Anda di halaman 1dari 10

TUGAS PRAKTIKUM PATOLOGI KLINIK

ANALISIS SPERMA

BRIAN UMBU REZI DEPAMEDE


H1A212013

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM


NUSA TENGGARA BARAT
2015

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmatNya
sehingga tugas analisis sperma ini dapat terselesaikan dengan baik.
Dalam laporan ini, saya melaporkan hasil yang saya peroleh dari beberapa sumber
terkait dengan analisis sperma. Harapan saya bahwa tugas ini dapat digunakan untuk
meningkatkan pemahaman kami mengenai materi pada blok reproduksi ini.
Saya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan
bantuan serta dukungan, hingga terselesaikannya tugas ini. Saya menyadari sepenuhnya
bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan
kritik serta saran yang membangun, demi penyempurnaan tugas-tugas saya selanjutnya.

Mataram, 3 April 2015

Penyusun

PEMERIKSAAN ANALISIS SPERMA

Pemeriksaan sperma merupakan salah satu cara untuk mengetahui tingkat kesuburan/
fertilitas dan infertilitas seorang pria. Tingkat kesuburan mempengaruhi kemampuan seorang
pria untuk memperoleh keturunan. Seperti yang kita ketahui bahwa seorang pria dengan
tingkat kesuburan yang rendah atau steril akan sulit untuk memperoleh keturunan, demikian
juga sebaliknya. Oleh karena itu, maka seyogyanyalah seorang pria memeriksakan dirinya
untuk mengetahui tingkat kesuburannya. Pemeriksaan sperma dilakukan dengan cara
sederhana meliputi makroskopis, mikroskopis, dan kimia.
Analisa sperma merupakan pemeriksaan laboratoris yang berfungsi menilai fungsi
organ reproduksi pria. Dari hasil analisa sperma dapat memberikan informasi mengenai
keadaan testis baik dari kuantitas maupun kualitas spermatozoanya, fungsi sekretoris kelenjar
seks aksesori pria (kelenjar prostat, vesikula seminalis, parauretra littre & cowpri), dan juga
epididimis maupun kemungkinan adanya kesalahan fungsi seksual. Selain itu analisa sperma
adalah pemeriksaan yang relatif sederhana dan tidak hanya diperlukan dalam masalah
penanganan infertilitas saja, tetapi juga dalam hal-hal lain seperti post vasektomi, hernia
inguinalis, gangguan desensus testis, pra klinefelter, kasus-kasus medikolegal, beberapa
keluhan seksual, dan sebagainya.
Alat :
-

mikroskop
pipet tetes
gelas/tabung ukur kaca
objek glass
cover glass
pipet leukosit
bilik hitung Neubauer Improved (NI)

Bahan :
- semen
- NaCl fisiologis
- aquadest
- Larutan fikasasi etanol 95% : eter ( 1: 1)
- Cat Giemsa
Syarat pengumpulan bahan :
1. Sediaan semen diambil setelah abstinensia minimal 48 jam sampai maksimal 7 hari
dengan cara masturbasi.
2. Sediaan semen idealnya dikeluarkan dalam kamar yang tenang dalam laboratorium.
Jika hal tersebut tidak memungkinkan, maka sediaan harus dikirim ke laboratorium
dalam waktu maksimal 1 jam sejak dikeluarkan.

3. Sediaan semen dimasukkan ke dalam botol/gelas kaca bermulut

lebar, yang ditulisi

identitas penderita, tanggal pengumpulan dan lamanya abstinensia.


4. Sediaan semen dikirim ke laboratorium pada suhu 20-400C.
Pemeriksaan makroskopis :
Pemeriksaan ini meliputi 6 buah pemeriksaan yang dapat dilihat secara kasat mata, yaitu:
a. Warna
Diamati warna semen yang ada, apabila normal akan berwarna putih kelabu homogen.
Kadang didapatkan butiran seperti jeli yang tidak mencair. Pada beberapa contoh
warna abnormal misalnya apabila jernih menandakan jumlah sperma sangat sedikit,
merah kecoklatan terdapat adanya sel darah merah, dan kuning terdapat pada
penderita ikterus atau minum vitamin.
b. Bau
Semen normal apabila dibaui akan menghasilkan bau seperti bunga akasia.
c. Likuefaksi (mencairnya semen)
Sediaan diamati pada suhu kamar dan dicatat waktu pencairan. Normal : mencair
dalam 60 menit, rata-rata 15 menit.
d. Volume
Diukur dengan tabung/gelas ukur dari kaca. Normal : > 2 ml.
e. Konsistensi
Cara :
- Sampel diambil dengan pipet atau ujung jarum, kemudian biarkan menetes
- Amati benang yang terbentuk dan sisa ampel di ujung pipet/jarum
Normal : benang yang terbentuk < 2 cm atau sisa sampel di ujung pipet/jarum
hanya sedikit.

f. pH
Cara :
- Teteskan sampel pada kertas pH meter
- Bacalah hasilnya setelah 30 detik dengan membandingkan dengan kertas
standar
Normal
: pH 7,2 7,8
Abnormal
: pH > 7,8 infeksi
pH < 7 pada semen azoospermia, perlu dipikirkan kemungkinan
disgenesis vas deferens, vesika seminal, atau epididimis
Pemeriksaan mikroskopis
a. Pemeriksaan estimasi jumlah sperma
Cara :

Teteskan 1 tetes sampel ke objek glass, kemudian tutup dengan cover glass
Periksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 400 x (40 x lensa objektif, 10
x lensa okuler), kondensor diturunkan dan cahaya minimal. Pemeriksaan

dilakukan pada beberapa lapang pandang, pada suhu kamar


Jumlah rata-rata sperma yang didapat dikalikan dengan 106
Jumlah rata-rata sperma yang didapat, juga digunakan sebagai dasar

pengenceran saat penghitungan dengan bilik hitung Neubauer Improved


Tabel 1. Pengenceran berdasarkan estimasi jumlah sperma

Jumlah sperma / lapang pandang (400x)

Pengenceran

< 15

1:5

15 40

1 : 10

40 200

1 : 20

> 200

1 : 50

b. Motilitas sperma
Cara :
- Teteskan 1 tetes (10 15 mikroliter) sampel ke objek glass, kemudian tutup
-

dengan cover glass


Periksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 400 x ( 40 x lensa objektif,

10 x lensa okuler), kondensor diturunkan dan cahaya minimal


Pemeriksaan dilakukan dalam 4 -6 lapang pandang pada 200 sperma, pada

suhu kamar (180 240 C)


Kecepatan gerak sperma normal adalah : 5 kali panjang kepala sperma atau

setengah kali panjang ekor sperma atau 25 m/detik.


Dilihat gerakan sperma dan diklasifikasikan sebagai berikut :
(a) jika sperma bergerak cepat dan lurus ke muka
(b) jika geraknya lambat atau sulit maju lurus atau bergerak tidak lurus
(c) jika tidak bergerak maju
(d) jika sperma tidak bergerak
Lakukan pemeriksaan ulangan dengan tetesan sperma kedua

c. Pemeriksaan vitalitas sperma


Cara :
Jika sperma motil < 50 % px vitalitas/sperma yang hidup dgn pengecatan

supravital
1 tetes sampel segar + 1 tetes eosin 0,5% pd objek glass ditutup dgn cover
glass 1-2 mnt diamati dgn mikroskop (pembesaran 400x)

Hitung persentase jumlah sperma yang mati (terwarnai oleh cat) dengan yang

hidup (tidak terwarnai oleh cat)


Pemeriksaan ini untuk mengecek pemeriksaan motilitas persentese sel mati
tidak boleh melebihi persentase sperma tidak motil

d. Morfologi sperma
Cara :
- Teteskan 1 tetes (10 15 mikroliter) sampel ke salah satu ujung objek glass
- Dengan objek glass kedua, dibuat apusan sampel seperti terlihat pada gambar
- Sediaan dikeringkan di udara, selanjutnya difiksasi dengan etanol 95% : eter
-

(1 : 1), biarkan sediaan kering


Kemudian cat dengan Giemsa selama 30 menit, bilas dengan air bersih,

keringkan dan preparat siap diperiksa


Periksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 400 x ( 40 x lensa objektif,

10 x lensa okuler), kondensor diturunkan dan cahaya minimal


Pemeriksaan morfologi dilakukan pada 200 sperma meliputi kepala, leher dan
ekor, kemudian hasil yang didapat dibuat persentase

e. Pemeriksaan elemen bukan sperma


Cara :
- Dilakukan penghitungan sel selain sperma seperti leukosit, sel epitel gepeng
dan sel lain yang ditemukan. Pengitungan dilakukan dalam 100 sperma
-

ditemukan berapa sel lain selain sperma


Penghitungan :
C=NxS
C : jumlah sel dalam juta / ml
100
N : jumlah sel yang dihitung dalam 100 sperma
S : jumlah sperma dalam juta / ml

f. Pemeriksaan hitung jumlah sperma


Cara :
- Siapkan hemositometer (pipet leukosit dan Bilik hitung NI)
- Pasang bilik hitung NI dibawah miroskop dengan pembesaran 100x atau 400x,
cari kotak hitung seperti terlihat dalam gambar.

Penghitungan dilakukan di kotak tengah yang terdiri dari 25 kotak sedang

yang masing-masing didalamnya terbagi lagi menjadi 16 kotak kecil


Hisap semen sampai angka 0,5, kemudian hisap pengencer aquadest/NaCl
fisiologis sampai angka 11 digunakan pengenceran 1 : 20. (Pengenceran
lain dapat digunakan sesuai Tabel 1. Pengenceran berdasarkan estimasi jumlah
sperma)

Jumlah kotak sedang yang harus dihitung berdasar jumlah sperma yang

ditemukan :
jumlah sperma dalam 1 kotak sedang < 10 hitung 25 kotak
jumlah sperma dalam 1 kotak sedang 10-40 hitung 10 kotak
jumlah sperma dalam 1 kotak sedang > 40 hitung 5 kotak
Buatlah rata-rata jumlah sperma
Selanjutnya hitunglah jumlah sperma dan faktor koreksinya dengan aturan

seperti tertera dalam tabel 2.


Tabel 2. Jumlah penghitungan kotak dan faktor koreksi jumlah sperma
Jumlah kotak sedang yang dihitung
Pengenceran

25

10

Faktor koreksi
1 : 10

10

1 : 20

1 : 50

0,8

0,4

Interpretasi Pembacaan Hasil

Interpretasi hasil analisa sperma saat ini didasarkan pada 2 parameter dari 2-3 sediaan
dalam sekali analisa sperma. Dan hasilnya harus diulang 1 minggu atau 2 minggu lagi
sehingga kita dapatkan 2-3 sediaan.
1.
a.

Jumlah spermatozoa / ml
Normozoospermia : jumlah spermatozoa 20-250 juta/ml dianggap dalam batas
normal.

b.

Azoospermia : jumlah spermatozoa 0 juta/ml

c.

Ekstrim-oligozoospermia : jumlah spermatozoa 0-5 juta/ml

d.

Oligozoospermia : jumlah spermatozoa >5 - <20 juta/ml

e.

Polizoospermia : jumlah spermatozoa > 250 juta/ml

2.

Prosentase motilitas spermatozoa yang bergerak BAIK (Good & Excellent atau grade 2
+ 3). Apabila % spermatozoa yang motil < 50% disebut asienozoospermia.

3.

Prosentase morfologi spermatozoa normal

Apabila % spermatozoa yang mempunyai morfologi normal <50% disebut teratozoospermia.


Iinterpretasi Analisa Sperma Rutin

N
o
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Jumlah
Nomenklatur

Spermatozo
a (juta/ml)

Normozoospermia
Oligozoospermia
Ekstrim Oligozoospermia
Astenospermia
Teratospermia
Oligo-astenozoospermia
Oligo-asteno-teratozoospermia
Oligo-teratozoospermia
Asteno-teratozoospermia
Polizoospermia
Azoospermia
Nekrozoospermia
Kriptozoospermia
Aspermia

Morfologi
Motil

Spermatozo

(%)

(%)
> 20
> 50
> 50
> 20
> 50
> 50
<5
> 50
> 50
> 20
< 50
> 50
> 20
> 50
< 50
< 20
< 50
> 50
< 20
< 50
< 50
< 20
> 50
< 50
> 20
< 50
< 50
> 250
> 50
> 50
Jika semua spermatozoa tan viabel
Adalah spermatozoa yang tersembunyi
Apabila tidak ada sperma

Terminologi
Berikut beberapa terminalogi yang dipergunakan dalam spermatologi :
1.

normal

Azoospermia: Dalam ejakulat tidak terdapat/ditemukan sperma

2.

Aspermatogenesis: Tidak terjadi pembuatan spermatozoa di dalam testis.

3.

Aspermia: Tidak terdapat ejakulat

4.

Normospermia: Jumlah volume sperma 2-5 ml.

5.

Hypospermia: Volume ejakulat kurang dari 1 ml

6.

Hyperspermia: Volume ejakulat lebih dari 6 ml

7.

Hypospermatogenesis: Proses pembentukan spermatozoa sangat sedikit didalam testis.

8.

Oligospermia: Jumlah spermatozoa di bawah kriteria normal (di bawah 20 juta tiap ml
sperma)

9.

Normozoospermia: Jumlah spermatozoa dalam batas normal berkisar antara 40-200


juta/ml.

10.

Asthenospermia: Jumlah spermatozoa yang bergerak dengan baik di bawah 50%.

11.

Necrospermia: Semua spermatozoa dalam keadaan mati.

12.

Extrem oligospermia: Jumlah spermatozoa di bawah 1 juta untuk tiap 1 ml ejakulat.

13.

Asthenozoospermia: Spermatozoa yang lemah sekali gerak majunya.

14.

Teratozoospermia: Bentuk spermatozoa yang abnormal lebih dari 40%.

15.

Nekrozoospermia: Bila semua spermatozoa tidak ada yang bergerak atau hidup.

16.

Kriptozoospermia: Bila ditemukan spermatozoa yang tersembunyi yaitu bila ditemukan


dalam sedimen sentrifugasi sperma.

17.

Polizoospermia: Bila jumlah spermatozoa lebih dari 250 juta per ml sperma

18.

Leukospermia: Warna sperma putih keruh serupa susu karena terdapat leukosit yang
banyak.

19.

Hemospermia: Warna sperma kemerahan karena terdapat erythrosit yang banyak.

20.

Residual Body: Sisa sitoplasma yang melekat pada spermatozoa yang belum matur.

DAFTAR PUSTAKA
Benson. 2009. Infertilitas dan Hal-Hal yang Berkaitan. Dalam : BS Obstetri dan Ginekologi.
Jakarta : EGC.
Depkes RI. 1997. Petunjuk Pelaksanaan Pemantapan Mutu Internal Laboratorium Kesehatan.
Gandasoebrata. 1989. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta : Dian Rakyat.
WHO. 1999. WHO Laboratory Manual for the Examination of Human Semen and SpermCervical Mucus Interaction. Fourth Edition. Cambridge University Press.

Anda mungkin juga menyukai