Anda di halaman 1dari 7

ARTIKEL KAPITA SELEKTA KIMIA

SUNTIK MATI TIK, TERDAKWA TAK BERSALAH


Dosen Pengampu : Das Salirawati

Disusun Oleh:
Indah Setia Lestari (10670055)
Khoirul Ummah K. (10670057)
Novalina NSW (10670058)
Eva Luthfiana (10670059)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2013/2014

PENDAHULUAN
Pendidikan nasional sebagai salah satu sector pembangunan nasional dalam upaya
mencerdaskan kehidupan bangsa memiliki visi terwujudnya sistem pendidikan yang mampu
memberdayakan segala potensi yang ada. Potensi itu bisa dari dalam diri peserta didik
maupun potensi sumber daya yang ada sehingga peserta didik mampu menjadi manusia
berkualitas yang dapat

proaktiv menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Dari

sekian banyak unsur sumber daya pendidikan, kurikulum merupakan salah satu unsur yang
b[isa memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembanganya
kualitas potensi peserta didik. Secara pedagogis, kurikulum adalah rancangan pendiidkan
yang memberi kesempatan untuk peserta didik mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kualitas yang diinginkan masyarakat dan bangsanya.
Kurikulum di Indonesia telah berubah-ubah menyesuaikan dalam perkembangan
zaman. Seperti yang telah terjadi sekarang ini bahwa kurikulum KTSP yang gunakan dalam
sistem pendidikan Indonesia akan diubah menjadi kurikulum baru 2013. Pengubahan ini tentu
saja dilandaskan karena kebutuhan yang mengharuskan adanya penyesuaian sistem
pendidikan dengan tuntutan zaman. Kurikulum 2013 menuntut peserta didik untuk aktif
dalam proses pembelajaran sehingga melahirkan pribadi yang kritis terhadap fenomenafenomena di sekelilingnya. Tetapi jika dianalisis lebih lanjut tentang perubahan-perubahan
pada kurikulum baru ini ada beberapa pihak yang dirugikan. Misalkan saja pada perubahan
mata pelajaran yang harus dipelajari oleh peserta didik tingkat SMP. Pada kurikulum KTSP
mata pelajaran TIK menjadi mata pelajaran wajib yang harus dipelaajari peserta didik,
sedangkan pada kurikulum 2013 mata pelajaran ini berubah status menjadi media
pembelajaran semua mata pelajaran sehingga tidak perlua ada mata pelajaran TIK. Hal ini
tentu saja merugikan guru pengampu mata pelajaran TIK dan mahasiswa lulusan pendidikan
TIK. Guru dan lulusan pendidikan TIK ini terancam akan kehilangan pekerjaannya jika
pemerintah tidak bisa memberikan solusi yang tepat. Selain itu, kajian dalam TIK juga sangat
penting dipelajari oleh peserta didik, karena banyak hal dalam komputer yang tidak bisa
dipelajari secara otodidak.
Perubahan kurikulum bertujuan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat
baik pada tingkatan nasional maupun internasional. Tetapi jika perubahan itu memberikan
dampak yang negative terhadap masyarakat itu sendiri, berarti itu sudah menyimpang pada
tujuan semula. Hal ini menjadi masalah yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah. Jika

perubahan kurikulum ini tetap akan dilaksanakan, maka diharuskan ada solusi untuk
menyelesaikan permasalahan tersebut.

SUNTIK MATI TIK, TERDAKWA YANG TAK BERSALAH


Ketika mendengar bahwa TIK akan dihapuskan dalam Kurikulum 2013, banyak guru
bidang gadged yang merasa prihatin dengan kenyataan tersebut. TIK/KPPI merupakan
pelajaran yang mendasar untuk digunakan dimasa mendatang. Basis penguasaan teknologi
dan informasi menjadi hal krusial untuk tinggal landas dan bersaing dengan siapapun kelak.
Mencabut TIK dari kurikulum 2013 seperti mencabut daun yang muncul dari kecambah yang
baru tumbuh.
Pertanyaan-pertanyaan yang langsung muncul, pastilah akan mempertanyakan
bagaimanakah nasib guru pengajar bidang gadged ini?
Okey, dont worry. Ada solusi untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu dengan pindah
subyek mengajar. Yang dulu guru Matematika lalu pindah mengajar TIK, sekarang pindah
kembali mengajar Matematika. Atau dipindahkan kesekolah-sekolah yang berbasis teknologi
seperti SMK.
Membiarkan guru-guru gadged kehilangan pekerjaan dan jam mengajar yang sesuai
itu adalah tindakan yang tidak masuk akal. But dont worry, well work it on later.
TK dan SD aja udah bisa internetan!, itulah salah satu steatment yang dijadikan
pembenaran untuk menghapus TIK dari kurikulum 2013. hey dude, it aint work like that.
Jika dipikirkan, pernyataan tersebut sedikit tidak masuk akal. Kenapa? Cobalah
dipikirkan, pengguaan internet dan game adalah hal yang berbeda dengan pengelolaan
dokumen, membuat dokumen, atau membuat tabel. Banyak anak SD yang memang sudah
dapat menggunakan internet, tapi ketika medapat hasil dari tes tertulis pelajaran TIK, ternyata
skornya masih ada yang berada dibawah 50%. Padahal sehari-hari anak SD banyak bermain
menggunakan komputer. Membuat dokumen dengan baik dan benar tidak semudah yang kita
pikirkan, banyak juga yang tidak mengerti bagaimana cara mengerjakan dokumen yang
efektif dan efisien, terlebih jika masuk pengelolaan data dan dokumen. Its a WOOW.
TIK dan KPPI memang memaksa sekolah yang menerapkannya memilki komputer
dan jaringan listrik. Jika terdapat kekurangan infrastruktur tersebut, maka hal itu dijadikan
alasan juga untuk menyingkirkan TIK. Secara tidak langsung berarti menyingkirkan juga
kesempatan setiap sekolah untuk memiliki jaringan linstrik dan komputer. Setiap sekolah
(terutama sekolah yang berlokasi dipelosok) berhak untuk menerima kemewahan tersebut.

Keberadaan TIK akan memacu perkembangan teknolgi dan informasi pada sekolah tersebut.
Paling tidak akan memaksa pemerintah untuk membuat infrastruktu tersebut.
Surya Perdana, salah satu pengajar TIK mengungkapkan bahwa dirinya yang telah 4
tahun bekerja pada institusi LKP swasta dengan objek komputer office dan data management
serta mengajar komputer secara privet, masih menemukan kesulitan menerapkan TIK dalam
KBM. Walau banyak kesulitan yang dialaminya, ia merasa bahwa TIK dapat membantu
mendongkrak kemampuan teknis setiap peserta didik yang mempelajari komputer tersebut.
Pendidikan TIK secara formal akan sangat membantu perkembangan pemahaman teknologi
komputer dan informasi peserta didik dan guru.
Mengajar itu seperti menggerakkan gerombolan sapi. Kita harus menggerakkannya
secara berkelompok dan bergerak bersama-sama. Kita tidak bisa meninggalkan yang pelan
dan membiarkan yang berlari cepat untuk jalan duluan. Dengan hilangnya TIK maka gerakan
ini tidak akan bisa harmonis. Yang mampu dan memiliki komputer akan lari terlebih dahulu.
Sedangkan bagi yang tidak memiliki komputer dan penguasan TIK yang rendah akan
tertinggal. Keberadaan TIK ini memberi kesempatan bagi yang belum menguasai
kemampuan komputer untuk menambah jam terbangnya. Sebuah keuntungan besar bagi guru
jika setiap peserta didik dalam kelas memiliki kemampuan yang sama dalam penguasaan
teknologi informasi.
Kemampuan TIK memang sangat luas tidak hanya seputar penulisan surat atau
dokumen saja. Pengembangan program TIK memang harus diperluas. Materi-materi yang
bersinggungan langsung dengan kegiatan sehari-hari juga memang harus diajarkan seperti
emailing, social media, blogging, bahkan netiket juga wajib diajarkan. Kemampuan
penguasaan ini akan sangat memudahkan setiap pesetra didik menerapkan ilmu tersebut
dalam pekerjaan. Kemampuan memanfaatkan teknologi infomasi dalam pekerjaan akan
sangat menguntungkan setiap peserta didik.
Ada beberapa alasan pelajaran TIK harus dikembalikan kembali, yaitu:
1. Mempelajari TIK dengan baik dan benar tidak bisa secara otodidak, selain praktikum
dibutuhkan juga teori.
2. Guru TIK bisa menjadi oasis pertanyaan dan konsultasi bagi guru-guru lain yang
masih memiliki penguasaan rendah tentang ilmu komputer (TIK).

3. Pada kenyataannya, banyak anak-anak dari desa yang datang ke kota jauh-jauh untuk
mengambil bimbingan komputer di LKP. Usaha-usaha tersebut haruslah dihargai.
4. Kemampuan penguasaan komputer yang eksak (selain game dan internet) masih
kurang. Terutama untuk pembuatan, pengelolaan, dokumen, informasi, dan data.
5. Tatacara dan etika berinternet (netiket) tidak dimiliki oleh anak-anak dan ABG.
Efeknya banyak anak-anak yang masuk situs-situ dewasa (dan matang sebelum
waktunya).
6. Menghapus TIK/KKP akan melemahkan kemampuan peserta didik dalam menguasai
teknologi informasi. Sehingga mereka akan mempelajarinya secara gerilya dan
otodidak. Kesempatan tersesat pasti ada.
7. Dengan naiknya kemampuan TIK setiap murid akan memaksa guru-guru ortodok
menguasai teknologi yang sama. Jadi istilah guru gaptek akan hilang sama sekali.
Membuat basis pengetahuan TIK tidak dapat secara instan. Basis kekuatan TIK juga
harus dimulai pada pengetahuan dasar. Kemampuan dasar akan lebih mudah ditanamkan pada
usia muda. Mengajarkan TIK akan sangat membantu usaha ini. Selain pengetahuan teknis,
pemahaman tentang tata cara dan undang-undang dalam teknologi informasi juga dapat
ditanamkan pada usia muda. Dengan memiliki etika dan moral yang baik dalam TIK/KKPI,
kita tidak perlu ragu lagi dengan arah kemana bangsa ini akan berjalan.

PENUTUP
Mata pelajaran TIK adalah suatu bidang studi yang sangat penting untuk diketahui
oleh peserta didik. Seorang guru TIK mengatakan bahwa materi yang diajarkan pada mata
pelajaran ini perlu ditambah karena masih banyak objek kajian tentang teknologi komputer
yang belum dimasukkan dalam kajian TIK ini. Tetapi sekarang justru yang terjadi adalah
penghapusan mata pelajaran ini. Permasalahan lain akibat tentang penghapusan TIK pada
tingkat satuan pendidikan tidak hanya itu saja. Nasib pengajar mata pelajaran TIK juga
dipertaruhkan. Jika pengajar itu harus dipindahkan ke sekolah-sekolah yang berbasis IT,
maka pertanyaaan yang muncul adalahapakah jumlah sekolah yang ada itu bisa menampung
seluruh pengajar TIK yang ada? . Hal ini menjadi masalah pemerintah yang perlu dicari
solusinya.