Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

Pengaruh globalisasi di segala bidang, perkembangan teknologi, dan industri telah banyak
menbawa perubahan pada perilaku dan gaya hidup masyarakat serta situasi lingkungannya,
misalnya perubahan pola konsumsi makan, berkurangnya aktivitas fisik, dan meningkatnya
pencemaran atau polusi lingkungan. Perubahan tersebut telah memberi pengaruh pada transisi
epidemiologi yaitu beban ganda penyakit dengan meningkatnya beberapa penyakit menular dan
penyakit tidak menular atau degenerative. Salah satu jenis penyakit tidak menular adalah
penyakit pada saluran pencernaan.
World Health Organization (WHO) tahun 1998, memperkirakan penyakit pada saluran
pencernaan akan tergolong 10 besar penyakit penyebab kematian di dunia pada tahun 2020
mendatang. Diantara negara SEAMIC (Southeast Asian Medical Information Center) tahun
2002, Indonesia menempati urutan ke-2 negara yang memiliki angka insiden rate akibat penyakit
saluran pencernaan, dengan rincian: di Jepang tercatat 30 per 100.000 penduduk, di Indonesia
tercatat 25 per 100.000 penduduk, di Filipina 24 per 100.000 penduduk, di Vietnam tercatat 22
per 100.000 penduduk, di Malaysia tercatat 21 per 100.000 penduduk, di Singapura tercatat 8 per
100.000 penduduk dan di Brunei Darussalam tercatat 5 per 100.000 penduduk.5 Khusus di
Sumatera Utara tahun 2001 proporsi penyakit ini mencapai 7%.
World Health Organization (WHO) Global Infobase tahun 2002, Cause Specific Death Rate
(CSDR) penyakit saluran pencernaan di beberapa negara yaitu
Jerman 51 per 100.000 penduduk, Inggris 47 per 100.000 penduduk, Perancis 42 per 100.000
penduduk, Finlandia 39 per 100.000 penduduk, Switzerland 34 per 100.000 penduduk, Swedia
33 per 100.000 penduduk, India 33 per 100.000 penduduk, Argentina 31 per 100.000 penduduk,
Amerika Serikat 30 per 100.000 penduduk, Bangladesh 26 per 100.000 penduduk, Zimbabwe 20
per 100.000 penduduk, dan Albania 16 per 100.000 penduduk. Bahkan saat ini di beberapa
negara penyakit ini sudah menempati urutan 10 besar jenis penyebab kematian. Di Malaysia
(2007) penyakit ini menempati urutan ke-7 penyakit penyebab kematian sebanyak 1.809 kasus

dengan proporsi sebesar 5,7%. Di Cina (2004) menempati urutan ke-4 sebanyak 131.153 kasus
dengan proporsi 11,33%.
Proporsi kematian akibat penyakit saluran pencernaan di Indonesia meningkat dari hasil SKRT
(Survei Kesehatan Rumah Tangga) tahun 1992 sebesar 5,1% menjadi 6,6% pada SKRT tahun
1995 dan dari SUKERNAS (Survei Kesehatan Nasional) tahun 2001 menjadi 7,0%. Ditjen Bina
Yanmedik Depkes RI, penyakit saluran pencernaan menempati urutan ke-3 dari 10 penyakit
utama penyebab kematian di rumah sakit di Indonesia dengan jumlah kematian 6.590 dari
225.212 kasus dengan Case Fatality Rate (CFR) 2,93% tahun 2007 dan 6.825 dari 234.536 kasus
dengan CFR 2,91% tahun 2008.
Ileus adalah gangguan atau hilangnya pasase isi usus yang menandakan adanya obstruksi usus
akut yang segera memerlukan pertolongan atau tindakan. Kira-kira 6070% dari seluruh kasus
akut abdomen yang bukan appendisitis akut disebabkan oleh ileus. Ileus terbagi menjadi dua
macam yaitu ileus obstruktif dan ileus paralitik. Ileus obstruktif (ileus mekanik) adalah gangguan
pasase usus yang disebabkan oleh sumbatan mekanik. Sedangkan ileus paralitik (ileus non
mekanik) adalah terhentinya peristaltik usus karena adanya lesi saraf (terjepit, meradang)
sehingga terjadi kelumpuhan saraf. Beberapa penyebab ileus obstruktif adalah hernia inkarserata,
invaginasi, keganasan, volvulus, malformasi usus dan adhesi. Enam puluh persen kasus ileus
obstruktif yang ditemukan di Amerika Serikat, adhesi pada operasi ginekologik, appendektomi
dan reseksi kolorektal adalah penyebab terbanyak dari ileus obstruktif.
Menurut data statistik negara, di Amerika diperkirakan insiden rate untuk ileus obstruktif 1/746
atau 0,13% atau 365.563 orang. Berdasarkan laporan situasi statistik kematian di Nepal tahun
2007, jumlah penderita ileus paralitik dan ileus obstruktif pada tahun 2005/2006 adalah 1.053
kasus dengan CFR sebesar 5,32%.
Setiap tahunnya 1 dari 1.000 penduduk dari segala usia didiagnosa ileus.16 Berdasarkan data
salah satu rumah sakit umum di Australia pada tahun 2001-2002, sekitar 6,5 per 10.000
penduduk di Australia diopname di rumah sakit karena ileus paralitik dan ileus obstruktif. Hasil
penelitian Markogiannakis, dkk (2001-2002), insiden rate penderita penyakit ileus obstruktif
yang dirawat inap sebesar 60% di Rumah Sakit Hippokratian, Athena di Yunani dengan rata-rata
pasien berumur antara sekitar 16 - 98 tahun dengan rasio perbandingan laki-laki lebih sedikit

daripada perempuan (2:3). Di Indonesia tercatat ada 7.059 kasus ileus paralitik dan 7.024 kasus
obstruktif tanpa hernia yang dirawat inap pada tahun 2004.
Gangguan atau obstruks yang menyeluruh atau tidak menyeluruh juga sering ditemukan pada
neonatus.20 Obstruksi pada neonatal terjadi pada 1/1.500 kelahiran hidup. Evans menyelidiki
untuk seluruh Amerika Serikat memperkirakan 3.000/tahun, bayi yang dilahirkan dengan
obstruksi. Di Indonesia jumlahnya tidak jauh berbeda dan untuk seluruh dunia jumlahnya jauh
melebihi 50.000/tahun. Berdasarkan laporan rumah sakit di kabupaten Cirebon pada tahun 2006,
Ileus obstruktif menduduki peringkat ke-6 dari sepuluh penyakit penyebab kematian tertinggi
pada kelompok umur 1-4 tahun dengan proporsi 3,34% (sebanyak 3 kasus dari 88 kasus).

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Anatomi Usus


Usus halus merupakan tabung kompleks, berlipat-lipat yang membentang dari pilorus sampai
katup ileosekal. Pada orang hidup panjang usus halus sekitar 12 kaki (22 kaki pada kadaver
akibat relaksasi). Usus ini mengisi bagian tengah dan bawah rongga abdomen. Ujung
proksimalnya bergaris tengah sekitar 3,8 cm, tetapi semakin ke bawah lambat laun garis
tengahnya berkurang sampai menjadi sekitar 2,5 cm.
2.1.1. Struktur usus halus
Struktur usus halus terdiri dari bagian-bagian berikut ini:
a. Duodenum : bentuknya melengkung seperti kuku kuda. Pada lengkungan ini
terdapat pankreas. Pada bagian kanan duodenum merupakan tempat bermuaranya
saluran empedu (duktus koledokus) dan saluran pankreas (duktus pankreatikus),
tempat ini dinamakan papilla vateri. Dinding duodenum mempunyai lapisan
mukosa yang banyak mengandung kelenjar brunner untuk memproduksi getah
intestinum. Panjang duodenum sekitar 25 cm, mulai dari pilorus sampai jejunum.
b. Jejunum : Panjangnya 2-3 meter dan berkelok-kelok, terletak di sebelah kiri
atas intestinum minor. Dengan perantaraan lipatan peritoneum yang berbentuk
kipas (mesentrium) memungkinkan keluar masuknya arteri dan vena mesentrika
superior, pembuluh limfe, dan saraf ke ruang antara lapisan peritoneum.
Penampang jejunum lebih lebar, dindingnya lebih tebal, dan banyak mengandung
pembuluh darah.
c. Ileum : ujung batas antara ileum dan jejunum tidak jelas, panjangnya 4-5 m.
Ileum merupakan usus halus yang terletak di sebelah kanan bawah berhubungan
dengan sekum dengan perantaraan lubang orifisium ileosekalis yang diperkuat

sfingter dan katup valvula ceicalis (valvula bauchini) yang berfungsi mencegah
cairan dalam kolon agar tidak masuk lagi ke dalam ileum.
2.1.2. Struktur usus besar
Usus besar merupakan tabung muscular berongga dengan panjang sekitar 5 kaki
(sekitar 1,5 m) yang terbentang dari sekum sampai kanalisani. Diameter usus besar sudah
pasti lebih besar daripada usus kecil. Rata-rata sekitar 2,5 inci (sekitar 6,5 cm), tetapi
makin dekat anus diameternya semakin kecil.23 Lapisan-lapisan usus besar dari dalam ke
luar adalah selaput lendir, lapisan otot yang memanjang, dan jaringan ikat. Ukurannya
lebih besar daripada usus halus, mukosanya lebih halus daripada usus halus dan tidak
memiliki vili. Serabut otot longitudinal dalam muskulus ekterna membentuk tiga pita,
taenia coli yang menarik kolon menjadi kantong-kantong besar yang disebut dengan
haustra. Dibagian bawah terdapat katup ileosekal yaitu katup antara usus halus dan usus
besar. Katup ini tertutup dan akan terbuka untuk merespon gelombang peristaltik
sehingga memungkinkan kimus mengalir 15 ml masuk dan total aliran sebanyak 500
ml/hari.25
Bagian-bagian usus besar terdiri dari :
a. Sekum adalah kantong tertutup yang menggantung di bawah area katup
ileosekal apendiks.25 Pada sekum terdapat katup ileosekal dan apendiks yang
melekat pada ujung sekum.23 Apendiks vermiform, suatu tabung buntu yang
sempit yang berisi jaringan limfoit, menonjol dari ujung sekum.25
b. Kolon adalah bagian usus besar dari sekum sampai rektum. Kolon memiliki
tiga divisi.
i. Kolon ascenden : merentang dari sekum sampai ke tepi bawah hati di
sebelah kanan dan membalik secara horizontal pada fleksura hepatika.
ii. Kolon transversum: merentang menyilang abdomen di bawah hati dan
lambung sampai ke tepi lateral ginjal kiri, tempatnya memutar ke bawah
fleksura splenik.

iii. Kolon desenden : merentang ke bawah pada sisi kiri abdomen dan
menjadi kolon sigmoid berbentuk S yang bermuara di rektum.
c. Rektum adalah bagian saluran pencernaan selanjutnya dengan panjang 12-13
cm. Rektum berakhir pada saluran anal dan membuka ke eksterior di anus.24

Untuk lebih jelas, sistem pencernaan manusia dapat dilihat pada gambar 1.1.
Gambar 1.1. Sistem pencernaan manusia26
Keterangan gambar :
1. Kelenjar ludah 15. Saluran empedu
2. Parotis 16. Kolon
3. Submandibularis (bawah rahang) 17. Kolon transversum
4. Sublingualis (bawah lidah) 18. Kolon ascenden
5. Rongga mulut 19. Kolon Descenden
6. Amandel 20. Ileum
7. Lidah 21. Sekum
8. Esofagus 22. Appendiks
9. Pankreas 23. Rektum
10.Lambung 24. Anus
11.Saluran pankreas
12.Hati
13.Kantung empedu
14.Duodenum

2.2. Fisiologi
Usus halus mempunyai dua fungsi utama yaitu pencernaan dan absorbsi bahan bahan nutrisi,
air, elektrolit dan mineral. Proses pencernaan dimulai dalam mulut dan lambung oleh kerja
ptialin, asam klorida, dan pepsin terhadap makanan yang masuk. Proses pencernaan dilanjutkan
di dalam duodenum terutama oleh kerja enzim enzim pankreas yang menghidrolisis
karbohidrat, lemak, dan protein menjadi zat zat yang lebih sederhana. Adanya bikarbonat
dalam sekret pankreas membantu menetralkan asam dan memberikan pH optimal untuk kerja
enzim enzim. Sekresi empedu dari hati membantu proses pencernaan dengan mengemulsikan
lemak sehingga memberikan permukaan yang lebih luas bagi kerja lipase pankreas.
Proses pencernaan disempurnakan oleh sejumlah enzim dalam getah usus (sukus enterikus).
Banyak di antara enzim enzim ini terdapat pada brush border vili dan mencernakan zat zat
makanan sambil diabsorbsi. Isi usus digerakkan oleh peristaltik yang terdiri atas dua jenis
gerakan, yaitu segmental dan peristaltik yang diatur oleh sistem saraf autonom dan hormon.
Pergerakan segmental usus halus mencampur zat-zat yang dimakan dengan sekret pankreas,
hepatobiliar, sekresi usus, dan pergerakan peristaltik mendorong isi dari salah satu ujung ke
ujung lain dengan kecepatan yang sesuai untuk absorpsi optimal dan suplai kontinu isi lambung.
Absorpsi adalah pemindahan hasil-hasil akhir pencernaan karbohidrat, lemak dan protein (gula
sederhana, asam-asam lemak dan asam-asam amino) melalui dinding usus ke sirkulasi darah dan
limfe untuk digunakan oleh sel-sel tubuh. Selain itu air, elektrolit dan vitamin juga diabsorpsi.
Lemak dalam bentuk trigliserida dihidrolisa oleh enzim lipase pankreas ; hasilnya bergabung
dengan garam empedu membentuk misel. Misel kemudian memasuki membran sel secara pasif
dengan difusif, kemudian mengalami disagregasi, melepaskan garam empedu yang kembali ke
dalam lumen usus, dan asam lemak serta monogliserida ke dalam sel. Sel kemudian membentuk
kembali trigliserida dan digabungkan dengan kolesterol, fosfolipid, dan apoprotein untuk
membentuk kilomikron, yang keluar dari sel dan memasuki lakteal. Asam lemak kecil dapat
memasuki kapiler dan secara langsung menuju ke vena porta. Garam empedu diabsorpsi ke
dalam sirkulasi enterohepatik dalam ileum distalis. Dari kumpulan 5 gram garam empedu yang
memasuki kantung empedu, sekitar 0,5 gram hilang setiap hari; kumpulan ini bersirkulasi ulang
6 kali dalam 24 jam.

Protein oleh asam lambung di denaturasi, pepsin memulai proses proteolisis. Enzim protease
pankreas (tripsinogen yang diaktifkan oleh enterokinase menjadi tripsin, dan endopeptidase,
eksopeptidase) melanjutkan proses pencernaan protein, menghasilkan asam amino dan 2 sampai
6 residu peptida. Transport aktif membawa dipeptida dan tripeptida ke dalam sel untuk
diabsorpsi.
Karbohidrat, metabolisme awalnya dimulai dengan menghidrolisis pati menjadi maltosa
(isomaltosa), yang merupakan disakarida. Kemudian disakarida ini, bersama dengan disakarida
utama lain, laktosa dan sukrosa, dihidrolisis menjadi monosakarida glukosa, galaktosa, dan
fruktosa. Enzim laktase, sukrase, maltase, dan isimaltase untuk pemecahan disakarida terletak di
dalam mikrovili brush border sel epitel. Disakarida ini dicerna menjadi monosakarida sewaktu
berkontak dengan mikrovili ini atau sewaktu mereka berdifusi ke dalam mikrovili. Produk
pencernaan, monosakarida, glukosa, galaktosa, dan fruktosa, kemudian segera diabsorpsi ke
dalam darah porta.
Air dan elektrolit, cairan empedu, cairan lambung, saliva, dan cairan duodenum menyokong
sekitar 8-10 L/hari cairan tubuh, kebanyakan diabsorpsi. Air secara osmotik dan secara
hidrostatik diabsorpsi atau melalui difusi pasif. Natrium dan klorida diabsorpsi dengan
pemasangan zat telarut organik atau secara transport aktif. Kalsium diabsorpsi melalui transport
aktif dalam duodenum dan jejenum, dipercepat oleh hormon parathormon (PTH) dan vitamin D.
Kalium diabsorpsi secara difusi pasif.
Usus besar mempunyai berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan proses akhir isi usus.
Fungsi usus besar yang paling penting adalah mengabsorpsi air dan elektrolit, yang sudah hampir
lengkap pada kolon bagian kanan. Kolon sigmoid berfungsi sebagai reservoir yang menampung
massa feses yang sudah dehidrasi sampai defekasi berlangsung.
Kolon mengabsorpsi air, natrium, khlorida, dan asam lemak rantai pendek serta mengeluarkan
kalium dan bikarbonat. Hal tersebut membantu menjaga keseimbangan air dan elektrolit serta
mencegah dehidrasi. Gerakan retrograd dari kolon memperlambat transit materi dari kolon kanan
dan meningkatkan absorpsi. Kontraksi segmental merupakan pola yang paling umum,
mengisolasi segmen pendek dari kolon, kontraksi ini menurun oleh antikolinergik, meningkat
oleh makanan, kolinergik.

Sepertiga berat feses kering adalah bakteri; 10-10/gram dimana bakteri Anaerob lebih banyak
dari bakteri aerob. Bacteroides paling umum, Escherichia coli berikutnya. Gas kolon berasal dari
udara yang ditelan, difusi dari darah, dan produksi intralumen. Bakteri membentuk hidrogen dan
metan dari protein dan karbohidrat yang tidak tercerna.

2.3. Definisi Obstruksi Usus


Obstruksi usus (mekanik) adalah keadaan dimana isi lumen saluran cerna tidak bisa disalurkan
ke distal atau anus karena ada sumbatan/hambatan yang disebabkan kelainan dalam lumen usus,
dinding usus atau luar usus yang menekan, atau kelainan vaskularisasi pada suatu segmen usus
yang menyebabkan nekrose segmen usus tersebut.
Tipe obstruksi usus terdiri dari :
2.3.1. Mekanis (Ileus Obstruktif)
Suatu penyebab fisik menyumbat usus dan tidak dapat diatasi oleh peristaltik.
Ileus obstruktif ini dapat akut seperti pada hernia stragulata atau kronis akibat karsinoma
yang melingkari. Misalnya intususepsi, tumor polipoid dan neoplasma stenosis, obstruksi
batu empedu, striktura, perlengketan, hernia dan abses.
2.3.2. Neurogonik/fungsional (Ileus Paralitik)
Obstruksi yang terjadi karena suplai saraf otonom mengalami paralisis dan
peristaltik usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong isi usus. Contohnya
amiloidosis, distropi otot, gangguan endokrin seperti diabetes mellitus, atau gangguan
neurologis seperti penyakit Parkinson.
2.4. Definisi Ileus Obstruktif
Ileus Obstruktif disebut juga Ileus Mekanis (Ileus Dinamik).15 Suatu penyebab fisik menyumbat
usus dan tidak dapat diatasi oleh peristaltik baik sebahagian maupun total. Ileus obstruktif ini
dapat akut seperti pada hernia stragulata atau kronis akibat karsinoma yang melingkari.
2.5. Klasifikasi Ileus Obstruktif

2.5.1. Menurut sifat sumbatannya


Menurut sifat sumbatannya, ileus obstruktif dibagi atas 2 tingkatan :
A) Obstruksi biasa (simple obstruction) yaitu penyumbatan mekanis di dalam
lumen usus tanpa gangguan pembuluh darah, antara lain karena atresia usus dan
neoplasma
b) Obstruksi strangulasi yaitu penyumbatan di dalam lumen usus disertai oklusi
pembuluh darah seperti hernia strangulasi, intususepsi, adhesi, dan volvulus.
2.5.2. Menurut letak sumbatannya
Menurut letak sumbatannya, maka ileus obstruktif dibagi menjadi 2 :
a) Obstruksi tinggi, bila mengenai usus halus
b) Obstruksi rendah, bila mengenai usus besar
2.5.3. Menurut etiologinya
Menurut etiologinya, maka ileus obstruktif dibagi menjadi 3 :
a) Lesi ekstrinsik (ekstraluminal) yaitu yang disebabkan oleh adhesi
(postoperative), hernia (inguinal, femoral, umbilical), neoplasma (karsinoma),
dan abses intraabdominal.
b) Lesi intrinsik yaitu di dalam dinding usus, biasanya terjadi karena kelainan
kongenital (malrotasi), inflamasi (Chrons disease, diverticulitis), neoplasma,
traumatik, dan intususepsi.
c) Obstruksi menutup (intaluminal) yaitu penyebabnya dapat berada di dalam
usus, misalnya benda asing, batu empedu.

2.6. Patofisiologi Ileus Obstruktif

Perubahan patofisiologi utama pada ileus obstruktif dapat di lihat pada bagan 1. Lumen usus
yang tersumbat secara progresif akan teregang oleh cairan dan gas (70% dari gas yang ditelan)
akibat peningkatan tekanan intralumen, yang menurunkan pengaliran air dan natrium dari lumen
ke darah. Oleh karena sekitar 8 liter cairan diekskresikan ke dalam saluran cerna setiap hari,
tidak adanya absorpsi dapat mengakibatkan penimbunan intralumen dengan cepat. Muntah dan
penyedotan usus setelah pengobatan dimulai merupakan sumber kehilangan utama cairan dan
elektrolit. Pengaruh atas kehilangan ini adalah penciutan ruang cairan ekstrasel yang
mengakibatkan syokhipotensi, pengurangan curah jantung, penurunan perfusi jaringan dan
asidosis metabolik. Peregangan usus yang terus menerus mengakibatkan penurunan absorpsi
cairan dan peningkatan sekresi cairan ke dalam usus. Efek lokal peregangan usus adalah iskemia
akibat distensi dan peningkatan permeabilitas akibat nekrosis, disertai absorpsi toksin-toksin
bakteri ke dalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik untuk menyebabkan bakteriemia.
Segera setelah timbulnya ileus obstruktif pada ileus obstruktif sederhana, distensi timbul tepat di
proksimal dan menyebabkan muntah refleks. Setelah mereda, peristaltik melawan obstruksi
dalam usaha mendorong isi usus melewatinya yang menyebabkan nyeri episodik kram dengan
masa relatif tanpa nyeri di antara episode. Gelombang peristaltik lebih sering timbul setiap 3
sampai 5 menit di dalam jejunum dan setiap 10 menit di didalam ileum. Aktivitas peristaltik
mendorong udara dan cairan melalui gelung usus, yang menyebabkan gambaran auskultasi khas
terdengar dalam ileus obstruktif. Dengan berlanjutnya obstruksi, maka aktivitas peristaltik
menjadi lebih jarang dan akhirnya tidak ada.
Jika ileus obstruktif kontinu dan tidak diterapi, maka kemudian timbul muntah dan mulainya
tergantung atas tingkat obstruksi. Ileus obstruktif usus halus menyebabkan muntahnya lebih dini
dengan distensi usus relatif sedikit, disertai kehilangan air, natrium, klorida dan kalium,
kehilangan asam lambung dengan konsentrasi ion hidrogennya yang tinggi menyebabkan
alkalosis metabolik. Berbeda pada ileus obstruktif usus besar, muntah bisa muncul lebih lambat
(jika ada). Bila timbul, biasanya kehilangan isotonik dengan plasma. Kehilangan cairan ekstrasel
tersebut menyebabkan penurunan volume intravascular, hemokonsentrasi dan oliguria atau
anuria. Jika terapi tidak diberikan dalam perjalanan klinik, maka dapat timbul azotemia,
penurunan curah jantung, hipotensi dan syok.

Pada ileus obstruktif strangulata yang melibatkan terancamnya sirkulasi pada usus mencakup
volvulus, pita lekat, hernia dan distensi. Disamping cairan dan gas yang mendistensi lumen
dalam ileus obstruksi sederhana, dengan strangulasi ada juga gerakan darah dan plasma ke dalam
lumen dan dinding usus. Plasma bisa juga dieksudasi dari sisi serosa dinding usus ke dalam
cavitas peritonealis. Mukosa usus yang normalnya bertindak sebagai sawar (penghambat) bagi
penyerapan bakteri dan produk toksiknya, merupakan bagian dinding usus yang paling sensitif
terhadap perubahan dalam aliran darah. Dengan strangulasi yang memanjang maka timbul
iskemik dan sawar rusak. Bakteri (bersama dengan endotoksin dan eksotoksin) bisa masuk
melalui dinding usus ke dalam cavitas peritonealis.
Disamping itu, kehilangan darah dan plasma maupun air ke dalam lumen usus cepat
menimbulkan syok. Jika kejadian ini tidak dinilai dini, maka dapat menyebabkan kematian.
Ileus obstruktif gelung tertutup timbul bila jalan masuk dan jalan keluar suatu gelung usus
tersumbat. Jenis ileus obstruktif ini lebih bahaya dibandingkan ileus obstruksi yang lainnya,
karena ia berlanjut ke strangulasi dengan cepat sebelum terbukti tanda klinis dan gejala ileus
obstruktif. Penyebab ileus obstruktif gelung tertutup mencakup pita lekat melintasi suatu gelung
usus, volvulus atau distensi sederhana. Pada keadaan terakhir ini, sekresi ke dalam gelung
tertutup dapat menyebabkan peningkatan cepat tekanan intalumen, yang menyebabkan obstruksi
aliran keluar ke vena.
Ileus obstruktif kolon biasanya kurang akut (kecuali bagi volvulus) dibandingkan ileus obstruksi
usus halus. Karena kolon bukan organ pensekresi cairan dan hanya menerima sekitar 500 ml
cairan tiap hari melalui valva ileocaecalis, maka tidak timbul penumpukan cairan yang cepat.
Sehingga dehidrasi cepat bukan suatu bagian sindroma yang berhubungan dengan ileus obstruksi
kolon. Bahaya paling mendesak karena obstruksi itu karena distensi. Jika valva ileocaecalis
inkompeten maka kolon terdistensi dapat didekompresi ke dalam usus halus. Tetapi jika valva ini
kompeten, maka kolon terobstruksi membentuk gelung tertutup dan distensi kontinu
menyebabkan ruptura pada tempat berdiameter terlebar, biasanya di sekum. Hal didasarkan atas
hukum Laplace, yang mendefinisikan tegangan di dalam dinding organ tubular pada tekanan
tertentu apapun berhubungan langsung dengan diameter tabung itu. Sehingga karena diameter
kolon melebar di dalam sekum, maka area ini yang biasanya pecah pertama.

2.7. Faktor Risiko Ileus Obstruktif


Obstruksi usus yang sering ditemukan, tergantung pada umur pasien (Tabel 1). Pada
bayi/neonatus obstruksi usus disebabkan atresia ani, atresia pada usus halus , dan penyakit
Hirschsprung. Obstruksi pada anak-anak sering disebabkan oleh intususepsi, penyakit
Hirschsprung dan hernia strangulasi inguinalis kongenital. Pada orang dewasa, obstruksi usus
sering disebabkan tumor di dalam usus, perlengketan dinding usus, hernia strangulasi pada
kanalis inguinalis, femoralis ataupun umbilikalis dan penyakit Crohn. Obstruksi pada pasien
umur lanjut sering disebabkan karsinoma usus besar, divertikel, hernia strangulasi, tinja
membatu, perlengketan dinding usus dan volvulus.

2.7.1. Perlengketan/Adhesi
Ileus karena adhesi umumnya tidak disertai strangulasi. Adhesi adalah pita-pita jaringan
fibrosa yang sering menyebabkan obstruksi usus halus pasca bedah setelah operasi
abdomen. Risiko terjadinya adhesi menimbulkan gejala obstruksi pada anak belum
diteliti dengan baik, tetapi sering terjadi pada 2-3% penderita setelah operasi abdomen.
Sebagian besar obstruksi disertai oleh adhesi dan dapat terjadi setiap waktu setelah
minggu kedua pasca bedah.35 Adhesi dapat berupa perlengketan yang bentuk tunggal
maupun multiple (perlengketan yang lebih dari satu) yang setempat maupun luas. Pada
operasi, perlengketan dilepaskan dalam bentuk pita. Pada operasi, perlengketan
dilepaskan dan pita dipotong agar pasase usus pulih kembali.
Adhesi yang kambuhan akan menjadi masalah besar. Setelah berulang tiga kali, risiko
kambuh akan menjadi 50%. Pada kasus seperti ini, diadakan pendekatan konservatif
sebab walaupun pembedahan akan menberikan pasase, kemungkinan besar obstruksi usus
akibat adhesi akan kambuh dalam waktu singkat.
2.7.2. Hernia Inkarserata

Bila terdapat suatu defek pada dinding rongga perut, maka akibat tekanan intraabdominal
yang meninggi, suatu alat tubuh dapat terdorong keluar melalui defek itu. Misalnya :
sebagian lambung dapat terdesak keluar ke rongga perut melalui suatu defek pada
diafragma masuk ke dalam rongga dada. Hernia yang tidak tampak dari luar disebut
internal hernia. Ditemukan lebih banyak ekterna hernia, yaitu yang tampak dari luar
seperti hernia umbilical, hernia inguinal, dan hernia femoral.
Jika liang hernia cukup besar maka isi usus dapat didorong masuk lagi dan disebut
reponibel, jika tidak dapat masuk lagi disebut incarcerata. Pada keadaan ini terjadi
bendungan pembuluh-pembuluh darah yang disebut dengan strangulasi. Akibat gangguan
sirkulasi darah akan terjadi kematian jaringan setempat yang disebut infark. Hernia yang
menunjukkan strangulasi pembuluh darah dan tanda-tanda incarcerata akan menimbulkan
gejala-gejala ileus.
2.7.3. Pankreas anulare
Pankreas anulare menyebabkan obstruksi usus halus di duodenum bagian duodenum
bagian kedua. Gejala dan tanda sama seperti pada atresia atau malrotasi usus. Pankreas
anulare merupakan kelainan kongenital yang jarang ditemukan. Penyakit ini disebabkan
oleh kelainan pada perkembangan bakal pankreas sehingga tonjolan dorsal dan ventral
melingkari duodenum bagian kedua akibat tidak lengkapnya pergeseran bagian ventral.
Keadaan ini menyebabkan obstruksi duodenum dan kadang disertai atresia juga. Penyakit
ini pada awalnya sering tidak ditemukan gejala dan baru ditemukan pada saat dewasa.
2.7.4. Invaginasi
Disebut juga intussusceptio. Biasanya pada anak, bagian oral (proksimal) usus
menerobos masuk ke dalam rongga bagian anal (distal) seperti suatu teleskop. Ada
beberapa jenis bergantung pada lokasinya :
d.1. enterika : usus halus masuk ke dalam usus halus
d.2. entero-colics : ileum masuk ke dalam coecum atau colon, jenis ini paling
sering ditemukan

d.3. colica : usus besar masuk ke dalam usus besar


d.4. prolapsus ani : rektum keluar melalui anus
Bagian dalam disebut intussusceptium, sedang bagian luar yang melingkarinya
intussusceptum. Mesentrium yang mengandung pembuluh darah intussusceptium akan
ikut tertarik dan pembuluh darah akan terjepit hingga terjadi gejala-gejala ileus. Penyebab
terjadinya pada anak-anak adalah ketidakseimbangan kontraksi otot usus-usus, adanya
jaringan limfoid yang berlebihan (terutama sekitar perbatasan bagian ileo-cekal) dan
antiperistaltik kolon melawan peristaltik ileum. Pada orang dewasa disebabkan karena
adanya dinding tumor yang menonjol/bertangkai (polip) dan oleh gerakan peristaltik
didorong ke bagian distal dan dalam gerakan ini dinding usus ikut tertarik.
2.7.5. Volvulus
Volvulus di usus halus agak jarang ditemukan. Disebut pula dengan torsi dan merupakan
pemutaran usus dengan mesenterium sebagai poros. Usus melilit/memutar sampai 180360 derajat. Volvulus dapat disebabkan oleh mesentrium yang terlalu panjang, yang
merupakan kelainan kongenital pada usus halus, pada obstisipasi yang menahun,
terutama pada sigmoid, pada hernia inkarcerata, usus dalam kantong hernia menunjukkan
tanda-tanda torsi; pada tumor dalam dinding usus atau tumor dalam mesentrium. Akibat
volvulus terjadi gejala-gejala strangulasi pembuluh darah dengan infark dan gejala-gejala
ileus.
2.7.6. Kelainan kongenital
Setiap cacat bawaan pada usus berupa stenosis atau atresia dari sebagian saluran cerna
akan menyebabkan obstruksi setelah bayi mulai menyusui. Kelainan-kelainan ini
disebabkan oleh tidak sempurnanya kanalisasi saluran pencernaan dalam perkembangan
embrional dan keadaan ini dapat terjadi pada usus dimana saja. Atresi ialah buntu sama
sekali dengan tanda-tanda obstruksi total sedangkan stenosis hanya merupakan
penyempitan dengan gejala-gejala obstruksi yang tidak total.
2.7.7. Atresia usus

Gangguan pasase usus yang kongenital dapat berbentuk stenosis dan atresia, yang dapat
disebabkan oleh kegagalan rekanalisasi pada waktu janin berusia 6-7 minggu. Kelainan
bawaan ini dapat juga disebabkan oleh gangguan aliran darah lokal pada sebahagian
dinding usus akibat desakan, invaginasi, volvulus, jepitan, atau perforasi usus masa janin.
Daerah usus yang tersering mengalaminya adalah usus halus. Stenosis dapat juga terjadi
karena penekanan, misalnya oleh pankreas anulare dan dapat berupa atresia.
2.7.8. Radang kronik
Setiap radang kronik, terutama morbus Crohn, dapat menyebabkan obstruksi karena
udem, hipertrofi, dan fibrosis yang biasanya terjadi pada penyakit kronik.
2.7.9. Askariasis
Kebanyakan cacing askariasis hidup di usus halus bagian jejunum. Obstruksi usus oleh
cacing askariasis paling sering ditemukan pada anak karena hygiene kurang sehingga
infestasi cacing terjadi berulang-ulang dan usus halus pada anak-anak lebih sempit
daripada usus halus orang dewasa sedangkan ukuran cacing sama besar. Obstruksi
umumnya disebabkan oleh suatu gumpalan padat yang terdiri dari sisa makanan dan
puluhan ekor cacing yang mati akibat pemberian obat cacing.
2.7.10. Tumor
Tumor usus halus agak jarang menyebabkan obstruksi usus, kecuali jika ia menimbulkan
invaginasi. Kebanyakan tumor jinak di usus halus tidak menimbulkan gangguan yang
berarti selama hidup. Kadang-kadang gejalanya tidak jelas atau tidak khas, sehingga
kelainan tidak terdeteksi kecuali apabila ada penyulit. Tumor usus halus dapat
menimbulkan komplikasi, pendarahan, dan obstruksi. Obstruksi dapat disebabkan oleh
tumornya sendiri ataupun secara tidak langsung oleh invaginasi.
2.7.11. Tumpukan sisa makanan
Obstruksi usus halus akibat bahan makanan ditemukan pada orang yang pernah
mengalami operasi pengangkatan sebagian atau penuh dari perut (gastrektomi). Obstruksi
biasanya terjadi pada daerah anastomosis. Obstruksi lain, yang jarang ditemukan, dapat

terjadi setelah makan banyak sekali buah-buahan yang mengandung banyak serat yang
menyebabkan obstruksi di ileum terminal, seperti serat buah jeruk atau biji banyak yang
ditelan sekaligus dengan buah tertentu yang berinti.
2.7.12. Divertikulum meckel
Divertikulum meckel adalah sisa dari kantung telur embrional yang juga disebut ductus
omphalo-mesentricus yang dalam kehidupan fetal menghubungkan pusat (umbilicus)
dengan usus. Pada orang dewasa terletak pada ileum lebih kurang 100 cm proksimal
perbatasan ileo-cekal, sedangkan pada anak-anak lebih kurang 40 cm. Jika hubungan
antara umblikus dan usus (ductus omphalo-mesentricus) tidak menghilang, dapat terjadi
fistula pada pusat yang mengeluarkan isi usus. Bila hanya sebagian yang menghilang dan
ditengah-tengah tetap, maka akan dapat terbentuk suatu kista. Bila tidak menghilang
sempurna, maka sisanya menyerupai tali yang padat, yang dapat mengakibatkan
terbelitnya usus pada tali itu (strangulasi).
2.7.13. Penyakit Hirschsprung
Penyakit Hirschsprung adalah penyebab obstruksi usus bagian bawah yang paling sering
terjadi pada neonatus. Penyakit Hirschsprung terjadi akibat tidak adanya sel ganglion
pada dinding usus atau terjadinya kelainan inervasi usus, yang dimulai dari anus dan
meluas ke proksimal. Gejala-gejala klinis penyakit Hirschsprung biasanya mulai pada
saat lahir dengan terlambatnya pengeluaran tinja (mekonium). Kegagalan mengeluarkan
tinja menyebabkan dilatasi bagian proksimal usus besar dan perut menjadi kembung.
Karena usus besar melebar, tekanan di dalam lumen meningkat, mengakibatkan aliran
darah menurun dan perintang mukosa terganggu Statis memungkinkan proliferasi bakteri,
sehingga dapat menyebabkan enterokolitis (Clostridium difficile dan Staphlococcos
aureus) dengan disertai sepsis dan tanda-tanda obstruksi usus besar.
2.7.14. Bezoar
Istilah bezoar merupakan suatu akumulasi benda-benda asing eksogen di dalam lambung
atau usus yang merupakan penyebab ileus obstruktif pada usus halus. Bezoar dibedakan
menurut komposisinya. Laktobezoar mengandung kasein atau kalsium yang tinggi.

Laktobezoar ditemukan pada bayi-bayi prematur yang mengkonsumsi susu formula bayi
yang kaya kasein/kalsium. Phytobezoar adalah jenis yang paling umum dari bezoar yang
merupakan akumulasi serat sayur-sayuran dan buah-buahan yang tidak dapat dicerna.
Phytobezoar terdiri dari selulosa, tanin, dan lignin yang di cerna pada saat mengkonsumsi
makanan.

2.8. Manifestasi Klinis


2.8.1. Obstruksi sederhana
Pada obstruksi usus halus proksimal akan timbul gejala muntah yang banyak, yang jarang
menjadi muntah fekal walaupun obstruksi berlangsung lama. Nyeri abdomen bervariasi
dan sering dirasakan sebagai perasaan tidak enak di perut bagian atas.
Obstruksi bagian tengah atau distal menyebabkan kejang di daerah periumbilikal atau
nyeri yang sulit dijelaskan lokasinya. Kejang hilang timbul dengan adanya fase bebas
keluhan. Muntah akan timbul kemudian, waktunya bervariasi tergantung sumbatan.
Semakin distal sumbatan, maka muntah yang dihasilkan semakin fekulen. Obstipasi
selalu terjadi terutama pada obstruksi komplit.
Tanda vital normal pada tahap awal, namun akan berlanjut dengan dehidrasi akibat
kehilangan cairan dan elektrolit. Suhu tubuh bisa normal sampai demam. Distensi
abdomen dapat minimal atau tidak ada pada obstruksi proksimal dan semakin jelas pada
sumbatan di daerah distal. Peristaltik usus yang mengalami dilatasi dapat dilihat pada
pasien yang kurus. Bising usus yang meningkat dan metabolic sound dapat didengar
sesuai dengan timbulnya nyeri pada obstruksi di daerah distal.
2.8.2. Obstruksi disertai proses strangulasi
Gejalanya seperti obstruksi sederhana tetapi lebih nyata dan disertai dengan nyeri hebat.
Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya bekas operasi atau hernia. Bila dijumpai
tanda-tanda strangulasi berupa nyeri iskemik dimana nyeri yang sangat hebat, menetap

dan tidak menyurut, maka dilakukan tindakan operasi segera untuk mencegah terjadinya
nekrosis usus.
2.8.3. Obstruksi pada kolon
Obstruksi mekanis di kolon timbul perlahan-lahan dengan nyeri akibat sumbatan
biasanya terasa di epigastrium. Nyeri yang hebat dan terus menerus menunjukkan adanya
iskemia atau peritonitis. Borborygmus dapat keras dan timbul sesuai dengan nyeri.
Konstipasi atau obstipasi adalah gambaran umum obstruksi komplit. Muntah lebih sering
terjadi pada penyumbatan usus besar. Muntah timbul kemudian dan tidak terjadi bila
katup ileosekal mampu mencegah refluks. Bila akibat refluks isi kolon terdorong ke
dalam usus halus, akan tampak gangguan pada usus halus. Muntah fekal akan terjadi
kemudian. Pada keadaan valvula Bauchini yang paten, terjadi distensi hebat dan sering
mengakibatkan perforasi sekum karena tekanannya paling tinggi dan dindingnya yang
lebih tipis. Pada pemeriksaan fisis akan menunjukkan distensi abdomen dan timpani,
gerakan usus akan tampak pada pasien yang kurus, dan akan terdengar metallic sound
pada auskultasi. Nyeri yang terlokasi, dan terabanya massa menunjukkan adanya
strangulasi.

2.10. Epidemiologi
2.10.1. Distribusi dan Frekuensi Menurut Orang
a.1. Umur dan Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil penelitian pada tahun 2001 hingga 2002 yang dilakukan oleh
Markogiannakis, dkk, ditemukan 60% pasien yang dirawat di Rumah Sakit
Hippokratian, Athens mengalami ileus obstruktif dengan rata-rata pasien berumur
antara sekitar 16 sampai 98 tahun dengan rasio perbandingan perempuan lebih
banyak daripada laki-laki (rasio perbandingan 3:2). Berdasarkan hasil penelitian
Imaz Akgun, dkk, (2001) di rumah sakit Selatan Anatolia Timur, Turki ditemukan
699 pasien yang rasio perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 3:2 dengan
kelompok umur 15-95 tahun. Menurut penelitian Chen Xz, dkk, (1995-2001) di

rumah sakit Cina Barat ditemukan 705 pasien dengan rasio perbandingan laki-laki
dengan perempuan 1,2:1 dan dengan rata-rata usia (median usia= 45) untuk pria
dan (median usia = 51) untuk wanita. Menurut penelitian Nofie Windiarto (2008)
di Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama Semarang diantaranya 20 penderita ileus 11
orang (55%) perempuan dan 9 orang (45%) laki-laki dengan kelompok umur 1715 tahun sebanyak 10 orang (50%), 26-34 tahun sebanyak 6 orang (30%), dan 3545 tahun sebanyak 4 orang (20%).
a.2. Suku dan Agama
Diet vegetarian dan pengunyahan yang miskin pada makanan merupakan faktor
risiko berkembangnya pythobezoar. Pythobezoar merupakan jenis paling umum
bezoar yang paling sering menyebabkan terjadinya ileus obstruktif pada usus
halus. Phytobezoar terdiri dari selulosa, tanin, dan lignin yang berasal dari
sayuran dan buah-buahan yang dicerna. Jika vegetarian sering mengkonsumsi
buah-buahan dan sayur-sayuran yang mengandung selulosa, tanin, dan lignin
seperti buah kesemek maka faktor risiko akan lebih tinggi untuk mengalami ileus
obstruktif. Di Indonesia secara tradisional suku bangsa Jawa tidak terlalu banyak
mengonsumsi daging dan gemar mengonsumsi tahu dan tempe dalam menu
mereka sehingga faktor risiko untuk terjadinya ileus obstruktif lebih kecil pada
suku ini. Namun berbagai penelitian telah melaporkan hubungan antara konsumsi
serat dan insidens timbulnya berbagai macam penyakit. Hasil penelitian
membuktikan bahwa diet tinggi serat mempunyai efek proteksi untuk kejadian
penyakit saluran pencernaan. Ajaran Buddhisme Theravada tidak secara eksplisit
mengajarkan untuk tidak memakan daging, dimana Theravadans banyak yang
menghindari makan daging karena kasih yang tulus untuk kesejahteraan sesama
makhluk hidup. Dengan kata lain, vegetarian tidak secara eksplisit dibutuhkan
untuk mengikuti ajaran agama Buddha, sehingga pada pengikut Buddha secara
umum memiliki faktor risiko lebih kecil untuk menderita Ileus obstruktif.
Kebiasaan memberikan makanan selain ASI kepada bayi merupakan salah satu
penyebab obstruksi usus pada bayi. Terjadi obstruksi usus karena usus bayi belum
mampu melakukan peristaltik secara sempurna. Pada suku Sasak di Lombok, ibu

yang baru bersalin memberikan nasi palpak (nasi yang telah dikunyah oleh ibunya
terlebih dahulu) kepada bayinya agar bayinya tumbuh sehat dan kuat. Mereka
percaya bahwa apa yang keluar dari mulut ibu merupakan yang terbaik untuk
bayi. Sementara pada masyarakat Kerinci di Sumatra Barat, pada usia sebulan
bayi sudah diberi bubur tepung, bubur nasi, pisang dan lain-lain. Kebiasaan
masyarakat ini menjadi faktor risiko yang tinggi untuk terjadinya Ileus Obstruktif.
2.10.2. Distribusi dan frekuensi menurut waktu dan tempat
Enam puluh persen kasus ileus obstruktif yang ditemukan di Amerika Serikat, adhesi
pada operasi ginekologik, appendektomi dan reseksi kolorektal adalah penyebab
terbanyak dari ileus obstruktif. Berdasarkan data salah satu rumah sakit umum di
Australia pada tahun 2001 hingga 2002, sekitar 6.5 orang per 10.000 populasi di Australia
diopname di rumah sakit karena ileus paralitik dan ileus obstruktif.

2.11. Pencegahan
Upaya pencegahan terhadap penyakit harus dilakukan sedini mungkin baik pencegahan
primordial, primer, sekunder dan tersier untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas.
Demikian juga pada penyakit ileus obstruktif, tindakan pencegahan harus dilakukan untuk
mencegah terjadinya ileus obstruktif dan menghindari akibat fatal yang disebabkan ileus
obstruktif.
2.11.1. Pencegahan Primordial
Pencegahan primordial merupakan upaya pencegahan pada orang-orang yang belum
memiliki faktor risiko terhadap ileus obstruktif. Biasa dilakukan dengan promosi
kesehatan atau memberikan pendidikan kesehatan yang berkaitan ileus obstruktif atau
dengan melakukan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan
masyarakat dalam menjaga kesehatannya oleh kemampuan masyarakat.
2.11.2. Pencegahan Primer

Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya mempertahankan orang yang agar tetap
sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer berarti
mencegah terjadinya ileus obstruktif. Upaya pencegahan ini dimaksudkan untuk
mengadakan pencegahan pada masyarakat. Pencegahan primer yang dilakukan antara lain
:
a. Bergaya hidup sehat dengan cara menjaga diri dan lingkungannya
b. Dengan meningkatkan asupan makanan bergizi yang meningkatkan daya tahan
tubuh
c. Diet Serat. Berbagai penelitian telah melaporkan hubungan antara konsumsi
serat dan insidens timbulnya berbagai macam penyakit. Hasil penelitian
membuktikan bahwa diet tinggi serat mempunyai efek proteksi untuk kejadian
penyakit saluran pencernaan.
d. Untuk membantu mencegah kanker kolorektal, makan diet seimbang rendah
lemak dengan banyak sayur dan buah, tidak merokok, dan segera untuk skrining
kanker kolorektal setahun sekali setelah usia 50 tahun.
e. Untuk mencegah hernia, hindari angkat berat, yang meningkatkan tekanan di
dalam perut dan mungkin memaksa satu bagian dari usus untuk menonjol melalui
daerah rentan dinding perut Anda.
2.11.3. Pencegahan Sekunder
Pencegahan se kunder yang dapat dilakukan terhadap ileus obstruktif adalah dengan cara
mendeteksi secara dini, dan mengadakan penatalaksanaan medik untuk mengatasi akibat
fatal ileus obstruktif.
i. Cara mendeteksi secara dini ileus obstruktif
Cara mendeteksi secara dini ileus obstruktif adalah dengan melakukan
pemeriksaan. Pemeriksaan yang dilakukan adalah
a. Pemeriksaan Fisik

Gambaran fisik pasien yang menderita ileus obstruktif bervariasi dan


tergantung kapan dilakukan pemeriksaan. Jika pemeriksaan dilakukan
beberapa jam atau sehari setelah mulainya obstruksi mekanik sederhana,
maka akan terbukti beberapa gejala-gejala ileus. Tetapi jika dibiarkan
lewat beberapa hari, maka tanda tambahan akan bermanifestasi. Alasan ini
didasarkan atas respon patofisiologi terhadap ileus obstruktif. Gambaran
pertama dalam pemeriksaan pasien yang dicurigai menderita ileus
obstruktif merupakan adanya tanda generalisasi dehidrasi, yang mencakup
kehilangan turgor kulit maupun mulut dan lidah kering. Karena lebih
banyak cairan disekuestrasi ke dalam lumen usus, maka bisa timbul
demam, takikardia dan penurunan tekanan dalam darah. Dalam
pemeriksaan abdomen diperhatikan kemunculan distensi, parut abdomen
(yang menggambarkan perlekatan pasca bedah), hernia dan massa
abdomen. Pada pasien yang kurus bukti gelombang peristaltik terlihat
pada dinding abdomen dan dapat berkorelasi dengan nyeri kolik. Tanda
demikian menunjukkan obstruksi strangulata. Gambaran klasik dalam
mekanik sederhana adalah adanya episodik gemerincing logam bernada
tinggi dan bergelora (rush) pada waktu penderita dalam kondisi tenang.
Gelora tersebut bersamaan dengan nyeri kolik. Pada obstruksi strangulata
tidak ditemukan tanda ini.
Bagian akhir yang diharuskan dari pemeriksaan adalah pemeriksaan
rektum dan pelvis. Apabila dalam pemeriksaan ini ditemukan tumor serta
adanya feses di dalam kubah rektum menggambarkan terjadinya obstruksi
di proksimal. Jika darah makroskopik ditemukan di dalam rektum, maka
sangat mungkin bahwa obstruksi didasarkan atas lesi intrinsik di dalam
usus.
b. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan sinar-X dan foto abdomen yang tegak dan berbaring sangat
bermanfaat dalam mendiagnosa ileus obstruktif. Jika penderita tidak dapat

duduk selama 15 menit, maka posisi dekubitus lateral kiri dapat dilakukan
untuk foto abdomen.
Adanya gelung usus yang terdistensi dengan batas udara-cairan dalam
pola anak tangga pada foto tegak menggambarkan bahwa penderita
menderita ileus obstruktif. Hal ini karena fakta bahwa udara biasanya
tidak terlihat pada usus halus dan hanya terbukti pada usus yang
terdistensi. Informasi dari foto juga dikumpulkan sebagai bahan diagnosa.
Pada foto abdomen, gelung usus berbeda pada usus halus dan kolon. Usus
halus ditandai dengan posisinya yang berada di dalam abdomen sentral
dan adanya valvulae conniventes yang muncul sebagai garis yang
melintasi
keseluruhan lebar lumen. Kolon teridentifikasi dengan posisinya di
sekeliling abdomen dan dibatasi oleh adanya tanda haustra yang hanya
sebagian melintasi diameter lumen.
Pada obstruksi mekanik sederhana lanjut pada usus halus, tak ada gas yang
terlihat di dalam kolon. Obstruksi kolon dengan valva ileocaecalis
kompeten, maka distensi gas dalam kolon merupakan satu-satunya
gambaran penting. Jika valva ileocaecalis inkompeten, maka distensi usus
halus dan kolon ada. Pada obstruksi strangulasi, perjalanan klinik lebih
cepat dan harus segera dilakukan pemeriksaan. Distensi usus (jika ada)
pada obstruksi strangulasi lebih sedikit dibandingkan pada obstruksi
mekanis sederhana.
c. Pemeriksaan Penunjang
c.1. HB (hemoglobin), PCV (volume sel yang ditempati sel darah
merah) : meningkat akibat dehidrasi
c.2. Leukosit : normal atau sedikit meningkat ureum + elektrolit,
ureum meningkat, Na+ dan Cl- rendah.
c.3. Rontgen toraks : diafragma meninggi akibat distensi abdomen

a. Usus halus (lengkung sentral, distribusi nonanatomis,


bayangan valvula connives melintasi seluruh lebar usus)
atau obstruksi besar (distribusi perifer/bayangan haustra
tidak terlihat di seluruh lebar usus)
b. mencari penyebab (pola khas dari volvulus, hernia, dll)
c.4. Enema kontras tunggal (pemeriksaan radiografi menggunakan
suspensi barium sulfat sebagai media kontras pada usus besar) :
untuk melihat tempat dan penyebab
c.5. CT Scan pada usus halus : mencari tempat dan penyebab,
sigmoidoskopi untuk menunjukkan tempat obstruksi.30
ii. Operasi
a. Usus halus
Operasi dapat dimulai setelah pasien telah diredidrasi kembali dan organorgan vital telah dapat berfungsi dengan normal. Kalau obstruksi
disebabkan karena hernia skrotalis, maka daerah tersebut harus disayat.
Perincian operatif tergantung pada penyebab obstruksi. Perlengketan/
adhesi dilepaskan atau bagian yang mengalami obstruksi dibuang, usus
yang mengalami strangulasi harus dipotong.
b. Usus besar
Pada usus besar, operasi terdiri dari proses sesostomi dekompresi atau
hanya kolostomi tranversal pada pasien yang sudah lanjut usia, pasien
dengan obstruksi terjadi di daerah sekum, maka bagian tersebut akan
dipotong, biasanya disertai anastomosis primer. Kanker pada kolon
sebelah kiri dan anastomosis yang mengakibatkan obstruksi pada pasien
juga akan dipotong dan disertai anastomosis juga.
2.11.4. Pencegahan Tersier

Tujuan pencegahan tertier adalah untuk mengurangi ketidakmampuan, mencegah


kecacatan dan menghindari komplikasi yang dapat memperparah keadaan.47 Tindakan
perawatan post operasi serta melakukan mobilitas/ambulasi sedini mungkin.

Anda mungkin juga menyukai