Anda di halaman 1dari 5

DIFTERITerdapat 3 jenis type C.

difteri yaitu mitis, intermedius dan gravis yang terbagi menjadi beberapa
varian.Difteri mempunyai gejala klinis demam 38C, peudomembran putih keabu-abuanyang tak
mudah lepas dan mudah berdarah di faring, laring atau tonsil, sakit waktumenelan , leher membengkak
seperti leher sapi (bullneck) dan sesak nafas disertaistridor. Masa inkubasi antara 2-5 hari. Masa
penularan penderita 2-4 minggu sejak masa inkubasi, sedangkan masa penularan carrier bisa sampai 6
bulan.Ciri khas dari penyakit ini ialah pembekakan di daerah tenggorokan, yang berupareaksi radang
lokal, dimana pembuluh-pembuluh darah melebar mengeluarkan seldarah putih sedang sel-sel epitel
disitu rusak, lalu terbentuklah disitu membaran putihkeabu-abuan(psedomembrane). Membran ini sukar
diangkat dan mudah berdarah. Di bawah membran ini bersarang kuman difteri dan kuman-kuman ini
mengeluarkanexotoxin yang memberikan gejala-gejala yang lebih berat dan Kelenjer getah beningyang
berada disekitarnya akan mengalami hiperplasia dan mengandung toksin. Eksotoksin dapat
mengenai jantung dapat menyebabkan miyocarditisct toksik ataumengenai jaringan perifer sehingga
timbul paralisis terutama pada otot-otot pernafasan. Toksini ini juga dapat menimbulkan nekrosis
fokal pada hati dan ginjal,malahan dapat timbul nefritis interstisial. Penderita yang paling berat
didapatkan padadifterifauncial dan faringea karena terjadi penyumbatan membran pada laring dantrakea
sehingga saluran nafas ada obstruksi dan terjadi gagal napas, gagal jantung yang bisa mengakibatkan
kematian, ini akibat komplikasi yang seriing pada bronkopneumoniDeterminanBeberapa kemungkinan
faktor yang menyebabkan kejadian Difteria diantaranya :1. Cakupan imunisasi, artinya dimana ada bayi
yang kurang bahkantidak mendapatkan imunisasi DPT secara lengkap.Berdasarkan penelitian Basuki
Kartono bahwa anak dengan statusimunisasi DPT dan DT yang tidak lengkap beresiko menderita
difteri46.403 kali lebih besar dari pada anak yang status imunisasi DPT danDT lengkap.2. Kualitas
vaksin, artinya pada saat proses pemberian vaksinasi kurangmenjaga Coldcain secara sempurna sehingga
mempengaruhi kualitasvaksin.3. Faktor Lingkungan,4. Rendahnya tingkat pengetahuan ibu, dimana
pengetahuan akan pentingnya imunisasi sangat rendah dan kurang bisa mengenali secaradini gejala-gejala
penyakit difteria.5. Akses pelayanan kesehatan yang rendah, dimana hal ini dapat dilihatdari rendahnya
cakupan imunisasi di beberapa daerah tertentu.Misalnya di Kabupaten Sidoarjo, berdasarkan data yang
ada ada empatdesa yang belum tercapai program imunisasinya, yakni Sekardangan,Porong, Tanggulangin
dan Kedungsolo JabonKLB
Kejadian Luar Biasa (KLB) : adalah timbulnya suatu kejadiankesakitan/kematian dan atau meningkatnya
suatu kejadiankesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis padasuatu kelompok penduduk
dalam kurun waktu tertentu(Undang-undang Wabah, 1969).Wabah : adalah peningkatan kejadian
kesakitan/kematian,yang
meluas
secara cepat baik dalam jumlah kasus maupunluas daerah penyakit, dan dapat menimbulkan malapetaka.
Kriteria Kerja KLB:1. Timbulnya suatu penyakit/menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal.2.
Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis
penyakitnya.3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian, 2 kali atau lebih dibandingkandengan periode
sebelumnya.4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikkan dua kali lipatatau lebih bila
dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahunsebelumnya.5. Angka rata-rata per bulan selama
satu tahun menunjukkan kenaikan dua kalilipat atau lebih dibanding dengan angka rata-rata perbulan dari
tahunsebelumnya.6. Case Fatality Rate (CFR) dari suatu penyakit dalam suatu kurun waktu
tertentum e n u n j u k k a n k e n a i k a n 5 0 % a t a u l e b i h , d i b a n d i n g d e n g a n C F R d a r i
p e r i o d e sebelumnya.7. Proposional Rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentumenunjukkan
kenaikan dua kali atau lebih periode yang sama dalam kurunwaktu/tahun sebelumnya.8. Beberapa penyakit
khusus: kolera, DBD/DSS:a. Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis) b.
Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggusebelumnya daerah tersebut
dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan.9. Beberapa penyakit yang dialami 1 atau lebih
penderita: keracunan makanan,keracunan pestisida.
Tujuan Penyidikan KLB
Tujuan Umum : Mencegah meluasnya (
penanggulangan

). Mencegah terulangnya KLB di masa yang akan datang(


pengendalian
).Tujuan khusus : Diagnosis kasus yang terjadi dan mengidentifikasi penyebab penyakit . Memastikan
bahwa keadaan tersebut merupakan KLB, Mengidentifikasikan sumber dan cara penularan
Mengidentifikasi keadaan yang menyebabkan KLB Mengidentifikasikan populasi yang rentan atau
daerah yang beresiko akan terjadi KLB (CDC, 1981; Bres, 1986).
LANGKAH-LANGKAH PENYIDIKAN KLB
1 Persiapan penelitian lapangan.2 Menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB.3 Memastikan
Diagnosis Etiologis4 Mengidentifikasikan dan menghitung kasus atau paparan5 Mendeskripsikan kasus
berdasarkan orang, waktu dan tempat.6 Membuat cara penanggulangan sementara dengan segera(jika
diperlukan).7 Mengidentifikasi sumber dan cara penyebaran8 Mengidentifikasi keadaan penyebab KLB9
Merencanakan penelitian lain yang sistimatis10 Menetapkan saran cara pencegahan atau
penanggulangan.11 Menetapkan sistim penemuan kasus baru atau kasus dengankomplikasi.12 Melaporkan hasil
penyidikan kepada instansi kesehatansetempat dan kepada sistim pelayanan kesehatan yang lebih ting9gi.
Kegiatan Penanggulangan KLB Diphteria. Penyelidikan Epidemiologi
Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui Indeks kasus atau palingtidak dari mana kemungkinan kasus
berawal , mencari kasus-kasustambahan, cara penyebaran kasus, waktu penyebaran kasus,arah
penyebaran penyakit, kontak erat penderita, kasus karier dan penanggulangannya
b. Tatalaksana kasus
Penderita secepatnya dirujuk ke Rumah Sakit, ditempatkan diruang isolasi
c. Data Record review
Kegiatan ini dilakukan di Rumah Sakit dengan cara aktif melakukanreview dari data record medik atau
register RS
d. Faktor Risiko
Dalam KLB Diphteri diketahui beberapa faktor risiko seperti tak imunisasi, tak validnya dosis imunisasi,
status gizi rendah, suhulemari es >8C, mobilitas penduduk tinggi, tidak ada bidan desa, dll.
e. Identifikasi Risiko Tinggi
Populasi ini biasanya terjadi pada anak-anak yang tak diimunisasiyang kontak/mungkin kontak dengan
penderita Diphteri, daerahdengan cakupan imunisasi (DPT3. DT) rendah (non UCI)
f. Alat Perlindungan Diri (APD)
Alat perlindungan di sangat mutlak digunakan oleh petugaskesehatan. Penularan difteri yang sangat mudah akan
menjadikantertularnya petugas hingga menjadi sajkit atau bahkan menjadikerier sehingga m,enjadi
sumber penularan ke orang lain.
g. Pengambilan dan pemeriksaan spesimen
Setiap kasus difteri yang muncul maka dilakukan penyelidikanepidemiologi dan pengambilan spesimen
untuk konfirmasi kasus.Spesimen yang diambil terutama kepada penderita, kontak eratserumah, kontak
paling erat penderita di tetangga, teman bermain,teman sekolah, teman ngaji, teman les, teman sekerja, dll
h. Pemberian Prophilaksis
Prophilaksis dilakukan dengan antibiotika Erytromisin (etylsuksinat) dengan dosis 50 mg/kgBB/hari
dibagi dalam 4 kali pemberian selama 7 hari.
i. Intervensi Faktor Risiko (FR)
Setelah dapat diketahui faktor risiko KLB Diphteria tersebut maka perlu dilakukan intervensi sesuai
masalahnya (faktor risikonya).Misal, status imunisasi sebagai faktor risiko KLB Diphteri dancakupan
imunisasi daerah KLB rendah, maka peningkatan cakupanimunisasi perlu dilakukan. Demikian juga jika
manajemenimunisasi (rantai dingin, tenaga, kualitas vaksin, kualitas imunisasi,dll) yang menjadi masalah
sedangkan cakupan imunisasinyatinggi/rendah, maka imunisasi massal sesuai kriteria pemberian perlu
dilakukan. Kriteria pemberian untuk imunisasi, sebagai berikuta. Usia < 3 tahun DPT-HB b. Usia 3 7
tahun : DTc. Usia > 7 tahun Td
j. Surveilans intensive

Surveilans intensive Diphteri bertujuan untuk Kewaspadaan Dinidengan menemukan kasus secara awal
dengan gejala miripDiphteri di wilayah yang dicurigai telah terjadi penyebaran.termasuk kegiatan
imunisasi sehingga diharapkan adanyakewaspadaan petugas imunisasi dalam pelaksanaan imunisasi.
k. Survei Cakupan imunisasi
Melakukan survey cakupan imunisasi DPT-Hb3 minimal 30 balita disekitar kasus untuk mengetahui cakupan
imunisasisekitar kasus.
l. Pelaporan
Laporan cepat <24 jam. Bisa didahului dengan telephon atau SMSnamun harus dilanjutkan dengan form
W1.
MASALAH
- Sejak tahun 2007 terjadi peningkatan kasus yang bermakna pdakelompok usia > 10 tahun tapi kasus
tetap dominan pada kelompok usia 1-4 th dan 5-9 tahun- Sekitar 70% kasus Diphteri ternyata pada
kelompok usia < 7 tahun- Sekitar 50% penderita Diphteri sudah diimunisasi lengkap, Catatanimunisasi
tidak ada, monitor kualitas pelayanan imunisasi, sepertimutu vaksinnya belum diketahui. Jadi hanya
sekitar 10-15% saja dari penderita yang sakit dengan status imunisasi lengkap dan valid.- Kontak erat
penderita biasanya banyak, sehingga memerlukanEritromisin cukup banyak untuk kontak erat kasus
atau karier dan sangat sulit mendeteksi seluruh kontak eratnya padahal karier yang tidak mendapatkan
prophilaksis akan terus menjadi kerier dansumber penularan selama 6 bulan.- Intervensi dengan vaksinasi
massal sampai saat ini belum bisadilakukan karena keterbatasan biaya operasional dan vaksin Td.Kebijakan nasional imunisasi rutin tentang pelaksanaan backlogfighting/BLF (penyulaman) bagi
desa/kelurahan non UCI 2 tahun berturut-turut tidak dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota,sehingga
dari tahun ke tahun terjadi penggelembungan jumlah anak yang belum kebal terhadap infeksi diphteri.

- Rendahnya / tidak adanya / terbatasnya kdana untuk kegiatansurveilans di daerah menyebabkan aktifitas
penanggulangan dankegiatan surveilans difteri belum optimal- Biaya pengobatan difteri sangat tinggi,
ADS (Antui Difteri Serum)sangat mahal dan sulit dicari demikian juga dengan Eritromisin- Pengobatan
profilaksis sangat lama (7-10 hari) dengan dosis yangtinggi ( 50mg/KgBB/hari) dibagi dalam 4 dosisEfek sampinmg eritromisin seperti perih, mual, muntah dan diaremenajdi tingginya angka DO (Drop
out) pengobatan profilaksis padakontak erat penderita- Belum tersedianya Ruang Isolasi khusus
penyakit menular ( difteri)yang memadai di setiap RSUD Kab/Kota untuk merawat penderitaagar tidak
terjadi Nosokomial infeksi- Terbatasnya stock ADS dan Eritromisin di tingkat Provinsi
sehinggakebutuhan logistik tersebut masih sering di supplay dari Kemenkes .Kebutuhan ADS dan
Eritromisin untuk difteri sangat banyak dan belumsemua Kab/Kota menyediakan sendiri
UPAYAYANG TELAH DILAKUKAN
1. Melacak setiap kasus dan ditindak-lanjuti dengan pengobatan dan prophilaksis kepada kontak erat.2.
Melaporkan kasus difteri di Jawa Timur kepada KementerianKesehatan RI.3. Membuat surat edaran
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi kepadaKepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Direktur RSU
untuk peningkatan kewaspadaan terhadap diphteri dan tata cara penanggulangannya.4. Pengambilan dan
pemeriksaan sampel laboratorium untuk memastikan adanya diphteri terhadap penderita dan kontak
erat bekerjasama dengan BBLK Surabaya.5. Sosialisasi penanggulangan KLB Diphteri kepada petugas
surveilanskabupaten/kota dan Puskesmas se Jawa Timur.6. Memberikan bantuan operasional
penanggulangan KLB terutamakepada kabupaten/kota terjangkit dan tidak ada atu kekurangan
danaoperasional.7. Meningkatan mutu pelayanan imunisasi dengan cara melaksanakan pelatihan bagi
pelaksana imunisasi di desa dan di unit pelayananswasta serta bagi pengelola rantai vaksin
kabupaten/kota danPuskesmas.8. Melaksanakan umpan balik kuantitas dan kualitas data laporan program
imunisasi ke Bupati/Walikota se Jawa Timur.9. Supervisi suportif ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
danPuskesmas bermasalah, yaitu ditemukan kasus diphteri, kasus KIPIdan target UCI bulan tidak
tercapai.10. Rapat koordinasi lintas program (P3-PMK, kesga, kespro, promkes,dan P2).11. Membuat
surat edaran kepada Kepala Dinas KesehatanKabupaten/Kota tentang penggunaan dana Bantuan

OperasionalKesehatan (BOK) untuk program imunisasi.12. Sosilasisasi dan pelatihan tentang


penanggulangan difteri, deteksi dinidifteri, cara pengambilan spesimen difteri, manajemen cool
chain, programer imunisasi kepada petugas kesehatan di Kab/kota danPuskesmas di Jawa Timur 13.
Melakukan ORI (outbreak Respons Imunisasi) di 11 Kab/Kota dengankasus yang tinggi kepada anak usia
12 bulan s/d 15 tahun pada tahun201014. Melakukan ORI terbatas di wilayah sekitar KLB, sesaat setalah
terjadi15. Peningkatan kapasitas Laboratorium (Balai Besar LaboratoriumKesehatan Surabaya) dengan
mendatangkan ahli dari Inggris serta pemeriksaan sampai diketahuion toxigenitas bakteri
C diphteriae
V. REKOMENDASI & RENCANA TINDAKLANJUT
Menurunkan Angka Kesakitan (Attack Rate) dan Angka Kematian (CFR)di seluruh Jatim. Beberapa
kegiatan untuk menurunkan AR dan CFR tersebut antara lain :1. Surat Edaran Gubernur yang menetapkan
situasi KLB diphteri di JawaTimur 2. Memastikan setiap bayi (<12 bulan) mendapat imunisasi
lengkapsebagai sasaran, melalui penguatan imunisasi rutin agar tercapaitarget UCI desa secara merata dan
berkualitas,3. Melakukan BackLog Fighting/BLF (penyulaman) pada anak usia 1-3tahun yang belum
mendapatkan imunisasi DPT-HB 3 dosis.4. Kampanye imunisasi DT tambahan terhadap semua anak umur 37tahun dan imunisasi Td pada anak usia 8 15 tahun.5. Surveilans ketat untuk penemuan kasus di
masyarakat secara dini baik berbasis masyarakat maupun Rumah Sakit, sehingga dapatdiberikan
pengobatan dan perawatan segera guna menghindari jatuhnya korban dan mengurangi resiko terjadinya
penularan dimasyarakat .6. Pengobatan propilaksis secara terbatas yaitu terhadap semua kontak kasus,
kontak kasus yang dinyatakan positif (karier) dan semua gurusekolah, dengan disertai pengawasan minum
obat guna menjamin bahwa obat diminum secara benar sesuai dengan aturan yangditetapkan.7.
Melakukan tata laksana kasus sesuai dengan SOP dan isolasi sertamemberikan Td pada saat penderita
keluar dari RS dan melengkapi 3dosis apabila belum ada riwayat imunisasinya.
8.
Melakukan penelitian (survei) tentang tingkat kekebalan Diphteri padamasyarakat dengan kelompok
umur tertentu, uji resistensi eritromisinterhadap
Corynebacterium diphteriae.9.
Meningkatkan kemampuan laboratorium untuk melihat type dan subtype dari bakteri
Corynebacterium diphteriae.
10. Melakukan surveilans ketat dan menemukan kasus sedini mungkin11. Mempermudah rujuklan kasus
ke RS rujukan yang memadai12. Meningkatkan mutu pelayanan RS dengan menyediakan Ruang
Isolasiyang memadai13. Pengobatan adekuat penderita dengan ADS dan Eritromisin14. Menyelesaikan
KLB dan daerah endemis15. Mencegah KLB di masa mendatang16. Mencegah dan mengurangi
penyebaran kasus17. Memperkuat kegiatan imunisasi dan suveilansMacam penyakit menular:Penyakit
karantina atau wabah (UU No.1 dan 2 tahun 1962): Kolera, Pes,

Demam kuning, Deman bolak-balik, Tifus Bercak Wabah, Poliomielitis danDifteri).Penyakit menular
dengan potensi wabah tinggi: DBD, Diare, Campak, Pertusis

dan Rabies, Avian Influenza, HIV/AIDS.Penyakit menular dengan potensi wabah rendah: malaria,
meningitis,

frambusia, keracunan, influenza, ensefalitis, antraks, tetanus neonatorumdan tifus abdominalis.Penyakit


menular yang tidak berpotensi wabah : kecacingan, lepra, TBC,

Sifilis, Gonore dan Filariasis.Prevensi primer Beberapa kegiatan bidang imunisasi dalam penanggulangan
KLB difteri antara lain :1. Penguatan imunisasi rutin bayi (<1tahun), terutama peningkatan cakupan
danmutu pemberian DPT-HB.2. Penyulaman status imunisasi DPT-HB bagi anak usia 12-36
bulan,diprioritaskan pada desa/kelurahan non UCI dengan sasaran :a. Anak yang saat usia bayi belum
mendapatkan imunisasi DPT-HB 3 dosis danatau, b. Anak yang saat usia bayi, DPT-HB yang didapatkan
tidak valid dose (dosisDPT-HB1 diberikan belum 2 bulan dan atau interval pemberian dosis

DPT-HB berikutnya kurang 28 hari).3. Pemberian imunisasi tambahan kepada anak usia (>3-7 tahun
menggunakanv a k s i n D T d a n > 7 - 1 5 t a h u n m e n g g u n a k a n v a k s i n T d ) , d i p r i o r i t a s k a n
p a d a dusun/RW/sekolah/ponpes yang terdapat kasus difteri.4. Melakukan Rapid Convenience Assesment
(RCA) pada wilayah yang adakegiatan imunisasi untuk mengetahui validitas cakupan dan tanggapan
masyarakatyang masih menolak imunisasi.5. Memantau kualitas dan manajemen rantai vaksin. Potensi
vaksin sangat besar kontribusinya terhadap kualitas pelayanan imunisasi dan terbentuknya kekebalan.6.
Memantau dan membina kompetensi petugas pengelola vaksin maupun koordinator program
imunisasi. Kualitas pengelola vaksin dan koordinator programimunisasi yang tidak qualified akan
berpengaruh pada kulaitas vaksinasinya.7. Mengadakan lemari es penyimpanan vaksin untuk mengganti
lemari es diPuskesmas yang telah rusak / tidak berfungsi secara normal.8. Melakukan imunisasi
ulang kepada penderita yang sudah sembuh sesuai kelompok umurnya. Penderita difteri tidak
selalu memberikan kekebalan yang alami.Karenanya penderita difteri harus divaksinasi setelah pulang
dari Rumah sakit.9. Melakukan BLF (Backlog Fighting) yaitu memberikan imunisasi DPT/HBkepada
kelompok usia 1 -3 tahun yang belum lengkap status imunisasinya saat bayidan mengulang dosis yang
tidak valid yaitu pemberian imunisasi sesuai dengan umur atau interval. (ini termasuk ORI)10. Penderita
difteri apabila telah sembuh dan tidak pernah divaksinasi sebaiknyasegera diberi satu dosis vaksin yang
mengandung toksoid difteri (sebaiknya Td) dankemudian lengkapi imunisasi dasar sekurang-kurangnya 3
dosis.11. Penderita dengan imunisasi parsial harus melengkapi imunisasi dasar sesuai jadualmenurut
rekomendasi nasional. Individu yang pernah imunisasi dasar lengkap harusdiberi booster (kecuali
imunisasi terakhir kurang dari 5 tahun, yang belum dibooster)12. Imunisasi bagi kontak erat : semua
kontak dekat yang belum mendapat imunisasi3 dosis toksoid difteri atau tidak diketahui status
imunisasinya, harus mendapatkansekali dosis vaksin difteri, kemudian dilengkapi sesuai dengan jadual
nasional yangdirekomendasikan. Kontak yang telah diimunissi 3 kali di masa lalu juga
harusmenerima booster, kecuali bila dosis terakhir yang diberikan dalam 12
bulansebelumnya. Dalam hal ini dosis booster tidak diperlukan.13. Pencapaian Cakupan imunisasi
yang tinggi di wilayah KLB : target yang diusulkan oleh WHO pada tahun 1992 yang harus
dipedomani adalah :a. Cakupan imunisasi dasar (DPT 3) harus mencapai 95% pada anak usia <2 tahundi
semua wilayah. b. Cakupan imunisasi booster harus mencapai 95% pada anak usia sekolah disemua wilayah.c.
Agar yakin bahwa semua anak telah kebal terhadap difteri, maka imunisasimassal harus dilakukan di
sekolah-sekolah dan lembaga pra sekolah dengan sasaran : pemberian imunisasi dasar bagi anak yang
belum atau tidak lengkap imunisasinya, dan pemberian booster untuk yang sudah lengkap tapi suntikan
terakhir diberikan lebihdari 5 tahun yang lalu.14. Untuk orang yang termasuk kelompok resiko tinggi dan
usianya lebih dari 25tahun, perlu imunisasi dengan menggunakan vaksin Td.15. Jika pertimbangan
epidemiologi mengharuskan, maka seluruh populasi orangdewasa harus disertakan dalam imunisasi
massal