Anda di halaman 1dari 8

2.1.

2 Koleksi Semen pada Puyuh


A. Materi
Objek
Burung puyuh jantan
Alat

Cawan petri

Pipet pasteur

Object glass

Cover glass

Spuit 1 cc

Mikroskop binokuler

Bahan

Eosin Negrosin Citrat

NaCl Fisiologis 0,9 %

B. Metode
Koleksi semen puyuh dengan metode massage

Puyuh jantan direstrain untuk memudahkan melakukan penampungan


semen dengan cara memegang pada kedua paha dan secara bersamaan
sayap ditahan.

Dilakukan pemijatan searah dengan cara meletakkan telapak tangan


kiri pada otot ekor dan mendorong bulu ekor keatas untuk menyingkap

kloaka dan selanjutnya dilakukan pemijatan ujung caudal tubuh puyuh


jantan

tepat

dibawah

tulang-tulang

pubis.Tujuannya

untuk

menimbulkan refleks ejakulator.

Pemijatan harus dilakukan secara cepat dan kontinyu sampai pejantan


memberi respon dengan mengeluarkan papillae dari kloaka.

Sebelum sperma di keluarkan, busa yang terdapat di kloaka di ambil


agar tidak tercampur dengan sperma.

Kemudian sperma yang keluar di ambil menggunakan spuit 1 cc dan


selanjutnya ditampung dengan menggunakan cawan petri.

Koleksi semen puyuh dengan metode slicing

Bunuh puyuh dengan dislokasio atlanto occipital,

Lakukan pembedahan pada puyuh dan mengeluarkan testis dan


ampula vas deferens lalu di letakkan pada larutan NaCl pada cawan
petri,

Potong bagian ampula vas deferens, letakkan pada cawan petri yang
lain yang telah terisi 1 cc NaCl,

Lakukan slicing pada ampula vas deferens,

Ambil setetes dengan pipet Pasteur dan letakkan pada objek glass, lalu
tutup dengan cover glass, dan

Lakukan pengamatan melalui mikroskop binokuler.

Pemeriksaan Motilitas Sperma Puyuh


Dengan menggunakan pengenceran NaCl 0,9%

Encerkan semen yang telah terkoleksi dengan NaCl, lalu teteskan satu
tetes di obyek glass.

Kemudiaan

diamati

di

bawah

mikroskop

binokuler

dengan

pembesaran 10x.

Pemeriksaan Daya Hidup Sperma Puyuh


Dengan Laurtan Eosin Negrosin Citrat

cairan testis yang sudah bercampur dengan ringer lactat diambil


menggunakan

pipet pasteur dan ditetes satu tetes pada object glass

kemudian ditambahkan pewarna eosin sebanyak dua tetes.

Aduk hingga homogen dengan ujung object glass lain kemudian


dibuat preparat ulas setipis mungkin pada object glass yang berbeda
(object glass yang baru).

Hapusan dikeringkan dengan cara diangin-anginkan.

Setelah kering, hasil hapusan diamati di bawah mikroskop dengan


perbesaran 40x.

Hasil pengamatan dicatat dan diidentifikasi.

3.2 Koleksi Semen pada Puyuh


A. Hasil
Pengamatan Makroskopis
No

Parameter

Hasil

Volume

0,1 cc

Warna

Putih susu

Bau

Khas

Konsistensi

Kental

Pengamatan Mikroskopis
a. Gambaran motilitas semen puyuh
1. Dengan NaCl Fisiologis 0,9%
Keterangan :
Preparat
puyuh

ulas

sperma
dengan

pembesaran 10x, dengan

menggunakan mikroskop
binokuler.

b. Gambaran daya hidup semen puyuh


1. Dengan larutan Eosin Negrosin Citrat
Keterangan :
a. Sperma
yang
terwarnai
Eosin
Negrosin
Citrat
menandakan sperma
yang mati,
b. Sperma yang normal
memiliki
kepala
dengan
bentuk
silindris panjang dan
akrosoma
yang
runcing,
c. Sperma
yang
abnormal memiliki
akrosoma yang bulat
dan memiliki ekor
yang pendek.
B. Pembahasan
Sperma merupakan hasil ekskresi dari alat kelamin jantan yang diejakulasikan
secara normal kedalam saluran kelamin betina sewaktu kopulasi tetapi dapat pula
ditampung dengan berbagai cara untuk keperluan Inseminasi Buatan (IB) (Toelihere,
1993). Sperma merupakan suatu sel kecil, kompak dan sangat khas yang tidak
bertumbuh atau membagi diri. Secara esensial, sperma terdiri dari kepala yang

membawa materi herediter paternal, dan ekor sebagai sarana penggerak (Toelihere,
1985).
Sperma unggas memiliki bentuk kepala yang silindris memanjang dengan
akrosom yang meruncing. Kepala sperma pada unggas sedikit melengkung dengan
ukuran panjang 12 13 m dan diselimuti akrosom (2 m). Ekor spermatozoa terdiri
dari leher, bagian tengah, bagian utama dan ujung. Bagian tengah ekor memiliki
panjang 4 m, dan selebihnya dari panjang sperma 100 m terdiri dari bagian ekor
dan pada bagian terlebar sperma berukuran 0,5 m (Gilbert, 1980). Berbeda dengan
sperma mamalia, sperma unggas mempunyai filamen axial yang mengandung 11
fibril, tidak memiliki selubung helix di sekeliling filamen axial dan tidak mempunyai
butiran kinoplasmik. Konsentrasi semen bervariasi dari suatu suspensi keruh dan
tebal sampai suatu cairan encer (Toelihere, 1985).

Gambar: struktur tubuh sperma unggas


Akrosom terbentuk dari pengembangan apparatus golgi pada saat terjadinya
spermatogenesis, sedangkan bagian tengah dan bagian ekor terbentuk dari
perkembangan mitokondria dan cytoskeleton, dimana bagian tengah dan bagian ekor
menentukan motilitas spermatozoa (Etches, 1996). Produksi sperma mempunyai

kualitas tinggi tergantung oleh pejantan yang dipelihara dalam keadaan baik (hafez,
1980).
Sel sperma merupakan sel-sel yang berfungsi dalam reproduksi seksual yang
merupakan hasil ekskresi dari alat kelamin jantan yang diejakulasikan secara normal
kedalam saluran kelamin betina. Sel sperma merupakan salah satu sel tunggal yang
tidak dapat membelah diri. Secara umum bentuk sel ini memiliki 3 bagian yaitu
kepala, tengah dan ekor. Pada bagina kepala terdapat initi sel ( nukleus), bagian
tengah mengandung banyak mitokondria yang berfungsi sebagai sumber energi untuk
pergerakan dan bagian ekor yang bertugas untuk mendorong sehingga sel sperma ini
dapat bergerak (Sarengat, 2004).
Dalam organ reproduksi, sperma berada dalam suatu cairan yang disebut
semen. Semen dihasilkan oleh kelenjar prostat, kelenjar uretra dan vesikula seminalis.
Semen mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh sperma untuk bertahan hidup.
Kandungan semen adalah protein, karbohidrat, lemak, kolesterol, kalium, tembaga,
dan seng. Selain itu juga mengandung mineral, vitamin dan hormon (Soegiarsih,
1999).
Pengamatan yang dilakukan terhadap sperma unggas dilakukan pengamatan
terhadap motilitas sperma dan daya hidup sperma tersebut. Motilitas atau daya gerak
spermatozoa yang dinilai segera sesudah penampungan semen umumnya digunakan
sebagai ukuran kesanggupan membuahi suatu sperma. Panas yang berlebih dan bahan
kimia atau benda asing lainnya juga menurunkan daya gerak sel kelamin jantan
(Toelihere, 1985).
Pengamatan untuk mengetahui morfologi dan kualitas dari suatu sperma
unggas dilakukan pemeriksaan untuk melihat daya hidup sperma unggas tersebut
dilakukan dengan pewarnaan Eosin Negrosin sitrat Prinsip dasar dari pewarnaan ini
adalah karena adanya perbedaaan aktivitas zat warna antara spermatozoa hidup dan
dan mati. Sperma yang telah mati, permiabilitas membrannya akan menjadi tinggi

akibatnya akan mudah terjadi penyerapan warna akibat dari membran plasma yang
sudah kehilangan fungsinya. Sperma yang hidup adalah dengan permeabilitas baik,
akan menghambat masuknya warna ke dalam membran sehingga tidak dapat
menyerap warna dan terlihat transparan. Pengamatan spermatozoa dengan
menggunakan larutan Eosin Negrosin sitrat akan memberikan gambaran yang jelas
pada mikroskop dimana spermatozoa yang telah mati akan berwarna merah, hal ini
disebabkan karena pada saat semen segar dicampur dengan zat warna, sel-sel sperma
yang hidup tidak atau sedikit sekali menghisap warna sedangkan sel-sel yang mati
akan mengambil warna karena permeabilitas dinding sel meninggi sewaktu mati. Zat
warna eosin akan mewarnai spermatozoa yang menjadi merah atau merah muda,
sedamgkan sperma yang hidup tetap tidak berwarna (Toelihere, 1985).