunan saja tidak cukup untuk menyebabkan seseorang terkena diabetes
karena risikonya hanya sebesar 5%. Diabetes tipe-2 lebih sering terjadi pada orang yang
mengalami obesitas atau kegemukan akibat gaya hidup yang dijalaninya3. Gaya hidup,
terutama pada anak muda, saat ini telah menggiring pada perubahan pola makan yang tidak
sehat, tidak teratur, dan tidak seimbang. Masyarakat saat ini lebih menyukai makanan cepat
saji atau yang akrab dikenal dengan sebutan fast food dan minuman soft drink yang
ternyata membawa dampak buruk bagi kesehatan karena makanan dan minuman tersebut
banyak mengandung kalori, gula, lemak, protein, kolesterol, dan garam tinggi, tetapi rendah
serat pangan dan vitamin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh.
Pengetahuan merupakan hasil tahu yang terjadi setelah seseorang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu4. Penginderaan tersebut sebagian besar berasal
dari penglihatan dan pendengaran yang sering digunakan untuk mendapatkan informasi.
Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang adalah pendidikan.
Pendidikan mengenai kesehatan dapat diperoleh dari sekolah-sekolah yang berbasis
kesehatan yang disebut SMK. Dalam pendidikan kesehatan seorang siswa akan diberi
pengetahuan kesehatan terutama mengenai penyakit dan cara penanganannya. Pengetahuan
mengenai penyakit diabetes mellitus merupakan hal yang sangat penting diketahui oleh
seorang siswa kesehatan karena beban penyakit diabetes yang demikian besar baik secara
nasional dan global. Hal ini yang menjadi dasar pemikiran peneliti untuk mengetahui tingkat
pengetahuan siswa SMK kesehatan mengenai penyakit diabetes mellitus.

1.2 Rumusan Masalah


Diabetes melitus merupakan masalah kesehatan yang sangat serius yang terjadi khususnya
Indonesia yang dimana prevalensi diabetes melitus yang terus meningkat setiap tahunnya.
Tingginya prevalensi ini harus dicegah mulai dari sekarang. Siswa SMK kesehatan sebagai
calon perawat yang akan bekerja di bidang kesehatan sangat penting mengetahui mengenai
penyakit diabetes. Sehingga hal ini membuat peneliti ingin mengetahui bagaimana tingkat

pengetahuan siswa SMK Kesehatan tentang penyakit diabetes melitus.


1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1

Tujuan Umum

Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan tentang penyakit diabetes melitus pada siswa
SMK kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Seketeng.
1.3.2

Tujuan Khusus

1.3.2.1 Mengetahui karakteristik siswa SMK kesehatan.


1.3.2.2 Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan tentang penyakit diabetes melitus pada
siswa SMK kesehatan berdasarkan karakteristik mahasiswa.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Bagi penulis, mini project ini menjadi pengalaman yang berguna dalam menerapkan
ilmu pengetahuan yang diperoleh sebelum internship.
1.4.2 Bagi siswa SMK, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi tentang
tingkat pengetahuan mereka dan mengetahui hasil pembelajaran selama ini.
1.4.3 Bagi sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi mengenai
hasil pembelajaran siswanya.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan

2.1.1 Pengertian
Pengetahuan merupakan hasil tahu yang terjadi setelah seseorang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoadmojo, 2003). Penginderaan tersebut
sebagian besar berasal dari penglihatan dan pendengaran yang sering digunakan untuk
mendapatkan informasi.
2.1.2 Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan dicakup di dalam domain kognitif 6 tingkatan pengetahuan (Notoatmojo,
2010).
2.1.2.1 Tahu (Know)
Tahu di artikan sebagai mengingat suatu materi yang telah di pelajari sebelumnya.
Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap
situasi yang sangat spesifik dari seluruh bahan yang di pelajari atau rangsangan yang telah
di terima. Oleh sebab itu, ini adalah merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah.
2.1.2.2 Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.
Orang yang telah paham harus dapat menjelaskan, menyimpulkan, meramalkan terhadap
objek yang dipelajari.
2.1.2.3 Aplikasi (Aplication)
Aplikasi adalah kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi
dan kondisi nyata. Aplikasi dapat diartikan sebagai penggunaan hukum- hukum, rumusrumus, metode-metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain
2.1.2.4 Analisis (Analysis)
Suatu kemampuan menjabarkan materi atau kedalam komponen-komponen tetapi
masih dalam struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Kemampuan analisis ini dapat diteliti dari penggantian kata seperti dapat menggambarkan
(menurut bagian), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
2.1.2.5 Sintesis (Syntesis)
Menunjukkan kepada suatu komponen untuk meletakkan atau menghubungkan
bagian-bagian di dalam satu bentuk keseluruhan yang baru. Merupakan kemampuan
menyusun, merencanakan, meringkaskan, menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu

teori atau rumusan-rumusan yang ada.


2.1.2.6 Evaluasi (Evaluation)
Berkaitan dengan kemampuan melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu
materi atau objek. Penilaian-penilaian berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri,
atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

2.1.3 Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan


Menurut

Notoatmojo

(2007)

berikut

adalah

beberapa

faktor

yang

dapat

mempengaruhi pengetahuan seseorang tentang sesuatu hal :


2.1.3.1 Usia
Usia remaja dibagi ke dalam tiga periode, yaitu tahap awal, menengah, dan akhir. Usia
remaja awal antara 11-14 tahun, usia remaja tengah antara 15-17 tahun, dan usia remaja
akhir antara 18-20 tahun (Whaley & Wong, 2009). Usia berdasarkan DeLauner & Ladner
(2002) yang menyatakan bahwa usia dewasa awal merupakan usia 21-40 tahun dan dewasa
tengah 40-65 tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang
akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Semakin bertambah usia, daya tangkap dan
pola pikir akan semakin berkembang, dengan begitu dipercaya bahwa pengetahuan yang
diperoleh akan semakin membaik (Notoatmojo, 2007).
2.1.3.2 Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan
orang lain menuju ke arah suatu cita-cita tertentu. Semakin tinggi tingkat pendidikan
seseorang maka semakin mudah dalam menerima informasi, sehingga semakin banyak pula
pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat
perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru dikenal.
2.1.3.3 Lingkungan
Lingkungan adalah seluruh kondisi yang ada di sekitar manusia dan pengaruhnya
yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok. Lingkungan
adalah input kedalam diri seseorang sehingga sistem adaptif yang melibatkan baik faktor
internal

maupun faktor eksternal. Seseorang

yang

hidup dalam lingkungan yang

berpikiran luas maka pengetahuannya akan lebih baik dari pada orang yang hidup di
lingkungan yang berpikiran sempit.
2.1.3.4 Pekerjaan

Pekerjaan adalah serangkaian tugas atau kegiatan yang harus dilaksanakan atau
diselesaikan oleh seseorang sesuai dengan jabatan atau profesi masing-masing. Status
pekerjaan yang rendah sering mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Pekerjaan
biasanya sebagai simbol status sosial di masyarakat. Masyarakat akan memandang
seseorang dengan penuh penghormatan apabila pekerjaannya sudah pegawai negeri atau
pejabat di pemerintahan.
2.1.3.5 Sosial budaya dan ekonomi
Variabel ini sering dilihat angka kesakitan dan kematian, variabel ini menggambarkan
tingkat kehidupan seseorang yang ditentukan unsur seperti pendidikan, pekerjaan,
penghasilan dan banyak contoh serta ditentukan pula oleh tempat tinggal karena hal ini
dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan termasuk pemeliharaan kesehatan.
2.1.3.6 Sumber Informasi
Informasi dapat diperoleh di rumah, di sekolah, lembaga organisasi, media cetak dan
tempat pelayanan kesehatan. Ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan informasi
sekaligus menghasilkan informasi. Jika

pengetahuan berkembang sangat cepat maka

informasi berkembang sangat cepat pula. Adanya ledakan pengetahuan sebagai akibat
perkembangan dalam bidang ilmu dan pengetahuan, maka semakin banyak pengetahuan
baru bermunculan. Pemberian informasi seperti cara-cara pencapaian hidup sehat akan
meningkatkan pengetahuan masyarakat yang dapat menambah kesadaran untuk berperilaku
sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki.
2.1.3.7 Pengalaman
Merupakan sumber pengetahuan atau suatu cara untuk memperoleh kebenaran dan
pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh
dalam memecahkan masalah yang dihadapi di masa lalu.

2.2. Definisi Diabetes Mellitus


Menurut American Association (ADA) tahun 2010, Diabetes Mellitus merupakan suaatu
kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena
kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya 4 .
2.2.1 Etiologi Diabetes Mellitus

Beberapa ahli berpendapat bahwa dengan meningkatnya umur, maka intoleransi terhadap
glukosa juga meningkat. Peningkatan kadar gula darah pada usia lanjut dapat disebabkan oleh
2

:
a

Fungsi sel pankreas dan sekresi insulin yang berkurang

Resistensi insulin

Aktivitas fisik yang berkurang, banyak makan, badan kegemukan.

Keberadaan penyakit lain, sering menderita stress, operasi.

Sering menggunakan bermacam-macam obat-obatan.

Adanya faktor keturunan

2.2.2 Klasifikasi Diabetes Mellitus


American Diabetes Association (ADA) dalam Standards of Medical Care in Diabetes
(2009) memberikan klasifikasi diabetes melitus menjadi 4 tipe yang disajikan dalam :
1. Diabetes melitus tipe 1, yaitu diabetes melitus yang dikarenakan oleh adanya
destruksi sel pankreas yang secara absolut menyebabkan defisiensi insulin.
2. Diabetes melitus tipe 2, yaitu diabetes yang dikarenakan oleh adanya kelainan
sekresi insulin yang progresif dan adanya resistensi insulin.
3. Diabetes melitus tipe lain, yaitu diabetes yang disebabkan oleh beberapa faktor
lain seperti kelainan genetik pada fungsi sel pankreas, kelainan genetik pada
aktivitas insulin, penyakit eksokrin pankreas (cystic fibrosis), dan akibat
penggunaan obat atau bahan kimia lainnya (terapi pada penderita AIDS dan terapi
setelah transplantasi organ).
4. Diabetes melitus gestasional, yaitu tipe diabetes yang terdiagnosa atau dialami
selama masa kehamilan.

Tabel 1. Klasifikasi Diabetes Mellitus menurut American Diabetes Association


2.2.4 Patofisiologi Diabetes Mellitus3
2.2.4.1 Diabetes melitus tipe 1
Pada DM tipe I ( DM tergantung insulin (IDDM), sebelumnya disebut diabetes
juvenilis), terdapat kekurangan insulin absolut sehingga pasien membutuhkan suplai
insulin dari luar. Keadaan ini disebabkan oleh lesi pada sel beta pankreas karena
mekanisme autoimun, yang pada keadaan tertentu dipicu oleh infeksi virus. DM tipe I
terjadi lebih sering pada pembawa antigen HLA tertentu (HLA-DR3 dan HLA-DR4), hal
ini terdapat disposisi genetik. Diabetes mellitus tipe 1, diabetes anak-anak (bahasa
Inggris: childhood-onset diabetes, juvenile diabetes, insulin-dependent diabetes mellitus,
IDDM) adalah diabetes yang terjadi karena berkurangnya rasio insulin dalam sirkulasi
darah akibat defek sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas.
IDDM dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa, namun lebih sering didapat
pada anak anak.
2.2.4.2 Diabetes Melitus tipe 2
Pada DM tipe II (DM yang tidak tergantung insulin (NIDDM), sebelumnya disebut
dengan DM tipe dewasa) hingga saat ini merupakan diabetes yang paling sering terjadi. Pada
tipe ini, disposisi genetik juga berperan penting. Namun terdapat defisiensi insulin relatif;

pasien tidak mutlak bergantung pada suplai insulin dari luar. Pelepasan insulin dapat normal
atau bahkan meningkat, tetapi organ target memiliki sensitifitas yang berkurang terhadap
insulin. Sebagian besar pasien DM tipe II memiliki berat badan berlebih. Obesitas terjadi
karena disposisi genetik, asupan makanan yang terlalu banyak, dan aktifitas fisik yang terlalu
sedikit. Ketidakseimbangan antara suplai dan pengeluaran energi meningkatkan konsentrasi
asam lemak di dalam darah. Hal ini selanjutnya akan menurunkan penggunaan glukosa di
otot dan jaringan lemak. Akibatnya, terjadi resistensi insulin yang memaksa untuk
meningkatan pelepasan insulin. Akibat regulasi menurun pada reseptor, resistensi insulin
semakin meningkat. Obesitas merupakan pemicu yang penting, namun bukan merupakan
penyebab tunggal diabetes tipe II. Penyebab yang lebih penting adalah adanya disposisi
genetic yang menurunkan sensitifitas insulin. Sering kali, pelepasan insulin selalu tidak
pernah normal. Beberapa gen telah di identifikasi sebagai gen yang menigkatkan terjadinya
obesitas dan DM tipe II. Diantara beberapa factor, kelaian genetic pada protein yang
memisahkan rangkaian di mitokondria membatasi penggunaan substrat. Jika terdapat
disposisi genetik yang kuat, diabetes tipe II dapat terjadi pada usia muda. Penurunan
sensitifitas insulin terutama mempengaruhi efek insulin pada metabolisme glukosa,
sedangkan pengaruhnya pada metabolisme lemak dan protein dapat dipertahankan dengan
baik. Jadi, diabetes tipe II cenderung menyebabkan hiperglikemia berat tanpa disertai
gangguan metabolisme lemak.
2.2.4.3 Diabetes tipe lain
Defisiensi insulin relative juga dapat disebabkan oleh kelainan yang sangat jarang pada
biosintesis insulin, reseptor insulin atau transmisi intrasel. Bahkan tanpa ada disposisi
genetic, diabetes dapat terjadi pada perjalanan penyakit lain, seperti pancreatitis dengan
kerusakan sel beta atau karena kerusakan toksik di sel beta. Diabetes mellitus ditingkatkan
oleh

peningkatan pelepasan hormone

antagonis, diantaranya, somatotropin

(pada

akromegali), glukokortikoid (pada penyakit Cushing atau stress), epinefrin (pada stress),
progestogen dan kariomamotropin (pada kehamilan), ACTH, hormone tiroid dan glucagon.
Infeksi yang berat meningkatkan pelepasan beberapa hormone yang telah disebutkan di atas
sehingga meningkatkan pelepasan beberapa hormone yang telah disebutkan diatas sehingga
meningkatkan manifestasi diabetes mellitus. Somatostatinoma dapat menyebabkan diabetes
karena

somatostatin

(Silabernagi,2002)

yang

diekskresikan

akan

menghambat

pelepasan

insulin.

2.2.5 Diagnosis Diabetes Mellitus3


Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. Diagnosis
tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria. Guna penentuan diagnosis DM,
pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik
dengan bahan darah plasma vena. Penggunaan bahan darah utuh (whole blood), vena,
ataupun kapiler tetap dapat dipergunakan dengan memperhatikan angka-angka kriteria
diagnostik yang berbeda sesuai pembakuan oleh WHO. Sedangkan untuk tujuan pemantauan
hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler
dengan glukometer.
Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes. Kecurigaan adanya
diabetes mellitus perlu diperlukan apabila terdapat keluhan klasik seperti dibawah ini :
a

Keluhan klasik diabetes mellitus berupa :


-

Poliuria

Polidipsia

Polifagia

Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya

Keluhan lain berupa :


-

Lemah badan

Kesemutan

Gatal

Mata Kabur

Dsifungsi ereksi pada pria

Pruritus vulvae pada wanita

Diagnosis diabetes mellius dapat ditegakkan melalui tiga cara :


a

Jika ditemukan keluhan klasik dan kadar glukosa darah sewaktu (plasma vena) >
200mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis diabetes mellitus.

Pemeriksaan kadar glukosa darah puasa (plasma vena) > 126 mg/dl disertai adanya
keluhan klasik.

Kadar glukosa plasma >= 200 mg/dl pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram pada
Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO)

Tabel Kadar Glukosa Darah Sewaktu dan Puasa Sebagai Patokan Pemeriksaan Penyaring
dan diagnosis Diabetes Mellitus ( mg/dl) .

Kadar

glukosa Plasma ( vena )


Darah Kapiler
darah sewaktu
( mg/dl )
Kadar glukosa Plasma (vena)
Darah Kapiler
darah
puasa

Bukan DM
< 100

Belum Pasti DM
100-199

DM
>200

<90

90 199

>200

<100

100 125

>126

<90

90 99

>126

( mg /dl )

Tabel 3. Kriteria Diabetes Mellitus


Diperlukan anamnesis yang cermat serta pemeriksaan yang baik untuk menentukan
diagnosis diabetes melitus, toleransi glukosa terganggu dan glukosa darah puasa tergagnggu.
Berikut adalah langkah-langkah penegakkan diagnosis diabetes melitus, TGT, dan GDPT.

Gambar 1. Alur Pemeriksaan Diabetes Mellitus


2.2.6 Komplikasi Diabetes Mellitus4
Komplikasi diabetes mellitus yang dapat ditemukan, antara lain :
a

Komplikasi akut
1

Hipoglikemia

Hipoglikemia ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah < 60


mg/dl.

Bila terdapat penurunan kesadaran pada penderita diabetes mellitus


harus

selalu

dipikirkan

kemungkinan

terjadinya

hipoglikemia.

Hipoglikemia paling sering diakibatkan oleh golongan sulfonylurea dan


insulin.

Gejala hipoglikemia terdiri dari gejala adrenergic ( berdebar-debar,


banyak keringat, gemetar dan rasa lapar) dan gejala neuro-glikopenik
( pusing, gelisah, penurunan kesadaran sampai koma).

2.Ketoasidosis diabetic
Merupakan komplikasi akut diabetes yang ditandai dengan adanya peningkatan
kadar glukosa darah yang tinggi ( 300-600 mg/dL) disertai dengan adanya tanda dan
gejala asidosi dan plasma aseton (+) kuat.
Merupakan komplikasi metabolik yang paling serius pada DM . Hal ini terjadi
karena kadar insulin sangat menurun, dan pasien akan mengalami hal berikut: (Boon
et.al 2006)
Hiperglikemia
Hiperketonemia
Asidosis metabolik
Hiperglikemia dan glukosuria berat, penurunan lipogenesis ,peningkatan
lipolisis dan peningkatan oksidasi asam lemak bebas disertai pembentukan benda
keton (asetoasetat, hidroksibutirat, dan aseton). Peningkatan keton dalam plasma
mengakibatkan ketosis. Peningkatan produksi keton meningkatkan beban ion hidrogen
dan asidosis metabolik. Glukosuria dan ketonuria yang jelas juga dapat mengakibatkan
diuresis osmotik dengan hasil akhir dehidrasi dan kehilangan elektrolit. Pasien dapat
menjadi hipotensi dan mengalami syok. (Price et.al 2005)
Akhirnya, akibat penurunan penggunaan oksigen otak, pasien akan mengalami
koma dan meninggal. Koma dan kematian akibat DKA saat ini jarang terjadi, karena
pasien maupun tenaga kesehatan telah menyadari potensi bahaya komplikasi ini dan
pengobatan DKA dapat dilakukan sedini mungkin.
Tanda dan Gejala ketoasidosis metabolik :
1. Dehidrasi
2. Hipotensi (postural atau supine)
3. Ekstremitas Dingin/sianosis perifer
4. Takikardi
5. Kusmaul breathing
6. Nafas bau aseton
7. Hipotermia
8. Poliuria
9. Tampak Bingung
10. Kelelahan
11. Mual muntah

12. Pandangan kabur


13. Koma ( 10% )

Tabel 4. Terapi penanganan ketoasidosis metabolik


2

Status Hiperglikemia Hiperosmolar (SHH)


Pada keadaan ini terjadi peningkatan kadar glukosa darah sangat tinggi (6001200 mg/dL) tanpa tanda dan gejala asidosis.

b. Komplikasi Kronik
1. Makroangiopati

Pembuluh darah jantung

Pembuluh darah tepi

Pembuluh darah otak

2.Mikroangiopati
Retinopati diabetic

Nefropati diabetic
Neuropati diabetic
2.2.7 Masalah-Masalah Khusus Pada Diabetes4,5
2.2.7.1 Diabetes dengan Infeksi
Adanya infeksi pada pasien sangat berpengaruh terhadap pengendalian glukosa darah.
Infeksi dapat memperburuk kendali glukosa darah, dan kadar glukosa darah yang tinggi
meningkatkan kemudahan atau memperburuk infeksi. Infeksi yang banyak terjadi antara lain:

Infeksi saluran kemih (ISK)


Infeksi saluran nafas: pneumonia, TB Paru
Infeksi kulit: furunkel, abses
Infeksi rongga mulut: infeksi gigi dan gusi
Infeksi telinga: otitis eksterna maligna
ISK merupakan infeksi yang sering terjadi dan lebih sulit dikendalikan. Dapat
mengakibatkan terjadinya pielonefritis dan septikemia. Kuman penyebab yang sering
menimbulkan infeksi adalah: Escherichia coli dan Klebsiella. Infeksi jamur spesies
kandida dapat menyebabkan sistitis dan abses renal. Pruritus vagina adalah

manifestasi yang sering terjadi akibat infeksi jamur vagina.


Pneumonia pada diabetes biasanya disebabkan oleh: streptokokus, stafilokokus, dan
bakteri batang gram negatif. Infeksi jamur pada pernapasan oleh aspergillosis, dan

mucormycosis juga sering terjadi.


Penyandang diabetes lebih rentan terjangkit TBC paru. Pemeriksaan rontgen dada,
memperlihatkan pada 70% penyandang diabetes terdapat lesi paru-paru bawah dan
kavitasi. Pada penyandang diabetes juga sering disertai dengan adanya resistensi

obat-obat Tuberkulosis.
Kulit pada daerah ekstremitas bawah merupakan tempat yang sering mengalami
infeksi. Kuman stafilokokus merupakan kuman penyebab utama. Ulkus kaki
terinfeksi biasanya melibatkan banyak mikro organisme, yang sering terlibat adalah

stafilokokus, streptokokus, batang gram negatif dan kuman anaerob.


Angka kejadian periodontitis meningkat pada penyandang diabetes dan sering
mengakibatkan tanggalnya gigi. Menjaga kebersihan rongga mulut dengan baik
merupakan hal yang penting untuk mencegah komplikasi rongga mulut.
pada penyandang diabetes, otitis eksterna maligna sering kali tidak terdeteksi sebagai
penyebab infeksi.

2.2.7.2. Diabetes dengan Nefropati Diabetik

Sekitar 20-40% penyandang diabetes akan mengalami nefropati diabetik


Didapatkannya albuminuria persisten pada kisaran 30-299 mg/24 jam (albuminuria

mikro) merupakan tanda dini nefropati diabetik


Pasien yang disertai dengan albuminuria mikro dan berubah menjadi albuminuria
makro ( >300 mg/24 jam), pada akhirnya sering berlanjut menjadi gagal ginjal kronik
stadium akhir.
Diagnosis

Diagnosis nefropati diabetik ditegakkan jika didapatkan kadar albumin > 30


mg dalam urin 24 jam pada 2 dari 3 kali pemeriksaan dalam kurun waktu 3- 6
bulan, tanpa penyebab albuminuria lainnya.

Penatalaksanaan

Kendalikan glukosa darah


Kendalikan tekanan darah
Diet protein 0,8 gram/kgBB per hari. Jika terjadi penurunan fungsi ginjal

yang bertambah berat, diet protein diberikan 0,6 0,8 gram/kg BB per hari.
Terapi dengan obat penyekat reseptor angiotensin II, penghambat ACE, atau
kombinasi keduanya. Jika terdapat kontraindikasi terhadap penyekat ACE
atau

reseptor

angiotensin,

dapat

diberikan

antagonis

kalsium

non

dihidropiridin.
Apabila serum kreatinin >2,0 mg/dL sebaiknya ahli nefrologi ikut dilibatkan
Idealnya bila klirens kreatinin <15 mL/menit sudah merupakan indikasi terapi
pengganti (dialisis, transplantasi).

2.7.3. Diabetes dengan Disfungsi Ereksi (DE)

Prevalensi DE pada penyandang diabetes tipe 2 lebih dari 10 tahun cukup tinggi dan

merupakan akibat adanya neuropati autonom, angiopati dan problem psikis.


DE sering menjadi sumber kecemasan penyandang diabetes, tetapi jarang

disampaikan kepada dokter oleh karena itu perlu ditanyakan pada saat konsultasi.
Pengelolaan DE pada diabetes dapat mengacu pada Penatalaksanaan Disfungsi Ereksi
(Materi Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan, IDI, 1999). DE dapat didiagnosis
dengan menggunakan instrumen sederhana yaitu kuesioner IIEF5 (International Index

of Erectile Function 5).


Upaya pengobatan utama adalah memperbaiki kontrol glukosa darah senormal
mungkin dan memperbaiki faktor risiko DE lain seperti dislipidemia, merokok,
obesitas dan hipertensi.

Perlu diidentifikasi berbagai obat yang dikonsumsi pasien yang berpengaruh

mterhadap timbulnya atau memberatnya DE.


Pengobatan lini pertama ialah terapi psikoseksual dan obat oral antara lain sildenafil
dan vardenafil.

2.2.7.4. Diabetes dengan Kehamilan/Diabetes Melitus Gestasional

Diabetes melitus gestasional (DMG) adalah suatu gangguan toleransi karbohidrat


(TGT, GDPT, DM) yang terjadi atau diketahui pertama kali pada saat kehamilan

sedang berlangsung.
Penilaian adanya risiko DMG perlu dilakukan sejak kunjungan pertama untuk

pemeriksaan kehamilannya
Faktor risiko DMG antara lain: obesitas, adanya riwayat pernah mengalami DMG,
glukosuria, adanya riwayat keluarga dengan diabetes, abortus berulang, adanya
riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan atau melahirkan bayi dengan berat >
4000 gram, dan adanya riwayat preeklamsia. Pada pasien dengan risiko DMG yang
jelas perlu segera dilakukan pemeriksaan glukosa darah. Bila didapat hasil glukosa
darah sewaktu 200 mg/dL atau glukosa darah puasa 126 mg/dL yang sesuai
dengan batas diagnosis untuk diabetes, maka perlu dilakukan pemeriksaan pada waktu
yang lain untuk konfirmasi. Pasien hamil dengan TGT dan GDPT dikelola sebagai

DMG.
Diagnosis berdasarkan hasil pemeriksaan TTGO dilakukan dengan memberikan
beban 75 gram glukosa setelah berpuasa 814 jam. Kemudian dilakukan pemeriksaan

glukosa darah puasa, 1 jam dan 2 jam setelah beban.


DMG ditegakkan apabila ditemukan hasil pemeriksaan glukosa darah puasa 95
mg/dL, 1 jam setelah beban < 180 mg/dL dan 2 jam setelah beban 155 mg/dL.
Apabila hanya dapat dilakukan 1 kali pemeriksaan glukosa darah maka lakukan
pemeriksaan glukosa darah 2 jam setelah pembebanan, bila didapatkan hasil glukosa

darah 155 mg/dL, sudah dapat didiagnosis sebagai DMG.


Hasil pemeriksaan TTGO ini dapat digunakan untuk memprediksi terjadinya DM

pada ibu nantinya


Penatalaksanaan DMG sebaiknya dilaksanakan secara terpadu oleh spesialis penyakit

dalam, spesialis obstetri ginekologi, ahli diet dan spesialis anak.


Tujuan penatalaksanaan adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu,
kesakitan dan kematian perinatal. Ini hanya dapat dicapai apabila keadaan
normoglikemia dapat dipertahankan selama kehamilan sampai persalinan.

Sasaran normoglikemia DMG adalah kadar glukosa darah puasa 95 mg/dL dan 2
jam sesudah makan 120 mg/dL. Apabila sasaran kadar glukosa darah tidak tercapai
dengan pengaturan makan dan latihan jasmani, langsung diberikan insulin.

2.2.7.5. Diabetes dengan Ibadah Puasa

Penyandang diabetes yang terkendali dengan pengaturan makan saja tidak akan
mengalami kesulitan untuk berpuasa. Selama berpuasa Ramadhan, perlu dicermati

adanya perubahan jadwal, jumlah dan komposisi asupan makanan.


Penyandang diabetes usia lanjut mempunyai kecenderungan dehidrasi bila berpuasa,
oleh karena itu dianjurkan minum yang cukup. Perlu peningkatan kewaspadaan pasien
terhadap gejala-gejala hipoglikemia. Untuk menghindarkan terjadinya hipoglikemia
pada siang hari, dianjurkan jadwal makan sahur mendekati waktu imsak/subuh,
kurangi aktivitas fisik pada siang hari dan bila beraktivitas fisik dianjurkan pada sore

hari.
Penyandang diabetes yang cukup terkendali dengan OHO dosis tunggal, juga tidak
mengalami kesulitan untuk berpuasa. OHO diberikan saat berbuka puasa. Hati-hati
terhadap terjadinya hipoglikemia pada pasien yang mendapat OHO dengan dosis

maksimal.
Bagi yang terkendali dengan OHO dosis terbagi, pengaturan dosis obat diberikan

sedemikian rupa sehingga dosis sebelum berbuka lebih besar dari pada dosis sahur.
Untuk penyandang diabetes DM tipe 2 yang menggunakan insulin, dipakai insulin

kerja menengah yang diberikan saat berbuka saja.


Diperlukan kewaspadaan yang lebih tinggi terhadap terjadinya hipoglikemia pada
penyandang diabetes pengguna insulin. Perlu pemantauan yang lebih ketat disertai
penyesuaian dosis dan jadwal suntikan insulin. Bila terjadi gejala hipoglikemia, puasa

dihentikan.
Untuk pasien yang harus menggunakan insulin dosis multipel dianjurkan untuk tidak

berpuasa dalam bulan Ramadhan.


Sebaiknya momentum puasa Ramadhan ini digunakan untuk lebih meningkatkan
pengetahuan dan ketaatan berobat para penyandang diabetes. Dengan berpuasa
Ramadhan diharapkan adanya perubahan psikologis yang menciptakan rasa lebih
sehat bagi penyandang diabetes.

2.2.7.6. Diabetes pada Pengelolaan Perioperatif

Tindakan operasi, khususnya dengan anestesi umum merupakan faktor stres pemicu
terjadinya penyulit akut diabetes, oleh karena itu setiap operasi elektif pada

penyandang diabetes harus dipersiapkan seoptimal mungkin sasaran kadar glukosa


darah puasa <150 mg/dL, PERKENI 2002)
2.2.7.7. Dislipidemia pada Diabetes
Dislipidemia pada penyandang diabetes lebih meningkatkan risiko timbulnya penyakit
kardiovaskular.

Perlu pemeriksaan profil lipid pada saat diagnosis diabetes ditegakkan. Pada pasien
dewasa pemeriksaan profil lipid sedikitnya dilakukan setahun sekali dan bila dianggap
perlu dapat dilakukan lebih sering. Sedangkan pada pasien yang pemeriksaan profil
lipid menunjukkan hasil yang baik (LDL<100mg/dL; HDL>50 mg/dL (laki-laki >40
mg/dL, wanita >50 mg/dL); trigliserid <150 mg/dL), pemeriksaan profil lipid dapat

dilakukan 2 tahun sekali.


Gambaran dislipidemia yang sering didapatkan pada penyandang diabetes adalah
peningkatan kadar trigliserida, dan penurunan kadar kolesterol HDL, sedangkan kadar

kolesterol LDL normal atau sedikit meningkat.


Perubahan perilaku yang tertuju pada pengurangan asupan kolesterol dan penggunaan
lemak jenuh serta peningkatan aktivitas fisik terbukti dapat memperbaiki profil lemak

dalam darah.
Dipertimbangkan untuk memberikan terapi farmakologis sedini mungkin bagi
penyandang diabetes yang disertai dislipidemia

Target terapi:
Pada penyandang DM, target utamanya adalah penurunan LDL
Pada penyandang diabetes tanpa disertai penyakit kardiovaskular: LDL <100 mg/dL (2,6
mmol/L)
Pasien dengan usia >40 tahun, dianjurkan diberi terapi statin untuk menurunkan LDL
sebesar 30- 40% dari kadar awal
Pasien dengan usia <40 tahun dengan risiko penyakit kardiovaskular yang gagal dengan
perubahan gaya hidup, dapat diberikan terapi farmakologis
Pada penyandang DM dengan penyakit AcuteCCoronary Syndrome (ACS) atau telah
diketahui penyakit pembuluh darah lainnya atau mempunyai banyak faktor risiko maka :
o LDL <70 mg/dL (1,8 mmol/L)
o Semua pasien diberikan terapi statin untuk menurunkan LDL sebesar 30-40%.
Trigliserida < 150 mg/dL (1,7 mmol/L)
HDL > 40 mg/dL (1,15 mmol/L) untuk pria dan >50 mg/dL untuk wanita

Setelah target LDL terpenuhi, jika trigliserida 150 mg/dL (1,7 mmol/L) atau HDL

40 mg/dL (1,15 mmol/L) dapat diberikan niasin atau fibrat


Apabila trigliserida 400 mg/dL (4,51 mmol/L) perlu segera diturunkan dengan

terapi farmakologis untuk mencegah timbulnya pankreatitis.


Terapi kombinasi statin dengan obat pengendali lemak yang lain mungkin diperlukan
untuk mencapai target terapi, dengan memperhatikan peningkatan risiko timbulnya

efek samping.
Niasin merupakan salah satu obat alternatif yang dapat digunakan untuk
meningkatkan HDL, namun pada dosis besar dapat meningkatkan kadar glukosa

darah
Pada wanita hamil penggunaan statin merupakan kontra indikasi

2.2.7.8. Hipertensi pada Diabetes

Indikasi pengobatan : Bila TD sistolik >130 mmHg dan / atau TD diastolik >80

mmHg.
Sasaran (target penurunan) tekanan darah: Tekanan darah <130/80 mmHg Bila
disertai proteinuria 1gram / 24 jam : < 125/75 mmHg

Pengelolaan:

Non-farmakologis: Modifikasi gaya hidup antara lain: menurunkan berat badan,


meningkatkan aktivitas fisik, menghentikan merokok dan alkohol, serta mengurangi

konsumsi garam
Farmakologis: Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih obat anti-hipertensi
(OAH):
Pengaruh OAH terhadap profil lipid
Pengaruh OAH terhadap metabolisme glukosa
Pengaruh OAH terhadap resistensi insulin
Pengaruh OAH terhadap hipoglikemia terselubung

Obat anti hipertensi yang dapat dipergunakan:


Penghambat ACE
Penyekat reseptor angiotensin II
Penyekat reseptor beta selektif, dosis rendah
Diuretik dosis rendah
Penghambat reseptor alfa
Antagonis kalsium

Pada pasien dengan tekanan darah sistolik antara 130-139 mmHg atau tekanan
diastolik antara 80-89 mmHg diharuskan melakukan perubahan gaya hidup sampai

3 bulan. Bila gagal mencapai target dapat ditambahkan terapi farmakologis


Pasien dengan tekanan darah sistolik >140 mmHg atau tekanan diastolik >90

mmHg, dapat diberikan terapi farmakologis secara langsung


Diberikan terapi kombinasi apabila target terapi tidak dapat dicapai dengan
monoterapi.

Catatan
- Penghambat ACE, penyekat reseptor angiotensin II (ARB = angiotensin II receptor blocker)
dan antagonis kalsium golongan non-dihidropiridin dapat memperbaiki mikroalbuminuria.
- Penghambat ACE dapat memperbaiki kinerja kardiovaskular.
- Diuretik (HCT) dosis rendah jangka panjang, tidak terbukti memperburuk toleransi glukosa.
- Pengobatan hipertensi harus diteruskan walaupun sasaran sudah tercapai.
- Bila tekanan darah terkendali, setelah satu tahun dapat dicoba menurunkan dosis secara
bertahap.
- Pada orang tua, tekanan darah diturunkan secara bertahap.
2.2.7.9. Obesitas pada Diabetes

Prevalensi obesitas pada DM cukup tinggi, demikian pula kejadian DM dan gangguan

toleransi glukosa pada obesitas cukup sering dijumpai


Obesitas, terutama obesitas sentral secara bermakna berhubungan dengan sindrom
dismetabolik (dislipidemia, hiperglikemia, hipertensi), yang didasari oleh resistensi

insulin
Resistensi insulin pada diabetes dengan obesitas membutuhkan pendekatan khusus

2.2.7.10. Gangguan koagulasi pada Diabetes

Terapi aspirin 75-160 mg/hari diberikan sebagai strategi pencegahan sekunder bagi
penyandang diabetes dengan riwayat pernah mengalami penyakit kardiovaskular dan

yang mempunyai risiko kardiovaskular lain.


Terapi aspirin 75-160 mg/hari digunakan sebagai strategi pencegahan primer pada
penyandang diabetes tipe 2 yang merupakan faktor risiko kardiovaskular, termasuk
pasien dengan usia > 40 tahun yang memiliki riwayat keluarga penyakit
kardiovaskular dan kebiasaan merokok, menderita hipertensi, dislipidemia, atau

albuminuria
Aspirin dianjurkan tidak diberikan pada pasien dengan usia di bawah 21 tahun, seiring
dengan peningkatan kejadian sindrom Reye

Terapi

pemberiannya pada pasien yang memiliki risiko yang sangat tinggi.


Penggunaan obat antiplatelet selain aspirin dapat dipertimbangkan sebagai pengganti

kombinasi

aspirin

dengan

antiplatelet

lain

dapat

dipertimbangkan

aspirin pada pasien yang mempunyai kontra indikasi dan atau tidak tahan terhadap
penggunaan aspirin. (PERKENI, 2011)

2.2.8. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus4


Tujuan penatalaksaan secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup penderita
diabetes.
a

Tujuan Penatalaksanaan

Jangka pendek
Menghilangkan keluhan dan tanda diabetes, mempertahankan rasa nyaman,
dan mencapai target pengendalian glukosa darah.

Jangka panjang
mencegah

dan

menghambat

progresivitas

penyulit

mikroangiopati,

makroangiopati dan neuropati.

Tujuan akhir pengelolaan adalah turunnya morbiditas dan mortalitas


diabetes.

Pilar Penatalaksanaan diabetes mellitus


a

Edukasi, meliputi
pemahaman tentang DM, obat-obatan, olahraga, perencanaan makan
dan masalah yang mungkin dihaapi.

Terapi gizi medis


Prinsip pengaturan makan pada penderita diabetes hamper sama
dengan anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang
seimbang. Pada penderita diabetes perlu diperhatikan pentingnya
keteraturan makanan dalam hal jadwal makan, jenis, dan jumlah
makanan terutama bagi penderita diabetes yang mengkonsumsi obat
penurun glukosa darah atau insulin.

Latihan jasmani

3 kali seminggu selama 30 menit disesuaikan dengan umur dan status


kesegaran jasmani.
d

Farmakologis
apabila tidak berhasil dengan pengaturan makan dan olahraga.

Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan dalam bentuk suntikan.
1

Obat Hipoglikemik Oral 4,5,6


a

Pemicu sekresi insulin ( insulin secretagogue) : sulfonylurea dan glinid

Sulfonilurea
Memiliki efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta
pancreas dan merupakan pilihan utama pada pasien dengan berat badan
normal dan kurang.

Glinid
Golongan ini terdiri dari dua macam obat yaitu Repaglinid dan
nNateglinid. Obat ini diabsorpsi cepat setelah pemberian secara oral
dan dieksresi secara cepat melalui hati. Obat ini dapat mengatasi
hiperglikemia post prandial.
b

Peningkat sensitivitas terhadap insulin ; metformin dan tiazolidindio

Penghambat gluconeogenesis : metformin


Memiliki

efek

utama

mengurangi

produksi

glukosa

hati

(gluconeogenesis)dan memperbaiki ambilan glukosa perifer. Terutama


dipakai pada penerita diabetes yang gemuk.
Metformin dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal
( serum kreatinin > 1,5 mg/dl) dan hati., serta pasien dengan kecenderungan
hipoksemia.
Metformin memberikan efek samping mual. Sehingga untuk mengurangi
keluhan dapat diberikan saat atau sesudah makan.

Penghambat absorpsi glukosa : penghambat glukosidase alfa


Bekerja mengurangi absorpsi glukosa di usus halus sehingga mempunyai
efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan.

Acarbose tidak memberikan efek samping hipoglikemia. Efek samping


yang paling sering adalah kembung dan flatulens.
e

DPP-IV inhibitor
Glucagon like peptide 1 (GLP-1)merupakan perangsang kuat pelepasan
insulin dan sekaligus sebagai penghambat sekresi glucagon.
Cara pemberian obat hiperglikemik oral (OHO) terdiri dari :

OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secara bertahap sesuai

respon kadar glukosa darah. Dapat diberikan sampai dosis optimal.

Sulfonilurea : 15 30 menit sebelum makan

Repaglinid : sesaat sebelum makan

Metformin : sebelum / pada saat / sesudah makan

DPP-IV Inhibitor : diberikan bersamaan makan dan atau sebelum makan.

Suntikan4,7
a

Insulin diperlukan pada keadaan :

Penurunan berat badan yang cepat

Hiperglikemia berat yang disertai ketosis

Ketoasidosis diabetic

Hiperglikemia hyperosmolar non ketotik

Hiperglikemia dengan asidosis laktat

Gagal dengan kombinasi OHO dois optimal

Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat

Kontraindikasi atau alergi terhadap OHO

Jenis dan lama kerja insulin

Insulin kerja cepat ( Rapid acting insulin )

Insulin kerja pendek ( short acting insulin )

Insulin kerja menengah ( intermediate acting insulin )

Insulin kerja panjang ( long acting insulin )

Insulin campuran tetap (premixed insulin )

Tabel 2. Jenis Insulin berdasarkan durasi


Efek samping terapi insulin
Efek samping utama terapi insulin adalah terjadinya hipoglikemia.
Efek samping yang lain berupa reaksi imunologi terhadap insulin yang dapat
menimbulkan alergi insulin atau resistensi insulin.
3. Terapi Kombinasi
Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah, untuk kemudian
dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respons kadar glukosa darah. Bersamaan dengan
pengaturan diet dan kegiatan jasmani, bila diperlukan dapat dilakukan pemberian OHO
tunggal atau kombinasi OHO sejak dini. Terapi dengan OHO kombinasi (secara terpisah

ataupun fixed-combination dalam bentuk tablet tunggal), harus dipilih dua macam obat dari
kelompok yang mempunyai mekanisme kerja berbeda. Bila sasaran kadar glukosa darah
belum tercapai, dapat pula diberikan kombinasi tiga OHO dari kelompok yang berbeda atau
kombinasi OHO dengan insulin. Pada pasien yang disertai dengan alasan klinis di mana
insulin tidak memungkinkan untuk dipakai, terapi dengan kombinasi tiga OHO dapat menjadi
pilihan. Untuk kombinasi OHO dan insulin, yang banyak dipergunakan adalah kombinasi
OHO dan insulin basal (insulin kerja menengah atau insulin kerja panjang) yang diberikan
pada malam hari menjelang tidur. Dengan pendekatan terapi tersebut pada umumnya dapat
diperoleh kendali glukosa darah yang baik dengan dosis insulin yang cukup kecil. Dosis awal
insulin kerja menengah adalah 6-10 unit yang diberikan sekitar jam 22.00, kemudian
dilakukan evaluasi dosis tersebut dengan menilai kadar glukosa darah puasa keesokan
harinya. Bila dengan cara seperti di atas kadar glukosa darah sepanjang hari masih tidak
terkendali, maka OHO dihentikan dan diberikan terapi kombinasi insulin. (PERKENI,2011)
2.2.9. Strategi Pencegahan Diabetes Mellitus4,5
Dalam jangka waktu 30 tahun penduduk Indonesia akan naik sebesar 40% dengan
peningkatan jumlah pasien diabetes yang jauh lebih besar yaitu 86-138% yang disebabkan
oleh karena :
a

faktor demografi, antara lain :


jumlah penduduk meningkat
penduduk usia lanjut bertambah banyak
urbanisasi makin tak terkendali
gaya hidup yang kebarat-baratan
penghasilan per kapita tinggi dan restoran siap santap
sedentary life style
b berkurangnya penyakit infeksi dan kurang gizi
c meningkatnya pelayanan kesehatan hingga umur pasien diabetes semakin
panjang
Mengingat jumlah pasien yang akan membengkak dan besarnya biaya perawatan

diabetes yang terutama disebabkan oleh karena komplikasinya, maka upaya yang baik
adalah pencegahan. Menurut WHO tahun 1994, upaya pencegahan pada diabetes ada
tiga jenis, antara lain :
a

Pencegahan primer. Semua aktivitas yang digunakan untuk mencegah


timbulnya hiperglikemia pada inividu yang beresiko mengidap diabetes

mellitus atau pada populasi.


Pencegahan sekunder. Menemukan pengidap DM sedini mungkin, misalnya
dengan tes penyaringan. Dengan demikian pasien diabetes yang sebelumnya

tidak terdiagnosis dapat terjaring.


Pencegahan tersier. Semua upaya untuk mencegah komplikasi atau kecacatan
akibat komplikasi tersebut. Usaha ini meliputi :
mencegah timbulnya komplikasi
mencegah progresi dari komplikasi
mencegah kecacatan tubuh

Strategi pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan melalui pendekatan


masyarakat yang bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat umum dan pendekatan
individu beresiko tinggi yang dilakukan pada individu yang beresiko mengidap diabetes.
a

Pendekatan populasi/masyarakat
Bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat umum, antara lain mendidik
masyarakat agar menjalankan cara hidup sehat dan menghindari cara hidup beresiko.
Upaya ini ditujukan tidak hanya untuk mencegah diabetes tetapi untuk mencegah
penyakit lain sekaligus. Upaya ini sangat berat karena target populasinya sangat luas,
oleh karena itu harus dilakukan tidak hanya oleh profesi tetapi juga oleh seluruh
lapisan masyarakat.

Pendekatan individu beresiko tinggi


Semua upaya pencegahan yang dilakukan pada individu yang beresiko mengidap
diabetes mellitus. Antara lain :
a
b
c
d
e
f
g

umur > 40 tahun


gemuk
hipertensi
riwayat keluarga DM
riwayat melahirkan bayi >4 kg
riwayat DM pada saat kehamilan
dislipidemia

Pencegahan primer adalah cara yang paling sulit karena yang menjadi sasaran adalah
orang-orang yang belum sakit artinya mereka masih sehat. Cakupannya menjadi sangat luas.
Yang bertanggung jawab bukan hanya profesi tetapi seluruh lapisan masyarakat. Pada
pencegahan sekunder, penyuluhan tentang perilaku sehat seperti pada pencegahan primer pun
harus dilakukan, ditambah dengan peningkatan pelayanan kesehatan primer di pusat-pusat
pelayanan kesehatan mulai dari rumah sakit sampai puskesmas. Pada tahun 1994, WHO
menyatakan bahwa pendeteksian pasien baru dengan cara skrining dimasukkan ke dalam

upaya pencegahan sekunder agar supaya bila diketahui lebih dini komplikasi dapat dicegah.
(Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III, 2006).
2.2.10. Prognosis
Prognosis pada penderita diabetes tipe 2 bervariasi. Namun pada pasien diatas
prognosisnya dapat baik apabila pasien bisa memodifikasi (meminimalkan) risiko timbulnya
komplikasi dengan baik. Serangan jantung , stroke, dan kerusakan saraf dapat terjadi.
Beberapa orang dengan diabetes mellitus tipe 2 menjadi tergantung pada hemodialisa akibat
kompilkasi gagal ginjal. Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko
komplikasi :
Makan makanan yang sehat / gizi seimbang (rendah lemak, rendah gula), perbanyak
konsumsi serat (buncis 150gr/hari, pepaya, kedondong, salak, tomat, semangka, dainjurkan
pisang ambon namun dalam jumlah terbatas)
Gunakan minyak tak jenuh / PUFA (minyak jagung)
Hindari konsumsi alcohol dan olahraga yang berlebihan
Pertahankan berat badan ideal
Kontrol ketat kadar gula darah, HbA1c, tekanan darah, profil lipid
Konsumsi aspirin untuk cegah ateroskelrosis (pada orang dalam kategori prediabetes)

BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan crosssectional (potong lintang) dimana dengan satu kali pengamatan pada rentang waktu tertentu
yang ditentukan, peneliti akan mendeskripsikan bagaimana tingkat pengetahuan siswa-siswi
SMK kesehatan Sumbawa tentang Diabetes Mellitus paru pada tahun 2015.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1

Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di SMK Kesehatan Sumbawa Besar. Alasan pemilihan
lokasi penelitian, karena lokasi ini dapat dijangkau oleh peneliti dan merupakan wilayah kerja
puskemas Unit I Sumbawa Besar. Selain itu, di lokasi tersebut belum pernah dilakukan
penelitian mengenai gambaran tingkat pengetahuan siswa-siswi tentang Diabetes Mellitus.
3.2.2

Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan selama bulan September 2015.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian


3.3.1

Populasi

Populasi yang diambil pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII
SMK Kesehatan Sumbawa Besar.
3.3.2

Sampel
Besarnya sampel yang digunakan dalam penelitian dihitung adalah dengan metode

total sampling. Jadi besar sampel dalam penelitian adalah jumlah seluruh siswa kelas XII di
SMK Kesehatan Sumbawa Besar.
Adapun kriteria inklusi dan eksklusi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut.
3.3.2.1 Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah responden yang masih berstatus siswasiswi SMK Kesehatan Sumbawa yang duduk di kelas XII, serta bersedia menjadi
responden.
3.3.2.2 Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi yang tidak bersedia menjadi
responden dan tidak dapat mengisi kuesioner yang diberikan oleh peneliti.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
3.4.1 Data Primer
Untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, pengumpulan
data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang akan diisi oleh setiap responden yang
telah menandatangani surat persetujuan bersedia untuk menjadi responden. Sebelumnya
responden akan diberi penjelasan terlebih dahulu oleh peneliti dan kemudian peneliti akan
menanyakan kesediaan untuk menjadi responden dalam penelitian ini.
3.4.2

Data Sekunder

Data sekunder pada penelitian ini adalah jumlah siswa-siswi kelas XII beserta daftar
nama siswa-siswi kelas XII yang diperoleh dari bagian tata usaha SMK Kesehatan Sumbawa.

3.4.3

Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar kuesioner


(daftar pertanyaan). Sebelum kuesioner ini digunakan di dalam penelitian, kuesioner ini telah
dilakukan uji validitas dan reliabilitas oleh peneliti sebelumya yang melakukan penelitian
yang sama pada tempat dan waktu yang berbeda.
Kuesioner tersebut terdiri dari 10 pertanyaan. Jawaban yang benar diberi skor 1,
sedangkan jawaban yang salah diberi skor 0. Pertanyaan yang tertera sesuai dengan
variabel-variabel yang akan diukur yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan
tentang penyakit tuberkulosis paru. Informed Consent telah diberi bersamaan dengan
kuesioner tersebut yang menjelaskan tujuan dilakukan penelitian. Pengisian kuesioner
dilakukan secara langsung oleh siswa sambil diamati oleh peneliti untuk memastikan tidak
ada terjadi kecurangan dalam pengisian kuesioner. Data yang diperoleh kemudian
dianalisa, setelah kuesioner dikembalikan kepada peneliti.
3.5 Pengolahan dan Analisa Data
Data yang diperoleh dari jawaban kuesioner responden dilakukan editing dan coding,
kemudian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan program komputer yaitu SPSS
(Statistical Package for Social Science). Hasil analisa data akan dipaparkan dalam bentuk
tabel.

3.6 Kerangka Konsep


Berdasarkan tujuan penelitian yang telah dikemukakan sebelumnya, maka
kerangka konsep dalam penelitian Tingkat Pengetahuan Siswa-Siswi SMA Reguler AlAzhar Medan tentang Penyakit Tuberkulosis Paru pada Tahun 2013 dapat digambarkan
sebagai berikut :
Pengetahuan

Penyakit Diabetes Mellitus

Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian.

3.7 Definisi Operasional


Variabel

Pengetahuan
tentang
penyakit
Tuberkulosis
Paru

Definisi
Operasional
Segala
sesuatu yang
diketahui oleh
siswa-siswi
kelas XII SMK
Kesehatan
Sumbawa
Tentang
Diabetes

Hasil

Alat Ukur

Cara Ukur

Kuesioner

Pengisian

Baik

yang

kuesioner

Sedang

terdiri dari

oleh

Kurang

10

responden

Skala Ukur

Ukur
Ordinal

pertanyaan

Mellitus, yang
meliputi :
definisi,
penyebab,
faktor risiko,
gejala klinis,
pengobatan,
komplikasi dan
pencegahan.

Lampiran 1
LEMBAR PENJELASAN KEPADA RESPONDEN PENELITIAN
Dengan hormat,
Saya, I Gede Ariana, adalah dokter internsip di Puskesmas Unit I Sumbawa Besar
tahun 2015. Saat ini saya sedang melakukan penelitian dengan judul Tingkat Pengetahuan
Siswa-Siswi SMK kesehatan Sumbawa tentang Penyakit Diabetes Mellitus pada Tahun 2015.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana tingkat pengetahuan siswasiswi SMK Kesehatan tentang penyakit Diabetes Mellitus pada tahun 2015. Untuk keperluan
tersebut, saya memohon kesediaan Anda untuk menjadi partisipan dalam penelitian ini. Saya
memohon kesediaan Anda untuk menjawab beberapa pertanyaan dalam bentuk kuesioner
sesuai dengan petunjuk yang diberikan. Jika Anda bersedia, silahkan menandatangani lembar
persetujuan ini sebagai bukti kesukarelawanan.
Identitas pribadi Anda sebagai partisipan akan disamarkan, kerahasiaan data Anda
akan dijamin sepenuhnya, dan semua informasi yang Anda berikan hanya akan digunakan
untuk penelitian ini. Bila terdapat hal yang kurang dimengerti, Anda dapat bertanya langsung
kepada saya atau dapat menghubungi saya di nomor 087864189600.
Demikian informasi ini saya sampaikan, atas bantuan, partisipasi dan kesediaan
waktu Anda, saya ucapkan terima kasih.
Hormat saya,
Peneliti,
(I Gede Ariana)

Lampiran 2
LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN PENELITIAN
(INFORMED CONSENT)
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama :
Umur : tahun
Jenis Kelamin : Laki laki / Perempuan *)
Alamat :
Kelas : XI.
Setelah mendapat keterangan dan penjelasan yang cukup dari peneliti secara lengkap, maka
dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan saya menyatakan BERSEDIA berpartisipasi
menjadi sukarelawan dalam penelitian ini yang berjudul Tingkat Pengetahuan Siswa Siswi
SMK Kesehatan Sumbawa tentang Penyakit Diabetes Mellitus pada Tahun 2015. Tujuan
dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa-siswi SMK
Kesehatan Sumbawa tentang Penyakit Tuberkulosis Paru pada Tahun 2015.
Sumbawa Besar, ..
Responden
(..)

Lampiran 3
LEMBAR KUESIONER
TINGKAT PENGETAHUAN SISWA-SISWI SMK KESEHATAN SUMBAWA TENTANG
PENYAKIT TUBERKULOSIS PARU PADA TAHUN 2015
Berilah tanda silang (X) pada kolom jawaban yang anda anggap benar di bawah ini:
No
Pernyataan
Benar Salah
1
Diabetes melitus merupakan penyakit yang terjadi pada
akibat kekurangan insulin, resistensi insulin atau
keduanya.
2

Terdapat 2 tipe diabetes mellitus yaitu diabetes mellitus


tergantung insulin (IDDM) dan diabetes mellitus tidak
tergantung insulin (NIDDM)

Penyakit diabetes mellitus dapat disembuhkan

Sering mengkonsumsi minuman soft drink dapat


meningkatkan risiko diabetes.
Anak yang berasal dari orang tua yang menderita diabetes
melitus berisiko tinggi terkena diabetes melitus.
Banyak makan, sering haus, dan sering kencing merupakan
gejala kencing manis.
Seseorang menderita kencing manis jika kadar gula darah
sewaktunya 150 mg/dl

5
6
7
8

Ketoasidosis Diabetikum merupakan komplikasi akut


diabetes mellitus

Satu-satunya cara pengobatan diabetes tipe 2 adalah dengan


pemberian insulin

10

Pola hidup sehat dengan menjaga pola makan dan olahraga


teratur merupakan strategi pencegahan diabetes mellitus