Anda di halaman 1dari 4

Serbuk Gergaji Kayu

Salah satu industri yang banyak terdapat di Indonesia adalah industri pengolahan
kayu. Salah satu limbah industri pengolahan kayu yang jarang termanfaatkan adalah serbuk
gergaji kayu. Berdasarkan data nasional BPS tahun 2006, produksi serbuk gergaji kayu di
Indonesia sebesar 679.247 m3 dengan densitas 600 kg/m3 maka didapat 407.548,2 ton. Jika
dari kayu yang tersedia tedapat 40% yang menjadi limbah serbuk gergaji, maka akan didapat
potensi pembuatan briket sebesar 163.319,28 ton/tahun (Debi dalam Setiawan, 2010).
Limbah industri pengolahan kayu dapat dibedakan menjadi : kulit kayu, serpihan
danserbuk hasil gergajian. Contoh pengolahan limbah kayu adalah sebagai bahan bakar.
Potongan dan serpihan kayu dapat diolah menjadi arang, briket arang, dan atau karbon aktif.
Sedangkan serbuk gergaji kayu dpat diolah enjadi briket arang atau karbon aktif (Amin dalam
Diah, 2009).
Serbuk gergaji adalah serbuk kayu dari jenis kayu yang sembarang dan dapat
diperoleh dari limbah ataupun sisa yang terbuat dari jenis kayu dan dapat diperoleh dari
tempat pengolahan kayu ataupun industri kayu. Serbuk gergaji ini biasanya dibuang atau
dimanfaatkan pada proses pengeringan kayu dengan metode kiln ataupun untuk bahan
pembuatan obat nyamuk bakar (Effendi dalam Diah, 2005).
Untuk industri besar dan terpadu, limbah serbuk gergaji kayu telah dimanfaatkan
sebagai briket dan arang aktif yang dijual secara komersial. Namun, untuk industri
penggergajian kayu skala kecil yang jumlahnya mencapai ribuan unit dan tersebar di
pedesaan, limbah serbuk gergaji kayu belum dimanfaatkan secara optimal. Kebanyakan dari
limbah tersebut hanya dibiarkan membusuk, ditumpuk, dan dibakar secara langsung, yang
semuanya memberikan dampat negatif terhadap lingkungan (Pari dalam Cicilia, 2002).
Pengolahan limbah serbuk kayu sebagai briket menjadi alternatif untuk meningkatkan nilai
ekonomis limbah serbuk gergaji kayu ini serta menguragi pencemaran lingkungan. Nilai
kalor briket dari serbuk gergaji yaitu 4714 5519 kkal/kg (Antok dalam Agung, 1990).
Komposisi unsur kimia dalam kayu secara umum dapat dilihat pada tabel berikut :
No
1.
2.
3.
4.
5.

Tabel 1. Komposisi Unsur Kimia Dalam Kayu


Unsur
% Berat Kering
Karbon
50
Hidrogen
6
Nitrogen
0,040,1
Abu
0,260,50
Oksigen
045
Sumber : J.F. Dumanauw dalam Agung, 1996

Komponen kimia kayu terdiri dari beberapa unsur, yaitu :


1. Unsur karbohidrat yang terdiri dari selulosa
Selulosa merupakan polisakarida yang tersusun dari glukosa (C6H12O6) dan bahan utama kayu
yang berkaitan erat dengan bahan struktural tumbuhan yang kompleks yang disebut lignin.
Selulosa pada kayu terutama terletak pada dinding sel skunder, yaitu 39 45 % (Sjostrom
dalam Agung,1995).
2. Unsur karbohidrat yang terdiri dari hemiselulosa
Hemiselulosa merupakan senyawa dengan molekul molekul besar yang berupa karbohidrat
(J.F. Dumanauw dalam Agung,1996). Kadar hemiselulosa dalam kayu berkisar antara 15 25
% yang tersusun atas gula pentosa (C5H10O5).
3. Unsur non karbohidrat yang terdiri dari lignin
Lignin merupakan suatu polimer yang kompleks dengan bentuk amorf dan memiliki berat
molekul yang tinggi (J.F. Dumanauw dalam Agung, 1996). Kadar lignin dalam kayu berkisar
antara 1833%. Lignin memiliki titik nyala 250275 C dan tersusun atas unitunit fenil
propan. Lignin yang terdapat diantara selsel di dalam dinding sel, berfungsi sebagai perekat
antar sel. Lignin dapat meningkatkan sifat racun yang membuat kayu tahan bakteribakteri
perusak dan serangga, namun ada beberapa kelompok mikroorganisme seperti jamur yang
memiliki enzim tertentu yang tidak bisa dirombak oleh lignin ( Kirk dan Ferrel dalam
Richard dalam Agung, 1996 ).
4. Unsur yang diendapkan dalam kayu selama proses pertumbuhan (zat ekstraktif)
Zat ekstraktif merupakan komponen kayu yang dapat larut dalam pelarut seperti ester,
alkohol, bensin, dan air dan berkisar antara 38% dari berat kayu kering. Zat ekstraktif ini
meliputi resin, lilin, lemak, tannin, gula, pati, minyak, dan zat warna. Zat ekstraktif sangat
penting untuk mempertahankan fungsi biologis pohon, karena dapat bersifat racun dan
menghambat pertumbuhan bakteri dan serangga (Agoes dalam Agung, 1994). Zat ekstraktif
juga berfungsi dalam proses pembuatan pulp dan kertas (Ajostrom dalam Agung,1995).
5. Abu
Dalam kayu juga terdapat beberapa zat organik yang disebut abu (sisa pembakaran). Kadar
abu dalam kayu sekitar 0,21% dari berat kayu kering (Dumanauw dalam Agung,1996).
Komponen utama abu kayu adalah kalium, kalsium, magnesium, dan silicon (Fengel dan
Wegener dalam Agung, 1983).
Briket arang kayu untuk bahan baku kayu, kulit keras dan batok kelapa telah memiliki
standar yaitu SNI (Standar Nasional Indonesia) no. SNI 01-6235-2000 dengan syarat mutu
meliputi kadar air: maksimal 8% b/b; bagian yang hilang pada pemanasan 950 C : maksimal

15%; kadar abu : maksimal 8%; kalori (atas dasar berat kering), minimal 5000 kal/gr. (Diana
dalam Agung, 2010).
Dalam penelitian Tri Istanto, dkk (2006) dengan judulPengaruh Ukuran Partikel,
Kadar Air Awal dan Temperatur Pembriketan Terhadap Sifat Fisik Briket Biomasa,
digunakan biomassa berasal dari jerami padi, limbah gergajian glugu, limbah gergajian kayu
jati dan serbuk batu bara. Sampel dibuat serbuk dengan variasi ukuran 20 mesh (0,85 mm),
40 mesh (0,42 mm), dan 80 mesh (0,18 mm) dan variasi kadar air awal ( 10%, 15%, 20% dan
25%) dan variasi temperatur pembriketan (60C, 80C, 100C dan 120C) serta dengan
pengikat kanji 5%. Dari penelitian diperoleh hasil bahwa untuk biomassa jerami semakin
kecil ukuran partikel mengakibatkan densitas meningkat tetapi kuat tekan aksial menurun.
Semakin besar kadar air awal menyebabkan penurunan densitas dan kuat tekan aksial.
Pada penelitian Suyitno, dkk (2005) yang berjudul Pengaruh Ukuran Partikel
Terhadap Karakteristik Pembakaran Biomasa Yang Berasal Dari Jerami dan Serbuk Gergajian
Pohon Palm, sampel dijadikan serbuk dengan macam ukuran partikelnya adalah 20, 40, dan
80 mesh, kemudian dibriket berbentuk silinder berdiameter 3 cm. Briket dihasilkan dengan
tekanan 500 kg/cm2. Dari penelitian didapat laju pembakaran dan profil pembakarannya.
Setelah di uji diketahui bahwa ukuran partikel besar mempunyai laju pembakaran yang tinggi
sehingga bahan bakar cepat habis.
Briket
Briket adalah bahan bakar padat yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif yang
mempunyai bentuk tertentu. Kandungan air pada pembriketan antara 10 20 % berat. Ukuran
briket bervariasi dari 20 100 gram. Pemilihan proses pembriketan tentunya harus mengacu
pada segmen pasar agar dicapai nilai ekonomi, teknis dan lingkungan yang optimal.
Pembriketan bertujuan untuk memperoleh suatu bahan bakar yang berkualitas yang dapat
digunakan untuk semua sektor sebagai sumber energi pengganti. Beberapa tipe / bentuk
briket yang umum dikenal, antara lain : bantal (oval), sarang tawon (honey comb), silinder
(cylinder, telur (egg), dan lain-lain. Adapun keuntungan dari bentuk briket adalah sebagai
berikut (Agung, 2012):
1. Ukuran dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
2. Porositas dapat diatur untuk memudahkan pembakaran.
3. Mudah dipakai sebagai bahan bakar.
Teknologi Pembriketan

Proses pembriketan adalah proses pengolahan yang mengalami perlakuan penggerusan,


pencampuran bahan baku, pencetakan dan pengeringan pada kondisi tertentu, sehingga
diperoleh briket yang mempunyai bentuk, ukuran fisik, dan sifat kimia tertentu.
Secara umum beberapa spesifikasi briket yang dibutuhkan oleh konsumen adalah sebagai
berikut (Diana dalam Agung, 2010):
1. Daya tahan briket.
2. Ukuran dan bentuk yang sesuai untuk penggunaannya.
3. Bersih (tidak berasap), terutama untuk sektor rumah tangga.
4. Bebas gas-gas berbahaya.
5. Sifat pembakaran yang sesuai dengan kebutuhan (kemudahan dibakar, efisiensi energi,
pembakaran yang stabil).
Analisa Proksimat Briket
Analisa proksimat bertujuan untuk menetukan beberapa hal berikut (Agung, 2012) :
1) Kandungan Air (moisture)
Moisture yang dikandung dalam briket dapat dinyatakan dalam dua macam :
a) Free moisture (uap air bebas)
Free moisture dapat hilang dengan penguapan, misalnya dengan air-dying.
b) Inherent moisture (uap air terikat)
Kandungan inherent moisture dapat ditentukan dengan memanaskan briket antara
temperature 104 1100C selama satu jam.
2) Kandungan Abu (ash)
Abu adalah zat anorganik sebagai berat yang tinggal apabila briket dibakar secara sempurna.
Briket dengan kandungan abu tinggi sangat tidak mengutukan karena akan membentuk kerak.
3) Kandungan Zat terbang (Volatille matter)
Volatille matter adalah bagian dari briket dimana akan berubah menjadi volatile
matter (produk) bila briket tersebut dipanaskan tanpa udara pada suhu lebih kurang 950 C.
Untuk kadar volatile matter 40 % pada pembakaran akan memperoleh nyala yang panjang
dan akan memberikan asap yang banyak. Sedangkan untuk kadar volatile matter rendah
antara 15 25% lebih disenangi dalam pemakaian karena asap yang dihasilkan sedikit.