Anda di halaman 1dari 4

Dalam usaha peningkatan produktivitas, perusahaan harus mengetahui kegiatan yang dapat

meningkatkan nilai tambah (value added) produk (barang dan /jasa) dan menghilangkan
(waste), oleh karena itu diperlukan suatu pendekatan lean. Lean Manufacturing didefinisikan
sebagai suatu pendekatan sistemik dan sistematik untuk mengidentifikasi dan menghilangkan
waste atau non value-added activities melalui peningkatan terus-menerus (continuous
improvement) dengan cara mengalirkan produk dan informasi menggunakan sistem tarik
(pull system) dari pelanggan internal dan eksternal untuk mengejar keunggulan dan
kesempurnaan. Lean Manufacturing sendiri mempunyai berbagai macam tools, dan dalam
penelitian ini akan digunakan salah satu tools dalam Lean Manufacture yaitu Value Stream
Mapping (VSM) (Gaspersz, 2006). Lean manufacturing, atau dikenal juga dengan sebutan
lean enterprise, lean production, atau sederhananya hanya disebut lean saja merupakan
sebuah metodologi praktek produksi yang memfokuskan penggunaan dan pemberdayaan
sumber daya untuk menciptakan value bagi pelanggan.
Pada awalnya konsep ini diterapkan oleh Toyota dalam proses produksinya. Para peneliti
dari MIT yang menulis tentang konsep tersebut dalam buku The Machine That Changed
The World memperkenalkan istilan lean yang merujuk kepada konsepnya. Setelah itu
barulah istilah lean dikenal di seluruh dunia. Konsep awal lean dikenal dengan Toyota
Production System (TPS), sebuah metode dan cara yang digunakan Toyota dalam
berproduksi dan memberikan value bagi pelanggannya. Inti dari konsep lean manufacturing
adalah Kaizen yang dilakukan di segala bidang mulai dari hulu yaitu ketika pelanggan
memberikan pesanan sampai dengan hilir yaitu pada saat pelanggan menerima pesanan yang
diminta. Termasuk di dalamnya bagaimana order di handle oleh PPIC, raw material
didatangkan oleh bagian purchasing,pembuatan barang oleh bagian produksi, mesin di
pelihara oleh bagian maintenance sampai akhirnya bagian shipping mendeliverikan pesanan
kepada pelanggan.
Lean berfokus pada identifikasi dan eliminasi aktivitas-aktivitas yang tidak bernilai
tambah (non value added activities) dalam desain, produksi (untuk bidang manufaktur) atau
operasi (untuk bidang jasa) dan supply chain management yang berkaitan langsung dengan
pelanggan (Womack & Jones, 2003). Eliminasi pemborosan (waste) merupakan salah satu
cara untuk meningkatkan hasil produksi. Waste adalah semua aktivitas yang tidak bernilai
tambah. Peningkatan hasil produksi dilaksanakan dalam bentuk kualitas, harga, jumlah

produksi dan pengiriman tepat waktu. Usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
hasil produksi adalah 1) mengeliminasi pemborosan (waste), 2) mengurangi biaya, 3)
meningkatan kemampuan pekerja. Semua ini dapat dicapai dengan menerapkan konsep lean
manufacturing di perusahaan (Nicholas,1998). Walaupun dimulai di sektor manufaktur,
konsep lean juga mulai diterapkan dalam sektor jasa penyedia layanan kesehatan. Semakin
ketatnya persaingan antara rumah sakit sebagai penyedia layanan kesehatan saat ini, memicu
rumah sakit untuk berlomba-lomba meningkatkan kualitas jasanya dan dapat mengelola
resources yang dimiliki secara efisien. Pengelolaan resources secara efisien dan peningkatan
kualitas jasa dilakukan dengan tujuan meningkatkan competitive advantage perusahaan agar
dapat bertahan dan memenangkan persaingan yang ada. Peningkatan kualitas jasa dapat
dilakukan dengan melakukan peningkatan efisensi dari proses dengan cara mengadopsi
konsep dan metodologi yang berkaitan dengan proses produksi jasanya. Dalam persaingan
saat ini, rumah sakit dituntut untuk dapat menerapkan konsep efektivitas dan efiesiensi di
setiap lini agar dapat menghasilkan jasa dengan kualitas yang baik, jaminan patient safety
yang tinggi dan dengan biaya yang tepat. Dalam sebuah proses jasa terdapat faktor-faktor
yang berkontribusi di dalamnya, faktor-faktor yang ada harus selalu dilakukan evaluasi
sebagai langkah continous improvement , apakah perlu dilakukan perbaikan atau tidak.
Penerapan lean healthcare sudah banyak diterapkan di luar negeri. Brandao de Souza (2009)
menunjukkan bahwa 57% 2 layanan kesehatan di Amerika menerapkan lean healthcare, di
Inggris sebanyak 29% dan di Australia sebanyak 4%. Dampak postif dari penerapan lean
thinking dalam layanan kesehatan sudah banyak dirasakan oleh rumah sakit tersebut. Hal ini
terlihat dari meningkatnya efek potensial dalam peningkatan kualitas, penghematan waktu
proses, penghematan biaya,. Hasil dari penelitian juga banyak menunjukkan bahwa dampak
lean dalam bentuk penurunan waiting times, peningkatan kualitas layanan melalui
penurunan errors yang terjadi, dan berujung pada penurunan biaya.
Di Indonesia konsep lean healthcare belum banyak diterapkan oleh rumah sakit. Dengan
menerapkan lean healthcare akan dicapai peningkatan efektivitas dan efisiensi perusahaan
yang berdampak pada kualitas proses jasa yang baik. Layanan yang berkualitas dan
standarisasi proses yang diperoleh akan berpengaruh terhadap minat konsumen karena
layanannya dinilai bagus secara kualitas. Untuk menghasilkan layanan yang berkualitas baik
maka rumah sakit harus melakukan suatu konsep proses jasa yang dapat meningkatkan

efisiensi proses jasanya. Perbaikan proses yang terus-menerus juga perlu dilakukan agar
tercapai proses jasa yang berkualitas.
Puskesmas Wonosobo I merupakan salah satu penyedia layanan kesehatan yang telah
terstandarisasi ISO di antara semua puskesmas yang terdapat di kabupaten Wonosobo.
Ditengah persaingan dalam industri layanan kesehatan saat ini tentunya Puskesmas
Wonosobo I mempunyai goals supaya dapat bersaing dengan penyedia layanan kesehatan
lainnya. Goals yang ingin dicapai adalah menjadi penyedia layanan kesehatan dengan
keamanan pasien yang terjamin. Patient safety menjadi prioritas bagi sehingga dalam
prosesnya diterapkan standarisasi proses jasanya yang bertujuan untuk menghasilkan layanan
yang berkualitas dan diberikan ke pasien dengan tepat waktu dan aman. Dalam pencapaian
tujuan, standarisasi proses diterapkan oleh Puskesmas Wonosobo I dalam semua departemen
dan dilakukan oleh seluruh karyawan. Agar dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan
karyawan Puskesmas Wonosobo I dituntut untuk bekerja secara efektif dan efisien. Dalam
pengembangannya tidak dapat dilakukan secara langsung, tetapi dilakukan secara bertahap
dan terus menerus. Standarisasi dan continous improvement menjadi hal yang mendasar
dalam kelangsungan proses jasa di setiap departemen di Puskesmas Wonosobo I. Penelitian
ini akan difokuskan pada aliran proses dalam pendaftaran awal calon pasien. Dalam sehari
rata-rata Puskesmas Wonosobo I dapat melayani 150 - 200 pasien, hal ini menunjukkan
bahwa Puskesmas Wonosobo I merupakan penyedia layanan kesehatan yang telah diberikan
kepercayaan oleh pasien sehingga proses yang efektif, efisien, dan aman sangat penting
dalam pelayanan pasien. Dari hasil observasi pada seluruh proses pelayanan di Puskesmas
Wonosobo I ,dalam realisasinya masih terdapat aktivitas yang tergolong waste sebagai contoh
adalah waktu tunggu pada pendaftaran pasien . Ada beberapa hal yang mengakibatkan waktu
tunggu pada pendaftaran pasien menjadi lama, yaitu waktu aktivitas administrasi yang lama
dan waktu yang dibutuhkan untuk mencari dokumen. Lama waktu proses menunggu
termasuk dalam hal yang mempengaruhi tingkat kepuasan pasien. Ada batas waktu tertentu
dimana pasien akan merasa bahwa waktu tunggu terlalu lama dan mengakibatkan tingkat
kepuasan terhadap layanan penyedia kesehatan menurun.
Berdasarkan hal tersebut diperlukan pemetaan masalah yang secara jelas. Salah satu lean
tools yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan value stream mapping. Dengan
value stream mapping akan dapat diketahui gambaran besar proses secara keseluruhan,

seperti aliran informasi, aliran nilai dan kualitas di setiap proses dalam proses pendaftaran
pasien. Dari aliran tersebut aktivitas dalam proses dapat digolongkan menjadi aktivitas value
added dan non value added, sehingga dari pemetaan tersebut dapat dilakukan perbaikan yang
tepat sasaran.
Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan hal ini adalah Penerapan Konsep Lean
Service dan DMAIC untuk Mengurangi Waktu Tunggu Pelayanan (Fijar Alpasa;Lisye Fitria,
2014). Penelitian ini menjelaskan bahwa waste yang terjadi pada perusahaan penyedia jasa
mengakibatkan penyedia jasa kehilangan kepercayaan dari pelanggan. Faktor penyebab
terjadinya waste pada saat Oleh karena itu, perusahaan yang telah menjalankan lean
manufacturing perlu untuk mengevaluasi pencapaian implementasi perusahaan, agar
diketahui solusi perbaikan kedepannya. Upaya untuk mengetahui pencapaian impementasi
lean diperlukan, agar perusahaan mengetahui tingkat performansi lean.
Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini adalah Lean Hospital Sebagai
Usulan Perbaikan Sistem Rack Addressing dan Order Picking Gudang Logistik Perbekalan
Kesehatan di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih. Penelitian ini menjelaskan bahwa
penerapan lean hospital

sangat penting untuk meningkatkan produktivitas kerja dan

kepuasan pelanggan pada gudang logistik di rumah sakit. Oleh karena itu, perlu dilakukan
identifikasi pada waste yang menyebabkan berkurangnya produktivitas dan berkurangnya
kepuasan pelanggan. Setelah faktor penyebab waste

telah diketahui, maka dilakukan

penerapan solusi untuk meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kepuasan pelanggan.