Anda di halaman 1dari 17

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Indonesia telah lama dikenal sebagai Negara agraris, dengan komposisi
penduduk yang sebagian besar bekerja sebagai petani atau di sector pertanian.
Namun ironisnya, Indonesia masih mengimpor berbagai produk pertanian, seperti
jagung, kedelai dan produk hortikultura, yang jumlahnya tidak sedikit. Ini
mengindikasikan bahwa produksi dalam negeri masih belum mampu memenuhi
kebutuhan dalam negeri. Sebagai gambaran, pada tahun 2004 impor jagung
mencapai 900 ribu ton (Wangiyana dkk, 2007)
Untuk memanfaatkan potensi lahan guna memproduksi jagung dengan
tingkat produktivitas yang tinggi secara efisien, teknologi pengelolaan pertanaman
jagung secara terpadu( PTT jagung) dengan menerapkan berbagai komponen
teknologi yang memberikan pengaruh sinergetik diharapkan merupakan
pendekatan yang sesusai. Teknologi produksi yang dimaksud meliputi varietas
unggul, benih bermutu, penyiapan lahan yang hemat tenaga, populasi tanaman
yang optimal, pemupukan yang efisien, pengendalian jasad pengganggu yang
murah, dan teknologi pasca panen yang sesuai dengan kondisi lahan, dan sosial
ekonomi masyarakat (Zubachtirodin, dkk. 2010).
Pemupukan merupakan salah satu kegiatan yang erat kaitannya dengan
pertumbuhan dan produksi tanaman. Ketersediaan pupuk sumber hara N, P, dan K
yang lebih direspons oleh tanaman saat ini semakin sulit diperoleh oleh petani,
sehingga diperlukan informasi tentang ketersediaan hara di dalam tanah agar
diketahui unsur hara yang kahat di tanah tersebut. Kegiatan ini memberikan hasil
yang optimal tergantung pada beberapa faktor, di antaranya takaran dan jenis

pupuk yang digunakan. Jenis dan takaran pupuk ini banyak digunakan untuk
mengkaji tanggap (respons) tanaman terhadap tindakan pemupukan. Salah satu
tanaman yang respons terhadap pemupukan adalah jagung. Jagung merupakan
komoditas pertanian yang mendapat perhatian khusus di Indonesia sebab menjadi
bahan makanan pokok kedua setelah beras. Jagung membutuhkan unsur hara
makro dan mikro. Unsur hara makro yang essensial untuk jagung antara lain
nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K) (Nurdin dkk, 2008)
Bahan/pupuk organik sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi
pertanian baik kualitas maupun kuantitas, mengurangi pencemaran lingkungan
dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan.Penggunaan pupuk organik
dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktifitas lahan dan dapat
mencegah degradasi lahan.Sumber bahan untuk pupuk organik sangat beraneka
ragam, dengan karakteristik fisik dan kandungan kimia atau hara yang sangat
beraneka ragam sehingga pengaruh dari penggunaan pupuk organik terhadap
lahan dan tanaman dapat bervariasi (Kuyik dkk, 2012)
Untuk meningkatkan produktivitas tanaman jagung dapat dilakukan
dengan usaha penerapan teknologi bercocok tanam yang baik, diantaranya dengan
melakukan pemupukan yang berimbang yang memenuhi unsur hara yang
diperlukan tanaman, hal ini dilakukan mengingat tanaman jagung manis tidak
akan memberikan hasil yang maksimal apabila unsur hara yang dibutuhkan untuk
pertumbuhannya tidak cukup tersedia terutama unsur nitrogen (N), fospor (P), dan
kalium (K), pemberian pupuk nitrogen, fospor dan kalium merupakan kunci
utama dalam usaha budidaya tanaman jagung manis (Suntoro dan Puji, 2014)

Selama pertumbuhannya jagung manis memerlukan unsur hara yang


diserap dari dalam tanah, jika tanah tidak menyediakan unsur hara yang cukup
mendukung

pertumbuh-an

optimal,

maka

harus

dilakukan

pemupukan.

Ketersediaan unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman merupakan salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi. Suatu tanaman dapat
tumbuh dengan optimal bila dosis pupuk yang diberikan tepat (Jumini dkk, 2011)
Lahan pertanian di Indonesia tidak sama antara satu dengan yang lainnya.
Ada yang berupa lahan gembur tetapi ada pula yang berupa lahan berpasir. Lahan
pertanian di Pantai Trisik Kulon Progo berupa lahan berpasir dengan cuaca yang
tergolong eks-trim. Lahan pasir di Pantai Trisik Kulon Progo memiliki kandungan
besi (Fe) yang melimpah. Hal ini menyebabkan adanya usaha yang dilakukan
untuk memisahkan besi tersebut dari pasir. Sisa pasir yang telah ditambang
besinya tersebut dinamakan pasir reject sedangkan pasir yang belum ditam-bang
besinya dinamakan pasir asli. Terdapat kekhawatiran penduduk setempat,
terutama yang bermata pencaharian petani, bahwa pasir yang telah ditambang
besinya tidak dapat digunakan lagi untuk bercocok tanam. Mereka menduga
mineral lainnya juga akan ikut tertambang sehingga timbul asumsi bahwa lahan
pasir yang telah ditambang (pasir reject) tingkat kesuburannya lebih rendah
daripada lahan pasir yang belum ditambang (pasir asli). Oleh karena itu, perlu
dilakukan suatu penelitian untuk menjawab kekhawatiran penduduk setempat
tersebut (Ekowati dan Mochamad, 2011)
Pupuk organik meningkatkan bahan-bahan organik dalam tanah. Bahanbahan organik yang ada di dalam tanah sangat bermanfaat bagi tanah dan
tanaman. Bahan-bahan organik tanah yang ditambahkan melalui pupuk organik

4
baik langsung maupun tidak langsung memberikan manfaat. Handayanto (1996)
menyatakan bahwa dekomposisi bahan organik mempunyai pengaruh langsung
dan tidak langsung terhadap kesuburan tanah. Pengaruh secara langsung karena
adanya pelepasan unsur hara melalui mineralisasi, sedangkan pengaruh secara
tidak langsung adalah menyebabkan akumulasi bahan organik tanah, yang pada
gilirannya juga akan meningkatkan penyediaan unsur hara tanaman. Pupuk
kandang ialah pupuk yang berupa kotoran padat dan cair yang dihasilkan oleh
ternak (Prasetyo dkk, 2011)
Upaya untuk memenuhi kebutuhan jagung manis dapat dilakukan dengan
meningkatkan

produksi,

namun

dalam

pengembangannya

masih

sering

mengalami kendala diantaranya harga benih yang tinggi dan memerlukan


pemeliharaan yang intensif (Hayati, 2006)

Tujuan Percobaan
Percobaan ini bertujuan untuk mengamati pegaruh pemberian pupuk
nitrogen (N) terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung (Zea mays L.)
Hipotesis Percobaan
Adanya hubungan antara dosis pupuk nitorgen (N) terhadap pertumbuhan
dan produksi jagung.
Kegunaan Percobaan
Agar mengetahui pengaruh pupuk nitrogen (N) terhadap pertumbuhan dan
produksi

jagung

membutuhkannya.

serta

sebagai

sumber

informasi

bagi

pihak

yang

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman Jagung (Zea mays L.)
Secara

taksonomi

tanaman

jagung

termasuk

ke

dalam

kelas

Monokotiledone (tumbuhan berkeping tunggal), dengan ordo Poales, famili


Graminae (Poaceae), genus Zea dengan spesies Zea mays L. Tanaman jagung
berumah satu, dengan bunga jantan (tassel) tumbuh pada ujung batang utama dan
bunga betina (tongkol) tumbuh terpisah pada ketiak daun. Umumnya bersifat
protandri, yaitu bunga jantan lebih cepat dewasa dibandingkan bunga betina
(Aprilianda, 2012)
Seperti pada jenis rumput-rumputan yang lain, akar tanaman jagung dapat
tumbuh dengan baik pada kondisi tanah yang memungkinkan untuk pertumuhan
tanaman. Pada saat jagung berkecambah, mula-mula akar akan tumbuh berasa dari
calon akar yang berada dekat ujung biji yang menempel pada janggel, kemudian
memanjang dengan diikuti oleh akar-akar samping. Akar yang terbentuk pada
awal perkecambahan in bersifat sementara, bahkan ada yang menggunakan istilah
akar temporer. Akar ini berfungsi untuk mempertahankan tegaknya tanaman.
(Aak, 1993).
Batang tanaman jagung bulat silindris dan tidak berlubang seperti halnya
batang tanaman padi, tetapi padat dan berisi berkas-berkas pembuluh sehingga
makin memperkuat berdirinya batang. Demikian juga jaringan kulit yang tipis dan
keras yang terdapat pada batang bagian luarnya (kulit luar batang)
(Warisno, 1998).

6
Daun jagung memanjang dan keluar dari buku-buku batang. Jumlah daun
terdiri dari 8-48 helaian, tergantung varietasnya. Daun jagung terdiri dari tiga
bagian, yaitu kelopak daun, lidah daun dan helaian daun. Kelopak daun umumnya
membungkus batang. Antara kelopak dan helaian terdapat lidah daun yang disebut
ligula. Ligula ini berbulu dan berlemak. Fungsi ligula adalah mencegah air masuk
ke dalam kelopak daun dan batang (Purwono dan Hartono, 2005).
Pada setiap tanaman jagung biasanya terdapat bunga jantan dan bunga
betina yang letaknya terpisah. Bunga jantan terdapat pada malai bunga di ujung
tanaman, sedangkan bunga betina terdapat pada tongkol jagung. Bunga betina ini,
yang biasa disebut tongkol, selalu dibungkus oleh kelopak-kelopak bunga yang
jumlahnya sekitar 6-14 helai. Tangkai kepala putik merupakan rambut atau
benang yang terjumbai di ujung tongkol sehingga kepala putiknya menggantung
di luar tongkol. Keistimewaan tanaman jagung ialah jumlah ruas pada tongkol
sama dengan jumlah ruas dari tongkol ke atas. Selain itu, pada bunga betina
terdapat sejumlah rambut yang ujungnnya membelah dua dan jumlahnya cukup
banyak (sesuai dengan jumlah biji yang ada dalam tongkol) (Warisno, 1998).
Biji jagung tersusun rapi pada tongkol. Dalam satu tongkol terdapat 200400 biji. Biji jagung terdiri dari tiga bagian. Bagian paling luar disebut pericarp.
Bagian atau lapisan kedua yaitu endosperm yang merupakan cadangan makanan
bji.

Sementara

bagian

paling

(Purwono dan Hartono, 2005).

dalam

yaitu

embrio

atau

lembaga

7
Syarat Tumbuh Tanaman Jagung (Zea mays L.)
Iklim
Iklim yang dikehendaki oleh sebagian besar tanaman jagung adalah
daerah-daerah berikllim sedang hingga daerah berikllim sub-tropis/tropis yang
basah. Jagung dapat tumbuh di daerah yang terletak antara 0-50 derajat LU hingga
0-40 derajat LS. Pada lahan yang tidak beririgasi, pertumuhan tanaman ini
memerlukan curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada
fase pembuangan dan pengisian biji tanaman jagung perlu mendapatkan cukup air.
Sebaiknya jagung ditanam diawal musim hujan, dan menjelang musim kemarau
(Menegristek, 2000).
Iklim sedang hingga daerah beriklim basah. Pada lahan tidak
beririgasi, curah hujan ideal 85-200 mm/bulan dan harus merata. Sinar
cukup dan tidak ternaungi Suhu 21-340C, optimum 23-270C.

matahari

Perkecambahan benih

memerlukan suhu 300C (Hartatik, 2007)


Hujan yang terlalu banyak atau terlalu sedikit merupakan faktor
penghambat bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung. Hujan banyak
jatuh selama pertumbuhan tanaman dapat mengakibatkan pertumbuhan vegetatif
panjang sehingga umur tanaman menjadi bertambah panjang. Hujan yang banyak
jatuh sebelum berbunga mengakibatkan banyak tumbuh anakan yang tidak
produktif. Hujan yang banyak jatuh pada saat berbunga akan berakibat tongkol
jagung terbuka/tidak tertutup oleh kelobotnya. Sedangkan hujan yang banyak
jatuh pada saat pemasakan biji akan berakibat banyak bijjji busuk yang dapat
menurunkan kualitas hasil panen (Warisno, 1998).

Pertumbuhan tanaman jagung sangat membutuhkan sinar matahari.


Tanaman jagung ayng ternaungi pertumbuhannya akan terhambat/ merana, dan
memberikan hasil biji yang kurang baik bahkan tidak dapat membentuk buah.
Suhu yang dikehendaki tanaman jagung antara 21-34 derajat C, akan tetapi bagu
pertumbuhan tanaman yang ideal memerlukan suhu optimum antara 23-27 derajat
C. Pada proses perkecambahan benih jagung memerlukan suhu yang cocok sekitar
30 derajat C (Menegristek, 2000).
Kebutuhan akan sinar matahari bagi suatu tanaman adalah mutlak, tidak
terkecuali untuk tanaman jagung hibrida. Sinar matahari sangat berguna bagi
proses fotosintesis. Tanpa sinar matahari, proses fotosintesis suatu tanaman sulit
terlaksana. Kebutuhan akan sinar matahari berbeda-beda antara jenis tanaman
yang satu dengan tanaman yang lain (Warisno, 1998).
Tanah
Menurut Effendi (1985), jagung dapat tumbuh baik hampir di semua
macam tanah. Tanaman jagung toleran terhadap pH agak masam sampai alkali.
Jagung tumbuh baik pada kisaran pH tanah antara 5,5 7,0 dengan pH optimum
6,0 7,0. Jagung juga sangat peka terhadap kelembaban tanah yang rendah dari
mulai awal pertumbuhan sampai akhir pembentukan biji. Kelembaban relatif
adalah sebesar 42 80%, sedangkan pada masa pemasakan kelembaban relatif
sebesar 60 64% (Aprilianda, 2012)
Tanah gembur, subur dan kaya humus. Jenis tanah: andosol, latosol,
grumosol, dan tanah berpasir. Tanah grumosol memerlukan pengolahan tanah
yang baik. Tanah terbaik bertekstur lempung/liat berdebu. pH tanah 5,6 7,5.
Aerasi dan ketersediaan air dalam kondisi baik. Kemiringan 8%, lahan miring >

8%, perlu di teras. Tinggi tempat 1.000-1800 m dpl, optimum 0-600 m dpl
(Hartatik, 2007)
Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah yang khusus. Agar dapat
tumbuh optimal tanah ahrus gembur, subur, dan kaya humus. Jenis tanah yang
dapat ditanami jagung anatara lain: andosol (berasal dari gunung berapi), latosol,
grumosol, tanah berpasir. Pada tanah-tanah dengan tekstur berat (grumosol) masih
dapat ditanami jagung dengan hasil yang baik dengan pengelolahan tanah secara
baik. Sedangkan untuk tanah dengan tekstur lempung/liat (latosol) berdebu adalah
yang terbaik untuk pertumbuhannya (Menegristek, 2000).
Jagung menghendaki tanah yang subur untuk dapat berproduksi dengan
baik. Hal ini dikarenakan tanaman jagung membutuhkan unsur hara terutama
nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) dalam jumlah yang banyak. Oleh karena
pada umumnya tanah di Lampung miskin hara dan rendah bahan organiknya,
maka penambahan pupupk N, P dan K serta organik (kompos dan pupuk kandang)
sangat diperlukan (Badan Penelitian dan Perkembangan Pertanian, 2008).
Kemasaman tanah erat hubugannya dengan ketersediaan unsur-unsur hara
tanaman. Kemasaman tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung adalah
pH antara 5,6-7,5. Tanaman jagung embutuhkan tanah dengan aerasi dan
ketersediaan air dalam kondisi baik. Tanah dengan kemiringan kurang dari 8%
dapat ditanami jagung, karena disana kemungkinan terjadinya erosi tanah sangat
kecil. Sedangkan daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8% sebaiknya
dilakukan pembentukan teras dahulu (Menegristek, 2000).

10

Pupuk Nitrogen
Nitrogen (N) merupakan salah satu unsur hara makro utama yang sangat
penting untuk pertumbuhan tanaman. Nitrogen diserap oleh tanaman dalam
bentuk ion NO-3 atau NH4+ dari tanah. Kadar nitrogen rata-rata dalam jaringan
tanaman adalah 2%-4% berat kering, dalam tanah kadar Nitrogen sangat
bervariasi, tergantung pada pengelolahan dan penggunaan tanah tersebut
(Rosmarkam dan Yuwono, 2002).
Pupuk nitrogen adalah pupuk kimia yang mengandung unsur N, baik
dalam bentuk tunggal maupun majemuk, yang umumnya berupa senyawa nitrat,
amonium, amin, sianida. Beberapa contoh pupuk nitrogen adalah pupuk urea
(NH2CONH2), Amonium nitrat (NH4NO3), Kalium nitrat (KNO3), kalsium
sianida (CaCN2), amonium fosfat [(NH4)3PO4], dan Amonium sulfat (ZA)
[(NH4)2SO4]. (Hartatik, 2007).
Peranan utama nitrogen (N) bagi tanaman adalah untuk merangsang
pertumbuhan secara keseluruhan, khususnya batang, cara pembentukan hijau daun
yang sangat berguna dalam proses fotosintesis. Fungsi lainnya

ialah

membentuk protein, lemak, dan berbagai persenyawaan organik lainnya


(Lingga dan Marsono, 2008).
Bila pemberian Nitrogen dinaikkan melampaui titik optimal, maka
sebagian Nitrogen yang diasimilasi memisahkan diri sebagai amida, sehingga
pemberian Nitrogen yang berlebihan hanya menaikkan kadar N pada tanaman
tetapi mengurangi sintesis karbohidrat. Sering terjadi akumulasi nitrat pada bagian
tanaman tertentu. Kenaikan kadar nitrat yang tinggi pada saat panen dianggap

11

tidak efisien dan tidak ekonomis arena mengakibatkan kadar nitrit (NO 2) juga naik
(Rosmarkam dan Yuwono, 2002).
Tanah yang kekurangan nitrogen menyebabkan tanaman tumbuh
kerempeng dan tersendat-sendat. Daun menjadi hijau muda, terutama daun yang
sudah tua, lalu berubah menjadi kuning. Selanjutnya daun mengering mulai dari
bawah ke bagian atas. Jaring-jaringnya mati, mengering, lalu mengeras. Bila
tanaman sempat berbuah, buahnya akan tumbuh kerdil kekuningan dan lekas
matang. Kalau pada tanah tersebut tidak diberi pupuk yang mengandung
unsur

nitrogen

maka

(Lingga dan Marsono, 2008).

selamanya

tanaman

akan

tumbuh

kerdil

BAHAN DAN METODE


Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di lahan Fakultas Pertanian Universitas
Sumatera Utara, Medan, pada ketinggian 25 meter di atas permukaan laut.
Penelitian berlangsung dari bulan Maret sampai April 2015.
Bahan dan Alat
Bahan pupuk yang diuji adalah pupuk majemuk NPK yang berupa
pupuk majemuk granular. Bahan lainnya yang digunakan dalam percobaan
ang, antara lain adalah: pupuk Urea (46 % N ), SP-36 (36 % P2O5), KCl (60
% O), benih jagung P29, kompos.
Alat yang dipergunakan antara lain adalah: cangkul berfungsi sebagai
alat bantu untuk membuat plot, papan triplek/plank berfungsi sebagai identitas lahan,
meteran untuk mengukur pertambahan tinggi tanaman setiap minggunya, tali plastik,
timbangan untuk menimbang dosis pupuk, gembor untuk menyiram plot dan alat
tulis untuk mencatat data yang diperoleh.
Metode Penelitian
Metode penelitian dilakukan dengan mengamati dan mengukur
pertambahan tinggi tanaman dan jumlah daun pada setiap minggunya.

PELAKSANAAN PENELITIAN
Penyiapan Lahan
Pertama yang dilakukan adalah pengolahan lahan dengan melakukan
sanitasi lahan dan selanjutnya membuat petak dengan ukuran 1,5m x 1,5m.
Penyiapan Bahan Tanam
Bahan tanaman yang digunakan adalah benih jagung varietas P29 . Benih
jagung tersebut terlebih dahulu direndam dengan air kira-kira selama 5 menit,
12
bila ada benih jagung yang mengapung diair maka benih jagung tersebut tidak
dapat digunakan.
Penanaman
Penanaman dilakukan setelah pemberian kompos. Tanaman yang
digunakan untuk penelitian ini adalah varietas jagung P29 dengan jarak
tanam 20 cm x 60 cm dan dengan lubang tanam sedalam 5cm. Setiap lubang tanam ditanami 2
benih jagung.
Pemupukan
Pupuk urea, KCl dan fosfat di aplikasikan sekaligus pada saat
beberapa minggu setelah tanam.
Pemeliharaan
Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari pada sore hari. Air yang diperlukan sekitar 4 gembor
berkuran besar.
Penyulaman

Penyulaman dilakukan untuk menggantikan benih yang tidak tumbuh. Penyulaman dilakukan
14
pada saat 7-14 hari stelah tanggal tanam.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan untuk membersihkankan lahan dari tanaman pengganggu (gulma).
Penyiangan dilakukan setiap dua minggu sekali, biasanya dengan mencabuti gulma menggunakan
tangan.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama tanaman jagung, macam-macamnya : hama lundi, lalat bibit, ulat
tanah, ulat daun, penggerek batang, ulat tentara, ulat tongkol. Penyakit tanaman
jagung, macam-macamnya : bulai, cendawan, bercak ungu, karat.
Panen
Pemanenan dilakukan pada saat tongkol masak, yaitu pada saat 100 hari
setelah tanam.
Pengamatan Parameter
Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman mulai d i h i t u n g dari umur 1 minggu sampai
dengan 7 Minggu Setelah Tanam. Pengukuran dilakukan setiap 1 minggu
sekali dan contoh (sampel) tanaman yang diamati dalam 1 petak adalah 5
tanaman yang dijadikan sebagai sampel.
Panen
Pemanenan dilakukan pada saat tongkol masak, yaitu pada saat 100 hari
setelah tanam.

15

Pengamatan Parameter
Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman mulai dihitung dari umur 1 minggu sampai dengan 7
minggu setelah tanam. Pengukuran dilakukan setiap 1 minggu sekali dan contoh (
sampel ) tanaman yang diamati dalam 1 petak adalah 5 tanaman yang dijadikan
sampel.
Jumlah Daun (Helai)
Jumlah daun mulai dihitung dari umur 1 sampai dengan 7 Minggu. Setelah
Tanam. Pengukuran dilakukan setiap 1 minggu sekali dan contoh tanaman yang
diamati dalam 1 petak adalah 5 tanaman yang dijadikan sebagai sampel.
Bobot Segar Tongkol
Bobot Segar tongkol yang telah dipanen dapat ditimbang dan diukur
bobotnya. Bobot segar tongkol yang telah diukur dan ditimbang lalu dicatat dan
dijadikan sebagai data laporan.

DAFTAR PUSTAKA
Aak.1993. Jagung. Penerbit kanisius: Yogyakarta.
Aprilianda, D. 2012. Pengaruh Pupuk Majemuk Npk Terhadap Pertumbuhan,
Produksi Dan Serapan Hara Jagung (Zea mays L.) Pada Latosol Darmaga.
IPB, Bogor.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.2008. Teknologi Budidaya
Jagung. Bogor.
Ekowati, D dan Mochamad, N. 2011. Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays
L.) Varietas Bisi-2 Pada Pasir Reject Dan Pasir Asli Di Pantai Trisik
Kulonprogo. Fakultas Biologi UGM, Yogyakarta.
Hartatik S. 2007. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Jember University Press,
Jember.
Hayati, N. 2006. Pertumbuhan Dan Hasil Jagung Manis Pada Berbagai Waktu
Aplikasi Bokashi Limbah Kulit Buah Kakao Dan Pupuk Anorganik.
Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu.
Jumini, Nurhayati, dan Murzani. 2011. Efek Kombinasi Dosis Pupuk N P K Dan
Cara Pemupukan Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Jagung Manis.
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh.
Kuyik, A.R, Pemmy, T, D.M.F. Sumampow dan E.G. Tulungen. 2012. Respons
Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata L.)Terhadap Pemberian
Pupuk Organik. Fakultas Pertanian Unsrat, Manado.
Lingga, P. dan Marsono.2008. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya:
Jakarta
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendyagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi.Tentang Budidaya Pertanian. Jakarta: Februari
2000.
Nurdin, Purnamaningsuh, M, Zulzain, I, dan Fauzan, Z. 2008. Pertumbuhan Dan
Hasil Jagung Yang Dipupuk N, P, Dan K Pada Tanah Vertisol Isimu Utara
Kabupaten Gorontalo. Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo,
Gorontalo.
Prasetyo, W, Mudji Santoso, Tatik Wardiyati. 2011. Pengaruh Beberapa Macam
Kombinasi Pupuk Organik Dan Anorganik Terhadap Pertumbuhan Dan
Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt.). Fakultas
Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.
Purwono, MS. Dan Hartono R.2005. Bertanam Jagung Unggul. Penebar
Swadaya: Jakarta.

17

Rosmarkam, A. dan Yuwono N. W.2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Penerbit


Kanisius: Yogyakarta.
Suntoro, dan Puji Astuti. 2014. Pengaruh Waktu Pemberian Dan Dosis Pupuk
Npk Pelangi Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung Manis Varietas
Sweet Boys (Zea mays saccharata Sturt.). Fakultas Pertanian Universitas
17 Agustus 1945, Samarinda.
Wangiyana, W, M. Hanan dan I Ketut Ngawit. 2007. Peningkatan Hasil Jagung
Hibrida Var. Bisi-2 Dengan Aplikasi Pupuk Kandang Sapi Dan
Peningkatan Frekuensi Pemberian Urea Dan Campuran Sp-36 Dan Kcl.
Fakultas Pertanian Universitas Mataram, Mataram.
Warisno.1998. Jagung Hibrida. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.
Zubachtirodin, Sania.S, Subandi, dan Awaludin, H.2010. Budidaya Jagung Pada
Lahan Beriklim Kering Melalui Pendekatan Pengelolaan Sumber Daya dan
Tanaman Terpadu (PTT)