Anda di halaman 1dari 5

Analisa Tanggapan Sudut Rotor Akibat Masuknya Distributed Generation Pada Sistem

Interkoneksi Jamali
Said Aiyub.Teuku Hasannuddin, Mulyadi
Staf Pengajar Teknik Elektro
Politeknik Negeri Lhokseumawe
Abstrak
Analisa stabilitas dinamik menyangkut tanggapan sudut rotor
akibat adanya distributed
generation pada sistem interkoneksi Jamali yang terdiri dari 51 generator dan 23 gardu induk
tegangan tinggi (Gitet) dilakukan untuk mengetahui perubahan sudut rotor dari masing-masing
pembangkit sebelum dan setelah pemasangan distributed generation bila terjadi pelepasan beban
dalam rentang waktu satu detik dari detik kedua sampai dengan detik ketiga sebesar 20% pada
setiap bus. Dampak pemasangan distributed generation pada sistem interkoneksi Jamali dengan
tingkat penetrasi sebesar 20% dari jenis generator sinkron bila terjadi pelepasan beban dalam
rentang waktu satu detik dari detik kedua sampai dengan detik ketiga sebesar 20% pada setiap
bus menunjukan bahwa settling time sudut rotor dari setiap pembangkit semakin bertambah
dengan adanya distributed generation. Penambahan terbesar terjadi pada pembangkit Tanjung
Jati dengan nilai 20,03 detik, dan terkecil terjadi pda pembangkit Gresik dengan nilai 10,19
detik.
Kata kunci: Distributed Generation, Stabilitas Dinamik, Sudut Rotor,Settling Time
1. PENDAHULUAN
Penelitian ini merupakan sebuah
simulasi mengenai stabilitas dinamik yaitu
berupa gangguan kecil (small signal) pada sub
sistem 500 kV interkoneksi Jamali yang terdiri
dari 51 generator dan 23 gardu induk tegangan
tinggi (Gitet) dengan adanya penambahan
distributed generation. Pengamatan dilakukan
terhadap tanggapan sudut rotor dari setiap station
pembangkit dari pembangkit yang terhubung
pada sub sistem 500 kV interkoneksi Jamali
akibat
adanya
penambahan
distributed
generation. Model distributed generation yang
dilakukan pada penelitian ini dari jenis generator
sinkron dengan tingkat penetrasi sebesar 20%
pada saat terjadi gangguan berupa pelepasan
beban sebesar 20%.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Dampak
pemasangan
distributed
generation pada sisten interkoneksi Jamali
dengan tingkat penetrasi sebesar 20% dari jenis
generator sinkron bila terjadi pelepasan beban
dalam rentang waktu satu detik dari detik kedua
sampai dengan detik ketiga sebesar 20% pada
setiap bus menunjukan perbaikan tanggapan
frekuensi dari seluruh pembangkit berupa
penurunan frekuensi maksimum antara 0,16 0,37 Hz pu dan kenaikan lamanya osilasi dan
settling time untuk seluruh pembangkit berkisar
antara 20,3 - 22,17 detik dan 12,65 - 14,51 detik
[1]
Pengaruh
distributed
generation
terhadap stabilitas transient pada sistem tenaga
listrik sangat bergantung pada tingkat penetrasi
(penetration level) dan jenis dari teknologi
distributed
generation
yang
digunakan.
Distributed generation dari jenis yang

menggunakan
elektronika
daya
(power
electronic) akan mengurangi over speeding pada
generator. Dan Distributed generation dari jenis
generator sinkron akan memberi pengaruh pada
penurunan overs peeding pada generator tetapi
meningkatkan waktu osilasinya [7] . Sedangkan
distributed generation dari jenis generator
asinkron tidak memberi pengaruh pada stabiltas
transient sistem tenaga listrik.
Penerapan pembangkit tenaga listrik
yang tersebar dan terkoneksi melalui perangkat
elektronika, kestabilan transien dari sebuah
sistem tenaga listrik dibandingkan dengan
kestabilan transien sebuah sistem tenaga listrik
klasik, maka penerapan pembangkit listrik
tersebar akan meningkatkan kestabilan operasi
sistem, yang ditunjukkan dengan peningkatan
critical clearing times dari generator serempak
yang terhubung ke sistem tersebut [9]
Peletakan distributed generation akan
dapat mengurangi rugi-rugi daya pada jaringan
bila peletakan dan ukuran dari dari generator
tersebut sesuai dengan kondisi sistem tersebut.
Dari hasil penelitian tersebut didapatkan
pengurangan rugi-rugi daya sebesar 80,72% dari
total rugi-rugi sebesar 386,5 kW.
Pengaruh
distributed
generation
terhadap rugi-rugi pada jaringan distribusi.
didasarkan pada perbedaan tingkat penetrasi
(penetration level), penyebaran dan teknologi
dari distributed generation. Dari hasil penelitian
tersebut didapatkan secara umum distributed
generation dengan tingkat penetrasi yang rendah
akan mengurangi rugi-rugi pada sistem
distribusi, tetapi untuk tingkat penetrasi yang
tinggi secara garis besar rugi-rugi akan
bertambah dan bahkan dapat lebih tinggi dari
keadaan normal. Namun jika tingkat penyebaran
dari distributed generation lebih merata maka

dengan tingkat penetrasi yang tinggi akan


menghasilkan rugi-rugi yang mnimum [6].
Yongning dkk (2006) meneliti mengenai
kestabilan tegangan pada generator dengan
penggerak mulanya turbin angin yang
dihubungkan pada jaringan transmisi 220 kV.
Dari penelitian tersebut menunjukan bahwa
karakteristik dari stabilitas tegangan turbin angin
jenis Doubly Fed Induction Generator (DFIG)
lebih baik dari jenis Induction Generator (IG)
dimana turbin angin jenis Doubly Fed Induction
Generator (DFIG) memiliki tegangan pemulihan
yang lebih baik dari jenis Induction Generator
(IG) pada rating yang sama.
Bahwa untuk kasus sistem Jawa-Bali 500
kV bus 15 (Pedan) adalah merupakan bus yang
terlemah. Sehingga untuk meningkatkan
kestabilan
sistem
dan
perencanaan
pengembangan sistem kedepan maka pada bus
ini sebaiknya dipasang peralatan kompensasi
daya reaktif (Compensator, SVC, Statcom dan
lain-lain). [3]
Dengan adanya penerapan Power System
Stabilizer (PSS) sebagai konpensasi untuk
memperbaiki watak stabilitas sistem tenaga
terhadap pelepasan beban dengan mengamati
perubahan sudut rotor, tegangan dan daya
elektrik. Dari hasil pengamatan menunjukkan
bahwa pemasangan Power System Stabilizer
(PSS) memberikan pengaruh terhadap redaman
waktu osilasi sebesar 50% - 64% dan overshoot
sebesar 0 - 0.13%. [5]
Menyatakan bahwa kestabilan dinamik
sistem tenaga dapat ditingkatkan dengan
melakukan metode kontrol umpan balik yang
optimal. Dimana bila tejadi gangguan sistem
lebih cepat mencapai konvergen dengan
overshoot yang rendah. [4]

2.1. Stabilitas Dinamik


Stevenson
(1982)
mendefinisikan
stabilitas sistem tenaga listrik merupakan sifat
sistem yang memungkinkan mesin bergerak
serempak dalam sistem untuk memberikan
reaksinya terhadap gangguan dalam keadaan
kerja normal serta balik kembali kekeadaan
semula bila keadaan menjadi normal.
Saadat (1999) secara umum memilah
persoalan stabiltas sistem tenaga dalam dua
katagori utama yaitu stabilitas keaadaan tetap
(steady state) dan stabilitas peralihan (transient).
Sedangkan
stabilitas
dinamik
(dynamic)
merupakan pengembangan dari stabilitas
keaadaan tetap (steady state).
Stabilitas keaadaan tetap (steady state)
adalah kemampuan dari pada system tenaga
untuk tetap mempertahankan keadaan sinkron
antara mesin mesin yang terhubung padanya dan
external tie line terhadap ganguan-gangguan
kecil yang terjadi pada sistem tersebut.
Gangguan kecil tersebut berupa perubahan beban
yang kecil yang telah diperkirakan , dimana
perubahan beban ini dapat diatasi dengan aksi
regulator tegangan dan governor turbin otomatis.
Pada telaah stabilitas keaadaan tetap (steady
state) menggunakan model generator yang sangat
sederhana yaitu memberlakukan generator

tersebut sebagai sumber tegangan yang konstan.


Stabilitas dinamik (dynamic) merupakan
kemampuan system tenaga listrik untuk tetap
sinkron setelah periode stabilitas transien sampai
dengan system mencapai keseimbangan baru,
umumnya terjadi 1 sampai 1,5 detik setelah
gangguan. Studi stabilitas dinamik mencakup
interval waktu 5 10 detik, sekali-sekali sampai
30 detik, tergantung pada inersia sistem dan
karakteristik governor.
2.2. Persamaan ayunan
Saadat (1999) menyatakan bahwa pada
operasi keadaan normal, posisi relatif sumbu
rotor dan resultan sumbu medan magnet adalah
tetap. Sudut yang dibentuk diantara keduanya
dinamakan dengan sudut torsi atau sudut daya.
Selama adanya gangguan, rotor akan diperlambat
atau dipercepat terhadap putaran sinkron.
Persamaan yang menggambarkan gerakan relatif
ini dinamakan dengan persamaan ayunan.
Generator sinkron yang membangkitkan torsi
elektromagnetik Te dan berputar dengan
kecepatan s serta torsi mekanik Tm pada rotor,
maka operasi steady state dengan mengabaikan
rugi-rugi adalah
Tm= Te..(1)
Jika J adalah kombinasi momen inersia dari
penggerak mula dan generator, dengan
mengabaikan gesekan dan torsi peredam, dari
hukum rotasi diperoleh

d 2 m
= Ta = Tm Te ....(2)
dt 2

dengan
Ta = torsi percepatan dalam n.m
Tm = torsi mekanik dalam n.m
Te = torsi elektromekanik dalam n.m
J = momen inersia generator dan turbin dalam
kg.m2
s = kecepatan sudut rotor dan rad
mekanik/detik
t = waktu dalam detik
2.3. Definisi distributed generation
Distributed generation bukanlah konsep
baru, namun telah lama dikenal dalam dunia
sistem ketenagalistrikan yang ditandai dengan
Total Energy percobaan sekitar tahun 1960 dan
Packaged Cogeneration pada tahun 1980
(Friedman, 2001).
Distributed generation adalah suatu
konsep sistem tenaga listrik yang tidak terpusat.
Di beberapa wilayah atau negara distributed
generation dikenal dengan istilah yang berbedabeda, seperti negara-negara Anglo-Saxon dikenal
dengan embedded generation, di Amerika bagian
utara dikenal dengan dispersed generation, dan
di Eropa serta sebagian Asia dikenal dengan
decentralised generation (Knazkins, 2004).
Ada beberapa
definisi mengenai
distributed generation, diantaranya adalah:
Menurut Barker (2000) distributed
generation adalah generator dengan
kapasitas daya yang terbatas yaitu sekitar
10 MW atau kurang dari padanya, yang
dihubungkan pada jaringan distribusi

atau pada daerah yang dekat dengan


pelanggan.
Sedangkan Gopal dkk (1999) distributed
generation adalah generator listrik yang
ditempatkan didekat pusat beban yang
dapat dihubang dan dilepas dari saluran
sesuai dengan kebutuhannya dan
mempunyai nilai lebih dari grid power.
Kemudian dari hasil diskusi yang
dikumpulkan pada white paper on
distributed genertion (2007) distributed
generation hanya mencakup generator
berkapasitas kecil, memiliki teknologi
yang
ramah
lingkungan
seperti
photovoltaics (PV), fuel cells, small wind
turbines, atau teknologi konvensional
seperti micro turbin dengan bahan bakar
yang
dapat
diperbaharui
yang
dihubungkan pada jaringan distribusi
atau pada daerah yang dekat dengan
pelanggan,
dan
mencakup
juga
pembangkit diesel dengan tingkat polusi
yang rendah yang memiliki kapasitas
hingga ratusan megawatt.
Pada penelitian ini distributed
generation didefinisikan sebagai pembangkit
dengan kapasitas kecil yang terhubung pada
tegangan menengah (sistem distribusi 20 kV)
atau pada area pusat beban.
2.4. Teknologi Distributed Generation
Distributed generation digunakan pada
sistem tenga listrik menurut Gopal dkk (1999)
terdiri dari jenis turbin angin, fuel cell, sel surya,
dan mikro turbin. Secar garis besar teknologi
distributed generation dapat dibedakan dalam
dua jenis yaitu:
a. Tradisional generator (combustion engines),
yaitu generator yang memiliki kecepatan
turbin yang rendah, turbin kecil (micro
turbin) dan generator diesel (diesel engine)
b. Non tradisional generator, yaitu generator
dengan sumber energi yang dapat
diperbaharui
bagi penggerak mulanya
seperti mikro hidro, sel surya dan turbin
angin. Termasuk juga dalam jenis ini yaitu
electrochemical device seperti fuel cell dan
storage device seperti batteries.
2.5. Kapasitas distributed generation
Kapasitas daya dari sebuah distributed
generation pada dasarnya merupakan generator
dengan daya yang kecil yang ditempatkan pada
pusat beban. Namun demikian menurut Knazkins
(2004) ukuran dari distributed generation yaitu :
Mikro distributed generation yaitu
generator dengan kapasitas daya antara 1
Watt sampai 5 kW.
Small distributed generation
yaitu
generator dengan kapasitas daya antara 5
kW sampai 5 MW.
Medium distributed generation yaitu
generator dengan kapasitas daya antara 5
MW sampai 50 MW.
Large distributed generation yaitu
generator dengan kapasitas daya antara
50 MW sampai 300 MW.

III. METODE PENELITIAN


Penelitian ini dimaksudkan untuk
mengamati
kestabilan
dinamik
sistem
interkoneksi sub sistem 500 kV Jamali akibat
masukya distributed generation pada sistem
tersebut. Tahap-tahap penelitian yang dilakukan
sebagai berikut:
1. Membuat one line diagram sebelum dan
setelah pemasangan distributed generation.
2. Menentukan nilai ekivalen daya dan
konstanta inersia (H) generator. Pada sub
sistem 500 kV Jamali
generator yang
terpasang pada setiap busnya terdiri dari
beberapa generator, untuk membatasi
banyaknya persamaan ayunan maka dalam
simulasi penelitian ini generator tersebut
digabungkan menjadi satu generator ekivalen
sehingga perlu dihitung kapasitas daya dan
konstanta inersia dari generator ekivalen
tersebut. Nilai tersebut dihitung dengan
persamaan berikut:
n

Pekivalen = Pi ,i= 1, ....n

(3)

H ekivalen = H i ,i = 1, ....n

(4)

i =1
n

i =1

3. Menentukan model governor dan eksitasi


setiap generator.
4. Menentukan jumlah distributed generation
berdasarkan besarnya tingkat penetrasi
dengan menggunakan persamaan berikut;

PL =

5.

6.

7.

8.

9.

PDG
PBebanPuncak

100%

(5)

dengan PL adalah tingkat penetrasi


(Knazkins, 2004). Pada simulasi ini dipilih
tingkat penetrasi sebesar 20%, sehingga total
daya yang
dipikul oleh distributed
generation dengan mengunakan persamaan
(3) adalah sebesar 1993,6 MW.
Menentukan lokasi penempatan distributed
generation, yaitu distributed generation
dipasang pada tegangan menengah 20 kV
(sistem distribusi). Pada simulasi ini untuk
membedakan antara generator besar pada
sistem 500 kV dengan distributed generation
pada tegangn 20 kV yaitu dengan pemisah
antara distributed generation dengan bus
berupa panjang jaringan sejauh 10 km.
Simulasi aliran daya sistem tenaga listrik
sub sistem 500 kV Jamali untuk mengetahui
tegangan dan daya yang dibangkitkan oleh
generator-generator pada beban puncak
sistem.
Membuat gangguan kecil (small signal) pada
sub sistem 500 kV Jamali. Gangguan kecil
tersebut berupa pelepasan beban secara
bertingkat dimulai dari detik pertama
sampai detik ketiga sebesar 20% pada setiap
bus.
Simulasi stabilitas dinamik sistem tenaga
tanpa distributed generation, dengan
mengamati Sudut Rotor dari generator besar
yang terhubung pada sub sistem 500 kV
Jamali
Simulasi stabilitas dinamik sistem tenaga
dengan adanya distributed generation,
dengan mengamati Sudut Rotor dari

generator besar
tegangan 500 kV.

yang

terhubung

pada

V. HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil dari simulasi pada penelitian ini
dapat dirinci menjadi beberapa bagian yaitu :
1. Tanggapan
Sudut Rotor pada keadaan
gangguan kecil (small signal) sebelum
pemasangan distributed generation.(Gambar
1)
2. Tanggapan Sudut Rotor
pada keadaan
gangguan kecil (small signal) setelah
pemasangan distributed generation. (Gambar
2)
Rotor Angle(Degrees)
Rotor Angle(Degrees)

0.0
G_CIRA TA
G_SA GULING
G_PA I TON
G_GRA TI
G_GRESIK
G_M TWA R
G_SURA LA Y A
G_TJA TI

-20.0

-40.0

-60.0
0.00

5.00

10.00

15.00
20.00
Tim e in Seconds

25.00

30.00

Gambar.1.Tanggapan Sudut Rotor Sebelum DG


Rotor Angle(Degrees)
Rotor Angle(Degrees)

20.0

generator referensi yang berkisar antara 0 - -30,


dan diatas , yaitu generator Grati, Gresik, dan
Tanjung Jati yang berkisar antara 0 - 20,
seperti yang ditunjukkan pada gambar 1 dan 2.
V. KESIMPULAN
Setelah dilakukan simulasi stabilitas dinamik
akibat masuknya distributed generation pada
sistem interkoneksi Jamali dapat disimpulkan:
1. Tanggapan sudut rotor dari setiap
pembangkit dengan adanya distributed
generation dan adanya pelepasan beban
sebesar 20% pada setiap bus dalam
rentang waktu 1 detik dari detik ke 2
sampai detik ke 3 menunjukkan
kenaikkan settling time sudut rotor dari
setiap pembangkit.
2. Kenaikkan settling time sudut rotor
maksimum terjadi pada pembangkit
Tanjung Jati dengan nilai 20,03 detik,
dan terkecil terjadi pda pembangkit
Gresik dengan nilai 10,19 detik.
3. Perubahan nilai sudut rotor setiap
generator yaitu berkisar antara 20 - 30.

G_CIRA TA
G_SA GULING
G_PA ITON
G_GRA TI
G_GRESIK
G_M TWA R

0.0

DFTAR PUSTAKA

G_SURA LA Y A
G_TJA TI

-20.0

0.00

5.00

10.00

15.00
20.00
Tim e in Seconds

25.00

30.00

Gambar 2.Tanggapan Sudut Rotor Setelah DG


Analisa hasil simulasi dilakukan dengan
membandingkan tanggapan sudut rotor dari
setiap pembangkit yang terhubung pada sub
sistem 500 kV interkoneksi Jamali. Tanggapan
setiap pembangkit yang akan dibandingkan yaitu
tanggapan sudut rotor sebelum dan setelah
pemasangan distributed generation (Gambar 3).

[1].Hasannuddin, 2011, Studi Tanggapan


Frekuensi Akibat Masuknya Distributed
Generation Pada Sistem Interkoneksi Jamali,
Jurnal Litek,Volume 8 Nomor 1,Maret2011,
Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri
Lhokseumawe
[2].Yongning .,Liu,Y., dan Wang,W..,2006,
Voltage Stability Analysis of Wind Farm
Integration into Transmission Network,
International Conference on Power System
Technology

TANGGAPAN SUDUT ROTOR

[3].

30
25
20
15
10
5
0
settling

settling

settling

settling

settling

settling

settling

Suralaya

Gresik

Mtaw ar

Tjati

Sanguling

Cirata

Grati

Tanpa DG

Syukriyadin
dan
Gunadin,I.C,2005,
Prediksi Voltage Collapse Pada Sistem
Interkoneksi
Jawa-Bali
Menggunakan
Metode Modal Analysis, Jurnal Rekayasa
Elektrika, Vol.4 No.2.

Paiton

Dengan DG

Gambar 3. Perbandingan tanggapan Sudut Rotor


sebelum dan setelah pemasangan DG.
Dari gambar 5 terlihat bahwa settling time sudut
rotor dari setiap pembangkit semakin bertambah
dengan
adanya
distributed
generation.
Penambahan terbesar terjadi pada pembangkit
Tanjung Jati dengan nilai 20,03 detik, dan
terkecil terjadi pda pembangkit Gresik dengan
nilai 10,19 detik.
Analisa juga dilakukan terhadap perubahan nilai
sudut rotor setiap generator yaitu sebelum
adanya distributed generator sudut rotor setiap
generator berada pada posisi dibawah sudut
rotor generator Paiton yang merupakan generator
referensi, yaitu berkisar antara 0 - -60. Dan
setelah adanya distributed generator sudut rotor
setiap generator berada pada posisi dibawah
sudut rotor generator Paiton yang merupakan

[4]. Syahrijal dan Ramon., 2005, Penggunaan


Metode Kontro Umpan Balik Optimal
Untuk Menambah Kestabilan Dinamik
Sistem Tenaga Listrik , Jurnal rekayasa
elektrikal, Voleme 4 No1.
[5]. Zulfikar. ,2004., Studi Stabilitas Sistem
Tenaga Listrik di Sumatera Utara, tesis
Program Pascasarjana Program Studi
Teknik Elektro UGM Yogyakarta.
[6].Mithulananthan,N.,Oo,T.,dan
Phu,L.V.,
2004, Distributed Generator Placement in
Power Distribution System Using Genetic
Alogaritm to Reduce Losses, Thammasat
Int.J.Sc.Tech Vol.9,No3.
[7]. Knazkins,V.,2004, Stability of Power
Systems with Large Amounts of Distributed

Generation, KTH Institution, Stockholm,


Sweden.
[8]. Slootweg dan Kling., 2002, Impacts of
Distributed Generation on power System
Transient Stability, IEEE.
[9]. Reza, M.,2001, A Survey on the Transient
Stability of Power Systems with Converter
Connected Distributed Generation,Jurnal
Teknik Elektro,Vol.7, No.1.
[10]. William D. Stevenson, Jr.,1982,
Elements Of Power System Analysis ,
McGraw-Hill Inc.
[11]. Barker and Mello,2000, Determining the
Impact of distribute Generation on Power
System: part 1 Radial Distribution systems,
IEEE power Engineering society Summer
Meeting, Seattle, Washington.
[12]. Friedman.R. 2001, DG Interconnection &
the Business Deal, Resource Dynamics
Corporation.
[13]. Gopal,J, Grau,J, ONeill, E, 1999, Energy
Commission Staff Distributed Energi
Resources Training Seminar, California
Energy Commisinning, Sacramento.