Anda di halaman 1dari 376

MEKANIKA TANAH

EDISI KEEMPAT-

R.F. CRAIG
Department of Civil Engineering
University of-

1989

PENERBIT ERLANOOA
Jl. Kraruat IV No. 11
Jakarta 10430
(Anggota IKAPI)

r-

Kata Pengantar

Buku ini ditujukan terutama untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa Teknik Sipil S-1 dan
dimaksudkan untuk memberi pengertian yang cukup mendalam akan prinsip-prinsip
mekanika tanah. Pemahaman akan prinsip-prinsip ini merupakan dasar penting bagi praktek
lebih lanjut dalam rekayasa tanah. Materi yang dipilih mencakup unsur opini pribadi tetapi
isi buku ini kiranya telah mencakup persyaratan bagi bahan pelajaran untuk tingkat S-1.
Dalam hal ini dianggap bahwa para mahasiswa tidak memiliki pengetahuan akan subyek
yang diberikan tetapi telah memahami dasar-dasar ilmu mekanika. Buku ini berisi sejumlah
contoh dan soal beserta penyelesaiannya yang diberikan agar para mahasiswa lebih mema
harni akan prinsip-prinsip dasar dan mampu menggambarkan penerapannya dalam keadaan
yang praktis sederhana. Satuan SI digunakan pada seluruh buku ini. Daftar buku acuan
dicantumkan pada akhir setiap bab sebagai pertolongan bagi studi lebih lanjut tentang
topik yang diberikan. Selain itu buku ini ditujukan juga sebagai sumber acuan yang ber
manfaat bagi para insinyur praktisi.
Dalam edisi ke-4 ini tidak ada perubahan dalam tujuan ataupun struktur isi buku.
Akan tetapi, telah dilakukan beberapa perbaikan dan tambahan. Khususnya bagian tentang
analisis dinding turap telah direvisi, beberapa bagian pada bab tentang daya dukung tanah
telah diperbaharui, dan bagian baru tentang uji pengukuran-tekanan telah ditambahkan.
Penulis sangat berterima kasih kepada berbagai penerbit, organisasi dan individu yang
telah memberi izin digunakannya gambar-gambar dan tabel-tabel dalam buku ini, dan juga
berterima kasih kepada penulis-penulis lain yang hasil karyanya telah digunakan sebagai
sumber bagi isi buku ini. Penulis juga menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada Dr. Ian Christie dari University of Edinburg atas bantuannya membaca naskah asli
buku ini dan memberikan sejumlah saran perbaikan. Terima kasih juga diucapkan kepada
Nn. Evelyn Clark dan Ny. Sandra Nicoll atas bantuan mereka mengetik naskah buku ini.
Materi dari BS 8004: 1986 (Peraturan Praktek untuk Pondasi) dan BS 5930: 1981
(Peraturan Praktek untuk Penyelidikan Lapangan) direproduksi atas izin British Standard
Institution, 2 Park Street, London WIA 2BS, yang menyediakan salinan lengkap peraturan
peraturan tersebut.

Dundee
September 1986

Robert F. Craig

Kata Pengantar dari Penerjemah


Buku Soil Mechanics dengan penulis R.F. Craig telah diterbitkan hingga Edisi ke-4 ta
hun 1 987, dan hampir setiap tahun semenjak tahun 1 974 dicetak ulang karena permintaan
yang cukup banyak di kalangan mahasiswa teknik sipil dan geoteknik di luar negeri.
Tulisan R.F. Craig tentang Mekanika Tanah disajikan dengan cara yang mudah dan
memberikan banyak pengetahuan yang berkaitan dengan peralatan, prosedur penggunaan
alat, metode perbaikan tanah, contoh-contoh soal, latihan dan lain-lain, sehingga buku ini
merupakan salah satu referensi utama di Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan Institut
Sains dan Teknologi Nasional - Jakarta.
Mengingat dorongan dari rekan sejawat di Institut Sain dan Teknologi Nasional {ISTN)
Jakarta serta Workshop lkatan Mahasiswa Sipil FTUI untuk menerbitkan buku referensi da
lam bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, maka kami berusaha menerjernahkan buku
ini.
Ucapan terima kasih kami berikan kepada Sdr. Zaki, Evita, Ir. Herold H, yang telah
membantu proses terjemahan serta turut memberikan terminologi yang tepat, dan kepada
Ir. Gito Purnomo, Ir. Ari Adji yang memberikan dorongan serta saran, kritikan terhadap
buku ini. Jika ternyata ada kekurangan atau kesalahan, dengan tangan terbuka kami akan
menerirna saran dan kritikan.

Dr.

Budi Susilo Soepandji

Daftar Isi

Kata Pengantar

Karakteristik Dasar Tanah


Sifat Alamiah Tan ab

l.l

1.2

Analis Ukuran Partike1

l.3

Plastitas Tanah Berbutir-Halus

1.4

Deskripsi dan Klasifikasi Tanah

1.5

Hubungan Antarfase

20

1.6

Pemadatan Tanah

24

Soal-soal

30

Referensi

31

Rembesan

33
33

2.1

Air Tanah

2.2

Permeabilitas

34

2.3

Teori Rembesan

40

2.4

Jaringan Alir an

44

2.5

Kondi Tanah Anotropik

52

2.6

Kondi Tanah Tidak Homogen

54

2. 7

Kondi Transfer

56'

2.8

Rembesan Melalui Bendungan Tanah

57

2.9

Grouting

66

2.10 Pengangkatan Akibat Pembekuan

67

Soal-soal

68

Referensi

71

Tegangan

Efek tif

3.1

Pendahu1uan

3.2

Prinsip Tegangan Efektif

3.3

Reaksi Tegangan Efektif Akibat Perubahan Tegangan Total

3.4

Tanah Jenuh Sebagi.an

3.5

Pengaruh Rembesan Terhadap Tegangan Efektif

72

12
72
"75
79
80

Soal-soal

88

Referensi

90

Daj[ar /si

viii

kekuatan Geser
Kriteria Keruntuhan Mohr-Coulomb
Pengujian Kekuatan Geser
Kekuatan Geser Pasir

Referensi

Tegangan dan Perpindahan

136

Kekuatan Geser Lempung Jenuh


Konsep Kondisi Kritis
Kekuatan Sisa
Koefisien Tekanan Pori

Pengukuran Pizometer di Lapangan

Soal-soal

Elastisitas dan Plastisitas


Tegangan Berdasarkan Teori Elastis

5. 1
5.2
5.3

Perpindahan Berdasarkan Teori Elastis


Soal-soal

Referensi

Tekanan Tanah Lateral

6.1 . Pendahuluan
6.2 : , Teori Rankine tentang Tekanan Tanah
6.3 Teori Coulomb tentang Tekanan Tanah
6.4 Penyelesaian Lain
Desain Struktur Dinding Penahan Tanah
6.5
Dinding Gravitasi dan Dinding Kantilever
6.6 Dinding Turap Kantilever
6.7
Dinding Turap Dengan Angkur dan Penyangga
6.8 Galian yang Diperlukan
Dinding Diafragma
6.9
6.10 Tanah Bertulang
.

Soal-soal
Referensi

9]

91
94
103
105
1 17
123
125
130
132
134

4 1
4.2
4.3
4.4
45
4.6
4. 7
4.8

Teori
7.1
7.2
7.3
7.4
7.5
7.6
7.7
7.8
7.9
7.10
7. 1 1

Konsolidasr
r-endahuluan
Uji Oedometer
Penurunan Konsolidasi: Metode Satu-Dimensi
Penurunan Menurut Metode Skempton-Bjerrum
Metode Lintasan Tegangan
rajad Konsolidasi

Teori Terzaghi tentang Konsolidasi Satu-Dimensi


Penentuan Koefisien Konsolidasi
Koreksi Selama Periode Pelaksanaan Pembangunan

Penyelesaian Numerik
Drainasi Vertikal

Soal-soal

Referensi

136
144
15 4
158
159

160
160
161
175
180
18 1
18 1
187
188
20 1
203
205
208
211

213
2 13
2 13
220
223
228
229
230
236
244
249
252
257
259

Daftar /si

ix

Daya Dukung Tanah

261

8.1

Penctahuluan

26I

8.2

Daya Dukung Ultimit

263

8.3

Daya D ukung Izin pacta Lempung

273

. 8.4

Day a Dukung Izin pacta Pasir

273

8.5

Day a Dukung Tiang Pancang

2 9I

8.6

Teknik-teknik Perbaikan Tanah

310

8.7

Galian

3II

8.8

Angkur Tanah

3I3

Soal-soal

316

Referensi

3I8

Stabilitas Lereng

321

9.I

Penca
t huluan

32I

9.2

Analisis untuk Kasus ctengan

9.3

Metocte lrisan

324

9.4

Analisis Kelongsoran Translasi Bictarrg

330

9.5

Metocte Analisis Umum

332

9.6

Stabilitas pacta Akhir Pe1aksanaan Pembangunan ctan Stabilitas Jangka

c/>,

:=:

322

334

Panjang
9.7

10

Stabilitas Benctungan Tanah

.,

336

Soal-soal

339

Referensi

34I

Penyelidikan Tanah

341

I0.1 Penctahu1uan

341

I 0.2 Metocte-metocte Penyelict*an

<m
3f1

I0.3

Pengambilan Contoh

10.4 Log Lubang Bor

1J6

10.5 Metocte Geofisis

358

Referensi

362

Notasi Utama
Jawaban Soal-soal
Indeks

367

363
370

BAB l

Karakteristik Dasar
Tanah

1.1. Sifat Alamiah Tanah


Bagi para lnsinyur Sipil, tanah adalah akumu}asi partikel mineral yang tidak mempunyai
atau lemah ikatan antarpartikelnya, yang terbentuk karena pelapukan dari batuan. Di
antara partikel-partikel tanah terdapat ruang kosong yang disebu t pori-pori (void space)
yang berisi air dan/atau udara. Ikatan yang lemah antara partikel-partikel tanah disebabkan
oleh pengaruh karbonat atau oksida yang tersenyawa di antara partikel-partikel tersebut,
atau dapat juga disebabkan oleh adanya material organik. Bila hasil dari pelapukan ter
sebut di atas tetap berada pada temp at semula, maka bagian ini disebut tanah sisa (residual
soil). Hasil pelapukan yang terangkut ke tempat lain dan mengendap di beberapa tempat
yang berlainan disebut tanah bawaan (transportation soil). Media pengangkut tanah berupa
gaya gravitasi, angin, air, dan gletsyer. Pada saat berpindah tempat, ukuran dan bentuk
partikel-partikel dapat berubah dan terbagi dalam beberapa rentang ukuran.
Proses penghancuran dalam pembentukan tanah dari batuan terjadi secara fisis atau
kimiawi. Proses fisis antara lain berupa erosi akibat tiupan angin, pengikisan oleh air dan
gletsyer, atau perpecahan akibat pembekuan dan pencairan es dalam batuan. Tanah yang
t::rjadi akibat penghancuran tersebut di atas tetap mempunyai komposisi yang sama dengan
batuan asalnya. Tanah tipe ini mempunyai ukuran partikel yang hampir sama rata dan
dideskripsikan berbentuk 'utuh' (bulky): yaitu bentuk-bentuknya bersudut agak bersudut,
ataupun bulat. Partikel-partikel tanah terdapat dalam rentang ukuran yang cukup lebar,
mulai dari berangkal (bould er) sampai serbuk batu halus yang berbentuk akibat penggerus
an oleh gletsyer. Susunan struktural dari partikel 'bulky' (Gambar 1.1) ini dideskripsikan se

bagai butiran tunggal (single grain) di mana setiap partikel saling berhubungan dengan

partikel-partikel di sekitarnya tanpa ada suatu ikatan atau kohesi di antara mereka. Kekom
pakan struktur partikel ini, baik yang lepas, agak padat, ataupun padat, tergantung dari
proses pemadatan antarpartikel pada saat pembentukan strukturnya.
Proses kimiawi menghasilkan perubahan pada susunan mineral batuan asalnya. Salah
satu penyebabnya adalah air yang mengandung asam atau alkali, oksigen, dan karbondiok
sida. Pelapukan kimiawi menghasilkan pembentukan kelompok-kelompok partikel kristal
berukuran koloid (< 0,002 mm) yang dikenal sebagai minerallempung (clay mineral).

Mineral lempung kaolinit, sebagai contoh, terbentuk dari pecahan fel Spar akibat pengaruh

Mekanika Tanah

Gambar 1.1.

air dan karbondioksid'


punya

S ii! ktur butiran tu11t;gal.

Hampir samua mlleral lempung berben tuk lempengan yang m em

permukaan speDtlk (perbanan antara luas permukaan dengan massa) yang

tinggi. Akibatnya sifatsifaf

padiief uti

QQgat rlipengaruhi oleh gaya-gaya permukaan.

Bentuk lain dari partikel mineral lempung adalah seperti jarum, tetapi jarang terdapat di
bandingkan dengan bentuk lempengan.
Satuan struktural dasar dari struktural mineral lempung terdiri dari silika tetrahedron
dan alumina oktahedron (Gambar 1.2a). Silikon dan aluminium mungkin juga diganti

se

bagian dengan unsur lain, yang disebut substitusi isomorfis. Satuan-satuan dasar tersebut
bergabung membentuk struktur lembaran yang secara simbolis terlihat pada Gambar 1.2b.
Jenis-jenis mineral lempung tergantung dari kombinasi susunan satuan lembaran dasar.
Yang membedakan jenis-jenis mineral di atas adalah kombinasi tumpukan lembaran dan
macam ikatan antara masingmasing lembaran. Strukturstruktur utama mineral lempung
dapat dilihat pada Gambar 1.3.
Kaolinit adalah salah satu struktur utama mineral lempung. Bagian dasar struktur ini
adalah lembaran tunggal silika tetrahedron yang digabung dengan alumina oktahedron.

Silikon

Aluminium

Oksigen

Hidroksil

Sil ika tetrahedron

Aluminium oktahedron
la)

Lembaran sil ika

Lembaran aluminium
(b)

Gambar 1.2. Mineral-minerallempung: satuan-satuan dasar.

Karakteristik Dasar Tanah

lkatan H

lkatan H
K.

lkatan H

(b)

(a)

J))

-(
--((
-

(c)

H20

H20

Gambar 1.3. Minerallempung (a) kaolin it, ( b ) ilit, (c) montrnorilonit

Substitusi isomorfis praktis tidak teijadi dalam struktur ini. Kombinasi lembaran silika

alumina diperkuat oleh hidrogen sebagai perekat. Sebuah partikel kaolinit bisa mencapai
lebih dari seratus tingkat.

flit

mempunyai struktur dasar sebuah lembaran alumina okta

hedron yang diapit oleh dua lembaran silika tetrahedron. Pada bagian oktahedral terjadi
substitusi sebagian aluminium oleh magnesium dan besi, sedangkan pada bagian tetrahedral

terjadi substitusi sebagian silikon oleh aluminium. Kombinasi lembaran-lembaran tersebut

di atas berikatan satu sama lain dengan perekat (tidak dapat diganti) yang berkekuatan

rendah akibat pengaruh ion potasium yang terdapat di antara mereka. Montmorilonit mem
punyai struktur dasar yang sama dengan ilit, tetapi pada bagian oktahedral hanya magne

sium yang menggantikan sebagian aluminium. Ruangan di antara kombinasi-kombinasi

lembaran di atas diisi oleh molekul air dan kation-kation (dapat diganti) selain potasium.

Kekuatan ikatan antara kombinasi-kombinasi lembaran ini sangat lemah. Pada montmori

lonit dapat terjadi pemuaian (swelling) bila ada penambahan air yang terserap di antara
kombinasi-kombinasi lembaran tersebut.
Permukaan mineral lempung mengandung muatan Iistrik tambahan yang bersifat

negatif, terutama akibat substitusi isomorfis dari atom-atom aluminium atau silikon oleh
atom-atom dengan valensi yang lebih rendah. Sebab lain ialah disasosiasi ion-ion hidroksil.
Muatan-muatan yang tidak diharapkan akibat rusaknya rekatan pada sisi-sisi lembaran
p artikel dapat pula terjadi. Muatan negatif teijadi akibat penarikan kation-kation dari

air

pori ke dalam partikel-partikel yang bersangkutan. Ikatan antara kation-kation dengan

partikel tidak terlalu kuat sehingga bila air pori berubah sifat, kation-kationnya juga
akan digantikan oleh kation-kation yang lain. Kejadian tersebut disebu t pertukaran

kation.

Karena permukaan partikel bersifat negatif, maka kation-kation tertarik ke arah par

tikel tersebut. Tetapi pada saat yang sama, kation-kation ini cenderung bergerak menjauhi
partikel karena pengaruh energi panas yang dirnilikinya. Akibat gerakan yang berlawanan

tersebut, kation-kation akan membentuk suatu lapisan yang menyebar ke arah partikel

yang berada di dekatnya, sehingga konsentrasi kation berkurang dengan bertambahnya


jarak kation tersebut dari permukaan partikel, sampai suatu saat akan tercapai konsentrasi

kation yang sama dengan yang terdapat dalam air pori. Istilah

lapisan ganda (double layer)

dideskripsikan sebagai lapisan permukaan partikel oleh muatan-muatan negatif dan lapis

an kation yang terdispersi. Untuk sebuah partikel, ketebalan lapisan kation tergantung ter
utama pada valensinya dan juga konsentrasi kationnya. Kenaikan nilai valensi (akibat per
tukaran kation) atau kenaikan konsentrasi akan mengakibatkan berkurangnya teballapis
an. Suhu juga mempengaruhi tebal lapisan kation, di mana kenaikan suhu mengakibatkan
berkur angnya tebal lapisan.

Lapisan-lapisan molekul air tetap tertahan mengelilingi sebuah partikel minerallem


pung oleh perekat hidrogen dan (karena molekul air adalah dipolar) akibat tarikan ke arah

Mekanika Tanah

permukaan bermuatan negatif. Sebagai tambahan, kation-kation yang dapat dipertukarkan


dapat menarik air (terhidrasi). Jadi partikel terse but dikelilingi oleh suatu lapisan air yang
dihisapnya (air terserap). Molekul air yang berada paling dekat dengan partikel akan ter
tahan dengan kuat dan mempunyai viskositas yang tinggi. Viskositas berkurang dengan ber
tambahnya jarak antara permukaan partikel dan air 'bebas' pada batas air terserap. Molekul
air terserap dapat bergerak relatif bebas sejajar dengan permukaan partikel, tetapi gerak
annya yang tegak lurus terhadap permukaan sangat terbatas.
Gaya-gaya tolak-menolak dan tarik-menarik bekerja antara partikel-partikel mineral
lempung yang berdekatan. Tolak-menolak terjadi antara muatan-muatan yang sejenis pada
lapisan-lapisan ganda. Kenaikan valensi kation atau konsentrasinya akan mengakibatkan
berkurangnya gaya tolak-menolak, dan sebaliknya. Gaya tarik-menarik antar partikel ada
lah akibat pendeknya rentang gaya-gaya van der Waals; gaya-gaya ini tidak tergantung pada
karakteristik lapisan ganda dan makin berkurang besarnya bila jarak antar partikel makin
besar. Gaya-gaya netto antar partikel mempengaruhi bentuk struktural partikel, seperti
partikel-partikel mineral lempung. Jika terdapat tolak-menolak netto, partikel-partikel cen
derung diasumsikan berorientasi sisi ke sisi, yang disebut struktur terdispersi Bila, pada ke
adaan lain, terdapat tarik-menarik pada partikel, orientasi partikel-partikel tersebut cen
derung mengarah ke ujung sisi atau ujung-ujung yang disebu t struktur terflokulasi. Struktur
struktur ini, yang melibatkan interaksi antara partikel-partikel mineral lempung tunggal,
dilukiskan dalam Gambar 1.4a dan b.
Pada lempung asli, yang biasanya mengandung partikel-partikel u tuh dan besar dengan
proporsi yang cukup berarti, susunan struktural dapat. saja menjadi sangat kompleks. In
. teraksi antara partikel-partikel mineral lempung tunggal jarang terjadi, dan cenderung mem
bentuk agregasi elementer dari partikel-partikel (disebut juga domain) dengan orientasi
sisi-sisi Selanjutnya agregasi elementer ini bergabung untuk membentuk hirnpunan yang
lebih besar, yaitu struktur yang dipengaruhi oleh endapan di sekelilingnya. Dua bentuk
hirnpunan partikel yang sudah dikenal ialah bookhouse dan turbostratic, seperti terlihat
pada Gambar 1.4c dan d. Hirnpunan-himpunan ini dapat juga berbentuk penghubung atau
matriks antar partikel-partikel besar. Sebuah contoh struktur lempung asli terlihat pada
Gruv)2r 1.4e.
partikel tanah beragam antara lebih besar dari 100 mm sampai kurang dari
uran
,._,
0,001 mm. Gambar 1.5. adalah rentang ukuran partikel tanah berdasarkan British Standard.
Dalam gambar tersebut, istilah lempung (clay), lanau (silt), dan lain-lain hanya dipakai
untuk mendeskripsikan ukuran partikel pada bata&-batas tertentu. Tetapi istilah yang sama
juga dipakai untuk mendeskripsikan jenis tanah penting yang lain. Sebagai contoh: lem
pung adalah salah satu tanah yang memiliki kohesi dan plastisitas serta ukuran partikelnya
termasuk dalam rentang ukuran 1empung-lanau' pada Gambar 1.5. Jika proporsi lanau
cukup besat, tanah tersebut dapat dikatakan sebagai lempung kelana(silty clay).

--=...::::=-

n'
A?
(a)

Gambar 1.4.

(c)

</
72:K\<(
(b)

(d)

/lo-L

a,J?c?

c:::>
.c..

Struktur lempung: (a) terdispersi, (b) tert1okulasi, (c)


contoh lempung asli.

e:> ......

0
c:::>

bookhouse,

(d)

(e)

turbostratic, (e)

Karakteristik Dasar Tanah

Ukuran partikel (mm)


Gambar l.S. Rentang ukuran partikel.

Kebanyakan jenis tanah terdiri dari campuran dari beberapa ukuran, dan biasanya
lebih dari dua rentang ukuran. Namun partikel yang berukuran lempung tidak selalu me
rupakan rnineral lempung: bubuk batu yang paling halus mungkin berukuran partikel lem
pung. Jika mineral lempung terdapat pada suatu tanah, biasanya akan sangat mempe
ngaruhi sifat tanah tersebut, meskipun persentasenya tidak terlalu besar.
Secara umum, tanah disebut kohesi[bila partikel-partikelnya saling melekat setelah
dibasahi kemudian dikeringkan dan diperlukan gaya yang cukup besar untuk meremas
tanah tersebut: ini tidak termasuk tanah yang partikel-partikelnya saling melekat ketika
dibasahi akibat tegangan permukaan.
Tanah yang partikelnya terdiri dari rentang ukuran kerikil dan pasir disebut tanah
berbutir kasar (coarse grained). Sebaliknya, bila partikelnya kebanyakan berukuran partikel
lempung dan lanau, disebut tanah berbutir halus (fine grained

1.2. Analisis Ukuran Partikel

Analisis ukuran partikel dari sebuah contoh tanah melibatkan penentuan persentase berat
partikel dalam rentang ukuran yang berbeda. Distribusi ukuran partikel tanah berbutir
kasar dapat ditentukan dengan metode pengayakan (sieving). Contoh tanah dilewatkan
melalui satu set saringan standar yang memiliki lubang yang makin kecil ukurannya dari
atas ke bawah. Berat tanah yang tertahan Ji tiap saringan ditentukan dan persentai8e kumu
latif dari berat tanah yang melewati tiap saringan dihitung. Jika terdapat partikel-partikel
berbutir halus pada tanah, contoh tanah tersebut harus dibersihkan terlebih dahulu dari
butiran halus tersebut dengan cara mencucinya dengan air melalui saringan berukuran ter
kecil.
Distribusi ukuran partikel tanah berbutir halus atau fraksi butir halus dari tanah
berbutir kasar dapat ditentukan dengan metode pengendapan (sedimentasi). Metode ini
didasarkan atas hukum Stokes yang mengatur kecepatan pengendapan partikel berbentuk
bola dalam suatu suspensi: makin besar partikel, makin besar pula kecepatan mengendap
nya, dan sebaliknya. Hukum tersebut tidak berlaku untuk partikel-partikel yang berukuran
lebih kecil dari 0,0002 mm, di mana pergerakannya dipengaruhi oleh gerak Brown. Ukuran
partikel ditentukan sebagai diameter sebuah bentuk bola yang akan turun mengendap
dengan kecepatan yang sama dengan partikel. Contoh tanah yang akan diuji terlebih
dahulu dibersihkan dari material-material organik dengan menggunakan hidrogen peroksida.
Contoh tersebut kemudian dibuat menjadi suspensi di dalam air suling dari larutan pe
misah butir-butir ditambahkan agar partikel-partikel satu sama lain sating terpisahkan.
Suspensi yang telah jadi ditempatkan di dalam tabung pengendap. Dari hukum Stokes,
dapat dihitung waktu turun (t) partikel berukuran D (diameter yang ekivalen dengan
penurunan) sejauh kedalaman tertentu dalam suspensi. Jika setelah waktu tertentu t
contoh tanah diambil dengan pipet pada kedalaman tertentu pula, maka contoh tanah

Mekanika Tanah

tersebut hanya akan mengandung partikel-partikel yang ukurannya lebih kecil dari D
dengan konsentrasi yang sama dengan pada awal pengendapan. Jika. dalam suatu waktu
diambil contoh dari beberapa kedalaman yang berbeda, maka dapat ditentukan distribusi
ukuran butiran partikel dari berat tanah yang terambil. Alternatif lain selain pengambil
an contoh dengan pipet adalah pengukuran suspensi tersebut dengan alat hidrometer.
Berat jenis (specific gravity) tergantung pada berat partikel tanah dalam suspensi pada
saat pengukuran. Rincian lengkap penentuan distribusi ukuran partikel dengan metode
penyaringan dan pengendapan diberikan dalam BS

1377 [1 .2].

Distribusi ukuran butiran partikel tanah dapat digambarkan dengan sebuah kurva
di atas kertas semi logaritmik, di mana ordinatnya adalah per sentase berat partikelnya yang
lebih kecil dari ukuran absisnya yang diketahui. Makin landai kurva distribusi, makin
besar rentang distribusinya; makin curam kurva, makin kecil rentang distribusinya. Tanah
berbutirkasar dideskripsikan

bergradasi baik jika tidak ada partikel-partikel yang ukuran

nya menyolok dalam suatu rentang distribusi dan jika masih terdapat partikel-partikel
yang berukuran sedang. Secara umum tanah bergradasi-baik diwakili oleh kurva distribusi
yang cembung dan mulus. Tanah berbutir-kasar dideskripsikan

bergradasi burnk, (a)


seragam atau (b) jika tidak atau jarang terdapat partikel berukuran sedang
(terdapat loncatan ukuran tanah*). Ukuran partikel digambar (pada kurva) dengan skala

jika ukurannya

logaritmik sebagai absis. Jadi jika ada dua jenis tanah yang memiliki derajat keseragaman
(uniformity) yang sama, maka akan terdapat dua kurva yang sama bentuknya meskipun
1etak ordinatnya berlainan. Contoh kurva distribusi ukuran partikel diperlihatkan pada
. Gambar

1.8. Hubungan antara ukuran partike1 dan persentase lebih kecil dari ukuran terse

but dapat dibaca pada kurva distribusi. D10 menyatakan persentase partikel yang ukuran
nya lebih kecil d ari ukuran yang ditinjau, yaitu sebesar

10%. D30 dan D60 didefinisikan ana


ukuran efektif. Secara umum kemiringan dan
bentuk kurva distribusi dapat digambarkan dengan bantuan koefisien keseragaman (C u =
uniformity coefficient) dan koefisien kelengkungan (Cc= c oefficient of curvature), yang
log dengan D10 D10 biasa disebut sebagai

dirumuskan sebagai berikut:

D6o
Cu=
DIO

(1.1)

Do
Cc=----' D6oDto

(1.2)

Makin tinggi harga

Cu,

makin besar rentang distribusi partikel tanah. Tanah bergradasi

baik biasanya memiliki nilai

Cc sekitar

1 sampai 3.

i.3. Plastisitas Tanah Berbutir-Halus


Plastisitas merupakan karakteristik yang penting dalam hal tanah berbutir-halus. Istilah
plastisitas melukiskan kemampuan tanah untuk berdeformasi pada volume tetap tanpa
terjadi retakan atau remahan. Plastisitas terdapat pada tanah yang memiliki mineral lem
pung atau bahan organik. Suatu kondisi fisis dali tanah berbutir-halus pada

kadar air (dide

finisikan sebagai perbandingan antara massa air dengan massa padat suatu partikel) tertentu
dikenal sebagai

konsistensi. Berdasarkan kadar airnya, tanah digolongkan dalam tiga kon-

. disi yaitu kondisi cair, plastis, semi-padat, atau padat (solid). Kadar air di mana terjadi per
ubahan kondisi tanah bervariasi antara tanah yang satu dengan yang lain. Konsistensinya

*Disebut tanah bergradasi-timpang (gap-graded soil).

Karakteristik Dasar Tanah

tergantung pada interaksi antar partikel-partikel mineral lempung. Penurunan kadar air

mengakibatkan penipi8an tebal lapisan kation dan juga menyebabkan naiknya nilai gaya

t::orik-menarik antar partikel. Untuk suatu jenis tanah yang akan mencapai kondisi plastis,

besa.:oya gaya-gaya antar partikel harus sedemikian rupa sehingga partikel-pertikel tersebut

bebas tergelincir relatif terhadap sesamanya, dengan tetap mempertahankan kohesi di antara

mereka. Penurunan kadar air juga mengakibatkan reduksi volume tanah, baik dalam ke
adaan cair, plastis, maupun semi padat.

Umumnya tanah berbutir-halus secara alamiah berada dalam kondisi plastis. Batas

atas dan bawah dari rentang kadar air di mana tanah masih bersifat plastis berturut-turut
disebut

batas cair (U

wL) dan batas plastis (PL atau wp).


indeks plastisitas (PI atau lp). yaitu:

atau

sendiri didefinisikan sebagai

Rentang kadar air itu

Tetapi perubahan antara kondisi yang satu dengan yang lain terjadi secara lambat laun dan

batas cair serta batas plastis dapat ditentukan berdasarkan kondisi yang ada. Kadar air

(w) suatu tanah relatif terhadap


kecairan (LI atau h), di mana:

batas cair dan batas plastis dapat diwakili oleh

indeks

D erajat plastisita s suatu fraksi ukuran lempung dinyatakan sebagai perbandingan antara

indek s plastisitas dan persentase ukuran butiran partikel lempung dalam tanah: perbanding

an ini disebut

aktivitas.

Peralihan antara kondisi semi padat dan padat terjadi pada

batas susut (shrinkage limit)

yang didefinisikan sebagai besar kadar air tanah di mana tanah tersebut mempunyai volume
terkecil pada saat airnya mengering.

Batas cair dan batas plastis ditentukan dengan beberapa percobaan tergantung dari

kondisi tanah. Rincian lengkapnya terdapat dalam BS

1377.

Contoh tanah dikeringkan

seperlunya (di bawah sinar matahari) agar contoh tanah dapat diremah dengan martil

karel tanpa merusak partikel tanahnya sendiri: tanah yang dipakai dalam percobaan adalah
tanah yang lolos saringan BS

425 J,Lm.

Alat untuk uji batas cair terdiri dari sebuah penetrometer yang disambung dengan

sebuah kerucut baja tahan karat bersudut

30

sepanjang

tempat kerucut diikatkan yang mempunyai massa

80

35

mm: kerucut dan batang luncur

g. Tanah uji dicampur dengan air

suling untuk membuat pasta kental homogen dan disirnpan selama

pasta diletakkan dalam cangkir metal silindris, diameter dalam

55

24

jam. Sebagian

mm dan tebal

40

mm,

dan diratakan pada mulut cangkir agar permukaannya mulus. Kerucut diturunkan sampai
tepat menyentuh permukaan tanah dalam cangkir. Pada posisi ini kerucut dikunci pada
penahannya. Kemu.dian kerucut dilepas selama

detik dan kedalaman penetrasi pada

tanah diukur. Kemudian pada cangkir tersebut ditambahkan sedikit pasta lagi dan dilaku

kan uji ulang sampai didapat harga penetrasi yang konsisten. (Daimbil rata-rata dari 2
nilai yang berbeda

0,5

3 harga yang berbeda 0,1 mm). Keseluruhan prosedur


4 kali dengan menggunakan contoh tanah yang sama tetapi

mm atau

pengujian diulang paling sedikit

kadar airnya dinaikkan dengan menambahnya dengan air suling. Nilai penetrasi harus

berada dalam rentang

15

mm sampai

25

mm, pengujian dilakukan dari kondisi kering

sampai basah. Penetrasi kerucut (penetrasi konis) diplot terhadap kadar air dan ditarik
garis lurus melalui titik-titik yang berdekatan. Sebagai contoh ditunjukkan pada Gambar

1-9.

Batas cair didefinisikan sebagai persentare kadar air (dibulatkan) yang bersesuaian

dengan penetrasi kerucut sedalam

20 mm.

Mekanika Tanah

Alat uji batas cair yang lain terdiri dari sebuah mangkuk kuningan, yang diberi engsel
di salah satu tepinya agar dapat digerakkan naik-turun: posisi awal mangkuk adalah terletak
horizontal di atas alas yang terbuat dari karet keras. Cara bekerja alat tersebut adalah
sebagai berikut: mangkuk, dengan suatu mekanisme tertentu, diangkat setinggi

10

mm

dari alasnya lalu dijatuhkan di atas alas tersebut. Tanah yang akan diuji dicampur dengan
air suling menjadi pasta kental dan didiamkan selama

jam. Setelah itu diambil pasta

secukupnya dan dioleskan di dalam mangkuk secukupnya sampai merata dan horizontal.
Lalu dengan

grooving tool

contoh tanah tersebut digurat menjadi dua bagian yang sama

(berpangkal pada engsel mangkuk, sepanjang diametemya). Kedua

belahan tersebut di

atas secara bertahap akan merapat, bila secara berulang-ulang mangkuk dijatuhkan dengan
kelajuan dua kali jatuh (selanjutnya disebut ketukan) setiap detik. Banyaknya ketukan
yang diperlukan agar celah guratan pada dasar mangkuk merapat sampai panjangnya

13

mm

harus dicatat. Pengujian diulang-ulang sampai tercapai hasil sama antara dua set pengujian:

kemudian kadar air tanah tersebut dihitung. Pengujian ini sebaiknya dilakukan paling

kali, dan kadar air perlu dinaikkan pada setiap uji selanjutnya: banyaknya ketukan

biasanya

kali. Kadar air diplot sebagai ordinat, sementara jumlah ketukan diplot

sedikit

10-50

( dalam skala logaritmik) sebagai absis. Dari titik-titik hasil plot tersebut ditarik garis
lurus yang melalui koordinat titik-titik tersebut. Untuk uji ini, batas cair didefinisikan

sebagai kadar air pada 25 ketukan yang menyebabkan merapatnya adalah sepanjang
Pada BS

1377

juga dirinci uji batas cair dengan uji tunggal, yang besamya

35

13

mm.

sampai

15

ketukan.
Untuk menentukan batas plastis, tanah yang diuji, dicampur dengan air suling sampai
cukup plastis untuk digelintir menjadi bola-bola kecil. Sebagian contoh tanah (kira-kira

2,5

g) dibentuk menjadi seperti benang, dengan diameter kira-kira

m, dengan cara di

gelintir antara telunjuk dan ibu jari tangan. Benang tanah tersebut kemudian ditempatkan
di atas pelat kaca dan digelintir lagi sampai diameternya menjadi

mm: tekanan gelintir

harus merata pada keseluruhan pengujian. Benang tersebut kemudian diremas diantara
jari-jari tangan (kadar air tereduksi oleh hangatnya jari-jari tangan) dan prosedur peng
gelintiran diulangi lagi sampai benang-benang terseJ?ut retak secara longitudinal dan trans
versal pada diameter

mm. Prosedur penggelintiran di atas diulang dengan menggunakan

tiga bagian lain dari contoh tanah, dan persentase kadar air dari semua contoh yang meng

alami

retakan perlu ditentukan. Kadar air (dibulatkan) inilah yang didefinisikan sebagai

batas plastis tanah. Keseluruhan prosedur uji batas plastis di atas hams dilakukan kembali
dengan menggunakan contoh tanah lainnya (empat kali) dan diambil nilai rata-rata dari
dua nilai batas plastis: Pengujian harus diulang jika kedua nilai tersebut berbeda lebih
dari

0,5%.

Jika batas plastis dari suatu contoh tanah tidak dapat ditentukan atau jika batas
plastisnya sama atau lebih besar dari batas cair, maka tanah tersebut dilaporkan sebagai
non-plastis (NP).

1 .4. Deskripsi dan Klasifikasi Tanah


Bahasa standar sangat penting dalam deskripsi tanah. Sebuah deskripsi yang lengkap harus
menyebutkan karakteristik material tanah maupun massa tanah di lapangan. Karakteristik
karakteristik material dapat ditentukan dari contoh tanah terganggu, yaitu contoh-contoh
yang distribusi ukuran partikelnya sama dengan kondisi di lapangan tetapi keaslian struktur
tanah di lapangan belum terjaga pada contoh tersebut. Karakteristik utama material adalah
distribusi ukuran partikel (atau gradasi) dan plastisitas, yang digunakan sebagai pedoman
penamaan.

Distribusi ukuran partikel dan sifat-sifat plastisita s dapat ditentukan baik de-

Karakteristik Dasar Tanah

ngan menggunakan uji standar laboratorium maupun dengan pengamatan sederhana dan
pro!lldur manual. Karakteristik-karakteristik material yang menunjang (sekunder) adalah
warna tanah dan bentuknya, tekstur, serta komposi.si partikel tanah. Karakteristik-karakter
istik massa tanah idealnya ditentukan di lapangan, tetapi dalarn beberapa kaws dapat dide
teksi dengan memakai contoh tanah tak terganggu, yaitu contoh-contoh tanah yang sudah
dipelihara sifat-sifat lapangannya. Deskripsi. karakteristik massa harus meliputi taksiran
kekerasan atau kekuatannya di lapangan, dan rincian tempat, diskontinuitas; dan pelapuk
an tanah tersebut. Susunan rincian geologis minor, yang disebut makro-fabrik tanah,
harus dideskripsi dengan hati-hati karena ini dapat mempengaruhi perilaku teknis tanah
di lapangan sampai luas tertentu. Contoh-contoh ciri-ciri makro-fabrik adalah adanya
lapisan-lapisan pasir halus dan lanau tipis dalam lempung; lanau pengisi. celah-celah lempung;
lensa-lensa lempung kecil pada pasir; adanya bahan-bahan organik dan lubang-lubang akar.
Nama susunan geologis, jika telah terdefinisi, harus dirnasukkan dalam deskripsi; sebagai
tambahan, tipe endapan dapat disebutkan (misalnya till, alluvium, teras sungai), karena
dapat secara umum mengindikasikan perilaku tanah.
Deskripsi dan klasifikasi tanah perlu dibedakan. Deskripsi tanah sudah termasuk
karakteristik-karakteristik, baik massa maupun material tanah, karena itu tidak akan
ada dua jenis tanah dengan deskripsi yang benar-benar sama. Pada klasiflkasi tanah, se
baliknya, tanah ditempatkan dalam salah satu dari beberapa kelompok berdasarkan hanya
pada karakteristik material saja (yaitu distribusi ukuran partikel dan plastisitas). Jadi,
klasifikasi tanah tidak tergantung pada kondisi massa di lapangan. Jika tanah akan di
kerjakan pada kondisi tak terganggu, misalnya untuk mendukung pondasi, deskripsi leng
kap akan sangat memadai dan bila dikehendaki dapat ditambahkan klasiftkasi tanah sem
barang. Akan tetapi, klasiftkasi cukup penting dan berguna jika tanah yang ditinjau akan
dipakai untuk material konstruksi. Contohnya tirnbunan atau urugan.

Prosedur Penaksiran-cepat
Deskripsi dan klasiftkasi tanah membutuhkan pengetahuan tentang gradasi dan plastisitas.
Ini dapat ditentukan dengan prosedur laboratorium melalui pengujian-pengujian standar,
seperti diterangkan pada Bagian 1.2 dan 1.3 , di mana nilai-nilai distribusi ukuran partikel,
batas cair, dan batas plastis didapat. Dengan cara lain, gradasi dan plastisitas dapat di
taksir dengan menggunakan prosedur yang cepat yang melibatkan keputusan personal,
yang didasarkan atas penampilan tanah dan rabaan pada tanah. Prosedur cepat dapat
digunakan di lapangan atau pada situasi lain di mana tidak mungkin dilakukan prosedur
laboratorium. Pada prosedur cepat, petunjuk-petunjuk berikut ini dapat digunakan.

Partikel 0,06 mm, batas ukuran terkecil untuk tanah berbutir-kasar, dapat dilihat

dengan mata telanjang dan teraba kasar tetapi tidak seperti pasir bila diremas-remas di
antara jari-jari tangan; material yang lebih halus terasa halus bila disentuh. Batas ukuran
antara pasir dan kerikil adalah 2 mm, dan ini kira-kira .mewakili ukuran terbesar dari
partikel-partikel yang akan tetap bersatu karena adanya gaya-gaya tarik kapiler bila lembab.
Keputusan berdasarkan pengamatan yang paling buruk pun harus dibuat, apakah tanah
yang bersangkutan bergradasi baik atau buruk, dan ini lebih sulit dilakukan pada pasir
daripada kerikil.
Jika pada tanah berbutir-kasar terdapat proporsi material berbutir halus yang cukup
besar, sangat penting diketahui apakah material halus tersebut plastis atau non-plastis
(yaitu, berturut-turut, apakah tanah itu lebih dominan lempung atau lanaunya). Selanjut
nya kohesi dan plastisitas tanah dapat ditentukan. Sejumlah kecil tanah yang partikel
partikel terbesarnya telah disingkirkan diremas-remas dengan tanah, dan bila perlu. di

tambaltkan air. Kohesi dapat ditentukan jika tanah, pada kadar air tertentu, dapat di-

Mekanika Tanah

bentuk menjadi suatu massa yang relatif keras. Plastisitas tanah dapat dilihat jika tanah
dapat diubah-ubah bentuknya tanpa terjadi retakan maupun remahan, yaitu tanpa ke
hilangan kohesi. Jika butiran halus suatu tanah dikatakan merniliki kohesi dan pastisitas,
maka butiran tersebut bersifat plastis. Jika kohesi dan plastisitas tidak ada atau sangat
lemah, maka butiran halus tersebut bersifat non-plastis.
Plastisitas tanah berbutir-halus dapat ditaksir dengan pengujian-pengujian kekuatan
kering, kekerasan, dan dilatansi seperti diterangkan pada paragraf-paragraf berikut. Par
tikel-partikel kasar harus disingkirkan terlebih dahulu kemudian satu contoh tanah di
remas-remas di tangan. Untuk mendapatkan konsistensi yang diinginkan, bila perlu tanah
di tambah air atau dibiarkan kering, sampai tercapai konsistensi yang sedikit lebih besar
dari batas plastis.

Uji Kekuatan Kering. Secuil tanah, tebal 6 mm, dibiarkan kering secara alamiah ataupun
dalam oven. Kekuatan tanah kering tersebut ditaksir dengan mematahkan dan meremas
remas dengan jari-jari tangan. Lempung anorganik memiliki kekuatan kering yang relatif
lebih besar, makin besar kekuatan kering makin tinggi batas cairnya. Lempung anorganik
dengan batas cair rendah memiliki kekuatan kering yang kecil sekali bahkan ada yang
tidak memiliki kekuatan kering, dan mudah sekali diremas-remas.
Uji Kekerasan. Sepotong kecil tanah digulung berbentuk benang di atas permukaan datar
atau di atas telapak tangan, diremas, lalu digulung lagi sampai mengering dan hancur
menjadi serpihan-serpihan kecil pada diameter 3 mm. Pada kondisi ini, lempung anorganik
dengan batas cair tinggi cukup kaku dan keras; sementara yang batas caimya rendah
lebih lembek dan lebih mudah hancur. Lanau anorganik menghasilkan benang-benang
yang lembek dan lemah yang sulit dibentuk dan mudah patah dan hancur.
Uji dilatansi. Secuil kecil tanah, ditambah air seperlunya sehingga menjadi lembek tetapi
tidak lengket, ditempatkan di atas telapak tangan terbuka (horizontal), telapak tangan
digeser-geserkan di atas telapak tangan lainnya beberapa kali. Dilatansi ditunjukkan dengan
munculnya munculnya lapisan air tipis yang bercahaya pada permukaan tanah: jika tanah
diperas dan ditekan dengan jari-jari tangan, permukaan tersebut menjadi suram dan tanah
pun menjadi kaku dan tiba-tiba hancur. Reaksi-reaksi ini hanya terdapat pada material
material yang ukuran lanaunya lebih dominan dan untuk pasir yang sangat halus. Lempung
plastis sama sekali tidak bereaksi pada uji ini.
'/
Tanah organik mengandung material-material tumbuhan yang tersebar dan cukup
banyak yang biasanya menghasilkan bau tersendiri dan kebanyakan berwarna coklat gelap,
abu-abu gelap, atau abu-abu kebiruan. Humus mengandung sisa-sisa tumbuhan yang cukup
banyak, biasaeya berwarna coklat gelap atau hitam dan baunya khas.

Detail Deskripsi Tanah


BS 5930 [ref 1.3] memberikan petunjuk rincian deskripsi tanah. Berdasarkan standar
tersebut, tipe-tipe dasar tanah adalah berangkal (boulders), kerakal (cobbles), kerikil
(gravel), pasir (sand), lanau (silt), dan lempung (clay), yang didefinisikan berdasarkan
rentang ukuran partikel seperti terlihat pada Gambar 1.5: sebagai tambahan dari penamaan
di atas adalah lempung organik, lanau atau pasir, dan gambut (peat). Nama-nama ini
selalu ditulis dalam huruf besar dalam deskripsi tanah. Campuran dari tipe-tipe tanah
dasar disebut tipe komposit.

Karakteristik Dasar Tanah

11

"fanah termasuk tipe pasir atau kerikil (disebut juga tanah berbutir-kasar) jika, setelah

kerakal atau berangkalnya disingkirkan, lebih dari 65% material tersebut berukuran pasir
dan kerikil. Tanah termasuk tipe lanau atau lempung (disebut juga tanah berbutir-halus)
jika, setelah kerakal atau berangkalnya disingkirkan, lebih dari 35% material tersebut

berukuran lanau dan lempung. Pasir dan kerikil dapat- dibagi lagi menjadi fraksi-fraksi
kasar, medium, dan halus, seperti didefinisikan dalam Gambar 1.5. Pasir dan kerikil dapat

dideskripsi sebagai bergradasi baik, bergradasi buruk, bergradasi seragam, atau bergradasi
1.2. Pada kerikil, bentuk partikel

timpang (gap-graded) seperti didefinisikan pada Bagian

(persegi, agak persegi, bulat, agak bulat, datar, memanjang) dan tekstur (kasar, mulus,

mengkilat) dapat juga dideskripsi bila perlu. Komposisi partikel dapat juga dideskripsi.

Partikel-partikel kerikil biasanya merupakan pecahan dari batu (misalnya pasir-batu );


partikel pasir biasanya mengandung butiran-butiran mineral (contoh kuartz).

Tipe-tipe tanah komposit diberi penamaan seperti dalam Tabel I .I, di mana komponen
yang paling dominan ditulis dalam huruf besar. Endapan yang mengandung lebih dari

50% berangkal dan kerakal disebut sangat kasar dan biasanya hanya dideskripsi pada

galian (excavation) atau bukaan (exposure). Campuran material yang sangat kasar dengan

tanah halus dapat dideskripsi dengan menggabungkan deskripsi-deskripsi dari dua kompo
nen, contoh KERAKAL dengan sedikit MATERIAL HALUS (pasir); PASIR berkerikil
dan kadang-kadang terdapat BERANGKAL berkerakal.

Kekerasan atau kekuatan tanah di tempat dapat ditaksir dengan pengujian-pengujian

yang dideskripsi pada Tabel 1.2.

Sifat-sifat dalam Tabel 1.3 digunakan untuk menguraikan strultur endapan tanah.

beberapa contoh deskripsi tanah:

Padat, coklat kemerahan, agak persegi, bergradasi baik, P ASIR berkerikil.


Keras, abu-abu, LEMPUNG plastisitas rendah dan terlapisi, dengan beberapa bagian
lanau 0,5-2,0 mm.

Tabel 1.1
----

KERIKIL sedikit berpasir


KERIKlL berpasir

------------------

sampai 5% pasir
5%

KERIKIL sangat berpasir

'"""""

2% pasir

pasir di atas20%

KERIKIL/PASIR

PASIR sangat berkerikil

proporsinya kurang lebih sama


kerikil di atas 20%

PASIR sedikit berkerikil

sampai 5% kerikil

PASIR betkerikil

PASIR (atau KERIKIL) sedikit berlanau


PASIR (atau KERIKIL)berlanau

PASlR (atau KERIKIL) sangat berlanau


PASIR (atau KERIKIL) sedik1t berlempung
PASIR.(atau KERIKI. berlrtiPUng

l.)

PASIR (atau KERIKIL) sangat berlempung

LANAU (a tau LEMPUNG) berpasir

LANAU (atau LEMPUNG) berkerikil

5%

"'"""-

20% kerikil

" sampai 5% lanau

5% -::- 15% lanau

15% -'- 35% lanau

sampai 5% lerl1pung

5% 15% lempung .
15%.- 35%. lerl1pung

35%. - 65% pasir

35%

.,...

65% kerikil

-----

""""

-----

12

Mekanika Tanah

Tabel 1 .2

Tipe tanah

Sifat

Uji lapangan

Pasir, kerikil

Lepas

Dapat digali dengan sekop; pasak kayu 50 mm


dapat ditancapkan dengan mudah.
Dibutuhkan c;mgkul untuk menggali; pasak kayu
50 mm sulit 'ditancapkan.
Pengujian secara visual; cangkul memindahkan
gumpalan-gumpalan tanah yang dapat terkikis.

Padat
Sedikit
terikat
Lanau

Lunak atau lepas


Keras atau padat

Mudah diremas dengan jari.


Dapat diremas dengan tekanan yang kuat pada
jari-jari tangan.

Lempung

Sangat lunak
Lunak
Keras
Kaku

Meleleh diantara jari-jari tangan ketika diperas


Dapat diremas dengan mudah.
Dapat diremas dengan tekanan jari yang kuat
Tidak dapat diremas dengan jari; dapat digencet
dengan ibu jari.
Dapat digencet dengan kuku ibu jari.

Sangatkaku
Organik,
gambut

Keras
Berongga
Plastis

Serat-serat telah tertekan


Sangat kompresibel dan struktur terbuka
Dapat diremas dengan tangan dan menyebar
pada jari-jari.

-- -------- ------------ ----- ----

Tabel 1.3

Homogen

Endapan mengandung satu tipe tanah saja.

Saling melapis

Lapisan-lapisan bolak-balik (alternating) dari beragam tipe


atau dengan batas atau lensa dari material lain (skala interval
untuk jarak-jarak alas atau tebal lapisan dapat dipakai).

Heterogen

Campuran dari beberapa tipe tanah.

Lapukan

Partikel-partikel kasar dapat melemah dan membentuk


pelapisan satu-titik.
Tanah halus biasanya memiliki struktur kolom atau remah
remah.

Bercelah (lempung)

Pecah menjadi segi banyak sepanjang celah (skala interval


dapat dipakai untutjarak diskontinuitas).

Sempurna (lempung)

Tidak ada celah-celah.

Berserat (humus)

Tumbuh-tumbuhan yang tersisa dapat diterima dan me


miliki sedikit kekuatan.

Tak berbentuk/
Amorfis (gambut)

Tidak terdapat sisa-sisa tumbuhan.

Karakteristik Dasar Tanah

Padat, coklat, heterogen, bergradasi baik, PASIR sangat berlanau dan .KERIKIL
dengan sedikit KERAKAL: Till.
Kak:u, coklat, LEMPUNG plastisitas tinggi bercelah sempit: I..empung London Berong
ga, coklat gelap, GAMBUT berserat.

Sistem Klasifikasi Tanah Inggris


Klasifikasi Tanah Sistem Inggris ditunjukkan secara rinci pada Tabel 1.4. Grafik plastisitas
(Gambar 1. 6) juga hams dijadikan referensi. Kelompok tanah dalam klasifikasi ditandai
dengan simbol kelompok yang terdiri dari huruf-huruf pertama dan deskripsi kualitas yang
artinya dapat dilihat pada Tabel 1.5.
Sumbu-sumbu pada grafik plastisitas adalah indeks plastisitas dan batas cair; jadi
jika parameter-parameter ini telah ditentukan di laboratorium, karakteristik plastisitas
tanah halus dapat diwak:ili oleh sebuah titik pada graflk tersebut. Huruf-huruf klasifikasi
diberikan pada tanah tergantung dari daerah di mana titiknya terdapat dalam grafik ter
sebut. Grafik plastisitas dibagi menjadi Iima rentang batas cair; empat rentang tertinggi;
(I, H, V, dan E) dapat dikombinasikan sebagai rentang plastisitas atas (V) jika tidak di
perlukan petunjuk yang lebih dekat atau jika telah dipakai prosedur cepat.
Huruf yang mendeskripsi frak:si ukuran yang dominan ditempatkan pada awal sirnbol
kelompok. Jika tanah mengandung banyak material organik, akhiran 0 ditambahkan
sebagai huruf terakhir sirnbol kelompok. Satu simbol kelompok dapat saja terdiri dari
dua atau lebih huruf, contoh:
SW:
SCL:
CIS:
MHSO:

PASIR bergradasi baik.


PASIR sangat berlempung (lempung plastisitas rendah)
LEMPUNG berpasir dengan plastisitas sedang
LANAU berpasir organik plastisitas tinggi.

CE

70

60

;
;;;
=
-5.
.,
:.t

c:

CV

50

.rH

40

30

20

Cl

CL

10
6

--

---

0
0

10

ML

20

30

//

40

V
V

l/4

ME

MV

MH

50

60

70

80

90

1 00

Batas cair

Gambar

1.6

Grafik plastisitas: sistem Inggris. (BS 5930: 1981)

1 10

1 20

Mckanika Tanah

Tabel 1.4

Sistem Klasifikasi Tanah Inggris untuk Tujuan Rekayasa

Kelompok tanah

Pembagian dari identif"lkasi laboratorium

KERIKIL dan PASIR yang mungkin


berubah menjadi KERIKIL berpasir
dan PASIR berkerikil, yang ditentukan
secara tepat

Simbol
kelompok

KERIKIL sedikit berlanau


atau KERIKIL
sedikit berlempung

._a ,;;

::s .O
.0 "
.... c

.3 ]
.... ;::"

;::
..

.::

e f!

e.

:;; 2 e

"'
= S
.. "Cl
"Cl .8

< >.
]

e=
E-< V)
;:J e O.
..

!I) .::
'

"

"' "Cl

:g
<Z
< ::s :S.o
E-<
oo ,.c:

::t: "Cl ta

.i3
::s

.O

:5

.8 ....
....

....
c: 0-t
$
..

,_
E
o 2 E

PASIR sangat
berlanau
PASIR sangat
berlempung

"Cl .3>... "'


"Cl

<n
< :S.0 5 ..c:....:g

!I)

;:,
< .::
...l

..
>.

LANAU berkerikil
LEMPUNG
berkerikil

" .!;I 0.
Z e E
;:,

.8
i'O.l
...l

::S M
.. "'

o;: ] e "Cl;; :;:


,:::
e= .s

]
E; g o z .i3

< .0" .0::s \0V)


gj "Cl
....l
l'o.l "'
"'

< "Cl

::X::

"'

..C:

....

] ]::s

..2

GAMBUT

.::
..

GW

GP

GPu GPg

G-M
G-F
G-C

k;F

0
0

LANAU
(TANAH-M)
LEMPUNG

GWM GPM

GML, dan lain-lain

GC

GCL
GCL
GCH
GCV
GCE

0 sampai 5

5 sampai 15

SW

SW

SP

SPu SPg

15 sampai 35

SWM SPM

0 sampai 5

5 sampai 15

SWC SPL

SM

SML, dan lain-lain

se

SCL
SCL
SCH
scv
SCE

MG

MLG, dan lain-lain

CG

CLG
CIG
CHG
CVG
CEG

SF

15 sampai 35

FG

MLS, dan lain-lain

< 35
35 sampai 50
50 sampai 70
70 sampai 90
> 90

CLS, dan lain-lain

ML, dan lain-lain

CL
Cl
CH
CV
CE

'0'

Huruf deskriptif akhir


pada
setiap simbol kelompok atau sulrkelompok
Pt

Butiran
Batas
halus (%
cair
kurang dari0,06 mm)

GWC GPC

GM

LANAU berpasir
MS
LEMPUNG
FS
berpasir
CS

"
;:,< .0 :2
z bO ;i
< l'o.l '" a
"Cl ..c: 0.

...l ...l

TANAH
ORGANIK

GW
G

P ASIR berlanau
S-M
PASIR
S-F
berlempung
S-C

e !3..

KERIKIL sangat
berlanau
KERIKIL sangat
berlempung

PASIR sedikit
berlanau atau
P ASIR sedikit
berlempung

.o .!l

..sl

KERIKIL berlanau
KERIKIL berlempung

Simbol
sulrkelompok

< 35
35 sampai 50
50 sampai 70
70 sampai 90
> 90

Karakteristik Dasar Tanal7

15

Tabel 1.5
Kuaiifikasi

Istilah utama
-------------------

KERlKI L

PASIR

TANAH HALUS, BUTIRAN HALUS


LANAU (TANAH-M)
LEMPUNG

Bergradasi baik

Bergradasi buruk

Seragam

Pu

Bergradasi-timpang

Pg

Plastisitas rendah (LL<

Plastisitas sedang

35)
(LL 35-50)
Plastisitas tinggi (LL 50-70)
Plastisitas sangat tinggi (LL 7--90)
Plastisitas sangat ekstrim
(LL> 90)

I
H
V
E

Rentang plastisitas atas

(LL>35)

Organik (sebagai akhiran)

Pt

GAMBUT

Nama kelompok tanah atau sub-kelompok harus selalu diberikan seperti di atas sebagai
tambahan untuk simbol di mana banyaknya sub-divisi tergantung pada situasi yang di
hadapi. Jika prosedur cepat dipakai untuk menaksir gradasi dan plastisitas, simbol ke

lompok harus dimasukkan dalam tanda kurung untuk menunjukkan rendahnya derajat

ketepatan akibat prosedur yang dipakai.

Istilah TANAH HALUS (B UTIRAN HALUS) atau F dipakai bila tidak perl u atau
tidak mungkin menurunkannya dari antara LANAU (M) dan LEMPUNG (C). LANAU (M)
terlukis di bawah garis-A dan LEMPUNG (C) di atas garis-A pada grafik plastisitas, yaitu

lanau menunjukkan sifat-sifat plastis pada kadar air yang lebih rendah dibanding dengan

lempung yang memiliki batas cair yang sama. LANAU atau LEMPUNG dikualifikasi
sebagai berkerikil jika lebih dari 50% fraksi kasarnya berukuran kerikil dan sebagai ber

pasir bila lebih dari 50% fraksi kasarnya berukuran pasir. Istilah lain yaitu TANAH -M

diperkenalkan untuk mendeskripsi material yang tanpa mempedulikan uku rannya, ter
letak di bawah garis-A pada grafik plastisitas kegunaan istilah ini adalah untuk meng

hindari kerancuan dengan tanah-tanah yang ukuran lanaunya lebih dominan (tetapi

mengandung lempung yang cukup ba11yak) yang terletak di atas garis-A. Tanah halus

yang mengandung banyak material organik biasanya memiliki batas cair tinggi sampai

ekstrim dan terletak di bawah garis-A sebagai lanau organik. Gambut biasanya memiliki

bat as cair tinggi a tau bahkan ekstrim.

Kerakal dan berangkal (partikel yang tertahan pada saringan 63 mm BS) harus di

singkirkan dahulu sebelum dilakukan uji klasifikasi, tetapi persentase berat mereka terhadap
contoh total harus ditentukan atau diperkirakan. C ampuran tanah dan kerakal atau
berangkal dapat ditunjukkan dengan huruf-huruf Cb (Kerakal/COBBLES) atau B (berang

kal/BOULDERS) yang digabungkan oleh tanda + pada simbol kelompok tanah, di mana
komponen yang lebih dciminan disebut lebih dahulu, misalnya:
GW + Cb:
B +CL:

KERIKI L bergradasi-baik mengandung KERAKAL


BERANGKAL mengandung LEMPUNG plastisitas rendah

Mekanika Tanah

Tabel l .6
Huruf primer

Huruf sekunder

G : Kerikil
S : Pasir
M : Lanau
C : Le mbung
0: Tanah organik
Pt : Gambut

W:

P:
M:

C:
L:
H:

BergraJasi baik
Bergradasi buruk
Butiran halus
Butiran halus plastis
Plastisitas rendah (LL < 5 0)
Plastisitas tinggi (LL > 50)

Sistem Klasifikasi Tanah Unified


Dalam sistem unified, yang dikembangkan di Amerika Serikat, simbol kelompok terdiri
dari huruf-huruf deskriptif primer dan sekunder. Huruf-huruf dan masing-masing artinya
dapat dilihat pada Tabel 1-6. Sistem unified, termasuk kriteria klasifikasi laboratorium,
dirinci dalam Tabel I . 7 dan grafik plastisitas yang bersesuaian terlihat pada Gambar 1 .7 .
Klasiflkasi didasarkan atas prosedur-prosedur d i laboratorium dan d i lapangan. Tanah
yang mempertunjukkan karakteristik dari dua kelompok harus diberi klasiflkasi pembatas
yang ditandai oleh dua simbol yang dipisahkan oleh tanda hubung.

Contoh 1. 1
Hasil analisis saringan tanah A, B, C dan
untuk tanah D adalah sebagai berikut :
Batas cair :
Penetrasi kerucut (mm)
Kadar air (%)
Batas plastis :
Kadar air (%)

ditunjukkan pada Tabel 1.8. Hasil uji batas

1 5,5
39,3

1 8,0
40,8

23,9

24,3

19,4
42,1

22,2
44,6

24,9
45,6

60

"'
"'
...

t;
ea

"'
.Y.
Q)
-o
c:

50
40

c. 30
20
10
0

CL

CL
./
M L atau O L
/
- ML
,
,
ML
I
10
20
30
40
50

Batas cair

60

).y

M H atau 0

70

80

90

1 00

Gambar 1 .7 . Grafik plastisitas: Sistern unifie d. (Dircproduksi dari Wagncr, A. A ( 1 95 7 ) Proceedings

of th e Fourth ln tl!mational Con.(a!'ll ce on Soil Mech anics and Foundation Engineering. dengan izin
dari B u t tc rw o r th & Co ).

Tabel 1. 7

Sistem Klasifikasi Tanah Unified

Berdasarkan Wagner,

A.A

{ 1 957)

Proceedings of the Fourth International Conference SMFE, London,

perbanyak dengan seizin Butterworth & Co.

1:..

Simbol
kelompok Butiran
halus (%) Kualitas

I Berbutir kasar

Kerikil
(lebih dari 5 0%

lebih besar dari pecahan kasar


6 3 {Jm BS atau erukuran kerikil)
ukuran ayakan

Kerikil bergradasi baik, kerikil berpasir,


dengan sedikit atau tanpa butiran halus

GW

0 -5

Cu > 4
I < Cc < 3

Kerikil berlanau, kerikil berpasir,


dengan sedikit atau tanpa butiran ha!us

GP

0-5

Tidak memenuhi
syarat-syarat GW

Kerikil berlanau, kerikil


berpasir berlanau

GM

Kerikil berlempung,

US No. 200)

Pasir (le bih dari


5 0% pecahan kasar

>

12

>

12

kerikil berlempung berpasir

GC

Pasir bergradasi baik, kerikil berpasir,


dengan scdikit atau tanpa butiran halus

SW

0-5

Cu > 6
I < Cc < 3

Pasir bergradasi buruk, pasir berkerikil,

SP

0-5

Tidak memenuhi
syarat-syarat SW

berukuran pasir)

-- - .

Di

dengan sedikit atau tanpa bu tiran ha! us

--

Pasir berlanau

SM

Pasir berlempung

se

>

12

>

12

"'"

i:l

;;;;
\:)
"'

1'$
..,

Kriteria Laboratorium

! (lebih dari 50%


1

Vol. 1 .

Plastisitas

Di bawah
garis-A
atau PI < 4

Catata!l

IS;:,-,

Simbol rangkap
dua jika butiran
halusnya 5 - 1 2%.
Simbol rangkap
dua jika di atas
garis-A dan 4 <
PI < ?

Di atas
garis-A
dan PI > ?

Di bawah
garis-A
atau PI < 4
Di atas
garis-A
dan PI > ?

L------

-.J

Tabel 1 .7

(lanjutan )
--

Berbutir halus
(lebih dari 5 0%

lebih kecil dari

6 3'pm BS atau

Lanau dan lcmpung

Lanau anorganik, p asir halus

(batas cair k u rang

berlanau atau berlc mpung

dari 50)

plastisitas tinggi

-------

ML

ukuran ayakan

Lempung anorganik lcmpung berlanau,

AS No. 200)

kmpung berpasir plastisitas rendah


Lanau organik dan lempung berlanau
organik plastisitas re ndah

00

- - ---------------

Lanau anorganik plastisitas

'

CL

Gunakan grafik plastisitas

OL

Gunakan grafik plastisitas

(batas cair lebih

tinggi

be sar dari 50)

MH
-

Lempung anorganik plastisitas tinggi


Lempung organik plastisitas tinggi

Tanah organik tinggi

Gambut dan tanah Berkadar organik


tinggi lainny a

Gunakan grafik plastisitas

CH

Gunakan gra!1k plastisitas

OH

Gunakan gra!1k plastisitas

Pt

- ---

----- - -- -

Gunakan grafik plastisitas

Lanau dan lcmpung

-- --

"

Karakteristik Dasar Tanah

19

Tabel 1 .8
Persentase lebih kecil
Ayakan BS

Uku ran partlke l *

Tanah A

Tanah B

1 00

63 m m
2 0 mm

1 00
76

64

6.3 mm

39

1 00

24
12

2 1 2 pm

90

59

6 0 0 f1ll1

98

65

2 mm

6J .urn

47

34

0 , 02 0 mm

54

0 , 006 m l\1
0 , 002
*

Dari uj i se d imentasl

Tanah D

Tanah C

m rn

1 00
95

23

69

14

46

31

Fraksi halus tanah C mempunyai batas cair 26 dan indeks plastisitas 9. (a) Tentukan
koefisien keseragaman dan koefisien kelengkungan untuk tanah A, B , C. (b) Klasifikasikan
keempat tanah tersebut berdasarkan sistem lnggris dan Unified.
Kurva distribusi ukuran partikel dapat dilihat pada Gambar 1.8. Untuk tanah-tanah
A, B, dan C, ukuran D10, D30 , dan D60 dapat dibaca dari kurva dan harga Cu dan Cc
dapat dihitung:
---------------- "------

Tanah
- - -- ---

Dw

0.47

------ - - ---

0 ,2

-----

D YJ

- -- - --

0,003

0 ,30

80

I/
o/

70
80

20

10

Lempung
0,001

y ...-I f
B

lanau
Halus I Medium Kasar
0,01

212 m

I/

50

30

2,4

63 m

90

Cu

---

34

0,41

0.042

1 00

D6o

------------- ---- -

-- - - - ---- -- -----

16

3.5

-----

,_e:. :,......

1 ,6

I ,8

0,95

800

0.2 5

Ayakan BS

600 m

2 mm

,;"

Ukuran butiran (mm)

6 3 mm

20 mm

Pasir
Halus TMediumT Kasar
0,1

Cc

ft

63

mm

v!7
V

./

Kerikil
Kerakal
Ha I us I Medium I Kasar
10

1 00

Gambar 1 .8 . Kurva distribusi ukuran butiran (Contoh L 1 ).

./ '
/

Mekanika Tanah

26

e
s
...

i3

j!
2

;;;

l!!

:!!
.f
...

V.

24

22

20

18

.. ..... .

16

14
38

41

40

39

.r

42

43

44

45

46

Kadar air (%)


Gambar 1 .9. Penentuan batas air.

Untuk tanah

D,

batas cair didapat dari Gambar 1 .9, yang merupakan grafJ.k penetrasi

kerucut VS kadar air. Persentase kadar air, dibulatkan, yang bersesuaian dengan penetrasi
20 mm adalah batas cair yang besamya 42. Batas plastis adalah rata-rata dari kedua persen
tase kadar air pada soal yaitu 24 {dibulatkan). lndeks plastisitas adalah selisih batas air
dan batas plastis, yaitu 1 8 .
Tanah A terdiri dari 1 00% material kasar (76% ukuran kerikil; 24% ukuran pasir)
dan diklasiflkasikan sebagai GW: KERIKIL bergradasi, baik sangat berpasir.

Tanah B terdiri dari 97% material kasar (95% ukuran pasir, 2% ukuran kerikil) dan

3% butiran halus. Ini diklasiftkasikan dalam SPu: PASIR seragam, sedikit berlanau, medium.

Tanah C mengandung 66% material kasar {4 1% ukuran kerikil; 25% ukuran pasir)

dan 34% butiran halus

(LL =

26,

PI =

9, terletak pada daerah CL dalam graftk plastisitas).

Klasiftkasinya adalah GCL: KERIKIL sangat berlempung (lempung plastisitas rendah).

Ini adalah suatu till, yaitu endapan gletsyer yang memiliki rentang ukuran partikel yang

le bar.

Tanah

terdiri dari 95% material halus: batas caimya 42 dan indeks plastisitasnya

1 8 , terletak tepat di atas garis-A pada daerah Cl dalam graftk plastisitas. Klasiftkasi tanah

Cl: LEMPUNG plastisitas sedang.

Berdasarkan sistem Unified keempat jenis tanah tersebut berturut-turut diklasiftkasi

kan dalam GW, SP, GC, dan CL

1 .5 . Hubungan antarfase
Tanah merupakan komposisi dari dua atau tiga fase yang berbeda. Tanah yang benar-benar
kering terdiri dari dua fase, yang disebut partikel padat dan udara pengisi pori (selanjutnya
disebut udara pori). Tanah yang jenuh sempuma {fully saturated) juga terdiri dari dua
fase, yaitu partikel padat dan air pori. Sedangkan tanah yang jenuh sebagian terdiri dari
tiga-fase yaitu partikel padat, udara pori, dan air pori. Komponen-komponen tanah dapat
digambarkan dalam suatu diagram fase seperti terlihat pada Gambar l . l Oa. Hubungan
hubungan selanjutnya didefmisikan berdasarkan Gambar I . lOa.

----------------------------------

21

Karakteristik Dasar Tanah

_l_

I. lv. J..
l lJ. -

_ j_ -

_ _

Udara

-.
-

Partikel padat

(a)

_ _

'

t--

M,

_ l_

t
e

M ,.

A it

v.

_L

Massa

Volum e

Massa

Volume
__

_ _

Gambar 1 . 1 0

Udara

_L

wG,

j_ - - -

Air

Partikel padat

(b)

_L

- -0

wG , p ..

G , p,.

_ j_

Diagram fase.

Kadar air (w), atau kelembaban (moisture content,


massa air dengan massa padat dalam tanah, yaitu :

m),

adalah perbandingan antara


( 1 .3)

w = -

MW
M.

kadar air ditentukan dengan menimbang contoh tanah kemudian dikeringkan dalam
oven bertemperatur 105- l l0 C dan ditimbang kembali. Pengeringan harus dilakUkan
terus sampai tercapai selisih antara dua penimbangan berturut-turut tidak lebih dari 0, 1%
massa mula-mula dengan interval penimbangan 4 jam. Kebanyakan tanah cukup dikering
kan dalam oven selama 24 jam (Lihat BS 1 377).
Derajat kejenuhan (S,) adalah perbandingan antara volume air dan volume total
pori, yaitu :

v
S = w
' v.

( 1 .4)

Nilai derajat kejenuhan berkisar antara 0 untuk tanah kering dan I (atau 1 00%) untuk
tanah jenuh sempuma.
Angka pori (e) adalah perbandingan antara volume pori dan volume partikel padat,
yaitu :

v.
e=-

( 1 .5)

V.

Porositas (n) adalah


n =

perbandingan antara volume pori dan volume total tanah, yaitu:

V.,
-

( 1 .6)

Hubungan antara angka pori dengan porositas adalah sebagai berikut :

n
e = --1 - n

----

1 +

0 .7)
( 1 .8)

Mekanika Tanah

Volume spesifik (v) adalah volume total tanah yang mengandung satuan volume

partikel padat, yaitu:

t = 1 + e

( 1 .9)

Kandungan udara (air content) (A) adalah perbandingan antara volume udara dan
volume total tanah:
V..
A=V

( 1 . 10)

Kerapatan butiran (bulk density) (p) adalah perbandingan antara massa total dengan

volume total:

M
p= v

( 1. 1 1)

Satuan yang sering digunakan untuk kerapatan adalah kg/m3 atau Mg/m3 0 Kerapatan
air (1000 kg/m3 atau 1 Mg/m3 ) dinyatakan dengan Pw o
Berat jenis dari partikel padat tanah (Gs) didefinisikan sebagai:
G

= M.

( 1 . 12)

V. P w

Prosedur penentuan nilai Gs dapat dilihat secara terinci pada BS 1 377


Berdasarkan definisi angka pori, hila volume partikel padat adalah 1 satuan, maka
volume pori adalah e satuano Massa partikel padat menjadi GsPw dan, dari defmisi ka.dar
air, massa air adalah wGsPw 0 Volume air menjadi wGso Volume dan massa di atas diwakili
oleh Gambar l . l Obo Kemudian didapat hubungan-hubungan berikut ini:
Rumus derajat kejenuhan dapat ditulis:
0

wG
s = --
e

( 1 . 1 3)

e = wG.

( 1 . 14)

Untuk tanah jenuh sempuma, Sr = 1 , jadi:


Kandungan udara dapat dinyatakan dengan:

A=

e - wGs
1 +e

( 1 . 15)

atau dari Persamaan 1 0 1 3 dan 1 08 :

A = n(1 - S,)

( 1 . 16)

Kerapatan butiran tanah dapat ditulis sebagai:


P

G.( l + w)
1 + e

Pw

( 1 . 1 7)

atau, dari Persamaan 1 . 1 3 :

p=

G,

S,e
1 + e P ....
+

( 1 . 18)

Karakteristik Dasar Tanah

23

Untuk tanah jenuh sempuma (Sr = 1):


G +

,
Psat =
p ,.,.

(1. 19)

G
Pd = 1 +, e P w

( 1 .20)

Untuk tanah kering sempurna (Sr = 0):

Berat isi ('Y) tanah adalah perbandingan antara berat total (merupakan gaya) dan
volume total:
Mg

=(=V
V
Persamaan 1 . 17 sampai dengan 1.20 dapat digunakan untuk berat isi, sebagai contoh:
l

G ( + w)
'I = ,1 + e Yw
G + ;>,e
'I = ,1 + e Yw

(1. 17a)
( 1. 1 8a)

di mana 'Yw adalah berat isi air. Satuan yang sering digunakan adalah kN/m 3 , berat isi
air adalah 9,8 kN/m3
Apabila tanah di lapangan berada dalam kondisi jenuh sempuma, partike1 tanah padat
(volume 1 satuan, berat Gs'Yw) mendapat tekanan ke atas ('Yw ). Menghasilkan berat isi
apung (buoyant unit weight) ('Y') sebesar:

jadi:

, G !w - Yw G, - 1
Yw
'I = , 1 + e = I+;-

(1.2 1 )

y' = Ysa,t - Yw

(1.22)

Pada kasus pasir, kerapatan relatif (Dr) digunakan untuk menyatakan hubungan
antara angka pori sebenarnya (e) dan nilai batas em aks dan emin . Kerapatan relatif di
defmisikan sebagai:
D
r

emakstlnaks -

em in

(1.23)

Jadi nilai kerapatan relatif dari suatu tanah pada keadaan yang paling padat (e = emin )
adalah (atau 100%) dan pada keadaan yang paling lepas (e = emaks) adalah 0.
Angka pori minimum pasir (atau kerikil dengan ukuran partikel maksimum 20 mm)
dapat ditentukan dengan memadatkan suatu contoh yang dikeringkan dengan oven, di
mana contoh tanah tersebut ditempatkan atas 3 lapis dalam suatu cetakan standar, masing
masing lapisan dipadatkan dengan menggunakan palu penggetar dalam periode waktu
1 menit. Kerapatan akan diperoleh dari massa dan volume pasir yang dipadatkan dan
angka pori dihitung dengan menggunakan Persamaan 1.20. Prosedur altematif lainnya,
pasir dipadatkan di dalam air, juga dengan menggunakan palu penggetar.
Angka pori maksimum pasir dapat ditentukan dengan menuangkan suatu contoh
tanah yang sudah dikeringkan dengan oven melalui corong saringan (dengan lubang yang
cukup besar agar pasir dapat lewat) ke dalam cetakan standar, dasar corong dipertahankan

Mekanika Tanah

24

5 mm di atas permukaan pasir dalam cetakan. Metode altematif lainnya adalah, 1 kg


contoh tanah dit.e mpatkan di dalam silinder beruk:uran 2 1 (diameter 75 mm). Suatu
penutup, atau dengan menggunakan telapak tangan, ditempatkan pada bagian atas silinder
lalu diguncangkan beberapa waktu, kemudian dibalikkan sehingga sisi atas berada di bawah
dan dengan cepat dibalikkan kembali: prosedur ini harus menjamin bahwa pasir berada
dalam keadaan lepas. Volume pasir kemudian dibaca dari angka pori dihitung. Dalam
metode yang ketiga, pasir ditempatkan di dalam air dalam corong dan dituangkan ke
dalam suatu silinder yang diisi dengan air. Tidak ada prosedur yang dapat dipercaya untuk
menghitung angka pori maksirnum kerikil.

Contoh 1.2.
Pada kondisi aslinya, sebuah contoh tanah mempunyai massa 2290 gr dan volume 1 , 1 5'><
10 - 3 m3 . Setelah dikeringkan dalam oven, massanya menjadi 2035 gr. G8 = 2,68. Tentukan
kerapatan butiran, berat isi, kadar air, angka pori, porositas,
derajat kejenuhan, dan kan'
dungan udara.

2,290
1,15 X 10 - 3

Kerapatan butiran, p = - =

Berat isi, "f

Mg

Kadar air , w =

1990

Ms

9,8

1990 kg/m3 atau {1,99 Mgfm3 )

19.500 N/m3
19,5 kN/m3

2990 - 2035
2035

= -----

0,125 atau 12,5%.

Dari Persamaan 1 . 17,


Angka pori, e = G,( 1 + w) Pw
p

Porositas, n

(2,68

1, 125 X

1,52 - 1
0,52.

_e_

1+e

0,52
1 ,S2

WG3

Derajat kejenuhan, Sr = -- e

100()_\
- 1
1990)

0, 34 atau 34%
0,125 X 2 ,68
- 0,645 atau 64,5%
O,S2
_

Kandungan udara, A = n ( 1 - Sr) = {r,34

0,355

= 0, 12 1 atau 12, 1%

1 .6 . Pemadatan Tanah

Pemadatan (compaction) adalah proses naiknya kerapatan tanah dengan memperkecil


jarak antarpartikel sehingga terjadi reduksi volume udara: tidak terjadi perubahan volume
air yang cukup berarti pada tanah ini. Pada pelaksanaan urugan (fill) dan timbunan

Karakteristik Dasar Tanah

25

(embankment), tanah yang bersifat lepas ditempatkan lapis demi lapis dengan rentang
ketebalan antara 75 mm dan 450 mm, tiap lapis dipadatkan pada standar tertentu dengan
alat mesin gilas (roller), penumbuk (rammer) atau penggetar (vibrator). Umumnya, makin
tiJ:IUi derajat pemadatan, makin tinggi kekuatan geser dan makin rendah kompresibilitas
tanah.
Derajat kepadatan tanah diukur berdasarkan satuan kerapatan kering (dry density),
yaitu massa partikel padat per satuan volume tanah. Bila kerapatan butiran tanah adalah p
dan kadar air w , maka dengan meninjau Persamaan 1 . 1 7 dan 1 .20, didapat kerapatan
kering:
Pd =

(1 .24)

l +w

Kerapatan kering setelah pemadatan tergantung pada kadar air dan besarnya energi yang
diberikan oleh alat pemadat (dinyatakan sebagai usaha pemadatan).
Karakteristik pemadatan dari suatu tanah dapat diketahui dari uji standar di laborato
rium. Tanah dipadatkan di dalam cetakan silindris dengan alat penumbuk standar. Dalam
BS 1 377, ada tiga macam prosedur pemadatan. Pada uji Proctor (Proctor test), volume .
cetakan 1000 cm3 dan tanah (semua partikel yang lebih besar dari 20 mm
disingkirkan) dipadatkan dengan penumbuk (rammer) seberat 2,5 kg massa dengan tinggi
jatuh 300 mm: tanah dipadatkan dalam 3 lapisan yang sama, di mana masing-masing
lapisan ditumbuk 27 kali. Dalam uji AASHTO dimodifikasi ukuran cetakan sama dengan
pada uji standar, tetapi berat palu 4,5 kg dan tinggi j atuh 450 mm : tanah (semua partikel
yang lebih besar dari 20 mm disingkirkan) ditumbuk dalam 5 lapisan, tiap-tiap lapisan
ditumbuk 27 kali. Pada uji palu penggetar (vibrating hamme r) yang berguna untuk pasir
dan kerikil, tanah dengan volume 2360 cm3 (semua partikel yang lebih besar dari 37,5 mm
disingkirkan) ditumbuk dalam 3 lapisan dengan memakai alat pemadat berbentuk lingkaran
yang dipasang pada palu penggetar; cetakannya mempunyai diameter 1 5 2 mm, masing
masing lapisan dipadatkan dengan periode waktu 60 detik.
Setelah dilakukan pemadatan dengan menggunakan salah satu dari tiga metode standar
di atas, kerapatan butiran dan kadar air tanah, juga kerapatan keringnya, ditentukan.
Proses ini diulangi sedikitnya lima kali untuk tanah yang sama, dan kadar air contoh
tanah tersebut dinaikkan pada setiap proses. Dengan menggambarkan hubungan antara
kerapatan kering dengan kadar air, akan diperoleh suatu kurva seperti yang diperlihatkan
pada Gambar 1 . 1 1 . Kurva ini menunjukkan bahwa untuk suatu metode pemadatan ter
tentu (yaitu dengan usaha pemadatan tertentu) akan diperoleh suatu nilai kadar air ter
tentu, yang dikenal sebagai kadar air optimum ( Wopt) yang akan menghasilkan nilai ke
rapatan kering maksimum. Pada nilai kadar air yang rendah, sebagian besar tanah cen
derung menjadi kaku dan sukar untuk dipadatkan. Dengan menambah kadar air, tanah
menjadi lebih mudah dibentuk dan dipadatkan sehingga akan dihasilkan kerapatan kering
yang lebih tinggi. Ak:an tetapi, pada kadar air yang tinggi, kerapatan kering menjadi ber
kurang sejalan dengan bertambahnya kadar air, yang mana air tersebut akan mengisi
dan volume tanah bertambah secara proporsional.
Jika semua udara di dalam tanah dapat dikenakan dengan pemadatan, maka tanah
tersebut berada dalam kondisi jenuh sempurna, dan mungkin akan menghasilkan nilai
kerapatan kering maksimum untuk suatu kadar air yang ditetapkan. Akan tetapi, secara
praktis tingkat pemadatan ini tidak dapat dicapai. Nilai kerapatan kering maksimum
yang mungkin terjadi, yang disebut sebagai kerapatan kering dengan 'ruang pori tanpa
udara' atau kerapatan kering jenuh, dapat dihitung dari persamaan berikut:

Pd = l

G,

+ wG,

Pw

( 1 .25)

Mekanika Tanah

26

Kadar air

Gambar

1.11.

Hubungan kerapatan kering-kadar air

Umumnya, kerapatan kering se sudah pemadatan pada kadar air w dan kandungan udara
A dapat dihitung dari persamaan berikut, yang diturunkan dari Persamaan 1 . 1 5 dan 1 .20:
G.(1 - A)

=
P4 1 + wG. Pw
'

( 1 .26)

Hasil perhitungan yang menghubungkan kerapatan kering dengan ruang pori tanpa udara
dan kadar air (untuk G9 = 2 ,65) ditunjukkan pada Gambar 1 . 12; kurva tersebut dikatakan
sebagai garis dengan ruang pori tanpa udara atau garis kejenuhan. Dari hasil-hasil per
cobaan kurva kerapatan kering/kadar air untuk suatu usaha pemadatan tertentu harus
terletak di sebelah kiri garis ruang pori tanpa udara. Kurva-kurva yang menunjukkan
hubungan antara kerapatan kering dengan kadar air pada kandungan udara 5% dan 1 0%
juga dapat dilihat pada Gambar 1 . 12, di mana nilai kerapatan kering merupakan hasil
perhitungan dengan memakai Persamaan 1 .26. Kurva-kurva ini dapat digunakan untuk
mengetahui besamya kandungan udara pada kurva percobaan kerapatan kering/kadar
air secara langsung dengan pengamatan.
Untuk tanah-tanah tertentu, akan diperoleh kurva kerapatan kering/kadar air yang
berbeda pada usaha pemadatan yang berbeda. Kurva-kurva yang menggambarkan hasil
hasil dari pengujian yang menggunakan penumbuk 2,5 kg dan 4,5 kg ditunjukkan pada
Gambar 1 . 12. Kurva untuk pengujian dengan penumbuk 4,5 kg berada di atas dan di
sebelah kiri kurva pengujian dengan penumbuk 2,5 kg. Dengan demikian, usaha pemadatan
yang lebih tinggi akan menghasilkan nilai kerapatan kering maksimum yang lebih tinggi
dan nilai kadar air optimum yang lebih rendah: akan tetapi, nilai-nilai kandungan udara
pada keadaan kerapatan kering maksimum dianggap sama.
Kurva-kurva kerapatan kering/kadar air untuk satu rentang jenis tanah dengan usaha
pemadatan yang sama (BS penumbuk 2,5 kg) dapat dilihat pada Garnbar 1 . 1 3. Umumnya,
tanah berbutir kasar dapat dipadatkan dengan hasil kerapatan kering yang lebih tinggi
bila dibandingkan dengan tanah berbutir halus.
Berikut ini adalah alat-alat pemadat yang biasa digunakan di lapangan.

27

Karakteristik Dasar Tanah

2,3

1 0%

5%

0%

ndungan udara

2,2

Garis kejenuhan

2,1

"'
::iE

Penumbuk 4,5 kg

2,0

Penumbuk 2,5 kg

1 ,8
1 ,7

10

12

Kadar air (%)

Gambar 1.12.

14

16

18

20

Kurva kerapatan kering-kadar air untuk usaha pemadatan yang berbeda.

' Mesin gilas roda-halus

(smooth-Wheeled Roller). Alat ini terdiri dari tabung baja, massa


alat ini dapat ditambah dengan mengisi tabung dengan air atau pasir. Alat ini cocok untuk
kebanyakan jenis tanah kecuali pasir-seragam dan pasir kelanauan, dan tidak perlu di
lakukan pengadukan atau peremasan tanah. Permukaan lapisan yang dihasilkan cukup
halus, memungkinkan airhujan melimpas dengan mudah, tetapi akibat sampingannya
adalah lemahnya lekatan antarlapisan yang berurutan : urugan yang terjadi cenderung
terpilah-pilah. Mesin gilas roda-halus, dan jenis-jenis penggilas lainnya, dapat ditarik oleh
alat lain atau mempunyai me sin sendiri.

Mesin gilas banpompa

(Pneumatic-tyred Roller). Alat ini cocok untuk tanah-tanah ber


butir kasar dan halus tetapi tidak bergradasi seragam. Roda-roda ini dipasang saling ber
dekatan pada dua poros, roda-roda depan dan belakang diatur saling menutup lintasannya
sehingga memungkinkan tanah digilas dengan rata. Ban-ban tersebut relatif lebar dengan
jejak yang datar sehingga tanah tidak berpindah secara lateral. Mesin gilas jenis ini juga
dapat dilengkapi dengan poros khusus yang memungkinkan roda-rodanya bergoyang,
sehingga melindunginya dari lekatan tanah. Alat ini memberikan aksi peremasan pada
tanah. Permukaan yang dihasilkannya relatif halus, akibatnya tingkat lekatan antarlapisan

Mekanika Tanah

2,2
Kandungan udara
1 0% 5 %

0%

..

2, 1

2,0

M"
E
--

1 ,9

"'

1 ,8

"'
...
"'

1 ,7

"'

.X
c:

Q.

"'

lo

1 ,6

1 ,5
I

o-
1 .4 o---s
=-----='
,-=o----.,.
, L::s ----:
2"'::o----=
2L
s----::'=""
J
Kadar air (%)

Gambar

1.13.

Kurva kerapatan kering-kadar air untuk suatu rentangjenis tanah.

menjadi rendah. Jika diperlukan lekatan yang baik, permukaan yimg dipadatkan harus
digores terlebih dahulu sebelum dilapisi lagi. Peningkatan usaha pemadatan dilakukan
dengan menambah tekanan angin pad'a ban atau, yang kurang efektif, dengan nienambah
kan beban tambahan pada b adan mesin gilas.

Mesin gilas kald-kambing (sheepsfoot

'

Roller). Mesin gilas jenis ini terdiri dari tabung baja


dengan sejumlah kaki-kaki berbentuk tongkat menonjol dari permukaan tabung tersebut.
Massa tabung dapat dinaikkan dengan pengisian beban di dalamnya. Susunan kaki-kaki
sangat beragam, tetapi biasanya panjangnya antara 200-250 mm dengan luas jejak 4065 cm2 Kaki-kaki ini memberikan tekanan yang relatif tinggi pada luasan yang kecil.
Mula-mula, jika lapisan bersifat lepas, tabung bersentuhan langsung dengan permukaan
tanah. Kemudian, sedikit demi sedikit, jika tonjolan kaki mencengkeram tanah dan tanah
menjadi cukup padat untuk menahan tekanan sentuh yang tinggi, tabung dapat diputar
lagi untuk menggilas tanah berikutnya. Mesin gilas kaki-kambing kebanyakan cocok untuk
tanah-tanah berbutir halus baik plaStis maupun non-plastis, khususnya pada kadar air
kering optimum. Mesin ini juga cocok untuk tanah-tanah berbutir kasar dengan partikel

Karakteristik Dasar Tanah

29

halus lebih dari 20%. Aksi kaki-kaki tersebut menyebabkan pencampuran tanah, sehingga
memperbaiki derajat homogenitas, dan akan menghaluskan berangkal material-material
kaku. Akibat penetrasi kaki-kakinya, pat dihasilkan lekatan yang baik antarlapisan
yang berturutan, satu kebutuhan penting untuk menahan air pada pekerjaan tanah. Mesin
gilas-pengisi (tamping roller) sama dengan mesin gilas kaki-kambing tetapi jejak luar kaki
nya lebih besar, biasanya lebih dari 100 cm2 , dan luas total kaki-kakinya lebih besar 1 5%
dari luas permukaan tabungnya.

Mesin gilas kisi-kisi (grid roller). Mesin gilas ini memiliki satu permukaan yang terdiri
dari suatu jaring baja yang membentuk kisi-kisi dengan lubang-lubang berbentuk persegi.
Pada badan mesin gilas dapat ditambahkan beban tambahan. Alat ini menghasilkan tekanan
sentuh yang tinggi tetapi aksi peremasan yang ditimbulkannya kecil dan cocok untuk
tanah berbutir kasar.

Mesin gilas getar (vibratory roller). Ini adalah mesin gilas roda halus yang dipasangi meka
nisme getar yang dapat diatur. Mesin-mesin ini digunakan untuk sebagian besarjenis tanah
dan lebih efisien bila kadar air tanah mendekati basah optimum. Mesin ini sangat efektif
untuk tanah berbutir kasar dengan sedikit atau tanpa butiran halus. Massa mesin gilas
dan frekuensi getaran harus sesuai dengan jenis tanah dan tebal lapisan. Makin rendah
kecepatan mesin gilas, makin sedikit jumlah lintasan yang diperlukan.

Pelat getar (vibrating plate). Alat ini, yang cocok untuk sebagian besar jenis tanah, terdiri
dari sebuah pelat baja dengan sisi-sisi yang dapat diputar ke atas, atau pelat lengkung
yang dipasangi alat penggetar. Unit ini, dengan pengarahan manual, berputar dengan sendi
rinya secara perlahan-lahan seluas tanah yang dipadatkannya.

A/at penumbuk (power rammer). Alat manual ini, umumnya berbahan bakar bensin,
,

digunakan untuk pemadatan luasan yang kecil di mana alat-alat yang lebih besar tidak
mungkin digunakan. Mesin ini juga digunakan untuk pemadatan urugan dalam parit.
Alat ini tidak efektif untuk dioperasikan pada tanah bergradasi tidak seragam.
Jumlah lintasan minimum harus ditentukan dengan memilih alat pemadat yang di
paR:ai untuk menghasilkan kerapatan kering yang diinginkan. Jumlah lintasan, yang ter
gantung pada jenis dan massa alat dan tebal lapisan tanah, biasanya dalam rentang 3 sampai
1 2 lintasan. Lebih dari jumlah lintasan tertentu, tidak akan didapatkan kenaikan kerapat
an kering yang cukup berarti. Umumnya makin tebal lapisan tanah makin berat alat yang
diperlukan untuk menghasilkan tingkat kepadatan yang memadai.
Uji pemadatan di laboratorium tidak dapat diterapkan secara langsung pada pemadat
an di lapangan. Hal ini disebabkan karena peralatan yang digunakan di laboratorium
sangat berbeda dengan peralatan lapangan. Lebih dari itu, ujUaboratorium hanya men
cakup material yang berukuran lebih kecil dari 20 mm atau 37,5 mm. Hasil-hasil uji labo
ratorium hanyalah merupakan petunjuk kasar tentang kadar air, sedangkan kerapatan
kering maksimum akan diperoleh di lapangan. Kegunaan utama uji laboratorium ialah
untuk menempatkan tanah dalam klasifikasinya dan juga menentukan jenis tanah yang
tepat untuk bahan pekerjaan tanah.
Standar yang dibutuhkan untuk pemadatan di lapangan dapat dinyatakan dalam .
persentase kerapatan kering maksimum yang diperoleh dari salah satu uji standar labo
ratorium. Sebagai contoh, dapat dinyatakan dalam spesifikasi bahwa kerapatan kering
harus lebih besar atau sama dengan 95% dari kerapatan kering maksimum dalam uj1BS
Proctor (dengan penumbuk 2,5 kg). Sebagai tambahan, batas kadar air harus ditetapkan,

J!!!'""

30

Mekanika Tanah

sehingga pemadatan baru boleh dilakukan bila kadar air tanah alamiah berada dalam
batas-batas tersebut. Sedikit variasi dalam distribusi ukuran partikel dapat cukup mem
pengaruhi nilai kerapatan kering maksireum dan kadar air optimum. Spesifikasi yang
dinyatakan dengan persentase kerapatan kering maksimum dalam uji standar lebih di
sukai daripada yang dinyatakan dalam nilai kerapatan kering yang sesungguhnya, karena
lebih meyakinkan bahwa nilai yang dipakai di lapangan merupakan penerapan dari uji
laboratorium. Metode lain untuk mengontrol pemadatan di lapangan adalah dengan me
nentukan kandungan udara maksimum yang sesuai dengan kadar air maksimum. Batas
kadar air untuk tanah berbutir halus biasanya dinyatakan sebagai persentase tertentu
di atas atau di bawah batas plastis, dan untuk tanah berbutir kasar dinyatakan sebagai
persentase tertentu di atas atau di bawah kadar air optimum yang ditentukan dalam uji
standar laboratorium.
Uji kerapatan di lapangan dapat dilaksanakan, bila dipandang perlu , untuk memeriksa
standar pemadatan pada pekerjaan tanah, kerapatan kering, atau kandungan udara yang
dihitung dari pengukuran kerapatan butiran dan kadar air. Beberapa metode pengukuran
kerapatan butiran di lapangan dirinci dalam BS 1 377.
Untuk sebagian besar proyek, dilakukan pernadatan lapangan secara coba-coba untuk
menentukan jenis peralatan pemadat yang paling cocok, jumlah lintasan yang diperlukan,
dan tebal lapisan optimum. Tingkat kepadatan yang diperlukan harus diperoleh dengan
menerapkan prosedur yang paling ekonomis. Di lnggris, untuk ketja berbagai jenis per
alatan pemadat untuk jenis-jenis tanah yang berlainan telah diteliti oleh Transport and
_ Road Research Laboratory [ 1 .9; 1 . 10] .

Soal-soal

1':1_. Hasil analisis ukuran butiran dan uji batas terhadap empat contoh tanah diberikan
pada Tabel 1 .9. .Klasiftkasikan setiap tanah tersebut menurut standar sistem "British"
dan "Unified".

Tabel l .9

>:
9.f

. $ : .I

3Z

... . 1
3.
0,020 mm
0,006mm.
0,002 mm

Batas cair

Batas plastis

Tid;d<. p]3stis

32

24

7 8.

. 31

31

Karakteristik Dasar Tanah

1.2.

Suatu tanah mempunyai kerapatan butiran (bulk density) 1,91 Mg/m3 dan kadar
air 9,5%. Nilai

Gs

2,70. Hitunglah angka pori dan tingkat kejenuhan tanah ter

sebut. Berapakah nilai kerapatllll butiran dan kadar air jika tanah tersebut dalam

keadaan jenuh sempuma pad a keadaan angka pori yang sama.


1.3.

1.4.

Hitunglah berat isi kering, berat isi jenuh, dan berat isi efektif terendam air pada
tanah y ang mempunyai angka pori 0 ,70 dan nilai

isi dan kadar air pada tingkat kejenuhan 75%.

Gs

2,72. Hitunglah pula berat

Suatu contoh tanah dengan diameter 38 mm dan panjang 76 mm, pada kondisi

awal memiliki berat 168 gram. Setelah dikeringkan dengan oven, beratnya men

jadi 130,5 gram. Nilai Gs adalah 2,73. Berapakah tingkat kejenuhan contoh tanah
1.5.

tersebut?

Tanah

setelah

dipadatkan

2,15 Mg/m3 dan kadar air

pada suatu tanggul,


=

mempunyai kerapatan butiran

12%. Nilai Gs adalah 2,65. Hitunglah berat isi kering,

angka pori, tingkat kejenuhan dan kandungan udaranya. Apakah mungkin me

madatkan tanah tersebut di atas pada kadar air 13,5% dengan berat isi kering

1.6.

2,00Mg/m3?

Hasil pemadatan standar pada suatu tanah adalah sebagai berikut:


Massa (g)

Kadar air(%)

2010

2092

12, 8

14,5

2114
15,6

2100

2055

16, 8

19,2

Nilai Gs :::: 2,67. Gambarkan kurva kerapatan butiran kering kadar air, kemudian
tentukan kadar air optimum dan kerapatan kering maksimum. Gambarkan juga

kurva dengan kandungan udara 0%, 5%, 10% dan tentukan nilai kandungan udara
pada kerapatan kering maksimum.

Referensi

1.1

American Society for Testing and Materials:

1.2

British Standard 1377 (1975):

Annual Book of ASTM

Standards, Part 19.

1.3

Methods of Test for Soils for Civil


Engineering Purposes, British Standards Institution, London.
British Standard 5930 (1981): Code of Practice for Site Investigations,

1.4

British Standard 6031 (1981):

British Standards Institution, London.

Code of Practice for Earthworks, British

Standards Institution, London.


1.5

Collins, K. dan McGown, A. (1974): 'The Form and Function of


Microfabric Features in a Variety of Natural Soils',

2
1.6
r>

1.7
1.8

Department of Transport (1976): 'Earthworks' in

Specification for
Road and Bridge Works, HMSO, London.
Grim, R. E. (1953 ): Clay Mineralogy, McGraw-Hill, New York.
Kolbuszewski, J. J. (1948): 'An Experimental Study of the Maximum

Proceedings 2nd International


Conference SMFE, Rotterdam, Vol. 1.
Lewis, W. A. (1954): Further Studies i n the Compaction of Soil and the
Performance of Compaction Plant, Road Research Technical Paper
and Minimum Porosities of Sands',

1.9

Geotechpique,
.

No. 33, HMSO, London.

Mekanika Tanah

32

1.10 Lewis, W. A (1960): 'Full Scale Compaction Studies at the British

Road Research Laboratory', US Highway Research Board Bulletin,

No. 254.

1.11 Rowe, P. W. (1972): 'The Relevance of Soil Fabric to-Bite Investiga


tion Practice', Geotechnique, Vol. 22, No. 2.

1.12 Wagner, A. A. (1957): 'The Use of the Unified Soil Classification


System by the Bureau of Reclamation', Proceedings 4th International
Conference SMFE, London, Vol. 1, Butterworths.

BAB 2

Rembesan

2.1. Air Tanah

Semua jenis tanah bersifat lulus air (permeable), di mana air bebas mengalir melalui ruang
ruang kosong (pori-pori) yang terdapat di antara butiran-butiran tanah. Tekanan pori
diukur relatif terhadap tekanan atmosfir, dan permukaan lapisan tanah yang tekanannya
sama dengan tekanan atmosfir dinamakan muka air tanah atau permukaan freatik. Di
bawah muka air tanah, tanah diasumsikan jenuh, walaupun sebenarnya tidak demikian
karena adanya rongga-rongga udara. Dengan demikian tingkat kejenuhan tanah biasanya
di bawah 100%. Tinggi muka air tanah berubah-ubah sesuai dengan keadaan iklim, tetapi
dapatjuga berubah karena pengaruh dari adanya kegiatan konstruksi. Di tempat itu dapat
terjadi muka air tanah dangkal (perched water table), di atas muka air tanah biasa. Sedang
kan kondisi dapat terjadi hila tanah dengan permeabilitas tinggi dipermukaan atasnya
dibatasi oleh lapisan rapat air. Tekanan pada lapisan artesis tidak ditentukan berdasarkan
tinggi muka air tanah setempat, tetapi berdasarkan tinggi muka air tanah pada suatu
tempat lain yang lapisan atasnya tidak dibatasi oleh lapisan rapat air.
Di bawah muka air tanah, air pori dapat berada dalam keadaan statis, dengan tekanan
hidrostatik tergantung pada kedalamannya, atau dapat juga merembes ke lapisan-lapisan
.tanah karena adanya gradien hidrolik. Bab ini membahas tentang kasus kedua. Teori
Bernoulli berlaku untuk air pori, tetapi karena kecepatan rembesan (seepage velocity)
pada tanah biasanya sangat kecil, maka tinggi kecepatan (velocity head) dapat diabaikan.
Sehingga:

h=-+z

(2.1)

Yw

di mana h tinggi energi total, u tekanan air pori, '>'w berat isi air (9.8 kN/m3), dan
:;:levasi dari datum.
Di atas muka air tanah, air mendapat tekanan negatif akibat adanya gaya kapiler;
makin kecil ukuran pori, makin besar kemampuan air untuk naik melebihi muka air tanah.
Besarnya e fek kapilaritas tidak beraturan pada setiap bagian tanah, karena ukuran pori
pori yang dilewatinya bersifat acak pula. Pada bagian terbawah dari zona kapiler, kondisi
tanah hampir jenuh, tetapi secara umum tingkat kejenuhannya akan turun hila posisi
yang ditinjau makin tinggi. Ketika air menelus (percolate) dari permukaan tanah ke muka
air tanah, air mengalarni tegangan permukaan pada titik-titik singgung antar partikel.
=

.....-

Mekanika Tanah

34

Tekanan negatif air yang berada di atas muka air tanah menimbulkan gaya-gaya tarik
antar partikel. Gaya tarik-menarik ini diseoot pengisapan tanah (soil suction) yang me
rupakan fungsi dari ukuran pori-pori dan kadar air.

2.2. Penneabilitas
Untuk aliran air satu dimensi pada lapisan tanah jenuh sempuma, digunakan rumus empiris
Darcy :
q =

(2.2)

Aki

atau,
V =

!l_
A

ki

di mana q = volume aliran air per satuan waktu, A = luas penampang tanah yang dilewati
air, k = koefisien permeabilitas, i = gradien hidrolik, dan v = kecepatan aliran (discharge
velocity). Satuan koefisien permeabilitas sama dengan satuan kecepatan, yaitu m/detik.
Koefisien permeabilitas terutama tergantung pada ukuran rata-rata pori yang di
pengaruhi oleh distribusi ukuran partikel, bentuk partikel, dan struktur tanah. Secara
garis besar, makin kecil ukuran partikel, makin kecil pula ukuran pori dan makin rendah
'koefisien permeabilitasnya. Berarti suatu lapisan tanah berbutir-kasar yang mengandung
butiran-butiran halus memiliki harga k yang lebih rendah daripada tanah ini, koefisien
permeabilitas merupakan fungsi dari angka pori. Kalau tanahnya berlapis-lapis, permea
bilitas untuk aliran sejajar lapisan lebih besar daripada permeabilitas untuk aliran tegak
lurus lapisan. Permeabilitas lempung yang bercelah (fissured) lebih besar daripada lempung
yang tidak bercelah (unfissured).
Koefisien permeabilitas juga bervariasi tergantung pada suhu (viskositas air juga ter
gantung pada suhu). Kalau harga k diambil 1 00% pada 20C, maka nilainya pada 1 0C
,
dan 0C berturut-turut adalah 77% dan 5 6%. Koefisien permeabilitas dapat juga dinyatakan dengan rumus:

Yw K
'1

di mana 'Yw adalah berat isi air, 'T1 adalah viskositas air, dan K (satuannya m2 ) adalah
koefisien absolut yang tergantung hanya pada karakteristik kerangka partikel tanah.
Nilai k untuk berbagai tipe tanah berada pada rentang tertentu, seperti pada Tabel
2. 1 . Nilai k dapat mencapai tak terhingga, contohnya nilai k untuk kerikil dapat mencapai
10 kali nilai k untuk lempung tak-bercelah.

1 0 - 2 D0 (m/det )

di man.a D 10 adalah ukuran efektif dalam mm .

(2.3)

Pada skala mikroskopik, air merembes ke dalam tanah mengikuti suatu alur yang
berliku-liku di antara partikel-partikel tanah , tetapi secara makroskopis, alur tersebut
(untuk satu dimensi) dapat dianggap sebagai garis lurus. Be sarnya kecepatan rata-rata
aliran air ke pori-pori tanah dapat dihitung dengan membagi volume aliran air per satuan
waktu dengan luas rata-rata pori-pori (Av) pada potongan melintang normal terhadap
arah aliran air. Kecepatan ini disebut kecepatan rembesan (seepage velocity; v' ). Dengan
demikian:

Rembesan

35

Tabel 2.1
l

10- 1

Koeflsien Penneabllitas (m/s) (BS 8004:

10 - 2

Kerikil
bersih

10-3
I

10-4

Pasir bersih dan


carnpuran
pasir-kerikil

10- s
I

10-6
I

10 - 7 _ 10 - s

Pasir sangat halus,


lanau dan
lernpung-lanau
berlapis-lapis

1986)
10-9
I

10- 1 o
I

l..ernpung tak bercelah dan


lernpung-lanau
( > 20% lernpung)

l..ernpung yang rnengalarni


pengawetan dan bercelah

1
-::
v =-

q
AV

"-

}w[ f:
L '1-cr;

Porositas tanah dirurnuskan sebagai berikut:


n=

V,

Tetapi, rata-rata porositas dapat juga dinyatakan sebagai:


n =

Av

Sehingga:
I

V =

q
nA

V
=-

atau
ki
n

I
v =

(2.4)

l?.enentuan Koefisien Permeabilitas


Metode .Laboratorium. Koefisien perrneabilitas untuk tanah berbutir-kasar dapat ditentu
kan dari uji tinggi konstan (constant head test, Garnbar 2 . l a). Contoh tanah pada ke

lernbaban yang layak diternpatkan pada sebuah silinder ternbus pandang (perspex), dengan
luas penarnpang A. Contoh tanah tersebut beralaskan sebuah filter kasar atau sebuah
saringan kawat. Pada saat pengujian , air rnengalir konstan dalarn arah vertikal dengan
tinggi energi total yang konstan pula. Kernudian volume pengaliran air per satuan waktu
(q) dihitung. Di sisi silinder terdapat kran-kran, yang digunakan dalarn penentuan gradien
hidrolik (h/l). Kernudian dari hukurn Darcy didapat:
k

!!!_
Ah

Pen.gujian ini hams dilakukan beberapa kali, rnasing-rnasing dengan laju aliran yang ber
beda-beda. Sebelurn pengujian dilakukan, contoh tanah divakurnkan dulu untuk rnendapat
kan tingkat kejenuhan yang rnendekati 100%. Kalau tingkat kejenuhan yang tinggi harus
dipertahankan, air yang digunakan dalarn pengujian hams tanpa udara (de-aired water).


'

Mekanika Tanah

36

Untuk tanah berbutir-halus digunaka'n uji tinggi jatuh (falling-llead test, Gambar
2. l b). Dalam hal ini digunakan contoh tanah tidak terganggu (undisturbed) dan silinder
yang digunakan dalam pengujian adalah tabung penyirnpan contoh tanah terse but. Panjang
contoh tanah dalarn uji coba ini adalah I dan luas potongan melintangnya A. Sebuah
filter kasar ditempatkan di kedua ujung contoh tanah tersebut dan bagian atas silinder
disambungkan dengan sebuah pipa tegak yang memiliki luas penampang a. Pada saat
percobaan, air mengalir yang ke luar ditampung pada sebuah reservoir dengan tinggi air
yang diusahakan konst;m. Pipa tegak diisi penuh dengan air dan dalam kurun waktu ter
tentu (t 1 ) dilakukan pengukuran terhadap tinggi muka air pipa relatif terhadap tinggi
muka air pada reservoir. Dalam kurun waktu tersebut , tinggi muka air pipa turun dari
h0 menjadi h 1 . Pada suatu waktu antara t, tinggi muka/air pada pipa adalah h dan laju
perubahannya -dh/dt. Pada saat itu perbedaan tinggi energi total adalah h . Sehingga
berdasarkan rumus Darcy :
dh

- a- =

dt

h
Ak-

_!!}_ In ho
At1

h1

h
2 , 3 _!!}_ log o
At 1
h1

Pada pengujian ini tanah harus dijaga tingkat kejenuhannya mendekati 100%. Pengujian
ini harus dilakukan beberapa kali, dengan harga h0 dan h 1 yang berbeda dan/atau dengan
diameter pipa tegak yang berbeda.
Koefisien permeabilitas tanah berbutir-halus dapat juga ditentukan secara tidak lang
sung berdasarkan hasil uji konsolidasi Qihat Bab 7).

Ketepatan hasil pengujian laboratorium untuk penentuan


koefisien permeabilitas suatu contoh tanah tergantung dari sejauh mana contoh tanah
tersebut mendekati keadaan tanah sesungguhnya. Untuk suatu proyek penting , perhitung
an koefisin permeabilitas dianjurkan menggunakan metode pengujian di lapangan.
Salah satu metode pengujian di lapangan adalah uji pemompaan sumur (well pumping
test), yang sangat cocok untuk lapisan tanah homogen berbutir kasar. Pada metode ini
dilakukan pemompaan air secara teru!>-menerus pada sebuah sumur yang menembus sampai
ke dasar lapisan tanah (tanah keras). Pada daerah yang berdekatan dengan sumur tersebut
dilakukan pengamatan terhadap tinggi muka air, dengan menggali beberapa lubang bor.
Pemompaan ini dilakukan terus sampai tercapai kondisi rembesan yang stedi (steady
seepage). Rembesan teijadi pada sumur-sumur dan lubang-lubang secara radial. Untuk
menentukan suatu jalur radial dari pusat sumur diperlukan paling sedikit dua lubang,
seperti pada Gambar 2.2. Terlihat adanya surutan (drawdown) muka air akibat adanya
pemompaan. Pada saat keadaan stedi, tinggi muka air pada lubang-lubang tersebut sesuai
dengan tinggi muka air tanah yang baru. Lubang-lubang tersebut berada pada jarak r1
dan r2 dari sumur dan tinggi muka air tanah berturut-turut adalah h 1 dan h2 relatif ter
hadap dasar lapisan tanah.
Analisisnya didasarkan atas asumsi bahwa gradien hidrolik pada suatu jarak r dari
sumur adalah konstan pada setiap kedalaman, dan besarnya sama dengan kemiringan
muka air tanah, yaitu:

Metode Pengujian di Lapangan.

Rembesan

37

Pipa tegak
Permukaan konstan

Luas a

ho

l
I

Luas A

_l

::::=-

h,

Luas A

Permukaan konstan

R ese rvoi r
(b)

(a)

Gambar 2.1. Uji permeabilitas laboratorium: (a) tinggi konstan, (b) tinggi jatuh.

Lubang bor
observasi

/
---

- ._

Sumur
._

- ._

._

.... ....

r.;= "

//

.- .-

---

'(

----

r2

-- -

I
I
I

""
""

- - - - - - M.A.T.

-T

h2

------
Gambar 2.2. Uji pemompaan sumur (well pumping test).

Mekanika Tanah

38

dh
dr

i =
r

di mana h adalah tinggi niuka air tanah pada radius r. Asumsi ini dikenal dengan nama
Asumsi Dupuit dan hasilnya akurat untuk daerah yang berdekatan dengan sumur. Pada
jarak r dari sumur, luas daerah di mana terjadi pengaliran air adalah sebesar 2rrrh , maka
dengan menggunakan hukum Darcy didapat :

dh
dr

q = 2nrhk

q In

k=

G:)

= nk (hi - hi)

2,3q log (r2/rd

n(hi - hi)

Persamaan ini digunakan untuk sepasang lubang dan nilai k yang dihasilkan adalah nilai
k rata-rata.
Metode pengujian di lapangan lainnya adalah uji lubang bor (borehole test), yang
meliputi pengujian dengan tinggi energi konstan (constant head) dan pengujian dengan
tinggi energi berubah-ubah (variable head). Pada uji pertama, air melewati contoh lapisan
tanah menuju ke dasar lubang bor dengan tinggi energi yang konstan. Pada lubang dinding
tersebut dipasang selubung pipa (casing). Keadaan di atas ditunjukkan pada Gambar
2.3a, di mana batas akhir dasar lubang tidak boleh kurang dari Sd dari puncak lapisan
maupun dari dasar lapisan, di mana d adalah diameter dalam dari selubung pipa. Tinggi
muka air pada lubang bor dipertahankan konstan dengan pemompaan sebesar q . Per
bedaan tinggi muka air pada lubang ini dengan tinggi muka air tanah adalah h. Uengan
menggunakan persamaan di bawah ini, yang diturunkan berdasarkan percobaan-percoba
an yang analog dengan sifat-sifat listrik, maka koefisien permeabilitas contoh tanah dapat
ditentukan sebagai berikut:

k=
'

q
2 ,75 dh

Pada pengujian ini harus dipastikan tidak ada penyumbatan pada dasar lubang bor akibat
pengendapan. Kalau ada, berarti harus dilakukan pemompaan di bawah sua tu tekanan.
Pada pengujian dengan tinggi energi berubah-ubah, kapasita:s aliran ke lubang di
hitung sebagai fungsi waktu (t). Tinggi muka air pada lubang bor relatif terhadap muka
air tanah berubah dari h 1 ke h2 Hvorslev [2.4) mengemukakan suatu rumus untuk meng
hitung koefisien permeabilitas pada beberapa keadaan lubang bor. Dua contoh diberikan
di bawah ini: contoh pertama menggunakan sebuah lubang berselubung pipa dengan
diameter dalam d, menembus hingga kedalaman D di bawah muka air tanah (tidak me
lebihi I ,5 m) di dalam suatu lapisan tanah yang diasumsikan merniliki kedalaman yang
tidak terbatas, seperti diperlihatkan dalam Gambar 2.3b. Koefisien permeabilitasnya
adalah:

39

Rembesan

I-

I
.-...I
I

___J

-o

_j_
-

C> :=.,
Ill c
"
a. .,
., > "'0
...J

c
.,

\J

Mekanika Tanah

40

Contoh kedua menggunakan sebuah lubang dengan panjang selubung dan pertambahan
panjang selubung yang berlubang-lubang sebe sar L (di mana L > 4d) di dalam suatu lapisan
tanah dengan kedalaman yang diasumsikan tak terbatas seperti yang diperlihatkan dalam
Gambar 2.3c. Koefisien permeabilitasnya adalah:

d 2 ( d ) (h1)
h2

2L
k = - In - In -

8Lt

Koefisien permeabilitas tanah berbutir-kasar juga dapat ditentukan dari pengukuran

kecepatan rembesan pada metode pengujian di Iapangan dengan menggunakan Persamaan

(h

2.4. Metode ini menggunakan dua lubang yang tak berselubung (atau sumur percobaan),
pada dua titik A dan B (Gambar 2 .3d). Rembesan terjadi dari A ke B dan besarnya gradien
hidrolik
/l) didapatkan dari selisih tinggi muka air pada pipa dibagi jarak AB. Pada
pengujian ini, ke dalam lubang A dimasukkan sejenis bahan celup, kemudian dicatat
waktunya (t) sampai bahan itu muncul di lubang B. Setelah itu dapat dihitung besarnya
kecepatan rembesan, yaitu jarak AB dibagi dengan waktu t tersebut. Porositas (n) tanah
dapat ditentukan dari uji kerapatan, sehingga akan didapat :

v'n
k=
i

2.3 . Teori Rembesan


Pada bagian ini dibahas tentang rembesan dalam dua dimensi. Pertama-tama tanah di
asumsikan homogen dan isotropis dengan koefisien permeabilitas k. Pada bidang x-z,
hukum Darcy dapat ditulls sebagai berikut :

a
vx. = kix = - k aX

(2.5a)

ah
az

(2.5b)

Vz = kiz = - k

(tinggi energi total berkurang dalam arah vx dan Vz)


Sebuah elemen tanah jenuh air yang memiliki dimensi dx, dy; dan dz pada bidang
x, y dan z, dengan aliran air hanya pada bidang x dan z diperlihatkan dalam Gambar
2. 4. Komponen-komponen kecepatan aliran yang memasuki elemen tersebut adalah vx
dan vz dan .laju perubahan kecepatan aliran tersebut dalam arah x dan z berturut-turut
adalah avxtax dan avxtaz. Sedangkan volume air yang memasuki elemen per satuan waktu
adalah:

vx dy dz + Vz dx dy
dan volume air yang meninggalkan elemen per satuan waktu adalah :

avx
avz
Vx + dx dy d z + Vz + 8"; dz dx dy

Pada saat air memasuki dan meninggalkan elemen, volume elemen tidak berubah dan
kalau air diasumsikan tak dapat tertekan (incompressible), maka selisih volume air yang

1
!

Rembesan

41
z

f-- d x - ----j
'

dz

v,

Gambar 2.4.

l
Rembesan melalui suatu elemen tanah.

masuk ke elemen per satuan waktu dengan volume air yang meninggalkan elemen per
satuan waktu adalah nol. Sehingga :

O Vx OVz
=O
+
ox
oz

(2.6)

Persamaan 2. 6 adalah persamaan kontinuitas untuk rembesan dua-dimensi. Tetapi kalau


volume elemen ternyata berubah, persamaan kontinuitas tersebut menjadi :

ovx ovz
dV
+ --a; dx dy dz = dt
ox

(2.7)

di mana d Vjd t adalah perubahan volume per satuan waktu.


Sekarang tinjaulah suatu fungsi 1> (x, z), yang dinamakan fungsi potensiol, di mana:

o c/J
= vX =
OX
o c/J
=v =
oz
z

oh
OX

(2.8a)

oh
oz

(2.8b)

Dari Persamaan 2.6 dan 2.8 didapat:

o 2 cp o 2 4J
=
+
ox2
oz2 0

(2.9)

sehingga fungsi f/>(x, z) inemenuhi persamaan Laplace.


Dengan mengintegrasi Persamaan 2.8 didapat:

c/J (x,z) = - k h(x,z) + C


di mana C adalah konstanta. Jadi jika fungsi f/>(x, z) menghasilkan nilai yang konstan,
misalnya f/> 1 , maim akan didapat suatu kurva dengan nilai tinggi energi total (h 1 ) yang
konstan pula. Jika fungsi fj>(x, z) merupakan serangkaian nilai f/> 1 , f/>2 , f/>3 , dan seterusnya
yang konstan, maka akan didapat kumpulan kurva-kurva yang masing-masing menghasilkan
tinggi energi total yang konstan (tetapi setiap kurva memiliki nilai yang berbeda-beda).

Mekanika Tanah

42

Kumpulan kurva-kurva ini disebut garis eldpotensial.


Fungsi kedua 1/J(x, z), yang disebut fungsi aliran, juga diperkenalkan, di mana :

iN
=v =
ox

- -

o t/f
= vX =
oz

oh
oz

(2. 1 0a)

oh
OX

(2. 1 0b)

Dapat dilihat bahwa fungsi inijuga memenuhi persamaan Laplace.


Diferensiasi total dari fungsi 1/J(x, z) ini adalah :

ot/1
ot/1
d t/1 = - dx + - dz
ox
oz
=

Vz

dx +

Vx

dz

Jika fungsi 1/J(x, z) ini menghasilkan suatu nilai yang konstan 1/J 1 , maka dt/J

dz

Vz

= 0 dan :
(2. 1 1)

Jadi besarnya tangen pada titik sembarang pada kurva adalah :

t/f(x,z) = t/1 1
yang menunjukkan arah resultan kecepatan aliran pada titik tersebut, sehingga kurva
tersebut merupakan alur aliran (flow path). Jika fungsi 1/J (x, z) menghasilkan sederetan
nilai 1/J 1 , t/1 , 1/J 3 , dan seterusnya yang konstan, maka akan diperoleh kumpulan kurva
2
kurva, di mana setiap kurva merupakan alur aliran. Kumpulan kurva-kurva ini disebut
garis aliran (flow lines).
Dari Gambar 2.5, besarnya aliran per satuan waktu antara dua garis aliran diberikan
pada persamaan di bawah ini, dengan nilai masing-masing fungsi aliran adalah 1/J 1 dan 1/1,2 :
11q =

1/1 2

Vz

I(:
"''

"''

dx + V x dz)

dX +

dz) .

Gambar 2 .5 . Rembesan antara dua garis aliran.

----==

-- -- -- - --- ---- - - - -

Rembesan

43

Jadi aliran pada alur antara kedua garis aliran tersebut adalah konstan.
Diferensiasi total dari fungsi cp(x, z) adalah :

ol/J
ol/J
dl/J = - dx + - dz
oz
ox
Jika furigsi cp(x, z) konstan, maka dl/J

dz
dx

= 0 dan:
(2 . 1 2)

Dengan membandingkan Persamaan 2. 1 1 dan Persamaan 2 . 1 2, jelaslah bahwa garis aliran


dan garis ekipotensial saling berpotongan tegak lurus.
Kini tinjaulah dua buah garis aliran 1/1 1 dan ( 1/1 1 + t:.. l/1 ) yang dipisahkan oleh jarak
An. Garis aliran tersebut berpotongan secara ortogonal dengan dua buah garis ekipotensial
cp1 dan (cp1 + t:..cp) yang dipisahkan oleh jarak &, seperti terlihat pada Gambar 2.6. Arah
s dan n berturut-turut membentuk sudut a dengan sumbu x dan sumbu z. Pada titik A
kecepatan aliran (dalam arah s) adalah vs, dengan komponen-komponen pada arah x
dan z sebesar:
v..,

v.

Vz = v.

cos
sin

a.

a.

Kini:

ol/J
as

ol/J ox
ox as

- -

ol/J oz
az as

- -

Garnbar 2.6.

Garis aliran dan garis ekipotensial.

r-

Mekanika Tanah

44

dan:
oi/J
on

oi/J ox
ox on

- -

oi/J oz
oz on

+-

= - v, sin oc ( - sin oc) + v, cos2 oc = v,


Sehingga:

atau :

An

(2 . 1 3)

As

2.4. Jaringan Aliran


Pada prinsipnya, sebagai solusi dari masalah rembesan, fungsi <P(x, z) dan 1/J(x, z) harus
dapat diselesaikan untuk kondisi-kondisi batas yang relevan. Solusi tersebut digambarkan
oleh sekumpulan garis aliran dan sekumpulan garis ekipotenstal, yang dikenal dengan
nama jaringan aliran (flow nets). Untuk menyelesaikannya digunakan teknik-teknik
variabel kompleks, metode selisih hingga, metode elemen hingga, analogi listrik, dan
penggunaan model hidrolik. Walaupun demikian, metode yang biasa digunakan adalah
penggambaran jaringan aliran dengan cara coba-coba (trial and error), dengan memper
hatikan kondisi-kondisi batasnya.
Kondisi dasar yang harus dipenuhi pada jaringan aliran adalah sudut yang terbentuk
pada setiap perpotongan antara garis aliran dan garis ekipotensial harus membentuk sudut
siku-siku. Selain itu dianjurkan untuk menggunakan AI/I yang sama besar untuk dua garis
aliran yang berdekatan dan A</> yang sama besar antara dua garis ektpotensial yang ber
dekatan. Dianjurkan pula untuk menggunakan As = An pada Persamaan 2 . 1 3 , yaitu garis
aliran dan garis ekipotensial membentuk bujursangkar pada seluruh jaringan aliran. Ke
mudian untuk setiap bujur sangkar berlaku :

A I/I = A</>

Sekarang, A t/1

t:.q dan A </> = kt:.h, maka :

Aq = kAh

(2. 1 4)

Sedangkan gradien hidrolik ditentukan sebesar :


1 =
.

Ah
As

(2. 1 5 )

D i mana untuk keseluruhan jaringan aliran: = perbedaan tinggi energi total antara garis
ekipotensial pertama dan terakhir, Nd = jurnlah penurunan ekipotensial, masing-masing
dengan kehilangan tinggi energi total t:.h y ang sama, dan N1 jurnlah alur aliran (flow chan
nels), masing-masing dengan kapasitas aliran t:.q yang sama. Maka,
(2. 1 6)

Rembesan

45

dan

q = Nf6. q

(2. 1 6)

Sehingga, dari Persamaan 2 . 1 4:

N
q = kh _[_
Nd

(2. 1 7)

Persamaan 2. 1 7 menyatakan volume total aliran air per saTuan waktu (per satuan dimensi
dalam arah y) dan merupakan fungsi dari perbandingan NJNd.

Contoh Soal Jaringan Aliran


Sebagai suatu gambaran mengenai jaringan aliran, akan disajikan suatu soal yang diurai
kan pacta Gambar 2. 7a. Gambar terse but menunjukkan suatu papan turap (sheet pile)
yang dipancangkan 6,00 m ke dalam suatu lapisan tanah setebal 8,60 m, yang lapisan dasar
nya kedap air. Pada satu sisi turap ketinggian airnya adalah 4,50 m. Sisi lainnya memiliki
tinggi air (dikurangi dengan memompa) sebesar 0,50 m.
Langkah pertama adalah menetapkan syarat batas daerah aliran tinggi energi total
di setiap titik pada batas AB adalah konstan, oleh sebab itu AB adalah garis ekipotensial;
dengan cara yang sama, CD juga suatu garis ekipotensial. Datum tinggi energi total dapat
ditentukan pacta setiap permukaan, tetapi pada soal rembesan lebih baik memili11 muka
air di hilir sebagai datum. Maka tinggi energi fotafpada ekipotertsial CD adalali no1 (tinggi
tel{anantf,SIT-m;{tmggi elevasi - 0,50 m) dan tinggi energi total pada ekipotensial AB
adalah 4,00 m (tinggi tekanan 4,50 m; tinggi elevasi - 0,50 m). Dari titik B. air harus
mengalir ke bawah melalui permukaan hulu BE pada turap, mengelilingi ujung E, dan
naik kepermukaan hilir EC. Air dari titik F harus mengalir sepanjang permukaan kedap
FG. Dengan demikian BEC dan FG adalah garis-garis aliran. Bentuk-bentuk garis aliran
yang lain hams berada di antara garis-garis aliran ekstrim BEC dan FG.
Sketsa jaringan aliran coba-coba yang pertama (Gambar 2. 7b) dapat die ob a dengan
menggunakan cara yang disarankan oleh Taylor [2.7] . Perkiraan garis aliran (HJ) dari
suatu titik pada permukaan AB di dekat turap dibuat dengan sketsa yang tipis. Garis ini
harus dimulai dengan sudut siku-siku terhadap garis ekipotensial AB, kemudian di terus
kan menjadi garis lengkung yang mengelilingi turap melalui dasamya. Garis ekipotensial
coba-coba kemudian digambarkan antara garis aliran BEC dan HJ , yang memo tong kedua
garis aliran dengan sudut 90 dan membentuk bujur sangkar jika diperlukan, posisi HJ
dapat diubah sedikit sedemikian rupa sehingga jumlah keseluruhan bujur sangkar diper
oleh antara BH dan CJ. Cara ini diteruskan dengan membuat sketsa perkiraan garis aliran
(KL) dari titik kedua pada permukaan AB dan memotong garis ekipotensial yang sudah
digambar. Garis aliran KL dan garis ekipotensialnya disesuaikan sehingga semuanya saling
berpotongan dengan sudut siku-siku dan semua bidangnya adalah bujur sangkar. Cara
ini diulangi sampai batas FG dicapai. Pada percobaan pertama, perlu dipastikan bahwa
gambar garis aliran yang terakhir tidak memotong garis batas FG. Sebagai contoh , dapat
dilihat pad a Gambar 2. 7b. Dengan mempelajari sifat-sifat ketidakkonsistenan aliran terse but ,
maka posisi garis aliran yang pertama (HJ) dapat disesuaikan sehingga garis aliran yang
terakhir tidak memotong garis batas FG. Seluruh jaringan aliran kemudian disesuaikan
dan ketidakkonsistenan jaririgan aliran tersebut menjadi kecil. Setelah percobaan yang
ketiga, garis aliran terakhir yang diperoleh tidak memo tong batas FG , seperti ditunjuk
kan pada Gambar 2.7c. Secara urtmm, bidang antara garis aliran terakhir dan garis batas
bawah bukanlah bujur sangkar. tetapi perbandingan panjang/lebar dari masing-masing
bidang tersebut harus konstan pada alur aliran ini. Dalam membuat jaringan aliran akan

46

Mekanika Tanah

Papan turap
(sheet pile)
0.50

4,50 m

6,00 m

8,60 m

_j_

F '711.>JJ/JJJJJJ/777777777?77777777777mll777171777177777777/ G
(e)

(b)

Rembesan

47
Tabung

4,50 m
0,50 m

10m

(cl
Gambar 2 .7 . Konstruksi jaringan aliran : (a) potongan (b) coba-coba pertama (c) jaringan aliran terakhir.

terjadi kesalahan jika digambarkan terlalu banyak garis aliran. Biasanya 4 sampai 5 alur
aliran sudah cukup memadai.
Pada j aringan aliran Gambar 2.7c jumlah alir aliran adalah 4,3 dan jumlah penurunan
ekipotensialnya adalah 1 2 ; dengan demikian perbandingan /Nd adalah 0,36. Garis eki
potensial diberi nomor dari nol pada garis batas hilir dan nomor ini dinyatakan dengan
nd . Kehilangan tinggi energi total antara dua garis ekipotensial yang berdekatan adalah :

Ah

h
4
N

4,00

0,33 m

Tinggi energi total di setiap titik pada suatu garis ekipotensial dengan nomor Ylfi adalah
ndtlh . Volume total aliran air di bawah turap per satuan waktu per satuan panjang turap
adalah:
q =

N
kh _L
Nd

k- X 4 '00

0,36

Mekanika Tanah

48

Suatu tabung pizometer diletakkan di titik P pada garis ekipotensial yang menyatakan
10. Tinggi energi total di titik P adalah :

nd =

hp =

nd

Nd

h=

10
x 4,00 = 3 , 3 m
12

yang akan menghasilkan muka air dalam tabung 3 ,33 m di atas datum. Titik P berjarak
Zp di bawah datum, berarti tinggi elevasinya - Zp. Tekanan air pori pada titik P dapat
dihitung dari teorema Bernoulli:

Up = Y w { hp - ( - Zp ) }
=

Yw{ hp + Zp )

Gradien hidrolik yang memotong setiap bujur sangkar di dalam jaringan aliran akan me
nyangkut ukuran dirnensi rata-rata bujur sangkar (Persamaan 2. 15 ). Gradien hidrolik
yang paling tinggi (oleh sebab itu kecepatan rembesannya paling tinggi) terjadi pada per
potongan bujur sangkar yang terkecil, dan sebaliknya.

Contoh Soa/ 2.1


Potongan dinding turap di sepanjang suatu muara pasang surut diberikan dalam Gambar
2.8. Pada saat surut, kedalaman air muka dinding adalah 4,00 m sedangkan muka air
tanah dibelakang dinding 2 ,50 m di atas permukaan surut tersebut. Gambarlah distribusi
netto tekanan air pada turap tersebut.
Jaringan aliran ditunjukkan pad a gambar. Muka air pad a bagian muka turap ditentu
kan sebagai datum. Tinggi energi total pada muka air (ekipotensial hulu) adalah 2,50 m
(tinggi tekanan nol; tinggi elevasi +2,50 m). Tinggi energi total di atas permukaan tanah
di muka turap (ekipotensial hilir) adalah nol (tinggi tekanan 4,00 m; tinggi elevasi -4,00
m). Pada jaringan aliran ini terdapat 1 2 penurunan ekipotensial.
lo
'"

Dinding t-------.,..,._
tu rap

o=x=c=s=x=c=c1o====i15==52.o m
Gambar 2.8.

Rembe!flln

49

Tabel 2.2
Pennukaan

u,h...,
(m)

1
2

4
5

:4,00

2,00

i:,83

.--5,50

1 ,68
1 ,5 1
1,25

-7,10

6
1

...!8 ,30

-8,70

(4

"

4 (:,

2,30
4,80
6.00
7 ,33
8,78
9,8 1
9,9 5 '

.o
2, 10

..,..,2,70

hi

(m).

0
0
0
0,2 1
0,50
0,84
1 ,04

9
.2,70
. 4.00
5,n
7 ,60
9, 14

r;J,74 .

42.o

20,6
19,6
15,9
11 ,6
66

.2:1 .

Tekanan air dihitung pada kedua sisi turap pada ketinggian permukaan tertentu
yang diberi nomor 1 sampai 7 . Sebagai contoh pad a permukaan 4 tinggi energi total di
belakang turap adalah:
/

hb 'o;=-11 x ,50 = 1 ,3 m

8,8)

-7

)n- I ''" 1\i.::j

dan tinggi energi total di muka turap adalah:


h1 = T2 x 2 ,50 = 0,2 1 m

Tinggi elevasi pada permukaan 4 adalah -5,5 m.


Oleh sebab itu tekanan neto dibelakang turap adalah :
ub - u1 = 9,8 (1 ,83 + 5,5) - 9,8 (0,2 1 + 5,5)
= 9,8 (7,33 - 5,7 1 )
=

1 5,9 kN/m2

Phitungan untuk setiap titik yang ditentukan ditunjukkan dalam Tabel 2.2 dan diagram
tekanan neto digambar pada Gambar 2.8.

Contoh Soal 2.2


Penampang suatu bendungan ditunjukkan pada Gambar 2.9. Hitunglah besarnya rembesan
di bawah bendungan dan gambarlah distribusi tekanan angkat pada dasar bendungan
trsebut. Koefisien permeabilitas tanah pondasinya adalah 2,5 X w-S m/det.
J aringan aliran ditunjukkan dalam gambar. Permukaan air dihilir ditentukan sebagai
datum. Di antara ekipotensial hulu dari ekipotensial hilir. Kehilangan tinggi energi total
nya adalah 4,00 m. Pada jaringan aliran ini ada 4,7 alur aliran dan 1 5 penurunan ekipoten
sial. Rembesan dihitung dengan rumus :
1
q = kh = 2,5
N

Nd

10-5

4 00
'

= 3 ,1 x 10- 5 m 3 /det (per m)

4,7
15

so

Mekanika Tanah

Tabel .2.3

50
40
30
20

kN/m2

10
0

5,00 m

10

Gambar 2.9.

15

Sl

Rembesan.

Tekanan air pori dihitung pada titik-titik potong garis ekipotensial dengan dasar
bendungan . Tinggi energi total pada masing-masing titik didapat dari jaringan aliran dan
tinggi elevasi dari penampang bendungan. Perhitungan ditunjukkan pada Tabel 2.3 dan
diagram tekanan digambar pada Gambar 2.9.

Contoh Soal 2.3


Dasar suatu sungai berupa lapisan pasir setebal 8,25 m yang terletak di atas permukaan
dasar berupa batuan keras yang kedap. Bendungan pengelak (cofferdam) dengan lebar
5,50 m dibuat dengan memancangkan dua baris dinding tutup sedalam 6,00 m di bawah
permukaan dasar sungai dan penggalian sedalam 2,00 m di bawah dasar sungai dilakukan
di dalam bendungan pengelak. Permukaan air pada bendungan pengelak tetap dipertahan
kan pada saat penggalian dengan menggunakan pompa. Jika aliran air yang mabuk ke
dalam bendungan pengelak adalah 0 ,25 m3 /h per satuan panjang, berapakah koefisien
permeabilitas pasir? Berapakah gradien hidrolik di bawah permukaan yang digali?
Penampang dan jaringan aliran diperlihatkan pada Gambar 2.10 . Pada jaringan aliran
ini ada 6,0 alur aliran dan l O penurunan ekipotensial. Kehilangan tinggi energi total adalah
4,50 m. Koefisien permeabilitas diberikan oleh persamaan berikut:

4,50

0,25
61 10

6Ql = 2 , 6

10

_5

m/det

f-o>--- 5,50 m

Dinding
tu rap

.,.,

_
_
__.

T-

2.50 m

+-

Dinding
tu rap

2
3
4
5
10

=I

Gambar 2.10.

Mekanika Tanah

Jarak (s) antara dua garis ekipotensial terakhir yang diukur adalah 0,9 m. Maka
gradien hidrolik yang diperlukan adalah
.

l =

h
s

4,50
10

0,9

= 0,50

2.5. Kondisi Tanah Anisotropik


Tergantung dari permeahilitasnya. Tanah diasumsikan anisotropik, walaupun homogen.
Sehagian hesar lapisan tanah memang anisotropik, dengan koefisien permeahilitas mak
simum hila arah alirannya sejajar lapisan dan minimum hila arahnya tegak lurus lapisan.
Arah-arah aliran tersehut herturut-turut dinotasikan dengan x dan z, yaitu :
Dalam hal ini, hentuk umum dari hukum Darcy menjadi:
(2. 1 8a)
(2. 1 8h)
Demikian juga untuk suatu arah s, y ang memhentuk sudut a dengan sumhu x, koefisien
permeahilitas didefinisikan dengan persamaan :

Sekarang:

eh oh ax oh az
- = -- + -
as ox as oz as
yaitu :

Komponen-komponen kecepatan aliran juga dihuhungkan sehagai herikut :

Vx = Vs COS !Y.
Vz = Vs_ Slll !Y.
Oleh sehah itu:
cos 2 a

sin 2 a

- = -- + -ks
kx
kz
1

Rembesan

53

atau
(2 . 1 9)

Persamaan 2 . 1 9 ini menunjukkan arah permeabilitas yang bervariasi, yang digambarkan


se bagai elips pad a Gambar 2 . 1 1 .
Berdasarkan bentuk umum dari hukum Darcy (Persamaan 2 . 1 8), persamaan konti
nuitas (Persamaan 2 . 6) dapat ditulis sebagai berikut:
(2.20)

atau

Substitusi:

X1 = X

kJk:x%

(2. 2 1 )

persamaan kontinuitas menjadi:

o2 h

o2h

--;-2 + = 0
ux,

(2.22)

uz

yang merupakan persamaan kontinuitas untuk tanah isotropik pada bidang x, z.


Dengan demikian, Persamaan 2.2 1 menghasilkan suatu faktor skala pada sumbu x
untuk mentransformasikan daerah aliran anisotropik menjadi daerah aliran isotropik
khayal, di mana persamaan Laplace dapat berlaku. Bila jaringan aliran untuk daerah trans
formasi sudah digambar, maka jaringan aliran untuk daerah sesungguhnya dapat digambar
juga dengan menggunakan kebalikan dari faktor skala di atas. Namun demikian, biasanya
data yang penting diperoleh dari penampang transformasi. Transformasi dapat juga di
lakukan pada arah z.

Gambar 2.11

Permeabilitas elips.

Mekanika Tanah

54
z

T-a
AZ -

_l_ _

Ax,-j
I

Skala transformasi

x,

Gambar 2. 12.

Skala sesungguhnya

Elemen jaringan aliran lapangan .

Nilai koefisien permeabilitas yang berlaku pada penampang transformasi dinyata


kan sebagai koefisien isotropik. ekivalen

(2.23)
Pembuktian Persamaan 2.23 telah diberik.an oleh Vreedenburgh [2.8) . Adapun kebenar
an dari Persamaan 2 .23 ini dapat ditunjukkan dengan menggunakan sebuah elemen jaring
an aliran yang arah alirannya searah sumbu

x.

Elemen tersebut digambarkan dalam skala

transformasi dan dalam skala se sungguhnya pada Gambar


sumbu x. Kecepatan aliran vx dapat dinyatakan dalam
atau kx (untuk penampang sesungguhnya), yaitu :

v ,=
X

k' =
0XI

ohox, oh
JG:)ox

di mana,

kX

oh

2. 1 2 dengan arah transformasi

k' (tintuk penampang transformasi)

OX

----

Jadi:

2.6. Kondisi Tanah Tidak Homogen


Pada Gambar 2 . 1 3 terlihat dua lapisan tanah isotropik berturut-turut dengan tebal lapisan
H1 dan H2 dan koefisien permeabilitas k1 dan k2 . Batas antara kedua lapisan tersebut
merupakan garis batas horisontal. (ila lapisan tanah terse but anisotropik,

k1

dan

k2

merupakan . koefisien isotropis ekivaien untuk lapisan-lapisan terse but). Kedua lapisan
terseb.ut dapat dianggap sebagai satu lapisan homogen anisotropik dengan tebal lapisan

(H1

H2 )

kx dan kz .

dan koefisien permeabilitas untuk arah horisontal dan vertik.al berturut-turut

ss

Rem besan

'

k,

Gambar 2.13.

Kondisi tanah tidak homogen.

Untuk rembesan satu-dimensi dengan arah horisontal, garis-garis ekipotensial untuk


setiap lapisan adalah vertikal. Jika h 1 dan h2 merupakan tinggi energi total di suatu titik
pada masing-masing lapisan di atas, maka pada suatu titik di garis batas lapisan, h J = h2

Dengan demikian, setiap garis vertikal yang melalui kedua lapisan tersebut merupakan

garis ekipotensial. Oleh sebab itu, gradien hidrolik pada kedua lapisan tanah tersebut,
dan pada ekivalen lapisan tunggalnya, adalah sama. Gradien hidrolik yang sama ini di
notasikan dengan

ix.

Aliran horisontal total per satuan waktu dinyatakan sebagai :

iix
kX

= (H1 + H2) kx ix = (H1k1


=

+ H2k2)ix

H1k 1 + H2k2
HI + H2

(2.24)

Untuk rembe san satu-dimensi vertikal, kecepatan aliran pada setiap lapisan dan pada
lapisan tunggal ekivalennya harus sama jika syarat kontinuitas dipenuhi. Maka:

di mana

11

i;x

adalah gradien hidrolik rata-rata pada kedalaman lapisan (H1 +

H2 ). Sehingga:

kz
"k '-;-z d an
I

Kehilangan tinggi energi total pada kedalaman


tinggi energi total pada se tiap lapisan, yaitu :

(H1

+ H2 ) sama dengan jumlah kehilangan

(2.25)

Pernyataan yang sama untuk

kx dan kz

berlaku untuk berapa pun banyaknya jumlah

lapisari tanah. Selain itu dapat dilihat bahwa

kx

harus selalu lebih besar dari

rembesan lebih mudah terjadi searah dengan lapisan (searah sumbu


lurus lapisan ( searah sumbu z ) .

x)

l;z ,

sebab

daripada tegak

Mekanika Tanah

56

Gambar 2 .14

Kondisi transfer.

2. 7. Kondisi Transfer
Kondisi transfer adalah keadaan di mana rembesan terjadi secara diagonal pada batas antara
dua lapisan tanah isotropik 1 dan 2 yang masing-masing memiliki koefisien permeabilitas

k 1 dan k2 Dari Gambar 2. 1 4 terlihat bahwa arah rembesan yang mencapai titik B pada
batas lapisan ABC membentuk sudut a1 terhadap garis normal di B. Kecepatan aliran
yang mencapai B adalah v1 . Komponen-komponen v1 adalah V u untuk yang sejajar batas
lapisan dan v 1 n untuk yang tegak lurus batas lapisan. Arah rembesan yang meninggalkan
titik B membentuk sudut a2 terhadap garis normal, dan kecepatan alirannya v2 Kompo
nen-komponennya adalah V2s dan v2 n .
Untuk tanah 1 dan 2 berturut-turut :

c/J 1

- k1 h 1

dan

c/J2

Pada titik B , h 1 = h2 ; maka:

cP 1
' ki

- k2h2

c/J2
k2

Dengan diferensiasi terhadap s, (arah sepanj ang batas lapisan):

o c/J 1
k l os
1

o c/J 2
k2 os
1

j adi:

Untuk kontinuitas aliran melalui batas lapisan, komponen normal dari kecepatan
aliran harus sama, yaitu:

Rembesan

57

Sehingga:

1 V 2s
k 2 Vzn

1 V 1s
k1 V 1n

Dengan demikian didapat :


tan a:1

k1

--

(2.26)

= -

tan a: 2

k2

Persamaan 2.26 ini menunjukkan perubahan arah garis aliran yang melewati titik B. Per
samaan ini berlaku untuk setiap garis aliran yang melalui batas lapisan.
Persamaan 2 . 1 3 dapat ditulis sebagai beriku t :

sehingga :

fl. q

dnds

(2.26)

kfl. h

Jika flq dan M! masing-masing memiliki nilai yang sama untuk kedua lapisan, maka :

(dn)
(dn)
ds ds
(dn)
ds
1

k1

k2

dan jelas bahwa bentuk bujursangkar hanya mungkin terjadi pad a satu lapisan. Jika:

(dn)
fl.s

k1
k2

maka

(2.27)

Bila perbandingan permeabilitas (ktfk2 ) lebih kecil dari 1 / 1 0 , maka jaringan aliran
pada tanah dengan permeabilitas yang lebih tinggi mungkin tidak perlu ditinjau.

2:8. Rembesan Melalui Bendungan Tanah


Ini adalah sebuah contoh rembesan bebas (unconfined seepage), di mana daerah aliran
hanya dibatasi o1eh permukaan freatik dengan tekanan atmosfir. Sebelum jaringan aliran
dapat digambar, harus ditentukan titik awal garis aliran teratas, yang terletak pada muka
air terse but.
Gambar 2 . 1 5 memperlihatkan suatu bendungan tanah homogen isotropik dengan
dasar yang kedap air. Garis batas AB yang kedap air tersebut merupakan garis aliran,
sedangkan CD adalah garis aliran terbatas. Setiap titik pada lereng BC memiliki tinggi
energi total yang konstan, sehingga BC merupakan garis ekipotensial. Bila muka air di
hilir diambil sebagai datum, maka tinggi energi total pada garis ekipotensial BC adalah h,
yaitu perbedaan tinggi antara muka air di hulu dengan muka air di hilir tanggul. Permuka
an pelepasan (discharge surface) AD merupakan garis ekipotensial dengan tinggi energi
total nol untuk kasus seperti pada Gambar 2 . 1 5. Setiap titik di garis aliran teratas me-

58

Mekanika Tanah

t.. z

Saringan

Gambar 2.15.

Potongan bendungan tanah homogen.

miliki tekanan nol (tekanan atmosfir), maka tinggi energi totalnya sama dengan tinggi
elevasi. Oleh sebab itu , jarak-jarak vertikal

& pada .setiap perpotongan

antara garis aliran

teratas dengan garis-garis ekipotensial adalah sama.


Pada perinukaan pelepasan pada bendungan tanah harus dibuat sebuah saringan
yang baik. Saringan ini berguna untuk membuat rembesan tetap berada di dalam bendung
an, sebab bila air merembe s ke luar bendungan melalui lereng sebelah hilimya, maka akan
terjadi erosi pad a lereng terse but. Pad a Gambar 2 . 1 5 , saringan yang digunakan adalah
saringan-tanah horisontal (horizontal underfilter). Bentuk saringan yang lain diperlihat. kan pada Gambar 2 . 1 9a dan 2. 1 9b . Pada gambar ini diperlihatkan bahwa permukaan
pelepasan AD bukan merupakan garis aliran maupun garis ekipotensial, sebab terdapat
komponen-komponen kecepatan aliran normal dan tangensial pada AD.
Kondisi-kondisi batas untuk daerah aliran ABCD pada Gambar 2. 1 5 dapat ditulis
sebagai berikut :

cp = - kh
Garis ekipotensial AD: cp = 0
1/1 = q Guga, cp
Garis aliran CD:
Garis aliran AB:
1/1 = 0
Garis ekipotensial BC:

kz)

Trans[ormasi Kon[ormal r = w 2
Untuk menyelesaikan masalah bendungan ini, digunakan teori variabel kompleks (complex
variable theory). Diambil bilangan kompleks
iz. Dengan mempertimbangkan fungsi:

w = cp + il/1 sebagai fungsi analitis dari r = x +

Maka:

(x + iz) = ( cjJ + il/l )2


= ( cp2 + 2icpljl - 1/1 2 )

Dengan menyarnakan bagian-bagian rill dan imaginer, maka:

X = cp 2

z 2cp ljl

1/1 2

(2.28)
(2.29)

Persamaan-persamaan 2.28 dan 2.29 merupakan persamaan untuk mentransformasikan


titik-titik pada bidang r ke bidang w.

Rembesan

59
z

!'

J r-.--r--r-o--r-.

2 r-,_-+--r-,_-+

(a)

Gambar 2 .16.

ql

(b)

Transformasi konformal

Tinjaulah transformasi garis lurus


Dari Persamaan 2.29:

t/J = n,

r = w2 : (a) bidang w, (b) bidang.r.

di mana

n=

0, 1, 2, 3 , (Gambar 2. 1 6a).

41 = _:_,
2n
maka Persamaan 2.28 menjadi:
(2. 30)
Persamaan 2.30 menunjukkan kumpulan parabola-parabola yang sefokus. Untuk nilai z
yang positif, didapat parabola-parabola seperti yang diplot pada Gambar 2 . 1 6b (untuk
nilai n tertentu seperti di atas).
Sekarang tinjaulah transformasi garis lurus t/> = m, di mana m = 0, 1 , 2, . . . , 6 (Gambar
2 . 1 6a). Dari Persamaan 2 .29 :

1/1

= _!_
2m

dan Persamaan 2 .28 menjadi;


x =

m2 -

z2
4m2

(2. 3 1 )

---

Persamaan 2 . 3 1

menunjukkan kumpulan parabola-parabola sefokus seperti parabola

parabola hasil Persamaan 2.30. Untuk nilai z yang positif, didapat parabola-parabola
seperti yang diplot pada Gambar 2 . 1 6b untuk nilai m tertentu seperti di atas. Dua kumpul

an parabola-parabola seperti yang diplot pada Gambar 2. 1 6b tersebut memenuhi syarat


sebuah jaringan aliran.

Aplikasi pada Potongan Bendungan Tanah


Daerah aliran pada bidang

w yang memenuhi kondisi batas untuk potongan bendungan

tanah (Gambar 2. 1 5) ditunjukkan pada Gambar 2 . 1 7a. Dalam kasus ini dipakai fungsi
transformasi:

Mekanika Tanah

60

di mana C adalah konstanta, sehingga Persamaan 2.28 dan 2.29 menjadi:

X = C(c/J2
z = 2CcjJijJ

1/12 )

Persamaan garis aliran teratas dapat diturunkan dengan mensubstitusikan :


1/J = q
cP = - kz
sehingga:
z=

- 2Ckzq
1

C= -2kq

(- )

Dengan demikian:
x

- (Pz2 - q 2 )
2kq
z2

(2.32)

Kurva yang didapatkan dari Persamaan 2.32 dinyatakan sebagai parabola dasar Kozeny
dan digambarkan pl!,da Gambar 2. 1 7b, dengan titik awal A.

!f = q

.Jt!
I
11
9-

0
11

!f = O

9-

(a)
z

-"'-"'....
en

0
I

(b)
Gambar 2.1 7.

jxohJ

Saringan

Transformasi untuk potongan bendungan tanah : (a) bidang w, (b) bidang r.

R embesan

61

Untuk z = 0, nilai x menjadi:


Xo =
q=

2k

2kx0

(2.33)

di mana 2x0 adalah jarak direktriks parabola dasar tersebut. Jika x

0, nilai z menjadi:

z0 = - = 2x0

k
Dengan mensubstitusikan Persamaan 2.33 ke dalam Persamaan 2.32, didapat :

z2
(2.34)
4x0
Dengan Persamaan 2 .34 ini parabola dasar dapat digambar, dengan terlebih dulu me
ngetahui satu titik awal parabola tersebut.
Timbul suatu keadaan yang tidak konsisten sehubungan dengan adanya kenyataan
bahwa 'transformasi konformal garis lurus et> = -kh (garis ekipotensial hulu) merupakan
sebuah parabola, padahal sesungguhnya garis ekipotensial hulu potongan bendungan
tanah adalah lereng hulu itu sendiri. Kemudian, setelah melalui telaah yang mendalam
dan luas tentang masalah bendungan, Casagrande (2. 1 ] menganjurkan agar titik awal
parabola dasar diambil di titik G (Gambar 2. 1 8) d1 mana GC = 0,3 HC. Kemudian koordi
nat G disubstitusikan ke dalam Persamaan 2.34, sehingga nilai x0 dapat ditentukan. Akhir
nya parabola dasar tersebut dapat digambar. Garis aliran teratas harus memotong lereng
hulu dengan sudut siku-siku, selain itu harus diadakan koreksi CJ untuk parabola dasar
tersebut (dengan perasaan). Kemudian jaringan aliran dapat diselesaikan, seperti pada
Gambar 2 . 1 8.
Kalau permukaan pelepasan AD tidak horisontal, seperti pad a Gambar 2.19, diperlu
kan koreksi KD untuk parabola dasar.
X = X0 -

Tabel 2.4

Koreksi Aliran Hilir pada Parabola Dasar

Diperbanyak dari A. Casagrande (1940) 'Seepage through Dams', dalam Contributions

to Soil Mechanics 1925-1940, seizin Boston Society of Civil Engineers.


fj ,

&zfa

30
(0,36)

60
0,32

90
0,26

120
0,18

150
0,10

Sudut {3 digunakan untuk menggambarkan arah permukaan tempat keluamya air relatif
terhadap AB. Koreksi dapat dilakukan dengan bantuan perbandingan harga MD/MA =
&zfa, yang diberikan oleh Casagrande untuk rentang nilai {3 (Tabel 2.4).

Kontrol Rembesan dalam Bendungan Tanah


Pada desain bendungan tanah, sedapat mungkin dipilih jenis tanah yang pada dasarnya
ditujukan untuk memperkecil pengaruh merusak dari rembesan air. Bila terdapat gradien
hidrolik yang tinggi, rembesan air kemungkinan dapat mengikis saluran-saluran di dalam

Mekanika Tanah

62

Parabola dasar

Gambar 2.18.

Jaringan aliran untuk potongan bendungan tanah.

Parabola dasar

F ilter

(a)

v'b
(b)

Gambar 2.19.

Koreksi hilir pada parabola dasar.

bendungan, terutama bila tanahnya tidak dipadatkan dengan sempurna, yang pada akhir
nya akan merusak stabilitas bendungan. Proses erosi yang terjadi pada bendungan ini
disebut erosi bawah-tanah (piping). Suatu potongan seperti ditunjukkan pada Gambar
2.20a memiliki inti (central core) di tengah-tengahnya, dengan permeabilitas rendah.
'
Hal ini dimaksudkan untuk memperkecil volume rembesan. Pada dasarnya, semua tinggi
energi total hilang di inti terse but dan bila inti terse but sempit, akan terjadi gradien hidro
lik yang tinggi. Selain itu ada bahaya erosi yang khusus, yang terjadi pada batas antara
inti dengan tanah di dekatnya yang permeabilitasnya tinggi. Oleh sebab itu dilakukan
pencegahan terhadap bahaya ini dengan membangun cerobong drainasi (Chimney drain)
pada batas hilir dari inti (Gambar 2.20a). Saluran tersebut dirancang sebagai suatu saringan
penahan bagi partikel-partikel tanah yang berasal dari inti. Selain itu saluran tersebut
juga berfungsi sebagai penahan lereng hilir tanggul agar tetap dalam keadaan tidak jenuh
air.
Sebagian besar bagian-bagian bendungan tanah adalah tidak homogen, yang me
nyebabkan pembuatan jaringan alirannya lebih sulit. Penggambaran parabola dasar untuk
garis aliran teratas yang dijabarkan di atas hanya berlaku untuk bagian yang homogen,
tetapi pernyataan bahwa jarak vertikal antara titik perpotongan garis ekipotensial dengan
garis aliran teratas berlaku juga untuk bagian yang tak-homogen. Kondisi transfer (Per-

Rembesan

63

(a)

777/7/77
//77777/??l?JJ/7
//
777/777?77?77?/?l/7?l/7/.l/77l//777//
/7/l//
(b)
Gambar 2.20.

(a) Inti dan cerobong drainasi, (b) lapisan hulu yang kedap.

samaan 2.26) harus dipenuhi untuk semua daerah batas. Dalam kasus seperti pada Gambar
2.20a (ada inti dengan permeabilitas rendah), penggunaan Persamaan 2.26 menunjukkan
bahwa semakin rendah perbandingan permeabilitasnya, semakin rendah pula posisi garis
aliran teratas pada daerah hilir (tanpa chimney drain).
Kalau tanah dasar/pondasinya lebih lolos air daripada bendungannya, diperlukan
kontrol terhadap rembesan yang mengalir di dasar bendungan (underseepage ). Rembesan
seperti ini dapat dihilangkan dengan melapisi tanah dasar dengan lapisan yang kedap air
(Gambar 2 .20b)
Pelaksanaan kontrol rembesan yang sangat baik diberikan oleh Cedergren [2.2] .

Persyaratan Saringan
Saringan yang digunakan untuk mengontrol rembesan harus memenuhi dua syarat sebagai
betikut:
1 . Ukuran pori harus cukup kecil untuk mencegah adanya partikel-partikel yang
terbawa (ke tanah di dekatnya).
2. Permeabilitasnya harus cukup tinggi agar aliran air dapat melewati saringan
dengan cepat.
Kriteria di bawah inijuga menjadi persyaratan saringan :
.

(D1 5 ) 1
(Dss)s

<

sampai 5

(2. 35)

(D1 5) 1
(J.?t s)s

>

sampai 5

(2.36)

<

25

(Dso) f
(Dso)s

(2.37)

Mekanika Tanah

64

di mana f adalah notasi untuk saringan dan s adalah notasi untuk tanah yang berdekatan.
Persamaan 2 .35 adalah persyaratan untuk mencegah teijadinya erosi bawah-tanah, sedang
kan Persamaan 2.36 dan 2.37 adalah persyaratan untuk memastikan apakah permeabilitas
saringan sudah cukup tinggi untuk kepentingan drainasi . Ketebalan dari saringan ditentu
kan berdasarkan Hukum Darcy.
Saringan yang terdiri dari dua atau lebih lapisan dapat juga digunakan, lapisan yang
terhalus merupakan bagian hulu dari saringan. Saringan seperti ini dinamakan "graded
fllter". Dalam hal tertentu geotekstil dapat digunakan sebagai alternatif untuk saringan
butiran.

Contoh Soa/ 2.4.

Suatu penampang bendungan tanah homogen dan tidak isotropik ditunjukkan rada Gam
bar 2.2 1 a. Koefisien permeabilitas dalam arah x dan z masing-masing 4,5 x I 0 _ m/ det dan
I ,6 x 10 -8m/det. Buatlah jaringan aliran dan hitung besarnya rembesan yang melalui
bendungan terse but. Berapakah tekanan air pori pad titik P?
Faktor skala untuk transformasi dalam arah x adalah:

J J
kz
=
kx

4,5

0,60

Permeabilitas isotropik ekivalennya adalah:

k'

.j(kxkz )
.j(4,5 X 1 ,6) X 1 0 - S

2,7

l0-8 m/det.
1 5,00 m

1
I

45,00 m

.1

5,50 m

(a)

!
I 1 5,50 m I

"" " """"""

'

(b)
Gambar 2.2 1.

Rembesan

65

Penampangnya digambarkan dalam skala transformasi seperti diperlihatkan pada


Gambar 2.2 1 b. Fokus parabola dasar terletak pada titik A. Parabola dasar tersebut me
lalui titik G sedemikian rupa sehingga:

GC = 0,3 HC = 0,3

27,00 = 8 , 1 0 m

Koordinat titik G adalah :

X = -40,80;

Z = +18,00

Substitusikan koordinat-koordinat ini ke dalam Persamaan 2.34:


-40,80 = x0 -

1 8,002
4x0

--

Diperoleh:

x0 = 1 ,90 m.
Dengan menggunakan Persamaan 2.34 koordinat-koordinat beberapa titik pada parabola
dasar dapat dihitung yang disajikan di bawah ini:

1 ,90
0

0
3,80

-5,00
7,24

- 10,00
9,5 1

-20,00
12,90

-30,00
1 5,57

Parabola dasarnya digambarkan pada Gambar 2.2 1b. Kemudian dilakukan pada
aliran hulu dan jaringan alirannya dibuat secara fengkap , yang menjamin bahwa interval
titik-titik potong ekipotensial berikutnya dengan garis aliran adalah sama. Pada jaringan
aliran ini terdapat 3,8 alur aliran dan 1 8 penurunan ekipotensial. Oleh sebab itu akan
didapatkan besarnya rembesan (per satuan panj ang) yaitu:
q = k'h
=

NI
Nd

2,7

X 10- 8 X 1 8 X

= 1 ,0 X 1 0- 7 m 3/detik

Besarnya rembesan dapat juga dihitung dari Persamaan 2.33 (tanpa harus menggarnbar
kan j aringan aliran):
q = 2k'x0
=

X 2,7 X w - s X 1 ,90 = 1 ;0 X 1 0- 7 m 3jdetik

Permukaan AD ditetapkan sebagai datum. Suatu garis ekipotensial RS digambarkan


melalui titik P (posisi transformasi). Dengan melihat gambar dapat diketahui tinggi energi
total P yaitu 1 5 ,60 m. Pada titik P tinggi elevasinya 5 ,50 m, oleh sebab itu tinggi tekanan
nya adalah 10,10 m dan tekanan air porinya adalah:

Up = 9,8

1 0 , 1 0 = 99 kN/m2

Sebagai alternatif, tinggi tekanan pad a titik P dapat langsung ditentukan dari jarak vertikal
P di bawah titik potong garis ekipotensial RS dengan garis aliran teratas yaitu titik R.

Contoh Soa/ 2.5.


Gambarkan jaringan aliran untuk penampang bendungan tanah yang tidak homogen yang
ditunjukkan pada Gambar 2.22, dan hitug besarnya rembesan yang melalui bendungan

Mekanika Tanah

66

10

Gambar 2.22. (Direproduksi dari Cedergren,


Wiley and Sons, Inc, New York, dengan izin).

20

H.R. (1967)

30 m

Seepage, Drainage and Flow Nets, John

tersebut . Zona 1 dan 2 adalah isotropik dengan koefisien permeabilitas masing-masing


1 ,0 x 1 0- 7 m/detik dan 4,0 x 10-7 m/detik.
Perbandingan kdk 1 = 4. Parabola dasar tidak dapat digunakan pada kasus ini. Tiga
kondisi dasar yang harus dipenuhi dalam suatu jaringan aliran adalah :

1.
2.

3.

Interval vertikal antara titik-titik potong garis ekipotensial dengan garis aliran
teratas harus sama.
Jika bagian jaringan aliran pada zona 1 berupa bujursangkar maka bagian jaring
an aliran pada zona 2 harus berupa persegi panj ang kurvilinear dengan perbanding
an panj ang/lebar sebesar 4.
Untuk masing-masing garis aliran , kondisi transfer (Persamaan 2.26) harus di
penuhi pada batas antar zona.

Jaringan aliran ditunjukkan pada Gambar 2.22. Pada j aringan aliran ini ada 3,6 alur aliran
dan 8 penurunan ekipotensial. Besamya rembesan per satuan panj ang diberikan oleh
persamaan di bawah ini:

' - 1 ,0 X 1 0 - 7 X 16 X

-3 ,6

7 ,2 X 1 0 - 7 ill 3 / detik.

(Jika bentuk bujursangkar digunakan pada zona 2, maka bentuk persegi panjang dengan
panj ang/lebar 0,25 harus digunakan pada zona 1 , dan k2 harus digunakan pada persamaan
rembesan).

2. 9. Grouting
Permeabilitas tanah berbutir-kasar dapat diperkecil dengan cara grouting. Proses tersebut
terdiri dari penyuntikan suatu cairan yang sesuai, dikenal dengan sebutan grout, ke da
lam pori-pori tanah. Grout tersebut secara berangsur-angsur akan mengeras, sehingga
dapat mencegah atau memperkecil rembesan air. Grouting juga menghasilkan kenaikan

Rembesan

67

kekuatan tanah. Cairan yang digunakan untuk grouting meliputi campuran semen dan air,
suspensi lempung, larutan kimia, seperti sodium silikat atau damar sintetis, dan emulsi
bitumen. Penyuntikan (injection) biasanya dilakukan ke dalam suatu pipa yang dimasuk
kan ke dalam tanah atau ditempatkan ke dalam lubang bor dan di tahan dengan sebuah
selubung.
Distribusi ukuran partikel tanah menunjukkan jenis grout yang akan digunakan.
Partikel-partikel suspensi dalam grout, seperti semen atau lempung, akan merembes pori
pori tanah bila ukuran pori-pori tanah lebih besar dari ukuran partikel tersebut; pori-pori
yang lebih kecil dari ukuran ini akan menghalangi partikel untuk menembus tanah. Grout
semen dan lempung hanya cocok untuk kerikil dan pasir kasar. Untuk pasir sedang dan
pasir halus, grout yang digunakan adalah jenis larutan atau emulsi.
Luasnya perembe san untuk suatu tanah tertentu tergantung pada viskositas grout
dan tekanan pada waktu penyuntikan. Faktor-faktor ini menentukan jarak yang dibutuh
kan antara titik-titik penyuntikan. Tekanan penyuntikan harus dipertahankan di bawah
tekanan tanah di atasnya, bila tidak akan terjadi pengangkatan (heaving) permukaan
tanah dan celah-celah (fissures) di dalam tanah akan terbuka. Untuk tanah yang me
miliki variasi ukuran butiran yang besar, adalah bijaksana untuk menggunakan penyuntik
an primer dengan grout yang viskositasnya relatif tinggi untuk mengatasi pori-pori yang
besar, kemudian diikuti dengan penyuntikan sekunder dengan grout yang viskositasnya
relatif rendah untuk pori-pori yang lebih kecil .

2. 10. Pengangkatan Akibat Pembekuan

Pengangkatan akibat pembekuan (frost heave) adalah peristiwa naiknya permukaan tanah
akibat aksi bunga es (frost). Pembekuan air disertai dengan kenaikan volume sebesar kurang
lebih 9%. Karena itu pada tanah jenuh, volume pori-pori di atas daerah pembekuan akan
naik sebesar 2,5% sampai 5% tergantung dari besarnya angka pori. Bagaimanapun juga,
pada keadaan tertentu, kenaikan volume yang lebih besar dapat terjadi akibat terbentuknya
lensa-lensa es di dalam tanah.
Pada tanah yang memiliki tingkat kejenuhan tinggi, air pori di dekat permukaan tanah
akan membeku bila suhunya lebih rendah dari 0 C. Makin dalam tanah yang ditinjau,
makin tinggi suhunya, tetapi selama suhu tanah masih di bawah 0 C daerah pembekuan
akan meluas ke bawah secara bertahap. Batas penetrasi bunga es di Inggris Raya biasanya
diasumsikan sebesar 0,5 m meskipun pada kondisi-kondisi khusus kedalaman ini bisa
mencapai I m. Suhu yatig menyebabkan pembekuan air di dalam pori-pori tanah ter
gantung pada ukuran pori-pori. Makin kecil pori-pori, makin rendah suhu pembekuan. Oleh
karena itu air pada mulanya membeku pada pori-pori yang lebih besar, dan tetap tidak
beku pada pori-pori yang lebih kecil. Pada saat temperatur turun di bawah nol, maka daya
hisap air akan menjadi lebih besar dan air berpindah ke arah es pada pori-pori yang lebih
besar, ditarik oleh gaya-gaya permukaan kristal es, kemudian membeku dan menambah
volume es. Perpindahan yang berkelanjutan secara bertahap mengakibatkan terbentuknya
lensa-lensa es dan naiknya permukaan tanah. Proses tersebut akan berlanjut hanya bila
bagian dasar zona pembekuan berada dalam zona kenaikan kapiler, sehingga air dapat
berpindah ke atas dari bawah muka air tanah. Besarnya pengangkatan akibat pembekuan
akan turun dengan turunnya derajat kejenuhan tanah. Jika-terjadi pencairan es, tanah yang
sebelumnya membeku akan mengandung air yang berlebihan sehingga menjadi lembek dan
kekuatannya berkurang.

Mekanika Tanah

68

Pada kasus tanah berbutir-kasar tanpa atau dengan sedikit butiran halus, secara virtual
pori-porinya cukup besar untuk terjadi pembekuan pada keseluruhan tanah dan satu-satu
nya kenaikan volume diakibatkan oleh naiknya volume air pada waktu pembekuan sebesar
9%. Pada tanah dengan permeabilita s sangat rendah, perpindahan air dibatasi oleh lambat
nya laju aliran. Akibatnya pembentukan lensa-lensa es juga terbll;tas. Akan tetapi, adanya
celah-celah dapat memperbesar laju perpindahan. Kondisi terburuk pada perpindahan
air terjadi pada tanah yang memiliki persentase partikel berukuran lanau yang tinggi; tanah
seperti itu biasanya memiliki jaringan yang pori-porinya kecil, walaupun, pada saat yang
sama, permeabilitasnya tidak terlalu rendah. Tanah bergradasi baik diperhitungkan mudah
membeku jika lebih dari 3% partikelnya lebih kecil dari 0,02 mm. Tanah bergradasi buruk
diperhitungkan mudah membeku jika lebih dari 1 0% partikelnya lebih kecil dari 0,02 mm.

Soal-soal
2. 1 . Pada uji permeabilitas tinggi jatuh (falling head) tinggi energi awal 1 ,00 m jatuh
menjadi 0,35 m dalam 3 jam, diameter pipa tegak 5 mm. Contoh tanah memiliki
panjang 200 mm dan diameter 1 00 mm. Hitunglah koefisien permeabilitas tanah
tersebut.
2.2. Suatu timbunan tanah setebal 1 6 m terletak di atas tanah kedap air : koefisien per
meabilitas tanah 1 0-6 m/detik. Suatu dinding turap (sheet pile) dipancang sedalam
12 ,00 m pada timbunan terse but. Perbedaan tinggi muka air antara dua turap adalah
4,00 m. Gambarkan jaringan aliran dan hitung besarnya rembesan di bawah turap.
2 . 3 . Gambarkan jaringan aliran untuk rembesan di bawah suatu struktur seperti pada
Gambar 2.23, dan hitunglah be sarnya rembe san koefisien permeabilitas tanah adalah
5 X 1 0-5 m/detik. Berapakah gaya angkat (uplift) pada dasar struktur?

2,50 ni

r
l
9,00 m

[_ !

Gambar 2 .23.

Rembesan

69

3,00 m

5,00 m

5,00 m

9,00 m

-.

2,50 m

- - -f
/

i
I

'777/7/?J//77/7?77/77?7/7777

' I

:t=
llf- -

2,

'C

'

'

2,00 m

_j_

'777/?T
/l/777777777//77//
7?77

Gambar 2.24.

2,00 m

3,00 m

-t- t3,00 m

3,50 m

/,/7
/7
/
/,7
/,7
/,/7
/
////'7
/,7
/,7
//777
7
/V/7
/
// /,7

Gambar 2.25.

2.4. Potongan melintang bendungan pengelak (cofferdam) ditunjukkan pada Gambar


2.24, dengan koefisien permeabilitas tanah sebesar 4 X w -7m/detik. Gambarkan
jaringan aliran dan hitung besarnya rembe san yang masuk ke bendungan pengelak
tersebut.
2 . 5 . Potongan melintang bagian dari suatu bendungan pengelak ditunjukkan pada Gambar
2.25, dengan koefisien permeabilitas tanah sebesar 2,0 X 1 0-6m/detik. Gambarkan
jaringan alirannya dan hitunglah besamya rembesan.
2.6. Potongan melintang sebuah bendungan seperti pada Gambar 2.26 terletak pada tanah
anisotropik. Koefisien permeabilitas pada arah x dan z masing-masing adalah 5 x
1 0-7 m/detik dan I ,8 X w-7 m/detik. Hitunglah besamya rembesan di bawah
bendungan tersebut?
2.7. Sebuah bendungan tanah seperti pada Gambar 2.27 mempunyai koefisien permeabili
tas arah horizontal dan vertikal masing-masing sebesar 7,5 x w-6 m/detik dan 2,7 x
I 0-6 m/detik. Gambarlah garis aliran teratas pada bendungan tersebut, dan hitunglah
besarnya rembesan yang melalui bendungan tersebut.

Mekanika Tanah

70

Gambar 2.26.
1 0,00 m

-j

20,00 m

f-

-1

1/

/,7/

1..

<t,:,;:.,T. ..,. ;;s;";:.':...

1 5,00 m

Gambar 2.27.

5,00 m

k2

7///7/ //T
/7/////7 777///7//T
!T
/7///T
!T
!T
/
!7
///T
/
;//7
/%

Gambar 2.28.

2 .8. Hitunglah besarnya rembesan di bawah bendungan seperti pada potongan Gambar
2.28 . Kedua lapisan tanahnya adalah isotropik dan koefisien permeabilitas pada
lapisan atas dan bawah masing-masing adalah 2,0 X 1 Q-6 m/detjk dan 1 , 6 X 1 Q- 5 m/
detik.

Rembesan

71

Referensi
Casagrande, A. ( 1 940): 'Seepage Through Dams', in Contributions to
Soil Mechanics 1925-1940, Boston Society of Civil Engineers.
2.2 Cedergren, H. R. ( 1 967): Seepage, Drainage and Flow Nets, John Wiley
and Sons, New York.
2.3 Harr, M. E. ( 1 962): Groundwater and Seepage, McGraw-Hill, New
York.
2.4 Hvorslev, M. J. ( 1 95 1 ): Time Lag and Soil Permeability in Ground
Water Observations, Bulletin No. 36, Waterways Experimental
Station, U.S. Corps of Engineers, Vicksburg, Mississippi.
2.5 Ischy, E. dan Glossop, R. ( 1 962): 'An Introduction to Alluvial
Grouting', Proceedings ICE, Vol. 2 1 .
2.6 Sherard, J. L., Woodward, R. J., Gizienski, S. F. dan Clevenger, W. A.
( 1 963): Earth and Earth-Rock Dams, John Wiley and Sons, New York.
2.7 Taylor, D. W. ( 1 948): Fundamentals of Soil Mechanics, John Wiley
and Sons, New York.
2.8 Vreedenburgh, C. G. F. ( 1 936): 'On the Steady Flow of Water
Percolating through Soils with Homogeneous-Anisotropic Perme
ability', Proceedings 1st International Conference SMFE, Cambridge,
Massachusetts, Vol. 1 .

2. 1

BAB 3

Tegangan Efektif

3 . 1 . Pendahuluan
Tanah dapat divisualisasikan sebagai suatu kerangka partikel padat tanah (solid skeleton)
yang membatasi pori-pori yang mana pori-pori tersebut mengandung air dan/atau udara.
Untuk rentang tegangan yang biasa dijumpai dalam praktek, masing-masing partikel pa
dat dan air dapat dianggap tidak kompresihel: di lain pihak, udara bersifat sangat kom
presibel. Volume kerangka tanah secara keseluruhan dapat berubah akibat penyusunan
kembali partikel-partikel padat pada posisinya yang baru, terutama dengan cara meng
gelinding dan menggelincir yang menyebabkan. terjadinya perubahan gaya-gaya y ang
bekerja di antara partikel-partikel tanah . Kompresibilitas kerangka tanah yang sesungguh
nya tergantung pad a susunan struktural partikel tanah terse but. Pada tanah jenuh, dengan
menganggap air tidak kompresibel, pengurangan volume hanya mungkin terjadi bila se
bagian airnya dapat melepaskan diri dan ke luar dari pori-pori. Pada tanah kering atau
jenuh sebagian, pengurangan volume selalu mungkin terj adi akibat kompre si udara dalam
pori-pori, dan terdapat suatu ruang untuk penyusunan kembali partikel-tanah.
Tegangan geser dapat ditahan oleh kerangka partikel-padat tanah dengan memanfaat
kan gaya-gaya yang timbul karena persinggungan antarpartikel. Tegangan normal ditahan
oleh gaya-gaya antarpartikel pada kerangka tanah. Jika tanah berada dalam kondisi jenuh
sempurna, air pori akan mengalami kenaikan tekanan karena ikut menahan tegangan
normal.

3.2. Prinsip Tegangan Efektif


Besarnya pengaruh gaya-gaya yang menjalar dari partikel ke partikel lainnya dalam ke
rangka tanah telah diketahui sejak tahun 1923, ketika Terzaghi mengemukakan prinsip
tegangan efektif yang didasarkan pada data hasil percobaan. Prinsip tersebut hanya ber
laku untuk tanah jeriuh sempurna. Tegangan-tegangan yang berhubungan dengan prinsip
tersebut adalah :

1.

tegangan normal total (a)

pada bidang di dalam tanah, yaitu gay a per satuan


luas yang ditransmisikan pada arah normal bidang, dengan menganggap bahwa
tanah adalah material padat saja (fase tunggal).

73

Tegangan Efektif

-x

Gambar 3.1.

2.

tekanan air pori (u), yaitu

Interpretasi tegangan efektif.

tekanan air pengisi pori-pori di antara partikel-partikel

padat;

3 . tegangan normal efektif (a')

pada bidang, yang mewakili tegangan yang dijalar


kan hanya melalui kerangka tanah saja.

Hubungan ketiga tegangan di atas adalah :


a = a' + u

(3. 1 )

Prinsip tersebut dapat diwakili oleh model fisis sebagai berikut. Tinjaulah sebuah
'bidang' XX pada suatu tanah jenuh sempurna yang melewati titik-titik singgung antar
partikel, seperti terlihat pada Gambar 3 . 1 . Bidang XX yang bergelombang tersebut, dalam
skala besar, sama dengan bentuk bidang yang sebenarnya karena ukuran partikel tanah
relatif kecil. Sebuah gaya normal P yang bekerja pada bidang A sebagian ditahan oleh
gaya-gaya antarpartikel dan sebagian oleh tekanan pada air pori. Gaya-gaya antarpartikel
pada seluruh tanah, baik besar maupun arahnya, sangat tidak beraturan (acak), tetapi
pada tiap titik singgung dengan bidang yang bergelombang dapat diuraikan menj adi kom
ponen-komponen gaya yang arahnya normal dan tangensial terhadap bidang XX yang
sebenarnya. Komponen normal dinyatakan dengan N' dan komponen tangensial dengan

Mekanika Tanah

74

T. Tegangan normal efektif diinterpretasikan sebagai jumlah seluruh komponen N' di


dalam luas A , dibagi dengan luas A, y aitu :
'f.N'
a' = -A

(3.2)

Tegangan normal total adalah:

a = :4

(3.3)

Jika di antara partikel-partikel diasumsikan terdapat titik singgung, maka tekanan air
pori akan bekerja pada bidang seluas A. Kemudian agar dapat tercapai keseimbangan
pada arah normal terhadap XX:
P = 'f.N' + uA

atau

p 'f.N'
-=
+u
A
A
--

j adi
a = a' + u

Besarnya tekanan air pori sama pada semua arah dan bekerja pada seluruh permuka
an partikel tetapi volume partikel diasumsikan tidak berubah. Juga, tekanan air pori tidak
menyebabkan partikel-partikel saling tertekan satu sama lainnya. Kesalahan dalam menga
sumsikan titik singgung antarpartikel dapat diabaikan, karena luas total bidang singgung an
tarpartikel hanya berkisar sekitar 1 dan 3% dari luas penampang melintang A. Perlu dime
ngerti bahwa a' tidak mewakili tegangan singgung yang sesungguhnya antara dua partikel,
karena nilai N'fa, dimana a adalah luas bidang singgung yang sesungguhnya antara dua par
tikel, jauh lebih besar dan sangat tidak beraturan. Jika pada tanah terdapat partikel mineral
lempung, partikel tersebut tidak bersinggungan secara langsung di antara mereka karena
dihalangi oleh air yang terserap pada tiap partikel, tetapi dalam hal ini berlaku asumsi
bahwa gay a antarpartikel dapat dijalarkan melalui air terserap yang sangat kental.

Tegangan Vertikal Efektif akibat Berat Sendiri Tanah.


Misalkan tanah memiliki permukaan horisontal dan muka air tanah terletak pada per
mkaan tanah. Tegangan vertikal total (yaitu tegangan normal total pada bidang hori
sontal) pada kedalaman z sama dengan berat seluruh material (partikel padat + air) per
satuan luas di atas kedalaman terse but, maka:
Karena pori-pori di antara partikel-partikel padat saling berhubungan, tekanan air pori
pada setiap kedalaman akan sama dengan tekanan hidrostatik, karena itu pada kedalaman
z:

Dari Persamaan 3 . 1 , tegangan vertikal efektif pada kedalaman z adalah:

= (Ysat - Yw )z = y'z

di mana r' adalah berat isi apung tanah (buoyant unit weight).

Tegangan Efektif

75

3 . 3 . Reaksi Tegangan Efektif Akibat Pembahan Tegangan Total

Sehagai gamharan tentang hagaimana tegangan e fektif hereaksi akihat peruhahan tegang
an total, tinjaulah suatu tanah jenuh sempurna yang mengalami kenaikan tegangan vertikal
total, di mana regangan lateralnya sama dengan nol dan peruhahan volume hanya terjadi
pada arah vertikal saja. Kondisi seperti di atas dapat dihuat sebagai asumsi pada praktek
hila terjadi peruhahan tegangan vertikal total pada tanah yang luasnya jauh lebih hesar
dihandingkan dengan tehal lapisan tanah.
Mula-mula diasumsikan hahwa tekanan air pori konstan pada suatu nilai yang sesuai
dengan posisi muka air tanah. Nilai awal ini disehut tekanan air pori statik. Apahila tegang
an total hertamhah hesar, partikel-partikel padat segera mencoha memhentuk posisi haru
nya yang akan saling herdekatan satu sama lain. Akan tetapi, hila air hersifat tidak kom
presihel dan tanah ditekan secara lateral, tidak akan terjadi susunan posisi seperti di atas,
dan besarnya gaya-gaya antarpartikel tidak akan hertamhah, kecuali hila ada air yang
ke luar. Karena air pori menahan peruhahan posisi partikel, tekanan air pori akan lebih
hesar dari tekanan statik segera setelah tegangan total bekerja. Kenaikan tekanan air
pori akan sama dengan kenaikan tegangan vertikal, artinya kenaikan tegangan vertikal
total ditahan seluruhnya oleh air pori. Perlu diketahui bahwa jika regangan lateral tidak
sama dengan nol, mungkin terjadi penyusunan kembali partikel-partikel, akibatnya akan
terjadi kenaikan tegangan vertikal efektif dengan segera dan kenaikan tekanan air pori
akan lehih kecil dari kenaikan tegangan vertikal total.
Kenaikan tekanan air pori ini menimbulkan gradien tekanan pada air pori, yang
mengakihatkan aliran transien (transient flow) air pori menuju hatas aliran he has pad a
lapisan tanah. Aliran atau drainasi ini akan berlanjut sampai tekanan air pori sama dengan
suatu- nilai yang dipengaruhi oleh posisi muka air tanah yang tunak. Nilai akhir ini di
sehut tekanan air pori kondisi tunak (steady-state pore water pressure). Pad a umumnya,
nilai-nilai tekanan air pori statik dan tunak akan sama, tetapi mungkin saja posisi muka
air tanahnya herubah. Kenaikan tekanan air pori di atas nilai tunak disehut tekanan air
pori berlebihan (excess pore water pressure). Penurunan tekanan air pori berlehihan ke
kondisl tunak disebut disipasi dan jika hal ini telah seluruhnya terjadi, tanah dikatakan
hrada dalam kondisi terdrainasi (drained). Sehelum terjadi disipasi tekanan air pori her
lehihan, tanah dikatakan herada dalam kondisi tak-terdrainasi (undrained).
Pada saat terjadi aliran air pori, partikel padat behas mengatur posisinya yang baru,
yang menyebahkan kenaikan gaya-gaya antar-partikel. Dengan kata lain, pada saat tekan
an-air-pori herlehihan mengalami disipasi, tegangan vertikal efektif mengalami kenaikan
pula, ' yang disertai dengan suatu perubahan volume tanah. Jika seluruh proses disipasi
telah selesai, kenaikan tegangan vertikal total ditahan sepenuhnya oleh kerangka tanah.
Seluruh proses di atas herhu.sung pada tanah jenuh sempurna.
Waktu yang diperlukan untuk drainasi sampai selesai tergantung pada permeahilitas
tanah. Pada tanah dengan permeahilitas rendah, seperti lempung jenuh , drainasi akan
sangat lamhat dan seluruh proses tersehut disehut konsolidasi. Bila deformasi terjadi
hanya dalam satu arah, ini disehut konsolidasi satu-dimensi. Pada tanah dengan permea
hilitas tinggi seperti pasir jenuh, drainasi akan sangat cepat.
Apabila tegangan normal total yang hekerja pada tanah dikurangi, kesempatan untuk
terjadinya penamhahan volume terhatas, karena penyusunan kemhali partikel akibat ke
naikan tegangan total sangat tidak herkehalikan. Sehagai akihat dari kenaikan gaya-gaya
antarpatikel, akan terjadi sedikit regangan elastis (biasanya diabaikan) pada partikel
tanah khususnya di sekitar daerah singgung dan jika pada tanah terse but terdapat mineral
lempung, tanah terse but akan melentur. Sebagai tambahan, air yang terserap pada partikel
mineral lempung akan mengalami kompresi akibat kenaikan gaya-gaya antarpartikel,

Mekanika Tanah

76

terutama jika susunan partikel tersebut saling berhadapan sisi. Jika tanah mengalami
penurunan tegangan normal total , kerangka tanah cenderung mengembang sampai batas
tertentu, khususnya pada tanah dengan proporsi partikel mineral lempung yang cukup
besar. Sebagai akibatnya, tekanan air pori akan turun dan tekanan-air-pori berlebihan
akan negatif. Tekanan air pori secara bertahap akan naik menuju kondisi tunak, di mana
te ij adi aliran ke dalam tanah yang disertai dengan penurunan tegangan normal efektif
dan pertambahan volume . Pada tanah dengan permeabilitas rendah, proses ini, yang me
rupakan ke balikan dari konsolidasi, disebut pemuaian (swelling).

Analogi Konsolidas!
Mekanika proses konsolidasi satu-dimensi dapat diwakili oleh suatu analogi sederhana.
Gambar 3 .2a memperlihatkan sebuah pegas di dalam silinder yang berisi air dan sebuah
piston, dengan sebuah katup, dipasang pada puncak pegas. Diasumsikan bahwa tidak
te ij adi kebocoran pada daerah singgung antara piston dan silinder dan juga tidak ada
gesekan di antara mereka. Pegas mewakili kerangka tanah yang kompresibel, air di dalam
silinder dianggap sebagai air pori, dan diameter lubang pada katup adalah penneabilitas
tanah. Silinder itu sendiri menjaga agar tidak teijadi regangan lateral pada tanah.
Misalnya piston dibebani dan katup tertutup, seperti pada Gambar 3 .2b. Dengan
asumsi bahwa air tidak kompresibel, piston tersebut tidak akan bergerak asalkan katup
tetap tertutup dengan akibat tidak te ij adi penjalaran beban ke pegas: beban tersebut
ditahan sepenuhnya oleh air, di mana kenaikan tekanan air sama dengan besar beban
dibagi luas piston. Keadaan ini menggambarkan kondisi tak-terdrainasi (undrained) pada
tanah.
Jika kemudian katup dibuka, air akan tertekan ke luar melalui katup dengan laju
tertentu tergantung pada besar diameter lubang bor. Hal ini akan menyebabkan piston
bergerak dan pegas tertekan pada saat beban dialihkan kepadanya secara bertahap. Ke
adaan ini ditunjukkan pada Gambar 3.2c. Pada waktu sembarang, kenaikan beban pada
pegas akan diikuti dengan turunnya tekanan air. Akhirnya, seperti terlihat pada Gambar
3 .2d, seluruh beban akan ditahan oleh pegas dan piston tidak bergerak lagi. Kondisi ini
menggambarkan kondisi terdrainasi (undrained) pada tanah. Beban yang ditahan oleh
pegas mewakili tegangan normal efektif, tekanan dalam silinder mewakili tekanan air

(a)

(b)
Gambar 3 2.

(c)
Analogi konsolidasi.

(d)

Tegangan Efektif

77

pori, dan beton pada piston mewakili tegangan normal total. Gerakan piston mewak:ili
perubahan volume tanah dan dipengaruhi oleh kompresibilitas pegas (ekivalen dengan
kompresibilitas tanah). Piston dan pegas hanyalah merupakan analogi dari satu elemen
tanah, padahal tegangan pada tanah dengan luas tertentu sangat beragam.

Contoh &Ja/3.1.
Bagian atas suatu lapisan lempung jenuh setebal 4 m dilapisi oleh pasir setebal 5 m, muka
air tanah berada 3 m di bawah permukaan tanah. Berat isi jenuh lempung dan pasir ber
turut-turut adalah 19 kN/m3 dan 20 kN/m3 . Di atas muka air tanah, berat isi pasir
1 7 kN/m3 . Plotlah nilai-nilai tegangan vertikal total dan e fektif terhadap kedalaman.
Jika pasir pada 1 m di atas muka air tanah bersifat jenuh karena efek kapiler, bagaimana
pengaruhnya terhadap tegangan-tegangan di atas?
Tegangan vertikal total sama dengan berat seluruh material (partikel padat air) per
satuan luas di atas kedalaman yang ditinjau. Tekanan air pori sama dengan tekanan hidros
tatik se suai kedalaman di bawah muka air tanah. Tegangan vertikal efektif sama dengan
selisih antara tegangan vertikal total dengan tekanan air pori pada kedalaman yang sama.
Dengan cara lain, tegangan vertikal efektif dapat dihitung secara langsung dengan me
makai berat isi apung tanah di bawah muka air tanah. Tegangan hanya perlu dihitung
pada kedalaman-kedalaman di mana terjadi perubahan be rat isi (Tabel 3. 1 ).
Cara lain untuk menghitung a pada kedalaman 5 m dan 9 m adalah sebagai berikut:
Berat isi apung pasir = 20 - 9,8 = 1 0,2 kN/m3
Berat isi apung lempung = 1 9 - 9,8 = 9,2 kN/m3
Pada kedalaman 5 m: a = (3 x 17) + (2 x 10,2) 7 1 ,4 kN/m2
Pada kedalaman 9 m : a = (3 x 1 7) + (2 x 1 0,2) + (4 x 9 ,2) = 108,2 kN/m2 .
=

Bila hanya akan menghitung tegangan efektif saja, dianjurkan memakai metode altematif
di atas. Biasanya besar tegangan dibulatkan pada angka terdekat. Tegangan dari diplot
terhadap kedalaman seperti pada Gambar 3.3.

Pengarnh Kenaikan Kapiler. Muka air tar,.ah adalah posisi air di mana tekanan air pori

sama dengan tekanan atmosfer (yaitu u = 0 ) . Di atas muka air tanah , tekanan air tetap
negatif dan, meskipun tanah di atas muka air tanah jenuh, tidak akan menambah tekanan
hidrostatik di bawah muka air tanah. Satu-satunya pengaruh kenaikan kapiler setinggi
1 m, adalah bertambahnya berat isi total pasir antara kedalaman 2 dan 3 m, yaitu dari
1 7 kN/m3 menjadi 20 kN/m3 , j adi suatu ke.naikan sebesar 3 kN/m3 Tegangan-tegangan
vertikal total dan efektif di bawah kedalaman 3 m bertambah sebesar 3 x 1 = 3 kN/m2 ,
sedangkan tekanan air pori tidak berubah.

Tabel 3 . 1 .
K.edalaman

(m)
3
5
9

3 X 17
(3 X 17) + (2 X 20)
(3 X 17) + (2 X 20) + (4

5 1 ,0 0
= 91 ,0 2
19) = 1 6 7 , 0 6

X
X

9 ,8

=.

1 9 ,6

9,8 = 58,8

5 1 ,0
7 1 ,4
108,2

Mekanika Tanah

78
0

//:1/

Mu ka
air tanah

> .

.. <

> . .... se... Lb1

:=:=-::=:=:=:' Lempung =:=:=:=:=:=:


- - - - - - - - - - - - - - - - -

9========

- - - - - - - - - - - - - - - - - -

50

1 00

1 50

kN/m 2

Gambar 3.3.

Contoh Soa/ 3.2


Lapisan pasir setebal 5 m berada di atas lapisan lempung setebal 6 m, muka air tanah
berada pada permukaan tanah; permeabilitas lempung tersebut sangat rendah. Berat isi
jenuh untuk pasir adalah 19 kN/m3 dan untuk lempung 20 kN/m3 Suatu material timbun
an setebal 4 m dan luas tak-terhingga dengan berat jenis 20 kN/m3 ditempatkan di atas
permukaan tanah. Tentukan tegangan vertikal efektif pada titik pusat l apisan lempung
(a) segera setelah penimbunan dengan asumsi bahwa penirnbunan berlangsung dengan
cepat, (b) beberapa tahun setelah penimbunan.
Profil tanah ditunjukkan pada Gambar 3.4. Karena luar timbunan tak-terhingga,
dapat diasumsikan bahwa tidak terjadi regangan lateral. Karena permeabilitas lempung
sangat rendah , disipasi tekanan air pori berlebihan akan sangat lambat : segera setelah
penimbunan akan tetap sama seperti nilai awalnya, yaitu :
0"

(5

9,2) + (3

1 0,2)

76,5 kN/m2

(berat isi apung pasir dan lempung berturut-turut 9 ,2 kN/m3 can 10,2 kN/m3 ).
Beberapa tahun setelah penimbunan , disipasi tekanan-air-pori berlebihan harus telah
selesai dan tegangan vertikal efektif pada titik pusat lapisan lempung adalah :
0"

(4 X 20) + (5

9,2) + (3

10,2)

1 5 6,6 kNjm2

Segera setelah penimbunan , tegangan vertikal total pada titik pusat lapisan lempung
bertambah sebe sar 80 kN/m2 akibat berat sendiri timbunan. Karena lempung berada
dalam kondisi jenuh dan tidak terjadi regangan lateral, maka tekanan air pori juga ikut
bertambah sebesar 80 kN/m2 Be sarnya tekanan air pori statik dan tunak sama karena
tidak terjadi perubahan tinggi muka air tanah , di mana besar tekanan air pori tersebut
adalah (8 x 9,8) = 7 8 ,4 kN/m2 Segera setelah penimbunan, tekanan air pori naik dari
78,4 kN/m2 menjadi 1 58,4 kN/m2 dan kemudian, karena proses konsolidasi, tegangan

Tegangan Efektif

79

Gambar 3.4.

tersebut akan turun secara bertahap menjadi 78,4 kN/m2 lagi, diikuti dengan kenaikan
tegangan vertikal efektif dari 76,6 kN/m2 menjadi 1 56,6 kN/m2 secara berangsur-angsur.

3.4. Tanah Jenuh Sebagian

Pada tanah jenuh sebagian, sebagian pori-pori diisi oleh air dan sebagian oleh udara. Tekan
an air pori (uw ) harus selalu lebih kecil dari tekanan udara pori (ua) akibat adanya tegang
an permukaan. Kecuali jika tingkat kejenuhan mendekati satu udara pori akan membentuk
saluran-saluran menerus sepanjang tanah dan air pori akan terkonsentrasi pada wilayah
wilayah di sekitar daerah singgung antarpartikel. Batas antara air dan udara pori akan
membentuk meniskus yang jari-jarinya tergantung pada ukuran ruang pori-pori tanah .
Bagian dari setiap bidang yang bergelombang pada tanah akan dilewati air dan sebagian
dilewati ud:ua.
Pacfa tahun 1955, Bishop mengusulkan persamaan tegangan efektif untuk tanah
jenuk sebagian sebagai berikut:
(3.4)

di mana X adalah suatu parameter yang ditentukan dari percobaan, terutama yang ber
hubungan dengan tingkat kejenuhan tanah. Suku (ua - uw) adalah ukuran besarnya
pengisapan pada tanah. Untuk tanah jenuh (Sr = 1 ), x = I dan untuk tanah kering (Sr
0), X = 0. Jadi Persamaan 3.4 akan sama dengan Persamaan 3 . 1 jika Sr I . Nilai X juga
sedikit dipengaruhi oleh struktur tanah dan tingkat kejenuhan. Persamaan 3 .4 jarang
dipakai dalam praktek karena adanya parameter x .
Satu model fisik potongan tanah, di mana x diinterpretasikan sebagai bagian potong
an rata-rata yang melewati air, terlihat pada Gambar 3.5. Gaya total pada luas bruto
A adala)::t :
=

oA

a' A + Uw XA + ua ( l

yang sama dengan Persamaan 3.4.

x) A

(3.5)

80

Mekanika Tanah

x --

--

Gambar 3.5. Tanah jenuh sebagian.

Jika tingkat kejenuhan tanah hampir sama dengan satu udara pori akan berbentuk
gelembung-gelembung dalam air pori dan bidang yang bergelombang dapat digambarkan
hanya melalui air pori saj a. Tanah tersebut dapat dianggap jenuh sempurna tetapi me
miliki tingkat kompresibilitas akibat adanya gelembung-gelembung udara. Persamaan
3. 1 cukup akurat untuk tegangan efektif pada sebagian besar kasus.

3 . 5. Pengaruh Rembesan Terhadap Tegangan Efektif

Apabila air merembes melewati pori-pori tanah, tinggi energi total (total head) terdisipasi
pada saat gesekan viskos mengalami seretan-gesek, yang bekerja searah dengan arah aliran,
pada partikel padat. Di sini terjadi peralihan energi dari air ke partikel padat dan gaya
yang berkaitan dengan peralihan energi ini disebut gaya rembesan (seepage force). Selain
gaya rembesan terdapat pula gaya gravitasi, dan kombinasi gaya-gaya yang beke ij a pada
tanah akibat gravitasi dan rembesan air disebut gaya badan re sultan (resultant body force).
Gaya badan resultan inilah yang membentuk tegangan normal efektif pada suatu bidang
pada tanah karena pengaruh rembesan air.
Misalkan sebuah titik pada tanah di mana arah rembesan membentuk sudut (} ter
hadap horisontal. Sebuah elemen persegi panjang ABCD dengan ukuran b (ukuran satuan
ya.Ptg tegak lurus terhadap bidang kertas), titik pusatnya diletakkan pada titik perrnisalan
tersebut. Sisi-sisi bidang ABCD paralel dan tegak lurus terhadap arah rembesan, seperti
terlihat pada Gambar 3.6a, di mana elemen persegi panjang dapat dianggap sebagai daerah
jaringan aliran (flow net). Perbedaan tinggi energi total antara AD dan BC adalah t::Jz.
Misalkan tekanan air pori pada batas elemen diambil sama dengan tekanan titik A, yaitu
uA . Selisih tekanan air pori antara A dan D hanya diakibatkan perbedaan tinggi elevasi
(elevation head) antara A dan D, sedangkan tinggi energi total di A dan di D sama. Akan
tetapi, perbedaan tekanan air pori antara A dan B atau C diakibatkan oleh perbedaan
tinggi energi total dan tinggi elevasi antara A dan B atau C. Tekanan air pori pada titik
titik B , C, dan D adalah sebagai berikut :

Yw (b sin O - Ah)
Uc = u A + Yw (b sin O + b cos O - Ah)
u0 = uA + Ywb cos O
UB = uA +

Tegangan Efektif

81
a
A

(a)

(b)

b
(c)

Gambar 3.6. Gaya-gaya pada konsolidasi rembesan. (Direproduksi dari D. W. Taylor (1948) Funda
mental of Soil Mechanics, John Wiley & Sons Inc., dengan izin).

Dari persamaan-persamaan di atas, didapat selisih tekanan sebagai berikut:


Us - UA = Uc - u0 = Yw(b sin 8 - flh)
u0 - uA = Uc - Us = Ywb cos 8

Nilai-nilai ini digambarkan pada Gambar 3.6b, yang merupakan diagram distribusi tekanan
neto yang memotong elemen pada arah paralel dan tegak lurus terhadap arah aliran.
Gaya pada BC akibat tekanan air pori yang bekerja pada batas elemen , disebut gaya
air batas (boundary water force), yang besamya:
Yw(b sin 8 - fl.h)b

atau
Ywb2 sin.O - fihywb

dan gaya au batas pad a CD adalah :


yb 2 cos e

Bila tidak teljadi rembesan, yaitu bila air pori berada pada kondisi statik, nilai M sama
dengan nol, di mana gaya-gaya pada BC dan CD berturut:turut adalah rwb2 sin e dan
'Ywb2 cos e dan resultannya sama dengan rwb2 yang bekelj.a pada arah vertikal. Gaya
Mrw b inilah satu-satunya yang membedakan kasus statik dari kasus rembesan , dan di'
sebut gaya rembesan (J), yang bekerja pada arah aliran (dalam hal ini tegak lurus ter
hadap BC).
Gradien hidrolik rata-rata pad a elemen adalah :
.

fih

!=b

menghasilkan,
J = fi hywb =

fih
.
2
Yw b 2 = zywb
t;

Mekanika Tanah

82

atau
J

iy.. V

( 3 .6)

di mana V adalah volume elemen tanah.


Tekanan rembesan (J) didefinisik:an sebagai gaya rembesan per satuan volume , yaitu
j = iy ..

{3.7)

Perlu dicatat bahwa J (dan juga J) hanya tergantung pada nilai gradien hidrolik.
Semua gaya, baik gravitasi maupun akibat rembesan air, yang bekerja pada elemen
ABCD dapat digambarkan dalam diagram vektor, Gambar 3.6c. Ikhtisar gay a-gaya ter
se but adalah sebagai berikut:
Berat total elemen

'Ysatb2 = vektor ab
Gay a air batas pada C D (kasus rembesan dan statik)
= 'Ywb2 cos e vektor bd
=

==

Gaya air batas pada BC (kasus rembesan)


= 'Ywb2 sin e - !:Jlrwb = vektor de
Gaya air batas pada BC (kasus statik)
= 'Ywb2 sin e = vektor de

Gaya air batas resultan (kasus rembesan)


= vektor be
Gaya air batas resultan (kasus statik)
'Ywb2 vektor be
==

Gay a rembesan

= !:Jlrwb = vektor ee

Gaya badan resultan (kasus rembesan)


=
vektor ae

Gaya badan resultan (kasus statik)


= vektor ae = r'b2
Gaya badan resultan dapat diperoleh dengan salah satu kombinasi gaya-gaya S((bagai
berikut :
,.

1 . Berat total Genuh) + gaya air batas Resultan, yaitu vektor ab + vektor be
2. Berat efektif (apung) + Gaya rembesan, yaitu vektor ae + vektor ee

Hanya gaya badan resultan sajalah yang berpengaruh terhadap tegangan efektif. Sebuah
komponen dari gaya rembesan yang beketja vertikal ke atas akan mereduksi komponen
tegangan efektif vertikal dari nilai statiknya. Komponen gaya rembesan yang beketja
vertikal ke bawah akan menambah komponen tegangan efektif vertikal dari nilai statiknya.
Suatu permasalahan dapat dipecahkan dengan memakai kombinasi gaya-gaya 1 atau 2 ,
tergantung jenis masalah yang dihadapi. Kombinasi 1 dipakai pada keseimbangan ke
seluruhan tanah (partikel padat + air) sedangkan kombinasi 2 dipakai pada keseimbangan
kerangka tanah saja.
Kondisi Apung (Quick Condition)

Tinjaulah kasus khusus rembesan yang berarah vertikal ke atas. Vektor ee pada Gambar
3 .6c akan berarah vertikal ke atas dan jika gradien hidroliknya cukup tinggi, maka gaya
badan resultan akan sama dengan nol Nilai gradien hidrolik yang berkaitan dengan re sultan

Tegangan Efektif

83

yang besamya nol disebut


volume

V y ang

gradien hidrolik kritis (ic).

Pada satu elemen tanah dengan

padanya bekerja rembesan ke atas dengan gradien hidrolik kritis, besar

gaya rembe sannya akan sama dengan berat elemen, yaitu

i,y w V

y' V

Karena itu
l

c=Y

y'

= ---

G. - 1
1 +e

(3.8)

Perbandingan "(1 hw , dan juga disebut gradien hidrolik kritis, pada sebagian be sar tanah
diperkirakan sama dengan

1 ,0.

Bila gradien hidrolik adalah

ic , tegangan

normal efektif pada setiap bidang akan sama

dengan nol, di mana gaya gravitasi dihilangkan pengaruhnya oleh gaya rembesan. Pada
pasir, gaya singgung antarpartikel akan sama dengan nol dan tanah tidak memiliki ke
kuatan. Tanah tersebut dikatakan berada dalam kondisi

apung

(quick, artinya 'hidup')

dan jika gradien kritis membesar, permukaan tanah akan mengalami kondisi 'boiling'*
karena partikel-partikel bergerak ke atas seperti arah aliran air. Harus dimengerti bahwa
'pasir apung'

('quicksand')

bukanlah suatu jenis tanah khusus, tetapi pasir biasa di mana

terjadi rembesan air ke atas dengan gradien hidrolik sama atau lebih besar dari

ic. l..e mpung

masih memiliki kekuatan pada kondisi tegangan normal efektif sama dengan nol, jadi,
kondisi apung tidak perlu terjadi apabila gradien kritisnya mencapai nilai kritis yang
diberikan oleh Persamaan 3 .8.

Kondisi di Sekitar Turap


Gradien hidrolik ke atas yang tinggi mungkin terjadi pada tanah yang berdekatan dengan
sisi hilir suatu dinding turap (sheet pile). Gambar

3.7 menunjukkan bagian dari jaringan

aliran untuk rembesan di bawah dinding turap , di mana panj ang yang tertanam pada sisi
hilir adalah

d.

Massa tanah yang berdekatan dengan turap dapat menj adi tidak stabil

dan tidak mampu menahan dinding tersebut. Terzaghi telah menunjukkan bahwa keruntuh
an mungkin akan terj adi pada massa tanah yang berukuran
[ABCD pada Gambar

d/2

pada potongannya

3 .7] . Mula-mula keruntuhan ditunjukkan dengan naiknya atau

terangkatnya permukaan tanah, disertai

dengan pengembangan tanah yang akhirnya meng

hasilkan pertambahan nilai permeabilitas. Hal ini menyebabkan membesamya aliran ,


permukaan yang 'boiling' pada pasir, dan akhirnya runtuh.
}/ariasi tinggi energi total pada batas bawah CD dari massa tanah dapat diperoleh dari
ekipotensial jaringan aliran, tetapi untuk keperluan analisis, cukup menentukan tinggi
energi total rata-rata

hm

dengan pengamatan. Tinggi energi total pada batas atas AB sama

dengan nol.
Gradien hidrolik rata-rata diberikan oleh :

Karena keruntuhan akibat pengangkatan (heaving) diperkirakan terjadi pada gradien


hidrolik

ic , maka faktor keamanan (F) terhadap pengangkatan adalah

*Boiling:
di dalam.

aliran air dan tanah halus ke dasar lapisan karena tekanan air di luar lebih be.sar daripada

Mekanika Tanah

84

--- ------l
h=O
E

'B

Gambar 3.7. Rembesan ke atas di sekitar dinding turap.

(3.9)
Pada pasir, faktor keamanan dapat juga diperoleh berdasarkan kondisi 'boiling' pada
permukaan tanah. Gradien hidrolik ke luar Cic) dapat ditentukan dengan mengukur besar
nya Lls dari jaringan aliran AEFG yang berdekatan dengan turap:
,.
t:.h
i
t:.s
=

di mana Llh adalah selisih tinggi energi total antara GF dan AE. Kemudian dapat ditulis
kan faktor keamanan :
F=

i.

(3. 1 0)

Sepertinya tidak terdapat perbedaan antara nilai F dari Persamaan 3.9 dan 3. 10.
Masalah dinding turap yang ditunjukkan pada Gambar 3.7 dapat juga digunakan
untuk menggambarkan dua metode gaya gravitasi dan gaya air.
1.

Berat total massa ABCD = f 'Ysatd2

Tinggi energi total rata-rata pad a CD = hm

Tegangan Efektif

85

Tinggi energi elevasi pada CD = -d

Tekanan air pori rata-rata pada CD = (h m + d)rw


Gaya air batas pada CD = !!_ (hm + d)rw
2
d
1
Gaya badan resultan ABCD 2Ysatd
2 - 2 (hm + d hw
= (y' + Yw) d 2 - (hmd + d 2 )Yw
= h'd 2 - hmYwd

Berat efektif massa ABCD = 2 r'd2

2.

h
Gradien hidrolik rata-rata sepanjang ABCD = m
d
hm d 2
Gaya rembesan pada ABCD = dYw 2

= hm y wd
Gaya badan resultan ABCD = h' d 2 - hmYwd
sama dengan metode I .
Gaya badan resultan akan sama dengan nol, yang menyebabkan terjadinya pengangkat
an (heaving); jika
hmYwd = h' d 2

Faktor keamanan dapat dinyatakan sebagai berikut


F

h'd 2
2 hm y wd

1 ::...:.__
= -,-:

y 'd
hmYw

ic
im

Bila faktor keamanan terhadap pengangkatan (heaving) kurang memadai, panjang


turap yang tertanam d dapat diperpanjang atau beban tambahan yang berupa filter dapat
diletakkan pada permukaan AB, di mana filter tersebut didesain untuk melindungi masuk
'
nya partikel-partikel tanah. Bila be rat efektif filter per satuan luas adalah w , m aka faktor
keamanaii. nya menj adi:

_
+_w
_'
y'd _
-,hmYw

Contoh 3.3.
Jaringan aliran untuk rembesan di bawah dinding turap ditunjukkan pada Gambar 3 .8a;
berat isi tanah jenuh adalah 20 kN/m3 . Tentukan tegangan vertikal efektif pada titik
A dan B .
I.
Ml}la-mula, tinjaulah kombinasi berat total dan gaya air batas resultan. Tinjaulah
suatu kolom tanah jenuh dengan luas satuan antara A dan permukaan tanah pada D.
Berat total kolom adalah 1 1 'Ysat(220 kN). Akibat perubahan tinggi ekipotensial sepanjang
kolom, gaya air batas pada sisi kolom tidak akan sama meskipun pada kasus ini perbedaan-

Mekanika Tanah

86

Di nding tu rap

4,00 m

Arah
Rembesan

(b)

(a)

Gambar 3.8.

nya kecil. Maka terdapatlah gaya air batas horisontal neto pada kolom. Akan tetapi,
hila tegangan vertikal efektif dihitung, hanya komponen vertikal gaya badan resultan
saja yang diperlukan dan gaya air batas horisontal neto tidak perlu diperhitungkan. Gaya
air batas pada permukaan puncak kolom diakibatkan oleh kedalaman air di atas D saja
dan besarnya adalah 4'Yw (39 kN). Gaya air batas pada dasar permukaan kolom hams
ditentukan dari jaringan aliran sebagai berikut :
Jumlah selisih ekipotensial antara permukaan tanah hilir dan A = 8,2.
Terdapat 12 selisih ekipotensial antara permukaan tanah hulu dan hilir, yang me
nyatakan kehilangan tinggi energi total sebesar 8 m .
..

. Tinggi energi total di A, hA

8;

8 = 5,5 m.

Tinggi elevasi di A, zA = -7,0 m.


Tekanan air pori pada A, uA

'Yw(hA - zA )
9,8 (5,5 + 7,0)

Jadi Gaya air batas pada permukaan dasar

122 kN/m2

1 22 kN.

Gaya air batas vertikal neto = 122 - 39 = 83 kN.


Be rat total kolom = 220 k..N.
Komponen vertikal gaya badan resultan

220 - 83 = 1 3 7 kN.

Jadi tegangan vertikal efektif di A = 1 37kN/m2 .

Tegangan Efektif

87

Kenyataannya, hasil yang sama akan diperoleh dengan penerapan langsung persamaan
tegangan efektif, di mana tegangan vertikal total di A adalah berat tanah jenuh dan air
per satuan luas, di atas A. Jadi:

= l l Ysat + 4y w = 220 + 39 = 259 kNjm2


= 1 22 kN/m2
U = UA - UA = 259 - 1 22 = 1 37 kN/m2

UA

UA

Satu-satunya perbedaan dalam konsep ini adalah bahwa gaya air batas per satuan luas
pada puncak kolom tanah jenuh AD mempengaruhi tegangan vertikal total di A. Begitu
juga di B:

(JB = 6Ysat + 1 y w

h8 =

z8 =

2,4

X 8

1 20 + 9 , 8 = 1 30 kN/m 2

I , 6 m.

- 7 ,0 m

uB = Yw(h 8 - z8 ) = 9,8(I ,6 + 7,0) = 84 kN/m2


U = UB - UB = 1 30 - 84 = 46 kNjm2
2.

Sekarang, tinj aulah kombinasi berat efektif dan gaya rembesan. Arah rembesan

berubah sepanjang kedalaman kolom tanah AD seperti tergambar pada Gambar 3 .8b
di mana arah rembesan pada sembarang potongan kolom ditentukan dari jaringan aliran.
Berat efektif kolom hams dikombinasikan dengan komponen vertikal gaya rembe san .
l.ebih disukai lagi, tegangan efektif di A dapat dihitung dengan memakai jumlah aljabar
dari berat isi apung tanah dengan nilai komponen vertikal rata-rata tekanan rembesan
antara A dan D .
Antara dua ekipotensial, gradien hidroliknya adalah M/& (Persamaan 2 . I 5). Jadi,
jika

adalah sudut antara arah aliran dan horisontal, maka komponen vertikal tekanan

rembesan

(J sin 8 ) adalah

Ah
.
w sm
y
As
8

Ah
Az y w

di mana Az (= &/sin

8 ) adalah jarak vertikal antara ekipotensial-ekipotensial yang sama.

Perhitungannya adalah sebagai berikut:

Jumtah selisih ekipotensial antara D dan A = 3,8.


Kehilangan tinggi energi total antara D dan A =

3;

8 = 2 ,5 m.

Nilai komponen vertikal rata-rata tekanan rembe san antara D dan A, yang beke rj a
searah dengan arah gravitasi
=

I I

X 9'8 =

2 3 kN/m3
'

Berat isi apung tanah, 'Y' = 20 - 9,8 = I 0,2 kN/m 3 .


Untuk koiom AD, seluas satu satuan, gaya badan resultan
= 1 1 ( 10,2

+ 2 ,3) =

I 37 kN.

Jadi, tegangan vertikal efektif di A = 137 kN/m2

Mekanika Tanah

88

Perhitungan untuk titik B.


Kehilangan tinggi energi total antara B dan C =

2 4
x 8 = 1 ,6 m.
12

Nilai komponen vertikal rata-rata dari tekanan rembesan antara B dan C, yang bekelja
berlawanan dengan arah gravitasi
=

16
x 9 ' 8 = 2 6 kN/m3
6

'-

'

Jadi, a = 6(10,2 - 2,6) = 46 kN/m2

Contoh 3.4.
Dengan memanfaatkan jaringan aliran pada Gambar 3.8a, tentukanlah faktor keamanan
terhadap keruntuhan akibat pengangkatan (heaving) di sekitar sisi hilir turap. Berat isi
jenuh tanah adalah 20 kN/m3 .
Stabilitas massa tanah EFGH pada Gambar 3.8a, dengan luas potongan 6 m x 3 m,
akan dianalisis.
Dengan mengamati jaringan aliran, nilai tinggi energi total rata-rata pada dasar GH
adalah:

hm = 12_ x 8 = 2 3 m
12

'

Gradien hidrolik rata-rata antara GH dan permukaan tanah EF adalah:


2 ,3
.
lm = 6 = 0,39
1 0 2
y'
.
. . .
1 rolik k ntts, le = - =
= 1 , 04
Gradten h"d
9 ,8
Yw
--

Faktor keamanan F

=
im

1 04
=27
0,39
'

Soal-soal
3.1

Dasar suatu sungai sedalam 5 m berupa pasir dengan berat isi jenuh 1 9,5 kN/m3 .
Hitunglah tegangan efektif vertikal pada kedalaman 5 m di bawah permukaan pasir.
3 2. Lapisan tanah lempung setebal 4 m terletak di antara dua lapisan pasir dengan
tebal masing-masing 4 m, bagian puncak dari lapisan pasir yang berada di atas me
rupakan permukaan tanah. Muka air tanah terletak 2 m di bawah permukaan tanah
tetapi lapisan pasir di bawahnya mendapat tekanan artesis, dengan muka pizometrik
rebesar 4 m di atas permukaan tanah . Berat isi jenuh lempung = 20 kN/m3 dan
pasir 1 9 kN/m3 . Berat isi pasir di atas muka air tanah adalah 1 6,5 kN/m3 . Hitunglah
tegangan efektif vertikal pada bagian teratas dan terbawah lapisan lempung terse but.

Tegangan Efektif

89

3.3. Pada suatu deposit pasir halus muka air tanah berada 3,5 m di bawah permukaan
tanah di mana pasir sampai dengan ketinggian 1 m di atas muka air tanah menjadi
jenuh akibat air kapiler; dan di atas ketinggian itu pasir dianggap dalam keadaan
kering. Berat isi jenuh dan berat isi kering, berturut-turut, adalah 20 kN/m3 dan
1 6 kN/m3 Hitunglah tegangan efektif vertikal pada pasir 8 m di bawah permukaan
tanah.
3 .4. Suatu lapisan pasir membentang vertikal dari permukaan tanah sampai kedalaman
9 m dan menyelimuti lapisan lempung, dengan permeabilitas rendah, setebal 6 m.
Muka air tanah berada 6 m di bawah permukaan pasir. Berat isi jenuh pasir adalah
19 kN/m3 dan lempung 20 kN/m3 . Be rat isi pasir di atas muka air tanah adalah
1 6 kN/m3 . Pada waktu yang relatif singkat, muka air tanah naik 3 m dan dianggap
permanen pada kondisi yang besar ini. Hitunglah tegangan efektif vertikal pada
kedalaman 8 dan 12 m di bawah permukaan tanah (a) segera setelah kenaikan maka
air tanah, (b) beberapa tahun setelah kenaikan muka air tanah.
3.5. Vertikal elemen tanah mempunyai ukuran sisi horisontal dan vertikal 1 m untuk
setiap arah. Air merembes melalui elemen terse but pada arah miring ke muka sebesar
30 di atas horisontal dengan gradien hidrolik 0,35. Be rat isi jenuh tanah = 2 1 kN/m3 .
Gambarkan diagram gaya dengan skala besaran berikut, berat total dan efektif,
gaya air batas, resultan gaya rembesan. Berapakah besar dan arah gaya badan re sul
tan?
3.6. Untuk keadaan rembesan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.9, hitunglah
tegangan normal efektif pada bidang XX pada setiap kasus (a) dengan memper
hitungkan tekanan air pori, (b) dengan memperhitungkan tekanan rembesan. Berat
isi jenuh tanah = 20 kN/m3 .

...

(1 )

(2 )

Gambar 3.9.

Mekanika Tanah

90
.

3.7. Potongan suatu bendungan elak ditunjukkan pada Gambar 2 .24, dengan berat
isi jenuh tanah 20 kN/m3 . Hitunglah faktor keamanan terhadap kondisi 'boiling'
pada permukaan AB dan nilai tegangan vertikal efektif di C dan D.
3 .8. Potongan melal1Ji sebagian bendungan elak ditunjukkan pada Gambar 2.25, dengan
berat isi jenuh tanah 1 9,5 kN/m3 Hitunglah faktor keamanan terhadap keruntuhan
=

akibat pengangkatan (heaving) pada galian yang berdekatan dengan turap. Berapakah
kedalaman filter (berat isi = 2 1 kN/m3 ) yang diperlukan untuk menjamin faktor
keamanan sebesar 3 ,0?

Referensi
3.1
3.2
3.3

,,.

Skempton, A. W. ( 1961): 'Effective Stress in Soils, Concrete and


Rocks', Proceedings of Conference on Pore Pressure and Suction in
Soils, Butterworths, London.
Taylor, D. W. ( 1 948): Fundamentals of Soils Mechanics, John Wiley
and Sons, New York .
Terzaghi, K. (1943): Theoretical Soil Mechanics, John Wiley and Sons,
New York.

BAB 4

Kekuatan Geser

4. 1 . Kriteria Keruntuhan MohCoulomb


Bab ini membahas tentang ketahanan tanah terhadap keruntuhan geser (shear failure).
Pengetahuan tentang kekuatan geser diperlukan untuk menyelesaikan masalah-masalah
yang berhubungan dengan stabilitas massa tanah. Bila suatu titik pada sembarang bidang
dari suatu massa tanah memiliki tegangan geser yang sama dengan kekuatan gesemya, maka
k.eruntuhan akan teijadi pad<t titik tersebut. Kekuatan geser tanah (r1) di suatu titik pada
suatu bidang tertentu dikemukakan oleh Coulomb sebagai su atu fungsi linear terhadap
tegangan normal ( a1) pada bidang tersebut pada titik yang sama, sebagai berikut:

(4. 1 )
di mana c dan if> adalah parameter-parameter kekuatan geser, yang berturut-turut didefinisi
kan sebagai kohesi (cohesion intercept atau apparent cohesion) dan sudut tahanan geser
(angle of shearing resistance). Berdasarkan konsep dasar Terzaghi, tegangan geser pada
suatu tanah hanya dapat ditahan oleh tegangan partikel-partikel padatnya. Kekuatan geser
tanah dapat juga dinyatakan sebagai fungsi dari tegangan normal efektif sebagai berikut:

r1 = c' + a'.r tan c/J'

(4.2)

di mana c' dan et>' adalah parameter-parameter kekuatan geser pada tegangan efektif. De
ngan dernikian keruntuhan akan teijadi pada titik yang mengalami keadaan kritis yang di
sebabkan oleh kombinasi antara tegangan geser dan tegangan normal efektif.
Selain itu , kekuatan geser juga dapat dinyatakan dalam tegangan utama besar a dan
kecil a; pada keadaan runtuh di titik yang ditinjau. Garis yang dihasilkan oleh Persamaan
4.2 pada keadaan runtuh merupakan garis singgung terhadap lingkaran Mohr yang menun
jukkan keadaan tegangan dengan nilai positif untuk tegangan tekan, seperti diperlihatkan
pada Gambar 4. 1 . Koordinat titik singgungnya adalah rf dan a , di m ana:

rf = !(a'1 - a ) sin 20

a'.r = !(a + a ) + !(a - a ) cos 20

(4.3)
(4.4)

Mekanika Tanah

92

a{

Selu bung keru ntuhan

a 1'

a'

Garnbar 4.1 . Kondisi tegangan pada keadaan runtuh.

dan

adalah sudut teoritis antara bidang utama besar dan bidang runtuh.. Dengan demikian

j elas bahwa:
(4. 5 )
Dari Gambar 4. 1 . dapat dilihat juga hubungan antara tegangan utama efektif pada keadaan
runtuh dan p arameter-parameter kekuatan geser. Kini:

f(o- ; - 0")

. "'

sm 'f' ' = ---=----=---.-:--=--


c' cot 4J' + !(o-'1 + o- )

Sehingga:

( o-'1 - o- )
atau

( o- + o-) sin 4J' + 2c' cos 4J'

( ' )

o-1 = o- tan;

45

+ 2c' tan

(4.6a)

( ' )
45

(4.6b)

Persamaan 4. 6 disebut sebagai kfiteria kenintuhan Mohr-Coulomb. Kriteria tersebut ber


asumsi bahwa bila sejumlah keadaan tegangan diketahui, di mana masing-masing menghasil
kan keruntuhan geser pada tanah, sebuah garis singgung akan dapat digambatkan pada ling
karan Mohr; garis singgung tersebut dinamakan

selubung keruntuhan (failure envelope)

tanah. Keadaan tegangan tidak mungkin berada di atas selubung keruntuhannya. Kriteria
ini tidak mempertimbangkan regangan pada saat atau sebelum terjadinya keruntuhan dan
secara tidak langsung menyatakan bahwa tegangan utama menengah efektif

a; tidak mem

pengaruhi kekuatan geser tanah. Di dalam praktek, kriteria keruntunan Mohr Coulomb
ini paling sering digunakan karena kesederhanannya, walaupun bukan merupakan satu
satunya kriteria keruntuhan tanah. Selubung keruntuhan untuk tanah tertentu tidak selalu
berbentuk garis lurus, tetapi secara perkiraan dapat dibuat menjadi garis lurus, yang diambil
dari atu rentang tegangan serta parameter-parameter kekuatan geser pada rentang ter
sebut.
Dengan memplot

t(a;

dapat dinyatakan dengan suatu

terhadap t (a + a), maka setiap kondisi tegangan


titik tegangan (stress point), yang lebih baik daripada ling-

a)

93

Kekuatan Geser

(a; - aj)

'

Modifi kasi selu bu ng


keru ntuhan

Titik tegangan

""'

...,/
I / 5o

j_ _

I
I

r-

a'

( a3)

(ail

Gambar 4.2. Altematif yang menggambarkan kondisi tegangan.

karan Mohr, seperti diperlihatkan pada Gambar 4.2. Setelah itu dapat dibuat selubung ke
runtuhan yang dimodifikasi, yang dinyatakan dengan persamaan:

(4.. 7)
'
di mana a dan o:' adalah parameter-parameter kekuatan geser yang dimodifikasi. Kemudian
parameter-parameter c' dim q{ did apat dari:
(j)' = sin - 1 (tan a:')
(4.8)
a'
(4.9)
c ' = -1 (a - a3 ) = a
+ 21 (a 1 + a3 ) tan a:
2 1
f

cos (j)'

Garis-garis yang digambar dari titik tegangan pada sudut 45 terhadap horisontal, seperti
pada Gambar 4.2, berpotongan dengan sumbu horisontal di titik-titik yangmenyatakan nilai
nilai tegangan utama a dan a; . Gambar 4.2 juga dapat digambarkan dalam kondisi tegang
an total, dengan koordinat-koordinat vertikal dan horisontal berturut-turut -}(a1 - a3)
dan -}(a1 + a3 ). Perlu diperhatikan bahwa:

!(a! - a ) = !(a 1 - a3)


!(a1 + a) = !(a 1 + a3) - u

Dalam keadaan simetri aksial, suatu keadaan tegangan efektif dapat juga diplot ter
'
hadap koordinat-koordinat vertikal dan horisontal berturut-turut q dan p', di mana:
q

'

= (a! - a)

(4. 1 0)
(4. 1 1)

Besarnya tegangan-tegangan ini (yang merupakan fungsi dari tegangan utama) tidak ter
gantung pada orientasi sumbu-sumbu koordinat, sehingga tegangan-tegangan semacam itu
disebut invarian tegangan. Tegangan-tegangan total yang sesuai adalah:
q

= (at - a3)

P = t (a 1 + 2 a3)

,..-- --

Mekanika Tanah

94

Dalam hal ini hubungan antara tegangan efektif dan tegangan total adalah:
q'
p'

=q
=p-u

4.2. Pengujian Kekuatan Geser

Parameter-parameter kekuatan geser untuk suatu tanah tertentu dapat ditentukan dari
hasil-hasil pengujian laboratorium pada contoh-contoh tanah lapangan (in-situ soil) yang
mewakili . Diperlukan ketelitian dan perhatian yang besar terhadap proses pengambilan
contoh, penyimpanan contoh, dan perawatan contoh sebelum pengujian, terutama untuk
contoh tidak terganggu (undisturbed), di mana struktur tanah di lapangan dan kadar airnya
harus dipertahankan. Untuk tanah lempung, benda uji didapatkan dari tabung-tabung
contoh atau kotak-kotak contoh. Kotak contoh memiliki efek terganggu yang lebih kecil.
Pengujian (swelling) benda uji lempung akan timbul akibat Kehilangan Uji Geser Langsung.

Uji Geser Langsung

Contoh ditempatkan pada sebuah kotak logam dengan penampang persegi atau lingkaran.
Kotak tersebut terbagi menjadi dua bagian pada setengah tingginya dengan suatu jarak
kecil antara kedua bagian tersebut. Di atas dan di bawah contoh ditempatkan sebuah
piringan berpori bila contoh tersebut jenuh sempurna atau jenuh sebagian sehingga air
dapat mengalir. Bila contoh tersebut kering digunakan piringan logam. Bagian-bagian ter
penting dari kotak tersebut diperlihatkan pada Gambar 4.3. Pada kotak tersebut, contoh
dibebani gaya vertikal (N) melalui pelat beban (loading plate) dan secara berangsur-angsur
akan timbul tegangan geser dengan membuat pergeseran di antara kedua bagian kotak
tersebut. Gaya geser (T) diukur bersamaan dengan perpindahan geser (.6./). Biasanya
perubahan tebal contoh ( t:.h) juga diukur. Dalam percobaan ini digunakan beberapa contoh
dengan pembebanan vertikal yang berbeda-beda; dan kemudian untuk setiap percobaan
harga tegangan gesei runtuh diplot terhadap tegan normalnya. Kemudian akan didapat
kan parameter-parameter kekuatan geser dari garis terbaik yang didapat dari titik-titik
tersebut.
Pada percobaan ini didapati beberapa kekurangan, antara lain yang terpenting adalah
kondisi pengaliran (drainasi) yang tidak dapat dikontrol. Selama tekanan air pori tidak

N
Pelat beban

Pelat berpori
(atau padat)

Gambar 4.3.

Alat geser langsung.

Kekuatan Geser

95
""
dapat diukur, tegangan normal total saja yang dapat diukur walaupun nilainya sama dengan
harga tegangan nonruil efektif pada saat tekanan air pori nol. Geser murni yang dihasilkan
pada contoh hanya ditentukan ct.engan perkiraan, dan tegangan geser pada bidang runtuh
tidak merata. Kerunttillan teIjdi dari tepi sampai pusat contoh. Selama percobaan, luas
contoh yang dibebani beban geser dan vertikal tidak akan tetap. Keuntungan dari per
cobaan ini adalah kesederhanaannya, dan kemudahan dalam persiapan-c0ntoh bila contoh
terse but .pasir.

Uji Triaksial
Pengujian ini merupakan pengujian kekuatan geser yang sering digunakan dan cocok untuk
semua jenis tanah. Keuntungannya adalah bahwa kondisi pengaliran dapat dikontrol,
tekanan air pori dapat diukur dan, bila diperlukan, tanah jenuh dengan permeabilitas
rendah dapat dibuat terkonsolidasi. Dalam penguj ian ini digunakan sebuah contoh ber
bentuk silinder dengan perbandingan panjang terhadap diameter sebesar 2. Contoh tersebut
dibebani secara sirnetri aksial seperti diperlihatkan pada Gambar 4.4. Uji ini menggunakan
sebuah perangkat alat uji seperti diperlihatkan pada Gambar 4.5 dengan beberapa bagian
terpenting. Dasar alat yang berbentuk lingkaran memiliki sebuah alas untuk meletakkan
contoh tanah. Alas tersebut memiliki sebuah lubang masuk yang digunakan untuk pe
ngaliran air atau untuk pengukuran tekanan air pori. Ad a juga alas yang memiliki dua buah
lubang ma suk , sebuah untuk pengaliran air dan sebuah lainnya untuk pengukuran tekanan
air pori. Yang merupakan badan dari inti alat tersebut adalah sebuah silinder tembus
pandang (perspex cylinder) yang ditutup oleh sebuah cincin dan penutup lingkaran atas.

JJf JJ J f

Tegangan aksial

Gambar 4.4. Sistem tegangan pada uji triaksial.

Mekanika Tanah

96

Batang pembeban

Katup pelepas udara

Sil inder perspeks

Piringan ber(lori

Pemberi
tekanan sel

Pengukur tekanan

Gambar 4.5.

Alat triaksial .

Penutup lingkaran atas tersebut memiliki lubang di tengah-tengahnya sebagai j alan masuk
untuk batang pembeban (loading ram). Silinder dan penutupnya dijepit ke dasar alat, yang
ditutup dengan cincin berbentuk ).
Contoh ditempatkan di piringan berpori atau piringan logarn di atas alas alat percoba
an. Kemudian di atas contoh tersebut ditempatkan sebuah penutup beban (loading cap)
dan contoh tersebut dibungkus dengan sebuah selubung karet. Setelah itu digunakan cincin
0 yang diberi suatu gaya tarik untuk menutup selubung karet tersebut pada sisi alas dan sisi
atasnya. Bila contoh yang digunakan adalah pasir, maka contoh tersebut harus dibungkus
dengan selubung karet dan ditempatkan dalarn sebuah tabung yang dirapatkan di sekeliling
alas. Sebelum tekanan sel (all-round pressure) diberikan, sewaktu tabung terse.but akan di
pasang, digunakIn sebuah tekanan negatif kecil terhadap air pori untuk mempertahankan
stabilitas contoh. Sebuah saluran pengaliran juga harus dibuat dari penutup beban sampai
permukaari atas contoh, sebuah tabung plastik yang fleksibel ditembuskan dari penutup
beban sarnpai dasar inti alat. Bagian atas penutup beban dan bagian akhir batang beban
memiliki kedudukan yang kuat, beban dialirkan melalui sebuah bola baja. Contoh tanah

Kekuatan Geser

97

diberi tekanan cairan menye1uruh pada intinya, sehingga bila mungkin diperbolehkan ada
nya konsolidasi. Kemudian secara perlahan-lahan terjadi kenaikan tegangan aksial dengan
menggunakan beban tekan melalui batang sampai terjadi keruntuhan pada contoh, biasa
nya pada bidang diagonal. Sistem yang menggunakan tekanan menyeluruh tersebut hams
dapat mengatasi perubahan tekanan akibat kebocoran inti atau perubahan volume contoh.
Pada uji triaksial ini, konsolidasi terjadi di bawah kenaikan tegangan total yang sama,
yang tegaklurus terhadap permukaan atas dan permukaan keliling contoh. Pada keadaan
ini, regangan lateral pada contoh tidak nol. Akibat pengaliran melalui piringan berpori
pada bagian atas dan bawah contoh, terjadi penghilangan kelebihan tekanan air pori. Pe
ngaliran tersebut ditampung di sebuah wadah sehingga volume air yang keluar dari contoh
dapat diukur. Datum untuk kelebihan tekanan air pori adalah tekanan atmosfer, karena
diasumsikan bahwa tinggi muka air pada wadah sama dengan tinggi pusat contoh. Kadang
kadang di sekeliling permukaan keliling contoh ditempatkan sebuah kertas saringan yang
dihubungkan dengan bagian akhir piringan berpori. Kemudian terjadi pengaliran secara ver
tikal dan horisontal dan kehilangan kelebihan air pori bertambah.
Tekanan sel disebut tegangan utama kecil, sedangkan jumlah tekanan sel dan tegangan
aksial yang digunakan disebut tegangan utama besar, berdasarkan bahwa tidak ada tegangan
geser pada permuk aan contoh. Sehingga tegangan aksial yang digunakan tersebut dinama
kan selisih tegangan utama. Tegangan utama menengah (intermediate principal stress) di
amb il sama besar dengan tegangan utama kecil. Kondisi-kondisi tegangan tersebut dapat
disajikan dalam bentuk lingkaran Mohr atau titik tegangan pada setiap tahap penguj ian
dan khususnya pada keadaan runtuh. Bila beberapa contoh diuji, masing-rna sing dengan
harga tekanan sel yang berbeda-beda, maka akan dapat digambarkan sebuah garis selubung
keruntuhan dan parameter-parameter kekuatan geser tanah tersebut dapat ditentukan.
Dalam menghitung besarnya selisih tegangan utarna , hams diperhatikan kenyataan bahwa
nilai rata-rata luas penampang melintang (A ) dari contoh tidak konstan selama penguj ian.
Bila lua s contoh semula adalah A0 dan volume contoh semula adalah V0 , dan bila volume
contoh tersebut berkurang selama pengujian, maka:
A = Ao

1 -e

v
1 - ea

__

(4. 1 2)

di mana ev adalah regangan volume (LlV/ V0 ) dan ea adalah regangan aksial (Lll/10 ). Bila
volume contoh tanah bertambah selama pengujian, rnaka tanda Ll V akan berubah dan
pembilang pada Persarnaan 4. 1 2 menjadi ( 1 + e,.). Hila perlu, regangan radial (e,) dapat
diperoleh dari persamaan:
ev = ea + 2e,
,

(4.1 3)

Dalam keadaan tanah jenuh air, perubahan volume LlV biasanya ditentukan dengan meng
ukur volume air pori yang mengalir dari contoh. Sedangkan perubahan panjang aksial
Lll berhubungan dengan pergeseran batang pembeban, yang dapat diukur dengan sebuah
arloji pengukur .
Interpretasi di atas terhadap keadaan-keadaan tegangan pada uji triaksial ini adalah hanya
perkiraan saja. Sebenarnya tegangan utama pada sebuah contoh berbentuk silinder adalah
tegangan aksial, radial, dan keliling, berturut-turut Uz , ar, a8 , seperti diperlihatkan pada
Gambar 4.6, dan keadaan tegangan pada contoh adalah statis tak tentu . Bila diasumsikan
ae , maka ketidaktentuan tersebut dapat diatasi dan kemudian ar menjadi
bahwa ar
konstan, yang besarnya sarna dengan tegangan radial pada batas contoh. Selain itu, kondisi
regangan pada contoh tidak dapat merata, disebabkan adanya friksi yang dihasilkan oleh
penutup beban dan piringan alas. Kondisi ini menghasilkan zona mati (dead zone) pada
setiap permukaan ujung dari contoh yang menjadi berbentuk selongsong pada saat penguji=

Mekanika Tanah

98

Gambar 4.6. Tegangan aksial, radial, dan keliling.

an dilangsungkan. Deformasi tidak merata pada contoh dapat diatasi dengan cara pemberi
an minyak pada permukaanpermukaan ujungnya. Walaupun demikian, telah ditunjukkan
bahwa deformasi tidak merata tersebut tidak memiliki pengaruh yang penting terhadap
pengukuran kekuatan tanah yang memiliki perbandingan panjang/diameter contoh tidak
kurang dari 2.
Kasus yang khusus pada uji triaksial ini adalah uji tekan tak terkekang (Unconfined
Compression Test) yang menggunakan tegangan aksial untuk contoh dengan tekanan sel
nol (tekanan atmosfer). Pada penguj ian ini tidak diperlukan adanya selubung karet. Me ski
pun demikian, pengujian ini hanya digunakan untuk lempung jenuh sempurna yang utuh.
Perluasan triaksial ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan beban ke atas pada
sebuah alat yang dihubungkan dengan penutup beban pada contoh. Kemudian tekanan sel
menjadi tegangan utama besar dan tegangan vertikal bersih menjadi tegangan utama kecil.
Tekanan air pori dari contoh tanah pada uji triaksial dapat
diukur, dengan demikian memungkinkan hasil-hasil pengujian tersebut disajikan dalam
tegangan efektif. Tekanan air pori harus dihitung dalam keadaan tanpa pengaliran (no
flow), baik pengaliran ke luar maupun ke dalam contoh. Jika tidak , harus dilakukan
koreksi terhadap harga tekanan terse but. Tentu saja kita dapat juga mengukur tekanan air
pqri pada satu ujung contoh pada saat pengaliran teljadi pada ujung lainnya. Keadaan
tanpa pengaliran dipertahankan dengan menggunakan alat yang disebut indikator botol,
yang pada dasarnya terdiri dari tabung-U yang sebagian diisi merkuri. Salah satu kaki dari
indikator tersebut dihubungkan dengan sebuah piringan berpori di bawah contoh. Kaki
lainnya dihubungkan dengan sebuah silinder pengontrol tekanan dan sebuah pengukur
tekanan atau manometer, seperti diperlihatkan pad a Gambar 4. 7 . Keseluruhan sistem ini
dipenuhi oleh air hampa udara , dan satu hal yang penting adalah bahwa hubungan antara
conto4 dengan indikator tersebut di atas tidak menyebabkan perubahan volume yang ber
arti b.ila diberi tekanan.
Adanya suatu perubahan pada tekanan air pori pada contoh akan menyebabkan per
geseran permukaan merkuri pada indikator. Kondisi tanpa pengaliran harus dipertahankan
dengan membua t perubahan tekanan yang sesuai pada setengah sistem lainnya dengan
menggunakan silinder pengontrol, sehingga permukaan merkuri akan 'tetap. Pada saat yang
sama, tekanan penyeirnbangan (balancing pressure) yang sarna dengan tekanan air pori
pada contoh akan dicatat oleh pengukur tekanan atau manometer.

Pengukuran Tekanan Air Pori

'

Kekuatan Geser

99

Pengu kur
tekanan

M anometer

Garnbar 4. 7.

Pengukuran tekanan air pori.

Tekanan air pori dapat juga diukur dengan menggunakan transduser, yang dibuat

dengan men adakan karakteristik-karakteristik perubahan volume yang sangat rendah,

sehingga indikator botol tidak diperlukan lagi. Suatu perubahan tekanan menghasilkan se

buah defleksi kecil pada diafragma transduser dan regangan yang sesuai kemudian dikali
brasikan terhadap tekanan tersebut.

Untuk contoh tanah jenuh sebagian, diperlukan sebuah piringan berpori halus dari

keramik untuk ditangkupkan pada alas inti alat, bila diinginkan pengukuran tekanan air

pori yang benar. Tergantung pada ukuran pori dari piringan keramik tersebut, hanya air

pori saja yang dapat mengalir melalui poripori tersebut, asalkan perbedaan tekanan udara
pori dan tekanan air pori berada di bawah suatu nilai yang disebut

entry value) dari piringan tersebut.

nilai terisi udara (air

Di bawah kondisi takterdrainasi piringan keramik ter

sebut akan tetap jenuh air asalkan nilai terisi udaranya cukup tinggi, sehingga memungkin

kan pengtikuran tekanan air pori yang benar. Penggunaan piringan berpori kasar, sebagai
mana digunakan untuk tanah jenuh air, akan menghasilkan pengukuran tekanan udara

pori pada tanah jenuh seb agian.

Mekanika Tanah

1 00

Jenirjenis Pengujian.

Terdapat berbagai macam kemungkinan prosedur pengujian dengan


alat triaksial, tetapi hanya ada tiga jenis penguj ian yang pokok, yaitu:
I.

Tak terkonsolidasi-tak terdrainasi (Unconsolidated-undrained). Contoh tanah


mengalami tekanan sel tertentu, kemudian digunakan selisih tegangan utama se
cara tiba-tiba tanpa pengaliran pada setiap tahap pengujian. (Prosedur untuk uji
triaksial tak terkonsolidasi-tak terdrainasi tersebut telah distandarisasikan pada
BS ( 1 377 (4.5 ] . Rincian prosedur untuk uj i tekanan tak-terkekang yang meng
gunakan sebuah peralatan portabel juga diberikan pada BS 1 377).

2. Terkonsolidasi-tak terdrainasi (Consolidated-undrained). Pengaliran pada contoh


tanah diperbolehkan di bawah tekanan sel tertentu sampai konsolidasi selesai.
Kemudian digunakan selisih tegangan utama tanpa pengaliran. Pengukuran tekan
an air pori dilakukan selama keadaan tanpa pengaliran.

3.

Terdrainasi (Drained). Pengaliran pada contoh tanah diperbolehkan di bawah


tekanan tertentu sampai konsolidassi selesai. Kemudian, dengan pengaliran yang
masih diperbolehkan, digunakan selisih tega.ngan utama dengan kecepatan sedang
untuk membuat kelebihan tekanan air pori tetap nol.

Parameter -pameter kekuatan geser ditentukan oleh hasil dari pengujian-pengujian di at as,
yang hanya relevan bila kondisi pengaliran di lapangan sesuai dengan kondisi pada penguji
an. Kekuatan geser tanah pada keadaan tak terdrainasi (tanpa pengaliran) berbeda dengan
pada keadaan dengan pengaliran. Di bawah kondisi tertentu, kekuatan geser dalam keadaan
tanpa pengaliran dinyatakan dalam tegangan total, dengan parameter-parameter kekuatan
gesernya dinotasikan sebagai cu dan cf>u . Kekuatan geser dalam keadaan terdrainasi (dengan
pengaliran) dinyatakan dalam parameter-parameter tegangan efektif c ' dan cp' .
Pertirnbangan terpenting dalam praktek adalah tentang kecepatan perubahan tegangan
total (akibat adanya pekerjaan konstruksi) yang digunakan yang berhubungan dengan ke
cepatan hilangnya kelebihan air pori, di mana hal ini berkaitan dengan permeabilitas tanah
tersebut. Keadaan tak-terdrainasi digunakan bila tidak ada kehilangan yang berarti selama
saat perubahan tegangan total. Hal ini biasanya terjadi pada tanah yang permeabilitasnya
rendah seperti lempung, dan terjadi segera sesudah konstruksi selesai dibangun. Keadaan
terdrainasi digunakan pada saat kelebihan tekanan air pori nol; hal ini terjadi pada tanah
dengan permeabilitas rendah setelah konsolidasi selesai dan akan mewakili situasi dalam
jangka panjang, yang dapat bertahun-tahun sesudah konstruksi selesai. Keadaan terdrainasi
juga relevan bila kecepatan kehilangan dibuat sama dengan kecepatan perubahan tegangan
ootal; hal.ini terjadi pada tanah dengan permeabilitas tinggi seperti pasir. Oleh karena itu,
keadaan terdrainasi juga relevan untuk pasir, baik pada saat segera sesudah konstruksi se
lesai maupun untuk jangka panjang. Bila teijadi perubahan tegangan total secara tiba-tiba
(misalnya bila terjadi ledakan atau gempa), maka keadaan yang relevan untuk pasir adalah
keadaan tak terdrainasi. Dalam beberapa situasi, keadaan terdrainasi sebagian digunakan
pada akhir konstruksi, kemungkinan disebabkan lamanya masa konstruksi atau tanah yang
diuji memiliki permeabilitas sedang. Dalam hal ini, kelebihan tekanan air pori harus diper
kirakan lebih dahulu, kemudian kekuatan geser tanah dihitung dalam tegangan efektif,
dengan menggunakan parameter-parameter c' dan q/.
Pengujian di bawah tekanan balik (back pressure) me
liputi penaikan tekanan air pori secara buatan dengan cara menghubungkan suatu sumber
tekanan konstan ke sebuah piringan berpori pada salah satu ujung contoh tanah pada uji
triaksial. Untuk pengujian terdrainasi hubungan terse but dibiarkan terbuka selama peng-

Pengujian Di bawah Tekanan Balik.

Kekuatan Geser

101

ujian berlangsung, sehingga pengaliran terjadi pada tekanan balik. Tekanan balik merupa
kan datum untuk kelebihan tekanan air pori. Pada pengujian terkonsolidasi-tak terdrainasi
hubungan tersebut ditutup pada ujung yang terkonsolidasi, sebelum pemberian selisih
tegangan utama dimulai.
Tujuan penggunaan tekanan balik adalah untuk memastikan bahwa contoh tanah
benar-benar jenuh sempurna atau untuk membuat tekanan air pori seperti kondisi di lapang
an. Selama pengambilan contoh, tingkat kejenuhan lempung akan turun menjadi di bawah
1 00%, yang disebabkan adanya pemuaian akibt penghilangan tegangan lapangan. Contoh
tanah yang te1ah dipadatkan juga akan memiliki tinat kejenuhan di bawah 1 00%. Maka
dalam dua keadaan di atas tersebut, digunakan tekanan balik yang cukup tinggi untuk
mengubah udara pori menjadi air pori.
Adalah penting untuk memastikan bahwa tekanan balik tidak mengubah tegangan
efektif contoh tanah. Dengan demikian perlu dilakukan kenaikan tekanan sel yang sesuai
dengan penggunaan tekanan balik dan dengan kenaikan yang sama.

Uji Geser Sudu


Pengujian ini dimaksudkan untuk menentukan kekuatan lempung jenuh sempurna dalam
keadaan terdrainasi. Pengujian ini tidak cocok untuk jenis tanah lainnya. Khususnya peng
ujian ini sangat cocok untuk lempung lunak, di mana kekuatan gesernya mungkin berubah
pada saat pengambilan contoh dan pada saat penanganannya. Pada pokoknya, pengujian
in hanya digunakan untuk lempung yang memiliki kekuatan tak terdrainasi yang kurang
dari 100 kN/m2 . Pengujian ini tidak akan memberikan hasil yang wajar bila lempung ter
sebut mengandung pasir atau lanau.
Rincian pengujian ini diberikan pada BS 1 377. Peralatannya terdiri dari sebuah sudu
(vane) dan anti karat (Gambar 4.8) dengan empat buah daun yang tegaklurus satu sama
lain, yang dihubungkan dengan sebuah batang baja mutu tinggi. Batang tersebut diakhiri
oleh sebuah katup yang dipenuhi minyak pelumas. Panjang sudu-sudu terse but adalah dua
kali lebar keseluruhannya, biasanya 1 5 0 mm x 75 mm dan 1 00 mm x 50 mm. Diameter
batang baja sebaiknya tidak lebih dari 1 2 ,5 mm.

_.,. /

Gambar 4.8. Uji sudu.

Mekanika Tanah

1 02

Sudu-sudu dan batang baja tersebut ditekan ke dalam lempung pada dasar sebuah
lubang sampai kedalaman paling sedikit tiga kali diameter lubang. Bila dikeijakan dengan
hati-hati akan didapat contoh tanah yang tidak begitu terganggu. Untuk mempertahankan
batang baja dan katup tetap berada di pusat lubang, maka digunakan bantalan tetap.
Pengujian ini juga dapat dilakukan pada lempung lunak tanpa lubang bor, tetapi dengan
penetrasi sudu secara langsung dari permukaan tanah. Dalam hal ini diperlukan sebuah
dudukan untuk melindungi sudu-sudu selama penetrasi.
Ujung atas batang baja diputar secara berangsur-angsur dengan menggunakan peralatan
yang sesuai, sampai lempung mengalami keruntuhan geser akibat rotasi sudu-sudu. Kerun
tuhan geser teijadi pada permukaan dan pada ujung-ujung silinder yang memiliki diameter
sama dengan lebar keseluruhan sudu-sudu. Kecepatan rotasi sudu-sudu harus di dalam
rentang 6 sampai 12 per menit. Kemudian kekuatan geser dapat dihitung dengan menggu
nakan persamaan:
(4. 1 4)

di mana T torsi pada saat keruntuhan teijadi, d = lebar keseluruhan sudu, h = panjang
sudu-sudu. Tetapi kekuatan geser pada permukaan selubung silinder berbeda dengan ke
kuatan geser pada kedua permukaan tepi akibat adanya keadaan anisotropi. Kekuatan
geser biasanya ditentukan dalam interval kedalama n tanah yang diuji. Bila, sesudah peng
ujian awal, sudu-sudu berotasi secara cepat sekali dalam beberapa putaran, maka lempung
tersebut akan 'terbentuk kembali' (remoulded) dan bila diperlukan kekuatan geser pada
keadaan ini dapat ditentukan.
Alat uji sudu-sudu kecil yang dioperasikan dengan tangan juga tersedia untuk diguna
kan pada lapisan lempung yang terbuka terhadap udara.
=

Pengujian-pengujian Khusus
Di dalam praktek, terdapat sedikit persoalan di mana timbul sejumlah tegangan simetri
aksial seperti pada uji triaksial. Selain itu tegangan utama menengah tidak selalu sama
dengan tegangan utama kecil dan arah tegangan utama tersebut dapat mengalami rotasi
pada saat dicapai keadaan keruntuhan . Keadaan yang biasa teijadi adalah akibat regangan
bidang (plane strain) yang memiliki nilai nql dalam arah yang sama dengan arah tegangan
utama menengah, sebagai akibat adanya hambatan. yang timbul berdasarkan panjang
st.ruktur yang diselidiki. Pada uji triaksil,konsolidasi teijadi di bawah tekanan sel yang
sama (yaitu konsolidasi isotropik), sedangkan d alam keadaan sesungguhnya di lapangan,
konsolidasi teijadi di bawah kondisi tegangan anisotropik.
Pengujian terhadap keadaan asli yang lebih kompleks membutuhkan penyesuaian ter
hadap peralatan triaksial. Pengujian tersebut telah dirancang untuk mensimulasikan keada
an tegangan yang lebih kompleks yang terdapat dalam praktek, tetapi hal ini hanya diguna
kan untuk penyelidikan. Pengujian regangan bidang menggunakan sebuah contoh tanah
prismatik di mana regangan satu arahnya (akibat tegangan utama menengah) dibuat tetap
nol selama pengujian berlangsung, dengan menggunakan dua buah piringan yang disatukan.
Tekanan sel merupakan tegangan utama kecil, dan jumlah tegangan aksial yang digunakan
dengan tekanan sel merupakan tegangan utama besar. Sebuah pengujian yang lebih canggih,
yang juga menggunakan contoh tanah yang prismatik, memungkinkan pengontrolan ketiga
tegangan utama yang bersangkutan secara terpisah, di mana digunakan dua buah tekanan
dongkrak untuk menghasilkan tegangan utama men!)rtgah. Pengontrolan terpisah dari ketiga
tegangan utama tersebut dapat juga dicapai dengan menggunakan tegangan tambahan

Kekuatan Geser

1 03

berupa tekanan cairan eksternal dan internal yang berbeda. Torsi yang digunakan pada
silinder-silinder berlubang tersebut mengakibatkan arah tegangan utama berotasi.
Dilihat dari segi kesederhanaannya, uji triaksial merupakan pengujian yang relatif
sederhana, sehingga masih terns digunakan sebagai pengujian pokok untuk menentukan
karakteristik kekuatan geser. Bila diperlukan, dilakukan beberapa koreksi atas hasil
hasil uji triaksial untuk mendapatkan karakteristik-karakteristik di bawah keadaan tegangan
yang lebih kompleks.

4. 3. Kekuatan Geser Pasir


Karakteristik kekuatan geser pasir dapat ditentukan dari hasil-hasil uji triaksial dalam
kondisi terdrainasi maupun hasil-hasil penguj ian geser langsung. Karakteristik pasir kering
dan pasir j enuh adalah sama seperti yang dihasilkan oleh pasir jenuh dengan kelebihan
tekanan air pori nol. Kurva-kurva yang menyatakan hubungan selisih tegangan utama dan
regangan aksial (yaitu regangan utama besar) untuk contoh-contoh pasir rapat dan contoh
pasir lepas pada uji tekanan triaksial terdrainasi diperlihatkan pada Gambar 4.9a. Kurva
kurva yang sarna juga dihasilkan untuk menghubungkan tegangan geser dengan perpindahan
geser pada uji geser langsung.
Pada pasir rapat terdapat keterikatan (interlocking) antar partikel-partikel, dan sebelum
terjadi keruntuhan geser, keterikatan ini hams diatasi untuk menambah friksi pada titik. titik sentuh partikel-partikel tersebut. Tingkat keterikatan tersebut paling besar pada pasir
sangat rapat bergradasi baik yang mengandung partikel-partikel persegi. Karakteristik kurva
tegangan-regangan untuk pasir rapat memperlihatkan sebuah tegangan puncak pada regang
an yang relatih rendah, sehingga pada saat keterikatannya makin lama makin dapat diatasi,
diperlukan tegangan untuk menyebabkan bertambahnya volume contoh tanah selama me

ngalami geser, seperti yang diperlihatkan oleh hubungan antara regangan volume dan re
gangan aksial pada Gambar 4.9c (regangan tekan diambil sebagai positif). Pada uj i geser
langsung dihasilkan hubungan yang sarna antara perubahan tebal contoh tanah dengan per
pindahan geser. Selain itu diperlihatkan juga perubahan volume sehubungan dengan angka
pori (e) pada Gambar 4.9d. Akhirnya contoh tanah akan menjadi cukup lepas untuk mem
b iarkan partikel-partikel tanah bergerak bebas tanpa adanya perubahan volume dan per
bedaan tegangan utama akan mencapai nilai ultirnit.
Istilah dilantasi dipakai untuk menjelaskan kenaikan volume pada pasir rapat selama
mengalami geser dan kecepatan dilasinya dapat ditunjukkaii oleh gradien dE,/dE0 Konsep
di!atansi ini menjadi lebih j elas dalam konteks uji geser langsung. Selama proses geser pada
pasir rapat terjadi bidang geser makroskopik secara horisontal, tetapi gelinciran (sliding)
di antara partikel-partikel terjadi pada banyak bidang mikroskopik dengan membentuk
sudut yang bermacam-macam terhadap garis horisontal selama partikel-partikel tersebut
bergerak bebas. Kemudian pelat pembeban (loading plate) pada alat uj i bergerak ke atas
dan dengan demikian dihasilkan kerj a melawan tegangan normal.
'
Untuk pasir rapat, sudut tahanan geser maksirnum (rf> m aks ) yang ditentukan dari te
gangan puncak (Gambar 4.9b) j auh lebih besar dari sudut friksi sesungguhnya (rf>u ) antara
permukaan-permuk aan masing-ma sing partikel di mana perbedaan tersebut menunjukkan
energi yang dibutuhkan untuk mengatasi keterikatan dan menyusun kemb ali partikel
partikel tersebut. Di dalam prak tek pada umumnya, di mana dipakai faktor keamanan
untuk kekua tan geser dan regangan yang relatif rendah, digunakan tegangan puncak untuk
menentukan keruntuhan.
Untuk pasir lepas, tidak ada ketentuan antar p artikel yang berarti untuk diatasi, dan
selisih tegangan utama makin lama makin besar sampai mencapai nilai ultirnit tanpa sebe-

Mekanika Tanah

104

- (<j>'., )

Sama dengan o' 3

Ea

(a)

Kenaikan volume
... ...

Gambar 4.9.

'
o

{b)

Penurunan volume
{c)

,---

(d)

Ea

Hasil-hasil uji triaksial terdrainasi untuk pasir.

lumnya teJjadi tegangan puncak. Kenaikan tegangan teJjadi bersamaan dengan penurunan
volume . Nilai ultimit dari selisih tegangan utama pada dasarnya sama dengan besarnya
angka pori untuk contoh-contoh tanah padat dan lepas yang mengalami tekanan sel (me
nyeluruh) pada uj i triaksial, atau yang mengalami tegangan normal yang sama pada uj i
geser langsung, seperti ditunjukkan pada Gambar 4.9a dan 4.9d. Jadi pada keadaan ultimit
(atau kritis), teJjadi geser pada volume konstan di mana sudut tahanan geser yang berse
'
suaian dinotasikan sebagai 1> cv , dan merupakan parameter yang relevan dalam praktek
untuk pasir lepas. Perbedaan antara 1>cv dan 1>u menunjukkan besarnya energi untuk me
nyusun kembali partikel. Untuk itu dapat dimengerti bahwa angka pori pada keadaan ul
tirnit atau kritis adalah fungsi dari tekanan menyeluruh efektif a tau tegangan normal.
Di dalam praktek, hanya kekuatan pada keadaan terdrainasi untuk pasir saj a yang
relevan dan nilai parameter kekuatan geser 1>' (c' no!) diberikan pada Tabel 4. 1 . Untuk
pasir rapat, pada tabel tersebut diperlihatkan bahwa harga puncak 1>' pada regangan bidang
dapat mencapai 4 atau 5 lebih tinggi dari nilai yang sama yang dihasilkan oleh uji tri
aksial yang konvensional, sedangkan untuk pasir lepas, kenaikan tersebut diabaikan.
Pada uji triaksial pada tekanan menyeluruh yang sangat tinggi dengan kelebihan
5 00 kN/m2 , teJjadi beberapa retakan atau tumbukan partikel-partikel yang menghasil
'
kan selubung keruntuhan yang berbentuk kurva (dan reduksi pada nilai 1> ). Tetapi dalam
prakteknya, pada umumnya tegangan-tegangan tersebut tidak begitu tinggi untuk me
nyebabkan efek ini.

Teori Tegangan Dilatansi


Rowe (4. 1 2] mengembangkan sebuah teori tegangan-dilatansi yang berhubungan dengan
perbandingan tegangan-tegangan utama, susunan geometri partikel ideal, dan kecepatan

Kekuatan Geser

105

TABEL 4. 1 . Rentang nilai cp ' untuk pasir

Pasir berukuran seragam, partikel bulat


Pasir bergradasi baik, partikel bersudut
Kerikil berpasir

27
33
35
(27 - 30)

Pasir berlanau

- 35
- 45
- 50
- (30- 34)

.,

relatif dari perubahan volume dan regangan utama besar. Hal tersebut diperlihatkan sebagai
berikut:

:l = { (

tan2 45

) }(1 - :::)

(4. 1 5 )

di mana dEv dan dE1 berturut-turut adalah perubahan kecil dalam regangan volumetrik
dan regangan utama besar (regangan tekan diambil positif) dan cPt adalah besarnya sudut
tahanan geser antara batas-batas {111 dan
tergantung pada kondisi regangan yang di
hasilkan oleh pengujian. Nilai
merupakan fungsi dari arah gelinciran lokal antarpartikel
sewaktu teijadi penyusunan kemb ali, di m ana arah yang dipilili oleh gelinciran lokal ter
sebut adalah pada ( 45 + 1 ifJj2) terhadap bidang utama besar. Arah sesungguhnya ter
gantung pada tingkat kebebasan penyusunan kemb ali partikel-partikel di dalam peralatan
uji. Di bawah kondisi simetri aksial, seperti pada uji triaksil, terdapat kebebasan untuk ter
jadinya gelinciran lokal pada sudut yang mendekati sudut yang dipilili dan, dalam hal pasir
rapat sampai perbandingan tegangan tertinggi,
mencapai batas rendah iflw Tetapi di
bawah kondisi regangan bidang, peralatan uj i menghasilkan hambatan-hambatan. terhadap
teijadinya gelinciran lokal pada arah yang dipilili tersebut dan cf>j niencapai batas tertinggi
Dalam keadaan ultimit atau kritis, nilai
pasti sama dengan cf> . Untuk pasir rapat,
kekuatan tertinggi biasanya sesuai dengan kecepatan dilasi maksimum, yaitu nilai d<,./d< 1
maksimum.
Sebuah parameter yang disebut sudut dilasi ( l/1) didefinisikan sebagai kenaikan re
gang an utama maksimum dan minimum dE1 dan dE3 atau kenaikan regangan volumetrik
(dEv) dan regangan geser maksimum (dy), sebagai berikut:

cf>j

cf>'.:v ,

cf>v

cf>j

cf>j

(4. 1 6)
Parameter tersebut menunjukkan besarnya kenaikan regangan relatif.

4.4. Kekuatan Geser Lempung Jenuh

Konsolidasi Isotropik

-------- ----

Bila suatu contoh lempung j enuh diperbolehkan berkonsolidasi p'ada alat uji triaksial di
bawah tekanan menyeluruh yang sama, maka diperlukan waktu yang cukup untuk memas
tikan b ahwa proses konsolidasinya telah selesai, kemudian ditentukan hubungan antara
angka pori (e ), atau volume spesifik (v = 1 + e), dan tegangan efektif (a3 ). Konsolidasi

Mekanika Tanah

1 06

pada alat triaksial di bawah tekanan menyeluruh disebut konsolidasi isotropik. Harus di
perhatikan bahwa p' (Persamaan 4. 1 1 ) sama dengan a; di bawah tekanan menyeluruh
yang sama. Angka pori atau volume spesifik dapat dihitung dengan Persamaan 1 . 1 7.
Hubungan antara angka pori dan tegangan efektif tergantung dari tegangan yang di
alarni oleh lempung tersebut. Bila tegangan efektif sekarang maksimum, yang pernah di
alami oleh lempung, maka lempung tersebut dikatakan terkonsolidasi normal (normally
consolidated). Sebaliknya, bila tegangan-tegangan pada sua tu saat yang lalu lebih besar dari
tegangan efektif sekarang, maka tanah tersebut dikatakan terkonsolidasi berlebihan (over
consolidated). Perbandingan nilai tegangan efektif maksimum yang lalu dengan yang se
k arang disebut Rasio konsolidasi berlebihan (overconsolidation ratio, OCR). Lempung
yang terkonsolidasi berlebihan memiliki OCR lebih besar dari lempung y;mg terkonsolidasi
normal. Biasanya konsolidasi berlebihan merupakan hasil dari.Jaktor-faktor geologi, misal
nya erosi pada lapisan di atasnya, pencairan lapisan-lapisan es, dan kenaikan muka air tanah
yang permanen. Selain itu , konsolidasi berlebihan dapat juga teijadi akibat penggunaan
tegangan yang lebih tinggi pada sebuah contoh tanah dalam alat uji triaksial.
Hubungan khusus antara e (atau v) dan a (atau p ' ) diperlihatkan pada Gambar 4. 1 0a.
AB adalah kurva untuk suatu lempung pada keadaan terkonsolidasi normal. Bila sesudah
berkonsolidasi tegangan efektif berkurang hingga mencapai titik B, maka lempung ter
sebut akan memuai dan hubungan terse but diperlihatkan sebagai kurva BC. Selama konso
lidasi dari A ke B, teijadi perubahan struktur tanah secara kontinu , tetapi struktur lem
pung tersebut tidak kembali pada struktur aslinya selarna pemuaian. Pada titik C, lempung
berada pada keadaan tak konsolidasi berlebihan dan OCR-nya adalah perbandingan antara
tegangan efektif di titik B dan tegangan efektif di titik C. Bila sekali lagi teijadi kenaikan
tegangan efektif, maka teij adi kurva konsolidasi CD, yang dikenal sebagai kurva rekom
presi, yang akhirnya menjadi makin kontinu pada kurva konsolidasi normal AB. Harus
diperhatikan bahwa tidak mungkin terdapat keadaan tegangan yang merupakan sebuah
titik di sebelah kanan kurva konsolidasi normal.
Bila tegangan efektif digambarkan pada skala logaritmik, hubungan antara angka
pori dan tegangan efektif untuk konsolidasi normal adalah linear, seperti diperlihatkan
pada Gambar 4. 1 Ob. Selain itu dimungkinkan pula untuk memperk irakan hubungan pe
muaian dan rekompresi pada garis lurus (BC).

N
A

--

-),
I

I
I
I
I

I
I

VK

I
I
I

In p'

p'

(b)

(a)

Gambar 4.1 0.

Konsolidasi isotropik

1 07

Kekuatan Geser

lah:

Persamaan untuk garis konsolidasi normal (AB) yang dinyatakan dengan v dan p ' ada
1V = N - A. lnp '

(4. I7)

di mana A. adalah kemiringan (negatif) AB dan N adalah nilai v pada p' = I kN/m 2.
Persamaan pemuaian dan garis rekompresi (BC) adaiah:

= v" - K In p '

di mana K adalah kemiringan BC dan v" adalah nilai v pada p'

Kekuatan Tak-terdrainasi

(4. I 8)
=

I kN/m2

Pada prinsipnya uji triaksial tak terkonsolidasi-tak terdrainasi (unconsolidate undrained)


memungkinkan penentuan kekuatan tak terdrainasi pada lempung dengan kondisi di la
pangan (in-situ), di mana angka pori contoh tanah pada awal pengujian tidak berubah dari
nilainya di lapangan pada kedalaman tanah saat pengambilan contoh. Tetapi di dalam
praktek, pengaruh pengambilan contoh dan persiapan menghasilkan sedikit kenaikan angka
pori. Selain itu terdapat bukti bahwa kekuatan tanah di lapangan dalam kondisi tak-ter
drainasi adalah anisotropik, di mana kekuatan tersebut tergantung pada arah tegangan
utama besar relatif terhadap orientasi lapangan dari contoh tanah.
Sesudah tekanan sel (tahanan menyeluruh) diberikan dengan tidak memperhatikan
besarnya, besarnya tegangan efektif pada contoh tidak berubah, karena untuk tanah jenuh
sempurna di bawah kondisi tak terdrainasi (undrained), kenaikan tekanan sel menyebab
kan kenaikan yang sama pada tekanan air pori (lihat Bagian 4. 7). Dengan mengasumsikan
bahwa semua contoh identik, sejurnlah uji tak terkonsolidasi-tak terdrainasi dengan harga
tekanan sel yang berbeda-beda harus menghasilkan selisih tegangan utama yang sama
pada saat keruntuhan. Hasil tersebut dinyatakan dalam tegangan total, seperti digambar
kan pada Gambar 4. I I , dengan selubung keruntuhannya horisontal, yaitu cf>u = 0 dan besar
nya kekua tan geser diberikan oleh 7 = cu . Harus diperhatikan bahwa bila besarnya tekan
an air pori p ada keruntuhan telah liukur pada serangkaian pengujian, hanya sebuah ling
karan tegangan efektif yang dihasilkan (digambarkan sebagai garis putus-putus pada
Gambar 4. I I ).
Lempung bercelah (fissured clays) dengan tekanan sel yang rendah memiliki selubung
keruntuhan yang berbentuk kurva, seperti terlihat pada Gambar 4.1 I . Hal terse but disebab
kan oleh kenyataan bahwa celah-celah tersebut terbuka pada saat pengambilan contoh, se
hingga menghasilkan kekuatan yang rendah. Hanya bila tekanan sel yang digunakan cukup
tinggi untuk menutup kembali celah-celah tersebut, kekuatannya menjadi konstan. Dengan
dernikian uji tekan tak-terkekang tidak tepat untuk lempung bercelah. Ukuran contoh
T

Selubung untu k
lempung bercelah

G1unbar 4. 1 1.

Li ngkaran tegangan efektif

Selubung keru ntu han

u = 0

Hasil-hasil uj i triaksial tak terkonsolidasi-tak terdrainasi untuk lempung jenuh.

Mekanika Tanah

1 08

lempung bercelah harus cukup besar untuk mewakili struktur massa tersebut, jika tidak,
kekuatan yang terukur akan lebih besar dari kekuatan sebenarnya di lapangan. Contoh
yang besar juga diperlukan untuk lempung yang berciri makro-pabrik.
Hasil-hasil uji tak terkonsolidasi-tak terdrainasi (unconsolidated-undrained) biasanya
digambarkan sebagai penggambaran cu terhadap kedalarnan yang bersesuaian sewaktu
pengambilan contoh. Sebagai akibat gangguan dalam pengambilan contoh, dan bila ada
ciri-ciri makro-fabrik, akan terjadi penyebaran pada gambar tersebut. Untuk lempung ter
konsolidasi normal, kekuatan tak terdrainasi biasanya meningkat secara linear sesuai
dengan peningkatan tegangan efektif vertikal a (yaitu sesuai dengan kedalaman pada saat
muka air tanah berada di muka tanah). Hal iril dapat dipersamakan dengan variasi ;:u
terhadap a'3 (Gambar 4. 1 2) pada uji triaksial tak terkonsolidasi-tak terdrainasC Bila ntuka
air tanah berada di bawah permukaan lempung, kekuatan tak-terdrainasi antara permuka
an tanah dan muka air tanah akan lebih besar daripada kekuatan pengeringan lmpung.
Skempton mengemukakan korelasi antara rasio cu/a dan indeks plastisitas (Jp)
untuk lempung terkonsolidasi normal sebagai berikut:
c = 0, 1 1 + 0,0037 /P

(4.1 9 )

(Jv

Uji triaksial terkonsolidasi-tak terdrainasi (consolidated-undrained) memungkinkan


perhitungan kekuatan terdrainasi lempung sesudah pergantian angka pori akibat proses
konsolidasi. Jadi kekuatan tak-terdrainasi merupakan fungsi dari angka pori atau tekanan
. menyeluruh (a; ) yang sesuai di m ana konsolidasi terjadi. Tekanan menyeluruh selama kon
disi tak-terdrainasi pada pengujian (yaitu ketika digunakan selisih tegangan utama) tidak
berpengaruh terhadap kekuatan lempung, meskipun tekanan tersebut biasanya sama besar
dengan tekanan pada saat terjadi konsolidasi. Hasil-hasil dari serangkaian pengujian dapat
digambarkan dengan memp1ot nilai cu (cf>u nol) terhadap tekanan konsolidasi yang ber
sesuaian a; , seperti pada Gambar 4 . 1 2 . Untuk lempung terkonsolidasi normal, hubungan
antara cu dan a3 linear melewati titik pusat. Untuk 1empung terkonsolidasi berlebihan,
hubungan tersebut tak-linear, seperti diperlihatkan pada Gambar 4. 1 2.
Uji tak terkonsolidasi-tak terdrainasi dan bagian tak terdrainasi dari uji terkonsolidasi
-tak terdrainasi dapat diselesaikan secara cepat (dengan tidak menghitung tekanan air pori),
di mana biasanya keruntuhan akan dicapai dalam waktu 1 0- 1 5 menit. Tetapi terjadi se
dikit penurunan kekuatan bila waktu pencapaian keruntuhan meningkat dan terdapat bukti
bahwa semakin besar indeks plastisitas lempung, semakin turun kekuatannya. Masing
masing penguj ian harus diteruskan sampai melewati selisih tegangan utama maksimum
atau sampai dicapai regangan aksial sebesar 20%.

Lempung berkonso l idasi


berlebihan

Gambar 4. 1 2.

(J

Uji triaksial terkonsolidasi-tak terdrainasi variasi kekua tan tak terdrainasi terhadap
tekanan konsolidasi.

Kekuatan Geser

1 09

Dalam keadaan sesungguhnya di lapangan, lempung mengalami konsolidasi anisot


tropik, yaitu di bawah keadaan regangan lateral nol, dan tegangan-tegangan efektif vertikal
dan horisontalnya berbeda. Kemudian teijadi pelepasan tegangan (stress release) pada saat
pengambilan contoh. Di dalam uj i triaksial terkonsolidasi-tak terdrainasi, contoh mengalami
konsolidasi lagi, yaitu konsolidasi isotropik di bawah tekanan menyeluruh yang sama,
yang b iasanya sama dengan besarnya tegangan efektif vertikal di lapangan. Konsolidasi
isotropik dalam uji triaksial tersebut menghasilkan angka pori yang lebih rendah dari di
lapangan, dengan demikian kekuatan tak-terdrainasi yang didapat dari pengujian lebih besar
dari kekuatan sesungguhnya di lapangan. Untuk lempung lunak yang sangat sensitif ter
hadap gangguan, dianjurkan agar contoh dikonsolidasi ulang secara anisotropik di bawah
tegangan-tegangan yang sama sepetti keadaan di lapangan sebelum dilakukan pengambilan
contoh.
Kekuatan tak-terdrainasi tanah lempung lunak dan tanah lempung kaku yang 1.1tuh .
dapat diukur di lapangan dengan menggunakan pengujian sudu (vane test). Walaupun demikian Bjerrum [4.6) telah mengemukakan bukti-bukti bahwa kekuatan tak-terdrainasi yang
diukur dengan uji sudu biasanya lebih besar daripada kekuatan rata-rata yang bekeija se
panjang permukaan keruntuhan dalam keadaan sebenarnya di lapangan (nilai kekuatan
tak-terdrainasi untuk keadaan lapangan didapatkan dengan perhitungan ulang). Ketidak
cocokan antara kekuatan hasil uji sudu dan di lapangan akan menjadi semakin besar bila
indeks plastisitas lempung sernakin besar. Ketidakcocokan tersebut sebenarnya telah di
bahas lebih dahulu di awal bab ini terhadap efek kecepatan, yaitu sernakin cepat pemberian
tegangan, semakin besar pula kekuatan gesernya. Pada uji sudu, keruntuhan geser teijadi
dalam waktu beberapa menit; sedangkan dalam keadaan sesungguhnya, tegangan tersebut
biasanya diberikan dalam waktu beberapa minggu atau bulan. Faktor sekunder mungkin
berupa keadaan anisotropik, dengan kekuatan tak-terdrainasi berubah menurut arah yang
sesuai dengan arah teij adinya keruntuhan. Bjerrum mengemukakan sebuah faktor korelasi
(}1) yang berkolerasi empiris dengan indeks plastisitas, seperti diperlihatkan pada Gambar
4. 1 3, di mana kekuatan hasil uj i sudu dikalikan oleh faktor tersebut untuk memperoleh
harga perkiraan kekuatan di lapangan.
Lempung dapat diklasifikasikan berdasarkan kekuatan geser tak-terdrainasinya, seperti
pada Tabel 4.2.

1,2

1,0

J.L

0,8

"-..

0,6

1---r---_
-

0,4
0

20

40

60

80

1 00

1 20

l nde ks p lastisitas

Garnbar 4.1 3.
Bjerrum [4.6 ] .)

Faktor kolerasi untuk k ekuatan tak-terdrainasi yang diukur dengan uji sudu. (Sesudah

Mekanika Tanah

1 10

TABEL 4.2. Klasif'Ikasi kekuatan tak-terdrainasi


(Diperbanyak dari BS 8004 : 1986 de gan izin British Standards Institution)

Kekuatan tak-terdrainasi (kN/m2)

Konsistensi

>

Sangat kaku atau keras


Kaku
Teguh sarnpai kaku (Stiff)

150
100- 150
75-100

50- 75
40- 50
2Q.- 40

Teguh

Lunak sarnpai teguh


l.unak
Sangat lunak

< 20

Pada dasarnya kekuatan geser tergantung pada tegangan efektif, tetapi hal ini ber
hubungan dengan angka pori tertentu tempat teijadinya geser. Yang paling tepat hanya
lah menyatakan kekuatan geser d alarn tegangan total untuk tanah jenuh air di bawah kon
disi tak-terdrainasi di mana angka porinya tetap konstan. Maka harga

cu tertentu hanya

digunakan untuk Iempung jenuh pada suatu angka pori tertentu (yaitu pada. kedalaman ter
tentu di lapangan).

Sensitivitas Lempung.

Beberapa jenis lempung sangat sensitif terhadap pencetakan kem

bali (remoulding), sebab lempung tersebut akan mengalami kehilangan kekuatan karena
struktur aslinya telah dirusak atau dihancurkan.

Sensitivitas suatu lempung didefmisikan

sebagai perbandingan kekuatan tak-terdrainasi dalam keadaan tidak terganggu (undisturb

ed) terhadap kekuatan tak-terdrainasi dalam keadaan tercetak kembali (remoulded) pada
k adar air yang sarna. Pencetakan kembali untuk tujuan penguj ian biasanya dihasilkan
dengan cara meremas-remas contoh tanah. Sensitivitas sebagian besar lempung biasanya di

sensitif dan bila sensi


ekstrasensitif Lempung dengan sensitifitas lebih besar
dari 1 6 disebut sebagai lempung quiks. Sensitivitas beberapa lempung quiks dapat mencapai
antara 1 dan 4. Lempung dengan sensitivias antara 4 dan 8 disebut

tivitas di antara

dan 1 6 disebut

1 00.

Kekuatan yang Dinyatakan dalam Tegangan Efektif


Kekuatan suatu lempung yang dinyatakan dalarn tegangan efektif dapat ditentukan dengan
m;nggunakan uji triaksial terkonsolidasi-tak terdrainasi (consolidated-undrained) dengan
pengukuran tekanan air pori pada saat dilakukan bagian tak terdrainasi dari pengujian,
atau dengan menggunakan uji triaksial terdrainasi. Bagian tak terdrainasi dari uji triaksial
terkonsolidasi-tak terdrainasi harus dilakukan dengan kecepatan regangan yang cukup
lamb at untuk menyamaratakan tekanan air pori di seluruh contoh tanah, di mana kecepat
an terse but merupakan fungsi dari permeabilitas lempung yang bersangkutan. Bila tekanan
air pori pada saat runtuh diketahui, maka tegangan utarna efektif

dan

dapat di

hitung dan kemudian dapat digarnbarkan lingkaran Mohrnya atau titik tegangannya. Se
jumlah pengujian, rna sing-masing dengan tekanan menyeluruh yang berbeda-beda, me
mungkinkan penggambaran selubung keruntuhan dan penentuan parameter-parameter ke
kua tan geser

'

dan

q/,

seperti diperlihatkan pad a Garnbar 4. 1 4.

Untuk lempung yang terkonsolidasi normal, nilai


'

c'

'

nol, sedangkan untuk lempung

yang terkonsolidasi berlebihan, nilai c biasanya tidak melebihi 30 kN/m2 Nilai </J biasanya
berada di antara 20 dan 3 5 , dengan nilai yang lebih rendah biasanya berhubungan dengan
harga indeks plastisitas yang tinggi, dan begitu pula sebaliknya.

11 1

Kekuatan Geser
T

Selubu ng
keruntuhan

a'

Garnbar 4.14.

Kekuatan lempung jenuh dalam bentuk tegangan efektif, dari serangkaian uji terkon
solidasi-tak terdrainasi atau uji terdrainasi.

Parameter-parameter c' dan cp' dapat juga diperoleh dengan menggunakan uji triaksial
terdrainasi (atau uji geser langsung). Kecepatan regangan harus cukup lambat untuk me
mastikan terjadinya penghilangan kelebihan tekanan air pori secara sempurna pada suatu
saat selama pemberian selisih tegangan utama sedang berlaqgsung. Dengan demikian tegang
an total dan tegangan efektif pada suatu saat dapat menjadi sama. Sekali lagi, kecepatan
regangan harus dihubungkan dengan permeabilitas tanah yang bersangkutan. Perubahan
volume yang terjadi selama pemberian selisih tegangan utarna harus dihitung pada uji ter
drainasi, sehingga dapat ditentukan koreksi luas penampang contoh tanah.
Hasil-hasil khas untuk contoh-contoh lempung terkonsolidasi normal dan terkonsoli
dasi berlebihan ditunjukkan pada Gambar 4. 1 5 . Dalam uji terkonsolidasi-tak terdrainasi,
keruntuhan untuk kedua macam contoh, terkonsolidasi normal dan terkonsolidasi ber
lebihan, terjadi pada regangan yang relatif besar. Untuk contoh terkonsolidasi normal,
tekanan air pori meningkat dengan teratur selama teij adi geser. Untuk contoh terkonsoli
dasi berlebihan, tekanan air pori pada awalnya meningkat kemudian menurun; sernakin
tinggi harga OCR-nya, sernakin besar penurunannya. Tekanan air pori tersebut dapat men
j adi negatif untuk lempung yang berkonsolidasi sangat berlebihan (heavily overconsolidated
clay) seperti diperlihatkan pada Gambar 4.1 5b. Dalam uji terdrainasi, keruntuhan untuk
contoh terkonsolidasi normal terjadi pada regangan yang relatif besar; penurunan volume
terjadi pada regangan yang relatif besar; penurunan volume terjadi selama adanya geser dan
lempung te;sebut mengeras. Keruntuhan pada contoh terkonsolidasi berlebihan pada uji
terdtainasi teijadi pada regangan yang relatif rendah, biasanya jelas kelihatan adanya se
buah titik puncak pada diagram tegangan-regangan; sesudah itu tegangan aksial makin lama
makin menurun sesuai dengan meningkatnya regangan. Sesudah penurunan awal, volume
contoh terkonsolidasi berlebihan akan meningkat pada saat sebelum dan sesudah terjadi
keruntuhan dan lempung tersebut melunak.
Kekuatan geser tanah jenuh sebagian adalah fungsi dari tegangan efektif yang relevan,
tefapi terdapat kesulitan untuk menggunakan prinsip-prinsip tegangan efektif disebabkan
oleh parameter x pada Persamaan 3.4. Parameter-parameter tegangan efektif didapatkan
dari sejumlah uj i terkonsolidasi-tak terdrainasi dengan pengukuran tekanan air pori atau
uji terdrainasi dengan pengukuran tekanan air pori atau uji terdrainasi pada contoh yang
dibuat jenuh dengan menggunakan tekanan balik (back pressure).

Alur Tegangan
Keadaan-keadaan tegangan yang berturut-turut dari sebuah contoh uji atau sebuah elemen
tanah di lapangan dapat digambarkan dengan serangkaian lingkaran Mohr atau oleh serang-

Mekanika Tanah

112

., - - - .....

I'a

(a )

Uj i konsol idasi-tak terdrainasi


lempung konsolidasi normal

Kenaika n OCR

' ""' -

(b)

Ea

--- - -

Uji konsolidasi tak terdrainasi lempung


dengan konsolidasi berlebihan

I::J.V

t.V

I::J.V

(c )

Garnbar 4.15.

... ...

Uj i terdrainasi l empung
konsolidasi normal

I'a

(d)

Uji terdra inasi lempung


dengan konsolidasi berlebihan

HasiJ;hasil khas dari uji triaksial terkonsolidasi-tak terdrainasi dan uji triaksial terdrainasi

kaiun titik tegangan yang sedikit lebih mudah. Kurva atau garis lurus yang menghubung
kan titik-titik tegangan yang relevan disebut alur tegangan (stress path), yang memberikan
gambaran yang jelas tentang keadaan-keadaan tegangan yang berturut-turut. Alur tegangan
dapat digambarkan dalam tegangan efektif maupun dalam tegangan total. Jarak horisontal
antara alur tegangan efektif dan alur tegangan total merupakan besarnya tekanan air pori
pada tegangan yang ditinjau. Pada umumnya, j arak horisontal antara kedua alur tegangan
tersebut adalah jumlah tekanan air pori akibat perubahan tegangan total dan tekanan air
pori statis. Pada prosedur uji triaksial biasa, tekanan air pori statis U-t) nol. Tetapi hila
uji triaksial dilakukan di bawah tekanan balik, tekanan air pori statis sama dengan tekanan
balik. Tekanan air pori statis dari sebuah elemen di lapangan adalah tekanan yang dihasil
k an oleh tinggi muka air tanah.
Alur-alur tegangan efektif dan tegangan total untuk uji triaksial pada Gambar 4. 1 5 di
tunjukkan pada Gambar 4. 1 6, di mana koordinat-koordinatnya adalah f(a'1 - a ) dan
f< a + a ) atau nilai ekivalen dari tegangan total. Seluruh alur tegangan total dan alur
tegangan efektif dari uji terdrainasi berbentuk garis lurus dengan kemiringan 45 . Bentuk

Kekuatan Geser

1 13

1- --j
Us

//rsp ( u s

>

0)

(cr1 + rr3)
1 !rr, + rr3 )

(a )

Uji terdrainasi

(b)

Uji terkonsol idasi-takterdrainasi


lempung terkonsol idasi normal

( a1 + rr3 )
(a1 + a3 )

(c )

Uj i terkonsolidasi-tak terdrainasi
lempu ng terkonsol idasi-berlebihan

(a; + a3 )
( a, + a3)

Gambar 4.16.

Alur tegangan untuk uji triaksial

terinci dari alur tegangan efektif untuk uji terkonsolidasi-tak terdrainasi tergantung pada
lempung yang diuji. Bila alur-alur tersebut dalam uj i terdrainasi berimpit, berarti tidak di
gunakan tekanan balik. Garis putus-putus pada Gambar 4. 1 6c adalah alur tegangan efektif
untuk lempung terkonsolidasi sangat berlebihan, di mana tekanan air pori pada saat runtuh
adalah negatif. Alur-alur tersebut dapat juga digambarkan dengan menggunakan koordinat
'
koordinat q dan p ' (Persamaan 4. 1 0 dan 4. 1 1 ) a tau dengan nilai-nilai ekivalen dari tegang
an total. Dalam hal ini seluruh alur tegangan total dan alur tegangan efektif untuk uji ter
drainasi akan berbentuk garis lurus dengan kemiringan 3 ke arah vertikal berbanding 1 ke
'
arah horisontal. I-lal ini disebabkan tidak adanya perubahan pada a3 dan perubahan q
dan p' (atau q dan p) merupakan perbandingan 3 : 1 .

Mekanika Tanah

1 14

Contoh Soal 4. 1.
Hasil-hasil berikut diperoleh dari uji geser langsung pada suatu contoh pasir yang dipadat
kan hingga mencapai kerapatan di lapangan. Hitung nilai parameter kekuatan gesernya.
Tegangan normal (kN/m2 )
Tegangan geser pada saat runtuh (kN/m2 )

50
36

1 00
80

2 00 300
1 5 4 2 35

Apakah keruntuhan akan tetjadi pada suatu bidang di dalam massa pasir, yaitu pada titik
di mana tegangan gesernya 1 22 kN/m2 dan tegangan efektif norrnalnya 246 kN/m2?
Nilai-nilai tegangan geser pada saat runtuh diplot terhadap nilai tegangan normal yang
bersesuaian yang ditunjukkan pada Gambar 4. 1 7. Selubung keruntuhan adalah garis yang
menghubungkan titik-titik yang menyatakan tegangan runtuh. Pada kondisi ini, selubung
keruntuhannya adalah garis lurus melalui titik asal o(O,O). Oleh sebab itu nilai c ' adalah
nol. Jika skala tegangannya sama, maka nilai 1/J' dapat diukur langsung dan nilainya adalah
38 .

Hasil plot kondisi tegangan r = 1 22 kN/m2 , a' = 246 kN/m2 , berada di bawah se
lubung keruntuhan, oleh sebab itu tidak akan terjadi keruntuhan.

Contoh. Soa/ 4.2.


Hasil-hasil yang ditunjukkan dalam Tabel 4-3 diperoleh dari keruntuhan pada serangkaian
uji triaksial pada suatu contoh lempung jenuh dengan diameter awal 38 mm, panjang

Tabel 4.3.
Jenis

Tekanan

pengujian

sel

Beban

atN/m2)

(a)

Tak-terdrainasi

(b)

Terdrainasi

Defonnasi

(mm)

(N)

aksial

aksial

9,83
1 0,06
10,28

222

215

200
'4
00
6 00

226
467

10,81
12.26

848

200
400

600

1 265

9,5

250

"'

..__

..

1 50

1 00

so

/4

50

/4

1 00

,/

_J/

1 50

Gambar 4.17.

200

/4

[!)

(2 4 6, 1 2 2 )

2 50

volume
ml)

6,6
8,2

14,1 7

200

'Peru
bahan

300

llS

Kekuatan Geser

Tabel 4.4.
a3

(k N/m2)

(a)
(b)

!t:i/1
. 0

V/V0

Luas

(kN/m

Luas

a l -a3

(mm2 )

2)

Q}

(k N/m2 )

200

0,1 29

1 304

1 70

3 70

400

0,132

1 309

600

0, 1 35

164 "
1 72

564

200

0,142

382

582

400

0,161

600

0,186

6 91

1 6 20

1312
0,077
0,095

0, 11 0

1 222
1 225
1 24 0

1020

772

1 091

76 mm. Hubungan nilai-nilai parameter kekuatan geser terhadap (a) tegangan total (b).
tegangan efektif.
Selisih tegangan utama pada saat runtuh untuk masing-masing pengujian diperoleh
dengan membagi beban aksial terhadap luas penampang melintang contoh tanah pada saat
runtuh (Tabel 4.4.). Luas penampang melintang yang dikoreksi dihitung dari Persamaan
4. 1 2 . Tentunya di sini tidak ada perubahan volume selama uji tak-terdrainasi pada lempung
jenuh. Nilai awal dari panjang, luas, dan volume untuk masing-masing contoh tanah ada
lah:

/0 = 76 mm

A0 = 1 1 35 mm 2

lingkaran Mohr pada saat runtuh dan selubung keruntuhan yang bersesuaian dengan ke
dua seri peng ian ditunjukkan pada Gambar 4.1 8. Pada kedua kasus ini, selubung kerun
tuhannya adalah garis singgung lingkaran Mohr. Parameter-parameter.egangan total, yang
menyatakan kekuatan tak-terdrainasi lempung adalah:
c. = 85 kN/m 2

Parameter-parameter tegangan efektif, yang menyatakan kekuatan terdrainasi lempung ada


lah:
c' = 20 kN/m 2

'

z
.><
E

..

400

----+--------4-------+--1

Gambar 4.18.

Mekanika Tanah

116

Contoh Soal 4. 3.
Hasil-hasil yang ditunjukkan dalam Tabel 4.5 diperoleh dari keruntuhan serangkaian uji
terkonsolidasi-tak terdrainasi (consolidated-undrained) pada contoh lempung yang jenuh,
di mana, diukur juga tegangan air porinya. Hitung nilai-nilai parameter tegangan efektif
c1 dan r/J1
Tabel 4.5.
Tekanan
sel

Tekanan

Selisih
tegangan utama

(kN/m2 )

(kN/m2)

150

341
504

air pori
(kN/m2 )

1 92

300

450

80

154
222

Nilai-nilai tegangan utama efektif a dan a; pada saat runtuh dihitung dari tegangan
utama total dikurangi tekanan air pori pada saat runtuh. (Lihat Tabel 4.6: semua tegangan
dalam kN/m 2 )

Tabel 4. 6.

0'3

Ut

34 2
641
954

150
300
450

0'3

70
146
228

(]1

26 2
487
732

i<at - a3 ) 2 O't + (]3


1

96
1 70
25 2

( I

I)

1 66
316
480

Lingkaran-lingkaran Mohr dalam tegangan efektif dan selubung keruntuhannya ditunjuk


kan pada Gambar 4.1 9a. Parameter-parameter kekuatan gesernya diukur, yang menghasil
kan:
c' = 1 6 kN/m 2

Cara lainnya adalah menyatakan kondisi tegangan pada saat runtuh dengan titik-titik
tegangan, yaitu dengan memplot i(a1 - a3 ) terhadap f(a; + a13 ) seperti ditunjukkan
pada Gambar 4. 1 9b, kemudian menggambarkan suatu garis yang melalui titik-titik tersebut.
Nilai-nilai parameter yang dimodifikasi adalah:

kemudian

c' = 29o = 1 5 kN/m 2


13
cos

KekUiltan Geser

117

600

400

a' kN;m 2

800

,. ,
300

..

200

b"'
I

-IN 1 00
0

/0

1 00

/
200

0/

I la; +a;) kN/m 2


300

400

,..

500

600

( b)

Gambar 4.19.

4. 5 .

Konsep Kondisi Kritis

Konsep kondisi kritis, menurut Roscoe, Schofield dan Wrath [4. 1 1 ] , menghubungkan
tegangan efektif dan volume spesifik yang bersesuaian (v = 1 + e) dari tanah lempung ketika
mengalami pergeseran (shearing) pada kondisi-kondisi terdrainasi (drained) dan tak-terdrai
nasi (undrained). J adi, ini mempersatukan karakteristik-karakteristik kekuatan geser dan
deformasi. Konsep ini merupakan idealisasi dari observasi pola-pola perilaku lempung jenuh
yang tercetak kembali pada uji tekan triaksial, tetapi diasumsikan bahwa hal tersebut di
atas berlaku juga untuk lempung tidak terganggu. Telah ditunjukkan bahwa terdapat per
mukaan karakteristik yang membatasi semua kemungkinan keadaan suatu lempung dan
bahwa semua alur tegangan efektif mencapai atau mendekati satu garis pada permukaan
yang mendefinisikan suatu kondisi di mana lempung akan berada pada volume konstan
untuk tegangan efektif yang konstan. Konsep ini dapat dikembangkan untuk serangkaian
tegangan tiga dimensi. Tetapi, perlu diketahui bahwa terdapat beberapa permukaan karak
teristik pada sistem-sistem tegangan yang berbeda.
Alur tegangan efektif untuk uji triaksial terkonsolidasi-tak terdrainasi dan uji triaksial
terdrainasi (berturut-turut C 'A ' dan C ' B ') pada contoh-contoh lempung yang terkonsoli
da.si normal ditunjukkan pada Gambar 4.20a, di mana sumbu-sumbu koordinatnya adalah

Mekanika Tanah

1 18

S'

(b)

(a)

p'

'

(d)

Gambar

'
q dan

p'

4.20.

In p '

KGnsep kondisi kritis: lempung terkonsolidasi normal.

p;

(Persamaan 4. 1 0 dan 4.1 1). Masing-rnasing contoh dibiarkan terkonsolidasi pada


tekanan sel
yang sama dan keruntuhan terjadi berturut-turut pada A' dan B ' , di mana
titik-titik ini terletak pada atau mendekati satu garis lurus os ' yang melalui titik asal se
hingga keruntuhan terjadi j ika alur tegangan mencapai garis ini. Jika serangkaian uji terkon
solidasi-tak terdrainasi dilakukan pada contoh yang masing-rnasing dikonsolidasikan pada
harga c yang. berbeda, semua alur tegangan akan memiliki bentuk-bentuk yang sama
dengan yang terlihat pada Gambar 4.20a. Alur-alur tegangan untuk serangkaian uji terdrainasi adalah garis lurus yang naik dari titik-titik yang mewakili
dengan perbandingan
kemiringan 3 vertikal dan 1 horisontal. Pada semua pengujian ini, keadaan tegangan pada
saat runtuh akan terletak pada atau mendekati garis lurus os ' .
Kurva konsolidasi isotropik (NN) untuk lempung terkonsolidasi normal akan berbentuk
seperti pada Gambar 4. 20b, dengan sumbu-sumbu koordinatnya adalah v dan p'. Volume
contoh selama pemberian selisih tegangan utama pada uji terkonsolidasi tak-terdrainasi
lempung j enuh akan tetap , karena itu hubungan antara v dan p' akan diwakili oleh satu
garis horisontal yang berawal pada titik (C) pada kurva konsolidasi yang bersesuaian
dengan p'c dan berakhir pada titik (A") yang mewakili nilai
pada saat runtuh. Selarna uji

p'

p'

Kekuatan Geser

1 19

terdrainasi volume contoh akan berkurang dan hubungan antara v dan p' akan diwakili
oleh kurva CB". Jika serangkaian uji terkonsolidasi-tak terdrainasi dan uji terdrainasi di
lakukan terhadap beberapa contoh yang rnasing-masing dikonsolidasikan pada nilai p
yang berlainan, titik-titik yang mewakili nilai-nilai v dan p' pada saat runtuh akan terletak
pada atau mendekati kurva s" s" yang berbentuk sama dengan kurva konsolidasi.
Data ya:ng terdapat pada Gambar 4.20a dan Gambar 4.20b dapat dikombinasikan
dalam suatu plot tiga-dimensi dengan koordinat-koordinat q ', p '" dan v., seperti terlihat
pada Gambar 4.20c. Pada plot ini, garis OS" dan kurva S"S" bergabung membentuk kurva
tunggal SS. Kurva SS dikenal dengan garis kondisi kritis (critical state line), di mana titik
titik pada garis ini mewakili kombinasi q ' , p', dan v di mana terjadi keruntuhan geser dan
keruntuhan berturutan pada tegangan efektif konstan. Pada Gambar 4.20a dan Gambar
4.20b, os' dan s" s'' adalah proyeksi garis kondisi kritis pada bidang-bidang q'-p ' dan
v-p'. Alur-alur tegangan untuk uji terkonsolidasi-tak terdrainasi (CA) dan uji terdrainasi
(CB) dikonsolidasikan pada tekanan p y'ang sama, juga ditunjukkan pada Gambar 4.20c.
1Alur tegangan untuk uji terkonsolidasi-tak terdrainasi terletak pada bidang CKLM sejajar
dengan bidang q '-p', di mana nilai v konstan selama bagian tak-terdrainasi dari uji tersebut.
Alur tegangan untuk uji terdrainasi terletak pada suatu bidang yang tegaklurus terhadap
bidang q ' - p' dengan kemiringan 3 : 1 ke arah sumbu q ' . Kedua alur tegangan tersebut
bermula pada titik C pada kurva konsolidasi normal NN yang terletak pada bidang v-p ' .
Alur-alur tegangan untuk serangkaian uji terkonsolidasi-tak terdrainasi dan uji terdrai
nasi pada contoh yang masing-masing dikonsolidasikan pada nilai p; yang berbeda semua
nya akan terletak pada permukaan melengkung, yang membentang antara kurva konsoli
dasi normal NN dan garis kondisi kritis SS, yang disebut permukaan kondif. batas (state
boundary surface). Suatu contoh tanah tidak akan pernah mencapai kondisi yang diwakili
oleh suatu titik di luar permukaan ini.
Alur-alur tegangan untuk uji triaksial terkonsolidasi-tak terkonsolidasi dan uji terdrai
nasi (D'E' dan D'F') pada contoh lempung yang terkonsolidasi sangat berlebihan (heavily
overconsolidated) ditunjukkan dalam Gambar 4.2 l a. Alur-alur tegangan tersebut berawal
dari suatu titik (D') pada kurva ekspansi (rekompresi) lempung . Contoh terkonsolidasi
tak terdrainasi mengalami keruntuhan pada titik E' pada garis U'H' di atas proyeksi (OS')
garis kondisi kritis jika pengujian dilanjutkan setelah keruntuhan terjadi, alur tegangan di
harapkan berada sepanjang U'H' dan mendekati titik H' pada garis kondisi kritis. Tetapi,
makin tinggi OCR', makin besar regangan yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi kritis.
Deformasi contoh uji pada uji terkonsolidasi-tak terdrainasi akan tidak seragam pada
regangan yang besar dan contoh tersebut tidak akan mencapai kondisi kritis secara kese
luruhan. Contoh terdrainasi mencapai keruntuhan pada titik F' juga pada garis U'H'. Se
telah keruntuhan, tegangan berkurang sepanjang alur tegangan yang sama, mendekati garis
kondisi kritis pada titik X' . Tetapi volume contoh yang terkonsolidasi sangat berlebihan
akan bertambah (dan melunak) sebelum dan sesudah terjadi keruntuhan pada uji terdrai
nasi. Daerah sempit yang berdekatan dengan bidang runtuh menjadi lei.Jih lernah dibanding
keseluruhan sisa lempung dan contoh yang tidak mencapai kondisi kritis. Hubungan yang
sesuai antara v dan p ' diwakili oleh garis-garis DE" dan DF" dalam Gambar 4.2 1 b. Garis
garis ini mendekati tetapi tidak mencapai garis kondisi kritis (S"S'') pada titik-titik H"
dan X" . Volume contoh tidak terdrainasi tetap konstan selama mengalami geser tetapi
contoh terdrainasi, setelah mula-mula berkurang, akan bertambah sampai bahkan melebihi
keruntuhan.
Garis U'H' adalah proyeksi permukaan batas kondisi yang dikenal sebagai permukaan
Hvorslev, untuk lempung yang terkonsolidasi sangat berlebihan. Tetapi, diasumsikan
bahwa tanah tidak dapat menahan tegangan tarik efektif, yaitu tegangan utama kecil
efektif (a) tidak diperkenankan lebih kecil dari nol. Suatu garis (OU') yang melewati

Mekanika Tanah

1 20

S"

N
S"
O L-----------------------
'
p

(b)

q'

Gambar 4.21. Konsep kondisi kritis : lernpung terkonsolidasi berlebihan.

121

Kekuatan Geser

titik asal dengan kemiringan 3 : 1 (q'jp ' = 3 untuk a; = 0 pada Persamaan 4. 10 dan 4. 1 1)
adalah suatu batas dari kondisi-batas. Pada plot q ' - p ' - v, yang ditunjukkan dalam
Gambar 4.2 1 c, garis ini menjadi sebuah bidang yang terletak antara garis TT (disebut
potongan " tanpa tarikan") dan sumbu v. Jadi permukaan kondisi batas untuk lempung
yang terkonsolidasi sangat berlebihan terletak antara TT dan garis kondisi kritis SS. Pada
Gambar 4.2 l c, alur tegangan tak-terdrainasi (DE) terletak pada bidang RHUV yang sejajar
dengan bidang q ' - p '. Alur tegangan terdrainasi (DF) terletak pada bidang WXYD' yang
tegaklurus terhadap bidang q ' - p' dan miring dengan perbandingan 3 : 1 ke arah sumbu
I

q.

Juga ditunjukkan dalam Gambar 4.2 1a dan 4.2 l c, adalah alur-alur tegangan untuk
uji terkonsolidasi-tak terdrainasi dan uji terdrainasi (G'H' dan G'J ' ) pada contoh lempung
yang sama tetapi terkonsolidasi sedikit berlebihan (lightly overconsolidated), yang ber
awal dari nilai yang sama volume spesifik contoh yang terkonsolidasi sangat berlebihan.
Titik awal pada alur tegangan (G') berada pada kurva ekspansi (atau rekompresi) ke arah
kana proyeksi garis kondisi kritis S"S" dalam Gambar 4.2 l b . Pada kedua uji tersebut
keruntuhan terjadi pada titik-titik yang terletak pada atau mendekati garis kondisi kritis.
Selama uji terdrainasi, contoh yang terkonsolidasi sedikit berlebihan mengalami pengu
rangan volume dan pengerasan; tidak terjadi pengurangan tegangan setelah teijadi kerun
tuhan. Sebagai akibatnya, deformasi contoh tersebut relatif seragam dan kondisi kritis akan
'
tercapai
Potongan lengkap dari permukaan kondisi batas, untuk lempung-lempung yang terkon
solidasi normal dan terkonsolidasi berlebihan, pada sebuah bidang yang memiliki volume
spesifik konstan adalah RHU dalam Gambar 4.2 1c. Bentuk potongannya akan sama pada
semua bidang yang memiliki volume spesifik konstan. Suatu potongan tunggal (TSN)
dapat digambar dengan sumbu-sumbu koordinat q 'jp; dan p 'fp;, seperti terlihat dalam
'
Gambar 4.22, di mana p; adalah nilai p pada perpotongan bidang bervolume spesifik
konstan yang diberikan dengan kurva konsolidasi normal. Pada Gambar 4.22, titik N ber
ada pada garis konsolidasi normal, S berada pada garis kondisi kritis, dan T pada potongan
'tanpa tarikan'. Suatu contoh yang kondisinya diwakili oleh sebuah titik yang terletak di
antara N dan garis vertikal yang melalui S dikatakan sebagai basah kritis (wet of critical),
yaitu kadar airnya lebih tinggi dari kadar air lempung pada kondisi kritis, pada p ' yang
sama. Suatu contoh yang kondisinya diwakili oleh sebuah titik yang terletak di antara
titik pusat dan garis vertikal yang melalui S disebut kering kritis (dry of critical).
Sebagai ringkasan, permukaan kondisi batas menghubungkan garis-garis NN, SS, dan
TT dalam Gambar 4.2 1 c dan menandai batas semua kombinasi tegangan-tegangan q ' dan
p' da volume spesifik v. Bidang antara TT dan sumbu v adalah batas keruntuhan tanpa
-

'
q
p
s

Kering kritis

Gambar 4.22.

Potongan lengkap permukaan kondisi batas.

Mekanika Tanah

1 22

tarikan. Garis kondisi kritis SS mendefinisikan semua kemungkinan kondisi-kondisi pada


keruntuhan ultimit, yaitu tetap meregang dengan volume konstan pada tegangan yang
konstan. Pada lempung yang terkonsolidasi normal, alur-alur tegangan untuk uji terdrai
nasi dan uji tak-terdrainasi terletak seluruhnya pada permukaan kondisi batas; di mana
keruntuhan dicapai pada sebuah titik pada garis kondisi kritis; kondisi lempung tersebut
adalah basah kritis. Pada lempung yang terkonsolidasi berlebihan, alur tegangan sebelum
keruntuhan untuk uji terdrainasi dan uji tak-terdrainasi terletak di dalam permukaan
kondisi batas. Terdapat sedikit perbedaan antara lempung yang terkonsolidasi sangat ber
lebihan dan lempung terkonsolidasi sedikit berlebihan. I..empung yang terkonsolidasi
sangat berlebihan mencapai keruntuhan pada suatu titik pada permukaan kondisi batas
pada sisi kering daripada garis kondisi kritis; secara bertahap alur tegangan bergerak
sepanjang permukaan kondisi batas tetapi tidak mungkin mencapai garis kondisi kritis.
l..empung yang terkonsolidasi sedikit berlebihan tetap berada dalam kondisi basah kritis
dan mencapai keruntuhan pada garis kondisi kritis.
Karakteristik pasir lepas dan pasir rapat selama mengalami geser pada kondisi terdrai
nasi secara umum sama dengan lempung yang terkonsolidasi berlebihan, di mana kerun
tuhan terjadi pada permukaan kondisi batas pada sisi kering dari garis kondisi kritis.
Persamaan proyeksi garis kondisi kritis (OS' dalam Gambar 4.20a) pada bidang q' p'
adalah:

(4.20)

q' = Mp'

di mana M adalah kemiringan oc '. Jika proyeksi garis kondisi kritis pada bidang V p '
diplot kembali pada bidang V ln p ' , rilaka proyeksi tersebut akan berbentuk garis lurus
sejajar dengan garis konsolidasi normal yang bersesuaian (gradien - X) seperti terlihat
dalam Gambar 4.20d. Persamaan garis kondisi kritis, dalam v dan p ', dapat ditulis sebagai:
-

V = r - A. In p'

'
di mana r adalah nllai v pada garis kondisi kritis di mana p =

(4.2 1 )

1 kN/m2

Contoh &xz/ 4.4.


Parameter-parameter berikut adalah dari lempung jenuh yang terkonsolidasi normal: N =
2,48, X = 0,1 2, r = 2,49, dan M = 1 ,35. Perkirakan besarnya selisih tegangan utarna dan
angka pori pada saat terjadi keruntuhan dalam uji triaksial tak-terdrainasi dan terdrainasi
pada contoh lempung yang terkonsolidasi di bawah tekanan menyeluruh sebesar
300 kN/m2
Setelah konsolidasi normal sebesar 300 kN/m 2 (p), volume spesifik (vJ adalah se
besar:

v, = N - A. In p

= 2,48 - 0, 1 2 ln 300 = 1 ,80


Pada uji tak-terdrainasi terhadap lempung jenuh, perubahan volume sama dengan
nol itu , karena itu volume spesifik pada saat runtuh (v1) juga akan sama dengan 1 ,80, se
hingga angka pori pada saat runtuh (e1) akan sebesar 0,80.
Dengan asumsi bahwa keruntuhan terjadi pada garis kondisi kritis,

qj = Mpj

dan nilai p dapat diperoleh dari Persamaan 4.2 1. Karena itu:

Kekuatan Geser

qj = M exp

1 23

( v1)
(
)
r

= 1, 3 5 exp

2,41 - 1 ,80
0,1 2

= 2 1 8 kN/m2 = (ut - u3 )1

Untuk uji terdrainasi, kemiringan alur tegangan pada plot q'


qj

3(pj - p)

Karena itu,

( )
- p

3M p 3 X 1,35 X 300
=
' qf =
3 - 1,35
3-M
-

= (u 1 - u3)1

Maka

Pt I

qj 736
- 545 kN/m
M 1,3 5

736 kN/m

p'

adalah 3, jadi:

V! = r - A ln pj = 2,41 - 0,1 2 ln 545 = 1,65


Dengan demikian,
e1 = 0,65

4. 6. Kekuatan Sisa

Dalam uji triaksial terdrainasi, hampir semua lempung akan mengalami penurunan kekuat
an geser pada saat regangan bertambah besar setelah kekuatan tertingginya tercapai. Tetapi
dalam uji ini terdapat suatu batas regangan yang dapat diterapkan pada contoh. Metode
yang paling disukai untuk menyelidiki kekuatan geser lempung pada regangan yang besar
adalah dengan cincin geser khusus (specialized ring shear) [4.3] , yaitu sebuah alat geser
langsung yang berbentuk cincin. Pada contoh yang berbentuk cincin (Gambar 4.23) diker
jakan suatu geseran, dengan tegangan normal tertentu, di atas bidang horizontal dengan
memutar setengah bagian alat tersebut relatif terhadap setengah bagian lainnya; tidak ada

Garnbar 4.23. Uji cincin geser.

Mekanika Tanah

1 24

Puncak

Selubung keruntuhan

Si sa
I

a'

Perpindahan geser

Gambar 4.24.

Kekuatan sisa.

batas berapa besar perpindahan geser antara kedua belahan contoh tanah tersebut. Laju
putaran harus cukup larnbat untuk memastikan bahwa contoh tanah tersebut tetap ber
ada dalarn kondisi terdrainasi. Tegangan geser, yang dihitung dari torsi yang diberikan,
diplot terhadap perpindahan geser seperti terlihat dalarn Garnbar 4.24.
Kekuatan geser turun drastis di bawah nilai puncaknya dan lempung pada daerah yang
berdekatan dengan bidang runtuh akan melunak dan mencapai kondisi kritisnya. Tetapi,
karena ketidakseragaman regangan pada contoh, titik pada kurva yang berhubungan
dengan kondisi kritis tidak mudah ditentukan, Dengan berlanjutnya perpindahan geser,
kekuatan geser juga terns berkurang, di bawah harga kondisi kritisnya, dan akhirnya men
capai suatu nilai sisa pada perpindahan yang relatif besar. Jika lempung tersebut me
ngandung partikel ini sejajar dengan bidang runtuh (dalam satu daerah sempit yang ber
dekatan dengan bidang runtuh) pada saat kekuatan gesernya berkurang menjadi nilai sisa
nya. Tetapi reorientasi mungkin tidak teijadi bila partikel-partikel berbentuk piring memi
liki friksi antarpartikel yang tinggi. Pada kasus ini, dan pada tanah yang mengandung cukup
banyak partikel-partikel utuh, partikel-partikel akan menggelinding dan bertranslasi ketika
kekuatan sisanya harnpir tercapai.. Harus diperhatikan bahwa konsep kondisi kritis mem
pertirnbangkan deformasi menerus pada seluruh contoh; sedangkan pada kondisi sisa, lebih
ditekankan pada orientasi atau translasi partikel-partikel dalarn daerah geser.
Hasil dari serangkaian pengujian, di dalarn suatu rentang nilai tegangan normal ter
tentu, memungkinkan diperolehnya selubung keruntuhan baik untuk kekuatan puncak
maupun kekuatan sisa. Kekuatan puncak didefinisikan sebagai:
(4.22a)
dan kekuatan sisa:
(4.22b)

di mana c; dan 1/l, adalah parameter kekuatan sisa dalarn tegangan efektif. Data kekuatan
sisa untuk suatu rentang tanah yang cukup besar telah diterbitkan [4.8 ] . Untuk sebagian
besar tanah, nilai c; relatif rendah dan dapat diarnbil nol. Secara umum nilai qJ,. berkurang
dengan bertambahnya kandungan lempung. Nilai-nilai relatif kekuatan puncak dan ke
kuatan sisa dapat dinyatakan dengan Indeks getas (Brittleness Index, In), yang didefinisi
kan sebagai:

Kekuatan Geser

1 25

- --Is -

(4.23)

7:!

Besar In untuk tanah khusus tergantung pada tingkatan tegangan nonnal efektifnya.

4. 7. Koeflsien Tekanan Pori


Koefisien-koefisien tekanan pori dipakai untuk menyatakan respons tekanan pori terhadap

perubahan

tegangan total di bawah kondisi tak terdrainasi. Nilai-nilai koefisien lni dapat di

tentukan di laboratorium dan dapat dipakai untuk memperkirakan tekanan pori di lapang
an pada kondisi tegangan yang sama

(/ ) Kenaikan Tegangan Isotropik.

Tinjaulah satu elemen tanah, dengan volume

V dan porositas n, yang berada dalam suatu

keseimbangan tegangan-tegangan utama o 1 , o2 , dan o3 , seperti terlihat dalam Gambar


4.25 , di mana tekanan pori adalah u 0 Pada elemen tersebut dikeijakan pertambahan
tegangan total o3 yang sama pada setiap arah, yang menghasilkan kenaikan segera tekanan
pori

o3 - 3
c;v(o3 - 3)

Kenaikan tegangan efektif pada tiap arah =


Reduksi volume lempengan tanah =
di mana

c; = kompresibilitas lempengan tanah pada suatu kenaikan tegangan efektif iso

tropik.
Reduksi volume ruang pori =
d i mana

C11 n V3

C11 = kompresibilitas cairan pori pada suatu kenaikan tekanan isotropik.

Jika partikel tanah diasumsikan inkompresibel dan jika tidak teij adi aliran cairan pori,
maka reduksi volume lempengan tanah harus sama dengan reduksi volume ruang pori,
yaitu:

C. V(Aa3 - Au3)

CvnVL\u3

Karena itu

Gambar 4.25. Elernen tanah pada kenailtan tegangan isotropik

Mekanika Tanah

1 26
1 ,00

0,80
0,60
0,40
0,20
r-

Gambar 4.26.

V
---70

80
s, (%)

90

1 00

Hu bungan tipikal antara B dan tingkat kejenuhan.

Jika 1/[1 + n(Cv!C.)] = B yang didefinisikan sebagai koefisien tekanan pori,

L\u3

(4.24)

BL\cr 3

Pada tanah jenuh sempurna, kompresibilitas cairan pori (air saja) dapat diabaikan di
bandingkan dengan kompresibilitas lempengan tanah, karena itu CvfCs -+ 0 dan B -+ 1 .
Persamaan 4.24 dengan B = 1 telah diasumsikan pada pembahasan kekuatan tak-terdainasi
pada bab sebelurnnya. Pada tanah jenuh sebagian, kompresibilitas cairan pori tinggi karena
adanya udara pori, karena itu CvfCs > 0 dan B < 1 . Variasi B pada suatu tingkat kejenuh
an tanah tertentu ditunjukkan pada Gambar 4.26.
Nilai B diukur dengan alat triaksial. Sebuah contoh dipasang pada alat di bawah tekan
an sel sembarang dan tekanan air pori diukur (setelah konsolidasi, bila dikehendaki).
Pada kondisi tak-terdrainasi, kemudian tekanan sel ditambah (atau dikurangi) sebesar a2
dan perubahan tekanan air pori () dari nilai awalnya diukur, yang memungkinkan di
hitungnya nilai B dari Persamaan 4.24.

(2) Kenaikan Tegangan Utama Besar


Tinjaulah sekarang suatu kenaikan tegangan utama besar a1 saj a, seperti terlihat dalam
Gambar 4.27, yang menghasilkan kenaikan segera tekanan pori 1 .
Kenaikan tegangan efektif adalah:

4\ cr = L\ cr 1 - L\u1
L\cr = L\cr2 = - L\u1

Gambar 4.27.

Elemen tanah pada kenaikan tegangan u tama besar.

Kekuatan Geser

1 27

Jika tanah berperilaku seperti material elastis , maka reduksi volume lempengan tanah akan
sama dengan

-!C. V(a1 - 3u 1 )
Reduksi volume ruang pori adalah

CvnVu1
Kedua perubahan volume tersebut akan sama untuk kondisi tak-terdrainasi, yaitu,

-!C. V(a1 - 3u d = Cvn Vu 1


Karena itu

1 = 1

( c")
1

1 + ne.

= -!Ba 1

Tanah, bagaimanapun juga, tidaklah elastis dan persamaan di atas ditulis kembali dalam
bentuk umum:
(4.2 5 )
d i mana A adalah koefisien tekanan pori yang ditentukan dari percobaan. A B dapat juga
ditulis sebagai.A. Pada tanah jenuh (B = 1 ):
(4.26)
Nilai A untuk tanah jenuh sempurna dapat ditentukan dari pengukuran tekanan air
pori pada saat penerapan selisih tegangan utama di bawah kondisi tak-terdrainasi dalam uji
triaksial. Perubahan tegangan litama besar total sama dengan nilai selisih tegangan utama
terapan dan jika perubahan tekanan air pori yang bersesuaian diukur, nilai A dapat dihitung
dari Persamaan 4.26. Nilai koefisien pada sembarang keadaan pengujian dapat diperoleh,
tetapi nilai pada saat runtuh lebih menarik.
Untuk tanah yang sangat kompresibel seperti lempung-lempung yang terkonsolidasi
normal, nilai A didapati terletak dalam rentang 0,5 sampai 1 ,0. Pada lempung yang sangat
sensitif, kenaikan tegangan utama besar dapat menyebabkan kerusakan struktur tanah, se
hingga menghasilkan tekanan air pori yang sangat tinggi dan nilai A yang lebih besar dari 1 .
Untuk tanah dengan kompresibilitas rendah seperti lempung yang terkonsolidasi sedikit
berlebihan, nilai A terletak dalam rentang 0 sampai 0,5 . Jika lempung tersebut terkonsoli
dasi sangat berlebihan, terdapat kecenderungan pada tanah untuk berdilatasi ketika tegang
an utama besarnya dinaikkan; tetapi dalam kondisi tak-terdrainasi, air tidak akan dapat di
masukkan ke dalam elemen dan menghasilkan tekanan air pori negatif. Nilai A untuk tanah
yang terkonsolidasi sangat berlebihan terletak antara -0,5 dan 0. Suatu hubungan tipikal
antara nilai A pada saat runtuh (A!) dan OCR untuk lempung jenuh sempurna terlihat
dalam Gambar 4.28.
Untuk kondisi regangan lateral nol pada elemen tanah, reduk si volume mungkin ter
jadi pada arah tegangan utama besar saja. Jika csO adalah kompresibilitas uni-aksial lem
pengan tanah, maka pada kondisi tak-terdrainasi:

Mekanika Tanah

1 28
1 ,00

0,80

1\

0,60

At 0,40

"

0,20

'\.

0
-0,20

Gambu 4.28.

"

.......

......

r--.t-""'

10

20

OCR

Hubungan tipikal antua A pada saat runtuh dan OCR.

Karena itu,

A .1a1

di mana A = 1 / [1 + n(Cv/CsO)] . Untuk tanah jenuh sempurna, /Cs0 0 dan A 1,


hanya untuk kondisi regangan lateral nol. Ini diasumsikan dalam pembahasan konsolidasi
dalam Bab 3.

(3) Kombinasi Kenaikan


Kasus-kasus 1 dan 2 di atas dapat dikombinasikan untuk mendapatkan respons tekanan
pori D.u terhadap kenaikan tegangan isotropik a3 dan kenaikan tegangan aksial
(a 1 - a3 ) seperti yang terjadi pada uji triaksial Dengan menggabungkan Persamaan
4.24 aan 4.25 .
.1u

=
=

.1u 3

+ .1u1

B [.1a3

+ A (.1a1 - .1a3)]

(4.27)

Koefisien keseluruhan B dapat diperoleh dengan memb agi Persamaan 4.2 7 dengan a 1 :

=s
.1a 1

Karena itu
.1u

.1at

.1a3
.1a 1

+A l

B 1 - (1

.1a3
.1a 1

)]

.1a3
A) 1 - .1at

)]

Kekuatan Geser

1 29

atau

Au
Acr1

(4.28)

Karena tanah bukan material elastis, koefisien-koefisien tekanan pori tidak konstan,
dan nilainya tergantung pada tingkat tegangan darimana koefisien-koefisien tersebut di
tentukan.

Contoh Soa/ 4.5.


Hasil-hasil berikut menunjukkan uji triaksial terkonsolidasi-tak terdrainasi pada contoh
lempung j enuh air dari bawah tekanan menyeluruh (tekanan sel) sebesar 300 kN/m2

!s.l/10
cr1 - cr3 (kN/m2)
u (kN/m2)

0
0
0

0,0 1
1 38
1 08

0,02
240
1 58

0,04
312
1 78

0,08
368
182

0,12
410
1 72

Gambarkan alur-alur tegangan efektif dan tegangan total, dan plot variasi koefisien tekanan
pori A selama pengujian.
Dari data nilai dalam Tabel 4.7 dihitung. Sebagai contoh, ketika regangan sama dengan
0,0 1 , A = 108/ 1 38 = 0,78. Alur-alur tegangan dan variasi A diplot pada Gambar 4.29 dalam
(a)
dan
+
(b) q dan p, atau ekivalen-akivalen tegangan efektif. Dari
bentuk alur tegangan efektif dan nilai A pada saat runtuh, dapat disimpulkan bahwa lem
pung tersebut terkonsolidasi berlebihan (overconsolidated).

1 (a1 - a3)

f(a1

a3),

Tabel 4. 7.
0

Al/10

t(a l - <r 3 )
!(a l + <r3 )
f(a + a )

0
300
300
0
300
300

q
p
p'
A

0,01
69
369
261
138
346

420
262
240

0,78

0,66

0,02
1 20

380

222

238

0,04

1 56

0,08
184

456

484

312

368
423

278

404
226

0,57

302

241
0,50

0, 12

205
505
333

410

437

265

0,42

Contoh Soa/ 4.6.


Dalam suatu uji triaksial, sebuah contoh tanah dikonsolidasikan di bawah tekanan sel se
besar 800 kN/m2 dan tekanan balik sebesar 400 kN/m2 Sesudah itu, pada kondisi tak
terdrainasi, tekanan sel dinaikkan menjadi 900 kN/m2 , menghasilkan pembacaan tekanan
air pori sebesar 495 kN/m2; kemudian (dengan tekanan sel tetap sebesar 900 kN/m2 )
diKeijakan beban aksial untuk memberikan selisih tegangan utama sebesar 5 85 kN/m2
dan pembacaan tekanan air pori 660 kN/m 2 Hitung nilai koefisien B, A, dan B.

Sesuai dengan kenaikan tekanan sel dari 800 menjadi 900 kN/m2 , tekanan pori naik
d ari nilai tekanan balik, 400 kN/m2 , menjadi 495 kN/m2 Karena itu

Au3
Acr3

495 - 400
=

900 - 800

100

O 95

'

Mekanika Tanah

1 30
500

'""'"'

300

ESP
(b)

0,40

(b)

1 00

200

.0

p I

\, ?'

TSP

1 00

o,8o

ESP

200

11

400

/0

\/
300

(a; + a:J) ; (a1 + a3);

0/rsP

400

(a

500

600

p' ; p

-----,--r--.-----.----.,
r- r----r
r-

L--L-=t=jt==l=d=====d

4
Ea =

41/lo

10

12

Gambar 4.29.

Tegangan utarna besar total bertambah dari 900 kN/m2 menjadi (900 + 585) kN/m2
Kenaikan tekanan pori yang bersesuaian adalah 495 menjadf660 kN/m2 Karena itu

_ L\u 1 _ 660 - 495 _ 165 _

A L\o- 1
.

585

585

- 0 28

Kenaikan tekanan pori keseluruhan adalah dari 400 menj adi 660 kN/m2 , yang sesuai
dengan kenaikan tegangan utama besar total dari 800 kN/m2 menjadi (800 + 1 00 + 585)
kN/m2 Karena itu

_ L\u _ 660 - 400 _ 260 _

B-

L\a1

100 + 585

685

- 038

4.8. Pengukuran Pizometer di Lapangan


Kapan saj a teijadi perubahan tekanan air pori di lapangan akan terdapat perubahan-peru
bahan yang bersesuaian, yang berkebalikan pada nilai tegangan efektif, yang menghasilkan
perubahan kekuatan geser tanah. Tekanan air pori di lapangan dapat diukur dengan alat
pizometer.

Kekuatan Geser

131

bu ng plastik

Tabung berP ori

Garnbar 4. 30.

Pizometer Casagrande.

Jika tanah memiliki permeabilitas yang relatif tinggi dan jenuh sempurna, maka
tekanan air pori dapat ditentukan dengan mengukur tinggi air pada suatu pipa tegak ter
buka yang ditempatkan di dalam lubang bor (Gambar 4.30) karena di mana tinggi air akan
segera bereaksi terhadap segala perubahan tekanan. Ujung bawah pipa tegak dapat dibuat
berlubang-lubang atau dipasahgi elemen yang berpori. Pasir atau kerikil halus dipadatkan
di sekelillng ujung bawah pipa dan pipa harus dibungkus dengan seksama dalam lubang bor
dengan memakai lempung atau mortar tepat di atas permukaan lapisan yang tekanan air
porinya ditinjau. Sisa lubang bor diisi kembali dengan pasir, kecuali pada bungkus kedua
dekat permukaan tanah untuk melindungi lubang dari rnasuknya air permukaan ke dalam
lubang. Ujung atas pipa harus tetap dapat melewati air setiap saat dan harus ditutup.
Jika tanah memiliki permeabilitas rendah, tekanan pada titik pengukuran akan ber
ubah j ika diberikan suatu aliran kecil air yang dibutuhkan untuk mengoperasikan alat
ukur dan akan perlu sedikit waktu untuk memperoleh kembali tekanan aslinya. Jadi, pada
kasus tanah dengan permeabilitas rendah, pizometer perlu disesuaikan dengan cepat ter
hadap perubahan tekanan air pori tetapi tanpa aliran air yang berarti. Untuk mencapai
hal ini diperlukan suatu sistem hidrolik tertutup. Sistem tertutup ini memakai ujung pizo
meter yang terdiri dari selubung plastik yang di dalamnya terdapat batu berpori atau ke
rarnik. Terdapat tiga jenis ujung alat (HP) seperti terlihat dalam Gambar 4.3 1 . Dua buah
tabung menghubungkan ujung alat dengan pengukur tekanan Bourdon yang diletakkan se
dekat mungkin dengan ujung alat. Tabung tersebut terbuat dari nilon berlapis polythene,

Mekanika Tanah

132

(a )

Ujung berbentuk tanggu l

(c)
(b)

Ujung berbentuk l u bang bor

Garnbar 4.31.

Uju ng berbentu k tanggu l


(jenis Bishop)

Ujung-ujung pizometer.

di mana nilon tersebut kedap udara dan polythene kedap air. Perubahan tekanan air pori
di dalam tanah di sekitar ujung alat akan menghasilkan aliran kecil air melalui batu her
pori, dan terus berlangsung sampai teijadi perubahan yang sama dalam sistem ukur ter
tutup. Waktu perubahan ini disebut waktu respons (response time) pizometer dan harus
sependek mungkin. Sistem hidrolik ini harus sedemikian rapat mungkin dan tidak sedikit
udara pun diperbolehkan memasuki sistem. Kedua tabung tersebut memungkinkan sistem
tetap bebas dari udara dengan sirkulasi periodik air tanpa-udara. Tekanan yang tercatat
oleh pengukur tekanan harus dikoreksi karena adanya perbedaan tinggi antara ujung alat
dan pengukur tekanan, yang harus diletakkan lebih rendah dari ujung alat pada tiap saat.

Soal-soal
4. 1 .

Berapakah kekuatan, geser dalam besaran tegangan efektif pada tanah jenuh, pada
suatu titik di mana tegangan normal totalnya adalah 295 kN/m2 dari tekanan air
pori 1 20 kN/m2 ? Parameter tegangan efektif tanah c' = 1 2 kN/m2 dan ,p' = 30 .

4.2.

Serangkaian uji triaksial terdrainasi (drained triaxial) terhadap contoh pasir dengan
porositas sama pada awal pengujian mnunjukkan beberapa hasil pada saat runtuh
(tertera di bawah). Hitunglah besarnya sudut tahanan geser ,p'.
Tekanan sel (kN/m2 )
Selisih tegangan utama (kN/m2 )

4.3.

1 00
452

200
908

400
1 8 10

800
3624

Serangkaian uji triaksial tak-terkonsolidasi tak-terdrainasi pada contoh lempung


jenuh sempurna memberikan hasil yang didapat pada saat runtuh. Hitunglah nilai
parameter tegangan geser cu dari ifJu .

Kekuatlln Geser

133

Tekanan sel (kN/m2)


Selisih-tegangan utama (kN/m2 )
4.4.

200
222

400

2 18

600
220

Parameter-parameter tegangan efektif pada lempung ienuh sempurna adalah c'


1 5 kN/m2 dan<t>' 29 . Pada uji triaksial tak-terkonsolidasi-tak-terdrainasi, suatu con
toh lempung memiliki tekanan se1 250 kN/m2 dan selisih tegangan utama pada saat
runtuh 1 34 kN/m2 Berapakah besarnya tekanan air pori contoh tersebut pada saat
runtuh?
=

Tabel 4.8.
0'3

(k:N/m2)

(Tl - 0'3

103
202
305
4l0

82
169
252

(k:N/m2)

150
300
450
600

(kN/m2)

331

4.5.

Hasil-hasil pada Tabel 4.8 didapat pada saat runtuh dalam serangkaian uji triaksial
terkonsolidasi-tak terdrainasi, dengan mengukur tekanan air pori, terhadap contoh
lempung jenuh sempurna. Hitunglah nilai-nilai parameter kekuatan geser c' dan q/ .
Apabila contoh tanah yang sama mengalami konsolidasi di bawah tekanan sel sebesar
250 kN/m2 dan selisih tegangan utama diberikan dengan tekanan sel sebesar 350 kN/
mi , berapakah besarnya selisih tegangan utarna pada saat runtuh?

4.6.

Hasil-hasil berikut ini didapat pada kondisi runtuh dalam serangkaian uji triaksial
terdrainasi untuk contoh lempung jenuh sempurna dengan diameter awal 38 mm dan
panjang 76 mm Hitunglah nilai-nilai parameter kekuatan geser c ' dan </>'.
.

Tekanan sel (kN/m2 )


Penurunan aksial (mm)
Beban aksial (N)
Perubahan volume
4.7.

200
7,22
480
5 ,25

400

8 ,36
895
7,40

600
9,41
1 300
9,30

Turunkan Persamaan 4.1 4.


Sua tu uji sudu di lapangan (in-situ vane test) pada tanah lempung jenuh dengan
torsi sebesar 35 Nm mampu menimbulkan geser pada tanah. Sudu-sudu mempunyai
lebar 50 mm dan panjang 1 00 mm Berapakah kekuatan tak-terdrainasi lempung ter
sebut?
.

4.S.

Suatu uji triaksial terkonsolidasi tak-terdrainasi dilakukan pada suatu contoh lem
pung jenuh yang mendapat tekanan sel 600 kN/m2 Konsolidasi dilakukan dengan
memberikan tekanan balik (back pressure) sebesar 200 kN/m2 Hasil-hasil yang di
catat selarna percobaan adalah:
a1 - a3 (kN/m2 )
u(kN/m2 )

0
200

80
229

158
277

2 14
3 18

279
388

319
433

Gambarkan alur tegangan dan berilam nilai koefisien tekananporiA pada saat runtuh.

1 34

Mekanika Tanah

4.9.

Pada suatu uji triaksial, suatu contoh tanah telah mengalami konsolidasi sempurna
pada tekanan sel 200 kN/m2 Di bawah kondisi tak-terdrainasi, tekanan sel dinaikkan
menj adi 350 kN/m 2 ; tekanan air pori kemudian diukur menjadi 1 44 kN/m2 . Beban
aksial diberikan pada kondisi tak-terdrainasi sampai kondisi runtuh tercapai, dan
didapat hasil sebagai berikut ini.
Regangan aksial %
Selisih tegangan utama (kN/m2 )
Tekanan air pori (kN/m2 )

10

201

252

275

282

289

1 44

244

240

222

2 12

209

Hitunglah nilai koefisien tekanan pori B dan gambarkan variasi koefisien A dengan
regangan aksial pada waktu keadaan runtuh tercapai.

Referensi
4. 1
4.2

4.3

4.4
4.5
4.6

4.7

Bishop, A. W. (1 966): 'The Strength of Soils as Engineering Mat


erials', Geotechnique, Vol. 1 6, No. 2.
Bishop, A. W., Alpan, 1., Blight, G. E. dan Donald, I. B. ( 1 960) :
'Factors Controlling the Strength of Partly Saturated Cohesive Soils',

Proc. A.S.C.E. Cmiference on Shear Strength of Cohesive Soils,


Boulder, Colorado, U.S.A.
Bishop, A. W., Green, G. E., Garga, V. K., Andresen, A. dan Brown,
J. D. (197 1) : 'A New Ring Shear Apparatus and its Application to the
Measurement of Residual Strength', Geotechnique, Vol. 21, No. 4.
Bishop, A. W. dan Henkel, D. J. (1 962): The Measurement of Soil
Properties in the Triaxial Test (2nd Edition), Edward Arnold. London.
British Standard 1 377 (1975): Methods of Test for Soils for Civil
Engineering Purposes, British Standards Institution, London.
Bjerrum, L. (1 973): ' Problems of Soil Mechanics and Construction on
Soft Clays'. Proc. 8th International Conference S.M.F.E., Moscow,
Vol. 3.
Cornforth, D. H. ( 1964) : 'Some Experiments on the Influence of
Strain Conditions on the Strength of Sand ' , Geotechnique, Vol. 1 4 ,

No . 2 .
4.8

Lupini,

J. F . , Skinner , A . E . dan Vaughan, P. R. ( 1981 ) : 'The Drained

Residual Strength of Cohesive Soils' , Geotechnique, Vol . 3 1 , No. 2 .

Penman, A . D . M. ( 1 956) : 'A Field Piezometer Apparatus' , Geotech


nique, Vol. 6, No. 2 .
4. 10 Penman, A . D . M. ( 1 961): 'A Study o f the Response Time o f Various
Types of Piezometer' , Proceedings of Conference on Pore Pressure and
Suction in Soils , Butterworth, London.
4 . 1 1 Roscoe , K. H . , Scchofield , A. N . dan Wroth, C. P. ( 1958) : 'On the
Yielding of Soils', Geotechnique, Vol. 8, No. 1 .

4.9

4 . 1 2 Rowe , P . W . ( 1962) : 'The Stress-Dilatancy Relation for Static Equili


brium of an Assembly of Particles in Contact' , Proc. Roy. Soc.

A , Vol .

269.
4. 1 3 Skempton, A. W. ( 1 954) : 'The Pore Pressure Coefficients A and B ' ,
Geotechnique, Vol. 4 , N o . 4 .

Kekuatan Geser

1 35
4 . 1 4 Skempton , A. W . dan Sowa, V. A. ( 1963): 'The Behaviour of Satu
rated Clays During Sampling and Testing' , Geotechnique, Vol . 1 3 ,
No. 4.
4 . 1 5 Skempton, A. W . ( 1985 ) : 'Residual Strength of Clays in Landslides,
Folded Strata and the Laboratory' , Geotechnique, Vol . 35 , No. 1

r
BAB 5

Tegangan dan Perpindahan

5. 1 . Elastisitas dan Plastisitas


Bab ini membahas tentang tegangan dan perpindahan pada massa tanah akibat adanya
pembebanan. Banyak persoalan dapat diselesaikan dengan analisis dalam dua dimenSf,
yaitu hanya tegangan dan perpindahan dalam satu bidang yang diperhitungkan. Tegangan
normal total dan tegangan geser pada arah x dan z pada suatu elemen tanah diperlihatkan
pada Gambar 5 . 1 , di mana tegangan-tegangan mempunyai tanda positif sesuai dengan arah
sumbu x dan z . Besarnya tegangan-tegangan tersebut berbeda pada setiap potongan. Besar
nya perubahan tegangan normal pada sumbu X dan Z berturut-turut adalah oa xfox dan
oazfoz; besarnya perubahan tegangan gesernya adalah OTxzfox dan O<zxloz. Setiap elemen
dari suatu massa tanah harus dalam keadaan keseimbangan sfatis. Dengan menyamakan
momen-momen terhadap titik pusat elemen, dan mengabaikan diferensiasi orde tinggi,
didapatkan bahwa Txz = Tzx Dengan menyamakan gaya-gaya pada arah x dan z, didapat
kan persamaan-persamaan berikut :
0(1X

ox

or%X
oz

(5 . l a)

1
Tzx +

O Tzxd

ilz

Uz

Tzx

Txz +

-::-+
x
ilx

ilu,
fI u, + -dz
ilz

Gambar S . l .

Keadaan tegangan dua-dimensi pada suatu elemen.

Tegangan dan Perpindahan

1 37

0
+ 0(1z
(5. lb)
z
oz
ox
di mana X dan Z berturut-turut adalah gaya badan (body force) per satuan volume pada
arah x dan z. Persamaan di atas adalah persamaan keseimbangan dalam dua dimensi;
persamaan terse but dapat juga dinyatakan dalam tegangan efektif. Bila dinyatakan dalam
tegangan total, gaya-gaya badannya adalah X = 0 dan Z = 'Y (atau 'Ysat). Bila dinyatakan
dalam tegangan efektif, gay a-gaya badannya adalah X' = 0 dan Z' = -y' ; tetapi hila ter
dapat rembesan (seepage), gaya-gaya tersebut menjadi x' = ix 'Yw dan Z' = -y' + iz 'Yw di
mana ix dan iz berturut-turut adalah gradien hidrolik pada arah x dan z.
Akibat pembebanan titik-titik di dalam massa tanah tersebut akan berpindah selalu
terhadap sumbunya dan terhadap satu sama lain. Bila komponen perpindahan pada arah
x dan z berturut-turut dinotasikan sebagai u dan w, maka regangan normal diperoleh
dari:

ihxz

dan regangan geser diperoleh dari:

ou + ow
Yxz = OZ OX
.Walaupun demikian, regangan-regangan tersebut tidak bebas; masing-masing harus sesuai
(compatible) satu sama lain hila massa tanah secara keseluruhan tetap dipertal1ankan
kontinu. Persyaratan ini menghasilkan suatu persamaan yang disebut persamaan kesesuai
an dalam dua dimensi, yaitu:
0 2Bx
oz2

0 2ez - OY xz = 0
ox2 oxoz

(5 .2)

Persamaan-persamaan 5.1 dan 5.2 yang tidak tergantung pada sifat-sifat material, dapat
digunakan dalam keadaan elastis dan plastis.
Penyelesaian yang tepat dari suatu persoalan tertentu mensyaratkan bahwa persamaan
persamaan keseimbangan dan kesesU:aian harus dipenuhi untuk syarat batas yang ditentu
kan. Selain itu diperlukan juga hubungan tegangan-regangan. Dalam teori elastisitas [ 5. 1 7] ,
hubungan tegangan-regangan yang linear dikombinasikan dengan persamaan-persamaan
di atas.
Hllbungan tegangan-regangan-regangan tipikal untuk tanah selama terjadi geseran
(shearing) diperliliatkan pada Gambar 5 .2. Hubungan tersebut non-linear, sehingga regang
annya akan mempunyai komponen elastis (dapat kembali ke aslinya) dan komponen
plastis (tidak dapat kembali ke aslinya). Mula-mula, antara 0 dan Y, hubungan tersebut
mendekati linear untuk sebagian besar tanah, kemudian setelah melewati Y, regangan
plastis menjadi nyata, jadi Y adalah titik leleh (yield point). Kekuatan geser puncak
dicapai pada titik F . Antara titik leleh dan titik runtuh (Y dan F) akan terjadi regangan
plastis selanjutnya hila tegangan dinaikkan, tetapi kenaikan tegangan yang makin lama
makin kecil diperlukan untuk menghasilkan kenaikan regangan plastis tersebut. Karak
teristik ini dikenal dengan nama pengerasan regangan (aLau kerja). Pengerasan {hardening)
hanya terjadi hila keija plastis teijadi. Dalam kasus-kasus tertentu, hambatan terhadap
geser menurun setelah kekuatan puncak dicapai, dan karakteristik ini disebut dengan
perlemahan regangan (atau keija). Dalam analisis, dibuat penyederhanaan dengan meng
asumsikan bahwa tanah bersifat sebagai material elastis-plastis sempuma di mana hubung
an tegangan-regangannya diwakili oleh OY'P pada Gambar 5.2. Perilaku elastis antara

Mekanika Tanah

1 38

Q L----Regangan geser

Gambar 5.2.

Hubungan tegangan-regangan.

0 dan Y' (asumsi titik leleh) diikuti oleh regangan plastis yang tak-terhatas (unrestrieted)

pada tegangan konstan (Y'P).


Keadaan tegangan (dinotasikan dengan a) pada saat terjadi keadaan leleh didefinisi
kan dengan menggunakan kriteria leleh (yield criterion). Bentuk umum fungsi yang men
defmisikan leleh adalah :

f(a)

(5.3)

di mana a dapat dinyatakan dalam komponen tegangan atau tegangan utama. Regangan
. plastis tidak herhuhungan secara unik dengan keadaan tegangan, tidak seperti regangan
elastis. Regangan plastis yang timhul akihat leleh didefinisikan dengan menggunakan
hukum pengerasan regangan (strain hardening) (hila sesuai) dan aturan aliran (flow rule).
Hukum pengerasan , yang menerangkan hagaimana kriteria leleh heruhah akihat pengeras
an regangan , dinyatakan dalam hentuk:

f(a,h)

(5.4)

di mana h adalah fungsi dari komponen regangan plastis. Aturan aliran, yang menentu
kan arah regangan plastis, menggunakan hentuk
(5 .5)
di m ana s P menyatakan komponen regangan plastis dan dA. adalah koefisien kesehanding
an (proportionality coefficient). Dalam konteks aturan aliran, .ft a) dikenal sehagai potensial
plastis Bila fungsi leleh menj adi potensial plastis juga (seperti ditunjukkan dalam Persama
an 5 .5), aturan aliran dikatakan 'hersekutu' (associated). Sehaliknya, hila fungsi potensial
plastis herheda dari fungsi leleh, aturan aliran dikatakan 'tidak hersekutu' (non-associated).
Aturan aliran menghuhungkan kenaikan regangan plastis terhadap keadaan tegangan
y ang herse suaian (hukan kenaikan tegangan). Suatu keadaan tegangan tertentu dapat
diwakili oleh se huah titik pad a garis atau permukaan yang diwakili oleh fungsi leleh.
Dapat dilihat hahwa vektor kenaikan regangan plastis mempunyai arah tegak lurus ter
hadap garis atau permukaan pada titik tersehut. Hal ini dikenal sehagai kondisi norma
litas (normality condition). Penyelesaian yang teliti dari persoalan plastisitas ini hanya
mungkin dalam sedikit kasus.
Bila tegangan relatif rendah terhadap nilai keruntuhan, maka huhungan tegangan
regangan untuk sehagian hesar tanah dapat diasumsikan linear, kecuali untuk p asir lepas
(loose sand) dan lempung lunak (soft clays). Faktor keamanan sehesar 3 untuk keruntuhan
ge ser digunakan untuk hanyak kasus, dan hiasanya digunakan teori elastisitas untuk meng
hitung tegangan dan perpindahan (displacement). Sehuah kumpulan penyelesaian telah

Tegangan dan Perpindahan

1 39

diterbitkan oleh Poulos dan Davis [5. 14] . Metode elemen hingga (fmite element method)
[5.2] , yang dapat menentukan hubungan tegangan-regangan linear atau non-linear, dapat
juga digunakan. Salah satu metode untuk menyatakan perilaku non-linear dalam analisis
elemen hingga adalah memperkirakan kurva tegangan-regangan di luar titik leleh dengan
sebuah garis lurus kedua. Metode lainnya adalah menggunakan kesimpulan dari Kondner
[5.8] , yaitu bahwa untuk sebagian besar tanah, kurva tegangan-regangan dapat dinyata
kan oleh sebuah hiperbola dengan tingkat ketelitian yang dapat diterirna.
Berkenaan dengan konsep keadaan kritis ini, diasurasikan bahwa pada kasus lempung
terkonsolidasi-berlebihan (overconsolidated clay), hila lintasan tegangan efektif sepenuhnya
berada dalam permukaan batas keadaan (state boundary surface), maka regangan yang
dihasilkan adalah elastis. Asumsi ini secara tidak langsung menyatakan bahwa lintasan
tegangan n aik secara vertikal terhadap permukaan batas keadaan. Regangan plastis di
asumsikan hanya terjadi pada bagian lintasan tegangan yang terletak di atas permukaan
batas keadaan (yaitu permukaan batas keadaan yang juga merupakan permukaan leleh).
Jadi pada kasus lempung terkonsolidasi-normal, kedua komponen elastis dan plastis dari
regangan akan menghasilkan lintasan tegangan. Dengan demikian perpindahan pada lem
pung terkonsolidasi-normal relatif besar dibandingkan dengan lempung terkonsolidasi
berlebihan dengan perubahan tegangan yang sama.
Penyelesaian perpindahan dari teori elastis memerlukan pengetahuan tentang nilai
modulus Young (E) dan angka Poisson (v) untuk tanah, baik untuk keadaan tak-terdrainasi
(undrained) maupun yang dinyatakan dalam tegangan efektif. Angka Poisson diperlukan
untuk penyelesaian tegangan tertentu. Harus diperhatikan bahwa modulus geser (G),
di mana
G =

2(1

(5.6)

tidak tergantung pada kondisi drainasi, dengan asumsi bahwa tanah tersebut isotropik.
Regangan volume suatu elemen material elastis linear akibat tiga tegangan utama
dibeikan oleh :

L\V 1 - 2v
(ar
=
V -E-

Oz

a3

Bila pernyataan ini digunakan untuk tanah pada bagian awal dari kurva tegangan-regangan,
maka untuk kondisi tak-terdrainasi L\ VjV = 0, sehingga v = 0,5. Kemudian nilai tak-ter
drainasi dari modulus Young dihubungkan dengan modulus geser oleh pernyataan Eu =
3G. Bila terjadi konsolidasi maka A V/V> 0 dan v < 0,5 untuk keadaan terdrainasi maupun
terdrainasi sebagian.
Nilai E dapat dihitung dari kurva yang menghubungkan selisih tegangan utama dan
regangan aksial dalam uji triaksial. Nilai tersebut biasanya ditentukan sebagai modulus
sekan antara titik awal dan sepertiga tegangan puncak, atau di atas rentang regangan
sesungguhnya dalam persoalan tertentu. Akan tetapi, berhubung adanya gangguan pada
contoh tanah, dianjurkan untuk menentukan E (atau G) dari hasil pengujian di lapangan.
Salah satu metodenya adalah penambahan beban pada suatu pelat uji, baik dalam lubang
dangkal maupun pada dasar lubang bor yang berdiameter besar, dan juga mengukur per
pindahan vertikal yang dihasilkan. Nilai E kemudian dihitung dengan menggunakan pe
nyelesaian perpindahan yang relevan, dengan mengasumsikan suatu nilai.

Pengukur Tekanan
Modulus geser (G) dapat ditentukan di tempat dengan menggunakan pengukur tekanan
(pressuremeter). Pengukur tekanan pada mulanya dikembangkan dalam tahun 1 950-an

Mekanika Tanah

1 40

oleh Menard dengan maksud untuk menyelesaikan masalah gangguan dalam pengambil
an contoh tanah (sampling disturtance) dan untuk memastikan bahwa makro-fabrik tanah
benar-benar diwakili. Desain asli dari Menard, ditunjukkan pada Gambar 5.3a, terdiri
dari tiga buah sel karet yang berbentuk silinder dengan diameter yang sama dan sesumbu.
Alat tersebut dimasukkan ke dalam (lubang bor dengan kedalaman yang dibutuhkan
dan sel pengukur (central measuring cell) dikembangkan terhadap dinding lubang bor
dengan menggunakan tekanan air, di mana pengukuran tekanan yang digunakan dan
kenaikan volume sel dicatat. Air diberi tekanan dengan gas yang dimampatkan (biasanya
nitrogen) dalam silinder pengontrol pada permukaan. Kenaikan volume sel pengukur
tersebut ditentukan berdasarkan pergerakan gas/waktu 1 5 detik, 30 detik dan 1 20 detik
sesudah tekanan dinaikkan. Tekanan tersebut dikoreksi untuk (a) perbedaan tinggi energi
(head) antara permukaan air pada silinder dan permukaan uji pada lubang bor, (b) tekan
an yang diperlukan untuk mengembangkan sel karet, dan (c) pengembangan silinder
pengontrol dan tabung akibat tekanan. Kedua sel pengaman luar (outer guard cell) di
kembangkan dengan tekanan yang sama seperti pada sel pengukur tetapi dengan meng
gunakan gas yang dimanpatkan. Kenaikan volume sel pengaman luar tersebut tidak di
ukur. Kegunaan sel-sel pengaman tersebut adalah untuk menghilangkan pengaruh akhir,
yang menjamin adanya keadaan regangan bidang di sekitar sel pengukur.
Hasil pengujian dengan menggunakan pengukur tekanan Menard tersebut digambar
kan oleh kurva hubungan antara tekanan koreksi (p) dan volume (V) seperti yang diper-

Batang berlubang

Me m bran
AI at
perasa

.!

Transduser
tekanan pori

Sel pengaman

T;n;h

yang

i ;_ 1>4to<l
Pemotong

(a)

(b)

Gambar 5 .3. Sifat-sifat dasar (a) pengukur tekanan menard (b) pengukur tekanan dengan pengeboran
sendiri.

Tegangon dan Perpindahan

141

Volume rangkak
_ _

Po

_ _ _ _ ..,

- - - - - - --- - - -

Volume
rangkak
,

\,,

r- -

Pt

Po

L
I

\-

P;

Kem iringan =

Volume (V)
11

Po

---- - - -----

:;t1

G
Po
Ec =

/l.r/ro = y/2

lbi

I
I
I
I
I
I

- Kem iringp f.

-1
ln(6VN)

-2

, ..- "

"

.1'

(cl

,/

.1'

,
/

Ec

(d)

Gambar 5 .4 . Hasil uji pengukur tekanan .

lihatkan pada Gambar 5 .4a. Pada gambar ini bagian linear teijadi antara tekanan-tekanan

P; dan Pt Nilai P; adalah tekanan yang digunakan untuk mencapai kontak awal antara

sel dan dinding lubang bor dan untuk memampatkan kembali tanah yang terganggu atau
tanah menjadi lunak akibat pengeboran. Nilai Pt adalah tekanan yang sesuai dengan regang
an plastis awal pada tanah. Suatu tekanan batas (p1) akan dicapai secara perlahan-lahan
di mana akan terjadi pengembangan rongga lubang bor yang kontinu. Kurva 'rangkak'
yang diliasilkan dengan menggambarkan perubahan volume antara pembacaan 30 detik
dan 1 20 detik terhadap tekanan yang sesuai akan sangat membantu dalam menentukan
nilai P; dan p1, di mana pada tekanan-tekanan ini teijadi perubahan yang cukup besar.
Datum atau tekanan acuan untuk menginterpretasikan hasil pengukur tekanan adalah
suatu nilai (p0) yang sama dengan tegangan horisontal total di lapangan pada tanah se
belum pengeboran. Mula-mula nilai tersebut diasumsikan sama dengan P; , tetapi dengan
penggunaan lubang bor yang dibuat terlebih dahulu berarti tanah tersebut diberi tegangan
dari kondisi tanpa beban (unloaded), bukan dari keadaan awal tak-terganggu, sehingga
konsekuensinya nilai P o harus lebih besar daripada P; - (Harus disadari bahwa menentukan
nilai tegangan horisontal total di lapangan yang bebas tidaklah mudah). Volume acuan
V0 (yang sesuai dengan tekanan p0 ) diambil sebagai nilai awal dari rongga lubang bor
di atas panjang uji. Pada setiap keadaan selama pengujian, volume V, y ang sesuai dengan
tekanan p dinyatakan sebagai volume sekarang (current volume).
Sebagai alternatif, hasil dari pengujian dengan pengukur tekanan dapat digambarkan
oleh kurva huburtgan antara tekanan koreksi dan regangan keliling (circumferential strain;

Mekanika Tanah

1 42

tc) pada dinding lubang bor. Regangan tersebut merupakan perbandingan antara kenaik
an jari-jari rongga lubang bor (Llr) dan jari-jri acuan (r0) . Hubungan antara regangan
volume sekarang dan regangan keliling adalah:
1 - ( 1 + ec)- 2
(Regangan geser ('y) sama dengan dua kali regangan keliling).
Marsland dan Randolph [5. 1 1 ] mengusulkan suatu prosedur, dengan menggunakan
kurva p- ec , untuk menentukan p0 , yang cocok untuk tanah seperti lempung kaku (stiff
clay) yang menampakkan perilaku tegangan-regangan linear sampai mencapai tegangan
puncak. Bagian linear dari kurva p-ec akan berakhir pada saat tegangan geser pada dinding
lubang bor sama dengan kekuasaan tak-terdrainasi (puncak) dari lempung, yaitu bila
tekanannya sama dengan (p0 + Cu ). Nilai Cu ditentukan dengan menggunakan Persamaan
5. 10, di mana diperlukan nilai volume acuan V0 Metode ini meliputi proses iterasi yang
memperkirakan p0, dan kemudian V0 , dan menentukan nilai Cu yang sesuai sampai titik
yang mewakili (p0 + cu ) sesuai dengan titik pada kurva di mana kurva tersebut mulai
melengkung, seperti diperlihatkan pada Gambar 5.4b.
Nilai tekanan batas (p1) dapat ditentukan dengan menggambarkan hubungan antara
tekanan dan logaritma regangan volume sekarang dan melakukan ekstrapolasi terhadap
regangan satuan, yang mewakili pengembangan yang kontinu, seperti diperlihatkan pada
Gambar 5.4c.
Suatu analisis terhadap pengembangaii rongga lubang bor selama pengujian dengan
pengukur tekanan dikemukakan oleh Gib son dan Anderson [ 5.5] , di mana tanah di
anggap sebagai material elastis-plastis sempurna. Pada bagian linear dari graftk p- V,
modulus geser dinyatakan oleh:
V/V =

d
v p
dV

(5.7)

di mana dp/d V adalah kemiringan bagian linear tersebut dan V adalah volume ronggal
lubang sekarang. Akan tetapi, dianjurkan untuk menentukan modulus tersebut dari siklus
pembebanan (peniadaan dan pemberian beban) untuk memperkecil pengaruh gangguan
tanah.
Pada kasus lempung jenuh nilai kekuatan geser tak-terdrainasi (cu ) dapat ditentukan
dengan cara iterasi, berdasarkan persamaan berikut:
(5.8)
Dalam perkembangan baru dari pengukur-tekanan, sel pengukur direnggangkan lang
sung dengan menggunakan tekanan gas. Tekanan ini dan perenggangan radial dari membran
karet dicatat dengan menggunakan transduser elektrik di dalam sel. Sebagai tambahan,
transduser tekanan air pori ditempatkan pada dinding sel sehingga selalu terjadi kontak
dengan tanah selama pengujian. Pengukur tekanan ini menghasilkan ketelitian yang lebih
tinggi daripada peralatan Menard yang asli. Tekanan sel dapat saja diatur secara kontinu
dengan menggunakan peralatan kontrol elektronik, untuk mencapai laju kenaikan regang
an keliling yang konstan (yaitu pengujian dengan pengontrolan regangan), daripada meng
gunakan kenaikan tekanan (pengujian dengan pengontrolan tegangan).
Beberapa gangguan tanah yang terjadi di sekitar lubang bor tidak dapat dihindarkan
dan hasil dari uji pengukur tekanan pada lubang yang telah dibuat terlebih dahulu dapat
menjadi sensitif terhadap metode pengeboran. Pengukur-tekanan dengan pengeboran
sendiri (self boring) telah dikembangkan untuk menyelesaikan masalah ini dan cocok
digunakan untuk sebagian besar jenis tanah, akan tetapi, pada pasir, diperlukan teknik

Tegangan dan Perpindahan

1 43

khusus tambahan. Peralatan m1, yang digambarkan pada Gambar 5.3b, didongkrak ke
dalam tanah secara perlahan-lahan dan tanah dipisahkan oleh sebuah pemotong-putar
(rotating cutter) yang dipasang pada suatu kepala pemotong (cutting head) pada ujung
terendah, di mana posisi optimum dari pemotong merupakan fungsi dari kekuatan geser
tanah. Air atau lumpur pengeboran dipompakan ke dalam batang berongga (hollow shaft)
di mana pemotong dikaitkan dan lumpur (slurry) yang dihasilkan diangkat ke permukaan
melalui ruang berbentuk cincin di dekat batang berongga, kemudian peralatan tersebut
dimasukkan dengan menjaga sedapat mungkin agar tanah tidak terganggu Yang perlu
dikoreksi hanyalah tekanan yang diperlukan untuk merenggangkan membran.
Sebuah pengukur tekanan 'pendorong' (push-in) juga telah dikembangkan sebagai
peralatan tambahan yang dimasukkan ke bawah dasar lubang bor. Alat ini biasanya di
gunakan dalam pekerjaan le pas pantai (off-shore). Pengukur tekanan ini dipasang dengan
sebuah sepatu pemotong (cutting shoe), di mana inti tanah naik di dalam alat ini.
Membran pengukur tekanan hams dilindungi terhadap kerusa:kan (terutama pada
tanah keras) dengan sebuah selubung baja tahan karat yang tipis dengan pemotong
longitudinal, yang dirancang se'demikian rupa sehingga tidak menghambat perenggangan
sel.
Hasil pengujian dengan pengontrolan regangan pada lempung yang menggunakan
pengukur tekanan dengan pengeboran sendiri diperlihatkan pada Gambar 5.4d, di mana
tekanan (p) diplot terhadap regangan keliling (cc) . Penggunaan pengukur tekanan ini
dapat mengatasi kesulitan dalam menentukan 'tegangan horisontal total di lapangan, sebab
gangguan tanahnya minimal, di mana tekanan pada saat membran mulai mengembang
(disebut sebagai 'lift-off pressure) akan sama dengan p0 , seperti diperlihatkan pada Gam
bar 5.4d.
Nilai modulus geser diberikan oleh persamaan berikut, berdasarkan analisis selanjut
nya dari Palmer [5. 1 3 ] , di mana tidak ada satu pun asumsi yang dibuat sehubungan dengan
karakteristik tegangan-regangan tanah. Untuk pengembangan rongga lubang bor pada
regangan yang kecil diperlihatkan bahwa :

dp
G = z
dcc
1

(5.9)

Modulus ini dapat ditentukan dari kemiringan siklus pembebanan (peniadaan dan
pemberian beban) seperti diperlihatkan pada Gambar 5.4d, yang menjamin bahwa tanah
tetap dalam keadaan elastis selama proses peniadaan beban. Wroth [5. 1 9] telah meo
perlihatkan bahwa, untuk lempung, persyaratan ini akan dipenuhi bila penurunan tekanan
selama ke,adaan tidak dibebani kurang dari 2cu .
Untuk lempung jenuh, kekuatan geser tak-terdrainasi (cu ) dapat juga ditentukan dari
persamaan berikut berdasarkan analisis Gibson dan Anderson:
P = Pt + Culn

(L1:)

(5. 10)

di mana b. V/V adalah regangan volume sekarang.


Harus diperhatikan bahwa Persamaan 5. 1 0 hanya berlaku bila keadaan plastis telah
dicapai (yaitu bila Pt < p < p1). Kurva p terhadap ln(.D.V/V) menjadi linear untuk tahap
akhir pengujian, seperti diperlihatkan pada Gambar 5.4c, dan nilai cu diberikan oleh
kemiringan garis tersebut.
Dalam analisis Palmer diperlihatkan bahwa pada regangan kecil, nilai tegangan geser
tanah pada dinding rongga yang mengembang diberikan sebagai berikut:
(5. 1 1 )

Mekanika Tanah

1 44

dan pada regangan yang lebih besar: .


r

dp
_.__
d(ln(A VIV)]

_
_

(5. 12)

_
_

di mana regangan keJilmg dan regangan volume ditentukan berdasarkan keadaan acuan.
Persamaan 5 . 1 1 dan 5 . 1 2 dapat digunakan untuk memperoleh kurva tegangan-regangan
tanah.
Analisis untuk menginterpretasikan uji pengukur-tekanan untuk pasir dikemukakan
oleh Hughes, Wroth, dan Windle [5.6). Analisis tersebut memungkinkan penentuan sudut
tahanan geser (cfJ') dan sudut dilasi (tll ). Evaluasi secara menyeluruh mengenai penggunaan
pengukur tekanan, termasuk contoh-contoh hasil uji dan penerapannya pada desain,
telah diberikan oleh Mair dan Wood [5. 10] .

5.2. Tegangan berdasarkan Teori Elastis


Tegangan pada suatu massa yang semi tak-terhingga, homogen, isotropis, dengan hubung
an tegangan-regangan yang linear, akibat beban titik pada permukaan, ditentukan oleh
Boussinesq pada tahun 1 885. Di sini ditentukan tegangan-tegangan geser vertikal, radial,
keliling, dan tegangan geser pada kedalaman z dan jarak horisontal r dari titik-kerja beban.
Tegangan akibat beban permukaan yang didistribusikan pada luas tertentu dapat ditentu
kan dengan integrasi dari penyelesaian-penyelesaian beban titik tersebut. Tegangan pada
sebuah titik akibat lebih dari satu beban permukaan ditentukan dengan superposisi. Di
dalam praktek, beban tidak selalu bekerja secara langsung pada permukaan, tetapi hasil
dari pembebanan permukaan dapat digunakan secara aman dalam persoalan-persoalan
yang berkaitan dengan beban pada kedalaman dangkal.
Suatu rentang penyelesaian yang sesuai untuk menentukan tegangan-tegangan di
bawah pondasi diberikan pada bagian berikut. Nilai negatif dari pembebanan dapat di
gunakan hila tegangan akibat penggalian diperlukan atau pada persoalan-persoalan yang
menggunakan prinsip superposisi. Tegangan akibat pembebanan permukaan beberapa
sebagai tambahan dari tegangan di lapangan akibat berat sendiri tanah.

Beban Titik
Berdasarkan Gambar 5.5a, tegangan-tegangan pada titik X akibat sebuah beban titik
Q pada permukaan adalah sebagai berikut:

uz

3Q
2nz2

1
5/2
2
(r/z)

(5 . 13)
(5 . 14)
(5. 15)
(5. 16)

Tegangan dan Perpindahan

145

(a)
a

(z

konstan)

(z

konstan)

(a, diplot
h orisontal )

(a, diplot
horisontal )
z

(b)

Gambar 5 5 . (a) Tegangan akibat beban titik. (b) Variasi tegangan vertikal akibat beban titik.

Harus diperhatikan bahwa jik.a v = 0,5, suku kedua pada Persamaan 5 . 1 4 hilang dan
Persamaan 5. 1 5 memberikan O(J = 0.
Persamaan 5 . 1 3 paling sering digunakan dalam praktek dan dapat ditulis dalam bentuk
faktor pengaruh (JP ), di mana
JP =

3 { 1 }5/2

2n

1 + (r/z)2

1 46

Mekanika Tanah

Tabel 5. 1 .

Faktor Pengaruh untuk Tegangan Vertikal Akibat Beban Titik

';f/Z '

JP

rjz
0,00

0,10
0,20

0,30
0,,40
o,so
0,60
0,70

0,478
0,466
0,433
0,385

0,80

0,329
0,273
0,221

1,20
1 ,

0,176

0,139
0,108 '
0,084

0,90
1 ;00
l,JO

0,066

1,46
1,50

0,040
0 ,032

0,051

0,025

1,60
1,70

l,$0
1,9()
2,00
2,20
2,40

2,60

1p
0,020
0,016
0,01 3

o.o u

0,009
' 0,006
0,004

0003

sehingga

Nilai JP yang dinyatakan dalam rjz diberikan dalam Tabel 5 . 1 . Bentuk variasi az terhadap
z dan r diilustrasikan pada Gambar 5.5b. Sisi kiri dari gambar memperlihatkan variasi
a terhadap z pada sumbu vertikal pada titik-kerja be ban Q (yaitu untuk r 0}, sedangkan
z
sisi kanan gambar memperlihatkan variasi az terhadap r untuk tiga nilai z yang berbeda.
Penyelesaian lain dari Westergaard mengasumsikan bahwa massa elastis diperkuat
secara lateral oleh lembaran tak-elastis horisontal dengan ketebalan diabaikan yang di
letakkan dengan jarak-jarak kecil dalam arah vertikal , untuk mencegah teijadinya regangan
lateral pada massa secara keseluruhan. Penyelesaian ini mensimulasikan suatu kondisi
anisotropik yang ekstrem dan memberikan tegangan yang lebih kecil dari nilai dari Bous
sinesq. Kondisi pada sebagian besar massa tanah mungkin berada di antara dua nilai eks
trem yang diberikan oleh penyelesaian Boussinesq dan Westergaard. Penyelesaian Boussinesq
lebih luas digunakan di dalam praktek.
=

Beban Garis
Berdasarkan Gambar 5.6a, tegangan-tegangan pada titik X akibat sebuah beban garis Q
per satuan panjang pada permukaan adalah sebagai berikut:

z
2Q
;: + 2 2
(Jz = - -,---;2--.--.;n

xz

2Q

(x

z)

xz 2
(x2 z 2) 2

= - -,---;;;
-.--.;+
n

(5 . 1 7)
(5. 1 8}

(5 . 1 9)

Persamaan 5 . 1 8 dapat digunakan untuk menghitung tekanan lateral pada struktur


penahan tanah akibat beban garis pada permukaan urugan (backfill}. Bila dinyatakan
dalam ukuran-ukuran yang diberikan dalam Gambar 5.6b, Persamaan 5. 1 8 menjadi

Tegangan dan Perpindahan

147

0/m

a,

ll

a.

11

I
- -- - - ..J
x

_t__

!-- X -----
( a)

mh -----1

0/m

nnh

P,
: Struktu r
penahan tanah

__

(b)

Gambar 5 .6. (a) Tegangan akibat beban garis. (b) Tekanan lateral akibat be ban garis .

(Jx =

2Q
nh

z(m m2 nn2)2

.- -....-

Akan tetapi, struktur tersebut akan terpengaruh dengan adanya regangan lateral akibat
beban Q dan untuk menentukan tekanan lateral pada struktur yang relatif tegar (rigid),
harus diumpamakan ada sebuah beban Q kedua dengan jarak yang sama pada sisi lainnya
dad struktur tersebut. Kemudian tekanan lateral tersebut diberikan oleh :

x (mzm2nnz)z

4Q
p =nh

(5.20)

Gaya dorong total dari struktur diberikan oleh :

Px JPxhdn
m l
1

2Q
n

(5 .2 1 )

Mekanika Tanah

1 48

(a)

(b)

Gambar 5 .7. Tegangan akibat (a) tekanan merata, (b) tekanan yang bertambah secara linear di atas

bidang jalur.

Bidang Jalur Memikul Tekanan Merata

Tegangan-tegangan pada titik A akibat tekanan me rata q pada sebuah bidang jalur dengan
lebar B dan panjang tak-terhingga dinyatakan dalam sudut a dan {3 yang didefinisikan
dalam Gambar 5.7a.
U

Ux

'xz

g_ {IX + sin IX COS (IX + 2{3)}

(5.22)

g_ {IX - Sin IX COS (IX + 2{3)}

(5.23)

1t
7t

;= ; {sin IX sin (IX

2{3) }

(5.24)

Kontur-kontur tegangan vertikal yang sama disekitar bidang jalur yang memikul tekanan
merata diplot pada Gambar 5.8a. Zona yang berada di dalam kontur tegangan vertikal
dengan nilai 0,2q dinyatakan dengan gelombang tekanan (bulb of pressure):

Bidang Jalur yang Memikul Tekanan yang Bertambah Secara Linear

Tegangan-tegangan pada titik X akibat tekanan yang bertambah secara linear dari nol
sampai q pada bidang jalur dengan lebar B diberikan dalam sudut a dan {3 dan panjang
R 1 dan R 2 , seperti didefinisikan dalam Gambar 5. 7b.
(5.2 5)

149

Tegangan dan Perpindahan

T
I

-l- 8

--t

(b)

28

__l_ 3 8
(e)

Gambar 5.8. Kontur tegangan vertikal yang


buj ur sangkar.

u" =
1:xz

(XB
(

-a

1 + cos 2P - 2

(a) 1i bawah bidang jalur, (b) di bawah bidang

RI 1 .
+ 2 sm 2p
R

- In -

sam a :

j)

(5.26)

(5.27)

Bidang Lingkaran yang Memikul Tekanan Merata


Tegangan vertikal pada kedalaman z di bawah pusat bidang lingkaran dengan diameter

D = 2R yang memikul tekanan merata q diberikan oleh Persamaan berikut:

(5.28)
Nilai faktor pengaruh le dalam D/z diberikan pada Gambar 5.9 .
. Tegangan-tegangan radial dan tegangan keliling di bawah pusat bidang adalah sama
dan diberikan oleh Persamaan berikut:

2 ( 1 + v)
1
q
+
u, = U9 = 2 ( 1 + 2v) }1/
{ 1 + (R/z)2 2 { 1 + (R/z)2 J 312

(5.29)

Mekanika Tanah

1 50
1 ,0
0,9
0,8
0,7

I
I

0,6
le

0,5 I
0.4 I
0,3 I
0,2
0,1

1 1)I
I

CTz

4
D

qlc

Gambar 5 .9. Tegangan vertikal di bawah pusat bidang lingkaran yang memikul tekanan merata.

Bidang Persegi yang Memikul Tekanan Merata

Suatu penyelesaian telah ditentukan untuk tegangan vertikal pada kedalaman z di bawah
sebuah sudut bidang persegi dengan dimensi mz dan nz (Gambar 5 . 1 0) yang memikul
tekanan merata q. Penyelesaian terse but dapat ditulis dalam bentuk :

Nilai faktor pengaruh Ir dalam m dan n diberikan dalam bentuk bagan dari Fadum [5.4]
yang diperlihatkan pada Gambar 5. 1 0. Faktor-faktor m dan n dapat dipertukarkan. Bagan
tersebut dapat juga digunakan untuk bidang jalur yang dianggap sebagai bidang persegi
dengan panjang tak-terhingga. Superposisi memungkinkan penyelesaian setiap bidang
persegi dan memungkinkan penentuan tegangan vertikal di bawah setiap titik di dalam
atau di luar bidang terse but.
Kontur-kontur tegangan vertikal yang sama di sekitar bidang persegi yang memikul
tekanan merata diplot pada Gambar 5.8b. Faktor pengaruh untuk ax dan (yang ter
gantung pada v) diberikan dalam Poulos dan Davis [5. 1 4] .
Bagan Pengaruh untuk. Tegangan Vertikal

Newmark [5. 12] membuat suatu bagan pengaruh, berdasarkan penyelesaian Boussinesq,
yang memungkinkan penentuan tegangan vertikal pada titik di bawah bidan berbentuk
sembarang yang memikul tekanan me rata q. Bagan tersebut (Gambar 5. 1 1) terdiri dari
bidang-bidang pengaruh, yang batas-batasnya berupa dua garis radial dan dua lingkaran.
Bidang yang dibebani digambar pada kertas dengan skala sedemikian rupa sehingga panjang
garis pada bagian mewakili kedalaman z di mana tegangan vertikal diperlukan. Posisi

Tegangan dan Perpindahan


0,28
0,26

151

mz!J)
-LzL /
z
y.....-- 11
j_ luz
11 V I I 6
I

[}7
lAll7
ol
711
b
j JJ

\;VVV ll T L
;V; 1111..... v--r I I
JV[/V I_,---- -+ 0,1
o1
lat/ vv
.,.:..
V
v--'
I
v
I
I
L-1v
l--11--I 11\1
I I I l\
m
1

,-

0,24 t

"

2.0

........-

0,22
0,20
0 ,18
0,16
I, 0,14
0,12
0,10
0,08
0,06

0,02
0

,.

--

-,..._

o.

1/
1/

--

01

1--

......

0,1

Gambar 5.10.

0,04

1,

T
Uz= q l,

10

Tegangan vertikal di bawah sudut bidang persegi yang rnernikul tekanan rnerata (Di

reproduksi dari R. E. Fadurn (1948) Proceedings

2nd International Conference SMFE,

Rotterdam, Vol.

3, dengan izin dari Professor Fadurn.)

bidang yang dibebani pada b agan adalah sedemikian rupa sehingga titik di mana tegangan
vertikal dip'hlukan berada pada pusat bagan. Untuk b agan yang diperlihatkan pada Gambar
5.11, nilai pengaruhnya adalah 0,005, yaitu setiap bidang pengaruh mewakili sebuah
tegangan vertikal sebesar 0,005q. Sehingga, bila jumlah bidang pengaruh yang ditutup
oleh gambar berskala dari bidang yang dibebani adalah N, maka tegangan vertikal yang
diperlukan diberikan oleh
az

0,005 Nq

Contoh 5.1

Beban sebesar 1500 KN dipikul oleh suatu pondasi dimgkal berbentuk bujur sangkar ber
ukuran

2 m pada suatu massa tanah. Tentukanlah tegangan vertikal pada suatu titik

5 m di bawah titik pusat pondasi (a) dengan menganggap be ban terbagi rata pada pondasi,
(b) dengan menganggap beban bekerja sebagai beban titik pada titik pusat pondasi.

Mekanika Tanah

1 52

Gari s skala
Gambar 5 . 1 1 .
Bagan pengaruh Newmark untuk tegangan vertikal. Nilai pengaruh per satuan tekan
an = 0,005 . (Direproduksi dari N. M. Newmark (1 942) Influence Chart for Computation of Stresses
in Elastic Foundations, University of Illinois Bulletin No . 3 3 8 , dengan izin dari Professor Newmark. )

(a) Tekanan merata,


q

1 500
= y = 375 kN/m2

Luas pondasi harus dibagi atas 4 bagian sehingga Gambar 5. 10 dapat digunakan. Pada
kasus ini:
mz = nz = 1 m
Untuk z = 5 m
m = n = 0,2

Dari Gambar 5. 1 0,
I, = 0,0 1 8
.

1 53

Tegangan dan Perpindahan

oleh sebab itu akan diperoleh


az

4ql, = 4 X 375 X 0,01 8

27 kNjm2

(b) Dari Tabel 5. 1 , JP = 0,478 karemr rfz


Diperoleh,

az

0, yaitu vertikal di bawah suatu beban titik.


:

1 500
Q
2 JP = 7 X 0,478 = 29 kN/m 2
z

Asumsi beban titik tidak akan digunakan jika kedalaman sampai titik X (Gambar 5.5a)
kurang dari tiga kali ukuran pondasi yang lebih besar.
/

,,

Contoh 5.2

Suatu pondasi persegi berukuran 6 m x 3 m memikul suatu tekanan merata sebesar 300kN/
m2 didekat permukaan suatu massa tanah. Hitunglah tegangan vertikal pada kedalaman
3 m di bawah titik (A) yang dilalui oleh garis pusat pondasi dan berada I ,5 m di luar sisi
panjang pondasi, (a) dengan menggunakan faktor pengaruh, (b) dan menggunakan bagan
pengaruh Newmark.

(a) Dengan menggunakan prinsip superposisi, soal di atas darat diselesaikan dengan cara
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5 . 1 2 . Untuk dua bidang persegi (1) yang memikul
tekanan positif 300 kN/m2 , m = 1 ,00 dan n = 1,50, oleh sebab itu akan diperoleh
lr = 0,193

Untuk dua bidang persegi (2) yang memikul tekanan negatif 300 kN/m2 , m = 1 ,00 dan
n = 0,50, oleh sebab itu didapat
lr = 0, 120.

\r

J adi, tegangan yang dihasilkan adalah

(1z = (2

X 300 X

0, 1 93) - (2

= 44 kN/m2

300 X 0,1 20)

(b) Dengan menggunakan bagan pengaruh Newmark (Gambar 5.1 1 ), garis skala menunjuk
kan 3 m, yaitu skala yang ditetapkan untuk menggambarkan luas bidang persegi. Bidang ter
sebut +iftempatkan sedemikian rupa sehingga titik A berada pada titik pusat bagan. Jumlah
I

6,00 m

!
Tj__'------<A---'

4.50 m

+ 300
kN/m 7

+ 30 0
kN/m 2

(1 }

Gambar 5 .12.

Mekanika Tanah

1 54

bidang pengaruh yang ditutupi oleh bidang persegi mendekati 30 (yaitu N = 30), oleh
sebab itu diperoleh

(Jz = 0,005

xi 30

= 45 kN/m2

300

Contoh 5.3

Suatu pondasi jalur dengan lebar 2 m memikul suatu tekanan merata 250 kN/m2 di atas
permukaan suatu deposit pasir. Muka air tanah berada pada permukaan tersebut. Berat
isi jenuh pasir adalah 20 kN/m3 dan K0 = 0,40. Tentukanlah tegangan vertikal efektif
dan horisontal efektif pada suatu titik yang berada 3 m di bawah titik pusat pondasi
sebelum dan sesudah tekanan bekerja.
Sebelum pembebanan:

a = 3y' 3 X 1 0 ,2 = 30,6 kNjm2


a = Koa = 0,40 x 30,6 = 1 2 ,2 kNjm2
=

Sesudah pembebanan: Berdasarkan Gambar 5.7a, untuk suatu titik yang berada

3 m di bawah titik pusat pondasi,

et = 2 tan - 1(t) = 36 52' = 0,643 radian.

sin et = 0,600
- ct/2
.". cos (ct + 2P) = 1

Kenaikan tegangan total akibat tekanan yang bekerja adalah:

250
q
!laz = - (et + sm et) = - (0,643 + 0,600) = 99,0 kNjm 2
1t

1t

250
q (et - sm et) = !lax = (0,643 - 0,600) = 3,4 kN/m2
1t

1t

oleh sebab itu, diperoleh

a = 30,6 + 99,0 = 1 29,6 kN/m2


a = 12,2 + 3,4 = 1 5,6 kN/m2

5.3. Perpindahan Berdasarkan Teori Elastis

Perpindahan vertikal (Sf) di bawah suatu bidang yang memikul tekanan merata q pada
permukaan massa yang semi tak-terhingga, homogen, isotropis, dengan hubungan tegang
an-tegangan yang linear, dapat dinyatakan sebagai berikut :
qB

S = - (1 - V 2 )Js
I

di mana adalah faktor pengaruh yang tergantung pada bentuk bidang yang dibebani. Pada
kasus bidang persegi, B adalah ukuran yang lebih kecil (ukuran yang lebih besar adalah L)

l SS

Tegangan dan Perpindahan

Faktor pengaruh untuk perpindahan vertikal di bawah bidang


lentur yang memikul tekanan merata.

Tabel 5.2.

Is
Pusat

Bentuk bidang
Bujursangkar

Persegi L/B = 2

Persegi L/B =

Ungkaran

Sudut

1 , 12

0,56

0,95

1 ,00

0,64

0,85

1 ,05

2,10

Rata-rata

0,76

1 ,52

1 ,83

1,30.

clan pada kasus bidang lingkaran, B adalah diameter. Bidang yang dibebani diasumsikan
lentur. Nilai-nilai faktor pengaruh diberikan pada Tabel 5.2, untuk perpindahan di bawah
titik pusat dan sudut bidang (tepi lingkaran, untuk bidang lingkaran) dan untuk per
pindahan rata-rata di bawah bidang secara keseluruhan. Berdasarkan Persamaan 5 .30,
perpindahan vertikal meningkat secara proportional terhadap tekanan dan lebar bidang
yang dibebani. Distribusi perpindahan vertikal adalah dalam bentuk seperti ditunjukkan
pada Gambar 5 . 1 3a, yang melewati tepi hilang. Tekanan kontak antara bidang yang di
bebani dengan massa pendukung adalah merata.
Pada kasus diposit (lempung jenuh yang homogen dan ekstensif, adalah suatu pen
dekatan yang masuk akal untuk mengasumsikan bahwa E konstan di seluruh deposit tersebut
dan menggunakan distribusi pada Gambar 5 . 1 3a. Akan tetapi, pada kasus pasir, nilai E
bervariasi terhadap tekanan pengikat (confining pressure) sehingga akan mengalami ke
naikan menurut kedalamannya dan bervariasi sepanjang lebar bidang yang dibebani, di
mana nilai yang di bawah pusat bidang lebih besar dibandingkan nilai padat tepi bidaug.
Akibatnya distribusi perpindahan vertikal akan terbentuk seperti pad a Gambar 5. 1 3b :
sekali lagi, tekanan kontak akan merata bila bidang tersebut lentur. Karena E bervariasi,
dan heterogenitas, teori elastis sedikit digunakan dalam praktek untuk kasus pasir.
Bila bidang yang dibebani tegar (rigid), perpindahan vertikal akan merata sepanj ang
lebar bidang dan akan sedikit lebih kecil daripada perpindahan rata-rata di bawah bidang
lentur yang bersesuaian. Sebagai contoh, nilai untuk bidang lingkaran yang tegar adalah
rr/4, di mana nilai ini digunakan dalam perhitungan E dari hasil uji pembebanan pelat di
lapangan. Tekanan kontak di bawah bidang tegar tidak merata, sedangkan untuk bidang
lingkaran, b:ntuk distribusi tekanan kontak pada lempung dan pasir berturut-turut diper
lihatkan pada Gambar 5 . 1 4a dan Gambar 5 . 1 4b.
Pada sebagian besar kasus dalam praktek, deposit tanah akan memiliki ketebalan yang
terbatas dan mempunyai dasar berupa lapisan keras. Untuk kasus dengan angka Poisson
sama dengan 0,5 , diperoleh penyelesaian untuk perpindahan vertikal rata-rata di bawah

... _ _ _ _

/t

- /_
s,

(a)

Garnbar 5.13.

--- - -

__ _ _

I
: . _ _ _/
/ ..J _
....
s,

_ _

....... :

(b)

Distribusi perpindahan vertikal: (a) lempung, (b) pasir.

Mekanika Tanah

1 56
I

/,......
lr

'

r-- ,
' 1

'

- - - _.!1_ - - - (a)

Gambar 5 .14.

( b)

tekanan kontak di bawah bidang tegar: (a) lempung, (b) pasir.

bidang lentur yang memikul tekanan merata q oleh Janbu Bjerrum, dan Kjaernsli [ 5.7] .
Penyelesaian tersebut meliputi bidang-bidang lingkaran, persegi, dan jalur pada setiap
kedalaman di bawah permukaan. Perpindahan vertikal diberikan oleh:
qB
S; = Jl o f.l l E

(5. 3 1 )

di mana nilai-nilai koefisien J.lo dan J.L 1 ditentukan dari Gambar 5. 1 5 . Prinsip superposisi
dapat digunakan untuk sejumlah lapisan tanah dengan nilai E y ang berbeda-beda (lihat
Contoh 5.4).
Penyelesaian untuk perpindahan vertikal di atas terutama digunakan untuk meng
hitung penurunan segera (immediate settlement) dari pondasi-pondasi pada lempungjenuh.
Penurunan ini terjadi pada kondisi tak-terdrainasi, dan nilai angka Poisson yang tepat adalah
0,5. Kemudian diperlukan nilai modulus tak-terdrainasi Eu dan kesulitan utama dalam
meramalkan penurunan segera adalah dalam menentukan parameter ini. Nilai Eu ini dapat
ditentukan dengan menggunakan uji aksial tak-terdrainasi; tetapi, nilai ini sangat sensitif
terhadap gangguan pada contoh tanah (sample disturbance) dan pada kasus uji tak-ter
konsolidasi-tak-terdrainasi (unconsolidated-undrained test), hasil yang didapat akan terlalu
rendah. Bila contoh tanah mula-mula direkonsolidasi, maka nilai Eu yang lebih realistis
akan didapat. Konsolidasi dapat isotropis baik di bawah { sampai dari tekanan efektif
akibat berat tanah di atasnya di lapangan, ataupun pada kondisi K0 untuk mensimulasi
kan tegangan efektif di lapangan yang sesungguhnya. Akan tetapi, bila mungkin, nilai Eu
harus ditentukan dari hasil uji beban di lapangan. Walaupun demikian, harus disadari bahwa
nilai yang didapat dari beban di lapangan terse but sensitif terhadap selang waktu antara
penggalian dan pengujian, karena akan terdapat perubahan yang berangsur-angsur dari
kondisi tak-terdrainasi terhadap waktu, di mana semakin besar selang waktu antara peng
galian dan pengujian, semakin kecil nilai Eu . Nilai Eu dapat ditentukan secara langsung
bila pengamatan terhadap penurunan dilakukan selama pembebanan awal pada pondasi.
Untuk lempung tertentu, dapat ditentukan korelasi antara Eu dan parameter kekuatan
geser tak-terdrainasi Czt
Telah diperlihatkan bahwa untuk tanah tertentu, seperti lempung terkonsolidasi
normal, terdapat permulaan yang berarti dari perilaku tegangan-regangan linear di dalam
rentang dari tegangan kerja, yaitu leleh setempat akan terjadi di dalam rentang ini, dan
penurunan segera dapat diabaikan. Suatu metode koreksi untuk leleh setempat telah
dikemukakan oleh D'Appolonia, Poulos dan Ladd [5. 1 ] .

Tegangan dan Perpindahan

1 57

3,0

1-2,5 1-1-- 1-1-2,0 1-1-1-1-1-1 ,5 !i,


-

panj ang

1 ,0

1 00

,
/
_.
rr
,..,
YJI'
I
Jl' --"""'
H
/ ./
\) = 0, 5
,
///
///////
-
7 io""
r77 L,.ooo""'

S = !i !i q B

7/'

L/ B

,
,
/

o , -E-

0,5

.,

0,0 ,...
0,1 0,2

---

/ """'
,_..,

--...,.

0, 5

50

20
10
5

Bujur sangkar

Li ngkaran

10

20

50

1 00

1 000

50

1 00

1 000

H/B

10

20

D/B

Koefisien untuk perpindahan vertikaL (Direproduksi dari N. Janbu,


Gambar 5 . 1 5 .
B. Kjaemsli (1956) Norwegian Geotechnical Institu te Publication No. 16, dengan izin.)

L.

Bjerrum dan

Pada pnns1pnya, perpindahan vertikal pada kondisi terdrainasi penuh dapat diper
kirakan dengan menggunakan teori elastis bila nilai modulus pada kondisi ini (E') dan
nilai angka Poisson untuk kerangka tanah (v' ) dapat ditentukan.

Contoh 5.4

Suatu pondasi berukuran 4m x 2 m , yang memikul suatu tekanan merata 1 50 kN/m2 ,


diletakkan pada kedalaman 1 m pada suatu lapisan lempung setebal 5 m dengan nilai
Eu = 40 MN/m2 Lapisan lempung tersebut berada di atas lapisan lempung kedua setelah
8 m dengan nilai Eu = 7 5 MN/m2 Suatu lapisan keras berada di bawah lapisan lempung
kedua. Tentukanlah penurunan segera rata-rata di bawah pondasi.
Dihitung, D/B = 0 ,5 dan L/B = 2, maka dari Gambar 5 . 15 diperoleh; fJo

( 1 ) Perhatikan lapisan lempung yang lebih atas, dengan Eu

==

0,90.

40 MN/m2 :
I

Mekanika Tanah

1 58

H/B = 4/2 = 2 dan L/B = 2


Jl.l = 0,70.
Oleh sebab itu, dari Persamaan 5 . 3 1 , diperoleh
S;1 = 0,90

0,70

1 50 X 2
= 4,7 mm
40

(2) Perhatikan penggabungan dua lapisan, dengan Eu = 75 MN/m2 :


H/B = 1 2/2 = 6 dan L/B = 2
Jl. t = 0,90
sil

= 0,90

0,90 x

1 50 X 2
= 3 ,2 mm
75

(3) Perhatikan lapisan kedua, dengan Eu = 75 MN/m2 :


H/B = 2 dan
Jl.l = 0,70
S ;3 = 0,90

L/B = 2

0,70

1 50 X 2
= 2,5 mm
75

Dengan menggunakan prinsip superposisi, penurunan pondasi dapat dihitung sebagai


berikut:
= 4,7 + 3 ,2 - 2 ,5 = 5 ,4 mm.

Soal-soal

5 . 1 . Hitunglah tekanan vertikal tanah pad a kedalaman 5 m vertikal di bawah be ban


titik 5000 kN yang bekerja didekat permukaan. Gambarkan variasi tegangan vertikal
dengan jarak radial (sampai 1 0 m) pada kedalaman 5 m.
5.2. Tiga beban titik 1 0.000 kN, 7500 kN dan 9000 kN bekerja pada satu bagian garis
5 m yang terletak dekat dengan permukaan massa tanah. Hitunglah tegangan vertikal
pada kedalaman 4 m vertikal di bawah pusat beban 7500 kN .
5.3. Tentukan tegangan vertikal pada kedalaman 3 m di bawah pusat pondasi dangkal
2 m x 2 m yang memikul tekanan merata sebesar 250 kN/m2 . Gambarkan variasi
tegangan vertikal dengan kedalaman (sampai 1 0 m) di bawah pusat pondasi.
5.4. Pondasi dangkal 25 m x 18 m menerima tekanan merata sebesar 175 kN/m2 . Tentu
kan tegangan vertikal pada titik 1 2 m di bawah titik tengah salah satu dari sisi yang
lebih panjang. (a) dengan menggunakan faktor pengaruh, (b) dengan menggunakan
bagan Newmark.
5.5. Beban garis sebesar 1 50 kN/m bekerja 2 m di belakang permukaan suatu struktur
penahan tanah setinggi 4 m. Hitunglah gaya dorong total dim gambarkan distribusi
tekanan pada struktur yang disebabkan oleh beban garis terse but.

Tegangan dan Perpindahan

1 59

5.6. Suatu pondasi berukuran 4 m x 2 m memikul tekanan merata sebesar 200 kN/m2
pada kedalaman I m pada lapisan lempung jenuh setebal 1 1 m, dan terletak pada
lapisan keras. Jika Eu untuk lempung adalal1 45 MN/m2 , tentukan nilai rata-rata
penurunan segera di bawah pondasi.

Referensi
5. 1

D'Appolonia, D. J., Poulos, H. G. dan Ladd, C. C. (197 1): 'Initial


Settlement of Structures on Clay', Journal ASCE, Vol. 97, No. SM 10.
5.2 Desai, C. S. dan Abel, J. F. ( 1972): Introduction to the Finite Element
Method, Van Nostrand Reinhold, New York.
5.3 Drucker, D. C. (1950): 'Some Implications of Work Hardening and
Ideal Plasticity', Q. Appl. Math., Vol. 7.
5.4 Factum, R. E. (1948): 'Influence Values for Estimating Stresses in
Elastic Foundations', Proceedings 2nd International Conference
SMFE, Rotterdam, Vol. 3.
5.5 Gibson, R . E . dan Anderson , W. F. (1961) : 'In-Situ Measurement of
Soil Properties with the Pressuremeter' , Civil Engineering and Public
Works Review, Vol. 56.
5.6 Hughes, J . M. 0 . , Wroth , C. P. dan Windle, D. (1977) : 'Pressure
meter Tests in Sands' , Geotechnique, Vol. 27 , No. 4.
5 . 7 Janbu, N . , Bjerrum, L. dan Kjaernsli, B . (1956) : Norwegian Geotech
nical Institute Publication No. 16.
5.8 Kondner, R. L. (1963) : 'Hyperbolic Stress-Strain Response : Cohesive
Soils' , Journal A SCE, Vol . 89 , No. SMl .
5.9 McKinlay, D . G. dan Anderson, W. F. ( 1975): 'Determination of the
Modulus of Deformation of a Till Using a Pressuremeter' , Ground
Engineering, Vol. 8, No. 6.
5 . 10 Mair, R. J . dan Wood, D . M . ( 1986) : 'A Review of the Use of
Pressuremeters for In-Situ Testing' , CIRIA Report.
5 . 1 1 Marsland, A. dan Randolph , M. F. ( 1977): 'Comparisons of the
Results from Pressuremeter Tests and Large In-Situ Plate Tests in
London Clay', Geotechnique, Vol. 27, No. 2.
5 . 12 Newmark, N . M. ( 1942) : Influence Charts for Computation of Stresses
in Elastic Foundations, University of Illinois Bulletin No. 338.
5 . 13 Palmer, A. C. ( 1972) : 'Undrained Plane Strain Expansion of a
Cylindrical Cavity in Clay: a Simple Interpretation of the Pressure
meter Test', Geotechnique, Vol. 22, No. 3 .
5 . 14 Poulos, H : G. dan Davis, E . H. ( 1 974) : Elastic Solutions for Soil and
Rock Mechanics, John Wiley and Sons, New York.
5 . 15 Scott , R. F. ( 1963): Principles of Soil Mechanics, Addison-Wesley,
Reading, Massachusetts.
5 . 16 Terzaghi, K. (1943) : Theoretical Soil Mechanics, John Wiley and
Sons, New York.
5 . 1 7 Timoshenko, S. dan Goodier, J. N. (1970) : Theory of Elasticity (3rd
edition) , McGraw-Hill, New York.
5 . 1 8 Windle, D. dan Wroth, C. P. ( 1 977) : 'The Use of a Self-Boring
Pressure meter to Determine the Undrained Properties of Clay' ,
Ground Engineering, Vol. 10, No. 6.
5.19 Wroth , C. P. ( 1 984) : 'The Interpretation of In-Situ Soil Tests',
Geotechnique, Vol. 34, No. 4.

BAB 6

Tekanan Tanah
Lateral

6 . 1 . Pendahuluan
Bab ini membahas tentang besar gan distribusi tekanan lateral antara tanah dan suatu
S
stahan ya_!!g _ !J .lliasurnsikan uatu kondlSl reganganu6Idang, y'l!itu
. regangan-regangan pada arah longitudinal struktur diasumsikan sama dengan nol. Pe
nyelesaian pasti dari masalah seperti ini, yang mempertimbangkan baik tegangan-tegangan
maupun perpindahan-perpindahan, akan melibatkan pengetahuan tentang persamaan
persamaan yang telah ada yang mendefmisikan hubungan tegangan-regangan pada tanah
dan pemecahail persamaan-persamaan keseimbangan dan kompatibel dengan kondisi
kondisi batas yang diketahui. Analisis eksak masalah tekanan tanah jarang sekali dilakukan.
Tetapi, kondisi keruntuhan massa tanah yang ditahan merupakan tinjauan utama dan
dalam konteks ini, kita tidak perlu memperhatikan, perpindahan , sehingga memungkinkan
kita menggunakan konsep keruntuhan plastis (plastic collapse). Masalah tekanan tanah
dapat dianggap sebagai masalah plastisitas.
Diasumsikan bahwa perilaku tanah dapat diwakili oleh hubungan tegangan-regangan
yang diidealisasi seperti terlihat dalam Gambar 6 . 1 , di mana setelah mengalami leleh
(yielding) tanah berperilaku seperti material plastis sempuma dengan regangan plastis
tak-terbatas teijadi pada suatu tegangan konstan, dengan kata lain regangan-regangan
setelah keadaan leleh, bersifat plastis sepenuhnya. Penggunaan hubungan ini menunjuk
an bahwa leleh dan keruntuhan geser teijadi pada keadaan tegangan yang sama. Suatu
tanah dikatakan berada dalam keseimbangan plastis jika tegangan gese r pada setiap titik
pada tanah terse but mencapai keadaan tegangan yang diwakili oleh titik Y.

i Y

"'
c:
"'

__
__
__
__
__
__
__

g>
"'

Regangan geser

Gambar 6.1. Hubungan tegangan-regangan yang diidealisasi.

Tekanan Tanah Lateral

1 61

Keruntuhan plastis terjadi setelah tercapai keseirnbangan plastis pada sebagian tanah,
yang menghasilkan pembentukan mekanisme yang tidak stabil di mana sebagian tanah
akan tergelincir relatif terhadap tanah-tanah yang tersisa. Sistem beban yang bekerja,
termasuk gaya-gaya yang bekerja pada tanah, dalam hal ini disebut dengan beban runtuh
(collapse load). Penentuan beban runtuh dengan teori plastisitas cukup kompleks dan
mensyaratkan bahwa persamaan-persamaan keseirnbangan, kriteria leleh, dan hukum
aliran dipenuhi dalam daerah plastis kondisi kompatibilitas tidak akan diperlukan kecuali
bila diberlakukan kondisi-kondisi deformasi khusus. Tetapi teori plastisitas juga merupa
kan pelengkap cara-cara menghindari analisis yang bersifat kompleks. Teorema batas
plastisitas dapat digunakan untuk menghitung batas bawah dan batas atas terhadap beban
runtuh yang sebenarnya. Pada kasus-kasus tertentli, teorema tersebut membuahkan hasil
yang sama, yang kemudian merupakan nilai eksak dari beban runtuh.
Teori batas dapat didefmisikan sebagai berikut.

Teori batas bawah (lower bound theorem). Jika suatu keadaan tegangan berada dalam
suatu kondisi di mana tidak terdapat titik yang melebihi kriteria keruntuhan tanah dan
berada dalam kondisi seimbang dengan suatu sistem beban luar (termasuk berat sendiri
tanah), maka tidak terjadi kondisi mntuh. Jadi, sistem beban luar merupakan batas bawah
dari beban runtuh yang sebenarnya.
Teorema batas atas (upper bound theorem). Jika suatu mekanisme kemntuhan plastis
dimisalkan terjadi pada tanah dan jika diberikan suatu penambahan perpindahan sehingga
iaju usaha yang dilakukan oleh beban-beban luar sama dengan laju disipasi energi oleh
tegangan-tegangan dalam, maka akan terjadi kondisi runtuh. Sistem beban luar merupa
kan batas atas dari beban runtuh yang sebenarnya.
Pada pendekatan batas bawah, kondisi keseimbangan dan leleh dipenuhi tanpa mem
perhatikan terjadinya cara deformasi. Kriteria kemntuhan Mohr-Coulomb juga dinyatakan
sebagai suatu kriteria leleh. Pada .pendekatan batas atas, suatu mekanisme kemntuhan
plastis dibentuk dengan memilih suatu permukaan gelincir dan usaha yang dilakukan
oleh gaya-gaya luar disamakan dengan disipasi energi dalam tanpa memperhatikan ke
seimbangannya. Mekanisme keruntuhan yang dipilih tersebut tidak perlu mekanisme
yang sebenarnya tetapi hams dapat diterima secara kinematis, dengan kata lain pergerak
an massa tanah tergelincir hams sejalan dengan kontinuitasnya dan dengan batas-batasnya.
Dapat ditunjukkan bahwa untuk kondisi tak-terdrainasi (undrained), permukaan gelincir
nya dapat berbentuk satu garis lurus atau satu busur lingkaran (atau kombinasi keduanya).
Sedangkan untuk kondisi terdrainasi (drained), permukaan gelincirnya dapat bempa
satu garis lurus atau spiral logaritmik (atau kombinasi keduanya). Ini memenuhi persyarat
an bahwa permukaan-permukaan gelincir hams saling berpotongan membentuk sudut
(90 + cf>).

6.2. Teori Rankine tentang Tekanan Tanah


Teori Rankine (1857) mempertimbangkan keadaan tegangan pada massa tanah ketika
kondisi keseimbangan plastisnya telah tercapai, yaitu ketika kemntuhan gesernya pada
suatu titik terjadi pada seluruh tanah. Teori tersebut memenuhi kondisi pemecahan plasti
sitas batas bawah. Ungkaran Mohr yang menunjukkan kondisi tegangan pada saat ke
runtuhan elemen dua-dimensi dapat dilihat dalam Gambar 6.2, di mana parameter-para
meter kekuatan geser yang tekanan dinyatakan dengan c dan cp. Keruntuhan geser terjadi

1 62

Mekanika Tanah

Gambar 6.2.

Kondisi keseimbangan plastis.

sepanjar{g suatu bidang yang membentuk sudut sebesar (45" + cf>/2) terhadap bidang utama
besar. Jika seluruh massa tanah diberi tegangan sedemikian rupa sehingga tegangan-tegang
an utama pada setiap titik memiliki arah yang sama, maka secara teoritis akan terdapat
suatu jaringan bidang keruntuhan (dikenal sebagai lapangan garis gelincir) yang memiliki
kemiringan yang sama terhadap bidang-bidang utama, seperti terlihat pada Gambar 6.2.
Harus diperhatikan bahwa kondisi keseimbangan plastis hanya dapat dibentuk jika pada
tanah yang bersangkutan teijadi deformasi yang cukup besar.
Tinjaulah sekarang suatu tanah semi-tak terbatas dengan permukaan horisontal
dan memiliki batas vertikal yang terbuat dari dinding berpermukaan halus dengan ke
dalaman serni-tak terbatas, seperti diperlihatkan pada Gambar 6.3a. Tanah diasumsikan
bersifat homogen dan isotropik. Suatu elemen tanah pada kedalaman z akan menerima
tegangan vertikal az dan tegangan horisontal ax dan, karena tidak teijadi rambatan lateral
dari berat tanah jika permukaannya horisontal, tidak akan teijadi tegangan geser pada
bidang-bidang horisontal dan vertikal. Oleh sebab itu, tegangan-tegangan vertikal dan
horisontal menjadi tegangan-tegangan utama.

Tekanan Tanah Lateral

163

I
I
I

Permukaan-- +
dinding

Kondisi
aktif

(a)

Kondisi Rankine aktif


(b)
Gambar 6.3.

45

P.

Kondisi Rankine pasif

Kondisi Rankine aktif dan pasif.

(c)

Jika sekarang teijadi pergerakan dinding menjauhi tanah, maka nilai ax berkurang
karena tanah berdilatasi atau mengembang ke luar, di mana pengurangan ax merupakan
suatu fungsi yang tidak diketahui dari regangan lateral pada tanah. Jika pengembangan
tanah yang teijadi cukup besar, nilai ax berkurang sampai suatu nilai minimum sedemi
kian rupa sehingga terbentuk kondisi keseimbangan plastis. Karena kondisi ini teijadi
karena penurunan tegangan horisontal ax, maka ax merupakan tegangan utama kecil
(a3). Tegangan vertikal az merupakan tegangan utama besar (at ).
Tegangan a1 ( = az) adalah tekanan overburden tekanan akibat beban tanah di atas
nya pada kedalaman z dan merupakan nilai yang tetap untuk sebarang kedalaman. Nilai
a3 (= ax) ditentukan dengan lingkaran Mohr yang melalui melalui titik yang menyata
kan a1 dan menyinggung selubung keruntuhan (failure envelope) tanah. Hubungan antara
a1 dan a3 pada saat tanah mencapai kondisi keseimbangan plastis dapat diturunkan dari
lingkaran Mohr ini. Pada dasarnya rumusan Rankine diturunkan dengan mengasumsikan
c = 0 tetapi penurunan umum dengan c lebih besar dari nol diberikan di bawah ini.
Lihat Gambar 6.2,

Mekanika Tanah

1 64

. 1 + sin 4>) = a1 (1 - sin 4>) - 2c cos 4>


1 - sin </>) .J(l - sin2</>)
. . . a3 - a1 (
1 + sin4> - 2c 1 + sin4>
(6.1)
. . . 0'3 = O't G ::: :) - 2c JG ::: :)
Cara lain, tan2 [45 - (t/>/2)] dapat disubstitusikan ke dalam persamaan di atas, untuk
menggantikan besaran (1 - sin tf>)/(1 + sin
Seperti telah ditetapkan, adalah tekanan overburden pada kedalaman z, yaitu
: a3 (

if>).

o1

O't = yz

Tegangan horisontal untuk kondisi seperti di atas didefinisikan sebagai tekanan aktif (pA ),
yaitu tekanan akibat berat sendiri tanah. Jika

1 - sin 4>
1 + sin 4>

---:KA = -:-----'-:-

didefinisikan sebagai koefisien tekanan aktif, maka Persamaan

6. 1 dapat ditulis sebagai

(6.2)

Bila tegangan horisontal menjadi sama dengan tekanan aktif, tanah dikatakan berada dalam
kondisi aktif Rankine, di mana terdapat dua set bidang runtuh yang masing-masing mem
bentuk sudut
+ t/>/2) terhadap horisontal (arah bidang utama besar) seperti terlihat
dalam Gambar
Pada penurunan di atas dimisalkan dinding bergerak meninggalkan tanah. Jika, pada
kondisi lain, dinding bergerak ke arah massa tanah, maka akan terjadi kompresi lateral
pada tanah dan nilai ox akan bertambah sampai dicapai kondisi keseimbangan plastis.
Untuk kondisi ini, ox mencapai nilai maksimum dan merupakan tegangan utama besar
o 1 Tegangan oz , sama dengan tekanan overburden, yaitu merupakan tegangan utama
kecil, yaitu ,

(45
6.3b.

0'3 = yz

Nilai maksimum o1 dicapai apabila lingkaran Mohr yang melalui titik yang menyatakan
nilai o3 menyinggung selubung keruntuhan tanah. Pada kasus ini, tegangan horisontal
didefiniikan sebagai tekanan pasif.(pp) yang menyatakan tahanan maksimum tanah ter
hadap kompresi lateral. Persamaan
menjadi:

6.1
( 1 + sin 4>) (1 + sin. 4>)
O't - 03 1 - sm"' + 2 c J 1 - sm<J>
_

(6.3)

,1,

Jika,

Kp =

1 + sin </>
1 - sin 4>

dideftnisikan sebagai koefisien tekanan pasif, Persamaan


PP = Kpyz 2c .JKp

6.3 dapat ditulis sebagai

(6.4)

Apabila tegangan horisontal menjadi sama dengan tekanan pasif, tanah tersebut dikata
kan berada dalam kondisi pasif Rankine, di mana akan terdapat dua set bidang runtuh

Tekanan Tanah Lateral

165

Pas if
Gambar6.4. Distribusi tekanan aktif dan pasif.

yang masing-masing membentuk sudut

(45

+ r/J/2) terhadap

vertikal (arah bidang-utama

mayor) seperti terlihat dalam Gambar 6.3c.


Penin jauan Persamaan-persamaan 6.2 dan 6.4 menunjukkan bahwa tekanan aktif
dan tekanan pasif bertambah secara linear terhadap kedalaman seperti ditunjukkan dalam
Gambar 6.4. Jika
Jika

0, didapat distribusi tegangan berbentuk segitiga pada setiap kasus.

lebih besar dari nol, nilai PA sama dengan nol pada kedalaman tertentu

Dari Persamaan 6.2, dengan PA

z0.

0, diperoleh

2c
Zo yJ KA
=

(6.5)

Ini berarti bahwa pada kasus aktif, tanah yang terletak di antara permukaan dan kedalam
an

z0

akan mengalami tarikan. P ada prakteknya, tarikan ini tidak memberikan pengaruh

pada dinding karena retakan pada dinding terjadi dalam daerah tarik dan diagram distri
busi tekanan di atas kedalaman

z0 harus diabaikan.

Gaya tiap satuan pan jang dinding akibat distribusi tekanan aktif disebut

gaya dorong

aktif total ( PA ) Untuk dinding vertikal dengan ketinggian H:


.

zo

=-!KAy(H2 - z)- 2c(JKA)(H- z0


=-!KAy(H- z0)2
Gaya PA bekerja pada jarak i (H- z0) di atas dasar dinding.
Gaya akibat distribusi tekanan pasif disebut

(6.6)
(6.6a)

tahanan pasif total (Pp)- Untuk dinding

vertikal dengan ketinggian H,


H

Pp= I

ppdz

(6.7)

Mekanika Tanah

166

-r
H,

_L

-fAq,-

_ l_
H

Aktif

r KpQ -j
Pasif

Gambar 6 .5 . Tekanan tambahan akibat beban tambahan .

Kedua komponen Pp bekerja, berturut-turut, pad a jarak H/3 dan H/2 di atas dasar dinding.
Jika suatu tekanan tambahan terdistribusi merata q tiap satuan luas bekerja pada
seluruh permukaan tanah, tegangan vertikal az pada sembarang kedalaman bertambah
sampai ('Yz + q), menghasilkan tekanan tambahan sebesar KA q pada kasus aktif atau Kpq
pada kasus pasif, keduanya terdistribusi konstan terhadap kedalaman seperti terlihat dalam
Gambar 6. 5. Gaya-gaya yang bersesuaian yang bekerja pada dinding vertikal dengan ke
tinggian H adalah, berturut-turut, KA qH dan KpqH, yang masing-masing bekerja pada
tengah-tengah ketinggian H. Pada kasus dua lapisan tanah yang memiliki kekuatan geser
berbeda, berat lapisan yang lebih atas dapat dianggap sebagai beban tambahan (surcharge)
yang bekerja pada lapisan di bawahnya. Ak.an terdapat diskontinuitas pada diagram tekan
an pada Batas kedua lapisan tersebut akibat perbedaan harga parameter-parameter ke
kll atan ge.kr.
Jika tanah di bawah muka air tanah berada dalam kondisi terdrainasi sempuma (fully
drained), tekanan-tekanan aktif dan pasif harus dinyatakan dalam berat efektif tanah
'
dan parameter-parameter tegangan efektif c dan q/. Sebagai contoh, jika muka air tanah
berada pada permukaan tanah dan jika tidak terjadi rembesan, tekanan aktif pada kedalam
an z diberikan oleh

di mana

KA

1 - sin </>'
1 + sin </>'

Persamaan yang sesuai berlaku pada kasus pasif. Tekanan hidrostatik "fwZ akibat air dalam
pori-pori tanah harus dianggap sebagai tambahan terhadap tekanan-tekanan aktif atau
pasif.
Untuk kondisi tak-terdrainasi {undrained) pada tanah jenuh sempuma, tekanan
tekanan aktif dan pasif dihitung dengan memakai parameter-parameter cu dan cf>u dengan
berat isi total 'Ysat (yaitu air dalam pori-pori tanah tidak diperhitungkan secara terpisah).

Contoh

6.1

(a) Hitunglah gaya dorong aktif total pada dinding vertikal setinggi 5 m yang menahan
pasir dengan berat isi 1 7 kN/m3 di mana et> ' = 35 : permukaan pasir adalah horisontal,

Tekanan Tanah Lateral

1 67

3,00 m

j_

Aktif

Hidrostatik

Garnbar 6.6.

dan muka air tanah berada di bawah dasar dinding. (b) Tentukan gay a dorong pad a dinding
jika muka air tanah naik hingga ketinggian 2 m di bawah permukaan pasir. Be rat isi jenuh
pasir sama dengan 20 kN/m3 .
(a)

1 - si n 35o
o = 0,27 J
KA =
.
1 + sm 35
PA = 1KA yH 2 = 1 x 0,27 x 1 7

52 = 57,5 kNjm /

(b) Distribusi tekanan pada dinding sebarang terlihat pada Gambar 6.6, termasuk tekanan
hidrostatik pada dinding setinggi 3 m. Komponen-komponen gay a dorong adalah :

= 9,2 kNjm
( 1 ) t X 0,27 X 1 7 X 22
3
X
2
X
7
1
X
0,27
2)
= 27,6 n
(
( 3) t X 0,27 X (20 - 9,8) X 3 2 = 12,4 (
(4) t X 9,8 X 32
= 44. 1 "'
Jumlah dorong total
= 93,3 kN/m
Contoh 6.2

Kondisi tanah yang dibatasi dengan suatu turap (sheet pile) diberikan dalam Gambar
6.7, di mana suatu tekanan tambahan sebesar 50 kN/m dipikul oleh permukaan tanah
di belakang ,dinding. Untuk tanah 1 , yang berupa pasir di atas muka air tanah, c ' = 0,
'
q/ = 38 dan 'Y = I 8 kN/m3 . Tanah 2, yaitu lempung jenul} air, c = 10 kN/m2 , cp' = 28 ,
dan 'Ysat = 20 kN/m 3 . Plot distribusi tekanan aktif di belakang dinding dan tekanan pasif
di depan dinding.
Untuk tanah I ,

1 - si n 38
KA =
0 = 0,24
.
1 + sm 38

1
Kp = -- = 4, I 7
0,24

Untuk tanah 2,

1 - si n 28o
= 0, 36
KA =
1 + sin 28o
dan

Kp =

1
= 2,78
0 , 36

Tekanan-tekanan pada tanah I dihitung dengan menggunakan KA = 0,24, Kp = 4, 1 7,


'Y = I 8 kN/m3 Tanah 1 kemudian dianggap sebagai beban tambahan sebesar (I 8 X 6)

Mekanika Tanah

1 70

Jika c = 0, hubungan antara


diturunkan dari diagram.

PA

dan

az , yang memberikan koefisien tekanan

aktif, dapat

_ _ OB _ OB' _ OD - AD
KA - PA a, OA - OA - OD + AD
Sekarang,

OD = 0C cos f3
AD = J(OC2 sin 2 4> - OC2 sin 2{3)

(6.8)

karena itu

_ cos f3 - J(cos2 f3 - cos24>)


KA cos f3 + J(cos2 f3 - cos2 4>)
Jadi, tekanan aktif yang bekeija paralel terhadap kemiringan adalah :
PA =

KA yz cos f3

(6.9)

dan gay a dorong aktif total pad a suatu dinding vertikal dengan tinggi H adalah:

PA

-!KA yH2 cos f3

(6. 1 0)

Pada kasus pasif, tegangan vertikal az diwakili oleh jarak CB ' dalam Gambar 6.8b.

Lingkaran Mohr yang mewakili suatu keadaan tegangan pada elemen, setelah suatu kondisi
keseimbangan plastis akibat kompresi lateral tanah terbentuk, harus melalui B' (sedemikian
rupa sehingga bagian terbesar dari lingkaran tersebut terletak pada bagian B' yang men
jauhi arah titik asal) dan menyinggung selubung keruntuhan. Tekanan pasif Pp dinyatakan
oleh CA' (yang besarnya secara numerik sama dengan OA) dan jika c = 0, koefisien tekan
an pasif (sama dengan Pp/az ) diberikan oleh

2 f3 - cos 2 4>)
cos f3 + J (cos
- --=-:-:Kp
. = ---'::---'-;-cos f3 - J(cos2 f3 - cos24>)

(6. 1 1 )

Tekanan pasif, yang bekeija sej ajar dengan kemiringan, diberikan oleh,
PP =

Kpyz cos f3

Pp

-!KpyH2 cos f3

(6. 1 2)

dan tahanan pasif total pada suatu dinding vertikal dengan tinggi H adalah
=

(6. 1 3)

Tekanan-tekanan aktif dan pasif tentu saja dapat diperoleh secara grafis dari Gambar
6.8b. Rumus di atas hanya berlaku bila parameter kekuatan geser c adalah nol: bila c lebih
besar dari nol, cara grafis harus digunakan.
Arah kedua bidang runtuh dapat dipero1eh dari Gambar 6.8b. Pada kasus aktif, koor
dinat titik A menyatakan keadaan tegangan pada suatu bidang yang membentuk sudut {3
terhadap horisontal, karena itu titik B' merupakan titik asal bidang. (Sebuah garis yang
ditarik dari titik asal bidang akan memotong keliling lingkaran pada sebuah titik di mana
koordinatnya mewakili suatu keadaan tegangan pada bidang yang sejajar dengan garis
tersebut). Keadaan tegangan pada suatu bidang vertikal diwakili oleh koordinat titik B.
Bidang-bidang runtuh, yang terlihat dalam Gambar 6-8a, sej ajar dengan B'F dan B'G
(F dan G terletak pada selubung keruntuhan). Pada kasus pasif, koordinat titik B' me
nyatakan keadaan tegangan pada sebuah bidang yang membentuk sudut {3 terhadap hori
sontal, karena itu titik A merupakan titik asal bidang tersebut. Keadaan tegangan pada

1 71

Tekanan Tanah Lateral

sebuah bidang vertikal diwakili oleh koordinat titik A'. Bidang-bidang runtuh pada kasus
pasif berarah sejajar dengan AF dan AG.

Contoh 6.3
Sebuah dinding vertikal setinggi 6 m, di atas muka air tanah, menahan tanah dengan
kemiringan 20 , di mana tanah tersebut memiliki berat isi sebesar 18 kN/m3 . Parameter
parameter kekuatan geser yang tersedia adalah c' = 0 dan q/ = 40 . Tentukan gaya dorong
aktif total pada dinding dan arah kedua set bidang runtuh relatif terhadap horisontal.
Dalam hal ini, gaya dorong aktif total dapat diperoleh dengan perhitungan. Dengan
memakai Persamaan 6.8.

Maka

PA = t KAyH 2 cos f3
=

0,265

18

62

0,940

= 8 1 kN/m

Hasil tersebut dapat pula dihitung dengan menggunakan diagram tegangan (Gambar
6.9). Gambarkan selubung keruntuhan pada sumbu r/a dan sebuah garis lurus melalui
titik asal yang membentuk sudut 20 terhadap horisontal. Pada kedalaman 6 m,

az = yz cos f3 =

18

0,940 = 102 kNjm2

dan tegangan ini digambarkan dengan skala Garak OA) sepanjang garis yang membentuk
sudut 20 . Kemudian digambar lingkaran Mohr seperti pada Gambar 6.9 dan tekanan
aktif Garak OB atau CB') diukur dari diagram terse but, yaitu,

PA

= 2 7 kN/m 2
7

OA

1 02

kN;m 2

<T

20

40

60

kN/m 2

80

Gambar 6.9.

1 00

1 20

Mekanika Tanah

1 72

dan

PA

1 PA H

1 x 27 x 6

81 kN/m

Bidang-bidang runtuhnya sejajar dengan B'F dan B'G pada Gambar 6.9. Arah garis
garis ini diukur, dan besarnya berturut-turut 5 9 dan 7 1 o terhadap horisontal (bila di
jumlahkan, akan sama dengan 90 + cp).
Tekanan Tanah Diam
Telah ditunjukkan bahwa tekanan aktif berkaitan dengan ekspansi lateral tanah dan me
rupakan nilai tekanan minimum; sedangkan tekanan pasif dikaitkan dengan kompresi
lateral tanah dan merupakan nilai tekanan maksimum. Bila regangan lateral pada tanah
sama dengan nol maka tekanan lateral yang ditimbulkannya disebut tekanan tanah diam
(pressure at-rest) dan biasanya dinyatakan dalam tegangan efektif dengan persamaan
berikut :

Po

= Koy'z

(6.14)

di mana K0 disebut koefisien tekanan tanah diam, dalam besaran tegangan efektif.
Karena kondisi diam tidak terjadi melibatkan keruntuhan pada tanah (sudah berada
dalam keseimbangan lastis), lingkaran Mohr yang melukiskan tegangan-tegangan vertikal
. dan horisontal tidak menyinggung selubung keruntuhan dan tegangan horisontalnya
tidak dievaluasi. Nilai K0 dapat ditentukan secara eksperimental dengan uji triaksial,
di mana tegangan aksial dan tekanan menyeluruh (tekanan sel) dinaikkan bersama-sama
sedemikian rupa sehingga tidak terjadi regangan lateral pada contoh tanah. Untuk lempung
lempung lunak, Bjerrum dan Anderson [6.2] telah mengembangkan metode pengukuran
tekanan lateral di lapangan, dan Wroth serta Hughes [ 6.25] memperkenalkan pengukur
tekanan uiltuk mengukur tekanan yang sama.
Umumnya, untuk setiap kondisi yang berada di antara kondisi aktif dan kondisi pasif,
nilai tegangan lateral tidak diketahui. Kondisi-kondisi yang mungkin terj adi hanya dapat
ditentukan secara eksperimental. Gambar 6- 1 0 menunjukkan bentuk hubungan antara
regangan dan koefisien tekanan lateral. Regangan yang menyebabkan tekanan pasif jauh
lebih besar dibanding dengan yang menyebabkan tekanan aktif. Alur tegangan penyebab
teljadinya kondisi-kondisi aktif dan pasif dapat dilihat dari kondisi K0 (untuk K0 < 1)
dalam Gampar 6. 1 1 ditunjukkan alur tegangan efektif tersebut, yaitu AB untuk kondisi
aktif dan AC untuk kondisi pasif.
Tanah yang terkonsolidasi normal memiliki nilai K0 yang besarnya dapat dihubung
kan se cara pendekatan dengan parameter tegangan efektif cp', J aky mengajukan rumus
berikut:
K0 = I -

sin ifJ'

(6. 1 5a)

Untuk tanah yang terkonsolidasi berlebihan, nilai K0 tergantung dari sejarah tanah ter
sebut dan dapat lebih besar dari satu, di mana suatu tekanan diam teljadi saat konsolidasi
awal tetap berlangsung pada tanah meskipun tegangan efektifnya makin lama makin
berkurang. Mayne dan Kulhawy [6. 10] merumuskan korelasi berikut ini untuk tanah
terkonsolidasi berlebihan selama tanah tersebut mengalami ekspansi (tetapi bukan rekom
presi):
Ko =

( 1 - sin ifJ')(OCR)sin<f>'

(6. 1 5b)

1 73

Tekanan Tanah lAteral

Regangan lateral

Garnbar 6.10.

Hubungan antara regangan lateral dan koefisien tekanan lateral.

Modifikasi selubung
keruntuhan "'-

Garnbar 6.1 1 .

Ko

V
0

l.2 (a'+a'
, 3)

Alur tegangan efektif untuk kondisi-kondi aktif dan pasif.

v---

./

I-"

15

10

-""'

20

, _

OCR

Garnbar 6.12.

Hubungan tipikal antara K0 dan OCR.

25

1 74

Mekanika Tanah

Tabel 6.2.

KoefJSien Tekanan Tanah-Diam

0,35
(},6
0,5-0,6

Pasir pada1
Pasir lepas

Lempung-lempung terkonsolida.Si normal (Norwegia)


Lempung, OCR = 3 ,5 (London)
Lempung, OCR = 20 (London)

1,0
2,8 '

dengan OCR adalah rasio overkonsolidasi. Hubungan tipikal antara K0 dan OCR, ditentu
kan dari alat triaksial, ditunjukkan pada Gambar 6 . 1 2. Nilai-nilai tipikal K0 untuk ber
macam-macam tanah diberikan dalam Tabel 6.2.

Aplikasi Teori Rankine pada Dinding Penahan


Dalam teori Rankine , kondisi tegangan pada tanah yang luasnya semi-tak terbatas me
rupakan bahan tinjauan, di mana seluruh tanah mengalami ekspansi lateral atau kom
presi lateral. Gerakan dinding penahan dengan kedalaman tertentu tidak dapat meng
hasilkan kondisi aktif atau pasif pada keseluruhan tanah tersebut. Kondisi aktif, misalnya,
hanya dapat terjadi pada bagian tanah yang terletak di antara dinding dan bidang runtuh
yang melewati ujung bawah dinding dan membentuk sudut (45 + cf>/2) terhadap hori
sontal, seperti terlihat dalam Gambar 6. 1 3a : tanah selebihnya berada dalam kondisi ke
seimbangan elastis. Pada sisi bagian atas tersebut diperlukan suatu nilai regangan lateral
minimum tertentu untuk membentuk kondisi aktif. Gerakan rotasi (A'B) dinding men
jauhi tanah dengan pusat putar pada ujung bawah dinding dapat menimbulkan suatu
regangan merata pada sisi tersebut di atas. Deformasi tipe ini, bila nilainya cukup besar,
merupakan kondisi deformasi minimum untuk pembentukan kondisi aktif. Jika deformasi
dinding tidak memenuhi kondisi deformasi minimum maka tanah yang berada di dekat
dinding tersebut tetap berada dalam kondisi keseimbangan elastis dan nilai tekanan lateral
nya berada di antara kondisi diam dan kondisi aktif. Jika dinding berdeformasi dengan
rotasi yang ber pusat pada ujung atasnya, kondisi untuk membentuk keadaan aktif tidak
akan terpenuhi karena tanah di dekat permukaan tidak mengalami regangan yang cukup
besar. Pada kasus pasif, kondisi deformasi minimum adalah gerakan rotasi dinding yang
berpusat pada' ujung bawahnya, ke arah tanah. Jika gerakan ini cukup besar, kondisi

(a) Kondisi aktif

Gambar 6.1 3.

(b) Kondisi pasif

Kondisi deformasi minimum.

Tekanan Tanah Lateral

1 75

pasif akan terjadi pada b agian tanah yang terletak di antara dinding dan bidang runtuh
yang membentuk sudut (45 + ct>/2) terhadap vertikal, seperti terlihat dalam Gambar
6. 1 3b.
Dalam praktek, besarnya deformasi dinding tidak diketahui. Tanah di belakang dinding
biasanya diurug kembali setelah dinding dibangun dan akan terj adi sedikit deformasi
dinding yang menjauhi tanah pada saat dilakukan pengurungan kembali. Karena per
tambahan deformasi akan mengurangi tekanan lateral mendekati nilai pada kasus aktif,
diperlukan suatu dinding penahan y ang di rancang khusus untuk menahan tekanan aktif,
di mana tanah masih mungkin mengalami deformasi bebas.
Dalam teori Rankine diasumsikan bahwa permukaan dinding adalah halus (licin),
sedangkan pada prakteknya terjadi friksi antara dinding dan tanah, tergantung pada bahan
dinding tersebut. Pada prinsipnya, teori tersebut memperkirakan nilai tekanan tanah
aktif yang terlalu tinggi dan nilai tekanan pasif yang terlalu rendah (yaitu batas bawah
dari "beban runtuh" yang berturutan) atau mungkin juga memberikan nilai-nilai tekanan
aktif dan tekanan pasif yang eksak.
Parameter-parameter kekuatan geser, baik yang dinyatakan dalam tegangan total
maupun tegangan efektif, dapat digunakan dalam teori tersebut , tergantung dari kondisi
drainasi y ang dipermasalahkan. Dalam praktek, hampir semua bahan urugan berupa
material kasar, di m ana parameter ke kuatan geser c' -nya harganya nol.

6.3.

Teori Coulomb tentang Tekanan Tanah

Teori Coulomb ( 1 776) mempertirnbangkan kestabilan tanah, secara keseluruhan, pada


bagian tanah di antara dinding penahan dan suatu bidang runtuh coba-coba (trial failure
plane). Gaya antara bagian tanah dan permukaan dinding ditentukan dengan memper
hatikan keseimbangan gaya-gaya yang bekerja pada bagian tanah tersebut ketika bagian
tersebut berada pada titik gelincir, baik di atas maupun di bawah bidang elincir, dan ha!
ini terjadi pada saat bagian tanah tersebut berada dalam kondisi keseimbangan batas
(limiting equilibrium). Friksi yang terj adi antara dinding dan tanah di dekatnya turut
diperhitungkan. Sudut friksi antara tanah dan bahan dinding, yang dinyatakan dengan
o , dapat ditentukan di laboratorium melalui uji geser langsung (direct shear). Di sembarang
titik pada permukaan dinding akan terbentuk suatu tahanan geser tiap satuan luas sebesar
Pn tan o , di mana Pn adalah tekanan normal pada dinding tepat pada titik tersebut. Dalam
kasus tanah lempung, bila perlu dapat diasumsikan suatu komponen tahanan geser konstan
atau 'adhesi dinding' cw . Pad a teori ini diasumsikan suatu kondisi deformasi dinding
minimum, baik yang bersifat menjauhi maupun mendekati tanah, seperti pada teori Ran
kine , sedemikian rupa sehingga terbentuk suatu kondisi keseimbangan plastis sepanjang
bagian tanah yang terletak antara dinding dan suatu permukaan runtuh di antara ujung
bawah dinding dan permukaan tanah. Akibat friksi dinding, bentuk permukaan runtuh
adalah suatu lengkungan di dekat dasar dinding, baik pada kasus aktif maupun pasif,
seperti ditunjukkan dalam Gambar 6. 1 4, tetapi dalam teori Coulomb, permukaan runtuh
diasumsikan berbentuk bidang ber sisi lurus. Pada kasus aktif, kelengkungannya landai
sehingga kesalahan dalam mengasumsikan permukaan bidangnya relatif kecil. Hal ini
berlaku pula pada kasus pasif dengan nilai o kurang dari cf>/3, tetapi untuk nilai-nilai o
yang lebih tinggi, kesalahan yang ditimbulkan menjadi lebih besar.
Teori Coulomb sekarang diinterpre tasikan sebagai suatu pemecal1an masalah plastisitas
batas atas, di mana keruntuhan (collapse) pada massa tanah yang terletak di atas bidang
runtuh akan terjadi ketika dinding bergerak menjauhi atau mendekati tanah. Jadi, secara
umum, teori ini menggunakan perkiraan gaya dorong aktif total yang terlalu kecil dan

Mekanika Tanah

1 76

(b) Kondisi pasif

(a) Kondisi aktif


Gambar 6.14.

Lengkungan akibat friksi dinding.

tahanan pasif total yang terlalu besar (batas atas dari beban runtuh yang sebenarnya).
Jika o = 0, teori Coulomb memberikan hasil yang sama dengan teori Rankine untuk kasu s
dinding vertikal dengan permukaan tanah horisontal, sehingga solusi kasus ini adalah
eksak karena batas atas dan batas bawahnya berimpit.

Kasus Aktif
Gambar 6. 1 5 a memperlihatkan gaya-gaya yang bekerja pada bagian tanah yang terletak
di antara permukaan dinding AB, yang membentuk sudut a: terhadap horisontal, dan
suatu bidang runtuh BC yang membentuk sudut (} terhadap horisontal. Permukaan tanah
AC membentuk sudut {3 terhadap horisontal. Parameter kekuatan geser c diambil sebesar
nol, seperti pada sebagian besar kasus timbunan (backfill). Pada kondisi runtuh , bagian
tanah tersebut berada dalam keseimbangan akibat berat sendirinya (W), reaksi terhadap
gaya (P) yang bekerja di antara tanah dan dinding, dan reaksi (R) pada bidang runtuh.
Karena bagian tanah tersebut cenderung menurunkan bidang BC pada saat runtuh , maka
reaksi P bekerja pada suatu o di bawah bidang normal dinding. (Jika dinding mengalami
penurunan yang lebih besar dibandingkan urugan, maka reaksi P akan bekerja pada arah
o di atas bidang normal dinding). Pada saat runtuh , di mana kekuatan geser tanah telah
dimobilisasi sepenuhnya, arah R mer;bentuk svdut et> di bawah nomtal bid ang runtuh
(di mana R merupakan resultan dari gaya-gaya normal dan geser pada bidang runtuh).

1 80 - 0: - 0

H
I

j_

0 - cp

(a)
Gambar 6.15.

(b)
Teori Coulomb: kasus aktif dengan c = 0.

Tekanan Tanah Lateral

1 77

Arab ketiga gaya tersebut, dan besar W, diketahui, sehingga dapat digambarkan segitiga
gaya (Gambar 6. 15) dan besar P pun dapat ditentukan.
Beberapa bidang runtuh coba-coba harus diseleksi untuk mendapatkan nilai P maksi
mum, yang merupakan gaya dorong aktif total pada dinding. Akan tetapi, dengan me
makai aturan sinus, P dapat dinyatakan,Jdalam W dan sudut-sudutnya dalam segitiga gaya.
Nilai P maksimum, dihubungkan dengan nilai e, diberikan oleh ap;ae 0. Ini menghasil
kan solusi untuk PA sebagai berikut:
=

di mana,

J [sin(ex +

- )2

{3)]

sin(ex - cp )/sin ex
sin(cp :- c5) sin cp
c5)] +
sm (ex - )

( 6. 1 6)

(6. 1 7)

Titik tangkap gaya dorong aktif total tidak diberikan pada teori Coulomb, tetapi diasumsi
kan bekerja pada jarak H/3 di atas dasar dinding.
Kasus Pasif

Dalam kasus pasif, reaksi P bekerja pada arah o di atas normal bidang permukaan dinding
(atau e di bawah normal tersebut hila penurunan dinding lebih besar dari penurunan
tanah di sekitarnya) dan reaksi R membentuk sudut cp di atas normal bidang runtuh .
Dalam segitiga gaya, sudut antara W dan P adalah ( 1 80 - a + o), dan sudut antara W dan
R adalah (8 + cp). Tahanan pasif total, sama dengan nilai P minimum, diberikan oleh per
samaan.
(6. 1 8)

di mana,

J [sin(ex

sin(ex + cp )/sin ex
sin( cp -:- c5 )sin( cp
c5)]
sm(cx - {3)
_

{3)

12

(6. 1 9)

Jika nilai o lebih besar dari cp/3 , kelengkungan bidang runtuh harus diperhitungkan,
karena hila tidak, tahanan pasif total akan ditaksir terlalu berlebihan, dan kesalahan yang
dihasilkan akan melampaui daerah aman. Satu contoh analisis yang memperhitungkan
kelengkungan diberikan dalam Gambar 6. 1 6. Permukaan tanah horisontal dan parameter
kekuatan geser c = 0. Pada potongan melintang, permukaan geser diasumsikan terdiri
dari satu busur lingkaran BC (pusat 0, jari-jari r) dan satu garis lurus CE yang merupakan
garis singgung busur tersebut. Bila besarnya deformasi dinding adalah sedemikian rupa
sehingga tahanan pasif total telah dimobilisasi seluruhnya, tanah dalam segitiga ACE
berada dalam kondisi pasif Rankine, di mana sudu.t-sudut EAC dan AEC sama dengan
(45
cp/2). Gay a horisontal (Q) pada bidang vertikal DC adalah nilai pasif Rankine
yang didapat dari Persamaan 6.7, yang bekerja pad a arah horisontal pada jarak DC/3
di atas titik C .
Analisa kestabilan tanah ABCD perlu mempertimbangkan gaya-gaya:
.

1.
2.

berat (W) ABCD yang bekerja melalui titik pusat potongan;


gaya Q pada DC;

Mekanika Tanah

1 78

Lingkaran r:p

Gambar 6.16.

3.

reaksi

(P)

Kasus pasif dengan permukaan runtuh berupa lengkungan.

terhadap gaya yang bekerj a antara tanah dan dinding, di mana garis

kerjanya membentuk sudut


di atas B ;

4.

reaksi

fi di atas normal b idang dinding pada jarak AB/3

(R) pada permukaan runtuh BC.

Bila kekuatan geser sepanjang busur lingkaran BC telah dimobilisasi se penuhnya, re aksi

et> terhadap normal. Garis kerja R menyinggung suatu


r sin cf>: lingkaran ini disebut lingkaran-cf>. Telah ditunjuk
kan sebelumnya bahwa garis kerj a R sesungguhnya menyinggung lingkaran dengan pusat
0 dan jari-jarinya sedikit lebih besar dari r sin c/>, tetapi kesalahan d alam besar gay a P

R diasumsikan

bekerja pada sudut

lingkaran, dengan pusat 0, j ari-jari

akibat asumsi di atas masih berada dalam daerah aman.


Besaw :y a gaya-gaya W dan

diketah u i dan resultannya (S) ditentukan se cara grafis

seperti pada Gambar 6. 1 6. Agar tercapai keseimbangan, garis kerja gaya-gaya


h arus berpotongan. Karena itu, garis kerj a

R harus

dan harus menyinggung lingkaran-cf>; jadi arah gaya

sekarang dapat dise!esaikan dan besar

S, P dan R
S dan

melewati perpotongan antara

dapat dipastikan. Poligon gaya

dapat diperoleh. Analisis ini harus dilakukan

be rulang-ulang pada beberapa bidang runtuh untuk mendapatkan nilai P minimum.


Ada kemungkinan untuk memasukkan parameter-parameter

c dan cw ke

dalam analisis

ini dan memperhitungkan pengaruh tambahan q diasumsikan merupakan suatu spiral


logaritmik (bentuk yang benar secara teoritis untuk cf> > 0).

Koefisien-koefisien Tekanan Tanah


Dalam 'Civil Engineering Code of Practice No. 2 '

(Earth Retaining Structures)

[ 6.6] diberi

kan tabulasi nilai-nilai koefisien tekanan tanah untuk kasus dinding vertikal dan permukaan
tanah horisontal. Secara umum,

komponen horisontal

dari gaya dorong aktif total dan

tahanan pasif total dapat diungkapkan sebagai beriku t :


(6.20)

1 79

Tekanan Tanah Lateral

dan
(6. 2 1 )

di mana koefisien K tergantung pada nilai-nilai et>, c, 6 , dan cw . Koefisien-koefisien yang


telah dipublikasikan dalam peraturan tersebut di atas dapat dilihat dalam Tabel 6.3. Perlu
dicatat bahwa peraturan tersebut sedang direvisi.

Tabel 6.3 . Koefisien-koefisien Tekanan Tanah


(a) Parameter kekuatan geser c = 0
{)

25

oo
100

0,4 1
0,37

0,34

20
3 0

oo

2 ,5
3,1

10

20

f/1

400

0,27

0,22
0,20

35

0,33

0,25

0,3 1

0,19

0,2 3

0,28
0,26
3 ,0

4,0

3 ,7

30

30

0 ,2 1

0,1 7

4,8

3 ,7

4,6
6,5

7,3

11 ,4

6,0

4 ,9
5,8

45
0,17
0,16
0,15
0,14

8 ,8

(b) Parameter kekuatan geser c > 0

KA

KAc

0
0

f/1

f/1
f/1

seluruh
nilai

2,00
2,83
2,45
1 ,0

1,0

KPc

seluruh
nilai

0
0

0
0,5

f/1
f/1

0,5
1 ,0

1 ,00

0
1 ,0
0,5

Kp

f/1

1 ,00

1 ,0

2,83

.o

2 ,0

2,4

2,6
2,4
2,6

0,70

0,85
0,78

0,64

1 ,83
2 ,60
2,10

2 ,38

1 ,2

1 ,4

1 ,68
1 ,82

2,47

2,13

1 ,3

1 ,6

2 ,2

2 ,4

2 ,6

2 ,9
3,2

2 ,9

3 ,3
3 ,4

2 ,8

2,9

0 ,5 9
0,50

0,48
0 ,40

2,16

1 ,40
1 ,96

1 ,85

1 ,5 9

1 ,54
1 ,5 5

1 ,7

2,2

1 ,32

2,1
2 ,9

2,6

2,8

3 ,6

4,0
4,5

3 ,2

3 ,8
3 ,9

0 ,40
0,32

1 ,29

1 ,76

1 ,15
1 ,4 1

2,5

3 ,9

3 ,1

3,5

3 ,8

4,7

5 ,7

4,4
5,5

jika c <so kN/m2 maka c


c;
w
2
jika c > SO kN/m maka c = S O kN/m 2 .
w
jika c <so kN/m 2 maka c = c/2;
Kondisi pasif:
w
2
2
>
j ika c 50 kN/m maka c = 2S kN/m .
w
Jika dinding cenderung bergerak ke bawah relatif terhadap tanah, maka nilai c dapat diambil seperti
w
di atas untuk kondisi aktif. (Data dikutip dari CP2, Earth Retaining Structures, dan diperbanyak atas
izin Institution of Structural Engineers).
Kondisi aktif:

Mekanika Tanah

1 80

Pemilihan nilai rf> yang tepat merupakan hal yang sangat penting dalam kasus pasif.
Kesulitan yang dihadapi adalah bahwa regangan-regangan sangat beragam pada seluruh
tanah dan khususnya pada sepanjang permukaan runtuh. Pengaruh regangan, yang di
tentukan oleh jenis deformasi dinding, diabaikan baik dalam kriteria keruntuhan maupun
dalam analisis. Dalam teori-teori tekanan tan:ili, nilai rf> diasumsikan konstan pada seluruh
tanah di atas permukaan runtuh, sedangkan dalam kenyataannya besar nilai rf> yang telah
dimobilisasi cukup beragam. Pada kasus pasir rapat, nilai rf> rata-rata di sepanjang permuka
an runtuh bersesuaian dengan suatu titik di luar nilai puncak pada kurva tegangan-regang
an (contoh Gambar 4.9a): penggunaan nilai puncak rf> akan menghasilkan suatu taksiran
nilai tahanan pasif yang terlalu berlebihan. Perlu dicatat bahwa nilai puncak rf> yang di
peroleh dari uji triaksial biasanya lebih kecil dibandingkan dengan nilai rf> pada regangan
bidang, di mana yang terakhir inilah justru yang relevan dalam masalah dinding penahan.
Dalam kasus pasir lepas, deformasi dinding yang diperlukan untuk memobilisasi nilai
rf> maksimum sangat tidak dapat diterima dalam praktek. Pada kedua kasus di atas, nilai
rf>, yang konservatif harus digunakan dalam desain. Eksperimen yang dikerjakan oleh Rowe
dan Peaker [ 6. 18] membenarkan pemyataan ini.

6.4. Penyelesaian Lain

Koefisien-koefisien aktif dan pasif diturunkan oleh Caquot dan Kerisel [ 6.5] dengan
integrasi persamaan-persamaan diferensial yang menentukan kondisi-kondisi keseimbang
an batas pada tanah. Graftk untuk koefisien-koefisien aktif dan pasif pada suatu rentang
nilai r/>, o dan kemiringan permukaan tanah {3, berdasarkan hasil karya Caquot dan Kerisel,
telah dibuat oleh Padfield dan Mair [6. 1 2] .
Sokolovski [6. 1 9] memperoleh penyelesaian untuk masalah-masalah aktif dan pasif
dengan mengkombinasikan persamaan keseimbangan (Persamaan 5 . 1 ) dengan kriteria
keruntuhan tanah (Persamaan 4.6b) . Penyelesaian tersebut, yang diperoleh dari integrasi

Tabel 6.4.

too

20

oo
100
20

30

1 5

40

oo
20
40

OQ

30

Koefisien-koefisien Aktif dan Pasif Menurut Sokolovski


'
'

<:' :

(:

(J,1'J

0,70
0,67
0,6 5

. 1,56
1 ,66

0,70

0,49
0,4 5

2 ,04
2,55

0 ,54
0,50

0,44

0,33

0,30
0,3 1

0 ,2 2

0,20
0,22

1.,42

3,04
3,00

4,62
6,5 5

4,60

9,69
18,2

0,68

0,50

0,40

0,37
0 ,3 8

0,29
0,27

0,29

1 ,31

0;1

1,43

0,70

1 ,52

0,70

1 ,77
2,19

0,58
0,54

2,57
2,39
3 ,6 2

5 ,03

3 ,3 7

6,77

1 2,3

0,54

0,46

0,43

0,45

0,35

0,34

0,38

1,18

1 ,29
1 ,35

1,5 1
1 ,83
2 ,13

1 ,90

2,79

3,80

2,50
4,70

8,23

Tekanan Tanah Lateral

1 81

numerik, menghasilkan dua kelompok kurva di mana nilai rasio tegangan

r/a maksimum

tercapai dan kemudian tegangan-tegangan lateral pada dinding dapat diturunkan. Pe

nyelesaian ini merupakan suatu tipe batas bawah dan sekali lagi tidak memerlukan per
timbangan deformasi secara terperinci. Untuk permukaan tanah yang horisontal, nilai-nilai
KA dan Kp untuk suatu rentang nilai cp, o , dan sudut kemiringan dinding a diberikan
dalam Tabel 6.4. Untuk kasus-kasus umum, nilai-nilai sokolovski lebih mendekati nilai

eksak dibandingkan dengan apa yang diperoleh dari teori-teori Rankine dan Coulomb .

DESAIN STRUKTUR DINDING PENAHAN TANAH

6.5. Dinding Gravitasi dan Dinding Kantilever


Stab ilitas suatu dinding penahan gravitasi (gravity retaining wall, Gambar 6. 1 7a) diakibat
kan oleh berat-sendiri dinding, dan mungkin dibantu oleh tahanan pasif yang terbentuk
di depan dinding tersebut. Dinding jenis ini tidak ekonomis karena bahan dindingnya
(pasangan batu atau beton) hanya dirnanfaatkan untuk membentuk berat matinya. Dinding

kantilever (Cantilever wall) yang terbuat dari beton bertulang Gambar 6. 1 7b) lebih eko
nomis karena urugan (backfill) itu sendiri dirnanfaatkan untuk menahan berat sendiri
yang diperlukan. Kedua jenis dinding tersebut dapat diandalkan untuk menahan gerakan
.gerakan rotasi maupun translasi dan teori-teori Rankine dan Coulomb digunakan dalam
perhitungan tekanan lateral.
Dinding penahan tersebut secara keseluruhan harus memenuhi dua kondisi dasar :
( 1 ) tekanan di dasar pada ujung kaki (toe) dinding tidak boleh lebih besar dari daya dukung
yang diizinkan pada tanah (lihat Bab 8); (2) faktor keamanan terhadap gelinciran antara
dasar dan lapisan tanah di bawahnya harus memadai, biasanya ditentukan sebesar 1 ,5 .
Tahanan pasif d i depan dinding tidak perlu ditinjau kecuali pada ha1-hal tertentu di mana
tanah dianggap akan tetap keras dan tak terganggu, suatu asumsi yang jarang dilakukan.
Langkah pertama dalam desain adalah menentukan semua gaya yang bekerja pada
dinding, dari mana akan diperoleh komponen-komponen horisontal R dan vertikal R
v
h
dari resultan gaya R yang bekerja pada dasar dinding. Posisi gaya R (Gambar 6 . 1 7c) ke
mudian ditentukan dengan membagi jumlah aljabar momen-momen dari semua gaya
terhadap sembarang titik pada dasar dinding dengan komponen vertikal R . Untuk mev
mastikan bahwa tekanan pada dasar dinding tetap berupa kompresi pada sepanjang dasar

Di nding
kantilever

D i nding
gravitasi

!
1---

"""'.,.;---1

(a)

W
B

(b)

Gambar 6.1 7.

I
I

io
:

-----i
W
,

--j f-- --j


a
n

istribu si
tekanan

pada dasar

'

'

Dinding penahan gravitasi dan kantilever.

(c)

___j

1 82

Mekanika Tanah

tersebut, resultan R harus bekerja pada sepertiga bagian tengah dasar dinding, yaitu eksen
trisitas (e) dari resultan pada dasar dinding tidak boleh lebih besar dari B/6, di mana B
adalah lebar dasar dinding. Jika aturan sepertiga bagian tengah tersebut diobservasi, harus
pula dipastikan bahwa faktor keamanan terhadap guling (overturning) dari dinding cukup
memadai. Jika diasumsikan suatu distribusi tekanan {p) yang linear pada selebar dasar
dinding, tekanan-tekanan maksimum dan minimum pada dasar dinding dapat dihitung
dari pernyataan berikut:

(6.22)
Faktor keamanan terhadap gelinciran (Fs), dengan mengabaikan tahanan pasif di depan
dinding, diberikan oleh

(6.23)
di mana 8 adalah sudut friksi antara dasar dinding dan lapisan tanah di bawahnya. Jika
nilai F8 yang memadai tidak dapat diperoleh, suatu kunci (key) dapat dipantekkan pada
dasar tersebut.
Jika suatu dinding dibangun di atas tanah yang kompresibel seperti lempung jenuh
sempurna, maka akan dihasilkan suatu tekanan datar tak-merata pada saat dinding ter
sebut menjadi makin miring akibat konsolidasi yang terjadi pada tanah. Dimensi dinding
yang dibangun 'di atas tanah kompresibel harus ditentukan sedemikian rupa sehingga
resultan R bekerja sedekat mungkin dengan titik tengah dasar dinding.
Urugan lempung harus dihindarkan jika pada suatu perubahan iklim akan menyebab
kan terjadinya pemuaian (swelling) dan penyusutan (shrinkage) pada tanah tersebut.
Pemuaian menyebabkan terjadinya tekanan tak teramalkan pada dinding dan menyebab
kan pula gerakan dinding, dan penyusutan yang terjadi setelah pemuaian tersebut dapat
menimbulkan retakan-retakan pada permukaan tanah.
Di belakang dinding perlu diberikan suatu formasi saringan dari bahan butiran kasar
yang lolos air untuk melindungi urugan dari terbentuknya tekanan air pori yang tinggi
pada urugan tersebut, sehingga air yang berperkolasi ke dalam saringan akan mengalir
ke luar melalui celah-celah sempit dalam dinding.
Beberapa macam dinding penahan termasuk dalam kategori tegar, sebagai contoh
adalah dinding-dinding pondasi yang disangga oleh sistem lantai gedung dan perletakan
jembatan yang ditahan oleh struktur lantainya. Pada kasus tersebut di atas, nilai tekanan
lateral diam, atau tekanan-tekanan di antara nilai diam dan nilai aktif, harus digunakan
dalam desain. Sowers dan kawan-kawan [6.20] menunjukkan bahwa pemadatan urugan
pada suatu dinding yang tegar dapat menghasilkan tekanan lateral sisa yang lebih besar
dibandingkan dengan hila tanpa dipadatkan.

Contoh 6.4.
Tentukanlah tekanan-tekanan maksimum dan m munum di bawah dasar suatu dinding
penahan kantilever yang diberikan dalam Gambar 6 . 1 8 dan faktor keamanan terhadap
gelinciran. Parameter-parameter kekuatan geser yang tersedia adalah c' = 0 dan q/ = 40 ,
berat isi r = 1 7 kN/m 3 , maka air tanah berada di bawah dasar dinding. Ambil 8 = 30
pada dasar dinding.
Untuk menentukan posisi reaksi-reaksi pada dasar dinding, momen-momen akibat
semua gaya terhadap turnit dinding (X) perlu dihitung (Tabel 6.5). Berat isi beton diambil

Tekanan Tanah Lateral

1 83
40 kN/m 2

(1 )

(2)

Tabel 6.5
:,o ,::_p::,

Gaya tiap m (kN)

(1)
(2)

0,22

40

t X 0,22

5,00

(Badan)
(Dasar)
(Tanah)
(Beban)

3,00
5,00
1 ,75

5,40

17
X

0 ,30

0,40

X 1 ,75

40

5,402

23,5

23,5
17

/,''; '

ttnlan (:Ill)

Momen tiap m (kNm)

= 47 ,5
54 6
= -Rh = 102,1

2,70

1 28,2

1 ,80

98,3

1 ,90

67,0

28,2

1 ,50

35,3

1 48,8

0,875

70,0
= 282,3

0,875

42,3

130,2
6 1 ,3

M= 527,3

23,5 kN/m2 . Tekanan aktif dihitung pada bidang vertikal yang melewati tumit dinding.
Tidak ada tegangan geser yang bekeija pada bidang vertikal ini, karena itu teori Rankine
(8 = 0) dipakai untuk menghitung tekanan aktif. Distribusi tekanannya ditunjukkan dalam
Gambar 6. 1 8 .
Untuk q/ = 40 (dan 8 = 0), KA = 0,22.
l..engan momen resultan dasar:

M 527,3
= 1 ,86 m
=
Rv
282 ,3
resultan tersebut bekerja di dalam sepertiga bagian tengah dasar dinding.

Eksentrisitas reaksi dasar :

= 1 ,86 - 1 ,50

(t 6e)
(

0,36 m

Tekanan-tekanan maksimum dan minimum diberikan oleh:


Rv

P - Ji
_

282,3
+ 6
1 3

= 162 kN/m2

0,36
3

dan

+ O ?2 )
= 94 (} -

26 kN/m2

'

Mekanika Tanah

1 84

Faktor keamanan terhadap gelincir:

R v tan fJ

Rh

282 ;3 tan 30
---1 02,1

1 ,6

Contoh 6.5
Detail suatu dinding penahan gravitasi ditunjukkan dalam Gambar 6. 1 9, dengan berat isi
bahan dinding sebesar 23,5 kN/m3 . Berat isi urugan sama dengan 1 8 kN/m3 dan parameter
parameter kekuatan geser yang tersedia adalah c ' = o dan rp' = 38 ; nilai 6 antara dinding
dan urugan, dan antara dinding dan tanah pondasi, adalah 25. Tentukanlah tekanan
tekanan maksimum dan minimum di bawah dasar dinding dan faktor keamanan terhadap
gelincir.
Karena bagian belakang dinding dan permukaan tanah kedua-duanya miring, maka
nilai K11 akan dihitung dari Persamaan 6. 1 7. Besar sudut-sudut dalam persamaan ini adalah:
a = WOo , rf> 38 , 6 = 25 , dan {3 = 20 . Hasilnya:
=

KA

sin 62a /sin 100


J sin 1 25 + J (sin 63 sin 18 /sin 80)

0,39

]2

Kemudian, dari Persamaan 6. 1 6,


PA

0,39

18

62

1 26 kN/m

yang bekerja pada j tinggi dan pada sudut 2 5 di atas normalnya, atau 35 di atas bidang
horisontal. Tinjaulah momen-momen terhadap tumit dinding (Tabel 6.6).
Lengan momen resultan dasar :

M
Rv

520,4
= 1 ,77 m (d 1' dalam sepertiga bagian tengah)
293,4
--

Eksentrisitas reaksi dasar:


e =

1 ,77 - 2,75/2 = 0,40m

/ -

0,50 4
I

6,00 m -1
50

_1 _

t5 m
- - ---1

l-2,75 m -J

Gambar 6.19.

1 85

Tekanan Tanah Lateral

Tabel 6.6.

Gaya tiap m (kN)

P" cos 35"

P" sin 35o


(1) t X } ,05 X 6
X

(2) 0,70

23,5

23,5
5,25 X 23,5

(3) t X 0,5 X
(4) } X 0,75 X 23,5

= 103,2
R1t = 103,2
= 72,3
= 74,0
=

98,7

= 30,8
= 17,6
RV = 293,4

l.engan (m}

2,00
0,35

0,70
1 ,40

1 ,92

2,25

Women tiap m (kNm)


206,4
25 , 3
5 1 ,8

138,2

59,1
39,6
M = 520,4

Tekanan-tekanan dasar maksimum dan minimum diberikan oleh

p =i(l )
=

293 4
+ 0 '87)
, (1 2,75

200 kN/m2

d an

14 kN/m2

Faktor keamanan terhadap gelincir:

R v tan b
Rh
293 ,4 tan 25
103,2

1 ' 33

Contoh 6.6
Gambar 6.20a adalah detail suatu dinding penahan di mana di belakangnya dipasang suatu
saluran vertikal. Tentukan gaya dorong total pada dinding bila urugannya menjadi jenuh
akibat hujan yang berkepanjangan, sehingga terjadi rembesan tunak ke arah saluran tersebut.
Diasumsikan bidang gelincir membentuk sudut 5 5 terhadap horisontal. Parameter-para
meter yang relevan adalah c' = 0, et>' = 38, 8 = 1 5 , dan 'Y sat = 20 kNfm3 :''\
Tentukan juga gaya dorong pada dinding (a) jika saluran vertikal diganti dengan
saluran miring di bawah bidang runtuh, (b) jika tidak ada sistem drainasi di belakang
dinding.
Jaringan aliran untuk rembesan menuju saluran vertikal diperlihatkan pada Gambar
6.20a. Karena permeabilitas saluran tetap tidak jenuh dan tekanan pori pada setiap titik
pada saluran tersebut sama dengan nol (atmosferik). Jadi, pada setiap titik di batas antara
saluran dan urugan, tinggi energi totalnya sama dengan tinggi elevasi. Garis-garis ekipoten
sialnya, bagaimanapun juga, harus memotong batas ini pada titik-titik dengan jarak antar
titik yang sama dengan interval vertikal llh. Batas itu sendiri bukan merupakan suatu garis
aliran atau garis ekipotensial.
Kombinasi berat total dan gaya air batas dalam hal ini dapat digunakan. Nilai tekanan
air pori pada titik-titik potong antara garis ekipotensial dan bidang runtuh dievaluasi
dan diplot tegaklurus terhadap bidang tersebut. Gaya air batas (U), yang bekerja pada arah
normal bidang, sama dengan luas diagram tekanan, jadi:

55 kN/m

:1

i;
l

!
,

,11

Mekanika Tanah

1 86

6,00 m

(a)
p

(b)

Gambar 6.20. (Diambil dari K. Terzaghi (1943)


Inc.).

Theoretical Soil Mechanics,

atas izin John Wiley & Sons

Gaya-gaya air pada kedua batas bagian tanah yang lain sama dengan nol.
Berat total (W) bagian tanah tersebut adalah,
W

252 kN/m

Gaya-gaya yang bekerja pada bagian tanah tersebut diperlihatkan pada Gambar 6.20b.
Dengan diketahuinya arah keempat gaya tersebut, di tambah dengan nilai-nilai W dan U,
poligon gaya dapat digambar, dari sini didapat :
PA

a tau
PAn

108 kN/m
PA COS {>

105 kN/m

Tekanan Tanah Lateral

1 87

Perlu dipllih kemungkinan-kemungkinan bidang runtuh lainnya untuk mendapatkan


gaya dorong aktif total maksimum.
Untuk saluran iniring seperti yang terlihat dalam Gambar 6.20c, garis-garis aliran
dan ekipotensial di atas saluran tersebut berarah vertikal untuk garis aliran dan horisontal
untuk garis ekipotensial. J adi, pada setiap titik pada bidang runtuh, tekanan air pori
sama dengan nol. Bentuk saluran macam ini lebih disukai daripada saluran vertikal. Dalam
hal ini:

PAn = !KA Ysat H 2

Untuk q/ = 3 8 dan 6 = 1 5, KA = 0 ,2 1 . Karena itu

PAn = !

0,2 1

20

62 = 76 kN/m

Untuk kasus di mana tidak terdapat sistem saluran di belakang dinding, tekanan air
porinya statis, karena itu

PAn = !KA y' H 2 + !Y wH 2


= (t X 0,2 1 X 1 0,2 X 62) + (t
=

39

+ 1 76

= 215 kN/m

9,8

62 )

6.6. Dinding Turap Kantilever


Dinding tipe ini hanya dipakai bila tanah yang akan ditahan tidak terlalu tinggi. Pada pasir
dan kerikil, dinding ini mungkin dipakai sebagai struktur permanen, tetapi umumnya
dimanfaatkan untuk penyangga sementara. Stabilitas dinding turap kantilever ini seluruh
nya diakibatkan oleh tahanan pasif yang tirnbul di bawah permukaan tanah yang lebih
rendah. Cara keruntuhannya berupa suatu rotasi terhadap titik 0 di dekat ujung bawah
dinding seperti terlihat pada Gambar 6.2 1 a. Konsekuensinya, tahanan pasif di depan
dinding bekerja di atas titik 0 dan di belakang dinding bekerja di bawah titik 0 seperti
terlihat pada Gambar 6.2 1 b, jadi ini melengkapi momen jepit yang terjadi. Akan tetapi,
distribusi tekanan ini hanyalah suatu idealisasi saja sebab tidak mungkin terdapat perubah
an tekanan pasif secara tiba-tiba dari depan ke belakang dinding pada titik 0.
Desain biasanya didasarkan atas suatu penyederhanaan seperti diperlihatkan dalam
Gambar 6.2 1 c, di mana diasumsikan bahwa tahanan pasif neto di bawah titik 0 dinyata
kan oleh suatu gaya terpusat R pada titik C, sedikit di bawah titik 0, pada kedalaman d
di bawah permukaan tanah. Kedalaman d dapat ditentukan dengan menyamakan momen
momen terhadap C dengan nol, di mana suatu faktor keamanan F diterapkan pada momen
pengirnbang, yaitu dengan membagi tahanan pasif yang ada (Pp) di depan dinding dengarl

Aktif
d

_A:.L.._-....>..;:-----"

Pasif

(a)

(b)

Gambar 6.2 1 .

l . L.---!-...__...;.:.R

Dinding turap kantilever.

(c)

Mekanika Tanah

1 88

F. Besarnya d kemudian dinaikkan secara sembarang sebesar 20% agar didapat penyeder

hanaan yang diperlukan dalam metode ini, yaitu kedalaman tancapan yang diperlukan

adalah sebesar 1 ,2 d. Tetapi, perlu dilakukan evaluasi terhadap R dengan menyamakan


gaya-gaya horisontal dengan nol dan memeriksa bahwa tahanan pasif neto yang ada se
telah penambahan kedalaman tancapan sebesar 20% sama dengan atau lebih besar dari

R.

6. 7. Dinding Turap Dengan Angkur atau Penyangga


Dinding turap dapat dilengkapi penyangga tambahan berupa satu baris kabel pengikat
(tie-back) atau penyangga (prop) yang diletakkan di dekat puncak dinding. Kabel pengikat
biasanya berupa kabel-kabel atau batang baja bermutu tinggi yang diangkurkan ke dalam
tanah beberapa meter di belakang dinding. Dinding jenis ini digunakan secara luas pada
konstruksi penahan air dan sebagai penyangga pada galian-galian yang dalam. Terdapat
dua cara dasar dalam pembangunan dinding-dinding tersebut. Dinding galian dibangun
dengan menancapkan satu baris tiap turap sepanjang garis yang diinginkan diikuti dengan
menggali tanah sampai kedalaman yang dibutuhkan di depan turap terse but. Dinding urugan
dibangun dengan menancapkan sebagian tiang pada permukaan tanah yang ada dan di
belakang dinding terse but diisi dengan urugan sampai ketinggian yang diperlukan. Stabilitas
dinding ini ditimbulkan oleh tahanan pasif yang terjadi di depan dinding bersama-sama
dengan gaya-gaya pada kabel-kabel baja. Metode analisis dinding turap juga dapat diterap
kan untuk dinding diafragma (Bagian 6.9).

Metode Tumpuan Tanah Bebas


Dalam metode ini diasumsikan bahwa kedalaman tancapan di bawah galian tidak cukup
membuat kaku ujung-bawah dinding. Dinding itu dapat berotasi dengan bebas di ujung
bawahnya, dan bentuk diagram momen lenturnya ditunjukkan pada Gambar 6.22b. Distri
busi tekanan lateral diasumsikan memenuhi teori Rankine atau Coulomb. Cara keruntuhan
dinding ini adalah rotasi terhadap titik kerja kabel baja

(A) dan dalam desain perlu di

pastikan bahwa momen penyeimbang yang tersedia lebih besar dari momen penyebab
gangguan dengan batas yang memadai. Berdasarkan Gambar 6.22, kedalaman tancapan

(d) yang

diperlukan dapat diperoleh dari suatu kondisi di mana jumlah aljabar dari faktor

momen terhadap titik A harus sama dengan nol. Kondisi ini menghasilkan persamaan
pangkat tiga dalam d yang dapat dipecahkan dengan cara substitusi nilai-nilai coba-coba.

Setelah menentukan d, gaya T pada kabel tiap satuan panj ang dinding dapat dihitung
dari kondisi bahwa jumlah aljabar diui gaya-gaya horisontal sama dengan nol. Akhirnya,

- -

A ..,___.,.T.

.h

Gambar 6.22.

Aktif netto

(a)

(b)

(c)

Dinding turap dengan angkur: metode tumpuan tanah bebas.

1 89

Tekanan Tanah Lateral

diagram momen lentur dapat digambar, di mana momen maksimumnya menentukan


penampang turap. Dalam kasus dinding-dinding pelabuhan, direkomendasikan bahwa
kedalaman tancapan ditambah sebesar 20% untuk melindunginya dari pengerukan lumpur
(dredging), penggerusan (scour), atau adanya kantong-kantong tanah yang lembek.
Bagaimanapun juga, nilai d yang diperoleh dari metode di atas tergantung pada bagai

mana faktor keamanan dipakai dalam perhitungan dan bagaimana distribusi tekanan
lateralnya ditinjau, yaitu apakah distribusi-distribusi pada kedua sisi dinding digabung
atau tidak. Jadi faktor keamanan dapat didefinisikan dalam beberapa cara yang berbeda.
Biasanya faktor keamanan didefinisikan berdasarkan tahapan pasif yang ada di depan
dinding, di mana momen penyeimbangnya adalah akibat dari tahanan pasif. Faktor ini
ditandai dengan

FP .

Distribusi tekanan aktif dan pasif dihitung secara terpisah seperti

terlihat pada Gambar 6.22a. Tahanan pasif yang harus ditimbulkan guna menghasilkan
kondisi keseimbangan batas (Ppm ) sama dengan tahanan pasif yang ada (nilai PP dari
Rankine a tau Coulomb) dibagi faktor keamanan (FP ).

Faktor keamanan juga dapat didefinisikan dalam kekuatan geser, katakanlah per

bandingan antara kekuatan geser yang ada dan kekuatan geser rata-rata yang dibutuhkan
untuk menghasilkan suatu kondisi keseimbangan batas. Faktor ini ditandai dengan

Fs.

Parameter-parameter kekuatan geser biasanya merupakan ketidaktentuan yang paling


besar dalam analisis ini. Faktor yang sama biasanya diterapkan pada kedua parameter

berikut, yaitu parameter kekuatan geser mobilisasi


tekanan-tekanan aktif dan pasif, dan tan-1 (tan

cf

f/>/Fs).

yang dipakai dalam perhitungan

. Burland, Potts, dan Walsh [6.4] mengajukan suatu bukti untuk menunjukkan bahwa

terdapat ketidakkonsistenan antara FP dan Fs pada beberapa kasus b entuk geometri


dinding dan parameter-parameter kekuatan geser, terutama dalam hal lempung pada
kondisi tak-terdrainasi (undrained). Dengan menggunakan analogi daya dukung tanah
dari pondasi tapak (footing), Burland, Potts, dan Walsh mengusulkan bahwa faktor ke
amanan harus didefinisikan berdasarkan tahanan pasif netto yang ada di depan dinding,
seperti diperlihatkan dalam Gambar 6.22c, dan faktor ini ditandai dengan

F,..

Terlihat

bahwa definisi faktor keamanan ini sudah konsisten dengan defmisi berdasarkan kekuat
an geser.
Nilai faktor keamanan yang digunakan dalam desain akan tergantung pada bagaimana
parameter-parameter kekuatan geser yang bersangkutan dipilih, misalnya apakah dipakai
nilai konservatif atau nilai yang lebih tidak dapat dipercaya. Petunjuk cara pemilihan
faktor keamanan untuk dinding pada lempung yang keras diberikan oleh Padfield dan
Mair [6. 1 2] .
Harus dimengerti bahwa tahanan pasif penuh hanya dikembangkan pada kondisi
kondisi keseirnbangan batas

(F =

1). Pada kondisi beban keija, dengan faktor keamanan

lebih besar dari satu, eksperimen dan analisis telah menunjukkan bahwa distribusi tekan
an lateral berbentuk seperti pada Gambar 6.2 3. Perlu dicatat bahwa tahanan pasif di
mobilisasi secara total pada daerah di dekat permukaan di depan dinding. Kedalaman
tancapan ekstra yang dibutuhkan untuk memperoleh faktor keamanan yang lebih besar
dari satu menghasilkan suatu momen j epit setempat pada ujung bawah dinding dan konse
kuensinya adalah m omen lentur maksimum lebih rendah dari nilai keseimbangan batasnya.
Dalam hal ketidaktentuan berkenaan dengan distribusi tekanan pada kondisi beban keija,
terdapat masalah dalam menghitung momen-momen lenturnya, dan gaya pada kabel
pengikat dan penyangga, untuk kondisi keseimbangan batas. Nilai-nilai hasil perhitungan
untuk gaya-gaya pada kabel pengikat dan penyangga harus ditambah dengan 2 5% untuk
membiarkan terjadinya kemungkinan redistribusi tekanan akibat adanya busur (lihat di
bawah membiarkan terjadinya kemungkinan redistribusi tekanan akibat adanya busur (lihat
di bawah). Metode Burland-Potts-Walsh dapat juga dipakai untuk dinding turap kanti-

Mekanika Tanah

190

Momen
Jentur

Gambar 6.23.

Dinding turap dengan angkur: distribusi tekanan pada kondisi beban kerja.

lever (Bagian 6. 6). Momen lentur harus dihitung juga untuk F = 1 dalam dinding kanti
lever.

Pengaruh Fleksibilitas dan K0


Perilaku dinding yang tidak diangkur juga dipengaruhi oleh tingkat fleksibilitas atau ke
kakuannya. Dalam hal dinding turap yang fleksibel, hasil eksperimen dan analisis me
nunjukkan bahwa redistribusi tekanan lateral terjadi. Tekanan pada bagian terbesar dari
dinding yang bergerak (antara kabel dan permukaan galian) berkurang dan tekanan pada
bagian yang relatif kokoh (di sekitar kabel dan di bawah permukaan galian) bertambah
terhadap nilai teoritisnya, seperti dilukiskan dalam Gambar 6.24. Redistribusi tekanan
lateral ini merupakan hasil dari gejala yang disebut pembusuran (arching). Pada dinding
yang kaku, seperti dinding diafragma beton, tidak terjadi redistribusi.
Pembusuran didefinisikan oleh Terzaghi [6.2 1 ] sebagai berikut. "Jika satu bagian
dari tanah yang didukung mengalami leleh sedangkan sisanya tetap berada di tempatnya
semula, maka tanah yang tergabung dengan bagian yang leleh tersebut akan bergerak
menjauhi posisinya semula yang berdekatan dengan tanah yang tidak bergerak. Pergerakan
relatif pada tanah dilawan oleh tahanan geser di dalam daerah singgung antara tanah
yang mengalami leleh dan yang tidak mengalami leleh. Karena tahanan geser cenderung

Dinding
tu rap

Distribusi tekanan tanah


- --- Metode tumpuan tanah bebas
Eksperimental

--

/
/_

I
I

_ _ _

Gambar 6.24.

I
I
\
I
_

Pengaruh pembusuran (arching).

Tekanan Tanah Lateral

191

menahan tanah yang mengalami leleh tetap pada tempat asalnya, maka tekanan pada
bagian yang mengalami leleh dari tanah yang didukung akan berkurang dan tekanan pada
bagian yang statis akan bertambah. Peralihan tekanan dari bagian yang leleh menuju
ke bagian tak leleh di dekatnya disebut pengaruh 'pembusuran'. Pembusuran juga terjadi
bila satu bagian dari tanah yang didukung mengalami leleh melebihi bagian-bagian di
dekatnya."
Kondisi pembusuran muncul pada turap yang diangkur ketika turap tersebut me
lendut. Jika angkur mengalami leleh, pengaruh pembusuran sangat berkurang tergantung
dari besarnya leleh yang terjadi. Pada sisi pasif dari dinding, sebagai akibat lendutan yang
lebih besar ke dalam tanah, akan terjadi kenaikan tekanan tepat di bawah permukaan
galian. Pada kasus dinding urugan, pembusuran yang terjadi kurang efektif kecuali bila
urugan sudah lebih tinggi dari kabel atau batang pengikat. Pengaruh pembusuran pada
pasir jauh lebih besar dibandingkan dengan pada lanau dan lempung, dan pasir rapat me
miliki pengaruh pembusuran yang lebih besar dibanding dengan pasir lepas.
Redistribusi tekanan tanah menghasilkan momen lentur yang lebih rendah daripada
yang didapat dari riletode analisa tumpuan tanah bebas, semakin besar fleksibilitas dinding
semakin besar pula reduksi momennya. Rowe [ 6. 1 6; 6. 1 7] mengusulkan penggunaan
koefisien-koefisien reduksi untuk diterapkan pada hasil-hasil analisis tumpuan tanah
bebas, yang didasarkan atas fleksibilitas dinding. Fleksibilitas dinding ditunjukkan oleh
parameter p =: H4/EI, di mana H adalah tinggi keseluruhan dinding dan El adalah ke
tegaran lenturnya. Gaya kabel atau batang juga dipengaruhi oleh redistribusi tekanan tanah
dan juga perlu diberikan sua tu faktor untuk menyesuaikan gaya hasil perhitungan dengan
metode tumpuan tanah bebas.
Faktor reduksi momen dari Rowe hanya perlu digunakan jika tahanan pasif yang
telah difaktorkan (F > 1) telah dipakai untuk perhitungan momen lentur. Jika momen
lentur dihitung dengan memakai kondisi keseirnbangan batas (F 1), faktor reduksi
dari Rowe tidak perlu dipakai lagi.
Potts dan Fourie [6. 1 4; 6. 15] menganalisis dinding kantilever berpenyangga pada
tanah lempung dengan metode elemen hingga (finite element method), yang menggabung
kan hubungan tegangan-regangan elastis dengan plastis sempurna. Hasilnya menunjukkan
bahwa kedalaman tancapan yang diperlukan ternyata sesuai dengan hasil yang diperoleh
dari metode tumpuan tanah bebas. Akan tetapi, hasil-hasilnya juga memperlihatkan bahwa
pada umumnya perilaku dinding tergantung pada kekakuan dinding (memperkuat hasil
penemuan Rowe), nilai awal K0 (koefisien tekanan tanah dalam keadaan diam) untuk
tanah, dan metode konstruksi (yaitu urugan atau galian).
Yang perlu diperhatikan, momen lentur maksirnum dan gaya batang penyangga ber
tambah jika nilai kekakuan dinding makin besar. Untuk dinding urugan dan untuk dinding
galian pada tanah dengan K0 rendah (sekitar 0,5), momen lentur maksirnum maupun
gaya batang penyangga lebih rendah dari yang didapat pada metode tumpuan tanah bebas.
Akan tetapi untuk dinding kaku, seperti dinding berdiafragma, yang dibentuk oleh galian
pada tanah yang memiliki nilai K0 tinggi (antara 1-2), seperti lempung yang terkonsolidasi
berlebihan, momen lentur maksirnum maupun gaya batang penyangga lebih besar dari
yang didapat pada metode tumpuan tanah bebas. Untuk dinding-dinding khusus (galian)
dan sifat-sifat material seperti yang ditunjukkan oleh Potts dan Fourie, pola variasi yang
diperlihatkan dalam Gambar 6.25 diperoleh untuk faktor keamanan (F,) sama dengan
2,0. Dalam gambar ini, Mfe dan Tie menandakan momen lentur maksimum dan gaya
batang penyangga yang diperoleh dari analisis elemen hingga, dan Mle dan T1e menanda
kan nilai yang bersesuaian yang didapat dari analisis keseirnbangan batas (tumpuan tanah
bebas).
=

Mekanika Tanah

1 92

250

-1

::;:

)>

300

200

200

1 50

100
50
0
- 1,5

-0,5

log p

11

Gambar 6.25.

0,5

1,5

1 00
0
- 1 ,5

-0,5

log p

0,5

1 ,5

lbl

Analisis dinding kantilever berpenyangga pada lempung dengan metode elemen hingga.
(Diambil dari D. M. Potts dan A. B. Fourie (1 985), Geotechnique, Vol. 35 , No. 3, dengan izin dari
Thomas Telford Ltd.).

Distribusi Tekanan Air Pori


Dinding turap (sheet pile) dan diafragma biasanya dianalisis pada kondisi tegangan efektif.
Kita harus berhati-hati dalam memutuskan distribusi tekanan air pori yang telah ada.
Beberapa kondisi yang berbeda diperlihatkan dalam Gambar 6.26.
Jika tinggi muka air tanah pada kedua sisi dinding sama maka distribusi tekanannya
akan bersifat hidrostatik dan seimbang (Gambar 6.2 6a), sehingga dapat dihilangkan dari
perhitungan.
Jika tinggi muka air tanah berbeda dan jika terbentuk kondisi rembesan stedi, maka
distribusi tekanan pada kedua sisi dinding akan tidak seirnbang. Distribusi neto di belakang
dinding dapat ditentukan dari jaringan aliran, seperti digambarkan pada Contoh 2 . 1 . Te
tapi, untuk kondisi-kondisi tertentu, distribusi perkiraan ABC dalam Gambar 6.26b dapa.t
diperoleh dengan mengasumsikan bahwa tinggi energi total berdisipasi secara merata
sepanjang permukaan belakang dan depan dinding di antara kedua tinggi muka air tanah.
Tekanan neto maksirnum teijadi pada bagian yang berseberangan dengan muka air t
terendah, dan dari Gambar 6.26b, besar tekanan tersebut adalah:

uc =

2ba

Y
2b + a w

Secara umum, metode pendekatan mengasumsikan tekanan air neto yang terlalu
kecil, khususnya jika dasar dinding relatif dekat dengan batas bawah dari daerah aliran
(yaitu jika terdapat perbedaan ukuran bujursangkar kurvilinear yang cukup besar pada
jaringan aliran).
Pada Gambar 6.26c diperlihatkan air dengan kedalaman tertentu di depan dinding,
di mana tinggi permukaan air tersebut lebih rendah dibandingkan dengan posisi muka
air tanah di belakang dinding. Dalam hal ini suatu perkiraan distribusi DEFG harus dipakai
untuk menyelesaikannya, dengan tekanan neto di G diberikan oleh:

- __,_____c__

G -

(2b + c)a
Y
2b + c + a w

Suatu dinding yang sebagian besar dibangun pada tanah dengan permeabilitas yang
relatif tinggi tetapi menembus lapisan lempung dengan permeabilitas rendah diperlihat
kan dalam Gambar 6.26d. Jika pada lempung teijadi kondisi tak-terdrainasi maka tekanan

Tekanan Tanah Lateral

1 93

-- - - - -

M.A.T.

',

l'c

T
a

',t :.. t
:::--...

/ Dari b
/i aringan
alirn

,' _

(8)

M.A.T.

(cl

1\

(b)

......

- - - - -M.A.T.
-L
'

'

'

'
'

'

- - - - - - - - - - - - - - - --- - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - -

(d)

(e)

Garnbar 6.26.

Berbagai distribusi tekanan air pori.

air pori pada tanah di atas lapisan lempung tersebut akan bersifat hidrostatis dan distribusi
tekanan netonya akan berupa bidang HJKL seperti terlihat pada gambar.
Pada Gambar 6.26c ditunjukkan suatu dinding yang dibangun pada lempung yang
mengandung lapisan-lapisan tipis atau bagian-bagian dari pasir halus atau lanau. Dalam
hal ini harus diasumsikan bahwa pasir atau lanau iersebut membiarkan air pada tekanan
hidrostatik mencapai permukaan belakang dinding. lni akan membuat tekanan lebih besar
dari hidrostatik, dan akibatnya terjadi rembesan ke atas di depan dinding.
Untuk dinding sementara pada lempung (misalnya pada saat dan segera setelah peng
galian), mungkin akan terbentuk suatu retakan akibat tarikan atau celah-celah pada lem
pung akan terbuka. Jika retakan atau celah tersebut terisi oleh air, maka sepanjang ke
dalaman yang ditinjau harus diasumsikan dalam keadaan hidrostatik, dan air di di dalam
retakan-retakan atau celah-celah tersebut juga akan memperlunak tanah lempung. Perluas
an juga akan terjadi di dekat permukaan tanah di depan dinding sebagai hasil dari suatu

Mekanika Tanah

1 94

tambahan tegangan pada saat penggalian. Analisis tegangan efektif akan meyakinkan bahwa
suatu desain akan aman bila terjadi perlunakan secara cepat pada lempung atau jika pe
kerjaan ditunda pada saat tahanan sementara dari konstruksi. Dalam hal ini dapat diguna
kan faktor keamanan yang relatif rendah. Padfield dan Mair [6. 12] memberikan rincian
metode desain yang menggabungkan tegangan total dan tegangan efektif sebagai suatu
alternatif untuk situasi sementara seperti di atas pada lempung, yaitu kondisi tegangan
efektif diterapkan di dalam daerah yang bertanggung jawab atas melunaknya tanah dan
kondisi tegangan total diterapkan di bawahnya.

Tekanan Rembesan
Pada kondisi rembesan stedi, pemakaian perkiraan bahwa tinggi energi total terdisipasi
secara rnerata sepanjang dinding menimbulkan keuntungan tertentu, yaitu tekanan rembes
an akan konstan. Untuk kondisi seperti yang terlihat dalam Gambar 6.26b sebagai contoh,
tekanan rembesan pada sembarang kedalaman adalah sebagai berikut:
.

2b

Yw

Berat isi efektif tanah akan bertambah menjadi (-y' + J) di belakang dinding, di mana arah
j) di depan dinding, di mana
rembesan adalah ke bawah, dan berkurang menjadi (r'
arah rembesan adalah ke atas. Nilai-nilai ini berturut-turut, hams dipakai dalam perhitung
an tekanan aktif dan tekanan pasif. Jadi pada kondisi rembesan stedi, tekanan aktif ber
tambah dan tekanan pasif berkurang relatif terhadap nilai-nilai keadaan statis yang ber
sesuaian.
-

Angkur Pengikat Belakang Dinding (Tie-back Anchorage)


Batang-batang pengikat biasanya diangkurkan ke dalam balok-balok, pelat-pelat, atau
blok-blok beton beberapa meter di belakang dinding (Gambar 6.27). Gaya batang peng
ikat ditahan oleh tahanan pasif yang dimobilisasi oleh angkur, dan direduksi oleh tekanan
aktif, di mana faktor keamanan yang dipakai tidak boleh kurang dari 2 untuk menjamin
bahwa lelehnya angkur tidak terlalu besar. Jika tinggi angkur (b) tidak lebih kecil dari
setengah kedalamannya (da ) dari permukaan tanah sampai ke dasar angkur, maka angkur
terse but dapat diasumsikan menimbulkan tahanan pasif sepanjang da . Angkur harus di
letakkan di luar bidang YZ (Gambar 6.27a) untuk memastikan bahwa sisi pasif angkur

(a)
Gambar 6.27.

( b)

(a) Angkur pelat (b) angkur tanah.

195

Tekanan Tanah Lateral

tidak melanggar sisi aktifnya di belakang dinding. Jika dipakai metode tumpuan tanah
bebas dalam desain, maka ujung bawah (X) dari sisi aktif harus terletak pada dasar dinding.
Jika T = gaya batang pengikat tiap satuan panjang dinding, s = jarak antar batang
batang pengikat, F = faktor keamanan, dan l = panjang angkur tiap batang pengikat, maka:
Ts

yd2 l
(Kp
2

- KA )

--l

(6.24)

Jika dipakai satu angkur pada tiap batang pengikat maka tahanan geser pada sisi-sisi
dari bagian pasif akan menimbulkan tahanan tambahan terhadap angkur. Kabel-kabel
yang difarik tegang pada injeksi dari semen atau tanah yang di grout (Gambar 6.27b)
dapat juga:, digunakan untuk menyangga dinding-dinding turap. lni disebut " angkur tanah
dan akan diuraikan dalam Bagian 8.8.

Contoh 6. 7.
Sisi-sisi suatu galian sedalam 2,5 m pada pasir di sangga qleh dinding turap kantilever,
muka air tanah 1 ,0 m di bawah dasar galian. Berat isi pasir di atas muka air tanah adalah
1 7 kN/m3 dan di bawah muka air tanah berat isi jenuhnya adalah 20 kN/m3 . Jika c' =
0, et>' = 35 , dan o = 0, hitunglah kedalaman dinding turap yang harus dipancangkan (di
benamkan) dengan memberikan faktor keamanan sebesar 2 terhadap tahanan pasir.
Untuk et>' = 35 dan o = 0, KA = 0,27 dan Kp = 3 ,7 .
Di bawah muka air tanah berat isi efektif tanah adalah (20 - 9,8) = 1 0,2 kN/m3 .
Diagram tekanan tanah ditunjukkan pada Gambar 6.28. Distribusi tekanan hidrostatik
pada kedua sisi dinding setirnbang dan dapat dielirninasi dari perhitungan. Prosedurnya
dilakukan dengan menyamakan momen-momen terhadap titik C, di mana titik kerja
gaya menyatakan tahanan pasif netto di bawah titik rotasi. Gaya, lengan momen, dan
momen-momen yang bekerja disajikan pada Tabel 6.7, dan faktor keamanan yang di
tetapkan diberikan untuk gaya-gaya pada baris (4), (5) dan (6).

Tabel 6.7.
Lengan (m)

Gaya per m

(kN)

(1) t X 0,27 X

17

3,52

1 7 X 3,5 X d
(3) t X 0,27 X 10,2x d2
(4) -f x 3,7 x l7 x l2 x f
(5) -3,7 X 17 X 1 X d X t
(6) _!. X 3 ,7 X 10 '2 X d2 X .!.
2
2
(2) 0).7

=
=
=
=

28,11

16,06d

1,3Ba2
-15,72

-31 ,45d
-9,4

d + 3,5/3

d/2

d/3

d + 1/3

d/2
d/3

Momen per m

(kNm)

28,l ld + 32,79
8,03
-

0,46d3
15,72d

-15,7UZ

-3,l4d3

5,24

Dengan menyamakan jumlah aljabar momen terhadap C dengan nol akan dihasilkan per
samaan berikut:
-2,68d3 - 7 ,69 + l 2,39d + 27,55 = 0
d3 + 2 ,87d2 - 4,62d = 1 0,28.
Berdasarkan penyelesaian coba-coba diperoleh:
d = 2,00 m.

'

Mekanika Tanah

1 96

2,5 m

(4)

_ _ _

(6)

Fp

1,0t m

_ _ _

(3)

Gambar 6.28.

Keda1aman pemancangan yang dibutuhkan ada1ah = 1 ,2 (2,0 + 1 ,0) - 3,6 m.


Gaya R harus dievaluasi dan dibandingkan dengan tahanan pasif netto yang ada
dengan keda1aman pemancangan ditambah 20%. Dengan demikian untuk d = 2,00 m:

= - (28, 1 1 + 32,1 2 + 5 , 5 1 - 1 5 ,72 - 62,90 - 37,72)

= 50,6 kN.

Tekanan pasif bekerja pada bagian be1akang dinding antara keda1aman 5,5 m dan 6,1 m.
Pada kedalaman 5,8 m, tekanan pasif netto ada1ah

P P - PA = (3,7

X 1 7 X 3,5) - (0,27 X 1 7
+ {(3,7 - 0,27) X 1 0,2 X 2,3 }
= 220, 1 - 4,6 + 80,5
296 kN/m2

1 ,0)

Tahanan pasif netto yang ada pada kedalaman tambahan dinding yang dipancangkan ada1ah:
296 (6 1 5 ,5)
1 77,6 kN
-

( > R, o1eh sebab itu memenuhi).

Contoh 6.8
Dinding suatu dermaga dibuat dengan menggunakan turap dengan angkur seperti ditunjuk
kan pada Gambar 6.29. Di atas muka air tanah berat isi tanah ada1ah 1 7 kN/m3 dan di
bawah muka air tanah, berat isi tanah adalah 20 kN/m3 . Parameter-parameter kekuatan
gesernya ada1ah c' = 0 dan rp' = 36 . Untuk faktor keamanan (Fp) sebesar 2,0 terhadap
tahanan pasif, hitunglah keda1aman pemancangan yang diperlukan dan gaya-gaya pada
tiap batang pengikat jika jarak antara angkur ada1ah 2 ,00 m. Desain1ah suatu angkur
menerus yang memiku1 batang pengikat.
Untuk rp' = 36 (dan c5 = 0), KA = 0,26 dan Kp = 3,85.
Di bawah muka air tanah, berat isi efektif tanah adalah 1 0,2 kN/m3
Diagram tekanan tanah diperlihatkan pada Gambar 6.29. Distribusi tekanan hidrosta
tik pada kedua sisi dinding setimbang dan dapat die1iminasi dari perhitungan. Kemudian
dinyatakan bahwa momen terhadap A, yaitu titik kerja gaya pengikat (T per satuan pan
jang) ada1ah nol. Gaya-gaya dan lengan momen terhadap A disajikan pada Tabe1 6.8, dan
faktor keamanan diberikan pada gaya ( 4).

Tekanan Tanah Lateral

1 97
w

r 'f;;

'I

'

._.., _ .t _ i
_
_
_

6,4 m
2,4m
d

j_ _

(3)

Gambar 6.29.

Tabel 6.8

Gaya per m (kN)


(1)

0,26

17

6,42

(2) 0,26 X 17 X 6,4 X (d + 2,4)


(3) t X 0,26 X 10;2 X (d + 2,4)2
(4) -t X 3,85 X 10,2 X d2 X f

Pengikat

=
=
;e

90,5

28,3d + 67,9
I ,3 3tfZ + 6_,36d + 7.,64

-9,8

-T

Lengan (m)

2,77
d/2 + 6,1
2d/3 + 6,5
2d/3 + 7,3
0

Samakan jumlah aljabar momen-momen terhadap A dengan nol sehingga d$asilkan


persamaan berikut:
-5 ,6&P -- 44,7d2 + 253,0d + 7 1 4,6 = o
d3 + 7 ,9d2 -- 44,7d = 1 26,3.

Dengan coba-coba, diperoleh penyelesaiannya yaitu


d = 5,24 m.

Untuk dinding dermaga, nilai ini akan ditambah 20%, yang akan memberikan kedalaman
pemancangan sebesar 6,29 m.
Jumlah aljabar gaya-gaya pada Tabel 6.8 harus sama dengan nol, sehingga untuk d =
5 ,24 m diperoleh persamaan:
90,5 + 2 1 6,2 + 77,5 - 269,6 - T= 0
T = 1 1 4,6 kN.
Oleh sebab itu gaya pada tiap kabel pengikat adalah (2 x 1 14,6) = 229 kN.
Untuk angkur menerus, s = 1 pada Persamaan 6.24. Oleh sebab itu, gunakan faktor
keamanan sebesar 2,0:
cf. =
a

2FT

y( Kp - KA)

2
2 X 2 X 1 1 4,6
- 7 '5 1 m
1 7(3,85 - 0,26)
_

Mekanika Tanah

1 98
d =
a

2,74 m

Oleh sebab itu b


tanah.

2,48 m untuk suatu angkur yang berada 1 ,5 m di bawah permukaan

Contoh 6.9
Suatu dding kantilever berpenopang yang memikul sisi-sisi suatu galian pada lempung
kaku diperlihatkan Gambar 6.30. Be rat isi jenuh lempung (di atas dan di bawah muka air
tanah) adalah 20 kN/m3 Parameter-parameter kekuatan geser tanah tersebut adalah c' =
0 dan q/ .= 29 . Pada dinding belakang o = --} q/ , dan pada dinding muka o = t q/ . Gunakan
metode Burland-Potts-Walsh dan dengan mengasumsikan bahwa kondisi rembesannya
stedi. Hitunglah kedalaman pemancangan yang diperlukan dengan memberikan faktor
keamanan sebesar 2 ,0. Pada tahanan pasif netto. Hitunglah gaya pada tiap penopang
dan gambarkan diagram gaya geser momen lentur untuk dinding tersebut.
Koefisien tekanan tanah adalah KA = 0,30 dan Kp 4,2.
Distribusi tekanan tanah dan tekanan air pori netto (dengan asumsi bahwa penurunan
total tinggi energi adalah merata di sekeliling dinding) diperlihatkan pada Gambar 6.30.
Diagram (7) menyatakan tahanan pasif netto yang ada. Prosedur yang dilakukan adalah
menyamakan momen-momen terhadap A dengan nol. Tetapi jika gaya-gaya, lengan-lengan
momen, dan momen-momen dinyatakan dalam kedalaman pemancangan d yang tidak
diketahui, maka akan didapatkan persamaan aljabar yang rumit. Oleh sebab itu lebih
baik diasumsikan serangkaian nilai d coba-coba dan menghitung nilai-nilai yang bersesuaian
dengan faktor keamanan Fr: (dapat ditulis dalam bentuk suatu program komputer). Ke
dalaman pemancangan untuk F, = 2,0 dapat diperoleh dengan interpolasi.
Dengan mengikuti prosedur di atas, suatu nilai coba-coba d = 6,0 m dipilih. Maka
tekanan air maksimum netto, pada permukaan D adalah
=

1 2 ,0
-

1 6 ,5

4 '5

98

'

32 1 kN/m

'

Tekanan rembesan rata-rata adalah


]. =

4,5
-

1 6,5

9 '8

2 7 kN/m3
'

Dengan demikian, di bawah muka air tanah, gaya-gaya aktif dihitung dengan menggunakan:

(y' + j)

10,2 + 2 ,7

1 2,9 kN/m3

(7)

(6,0 m)

l_ _

Gambar 6.30.

(4)

I
I
I

D
I
I
I
I
I

Tekanan Tanah Lateral

1 99

Dan gaya-gaya pasif dihitung dengan menggunakan:

(y'

j) = 10,2 - 2 ,7 = 7,5 kN/m3

Perhitungan lengkapnya disajikan dalam Tabel 6.9 .


.
Tabel 6.
.

Gaya p!'r m

l.engan (m)

(kN)'.

0 ,30 X 2Q x 1,52
(2) 0,30 X 20 X 1 ,5 X 4,5
(3) t X 0,30 X 12,9 X 4,52

(1)

(4) 0,30 {(20 X 1 ,5 ) + (12,9


(5) t X 32,1 X 4,5
(6) t X 32,1 X 6,0
(7)

-f{(4,2

==

;;
X

4,5) }6,0

0
2,75

72,2
96,3

3,5
7,0

3,5

39,1
1 58,2

7,5) -- (0,30 X 12,9) }6,02

6,8
40,5

= -

49 7

8,0

9,0

, '

Momen per m
(kNm)
, '

'

'

1 11,4

136,8

1266,0

2$2,8
674, 1

2441 ,1

-4475 ,7

Faktor keamanan yang didapatkan adalah


Fr

447 5 ,7
= " 1 83
2441 1
'

'

Perhitungan diulangi untuk tiga nilai d yang berlainan, di mana hasilnya adalah sebagai
berikut :
3,9
0,87

5,1
1 ,40

6,0
1 ,83

6,9
2 ,33

Dari Gambar 6.31 terlihat bahwa untuk Fr = 2 dibutuhkan kedalaman pemancangan


sebesar 6,3m.
Beban penopang, gaya-gaya geser, dan momen-momen lentur dihitung untuk kondisi
keseimbangan batas, yaitu untuk F,. = 1 ,0: nilai d yang bersesuaian dengan F,. = 1 adalah
4,2. Untuk nilai d ini:
=

Uv

8 ,4
12 9
'

j=

4,5
1 2,9

9,8 = 28,7 kN/m 2

9 '8 = 3 4 kN/m3

y' + j = 10,2

y'

4,5

'

3,4 = 13,6 kN/m3

j = 10,2 - 3,4 = 6,8 kN/m3

Gaya-gaya pada dinding penopang dihitung untuk d


Tabel 6 . 1 0.

4,2 m, seperti ditunjukkan pada

'l
I

Mekanika Tanah

200

Tabel 6.10
Gaya pe:r m (kN)

(1) t X 0,30 X 20 X 1 ,5 2
.(2) 0,30 X 20 X 1 ,5 X 4,5
(3) t. X 0,30 X 1 3,6 X 4,5 2
(4) 0,30 {(20 X 1 ,5) + (1 3,6
(5) t X 2 8,7 X 4,5
(6) t ,x 8,7 X 4,2
(7)

6,8

-t {(4,2 X 6.8) - (0,30

. . Gaya penopang (1)

::
:::

40,5

41;3

4,5)}4,2

1 14,9
64,6

60,3

328,4

:::

13,6)}4,22

215,9
112,5

Kalikan nilai yang dihitung dengan 1 ,25 , yang akan memberikan suatu pembusuran
(arching), di mana gaya penopang untuk interval 2 m adalah:
1 ,25

1 12 ,5 = 2 8 1 kN.

Gaya-gaya geser dan momen-momen lentur, yang dihitung untuk d = 4,2 m, diberikan pada
Tabel 6 . 1 1 dan digambarkan dengan skala pada Gambar 6 .3 1 . Untuk kedalaman peman2,5

F,

2,0
1,5

1,0

0,5
3

/
/" i

- - - - - - - - - - -

---/ i
o

I
I

d(m)
3
-200
- 1 00
0
- 00
a -..---,---.

Gaya geser ( kN )

Momen Jentur ( kNm)

- 1 00
-50
0
50
100
o -.r--,r----,

z(m)

I
I
I

z(m)

12

14

''

10
12

14

Gambar 6.31.

''

'

'>.

- - -

- - - -

'
Desain .---- ,

- = - - - - - - - -

Tekanan Tanah Lateral

201

Tabel 6. 1 1

0
1
.f-

4
6
8
10

..:.3/+ 109,5
+93,6
+34,6
"-40,7
-90,2
.;_14,3

0
+l

-103,3
-248,5
-278,5
-1 26,8

1,5

cangan yang diperlukan, yaitu 6,3 m, disarankan bahwa momen lentur yang diberikan oleh
garis putus-putus harus digunakan dalam desain.

6.8. Galian yang Diperlukan

Dinding atau papan turap biasanya digunakan untuk menumpu galian yang dalam dan
sempit, di mana stabilitasnya dipertahankan oleh penyangga-penyangga (struts) yang
bekerja menyilang pada galian, seperti diperlihatkan pada Gambar 6.32a. Turap biasanya
dipancang terlebih dahulu, lalu penyangga-penyangga dipasang pada saat proses tahapan
tahapan penggalian dilakukan. Ketika penyangga yang pertama dipasang, kedalaman
galian masih dangkal dan belum terjadi proses meleleh yang cukup berarti pada tanah.
Pada saat kedalaman galian bertambah, lelehnya tanah sebelum pemasangan penyangga
akan dapat terlihat, tetapi baris pertama dari penyangga mencegah pelelehan di dekat
permukaan tanah. Deformasi dinding akan berbentuk seperti pada Gambar 6.32a, di
abaikan pada daerah permukaan tanah dan bertambah besar terhadap kedalaman galian.
J adi kondisi deformasi menurut Rankine tidak terpenuhi sehingga teorinya pun tidak
dapat dipakai untuk dinding jenis ini. Keruntuhan tanah akan terjadi di sepanjang permuka
an yang terbentuk seperti pada Gambar 6.32a, di mana hanya bagian terbawah dari tanah
pada permukaan ini yang mencapai kondisi keseimbangan plastis, sedangkan bagian atasnya
tetap berada dalam kondisi keseimbangan elastis.
Keruntuhan dinding penyangga biasanya diakibatkan oleh rusaknya salah satu pe
nyangga, yang akan menghasilkan keruntuhan yang makin besar pada keseluruhan sistem.
Gaya-gaya pada tiap penyangga mungkin berbeda-beda sebab gaya-gaya tersebut tergantung
pada faktor-faktor yang cukup acak, misalnya besarnya gaya yang diperlukan untuk me
masang penyangga dan selang waktu antara penggalian dan pemasangan penyangga. Pro
sedur desain untuk dinding yang diperkaku biasanya bersifat semi-empiris, yaitu didasar
kan atas pengukuran-pengukuran beban penyangga yang sebenarnya pada galian pada
pasir dan lempung pada beberapa lokasi. Sebagai contoh, Gambar 5.32b memperlihatkan
distribusi yang jelas dari tekanan tanah yang diturunkan dari pengukuran-pengukuran
beban pada penyangga pada tiga bagian galian yang diperkaku pada pasir yang rapat.
Karena tidak boleh ada kerusakan pada tiap penyangga, maka distribusi tekanan yang
diasumsikan dalam desain adalah garis selubung yang mencakup semua distribusi acak
yang diperoleh dari pengukuran di lapangan. Garis selubung tersebut tidak boleh dianggap
sebagai distribusi tekanan tanah aktual menurut kedalaman tetapi hanya sebagai hipotesis
diagram tegangan yang dapat memberikan beban-beban penyangga dengan suatu tingkat
keyakinan tertentu. Selubung tekanan yang diusulkan oleh Terzaghi dan Peck (6.23]

Mekanika Ta

202

(a)

'-----' :..::- .

--'

( b)

--1

0,65

KA y H

f-

(c)

- -

0,25

Bi
1

0,75 H

--j l ,O K / H
A

f--

K = 1 -m

(d)

Gambar 6.32.

4c

Y H"

{e)

Galian yang diperkaku.

untuk pasir medium sampai rapat diperlihatkan pada Gambar 6.32c, yang merupakan
distribusi merata yang besarnya 0,65 kali nilai aktif dari Rankine.
Menurut Peck [6. 1 3] , perilaku galian yang diperkaku pada lempung tergantung
dari nilai angka kestabilan rHfcu , di mana cu adalah kekuatan geser tak-terdrainasi rata
rata dari tanah lempung yang berdekatan dengan galian tersebut. Perlu dicatat bahwa
nilai angka kestabilan akan bertambah bila kedalaman galiannya bertambah pada lempung.
Jika angka kestabilan kurang dari 4, maka sebagian besar lempung di sekitar galian tersebut
berada dalam keadaan keseimbangan elastis dan untuk kondisi ini Peck mengusulkan
bahwa garis selubung yang terlihat pada Gambar 6.32d harus dipakai untuk menghitung
beban-beban penyangga. Jika angka kestabilan lebih besar dari 4, maka daerah plastis
mungkin akan terbentuk di dekat dasar galian dan selubung seperti yang terlihat pada
Gambar 6 .32e harus dipakai asalkan absisnya lebih besar dari absis pada Gambar 6.32d.
Di luar kasus ini, Gambar 6.32d harus dipakai tanpa mempedulikan angka kestabilan.
Secara umum nilai m pada Gambar 6.32e harus diambil sebesar 1 ,0; tetapi pada lempung
yang lunak dan terkonsolidasi normal, nilai m sebesar 0,4 dapat dipakai.
Dalam hal galian pada lempung yang angka kestabilannya lebih besar dari 7, mungkin
akan terjadi keruntuhan pada dasar galian berupa "pengangkatan" (heaving) (lihat Bagian
8 .2) dan ini harus dianalisis sebelum beban penyangga ditentukan. Akibat pengangkatan
pada dasar galian dan deformasi lempung ke arah dalam, maka akan terjadi gerakan-gerakan
horisontal dan vertikal pada tanah di luar galian. Gerakan-gerakan tersebut dapat me-

Tekanan Tanah Lateral

203

nyebabkan kerusakan pada struktur-struktur dan pelayanan di sekitamya dan harus terus
dipantau sepanjang proses penggalian. Jadi akan dapat diperoleh peringatan dini tentang
gerakan-gerakan yang berlebihan atau kemungkinan ketidakstabilan. Secara umum, makin
besar fleksibil1tas .sistem dinding dan makin lama waktu sebelum ,penyangga atau angkur
dipasang, akan makin besar pula gerakan-gerakan tanah di luar galian.

6 9. Dinding Diafragma
Suatu dinding diafragma adalah selaput beton bertulang yang relatif tipis yang dicor
ke dalam suatu parit, di mana sisi-sisi parit tersebut sebelum dicor didukung oleh tekanan
hidrostatik dari air yang dicampur dengan bentonit (lempung montmorilonit). Bila di
campur dengan air, bentonit dengan cepat akan menyebar untuk membentuk suspensi
koloid yang memiliki sifat-sifat tiksotropik (thixotropic), yaitu akan berupa agar-agar
(gel) hila tidak diganggu tetapi menjadi cair hila digerakkan. Parit tersebut, yang lebar
nya sama dengan le bar dinding, digali terus dengan panjang yang pantas dari permukaan
tanah, biasanya dengan memakai alat power-closing clarnshell grab, di mana biasanya
dibangun dinding-dinding bantu dangkal dari beton untuk mempermudah penggalian.
Parit diisi dengan campuran bentonit bersamaan dengan saat penggalian, sehingga peng
galian dapat terus dilakukan setelah campuran bentonit ditempatkan di dalam parit.
Proses penggalian menyebabkan zat padat berubah menjadi cair tetapi akan segera ter
bentuk zat padat kembali hila tidak ada gangguan proses penggalian lagi. Campuran ben
tonit cenderung tercemar oleh tanah dan semen pada saat pembangunan dinding tetapi
dapat dibersihkan dan digunakan kembali.
Partikel-partikel bentonit membentuk suatu "kulit" yang memiliki permeabilitas
sangat rendah, yang dikenal sebagai "keping penyaring" (filter cake), pada permukaan
galian. Ini teljadi akibat tersaringnya air ke luar dari campuran menuju tanah, sehingga
meninggalkan bekas berupa suatu lapisan partikel bentonit dengan ketebalan beberapa
milirneter pada permukaan dalam tanah yang digali. Akibatnya, tekanan hidrostatik cam
puran tersebut bekerja sepenuhnya pada dinding-dinding parit sehingga keseimbangan
atau kestabilannya tetap teljaga. Keping penyaringan hanya akan terbentuk hila tekanan
cairan di dalam parit lebih besar dari tekanan air pori pada tanah, jadi muka air tanah
yang merupakan salah satu penghalang yang perlu diperhitungkan dalam pembangunan
dinding diafragma. Pada tanah yang memiliki permeabilitas rendah, seperti lempung, tidak
akan dapat terlihat penyaringan air ke dalam tanah dan karena itu tidak ada pembentukan
keping penyaringan yang cukup berarti. Pada tanah dengan permeabilitas tinggi, seperti
kerikil berpasir, mungkin akan teljadi kehilangan bentonit yang cukup banyak ke dalarn
tanah, sehingga menghasilkan tanah yang penuh diliputi bentonit dan sedikit sekali ter
bentuk keping penyaring. Tetapi bila ke dalarn campuran tersebut ditambahkan sedikit
pasir halus (sekitar 1%), maka mekanisme pelapisan pada tanah-tanah dengan permeabilitas
tinggi dapat diperbaiki, dengan sedikit kehilangan bentonit. Kestabilan parit tergantung
pada adanya pelapis yang efisien pada permukaan tanah; semakin tinggi permeabilitas
tanah, semakin vital pula peranan efisiensi pelapis.
Suatu campuran (slurry) yang memiliki kerapatan yang relatif tinggi sangat diperlu
kan dalarn hal kestabilan parit, reduksi kehilangan ke dalam tanah berpermeabilitas tinggi,
dan ketahanan partikel-partikel pencemar dalam suspensi. Sebaliknya, campuran yang
memiliki kerapatan relatif rendah akan hilang dengan mudah dari permukaan tanah dan
tulangan pada tanah, dan akan lebih mudah dipompa dan bebas dari pencemaran. Spesifi
kasi campuran harus mencerminkan jalan tengah antara keperluan-keperluan yang saling
l

,,

Mekanika Tanah

204

bedawanan. Biasanya spesifikasi campuran didasarkan atas kerapatan kekentalan, kekuatan


zat padat, dan pH.
Sebagai pelengkap galian, tulangan ditempatkan dan diatur lalu parit diisi dengan
adukan beton basah dengan memakai alat pipa corong. Beton basah tersebut (yang ke
rapatannya dua kali kerapatan campuran) menggantikan campuran dengan cara men
desaknya dari dasar parit ke arah atas. Pipa corong dinaikkan secara bertahap sesuai dengan
tinggi adukan beton yang telah dicapai. Bila dinding tersebut (yang dibangun sebagai
serangkaian panel-panel yang , saling dikaitkan) telah selesai dan beton telah mencapai

pada kedalaman-kedalaman yang diperlukan, selama

kekuatan yang memadai, maka tanah pada salah satu dinding dapat digali. Biasanya perlu
dipasang angkur tanah (Bagian 8.8)

proses penggalian, untuk mengikat dinding pada tanah yang tidak digali. Metode ini sangat
cocok untuk pembangunan lantai bawah tanah dan konstruksi bawah tanah yang dalam.

Keuntungan utama dari metode ini adalah dinding-dinding dapat dibangun berdekatan
dengan struktur-struktur di sekitarnya. Asalnya tanahnya cukup padat, deformasi tanah
biasanya masih dapat diterima. Dinding diafragma seringkali lebih disukai daripada dinding
turap karena relatif lbih kaku dan kemampuannya untuk digabungkan sebagai salah
satu bagian dari struktur.
Keputusan apakah akan dipakai distribusi tekanan lateral yang berbentuk segitiga
atau trapesium dalam desain dinding diafragma tergantung pada deformasi dinding yang
diperkirakan akan terjadi. Distribusi segitiga mungkin akan terlihat pada kasus suatu
barisan tunggal batang-batang pengikat yang dipasang di dekat puncak dinding. Bila ter
dapat banyak barisan batang pengikat di sepanjang ketinggian dinding, maka akan terjadi
distribusi trapesium.

Kestabikzn Parit
Diasumsikan bahwa tekanan hidrostatik dari campuran bekerja sepenuhnya pada sisi-sisi
parit, di mana bentonit membentuk suatu lapisan tipis serta terlihat tidak lolos air pada
permukaan tanah. Tinjaulah suatu bagian atau potongan tanah di atas bidang yang mem

bentuk sudut a terhadap horisontal, seperti terlihat pada Gambar

6.33.

Bila potongan

tersebut terletak pada titik gelincir ke dalam parit, yaitu tanah pada potongan itu berada

dalam kondisi keseimbangan bat<).s, maka sudut a dapat diasumsikan sebesar (45

+ cf>/2).

Berat isi campuran adalah 'Ys dan berat isi tanah adalah 'Y- Kedalaman campuran adalah

nH dan

tinggi muka air tanah di atas dasar parit adalah m/l, di mana H adalah kedalaman

parit. Komponen-komponen normal dan tangensial dari gaya resultan pada bidang runtuh
adalah N dan T.

r
J
nH

Gambar 6.33

_MfA!T
l
H

mH

Kestabilan pasif berisi !urnpur.

Tekanan Tanah Lateral

205

Dengan meninjau keseimbangan gaya,


P+

T cos a - N sin a = 0
W - T sin a - N cos a = 0

(6.25)
(6.26)

Diperoleh

ty.(nH)2

dan
W = hH 2 cot a
Dalam hal pasir (c' = 0), analisis tegangan efektif cukup beralasan. Dari sini:

(N -

V) tan </>'

di mana V, yaitu gaya air pada daerah batas pada bidang runtuh, diberikan oleh

V = hw(mHf cosec a
dan
rx

= 45 + <P'/2

Dalam hal lempung jenuh (if>u = 0), analisis tegangan totalnyalah yang relevan.
Oleh karena itu:

T = c"H cosec

rx

di mana = 45 .
Dengan memakai Persamaan-persamaan 6.25 dan 6.26 dapat ditentukan kerapatan
minimum campuran untuk faktor keamanan (F) sebesar satu terhadap keruntuhan geser
(pernyataan di atas mengasumsikan F = I). Cara lain, untuk campuran yang sudah di
ketahui kerapatannya, faktor keamanan dapat ditentukan dengan memakai parameter
parameter kekuatan geser yang dimobilisasi, yaitu tan - 1 (tan if>'/F) atau cufF pada per
samaan-persamaan di atas. Berat isi campuran yang diperlukan untuk kestabilan sangat
peka terhadap posisi muka air tanah.

6. 1 0. Tanah Bertulang

Tanah bertulang (reinforced earth) terdiri dari tanah yang dipadatkan yang di dalam
nya ditancapkan elemen-elemen tulangan tarik, yang biasanya dibuat dari jalur-jalur logam
yang dipasang secara horisontal. Perlu dicatat bahwa teknik tersebut sebelumnya dipaten
kan atas nama Henri Vidal dan Reinforced Earth Company. Tanah mengalami keseimbang
an atau kestabilan karena adanya gaya-gaya friksi yang timbul di antara tanah dan tulang
an, di mana tegangan-tegangan pada tanah disalurkan menuju elemen-elemen yang di
tetapkan di daerah tarik. Tanah yang dipakai untuk material urugan harus sebagian besar
terdiri dari butiran-butiran kasar dan telah diusulkan bahwa tidak lebih dari 10% partikel
yang bolch lolos saringan BS 63 J.Lm. Urugan harus benar-benar dalam keadaan tak-ter
drainasi untuk mencegahnya dari keadaan jenuh air. Elemen-elemen tulangan biasanya
terbuat dari baja yang telah digalvanisasi. Data-data yang didapat mengenai laju perkaratan
baja tersebut menunjukkan bahwa elemen-elemen dari material ini dapat tahan minimum
selama 120 tahun masa pelayanan. Material-material lain yang dapat dipakai untuk tulang
an adalah baja antikarat, campuran aluminium, plastik, dan geotekstil.

Mekanika Tanah

206

Pada dinding tanah bertulang, suatu permukaan dipasang pada elemen-elemen tulang
an untuk mencegah tanah lari ke luar dan untuk memenuhi kebutuhan estetika. Permuka
an tersebut harus cukup fleksibel untuk melawan deformasi urugan. Dalam banyak kasus,
permukaan tersebut terbuat dari unit-unit beton pracetak, yang dapat bergerak dengan
cukup leluasa relatif terhadap sesamanya, atau baja profil-U yang disusun secara horisontal.
Dinding tanah bertulangan memiliki fleksibilitas yang kompak sehingga dapat menahan
penurunan sebagian yang relatif besar. Ciri-ciri dasar dari dinding tanah bertulang dapat
dilihat pada Gambar 6.34. Dinding _dari tipe ini umumnya lebih ekonomis dibandingkan
dengan dinding penahan kantilever dari beton yang ekivalen. Prinsip tanah bertulang dapat
juga diterapkan pada timbunan, dan biasanya dengan menggunakan geotekstil.
Hal utama yang perlu diperhitungkan dalam desain adalah tegangan tarik yang harus
dipikul oleh elemen tulangan. Keruntuhan tarik dari salah satu elemen dapat mengakibat
kan kehancuran pada seluruh struktur. Yang juga penting adalah tahanan friksi antara
tulangan dan tanah. Gelinciran lokal akibat tahanan yang tidak memadai akan menghasil
kan redistribusi tegangan tarik dan deformasi struktur secara bertahap, tetapi tidak me
nyebabkan kerusakan pada struktur.
Tahanan geser antara tanah dan tulangan dapat ditentukan dengan uji geser langsung
(direct shear) atau uji tarik skala penuh. Tahanan tersebut tergantung pada kerapatan
relatif tanah, tegangan vertikal efektif, dan tekstur permukaan tulangan. Perlu dicatat
bahwa pada uji geser langsung tanah rapat akan bebas mengalami dilatasi, sedangkan
pada struktur yang terbuat dari tanah dilatasi dihambat. Nilai-nilai sudut friksi yang diper
oleh dari uji geser langsung diharapkan lebih rendah dari nilai-nilai yang bersesuaian untuk
kerapatan awal yang sama pada struktur tanah. Nilai-nilai geser langsung harus disesuaikan
karena adanya dilatasi pada waktu pengujian.
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa tegangan tarik maksimum pada suatu elemen
tulangan terjadi bukan pada permukaan struktur tetapi pada suatu titik di dalam tanah
bertulang yang bersangkutan, di mana posisi titik ini bervariasi sesuai dengan kedalaman
nya seperti ditunjukkan oleh kurva AB pada Gambar 6.34a. Kurva ini membagi tanah
menjadi suatu daerah "aktif' di mana tegangan geser pada tulangan bekerja ke arah luar
menuju permukaan struktur dan suatu daerah tahanan di mana tegangan geser bekerja
ke arah dalam.
Juran dan Schlosser [6.9] mengembangkan suatu metode desain yang didasarkan
atas analisis kestabilan daerah aktif. Asumsi cara keruntuhan yang digunakan adalah
bahwa elemen-elemen tulangan akan patah berkepanjangan pada titik-titik tegangan tarik

T-

l-o,J H--J
'

Jalur tulangan

0,5 H

\
\
\

Perm u kaan __.-

'

,(" Pd-kondisi diam


'

'

'

\
\

,,

Aktif

(a)
Gambar 6.34.

(b)
Dinding tanah bertulang.

Tekanan Tanah Lateral

207

maksimum dan , konsekuensinya, kondisi keseimbangan plastis terbentuk pada suatu


lapisan tipis tanah sepanjang alur patah tersebut. Karena itu, kurva tegangan tarik maksi
mum menunjukkan permukaan yang memiliki potensi untuk runtuh. Jika diasumsikan
bahwa tanah menjadi plastis sempurna, permukaan runtuh akan berupa spiral logaritmik.
Spiral tersebut diasumsikan melewati bagian dasar permukaan dinding dan memotong
permukaan tanah secara tegak lurus, pada suatu titik beijarak 0,3H dari permukaan din
dihg, seperti terlihat pada Gambar 6.34a. Distribusi tekanan lateral yang diramalkan oleh
metode ini berbentuk seperti pada Gambar 6 .34b. Nilai teoritis K, atau koefisien tekanan
lateral, kira-kira sama dengan K0 pada bagian atas dari tanah yang diberi tulangan dan
berkurang menjadi KA pada bagian di dekat dasar.
Suatu analisis yang lebih sederhana dapat dibuat dengan mengasumsikan bahwa kurva
tegangan tarik maksimum dapat diwakili oleh suatu perkiraan berupa kurva bilinear ACB
seperti terlihat pada Gambar 6.34a. Tinjaulah suatu elemen tulangan yang berada pada
kedalaman z di bawah permukaan tanah. Gaya tarik pada elemen tersebut akibat penyalur
an tegangan lateral dari tanah menuju elemen diberikan oleh
(6.27)

di mana K adalah koefisien tekanan tanah yang telah ada pada kedalaman z, az adalah
tegangan vertikal, Sx dan Sz adalah jarak vertikal antara elemen. Tegangan vertikal maksi
mum pada dinding tanah bertulang akan lebih besar dari tekanan akibat tanah di atasnya
('yz) karena adanya gaya dorong aktif total dari urugan di luar elemen. Dengan meng
asumsikan suatu distribusi tegangan vertikal berbentuk trapesium (bandingkan Gambar
6 . 1 7c), nilai maksimumnya dapat diperkirakan sebagai:
Uz

yz 1 +

KA

:)

(6.28)

di mana L adalah panjang elemen tulangan pada kedalaman z dan KA adalah koefisien
tekanan aktif untuk urugan di luar elemen. Bila kekuatan tarik izin untuk material yang
bersangkutan diberikan, maka luas potongan elemen yang dibutuhkan dapat diperoleh
dari Persamaan 6.27.
Tahanan friksi yang tersedia pada permukaan elemen (hanya permukaan-permukaan
puncak dan dasar saja yang ditinjau) diberikan oleh:
R

2bL,.yz tan 6

(6.29)

di mana b = lebar elemen, Le = panjang efektif elemen, yaitu panjang elemen di dalam
daerah tahanan (di luar ACB pada Gambar 6.34), dan o = sudut friksi antara tanah dan
elemen. Dari sini faktor keamanan terhadap keruntuhan akibat 'lekatan' (bond), yang tidak
boleh kurang dari 2 , diberikan oleh perbandingan R/T.
Kestabilan luar dari struktur tanah bertulang harus diperhitungkan juga. Sua tu dinding
tanah bertulang, meskipun berperilaku seperti struktur yang relatif fleksibel , harus didesain
seolah-olah dinding tersebut adalah dinding gravitasi bila dipandang dari segi kestabilan
luarnya. Bagian belakang dinding harus dianggap sebagai bidang vertikal yang melalui
ujung dalam dari elemen tulangan terbawah atau terendah. Gaya dorong aktif total pada
bidang ini harus dihitung dengan teori Rankine . Faktor keamanan terhadap gelinciran
antara urugan bertulang dan tanah pondasi tidak boleh kurang dari 2, di mana dalam
analisis ini sudut tahanan geser yang dipakai adalah dari tanah yang paling lemah. Distribusi
tekanan pada bagian dasar harus sepenuhnya kompresif dan tidak boleh lebih besar dari
daya dukung tanah pondasi yang diizinkan. Semua permukaan runtuh potensial yang
meliputi struktur harus dianalisis, seperti pada analisis lereng (lihat Bab 9). Perlu dipasti
kan bahwa faktor keamanan minimumnya adalah 1 ,5 .

Mekanika Tanah

208

Soal-soal
6.1 . Urugan di belakang suatu dinding penahan yang berada di atas muka air tanah
terdiri dari pasir dengan berat isi 1 7 kN/m3 , yang mempunyai parameter-parameter
'
kekuatan geser c = 0 dan </J' = 37 . Tinggi dinding penahan tersebut adalah 6 m dan
permukaan urugannya horisontal. Hitunglah gaya dorong aktif total pada dinding
terse but berdasarkan teori Rankine. Jika dinding dicegah dari keruntuhan, berapakah
kira-kira besarnya gaya dorong pada dinding terse but.
6.2. Gambarkan distribusi tekanan aktif pada permukaan dinding penahan yang ditunjuk
kan pada Gambar 6.35. Hitunglah gaya dorong total(aktif +hidrostatik)tpada dinding
penahan terse but dan tentukan letak titik kerjanya.
6.3. Bagian muka suatu dinding penahan mempunyai kemiringan ke arah luar dengan
sudut 1 0 terhadap bidang vertikalnya. Ketinggian tanah dimuka dinding adalah
2 m, permukaan tanahnya horisontal, dan muka air tanah berada di bawah dasar
'
dinding. Parameter-parameter tanah yang diketahui adalah: c = 0, </J' = 34 , o = 1 5 ,
dan 'Y = 1 8 kN/m3 . Hitunglah tahanan pasif total di muka dinding (a) berdasarkan
teori Coulomb (b) berdasarkan koefisien sokolovski.
6.4. Rincian suatu dinding penahan kantilever ditunjukkan pada Gambar 6.36. Hitunglah
tekanan maksimum dan minimum pada dasar dinding, jika muka air tanah di bela
kang dinding berada 3 ,90 m dari permukaan tanah. Parameter-parameter kekuatan
tanah terse but adalah c' = 0 dan </J' = 38. Be rat isi tanah pada kondisi jenuh adalah
20 kN/m3 dan berat isi tanah di atas muka air tanah adalah 1 7 kN/m3 Berat isi
beton adalah 23,5 kN/m3 . Jika pada dasar dinding o = 25 , berapakah faktor ke
amanan terhadap gelincir?
6.5. Sisi-sisi suatu galian pasir sedalam 3 m ditopang oleh suatu dinding turap kantilever.
Muka air tanah terletak 1 ,5 m di bawah dasar galian. Pasir tersebut mempunyai
berat isi jenuh 20 kN/m3 , berat isi di atas muka air tanah 1 7 kN/m3 , dan </J' = 36 .
Tentukanlah kedalaman turap yang harus dipancangkan di bawah dasar galian se
hingga didapatkan faktor keamanan sebesar 2 terhadap tahanan pasif.

- -,
- - - - ------ 1t
_ l_
t
y = 1 6 kN/m3

'

= 0

3 m

M AT.

q/ = 35

Ysat = 1 9 k N / m 3

'

= 1 7 kN/m2

3 m

q / = 2r

Ysat = 20 k N / m 3

'

o
rp ' = 4 2
=

2 m

::_ - _ l

4 m

y , 2 1 k N

Gambar 6.35.

209

Tekanan Tanah Lateral


1 00

kN/m

3,90
-

- - - -- -

0,40 m

j.

4,00 m

m
M.A.T. '6,60

- - - -

Gambar 6.36.

0,50 m
l '

0,70 m

o.so

7,50 m

0,50 m_i_ _ '

Gambar 6.37.

6.6.

Penampang suatu dinding penahan gravitasi ditunjukkan pada Gambar


isi material dinding -adalah

23,5

q/

6.37.

Berat

kN/m3 . Berat isi tanah urugan adalah 1 9 kN/m3

dan parameter-parameter kekuatan gesernya

'

= 0 dan

=-

36 .

Nilai {j antara

dinding dan urugan dan antara dinding dan tanah pondasi (tanah dasarnya) adalah

25.

Hitunglah tekanan maksimum dan minimum pada dasar pondasi dan faktor

keamanan terhadap gelincir. Berapakah faktor keamanan terhadap gelincir jika


diasumsikan terdapat tahanan pasif tanah setinggi 1 ,5 m di muka dinding.

6.7.

Sua tu dinding turap dengan angkur didirikan dengan cara memancang satu deret

tiang pancang ke dalam tanah yang mempunyai berat isi jenuh 2 1 kN/m3 dan para
meter-parameter kekuatan geser

'
c

1 0 kN/m2 dan q

27.

Bagian belakang din-

Mekanika Tanah

210

Batang pengikat berjarak

6,00 m
Muka
air

2m

t----r---

j_:!1 ,50 m

_ _ _

- f

3,00 m

7,20 m

l_

Gambar 6.38

ding . diisi urugan setinggi


isi jenuh

20

meter kekuatan gesernya

2,5

m dan

m, di mana tanah urugan terse but mempunyai berat

c' = 0, q;' = 35.

kN/m3 , berat isi di atas muka air tanah

1 ,5

17

kN/m3 dan parameter-para

Batang pengikat ditempatkan setiap jarak

m di bawah permukaan tanah urugan. Muka air di depan dan di bela

kang dinding adalah

m di bawah permukaan urugan. Dengan menggunakan metode

tumpuan tanah bebas (free earth support), tentukanlah kedalaman pemancangan


yang diperlukan dengan memberikan faktor keamanan sebesar

2,0

terhadap tahanan

pasif dan gaya pada masing-masing batang pengikat.

6.8.

Tanah pada kedua sisi dinding turap dengan angkur yang ditunjukkan pada Gambar

6.38

mempunyai berat isijenuh 2 1 kN/m3 , berat isi di atas muka air tanah

dan parameter kekuatan geser

'

0, q;' = 36. Perbedaan

1 8 kN/m 3 ,

antara muka air di belakang

dinding dan permukaan pasang naik atau surut di muka dinding adalah

1 ,5

m. De

ngan menggunakan metode tumpuan tanah bebas (free earth support), hitunglah
faktor keamanan terhadap tahanan pasif dan gaya pada tiap batang pengikat.

6.9.

Rincian suatu dinding penahan kantilever dengan penyokong ditunjukkan pada

6.39. Parameter-parameter tanahnya adalah c' = 0, q;' = 30 , o = 1 5 (dengan


0,30 dan Kp = 4,6). Berat isi jenuh tanah adalah 20 kN/m 3 . Berat isi di atas

Gambar

KA

r _ L_ _

S,O m

2,0 m

2.7 m

- ..: :..T.:

6,0 m

l_ _ _ _ _

Gambar 6.39.

1.._

-
_

Tekanan Tanah Lateral

21 1

muka air tanah adalah 1 7 kN/m3 Tentukanlah faktor keamanan dinding berdasarkan
metode Burland-Potts-Walsh.
6 . 10. Struktur penopang suatu galian pasir rapat sedalam 9 m ditempatkan setiap jarak
1 ,5 m arah vertikal dan 3 m arah horisontal. Dasar galian berada di atas muka air
tanah. Berat isi pasir adalah 1 9 kN/m3 dan parameter-parameter kekuatan gesernya
c ' = 0, q/ = 40 . Berapakah besar beban yang akan dipikul masing-masing penopang?
6 . 11 . Suatu dinding diafragma dibangun pada suatu tanah yang mempunyai berat isi
18 kN/m3 dan parameter-parameter kekuatan geser c' = 0, q/ = 3 4 . Kedalaman
parit adalah 3,50 m dan muka air tanah terletak 1 ,85 m di atas dasar parit. Hitunglah
faktor keamanan terhadap keruntuhan parit jika berat isi lumpur 1 0,6 kN/m3 dan
kedalaman lumpur di dalam parit 3,35 m.

Referensi
6. 1

Bishop, A. W. (1 958): 'Test Requirements for Measuring the Coeffi


cient of Earth Pressure at Rest', Proc. Conference on Earth Pressure
Problems, Brussels, Vol. 1 .
6.2 Bjerrum, L. dan Andersen, K. (1 972): 'In-situ Measurement of Lateral
Pressures in Clay', Proc. 5th European Coriference SMFE, Madrid,
Vol. 1 .
6.3 Brooker, E. W. dan Ireland, H. 0. (1 965): 'Earth Pressures at Rest
Related to Stress History', Canadian Geotechnical Journal, Vol. 2.
6.4 Burland, J. B., Potts, D. M. dan Walsh, N. M. (1981): 'The Overall
Stability of Free and Propped Embedded Cantilever Retaining
Walls', Ground Engineering, Vol. 1 4, No. 5.
6.5 Caq uot, A. dan Kerisel, J . ( 1948): ' Tables for the Calculation of
Passive Pressure, Active Pressure and Bearing Capacity of Founda
tions' ,

6.6
6.7
6.8
6.9

6. 1 0
6. 1 1

6. 12
6.13

6. 1 4

Gauthier-Villars, Paris.
Civil Engineering Code of Practice No. 2 ( 1 95 1 ) : Earth Retaining
Structures, I nstitution of Structural Engineers, London .
Drucker, D . C. dan Prager, W . ( 1952): 'Soil Mechanics a n d Plastic
Analysis or Limit Design ' , Q . Appl. Math . , Vol. 10.
Ingold , T. S. ( 1982): Reinforced Earth , Thomas Telford , London .
Juran , I . dan Schlosser, F. ( 1978) : 'Theoretical A nalysis of Failure in
Reinforced Earth Structures' , Proc. Symposium o n Earth Reinforce
ment, ASCE Convention, Pittsburgh.
Mayne, P. W. dan Kulhawy, F. H. ( 1 982): ' K0 - OCR Relationships in
Soil' , Journal A SCE, Vol . 108, No. GT6.
Nash, J. K . T. L. dan Jones, G. K . ( 1963): 'The Support of Trenches
Using Fluid Mud' , Grouts and D rilling Muds in Engineering Practice ,
ICE, London.
Padfield, C. J. dan Mair, R . J. ( 1984): 'Design of Retaining Walls
Embedded in Stiff Clay', CJRIA Report 104.
Peck , R . B. ( 1 969) : 'Deep Excavations and Tunnelling in Soft
Ground' , Proc. 7th International Conference SMFE, Mexico (State of
the Art Volume) .
Potts, D . M. dan Fourie, A . B . ( 1984) : 'The Behaviour of a Propped
Retaining Wall : Results of a Numerical Experiment', Geotechnique,
Vol . 34, No. 3 .

212

Mekanika Tanah
6.15 Potts, D . M. dan Fourie , A . B . ( 1985 ) : 'The Effect of Wall Stiffness on
the Behaviour of a Propped Retaining Wall' , Geotechnique, Vol. 35 ,
No. 3 .
6.16 Rowe, P. W . (1 952): 'Anchored Sheet Pile Walls', Proc. Institution of
Civil Engineers, Part 1.
6 . 1 7 Rowe, P. W. (1957): 'Sheet Pile Walls in Clay', Proc. Institution of Civil
Engineers, Part 1.
6 . 1 8 Rowe, P. W. dan Peaker, K. (1965): 'Passive Earth Pressure Measure
ments', Geotechnique, Vol. 1 5, No. 1 .
6 . 19 Sokolovski, V . V . (1965): Statics of Granular Media, Pergamon,
Oxford.
6.20 Sowers, G. F., Robb, A. D., M ullis, C. H. dan Glenn, A. J. (1957): 'The
Residual Lateral Pressures Produced by Compacting Soils', Proc. 4th
International Conference SMFE, London, Vol. 2.
6.21 Terzaghi, K. (1943): Theoretical Soil Mechanics, John Wiley and Sons,
New York.
6.22 Terzaghi, K. (1 954): 'Anchored Bulkheads', Transactions ASCE,
Vol. 1 1 9, p. 1 243.
6.23 Terzaghi, K. dan Peck, R. B. (1967): Soil Mechanics in Engineering
Practice (2nd Edition), John Wiley and Sons, New York.
6.24 Tschebotarioff. G. P. ( 1962): 'Retaining Structures', Chapter 5 of
Foundation Engineering (Ed. G. A. Leonards), McGraw-Hill, New
York.
6.25 Wrath, C. P. dan Hughes, J. M. 0. (1973): 'An Instrument for the In
Situ Measurement of the Properties of Soft Clays', Proc. 8th
International Conference SMFE, Moscow, Vol. 1(2).

BAB 7

Teori Konsolidasi

.' .:

7. 1 . Pendahuluan
Seperti telah dijelaskan pada Bab

3,

konsolidasi adalah sua tu proses pengecilan volume se

cara perlahan-lahan pada tanah jenuh sempurna dengan permeabilitas rendah akibat penga
liran sebagian air pori; proses terse but berlangsung terus sarnpai kelebihan tekanan air pori
yang disebabkan oleh kenaikan tegangan total telah benar-benar hilang. Kasus yang paling
sederhana adalah konsolidasi satu-dimensi, di mana kondisi regangan iateral nol mutlak
ada. Proses pemuaian (swelling), kebalikan dari konsolidasi, adalah bertarnbahnya volume
t anah secara perlahan-lahan akibat tekanan-air-pori berlebihan negatif.
Penurunan konsolidasi (consolidation settlement) adalah perpindahan vertikal per
mukaan tanah sehubungan dengan perubahan volume pada suatu tingkat dalam proses
konsolidasi. Sebagai contoh, penurunan konsolidasi akan telj adi bila suatu struktur di
b angun di atas suatu lapisan lempung jenuh atau bila muka air tanah turun secara permanen
pada lapisan di ,atas lapisan lempung terse but sebaliknya, b ila dilakukan penggalian pada
suatu lempung jenuh, pengangkatan (heaving), kebalikan dari penurunan, akan telj adi
pada dasar galian akibat adanya pemuaian lempung tersebut. Pada kasus di mana teljadi
regangan lateral, akan terdapat penurunan segera (immediate settlement) akibat deformasi
tanah pada kondisi tak-terdrainasi, di sarnping penurunan konsolidasi. Penurunan segera
dapat dihitung dengan menggunakan hasil teori elastis yang diberikan pada Bab

5.

Bab ini

membahas tentang perkiraan besar dan laju penurunan konsolidasi.


Perkembangan konsolidasi di lapangan (in-situ) dapat dipantau dengan memasang
pizometer untuk mencatat perubahan tekanan air pori terhadap waktu. Besarnya penurun
an dapat diukur dengan mencatat ketinggian suatu titik acuan yang sesuai pada suatu
struktur atau pada permukaan tanah. Di sini diperlukan pengukuran beda tinggi yang teliti,
yang dilakukan dari patok acuan (benchmark) di mana penurunan sangat kecil. Dalam
mencari data penurunan, setiap kesempatan harus diambil, sebab hanya dengan pengukuran
tersebut ketepatan metode teoretis dapat diujudkan.

7.2. Uji Oedometer


Karakteristik suatu tanah selarna teljadi konsolidasi satu-dimensi atau pemuaian dapat di
tentukan d engan menggunakan uji oedometer. Gambar 7 . 1 memperlihatkan penampang me-

Mekanika Tanah

214

Air
Cinc in
pembatas

Contoh tanah

Gambar 7.1.0edometer.

lintang sebuah oedometer. Contoh tanah berbentuk sua tu piringan ditahan di dalam sebuah
cincin logam dan diletakkan di antara dua lapisan batu berpori (porous stone). Lapisan
batu berpori sebelah atas, yang dapat bergerak di dalam cincin dengan suatu jarak bebas
yang kecil, dipasang di bawah tutup pembebanan (loading cap) dari logam di mana tekanan
bekerja terhadap contoh tanah. Seluruh rakitan tersebut diletakkan di dalam sel terbuka
yang berisi air, di mana air pori pada contoh tanah mendapat jalan masuk yang bebas.
Cincin yang menahan/membatasi contoh tanah dapat dijepit (diklem pada badan sel) atau
mengapung (bebas bergerak secara vertikal): cincin bagian dalam harus memiliki permuka
an. yang halus untuk memperkecil gesekan. Cincin pembatas tersebut menentukan suatu
kondisi regangan lateral nol pada contoh tanah, rasio tegangan efektif lateral terhadap
tegangan efektif vertikal K0 , koefisien tekanan tanah pada kondisi diam. Kompresi contoh
tanah akibat tekanan diukur dengan menggunakan arloji pengukur (dial gauge) pada tutup
pembebanan:.
Prosedur pengujian tersebut telah distandarisasikan dalam BS 1 377 [7.4) yang mene
tapkan bahwa oedometer merupakan tipe cincin yang dijepit (fixed ring type). Tekanan
awal akan tergantung pada jenis tanah, kemudian serangkaian tekanan dikerjakan pada
contoh tanah, di mana setiap tekanan besarnya dua kali besar tekanan sebelumnya. Biasa
nya setiap tekanan dipertahankan selama 2 4 jam (untuk kasus khusus dibutuhkan waktu
48 j am), pembacaan kompresi dilakukan dalam selang waktu tertentu selama periode ini.
Pada akhir periode penambahan ini di mana tekanan air pori berlebihan telah terdisipasi
secara sempurna, besarnya tekanan yang bekerja sama dengan tegangan vertikal efektif pada
contoh tanah. Hasil-hasil tersebut diperlihatkan dengan memplot tebal (persentase per
ubahan tebal) contoh tanah atau angka pori pada akhir setiap periode penambahan tekan
an terse but terhadap tegangan efektif yang sesuai. Tegangan efektif tersebut dapat diplot
dalam skala biasa maupun skala logaritmis. Bila diinginkan, pengembangan contoh tanah
dapat diukur berdasarkan penurunan tekanan yang digunakan. Akan tetapi, walaupun
karakteristik pemuaian tanah tidak diperlukan pengembangan contoh tanah akibat disipasi
tekanan akhir tetap hams diukur .
Angka pori pada akhir setiap periode penambahan tekanan dapat dihitung dari pem
bacaan arloji pengukur dan begitu pula halnya dengan kadar air (water content) atau
berat kering (dry weight) dari contoh tanah pada akhir pengujian. Berdasarkan diagram
fase pada Gambar 7 .2, terdapat dua buah metode perhitungan sebagai berikut:

Teori Konsolidasi

215

_j_ H

.------,

Gambar 7.2.

1 '

Diagram fase.

( 1 ) Kadar air yang diukur pada akhir pengujian = wt


Angka pori pada akhir pengujian = e1 = w 1 Gs ( diasumsikan Sr = 1 00%)
Tebal contoh tanah pada awal pengujian = H0
Perubahan tebal selama penguj ian = t:Jl
Angka pori pada awal pengujian = c0 = e1 + Ae
di mana:

Ae
1 + e0
=
AH H;;-

(7. 1 )

Dengan cara yang sama Ae dapat dihitung sampai akhir periode penambahan
tekanan.
(2) Berat kering yang diukur pada akhir pengujian = M5 (yaitu ma ssa partikel-padat
tanah).
Tebal pada akhir setiap periode penambahan tekanan = H1
Luas contoh tanah = A
Tebal ekivalen partikel-padat tanah = H. = M./AGsPw
Angka pori,

e1 =

HI - H. HI
=-- 1
H.
H.

(7.2)

Karakteristik Kompresibilitas
Sua tu plot tipikal angka pori (e) sesudah konsolidasi terhadap tegangan efektif (a') untuk
lempung jenuh diperlihatkan pada Gambar 7.3, plot tersebut memperlihatkan kompresi
awal yang diikuti oleh pemuaian (expansion) dan rekompresi (Gambar 4. 1 0 untuk konso
lidasi isotropik). Bentuk kurva tersebut berkaitan dengan sejarah tegangan lempung ter
'
sebut. Hubungan e - log a untuk tanah lempung terkonsolidasi - normal adalah linear
(atau hampir linear) dan disebut garis kompresi asli (virgin compression line). Bila lempung
tersebut terkonsolidasi - berlebihan, keadaannya akan diwakili oleh sebuah titik pada
bagian pengembangan atau rekompresi pada plot e-log a' . Kurva rekompresi akhirnya ber
gabung dengan garis kmppresi asli: kemudian kompresi selanjutnya teijadi pada garis ter
sebut. Selama kompresi, teijadi perubahan struktur aslinya selama pengembangan. Plot
tersebut memperlihatkan bahwa lempung yang konsolidasi-berlebihan lebih tidak kompre
sibel dibandingkan dengan lempung yang sama dalam keadaan terlconsolidasi-normaL

Mekanika Tanah

216

// Kompresi asli
( kem i ri ngan ct l
e

Pengembangan

a'

Gambar 7.3.

log

'

Hubungan angka pori-tegangan efektif.

Kompresibilitas lempung dapat diwakili oleh salah satu dari koefisien-koefisien ber
ikut
didefmisikan sebagai perubahan volume per
satuan kenaikan tegangan efektif. Satuan mv adalah kebalikan dari tekanan (m2 /MN).
Perubahan volume dapat dinyatakan dalam angka pori maupun tebal contoh. Bila, untuk
kenaikan tegangan efektif dari a ke a angka pori menurun dari e0 ke e 1 , maka:

(1) Koefisien kompresibilitas volume (mv),

(7.3)

(7.4)
Nilai mv untuk tanah tertentu tidak konstan tetapi tergantung pada rentang tegangan yang
dihitung. BS 1377 menetapkan penggunaan koefisien mv yang dihitung untuk kenaikan
tegangan sebesar 100 kN/m2 pada kelebihan tekanan efektif akibat berat tanah di atasnya
dari tanah di lapangan pada kedalaman yang diinginkan, walaupun demikian, bila diperlu
kan koefisien-koefisien tersebut dapat dihitung untuk rentang tegangan lainnya:

(2) lndeks kompresi (CJ adalah kemiringan pada bagian linear dari plot e-log a ' dari
indeks tersebut tidak berdimensi. Untuk dua buah titik sembarang pada bagian linear dari
plot tersebut:

(7.5 )
Bagian pengembangan pada plot e-log a' dapat dianggap sebagai garis lurus, di mana kemi
ringannya disebut indeks pengembangan (Cc).

Teori Konsolidasi

217

'
a,

log

Gambar 7.4.

'

Penentu;m tekanan prakonsolidasi.

Tekanan Prakonsolidasi
Casagrande mengusulkan suatu prosedur empiris untuk mendapatkan nilai tegangan ver
tikal efektif maksirnum dari kurva e-log a' untuk lempung terkonsolidasi-berlebihan. Te
gangan tersebut sebelumnya telah dialami oleh lempung tersebut dan dinamakan tekanan
prakonsolidasi, (a ). Gambar 7.4 memperlihatkan suatu kurva e-log a' uiltuk contoh lem
pung yang terlconsolidasi-berlebihan (pada awalnya). Kurva awal ini menunjukkan bahwa
lempung tersebut sedang mengalami rekompresi pada oedometer, dan juga sedang berada
dalam beberapa tingkat pengembangan yang sedang berlangsung. Pengembangan pada
lempung di lapangan, misalnya, dapat diakibatkan oleh mencairnya lapisan es, erosi dari
tnah di atasnya, atau kenaikan muka air tanah. Perhitungan tekanan prakonsolidasi ter
diri dari beberapa tahap berikut ini.
l.
2.

3.
4.

Tarik garis sesuai dengan bagian garis yang lurus (BC) dari kurva.
Tentukan titik (D) sampai ke lengkungan maksirnum pada bagian rekompresi
(AB) dari kurva.
Gambarkan garis singgung terhadap kurva pada D dan bagilah sudut antara garis
singgung tersebut menjadi dua dengan garis horisontal melalui D.
Garis vertikal yang melalui perpotongan garis-garis dan CB memberikan nilai
pendekatan untuk tekanan prakonsolidasi .

Pada prosedur ini, sedapat mungkin tekanan prakonsolidasi untuk lempung terkonso
lidasi-berlebihan tidak dilewati. Biasanya, kompresi tidak akan besar bila tegangan vertikal
efektif tetap di bawah a; ; bila melewati a; , maka kompresi akan besar .

Kurva e-log a' di Lapangan.


Akibat efek dari pengambilan contoh (sampling) dan persiapan, contoh tanah pada uji
oedometer akan sedikit terganggu. Hal itu diperlihatkan bahwa kenaikan tingkat keter-

Mekanika Tanah

218
e

---- Oedometer
----

I
I

0 . 42e

Lapangan

- - - L - - - - -,I - - - - - - - - - F
I

I
I

Gambar 7.5.

Kurva e-log

d di lapangan .

log

a'

gangguan contoh tanah menghasilkan sedikit penurunan kemiringan garis kompresi asli.
Sehingga diharapkan bahwa kemiringan garis kompresi asli dari tanah di 1apangan akan se
dikit 1ebih besar daripada kemiringan garis terse but yang didapat dari uji 1aboratorium.
Tidak ada kesalahan yang berarti dalam mengambil angka pori di 1apangan sama
dengan angka pori (e 0 ) pada awa1 uji 1aboratorium. Schmertmann [7 . 1 7] membuktikan
bahwa garis asli laboratorium dapat berpotongan dengan garis asli di 1apangan pada angka
pori sebesar 0,42 kali angka pori awal. Jadi garis asli di lapangan dapat diambil sebagai
garis EF pada Gambar 7.5, di mana koordinat E adalah log a dan eD , dan F adalah titik
pada garis asli laboratorium pada angka pori 0,42 e0 .
Pada kasus terapung terkonsolidasi-berlebihan, kondisi di lapangan diwakili oleh titik
'
G, dengan koordinat a 0 dan e0 , di mana a adalah tekanan efektif akibat berat tanah di
atasnya sekarang. Kurva rekompresi lapangan dapat dianggap sebagai garis lurus GH sejajar
dengan kemiringan kurva rekompresi hasil laboratorium.

Contoh

7. 1.

Pembacaan kompresi dari hasil uji oedometer untuk contoh tanah lempung jenuh
2,73) adalah sebagai berikut:
Tekanan (kN/m2 )

(G5

54

1 07

214

429

858

1716

3432

Pembacaan sesudah
24 jam (mm) 5,000 4,747

4,493

4,108

3,449

2,608

1 ,676

0,737 1 ,480

Tebal awal contoh tanah adalah 19,0 mm dan pada akhir pengujian kadar airnya adalah
'
19,8%. Gambarkan kurva e-log a dan tentukan tekanan prakonsolidasi. Tentukan nilai
mv untuk kenaikan tegangan 1 00-200 kN/m2 dan 1 000- 1 500 kN/m2 Berapakah nilai
Cc untuk kenaikan tegangan kedua?

Teori Konsolidasi

219

Angka pori pada akhir pengujian = e1 = w1 G5 = 0, 1 98


Angka pori pada awal pengujian = e0 = e1 + Ae

2,73 = 0,541.

Sekarang,

!le

1 + e0

1 + e 1 + !le

11H

Ho

Ho

yaitu:

!le
3,520

1,541 + !le
19,0

!le = 0,350
e0 = 0,541 + 0,350 = 0,89 1
Secara umurn, tabungan Ae dan All adalah sebagai berikut:
1 ,891
19,0

!le

11H

yaitu Ae = 0,0996 All, dan dapat digunakan untuk menghitung angka pori pada akhir se
tiap periode kenaikan tegangan (Lihat Tabel 7.1 ). Kurva e-log a' yang menggunakan nilai
nijai ini diperlihatkan pada Gambar 7.6. Dengan menggunakan cara Casagrande, didapat
tekanan prakonsolidasi sebesar 325 kN/m2

untuk a = 100 kN/m2 dan a = 200 kN/m2,

e0 = 0,845 dan e 1 = 0,808


sehingga
mv =

1
1 , 845

0,037
= 2,0
100

1 0 - 4 m2/kN = 0,20 m2/MN

untuk a = 1 000 kN/m2 dan a'1 = 1 500 kN/m2,

e0 = 0, 632 dan

e1 = 0,577

Tabel 7.1
Tekanan (kN/m2)
0
54

107

214
429

858

1 7 16

3432
0

.All(mm)

Ae

0,253
0,507

0,050

0,892

0,089

1 ,55 1
2,392

3,324

4,263
3,520

Q7J

0, 154

0,89 1

0,866

0,841

0,802
0,737

0,238
0,33 1

0,560

0,350

0,541

0,424

0,653

0,467

220

Mekanika Tanah

::::,..-r-- -+1 -,.-_- .+-=-"


===-..l-,== =r-=- .,.r .,
....

...

-.-j_-- -,-1-,--I -,--J

.________

+-H---+ I I
:
I I
I1 i
:
' +-+1-+-++++ ! : ! i
I
+----+---1+ :
-+++------:
-t HT
Il l
! i I I
i
I ll
.

i
I

1
-t-'-

-+-++++----+
-1
0,7 0 1-- --t-----+-+

0,60 1- ---+--+-+-+-++-+++----+---+r1
0,5 0 1----+--+--+--+-++++
'

--+-+-+-+,

____

__

I
!
.L o
:------'-----'--'-'-'-L-'__J_..LL1:-':
0 401 L
o:-'::: o:::o ----'-----'-__J_----'--'--'- -:"o
o----'----'----'--'--'-.!...-'::":
.ooo
1 o

Garnbar 7.6.

sehingga
mv

dan
Cc =

0,'055
1
32 x - = 6;7 x 10- 5 m2/kN
1 ,6
500

0,632 - 0,577
1 500
log 1000

0,055
0,176

0,067 m2/MN

0 31
'

Perhatikan bahwa c; akan sama untulJC::!l!_a_ng tegang11.n mll.nlJ.PUnyada ?gi_linear dari


kurva e-log a' ; l:>edfbeda tergantung pada rentang tegangan, bahkan untuk
rentang pada bagian linear dari kurva.
_

7.3. Penurunan Konsolidasi: Metode Satu-Dimensi

Untuk menghitung penurunan konsolidasi (consolidation settlement), diperlukan nilai k.,Q_:_


efisien kompresibilitas volume dan indeks kompresi. Diambil suatu lapisan lempung jenuh
dengan tebal R Akibat pembangunan, tegangan vertikal total pada suatu elemen dengan
tebal dz pada kedalaman z naik sebesar .:la (Gambar 7.7). Diasumsikan bahwa kondisi re
gangan lateral nol digunakan pada lapisan lempung tersebut. Setelah konsolidasi selesai,
akan teljadi kenaikan yang sama sebesar .:la' pada tegangan vertikal efektif, sesuai dengan
kenaikan tegangan dari a ke a dan penurunan angka pori dari e0 ke e1 pada kurva e-a'.
Penurunan volume per satuan volume lempung dapat dinyatakan dalam angka pori sebagai
berikut:

221

Teori Konsolidasi
Se

n- ::tkLkt\L{Jd;bJ
__ l

__________ _

'

l_ :!

I
I
I
----1 ----

1 T.;

6-cr'----J
I

'
a,

Gambar 7.7. Penurunan konsolidasi.

Karena regangan lateral adalah nol, penurunan volume per satuan v olume sama dengan ber
kurangnya ketebalan per satuan tebal, yaitu penurunan persatuan kedalaman. Sehingga,
dengan perbandingan, penurunan lapisan dengan tebaldz dapat diberikan oleh:

( ? )(
e

a't- ao

-e

a 1 - ao

di mana

se

1 +eo

dz

mvlla' dz
=

penurunan konsolidasi.

Penurunan lapisan dengan tebal H adalah:


H

s,

mvlla' dz

Jika m dan

s,

!!.a'

diasumsikan konstan terhadap kedalaman, maka:

mvlla' H

(7.6)

o - e1
e
__::_
_::___

(7.7)

atau
s
c

1 +eo

atau , untuk kasus lempung terkonsolidasi-normal,


C,log
s'

17:1
O'o

1 + e.

Untuk memperhitungkan variasi

(7.8)

mv

dan/atau

!!.a'

terhadap kedalaman, prosedur secara

grafis, seperti diperlihatkan pada Gambar 7.8, dapat digunakan untuk menghitung
Variasi tegangan vertikal e fektif awal

(!!.a')

(a)

se.

dan laju kenaikan tegangan vertikal ef ektif

terhadap kedalaman diperlihatkan pada G ambar 7.8a, sedangkan variasi

diperli

hatkan pada Gambar 7.8b. Kurva pada Gambar 7.8c menyatakan variasi tersebut terhadap
kedalaman dari hasil kali tak-berdimensi

m vt!.a',

dan luas bagian di bawah kurva ini adalah

- -----------,
Mekanika Tanah

222

T
H

(a)

(b)

(c)

Garnbar 7.8. Penurunan konsolidasi prosedur grafis.

penurunan lapisan tersebut. Alternatif lain, lapisan terse but dapat dibagi besarnya menjadi
beberapa sub lapisan dan hasil kali mv t:.a' dievaluasi pada titik pusat setiap sub-lapisan:
setiap hasil kali mv t:.a' kemudian dikalikan dengan tebal sub-lapisan yang bersangkutan
untuk mendapatkan penurunan sub-lapisan. Penurunan seluruh lapisan adalah jurnlah dari
penurunan-penurunan sub-lapisan.

Contoh 7. 2.

Se buah bangunan ditumpu pada sebuah pondasi rakit berukuran di mana 45 X 30 m,


di mana tekanan pondasi nettonya (diasumsikan terbagi rata) adalah 125 kN/m2 Keadaan
tanahnya adalah seperti yang diperlihatkan pada Gambar 7.9. Nilai mv untuk lempung
adalah 0,35 m2 /MN. Hitunglah penurunan akhir di bawah pusat pondasi akibat konsolidasi
lempung tersebut.
Lapisan lempung relatif tipis terhadap ukuran pondasi, sehingga dapat diasumsikan
bahwa konsolidasi tersebut adalah satu-dimensi. Dalam hal ini lebih akurat bila meninjau
lapisan lempung secara keseluruhan. Karena penurunan konsolidasi akan dihitung berdasar
kan mv , maka hanya diperlukan kenaikan tegangan efektif pada setengah kedalaman (ke
naikan tersebut diasumsikan konstan terhadap kedalaman lapisan). Selain itu, t:.a' = t:.a
untuk konsolidasi satu-dimensi dan dapat dievaluasi dari Gambar 5 . 10.

f-!-- 3 0 m ---i'"l

r
l_

2 5 m Pasir

4 m Lempung

--j 1 5 m !-'

rl_

22,5 m
z

= 23,5 m

Garnbar 7.9.

-r
I

f---<>----l 4 5 m

..______.__.

1-- 3 0 m ----j

Teori Konsolidasi

223

a0+ a,-u,

(a0=

(a) Kondisi awal


tekanan efektif akibat
berat tanah di atasnya)

(b)

Segera setelah
pembebanan

(c)

Setelah konsolidasi

Gambar 7. 1 0. Tegangan efektif di lapangan.

Pada setengah kedalaman lapisan z = 23,5 m. Di bawah pusat pondasi:

22,5

m = 3 = 0,96
2 ,5
n

15
= 0,64
2 3,5

I, = 0, 140
/l u ' = 4 X 0,140 x 125 70 kNjm2
Se = mv/lu 'H = 0, 3 5 X 70 X 4 98 mm
=

7.4. Penurunan menurut Metode Skempton-Bjerrum


Perkiraan mengenai penurunan konsolidasi dengan menggunakan metode satu dimensi di
dasarkan pada pasil uji oedometer yang menggunakan contoh tanah lempung. Berhubung
adanya cincin penahan (confining-ring), regangan lateral neto pada contoh tanah adalah
nol dan dalam kondisi ini, secara teoretis besamya tekanan-air-pori berlebihan sarna dengan
kenaikan tegangan vertikal total, yaitu koefisien tekanan pori A adalah sama dengan satu
satuan.
Dalam praktek, kondisi regangan lateral nol kira-kira dipenuhi dalam kasus lapisan
lempung tipis atau lapisan di bawah daerah yang dibebani, yang besar bila dibandingkan
dengan tebal lapisan. Akan tetapi, untuk praktisnya regangan lateral tertentu akan timbul
dan tekanan air-pori berlebihan awal akan tergantung pada kondisi tegangan di lapangan
dan nilai koefisien tekanan pori A (tidak sama dengan satu satuan).
Dalam kasus di mana regangan lateral tidak nol, akan teijadi penurunan segera (imme
diate settlement), pada kondisi tak-terdrainasi, sebagai tambahan penurunan konsolidasi.
Penurunan segera akan nol bila regangan lateralnya nol, seperti yang diasumsikan dalam
metode satu-dirnensi untuk menghitung penurunan. Dalam metode Skempton-Bjerrum
(7.2 1 ] , penurunan total (s) dari pondasi di atas lempung adalah:
di mana s; = penurunan segera yang timbul pada kondisi tak-terdrainasi, dan se = penurunan
konsolidasi akibat berkurangnya volume yang diikuti oleh disipasi tekanan-air-pori ber
lebihan secara perlahan-lahan.

Mekanika Tanah

224

Penurunan segera (s;) dapat dihitung dari hasil teori elastis tak-terdrainasi pada
lempung jenuh sempurna diambil (sebesar 0,5 . Modulus Young dalam keadaan tak-terdrai
nasi (Eu ) harus dihitung dari hasil uji laboratorium, uji beban di lapangan, atau dari korelasi
dengan kekuatan geser cu dalam keadaan tak-terdrainasi.
Tekanan-air-pori berlebihan awal pada suatu titik di lapisan lempung diberikan oleh
Persamaan 4.25 (dengan B = 1 untuk tanah jenuh sempurna), yaitu:
U;

!:: ( 1 - A)]

= a3 + A(a1 - a3)
= a A +

(7.9)

di mana .::la 1 dan .::la 3 adalah kenaikan tegangan utama total akibat pembebanan permu
kaan. Dari Persamaan 7.9 terlihat bahwa

bila A positif. Perhatikan juga bahwa u i = .::la 1 bila A = 1 . Nilai A tergantung pada jenis
lempung, tingkat tegangan, dan sistem tegangan.
Tegangan efektif di lapangan sebelum pembebanan, segera sesudah pembebanan, dan
sesudah konsolidasi diperlihatkan pada Gambar 7 . 1 0 dan lingkaran Mohr-nya (A, B, dan C)
pada Gambar 7 . 1 1 . Pada Gambar 7. 1 1 , abe adalah lintasan tegangan efektif untuk pembe
banan di lapangan dan konsolidasi, ab menga_lJ.k.an perubahan segera dari tegangan, dan be
menyatakan perubahan perlahan-lahan dari tegangan pada saat tekanan-air-pori berlebihan
terdisipasi. Segera sesudah pembebanan, a menurun akibat ui lebih besar daripada .::la3
dan tirnbul pengembangan lateral. Dengan demikian konsolidasinya akan meliputi kompresi
lateral Lingkaran D pada Gambar 7. 1 1 menyatakan tegangan-tegangan yang sesuai pada uji
oedometer sesudah konsolidasi dan ad adalah iintasan tegangan efektif yang sesuai untuk
uji oedometer tersebut. Sewaktu tekanan-air-pvri berlebihan terdisipasi angka Poisson me
ngecil dari nilai tak-terdrainasi (0,5) ke nilai teitlrainasi pada akhir konsolidasi. Pengecilan
angka Poisson tersebut tidak begitu mempengaruhi tegangan vertikal, tetapi menghasilkan
sedikit pengecilan tegangan horisontal (titik c akan menjadi c'pada Gambar 7.1 1 ): dalam
metode Skempton-Bjerrum, pengecilan ini diabaikan.
Skempton qan Bjerrum mengusulkan bahwa pengaruh regangan lateral diabaikan dalam
perhitungan penurunan konsolidasi (se), sehingga memungkinkan uji oedometer tetap se
bagai dasar dari metode tersebut. Akan tetapi, diakui pula bahwa penyederhanaan ini dapat

M
t:>

_ _

I
I

a/ ,

/
I

_ _

"

.-/.::- a

- - -/
I

At
I

'I<

/ '

- , I 'y
\
\
), I 'I 'I '- ' I
CI

' o' '

--d
- ::- ,
..... ........
.
,,
"
"

' I

I
1-1-- u;------1
Gambar 7. 1 1. Lintasan tegangan.

'
\

! (a; + a3)

Teori Konsolidasi

225

menimbulkan kesalahan sampai 20% untuk penurunan vertikal. Akan tetapi, nilai tekanan
air-pori berlebihan yang diberikan pada Persamaan 7 .9. digunakan dalam metode ini.
Berdasarkan metode satu-dimensi, penurunan konsolidasi (sama dengan penurunan
total) adalah:

= f mv O" 1 dz
H

Soed

(yaitu u' = a 1 )

di mana H = tebal lapisa;, lempung, dan s0ed = 'berdasarkan uji oedometer saja'. Dengan
metode Skempton-Bjerrum, penurunan konsolidasi dinyatakan dalam bentuk:
s,

= f mvui dz
H

= f mvu {A +!:: ( 1 - A)] dz


H

Koefisien penurunan J1 diperkenalkan sebagai

=
.di 0_,
mana

f.1

mv0"1

(7. 1 0)

[A +!:: A)]
f
(1 -

dz

0
--

mv (T 1 dz

--H=----

Bila dapat diasumsikan bahwa mv dan konstan terhadap kedalaman (sub-lapisan dapat
digunakan dalam analisis), maka J1 dapat dinyatakan sebagai:
f.1

= A + A)a
(1 -

di mana

(7 . 1 1)

f
= -';Hc;---f
H

u3 dz

u1 dz

Dengan mengambil angka Poisson (v) = 0,5 untuk lempung jenuh selarna pembebanan pada
kondisi tak-terdrainasi nilai a hanya tergantung pada bentuk daerah yang dibebani dan
tebal lapisan lempung yang berhubungan dengan ukuran daerah yang dibebani, jadi a
dapat dihitung dari teori elastis.
Nilai kelebihan tekanan air pori (J.l;) pada umumnya hams sesuai dengan keadaan te
gangan di lapangan. Penggunaan nilai koefisien tekanan pori yang didapat dari hasil uji

Mekanika Tanah

226

triaksial pada contoh lempung silindris hanya dapat digunakan untuk kondisi simetri aksial,
yaitu untuk kasus penurunan di bawah pusat sebuah pondasi-telapak lingkaran (circular
footing). Akan tetapi, nilai A yang dihasilkan akan merupakan sebuah perkiraan yang
baik untuk kasus penurunan di bawah pusat suatu pondasi-telapak bujur sangkar (square
footing) (menggunakan pondasi-telapak lingkaran dengan luas yang sama). Walaupun
demikian, di bawah pondasi-telapak jalur (strip footing), digunakan kondisi regangan
bidang (plane strain) dan kenaikan tegangan utama antara (intermediate principal stress)
a2 , dalam arah sumbu longitudinal, adalah sama dengan O,S (a1 + a3). Scott [7. 1 9 )
telah memperlihatkan bahwa nilai u i yang sesuai dalam kasus pondasi-telapak jalur dapat
dihasilkan dengan menggunakan suatu koefisien tekanan pori As, di mana
A.

0,866A + 0;2 1 1

K;oefisien As menggantikan 4 (k()_eX!sif:n_ll_!l_!l!_k kndisi simetri aksial) dalam Persarnaan


7. 1 1 untuk kasus pondasi-telapak jalur, di mana penggunaannotas1 atidak berubah.
Nilai koefisien penurunan p., untuk pondasi-telapak lingkaran dan jalur yang dinyata
kan dalam A dan rasio tebal lapisan/lebar pondasi (H/B) diberikan pada Gambar 1 7. 1 2.
Nilai fJ. berada dalam rentang berikut:
Lempung lunak, sensitif
Lempung terkonsolidasi-normal
Lempung terkonsolidasi sedikit berlebihan
Lempung terkonsolidasi sangat berlebihan

1 ,0 sampai 1 ,2
0,6 sampai 1 ,0
0,4 sampai 0,7
0,25 sampai 0,4

1 .2 -----r--r----

Pondasi-telapak
0.4 n,,c.....----,,.+__:_--1,.__--+-lingkaran
--- Pondasi telapak jalur
-

0,2 r------r--r-----+--4--

0,2

0;4

0,6

0,8

1 ,0

1 ,2

Gambar 7.12. Koefisien penurunan (direproduksi dari R.F. Scott (1963) Principles ofSoil Mechanics,
dengan izin dari Addison-Wesley Publishing Company, Inc., Reading, Mass).

Teori Konsolidasi

227

Contoh 7. 3.
Sebuah pondasi-telapak bujur sangkar dengan sisi 6m, mernikul tekanan neto 1 60 kN/m'" ,
ditempatkan pada kedalaman 2m didalam suatu deposit lempung kaku (stiff clay) yang
tebalnva 1 7m, sedangkan suatu lapisan kokoh (ftrm stratum) berada di bawahnya. Dari
uji oedometer pada contoh lempung, nilai mv didapatkan sebesar 0,1 3 m 2 /MN dan dari uji
triaksial A didapatkan sebesar 0,35 . Modulus YoungTiilC-tefdralllasi untuk lempung diper
kirakan sebesar- 55 M-Hitunglah penurunan total di bawah pusat pondasi tersebut.
Dalam kasus ini akan terdapat regangan lateral di bawah pondasi tersebut (menghasil
kan penurunan segera) dan sangat sesuai bila digunakan metode Skempton-Bjerrum. Ke
adaan tanah diperlihatkan pada Gambar 7. 1 3.
(a) Penurunan segera. Faktor-faktor yang mempengaruhi didapat dari Persamaan 5 . 1 5.
Sekarang:

H/B = 1 5/6 = 2,5


D/B = 2/6 = 0,33
L/B = 1
JJ.o = 0,9 1 dan

p. 1

= 0,60

Sehingga,

= 0, 91

0,60 x

1 60

55

= 9,5 mm

(b) Penurunan konsolidasi. Dalam Tabel 7.2,

ll.a' = 4 x 1 60 x I, (kN/m2)
Soed = 0 , 1 3 x ll.a' x 3 = 0,39 /l.a' (mm)

Sekarang

15
H
=
= 22
B 6,77
(Diameter ekivalen = 6,77 m)

6ml
r
1 60/kN/m2

m
IH i H.--- - -=
1.-=m
___ _ -f- 1,5_m
I
-o4,5 m (2)
1 7 m _____ _ i - 7,5m
(
_ -0-10,5 m (4)
i
1 3,5_
-ym (
5)
1-.-_
-
_ _

__ _

-- - --

--- - --

Gambar

7.13.

Mekanika Tanah

228

Tabel 7.2
z

(m)

I.apisan

1,5

4,5

10,5

7,5

1 3,5

I,

m, n

2,00

0,67

0,40

0,285

0,222

0 ,233
0,121
0,060
0,033
0,02 1

Au'

(kN/m2)

1 49
78
38
21
13

Soed

(mm)

58,1
30,4
14,8
8,2
5,1
1 16,6

A = 0, 3 5
Selain itu dari Gambar 7 . 1 2,

J1 =

0,55

sehingga,

Se =

0,55

X 1 1 6,6 = 64 mm

Penurunan total

= S; + se
=9

64

= 73 mm

7.5 Metode Lintasan Tegangan


Dalam metode ini disadari bahwa deformasi tanah tergantung pad a lintasan tegangan yang
diikuti oleh keadaan akhir tegangan. Lintasan tegangan u ntuk suatu elemen tanah yang
mengalami pembebanan tak-terdrainasi yang kemudian diikuti konsolidasi (dengan menga
baikan penurunan angka Poisson) adalah abc pada Gambar 7 . 1 1 , di mana lintasan tegang
an untuk konsolidasi yang hanya mengikuti metode satu-dirnensi dan metode Skempton
Bjerrum berturut-turut adalah ad dan ed. Dalam metode lintasan tegangan, menurut Lambe
[7 . 1 2] , lintasan tegangan sebenarnya untuk sejumlah elemen di lapangan, rata-rata dihitung
dan uji laboratorium triaksial dilakukan sedekat mungkin sepanjang lintasan tegangan,
dirnulai dari tegangan awal sebelum pelaksanaan pembangunan regangan vertikal yang di
ukur (et } selarna pengujian kemudian digunakan untuk memperoleh penurunan, yaitu
untuk tebal lapisan H

s =

(7. 1 2)

dz

Bila diinginkan, kondisi tekanan air pori di lapangan dan kondisi drainasi sebagian (partial
drainage) selarna periode pelaksanaan pembangunan dapat disirnulasikan. Sebagai contoh,
Gambar 7 . 1 4 menunj ukkan suatu elemen tanah di bawah sebuah tangki penampung yang
alasnya berbentuk lingkaran dan lintasan tegangan efektif dan regangan vertikal yang sesuai
untuk suatu contoh triaksial, di mana disirnulasikan pembebanan tak-terdrainasi (ab),

konsolidasi (be), peniadaan beban tak-terdrainasi (cd) dan pemuaian

(de).

Teori Konsolidasi

229

ESP

a,e

-9

Gambar 7.14.

0" 3

; (a, - c. 3 )

7c
d

e"

7c
d

Metode lintasan tegangan. (Direproduksi dari T.W. Lam be (1976 )


Vol. 93 No. SM6, dengan izin dari American Society of Civil Engineers).

Journal

ASCE,

Meskipun demikian, pada prms1pnya metode tersebut tergantung pada pemilihan


elemen tanah tipikal yang tepat dan contoh-contoh tanah uji yang benar-benar mewakili
material di lapangan. Sebagai tambahan, teknik triaksial yang juga meliputi penentuan
tegangan yang tepat adalah rumit dan memerlukan waktu yang lama, kecuali jika tersedia
peralatan dengan komputer pengontrol. Pengetahuan mengenai nilai K0 juga diperlukan.
Sirnons dan Som [7 .20] menyelidiki efek lintasan tegangan pada kompresibilitas
aksial dan volumetrik dan mengusulkan sebuah metode perhitungan penurunan berdasar
kan hubungan antara rasio pegangan vertikal terhadap regangan volumetrik ' (edev) dan
rasio Aa /Aa'1

7.6. Derajad Konsolidasi


Untuk sua tu elemen tanah pada kedalaman z di dalam suatu lapisan lempung, pertambang
an proses konsolidasi akibat kenaikan tegangan total tertentu dapat dinyatakan dalam
angka pori sebagai berikut:

di mana Uz didefinisikan sebagai derajad konsolidasi, pada suatu waktu tertentu, di keda
laman z (0 Uz 1 ), dan e0 = angka pori sebelum konsolidasi mulai, e1 = angka pori
pada akhir konsolidasi, dan e = angka pori pada suatu waktu yang dipertanyakan, di saat
konsolidasi berlangsung.
Bila kurva e-a' diasumsikan linear pada rentang tegangan yang dipertanyakan, seperti
pada Gambar 7 . 1 5 , maka derajad konsolidasi dapat dinyatakan dalam a' :

dan

Anggaplah bahwa tegangan vertikal total tanah pada kedalaman z naik d_ari a0 ke a1
tidak terdapat regangan lateral. Seger.a sesudah teljadi kenaikan tersebut, walaupun

Mekanika Tanah

230

I
I
I
- - - - - -- - - - -

- - - - -

- -

1
I
I
1-------- - - I
1
I
I
I
t----- u -1
1
I
I
I
I
I
u i +-___,
1
I

a'

Garnbar 7.15.

Asumsi linear hubungan e-u:

tegangan total telah naik menjadi a 1 , tegangan efektif vertikal akan tetap a; baru se
sudah konsolidasi selesai, tegangan efektif menjadi a . Selama konsolidasi Aa' = -Au.
Bila u 0 = tekanan air pori sebelum kenaikan tegangan total; U; (atau Au) = kenaikan
tekanan air pori di atas IJ.o segera sesudah kenaikan tegangan total; dan u = kenaikan tekan
an air pori yang lebih besar dari u 0 pada suatu waktu tertentu selama konsolidasi akibat
kenaikan tegangan total:

0' = a0 + U; = a ' + u
Derajad konsolidasi dapat dinyatakan sebagai:
U - U

Uz = -'-- = 1 - U;

U;

(7. 1 3)

7. 7. Teori Terzaghi tentang Konsolidasi Satu-Dimensi


Asumsi-asumsi yang dibuat dalam teori ini adalah:
1.

2.

3.
4.

5.

6.
7.
8.

Tanah adalah homogen.


Tanah adalah jenuh sempurna.
Partikel padat tanah dan partikel air tidak kompresibel.
Kompresi dan aliran adalah satu dimensi (vertikal).
Regangan kecil
Hukum Darcy berlaku untuk semua gradien hidrolik.
Koefisien permeabilitas dan koefisien kompresibilitas volume tetap konstan se
lama proses berlangsung.
Terdapat hubungan yang khusus (unik), tidak tergantung waktu, antara angka
pori dan tegangan efektif.

Dengan melihat asumsi 6, terdapat bukti adanya penyimpangan dari hukum Darcy
pada gradien hidrolik rendah, dari asumsi 7 , koefisien permeabilitas menurun sewaktu

231

Teori Konsolidasi

angka pori menurun selama konsolidasi, koefisien kompresibilitas volume juga menurun
selama konsolidasi, karena hubungan
kecil, asumsi

e-a'

tidak linear . Tetapi, untuk kenaikan tegangan

beralasan. Pembatasan yang utama dari teori Terzaghi ini adalah asumsi 8

(bagian dari keadaan satu-dimensi). Hasil-hasil pengujian memperlihatkan bahwa hubung


an antara angka pori dan tegangan efektif tergantung terhadap waktu.

j
!

Teori ini berhubungan dengan besaran-besaran di bawah ini:

1.
2.

Tekanan air pori berlebihan

(u).

Kedalaman (z) di bawah lapisan lempung teratas.

3.

Waktu

(t) dari penggunaan kenaikan tegangan total seketika.

Tinjaulah suatu elemen yang memiliki ukuran dx , dy dan dz di dalam sua tu lapisan

lempung dengan tebal

2d,

seperti yang diperlihatkan pada Gambar

terapkan sua tu kenaikan tegangan vertikal total

Lla terhadap

7 . 1 6.

Kemudian di

elemen tersebut.

Kecepatan aliran melalui elemen tersebut diberikan oleh rumus Darcy sebagai
Vz = kiz = - k

oh
OZ

Karena terdapat perubahan tinggi-tekan total

(h)

yang hanya disebabkan oleh perubahan

tekanan air pori:


k ou
Vz = - - -

Yw OZ

Kemudian kondisi kontinuitas (Persamaan


k

-y,.

o2u
oz2

dx dydz

7.7) dapat dinyatakan sebagai

dV
dt

(7. 1 4)

= -

Laju perubahan volume dapat dinyatakan dalam mv

dV
oa'
dt = mv at dxdydz
Kenaikan tegangan total secara perlahan-lahan dialihkan ke kerangka tanah (soil skeleton),
yang mengakibatkan kenaikan tegangan efektif, sewaktu tekanan-air-pori berlebihan me
nurun. Sehingga laju perubahan volume dapat dinyatakan sebagai berikut:

11''*'r",,":::t!0r2""'i\:;\t?,\
2d

fuiiJ.(

J>:t:;;

i:"ililc\\:i;\;,;,,, .; ;.c;;;;;

;:;;;

;;;;;;,; ;

Gambar 7.16. Elemen di dalam suatu lapisan lempung.

232

dV
de

Mekanika Tanah

auat

- = - m - dxdydz
"

au"at

(7. 1 5)

Dengan menggabungkan Persamaan 7 . I 4 dan 7 . I S , didapat:

o2u

m - = -a tau

rw oz2

(7. I 6)
Persamaan ini adalah persamaan diferensial konsolidasi, di mana

c,, =

(7 . I 7 )

mvYw

c, didefinisikan sebagai

diasumsikan konstan,

koefisien konsolidasi, dengan satuan m2 /tahun.


v juga konstan selama konsolidasi.

K arena

dan

mv

Penyelesaian Persamaan Konsolidasi


Kenaikan tegangan total diasumsikan terjadi secara seketika, dan pada waktu nol (awal),
k enaikan tersebut dipikul oleh air pori, yaitu nilai awal tekanan-air-pori-berlebihan
sama dengan a dan kondisi awalnya adalah:
u

untul< 0 z

2d

pada saat

(ui)

Batas atas dan bawah Iapisan lempung diasumsikan dapat dialiri dengan bebas (free
draining), permeabilitas tanah yang berbatasan dengan m asing-masing batas adalah sangat
besar dibandingkan dengan Iempung tersebut. Sehingga syarat batas pada suatu waktu se
sudah penerapan a adalah:
u

untuk z

=0

dan z =

2d

pada saat

> 0

Penyelesaian untuk tekanan-air-pori-berlebihan pada kedalaman


adalah:

2d

:: G J
0

u ; s in

n: dz)(sin )exp( - 1 2:: , t )

sesudah waktu

(7. I 8 )

di mana d = panj ang lintasan pengaliran (drainage) terpanj ang, dan


berlebihan awa), secara umum sebagai fungsi dari z.

ui =

tekanan-air-pori

Un tuk kasus tertentu di mana ui konstan di seluruh lapisan lempung:


(7. I 9)

Bila

n genap, ( I

- cos mr ) =

0, dan bil a

saja yang relevan, dan dibua t substitusi:


n

= 2m +

n ganjil, ( I

- cos mr ) =

2.

Sehingga nilai n ganjil

Teori Konsolidasi

233

dan
n

M = 2 (2m +

1)

Selain itu dapat juga mensubstitusi:


V

Cvt
d2

(7.20)

suatu bilangan tak-berdimensi yang disebut faktor


j adi:
m = 00

u= L

m=O

2u
M

( )
Mz

'

sin -

waktu.

Persamaan 7 . 1 9 kemudian men

exp ( - M 2 T,)

(7.2 1 )

Perkembangan konsolidasi dapat diperlihatkan dengan memplot serangkaian kurva

terhadap z u ntuk nilai t yang berbeda-beda. Kurva sejenis itu disebut isokhron dan
bentuknya akan tergantung pada distribusi awal tekanan-air-pori-berlebihan dan kondisi

pengaliran pada batas-batas lapisan lempung tersebut. Suatu lapisan yang batas atas dan
batas b awahnya dapat dialiri dengan bebas disebut lapisan

terbuka (open layer), sedangkan

suatu lapisan yang hanya memiliki salah satu batas yang dapat dialiri dengan bebas disebut

lapisan setengah tertutup (half-closed layer). Contoh tentang isokhron diperlihatkan pada
Garnbar 7 . 1 7 . Pada bagian (a) dari gambar tersebut, distribusi awal dari ui konstan dan
untuk lapisan terbuka dengan tebal 2d, isokhron tersebut simetris terhadap garis pusat.
Setengah bagian atas dari diagram ini juga mewakili kasus lapisan setengah tertu tu p dengan
tebal d. Kemiringan suatu isokhron pada suatu kedalaman memberikan gradien hidrolik
dan juga menunjukkan arah aliran. Pada b agian (b) dan (c) dari gambar, dengan distribusi
segitiga dari

ui,

arah aliran berubah pada bagian-bagian tertentu dari lapisan. Pada bagian

(c), batas bawah adalah impermeabel dan untuk suatu waktu pemuaian terjadi di bagian
bawah lapisan.
Derajad konsolidasi pada kedalaman z dan waktu t didapatkan dengan mensubstitusi
nilai u (Persamaan 7 .2) ke dalam Persamaan 7 . 1 3 yang memberikan

Uz =

m = oo

1 - L

m=O

( )

2
Mz
sin - exp ( - M 2 T,)
d
M

(7.22)

rata-rata pada kedalaman


t diberikan oleh hasil
pada waktu t untuk u; yang

Untuk perhitungan praktis, digunakan deraj ad konsolidasi (U)

suatu lapisan secara menyeluruh, penurunan konsolidasi pada waktu


kali dari

U dan penurunan akhir. Derajad konsolidasi rata-rata

konstan adalah:

2d

1
u dz
2d
V = 1 - -..::.0-

u;

m = oo
2
= 1 - L - exp ( - M2 T,)
m=O

M2

Hubungan antara U dan

r;,

(7.23)

diberikan oleh Persamaan 7.23 yang diwakili oleh kurva 1 p ada

Gambar 7 . 1 8. Persamaan 7.2 3 dapat dinyatakan hampir secara tepat o!eh persama an
empiris berikut:

Mekanika Tanah

234

!-- u,

I- t
L

Konstan

I
l

(a)

r. = o.s

rt
+ -11

t-?

Lapisan terbuka
(b)

,l/,;;%/70
Lapisan setengah
tertu tup

Lapisan setengah
tertutup

lapisan terbu ka

2d

2d

:\:))i,''{!!':!o'\(\!,i,r!iit\\'i!:.;'i'

Kemiringan

8
11

t-?

(c)
Gambar 7.17. Isokhron

o .-----.--.--,-,-,TLr-----.--.--,-.,,.,,-----.---.-.-.-..,_--

: : :__ l -

;:

:::.

0,10

:::Lno.sol

0,70,

--

- -1'

1
.

--

----- }--I
I

+--+- +-

,---,

1 1 I I I Ill

O,Ql

Garnbar 7.1 8.

I I I I I I

-i

! , !

I i ----UJIU-lw.-1

-H
I

c ,t

T _
" - d'

+---+r-r-

I
I I I I _0,1L______]__j__.l..___L__L__L.--:
-+-+---

Hubungan antara derajad konsolidasi rata-rata dan faktor waktu.


N
w
Ul

Mekanika Tanah

236
untuk V

<

0,60,

untuk V

>

0,60,

2d
I u dz
-;-I0 u; dz

(7.2 4a)

4 = - 0,93 3 log( l - V) - 0,085

(7.24b)

Bila U; tidak konstan, derajad konsolidasi rata-rata adalah:

V= l -

2d
I0 u dz

di mana

dan

f0 u; dz

(7.2 5)

= luas daerah di bawah isokhron pada waktu yang dikehendaki

2d

= luas daerah di bawah isokhron awal

(Untuk lapisan setengah tertutup, batas-batas integrasi adalah 0 dan d dalam persamaan
di atas).
Di dalam praktek, variasi awal dari tekanan-air-pori-berlebihan dalam suatu lapisan
lempung biasanya dapat didekati sebagai suatu distribusi linear. Kurva-kurva 1 , 2 dan 3
pada Gambar 7. 1 8 mewakili penyelesaian persamaan konsolidasi untuk kasus-kasus yang
diperlihatkan pada Gambar 7 . 1 9.

7. 8. Penentuan Koefisien Konsolidasi C. \I


Nilai cv untuk suatu kenaikan tekanan tertentu dalam uji oedometer dapat ditentukan
dengan membandingkan karakteristik kurva-kurva konsolidasi eksperirnental dan teoretis,
prosedur tersebut dinamakan pencocokan kurva (curve fitting). Karakteristik kurva-kurva
tersebut akan diperoleh secara jelas bila waktu diplot terhadap skala akar pangkat dua
(square root) atau skala logaritmis. Bila nilai cv telah diperoleh, kemudian dapat dihitung
koefisien permeabilitas dari Persamaan 7. 1 7, uji oedometer merupakan me to de yang ber
guna untuk menentukan permeabilitas lempung.

Metode Logaritma Waktu (Menurut Casagrande)


Bentuk kurva-kurva eksperirnental dan teoretis diperlihatkan pada Gambar 7.20. Kurva
eksperirnental tersebu t didapat dari hasil plot pembacaan arloji pengukur dalam uji oedo
meter terhadap logaritma waktu dalam menit. Kurva teoretis merupakan plot dari tingkat
konsolidasi rata-rata terhadap faktor logaritma waktu. Kurva teoretis terdiri dari tiga
bagian: kurva awal yang hampir parabol, bagian yang linear dan kurva akhir di mana sumbu

237

Teori Konsolidasi

:-: >

Kurva ( 1 )

Kurva ( 1 )

Kurva ( 1 )
(a) Lapisan terbu ka

////
Kurva ( 1 )

//

Kurva (2)
Kurva (3 )
Lapisan setengah-tertutup.

(b)

Gambar 7.19.

Variasi awal dari tekanan air pori berlebihan.

horisontalnya asimptot pad a V =


sesuai dengan V =

(a tau

1 ,0

1 00%) .

Pad a kurva eksperimental, titik yang

dapat ditentukan berdasarkan fakta bahwa bagian awal dari kurva

mewakili hubungan yang hampir parabol antara kompresi dan waktu. Dari kurva tersebut
dipilih dua buah titik
dingan 4

1,

(A

dan B pada Gambar

7.20)

yang memiliki nilai t dalam perban

dan kemudian diukur jarak vertikal antara titik-titik tersebut. Suatu jarak

yang sama dengan jarak vertikal tersebut diletakkan di atas titik pertama dan didapat
titik

(as) y ang

sesuai dengan V =

0.

Sebagai pemeriksaan, prosedur di atas diulang kembali

dengan pasangan-pasangan titik yang berbeda. Titik yang sesuai dengan V =


tidak sama dengan titik

(a 0 )

biasanya

yang mewakili pemb acaan arloj i pengukur awal, perbedaan

tersebut disebabkan oleh kompresi udara dengan jumlah sedikit didalam tanah, tingkat
kejenuhannya sedikit di bawah

1 00%:

kompresi ini disebut kompresi awal (ini ha! com

pression). Bagian akhir dari kurva eksperimental terse but linear tetapi tidak horisontal dan
titik

(a100 )

yang sesuai dengan V =

1 00%

diambil sebagai titik potong dari dua bagian

linear dari kurva terse but. Kompresi antara titik-titik

primer

ac

dan

a 1 00

disebut

konsolidasi

(primary consolidation) dan mewakili bagian dari proses yang diterangkan dalam

teori Terzaghi. Setelah melebihi titik perpotongan tersebut, kompresi berlangsung terus
dengan laju yang sangat rendah selama periode waktu yang tidak tertentu dan disebut

kompresi sekunder (secondary compression).

a100

Titik yang sesuai dengan V =


dan kemudian didapat waktu

50%

t50.

merupakan pertengahan antara titik-titik

Nilai

dan koefisien konsolidasinya adalah sebesar:

Tv

y ang sesuai dengan U

as

dan

= 50% adalah 0 , 1 96

1 ''

5,00 r- ao

IIITnllr-\\Tl!TliTI-r-r--r--

j
Komp-;:-e;

- -'!

4,50

.i

3,50

Q,

3,00 t- a 1 oo !--

.50 f-

00o 1

I' '

/1

! 4,00

t 1-

I I

II

ti + i + II l I
I

I
i

!
I

i i
I 1 1

I I

'

I
I

I
i I
I
I

I J il r i
I

I iI
11!

J I J&+I

!I
I

I
I

. I
1 1 11 :1 1"

I
I

10

i
\11\1

f\

I
i
I
I

I
I

log

"
r-

I
I

I .I

t (min )

]\

1o

I
I

log

!
I

""""-

1
I

'1

I'

'

1 00

Gambar 7.20. Metode logaritma waktu .

i
1 000

If

e:i I

Ii
'

Tv

jt-1 ' i

I
Ij
l
'

Kurva teoretis

1'-J
w
00

l idasi
1 1. 1 1 Kon
mer
p
n
!

_ _ _ _

1
'I

1 I1

'I

i iI

1 0,000

'

Teori Konsolidasi

239

0,
196 d2
--
(7.26)
t so
Nilai d diambil sebesar setengah dari tebal contoh tanah rata-rata untuk kenaikan tekanan
tertentu. BS 1 377 menyatakan bahwa bila temperatur rata-rata tanah di lapangan diketahui
dan berbeda dari temperatur uji rata-rata, maka harus dilakukan koreksi terhadap nilai
cv , faktor-faktor koreksi ini diberikan didalam standar tersebut.
c. =

Metode Akar Waktu (Menurut Taylor)

Gambar 7.2 1 memperlihatkan bentuk-bentuk kurva eksperimental dan teoretis, pembaca


an arloji pengukur diplot terhadap akar waktu dalam menit dan tingkat konsolidasi rata
rata diplot terhadap faktor akar waktu. Kurva teoretis tersebut linear sampai konsolidasi
mencapai kurang lebih 60% dan pada saat konsolidasi mencapai 90%, absis (AC) adalah
1 , 1 5 kali absis (AB) dari bagian linear kurva. Karakteristik ini digunakan untuk menentu
kan titik yang sesuai dengan V = 90% pada kurva eksperimental.

5,00

'a o

- - - - - -- - - - - -

- -

- - - - - -

- T Kompresi

- - - - - -

4,50

"E
E

....
:J
,:,(_
:J
Cl
c
"'
c.
-;::
"'
c
"'
"'
u
"'
.0

4,00

"0'

"'
c..

Konsolidasi
primer

3,50

3,00

\
- a ge - - - - - - - - -\\
- -

- -

-2

- - -

- - - - 4

K ompresi
se kunder

1
1

- -

Gambar

7.2 1.

_ _ _ _

10

_ _

12

Metode akar waktu.

14

Mekanika Tanah

240

Kurva eksperimental biasanya terdiri dari sebuah kurva pendek yang mewakili kom
presi awal, bagian yang linear dan kurva kedua . Titik yang sesuai dengan U = 0 (D) di
dapat dengan memperpanjang bagian linear dari kurva tersebut sampai ordinat pada waktu
nol. Sua tu garis lurus (DE) kemudian digambar dengan absis I ,1 5 kali absis bagian linear
dari kurva eksperimental tersebut. Perpotongan garis DE dengan kurva eksperimental ter
sebut merupakan titik yang sesuai dengan U = 90% (a90 ) dan nilai ..../t90 dapat ditentukan.
Nilai Tv yang sesuai untuk U = 90% adalah 0,8 1 8 dan koefisien konsolidasi adalah:

0,848d2

Cv = ---

(7.27)

t90

Bila diperlukan, titik (a100) yang sesuai dengan U = 1 00% pada kurva eksperimental, yang
merupakan batas konsolidasi primer, dapat ditentukan secara perbandingan. Seperti pada
plot log waktu, kurva ini memanjang melebihi titik 100% ke rentang kompresi sekunder.
Metode akar waktu memerlukan pembacaan kompresi untuk suatu periode waktu yang
lebih pendek dibandingkan dengan metode log waktu, yang memerlukan definisi yang
akurat dari bagian linear kedua kurva ke dalam rentang kompresi sekunder. Dengan kata
lain, suatu garis lurus tidak selalu dapat dihasilkan dari plot akar waktu , dan untuk kasus
seperti itu diperlukan metode log waktu.
Metode lain untuk menentukan cv diusulkan oleh Naylor dan Doran [7 . 1 4] , Scott
[7. 1 8 ] dan Cour [7 6 ].
.

Rasio Kompresi
Besaran relatif dari kompresi awal, kompresi akibat konsolidasi primer dan kompresi se
kunder dapat dinyatakan dengan rasio-rasio berikut: (berdasarkan Gambar 7.20 dan 7.2 1 ).
Rasio kompresi awal: r0 =

a0 - a.
ao - af

(7 .28)

--

Rasio kompresi primer (log waktu):

Rasio kompresi primer (akar waktu):


Rasio kompresi sekunder: r.

rP = a a 100
ao - af
rP =

I - (r0 +

lO(a. - a 9 0 )
9 (a0 - ar )

rp )

(7.29)

(7 .30)
(7. 3 1 )

Nilai cv di Lapangan
Hasil ob servasi terhadap penurunan (settlement) menunjukkan bahwa laju penurunan
dari keseluruhan struktur biasanya jauh lebih besar daripada laju yang dip erkirakan dengan
menggunakan c v yang didapat dari uj i oedometer pada contoh tanah kecil (misalnya
75 mm diameter x 20 mm tebal). Rowe (7 . 1 5 ] telah memperlihatkan bahwa perbedaan
tersebut disebabkan oleh pengarah makro-fabrik lempung dalam keadaan pengaliran
(behavior). Bentuk-bentuk seperti lapisan tipis (lamination), lapisan lanau dan pasir halus,
celah lanau (silt filled fissure) lapisan organik (organic inclusion) dan lubang akar (root
hole) bila mencapai lapisan permeabel utama akan memiliki efek menaikkan permeabilitas
keseluruhan dari massa lempung tersebut. Pada umumnya makro-fabrik lempung tidak di

241

Teori Konsolidasi

wakili secara akurat pada suatu contoh tanah oedometer dan permeabilitas contoh ter
sebut akan lebih rendah dari permeabilitas massa sesungguhnya.
Pada kasus-kasus di mana efek

fabrik dibutuhkan, nilai cv yang

lebih realistis dapat di

hasilkan dengan menggunakan oedometer hidrolik dari Rowe dan B arden


sediakan untuk suatu rentang ukuran contoh. Contoh dengan diameter

1 00

mm dianggap cukup besar untuk mewakili

lempung: nilai

cv

makro-fabrik

[7 . 1 6] dan di
250 mm dan tebal

asli dari sebagian besar

yang didapat dari pengujian pada contoh dengan ukuran tersebut diper

lihatkan sebagai sua tu nilai yang konsisten terhadap laju penurunan hasil observasi.
Detail dari oedometer hidrolik diperlihatkan pada Gambar

7.22.

Tekanan vertikal di

berikan ke contoh tanah melalui tekanan air yang beraksi pada dongkrak karet (convoluted

rubber jack). Sistem yang mempergunakan tekanan tersebut harus mampu mengimbangi
perubahan tekanan akibat kebocoran (leakage) dan perubahan volume contoh.

Kompresi pada contoh dapat d iukur dengan menggunakan sebuah kumparan yang me

nembus rangka besi tertutup (sealed housing) pada bagian atas oedometer. Pengaliran dari
contoh dapat terjadi secara vertikal maupun horisontal. Tekanan air pori dapat diukur se

lama penguj ian berlangsung dan tekanan balik boleh dipergunakan pada contoh. Peralatan

tersebut dapat juga digunakan untuk uji aliran, di mana koefisien permeabilitas d apat d i
tentukan secara langsung.

Pizometer dapat digunakan untuk penentuan

cv

di lapangan tetapi metode tersebut

memerlukan penggunaan teori konsolidasi tiga-dimensi. Prosedur yang paling memuaskan


adalah mempertahankan suatu tinggi tekan yang konstan (constant head) (di atas atau d i

ba.w ah tekanan air pori sekeliling pada lempung) pada ujung p izometer dan mengukur
laju aliran masuk a tau keluar-sistem, maka nilai

cv

(dan nilai koefisien permeabilitas) dapat

ditentukan. Untuk lebih detailnya, lihat makalah Gibson


Metode lainnya untuk menentukan

cv

[7.8 , 7 .9]

dan Wilkinson

adalah menggabungkan nilai

mv

rium (yang dari pengalaman diketahui lebih dapat d iandalkan daripada nilai
torium) dengan pengukuran

[7.24] .

hasil laborato

cv

hasil labora

k di lapangan, dengan menggunakan Persamaan 7. 1 7 .

Pemberian
tekanan
konstan
Berkerak

Dra inasi

Tekanan
air pori

Gambar 7.22.

Oedometer hidrolik .

Mekanika Tanah

242

Kompresi Sekunder
Dalam teori Terzaghi, termasuk dalam asumsi 8 hahwa suatu peruhahan pada angka pori
adalah akihat adanya peruhahan tegangan efektif yang disehahkan oleh disipasi tekanan
air-pori-herlehihan dengan permeahilitas yang menyehahkan ketergantungan waktu pada
proses. Tetapi, hasil eksperimental memperlihatkan hahwa kompresi tidak herhenti jika
tekanan-air-pori-herlehihan telah terdisipasi sampai nol melainkan herlangsung terus dengan
laju yang mengecil secara perlahan-lahan pad a tegangan efektif yang konstan. Kompresi se
kunder diperkirakan teijadi akihat penyesuaian kemhali partikel-partikel lempung secara
perlahan-lahan menj adi suatu susunan yang lehih stahil menyusul adanya gangguan struk
tural yang disehahkan oleh penurunan angka pori, terutama hila lempung tersehut di
hatasi secara lateral (laterally confmed). Faktor tamhahan adalah perpindahan lateral se
cara perlahan-lahan yang terjadi pada lapisan lempung tehal yang memikul tegangan geser.
Laju kompresi sekunder dikontrol oleh selaput yang sangat kental (highly viscous film)
dari air yang terserap yang herada di sekeliling partikel-partikel mineral lempung. Suatu
aliran viskos air terserap yang sangat lamhat teijadi dari zona pergeseran selaput, memung
kinkan partikel-partikel padat untuk hergerak mendekati hersama-sama. Viskositas se
laput terse hut meningkat sewaktu partikel-partikel hergerak mendekat, yang menghasilkan
penurunan laju kompresi tanah. Konsolidasi primer dan kompresi sekunder dianggap her
j alan secara serentak dari saat pemhehanan.
Laju kompresi sekunder dalam uji oedometer dapat ditentukan dengan kemiringan

( Ca) dari hagian akhir kurva kompresi log waktu, di mana diukur sehagai koropresi satuan

dalam satu dasawarsa pada skala log waktu. Untuk lempung terkonsolidasi-normal, hesar
nya kompresi sekunder dalam sua tu waktu tertentu hiasanya lehih hesar daripada lempung
terkonsolidasi - berlehihan. Untuk lempung dengan plastisitas tinggi dan lempung organik,
hagian kompresi sekunder dari kurva kompresi/log waktu dapat menutupi hagian konsoli
dasi primer. Untuk tanah tertentu, hesar kompresi sekunder dalam suatu jangka waktu
tertentu, yang merupakan persentase dari kompresi total, naik sehanding dengan me
ngecilnya rasio kenaikan tekanan terhadap tekanan awal. Besarnya kompresi sekunder
juga naik hila tehal contoh tanah oedometer herkurang dan demikian pula hila tempe
raturnya naik. Jadi karakteristik kompres'i sekunder dari contoh tanah oedometer tidak
dapat diekstrapolasi secara normal ke dalam kasus pondasi skala penuh (full scale
foundation).
Pada sejumlah kecil lempung terkonsolidasi - normal, didapati hahwa pemampatan
sekunder merupakan hagian yang lehih hesar dari pemampatan total pada tekanan yang
diterapkan. Bjerrum [7.3] memperlihatkan hahwa lempung semacam itu secara herangsur
angsur mengerahkan tahanan halik (reverse resistance) melawan kompresi selanjutnya,
sehagai hasil dari penurunan angka pori yang timhul, pada tegangan efektif yang konstan,
lebih dari ratusan atau rihuan tahun sejak terjadinya sedimentasi. Lempung ini, walaupun
terkonsolidasi-normal, menunjukkan suatu tekanan quasi-prakonsolidasi. Telah diperlihat
kan hahwa dengan menggunakan suatu tekanan tamhahan yang lehih kecil dari kurang
lehih 50% dari perhedaan antara tekanan prakonsolidasi seolah-olah dan tekanan efektif
akihat herat tanah di atasnya, penurunan total akan relatif kecil.

Contoh 7. 4.
Pembacaan kompresi di hawah ini diamhil selama uji oedometer herlangsung pada contoh
'
tanah lempung jenuh (G5 2,73) di mana tekanan yang diterapkan naik dari 2 1 4 menj adi
429 kN/m2
=

Teori Konsolidasi

243

Waktu (menit)
Pengukuran (mm)

9
1 6 25
0

I
2 4
%
5,00 4,67 4,62 4,53 4,41 4,28 4,01 3,75 3,49

Waktu (menit)
Pengukuran (mm)

36 49 64 8 1
1 00 200 400 1440
3 ,28 3,15 3,06 3 ,00 2,96 2,84 2,76 2,61

Setelah 1440 menit, tebal contoh = 1 3,60 mm dan kadar air = 35 ,9%. Tentukanlah ko
efisien konsolidasi dari plot log waktu dan akar waktu dan besar ketiga rasio kompresinya.
Tentukan juga nilai koefisien permeabilitasnya.
Perubahan tebal total selama kenaikan = 5 ,00 - 2 ,6 1 = 2,39 mm.

Tebal rata-rata selama kenaikan = 11 3,60 + 2,39/2 = 14,80 mm.


Panjang alur pengaliran, d = 14,80/2 = 7,40 mm.

Dari plot log waktu (Gambar 7.20),

t50 = 1 2,5 menit

0,196

7 ,402

cv =

0,196d2
ts o

r0 =

5 ,00 4,79
= 0 088
'
5 ,00 - 2,61

r =

4,79 - 2 ,98
= 0 ' 7 57
5 ,00 - 2,61

1 2,5

1440 X 365
= 0,45 m2 /tahun
106

r. = 1 - (0,088 + 0,757) 0, 1 55
=

Dari plot akar waktu (Gambar 7.2 1) yt9 0

t 9 0 = 53,3 menit
-Cv =

r0 =
rP

0,848d2

t90

0,848

7,402

53,3.

7 ,30, sehingga

1 440 X 365
= 0,46 m2 /tahun
6
10

5,00 - 4,8 1
= 0 080
'
5,00 - 2 ,61
1 0(4,8 1 - 3,12)
= 0 785
9(5 ,00 - 2,6 1 )

r. = 1 - (0,080 + 0,785 ) = 0, 135


Untuk menentukan permeabilitas, nilai mv harus dihitung lebih dahulu.
Angka pori akhir: e1 = w 1 G. = 0,359
Angka pori awal: e0 = e 1 + e

Sekarang,

e
H

1 + e0

Ho

yaitu

e
2,39

1,98 + e
1 5,99

2,74 = 0,98

,f

1 1
!

iI

l,l l
..

,: 1
'

Mekanika Tanah

244

Sehingga

!'le = 0,35

dan

e0 = 1 ,33 .

Sekarang,

mv =
=

eo - e l
1 + eo u 'l - 0"
.

-12,33

0,3S
= 7,0
215

10 - 4 m2/kN

= 0,70 m2/MN
Koefisien permeabilitas:

k = Cvmv Yw

0,45 X 0,70 X 9 ,8
X 1440 X 365 X 103
0
= 1 ,0 x 10 - 1 m /detik

60

7.9. Koreksi Selama Periode Pelaksanaan Pembangunan


Di dalam praktek, beban-beban struktural bekerj a pada tanah tidak secara seketika, tetapi
dalam suatu periode waktu. Mula-mula, biasanya terdapat pengurangan beban konstan
akibat penggalian yang menghasilkan pemuaian (swelling) lempung tersebut penurunan
(settlement) tidak akan mulai sampai beban yang dipikul melebihi berat tanah yang di
gali terse but. Terzaghi mengusulkan suatu metode empiris untuk mengoreksi kurva waktu/
penurunan seketika yang diizinkan selama pelaksanaan pembangunan.
Beban bersih (P) adalah beban kotor dikurangi berat tanah galian dan periode pe
laksanaan pembangunan efektif (tJ diukur dari waktu pada saat p' nol. Diasumsikan bahwa
beban bersih bekerja secara merata selama waktu tc (Gambar 7.23) dan tingkat konsolidasi
pada waktu tc sarna dengan bila beban P' bekerja sebagai beban konstan selama periode
tc/2 Jadi, penurunan pada setiap waktu selama periode pelaksanaan pembangunan sama
dengan penurunan yang terjadi akibat pembebanan seketika pada setengah dari waktu ter
sebut; tetapi, karena beban tersebut bukan beban total, nilai penurunan yang didapat
harus dikurangi sesuai dengan perbandingan be ban terse but terhadap beban total.
Selama periode setelah pelaksanaan pembangunan selesai, kurva penurunan akan me
rupakan kurva seketika (instantaneous curve) yang diirnbangi oleh setengah dari periode
pelaksanaan pembangunan efektif. Jadi pada setiap waktu sesudah pelaksanaan pemba
ngunan berakhir, waktu yang telah dikoreksi yang sesuai dengan suatu nilai penurunan
akan sarna dengan waktu dari saat dirnulainya pembebanan dikurangi setengah periode
pelaksanaan pembangunan efektif. Sesudah periode waktu yang lama , besarnya penurunan
tidak terpengaruh banyak oleh waktu pelaksanaan pembangunan.
.

Contoh

7. 5.

Suatu lapisan lempung dengan tebal 8 m terletak di antara dua lapisan pasir. Lapisan pasir
atas berada sampai kedalaman 4 m dari permukaan tanah, muka air tanah berada pada
kedalaman 2 m. Lapisan pasir bawah berada di bawah tekanan artesis, tinggi pizometrik-

245

Teori Konsolidasi

Be ban
Sebenarnya

1 Periode pelaksanaan 1
pembangunan
t-
----1

Waktu

efektif

Beban

Waktu

Waktu

Kurva yang telah di koreksi

Se

Garnbar 7.23.

Kurva "seketika"

Koreksi selarna periode pelaksanaan pembangunan.

nya = 6 m di at as permukaan tanah. Untuk lempung, mv = 0,94 m 2 /MN dan cv = 1 ,4 m 2 /


tahun. Sebagai akibat pemompaan air dari lapisan artesis, tinggi pizometriknya turun
sebesar 3 m selama periode 2 tahun. Gambarkan kurva waktu/penurunan akibat konsoli
dasi lempung untuk periode 5 tahun dari awal pemompaan.
Dalam hal ini, konsolidasi hanya terjadi akibat perbedaan tekanan air pori statis dan .
tekanan air pori keadaan stedi (steady-state pore water pressure), jadi tidak ada perubah
an pada tegangan vertikal total. Tegangan vertikal efektif tetap tidak berubah pada bagian
atas (puncak) lapisan lempung, tetapi akan naik sebesar 3 'Yw pada dasar lapisan akibat pe
nurunan tekanan air pori di lapisan artesis. Distribusi t:.a' diperlihatkan pada Gambar 7 .2 4.
Soal ini adalah berdirnensi satu selama kenaikan tegangan vertikal efektif sarna di seluruh
daerah yang dipertanyakan. Dalam menghitung penurunan konsolidasi, hanya perlu di
pertimbangkan nilai t:.a' di tengah lapisan. Perhatikan bahwa untuk mendapatkan nilai
mv, perlu dihitung lebih dahulu nilai tegangan vertikal efektif awal dan akhir dari lempung
tersebut.

246

Mekanika Tanah

11 -

(1 )

3m
6 m _j_ _

(2)

Lempung

Pasir

Gambar 7 .24.

O"U
f
0,20
0,30

0,070
0,126

0,40
0,50

0,60
0,73.

akhir adalah sebesar:

= 0,94 X 1 4,7 X
= l l O mm

33
44

0,196
<Y;285
. 0,437

Di tengah-tengah lapisan lempung, D.a' = 1 ,5


Scf = mvL\ a' H

11

22
55

66
80
'Yw

= 1 4,7 kN/m

Lapisan lempung terbuka, sehingga d = 4 m. Untuk t = 5 tahun,


V

Cv t
= d2
=

1 ,4 X

= 0,437

Penurunan konsolidasi

Teori Konsolidasi

247
t (tahun)

_,-----r---

-,--I

--T--------r ----r
4

20

40

__

Kurva koreksi

Garnbar 7.25.
Dari kurva 1 , Gambar 7 . 1 8 , nilai U yang sesuai adalah 0,73. Untuk mendapatkan hubung
an waktu/penurunan, dipilih suatu serangkaian nilai sampai 0,73 dan waktu yang sesuai
dihitung dari persamaan faktor waktu, di mana nilai penurunan yang sesuai (s) diberikan
sebagai hasil kali dari U dan scf' (Lihat Tabel 7.3). Plot se terhadap t menghasilkan kurva
seketika. Kemudian dilakukan metode Terzaghi untuk mengoreksi selama periode 2 tahun
di mana teijadi pem'ompaan, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 7.25.

Contoh 7. 6.
Sua tu lapisan pasir setebal 8 m berada di atas lapisan lempung seteba1 6 m, yang di bawah
nya terletak lapisan tanah irnpermeabel (Gambar 7.26); muka air tanah berada 2 m di
bawah permukaan pasir. Selama periode 1 tahun diadakan penirnbunan setebal 3 m (berat
isi = 20 kN/m3 ) di permukaan tanah dengan luas yang besar. Berat isi jenuh pasir =
3
1 9 kN/m3 dan berat isijenuh lempung = 20 kN/m ; di atas muka air tanah berat isi pasir =
17 kN/m3 . Untuk lempung, hubungan antara angka pori dan tegangan efektif (satuan
kN/m2 ) dapat dinyatakan oleh persamaan:
e

= 0,88

- 0,32 log

a'
100

dan koefisien konsolidasi sebesar 1 ,26 m 2 /tahun.


(a) Hitunglah penurunan akhir pada daerah tersebut akibat konsolidasi pada lem
pung dan penurunan setelah periode 3 tahun dari awal penirnbunan.
(b) Bila terdapat suatu lapisan pasir yang sangat tipis, di mana air dapat bebas me
ngalir, berada 1 ,5 m di atas dasar lapisan lempung, berapakah besarnya penurunan akhir
dan penurunan sesudah 3 tahun?
(a) Karena tirnbunan menutupi daerah yang luas, persoalan ini dapat dianggap satu di
mensi. Penurunan konsolidasi akan dihitung dalam Cc, dengan meninjau lapisan lempung

"4
I

Mekanika Tanah

248

t+ttttttttttt
Urugan

2'

jrr:_ - - - -

B m

- - - - - - - - M.A.T.

Pasir

Lempung

T1_
(1)

45m -

'
(

t ct 2,25 m

--

- -- -

--

1 ,5 m

0-'%::%7/07
/%///

lmpermeabel
(a)

(b)

Gambar 7.26.

secara keseluruhan, sehingga diperlukan nilai tegangan vertikal efektif awal dan akhir
pada tengah-tengah lapisan lempung,
0' = ( 17 X 2) + (9,2 X 6) + (10,2 X 3) = 1 1 9,8 kNjm2
e0 = 0,88 - 0,32 log 1, 198 = 0,88 - 0,025 = 0,855 .

a = 1 1 9,8 + ( 3 x 20) = 1 79,8 kN/m2


log

1 79 8
= 0 17 6
'
1 19 8
'

Penurunan akhir dihitung dengan menggunakan Persamaan 7.8:

0, 176 x 6000
= 1 82 mm
1 855
'
Dalam menghitung tingkat konsolidasi 3 tahun setelah dimulainya penimbunan, nilai
koreksi untuk waktu agar diizinkan penimbunan selarna periode 1 tahun adalah:
Scf =

t=3

0,32

1 = 2,5 tahun

Lapisan tersebut setengah terbuka. Jadi d = 6 m. Kemudian


T.

Cvt
1 ,26 X 2,5
= d2 =
62
= 0,0875

Dari kurva 1, Gambar 7 . 1 8, U = 0,335. Penurunan setelah 3 tahun


se = 0,335 x 1 82 = 61 mm

249

Teori Konsolidasi

(b) Penurunan akhir akan tetap 1 8 2 mm (dengan mengabaikan teba1 lapisan pengaliran)
di sini, hanya laju penurunan yang akan terpengaruh . Dari segi pengaliran, sekarang lapis
an tersebut merupakan lapisan terbuka dengan tebal 4 ,5 m (d = 2 ,25 m) di atas lapisan se
tengah tertutup setebal 1 ,5 m (d = 1 ,5 m): lapisan-lapisan ini berturut-turut diberi nomor
( 1 ) dan (2).
Dengan perbandingan,

7;,1 = 0 ' 0875 X


ul

=-=

o,825

7;,2

0,0875

U2

0,97

62

-2

2,25

= 0 '622

dan,
62

X -2

1 ,5

= 1 ,40

Sekarang untuk setiap lapisan, se


Use!' yang sebanding dengan UH. Jadi bila iJ adalah
tingkat konsolidasi keseluruhan untuk kedua lapisan yang digabungkan, maka:
=

4,5 U1 + 1 ,5 U2
(4,5

yaitu

6,0 0

0,8 25 ) + (1 ,5

0,97) = 6,0 0. Jadi,

0,86

dan penurunan setelah 3 tahun adalah:


s, = 0,86 x 1 82 = 1 57 mm

7. 1 0. Penyelesaian Numerik
Persamaan konsolidasi satu-dimensi dapat diselesaikan secara numerik dengan metode
selisih-hingga (finite-difference). Metode ini memiliki keuntungan yaitu setiap pola tekanan
-air-pori-berlebihan awal dapat diatasi dan demikian pula dengan masalah-ma salah di mana
beban bekerja secara berangsur-angsur selama suatu periode waktu. Kesalahan yang ber
kaitan dengan met ode ini dapat diabaik:an dan penyelesaiannya mudah diprogram untuk
komputer.
Metode ini berdasarkan pada suatu kisi (grid) kedalaman-waktu seperti diperlihatkan
pada Gambar 7.27. Kedalaman lapisan lempung dibagi dalam m bagian yang sama dengan
tebal .6.z dan suatu periode waktu tertentu dibagi dalam n selang fl.t yang sama. Setiap
titik pada kisi dapat diidentifik:asi dengan subskrip i dan j, posisi kedalaman titik dinotasi
kan dengan i ( 0 ,;;;; i ,;;;; m) dan waktu yang telah lewat dinotasikan dengan j (0 ,;;;; j ,;;;; n ).
Nilai tekanan-air-pori-berlebihan pada sembarang kedalarnan setelah melewati suatu waktu
dinotasikan dengan u;, i .
Pendekatan selisih-hingga berik:ut ini diamb il dari teorema Taylor:

1
ou
(ui, i + 1 U;, i )
=
8t A t
1
o2 u
+ ui + t . i - 2u; ,)
(u;
=
Ll
ozz ( z) z - t , i
-

Mekanika Tanah

250

I
I
-j
I
1
I
T _ i _ _ _ i_ _ _ i_ _ _ i_ _
z = I
I
I
I
1 - l-- -lu,_,:!.._ - l - - - 1- I
I
I
1
I
I
I
I
I
I
I
I
1
I
I
I
I
I
I
1
t =
I

U;,j
Ui,j + 1
- - - - - - - - - - - - -

I
I

u i + 1 .j
- - - - - - - - - - - - - -

1
I

I
I

Garnbar 7.27.

Kisi kedalaman-waktu.

Dengan mensubstitusikan nilai-nilai ini ke dalam Persamaan 7 . 1 6, dihasilkan pendekatan


selisih-hingga dari persamaan konsolidasi satu dimensi:

Cv dt
ui. i+ 1 = ui.i + (Az)2 (ui - t , i

+ U; + t,j - 2ui, j )

(7.32)

Ditulis:

(7.33)
yang disebut sebagai operator dari Persamaan 7.32. Telah diperlihatkan bahwa supaya
konvergen, nilai operator ini tidak boleh melebihi
Kesalahan akibat pengabaian turunan
berorde lebih tinggi dalam teorerna Taylor dikurangi sampai minimum jika nilai operator!
nya 6
.
Biasanya kedalaman lapisan dibagi menjadi sejumlah m bagian yang sarna dan karena
nilai (3 dibatasi, maka diadakan suatu pembatasan untuk nilai !l.t. Untuk suatu periode
waktu t pada kasus lapisan terbuka:

n
m

(7.34)

= 42 {3
Dalam kasus lapisan setengah

T, = ---z
m /3

tertutup, penyebutnya menjadi (m&)2

dan:

(7.35)

Dengan demikian nilai n harus dipilih sedemikian supaya nilai (3 dalam Persarnaan 7 .34
atau 7.35 tidak melebihi

Teori Konsolidasi

251

Persamaan 7.32 tidak berlaku untuk titik-titik pada suatu batas yang impermeabel.
Tidak akan ada aliran yang dapat melewati batas yang impermeabel, kondisi itu dinyata
kan dengan persamaan.
ou
=0
oz
yang dapat dinyatakan dengan pendekatan selisih-hingga:
1

2.1 z

(u; - 1 , i - U; + 1 .) = 0

batas impermeabel yang berada pada suatu posisi kedalaman dinotasikan oleh subskrip
yaitu

i,

Untuk semua titik pada batas impermeabel, Persamaan 7.32 menjadi:


ui, j + l = u;,j

Cv .1t

(7.36)

+ ( z)2 (2ui - l . i - 2 u;,j)


.1

Derajad konsolidasi pada setiap waktu t dapat ditentukan dengan menghitung luas di
bawah isokhron awal dan isokron pada waktu t dalam Persamaan 7.25 .

Contoh Z 7.
Suatu lapisan lempung setengah tertutup (mengalir bebas pada batas atas) memiliki tebal
10 m dan nilai cv = 7 ,9 m2 /tahun. Distribusi awal dari tekanan-air-pori-berlebihan adalah
sebagai berikut:
Kedalaman (m)
Tekanan (kN/m2 )

0
60

2
54

4
41

6
29

8
19

10
15

Tentukan nilai tekanan-air-pori-berlebihan sesudah konsolidasi berlangsung selama 1 tahun.


Lapisan tersebut setengah tertutup, j adi d = 10 m. Untuk t = 1 tahun.
CJ

T, = d2 =

7,9 X 1
2 = 0,079
10

Lapisan tersebut dibagi menjadi Iima bagian yang sama, jadi m = 5. Sekarang,
n

Tv = z /3
m

sehingga

n /3 = 0,079 x 5 5 = 1 ,98, katakan 2,0

(Hal ini membuat nilai Tv sesungguhnya menjadi 0,080 dan t = 0,0 1 tahun). Nilai n akan
diambil sebesar 10 (yaitu !:l.t = 1 / 10 tahun), menjadikan {j = 0,2. Persamaan selisih-hingga
kemudian menjadi:
ui. j+ 1 = U;,j + 0,2 (u; - 1 , j + u; + 1 , j - 2 u;,j)

tetapi pada batas irnpermeabel:


ui,j+ 1 = U;,j

+ 2,0 (2 u; - 1 , j - 2 u;,j)

Mekanika Tanah

252
Tabel 7.4

0
1
2

3
4
5

540 406
410 412
290 294
190 202
150 166

326 273 235


387 357 329299 300 296
213 224 233
. 180

0
207
304

185 167 153


282 263 246
290 283 275 267
240 245 249 251
194 206 217 226 234 240

9
0.

141
232
260
252

10

131
219
253

252

244 247

Pada batas permeabel, u = 0 untuk setiap nilai t, dengan mengasumsikan tekanan awal
60 kN/m2 secara seketika menjadi nol.
Perhitungan di atas ditabelkan pada Tabel 7 .4, seluruh tekanan telah dikalikan dengan
1 0.

7. 1 1 . Drainasi Vertikal
.,

l..aju konsolidasi yang rendah pada lempung jenuh dengan permeabilitas rendah, dapat
dinaikkan dengan menggunakan drainasi vertikal (vertical drain) yang memperpendek lin
tasan pengaliran dalam lempung. Kemudian konsolidasi terutama diperhitungkan akibat
pengaliran horisontal radial, yang menyebabkan disipasi kelebihan tekanan air pori yang
lebih cepat; pengaliran vertikal kecil pengaruhnya. Dalam teori, besar penurunan konsoli
dasi akhir adalah sarna, hanya laju penurunannya yang terpengaruh.
Pada kasus suatu tanggul yang dibangun di atas lapisan lempung yang sangat kompre
sibel (Gambar 7.28), pembuatan drainasi vertikal pada lempung tersebut memungkinkan
tanggul dapat segera digunakan dan akan terdapat kenaikan kekuatan geser lempung yang
lebih cepat. Derajad konsolidasi dengan orde 80% akan digunakan pada akhir pelaksanaan
pembangunan. Tentu saja, setiap keuntungan harus dibandingkan terhadap biaya tambahan
untuk pembuatan.
Metode tradisional dalam membuat drainasi vertikal adalah dengan membuat lubang
bor pada lapisan lempung dan mengurung kembali dengan pasir yang bergradasi sesuai.
Diameternya sekitar 200-400 mm dan saluran drainasi tersebut dibuat sedalam lebih dari
30 m. Pasir harus dapat dialiri air sec.ra efisien tanpa membawa partikel-partikel tanah
yang halus. Drainasi cetakan juga banyak digunakan dan biasanya lebih murah daripada
drainasi urugan untuk suatu daerah tertentu. Salah satu jenisnya adalah drainasi prapaket
(prepackage drain) yang terdiri dari sebuah selubung filter, biasanya dibuat dari polypropy
lene, yang diisi pasir dengan diameter 65 mm. Jenis ini sangat fleksibel dan biasanya tidak
terpengaruh oleh adanya gerakan-gerakan tanah lateral. Jenis lain dari drainasi cetakan ada
lah drainasi pita (band drain), yang terdiri dari inti plastik datar, dengan salur:in drainasi
yang dikelilingi oleh lapisan filter tip is, yang rnana, lapisan tersebut harus memiliki kekuat
an untuk mencegah jangan sampai terselip ke dalam saluran. Fungsi utarna dari lapisan itu
adalah untuk mencegah penyumbatan partikel-partikel tanah halus pada saluran di dalam
inti. Ukuran drainasi pita adalah 100 mm kali 4 mm dan diameter ekivalennya biasanya
diasumsikan sebagai keliling dibagi n. Drainasi cetakan dipasang dengan cara menyelipkan
ke dalam lubang bor atau dengan menempatkannya di dalam sebuah paksi (mandrel)
atau selubung (casing) yang kemudian dipancang ke dalam tanah atau digetarkan tanah.

253

Teori Konsolidasi

Tanggul
Lapisan
drainasi horisontal

Drainasi
verti kal

Gambar 7.28. Drainasi vertikal.

Karena tujuannya adalah untuk mengurangi panj ang lintasan pengaliran, maka j arak
antara drainasi merupakan hal yang terpenting. Drainasi tersebut biasanya diberi j arak
dengan pola bujur sangkar atau segitiga. Jarak-antara drainasi tersebut harus lebih kecil
daripada tebal lapisan lempung dan tidak ada gunanya menggunakan drainasi vertikal dalam
lapisan lempung yang relatif tipis. Untuk mendapatkan desain yang baik, koefisien konsoli
dasi horisontal dan vertikal (eh dan ev) yang akurat sangat penting untuk diketahui. Biasa
nya rasio eh fev terletak antara 1 dan 2 , semakin tinggi rasio ini, pema sangan drainasi se
makin bermanfaat. Nilai koefisien untuk lempung di dekat drainasi kemungkinan men
jadi berkurang akibat proses peremasan (remoulding) selama pema sangan (terutarna bila di
gunakan paksi), pengaruh tersebut dinamakan pelumasan (smear). Efek peluma san ini
dapat diperhitungkan dengan mengasm;nsikan suatu nilai eh yang sudah direduksi atau
dengan menggunakan diameter drainasi yang diperkecil. Masalah lainnya adalah diameter
drainasi pasir yang besar cenderung menyerupai tiang-tiang yang lemah, yang mengurangi
kenaikan tegangan vertikal dalam lempung sampai tingkat yang tidak diketahui dan meng
hasilkan nilai tekanan-air-pori-berlebihan. Yang lebih rendah dan begitu pula halnya dengan
penurunan konsolidasi. Efek ini minimal bila menggunakan drainasi cetakan karena fleksi
bilitasnya. Pengalaman menunjukkan bahwa drainasi vertikal tidak baik untuk tanah yang
memiliki rasio kompresi sekunder yang tinggi, seperti lempung yang sangat plastis dan
gambut (peat); karena laju konsolidasi sekunder tidak dapat dikontrol oleh drainasi ver
tikal.
Dalam koordinat polar, bentuk tiga-dirnensi dari persamaan konsolidasi, dengan sifat
tanah yang berbeda dalam arah horisontal dan vertikal, adalah

8 2 u 1 au
au
8t = eh 8 r 2 + -;: 8 r

) + ev 88z2u2

(7.37)

Blok-blok prismatis vertikal dari tanah yang mengelliingi drainasi diganti oleh blok-blok
silinder dengan jari-jari R, dengan luas penampang melintang yang sama (Gambar 7.29).
Penyelesaian Persamaan 7.37 dapat ditulis dalam dua bagian

Uv = J( T, )

Mekanika Tanah

254

i- -

+-- ---

+:

-a

r-

0
'
_j
@

D
0
E - 0 -I

_ _ _

I
0

+--- -r
R

rd

0,564S

I
1

- -

0
_
\
r-

Pola bujur sangkar

dan

-<

R
_

rd

>-

:Y

...

: :
-':

0,525S

Pola segitiga

Gambar 7.29.

Blok-blok

silindris.

u, = /(T,)

di mana Uv = tingkat konsolidasi rata-ratanya akibat pengaliran vertikal, Ur = tingkat


konsolidasi rata-rata akibat pengaliran horisontal (radial) saja;
TV

Cv t

d2

(7. 38)

= faktor waktu untuk konsolidasi akibat pengaliran vertikal saja

(7.39)
= faktor waktu untuk konsolidasi akibat pengaliran radial saja.

Pernyataan untuk Tr memberikan gambaran bahwa semakin rapat (kecil) jarak-antara


drainasi, semakin cepat proses konsolidasi yang teijadi akibat pengaliran radial. Penyelesai
an untuk pengaliran radial, menurut Barron, diberikan pada Gambar 7 .30, hubungan
Ur/ Tr tergantung pada rasio n = R/rd di rnana R adalah jari-jari blok silinder ekivalen dan
rd adalah j ari-jari drainasi terse but. Selain itu dapat juga diperlihatkan bahwa

(1 - U ) = (1 - Uv)(1 - U,)

( 7.40)

di mana U adalah derajad konsolidasi rata-rata akibat pengaliran kombinasi antara vertikal
dan horisontal.

Contoh 7.8
Sebuah tanggul dibangun di atas lapisan lempung setebal 10 m, dengan batas bawah yang
irnpermeabel. Pembangunan tanggul tersebut menyebabkan kenaikan tegangan vertikal
, total pada lapisan lempung sebesar 65 kN/m2 Untuk lempung tersebut, cv = 4,7 m2 I
tahun, eh = 7,9 m2 /tahun dan mv = 0,25 m2 /MN. Disyaratkan bahwa semua penurunan
akibat konsolidasi Iapisan lempung, kecuali 2 5 mm, akan tetjadi setelah 6 bulan. Tentu
kan j arak-antara, dengan pola bujur sangkar, menggunakan drainasi pasir (sand drains)
dengan diameter 400 mm untuk memenuhi syarat di atas.

0
n

=B.

'd

0,10

10
51--I"-

2 so_
....
..

=:::::

.. ..:::1:::
....
""
: :::
i'-.. :::::: :::::::::

0,20
0,30
0,40
u,

0,50
0,60
0,70
0,80 --
0,90
1,00
0,001

'
, '' I\

...

I
I
I

'

!
i

t
-
!

\'\
\ '
!\
\
"
'\. \1\\'\
" \ 1\ \\
" '\' ' \

" "'ill
'
\

- -

....

0,01
Garnbar 7.30.

0,1

Penyelesaian konsolidasi radial.

I'........

. ...
. ..
........

Mekanika Tanah

256
Penurunan akhir = mv D.a'H

= 0,25 65
= 1 62 mm.

lO

t = 6 bulan,

Untuk

1 62 - 25
= 0,85
1 62

V=

Diameter drainasi pasir 0,4 m, jadi rd

= 0,2 m.

Jari-jari blok silindris:

nrd

0,2n

Lapisan tersebut setengah tertutup. j adi d =

T.

Cv t
d2

Dari kurva
T.

0,5

102

1 , Gambar 7. 1 8:

ch t

4;7
=

4R2

10 m

O 0235
>

Uv = 0,1 7

7,9 x 0,5
24,7
=
4 X 0,2 2 X n2 7

j adi

Jei )
- - 7

n=
Sekarang

(1

V) =

(1

U,,)(1

V,), sehingga

0,15 = 0,8 3 ( 1 - V,)


V, =

0,82

Penyelesaian coba-coba diperlukan untuk menentukan n. Dirnulai dengan suatu nilai n


y ang sesuai dengan salah satu kurva pada Gambar 7 .30, didapat nilai T, untuk U, 0,82
dari kurva tersebut. Dengan menggunakan nilai Tr, dihitung nilai y(24, 7 /T,.) dan dip lot
terhadap nilai n.
=

n
5
10
15

J(24,7/T,.)

T,.
0,20
0,33
0,42

1 1,1
8,6
7,7

Dari Gambar 7.3 1 didapat n =

R = 0,2

9, sehingga

1 ,8 m

Jarak-antara drainasi dengan pola bujur sangk:ar adalah:


S=

--

1,8
R
= -- = 3 2 m
0,564 0,564
'

257

Teori Konsolidasi

15

10

----
5

15

10

Gambar 7.31.

Soal-soal.
7. 1 .

Suatu pengujian dengan oedometer dilakukan pada contoh lempung jenuh (Gs =
2,72 ), di mana tekanan yang bekeija dinaikkan dari 107 sarnpai 2 1 4 kN/m2 dan hasil

pembacaan tekanan yang tercatat adalah sebagai berikut:

7.2

Waktu (menit)
Pengukuran (mm)

1
.!
9
1
16
4
2-i
0
6i
4
2
7,82 7,42 7,34 7,2 1 6,99 6,78 6,6 1 6,49 6,37

Waktu (menit)
Pengukuran (mm)

25
6,29

36
6,24

49
6,2 1

64
6, 1 8

81
6, 1 6

100
6, 1 5

300
6, 10

1 440
6,02

Setelah 1 440 menit, tebal contoh tanah menjadi 1 5,30 mm dan kadar airnya 23,2%.
Tentukanlah nilai koefisien konsolidasi dan rasio tekanan dari (a) hasil plot akar
waktu, dan (b) hasil plot log waktu. Tentukan juga nilai koefisien kompresibilitas
volume dan koefisien permeabilitasnya.
Hasil-hasil berikut diperoleh dari peng!Uian dengan oedometer terhadap suatu contoh
lempung jenuh:
Tekanan (kN/m 2 )
Angka pori

27
54 . 1 07 2 1 4 429 2 1 4 107 54
1 ,243 1,21 7 1 , 1 44 1 ,068 0,994 1,001 1 ,0 1 2 1 ,024

Suatu lapisan pada lempung ini dengan tebal 8 m berada di bawah suatu lapisan pasir
dengan kedalarnan 4 m, di mana muka air tanah berada pada permukaan ini. Berat
isi 2 1 kN/m3 ditempatkan di at as pasir, dengan daerah urugan yang luas. Tentukanlah penurunan akhir akibat konsolidasi lempung tersebut. Jika pada suatu waktu setelah konsolidasi selesai, urugan tersebut digali kembali dan dipindahkan. Apa yang
akan teijadi pada tempat tersebut akibat pemuaian (swelling) lempung?
7.3. Pada pengujian dengan oedometer terhadap suatu contoh 1empung jenuh dengan
tebal 1 9 mm. Konsolidasi 50% dicapai dalarn waktu 20 menit. Berapa lama waktu

,.

258

Mekanika Tanah

yang diperlukan suatu lapisan lempung dengan tebal 5 m untuk mencapai tingkat
konsolidasi yang sama pada kondisi pengaliran {drainage) dan tegangan yang sama?
Berapa lama waktu yang diperlukan lapisan tersebut untuk mencapai konsolidasi
30%?
7.4. Diasumsikan bahwa urugan pada Soal 7.2 dipindahkan dengan amat cepat, berapa
kah tekanan-air-pori-berlebihan pada pusat lapisan lempung setelah periode waktu
3 tahun? Lapisannya terbuka dan nilai c adalah 2,4 m2 /tahun.
v

Suatu lapisan lempung yang terbuka dengan tebal 6 m mempunyai nilai cv = 1 ,0 m2 I


tahun. Distribusi mula-muia dari tekanan-air-pori-berlebihan bervariasi secara linear
dari 60 kN/m2 pada lapisan atas dan nol pada lapisan dasar. Dengan menggunakan
pendekatan selisih-hingga pada persamaan konsolidasi satu-dimensi, gambarkanlah
garis isokhron (garis yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai tekanan-air
pori-berlebihan yang sama) sesudah proses konsolidasi dalam periode waktu 3 tahun,
dan dari garis isokhron ini tentukan tingkat konsolidasi rata-rata pada lapisan ter
sebut.
7.6. Suatu lapisan pasir dengan tebal 10 m membebani suatu Japisan lempung dengan
tebal 8 m, dan di bawahnya terdapat lapisan pasir yang dalam. Untuk lempung mv =
0,83 m2 /MN dan cv = 4,4 m2 /tahun. Muka air tanah berapa pada permukaan tanah,
tetapi turun secara permanen sedalam 4 m, di mana penurunan mula-mula sampai
akhir teijadi dalam waktu 40 minggu. Hitunglah penurunan akhir akibat konsolidasi
lempung, dianggap tidak terjadi perubahan berat pasir, dan hitung juga penurunan
dalam waktu 2 tahun sesudah dimulainya penurunan muka air tanah.

7.5.

7.7. Suatu pondasi rakit (raft foundation) dengan ukuran 60 m x 40 m menerima tekan
an neto 145 kN/m2 , ditempatkan pada kedalaman 4,5 m di bawah permukaan lapis
an kerikil kepasirari yang padat sedalam 22 m . Muka air tanah berapa pada kedalam
an 7 m. Di bawah lapisan kerikil kepasiran terdapat lapisan lempung dengan tebal
5 m, dengan dasarnya berupa pasir padat. Nilai mv untuk lempung 0,22 m2 /MN.
Tentukanlah penurunan di bawah pusat pondasi rakit, pada sudut pondasi rakit,
dan pada titik tengah masing-masing sisi pondasi rakit akibat konsolidasi lempung.
7.8. Suatu tangki tempat penyimpanan minyak dengan diameter 35 m ditempatkan 2 m
di bawah permukaan lempung setebal 32 m, muka air tanah berada pada permukaan
tanah, tekanan pondasi neto = 1 05 kN/m 2 Suatu lapisan tanah keras terletak di
bawah lapisan lempung tersebut. Nilai rata-rata mv untuk lempung adalah 0,1 4 m2 /
MN dan koefisien tekanan pori A adalah 0,6. Nilai modulus Young tak-terdrainasi
diperkirakan 40 MN/m2 Tentukanlah penurunan total di bawah pusat tangki.
7.9.

Suatu lapisan lempung setengah tertutup dengan tebal 8 m_ Pada kondisi ini dapat
dianggap bahwa cv ::;: eh . Diameter drainasi pasir vertikal (vertical sand drains) =
300 mm, dengan jarak-antara 3 m dan, disusun dengan pola busur sangkar, yang
digunakan untuk menambah lain konsolidasi lempung pada kondisi tegangan vertikal
yang bertambah akibat pembuatan tanggul. Tanpa adanya drainasi pasir, tingkat kon
solidasi pada waktu pembuatan tanggul adalah 25%. Berapakah tingkat konsolidasi
akan dicapai dengan menggunakan drainasi pasir pada waktu yang sama?

7. 1 0. Suatu lapisan lempung jenuh memiliki tebal 10 m, lapisan bawahnya kedap air;
suatu tanggul dibangun di atas lempung tersebut. Tentukanlah waktu yang diperlu
kan agar lapisan lempung tersebut mencapai konsolidasi 90%. Jika diameter drainasi
pasir adalah 300 mm, yang disusun dengan pola bujur sangkar dengan jarak-antara
::;: 4 m, dibuat pada lapisan lempung tersebut, dalam waktu berapa lama dicapai
suatu tingkat konsolidasi yang sama? Koefisien konsolidasi dalam arah vertikal dan
horisontal masing-masing adalah 9 ,6 m2 /tahun dan 1 4,0 m2 /tahun.

Teori Konsolidasi

259

Referensi

7.1
7.2
7.3
7.4
7.5
7.6
7.7
7.8
7.9
7. 10
7. 1 1
7. 1 2
7. 1 3
7.14
7. 1 5

Atkinson, M. S. dan Eldred, P. J. L. (1981): 'Consolidation of Soil


using Vertical Drains', Geotechnique, Vol. 3 1 , No. 1 .
Barron, R. A. (1948): 'Consolidation of Fine Grained Soils by Drain
Wells', Transactions ASCE, Vol. 1 1 3.
Bjerrum, L. ( 1967): 'Engineering Geology of Norwegian Normally
Consolidated Marine Clays as Related to Settlement of Buildings',
Geotechnique, Vol. 1 7, No. 2.
British Standard 1 377 (1975): Methods of Test for Soils for Civil
Engineering Purposes, British Standards Institution, London.
Christie, I. F. ( 1959): 'Design and Construction of Vertical Drains to
Accelerate the Consolidation of Soils', Civil Engineering and Public
Works Review, Nos. 2, 3, 4.
Cour, F. R. ( 197 1): 'Inflection Point Method for Computing cv'
Technical Note, Journal ASCE, Vol. 97, No. S M 5.
Gibson, R. E. ( 1 963): 'An Analysis of System Flexibility and its Effects
on Time Lag in Pore Water Pressure Measurements', Geotechnique,
Vol. 1 3, No. 1 .
Gibson, R. E. ( 1 966): 'A Note on the Constant Head Test to Measure
Soil Permeability In-situ', Geotechnique, Vol. 16, No. 3.
Gibson, R. E. ( 1970): 'An Extension to the Theory of the Constant
Head In-situ Permeability Test', Geotechnique, Vol. 20, No. 2.
Gibson, R. E. dan Lumb, P. ( 1 953): 'Numerical Solution of Some
Problems in the Consolidation of Clay', Proceedings ICE, Part I.
Lambe, T. W. ( 1964): ' Methods of Estimating Settlement', Journal
ASCE, Vol. 90, No. SM5.
Lambe, T. W. ( 1 967): 'Stress Path Method', Journal ASCE, Vol. 93,
No. SM6.
McGown, A. dan Hughes, F. H. ( 1981): ' Practical Aspects of the
Design and Installation of Deep Vertical Drains', Geotechnique, Vol.
3 1 , No. 1 .
Naylor, A . H . dan Doran, I. G . ( 1 948): ' Precise Determination of
Primary Consolidation', Proceedings 2nd International Conference
SM FE, Rotterdam, Vol. 1 .
Rowe, P. W . ( 1 968): 'The Influence of Geological Features of Clay
Deposits on the Design and Performance of Sand Drains', Proceed

ings ICE.
7. 1 6 Rowe, P. W. dan Barden, L. ( 1 966): 'A New Consolidation Cell',
Geotechnique, Vol. 1 6, No. 2.
7. 1 7 Schmertmann, J. H. ( 1 953): 'Estimating the True Consolidation
Behaviour of Clay from Laboratory Test Results', Proceedings ASCE,
Vol. 79.
7. 1 8 Scott, R. F. ( 196 1): 'New Method of Consolidation Coefficient
Evaluation', Journal ASCE, Vol. 87, No. SM l .
7.19 Scott, R. F. (1963): Principles of Soil Mechanics, Addison-Wesley,
Reading, Massachusetts.
7.20 Simons, N. E. dan Som, N. N. ( 1969): 'The Influence of Lateral
Stresses on the Stress Deformation Characteristics of London Clay',
Proceedings 7th International Conference SMFE, Mexico City, Vol. 1 .

,;

260

Mekanika Tanah
7.2 1 Skempton, A. W. dan Bjerrum, L. ( 1 957): 'A Contribution to the
Settlement Analysis of Foundations on Clay', Geotechnique, Vol. 7,
No. 4.
7.22 Taylor, D. W. ( 1 948): Fundamentals of Soil Mechanics, John Wiley
and Sons, New York.
7.23 Terzaghi, K. ( 1 943): Theoretical Soil Mechanics, John Wiley and Sons,
New York.
7.24 Wilkinson, W. B. ( 1968): 'Constant Head In-situ Permeability Tests in
Clay Strata', Geotechnique, Vol. 1 8, No. 2.

, \

BAB 8

Daya Dukung

I
,

Tanah

8. 1 . Pendahuluan
Bab ini membahas tentang daya dukung tanah yang merupakan pendukung pondasi, di
mana suatu pondasi merupakan bagian dari struktur yang menyalurkan beban langsung ke
lapisan tanah di bawahnya. Bila tanah di dekat permukaan mampu mendukung beban
beban struktural maka dapat digunakaan pondasi tapak (footings) atau pondasi rakit (raft).
Pondasi tapak adalah suatu pelat yang relatif kecil yang memberikan dukungan terhadap
bagian dari struktur secara terpisah. Pondasi tapak yang mendukung kolom tunggal disebut
pondasi tapak tunggal (atau pad), sedangkan pondasi tapak yang mendukJrlg satu ke
lompok kolom disebut suatu pondasi tapak gabungan dan yang mendukung dii'lding disebut
pondasi jalur (strip footing). Pondasi raft adalah pelat tunggal yang relatif besar, biasanya
diperkaku, yang mendukung keseluruhan struktur. Bila tanah di dekat permukaan tidak
mampu mendukung beban-beban struktural, maka dipakai tiang pancang (pile) atau tiang
(pier) untuk menyalurkan beban ke tanah yang lebih kuat (batuan) pada kedalaman yang
lebih besar. Posisi pondasi harus berada di bawah kedalaman yang dapat mengalami aksi
pembekuan (sekitar O,S m di Inggris) dan, jika ada, di bawah kedalaman yang telah bebas
dari pemuaian dan penyusutan tanah musiman.
Pondasi harus memenuhi dua persyaratan dasar: ( 1) faktor keamanan terhadap ke
runtuhan geser dari tanah pendukung harus memadai, biasanya sebesar 2,5 sampai 3;
(2) penurunan pondasi dapat teljadi dalam batas toleransi dan penurunan sebagian
(differential settlement) tidak boleh menyebabkan kerusakan serius atau mempengaruhi
fungsi struktur. Daya dukung tanah izin (qa) didefinisikan sebagai tekanan maksimum yang
boleh dikeljakan pada tanah sedemikian r\lpa sehingga kedua kebutuhan dasar di ata:; ter
penuhi. Suatu persyaratan tidak langsung menetapkan bahwa pondasi, dan kegiatan
kegiatan yang terlibat dalam pembangunannya, tidak boleh menimbulkan pengaruh yang
kurang baik terhadap struktur-struktur di sekitarnya serta fasilitas-fasilitas pelayanannya.
Untuk desain pendahuluan, BS 8004 [8.7] memberikan nilai-nilai perkiraan daya <lukung
(Tabel 8.1 ), yaitu besarnya tekanan yang akan teljadi dengan faktor kearnanan terhadap
keruntuhan geser yang cukup memadai, tetapi tanpa memperhitungkan adanya penurunan.
Kerusakan akibat penurunan tanah dapat diklasifikasikan dalam segi-segi arsitektural,
fungsional, atau struktural. Dalam hal struktur portal, kerusakan akibat penurunan biasa
nya ditekankan pada penutup struktur (cladding dan finishing) (yaitu kerusakan arsitek-

iJ

r
Mekanika Tanah

262

Tabel 8. 1 . Perkiraan nilai-nilai daya dukung (BS 8004: 1 986)


Tipetanah
K erikil rapat atau pasir
rapat dan kerikil

Tanda-tanda

>600

Kerikil agak rapat atau

pasir agak rapat dan

kerikil

Kerikillepas atau p a sir


lepas dan kerikil

Pasirpadat

Pasir agak

rapat

Pasir lepas
Lempung berangkal sangat
kaku dan lempung keras

Lempung kaku

Lempung kuat
. Lempung dan lanau lunak

Lempung dan lanau sangat lunak

Le bar pondasi (B) paling


sedildt I m. Muka air tanah

paling sedikit sejarak. B dari


dasar pondasi

200-600
<200
>300
100-300
<lOO
300--600
150-300
75-150
<75

Dapatdngaruhioleh
penurunan konsolldasi
jangka panja ng

tural). Contohnya ialah kerusakan yang hanya diakibatkan oleh penurunan tanah yang
terjadi pada cladding dan finishing. Dalam beberapa ha struktur dapat dirancang dan di
bangun sedemikian rupa sehingga bisa saja terjadi pergerakan dengan tingkat tertentu tanpa
menimbulkan kerusakan. Dalam kasus lain, tidak dapat dihindari terjadinya retakan bila
struktur akan dibuat seekonomis mungkin. Mungkin kerusakan terhadap pelayanan, dan
bukan strukturnya sendiri, akan merupakan suatu kriteria batas. Berdasarkan observasi
observasi tentang kerusakan pada bangunan, Skempton dan MacDonald [8.34] meng
usulkan batas-batas untuk penurunan tanah rnaksimum di mana diperkirakan teijadi ke
rusakan dan juga usulan tentang hubungan antara penurunan maksimum dan distorsi
angular. Besarnya distorsi angular antara dua titik di bawah struktur sarna dengan penurun
an diferensial antara titik-titik tersebut dibagi j arak kedua titik itu. Tidak akan terlihat
adanya kerusakan bila distorsi angular lebih kecil dari 1/300. Untuk pondasi tapak tunggal,
gambaran ini secara kasar dapat dihubungkan dengan penurunan sebesar 50 mm pada pasir
dan 75 mm pada lempung. Batas-batas distorsi angular kemudian diusulkan oleh Bjerrum
[8.2] sebagai suatu petunjuk umum untuk sejumlah situasi struktural [Tabel 8.2] . Dianjur
kan bahwa batas aman untuk menghindari retakan pada dinding-dinding panel dari struktur
portal adalah 1/500. Dalam hal beban-dukung berupa pekeijaan batu bata, kriteria-kriteria
yang dianjurkan oleh Polshln dan Tokar [8.27] biasanya dapat digunakan. Kriteria ini di
nyatakan dalam perbandingan antara defleksi dan panj ang bagian yang berdefleksi dan ter
gantung pada rasio panjang terhadap tinggi bangunan. Besarnya rasio defleksi yang dianjur
kan terletak antara 0,3 x 10-3 sampai 0,7 x 10-3 Dalam hal bangunan yang terdiri dari
potongan pendek, kriteria Polshin dan Tokar harus diambil setengahnya saja.
Pendekatan pada batas-batas penurunan di atas adalah empiris dan dirnaksudkan hanya
sebagai petunjuk umum untuk struktur-struktur yang sederhana. Kriteria kerusakan yang

Daya Dukung Tanah

263

Tabel 8. 2. Batas-batas Distorsi Angular

1/150
1/250

1/300
1/500
1/600
1/750

Diperkirakan terjadi kerusakan struktural pada gedung-gedung secara umum.

Kemiringan gedtmg-gedung tinggi yang kaku dapat dilihat


Diperkirakan te:rjadi retakan pada dinding-dinding panel.

'1'1

Kesulitan dalam pemakaian overhead crane.


Batasan di mana tidak d &inkan terjadinya retak an pada gedung.
Penegangan bedebih (overstressing) pada portal struktural dengan batang

b atang diagonal.
Kesulitan dalam penerapan mesinmesin yang p eka terhadap penurunan.

lebih mendasar adalah regangan batas akibat tarikan di mana retakan pada bahan bangunan
dapat terlihat. ldealnya konsep regangan tarikan batas hams dipakai sehubungan dengan
analisis regangan elastis yaitu dengan memakai idealisasi struktur secara sederhana, ter
masuk pondasi-pondasi, partisi-partisi, dan penutup struktur. Pembahasan yang lebih luas
tentang kerusakan akibat penurunan bangunan-bangunan gedung telah disajikan oleh
Burland dan Wroth [8.12] .
Hasil-hasil dari teori elastis (Gambar 5.8) menunjukkan bahwa penambahan tegangan
vertika1 pada tanah di bawah pusat pondasi jalur selebar B kira-kira sebesar 20% dari
tekanan pondasi pada kedalaman 3B. Dalam hal pondasi tapak bujur sangkar, kedalaman
yang bersesuaian adalah sebesar 1,5B. Untuk tujuan praktis, kedalaman-kedalaman ini
biasanya dapat diterima sebagai batas daerah pengaruh pondasi dan disebut kedalaman
penting (significant depth). Kondisi-kondisi tanah untuk pondasi pada kedalaman penting
harus diketahui dengan baik.

8.2. Daya Dukung Ultimit


1

Daya dukung ultimit (qf) didefmisikan sebagai tekanan terkecil yang dapat menyebabkan
keruntuhan geser pada tanah pendukung tepat di bawah dan di sekeliling pondasi.
Tiga macam cara keruntuhan telah diidentifikasi dan dilukiskan pada Gambar 8.1,
dan akan dideskripsikan dengan mengacu pada pondasi jalur. Dalam hal keruntuhan geser
umum (general shear failure), akan terbentuk suatu permukaan runtuh kontinu di antara
sisi-sisi pondasi dan permukaan tanah seperti terlihat pada Gambar 8.1. Bila tekanan di
naikkan menjadi qf' akan dicapai kondisi keseimbangan plastis mula-mula pada tanah di
sekeliling sisi-sisi pondasi lalu secara bertahap menyebar ke bawah dan ke luar. Akhirnya
kondisi keseimbangan plastis ultimit akan terbentuk pada sepanjang tanah di atas bidang
runtuh. Terjadi pengangkatan (heaving) pada permukaan tanah, yaitu pada kedua sisi pondasi, meskipun gera.kan menggelincir akhirnya hanya akan terjadi pada satu sisi saja, disertai dengan miringnya pondasi. Cara keruntuhan ini terjadi pada tanah berkompresibilitas
rendah (yaitu tanah yang rapat atau kaku) dan bentuk kurva tekanan-penurunan secara
umum diperlihatkan pada Gambar 8.1, di mana daya dukung ultimitnya telah didefinisikan dengan baik. Pada keruntuhan geser lokal {local shear failure) terdapat kompresi yang
cukup besar pada tanah di bawah pondasi dan kondisi keseimbangan plastis hanya terbentuk pada sebagian tanah saja. Permukaan runtuh tidak sampai mencapai permukaan
tanah dan pengangkatan yang terjadi hanya sedikit. Kemiringan pada pondasi dalam hal
ini diperkirakan tidak terjadi. Keruntuhan geser lokal biasanya terjadi pada tanah berkom-

264

M,ekanika Tanah

Tekanan

------,--nM'
'V/
(b)

(c)

'
'

/
/

Gambar 8.1. Caracara keruntuhan: (a) geser umum, (b) geser lokal, (c) geser pons.

presibilitas tinggi dan, seperti terlihat pada Gambar 8.1, ditandai dengan karakteristik
tertentu yaitu teijadinya penurunan yang relatif besar (tidak dapat diterima dalam praktek)
dan kenyataan bahwa daya dukung ultimit tidak dapat didefmisikan. Keruntuhan geser
pons (punching shear failure) teijadi jika terdapat kompresi pada tanah di bawah pondasi,
yang disertai dengan adanya geseran vertikal di sekitar sisi-sisi pondasi. Tidak teijadi peng
angkatan pada permukaan tanah dan pondasi tidak akan miring. Keruntuhan ini dicirikan
dengan teijadinya penurunan yang relatif besar dan daya dukung ultimit yang tidak terde
finisi dengan baik. Keruntuhan geser pons juga akan teijadi pada tanah berkompresibilitas
rendah jika pondasi terletak pada kedalaman yang besar. Secara umum, cara-cara kerun
tuhan tergantung pada kompresibilitas tanah dan kedalarnan pondasi relatif terhadap lebar
nya.
Permasalahan daya dukung tanah dapat diperhitungkan berdasarkan teori plastisitas.
Teori-teori batas atas dan batas b awah (Bagian 6.1) dapat diterapkan guna mendapatkan
penyelesaian untuk daya dukung ultimit suatu tanah. Dalam kasus-kasus tertentu, penye
lesaian eksak dapat diperoleh sesuai dengan penyelesaian persamaan batas bawah dan batas
atas. Akan tetapi, penyelesaian seperti itu didasarkan atas asumsi bahwa tanah dapat di
wakili oleh hubungan tegangan-regangan secara sempurna, seperti terlihat pada Gambar
6.1. Perkiraan ini hanya realistik untuk tanah berkompresibilitas rendah, yaitu tanah yang
dapat mengalami cara keruntuhan geser umum. Tetapi, untuk cara-cara keruntuhan lain
nya, yang menjadi kriteria batas adalah penurunan, dan bukan keruntuhan geser.
Mekanisme keruntuhan untuk pondasi jalur dapat dilihat pada Gambar 8.2. Pondasi
tersebut, dengan lebar B dan panjang tak terbatas, memikul suatu tekanan merata q di
atas permukaan tanah homogen yang isotropik. Parameter-parameter kekuatan geser
tanah adalah c dan if>, tetapi berat isi tanah tersebut diasumsikan sama dengan nol. Bila
besar tekanan menjadi sarna dengan daya dukung ultimit qfmaka pondasi akan tertekan ke
bawah ke dalam tanah dan menghasilkan suatu keadaan keseimbangan plastis, dalam
bentuk zona Rankine aktif, di bawah pondasi tersebut, dengan sudut-sudut ABC dan BAC
sebesar (45 + if>/2). Gerakan bagian tanah ABC ke arah bawah mendorong tanah di sam
pingnya bergerak ke samping, sehingga menghasilkan gaya-gaya lateral ke arah luar pada
k edua sisi bagian tanah tersebut. Zona-zona Rankine pasif ADE dan BGF akan terbentuk
pada kedua sisi bagian tanah ABC, dengan sudut-sudut DEA dan GFB sebesar (45- if>/2).
Transisi antara gerakan ke bawah dari bagian ABC dan gerakan lateral bagian-bagian ADE
dan BGF akan teijadi di sepanjang zona geser radial (disebut juga kipas gelincir) ACD dan

Daya Dukung Tanah

265

1
j
1

Gambar 8.2. Keruntuhan di bawah pondasijalur.

BCG, di mana permukaan-permukaan CD dan CG merupakan spiral logaritmik (atau busur


lingkaran bila cp = 0) di mana BC dan ED, atau AC dan FG, merupakan garis singgung.
Suatu keadaan keseimbangan plastis akan teljadi di atas permukaan EDCGF, sedangkan
sisa tanah lainnya berada dalam keadaan keseimbangan elastis.
Penyelesaian eksak berikut ini dapat diperoleh dengan menggunakan teori plastisitas,
untuk daya dukung ultimit dari suatu pondasi jalur pada permukaan tanah tak berbobot,
berdasarkan mekanisme yang dideskripsi di atas. Untuk kondisi tak-terdrainasi (cpu 0)
di mana kekuatan gesernya adalah cu:
(8.1)
Untuk kasus umum dengan parameter kekuatan geser c dan cp, diperlukan untuk mem
pertimbangkan adanya tekanan akibat beban, q0, yang bekerja pada permukaan tanah se
perti terlihat pada Gambar 8.2. Dalam hal lain, jika c = 0, daya dukung dari tanah tak
berbobot adalah nol. Penyelesaian kasus ini menurut Prandtl dan Reissner adalah:
q1

ccotcfJ[exp(ntancfJ)tan2 (45o +cfJ/2 )

1]
2
p
+ q0[ex (ntancfJ)tan (45o +cfJ/2 )]
-

(8.2)

Tetapi, suatu suku tambahan harus disertakan pada Persamaan 8.2 untuk menghitung
komponen daya dukung akibat berat sendiri tanah. Komponen ini hanya dapat ditentukan
secara kira-kira, dengan cara numerik atau grafis, dan cukup peka terhadap nilai yang telah
diasumsikan untuk sudut-sudut ABC dan BAC pada Gambar 8.2.
Biasanya pondasi tidak diletakkan pada permukaan tanah, seperti yang telah diasumsi
kan pada penyele.saian-penyelesaian di atas, tetapi pada kedalaman D di bawah permukaan
seperti terlihat pada Gambar 8.3. Dalam menerapkan penyelesaian ini, dalam praktek di
asumsikan bahwa kenaikan geser tanah antara permukaan dan kedalaman D diabaikan,
dan tanah tersebut hanya diperhitungkan sebagai beban yang menambah tekanan merata
q0 = 'YD pada bidang horisontal pada elevasi pondasi. lni merupakan suatu asumsi yang
cukup beralasan untuk pondasi dangkal (diinterpretasikan sebagai suatu pondasi yang
dalamnya D tidak lebih besar dari lebarnya B). Tanah di atas elevasi pondasi biasanya lebih
lemah, khususnya jika diurug, daripada tanah pada tempat yang lebih dalam.
Daya dukung ultimit di bawah pondasi jalur dangkal dapat dinyatakan dengan per
samaan umum berikut (menurut Terzaghi):
(8.3)
di mana N1, Ne, dan N adalah faktor-faktor daya dukung yang hanya tergantung pada
nilai cp. Suku pertama d am Persamaan 8.3 menyatakan sumbangan terhadap daya dukung
akibat berat sendiri tanah, suku kedua merupakan sumbangan akibat komponen konstan

; l

il

i'

.
f

Me"kanika Tanah

266

Gambar 8.3. Pondasi pada kedalaman

D di bawah pennukaan tanah.

kekuatan geser, sedangkan suku ketiga adalah sumbangan dari tekanan akibat beban. Perlu
dinyatakan bahwa superposisi kompoen-komponen daya dukung tersebut secara teoretis
tidak benar untuk bahan plastis, tetapi kesalahan-kesalahan yang timbul dianggap masih
berada dalam kondisi aman.
Selama bertahun-tahun faktor-faktor daya dukung dari Terzaghi telah digunakan se
cara luas. Terzaghi (8.36) mengasumsikan bahwa besar sudut-sudut ABC dan BAC pada
Gambar 8.2 adalah cp (yaitu bahwa ABC dianggap bukan merupakan suatu zone Rankine
aktif). Nilai NY diperoleh dengan menentukan tahanan pasif total dan gaya adhesi pada
bidang-bidang AC dan BC. Nilai-nilai Ne dan Nq menurut Terzaghi diperoleh dengan me
modifikasi penyelesaian Prandtl-Reissner. Tetapi nilai-nilai Terzaghi tersebut sekarang tidak
dipakai lagi.
Sekarang dianggap bahwa nilai-nilai Nq dan dalam Persamaan 8.2 harus digunakan
dalam perhitungan-perhitungan daya dukung, yaitu
Nq = exp(ntancj>)tan2(45o + cf>/2)
Ne = (Nq- l )cotcf>

Sekarang nilai yang banyak digunakan untuk faktor NY adalah yang diperoleh oleh Brinch
Hansen (8.18) dan Meyerhof [8.23]. Nilai-nilai ini diperkirakan sebagai berikut:
NY = 1,80 (Nq

1) tan cf>

(Brinch Hansen)

NY = (Nq- 1)-tan(1,4cf>)

(Meyerhof)

Nilai-nilai NY' Ne, dan Nq diplot terhadap cp pada Gambar 8.4. Dalam contoh-contoh pada
bab ini digunakan nilai NY menuru t Brinch Hansen.
Masalah yang timbul dalam memperluas penyelesaian dua-dimensi untuk pondasi jalur
menjadi penyelesaian tiga-dimensi akan cukup besar. Secara bersesuaian, daya dukung
ultimit untuk pondasi bujur sangkar, persegi-panjang, dan bundar ditentukan dengan bantu
an faktor bentuk (shape factors) semi-empiris yang diterapkan pada penyelesaian untuk
pondasi jalur. Faktor-faktor daya dukung Ny, Ne, dan N0 harus dikalikan secara berturut
turut dengan faktor-faktor bentuk s",
' se , dan sq Faktor-faktor bentuk yang diusulkan
oleh Terzaghi dan Peck (8.37) masih sering digunakan dalam praktek meskipun nilainilai tersebut diperhitungkan untuk memberikan nilai-nilai daya dukung ultimit konser
vatif untuk nilai cp yang tinggi. Faktor-faktor tersebut adalah sY = 0,8 untuk pondasi bujur
sangkar atau 0,6 untuk pondasi bundar, se = 1,2 dan sq = 1. Jadi Persamaan 8.3 menjadi
(untuk pondasi bujur sangkar):
.

(8.4)

Daya Dukung Tanah

267

dan untuk pondasi bundar


(8.5)
Untuk pondasi persegi panjang dengan lebar B dan panjang L, faktor-fakto
_ r bentuknya
diperoleh dengan interpolasi linear antara nilai-nilai untuk pondasi jalur (B/L = 0) dan
nilai-nilai untuk pondasi bujur sangkar (B/L = 1), yaitu: s1= 1 -0,2 B/L.
Usulan-usulan alternatif untuk faktor-faktor bentuk telah dibuat oleh DeBeer [8.15)
dan Brinch Hansen [8.18; 8.41) .
Perlu diketahui bahwa hasil-hasil perhitungan daya dukung sangat peka terhadap nilai
nilai asumsi parameter kekuatan geser, terutama untuk nilai r/> yang tinggi. Akibatnya perlu
dipertimbangkan keakuratan parameter-parameter kekuatan geser yang akan dipakai.

Faktor Keamanan
Tekanan sesungguhnya pada tanah akibat berat struktur disebut tekanan pondasi total
(q). Tekanan pondasi netto (qn) adalah kenaikan tekanan pada elevasi pondasi, yang me
rupakan tekanan pondasi total dikurangi berat efektif tanah tiap satuan luar yang telah di
singkirkan, yaitu:

qn = q- yD

(8.6)

Faktor keamanan (F) yang dipertimbangkan karena adanya keruntuhan geser dinyatakan
dalam jaringan daya dukung ultimit (qnf), yaitu:
F

= qnf = qf- yD
q- yD
:Jn

(8.7)

Tetapi, dalam hal pondasi dangkal, hila nilai rp relatif tinggi, tidak terdapat perbedaan
yang cukup berarti antara nilai F yang dinyatakan dalam tekanan netto dan tekanan
bruto.

Nilai Ne menurut Skempton


Dalam suatu tinjauan ulang tentang teori daya dukung, Skempton [8.31] menyirnpulkan
bahwa dalam kasus lempung jenuh air pada kondisi tak-terdrainasi ( rf>u = 0), besarnya daya
dukung ultirnit sua tu pondasi dapat dinyatakan dengan persarnaan:
(8.8)
lli mana faktor Ne merupakan fungsi bentuk pondasi dan rasio kedalaman/lebar. Nilai Ne
menurut Skempton diberikan dalam Gambar 8.5. Faktor untuk pondasi persegi panjang
dengan ukuran B x L (di mana B < L) adalah nilai untuk pondasi bujur sangkar dikalikan
dengan (0,84 + 0,16 B/L).

Beban Eksentris dan Beban Miring


Pondasi dapat menerirna beban eksentris dan beban miring dan kondisi demikian ini dapat
mengurangi daya dukung. Jika e adalah eksentrisitas beban Resultan pada dasar pondasi
selebar B, maka Meyerhof menyatakan bahwa lebar yang efektif adalah sebesar B' dan di
pakai dalam Persamaan 8.3, di mana:
B' = B- 2e

(8.9)

00

5 0

N q "'-

4 5

40

/.

35

30

rp

....

2 5

Meyerhof

20

Ny

vv
v

, ...

Nq
Hansen V
k2:
V
V
/
1 00
V
V
/
50

1 5

oo

....

1/

I/

Vv

w/
/
/- Ne
10

Ny

Ne

I.?V

t;;;
V

Nq

vv

:::'
V1--:1:::-

Ny

1 00

Gambar 8.4. Faktor daya dukung untuk pondasi dangkal.

.....

--

1 000

1:1

Daya Dukung Tanah

269

10

Bundar
atau bujur sangkar
(B/L = 1)
\

v-

/
V/V
k:.

r--

Jatur!B/L

4
0

0)

D/B

IV, menurut Skempton untuk, </> 0. (Diambil dariA. W. Skempton ( 1951) Preecedings
of the Building Research C ongress, Divisi 1, hal. 181, dengan izin dari Director of Building Research
=

Gambar 8.5. Nilai

Esfablishment).

Beban resultan diasumsikan terdistribusi merata sepanjang lebar B'.


Pengaruh beban miring terhadap daya dukung dapat dihitung dengan menggunakan
faktor-faktor kemiringan yang diusulkan oleh Meyerhof. Jika sudut kemiringan dari beban
resultan adalah a terhadap vertikal maka faktor-faktor daya dukung NY, Ne, dan Nq secara
berturutan harus dikalikan dengan faktor-faktor berikut ini:
iy

(1- r:xjc/Jf

(8.1 Oa)

ic = iq = (1- r:xj90f

(8.10b)

Alternatif dari faktor-faktor kemiringan ini telah diusulkan oleh Brinch Hansen [8.18;
8.41].
&latu pendekatan lain dalam hal pembebanan miring adalah dengan menggunakan
aturan empiris berikut, yang diberikan dalam BS 8004 [8. 7]:
V
H
+ -< 1
pv ph

(8.11)

di mana V komponen vertikal dari beban miring, H = komponen horisontal dari beban
miring, Pv beban vertikal izin, dan Ph beban horisontal izin (fraksi tahanan pasif yang
tersedia).
=

270

Mekanika Tanah

Contoh 8.1.

Sebuah pondasi bujur sangkar dengan sisi-sisi 2,25 m diletakkan pada kedalaman 1 m
'
pada pasir, di mana parameter-parameter kekuatan gesernya adalah c 0 dan q/ 38.
Tentukanlah daya dukung ultimit (a) bila muka air tanah berada di bawah elevasi pondasi,
(b) jika muka air tanah berada pada permukaan tanah. Berat isi pasir di atas muka air tanah
adalah 18 kN/m3, berat isi jenuhnya 20 KN/m3.
Untuk pondasi bujur sangkar, daya dukung ultimit (dengan c = 0) diberikan oleh per
samaan:
=

q1 = 0,4BNY + yDNq
Untuk ct>' = 38, faktor-faktor daya dukungnya (Gambar 8.4) adalah NY
49. Karena itu

Nq

qf = (0,4, X 18

2,25

67)+(18

1,5

67 dan

49)

= 1085 + 1323
= 2408 kN/m2

Bila muka air tanah berada pada permukaan tanah, maka daya dukung ultimitnya diberi
kan oleh:

q1 =0,4f'BNY + y'DNq
= (0,4

10,2

2,25

67)+ (10,2

1,5

49)

= 615 + 750
= 1365 kNjm2

Contoh 8.2.
Sebuah pondasi jalur akan didesain untuk memikul beban sebesar 800 kN/m pada kedalam.
an 0, 7 m pada pasir berkerikil. Parameter kekuatan geser yang tersedia adalah c' = 0 dan
'
cp
40. Tentukanlah lebar pondasi bila faktor keamanan terhadap keruntuhan geser di
tentukan sebesar 3 dan diasumsikan bahwa muka air tanah mungkin naik mencapai elevasi
pondasi. Di atas muka air tanah, berat isi pasir adalah 17 kN/m3 dan di bawah muka air
tanah, berat isi jenuhnya adalah 20 kN/m3
Untuk cp' 40, faktor-faktor daya dukungnya (Gambar 8.4) adalah Ny = 95 dan
Nq = 64. Daya dukung ultimit (dalam satuan kN/m2) diberikan oleh:

q1 = h' BNY + yDNq


=(!X 10,2

95)+(17

0,7

= 485 B + 762

q.f = qf - yD = 485 B + 750


Tekanan pondasi netto adalah sebesar:
800

q. =
B

(17

0, 7)

Kemudian, untuk faktor keamanan sebesar 3,


1
800
(485 B + 750) =
- 12
3
B
Hasil akhir,
B = 1,55 m.

64)

Daya Dukung Tanah

271

Contoh 8.3.
Sebuah pondasi bujur sangkar dengan sisi-sisi 2 m ditempatkan pada kedalaman 4 m pada
suatu lempung kaku dengan berat isi jenuh 21 kN/m3 Kekuatan tak-terdrainasi lempung
pada kedalaman 4 m diberikan oleh parameter-parameter cu = 120 kN/m2 dan tf>u = 0.
Untuk faktor keamanan sebesar 3 akibat keruntuhan geser, berapakah beban yang dapat
dipikul oleh pondasi tersebut?
Dalam hal ini D/B = 2 dan dari Gambar 8.5 nilai Ne untuk pondasi bujur sangkar adalah
8.4. Daya dukung ultimit diberikan oleh:

q1 = c.Nc + yD
qnf = c.Nc = 120

8,4 = 1008kN/m2

Untuk F = 3, q. = 1008/3 = 336kN/m2

q = q. + yD = 336 +(21

Beban yang diizinkan= 420

4) = 420 kN/m2

22 = 1680kN.

Contoh 8.4.
Dasar sebuah dinding penahan yang panjang memiliki lebar 3 m dan berada sedalam 1 m
di bawah permukaan tanah di depan dinding. Muka air tanah berada di bawah elevasi dasar
din<;ling. Komponen vertikal dari reaksi dasar adalah 282 kN/m dan komponen horisontal
nya adalah 102 kN/m. Eksentrisitas reaksi dasarnya adalah 0,36 m. Jika parameter-para
meter kekuatan geser untuk tanah pondasi yang tersedia adalah c' = 0 dan tj>' = 35, dan
berat isi tanah adalah 18 kN/m3, tentukanlah faktor keamanan terhadap keruntuhan
geser.
Le bar efektif dasar dinding

diberikan oleh:

B' = B -2e = 2,28 m

Untuk tj>' = 35<>, faktor-faktor daya dukung (Gambar 8.4) adalah NY = 41 dan Nq 33.
&ldut kemiringan (terhadap vertikal) dari beban resultan adalah sebesar a tan -I
(102/282) = 20. Jadi faktor-faktor kemiringan, menurut Meyerhof, adalah:
=

iy = (1 - 20/35)2 = 0,18
jq = (1 - 20/90)2 = 0,61
Daya dukung ultimit:

q1 = ty B' Nyiy + y DNqiq


= (t X 18 X 2,28 X 41
=

151 + 362 = 513 kN/m2

q.1 = q1- yD = 495kN/m2


Tekanan netto pada dasar:
282

- 18 = 106kN/m2
q. =
2 28
'

Faktor keamanan:
F_

0, 18) + (18

qnf 495
-106- 47
q.
_

33

0,61)

Mekanika Tanah

272

Kenmtuhan pada Dasar Galian

Dinyatakan oleh Bjerrum ctan Eicte [8.4] bahwa nilai menurut Skempton ctapat juga
ctigunakan cat lam analisis kestabilan ctasar pacta galian-galian sementara pacta lempung jenuh
(Gambar 8.6). Kestabilan ctasar telah ctisebutkan ctalam Bagian 6.8. Analisis tersebut cti
batasi pacta kasus cti mana galian-galian itu ctisangga atau ctiangkur sectemikian rupa se
hingga perpinctahan horisontal yang cukup berarti tictak teijacti. Selama penggalian ber
langsung, tegangan geser terbentuk pacta lempung cti bawah ctasar galian akibat berat tanah
cti sekitarnya cti luar galian. Jika tegangan ini lebih besar ctari kekuatan geser tak terctrai
nasi lempung, maka akan terjacti keruntuhan lokal (local failure) ctengan terlihatnya ctasar
galian terctorong ke atas, ctan suatu penurunan yang bersesuaian akan terjacti pacta lempung
cti luar galian, cti ctekat satu atau lebih sisi-sisi galian itu. Permasalahan ini analog ctengan
masalah ctaya ctukung. Dalam masalah keruntuhan pacta ctasar galian, tanah tictak ctibebani
bahkan berkurang bebannya pacta saat proses penggalian berlangsung, berlawanan ctengan
actanya pembebanan pacta masalah ctaya ctukung, sehingga tegangan geser yang bersesuaian
bekerja berlawanan arah ctalam kectua kasus tersebut.
'Keruntuhan ctasar galian akan terjacti pacta kedalaman kritis De, yang bersesuaian
ctengan qf= 0 ctalam Persamaan 8.8. Jacti,

. Nilai cu yang tersectia berlaku pacta tempat-tempat tepat cti bawah ctan cti ctekat ctasar
galian. Secara umum faktor keamanan terhactap keruntuhan ctasar sebuah galian sectalam
iJJ ctiberikan oleh
F

cuNc

(8.12)

yD

Jika di atas permukaan di dekat galian bekerja suatu tekanan akibat be ban luar, maka besar
tekanan terse but ditambahkan pada 'YD sebagai penyebut dalam Persamaan 8.12.

I--

----j

7/>

/A;7,,(

',<::::;'

Garnbar 8.6. Keruntuhan pada dasar galian.

Daya Dukung Tanah

273

8.3. Daya Dukung Izin pada l..empung

Daya dukung izin pada lempung, lempung berlanau, dan lanau plastis mungkin dapat di
batasi oleh faktor keamanan terhadap kemntuhan geser yang memadai maupun oleh per
timbangan-pertimbangan penurunan tanah. Kekuatan geser, dan tentu saja faktor keaman
annya, akan bertambah setiap saat terjadi konsolidasi. Untuk lempung homogen dengan
permeabilitas massa yang rendah, faktor keamanan yang digunakan hams diperiksa untuk
kondisi segera setelah tahap konstmksi berakhir, dengan memakai parameter-parameter
kekuatan geser tak terdrainasi. Tetapi, dalam hal lempung yang menunjukkan ciri-ciri
makro-fabrik yang cukup ,,berarti permeabilitas massa mungkin menjadi relatif tinggi dan
kondisi tak-terdrainasinya mungkin terlalu konservatif pada saat tahap konstmksi berakhir.
Metode penaksiran penumnan segera (immediate settlement) pada kondisi tak-terdrainasi
dan penurunan konsolidasi jangka panjang dijelaskan secara terinci, berturut-turut, dalam
Bab 5 da11 Bab 7. Untuk sebagian besar kasus dalam praktek, perhitungan penumnan yang
sederhana sudah cukup memadai dengan adanya parameter-parameter tanah di lapangan
yang telah ditentukan. Ketepatan dalam peramalan penurunan lebih dipengaruhi oleh ke
tidaktepatan nilai parameter tanah daripada oleh kekurangan metode analiisis. Gangguan
pada pengambilan contoh dapat memiliki pengaruh yang serius dalam penentuan nilai
nilai parameter tanah di laboratorium. Dalam analisis penumnan, tingkatan ketepatan
yang sama tidak terlalu diharapkan seperti misalnya pada perhitungan struktural.
Faktor keamanan dan penurunan segera hams diperkirakan berdasarkan beban mati
ditambah beban hidup awal (jangka pendek). Perl<.iraan penurunan konsolidasi hams di
dasarkan atas beban mati ditambah beban hidup rata-rata yang diharapkan bekea dengan
waktu yang sangat lama.
Penurunan pada lempung yang terkonsolidasi berlebihan tergantung pada apakah
tekanan prakonsolidasinya dilampaui, dan yang lebih luas lagi tergantung pada macam
pondasi. Tekanan dukung biasanya hams dibatasi sehingga tekanan prakonsolidasinya tidak
dilampaui. Pada kasus sederetan pondasi tapak, penumnan sebagian dapat dikurangi
-dengan menambah uk uran pondasi yang terbesar melebihi yang dibutuhkan oleh daya
dukung izin. Pondasi biasanya tidak didukung pada lempung yang terkonsolidasi normal
karemi penurunan konsolidasi yang dihasilkan akan sangat besar.
Jika suatu lapisan lempung lunak terletak di bawah lapisan yang keras yang merupa
kan letak pondasi, maka terdapat kemungkinan bahwa pondasi tersebut dapat patah ke
arah lapisan lunak tersebut. Kemungkinan seperti ini dapat dihindari jika pertambahan
tegangan vertikal pada elevasi puncak lempung lebih kecil dari daya dukung izin lempung
tersebut dikalikan dengan suatu faktor yang sesuai.

8.4. Daya Dukung Izin pada Pasir

Pada bagian ini, istilah pasir mencakup juga pasir berkerikil, pasir berlanau, dan lana non
plastis. Hampir semua deposit pasir bersifat non-homogen dan daya dukung izin untuk pon
dasi dangkal dibatasi oleh pertimbangan-pertimbangan tentang penurunan, kecuali dalam
kasus pondasi sempit. Umumnya penurunan yang diizinkan akan tercapai pada suatu
tekanan di mana faktor keamanan terhadap keruntuhan geser lebih besar dari 3. Tetapi
dalam hal pondasi yang sempit, kemntuhan geser mempakan suatu pertimbangan yang
membatasi. Bila faktor-faktor lainnya tidak berbeda, tekanan yang akan mengakibatkan
penurunan izin pada pasir rapat akan lebih besar dari tekanan yang akan mengakibatkan
penurunan izin pada pasir lepas. Penurunan pada pasir berlangsung dengan cepat dan teadi

1
j
I

274

Mekanika Tanah

hampir seluruhnya pada waktu pelaksanaan konstruksi dan pembebanan awal. Oleh karena
itu, penurunan harus diperkirakan dengan memakai beban mati ditambah dengan beban
hidup maksimum.
Penurunan diferensial di antara beberapa pondasi tapak ditentukan terutama oleh ada
nya keragaman homogenitas pasir pada kedalaman yang cukup besar dan lebih jauh lagi
oleh adanya keragaman tekamin pada pondasi. Menurut Terzaghi dan Peck [8.37], catatan
tentang penurunan menunjukkan bahwa penurunan diferensial di antara pondasi tapak
yang ukurannya kira-kira sama yang mendapat tekanan yang sama pula besarnya tidak
akan lebih besar dari 50% penurunan maksimum. Jika ukuran pondasi tersebut berbeda
beda, maka penurunan diferensialnya akan lebih besar lagi. Penurunan maksimum dari
pondasi yang mendapat tekanan yang sama akan makin besar dengan makin besarnya
ukuran pondasi. Penurunan pondasi bujur sangkar dan pondasi jalur dengan lebar yang
sama tidak banyak berbeda. Untuk sua tu tekanan dan ukuran pondasi tertentu, penurunan
akan sedikit berkurang dengan bertambahnya kedalaman pondasi tersebut di bawah muka
air tanah karena ternyata tekanan batas lateral (lateral confming pressure) akan lebih besar;
Pada sebagian besar kasus, meskipun ukuran dan kedalaman pondasi amat beragam, pe
nurunan diferensial tidak akan lebih besar dari 75% penurunan maksimum. Beberapa
kasus yang telah dilaporkan menunjukkan bahwa besarnya penurunan diferensial hampir
sama dengan penurunan maksimum.
Suatu kriteria desain yang cukup beralasan untuk pondasi di atas pasir adalah suatu
penurunan maksimum izin sebesar 25 mm. Penurunan diferensial antara dua pondasi tapak
sembarang akan lebih kecil dari 20 mm. Penurunan diferensial dapat dikurangi dengan cara
mengurangi ukuran pondasi tersebut, asalkan faktor keamanan terhadap keruntuhan geser
tetap lebih besar dari nilai yang ditentukan.
Distribusi penurunan di bawah suatu pondasi rakit (raft) berbeda dengan distribusi
penurunan untuk satu deret pondasi tapak. Penurunan pondasi tapak dibentuk oleh karak
teristik-karakteristik tanah yang relatif dekat dengan permukaan dan sebuah pondasi tapak
mungkin dipengaruhi oleh adanya suatu kantong tanah lembek (weak pocket .of soil).
Penurunan pondasi rakit, di sisi lain, dibentuk oleh karakteristik tanah pada kedalaman
yang jauh lebih besar. Kantong-kantong tanah lembek mungkin terdapat secara acak pada
kedalaman ini tetapi cenderung diabaikan. Besarnya penurunan diferensial suatu pondasi
rakit sebagai persentase penurunan maksimum kira-kira adalah setengah dari persentase
satu deret pondasi tapak. Jadi untuk suatu penurunan diferensial sebesar 20 mm atau
kurang, kriteria untuk penurunan maksimum suatu pondasi rakit sama seperti satu deret
pondasi topik, yaitu sebesar 50 mm.
Daya dukung izin untuk pasir tergantung terutama pada kerapatan relatif, sejarah te
gangan, posisi muka air tanah relatif terhadap elevasi pondasi, dan ukuran pondasi. Yang
tidak kalah penting adalah bentuk partikel dan gradasinya. Baik besarnya penurunan mau
pun nilai parameter kekuatan geser rp' keduanya sangat tergantung pada kerapatan relatif.
Tetapi besarnya penurunan juga dipengaruhi oleh sejarah tegangan dari deposit, yaitu apa
kah pasir tersebut terkonsolidasi normal atau terkonsolidasi berlebihan, dan juga alur te
gangan sebelumnya. Bila terdapat dua jenis pasir yang memiliki kerapatan relatif yang
sama tetapi yang satu terkonsolidasi normal sedangkan lainnya terkonsolidasi berlebihan,
maka penurunan pada pasir yang terkonsolidasi berlebihan, maka penurunan pada pasir
yang terkonsolidasi normal akan lebih besar meskipun dibebani dengan beban yang sama .
Muka air tanah sangat mempengaruhi besarnya penurunan dan daya dukung ultimit. Jika
pasir pada kedalaman yang cukup besar bersifat jenuh sempurna, maka berat isi efektif
nya kira-kira akan menjadi setengah dari semula, sehingga menyebabkan teijadinya reduksi
tekanan batas lateral (lateral confining pressure) dan bersesuaian dengan terjadinya per
tambahan penurunan. Berat isi efektif yang telah tereduksi juga akan mengurangi nilai daya

Daya Dukung Tanah

275

dukung ultimit. Bentuk pondasi menentukan besarnya kedalaman yang diperlukan sehingga
karakteristik-karakteristik tanah pada kedalaman tersebut cukup relevan. Perlu diketahui
bahwa penurunan yang tak diramalkan sebelumnya dapat disebabkan oleh berkurangnya
kerapatan relatif akibat gangguan pada pasir pada saat konstruksi. Penurunan dapat juga
disebabkan karena berkurangnya tekanan batas lateral, sebagai contoh adalah akibat dari
adanya galian di sekitarnya. Jika deposit pasir bersifat lepas, maka getaran dapat mengu
rangi volumenya, sehingga menyebabkan penurunan yang perlu diperhitungkan. Pasir lepas
harus dipadatkan sebelum konstruksi, misalnya dengan menggunakan teknik pemadatan
getar (vibro-compaction) [Bagian 8.6] , atau dengan menggunakan tiang pancang.
Akibat dari sulitnya memperoleh contoh-contoh pasir tak terganggu untuk keperluan
pengujian di Laboratorium dan karena sifat heterogenitas pada deposit pasir, maka daya
dukung izin lazimnya d ihitung dengan menggunakan korelasi-korelasi yang didasarkan atas
hasil-hasil pengujian di lapangan. Pengujian-pengujian tersebut adalah uji dukung ,pelat
(plate bearing test) dan uji penetrasi dinamik atau statik.

Uji Dukung Pelat


Pacta uji dukung pelat (plate bearing test), pasir dibebani melalui sebuah pelat bqja yang
luasnya paling sedikit 300 mm2, dan pembacaan-pembacaan beban dan penurunan dilaku
kan pacta saat teijadi keruntuhan atau pacta saat, paling sedikit, dicapai nilai 1,5 kali daya
duung izin yang telah diperlukan. Penambahan be ban harus dilakukan k ira-kira pacta tiap
seperlima nilai daya dukung izin yang diperkirakan tercapai. Pelat uji umumnya diletak
kan pacat ketinggian pondasi di dalam sebuah lubang uji (pit) yang luasnya paling sedikit
1,5 m2 Pengujian tersebut boleh dikatakan sah bila dilakukan hanya pacta pasir yang
putirannya merata pacta "kedalaman penting" (significant depth) sesuai dengan skala pon
dasi yang sebenamya. Sedikit lapisan lembek pada tanah setempat di dekat permukaan
akan mempengaruhi hasil-hasil pengujian tanpa menimbulkan pengaruh yang besar ter
hadap skala pondasi penuh. Di pihak lain, suatu lapisan lembek di bawah kedalaman
penting dari pelat uji tetapi berada dalam kedalaman penting dari pondasi, seperti tetlihat
pada Gambar 8.7, akan tidak berpengaruh terhadap hasil-hasil pengujian; tetapi lapisan
lemah tersebut tidak akan menimbulkan pengaruh besar terhadap unjuk keija pondasi.
Penurunan pacta pasir akan bertambah jika ukuran luas pembebanan ditambah dan
masalah utama dalam penggunaan uji tumpu pelat adalah perlunya diadakan ekstrapolasi
penurunan sebuah pelat uji menjadi skala pondasi penuh. Korelasi yang diperlukan ter-

r-- B----]

Uji
dukung
pelat

Qn

Pondasi

Lapisan l embek

Gambar 8.7. Pengaruh adanya lapisan lembek.

1
I

Mekanika Tanah

276

gantung pada kerapatan relatif tanah, distribusi ukuran partikel, dan sejarah tegangan pasir
yang bersangkutan, dan sekarang ini tidak terdapat metode ekstrapolasi yang terpercaya.
Bjerrum dan Eggestad

[8.3],

misalnya, dari suatu studi tentang catatan pada berbagai

kasus, menunjukkan bahwa terdapat suatu sebaran (scatter) yang dapat dipertimbangkan
dalam hubungan antara penurunan dan luas pembebanan untuk suatu tekanan tertentu

yang diberikan. ldealnya, uji dukung pelat harus dilakukan pada beberapa kedalaman yang
berbeda dan menggunakan pelat-pelat berbagai ukuran sehingga dapat dibuat ekstrapolasi,

tetapi hal ini biasanya merupakan penyimpangan pada ekonomis tanah. Masalah-ma salah

yang lebih jauh akan ditemukan jika pengujian-pengujian harus dilakukan di bawah muka
air tanah.

Uji pelat-sekrup (screw-plate test) adalah sua tu bentuk dari uji dukung yang tidak me

merlukan galian. Pelat tersebut menekan ke dalam pasir secara rotasi dan dapat diatur
letaknya pada suatu deret kedalaman di atas maupun di bawah muka air tanah. Pembeban
an dilakukan melalui selubung (shaft) pelat sekrup.

Uji Penetrasi Stan<kr


Uji penetrasi dinamik ini, ditetapkan dalam BS

1377,

dipakai untuk menilai kerapatan

relatif di lapanganpada sua tu deposit pasir. Uji ini dilakukan dengan menggunakan sua tu

tabung pengambil contoh tersebut (Gambar lO.Sc), yang memiliki diameter luar sebesar

50

mm,

diameter dalam

35

mm,

dan panjang kira-kira

650

mm, yang disambung pada

ujung batang bor. Tabung tersebut dipancangkan ke dalam pasir pada dasar lubang bor
yang telah diberi sekat penahan (caling) dengan bantuan sebuah martil seberat 65 kg yang
dijatuhkan dengan bebas dari ketinggian

760

mm ke arah puncak batang bor. Di lnggris,

suatu mekanisme "trip-release" dan rakitan pemandu (guide assembly) lazim dipakai

untuk mengontrol jatuhnya martil, dan suatu landasan yang dipasang pada ujung bawah

rakitan dipakai untuk menyalurkan pukulan pada batang bor. Tetapi, metode pelepasan
/

martil tidak sama untuk setiap negara di dunia. Lubang bor harus dibersihkan sampai ke

dalaman yang diperlukan, dan harus dilakukan dengan sangat berhati-hati untuk memasti

kan bahwa ma terial yang akan diuji tidak terganggu, karena pemancaran Getting) yang
merupakan salah satu bagian dari pemboran sebaiknya dihindarkan. Sekat penahan se\

baiknya tidak dipancang di bawah elevasi di mana pengujian akan dimulai.

Mula-mula tabung dipancangkan sedalam 10 mm ke dalam pasir untuk mendudukkan

tabung tersebut dan untuk melewati pasir terganggu pada dasar lubang bor. Banyaknya
pukulan yang diperlukan untuk memancangkan tabung sedalam

300 mm perlu dicatat:


tahanan penetrasi standar (N). Banyaknya pukulan yang diperlukan
tiap.penetrasi sebesar 715 mm (termasuk pema ncangan awal) harus dicatat secara te.r
Jika pada pukulan ke 50 belum juga menghasilkan penetrasi sebesar 300 mm, maka

bilangan ini.disebut

untuk
pisah.

tidak perlu dilakukan pukulan lebih lanjut tetapi penetrasi sebenarnya harus dicatat. Pada
akhir pengujian, tabung dicabut dan pasir yang terdapat di dalamnya dikeluarkan. Peng

ujian-pengujian lazimnya dilakukan pada selang antara


lama n sekurang-kurangnya sarna dengan lebar pondasi

0,75 m
(B). Bila

dan

1,50

m sarnpai keda

pengujian akan dilakukan

pada tanah berkerikil, maka sepatu pemancang (driving shoe) diganti dengan sebuah ke
rucut pejal bersudut

60.

Telah terbukti bahwa hasil-hasil yang diperoleh pada material

yang sama akan sedikit lebih tinggi bila sepatu pemancang norma l diganti dengan kerucut

60.

Bila melakukan pengujian di bawah muka air tanah, harus diperhatikan agar air tidak

masuk melewati dasar lubang bor karena hal ini cenderung akan rnembuyarkan pasir akibat
tekanan rembesan ke atas. Air harus ditambahkan sesuai keperluan untuk mempertahan

kan tinggi muka air tanah di dalam lubang bor (atau pada ketinggian yang dibutuhkan

Daya Dukung Tanah

277

untuk mengimbangi tekanan air pori berlebihan). Bila pengujian dilakukan pada pasir yang
sangat halus atau pasir berlanau di bawah muka air tanah, nilai N yang diukur, bila lebih
besar dari 15, harus dikoreksi untuk penrupbahan tahanan akibat tekanan air pori berlebih
an negatif yang terjadi pada saat pemancangan dan tidak dapat segera hilang. Nilai yang
te1ah dikoreksi tersebut diberikan oleh,

N' = 15 + t{N- 15)

(8.13)

Skempton [8.33] meringkaskan bukti-bukti tentang pengaruh prosedur pengujian


terhadap nilai tahanan penetra'si standar. Nilai N yang diukur harus dikoreksi untuk m;m
biarkan penerapan metode pelepasan martil yang berbeda-beda, perbedaan tipe landasan,
dan perbedaan panjang total batang-batang bor. Hanya energi yang sampai pada tabung saja
yang dipakai dalam penetrasi pasir, di mana rasio dari energiyang 'sampai terhadap energi
jatuh bebas martil disebut sebagai rasio energi batang. Rasioasio energi batang untuk
prosedur operasi yang digunakan pada beberapa negara bervariasi antara 45% dan 78%.
Untuk mekanisme "trip-release", rakitan pemandu, dan landasan yang umum digunakan
di lnggris, rasio energi untuk panjang batang yang lebih besar dari 10 m adalah 60%. Telah
direkomendasikan bahwa suatu rasio energi batang standar sebesar 60% harus diambil dan
bahwa semua hasil pengukuran N harus dinormalisasi, dengan penyesuaian sederhana dari
rasio-rasio energi, terhadap rasio energi standar ini, di mana nilai-nilai normalisasi ditandai
dengan N60. Jika batang bor pendek (< 10 m) dipakai dalam pengujian maka akan terjadi
suatu pemantulan energi dan menghasilkan kehilangan energi yang lebih besar. Suatu
koreksi yang lebih jauh harus dilakukan terhadap nilai N hasil pengukuran jika panjang
batang totalnya lebih kecil dari 10 m. Sebagai contoh, jika dipakai batang sepanjang
3-4 m maka diusulkan suatu faktor koreksi sebesar 0,75. Suatu pengaruh tambahan dapat
juga ditirnbulkan oleh diameter lubang bor, di mana telah terbukti bahwa nilai-nilai N
yang lebih rendah diperoleh pada lubang bor berdiameter 150 mm dan 200 mm, sedang
kan yang diameternya kurang dari 115 mm menghasilkan N yang lebih tinggi. Faktor
faktor koreksi percobaan untuk lubang bor 150 mm adalah 1 ,05 sedangkan untuk lubang
bpr 200 mm sebesar 1,15.
Kerapatan relatif pasir telah dideskripsikan oleh Terzaghi dan Peck [8.37], dalam per
nyataan yang umum, berdasarkan tahanan penetrasi standar, seperti terlihat dalam kolom
kolom (1) dan (2) pada Tabel 8.3. Nilai-nilai numerik dari kerapatan relatif, seperti ter
lihat pada kolom (3), selanjutnya ditambahkan oleh Gibbs dan Holtz [8.17] . Tetapi tahan
an penetrasi standar tidak hanya tergantung pada kerapatan relatif saja tetapi juga pada
tegangan efektif pada kedalaman yang diukur, di mana tegangan efektif dapat diwakili,
sebagai perkiraan awal, oleh tekanan efektif akibat tanah di atasnya. Ketergantungan ini
pertama kali didemonstrasikan di laboratorium oleh Gibbs dan Holtz dan kemudian di
cocokkan di lapangan. Pasir dengan kerapatan relatif yang sama akan memberikan nilai
tahanan penetrasi standar yang berbeda pada kedalaman yang berbeda. Beberapa usulan
telah dibuat untuk mengoreksi nilai N hasil pengukuran mengikuti hasil karya Gibbs dan
Holtz. Nilai yang telah dikoreksi (N1) dihubungkan dengan nilai hasil pengukuran (N)
oleh faktor eN, di mana:
(8.14)

Hubungan antara eN dan tekanan efektif akibat tanah di atasnya yang ditunjukkan pada
Gambar 8.8 mewakili suatu konsensus dari proposal-proposal yang telah dipublikasikan.
Hubungan antara tahanan penetrasi standar (N), kerapatan relatif (D,), dan tekanan
efektif akibat tanah di atasnya ( akN/m2) berikut ini diusulkan oleh Meyerhof:

-=

D/

a()
a+b

100

(8.15)

Mekanika Tanah

278

"'
>
c:
..

!!!

"'

::0
.t:

"'
...
...
"'
.!:l

32

"'
c:
"'
c:
"'
-"
Q)
1-

Faktor koreksi eN

0,5

100
200
300

400

1,0

I
I
I

1,5

2,0

500

Gambar 8.8. Koreksi nilai-nilai tahanan penetrasi standar basil pengukuran.

Nilai-nilai parameter-parameter a dan b untuk sejumlah pasir diberikan oleh Skempton


[8. 33]. Karakteristik suatu pasir dapat diwakili oleh (Nt}60 dan (Nd60fD;, di mana
(N1 )60 adalah tahanan penetrasi standar yang telah dinormalisasi terhadap suatu rasio
energi batang sebesar 60% dan suatu tekanan efektif akibat tanah di atasnya sebesar
100 kN/m2 Nilai-nilai (Nt)60 yang telah tersedia ditambahkan ke dalam klasifikasi
Terzaghi dan Peck dengan kerapatan relatif dari Skempton, seperti terlihat dalam kolom
( 4) pada Tabel 8.3. Tabel 8.3 harus dipertimbangkan untuk diterapkan pada pasir terkon
solidasi normal.
. Terdapat bukti bahwa tahanan penetrasi standar juga dipengaruhi oleh gradasi dan
bentuk partikel, tingkat konsolidasi berlebihan (overconsolidation degree), dan waktu ke
tika pasir telah mengalami konsolidasi (disebut sebagai pengaruh usia). Bila faktor-faktor
lainnya sama, bukti tersebut menunjukkan bahwa tahanan penetrasi .standar akan ber
tambah dengan makin besarnya ukuran partikel, bertambahnya rasio overkonsolidasi
(OCR), dan pengaruh usia.
Suatu korelasi antara parameter kekuatan geser q/, tahanan penetrasi standar, dan
tekanan efektif akibat tanah di atasnya, telah dipublikasikan oleh Schmertmann [8.30],
tetapi berdasarkan karya sebelumnya oleh De Mello, diperlihatkan dalam Gambar 8.9.
Harus diperhatikan bahwa grafik ini hanya merupakan suatu perkiraan secara kasar dari
nilai cp' dan tidak boleh digunakan untuk kedalaman-kedalaman yang dangkal.

Tabel 8.3. Kerapatan Relatif Pasir

(I )

NilaiN
0-4
4-10
10-30
30-50
>50

(2)

Klasifikasi

Sangat lepas

Lepas
Agak rapat

Rapat
Sangat rapat

:>6)

D, (%)

o-=ts
15-35
35-65
65-85
85-100

(4)'
(Nt}oo

0-3
3-8
8-25
25-42
42-58

Daya Dukung Tanah

279

Tekanan efektif akibat tanah di atasnya (kN/m2 )

Gambar 8.9. Korelasi antara parameter kekuatan geser <f}, tahanan penetrasi standar, dan tekanan
efektif akibat tanah di atasnya. (Diambil dari J.H. Schmertmann (1975). Pr oceeding of Conference on
In Situ Measurement of Soil Properties, dengan izin American Society of Civil Engineers).

Me tode Desain Gabungan


Pada tahun 1948, Terzaghi dan Peck [8.37) mengemukakan korelasi-korelasi empms
antara tahanan penetrasi standar, lebar pondasi, dan tekanan dukung yang memberikan
penurunan maksimum sebesar 25 mm (dan penumnan diferensial sampai 75% dari pe
nurunan maksimum). Menurut Terzaghi dan Peck, korelasi yang diperlihatkan pada
Gambar 8.10 tersebut dapat diterapkan pada situasi-situasi di mana jarak muka air tanah
tidak lebih kecil dari 2B di bawah pondasi, di mana B adalah lebar pondasi. Jika pasir pada
ketinggian pondasi bersifat jenuh air, maka tekanan-tekanan yang diperoleh dari Gambar
8.10 hams direduksi sebesar setengahnya jika rasio kedalaman/lebar pondasi bernilai nol,
dan direduksi dengan sepertiganya bila rasio kedalarnan/lebar pondasi bernilai satu. Untuk
posisi-posisi muka air tanah pertengahan dan rasio kedalaman/lebar yang penengahan pula,
maka nilai tekanan dukung yang teijadi dapat diperoleh dengan interpolasi linear. Tetapi
rekomendasi-rekomendasi ini sekarang dianggap menghasilkan suatu reduksi tekanan izin
yang tedalu sedikit, dan suatu koreksi perlu dilakukan hanya jika posisi muka air tanah
berada dalam rentang kedalaman sebesar B di bawah pondasi. Peck, Hanson, dan Thornburn
[8.26) mengusulkan bahwa interpolasi linear hams digunakan di antara suatu reduksi se
besar 50% jika muka air tanah berada pada permukaan tanah dan reduksi sebesar nol bila
muka air tanah berada sedalam B di bawah pondasi. Jadi nilai tekanan dukung izin yang
diperoleh dari Gambar 8.10 hams dikalikan dengan suatu faktor Cw, yang diberikan oleh:

Cw

0,5 + 0,5

Dw

(8.16)

--

D+B

di mana Dw adalah kedalaman muka air tanah di bawah permukaan dan D adalah keda
laman pondasi.
Terzaghi dan Peck menyatakan bahwa korelasi-korelasi yang mereka buat mempakan
suatu dasar yang aman untuk desain pondasi dangkal. Pondasi terbesar tidak boleh meng
. alami penumnan sebesar lebih dari 25 mm meskipun pondasi tersebut ditempatkan pada
kantong pasir yang paling kompresibel. Perlu diketahui bahwa korelasi-korelasi dari
Terzaghi dan Peck tidak dimaksudkan untuk menghasilkan nilai penumnan yang sebenar

Mekanika Tanah

280
700

Penurunan max 25 m m
600

500

z
.:./.
<:
.
Cl
<:
::>
.:./.
::>
"0
<:
"'
<:
"'

.:./.
Cl)
f-

400

300

200

"-.

......

....___

r----

50

!'-------

t---

........_

40

c
t!

....___ --

30 ;;;

...
Cl)
<:
Cl)
c.
<:
"'
<:
20

----r--

1 00

Gambar 8 . 1 0.

10

l,..e bar pondasi B(m )

Hubungan antara tahanan penetrasi standar dan tekanan dukung izin (Diambil dari
(1967) Soil Mechanics in Engineering Practice, dengan izin dari John Wiley

K. Terzaghi dan R. B. Peck

and Sons, Inc. )

nya untuk portdasi-pondasi yang penting, tetapi hanya untuk meyakinkan bahwa penurun
an maksimum yang terjadi tidak akan lebih besar dari 25 mm.
Dalam menggunakan korelasi terse but, nilai N rata-rata perlu ditentukan untuk setiap
lubang bor pada lokasi yang ditinjau dan nilai rata-rata terendahnya kemudian dipakai
dalam desain. Untuk suatu deret pondasi, tekanan dukungnya diperoleh untuk pondasi
yang terbesar. Nilai tekanan ini kemudian digunakan untuk menghitung dimensi semua
pondasi lainnya, dimaksudkan untuk memeriksa faktor keamanan terhadap keruntuhan
geser. Dalam hal pondasi rakit (rafts), tekanan dukung izin yang diperoleh dari grafik
desain harus dilipatduakan karena suatu penurunan rnaksimum sebesar 50 mm diperhi
tungkan masih bisa diterima.
Pengukuran penurunan pada struktur sesungguhnya telah menunjukkan bahwa me
tode Terzaghi dan Peck terlalu konservatif. Meyerhof [8.24] merekomendasikan bahwa
tekanan dukung izin yang diperoleh dari metode Terzaghi dan Peck harus dinaikkan se
besar 5 0% dan bahwa tidak perlu dilakukan koreksi terhadap posisi muka air tanah, dengan
alasan bahwa pengaruhnya telah tercermin pada nilai N hasil pengukuran.
Pengaruh tekanan efektif akibat tanah di atasnya tidak diperhitungkan dalam korelasi
asli dari Terzaghi dan Peck dan sekarang telah diakui bahwa nilai tahanan penetrasi standar

Daya Dukung Tanah

281

(N

yang telah dikoreksi


t ) , yang ditentukan dari Garnbar 8 .8, harus digunakan dalarn
menentukan tekanan dukung izin. Perlu dicatat bahwa sejarah tegangan pasir tidak diper
hitungkan dalam prosedur desain dari Terzaghi dan Peck.
Burland, Broms, dan De Mello [8 .9) telah membandingkan data penurunan dari se
jumlah sumber dan memplot penurunan tiap satuan tekanan
terhadap lebar pondasi
(B). Garis-garis yang merupakan batas atas kemudian digarnbarkan untuk pasir rapat dan
pasir agak rapat. Grafik ini, yang terlihat pada Garnbar 8. 1 1 , cukup memadai untuk peker
jaan rutin. "Kemungkinan" penurunan dapat diarnbil sebesar, katakanlah, 50% dari nilai
batas atas. Pada sebagian besar kasus, penurunan maksirnum tidak akan leih besar dari
75% nilai batas atas. Faktor-faktor seperti kedalarnan pondasi dan posisi muka air tanah
tidak perlu diperhatikan. Penggunaan grafik tersebut memberi arti bahwa hubungan pe
nurunanftekanan diperkirakan tetap linear.
Burland dan Burbidge [8. 1 0) telah mengadakan suatu analisis statistik yang meliputi
200 buah catatan tentang penurunan pondasi pada pasir dan kerikil. Silatu hubungan di
buat antara kompresibilitas tanah (a1), lebar ondasi (B) dan nilai rata-rata tahanan pene
trasi standar (N) pada kedalarnan penting dari pondasi. Kompresibilitas diberikan oleh ke
2
miringan grafik penurunan/tekanan, dalam satuan mm/(kN/m ), di dalam rentang kerja
tekanan. Terdapat suatu bukti yang menunjukkan bahwa jika
cenderung meningkat se
suai dengan kedalarnan tanah atau mendekati konstan terhadap kedalarnan, maka rasio
pengaruh kedalaman terhadap lebar pondasi (z1/B) akan berkurang dengan bertarnb ahnya
lebar pondasi. Nilai-nilai z1 yang diperoleh dari Gambar 8 . 12 dapat digunakan sebagai
panduan dalarn desain. Jika memang
cenderung berkurang terhadap kedalarnan, maka
nilai z1 harus diarnbil sebesar 2B, asalkan tebal lapisan melebihi nilai ini. Kompresibilitas
di mana:
dihubungkan dengan lebar pondasi oleh suatu indeks kompresibilitas

(sfq)

(le),

_ ..!!I_
le - B o,7

(8. 1 7)

1 ,0

(k/:2)

_ .,

, 41-

Agak rapat _.,.,. ...!...

0,1
1.,.;

0,0 1
0,1

j..

( Lepas)

.......

1.-

-- V
v

,..... Rapat

B (m )

10

1 00

Gambar 8. 1 1. Selubung-selubung penurunan ti.ap satuan tekanan (Diambil dari J. B. Burland, B . B.


Broms dan V. F. B De Mello (1977) Proceedings 9th International Co.nference SMFE, Tokyo, Vol. 2,
dengan izin dari Japanese Society of Soil Mechanics and Foundation Engineering).

Mekanika Tanah

282
50

30

20

v""
/

10

Gambar 8.12.

10

B(m)

20

30

50

1 00

Hubungan antara kedalaman pengaruh dan lebar pondasi. (Diambil dari J. B. Burland

dan M. C. Burbidge (1985). Proceedings Institu tion of Civil Engineers, Bagian I, Vol. 78, dengan izin
dari Thomas Telford Ltd. ).

Indeks kompresibilitas dihubungkan dengan nilai rata-rata tahanan penetrasi standar


dengan pernyataan:
1,7 1

le = fJ l ,4

(8.18)

Nilai N tidak boleh dikoreksi untuk tekanan efektif akibat tanah di atasnya karena hal
ini merupakan faktor pengaruh terbesar pada dua hal yaitu tahanan penetrasi standar
dan kompresibilitas: Pengaruh ini tidak boleh dihilangkan dari korelasi. Hasil-hasil analisis
ini cenderung cocok dengan kesimpulan dari Meyerhof yaitu bahwa pengaruh muka air
tanah telah dicerminkan dalam nilai N hasil pengukuran. Tetapi posisi muka air tanah
memang berpengaruh terhadap penurunan dan jika ketinggiannya kemudian berkurang ke
tika dilakukan penentuan nilai N, maka diharapkan akan teijadi penurunan yang lebih
besar. Persamaan 8. 13 harus diterapkan dalam hal pasir yang sangat halus dan pasir ber
lanau yang berada di bawah muka air tanah. Lebih jauh telah diusulkan bahwa dalam hal
kerikil atau kerikil berpasir, nilai N dari hasil pengukuran harus ditambah sebesar 25%.
Pada pasir terkonsolidasi normal, besarnya penurunan rata-rata si (mm) pada akhir
tahap konstruksi suatu pondasi dengan lebar B(m) yang mengalami tekanan netto pondasi
qn(kN/m2 ) diberikan oleh:
(8. 19a)
Bila dapat ditetapkan bahwa pasir bersifat terkonsolidasi berlebihan dan suatu perkiraan
besarnya tekanan prakonsolidasi (a;) dapat dibuat, maka besarnya penurunan diberikan
oleh pernyataan-pernyataan berikut ini:
S;

= (qn

2
07
3ac')B ' le

fjika qn

>

ac' )

(8. 19b)
(8. 19c)

283

Daya Dukung Tanah

Analisis tersebut menunjukkan bahwa kedalaman pondasi tidak mempunyai pengaruh


yang berarti terhadap penurunan untuk rasio kedalaman/lebar yang nilainya kurang dari 3.
Tetapi suatu korelasi penting telah ditemukan antara penurunan dan rasio panjang/lebar
(L/B) pondasi; karena itu penurunan yang diberikan oleh Persarnaan 8 . 1 9 harus dikalikan
dengan suatu faktor bentuk fs di mana:

fs ( 1 ,25
=

LIB

LIB + 0,25

)2

(8.20)

Telah dicoba suatu usulan bahwa bila ketebalan (H) lapisan pasir di bawah elevasi pondasi
Iebih kecil dari kedalaman pengaruh (z1), rnaka penurunan harus dikalikan dengan suatu
faktor fi, di mana:
(8.2 1 )
Meskipun lazimnya diasumsikan bahwa penurunan pada pasir jelas telah berakhir dengan
selesainya tahap konstruksi dan pembebanan awal, tetapi catatan-catatan menunjukkan
bahwa penurunan secara berkepanj angan dapat terjadi dan telah diusulkan bahwa penu
runan tersebut harus dikalikan dengan suatu faktor ft untuk waktu lebih dari 3 tahun se
telah akhir tahap konstruksi, di mana:
(8.22)
di mana R3 adalah penurunan menurut waktu , berbanding lurus dengan si, yang terjadi
pada saat tiga tahun pertama setelah konstruksi dan R t adalah penurunan yang terjadi tiap
siklus log waktu setelah tiga tahun tersebut. Suatu interpretasi konservatif atas data me
nunjukkan bahwa setelah 30 tahun, ft dapat mencapai 1 ,5 untuk beban statis dan 2,5
untuk beban dengan fluktuasi tertentu.
Perlu dicatat bahwa tidak seperti metode Terzaghi dan Peck, metode Burland dan
Burbidge ini meramalkan suatu nilai penurunan spesifik untuk suatu tekanan pondasi ter
tentu.
Burland dan Burbidge juga memperkenalkan konsep tingkat kompresibilitas, yang di
dasarkan atas nilai N yang tidak dikoreksi, seperti dirinci dalam Tabel 8.4, di rnana tingkat
an-tingkatan ini merupakan fungsi dari kerapatan relatif rnaupun tekanan akibat tanah
di atasnya. Grafik-grafik untuk perkiraan tingkat kompresibilitas dari hasil-hasil uji dukung
padat juga diadakan.

Tabel 8.4. Klasiitkasi Kompresibilitas untuk Pasir Terkonsolidasi Normal dan


Kerikil (Burland dan Burbidge [ 8. 1 0] ).

Nilai N

Tingkat kompresibilitas

0-4
4-8

VII
VI
V
IV
m
11
I

9 - 15
16-25

26-40
41-60
>60

284

Mekanika Tanah

Contoh 8 . 5
Sebuah pondasi tapak dengan luas 3m2 akan ditempatkan pada suatu kedalaman sebesar
1,5 m pada suatu deposit pasir, di mana muka air tanah berada sejauh 3 ,5 m di bawah
permukaan tanah. Nilai-nilai tahanan penetrasi standar ditentukan seperti yang dirinci
pada Tabel 8.5. Tentukan daya dukung izin dengan menggunakan berbagai macam metode.
Terzaghi dan Peck merekomendasikan bahwa nilai-nilai N harus ditentukan antara
elevasi pondasi dan suatu kedalaman sekitar B di bawah pondasi, dalam kasus ini antara
kedalaman-kedalaman 1,5 m dan 4 ,5 m (nilai-nilai pada kedalaman 0,75 m dan 5,20 m
karenanya menjadi mubazir). Nilai-nilai hasil N pengukuran dikoreksi dengan memakai
Persama an 8.14. Nilai-nilai tekanan efektif akibat tanah dibagian atas dihitung (dengan
memakai 'Y = 17 kN/m3 di atas muka air tanah dan "f1 = 10 kN/m3 di bawah muka air
tanah) dan nilai-nilai CN yang bersesuaian dapat ditentukan dari Ganibar 8.8. Nilai rata
rata yang telah dikoreksi (NI) adalah 16.
Tabel 8. 5

Ke<iabmlul

(m)

0,75
'.55
2,30
3,00
3,70
4,45
5,20

aV '

(kNim2)

8
7

26

39

51
65
70

13
12
16
20

2,0
1 ,6
1 ,4

1,25
1,2

14

14
18
15
19

(rata-rata 16)

Kemudian berdasaikan Gambar 8.10, untuk B = 3 m dan N = 16, nilai sementara untuk
daya dukung izin adalah 165 kN/m2 Untuk posisi muka air tanah yang diberikan, nilai
sementara tersebut harus dikalikan dengan faktor Cw (Persarnaan 8.16), di mana:
Cw = 0,5

0,5

4,5

3,5

= 0,89

Dari sini, besarnya daya dukung izin aoalah:

qa

0,89

165

1 5 0 kN/m2

Dengan memakai metode Meyerhof, rata-rata nilai N hasil pengukuran antara keda
laman 1,5 m dan 4,5 m adalah 11. Untuk B = 3 dan N = 11, nilai daya dukung izin semen
tara adalah 100 kN/m2 Nilai ini dinaikkan 50% tanpa perlu dikoreksi untuk posisi muka
air tanah. Jadi:

qa = 1,5

100 = 150 kN/m2

Dengan metode Burland dan Burbidge, dan dengan mengasumsikan bahwa pasir ter
sebut adalah terkonsolidasi normal, maka kedalaman pengaruh (Gambar 8.12) untuk B =
3 m adalah 2,2 m, yaitu 3 ,7 m di bawah permukaan tanah. Rata-rata nilai N hasil peng
ukuran.antara kedalaman-kedalaman 1,5 dan 3 ,7 m adalah 10, maka indeks kompresibilitas
(Persamaan 8.17) diberikan oleh:

285

Daya Dukung Tanah


fc

= 1 ,7 1/101 4

0,068

Maka daya dukung izin untuk


diberikan oleh:

Qa

_ _
s_
; _ _

8o , 7/

sua tu
_

25

3o ,7 X

penurunan sebesar 25 mm pada akhir tahap konstruksi

O 068
'

- 170 kN/m

Dalam desain, yang perlu dilakukan biasanya adalah menentukan dirnensi pondasi untuk
memikul beban (bruto) yang diberikan dan sua tu teknik iterasi diperlukan dalam hal ini.

Uji Konus Belanda (Sondir)


Konus Belanda (Gambar 8. 1 3) adalah sebuah penetrometer statis yang memiliki sudut
puncak sebesar 60 dan luas ujung 1 . 000 mm 2 (diameter 35 ,7 mm). Penetrometer ter
sebut disambungkan pada suatu rangkaian batang pejal yang bergerak di dalam batang
berongga terluar dengan diameter luar dari batang terluar sama dengan diameter konus
(kerucut). Batang terluar tersebut disambungkan dengan suatu lengan penyatu (lihat
gambar) yang ujung bawahnya berdiameter lebih kecil dan dirnasukkan ke dalam badan
konus. Dalam uji ini tidak diperlukan pemboran. Konus tersebut di atas ditekan sejauh
80 mm ke dalam pasir dengan sua tu kelajuan merata sebesar 15-20 mm/det dengan bantu
an batang-batang bagian dalam, sementara itu posisi lengan tetap stasioner. Gaya tekan
diperoleh secara hidrolik, di mana tekanan yang dibutuhkan tercatat pada sebuah alat ukur
Bourdon. Reaksi yang tirnbul biasanya ditahan oleh angkur-angkur putar di dalam tanah.
Tahanan akhir dari konus pada sembarang kedalaman disebut tahanan penetrasi konus
(qJ yang dengan jelas didefinisikan sebagai gaya yang dibutuhkan untuk memperdalam
posisi konus dibagi dengan luas ujung. Setelah tahanan penetrasi ditentukan, batang-batang
bagian luar didorong ke bawah. Konus beserta lengan lalu bergerak bersama-sama setelah
Batang dalam
Batang luar

Lengan penyatu

Konus 60

Garnbar 8. 1 3.

Konus Belanda (model Delft).

286

Mekanika Tanah

ujung lengan tidak lagi bergerak di dalam badan konus. Uji tersebut kemudian diulangi, di
mana tahanan konus biasanya ditentukan pada selang kedalaman 200 mm. Perlu diperhati
kan bahwa konus harus selalu tetap vertikal selama penetrasi.
Suatu peralatan yang lebih teliti berupa penetrometer konus (kerucut) dengan friksi
di mana sebuah lengan friksi ditempatkan di atas konus. Konus dan lengan friksi tersebut
masing-masing dapat digerakkan secara terpisah dengan bantuan batang-batang bagian
dalam. Mula-mula batang bagian dalam ditekan ke bawah sedalam 40 mm, menyebabkan
hanya konus saja yang berpenetrasi ke dalam pasir, dan tahanan penetrasi konus pun lalu
dapat dicatat. Kemudian konus tersebut mengikat lengan friksi dan ketika batang bagian
dalam ditekan lagi ke bawah (sedalam 40 mm) maka konus dan lengan friksi bergerak ber
samaan, sehingga kombinasi tahanan konus dan lengan dapat dicatat. Batang bagian luar
kemudian ditekan ke bawah (lebih dari 200 mm), pertama kali membawa lengan sampai
bertemu dengan puncak konus, kemudian diteruskan menggerakkan konus dan lengan ber, sama-sama. Pengujian lalu diulangi. Tahanan sisi pada lengan, yang dapat digunakan untuk
memperkirakan beban izin pada sebuah tiang pancang, diperoleh dengan memisahkan
tahanan penetrasi konus dari kombinasi tahanan konus dan lengan .
Pengembangan selanjutnya adalah suatu penetrometer 'elektrik' yang titik ujung
konusnya disambungkan pada sebuah badan silindris dengan diameter yang sama. Tahanan
penetrasi konus diukur dengan suatu sel beban di dalam badan alat tersebut dan dapat
mencatat terus-menerus selama penetrometer ditekan ke dalam pasir. Hasil-hasil pengukur
an lazirnnya diplot secara otomatis, terhadap kedalaman, dengan alat pencatat geografik.
Penetrometer elektrik juga ada yang memiliki lengan friksi, yang secara mekanis terpisah
dari titik ujung kerucut; tahanan sisinya diukur dengan sebuah sel beban kedua . Jadi tahan
an konus dan tahanan sisi dapat diukur secara terpisah.
Sua tu perkiraan koreksi antara tahanan penetrasi konus dan parameter kekuatan geser
cp' yang diusulkan oleh Meyerhof [8.25 ] diberikan pada Gambar 8 . 14.

qc
20 --------
( M N/m2)

cp'

Gambar 8.14. Perkiraan koreksi antara tahanan penetrasi konus dan parameter kekuatan geser qf.
(Diambil dari G. G. Meyerhof (1976 ) Proceeding A SCE, Vol. 1 0 2, No. GT3, dengan izin American
Society of Civil Engineer).

Daya Dukung Tanah

287

Metode Desain yafll( berhubungan dengan Sondir

Metode ini, di mana penurunan pada suatuttekanan yang di


berikan dapat diperkirakan, tergantung pada korelasi antara tahanan penetrasi konus dan
kompresibilitas pasir. Buisman mengusulkan persamaan empiris berikut u ntuk memper
oleh suatu konstanta kompresibilitas (C) suatu nilai tahanan penetrasi konus (qc ):
Metode Buisman-De Beer.

c= 1

'

s.
a

(8.23)

di mana a adalah tekanan efektif akibat tanah di atasnya pada kedalaman yang diukur.
Penurunan dapat di,hitung dengan bantuan persamaan:
_

s-

H 1

a+ !la
,
ao

(8.24)

di mana s adalah penurunan sebuah lapisan setebal H dan !:ia ada\ah enaikan tekanan
vertikal pada pusat lapisan tersebut (Bandingkan dengan Persamaan 7.8). Jika C menyata
kan kompresibilitas pasir pada sebuah lapisan elemental setebal &, m:ika penurunan dapat
dinyatakan sebagai:

atau kira-kira:

(8.25)
Dalam praktek, qc /profil kedalaman dibagi-bagi ke dalam beberapa lapisan (setebal &)
di mana pada tiap-tiap lapisan tersebut nilai q c diasumsikan konstan. Pada deposit yang
dalam, pen jumlahan mungkin diakhiri pada kedalaman di mana kenaikan tegangan (!:ia)
menjadi lebih kecil dari 10% tekanan efektif akibat tanah di atasnya (a). Metode Buisman
De Beer dapat langsung diterapkan hanya pada pasir yang dibebani secara normal. Dalam
kasus pasir yang pernah dibebani lebih dulu (pre-loaded), metode ini akan memberikan
penurunan yang terlalu besar.
Berdasarkan sebuah studi atas catatan-catatan kasus, Meyerhof (8.24] merekomendasi
kan bahwa tekanan pondasi yang menghasilkan penurunan izin dengan metode Buisman
De Beer harus dinaikkan sebesar 50%. Ini kira-kira sama dengan penggunaan persamaan
berikut ini untuk suatu konstanta kompresibil}tas:
C=

19
ao
'

(8.26)

Metode penghitungan penurunan ini didasarkan atas suatu penye


derhanaan distribusi regangan vertikal di bawah pusat sebuah pondasi dangkal, yang di
nyatakan dalam bentuk faktor pengaruh regangan 4 Regangan vertikal Ez pada sebuah
titik di bawah pusat pondasi, yang menerima suatu tekanan netto q n' ditulis sebagai

Metode Schmertmann.

(8.27)

,...

Mekanika Tanah

288

Gambar 8.15.

Asumsi distribusi faktor pengaruh regangan terhadap kedalaman.

Di mana E adalah nilai modulus Young. Distribusi faktor pengaruh regangan yang diasum
sikan terhadap kedalaman diperlihatkan dalam Gambar 8.1 5, di mana kedalaman dinyata
kan dalam ukuran lebar pondasi (B). Ini adalah suatu penyederhanaan distribusi, yang
didasarkan baik atas hasil eksperimen maupun secara teoretis, di mana dibuat suatu asumsi
bahwa regangan menjadi tidak berarti lagi pada kedalaman 2B di bawah pondasi. Harus di
catat bahwa regangan vertikal maksimum tidak terjadi tepat di bawah pondasi seperti pada
kasus tegangan vertikal. Koreksi dapat diterapkan terhadap distribusi regangan untuk ke
dalaman pondasi di bawah permukaan tanah dan untuk kasus rangkak (creep). Me skipun
biasanya diasumsikan bahwa penurunan pada pasir jelas telah selesai pada akhir tahap
konstruksi, beberapa kasus menun jukkan adanya penurunan berkelanjutan menurut
waktu sehingga mempengaruhi teijadinya suatu pengaruh rangkak, tetapi koreksi terhadap
rangkak seringkali diabaikan. Faktor koreksi untuk kedalaman pondasi diberikan oleh
(8.28)
di mana a tekanan efektif akibat tanah di atasnya pada elevasi pondasi, dan qn
an netto pondasi. Faktor koreksi untuk rangkak diberikan oleh:
=

C2

1 +

0,2 log0,1

tekan:

(8.29)

di man at adalah waktu dalam tahun, yang dibutuhkan untuk proses penurunan.
Penurunan sebuah pondasi yang meperima tekanan netto qn ditulis sebagai:
2B

s =

Czdz

atau kira-kira
(8.3 0)

Daya Dukung Tanah

289

Schmertmann memperoleh korelesi antara modulus Young,. yang ditentukan dari


basil uji pelat sekrup, dan tahanan penetrasi konus sebagai berikut:
(8.31)
<qc basil pengukuran/profil kedalaman, sampai suatu kedalaman 2B di bawah ponr;lasi,
dibagi-bagi menjadi beberapa lapisan (setebal ) di mana pada tiap lapisan tersebut nilai
tic diasumsikan konstan. Nilai lz pada pusat tiap lapisan diperoleh dari Gambar 8.1 5, di
mana diasumsikati bahwa distribusi lz ini tidak tergantung pada heterogenitas pasir.

Contoh 86.

'
Sebuah pondasi tapak dengan luas lJS m1 menerima suatu tekanan pondasi netto sebesar
1 50 kN/m2 pada kedalaman 1 m di dalam suatu deposit pasir halus yang dalam. Muka
air tanah berada pada kedalaman 4 . Berat isi pasir di atas muka air tanah adalah 17 kN/m3
dan di bawah muka air tanah, berat isi jenuhnya adalah 20 kN/m 3 Variasi tahanan pene
trasi. konus terhadap kedalaman diberi.lcan dalam Gambar 8.1 6. Hitunglah penurunan pon
dasi dengan memakai (a) metode Buisman-De Beer, (b) metode Schmertmann.
qc (MN/m2)

o .---z

4r---sar-

_____

,o r
, 2--T
1 4

___

(7)

L..,--0

0,2

0,4

0,6
Gambar8.16.

__

s
, r---s
,

____

Tabel8.6. Metode Buisman-De Beer


l!iz

q,

(m)

(MN/m)
I

l
2.
J
4

5
6
1.
\

l!!

0,9 0'.
0,50
1,60
0,40
4,20
b,5o
1,90

;\ . .

.2,3
3,6
5,0
'],5

{i

'

''

"

u
1,53 q z
,

+ l!iu

_
o__
.

aa'

(kN/m2),
.

2,15 ;,11-f'$ 36
,20 ;Z,;tc 54
lit2c) .70
' 4 20
5,00 ''1.00 78
5,85 .gg7
5
7 , 05 &1o 99

3-,3
9',9
'17,5

u'0

1;45 Q/625.
{

.
' ,1, ',. ; ,' .

u'

(kN/m2)

u'o

_ _

qc

()

144
120
60
35

23

'

17

'

.,

12

Penurunan pondasi sebesar 33

mm.

'

Daya Dukung Tanah

291

(a) Pada metode Buisman-De Beer, grafik qc/z di bawah elevasi pondasi dibagi-bagi
ke dalam sejumlah lapisan (setebal ) untuk mana nilai q c dapat diasumsikan konstan
pap lapisan. Kedalaman di bawah permukaan tanah (zc) dari pusat tiap lapisan dapat
diperoleh dari grafik tersebut. Nilai-nilai tekanan efektif akibat tanah di atasnya ( d) dan
kenaikan tegangan (a) pada pusat tiap lapisan dapat dihitung; nilai-nilai a dihitung
dengan menggunakan Gambar 5.10. Kemudian Persamaan 8.25 diterapkan untuk mem
peroleh penurunannya. (Lihat Tabel8.6).
(b) Dalam metode Schmertmann, grafik qc/z dibagi-bagi ke dalam sejumlah lapisan
seperti (a). Dalam hal ini, distribusi faktor pengaruh regangan (Jz) ditindihkan di atas
grafik tersebut dan nilai /z ditentukan pada pusat tiap lapisan. Penurunan dihitung dengan
menggunakan Persamaan 8.30, di mana E diberikan oleh Persamaan 8.31. (Lihat Tabel
8.7 ).
. Tabel 8. 7.

Metode Schmertmann

Faktor koreksi dari. Schmertmann untuk kedalaman pondasi (Persamaan 8.28) adalah:
c1

1 -

0,5

17

150

0,94

Faktor koreksi untuk rangkak (C2) diambil sebesar satu . Lalu:


s =

0,94

150

0,1906 = 26,9mm

(dari Tabel 8.7). Penurunan pondasi adalah 27 mm.


(

8. 5. Daya Dukung Tiang Pancang

Tiang pancang dapat dibagi dalam dua kategori utama menurut metode pemasangannya.
Kategori pertama berupa tiang pancang yang terbuat dari baja atau beton pracetak dan
tiang pancang yang dibentuk dengan memancangkan tabung atau kulit (shell) yang di
pasangi sepatu pancang (driving shoe) di mana tabung atau kulit terse but lalu diisi dengan
adukan beton setelah dipancang. Yang juga termasuk dalam kategori ini adalah tiang
pancang yang dibentuk dengan menempatkan beton ketika tabung yang dipancang dicabut
kembali. Pemasangan semua tipe tiang pancang menyebabkan perpindahan dan gangguan
pada tanah di sekitarnya. Tetapi, dalam kasus tiang pancang baja profil H dan tabung
tanpa sepatu pancang, perpindahan tanah hanya kecil. Kategori kedua terdiri dari tiang

Mekanika Tanah

292

pancang yang dip?..sang tanpa teijadi perpindahan tanah. Tanah disingkirkan dengan mem
bor atau menggali untuk membentuk suatu cerobong (shaft), kemudian adukan beton
dicor ke dalam cerobong tersebut untuk membentuk tiang pancang. Cerobong tersebut
dapat dilapisi selubung (cased) atau tanpa selubung (uncased) tergantung pada tipe tanah.
Pada lempung, cerobong tadi mungkin akan membesar pada dasarnya oleh suatu proses
yang dikenal dengan penggerakan dasar lubang (under-reaming). * Tiang pancang yang di
hasilkan nantinya akan memiliki luas dasar yang lebih besar pada pertemuannya dengan
tanah.
Beban ultirnit yang dapat ditanggung oleh sebuah tiang pancang sarna dengan jurnlah
tahanan dasar dan tahanan cerobong (shaft resistance). Tahanan dasar merupakan hasil
kali luas dasar (Ab ) dan daya dukung ultirnit (q1) pada elevasi dasar lorong. Tahanan
cerobong adalah hasil kali luas keliling cerobong (A 5) dan nilai rata-r.ata tahanan geser
ultirnit tiap satuan luas ifs), yang lazirn disebut 'friksi kulit' (skin friction) antara tiang
pancang dan tanah. Berat tanah yang dipindahkan atau disingkirkan biasanya diasumsikan
sama dengan berat tiang pancang. Jadi beban ultirnit (Qf) yang dapat dikeijakan pada
puncak tiang pancang diberikan oleh persamaan:
(8.32)
Suatu faktor beban yang memadai diterapkan terhadap Q1 untuk memperoleh beban
izin pada tiang pancang. Nilai-nilai faktor beban yang berbeda dapat diterapkan pada
tahanan dasar dan tahanan cerobong.
Bukti dari penguj ian-pengujian pembebanan pada tiang pancang yang dilengkapi per
alatan tertentu menunjukkan bahwa pada tahap-tahap awal pembebanan, sebagian besar
beban didukung oleh friksi kulit pada bagian atas tiang pancang. Kemudian, ketika beban
ditambah, teijadi mobllisasi lebih jauh pada friksi kulit tetapi secara bertahap, proporsi
terbesar dari beban ditahan oleh tahanan dasar. Pada saat teijadi keruntuhan, proporsi
beban yang didukung oleh friksi kulit dapat berkurang sedikit akibat adanya aliran plastis
pada tanah di dekat dasar tiang pancang.

Tiang Pancang pada Pasir


Daya dukung ultirnit dan penurunan suatu tiang pancang tergantung terutarna pada ke
rapatan relatif pasir. Tetapi, bila sebuah tiang pancang dipancang ke dalam pasir maka ke
rapatan relatif di sekitar tiang pancang tersebut akan bertambah dengan teijadinya pema
datan akibat perpindahan tanah (kecuali pada pasir rapat, yang menjadi lebih lepas).
Karakt'eristik tanah yang menentukan daya dukung ultirnit dan penurunan, karena itu,
berbeda dari karakteristik aslinya sebelum pemancangan. Kenyataan ini, di samping hete
rogenitas alamiah deposit pasir, membuat sangat sulitnya dilakukan ramalan terhadap
perilaku tiang pancang dengan metode-metode analitis.
Daya dukung ultirnit pada elevasi dasar tiang pancang dapat dirumuskan sebagai ber
ikut:

q1

a Nq

(8.33)

di mana a adalah tekanan efektif akibat tanah di atasnya pada elevasi dasar tiang
pancang. (Perlu dicatat bahwa suku Nv untuk tiang pancang dapat diabaikan karena lebar
B kecil bila dibandingkan dengan panjang L ).

l
L

*Penggerakan dasar lubang (underreaming): perluasan lubang pada kaki sumuran/cerobong atau
kaki pondasi untuk memberikan pengangkuran te.rhadap guling akibat tekanan angin.

293

Daya Dukung Tanah

(d)

(e)

_... - -..

'-

0
_

"

__...

.,J
'
I

..

I'

"

I ,)'
,...,
,;

il

.
6<!.
l. l
,.

.... .
.b j

'

tt
I

\i

.i}
1

,_....

1 ..
..

(a)

(b )

(c)

(f)

Gambar 8. 17. Tipe-tipe utama tiang pancang: (a) tiang pancang beton bertulang pracetak, (b) tiang
pancang baja profil H, (c ) tiang pancang kulit, (d) tiang pancang beton yang dicor pada saat tabung pe
mancangan dicabut (e) tiang pancang bor (cor di tempat), (D tiang pancang bor dengan pelebaran pada
ujung dasarnya di tempat).

Berezantzev , Khristoforov, dan Golubkov [8. 1 ] mengembangkan sua tu teori untuk


daya dukung ultimit tiang pancang di mana keruntuhan diasumsikan akan terjadi ketika
permukaan runtuhnya mencapai dasar tiang pancang, seperti terlihat pada Gambar 8. 1 8.
Beban tambahan pada dasar tiang pancang terdiri dari tekanan akibat berat tanah yang
hilang di sekitar tiang pancang, dikurangi dengan gaya friksi pada permukaan luar tanah
yang hilang tersebut. Faktor Nq tergantung pada parameter kekuatan geser et/ dan rasio
L/B. Untuk sua tu nilai et>' tertentu, nilai Nq akan turun dengan naiknya rasio L/B. Nilai
nilai Nq untuk rasio L/B sebesar 25 diberikan dalam Tabel 8.8; nilai-nilai ekstrapolasi untuk
rasio L(B sebesar 50 ditunjukkan dalam tanda kurung.
Meyerhof [8.25 ) menyajikan hubungan semi-empiris antara Nq untuk tiang pancang,
rasio kedalaman Db/B, dan parameter kekuatan geser et> dari pasir sebelum pernancangan
(Db adalah panjang tiang pancang yang tertanam pada pasir ).
Nilai rata-rata friksi kulit pada seluruh panjang tiang pancang yang tertanam pada pasir
dapat dinyatakan sebagai

Is

KsiT tan <5

(8.34)

Mekanika Tanah

294

Gambar 8.18. Mekanisrne keruntuhan dalam teori Berez antzev, Khristoforov, dan Golubkov.

Teori Berezantzev, Khristoforov, dan Golubkov: hubungan antara

Tabel 8. 8.

I
Nq

' dan N4

28

30

32

34

36

38

40

12

17
( 14)

25
(22)

40
(37)

58
(56)

89
(88)

137
( 1 36)

(9)

di mana K5 rata-rata koefisien tekanan tanah pada seluuh panjang yang tertanam, a =
rata-rata tekanan efektif akibat tanah di atasnya pada seluruh panjang yang tertanam, dan
8 = sudut friksi antara tiang pancang dan pasir. Untuk tiang pancang beton yang dipancang
ke dalam pasir, nilai K5 sebesar 1 ,0 untuk pasir lepas dan sebesar 2 ,0 untuk pasir rapat
rapat telah banyak digunakan dalam desain. Nilai-nilai ini harus diambil setengahnya dalam
kasus tiang pancang baja profil H. Nilai 8 yang dianjurkan adalah 0,75 cp' untuk tiang
pancang beton dan 20 untuk tiang pancang baja.
Persamaan-persamaan 8.33 dan 8.34 menyatakan suatu kenaikan linear terhadap ke
dalaman aik untuk qf maupun fs Tetapi, pengujian-pengujian dengan skala penuh dan
model-model tiang pancang telah menunjukkan bahwa persamaan-persamaan ini hanya ber
laku di atas kedalaman kritis sebesar 1 5B sampai 20B. Di bawah kedalaman kritis, nilai
qf dan {5 tetap mendekati konstan pacta nilai-nilai batas dalam kondisi tanah uniform.
Ini dapat dikatakan merupakan akibat dari pembusuran (arching) pada tanah di sekitar
bagian bawah dari tiang pancang ketika tanah meleleh di bawah dasar terse but.
Akibat pembatasan kedalaman kritis dan sulitnya memperoleh nilai-nilai parameter
yang dibutuhkan, maka persamaan-persamaan di atas sulit diterapkan dalam praktek.
Lebih disukai menggunakan korelasi empiris, yang didasarkan atas hasil-hasil uji pembe
banan tiang pancang dan uji-uji penetrasi dinamik atau statik, untuk menghitung nilai-nilai
qf dan fs . Korelasi-korelasi berikut ini telah diusulkan oleh Meyerhof [8 .25 ] untuk tiang
pancang yang dipancang ke dalam suatu lapisan tanah pasir:
=

295

Daya Dukung Tanah

q1

40N

Db

:!!( 400N (kNjm )

(8.35 )

di mana N adalah nilai tahanan penetrasi standar di sekitar dasar tiang p ancang dan D b
adalah panjang tiang pancang yang tertanam pada pasir. Untuk tiang pancang yang di
pancang ke dalam lanau nonplastis, suatu batas atas sebesar 300 N cukup memadai. Selain
itu,
(8 .36)
di mana R adalah nilai rata-rata tahanan penetrasi standar pada panjang tiang pancang yang
tertanam di dalam lapisan pasir. Nilai [5 yang diberikan oleh Persamaan 8.36 harus dikali
setengah dalam kasus tiang pancang yang perpindahannya kecil seperti tiang pancang baja
profil H. Untuk tiang pancang yang dibor (bored piles), nilai qf dan [5, berturut-turut,
adalah sebesar dan f dari nilai-nilai yang bersesuaian pada tiang pancang yang dipancang.
Hasil-hasil uji sondir dapat juga digunakan. Day a dukung ujung sebuah tiang pancang
diberikan kira-kira oleh hasil kali dari luas penampang tiang pancang dengan tahanan pene
trasi konus di elevasi dasarnya. Telah diusulkan bahwa nilai rata-rata tahanan penetrasi
antara 3B di atas dasar dan B di bawah dasarlah yang harus digunakan. Tahanan friksi pada
lengan penetrometer akan bernilai lebih rendah daripada tahanan friksi pada cerobong tiang
pancang karena terdapat perbedaan volume tanah yang dipindahkan pada kedua kasus ter
sebut. Nilai perkiraan friksi kulit p ada tiang pancang dapat diperoleh dengan membuat
skal\1 tahanan pada lengan penetrometer dengan perbandingan keliling tiang pancang ter
hadap keliling lengan (kecuali dalam kasus tiang pancang baj a profil H), dengan suatu batas
perbandingan tertinggi sebesar 3. Bila yang ditentukan hanya tahanan konusnya saja, di
usulkan bahwa fs kira-kira sama dengan qc/200 untuk pasir atau qc/ 1 50 untuk lanau non
plastis, di mana qc adalah nilai rata-rata tahanan penetrasi konus pada saluran panj ang tiang
pancang yang tertanam. Nilai-nilai ini harus dikalikan 0,5 untuk tiang pancang baja profil
H. Sebuah tiang panj ang tidak boleh dipancangkan di bawah suatu posisi di mana di situ
diperoleh suatu tahanan dasar sebesar 10 MN/m2 Pemancangan terhadap suatu tahanan
yang lebih besar dari 1 0 MN/m2 dapat menyebabkan kerusakan pada tiang pancang.
Penerapan langsung dari tahanan penetrasi konus mengabaikan perbedaan skala antara
penetrometer dan tiang p ancang, tetapi De Beer (8. 1 4] mengusulkan suatu prosedur desain
yang mengizinkan pengaruh ini. Prosedur tersebut didasarkan atas konsep bahwa permuka
an runtuh yang berdekatan dengan konus dan tiang pancang harus terbentuk sepenuhnya
sebelum dilakukan penetrasi. Meyerhof (8 .2 1 ] mengembangkan sebuah teori day a dukung
untuk pondasi dalam bila permukaan runtuh telah terbentuk sepenuhnya. Zona geser yang
diasumsikan dalam teori Meyerhof tersebut terlihat pada Gambar 8 . 1 9 dan untuk men
capai tahanan maksirnum pada suatu lapisan pendukung, zona ini harus berada sepenuh
nya di dalam lapisan tersebut. Profil qc/kedalaman untuk sebuah lapisan pasir lepas yang
di bawahnya dilapisi oleh suatu lapisan yang rapat dapat dilihat j uga dalam Gambar 8 . 1 9 .
Penetrasi konus k e dalam !apisan rapat tersebut ditunjukkan dengan adanya peningkatan
tahanan yang berarti, seperti ditunjukkan oleh garis BC, diikuti dengan laju peningkatan
yang jauh lebih rendah. Kedalaman antara B dan C ditandai dengan yc . Di titik C dapat di
asumsikan bahwa zona geser yang bersekutu dengan penetrasi konus berada seluruhnya di
dalam lapisan rapat. Tetapi untuk tiang pancang yang berdiameter (atau diameter ekivalen)
n kali dari diameter konus, penetrasi sebesar Yp ' sama dengan ny c' ke dalam lapisan rapat
akan diperlukan sebelum diperoleh tahanan dasar maksirnum dan garis BD akan menyata
kan besarnya kenaikan tahanan pada saat penetrasi tiang pancang. Tetapi dianjurkan bahwa
suatu batas atas sebesar 20 k ali diameter tiang pancang harus ditempatkan untuk nilai
Yp Jika tahanan di D lebih besar dari konus kerusakan yang umum diterima sebesar

Mekanika Tanah

296

Lapisan lepas
Lapisan padat

Kerucut

Gambar 8.19.

c::
"'

E
"'
<0
"'0
Q)

Metode De Beer untuk efek skala antara penetrometer dan tiang .

1 0 MN/m2 , maka tiang pancang terse but seharusnya hanya dipancangkan sampai pada ke
dalaman yang bersesuaian dengan suatu tahanan sebesar 1 0 MN/m2 pada garis BD, dengan
suatu kedalaman pemancangan minimum sebesar 5 kali diameter tiang pancang pada lapis
art rapat.

Tiang Pancang pada Lempung


Dalam hal tiang pancang yang dipancangkan, lempung di sekitar tiang pancang tersebut di
pindahkan baik ke arah lateral maupun vertikal. Perpindahan lempung ke atas menghasil
kan pengangkatan (heaving) pada permukaan tanah di sekitar tiang pancang dan dapat
menyebabkan suatu reduk si daya dukung tiang pancang yang telah dipasang di sekitarnya.
Lempug di zona terganggu di sekeliling tiang pancang mengalami pembentukan kembali
(remoulding) selama proses pemancangan. Tekanan air pori berlebihan yang terbentuk
akibat tegangan-tegangan pemancangan akan hilang dalam beberapa bulan karena zona
terganggu relatif sempit (dengan or de B). Umumnya kehilangan tersebut terlihat telah
selesai sebelum beban struktural yang penting dikerjakan pada tiang pancang. Kehilangan
disertai dengan kenaikan kekuatan geser pada lempung yang terbentuk kembali dan juga
k enaikan friksi kulit yang bersesuaian. Jadi friksi kulit pada akhir kehilangan lazimnya
cukup memadai dalam desain.
Dalam hal tiang pancang bor, sebuah lapisan tipis lempung (dengan orde 25 mm)
tepat di sekitar cerobong akan mengalami pembentukan kembali pada saat pemboran.
Sebagai tambahan, sua tu perlunakan bertahap akan terjadi pad a lempung di sekitar cerobong
akibat pelepasan tegangan, di mana air pori merembes dari lempung di sekitarnya menuju
cerobong tersebut. Air dapat juga diserap dari beton basah ketika adukannya bersentuhan
dengan lempung. Perlunakan ini disertai dengan suatu reduksi kekuatan geser dan friksi
kulit. Pembangunan suatu tiang pancang bor , karena itu, harus diselesaikan secepat mungkin.
Rekonsolidasi terbatas dari lempung yang mengalami pembentukan kembali dan perlu
nakan akan terjadi setelah pemasangan tiang.
Kekuatan geser yang relev an untuk penentuan tahanan dasar sebuah tiang pancang
pada lempung adalah kekuatan tak-terdrainasi pada elevasi dasar tiang. Daya dukung
ultimitnya dinyatakan sebagai:
(8.37)
Berdasarkan bukti teoretis dan eksperimen, sua tu nilai Ne sebesar 9 dianggap cukup me
madai (yaitu nilai dari Skempton untuk D/B > 4). Bila lempungnya bercelah-celah

Daya Dukung Tanah

297

(fissured), maka kekuatan geser sebuah spesimen kecil di laboratorium (misalnya her
diameter 30 mm) akan lebih besar dari kekuatannya di lapangan karena tanah tersebut
akan relatif kurang bercelah daripada massa tanah di dekat dasar tiang pancang. Jadi perlu
diberikan suatu faktor reduksi terhadap kekuatan di laboratorium (misalnya 0,75 dianjur
kan untuk lempung London).
Friksi kulit dapat dikorelasikan secara empiris de11gan rata-rata kekuatan tak-terdrai
nasi (cu ) lempung tak-terganggu sepanjang kedalaman yang diisi oleh tiang pancang, yaitu
(8. 38)
di mana a adalah suatu koefisien yang besarnya tergantung parla tipe lempung, metode
pemasangan, datl! material tiang pancang. Nilai a yang memulai diperoleh dari hasil-hasil
uji pembebanan. Nilai a memiliki rentang dari sekitar 0,3 sampai sekitar 1 ,0. Satu ke
sulitan dengan pendekatan ini adalah bahwa biasanya terdapat suatu sebaran (scatter)
yang perlu diperhitungkan pada grafik kekuatan geser tak-terdrainasi terhadap kedalaman
dan nilai cu mungkin sulit didefinisikan.
Sebuah alternatif pendekatan lain adalah menyatakan friksi kulit dalam tegangan
efektif. Zona gangguan tanah di sekitar tiang pancang relatif tipis, karena itu kehilangan
tekanan air pori berlebihan positif atau negatif yang terjadi pada saat pemasangan tiang
pancang harus jelas sudah selesai pada saat beban struktur akan dikeJjakan. Oleh karena
itu, pada prinsipnya sebuah pendekatan tegangan efektif lebih bisa dipilih daripada pen
dekatan berdasarkan tegangan total. Dinyatakan dalam tegangan efektif, friksi kulit dapat
dinyatakan sebagai

Is = K.fi tan c/J'

(8 . 39)

di mana K5 adalah rata-rata koefisien tekanan tanah dan a adalah rata-rata tekanan efektif
akibat tanah di atasnya di sekitar cerobong tiang pancang. Keruntuhan diasumsikan terjadi
pada tanah yang mengalami pembentukan kembali di dekat cerobong tiang pancang, karena
itu sudut friksi antara tiaiig pancang dan tanah diwakili oleh sudut tahanan geser yang di
nyatakan dalam tegangan efektif (rj/) untuk lempung yang terbentuk .'mb ali: kohesi yang
terjadi pada lempung tersebut akan nol. Hasil kali K5 tan cp' ditulis sebagai sebuah ko
efisien (3, jadi
(8 . 40)
Nilai-nilai perkiraan (3 dapat dibuat dengan membuat asumsi-asumsi dengan memperhatikan
nilai K5, khususnya dalam kasus lempung terkonsolidasi normal. Tetapi \oefisien terse but
biasanya diperoleh secara empiris dari hasil-hasil uji pembebanan yang dilakukan beberapa
bulan setelah pemasangan tiang pancang. Untuk lempung terkonsolidasi normal, nilai (3
biasanya berada dalam rentang 0,25 sampai 0,40 tetapi untuk lempung terkonsolidasi ber
lebihan, nilai-nilainya jauh lebih tinggi dan bervariasi dalam batas-batas yang relatif luas.
Tahanan dasar memerlukan deformasi yang lebih besar untuk mobilisasi penuh tahan
an cerobong, karena itu nilai faktor bebannya mungkin cukup memadai untu. kedua
k omponen tersebut di atas, dengan faktor yang lebih tinggi perlu diterapkan pada td.anan
dasar. Dalam kasus tiang bor berdiameter besar, termasuk tiang pancang yang mengalami
penggerakan dasar lubang (under-reamed) tahanan cerobong mungkin dimobilisasi penuh
pada beban kerja dan dapat disarankan untuk memastikan sebuah faktor beban sebesar
3 untuk tahanan dasar, dengan faktor sebesar l untuk tahanan cerobong, sebagai tambahan
pada faktor beban menyeluruh yang ditentukan (umumnya 2) untuk tiang terse but. Dalam
kasus tiang pancang (under reamed), sebagai akibat dari penurunan, mungkin akan terjadi
sedikit kesenjangan antara puncak under-reamed dan tanah yang melapisi di atasnya, yang
akan menimbulkan penyeretan ke bawah (drag-down) dari tanah pada cerobong tiang.

298

Mekanika Tanah

Karenanya tidak ada friksi kulit yang perlu diperhitungkan di bawah elevasi 2B di atas
puncak under-ream.
Perlu dicatat bahwa dalam kasus tiang pancang under-reamed, reduksi tekanan di atas
tanah pada elevasi dasar tiang akibat pemindahan tanah lebih besar dari keunikan tekanan
yang terjadi kemudian akibat berat tiang. Ruas kiri Persamaan 8 .32 kemudian harus di
tulis sebagai (Qf + W - rDA b ),, dirnana W adalah berat tiang,Ab adalah luas dari dasar
yang membesar, dan D adalah kedalaman sampai elevasi dasar.

Friksi Kulit Negatif Friksi kulit negatif dapat terjadi pada keliling sebuah tiang pancang
yang dipancangkan menembus suatu lapisan lempung yang mengalami konsolidasi (misal
nya akibat suatu urugan yang baru dilapiskan di atas lempung) menuju ke sebuah lapisan
dukung yang keras (Gambar 8 .20). Lapisan yang terkonsolidasi tersebut mengalami seretan
ke bawah pada tiang. Karena itu arah friksi kulit pada lapisan ini berbalik - Gaya akibat
friksi ke bawah atau negatif ini lebih merupakan beban bagi tiang pancang daripada mem
bantu mendukung beban luar pada tiang pancang tersebut. Friksi kulit negatif bertambah
secara bertahap selama berlangsungnya konsolidasi pada lempung, sedangkan tekanan
efektif akibat tanah di atasnya (a ) secara bertahap mengalami peningkatan selama tekan
an air pori berlebihan mengalami disipasi. Persamaan 8.40 juga dapat digunakan untuk me
nyatakan friksi kulit negatif. Pada lempung terkonsolidasi normal, bukti yang ada me
nunjukkan bahwa suatu nilai {3 sebesar 0,25 menyatakan suatu batas atas yang cukup ber
aasan dari friksi kulit negatif untuk keperluan-keperluan desain pendahuluan. Perlu di
catat bahwa akan terdapat sua tu reduksi tekanan efektif akibat tanah di atasnya di sekitar
tiang pancang pada lapisan dukung akibat penyaluran berat lapisan tanah di atasnya me
nuju tiang pancang tersebut. Bila lapisan dukung tersebut adalah pasir, maka ini akan meng
hasilkan reduksi daya dukung di atas kedalaman kritis.

Uruga n

lap isan yang


mengalami
konsol idasi

Lapisan
dukung

Gambar 8.20.

Friksi kulit negatif

299

Daya Dukung Tanah

Uji Pembebanan
Pembebanan pada sebuah tiang pancang uji memungkinkan dilakukannya penentuan se
cara langsung be ban ultimitnya dan merupakan sua tu cara untuk memperkirakan keakurat
an nilai yang diramalkan. Pengujian tersebut dapat juga dilakukan dengan menghentikan
pembebanan ketika be ban keija y ang diusulkan telah dilewati sebesar persentase yang telah
dispesifikasikan. Hasil-hasil penguj ian pada sebuah tiang pancang utama belum tentu men
cerminkan kemampuan semua tiang pancang lainnya yang berada di tempat yang sama,
k arenanya diperlukan beberapa kali pengujian yang cukup memadai, yang tergantung pada
luasnya penyelidikan tanah. Tiang pancang yang dipancangkan ke dalam lempung tidak
boleh diuj i untuk paling sedikit satu bulan setelah pemancangan untuk memberi kesem
patan bertambahnya friksi kulit (suatu hasil dari disipasi tekanan air pori berlebihan akibat
tegangan-tegangan pemancangan).
Dua buah prosedur pengujian telah dirinci dalam BS 8004 [8 .7] . Pada uji pembeban
an teratur (maintained load test), hubungan beban/penurunan untuk tiang pancang uj i ai
peroleh dengan pembebanan dengan kenaikan yang sepantasnya, sehingga waktu-waktu
antara tiap penambahan beban cukup bagi tanah untuk mengalami penurunan sampai se
cukupnya. Beban ultimit lazimnya diambil pada saat teijadi penurunan sebesar yang di
spesifikasikan, misalnya 1 0% dari diameter tiang pancang. Tahapan-tahapan pengurangan
beban (unloading) biasanya dimasukkan dalam program penguj ian. Pada uj i penetrasi
berkelajuan konstan (constant rate of penetration, CRP), tiang pancang didongkrak ke
dalam tanah dengan kelajuan konstan, di mana beban diberikan agar penetrasi dapat di
ukur secara terus-menerus. Kelaj uan penetrasi yang cukup memadai untuk pengujian pada
pasir dan lempung adalah sebesar, berturut-turut, 1 ,5 mm/menit dan 0,7 5 mm/menit.
Penguj ian dilanjutkan sampai terj adi keruntuhan geser atau sampai mencapai penetrasi
sebesar 1 0% dari diameter dasar tiang pancang, jadi ini merupakan batasan be ban ultimit.
Perlu diberikan suatu kelonggaran untuk deformasi elastis pada tiang pancang pada saat
diuj i. Penurunan sebuah tiang pancang dengan pembebanan yang -terj aga secara tera tur
tidak dapat dihitung dari hasil-hasil uji CRP. Grafik beban/penurunan tipikal ditunjukkan
dalam Gambar 8 .2 1 .

Kelompok Tiang Pancang


Sebuah pondasi tiang biasanya terdiri dari sekelompok tiang pancang yang dipasang cukup
berdekatan satu sama lain (secara tipikal berjarak 2B - 4B di mana B adalah le bar atau dia
meter masing-masing tiang pancang) dan disatukan oleh sebuah pelat (slab), yang dikenal
sebagai kepala tiang (pile cap), dan dicor pada puncak tiang-tiang tersebut. Kepala tiang
tersebut biasanya berhubungan langsung dengan tanah pada kasus-kasus di mana sebagian
beban struktural dipikul langsung oleh tanah tepat dibawah permukaan. Bila kepala tiang
tidak berhubungan dengan permukaan tanah, maka kelompok tiang pancang tersebut
disebut berdiri bebas (free standing). Prinsip-prinsip yang diuraikan pada bagian ini juga
berlaku untuk pondasi rakit dengan tiang pancang (piled raft). Pada lempung kaku, tiang
p:;mcang dengan jarak antara 4B atau lebih dapat dipasang di bawah suatu pondasi rakit
dengan tujuan utama memperkecil penurunan. Sua tu pemb ahasan tentang desain pondasi
rakit dengan tiang pancang telah dilakukan oleh Cooke [8. 1 3] .
Sec beban ultimit yang dapa t diduk':1n_g_oleh_s_t<_QlJ<lQ kelompok yang terdiri
dari n tiang pancam.a:a-engaif il kali beban ultimit sebuah_!i<tll_g_paf!cang terpisah
dengan Cifmenslyang--sama pada tanahyan:g sama pura. Rasio beban rata-rata tiap tiang
dalam sebuah kelompok pada saaT runtuh tethadap be ban ultimit untuk sebuah tiang di
definisikan sebagai efisiensi kelompok tersebut. Umumnya diasumsikan bahwa distribusi
beban antara tiang-tiang dalam sebuah kelompok yang dibebani secara aksial adalah me..

300

Mekanika Tanah

c:

.l3
Q)
CO

Be ban

c:
.,
c:

c:
.,
c:

"
c:
Q)
a.

"
c:
Q)
a.

(a)

Keruntuhan

Penetrasi
(b)
Gambar 8.2 1 . Uji pembebanan tiang pancang (a) uji pembebanan terjaga, (b) uji penetrasi dengan
kelajuan konstan.

rata. Tetapi bukti-bukti dari eksperimen menunjukkan bahwa untuk sebuah kelompok
yang berada pada pasir , tiang yang berada di pusat kelompok akan memikul beban yang
lebih besar daripada tiang-tiang di sekelilingnya. Pada lempung, tiang-tiang di sekeliling
pusat akan memikul beban yang lebih besar dari tiang di pusat kelompok. Umumnya dapat
diasumsikan bahwa semua tiang dalam satu kelompok akan turun dengan nilai yang sama,
akibat kekakuan kepala tiang. Penurunan sekelompok tiang selalu lebih besar dari penu
runan sebuah tiang yang bersesuaian, sebagai akibat dari tumpang tindihnya zona-zona
pengaruh masing-masing tiang dalam kelompok tersebut. Gelembung tekanan sebuah tiang
tunggal dan sekelompok tiang (dengan panjang yang sama dengan tiang tunggal) diilustrasi
kan pada Gambar 8.22. Tegangan-tegangan yang sangat berarti yang terbentuk pada seke
lompok tiang jauh lebih luas daripada tiang tunggal yang bersesuaian. Rasio penurunan se
buah kelompok tiang didefinisikan sebagai rasio penurunan kelompok tersebut terhadap
penurunan tunggal pada saat keduanya memikul beban ultimit yang sama.
Pemancangan sekelompok tiang ke dalam pasir lepas atau agak-rapat menyebabkan
pemadatan pasir di antara tiap tiang tersebut, sehingga jarak antar tiang kurang dari se
kitar 8B. Akibatnya efisiensi kelompok tersebut akan lebih besar dari satu. Dalam desain
biasanya sering dipakai efisiensi seber 1 ,2. Tetapi, untuk sekelompok tiang bor, efisiensi
nya mungkin akan serendah % karena pasir-pasir di antara tiang-tiang tersebut tidak ter
padatkan pada saat pemasangan tiang tetapi zona geser dari tiang-tiang yang berdekatan
akan tumpang tindih. Dalam kasus tiang-tiang yang dipancangkan ke dalam pasir rapat,
efisiensi kelompok tiang akan kurang dari satu akibat terlepasnya butir-butir pasir ter
sebut dan tumpang tindihnya zona-zona geser.

301

Daya Dukung Tanah

Gambar 8.22.

Gelembung tekanan untuk sebuah tiang pancang dan sekelompok tiang pancang.

Sua tu kelompok tiang yang jarak ma sing-rna sing tiangnya saling berdekatan dapat me
ngalami keruntuhan sebagai satu satuan, di mana keruntuhan geser teijadi di sepanjang
k eliling kelompok tersebut dan di bawah luas yang dicakup oleh tiang dan tanah yang
berada di antaranya: hal ini disebut sebagai keruntuhan blok (block failure). Pengujian
pengujian oleh Whitaker [8 .43] pada model-model tiang yang berdiri bebas menunj ukkan
bahwa untuk kelompok yang berisi sejurnlah tiang tertentu dengan panj ang tertentu pula,
terdapat sua tu j arak antartiang kritis sebesar 2B sehingga bentuk keruntuhannya akan
berubah. Untuk jarak-jarak yang lebih besar dari jarak kritis, keru ntuhan teijadi di bawah
masing-rna sing tiang. Untuk j arak-jarak yang lebih kecil dari j arak kritis, kelompok tiang
tersebut runtuh sebagai satu blok, seperti suatu dermaga ekivalen yang terdiri dari tiang
tiang yang diisi tanah di antaranya. Nilai efisiensi kelompok tiang dengan jarak kritis
berkisar antara 0,6 dan 0,7. Tetapi, bila kepala tiang bersentuhan dengan tanah, tidak ter
dapat tanda-tanda perubahan bentuk keruntuhan bila j arak antartiang lebih besar d ari
2B dan efisiensi lebih besar dari satu bila jarak antartiang lebih besar dari 4B. Tetapi, se
karang panjang tiang-tiang dan ukuran serta bentuk kelompok tiang dianggap mempe
ngaruhi j arak kritis. J arak antargaris pusat-tiang minimum dianjurkan tidak lebih kecil dari
keliling tiang. Beb an ultimit dalam kasus kelompok tiang yang runtuh sebagai satu blok
diberikan oleh

(8. 4 1 )
d i mana A b sama dengan lua s dasar kelompok tiang tersebut, A adalah luas keliling ke
s
lompok, dan cs adalah nilai rata-rata tahanan geser tiap satuan luas, pada kelilingnya.
Tahanan geser cs harus diambil sebagai kekuatan pada kondisi tak-terdrainasi dari lempung
yang terbentuk kembali (remould) kecuali bila pembebanannya ditunda selarna paling
kurang enam bulan, di mana dapat digunakan kekuatan tak-terdrainasi dari lempung tak
terganggu. Disipasi tekanan air pori berlebihan akibat pema sangan tiang akan terjadi lebih
lama pada kasus kelompok tiang daripada pada kasus tiang tunggal, dan bisa j adi tidak
akan selesai sebelum penerapan pembebanan struktural yang lebih awal. Dalam desain,
asalkan kepala tiang terletak di atas tanah, beban ultimit harus d iambil dari yang lebih keciT
antara nilai beban pada keruntuhan blok dan jumlah nilai-nilai beban pada keruntuhan
masing-masing tiang dalam kelompok yang bersangkutan. Tetapi bila tiang-tiang tersebut
berdiri bebas, maka beban ultimitnya harus diambil, yang terkecil dari nilai beban saat
k eruntuhan blok atau i dari jumlah nilai beban pad a keruntuhan tiap-tiap tiang.

Mekanika Tanah

302

\ "'"" 2LJ

I
I
1 : 41
I
I
I
L I

- l

, .,;J'L
I

'

(a)

N
Db L
1/
I

Garnbar 8.23. Konsep

1 : 2/

1---

- - ___l_

-- -- - ( b)

1
I

2 Db

--

\T
\'
\

rakit ekivalen.

Penurunan sebuah kelompok tiang pada lempung dapat dihitung dengan mengasumsi
kan bahwa be ban total dipikul oleh sebuah 'rakit ekivalen' (equivalent raft) yang ditempat
kan pada kedalaman 2L/3, di mana L adalah panj ang tiang. Dapat diasumsikan, seperti
terlihat dalam Gambar 8 .23a, bahwa beban diseb arkan dari keliling kelompok tiang dengan
k emiringan horisontal 1 terhadap vertikal 4 untuk membiarkan sebagian beban disalurkan
ke tanah oleh friksi kulit. Kenaikan tegangan vertikal pada sembarang kedalarnan di bawah
rakit ekivalen dapat dihitung dengan kembali mengasumsikan bahwa beban total disebar
kan pada tanah-tanah yang melapisi di bawahnya dengan kemiringan horisontal 1 terhadap
Q -'f

vertikal 2. Penurunan konsolidasi lalu dapat dihitung dari Persarnaan 7. 10. Penurunan
segera (immediate/ Settlernen!ltukan denganmenerapkan Persarnaan 5 . 3 1 pada rakit
ekivalen.
Penurunan sebuah kelompok tiang yang dilapisi di bawahnya oleh pasir dengan keda
larnan tertentu dapat j uga diperkirakan dengan bantuan konsep rakit ekivalen. Dalam
kasus ini dapat diasumsikan, seperti terlihat pada Gambar 8.23b, bahwa rakit ekivalen di
tempatkan pada kedala.man 2Dan pada lapisan pasir dengari -kemiruigan p-;;;;yebaran beban
sebesar 1: 4 dari keliling kelompok tiang tersebut. Sekali lagi, kemiringan pengeboran
beban sebesar 1 : 2 diasums1Kan telj aaTaT 6-awah rakit ekivalen. Penurunan ditentukan dari
nilai-nilai tahanan penetrasi standar atau tahanan penetrasi konus di bawah rakit ekivalen,
dengan memanfaatkan metode-metode yang telah diuraikan pada Bagian 8.4.
Perkiraan penurunan dapat juga diperoleh dari konsolidasi suatu lapisan lempung yang
terletak di bawah sua tu lapisan p asir di mana kelompok tiang disangga. Kemungkinan
ainblasnya kelompok tiang Db melalui lapisan pasir menuju lapisan lempung lunak di
bawahnya juga perlu dipertimbangkan dalam beberapa kasus: kenaikan tegangan vertikal
pada puncak lapisan lempung tidak boleh melebihi nilai daya dukung lempung yang di
perkirakan.
Suatu alternatif usulan yang berkenaan dengan rakit ekivalen adalah bahwa luas rakit
tersebut harus sama dengan lua s kelompok tiang. Pada lempung, rakit ekivalen harus se
perti di atas, diletakkan pada kedalaman 2L/3 tetapi pada pasir, rakit tersebut harus di)etakkan di dasar kelompok tiang. Penyebaran be ban sebesar 1: 2 harus diasumsikan terj adi
di bawah rakit ekivalen pada lempung maupun pasir. Usulan-usulan alternatif terse but perlu
digunakan bila tahanan tiang (shaft resistance) dapat diabaikan dibandingkan dengan
tahanan dasar.
Suatu metode yang didasarkan atas teori elastis untuk menghitung penurunan sebuah
k elompok tiang telah dikembangkan oleh Poulos [8.28] .

....

303

Daya Dukung Tanah

Perlu dikaji bahwa penurunan tersebut lazimnya merupakan kriteria <J.esain batas
untuk kelompok tiang baik pada pasir maupun lempung.

Rumus Pemancangan Tiang


Sejurnlah rumu s telah diusulkan di mana dinamika operasi pemancangan tiang pancang di
p erhitungkan dengan cara yang sangat idealis dan tahanan dinamik terhadap pemancangan
diasumsikan sama dengan daya dukung statik tiang.
Pada saat pemancangan tiang, energi kinetik martil pemancang diasumsikan sebesar

Wh

(kehilangan-kehilangan energi)

di mana W adalah berat martil dan h adalah tinggi j atuh bebas ekivalen. Kehilangan-kehi
langan energi dapat berupa akibat friksi, panas, pantulan ma rtil, getaran dan kompresi
elastis pada tiang, susunan paking (packing assembly), dan tanah. Energi kinetik netto di'
samakan dengan kerja yang dilakuk an oleh tiang pad a saat menembus ke dalam tanah.
Kerja yang dilakukan adalah sebesar R5 di mana R adalah rata-rata tahanan tanah terhadap
penetrasi dan s adalah penurunan (set) atau penetrasi tiang tiap pukulan. Makin kecil pe
nurunan tiang tiap pukulan, makin besar tahanan tanah terhadap penetrasi.
Rumu s-rumus dari Engineering News memperhitungkan juga kehilangan energi akibat
kompresi smentara (cp ) yang dihasilkan dari kompresi elastis pada tiang. Jadi

(8.42)
Dari persama an tersebut, R dapat ditentukan. Dalam praktek, nilai-nilai empiris diberikan
dalam pernyataan cp /2 (misalnya untuk martil yang dij atuhkan, cp /2 = 2 5 mm).
Rumu s dari Hiley memperhitungkan kehilangan-kehilangan energi akibat kompresi
elastis pada tiang, tanah, dan susunan paking (packing assembly) pada puncak tiang, yang
kesemuanya dinyatakan dalam c, dan kehilangan energi akibat tumbukan (impact), yang
dinyatakan dalam faktor efisiensi 7). J adi

R(s + c/2)

(8 .4 3 )

ry Wh

Kompresi elastis pada tiang dan tanah dapat diperoleh dari trase pemancangan tiang
(Gambar 8.24). Kompresi dari packing assembly harus dihitung secara terpisah dengan
mengasumsikan sua tu nilai tegangan tertentu pada susunan se lama pemancangan.

rL
1\
(\ _l
1\

Kompresi elastis

Penuru nan
. -'-

Gambar 8.24.

Trase Pemancangan Tiang.

Mekanika Tanah

304

Rumu s-rumus pemancangan hanya perlu digunakan untuk tiang pada pasir dan kerikil
dan, bila mungkin, perlu dikalibrasi terhadap hasil-hasil uji pembebanan.

Persamaan Gelombang
Persamaan gelombang adalah suatu persamaan diferensial yang mendeskripsikan transmisi
gelombang-gelombang kompresi, yang dihasilkan oleh tumbukan (impact) rnartil pe
rnancang, pada seluruh panjang tiang. Tiang diasumsikan berperilaku seperti sebuah batang
langsing dan bukan suatu massa kaku. Sua tu program komputer dapat ditulis untuk solusi
persamaan terse but dalam bentuk selisih hingga (finite difference). Rincian metode ter
sebut telah diberikan oleh Smith [8.35] . Tiang, susunan paking, dan blok-besi pemancang
diwakili oleh sederetan pemberat dan pegas terpisah. Tahanan tiang dan tahanan dasar di
wakili oleh sederetan pegas dan dashpot. Nilai-nilai parameter yang mendeskripsikan peri
laku elemen-elemen ini dan tanah harus diperkirakan.
Hubungannya dapat diperoleh di antara ' set' terakhir dan beban ultimit yang dapat
dipikul oleh tiang segera setelah pernancangan. Tidak ada informa si yang dapat diperoleh
dengan mempertimbangkan perilaku tiang dalam jangka panjang. Persarnaan terse but juga
memungkinkan ditentukannya tegangan-tegangan pada tiang selama proses pemancang
an, untuk digunakan dalam desain struktural tiang tersebut. Suatu penilaian juga dapat di
buat dari kemampuan peralatan pemancang untuk menghasilkan kapasitas beban yang di
inginkan untuk tiang tertentu.

Contoh 8 . 7.
Sebuah tiang pancang beton pracetak dengan luas penampang 450 mm2 , untuk mem
bentuk bagian dari sebuah jetty, dipancang ke dalam dasar sungai yang mengandung pasir
sampai kedalaman tertentu. Hasil-hasil ujrpenetrasi standar pada pasir adalah sebagai ber
ikut:
Kedalaman (m)

1 ,5

3 ,0
6

4,5
13

6,0
12

7 ,5
20

9 ,0
24

1 0,5 12,0
35
39

Tiang tersebut diperlukan untuk memikul suatu beban tekan sebesar 650 kN dan untuk
menahan suatu beban angkat (uplift) sebesar 225 kN. Faktor beban pada tiap-tiap kasus
paling sedikit 2 ,5 . Tentukan sampai sedalam mana tiang tersebut harus dipancang.
Beban tekan ultimit

Abqf + AJs = 2,5 x 650 = 1 625 kN


Beban angkat ultimit = AJs 2 ,5 x 225 = 563 kN
=

di

rnana Ab = 0,4 5 2 (m2) dan

As

0,45

Db (m2)

Dengan memakai korelasi dari Meyerhof:

q1 = 40 NDb/B 400N (kN/m2)


fs 2N (kN/m2 )
=

Perhitungan-perhitungan disajikan dalam Tabel 8.9.


Dari pengamatan, gaya angkat merupakan batas pertimbangan. Dengan interpolasi,
tiang tersebut paling kurang harus dipancang sedalam 10,2 m. (Faktor beban akibat beban
tekan menjadi sebesar 3225 /650 = 5 ,0)

305

Daya Dukung Tanah

Tabel 8.9.
Db

(kN}

(m}
1,5
3,0

9,0

4
6
13
12
20
24

12,0

39

4,5

6,0
7,5

1 0,5

q 1 (k N/m 2 )

Ash

35

4
5
8
9
ll
13

' 16

19

22

40
0 5 N Db
,4

Ab qf

Abq1+

400N

(kN}

(kN}

5200

324
05
1 3

535

' 54

108

1 600

5200

130

194

4800
8000
9600
14000

297
421

605
82 1

1 5600

130

3 78

11 83

972

1166

1 944
283 5
3 1 59

2365
3440
3980

1620

A.fs

19'1 7

Contoh 8. 8 .
Hasil-hasil uji penetrasi konus (sondir) pada tempat-tempat penting diperlihatkan pada
Gambar 8.25. Berdasarkan hasil uji tersebut, sampai kedalaman minimum berupa sebuah
tiang beton berdiameter 600 mm harus dipancang ke dalam Pfl:Sir rapat bila zona geser
akail sepenuhnya terbentuk? Berapakah beban yang dapat didukung oleh tiang terseb ut
bila faktor bebannya 2,5?
Akan digunakan prosedur De Beer. Dari pengama tan terhadap Gamb ar 8 .2 5, tahanan
k onus telah terbentuk sepenuhnya pad a kedalama n (ye ) 0,3 m. Dari. sini dapat diperoleh
bahwa tahanan d asar tiang akan terbentuk sepenuhnya pad a kedalama n y , di mana:
p

. . Pasir lepas
:. : yang seragam

.s
c
"'

"'

:..::

6
8

'

j,
<
..
;:
,.
; Pasir bergradasi
::. ba i k yang rapat
.,.

10

12

!-.
J,,

it

14

Gambar 8.25.

""''l

Mekanika Tanah

306

600
= 0' 3 X - = 5 '0 m
36

Yp

(memenuhi < 20B)

Jadi tiang harus dipancang sedalam 5 m ke dalam pasir rapat, yaitu dengan kedalaman
tota1 1 2 m.
Kenaikan nilai tahanan selama pemancangan tiang diwakili oleh BD dalam Gambar
8 .2 5 . Nilai ultimit dari tahanan dasar yang akan digunakan dalam desain adalah sebesar
8 ,6 MN/m2 , yaitu nilai rata-rata antara 3B di atas dan B di bawah dasar tiang. Nilai ini
lebih kecil dari batas kerusakan sebesar 1 0 MN/m2
Nilai-nilai friksi kulit pada pasir lepas dan pasir rapat diberikan oleh iic /2 00 , di mana
qc adalah tahanan penetrasi konus rata-rata pada masing-masing konus. J adi:

fs = (2,0 X 1 03 )/200

10 kN/m2
3
fs = (7 ,6 X 1 0 )/200 = 38 kN/m2

(pasir lepas)

(pasir rap at)

Beban ultimit pada tiang diberikan oleh:


Q1

=
=

Abqf + L.AJs

(: X 0,62 X } + (n X 0,6 X
8600

7 X 1 0) + (n X 0,6 X 5 X 38)

2921 kN

Maka, beban izinya adalah:


Q = QJ2,5 = 1 168 kN

(Ini dapat diterima dengan mengabaikan friksi kulit pada pasir lepas).

Contoh 8 . 9.
Sebuah tiang pancang bor dengan pelebaran pada ujung dasarnya (under-reamed bored
pile) akan dipasang pada lempung kaku . Diameter tiang adalah 1 ,05 m dan diameter pele
baran dasar (under-reamed)nya adalah 3 ,00 m. Tiang tersebut berada pada kedalaman
dari 4 m sampai 22 m di dalam lempung, awal pelebaran tiang berada pada kedalaman:
20 m. Hubungan antara kekuatan geser tak-terdrainasi dan kedalaman diperlihatkan dalarn
Gambar 8.26 dan koefisien adhesi a adalah 0,4. Tentukan beban yang diizinkan pada tiarig

0
5

_s
c::
Ill

Ill

Cl>

10
15
20
25

._

1 00

Cu

\.

'

(kN/m2)

300

200

\.
\

. '

Gambar 8.26.

\ .

307

Daya Dukung Tanah

u ntuk memastikan (a) faktor beban menyeluruh sebesar 2, (b) faktor beban sebesar 3 di
bawah dasar pada saat tahanan tiang telah termobilisasi sempurna.
Pada elevasi dasar (22 m), kekuatan tak-terdrainasi adalah 220 kN/m2 Karena itu

qf = CuNc = 220

9 = 1980 kNfm2

Dianjurkan untuk tidak memperhitungkan friksi kulit sepanjang 2B di atas awal pelebaran
tiang, yaitu di bawah kedalaman 17,9 m. Nilai rata-rata kekuatan tak-terdrainasi antara
kedalaman 4 m dan 17,9 m adalah 130 kN/m2 Karenanya

f.= rLCu = 0,4 X 130 = 52 kNfm2


Beban ultimit diberikan oleh
+

QJ = Abqf

(1

A.f.

32

1980

+ (n

1,05 X 13,9

52)

= 13 996 + 2384
= 16 380 kN
Lalu , beban yang diizinkan adalah yang terkecil di antara:
16 380

(a)

QJ

(b)

A;qf + A.J.

= 8190 kN
=

13 96

2384

7049 kN

Tetapi suatu kelonggaran perlu dibuat untuk selisih antara tekanan yang dipindahkan
pada dasar pelebaran tiang akibat pemboran dan tekanan yang kemudian beke1ja akibat
berat tiang. Jadi beban yang diizinkan boleh dinaikkan sebesar ('yDAb
W)/3. Dengan
mengambil berat isi lempung sebesar 20 kN/m3 dan beton sebesar 2 3,5 kN/m3, dan me. ng
abaikan be ban tambahan dari pelebaran tiang, maka beban tambahan tersebut adalah:
-

{(
(

20

23,5

18
18

X
X

: ))}
:
X

32

1,052 /3

726 kN

Jadi beban yang diizinkan pada tiang:


7049

+ 726

7775 kN

Contoh 8.10.
Sebuah kelompok tiang yang terdiri dari 25 tiang b erada pada kedalaman dari 1 m sampai
13 m pada suatu deposit lempung kaku setebal 25 m di atas lapisan batuan keras. Diameter
tiang-tiang tersebut adalah 0,6 m dan jarak antartiang adalah 2 m dalam kelompok ter
sebut. Kekuatan geser tak-terdrainasi lempung pada elevasi dasar tiang adalah 170 kN/m2
dan nilar rata-rata kekuatan tak-terdrainasi sepanjang tiang adalah 105 kN/m2. Koefisien
adhesi a adalah 0,45, Eu 65 MN/m 2, dan mv 0,07 m2/MN. Koefisien tek anan pori A sama
dengan 0,24. Hila beban total di atas kelompok tiang tersebut 12.000 kN, tentukan faktor
beban dan penurunan total.
=

Mekanika Tanah

308

1-8,6m-1
I'#

--

--

( 1)
-

--

I
I
- -- 11
I
I
I
-----,1
I
I

(2)

I
I
I
I

(4)

I
I
I
I

'AY
AI

11
'JI4

/--

--

--

. T\ -

- -

I
I

____

--

--

\
_,

(3)

--

\,
+
\

---

T
am
12 m
l

\
--' \
\
\

16m

I'

Gambar 8.27

Pada elevasi dasar, cu

ql

9cu

170

170 kN/m :. Karena itu


1530 kN/m2

Sepanjang kedalaman tiang, cu

fs

= Ct.Cu =

1 05 kN/m2 Karena itu

0,45 X 105 = 47 kNjm2

Untuk tiang tunggal, be ban ultimitnya adalah:

Qf

=
=

Abqf

Asfs

0,6

4 32 + 106 3

1495 kN

1530

(n

0,6

12

47)

Beban ultimit di at as kelompok tiang dengan asumsi keruntuhan pada tiang tunggaldan efi
siensi kelompok sebesar 1
=

25

1495

37 375 kN

Lebar kelompok tersebut adalah 8,6 m, karena itu beban ultimit di atas kelompok tiang
dengan asumsi keruntuhan pada blok tiang dan dengan mengambil kekuatan tak-terdrai
nasi sempurna pada keliling kelompok tersebut adalah
=

{8,62 X 1530)

113 159

(4

43 344

8,6

12

156 500 kN

105)

309

Da ya Dukung Tanah

Dari situ, faktor beban adalah sebesar 37 375/ 12 000=3,1. Meskipun bila diambil kekuat
an terbentuk kembali (remoulded)nya pada keliling kelompok tersebut, tidak akan ada ke
mungkinan keruntuhan blok.
Tetapi, penurunan dalam hal ini merupakan kriteria batas. Dengan memperhatikan
Gambar 8.23a, rakit ekivalen diletakkkan pada 8 m(2/3 x 12 m) di bawah puncak tiang
tiang terse but. Lebar rakit ekivalen adalah 12,6 m. Beban di atasrakit ekivalen ( 12 000 kN)
disebarkan dengan kemiringan 1:2 pada lapisan lempung di bawahnya.
Tekanan pada rakit ekivalen adalah:
12 000
q = !262 = 76 kN/m 2

'

Penurunan segera ditentukan dengan memakai Gambar 5.15. Sekarang,


H/B= 16/ 12,6 = 1,3
D/B= 9/12,6 = 0,7
L/B= 1
Karena itu J.L1

s i=

0,50 dan J.Lo

0,80;jadi

qB

f.lolllE.

= 0,80

0,50

76

12,6

X ----

65

= 6 mm
Untuk menghitung penurunan konsolidasi, lempung di bawah rakit ekivalen akan dibagi
menjadi empat sub-lapisan dengan ketebalan masing-masing (H) lapisan 4 m. Kenaikan
tekanan (a) pada pusat tiap-tiap sublapisan sama dengan beban sebesar 12 000 kN dibagi
dengan luas penyebaran (Tabel 8.10). Koefisien penurunan diperoleh dari Gambar 7.12.
Diameter dari sebuah lingkaran yang memiliki luas yang sama dengan ra:kH ekivalen adalah
1 4,2 m: jadi H/B 16/14,2 1 ,1. Kemudian dari Gambar 7 . 12, untuk A 0,24 dan H/B
1,1, nilai J.L adalah 0,52 dan penurunan konsolidasi adalah sebesar:
=

Se = /-I.Soed

= O,SL

36,9 = 1 9 mm

Penurunan total:
s

= si + se = 6

Tabel8.10.

19 = 25 mm

310

Mekanika Tanah

8.6. Teknik-teknik Perbaikan Tanah

Sebuah alternatif penggunaan pondasi dalam (deep foundations) adalah untuk memper
baiki sifat-sifat tanah di dekat permukaan, disamping kemungkinan lain dari pondasi
pondasi dangkal. Teknik-teknik perbaikan yang diuraikan di bawah ini semuanya memer
lukan penanganan seorang kontraktor khusus.

Pemadatan-Getar
Kerapatan relatif deposit pasir lepas dapat ditingkatkan dengan cara pemadatan-getar
(vibro-compaction). Proses ini menggunakan sebuah penggetar yang dalam (depth vibrator)
yang digantung dari lengan sebuah keran (crane). Bagian penggetar ditempatkan pada ujung
bawah dan disekat dari badan utama alat tersebut. Pada hampir semua unit, penggetar ter
sebut dioperasikan secara hidrolik. Penggetar tersebut bekeij a dengan suatu gerak girasi
pada bidang horisontal, yang dihasilkan oleh rotasi dari massa-massa eksentris. Unit ini
menekan ke dalam tanah akibat berat sendiri, kadang-kadang dibantu dengan semprotan
air yang dipancarkan dari titik konis vibrator tersebut. Pemadatan yang berarti pada
pasir biasanya dapat teij adi pada jarak mencapai 2 ,5 m dari sumbu penggetar. Pemadatan
harus teij adi setidaknya pada kedalaman penting (significant depth) dari pondasi yang di
tinjau di mana penetrasi dapat mencapai kedalaman 1 2 m. Secara umum, kenaikan kerapat
an relatif tergantung pada jarak antarpusat penggetaran; makin kecil j araknya akan makin
besar kerapatan relatifnya (dan tentunya daya dukungnya makin besar). Pemadatan-getar
tidak dapat diterapkan pada tanah kohesif karena getaran-getarannya akan teredam (karena
basah) pada radius yang relatif kecil.

Vibro-replacement
Teknik ini melibatkan penulangan pada deposit tanah kohesif dengan kolom-kolom batu
. (stone columns) agar diperoleh tumpuan yang memadai untuk beban pondasi yang relatif
ringan. Metode ini biasanya tidak memuaskan untuk mendukung beban berat karena
k olom-kolomnya tidak menyalurkan tegangan-tegangan pengaruh ke dalam tanah. Kolom
kolom batu juga memenuhi fungsi yang sama dengan saluran pasir vertikal (vertical sand
drain) dalam mempercepat laju konsolidasi tanah.
Sebuah penggetar yang dalam digunakan untuk memindahkan tanah secara radial
pada saat penggetar tersebut berpenetrasi aki.bat berat sendirinya. Penggetar itu lalu dicabut
(digunakan udara terkompresi untuk mengh ilangkan daya sedot) dan menghasilkan lubang
silindris yang akan terisi kemudian oleh lapisan agregat bersegi setebal 5 0-75 mm, di mana
tiap lapisan dipadatkan dengan memasukkan kembali alat penggetar ke dalam lubang ter
sebut. Perpindahan radial tanah selanjutnya teijadi pada saat agregat dipadatkan. Agregat
yang dipadatkan terse but membentuk apa yang dikenal sebagai 'kolom batu'. Sebagai hasil
dari metode pembentukan kolom itu, tahanan pasif tanah di sekelilingnya termobilisasi
sempurna dengan regangan radial yang kecil ketika kolom dibebani. Pada lempung yang
sangat lunak material-material disingkirkan dengan rnenyernprotkan air bertekanan ter
tentu rnelalui lubang-lubang sernprot di titik penggetar, dengan dernikian tanah tidak rne
ngalarni perpindahan.
Kekuatan dan kekakuan sebuah kolorn batu tergantung pada tingkat penekanan lateral
pada tanah di sekelilingnya. Hal ini tidak tertentu bila dukungan yang mernadai dapat di
yakini terjadi pada lernpung lunak jika kelajuan pernbebanannya pelan. Suatu lernpung
lunak secara bertahap dapat merembes ke dalarn pori-pori kolorn, di rnana dalarn kasus ini

Daya Dukung Tanah

31 1

akan terdapat tahanan lateral yang amat kecil dan efisiensi kolom sebagai drainasi ber
kurang.

Konsolidasi Dinamik
Metode ini melibatkan kenaikan kerapatan tanah di dekat permukaan dengan penumbukan
dan dapat digunakan pada hampir semua kondisi tanah. Perbaikan kerapatan dimungkin
kan sampai kedalaman 1 0 m. Teknik-tekniknya meliputi penjatuhan sebuah massa berat
seberat 8-40, yang disebut penumbuk (pounder), ke atas muka tanah dari ketinggian
5 -3 0 m. Sebuah crowler crane atau tripod dipakai untuk menaikkan penumbuk terse but
lalu melepaskannya sehingga jatuh bebas. Dampak energi yang tinggi dari jatuhnya massa
tersebut menciptakan sebuah lubang, yang disebut print, pada permukaan tanah dan me
nyebabkan gelombang-gelombang kejut yang akan dirambatkan melalui tanah sampai ke
dalaman tertentu. Gelombang-gelombang kejut tersebut menyebabkan pencairan sebagian
(partial liquefaction) pada tanah dan menciptakan celah-celah, sehingga menghasilkan ke
naikan permeabilitas massa secara sementara. Ini, berturut-turut, menghasilkan terjadinya
pemadatan atau konsolidasi yang cepat (tergantung pada tipe tanah) dan kenaikan kekuat
an geser (dan tentu daya dukungnya).
Cara coba-coba dilakukan lebih dahulu untuk menentukan jurnlah jatuh optimum pada
tiap titik, energi optimum tiap j atuh, dan jarak optimum antar print. Waktu yang diperlu
kan untuk disipasi tekanan pori (dengan alat pizometer) yang cukup dan perkiraan ke
amanan terhadap struktur di sekitarnya (pengukuran getaran) juga perlu diperhitungkan.
Secara tipikal, penumbuk dijatuhkan 5 - 1 0 kali pada tiap titik dan point-point diatur
dengan jarak antara sebesar 5 - 1 5 m yang dipusatkan pada sebuah kisi-kisi bujur sangkar.
Print-print tersebut diurug setelah tiap tumbukan. Penurunan tanah diukur setelah tiap
tumbukan. Beberapa tumbukan mungkin diperlukan untuk memperoleh hasil yang di
inginkan, dengan jarak antar print terus direduksi pada tiap tumbukan selanjutnya.

8. 7. Galian

Pekerjaan-pekerjaan pondasi mungkin membutuhkan penggalian yang relatif dalam dengan


sisi-sisi vertikal. Sisi-sisi terse but dapat disangga dengan tiang-tiang tegak (soldier pile)
dengan lembaran-lembaran kayu, dinding-dinding turap, atau dinding-dinding diafragma.
Struktur ini dapat diperkaku dengan batang-batang penyangga (strut) horisontal atau
miring atau dengan menarik dinding ke belakang (tie-backs). Sebagai tambahan pada desain
struktur penyangga, perlu diperhatikan adanya gerakan-gerakan tanah yang akan terjadi
di sekitar galian, khususnya bila galian tersebut berdekatan dengan struktur-struktur lain
yang telah ada. Gerakan-gerakan berikut (Gambar 8.28) inilah yang perlu diperhatikan:
1.
2.
3.

Penurunan permukaan tanah d i dekat lubang galian,


Gerakan lateral penyangga-penyangga vertikal,
Tonjolan (heave) pada dasar galian.

Dalam skala besar, gerakan-gerakan tersebut di atas tidak saling tergantung karena gerakan
gerakan itu merupakan hasil dari regangan pada massa tanah akibat pelepasan tegangan
ketika dilakukan penggalian.
Besar dan penyebaran gerakan-gerakan tanah tergantung pada tipe tanah, dimensi
galian, rincian prosedur pembangunan, dan standar pekerjanya. Pengetahuan-pengetahuan

Mekanika Tanah

31 2
- --

' - - - -- - 1
I
I

1( 2)

G alian

(3)
Gambar 8.28.

Gerakan tanah pada galian yang dalam

terharu tentang gerakan tanah terutarna lehih herdasarkan data-data ohsetvasi daripada
analisis teoretis. Gerakan tanah perlu dipantau selarna penggalian herlangsung sehingga
dapat diperoleh peringatan diri hila teijadi gerakan yang terlalu hesar atau hila teijadi
ketidakstahilan.
Dengan mengasumsikan suatu perhandingan antara teknik konstruksi dan kemarnpuan
pekeija (workmanship), hesarnya penurunan di dekat sehuah galian mungkin relatif kecil
pada tanah rapat dan tidak kohesif, tetapi mungkin sangat hesar pada lempung lunak
plastis. Seluhung (envelope) hatas at as dari penurunan hasil ohsetvasi pad a herbagai tipe
tanah telah dihuat oleh Peck, di mana penurunan dihubungkan dengan kedaman galian
maksimum pada jarak dari tepi gal1an. Selubung ini terlihat pada Gambar 8-29, dapat di
terapkan pada galian yang disangga oleh turap atau tiang-tiang tegak, dengan batang peng
kaku atau hatang tarik, dan dihuhungkan dengan rata-rata kemampuan pekerja. Untuk
galian yang disangga oleh dinding-dinding diafragma, penurunan yang teijadi mungkin
akan jauh lehih rendah daripada yang diindikasikan oleh seluhung dari Peck.
Penurunan dapat direduksi dengan mengikuti prosedur-prosedur konstruksi yang me
ngurangi gerakan lateral dan tonjolan pada dasar. Untuk tipe tailah tertentu, karenanya,
penurunan dapat dijaga minimum dengan cara memasang hatang-batang penyangga (strut)
atau hatang-hatang tarik {tie-backs)l sesegera mungkin dan sebelum proses penggalian men
capai di hawah titik tumpu (point of support)-nya. Perlu sangat herhati-hati dalam mela
kukan penggalian untuk memastikan hahwa tidak terdapat tongga-rongga di antara struktur

Jarak dari galian

:I

c
"'
c

;;;

"'

.
:I
c

c "iij
"'
., ,
c
"'

a. \

E
"'

Q)
:.!

Gambar 8.29.

Kedalama n galian maksimum


1

0,01
0,02
0,03

Selubung penurunan di sekitar galian (A) Pasir dan lempung keras sampai kaku (B)
Lempung lunak sampai sangat Junak dengan kedalaman 1terbatas (C) Lempung Junak sampai sangat Junak
pada kedalaman yang c ukup besar (Direproduksi dengan izin dari Mexican Society SMFE).

Daya Dukung Tanah

31 3

penyangga dan tanah. Pada tanah non-kohesif, sangat vital untuk melakukan pengontrolan
terhadap aliran air tanah bila tidak ingin terjadi penurunan tanah akibat erosi yang akan
masuk ke dalam lubang galian. Perlu disadari bahwa untuk suatu metode konstruksi ter
tentu dan kemungkinan terbaik standar kemampuan pekerja, penurunan pada titik ter
tentu tidak dapat direduksi di bawah suatu nilai minimum yang tergantung pada tipe tanah
dan kedalaman galian.
Besar dan penyebaran gerakan lateral umumnya tergantung pada cara berdeformasi
struktur penyangga (misalnya apakah struktur yang bersangkutan dibiarkan melendut se
bagai sebuah kantilever atau disangga di dekat permukaan dengan lendutan maksimum ter
jadi pada jarak yang lebih dalam). Jadi gerakan lateral tergantung pada jarak .dan waktu pe
masangan batang-batang penyangga atau batang-batang tarik. Seperti pada kasus penurun
an, gerakan yang berlebihan dapat terjadi bila proses penggalian dibiarkan berlangsung ter
lalu jauh sebelum batang penyangga atau batang tarik pertama dipasang. Faktor utama lain
nya adalah tipe tanah. Sebagai perbandingan, gerakan lateral pada lempung lunak sampai
medium lebih besar dari gerakan lateral pada tanah rapat tak-kohesif.
Mana dan Clough [8.20) mengembangkan suatu metode untuk memperkirakan gerak
an lateral dan penurunan permukaan yang menyertai galian dengan penyangga (braced)
pada lempung-lempung lunak sampai medium. Metode tersebut didasarlcan atas pengukur
an-pengukuran di lapan dan analisis elemen hingga yang menunjukkan bahwa terdapat
korelasi antara gerakan tanah dan faktor keamanan terhadap keruntuhan dasar galian.
Pengaruh kekakuan dinding, jarak antara batang-batang penyangga, kekakuan dan beban
awal (preload), kedalaman sampai satu lapisan keras, lebar galian, dan modulus tanah se
muanya diperhitungkan dalam metode tersebut. Metode tersebut dapat juga diterapkan
pada dinding yang diberi batang pengikat asalkan angkur-angkurnya tidak mengalami leleh
(unyielding).
Tonjolan (heave) pada dasar galian umumnya merupakan suatu masalah pada tanah
kohesif. Tanah di luar galian bekerja sebagai beban tambahan terhadap tanah di bawah
dasar galian tersebut, karenanya akan terjadi deformasi ke arah atas dan, dalam kasus-kasus
ekstrirn, akan terjadi keruntuhan geser [Bagian 8 .2] . Tonjolan jangka pendek sebagian
besar akar{ bersifat elastis, kecuali bila faktor keamanan terhadap keruntuhan dasar kecil,
tetapi tonj olan tambahan akan terjadi akibat pemuaian tanah bila dasar tersebut tetap tidak
dibebani untuk jangka waktu yang panjang. Pada lempung yang terk.onsolidasi sangat ber
lebihan (heavily overconsolidated), terjadinya tonjolan dapat disertai dengan pelepasan
tegangan lateral yang tinggi pada lempung tersebut sebelum ada galian.

8 . 8. Angkur Tanah

Sebuah angkur tanah lazirnnya terdiri dari sebuah kabel atau batang baja bermutu tinggi,
yang disebut tendon, di mana salah satu ujungnya ditanamkan dengan kuat pada suatu
massa adukan semen atau tanah yang diberi adukan semen (digrout) dan ujung yang lain
diangkurkan pada sebuah pelat dudukan (bearing plate) pada unit struktur yang disangga.
Penerapan utama dari angkur tanah ini adalah pada konstruksi batang pengikat (tie-back)
untuk dinding-dinding diafragma atau turap. Penerapan lainnya adalah pada pengangkuran
struktur yang mengalami guling, gelincir, atau pengapungan, dalam rangka perolehan reaksi
untuk i pembebanan di lapangan dan pada pembebanan awal (pre-loading) atau mere
duksi penurunan. Angkur tanah, dapat dibangun di pasir (termasuk pasir berkerikil dan
pasir berlanau) dan lempung kaku, dan angkur tersebut dapat digunakan untuk situasi
situasi di mana diperlukan penyangga temporer maupun permanen.

Mekanika Tanah

31 4

Panjang tendon yang di-grout, melalui mana gaya disalurkan ke tanah di sekitarnya,
disebut panjang angkur teijepit (fixed anchor length). Panjang tendon antara angkur jepit
dengan pelat dudukannya disebut panjang angkur bebas (free anchor length): tidak ter
dapat gaya yang disalurkan ke tanah di sepanjang bagian ini. Untuk angkur sementara,
tendonnya biasanya diminyaki dan dibungkus dengan pita plastik pada seluruh panjang
bebasnya. Ini akan memungkinkan tendon untuk bergerak dengan bebas dan melindungi
tendon dari perkaratan. Untuk angkur permanen, tendon lazimnya diminyaki dan dilapis
dengan polythene di pabrik. Di lapangan, tendon tersebut dikupas dan minyaknya dike
ringkan pada bagian yang akan dijepit (panjang angkur terjepit).
Beban ultimit yang dapat dipikul oleh sebuah angkur tergantung pada tahanan tanah
(pada prinsipnya friksi kulit) yang termobilisasi di dekat panjang angkur teijepit. (Ini,
tentu saja, dengan mengasumsikan bahwa tidak akan terdapat keruntuhan sebelumnya
pada pertemuan antara adukan dan tendon atau pa da tendon itu sendiri). Angkur-angkur
biasanya di-prategang untuk mereduksi gerakan yang diperlukan untuk memobilisasi tahan
an tanah. Tiap angkur perlu diuji dengan uji pembebanan setelah dipasang: angkur semen
tara biasanya diuji sampai l ,2 kali beban kerja dan angkur permanen sampai l ,5 kali beban
kerja. Akhirnya dilakukan proses pemberian prategang pada angkur-angkur tersebut. Per
pindahan akibat rangkak akan terjadi pada angkur tanah pada pembebanan konstan.
Koefisien rangkak, yang didefinisikan sebagai perpindahan tiap satuan log waktu, dapat
ditentukan dengan uji pembebanan. Telah diusulkan bahwa koefisien ini tidak boleh leb ih
besar dari l mm untuk 1 ,5 kali beban kerja.
Sebuah penyelidikan tanah yang cukup luas perlu dilakukan di lokasi-lokasi di mana
angkur-angkur tanah akan dimanfaatkan. Profil tanah harus ditentukan secara teliti, di
mana setiap variasi pada elevasi dan tebal lapisan tanah tersebut sangat penting untuk di
ketahui. Pada pasir, distribusi ukuran partikel perlu ditentukan, agar permeabilitas dan
akseptabilitas adukan semen dapat diperkirakan. Kerapatan relatif pasir juga perlu dike
tahui untuk membuat suatu perkiraan nilai </> '. Pada lempung kaku, perlu ditentukan ke
kuatan geser tak-terdrainasinya.

Angkur pada Pasir


Secara umum urut-urutan pembangunannya adalah sebagai berikut. Sebuah lubang bor ber
selubung (cased) (dengan diameter sekitar 75- 1 2 5 mm) dibuat sepanjang kedalaman yarig
diperlukan. Tendon kemudian diatur dalam lubang tersebut dan adUkan semen disuntikkan
dengan tekanan tertentu pada seluruh panjang angkut terjcpit sambil mencabut selubung
lubang bor. Adukan tersebut berpenetrasi ke tanah di sekeliling lubang bor, sejauh jarak
tertentu yang tergantung pada permeabilitas tanah dan tekanan suntikan, membentuk
sua tu zona tanah yang di-grout, di mana diameternya dapat mencapai empat kali diameter
lubang bor (Gambar 8 . 30a). Ini perlu dilakukan dengan sangat berhati-hati untuk mema sti
kan bahwa tekanan suntikan tidak melebihi tekanan akibat tanah di atas angkur, bila tidak
maka akan terjadi tonjolan (heaving) atau celah-celah pada tanah. Ketika adukan tersebut
telah mencapai kekua tan yang memadai, ujung lain dari tendon diangkurkan pada pelat
dudukan. Ruang antara selongsong tendon dan sisi-sisi lubang bor, pada seluruh panjang
angkur bebas, biasanya diisi dengan adukan semen (dengan tekanan rendah) sehingga mem
berikan tambahan perlindungan terhadap karat pada tendon.
Tahanan ultimit dari sebuah angkur untuk tercerabut keluar sama dengan jumlah tahan
an sisi dan tahanan ujung dari massa yang di-grout. Persamaan teoretis berikut ini diusul
kan oleh Littlejohn (8 . 1 9 ] :

( )

Q1 = Ay ' h +

nDL tan q>'

By ' h ( D 2 - d 2)

(8.44)

31 5

Daya Dukung Tanah

Kabel I

- -1_
0

Massa yang di-grout

(a)

-r

------- L __________,
I

r--=-----.

(c)
-

j_
D

Garnbar 8. 30. Angkur tanah: (a) massa yang di-grout yang dibentuk dengan suntikan tekanan, (b)
silinder adukan semen, (c ) angkur dengan pelebaran ujung majemuk.
_

di mana Qf = kapasitas beban ultimit angkur, A = rasio tekanan normal pad a daerah perte
muan terhadap tekanan efektif akibat tanah di atasnya, B = faktor daya dukung, h =
kedalaman lapisan tanah di atasnya, L = panj ang angkur terjepit, D = diameter angkur ter
jepit, dan d = diameter lubang bor.
Telah diusulkan bahwa nilai A lazimnya berada dalam rentang 1 sampai 2. Faktor B
analog dengan faktor daya dukung N dalam kasus tiang pancang dan telah diusulkan
q
bahwa rasio N /B berada dalam rentang 1 ,3 sampai 1 ,4, dengan memakai nilai Nq dari
Berezantzev, Khristoforov, dan Golubkov. Tetapi, persamaan di atas tidak cukup mewakili
semua faktor yang relevan dalam sebuah perma salahan yang kompleks. Tahanan ultimit
juga tergantung pada rincian teknik pema sangan dan sejumlah rumus empiris yang telah
diusulkan oleh kontraktor-kontraktor khusus, yang layak untuk dipakai dengan teknik
teknik utama mereka.

Angkur pada Lempung Kaku


Teknik pembuatan angkur yang paling sederhana pada lempung kaku adalah dengan mem
ber sebuah lubang dengan bor besar sampai kedalaman yang diperlukan, mengatur letak
tendon, dan meng-grout panjang angkur terjepit dengan memakai corong pipa-cor (tremie)
(Gambar 8. 30b ) . Tetapi teknik terse but akan menghasilkan angkur yang relatif berkapa
sitas rendah karena friksi: kulit pada pertemuan antara adukan semen dan lempung tidak
akan melebihi 0,3 cu (yaitu a = 0,3).

v;;r ----..c
/

31 6

Mekanika Tanah

Kapasitas angkur dapat ditingkatkan dengan teknik suntikan kerikil. Lubang bor ter
sebut diisi dengan kerikil seperti kacang (pea gravel) pada seluruh panjang angkur teijepit,
lalu sebuah selubung, yang disambung dengan sepatu pengarah, dipancangkan ke dalam
kerikil, lalu ditekankan ke dalam lempung di sekelilingnya. Kemudian posisi tendon di
atur dan adukan semen disuntikkan ke dalam kerikil sambil dilakukan pencabutan selubung
(sepatu ditinggalkan di belakang). Teknik ini menghasilkan kenaikan diameter efektif
angkur teijepit (sebesar 50%) dan j uga peningkatan tahanan sisi, sehingga dapat diharap
kan suatu nilai a sebesar kira-kira 0,6. Sebagai tambahan, akan terdapat sedikit tahanan
ujung. l.nbang bor tersebut diisi lagi dengan adukan semen pada seluruh panjang angkur
bebas.
Teknik lainnya memanfaatkan suatu pemotong yang menonjol untuk membentuk se
deretan pelebaran (under-ream) lubang bor dengan jarak yang berdekatan pada seluruh
panjang angkur teijepit (Gambar 8.30c). Potongan-potongan tersebut umumnya disingkir
kan dengan menggelontorkan air. Kemudian letak kabel diatur dan pemberian adukan
semen dilakukan. Suatu nilai a sebesar kurang lebih 0,8 dapat dipakai sebagai asumsi di
sepanjang permukaan silindris melalui nilai-nilai ekstrirn pelebaran tersebut di atas.
Rumus desain berikut ini dapat digunakan untuk angkur pada lempung kaku:
1t
(D 2 - d 2 )cuN c
Q1 = nDLrxcu + 4

(8.45)

di mana Qf = kapasitas beban ultirnit angkur, L = panjang angkur teijepit, D = diameter


angkur tefjepit, d = diameter lubang bor, a = koefisien friksi kulit, dan Ne = faktor daya
dukung (umumnya diasumsikan sebesar 9)

Soal-soal

Suatu b eban sebesar 425 kN/m dipikul oleh pondasi jalur selebar 2 m, yang ditem
patkan sedalam 1 m pada lempung kaku dengan berat isi jenuh 2 1 kN/m 3 , di mana
muka air tanah berada pada permukaan tanah. Hitunglah faktor keamanan terhadap
'
keruntuhan geser (a) jika cu = 105 kN/m 2 dan lf>u = 0, (b) jika c = 10 kN/m 2 dan

1/>1 = 28 .
8.2. Suatu pondasi jalur selebar 1 ,5 m ditempatkan pada pasir, dengan berat isi 1 8 kN/m 2 ,
di mana muka air tanah berada jauh di bawah dasar pondasi. Parameter-parameter
'
kekuatan geser: c = 0, rp' = 38 . Pondasi ini memikul beban sebesar 500 KN/m.
Hitunglah faktor keamanan terhadap keruntuhan geser (a) jika bebannya vertikal,
(b) jika bebannya membent sudut 10 terhadap vertikal.

8.1.

8.3 . Hitunglah beban yang diizinkan untuk suatu pondasi berukuran 4,50 m x 2,2 5 m.
yang ditempatkan pada lempung kalu sedalam 3 ,5 m, jika faktor keamanan terhadap
keruntuhan geser ditetapkan sebesar 3. Berat isi jenuh lempung adalah 20 kN/m3
dan parameter kekuatan gesernya cu = 135 kN/m2 dan lf>u = 0.
8.4. Suatu pondasi telapak dengan luas 2,5 m 2 memikul beban sebesar 400 kN/m 2 pada
kedalaman 1 m di dalam pasir. Berat isi jenuh pasir = 20 kN/m 3 dan berat isi di atas
'
muka air tanah = 17 kN/m 3 . Parameter-parameter kekuatan geser adalah c = 0 dan

f/>1 = 40 . Hitunglah faktor keamanan terhadap keruntuhan geser untuk beberapa

kasus sebagai berikut:

Daya Dukung Tanah

8.S.

a) Jika muka air tanah berada 6 m di bawah permukaan tanah.


b) Jika muka air tanah berada 1 m di bawah permukaan tanah.
c) Jika muka air tanah berada di permukaan tanah dan rembesannya secara vertikal
ke atas dengan gradien hidroliknya 0,2.
Suatu pondasi telapak dengan luas 4 m2 terletak pada kedalaman 1 m pada lapisan
lempung jenuh dengan ketebalan 1 3 m, dan muka air tanah berada pada permukaan
tanah. Parameter-parameter lempung tersebut adalah cu = 1 00 kN/m2 , 4{,
0, c '
'
1 S kN/m2 , cp
27
mv 0,06S m2 /MN, A = 0,42, 'Ysat = 2 1 kN/m3 Hitunglah
daya dukung izin jika faktor keamanan terhadap keruntuhan geser tidak kurang
dari3 dan jika penurunan konsolidasi maksimum dibatasi hingga 30 mm.
Sebuah galian memanjang yang diperkuat pada lempung lunak memiliki lebar 4 m
dan kedalaman 8 m. Berat isi jenuh lempung adalah 20 kN/m3 dan kekuatan geser
tak-terdrainasi di dekat dasar galian tersebut diberikan dengan cu 40 kN/m2 (cpu
0). Hitunglah faktor keamanan terhadap keruntuhan dasar galian tersebut.
Beban-beban pada kolom yang ditumpu oleh pondasi telapak pada kedalaman 1 m
pada pasir dengan berat isi 1 8 kN/m3 adalah
=

8 . 6.

8. 7.

S OO,

5SO,

850,

900,

107S ,

1 200,

880,

700 kN.

Uji penetrasi standar dilakukari pada 4 lubang bor di lapangan; nilai-nilai N didapat
seperti ditunjukkan pada Tabel 8 . 1 1 .

Tabel 8. 1 1 .

24
27

8.8.

Muka air tanah berada pada kedalaman 2 m. Hitunglah daya dukung ijin untuk desain
pondasi telapak tersebut.
Suatu bangunan dengan ruang bawah tanah terle tak di atas pondasi rakit (raft) ber
ukuran 20 x SO m2 dengan kedalaman S m dan berada pada lapisan pasir yang tebal.
Suatu lapisan pasir halu s berlanau berada pada kedalaman 8 ,S m sampai 13 m di
bawah permukaan tanah. Muka air tanah berada pada kedalaman 3 m dan untuk se
mentara diturunkan hingga kedalaman 7 m selama pelaksanaan pembuatan pondasi.
Hasil yang didapat dari uji penetrasi standar (pada lubang bor yang memiliki nilai
rata-rata terkecil dengan interval setiap 1 ,S m pada kedalaman antara 1 ,S m sampai
2S ,S m adalah sebagai berikut:
7, 9, 1 6, 2 3 , 1 8 , 3 1 , 27, 3 3 , 2 1 , 30, 2 3 , 28, 36, 42 , 38, 44, so.

8 .9.

Hitunglah daya dukung yang diizinkan.


Pondasi telapak dengan lebar 3 m menerima tekanan sebesar 1 30 kN/m2 pada ke
dalaman 1 ,2 m di lapisan pasir yang tebal. Muka air tanah berada pada kedalaman
3 m. Di atas muk;a air tanah, berat isi pasir 1 6 kN/m3 dan di bawah muka air tanah,
=

Mekanika Tanah

31 8

berat isi jenuh 1 9 kN/m3. Variasi tahanan penetrasi konus (qc) dengan kedalarnan
(z) adalah sebagai berikut:
=

z(m)
qc(MN/m2 )

1 ,2 1 ,6 2,0 2,4 2,6 3 ,0 3 ,4 3 ,8 4,2


3 ,2 2 , 1 2 ,8 2,3 6 ,1 5 ,0 6,6 4,5 5 ,5

z(m)
qc(MN/m2 )

4,6 5 ,0 5,4 5 ,8 6,2 6 ,6 7,0 7 ,4 8 ,0


4,5 5 ,4 10,4 8 ,9 9 ,9 9,0 1 5 , 1 1 2 ,9 1 4,8.

Hitunglah penurunan pondasi telapak tersebut dengan menggunakan: (a) metode


De Beer (b) metode Schmertmann.
8. 1 0. Suatu tiang bor (bored pile) dengan dasar yang diperlebar diletakkan pada elevasi
lempung lanau. Kekuatan geser tak-terdrainasi pada elevasi iapisan dasar ada1ah
220 kN/m2. Berat isi jenuh lempung = 2 1 kN/m3. Diameter tiang = 1 ,05 m dan
diameter dasar = 3,00 m. Tiang tertanam pada kedalarnan 4 m sampai kedalaman
22 m, dan puncak perlebaran berada pada ke cl;ilarnan 20 m. Hasil percobaan se
belumnya memberikan koefisien friksi kulit (j = 0,7 0 yang cocok untuk lempung
tersebut. Hitunglah daya dukung ijin tiang tersebut agar diperoleh: (a) Faktor beban
keseluruhan sebesar 2 dan (b) faktor beban sebesar 3 di bawah dasar ketika tahanan
selubung tiang digunakan secara penuh.
8 . 1 1 . Pada suatu lokasi tertentu, profil tanah terdiri dari suatu lapisan lempung lunak
dengan dasar pasir yang tebal. Nilai-nilai tahanan penetrasi standar pada pasir untuk
kedalaman 0,7 5 m, 1 ,50 m, 2,25 m, 3 ,00 m, dan 3 ,7 5 m masing-rnasing adalah
18, 24, 26, 34, dan 32. Sembilan tiang pancang beton pracetak, dalam suatu ke
lompok bujur sangkar, dipancangkan melalui lapisan lempung dan menembus se
dalam 2 m pada pasir. Penampang tiang berbentuk bujur sangkar dengan sisi 0 ,2 5 m
dan satu sarna lain beJjarak 0,7 5 dalam kelompok tiang. Dengan mengabaikan friksi
kulit pada lapisan lempung, hitunglah daya dukung izin pada kelompok tiang ter
sebut jika ditetapkan faktor beban sebesar 2,5 dan penurunan yang teJjadi tidak me
lebihi 2 5 mm.
8 . 12. Suatu angkur tanah pada lempung kaku yang dibentuk dengan teknik injeksi kerikil
mempunyai panjang angkur teJjepit 5 m dan diameter efektif angkur teJjepit 200 mm.
Diameter lubang bor adalah 1 00 mm. Nilai-nilai parameter kekuatan geser untuk
lempung tersebut adalah cu
1 1 0 kN/m2 dan tPu
0. Berapakah kapasitas beban
ultimit angkur tersebut dengan mengasumsikan koefisien friksi kulit sebesar 0,6?
=

Referensi

Berezantzev, V. G., Khristoforov, V. S. dan Golubkov, V. N. ( 196 1 ):


'Load Bearing Capacity and Deformation of Piled Foundations',
Proceedings 5th International Conference SMFE, Paris, Vol. 2.
8.2 Bjerrum, L. ( 1 963): Discussion, Proceedings European Conference
SMFE, Wiesbaden, Vol. 3.
8 . 3 Bjerrum, L. dan Eggestad, A. ( 1 963): 'Interpretation of Loading Tests
on Sand', Proceedings European Conference SMFE, Wiesbaden,
Vol. 1 .
8 .4 Bjerrum, L. dan Eide, 0. ( 1 956): 'Stability of Strutted Excavations in
Clay', Geotechnique, Vol. 6, No. 1 .
8.5 British Standard 1 377 ( 1 975): Methods of Test for Soils for Civil
Engineering Purposes, British Standards Institution, London.
8. 1

Daya Dukung Tanah

31 9

British Standard Code of Practice, CP 101 (1 972): Foundations and


Substructures for Non-industrial Buildings of not more than Four
Storeys, British Standards Institution, London.
8.7 British Standard 8004 ( 1 986) : Code of Practice for Foundations,

8.6

British Standards Institution, London.


Burland, J. B. (1973): 'Shaft Friction of Piles in Clay', Ground
Engineering, Vol. 6, No. 3.
8.9 Burland, J. B., Broms, B. B. dan De Mello, V. F. B. ( 1977): 'Behaviour
of Foundations and Structures', Proc. 9th International Conference
SMFE, Tokyo, Vol. 2.
8 . 1 0 Burland, J . B . dan Burbidge, M . C. ( 1 985) : 'Settlement of Founda
tions on Sand and Gravel', Proc. Institution of Civil Engineers, Part 1 ,
Vol. 78, Desember.
8. 1 1 Burland, J . B . dan Cooke, R . W. ( 1 974): 'The Design of Bored Piles
in Stiff Clays' , Ground Engineering, Vol. 7, No. 4.
8.12 Burland, J . B . dan Wroth , C. P. ( 1 975) : 'Settlement of Buildings and
Associated Damage' , Proceedings of Conference on Settlement of
Structures (British Geotechnical Society) , Pentech Press, London.
8 . 1 3 Cooke, R . W. ( 1 986) : 'Piled Raft Foundations on Stiff Clays - a
Contribution to Design Philosophy' , Geotechnique, Vol . 36, No. 2 .
8 . 1 4 DeBeer, E . E . ( 1963): 'The Scale Effect in the Transposition o f the
Results of Deep Sounding Tests on the Ultimate Bearing Capacity of
Piles and Caisson Foundations', Geotechnique, Vol. 1 3, No. 1 .
8 . 1 5 DeBeer, E. E . (1970): 'Experimental Determination o f the Shape
Factors and the Bearing Capacity Factors of Sand', Geotechnique,
Vol. 20, No. 4.
8 . 1 6 DeBeer, E. E. dan Martens, A. ( 1957): 'Method of Computation of an
Upper Limit for the Influence of Heterogeneity of Sand Layers on the
Settlement of Bridges', Proceedings 4th International Conference
SMFE, London, Vol. 1 , Butterworths.
8 . 1 7 Gibbs, H. J. dan Holtz, W. G. ( 1957): 'Research on Determining the
Density of Sands by Spoon Penetration Testing', Proceedings 4th
International Conference SMFE, London, Vol. 1, Butterworths.
8. 1 8 Hansen, J. B. (1 968): 'A Revised Extended Formula for Bearing
Capacity', Danish Geotechnical Institute Bulletin, No. 28.
8 . 1 9 Littlejohn, G. S. ( 1970): 'Soil Anchors', Proceedings of Conference on
Ground Engineering, ICE, London.
8.20 Mana, A. I. dan Clough, G. W. (198 1 ): 'Prediction of Movements for
Braced Cuts in Clay', Journal ASCE, Vol. 107, No. GT6.
8.21 Meyerhof, G. G. ( 1955) : 'Influence of Roughness of Base and
Groundwater Conditions on the Ultimate Bearing Capacity of
Foundations' , Geotechnique, Vol. 5, No. 3.
8.22 Meyerhof, G. G. ( 1 956): 'Penetration Tests and Bearing Capacity of
Cohesionless Soils', Proceedings ASCE, Vol. 82, No. S M l .
8.23 Meyerhof, G . G . (1 963): 'Some Recent Research o n the Bearing
Capacity of Foundations', Canadian Geotechnical Journal, Vol. 1,
N o. 1.
8.24 Meyerhof, G. G. ( 1 965): 'Shallow Foundations', Proceedings ASCE,
Vol. 9 1 , No. SM 2 .
8.25 Meyerhof, G. G. (1 976): 'Bearing Capacity and Settlement of Pile

8.8

4
I
I

320

Mekanika Tanah

Foundations', Proceedings ASCE, Vol. 1 02, No. GT3.


8.26 Peck, R. B., Hanson, W. E. dan Thornburn, T. H. ( 1 974): Foundation
Engineering, John Wiley and Sons, New York.
8 .27 Polshin, D. E. dan Tokar, R. A. ( 1 957): 'Maximum Allowable Non
Uniform Settlement of Structures' Proceedings 4th International
Conference SMFE, London, Vol. I, Butterworths.
8.28 Poulos, H. G. ( 1 977): 'Estimation of Pile Group Settlements', Ground
Engineering, Vol. 1 0, No. 2.
8.29 Schmertmann, J. H. (1 970): 'Static Cone to Compute Static Settlement
over Sand', Proceedings ASCE, Vol. 96, No. SM3.
8.30 Schmertmann, J . H. ( 1975) : 'Measurement of In-Situ Shear Strength' ,
Proceedings of Conference on In Situ Measurement of Soil Properties,

ASCE, New York.


8 . 3 1 Skempton, A. W. ( 1 9 5 1 ): 'The Bearing Capacity of Clays', Proceedings
Building Research Congress, Vol. 1 .
8.32 Skempton, A . W . (1959): 'Cast-in-situ Bored Piles in London Clay',
Geotechnique, Vol. 9, No. 4.
8.33 Skempton, A. W. ( 1986) : 'Standard Penetration Test Procedures and
the Effects in Sands of Overburden Pressure, Relative Density,
Particle Size, Ageing and Overconsolidation', Geotechnique, Vol. 36,
No. 3.
8. 34 Skempton, A. W. dan MacDonald, D. H . (1956): 'Allowable Settle
ment of Buildings', Proceedings ICE, Vol. 5, Part 3.
8.35 Smith, E. A. L. (1 960): 'Pile Driving Analysis by the Wave Equation',
Proceedings ASCE, Vol. 86, No. SM4.
8.36 Terzaghi, K. ( 1 943): Theoretical Soil Mechanics, John Wiley and
Sons, New York.
8.37 Terzaghi, K. dan Peck, R. B. ( 1 967) : Soil Mechanics in Engineering
Practice (2nd edition), John Wiley and Sons, New York .
8.38 Thorburn, S. ( 1 963): 'Tentative Correction Chart for the Standard
Penetration Test in Non-Cohesive Soils', Civil Engineering and Public
Works Review, Vol. 58.
8.39 Thorburn, S. ( 1 975): 'Building Structures Supported by Stabilised
Ground', Geotechnique, Vol. 25, No. 1 .
8.40 Tomlinson, M. J . ( 1977): Pile Design and Construction Practice,
Cement and Concrete Asociation, London.
8.41 Tomlinson, M. J. ( 1 986) : Foundation Design and Construction (5th
edition), Pitman, London.
.
8.42 Vesic, A. S. ( 1973): 'Analysis of Ultimate Loads of Shallow Founda
tions', Journal ASCE, Vol. 99, No. S M l .
8.43 Whitaker, T . ( 1957): 'Experiments with M odels Piles i n Groups',
Geotechnique, Vol. 7, No. 4.
8.44 Whitaker, T. ( 1976): The Design of Piled Foundations, Pergamon
Press, Oxford.

BAB 9

Stabilitas Lereng

9 . 1 . Pendahuluan

Gaya-gaya gravitasi dan rembesan (seepage) cenderung menyebabkan ketidakstabilan


(instability) pada lereng alami (natural slope), pada lereng yang dibentuk dengan cara peng
galian, dan pada lereng tanggul serta bendungan tanah (earth dams). Tipe keruntuhan
lereng yang paling penting digambarkan pada Gambar 9. 1 . Dalam kelongsoran rotasi
(rotasional slip) bentuk permukaan runtuh pada potongannya dapat berupa busur lingkar
an (circular arc) atau kurva bukan lingkaran. Pada umumnya, kelongsoran lingkaran ber
hubungan dengan kondisi tanah yang homogen dan kelongsoran bukan lingkaran ber
hubungan dengan kondisi tidak homogen. Kelongsoran translasi (translational slip) dan
kelongsoran gabungan (compound slip) terjadi bila bentuk permukaan runtuh dipengaruhi
oleh adanya kekuatan geser yang berbeda pada lapisan tanah yang berbatasan. Kelongsoran
translasi cenderung terjadi bila lapisan tanah yang berbatasan berada pada kedalaman
yang relatif dangkal di bawah permukaan lereng, di mana permukaan runtuhnya akan
berbentuk bidang dan hampir sejajar dengan lereng. Kelongsoran gabungan biasanya
terjadi hila lapisan tanah yang berbatasan berada pada kedalaman yang lebih besar, dan
permukaan runtuhnya terdiri dari bagian-bagian lengkung dan bidang.

Kelongsoran rotasi

Kel ongsoran ga bungan

Gambar 9 .1 . Tipe-tipe keruntuhan lereng.

322

Mekanika Tanah
Di dalam praktek metode keseimbangan batas (limiting equilibrium method) di

gunakan dalam menganalisis stabilitas lereng. Dianggap bahwa keruntuhan (failure) ter
jadi pada titik di sepanjang permukaan runtuh yang diasumsikan maupun yang diketahui.
Kekuatan geser dengan dibutuhkan untuk mempertahankan kondisi keseimbangan batas
dibandingkan dengan kekuatan geser yang ada pada tanah, dan akan memberikan faktor
keamanan rata-rata sepanjang permukaan runtuh. Masalah tersebut dianggap dua-dimensi,
kondisi regangan bidang diasumsikan. Telah diperlihatkan bahwa analisis dua-dimensi
memberikan hasil yang aman untuk suatu keruntuhan pada permukaan tiga-dimensi

shaped).

9 2. Analisis untuk Kasus dengan cflu

(dish

Analisis ini, yang dinyatakan dalam tegangan total, mencakup kasus lempung jenuh sem
purna pada kondisi tak-terdrainasi tepatnya untuk kondisi segera sesudah pelaksanaan

pembangunan. Dalam analisis ini, yang ditinjau hanya keseimbangan momen. Pada potong
an, permukaan runtuh potensial diasumsikan sebagai sebuah busur lingkaran. Suatu per

mukaan runtuh coba-coba (titik pusat


Gambar

9.2.

0,

jari-jari r, dan panjang

La )

diperlihatkan pada

Ketidakstabilan potensial disebabkan oleh berat total massa tanah

(W

per

satuan panjang) di atas permukaan runtuh. Untuk kesetimbangan, kekuatan geser yang
harus dikerahkan disepanjang permukaan runtuh dinyatakan dalam
r

di mana

r:f

c.

F adalah faktor keamanan yang sesuai terhadap kekuatan geser.


0, diperoleh:

Dengan menyama

kan momen di titik

sehingga
F

c.Lar
Wd

(9. 1 )

o,.___
I

/I

A
I

_ __ _

,...___ -

--

Gambar 9.2. Analisis cflu

o.

Stabilitas Lereng

323

Momen akibat gaya tambahan harus diperhitungkan. Dalam kasus adanya retakan tarik
(tension crack), seperti pada Gambar 9.2, panjang busur L0 diperpendek dan gaya hidro
statik akan bekerja tegak lurus terhadap retakan hila retakan tersebut terisi air. Adalah
penting untuk menganalisis lereng dengan sejumlah permukaan runtuh coba-coba untuk
menentukan faktor keamanan minimum.
Berdasarkan prinsip kesebangunan geometris, Taylor [9.16] mempublikasikan koefi
sien stabilitas untuk analisis lereng homogen dalam tegangan total. Untuk lereng dengan
ketinggian H, koefisien stabilitas () untuk permukaan runtuh di mana faktor keamanan
nya minimum adalah
N.=

Cu

(9.2)

FyH

Untuk kasus 1/>u


0, nUai N8 dapat ditentukan dari Gambar 9.3. Koefisien N8 tergantung
pada sudut lereng {3 dan faktor kedalaman D, di mana DH adalah kedalaman sampai lapisan
tanah keras (frrm stratum).
Gibson dan Morgenstern [9.6] mempublikasikan oefisien stabilitas untuk lereng
pada Jempung terkonsolidasi normal di mana kekuatan tak-terdrainasi cu(1/>u
0) ber
variasi secara linear terhadap kedalaman.
=

0,30
0,25

0,20

I0'

IX)

Ns

0,15

0,10

0,05

/
y
......
,.0

....V
...

)
V
oY
IV:::

I
'/
I
f

I
6o"

Gambar 9.3. Koefisien stabilitas Taylor untuk


of Civil Engineers.)

t4,

{3
=

0. (Direproduksi dengan izin dari Boston Society

Mekanika Tanah

324

Gambar9.4.

Contoh 9.1

Suatu lereng 45 digali sampai kedalaman 8 m pada suatu lapisan lempung jenuh yang
dalam dengan berat isi 19 kN/m3, parameter-paraineter kekuatan geser yang relevan adalah
cu
65 kN/m2 dan C/Ju 0. Tentukanlah faktor keamanan untuk permukaan runtuh coba
coba yang diberikan pada Gambar 9.4.
Pada Gambar 9.4, luas penampang melintang daerah ABCD adalah 70m2
=

Berat massa tanah

70

19

1330 kN/m.

Titik berat ABCD adalah 4,5 m dari 0. Sudut AOC adalah 89 f dan jari-jari OC adalah
12,1 m. Panjang busur ABC dihitung sebesar 18,9 m. Faktor keamanan didapat sebesar:
F

CuLar
Wd
65

18,9

1330

12,1

4,5

2.48

Ini adalah faktor keamanan untuk permukaan runtuh coba-coba yang dipilih dan belum
tentu merupakan faktor keamanan minimum.
Faktor keamanan minimum dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan 9.2.
Dari Gambar 9.3, fj 45 dan dengan mengasumsikan D yang besar, maka nilai adalah
0,18. Maka
=

65
0,18
=

19

2,37

9.3. Metode Irisan

Dalam metode ini, permukaan runtuh potensial pada potongan, diasumsikan berbentuk
busur lingkaran dengan pusat 0 dan jari-jari r. Massa tanah (ABCD) di atas permukaan

325

Stabilitas Lereng

r- oc -l
;\' - I
I \ - r si n

'

\, r
,

"'-

Gambar 9.S. Metode irisan,

runtuh coba-coba (AC) dibagi oleh bidang-bidang vertikal menjadi sejumlah irisan dengan
lebar b, seperti diperlihatkan pada Gambar 9.5. Dasar dari setiap irisan diasumsikan sebagai
garis lurus. Untuk setiap irisan, sudut yang dibentuk oleh dasar irisan dan sumbu horisontal
adalah a dan tingginya, yang diukur pada garis sumbu, adalah h. Faktor keamanan di
definisikan sebagai rasio kekuatan gser yang ada (r1) terhadap kekuatan geser (rm ) yang
harus dikerahkan untuk mempertahankan syarat batas keseimbangan, yaitu

Faktor keamanan diambil sama untuk setiap irisan, agar terdapat keadaan yang saling
mendukung di antara irisan-irisan, jadi harus ada gaya yang bekerja di antara irisan-irisan
tersebut.
Gaya (per satuan ukuran yang tegak lurus terhadap potongan) yang bekerja pada irisan
adalah:
1.
2.

3.
4.
5.

Berat total irisan, W = 'Ybh ('Ysat bila diperlukan).


Gaya normal total pada dasar, N (sama dengan al). Umurnnya, gaya ini memiliki
'
dua buah komponen, yaitu gaya normal efektif N' (sama dengan a l) dan gaya
air batas U (boundary water force), (sama dengan ul), di mana u adalah tekanan
air pori pada pusat dasar dan 1 adalah panjang dasar.
Gaya geser pada dasar, T = Tml.
Gaya normal total pada sisi-sisi E1 dan 2
Gaya geser pada sisi-sisi, X1 dan X2

Setiap gaya luar juga harus diperhitungkan dalam analisis.


Masalah ini adalah statis tak-tentu dan untuk mendapatkan penyelesaian, hams dibuat
asumsi tentang gaya-gaya antaririsan (interstice forces) E dan X, di mana faktor keamanan
yang didapat tidak eksak.
Dengan meninjau momen terhadap 0, maka jumlah momen akibat gaya-gaya geser T
pada busur keruntuhan AC harus sama dengan momen akibat berat massa tanah ABCD.
Untuk setiap irisan, lengan m omen W adalah r sin a, sehingga

326

Mekanika Tanah

r. Tr = r. Wr sin a
Sekarang,

r
T = rm [ = ...1 [
F
I

j l = r. W sin

F=

IX

r. rf l
r. W sin IX

Untuk analisis yang menggunakan tegangan efektif,

F=

r.(c ' + a' tan </J' ) l


r. W sin a

atau

c ' La + tan .,,. , r.N'


F = -'+'
=-=-::-::-:--:-'r. W sin IX

_
_

(9.3)

di mana La adalah panjang busur AC. Persamaan 9.3 cukup tepat tetapi tetap ada pendekat
an dalam menentukan gaya N'. Untuk busur keruntuhan yang diberikan, nilai F akan ter
gantung pada bagaimana gaya N' tersebut diperkirakan.

Penyelesaian Menurut Fellenius


Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar
irisan adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya
pada setiap irisan yang tegak lurus terhadap dasar, yaitu

N ' = W co s IX - ul
Kemudian, faktor keamanan yang dinyatakan dalam tegangan efektif (Persamaan 9.3)
diberikan oleh

' L--'--a_+_t a_n_<P


' r._(_
c_
l)
W c o_s_IX_- u_
__
F=_
_
_
r. W sin IX

(9.4)

Komponen-komponen W cos a dan W sin a dapat ditentukan secara grafis untuk setiap
irisan. Alternatif lain, nilai a dapat diukur atau dihitung. Sekali lagi, sejumlah permukaan
keruntuhan coba-coba hams dipilih untuk mendapatkan faktor keamanan yang minimum.
Penyelesaian ini menghasilkan perkiraan faktor keamanan yang lebih kecil. Kesalahannya,
jika dibandingkan dengan metode analisis yang lebih akurat, biasanya berada dalam rentang
5 -20%.
Untuk suatu analisis yang menggunakan tegangan total, digunakan parameter-para
meter cu dan cf>u , dan nilai u pada Persamaan 9.4 adalah nol. Bila cf>u = 0 faktor keamanan
nya adalah

"L
_a_
F = _c-'r. W sin IX
Karena N' tidak tampak dalam Persamaan 9.5, maka didapat nilai F yang eksak.

(9.5)

327

Stabilitas Lereng

Penyelesaian Penyederhanaan Menurut Bishop


Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa resultan gaya pada sisi irisan adalah horisontal,
yaitu

Untuk keseimbangan gaya geser pada dasar setiap irisan adalah

T = - (c ' l + N' tan cf)


F
Dengan menyelesaikan kembali gaya-gaya dalam arah vertikal:
,,.,

c'l
N'
W = N cos rx + u1 cos rx + F
tan "' sm rx
sm rx +
F
.

N' =

( W-

c'l
F sm rx - ul cos rx
.

Dengan mensubstitusikan

)/ (

cos rx

+ tan 4>'Fsin rx

(9.6)

b sec rx

maka, dari Persamaan 9.3, sesudah disusun kembali, didapatkan:

F=

1
"'"' W sm. rx L:

{ c' b +

(W- ub) tan cf>' }

se_
rx __
c_
tan rx tan 4>'
F

_
_

1+

(9.7)

Tekanan air pori dapat dihubungkan dengan 'tekanan pengisian total' (total fill pres
sure) pada setiap titik dengan menggunakan rasio tekanan pori yang tak-berdimensi, yang
didefinisikan sebagai

(9. 8)

(Ysat hila diperlukan). Untuk setiap irisan,


ru =

Wjb

Selringga Persamaan 9.7 dapat ditulis:

F=

1
"'"' W sm.

rx

s c rx
L {c'b + -{ 1 - ru ) tan cf> ' } --e__
tan rx tan 4>'
F

1+

_
_

{9.9)

Karena faktor keamanan ada pada kedua ruas Persamaan 9.9, maka harus digunakan
suatu proses pendekatan bertahap untuk memperoleh penyelesaian tetapi dengan konver
gensi yang tepat.
Berhubung adanya perhitungan berulang dan diperlukannya pemilihan sejumlah
permukaan keruntuhan coba-coba yang tepat, maka metode irisan biasanya diselesaikan
dengan menggunakan komputer geometri lereng yang lebih kompleks dan lapisan tanah
yang berbeda akan dapat diselesaikan dengan metode ini.

328

Mekanika Tanah

Pada sebagian besar kasus, nilai rasio tekanan pori ru tidak konstan di seluruh per
mukaan keruntuhan, kecuali hila terdapat suatu daerah dengan tekanan pori yang tinggi,
biasanya yang digunakan dalam desain adalah nilai rata-rata (diukur berdasarkan luas).
Sekali lagi, faktor keamanan yang ditentukan dengan metode ini adalah suatu perkiraan
yang lebih kecil tetapi kesalahan jarang melenihi 7% dan pada sebagian besar kasus lebih
kecil dari 2%.
Spencer [9. 1 5 ] mengemukakan suatu metode analisis di mana resultan gaya antar
irisan adalah sejajar dan keseimbangan gaya dan keseimbangan momen terpenuhi. Spencer
memperlihatkan bahwa ketelitian metode penyederhanaan dari Bishop, di mana hanya
memenuhi, keseimbangan momen, adalah akibat dari ketidakpekaan persamaan momen
terhadap lereng dengan gaya-gaya antaririsan.
Koefisien stabilitas yang tidak berdimensi untuk lereng homogen, menurut Persamaan
9.9, telah dikemukakan oleh Bishop dan Morgenstern [9.4] . Dapat dilihat bahwa untuk
suatu sudut lereng dan sifat-sifat tanah tertentu, faktor keamanan bervariasi secara linear
terhadap ru dan dapat dinyatakan sebagai

F = m - nr.

(9. 1 0)

di mana m dan n adalah koefisien stabilitas. Koefisien m dan n merupakan fungsi {J, f/)1,
'
bilangan tak berdimensi c /rH, dan faktor kedalaman D.

Contoh 9.2
Dengan menggunakan metode msan dari Fellenius, tentukanlah faktor keamanan, yang
dinyatakan dalam tegangan efektif, dari lereng yang diperlihatkan pada Gambar 9.6 untuk
permukaan runtuh yang diberikan. Berat isi tanah di atas maupun di bawah muka air tanah,
' 10 kN/m 2 dan
adalah 20 kN/m 3 dan parameter-parameter kekuatan gesernya adalah c

f/)1 = 29 . Faktor, keamanan diberikan oleh Persamaan 9.4. Massa tanah dibagi menjadi
irisan-irisan dengan lebar 1 ,5 m. Berat (W) setiap irisan adalah
=

W = ybh = 20

1 ,5 x h = 30h kN/m

Tinggi h untuk tiap irisan ditentukan di bawah pusat dasar irisan dan komponen normal
dan tangensialnya, h cos ex dan h sin ex, ditentukan secara grafis, seperti diperlihatkan
pada Gambar 9.6. Maka
W COS IX = 30h COS IX
W sin IX = 30h sin IX
Tekanan air pori di pusat dasar tiap irisan diambil sebesar rwzw , di mana zw adalah jarak
vertikal dari titik pusat di bawah muka air tanah (seperti diperlihatkan pada gambar).
Prosedur ini memperkirakan besarnya tekanan air pori yang sedikit terlalu besar yang
seharusnya sebesar 'Ywze , di mana ze adalah jarak vertikal di bawah titik perpotongan muka
air tanah dan garis ekipotensial sampai pusat dasar irisan. Kesalahan yang didapat masih
berada dalam kondisi aman.
Panjang busur

(L0) dihitung 1 4,35 mm. Hasil-hasil tersebut diberikan dalam Tabel 9. 1 .

l: W COS IX = 30
l: W sin IX = 30
l:(W cos IX

1 7,50 = 525 kN/m


8,45 = 254 kN/m

ul ) = 525 - 1 32 = 393 kN/m

Stabilitas Lereng

329
0

m -- i13,15
_ l _j_
2,5I0m
6,00m j /
I
I; , I

---._

'

---._

--

r "' 9
' --:!!!!.. lt)

' ....
...
....___
.::::;....

M.A.T .

Gambar 9.6.

Tabel 9. 1

irisan

(m)

0,75
1 ,80
2,70
3,25
3,45
3,1 0

1
2
.
3
4
5
.

1,90

t
8

8,45

1 7 .SP

c' La + tan 4>' l:(W cos IX


l: W sin IX
(10

1 4,35)

1 43,5 + 2 1 8

254

5,9
11 ,8
1 6,2
18,1
1 7, 1
1 1,3
0
0

-0,15
-0,1 0
0,40
1 ,00
1 ,75
2,35
2,25
. 095

ul)

+ ( 0,554 X 393)

254

= 1 ,42

1,5 5
1 ,50
1 ,5 5
1 ,60
1 ,7 0
1 ,95
2,35
2,15
1 4,35

9, 1
17,7

25,1
29,0 .
29,1
22,0
0
0
,....,_
132,0

Mekanika Tanah

330

9.4. Analisis Kelongsoran Translasi Bidang

Diasumsikan bahwa permukaan runtuh potensial adalah sejajar dengan permukaan lereng
dan dengan kedalaman yang kecil dibandingkan dengan panjang lereng. Lereng tersebut
kemudian dapat dianggap memiliki panjang tak-terhingga, dengan mengabaikan pengaruh
ujungnya. Lereng tersebut membentuk sudut {3 dengan bidang horisontal dan kedalaman
bidang runtuh adalah z, seperti diperlihatkan pada Gambar 9.7. Muka air tanah diambil
sejajar terhadap lereng dengan tinggi mz(O < m < 1 ) di atas bidang runtuh. Rembesan
tunak (steady seepage) diasumsikan terjadi dalam arah yang sejajar dengan lereng. Gaya
gaya pada sisi setiap irisan vertikal adalah sama besar dan berlawanan arah dan kondisi
tegangannya sama disetiap titik pada bidang runtuh.
Kekuatan geser tanah disepanjang bidang runtuh, dinyatakan dalam tegangan efektif,
adalah
r1

'

+ (a - u) tan cf>'

dan faktor keamanannya adalah

F=

't
r

Pernyataan untuk a , T dan u adalah:


.

a = { ( 1 - m)y + my, } z cos 2 fJ


r = { (1 - m)y + my, } z s i n fJ cos fJ
2
u = mzyw cos fJ

Berikut ini adalah beberapa kasus khusus yang menarik. Bila c' = 0 dan m
tanah antara permukaan dan bidang runtuh tidak jenuh sempurna), maka

F=

0 (yaitu

tan <P'
tan {J

(9. 1 1 )

w
mz

- - \\
-\
-\
- - - _ , \ -\- - -t - \
l-\
-\ - \
\ _ .l- \
Jaringan \
\
\
alira n
1. - .\-\
- -

-- -

Gambar 9.7. Kelongsoran translasi bidang.

M.A.T.

331

Stabilitas Lereng

Jika c' = 0 dan m = 1 (yaitu muka air tanah berpotongan dengan permukaan lereng), maka:
F

_t_ tan 4>'

(9. 1 2)

Ysat tan p

Harus diperhatikan bahwa jika c' = 0, faktor keamanannya tidak tergantung pada kedalam
an z . Jika c' lebih besar dari nol, m aka faktor keamanannya merupakan fungsi z, dan {3
dapat melebihi ifJ' yang menghasilkan z yang lebih kecil daripada nilai kritis.
Untuk analisis tegangan total, parameter kekuatan geser cu dan rt>' digunakan untuk
nilai u = nol.
Contoh 9.3
Suatu lereng alami yang panjang pada lempung terkonsolidasi berlebihan yang bercelah
(fissured overconsolidated clay) membentuk sudut 1 2 terhadap bidang horisontal. Muka
air tanah berada pada permukaan dan rembesan dianggap searah dengan lereng. Suatu
kelongsoran terjadi pada sebuah bidang yang sejaj ar dengan permukaan pada kedalaman
5 m. Berat isi lempung jenuh ada1ah 20 kN/m3 . Parameter kekuatan geser puncak adalah
' 1 0 kN/m2 dan
c
ifJ:naks = 26; parameter kekuatan geser sisa adalah c; = 0 dan ifJ; = 1 8 .
Tentukanlah faktor keamanan sepanjang bidang longsor (a) dinyatakan dengan parameter
kekuatan geser puncak, (b) dinyatakan dengan parameter kekuatan geser sisa.
=

Dengan muka air tanah pada permukaan (m = 1), maka pada setiap titik pada bidang
longsor,

a = Ysat z cos 2 {J
r

= 20 x 5 x cos 2 1 2
= }'sat z sin {J cos p
= 20

sin 1 2

95,5 kN/mx

COS 1 2 = 20,3 kNjm2

= Y wZ COS 2 {J
= 9,8 x 5 x cos 2 1 2 o = 46,8 kN/m2

Dengan menggunakan parameter kekuatan geser puncak,


r1

=
=

c'

(a - u) tan

r/J'maks

10 + (48,7 x tan 26) = 3 3 ,8 kN/m2

Maka faktor keamanan didapat sebagai


F=

rJ
r

3 3 ,8
20,3

1 66
'

Dengan menggunakan parameter kekuatan geser sisa, faktor keamanan dapat diperoleh
dari Persamaan 9. 1 2 :
y ' tan 4>
F = - -
Ysat tan fJ

1 0,2 tan 1 8
= -- x --20
tan 1 2
= 0,78

Mekanika Tanah

33 2
9 . 5 . Metode Analisis Umum

Morgenstern dan Price [9. 10] membuat suatu analisis umum di mana seluruh syarat
batas dan syarat keseimbangan terpenuhi dan permukaan runtuh dapat berbentuk lingkar
an, bukan lingkaran, atau gabungan keduanya. Permukaan tanah dinyatakan oleh fungsi
y = z(x) dan permukaan runtuh coba-coba dinyatakan oleh fungsi y = y(x), seperti di
perlihatkan pada Gambar 9.8. Gaya-gaya bekerja pada suatu irisan dengan lebar dx juga
diperlihatkan pada Gambar 9.8. Gaya-gaya tersebut dinotasikan sebagai berikut:

E'
X
Pw

gaya normal efektif pada sisi irisan,


gaya geser pada sisi,
gaya air batas pada sisi,
gaya normal efektif pada dasar irisan,
dN'
dS = gaya geser pada dasar,
dPb = gaya air batas pada dasar,
dW
berat total irisan.
=

=
=

Garis gaya tolak (line of thrust) dari gaya normal efektif (E) dinyatakan oleh fungsi
y = y;(x) dan garis gaya tolak dari gaya air dalam (Pw) dinyatakan oleh fungsi y = h(x).
Dua persamaan diferensial yang menentukan diperoleh dengan menyamakan momen
momen pada titik tengah dasar, kan gaya-gaya yang tegak lurus terhadap dan sejajar dengan
dasar sama dengan nol. Persamaan tersebut disederhanakan dengan menggunakan gaya
normal total (E), di mana:
E

E'

Pw

z(x)

Permukaan tanah
y=

Garis gay a a i r dalam e


y=

y;(x)

Garis gaya tolak


y=

1-dx--J

Pw dPw
E' d;- - (yfdy)
- (h dh)
+

lbl

Gambar 9.8. Metode Morgenstern-Price.

h(x)

Stabilitas Lereng

333

Posisi gaya E pada sebuah sisi irisan didapat dari pernyataan:

Eyt

E'y; + Pwh

Masalah tersebut dibuat statis tertentu dengan mengasumsikan suatu huhungan antara
gaya-gaya E dan X dalam hentuk:
X=

)..j(x) E

(9. 1 3)

di mana f(x) adalah sua tu fungsi yang dipilih untuk mewakili pola variasi X/E pada massa
runtuh dan A adalah faktor skala. Nilai A. ditentukan sehagai hagian dari penyelesaian
dengan menggunakan faktor keamanan F.
Untuk mendapatkan suatu penyelesaian, massa tanah di atas suatu permukaan runtuh
coha-coha dihagi menjadi sejumlah irisan dengan lehar tertentu, di mana permukaan
runtuh dalam setiap irisan dapat diastimsikan linear. Syarat hatas pada setiap ujung per
mukaan runtuh dinyatakan dalam gaya E dan momen M yang diherikan oleh integral
dari suatu persamaan yang mengandung E dan X, di mana hiasanya kedua nilai E dan M
tersehut adalah nol pada setiap ujung permukaan runtuh. Metode penyelesaian tersehut
meliputi pemilihan nilai coba-coha A dan F, yang memherikan gaya E menjadi nol pada
awal permukaan runtuh dan mengintegrasikannya sepanjang tiap irisan, yang menghasil
kan nilai E, X, dan Yt di mana nilai E dan M yang dihasilkan pada ujung permukaan
runtuh umumnya tidak akan nol. Suatu teknik iterasi yang sistematis yang herdasarkan
pada metode Newton-Raphson dan dijelaskan oleh Morgenstern dan Price [ 9. 1 1 ] di
gunakan untuk memodifikasi nilai-nilai A dan F sampai nilai-nilai E dan M menjadi nol
pada ujung permukaan runtuh. Faktor keamanan tidak dipengaruhi oleh pemilihan fungsi
f(x) dan akihatnya f(x) = 1 adalah suatu asumsi yang se ring digunakan.
Untuk setiap permukaan runtuh yang diasumsikan, adalah penting untuk menguji
hasil tersehut untuk memastikan hahwa hasil tersehut herlaku untuk keadaan tegangan
di dalam massa tanah di atas permukaan runtuh ini. Selanjutnya, dilakukan pengecekan
untuk memastikan apakah suatu keruntuhan geser ataupun suatu keadaan tarik terdapat
di dalam massa tersebut . Kondisi pertama dipenuhi hila tahanan geser yang ada pada
setiap hidang antara irisan lehih hesar daripada nilai gaya X yang hersesuaian, di mana
rasio kedua gaya ini mewakili faktor keamanan lokal terhadap keruntuhan geser di se
panjang hidang antara (interface). Syarat yang menyatakan hahwa tidak holeh ada gaya
tarik yang terjadi akan terpenuhi hila garis gaya tolak dari gaya E, yang diherikan oleh
nilai yt, seluruhnya herada di atas permukaan runtuh.
Program komputer untuk analisis Morgenstern-Price hanyak didapat. Metode ter
sehut dapat sepenuhnya hermanfaat hila digunakan suatu pendekatan iteratif dengan
graflk: komputer.
Bell [ 9 . 1 ] mengemukakan suatu metode analisis di mana seluruh syarat keseimhangan
terpenuhi dan permukaan geser yang diasumsikan dapat herhentuk apa saja. Massa tanah
dihagi menjadi sejumlah irisan vertikal dan didapatkan suatu statis tertentu dengan meng
gunakan asumsi distrihusi tegangan normal di sepanjang permukaan runtuh.
Sarma [9 .12] mengemhangkan suatu metode, yang herdasarkan pada metode irisan,
di mana percepatan gempa kritis diperlukan untuk menghasilkan kondisi dengan kese
imbangan terhatas. Suatu asumsi distrihusi gaya-gaya vertikal antaririsan digunakan dalam
analisis ini. Sekali lagi, semua syarat keseimhangan terpenuhi dan permukaan runtuh
yang diasumsikan dapat berhentuk semharang. Faktor keamanan statis adalah faktor
di mana kekuatan geser tanah harus diperkecil, sehingga percepatan kritisnya nol.
Penggunaan komputer juga diperlukan untuk metode Bell dan Sarma serta seluruh
hasilnya harus dicek untuk memastikan hahwa hasil tersehut benar-henar dapat diterima.
,

(,

Mekanika Tanah

334

9.6. Stabilitas pada Akhir Pelaksanaan Pembangunan dan Stabilitas Jangka


Panjang

Bila suatu lereng dibentuk, dengan cara penggalian maupun dengan membangun sebuah
tanggul, maka perubahan tegangan total menghasilkan perubahan tekanan air pori di
sekitar lereng tersebut dan khususnya, di sepanjang suatu permukaan runtuh potensial.
Sebelumnya pelaksanaan pembangunan, tekanan air pori awal (u0) pada setiap titik di
tentukan oleh suatu taraf muka air tanah statik atau oleh suatu jaringan aliran (flow net)
untuk kondisi rembesan tunak (steady seepage). Perubahan tekanan air pori pada setiap
titik diberikan secara teoritis oleh Persamaan 4.27 atau 4.28. Tekanan air pori akhir,
sesudah disipasi kelebihan tekanan air pori selesai, ditentukan oleh permukaan muka air
tanah statik atau jaringan air pori dari aliran rembesan tunak untuk kondisi akhir sesudah
pelaksanaan pembangunan.
Bila permeabilitas tanah rendah, waktunya akan terlewati sebelum terjadi disipasi
kelebihan tekanan air pori yang berarti. Pada akhir pelaksanaan pembangunan, tanah
sebenarnya akan berada pada kondisi tak-terdrainasi dan relevan bila mana digunakan
suatu analisis tegangan total. Pada prinsipnya, suatu analisis tegangan efektif juga me
mungkinkan untuk kondisi akhir pelaksanaan pembangunan, dengan menggunakan tekanan
air pori (u), di mana
u

u0

Tetapi, karena analisis tegangan total ternyata lebih sederhana, biasanya analisis inilah
yang digunakan. Harus diperhatikan bahwa faktor keamanan yang sama biasanya akan
didapat dari analisis tegangan total dan tegangan efektif pada kondisi akhir pelaksanaan
pembangunan. Dalam analisis tegangan total dinyatakan bahwa tekanan air pori adalah
untuk kondisi runtuh, sedangkan dalam analisis tegangan efektif, tekanan air pori yang
digunakan adalah yang diperkirakan untuk kondisi tidak runtuh. Dalam jangka panjang,
kondisi terdrainasi sempurna akan dicapai dan hanya analisis tegangan efektif yang cocok.
Sebaliknya, bila permeabilitas tanah tinggi, disipasi tekanan air pori berlebihan akan
selesai pada saat akhir pelaksanaan pembangunan. Analisis tegangan efektif sesuai untuk
kondisi dengan nilai tekanan air pori yang didapat dari taraf muka air tanah statik atau
jaringan aliran yang sesuai.
Tekanan air pori dapat menjadi variabel bebas, yang ditentukan dari taraf muka air
tanah statik atau jaringan aliran untuk kondisi aliran tunak, atau dapat pula tergantung
pada perubahan tegangan total, yang cenderung menyebabkan keruntuhan.
Adalah penting untuk mengidentifikasi kondisi yang paling berbahaya pada setiap
masalah dalam praktek sehingga digunakan parameter kekuatan geser yang sesuai.
Lereng A/ami dan Galian pada Lempung Jenuh
Persamaan 4.2 7, dengan B = 1 untuk suatu lempung jenuh sempurna, dapat disusun sebagai
berikut
(9. 1 4)

Untuk suatu titik P tipikal pada permukaan runtuh potensial (Gambar 9.9), suku pertama
dalam Persamaan 9. 14 adalah negatif dan suku kedua juga akan negatif bila nilai A lebih
kecil dari 0, 5. Secara keseluruhan, perubahan tekanan air pori &I negatif. Pengaruh rotasi
dari arah tegangan utama diabaikan. Sewaktu disipasi terjadi, tekanan air pori meningkat
sampai nilai akhir seperti yang diperlihatkan pada Gambar 9.9. Dengan demikian faktor
keamanan memiliki nilai yang lebih kecil dalam jangka panjang, sewaktu disipasi telah
selesai, daripada di akhir pelaksanaan pembangunan.

Stabilitas Lereng

335

Gambar 9.9. Disipasi tekanan pori dan faktor keamanan sesudah penggalian. (Direproduksi dari A. W.
Bishop dan L. Bjerrum (1960). Proceeding A SCE Research Conference on Shear Strength of Cohesive
Soils, Boulder, Colorado, dengan izin dari American Society of Civil Engineer.)

Lereng pada lempung terkonsolidasi berlebihan yang bercelah (overconsolidated


fissured clays) membutuhkan pertimbangan khusus. Sejumlah kasus telah dicatat, di mana
keruntuhan pada lempung jenis ini teijadi lama sesudah disipasi kelebihan tekanan air
pori selesai. Analisis terhadap keruntuhan ini memperlihatkan bahwa kekuatan geser
rata-rata pada saat runtuh berada di bawah nilai puncaknya. Hal ini mungkin bila terjadi
regangan setempat yang besar akibat adanya celah, yang menyebabkan dicapainya ke
kuatan puncak, yang diikuti oleh suatu penurunan secara berangsur-angsur menuju nilai
kritis. Terbentuknya regangan setempat yang besar dapat mengarah kepada keruntuhan
lereng yang p rogresif. Tetapi, celah bukanlah satu-satunya penyebab keruntuhan progresif,
selain itu perlu diperhatikan ketidakseragaman tegangan geser di sepanjang permukaan
runtuh potensial dan tegangan setempat yang berlebihan yang dapat mengawali keruntuh
an progresif. Mungkin juga terdapat suatu kelongsoran pre-existing pada lempung jenis
ini dan dapat diperbaiki kembali dengan penggalian. Dalam kasus seperti ini, suatu anggap
an pergerakan kelongsoran harus ditentukan terlebih dahulu yang cukup besar untuk
menyebabkan kekuatan geser turun di bawah nilai kritis dan menuju nilai sisa .
Jadi untuk suatu keruntuhan awal (yaitu kelongsoran 'pertama kali') pada lempung
terkonsolidasi berlebihan yang bercelah, nilai kekuatan yang sesuai untuk analisis stabilitas
jangka panjang adalah nilai kritis. Tetapi untuk keruntuhan sepanjang suatu permukaan
longsor pre-existing, kekuatan yang sesuai adalah nilai sisa. Jelaslah bahwa pengamatan
adanya permukaan longsor pre-existing di sekitar daerah galian selama penyelidikan tanah
adalah penting.
Kekuatan lempung terkonsolidasi berlebihan pada keadaan kritis, untuk digunakan
dalam analisis suatu kelongsoran potensial 'pertama kali' (potential first-time slip), sulit
ditentukan secara tepat. Skempton [9 . 14] telah mengusulkan bahwa kekuatan puncak
dari lempung teremas (remoulded) dalam keadaan konsolidasi normal dapat diambil
sebagai perkiraan kekuatan lempung terkonsolidasi-berlebihan pada keadaan kritis, yaitu
ketika teijadi pelunakan tanah secara sempurna disekitar bidang longsor sebagai akibat
pemuaian selama bergeser.

Tanggul
Pembangunan tanggul menghasilkan kenaikan tegangan total, baik pada tanggul itu sendiri
sewaktu lapisan tanah diletakkan secara berangsur-angsur maupun pada tanah pondasi.
Waktu pembangunan sebuah tanggul relatif pendek dan bila pem1eabilitas urugan padat

336

Mekanika Tanah

']L____L_
0

Gambar 9 .10.

..

Disipasi tekanan pori dan faktor keamanan dalam suatu tanggul.

Lempung l u nak

Gambar 9 .1 1 .

Kerun tuhan di bawah tanggul.

kecil, tidak ada disipasi yang berarti selama pembangunan. Disipasi akan selesai sesudah
pelaksanaan pembangunan selesai dengan penurunan tekanan air pori sampai nilai akhir
dalam jangka panjang, seperti diperlihatkan pada Gambar 9JO. Faktor keamanan sebuah
tanggul pada akhir pelaksanaan pembangunan dengan demikian akan lebih kecil daripada
dalam jangka panjang. Parameter kekuatan geser untuk bahan urugan harus ditentukan
dari pengujian dengan contoh tanah yang dipadatkan sampai nilai kerapatan kering (dry
density) dan kadar air (water content) yang diterapkan untuk tanggul.
Stabilitas suatu tanggul dapat juga tergantung pada kekuatan geser tanah pondasi.
Kemungkinan keruntuhan di sepanjang suatu permukaan seperti yang digambarkan pada
Gambar 9.1 1 harus diperhitungkan dalam kasus yang sesuai.

9.7. Stabilitas Bendungan Tanah

Dalam perencanaan bendungan tanah, faktor keamanan untuk kedua lereng harus ditetap
kan setepat mungkin untuk kondisi paling kritis. Dari segi ekonomi, perencanaan yang
konseiVatif harus dihindari. Pada kasus lereng hulu (upstream slope), tahap paling kritis
adalah pada akhir pelaksanaan pembangunan dan selama penurunan (drawdown) muka
reseiVoar secara cepat. Tahap terkritis untuk lereng hilir (downstream slope) terjadi pada

337

Stabaitas Lereng

akhir pelaksanaan pembangunan dan selama aliran rembesan pada saat reservoar penuh.
Distribusi tekanan air pori pada setiap tahap memiliki suatu pengaruh yang dominan ter
hadap faktor keamanan dan pada bendungan tanah yang besar, biasanya dipasang sebuah
sistem pizometer, sehingga tekanan air pori sesungguhnya dapat diukur pada setiap tahap
dan dibandingkan dengan nilai perkiraan yang digunakan dalam desain ( digunakan analisis
tegangan efektif) . Bila faktor keamanan yang didasarkan atas pengukuran dianggap terlalu
rendah, maka perlu diadakan suatu tindakan perbaikan (remedial action). Selain itu,
dipasang pula instrumentasi untuk mengukur deformasi pada bendungan, baik selama
pembangunan maupun akibat pembangunan. Deformasi yang tidak merata dapat me
nyetabkar keretakan. di mana akan diperlukan tindakan perbaikan.

Akhir Pelaksanaan Pembangunan


Periode pelaksanaan pembangunan sebuah bendungan tanah tidak cukup panjang untuk
membiarkan disipasi sebagian dari kelebihan tekanan air pori sebelum pelaksanaan pem
bangunan berakhir, terutama pada sebuah bendungan dengan drainasi dalam (internal
drainage). Dengan demikian, analisis tegangan total akan menghasilkan suatu desain yang
sangat konservatif. Analisis tegangan efektif dipilih dengan menggunakan nilai perkiraan
Tekanan pori (u) pada setiap titik dapat ditulis sebagai

u0

.1u

mana u0 adalah nilai awal dan flu adalah perubahan tekanan air pori pada kondisi
tak-terdrainasi dinyatakan dalam perubahan tegangan utama besar total,

di

u0

B.1 u 1

Maka

r
"

Uo + _ ,1 u l
B
yh
yh

--

Bila diasumsikan bahwa kenaikan tegangan utama besar total hampir sama dengan tekanan
urugan di sepanjang permukaan runtuh potensial, maka

ru

uo
yh

+ B-

(9. 1 5)

Sewaktu dipadatkan tanah terse but jenuh sebagian, sehingga tekanan air pori awal (u0 )
negatif . Nilai u 0 yang sebenarnya tergantung pada keadaan kadar air, semakin besar kadar
airnya, nilai u 0 semakin menjekati nol. Nilai iJ juga tergantung pada keadaan kadar air,
semakin besar kadar air, nilai semakin besar. Jadi, untuk suatu batas atas,

(9 . 1 6)

Nilai jj harus sesuai dengan kondisi tegangan pada bendungan. Persamaan 9. 1 5 dan 9. 1 6
mengasumsikan tidak ada disipasi selama pelaksanaan pembangunan. Faktor keamanan
sebesar 1 , 3 dapat diterima untuk saat akhir pelaksanaan pembangunan asalkan terdapat
data desain yang layak dapat dipercaya.
Bila nilai ru yang tinggi diketahui lebih dahulu, disipasi tekanan air pori berlebihan
dapat dipercepat dengan menggunakan lapisan-lapisan drainasi horisontal di dalam ben
dungan tanah, di mana drainasi terjadi secara vertikal melalui lapisan-lapisan ini, suatu
potongan bendungan diperlihatkan pada Gambar 9. 1 2. Efisiensi lapisan drainasi telah
diuji secara teoritis oleh Gibson dan Shefford [9.7 ] dan diperlihatkan bahwa pada suatu

338

Mekanika Tanoh

Gambar 9.12.

Lapisan drainasi horisontal.

kasus, lapisan-lapisan tersebut, supaya benar-benar efektif, harus memiliki permeabilitas


sekurang-kurangnya 106 kali permeabilitas tanah tanggul, efisiensi yang dapat diterima
diperoleh dengan rasio permeabilitas kurang lebih sebesar 1 05

Rembesan Tunak
Sesudah reservoar penuh untuk beberapa waktu, kondisi rembesan tunak (steady seepage),
timbul diseluruh bendungan dengan tanah di bawah garis aliran teratas dalam keadaan
jenuh sempurna. Kondisi ini harus dianalisis dalam tegangan efektif dengan nilai tekanan
pori ditentukan dari jaringan aliran. Nilai ru sampai 0,45 adalah memungkinkan untuk
bendungan homogen, tetapi untuk bendungan dengan drainasi dalam akan dicapai nilai
ru yang jauh lebih rendah. Faktor keamanan untuk kondisi ini sebaiknya paling kecil l , 5 .

Penurunan Secara Mendadak


Sesudah kondisi rembesan tunak timbul, suatu penurunan ( drawdown) permukaan reser
voar akan menghasilkan suatu perubahan distribusi tekanan air pori. Bila permeabilitas
tanahnya rendah, periode penurunan yang diukur dalam waktu mingguan dapat menjadi
'mendadak' sehubungan dengan waktu disipasi, dan perubahan tekanan air pori dapat
diasumsikan terjadi pada kondisi tak-terdrainasi. Berdasarkan Gambar 9.1 3, tekanan air
pori sebelum penurunan pada suatu titik P pada permukaan runtuh potensial dinyatakan
oleh

'
di mana h adalah kehilangan tinggi tekan total akibat rembesan antara permukaan lereng
hulu dan titik P. Sekali lagi, di sini diasumsikan bahwa tegangan utama besar total pada P
sama dengan tekanan urugan. Perubahan tegangan utama besar total diakibatkan oleh
perpindahan air sebagian atau total di atas lereng pada arah vertikal terhadap P. Untuk
suatu kedalaman penurunan sebesar hw .

0"1 = - ywh w
dan perubahan tekanan air pori dinyatakan oleh

u = Bcr1
=

- B yw hw

Dengan demikian tekanan air pori di P segera sesudah penurunan adalah :


u

=
=

u0

+ u

Y w {h + hw(l - B) - h' }

339

Stabl1itas Lereng

Gambar 9.13.

Kodisi penurunan secara mendadak (Direproduksi dari A. W. Bishop dan L. Bjerrum

(1 960) Proceeding ASCE Research Conference on Shear Strength of Cohesive Soil, Boulder, Colorado.

dengan izin dari American Society of Civil Engineers.)

Sehingga :
r"

--

Ysat h

{1
Ysat

h
"'(l
h

B)

!!:_}

(9 . 1 7)

Uhtuk penurunan tegangan total, nilai li sedikit lebih besar dari 1 . Nilai ru yang aman
dapat ditentukan dengan mengasumsikan li
1 dan mengabaikan h ' . Nilai ru tertentu
segera sesudah penurunan terletak di antara rentang 0,3 sampai 0,4. Faktor keamanan
minimum sebesar 1 ,2 sesudah penurunan secara mendadak dapat diterima.
Morgenstern [9.9] mempublikasikan koefisien-koefisien stabilitas untuk analisis
lereng homogen sesudah penurunan mendadak.
Distribusi tekanan air pori sesudah penurunan pada tanah dengan permeabilitas tinggi
adalah beiVariasi pada saat air pori ke luar dari tanah di atas permukaan penurunan. Garis
kejenuhan bergerak ke bawah dengan laju yang tergantung pada permeabilitas tanah
yang bersangkutan. Serangkaian jaringan aliran dapat digambarkan untuk posisi-posisi
garis kejenuhan yang berbeda dan dihasilkan nilai tekanan air pori. Faktor keamanan
kemudian dapat dihitung, dengan menggunakan analisis tegangan efektif, untuk setiap
posisi garis kejenuhan terse but.
=

Soal-soal

9. 1 . Pada suatu bidang runtuh yang diketahui, hitunglah faktor keamanan pada kondisi
tegangan total untuk lereng seperti pada Gambar 9 . 1 4. Berat isi kedua tanah tersebut
adalah 1 9 kN/m3 Untuk tanah 1 , parameter kekuatan geser yang relevan adalah Cu =
20 kN/m2 dan cf>u = 0, untuk tanah 2, cu 35 kN/m2 dan cf>u 0. Berapakah fakto r
keamanan apabila diizinkan teijadi suatu retak tarik (tension crack) yang akan
terisi air?
9.2. Suatu pengerukan sedalam 9 m dilakukan pada lempung jenuh yang mempunyai
berat isi 1 9 kN/m3 Parameter-parameter kekuatan geser yang relevan adalah cu =
30 kN/m2 dan cf>u 0. Suatu lapisan keras yang merupakan dasar bagi lapisan lem
pung tersebut berada pada kedalaman 1 1 m di bawah permukaan tanah. Dengan
menggunakan koefisien stabilitas taylor, hitunglah sudut lereng yang akan menyebab=

340

Mekanika Tanah

Tanah ( 1 )

Tanah (2)

Gambar 9.14.

; I
! 00

r - T. "I -
I

1 9 ,30 m

I I
I I

'"-

'

1-----+-- 2 4,80 m

17

1 3,00 m

10

20

30

Gambar 9.1 5 . (Direproduksi dari Skempton dan Brown ( 1 9 6 1 ) A landslide in boulder clay at Selset,
Yorkshire, Geotechnique Vol. 1 1, haL 280, dengan seizin dari the Council of the Institution of Civil
Engineers.)

341

Stabilitas Lereng

'

48.0

Gambar 9 J 6 .

9 .3.

kan keruntuhan. Berapakah sudut lereng yang diizinkan jika ditetapkan faktor
keamanan sebesar 1 ,2?
Untuk permukaan runtuh yang diberikan, tentukanlah faktor keamanan pada kondisi
tegangan efektif untuk lereng seperti pada Gambar 9. 1 5, dengan menggunakan
metode irisan dari Fellenius. Berat isi tanah adalah 2 1 kN/m3 dan parameter kekuatan
geser yang relevan adalah c ' = '8 kN/m2 dan q/ 32 .
Ulangi kembali analisis lereng yang diuraikan pada Soal 9.3 dengan menggunakan
metode irisan penyederhanaan dari Bishop.
Dengan menggunakan metode irisan penyederhanaan dari Bishop, tentukanlah
faktor keamanan pada kondisi tegangan efektif pada lereng seperti yang tergambar
pada Gambar 9 . 1 6 dengan permukaan runtuh yang sudah ditentukan. Nilai ru 0,45
dan berat isi tanah 20 kN/m3 Parameter-parameter kekuatan tanah yang relevan
'
adalah c = ' 1 6 kN/ml dan q/ = 32 .
Suatu lereng dibuat pada tanah dengan nilai c' 0 dan cp' 36" . Diasumsikan bahwa
muka air tanah kadang-kadang dapat mencapai permukaan lereng di mana rembesan
yang terjadi akan sejajar dengan lereng terse but. Tentukanlah sudut lereng maksimum
jika faktor keamanannya adalah 1 ,5 , dengan anggapan permukaan runtuh yang
kemungkinan besar terjadi sejajar dengan lereng. Berapakah faktor keamanan lereng
yang terjadi pada sudut lereng tersebut apabila muka air tanah tepat berada di
bawah permukaan runtuh tersebut? Berat isi jenuh tanah 1 9 kN/m3 .
=

9 .4.
9.5.

9 .6.

==

Referensi

9.1
9.2
9.3

Bell, J. M . ( 1 968): 'General Slope Stability Analysis', Journal ASCE,


Vol. 94, No. S M 6.
Bishop. A. W. ( 1 955): 'The Use of the Slip Circle in the Stability
Analysis of Slopes', Geotechnique, Vol. 5, No. 1 .
Bishop, A. W. dan Bjerrum, L. ( 1 960): 'The Relevance of the Triaxial
Test to the Solution of Stability Problems', Proceedings ASCE
Research Conference on Shear Strength of Cohesive Soils, Boulder,
Colorado, hal. 437.

Mekanika Tanah

342

9.4
9.5
9.6

9.7

9.8
9.9
9. 10
9. 1 1

9. 12
9. 13
9. 14
9. 1 5

9. 16
9. 17

Bishop, A. W. dan Morgenstern, N. R. ( 1960): 'Stability Coefficients


for Earth Slopes', Geotechnique, Vol. 10, No. 4.
British Standard 603 1 ( 1 981): Code of Practice for Earthworks, British
Standards Institution, London.
Gibson, R. E. dan Morgenstern, N. R. ( 1 962): 'A Note on the Stability
of Cuttings in Normally Consolidated Clays', Geotechnique, Vol. 1 2,
No. 3.
Gibson, R. E. dan Shefford, G. C. ( 1 968): 'The Efficiency of
Horizontal Drainage Layers for Accelerating Consolidation of Clay
Embankments', Geotechnique, Vol. 18, No. 3.
Lo, K. Y. ( 1 965): 'Stability of Slopes in Anisotropic Soils', Journal
ASCE, Vol. 9 1 , No. SM4.
Morgenstern, N. R. ( 1 963): 'Stability Charts for Earth Slopes During
Rapid Drawdown', Geotechnique, Vol. 1 3, No. 2.
Morgenstern, N. R. dan Price, V. E. ( 1 965): 'The Analysis of the
Stability of General Slip Surfaces', Geotechnique, Vol. 1 5, No. 1 .
Morgenstern, N. R. dan Price, V . E . ( 1 967): ' A Numerical Method for
Solving the Equations of Stability of General Slip Surfaces', Computer
Journal, Vol. 9, hal. 3 88.
Sarma, S. K. ( 1 973): 'Stability Analysis of Embankments and Slopes',
Geotechnique, Vol. 23, No. 2.
Skempton, A. W. ( 1 964) : 'Long-Term Stability of Clay Slopes',
Geotechnique, Vol. 1 4, No. 2.
Skempton, A. W. ( 1970): 'First-Time Slides in Overconsolidated
Clays' (Technical Note), Geotechnique, Vol. 20, No. 3.
Spencer, E. ( 1 967): 'A Method of Analysis of the Stability of
Embankments Assuming Parallel Inter-Slice Forces', Geotechnique,
Vol. 1 7, No. 1 .
Taylor, D . W. ( 1 937): 'Stability o f Earth Slopes', Journal of the Boston
Society of Civil Engineers, Vol. 24, No. 3.
Whitman, R. V. dan Bailey, W. A. ( 1 967): 'Use of Computers for
Slope Stability Analysis', Journal ASCE, Vol. 93, No. SM4.

BAB 1 0

Penyelidikan Tanah

1 0. 1 .

Pendahuluan

Penyelidikan tanah yang memadai merupakan suatu pekerjaan pendahuluan yang sangat
penting pada pelaksanaan sebuah proyek teknik sipil. lnformasi yang cukup harus diper
oleh untuk membuat suatu desain yang aman dan ekonomis dan untuk menghindari ke
sulitan-kesulitan pada saat konstruksi. Tujuan-tujuan utama dari penyelidikan tersebut
adalah : ( 1 ) untuk menentukan urutan, ketebalan, dan lapisan tanah kearah lateral dan.
bila diperlukan, elevasi batuan dasar ; (2) untuk memperoleh contoh-contoh tanah (dan
batuan) yang cukup mewakili untuk keperluan identifikasi dan klasifikasi dan, bila perlu,
untuk digunakan dalam uji laboratorium guna menentukan parameter-parameter tanah
yang relevan ; (3) untuk mengidentifikasi kondisi air tanah. Pimyelidikan tersebut mungkin
juga meliputi pengadaan uji di lapangan untuk menentukan karakteristik-karakteristik
tanah yang ada. Hasil-hasil dari penyelidikan tanah harus memberikan informasi yang
c ukup memadai, misalnya untuk mendapatkan tipe pondasi yang paling sesuai untuk
suatu usulan struktur dan sebagai petunjuk bila mungkin timbul masalah-masalah pada
saat penggalian.
Sebuah kajian tentang peta-peta dan laporan-laporan atau catatan geologis, bila ada,
harus memberikan indikasi tentang kemungkinan kondisi-kondisi pada tempat yang di
tanyakan. Bila lokasi tersebut luas sekali dan bila tidak terdapat informasi apapun, pe
makaian foto udara dapat sangat bermanfaat dalam mengidentifikasi gambaran-gambaran
geologis yang penting. Sebelum dimulai pekerjaan di lapangan, suatu inspeksi pada lokasi
dan kawasan di sekelilingnya perlu dilakukan dengan berjalan kaki. Sebagai contoh, tepi
sungai, galian-galian yang ada, tempat pengambilan bahan (quarry) , dan lintasan jalan
atau rel dapat merupakan informasi yang berharga yang menggambarkan sifat alamiah
lapisan-lapisan dan kondisi-kondisi air tanah. Struktur-struktur yang ada perlu dipelajari
untuk penandaan kerusakan akibat penurunan. Kondisi-kondisi yang pernah dialami
pada masa lalu di daerah tersebut dapat diperoleh dari para pemilik di dekatnya atau
dari penguasa setempat. Semua informasi yang diperoleh lebih lanjut memungkinkan
dit uatnya suatu keputusar ter.tar:g tir e penyelidikan yang paling sesuai.
Prosedur penyelidikan aktual tergantung pada sifat alamiah lapisan-lapisan dan tipe
proyek, tetapi lazimnya akan melibatkan penggalian lubang-lubang bor atau lubang-lubang
uji. Jumlah dan lokasi lubang bor atau lubang galian tersebut harus dapat mencakup

Mekanika Tanah

344

penentuan struktur dasar geologis pada lokasi tersehut dan pendeteksian kondisi-kondisi
yang tidak teratur yang cukup berperan pada struktur perm ukaan hawah (sub-surface).
Makin hesar tingkat ketidak seragaman kondisi tanah, m akin banyak jum lah luhang bor
atau lubang galian yang diperlukan. Lokasi-lokasi tersebut perlu dihindari dari daerah
daerah di mana akan ditempatkan pondasi-pondasi. Sehuah penyelidikan awal pada skala
yang paling dekat dengan kenyataan harus dilakukan untuk m em peroleh karakteristik
karakteristik lapisan-lapisannya, diikuti dengan penyelidikan yang lebih luas dan direncana
kan dengan baik, termasuk pengamhilan contoh dan uji di lapangan.
Penyelidikan perlu dilakukan sampai kedalaman yang memadai. Kedalaman ini ter
gantung pada tipe dan ukuran proyek, tetapi harus m encakup lapisan-lapisan yang di
pengaruhi oleh struktur dan konstruksinya. Penyelidikan tersehut perlu diperluas sam pai
di bawah sem ua lapisan yang m ungkin memiliki kekuatan geser yang kurang memadai
untuk m endukung pondasi atau yang akan m enimbulkan penurunan yang cukup berarti.
Bila perlu digunakan tiang pancang maka penyelidikan tersebut harus diteruskan sampai
kedalaman yang telah diperhitungkan dari perm ukaan tanah. Aturan umum yang sering
diterapkan pada pondasi ialah bahwa kondisi tanah sampai kedalaman penting (Bagian 8 . 1 )
harus diketahui untuk m eyakinkan bahwa tidak terdapat lapisan lunak di bawah kedalam
a n ini yang akan menyebabkan penurunan yang tidak dapat diterim a. Bila ditem ukan
batuan (rock) maka perlu dilakukan penetrasi paling sedikit 3 m untuk m em astikan bahwa
yang ditem ukan tersebut henar-benar lapisan batuan dan hukan sebuah herangkal besar,
kecuali bila pengetahuan geologis m enunjukkan hal-hal lain. Penyelidikan-penyelidikan
di daerah-daerah pekerjaan pertambangan tua atau gua-gua di bawah tanah m ungkin
harus dilakukan sam pai kedalaman yang m elehihi kedalam an normal.
Lubang-lubang bor dan lubang-lubang uji perlu diurug kembali setelah digunakan.
Pengurugan kembali dengan tanah yang dipadatkan m ungkin cukup m emadai pada hanyak
kasus tetapi hila kondisi air tanah dipengaruhi oleh suatu lubang bor dan aliran resultan
nya dapat m enimhulkan pengaruh yang kurang baik, m aka perlu digunakan injeksi (grout)
dengan hahan dasar dari semen untuk m elapisi luhang terse hut.
Biaya suatu penyelidikan tergantung pada luas dan lokasi tempat proyek, sifat alamiah
lapisan-lapisan, dan tipe proyek yang diperhitungkan. Secara um um, m akin hesar proyek.
dan makin tidak kritis kondisi tanahnya terhadap desain dan pelaksanaan konstruksi
proyek tersehut, m akin rendah biaya penyelidikan tanah sebagai persentase biaya total.
Biaya tersebut hiasanya berada dalam rentang 0 , 1 % sam pai 2% dari biaya proyek, karena
nya jarang dilakukan suatu reduksi lingkup penyelidikan hanya untuk alasan-alasan ke
uangan saja.

1 0.2.

Metode-metode Penyelidikan

Lubang Uji
Penggalian lubang uji (trial pit) adalah sebuah m etode penyelidikan yang sederhana dan
dapat dipercaya tetapi terhatas sampai kedalaman m aksim um 4-5 m . Tanah biasanya
disingkirkan dengan alat back-shovel dari sebuah alat gali m ekanis. Sehelum ada orang
m emasuki lubang tersebut, sisi-sisinya harus selalu disangga kecuali hila sisi-sisi tersebut
dibuat miring dengan sudut yang aman atau dibuat bertangga. Tanah hasil galian harus
diletakkan paling sedikit 1 m dari tepi lubang galian. Bila lubang terse but akan diperdalam
sam pai di bawah m uka air tanah, m aka perlu dilakukan pengertingan (dewatering) pada
tanah yang lebih perm eabel, sehingga menyebabkan peningkatan biaya. Manfaat lubang
uji ialah kita dapat m elakukan pengamatan kondisi tanah di lapangan secara visual, jadi
batas-batas antarlapisan dan sifat-sifat alamiah makro-fabrik dapat ditentukan secara

Penyelidikan Tanah

345

akurat. Contoh-contoh tanah terganggu atau tidak terganggu dapat diperoleh dengan
relatif mudah : Pada tanah kohesif, contoh-contoh blok dapat dipotong dengan tangan
dari sisi-sisi atau dasar lubang dan contoh-contoh dalam tabung (tube samples) dapat
diperoleh di bawah dasar lubang itu. L'ubang uji sesuai untuk penyelidikan semua tipe
tanah, termasuk tanah yang mengandung berangkal atau kerakal.

Sumuran dan Terowongan


Lubang uji atau sumuran yang dalam biasanya dibuat dengan penggalian memakai tangan,
di mana sisi-sisinya disangga dengan kayu. Terowongan digali secara lateral dari dasar
sumuran yang dalam atau dari permukaan tanah ke dalam lereng bukit, di mana baik
sisi-sisi maupun atapnya perlu disangga. Sumuran dan terowongan tersebut mungkin
tidak akan digali sampai di bawah muka air tanah. Silmuran dan terowongan sangat mahal,
dan penggunaannya hanya akan diputuskan untuk penyelidikan-penyelidikan untuk
struktur-struktur yang sangat besar, seperti bendungan, bila kondisi tanahnya tidak dapat
diperoleh secara memadai dengan cara-cara yang lain.

Pemboran Tumbuk
Menara bor (Gambar l O. l } ' terdiri dari sebuah derek, sebuah unit pembangkit daya, dan
sebuah gulungan berisi kabel baja ringan yang melalui sebuah alat katrol pada puncak
d'erek. Hampir semua menara bor disambung dengan roda dan bila dilipat ke bawah dapat
disangkutkan di belakang sebuah kendaraan. Pada tanah yang keras atau rapat, lubang
bor digali dengan paho.t atau gurdi pencacah yang disambungkan pada suatu batang bor
kaku dengan penampang berbentuk bujur sangkar, di mana batang tersebut cukup berat
untuk keperluan penetrasi ke dalam tanah. Kadang-kadang sebuah elemen berat yang
disebut 'batang pembenam' disambung tepat di atas alat bor. Alat-alat dan batang-batang
tersebut ditahan oleh kabel baja dan secara berulang-ulang dinaikkan dan dijatuhkan,
dengan unit wins kabel, untuk memecah tanah. B'erangkal dan kerakal dapat juga dipecah
dengan pahat tetapi prosesnya akan berjalan sangat lambat.
Di bawah muka air tanah, tanah yang lepas membentuk suatu cairan lumpur (slurry)
dengan air tanah. Di atas muka air tanah, dilakukan pemberian air ke dalam lubang bor
untuk membentuk cairan lumpur tersebut. Secara periodik, pahat dan batang-batang
bor diangkat . dari lubang bor dan lumpur dikeluarkan dengan alat shell atau baler. Akan
sangat menguntungkan bila pada menara bor dipasang kabel kedua untuk menggantung
shell tersebut. Shell berupa sebuah tabung baja berat yang dipasangi sebuah sepatu pe
motong dan katup penahan tanah di ujung bagian bawahnya. Shell tersebut digerakkan
ke atas dan ke bawah untuk mengumpulkan lumpur dan, bila telah penuh, dinaikkan /
ke permukaan untuk dikosongkan. Pada pasir lepas dan kerikil yang berada di b
muka air tanah, shell dapat digunakan secara langsung sebagai alat pembor, dengan se'buah
batang pembenam bila diperlukan. sebelum diperlukan pemakaian pahat. ;
Lubang bor harus diberi selubung bila sisinya diperkirakan akan . rusak. Selubung
ini berupa pipa-pipa panjang, disambung satu sama lain, yang dipancang atau didongkrak
ke dalam lubang tersebut. Pada kedalaman yang dangkal, selubung dapat diluncurkan
ke dalam tanah dengan berat sendirinya. Sebagai pelengkap pada penyelidikan tanah,
selubung tersebut diambil kembali dengan unit wins atau dengan memakai dongkrak ,
Pemancangan yang berlebihan akan mempersulit pengambilan kembali selubung itu.
Alat-alat lain yang dapat digunakan secara langsung dengan alat bor tumbuk adalah
pemotong lempung (clay cutter) dan auger. Alat pemotong, yaitu sebuah tabung baja
terbuka dengan sepatu pemotong dan cincin penahan pada ujung bawahnya, dipakai

346

Mekanika Tanah

I
I
I
I

-+-- Kabel
I

I
I
I
I
I
I

Roda
berjalan \
\

Unit pembangkit day

.;--.C:if:.::::L.::..,.,.rl,,-,.,..,.-LL._
(a)

I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I

Lubang bor
Batang bor

I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I

Baja pemahat

L_.J

(cl

Gambar 10.1.

(b)

(d)

(a) Menara tumbuk, (b) batang bor dan pahat, (c) shell, (d) pemotong Jempung.

untuk pemboran pada lempung. Alat tersebut digunakan pada lubang bor kering. Alat
pemotong tersebut secara bolak-balik dinaikkan dan dijatuhkan dengan unit wins, bila
perlu sebuah batang pembenam dapat disambungkan di atas alat pemotong itu. Lempung
secara bertahap mengisi alat pemotong yang kemudian diangkat ke permukaan untuk
dikosongkan. Augar juga digunakan pada lempung dan dioperasikan dengan memutar
batang-batang bor dengan tangan dari permukaan dengan tuas. Auger juga digunakan
untuk membersihkan lubang sebelum dilakukan pengambilan contoh tanah.
Diameter lubang bor dapat berada dalam rentang 1 50 mm sampai 300 mm. Kedalam
an maksimum lubang bor biasanya antara 50 m sampai 60 m. Pemboran tumbuk dapat
dilakukan pada hampir semua tipe tanah, termasuk yang mengandung kerakal dan ber
angkal. Tetapi lazimnya terdapat sedikit gangguan pada tanah di bawah dasar lubang bor
dari mana contoh-contoh tanah akan diambil, dan sangat sulit untuk mendeteksi lapisan
lapisan tanah tipis dan ciri-ciri geologis minor dengan metode ini. Menara yang digunakan
sangat luwes dan biasanya dilengkapi dengan unit pembangkit hidrolik dan alat-alat sam
bung untuk auger mekanis, alat pengambil contoh tak terganggu yang dikerjakan secara
berputar (rotary core drilling), dan alat uji penetrasi konus.

347

Penyelidikan Tanah

Auger Mekanis
Auger yang dioperasikan dengan alat pembangkit lazimnya disambungkan pada kendaraan
atau dalam bentuk penyambungan-penyambungan dengan sokongan yang dipakai untuk
pemboran tumbuk. Daya yang diperlukan untuk memutar auger tergantung pada tipe
dan ukuran auger itu sendiri dan tipe tanah yang akan dipenetrasi. Tekanan ke bawah
pada auger dapat dikerjakan secara hidrolik, mekanis, atau dengan berat mati Tipe alat
yang lazim dipakai adalah flight auger dan bucket auger. Diameter flight auger biasanya
antara 75 mm sampai 300 m, meskipun ada juga yang berdiameter sampai 1 m sedangkan
diameter sebuah bucket auger adalah antara 300 mm sampai 2 m. Akan tetapi, ukuran
ukuran yang lebih besar terutama digunakan untuk menggali sumuran untuk tiang pancang
bor. Auger digunakan terutama untuk tanah di mana lubang-lubang bornya tidak memerlu
kan penyanggaan dan tetap kering, yaitu terutama untuk lempung. Penggunaan selubung
tidak dianjurkan karena auger perlu disingkirkan terlebih dahulu sebelum pemancangan
selubung. Tetapi terdapat kemungkinan untuk menggunakan cairan lumpur yang meng
andung bentonit (Bagian 6.9) untuk menyangga sisi-sisi lubang yang tidak stabil Terdapat
nya kerakal dan berangkal menimbulkan masalah bagi pengoperasian auger berukuran
kecil.
Flight auger pendek (Gambar 1 0.2a) terdiri dari batang-batang dengan ulir heliks
pada sebagian panjang batang tersebut. dan dilengkapi alat pemotong di bawah heliks.
Auger terse but disambungkan pada sebuah batang baja, yang dikenal sebagai batang Kelly.
yang melewati kepala putar pada menara bor. Auger dimasukkan terns ke dalam tanah
sampai penuh dengan tanah, lalu dinaikkan ke permukaan tempat tanah dikeluarkan
dengan memutar auger dengan arah yang berlawanan. Jelasnya. makin pendek heliks,

(d)

(a)
(c)

( b)

Gambar 1 0.2 .
(tangan).

(a) flight auger pendek, (b) flight auger kontinu, (c) bucket auger, (d) auger Iwan

Mekanika Tanah

348

augemya makin lebih sering harus diangkat dan diturunkan lagi sampai tercapai kedalam
an lubang bor yang diperlukan. Kedalaman lubang terbatas sampai sepanjang batang Kelly.
Flight auger kontinu (Gambar l0. 2 b) terdiri dari batang-batang dengan ulir heliks
sepanjang batangnya. Tanah akan naik ke permukaan dari sepanjang heliks tersebut tanpa
harus mencabut auger. Penambahan panjang auger dapat dilakukan bila lubang akan
terus diperdalam. Dengan auger kontinu ini mungkin dicapai kedalaman sampai 50 m,
tetapi terdapat pula kemungkinan tercampumya tipe-tipe tanah yang berlainan pada saat
sampai di permukaan dan akan sulit menentukan kedalaman perubahan lapisan tanah.
Flight auger kontinu yang batangnya berongga juga biasa digunakan. Pada saa-t pem
boran dilakukan. rongga pada batang auger ditutup pada ujung bawahnya dengan sekrup,
dan sekrup tersebut disambung dengan suatu batang yang diletakkan di dalam rongga
sepanjang auger. Penambahan auger (dan batang bagian dalamnya) dapat dilakukan bila
pemb oran akan dilanjutkan. Pada sembarang kedalaman, batang bagian dalam dan sekrup
nya dapat dicabut dari rongga auger untuk pengambilan contoh-contoh tanah tak ter
ganggu, di mana sebuah tabung pengambil contoh disarnbung pada batang bagian dalam
dan batang tersebut diturunkan lagi melalui rongga auger dan dipancangkan ke dalam
tanah di bawah auger. Bila dicapai lapisan batuan keras, pemboran dapat juga dilakukan
melalui rongga auger. Diameter bagian dalam rongga auger berdimensi dari 75 mm sampai
1 50 mm. Bila auger sedang berfungsi sebagai selubung, benda tersebut dapat digunakan
pada pasir di bawah muka air tanah, meskipun tirnbul kesulitan bahwa pasir aka n ter
dorong ke atas memasuki rongga akibat tekanan hidrostatik. lni dapat dihindari dengan
pengisian air ke dalam rongga sampai mencapai tinggi muka air tanah.

Bucket auger (Gambar 1 0.2c) terdiri dari sebuah silinder baja, yang terbuka bagian

puncaknya tetapi dipasangi sebuah pelat dasar yang merupakan tempat pemotong di
pasang, yang berdekatan dengan lubang-lubang pada pelat tersebut. Auger disambung
dengan sebuab batang Kelly . Bila auger diputar sambil ditekan ke bawah, tanah diambil
oleh pemotong tanah melewati lubang-lubang pada pelat dan masuk ke dalam bucket.
Pada saat telah terisi penuh,, bucket perlu dinaikkan ke permukaan dan dikosongkan
dengan melepas pelat dasar yang berengseL
Lubang-lubang auger berdiameter 1 m atau lebih dapat digunakan untuk penelitian
lapisan tanah di lapangan, di mana seseorang yang akan mengadakan penelitian diturun
kan ke dalam lubang dengan sebuah kandang khusus. LUbang terse but perlu diberi selubung
untuk keperluan ini dan ventilasi yang memadai sangat vital dalam hal ini.

Auger Tangan dan Auger Portabel


Auger tangan dapat digunakan untuk menggali lubang bor sampai kedalaman 5 m dengan
memakai seperangkat batang penyambung. Auger diputar sambil ditekan ke bawah ke
dalam tanah dengan bantuan sebuah tuas berbentuk

di batang paling atas. Dua tipe

yang urnum digunakan adalah auger lwan (Gambar 1 0.2d) dengan diameter mencapai
200 mm. dan auger kecil berulir heliks dengan diameter sekitar 50 mm. Auger tangan
biasanya digunakan hanya bila sisi-sisi lubang bor tidak memerlukan penyangga dan bila
tidak terdapat partikel-partikel berukuran kerikil atau yang lebih besar. Auger tersebut
perlu dicabut berkali-kali untuk pengosongan tanah. Contoh-contoh tanah tak terganggu
dapat diambil dengan menggunakan tabung-tabung berdiameter kecil yang dipancangkan
di bawah dasar lubang bor.
Auger portabel kecil dengan pembangkit daya, biasanya diangkut dan dioperasikan
oleh dua orang,. cocok untuk pemboran sampai kedalaman 1 0- 1 5 m ; diameter lubang
berkisar dari 75 mm sampai 300

mm.

Bila perlu lubang bor dapat diberi selubung, oleh

karena itu auger ini dapat digunakan untuk hampir semua tipe tanah asalkan tidak ter
dapat partikel-partikel tanah yang berukuran besar.

Penyelidikan Tanah

349

Pengeboran dengan Pencucian


Dalam metode ini, air dipompakan melalui serangkaian batang berongga dan dilepas
kan dengan tekanan tertentu melalui lubang-lubang sempit pada sebuah pahat yang di
sambungkan pada ujung bawah batang-batang tersebut (Gambar 1 0. 3r Tanah mengalami
pelepasan dan peruntuhan oleh semprotan-semprotan air dan gerakan pahat bolak-balik
ke atas dar, bawah. Dapat juga dilakukar, pen,utaran pat.at secara manual dengan setuah
alat pemutar yang disambung pada batang-batang bor di atas permukaan tanah. Partikel
partikel tanah tercuci ke permukaan melalui celah antara batang-batang bor dan sisi lubang
bor dar. dibiarkan ke luar menuju ke suatu tempat penampungan. Menara bor yang di
gunakan terdiri dari derek dengan unit pembangkit daya, unit wins, dan pompa air. Wins
memikul kabel baja ringan yang melewati katrol pada derek dan disambung pada puncak
batang bor. Rangkaian batang bor diangkat dan dijatuhkan dengan alat unit wins, se
hingga menghasilkan aksi pencacahan oleh pahat. Lubang bor biasanya diberi selubung
tetapi metode ini dapat juga digunakan dalam lubang-lubang tanpa selubung. Lumpur
bor dapat digunakan sebagai pengganti air dalam metode ini, sehingga tidak lagi diperlu
kan selubung.
Pemboran dengan pencucian dapat digunakan untuk hampir semua tipe tanah tetapi
kelajuannya akan lambat bila terdapat partikel-partikel berukuran butiran kerikil dan
yang lebih besar. ldentifikasi tipe tanah secara akurat sulit dilakukan akibat terpecahnya
partikel-partikel oleh pahat dan tercampurnya material-material pada saat tercuci ke
permukaan. Selain itu, terjadi segregasi partikel-partikel ketika partikel-partikel tersebut
ke luar menuju tempat penampungan. Tetapi, perubahan ' rasa' pada alat bor kadang
kadang dapat dideteksi,. dan mungkin teijadi perubahan warna air yang naik ke permuka
an ketika batas antarlapisan dilalui. Metode ini tidak dapat diterima sebagai cara untuk
memperoleh contoh-contoh tanah. Metode tersebut hanya merupakan alat untuk mem
perdalam lubang bor agar contoh-contoh dalam tabung dapat diambil dari dasarnya atau
agar dapat dilakukan pengujian di lapangan pada dasar lubang bor itu. Keuntungan metode
ini ialah bahwa tanah di bawah lubang relatif tetap tidak terganggu.
Pengeboran Putar
Meskipun terutama ditujukan untuk penyelidikan pada batuan, metode ini juga dapat
digunakan untuk penyelidikan tanah. Alat bor, yang disambungkan pada ujung bawah
serangkaian batang bor berongga (Gambar 1 0.4), dapat berupa suatu gurdi pemotong
atau gurdi pengambil mti. Gurdi pengambil inti dijepit pada ujung bawah suatu tabung
inti yang kemudian dipikul oleh batar,g-batang bor. Air atau lumpur pengeboran dipompa
ke bawah melalui batang-batang berongga dan dengan tekanan tertentu melewati lubang
lubang sempit di dalam gurdi atau tabung. lhi adalah prinsip yang sama seperti yang di
gunakan dalam bor cuci. Cairan pengeboran mendinginkan dan melumasi alat bor dan
membawa debu lepas ke permukaan di antara batang-batang bor dan sisi-sisi lubangnya.
Cairan tersebut juga merupakan penopang sisi lubang bila tidak digunakan selubung.
Menara bor terdiri dari sebuah derek, unit pembangkit, wins, pompa dan kepala
pemboran untuk penerapan pemancangan putar berkecepatan tinggi dan penekanan batang
batang bor ke bawah. Sebuah alat sambung kepala putar dapat berupa sebuah asesori
pada menara tumbuk.
Terdapat dua bentuk pengeboran putar, yaitu pengeboran lubang-terbuka dan pe
ngeboran inti. Pengeboran lubang-terbuka, yang biasanya digunakan pada tanah dan
batuan lunak, memakai sebuah gurdi pemotong untuk menghancurkan semua material
di dalam diameter lubang. Jadi pengeboran lubang-terbuka ini hanya dapat digunakan
untuk memajukan lubang lebih dalam : batang-batang bor kemudian dapat disingkirkan

Mekanika Tanah

350

Kabel

Pemutar

Dari pompa

Unit parcang
yang berputarc;::;::=:::;:;::::;:;::J
Pemutar
'

Tuas

Dari pompa air

- Kepenampungan

Kepala

Selubung

____.. Batang bor

Tabung
inti
Kerah
Pengangkat
inti

Gurdi

Gambar 10.3.

Bor cuci.

G u rdi inti

Gambar lOA .

Gurdi
pemotong

Bor putar.

untuk pengambilan contoh-contoh tanah dalam tabung dan untuk pengadaan uji-uji di
tempat. Pada pengeboran inti yang digunakan pada batuan dan lempung keras, gurdi
memotong sebuah lubang di dalam material dan sebuah inti sempurna memasuki tabung
untuk diarbil sebuah contoh. Tetapi, kadar air alamiah material tersebut akan mengalami
kenaikan akibat sentuhan dengan cairan pengeboran. Diameter tipikal inti adalah 41 mm,
54 mm, dan 76 mm, tetapi dapat j uga mencapai 1 65 mm.
Keuntungan metode pengeboran
putar ini adalah bahwa kemajuan yang dicapai
.
jauh lebili cepat dibandingkan dengan metode-metode penyelidikan yang lain dan gangguan
pada tanah di bawah lubang bor hanya sedikit. Metode ini tidak cocok untuk tanah yang
mengandung persentase partikel kerikil (atau yang lebih besar) yang tinggi karena partikel
partikel terse but cenderung berputar di bawah gurdi dan tidak hancur.

351

Penyelidikan Tanah

Penyelidikan Air Tarrzh


Bagian penting dari suatu penyelidikan tanah adalah penentuan elevasi muka air tanah
dan tekanan artesis pada lapisan-lapisan penting. Variasi elevasi atau tekanan selama suatu
jangka waktu tertentu mungkin perlu juga ditentukan. Penyelidikan air tanah sangat
penting dilakukan hila akan dihuat galian yang dalam.
Elevasi muka air tanah dapat ditentukan dengan mengukur kedalamannya dari per
mukaan air di dalam luhang hor. Elevasi air di dalam luhang hor memerlukan cukup waktu
untuk memantapkan diri ; waktu ini, yang dikenal sehagai waktu respons, tergantung
pada permeahilitas tanah. Oleh karena itu, pengukuran perlu dilakukan pada interval
interval yang teratur sampai elevasi air menjadi tetap. Sehaliknya elevasi air tersehut di
tentukan segera setelah luhang hor dianggap mencapai elevasi muka air tanah. Bila luhang
hor diperdalam lagi, mungkin akan menemhus suatu lapisan dengan tekanan artesis, yang
menghasilkan permukaan air di dalam luhang hor. yang lehih tinggi dari muka air tanah.
Sangat penting diperhatikan hahwa lapisan herpermeahilitas rendah di hawah muka air
tenggek (perched) tidak perlu ditemhus sehelum didapat muka air tanah. Bila terdapat
muka air tenggek , luhang her harus diheri selubu ng agar elevasi muka air tanah utama
dapat ditentukan dengan henar : hila akifer tenggek tidak disekat, elevasi air di dalam
luhang hor akan herada di atas elevasi muka air tanah utama.
Bila ingin memperoleh tekanan air pada suatu lapisan penting, perlu digunakan sehuah
pizometer. Tipe yang paling sederhana adalah pizometer Casagrande (Gamhar

4.30) dengan

elemen herpori disekat pada kedalaman tertentu. Tetapi, pizometer tipe ini memiliki
waktu respons yang lama pada tanah herpermeahilitas rendah dan dalam kasus ini lehih
disukai untuk memasang sehuah pizometer hidrolik (Gamhar

4. 3 1)

yang memiliki waktu

respons relatif pendek.

Contoh-contoh air tanah memerlukan juga analisis kimia untuk menentukan apakah

air tersehut mengandung sulfat (yang dapat merusakkan heton semen) atau unsur-unsur

korosif lainnya. Sangat penting untuk dipastikan hahwa contoh tanah tidak tercemar
atau herkurang mutunya. Sehuah contoh perlu diamhil segera setelah dicapainya lapisan
yang mengandung air dalam pengehoran. l..ehih disukai untuk mengamhil contoh dari
pizometer pipa tegak hila telah dipasang alat tersehut.

10.3.

Pengambilan contoh

Contoh tanah dihagi dalam dua kategori utama, yaitu tak terganggu dan terganggu . Contoh
tak terganggu, yang dihutuhkan terutama untuk uji kekuatan geser dan konsolidasi, diper
oleh dengan teknik-teknik tertentu dengan maksud mempertahankan kondisi struktur

di lapangan dan mempertahankan kadar air tanah tersehut. Di dalam luhang hor, contoh
tak terganggu dapat diperoleh dengan cara mencahut alat-alat hor (kecuali hila dipakai

auger flight herongga) dan memancang atau menekan sehuah tahung contoh ke dalam
tanah di dasar luhang hor tersehut. Ketika tahung di hawa ke permukaan tanah, sedikit
tanah di ujung kedua tahung itu dikupas lalu diherikan lilin cair pada hekas kupasan tadi
untuk memhentuk suatu penyekat setehal kurang lehih

25

mm. Ujung-ujung tahung

tersehut lalu ditutup dengan pelindung. Contoh hlok tak terganggu dapat dipotong dengan
tangan dari dasar atau sisi-sisi luhang uji (trial pits). Pada saat dilakukan pemotongan,
contoh tanah harus dilindungi dari air, angin, dan matahari untuk menghindari terjadinya
peruhahan kadar air contoh tersehut. Oleh karena itu, contoh tersehut hams segera di
tutup dengan lilin cair hegitu sampai di permukaan tanah. Mustahil dapat diperoleh contoh
yang henar-henar tak terganggu, meskipun teknik pengamhilan contoh dan penyelidikan

(0

352

Mekanika Tanah

tanah dilakukan dengan penuh hati-hati dan penuh keahlian. Sebagai contoh, pada lempung
akan terjadi pemuaian di sekitar dasar lubang bor akibat tereduksinya tegangan total
ketika tanah disingkirkan dan gangguan struktural tanah dapat disebabkan karena aksi
alat-alat bor. Bila setelah itu contoh tanah diambil ke perrnukaan, maka tegangan total

nya akan tereduksi menjadi nol.


Lempung lunak sangat peka terhadap gangguan pengambilan contoh, dan pengaruh

nya akan terlihat lebih besar pada lempung berplastisitas rendah dibandingkan pada lem
pung berplastisitas tinggi. Pusat inti sebuah contoh lempung lunak akan relatif lebih tak
terganggu dibandingkan dengan zona yang lebih luar di dekat tabung pengambil contoh.
Segera setelah pengambilan contoh, tekanan air pori pada inti yang relatif, tak terganggu
akan bersifat negatif akibat lepasnya tegangan total di lapangan. Pemuaian inti yang relatif
tak terganggu akan terjadi secara bertahap akibat masuknya air dari zona luar yang lebih
terganggu dan mengakibatkan terjadinya