Anda di halaman 1dari 12

Nama

Nim

: Wais Al-Qurni
: 1112015000112
: Politik Islam

A. HIJRAH NABI
Pada malam tanggal 27 Rajab sebelum hijrah, Nabi Muhammad melakukan isra dan miraj.
Isra maksudnya berjalan pada malam hari dari masjid Mekkah atau Masjidil kharom menuju
ke Masjidil Aqsa di palestina. Sedangkan MIraj adalah Naik ke langit ke Baitul Maqdis
menuju ke Sidratul Muntaha. Dengan mengendarai Buraq dengan di temani malaikat JIbril.
Perjalanan Nabi Muhammad dari masjidil Kharom ke masjidil Aksa di tempuh dalam
3perhatian. Di kita yatsrib tempat pertama (tempat nabi berhijrah). Di sina atau tursina tempat
kedua (dimana Muhammad bermunajah kepada Allah) dan di Madain saleh tempat
ketiga(dimana Nabi Syuaib memegang sebagai raja). Maka setalah sampai di baitul Maqdis,
nabi Muhammad di mirajkan menuju kesidrotul munthaha. Sebalum didimijrakan nabi
Muhammad di masjidil aqsha yang dibangun oleh Nabi Sulaiman as. Bertemu dengan para
Nabi, kemudian mereka bersholat bersama-sama dan Muhammad sebagai imam dalam
peribadatan itu. Selanjutnya ia naik kelangit dan tiap-tiap pintu para Nabi mengucapkan
selamat. Perjalanan dilanjutkan dengan melihat-lihat isi surge dan isi neraka. Orang-orang
yang taat dalam menjalankan ibadah, ditempatkan di surga. Dan orang yang kufur, untuk
mereka adalah neraka. Setelah sampai ke puncak acara di shidrotul muntaha, Nabi naik lagi
ke mustawan dan bertemu dengan Tuhan untuk menerima perintah wajib sholat 5 kali dalam
sehari semalam. Selanjutnya Nabi Muhammad pulang dengan mengendarai Buroq menuju ke
Mekkah melalui Baitul Maqdis.
Setelah setahun berlalu, Nabi SAW mendapat wahyu untuk hijrah ke Yatsrib. Ketika
itu orang-orang kafir quraisy sedang sibuk merencanakan pembunuhan Nabi Muhammad.
Mereka berkumpul di depan rumah, sebentar-sebentar dilihatnya kamar Nabi lewat lubang
kecil. Kalau Rosulullah keluar akan dibunuhlah ia.
Baru saja Rosul menerima wahyu dari Allah bahwa ia akan dibunuh. Atas berita itu
Nabi Muhammad pergi menjumpai Abu Bakar (sahabatnya) untuk menyampaikan berita itu.
Dan karena perintah Allah menyuruh Muhammad berhijrah, Abu Bakar ingin ikut serta dan
Muhammad mengijinkan.

Muhammad dan Abu Bakar tiga hari tiga malam bersembunyi digua Tsur. Baru
setelah itu mereka meneruskan perjalanan sampai di yatsrib(madinah).Setelh sampai yatsrib
di ubah namanya oleh nabi dengan kota Madinah, sedangkan Muhammad saw. Bertempat di
kuba, di luar kota. DisanaMuhammad membuat masjid yang ada hingga saat ini.
Ketika Nabi melihat keganasan kaum musyrikin semakin hari semakin keras, sedang
beliau tidak dapat memberi perlindungan kepada kaum muslimin; beliau berkata kepada
kaum mislimin yang sanggup untuk meninggalkan kota mekkah, Alangkah baiknya jika
kamu dapat berhijrah ke Habasyah (ethiopia). Disana ada seorang raja yang sangat adil.
Dalam kekuasaannya tidak seorangpun yang dianiyaya. Karena itu pergilah kamu kesana
sampai Alloh memberikan jalan keluar kepada kita. Negri itu adalah negri yang cocok bagi
kalian.
Anjuran Nabi tersebut diterima oleh kaum muslimin yang sanggup untuk
meninggalkan kota Mekkah. Dalam rombongan pertama ada 10 pria dan 4 wanita krmudian
di susul rombongan ke dua yang terdiri dari 80 pria dan 17 wanita selain anak-anak, dan
diantaranya terdapat menantu Rosulullah Saw yaitu Utsman bin Affan beserta istrinya
Ruqayah putrid rosul dan Jafar bin abitholib beserta istrinya Asma binti Umais. Tetapi
rosullullah tidak ikut dalam hijrah tersebut, melainkan terus melancarkan dakwahnya di
Makkah dengan resiko apa pun. Kaum imingran itu tinggal di rantau selama tiga bulan.
Pada tahun ketujuh kerasulan (616 M), lantaran tekanan dan perlakuan kaum kafir
kian beringgas dan kejam. Yang ikut mengungsi mencapai 83 lelaki dan 12 wanita, yng di
pimpin oleh Jafar bin Abdul Munthalib, paman Nabi yang paling mirip denga wajah beliau
selai Hasan bin Ali. Mereka antara lain 4sahabat uatama(Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali).
Rombongan ini diteriamah dengan penuh kehormatan dan kemuliaan oleh raja Najasyi yang
adil, saleh dan berjiwa lapang. Beliau menolak mengembalikan mereka ke Mekkah tatkalah
perutusan Quraisy, di bawa pimpinan Amr bin Ash dan Abu Sufyan, dating untuk meminta
kepada sang raja agar pengungsi tersebut di usir dan disuruh pulang kampung.
Setelah itu mereka Hijrah ke Thaif(sekitar 90 km dari Mekkah) pada 27 Syawal tahun
kesepuluh nubuwah(Januari 620M) dipimpin oleh Nabi sendiri. Ini terjadi setelah kaum
Muslimin diboikot selama 3tahun oleh kafir Quraisy dan tahun duka cita (wafatnya Khadijah
dan Abu Tholib). Pada mulanya Cuma Nabi ditemani Zaid bin Haritsan yang beranjang
sana .guna menyerukan islam, sekalian menjajaki kemungkinan dijadikannya Thaif sebagai
tempat berlindung sementara kaum muslim dari keberangasan bangsat-bangsat jahiliyah
Quraisy. Namun kenyataannya beliau malah di hujani batu.
Tatkalah rombongan muhajirin(orang yang berhijrah) menjelang memasuki gerbang
kota, mereka malah disambut dengan hinaan dan dilempari batu-batu. Nabi dan para sahabat

samapai terluka dan bersimbah darah tetapi beliau tetap mendoakannya agar mereka
dibukakan hatinya oleh Allah lantaran ketidaktahuan mereka dan kebodohan mereka.
Hijrah selanjutnya orang-orang Muhajirin melanjutkan hijrah keMadinah, Hijrah kali
ini yang palingmonumental dari hijrah sebelumnya dan paling masak dalam siasat dan
perhitungannya. Bukan lagi karena hendak meminta perlindungan sebagai yang sudah-sudah
melainkan lebih untuk menegakkan suatu kekuasaan dan Daulah Islamiyah. Dalam hal ini di
bagi menjadi dua gelombang.
Gelombang pertama, pada hari jumat, 1 Rabiul Awal tahun yang bersangkutan. Yang
mula pertama kali hijrah adalah Abu Salamah bin Abdul Aswad, yang berhasil mengajak 6
orang masuk islam . Mereka ini lah kemudian datang menemui Nabi secara diam-diam. Ada
pula yang menyebutkan bahwa Mushab bin Umayrlah yang merintis jalan ke sana sebagai
dai utusan Nabi. Menyusul kemudian rombongan Amr bin Rubiah dan lain-lain kemudin
menyusul sekitar 200 orang, termasuk putrid Abu Lahab. Sedangkan baginda Rosul sendiri
berangakat bersama Abu Bakardengan menempuh perjalannan selama 15 hari, dalam
perjalannan menxekam itu , mereka bersembunya selam 3 hari di Gua Tsur guna menunggu
perkembangan situasi kota. Selama itu, kepada beberapa orang beliau telah memberikan
tugas khusus . Sesudah di anggap aman, mereka bersama Amir dan petunjuk jalan bayaran,
Abdulllah bin Arqat, kemudian meneruskan perjalanan. Dan baru tiba di Quba pada senin
12Rabiul awal, 7 hari setelah meninngalkan gua.
Gelombang kedua adalah rombongan kaum Muslimin yang berduyung-duyung
mengungsi ke Madinah ketika salah satu butirPerjanjianHudaibiyah di hapuskan atas
permintaan kafir Quraisy. Dan yang terakhirhijrah adalah Abbas bin Abdul Muntholib
sekeluarga sewaktu Nabi dan pasukannya hendak menaklukan Mekkah. Hijrah inilahyang
kemudian dijadikan titik pijat tahun Hijri oleh Umarpada tahun 637 M. Dengan perhitungan
penaggalan ini, dapat diketahui bahw bulan pertama dalam kalender Qamariyah, yaitu 1
Muharram 1H.

B. Piagam Madinah
Piagam Madinah (Bahasa Arab: , shahifatul madinah) juga dikenal
dengan sebutan Konstitusi Madinah, ialah sebuah dokumen yang disusun oleh Nabi
Muhammad SAW, yang merupakan suatu perjanjian formal antara dirinya dengan semua
suku-suku dan kaum-kaum penting di Yathrib (kemudian bernama Madinah) di tahun
622.Dokumen tersebut disusun sejelas-jelasnya dengan tujuan utama untuk menghentikan
pertentangan sengit antara Bani 'Aus dan Bani Khazraj di Madinah. Untuk itu dokumen
tersebut menetapkan sejumlah hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kaum Muslim, kaum

Yahudi, dan komunitas-komunitas pagan Madinah; sehingga membuat mereka menjadi suatu
kesatuan komunitas, yang dalam bahasa Arab disebut ummah.
Sebagaimana sudah diketahui, Islam tidak dapat dipisahkan dari politik. Batas antara
ajaran Islam dengan persoalan politik sangat tipis. Sebab ajaran Islam mengatur berbagai
aspek kehidupan manusia, termasuk persoalan politik dan masalah ketatanegaraan. Peristiwa
hijrah Nabi ke Yatsrib merupakan permulaan berdirinya pranata sosial politik dalam sejarah
perkembangan Islam. Kedudukan Nabi di Yatsrib bukan saja sebagai pemimpin agama, tetapi
juga kepala negara dan pemimpin pemerintahan. Kota Yatsrib dihuni oleh masyarakat yang
multi etnis dengan keyakinan agama yang beragam. Peta sosiologis masyarakat Madinah itu
secara garis besarnya terdiri atas :
1. Orang-orang muhajirin, kaum muslimin yang hijrah dari Makkah ke Madinah.
2. Kaum Anshar, yaitu orang-orang Islam pribumi Madinah.
3. Orang-orang Yahudi yang secara garis besarnya terdiri atas beberapa kelompok suku seperti :
Bani Qainuna, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah.
4. Pemeluk tradisi nenek moyang, yaitu penganut paganisme atau penyembah berhala.
Pluralitas masyarakat Madinah tersebut tidak luput dari pengamatan Nabi. Beliau
menyadari, tanpa adanya acuan bersama yang mengatur pola hidup masyarakat yang
majemuk itu, konflik-konflik di antara berbagai golongan itu akan menjadi konflik terbuka
dan pada suatu saat akan mengancam persatuan dan kesatuan kota Madinah. Hijrah Nabi ke
Yatsrib disebabkan adanya permintaan para sesepuh Yatsrib dengan tujuan supaya Nabi dapat
menyatukan masyarakat yang berselisih dan menjadi pemimpin yang diterima oleh semua
golongan. Piagam ini disusun pada saat Beliau menjadi pemimpin pemerintahan di kota
Madinah.

Sejarah Terbentuknya Piagam Madinah


Piagam Madinah disepakati tidak lama sesudah umat muslim pindah ke Yatsrib yang
waktu itu masih tinggi rasa kesukuannya. Oleh karena itu ada baiknya kita mengetahui motif
apa yang menjadi latar belakang hijrahnya umat Muslim Mekkah ke Madinah yang waktu itu
masih bernama Yatsrib. Hal ini penting untuk kita mengetahui mengapa agama Islam yang
lahir di Mekkah itu justru malah kemudian dapat berkembang subur di Madinah. Dan
kemudian mendapat kedudukan yang kuat setelah adanya persetujuan Piagam Madinah.
Dakwah Nabi di Mekkah dapat dikatakan kurang berhasil. Sampai kepada tahun
kesepuluh kenabian baru sedikit orang yang menyatakan diri masuk Islam. Bahkan ada
beberapa diantaranya yang memeluk agama Islam dengan sepenuh hati mereka.

Sebelum Nabi melaksanakan hijrah, Beliau banyak mendapat ancaman dari kafir
Quraisy. Tidak hanya gangguan psikis yang Beliau alami, tapi juga diancam secara fisik.
Bahkan beberapa kali diancam untuk dibunuh. Tapi Nabi selalu sabar dalam menghadapi
gangguan-gangguan tersebut. Dasar yang dipakai Nabi dalam menghadapi gangguan kaum
kafir Quraisy tersebut adalah surat Fushshilat ayat 34, yang berbunyi :
Kota Yatsrib mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Nabi. Bukan saja karena
Makkah dan Yatsrib sama-sama berada di propinsi Hijaz, tetapi juga beberapa faktor lain
yang ikut menentukan, yaitu :
1. Abdul Muthalib, kakek Nabi lahir dan dibesarkan di Madinah ini sebelum akhirnya menetap
di Makkah. Apalagi hubungan kakek dan cucu ini sangat erat dan penuh kasih sayang. Maka
hubungan kakek nabi yang erat dengan Madinah juga membawa bekasnya pada diri Nabi.
2. Ayah Rasulullah, Abdullah ibn Abdul Muthalib wafat dan dimakamkan di Madinah. Nabi
pernah ziarah ke sana bersama ibundanya. Ibunda Nabi wafat dalam perjalanan pulang dari
ziarah tersebut. Dengan demikian Madinah bukan tempat yang asing bagi Nabi. Setidaktidaknya Nabi pernah berhubungan dengan kota atau penduduk kota tersebut.
3. Penduduk Madinah dari suku Arab bani Nadjar punya hubungan kekerabatan dengan Nabi.
Kedatangan Nabi di Madinah disambut layaknya kerabat yang datang dari jauh, bukan orang
asing.
4. Sebagian besar penduduk kota Yatsrib punya mata pencaharian sebagai petani, di samping itu
iklim di sana lebih menyenangkan dari pada kota Makkah. Untuk itu dapat dimaklumi bila
penduduknya lebih ramah dibandingkan penduduk kota Makkah.
5. Selain berbagai faktor di atas, juga khabar akan datangnya Rasul akhir jaman sudah di dengar
orang-orang Yatsrib dari orang-orang Yahudi d Yatsrib. Mereka mengharap-harap dan
menunggu-nunggu untuk mendapat kehormatan membantu agama ini.
Demikian beberapa faktor yang dapat kami kemukakan yang membantu diterimanya Nabi
di Madinah dan mengapa Nabi memilih kota Yatsrib atau Madinah sebagai kota tempat tujuan
Hijrahya, selain itu juga merupakan petunjuk Allah yang memberi jalan bagi terbukanya syiar
agama Islam.
Sejak Nabi hijrah ke Madinah dan sesudah menetap di sana dan setelah masjid dan rumah
beliau siap didirikan, tidak lain yang menjadi fikirannya adalah menyiarkan agama Islam,
sebagai tujuan utama beliau.
Sebagai seorang pemimpin, maka beliau merasa punya tanggung jawab besar terhadap
diri dan pengikutnya. Beliau tidak saja harus giat menyiarkan agama Islam, tetapi juga
sebagai seorang pemimpin tidak boleh membiarkan musuh-musuh dari dalam dan dari luar

mengganggu kehidupan masyarakat muslim. Pada tahap ini beliau menghadapi tiga kesulitan
utama :
1. Bahaya dari kalangan Quraisy dan kaum Musyrik lainnya di Jazirah Arab.
2. Kaum Yahudi yang tinggal di dalam dan di luar kota dan memiliki kekayaan dan sumberdaya
3.

yang amat besar.


Perbedaan di antara sesama pendukungnya sendiri karena perbedaan lingkungan hidup
mereka.
Dan karena perbedaan lingkungan hidup, maka kaum muslimin Anshar dan Muhajirin
mempunyai latar belakang kultur dan pemikiran yang sangat berbeda. Hal ini masih di
tambah lagi dengan permusuhan sengit yang telah terjadi selama 120 tahun lebih antara dua
suku Anshar, yaitu Bani Aus dan Bani Khazraj. Sangat sulit bagi Nabi mengambil jalan
tengah untuk mempersatukan mereka dalam kehidupan religius dan politik secara damai.
Tetapi akhirnya Nabi dapat mengatasi masalah tersebut secara damai dengan cara yang
amat bijaksana. Mengenai masalah yang pertama dan kedua, beliau berhasil mengikat
penduduk Madinah dalam suatu perjanjian yang saling menguntungkan yang akan di bahas
nanti. Sedangkan untuk mengatasi masalah yang ketiga beliau berhasil memecahkannya
dengan jalan keluar yang amat bijak dan sangat jenius.
Untuk

mengatasi

adanya

perbedaan

di

antara

kaum

muslimin,

maka

Nabi

mempersaudarakan di antara mereka layaknya saudara kandungan yang saling pusaka


mempusakai. Jika salah satu dari kedua bersaudara yang baru dipersatukan tersebut wafat,
maka saudara angkatnya berhak atas seperenam harta warisannya. Perlu diketahui hukum
waris sebagaimana kita kenal sekarang belum berlaku saat itu.
Selama beberapa minggu di Madinah, Rasul menelaah situasi kota Madinah dengan
mempelajari keadaan politik, ekonomi, sosial dan sebagainya. Beliau berusaha mencari jalan
bagaimana agar penduduk asli dan kaum muhajirin dapat hidup berdampingan dengan aman.
Untuk mengatasi kesulitan yang pertama dan kedua Nabi Muhammad membuat suatu
perjanjian dengan penduduk Madinah baik Muslimin, Yahudi ataupun musyrikin.
Dalam perjanjian itu ditetapkan tugas dan kewajiban Kaum Yahudi dan Musyrikin
Madinah terhadap Daulah Islamiyah di samping mengakui kebebasan mereka beragama dan
memiliki harta kekayaannya. Dokumen politik, ekonomi, sosial dan militer bagi segenap
penduduk Madinah, baik Muslimin, Musyrikin, maupun Yahudinya. Secara garis besar
perjanjian itu memuat isi sebagai berikut :

a. Bidang ekonomi dan sosial


Keharusan orang kaya membantu dan membayar utang orang miskin, kewajiban
memelihara kehormatan jiwa dan harta bagi segenap penduduk, mengakui kebebasan
beragama dan melahirkan pendapat, menyatakan kepastian pelaksanaan hukum bagi siapa
saja yang bersalah, dan tidak ada perbedaan antara siapapun di depan pengadilan.
b. Bidang militer
Antara lain menggariskan kepemimpinan Muhammad bagi segenap penduduk Madinah,
baik Muslimin, Yahudi ataupun Musyrikin, segala urusan berada di dalam kekuasaannya.
Beliaulah yang menyelesaikan segala perselisihan antara warga negara. Dengan demikian
jadilah beliau sebagai Qaaid Aam (panglima tertinggi) di Madinah. Keharusan bergotong
royong melawan musuh sehingga bangsa Madinah merupakan satu barisan menuju tujuan.
Arti Penting Piagam Madinah
Adapun Piagam Madinah itu mempunyai arti tersendiri bagi semua penduduk Madinah
dari masing-masing golongan yang berbeda. Bagi Nabi Muhammad, maka Ia diakui sebagai
pemimpin yang mempunyai kekuasaan politis. Bila terjadi sengketa di antara penduduk
Madinah maka keputusannya harus dikembalikan kepada keputusan Allah dan kebijaksanaan
Rasul-Nya. Pasal ini menetapkan wewenang pada Nabi untuk menengahi dan memutuskan
segala perbedaan pendapat dan permusuhan yang timbul di antara mereka.
Hal ini sesungguhnya telah lama diharapkan penduduk Madinah, khususnya golongan
Arab, sehingga kedatangan Nabi dapat mereka terima. Harapan ini tercermin di dalam Baitul
Aqabah I dan II yang mengakui Muhammad sebagai pemimpin mereka dan mengharapkan
peranannya di dalam mempersatukan Madinah.
Sedangkan bagi umat Islam, khususnya kaum Muhajirin, Piagam Madinah semakin
memantapkan kedudukan mereka. Bersatunya penduduk Madinah di dalam suatu kesatuan
politik membuat keamanan mereka lebih terjamin dari gangguan kaum kafir Quraisy. Suasana
yang lebih aman membuat mereka lebih berkonsentrasi untuk mendakwahkan Islam. Terbukti
Islam berkembang subur di Madinah ini.
Bagi penduduk Madinah pada umumnya, dengan adanya kesepakatan piagam Madinah,
menciptakan suasana baru yang menghilangkan atau memperkecil pertentangan antar suku.
Kebebasan beragama juga telah mendapatkan jaminan bagi semua golongan. Yang lebih
ditekankan adalah kerjasama dan persamaan hak dan kewajiban semua golongan dalam
kehidupan sosial politik di dalam mewujudkan pertahanan dan perdamaian.

Piagam Madinah ternyata mampu mengubah eksistensi orang-orang mukmin dan yang
lainnya dari sekedar kumpulan manusia menjadi masyarakat politik, yaitu suatu masyarakat
yang memiliki kedaulatan dan otoritas politik dalam wilayah Madinah sebagai tempat mereka
hidup bersama, bekerjasama dalam kebaikan atas dasar kesadaran sosial mereka, yang bebas
dari pengaruh dan penguasaan masyarakat lain dan mampu mewujudkan kehendak mereka
sendiri.
Muhammad Jad Maula Bey, dalam bukunya Muhammad al-Matsalul Kamil
menyimpulkan, bahwa di dalam waktu yang relatif pendek tersebut Nabi telah sukses
menciptakan tiga pekerjaan besar, yaitu:
Membentuk suatu umat yang menjadi umat yang terbaik
Mendirikan suatu negara yang bernama Negara Islam; dan
Mengajarkan suatu agama, yaitu agama Islam.
Agar stabilitas masyarakat dapat di wujudkan Nabi Muhammad mengadakan ikatan
perjanjian dengan Yahudi dan orang-orang Arab yang masih menganut agama nenek moyang.
Sebuah piagam yang menjamin kebebasan beragama orang-orang Yahudi sebagai suatu
komunitas yang di keluarkan. Setiap golongan masyarakat memiliki hak tertentu dalam
bidang politik dan keagamaan. Kemerdekaan beragama dijamin, dan seluruh anggota
masyarakat berkewajiban mempertahankan negeri dari serangan luar. Dalam perjanjian itu
disebutkan bahwa Rasulullah menjadi kepala pemerintahan karena menyangkut peraturan dan
tata tertib umum, otoritas mutlak di berikan pada beliau. Dalam bidang sosial, dia juga
meletakan dasar persamaan antara sesama manusia. Perjanjian ini, dalam pandangan
ketatanegaraan sekarang, sering disebut dengan konstitusi Madinah.
Mengenai kapan penyusunan naskah piagam atau perjanjian tertulis itu dilakukan oleh
Nabi tidak pasti, mengenai waktu dan tanggalnya. Apakah waktu pertama hijriyah atau
sebelum waktu perang Badar atau sesudahnya. Menurut Watt, para sejarah umumnya
berpendapat bahwa piagam itu dibuat pada permulaan periode Madinah tahun pertama hijrah.
Well Husen menetapkannya sebelum perang badar sedangkan Hurbert Grimne berpendapat
bahwa piagam itu dibuat setelah perang badar. Dan masih banyak lagi orang yang
berpendapat tentang kapan penyusunan piagam Madinah.
Isi piagam:
Ini adalah sebuah shahifah (piagam) dari Muhammad Rasulullah (yang mengatur
hubungan) antara mumin Quraisy dan Yatsrib (Madinah) dan orang-orang yang mengikuti,
bergabung dan berjuang (jahadu) bersama-sama dengan mereka.
Dari Piagam Madinah, dapat diambil beberapa kesimpulan:

1. Pertama, Asas kebebasan beragama. Negara mengakui dan melindungi setiap kelompok
untuk beribadah menurut agamanya masing-masing.
2. Kedua, Asas persamaan. Semua orang mempunyai kedudukan yang sama sebagai anggota
masyarakat, wajib saling membantu dan tidak boleh seorang pun diperlakukan secara buruk.
Bahkan orang yang lemah harus dilindungi dan dibantu.
3. Ketiga, Asas kebersamaan. Semua anggota masyarakat mempunyai hak dan kewajiban yang
sama terhadap negara.
4. Keempat, Asas keadilan. Setiap warga negara mempunyai kedudukan yang sama dihadapa
hukum. Hukum harus ditegakkan. Siapa pun yang melanggar harus terkena hukuman. Hak
individu diakui.
5. Kelima, Asas perdamaian yang berkeadilan.

C. PEPERANGAN PADA MASA NABI


Pada zaman Nabi terjadi sekitar 62 kali peperangan melawan musuh-musuh Islam.
Yang langsung beliau pimpin (menurut suatu riwayat disebut ghaswah) sebanyak 29 atau 27
kali, dan selebihnya adalah perang yang didalamnya Nabi tidak ikut(disebut Sariyyah). Di
antara perang-perang itu, sebenarnya banyak juga di antaranya yang belum patut disebut
perang dalam arti sesunguhnya, melainkan semacam patrol perondaan, misalnya perang AlAsyirah, Zhi Amir, Al-Fara, Zatur Riqa dan beberapa perang yang lainnya. Sebagian perang
tersebut di abadikan oleh Allah dalam Al-Quran, seperti perang badar disebut dalam
QS3:123-127, Uhud dalam QS 3:152-155, Khandaq dalam QS 33:9-27, Khaybar dalam QS
48:15-19, Hunayn dalam QS 9:25-29 dan Tbuk dalam QS 9:38-43.

1. Fijar
Perang ini, Harbul Fijar, diikuti oleh Nabiyang menyertai paman-pamannya, ketika
masih berumur 15-20 tahun. Ia merupakan perang yang merusak kesucian antar suku
kabilah arab yaitu antara suku Quraisy atau Banu kinanah di satu pihak dengan Qais Ailan di
lain pihak, karena terjadi dalam bulan-bulan suci pada pekan-pekan dagang di ukaz (terletak
di antara Tayif dan Nakhlah) dan berlangsung selama 4 tahun berturut-turut. Di perang itu,
Muhammad, antara lain ditugaskan mengunpulkan anak-anak panah, atau ikut pula
memanah. Seusai perang inilah

beliau ikut mengorganisasikan suatu persekutuan yang

dikenal dengan nama Hilful Fuzul yang dibentuknya untuk membela kaum lemah dan
tertindas.
2. Badar
Perang yang tergolak di bulan suci Ramadhan ini, yaitu hari jumat pagi17 Ramadhan
2H atau maret 624 M, merupakan perang yang amat menentukan eksestensi islam. Saking
pentingnya Nabi berdoa sangat khusyuk(hingga selendangnya beliau jatuh tidak terasa).
Pasukan Islam hanya berjumlah 313 orang denag perlengkapan amat sederhana dengan 70
unta, dan Cuma seorang, yaitu sahabat muda nabi bernama Miqdad bin Aswad sendiri, yang
menunggang kuda . Sementara itu kaum musyrik brjumlah 1.000 orang membawa100 kuda
dan 700 unta, di bawa komandan-komandan pembesar Quraisy saat itu.
3. Uhud
Perang yang berlangsung pada sabtu 15 Syawal 3 H(januari 625 M) ini terjadi karena
para gembong Quraisy ingin membalas dendam atas kekalahan pahit yang mereka alami.
Mereka di pimpin langsung oleh Khalid bin Walid, Abdullah bin Rabiah, Syahwal bin
Umayyah, Ikrimah bin Abu Jahal, Abu Sufyan (sebagai komandan tertinggi) dan istrinya.
Pasukan Islam semula berjumlah 1.000 (17 di antarannya belum genap berumur 15
tahun). Di pertempuran yang menyala dahsyat ini Nabi mengalami luka-luka cukup parah,
sampai-sampai Abu sufyan berikrar bahwa Nabi Muhammad telah terbunuh. Abdullah bun
Sahab Zuhri menimpuk batu dahi nabi hingga beliau terjatuh ke dalam jurang dengan
berlumuran darah. Lalu menyusul pula Ubay bin Khalaf, menyerbu kea rah Nabi yang kala
itu dalam keadaan kritis di bawa lindungan pagar para sahabat, namun dengan sisa-sisa
tenaga yang ada, Baginda Rosul berhasil mendahului menusuk perutnya, hingga musuh ini
terbunuh. Ini lah satu-satunya orang yang di bunuh Nabi selama hidupnya. Di perang inilah
pertama kali kaum muslim merasakan hal pahit karena kyrang 70 pahlawan Ialam yang
menigal. Sedangkan di pihak Quraisy Cuma 25 orang yang mati konyol. Ini terutama karena
sebagaian di antara kaum Muslim melanggar disiplain dan perintah Nabi.
4. Khandaq
Perang yang terjadi di bulan Syawal 5 H(Februari-Maret 627 M), ini di sebut perang
parit karena kaum Muslim mengunakan strategi pertahanan dengan menggali parit di seputar
Madinah. Ini adalah ide cemerlang sahabat Nabi berbangsa Persia, salman Al Farisi. Pasukan
musuh yang akan menyerang yaitu sekitar 11.000 serdadu dengan 2.500 unta dengan 300
kuda, sementara mereka Cuma 3.000an orang. Selama 20-25 hari mereka dikepung siang
malam nonstop hingga akhirnya orang-orang kafir tak tahan di terjang badai dingain yang
mengigit, hingga akhirnya mereka flustasi kemudian terpaksa kembali ke Mekkah.

Ada satu hal yang membikin pasukan islam meradang di perang ini, yakni tatkala
Yahudi Banu Quraizhah secara semenang-menang menginjak-injak perjanjian dengan ikut
bergabung ke pihak musuh.
5. Khaybar
Khaybar adalah yang diperkuat dengan sekumpulan benteng yang kokoh dan penuh
puri, milik kaum Yahudi Banu Quraizng. Benteng pertahanan ini terdiri dari 3 lapis . lapis
pertama ada 4 benteng yakni Nairi, Shaab(saad), Katibah dan Baqlah. Lapis ke 2 benteng,
yakni Ubay dan Bony. Lapis ke tiga ada 3 yaitu Wathih, Salalim,(salam) dan Qamus (ini yang
terkuat).
6. Mutah
Perang ini terjadi karna ekspedisi yang dikirim nabi untuk pertama kalinya keluar Saudi
Arabiah di bawah pimpinan Surah bil bin Amr, kepada Kristen dari BAnu Ghasan di Siria,
dibunuh oleh mereka. Karna hal itu Nabi segera mengirim 3000 personil yang dipimpin oleh
Zain bin Haritsah untuk melawan orang-orang romawi yang bersekutu dengan pasukanpasukan suku-suku Arab.
Perang yang sangat berimbang ini berlangsung tak lama dibulan jumdil awal
8H( September 629/630M) komandan pasukan islam silih berganti maju kedepan brturutturut. Setelah pimpinan pasukan diambil alih oleh Kholid Bin walid beliau lalu memutuskan
untuk mengirim saja personil pasukan dari medan pertempuran, sesudah brtahan mati-matian
mengingat terlalu besar jumlah pasukan musuh.
7. Penaklukan Mekah
Jauh hari sebelum Nabi beserta pasukannya mengambil tindakan(atas pelangaran
perjanjian Hudaibiyah), panglimah besar kafir Quraisy(yakni Abu Sufyan). Tepat 10
Ramadham 10 H (Jnuari 630 M), Rasulullah diiringkan 8.000-10.000 pengikut setianya,
dengan 980 ekor kuda memasuki kota Mekkah, tanpa perlawanan berarti. Mereka masuk
secara bergelombang sebagai taktik untuk mengetarkan kafir Qurasy, sekaligus di maksudkan
agar tidak terjadi pertumpah darah di bulan suci itu. Sesudah kemenangan tergengam pasti
dalam tangan, sejak saat itu Kabah dan sekitarnya dinyatakan sebagai kawasan bebas berhala
dan BAginda Rosul pun memerintahkan agar tiap orang atau keluarga menghancurkan sendiri
berhalanya masing-masing. Pendudukpun berbondong-bondong memeluk islam.
8. Hunayn
Perang antara kaum Muslimin dengan beberapa kabilah Arab durhaka ini terjadi pada
sabtu 6Syawal 8 H(Januari/Februari 630 M, sesudah pembebasan Makkah) , setelah utusan
Nabi, Abdullah Al-Aslamy, kembali mengabarkan persiapan mereka sebesar 20.000 orang
yang siap menyerang,Nabi pun berangkat disertai 12.000 pasukan. Kabilah-kabilah

pemberontak yang terkenalberani dan kuat yang terdiri dari Hawazin dan lainnya. Untuk
menyalakn semangat tempur pasukannya, Malik menginstruksikan untuk memboyong semua
harta dan anak istri mereka sehingga semangat juang makin membara. Namun taktik itu tadak
jitu , karena Cuma dalam tempo singkat sudah kocar kacir oleh pasukan muslim sesudah di
kepung selam kurang lebih 20 hari.
9. Tabuk
Perang tabuk adalah perang yang melawan pasukan Romawi yang berlangsung pada
bulan Rajab 9H. Di Tabuk yaitu daerah antara Madinah dan Damaskus yang jaraknya 692
km. Tapi walaupun umat islam dicekik serba kesusahan kala itu justru semangat berkurban
untuk membiayai perang ini , yang dilandasi ketangguahn iman, kian membara, Abu bakar
umpamanya, dialah yang mulanya menyabut, dan dengan entengnya menyumbangkan semua
hartanya. Dan Utsman mengalirkan pula setumpuk hartanya berupa 950 ekor unta, 500 kuda,
1.000 dinar, 40.000 dirham 100 unta serta barang bawaannya.
DAFTAR PUSTAKA

Muhammad at Medina and R.B. Serjeant The Constituonal of Medina. Islamic


Quartely8 (1964)
M.Natsir Arsyad, Seputar Sejarah dan Muamalah,(Bandung:Al Bayan, 2000)
Ali Hassan An-Nadawi, Riwayat Hidup Rasulullah. Caesar E. Farah, Islam: Beliefs
and observance, Jakarta, 1970.
Ibnu Hasyam I, 1999
Ibnu Qutaibah :Al Maarif . 2001