Anda di halaman 1dari 16
Kuliah-3 III. KESUBURAN PERAIRAN
Kuliah-3 III. KESUBURAN PERAIRAN
Kuliah-3 III. KESUBURAN PERAIRAN
Kuliah-3 III. KESUBURAN PERAIRAN
Kuliah-3 III. KESUBURAN PERAIRAN
Kuliah-3 III. KESUBURAN PERAIRAN

Kuliah-3

Kuliah-3 III. KESUBURAN PERAIRAN

III. KESUBURAN PERAIRAN

III. KESUBURAN PERAIRAN 3.1 Status Trophic a. Oligotrophic
III. KESUBURAN PERAIRAN
3.1
Status
Trophic
a. Oligotrophic
  • - Bahan makanan / unsur hara sediki

  • - Biota sedikit

  • - Kecerahan tinggi

  • - Oksigen masih cukup sampai ke dasar

b.

Eutrophic

  • - Bahan makan / unsur hara melimpah

  • - Biota melimpah

  • - Kecerahan rendah

  • - Oksigen di permukaan sering kelewat jenuh (fotsintesis), sedangkan oksigen di dasar sering habis (dekomposisi).

c.

Mesotrophic: antara oligotrophic dan eutrophic

Kajian Teori:
Kajian Teori:

Dalam suatu ekosistem perairan, organisme nabati mempunyai kedudukan yang amat penting karena berfungsi sebagai produsen primer bahan organik. Produksi bahan organik dari unsur anorganik, yang dilakukan oleh organisme nabati dengan melalui proses fotosintesis, merupakan sumber energi utama yang mendasari struktur tropik ekosistem perairan (Wetzel,

1983).

Suatu perairan dapat dikatakan subur apabila perairan itu dapat mendukung semua aspek yang dibutuhkan untuk kehidupan organisme nabati (fitoplankton).

1.2 Faktor-faktor penentu

pertumbuhan fitoplankton
pertumbuhan fitoplankton

Cahaya

Suhu

Hara

Diantara faktor-faktor penentu pertumbuhan tersebut, unsur hara dapat ditetapkan sebagai

faktor

pembatas

penentu,

karena

relatif

dapat

dikendalikan dibandingkan dengan kedua faktor

lainnya.

Unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan fitoplankton (Reynolds, 1984):

Unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan fitoplankton

(Reynolds, 1984):
(Reynolds, 1984):
  • 1. Unsur hara makro (C, O, H, N, P, S, K, Mg, Ca, Na dan Cl)

  • 2. Unsur hara mikro (Fe, Mn, Cu, Zn, B, Si, Mo dan Co)

Diantara unsur hara tersebut, N dan P biasanya sering menjadi faktor pembatas pertumbuhan fitoplankton di perairan alami (Welch dan Lindeel, 1980) dan bisa menjadi penentu blooming apabila di perairan itu berlebihan (Sellers dan Markland, 1987).

Kriteria kesuburan berdasarkan N dan P serta nilai biomas dan

Kriteria kesuburan berdasarkan N dan P serta nilai biomas dan produktivitas primer fitoplanktonnya. Parameter Tingkat kesuburan

produktivitas primer fitoplanktonnya.

Parameter

 

Tingkat kesuburan

Olygotrof

Mesotrof

Eutrof

N anorg. (ppb)

0

- 200

  • 200 - 400

400 – 650

P Total (ppb)

0

– 5

5 - 10

10 – 30

Biomassa (mg b. kering/m 3 )

20

- 200

  • 200 - 600

600-10.000

Produktivitas Primer (g b. kering/m2/th)

15

- 50

50 - 150

150-500

Peran hara N dan P dapat dilihat

dalam bentuk:
dalam bentuk:
  • 1. Sediaan:

Konsentrasi masing-masing unsur hara N dan P kaitannya dengan dominasi species fitoplankton

  • 2. rasionya.

Perbandingan

antara

hara

N

dan

P

kaitannya dengan toleransi fitoplankton

1. Sediaan

a. Hara P
a. Hara P
  • Fitoplankton menyerap P dalam bentuk P anorganik (Ortofosfat)

  • Tinggi rendahnya P dalam perairan sering menjadi pendorong terjadinya dominasi fitoplankton tertentu.

Menurut Prowse (1962), perairan

dengan kandungan fosfat:
dengan kandungan fosfat:

Konsentrasi

Fitoplankton

Rendah (0,000 – 0,02 ppm)

didominasi diatom

Sedang (0,02 – 0,05 ppm)

didominasi Clorophyceae

Tinggi ( > 0,10 ppm)

didominasi Cyanophyceae

   
b. Hara N 
b. Hara N

Fitoplankton mengambil N dalam air secara bertahap, yaitu dalam bentuk:

Nitrat, Nitrit dan ammonia.

Fitoplankton dari Cyanophyceae tertentu juga dapat mengambil N molekuler dari udara, seperti Nostoc, Anabaena dan Trichodesmium.

Setiap jenis fitoplankton mempunyai kebutuhan nitrogen yang berlainan untuk pertumbuhan optimumnya, yaitu sekitar 0,9 – 3,5 ppm (Chu, 1943).

2. N/P rasio

2. N/P rasio  Setiap jenis fitoplankton mempunyai kemampuan dan jumlah yang berbeda untuk mengikat N

Setiap

jenis

fitoplankton

mempunyai

kemampuan dan jumlah yang berbeda untuk

mengikat N dan P.

Hasil penelitian di kolam oleh De Pinto at al., dalam Raymond P. Canale (1976) tentang persaingan pemakaian P oleh Anabaena dan Fragilaria. Anabaena dengan nitarat yang rendah dan Fragilaria membutuhkan nitrat yang tinggi dalam memanfaatkan fosfor. Dari keterangan tersebut N/P rasio sangat menentukan struktur komunitas fitoplankton.

Kombinasi N/P rasio dan P

sebagai faktor pembatas utama
sebagai faktor pembatas utama

Konsentrasi fosfor di perairan alami sangat rendah. konsentrasi ortofosfat biasanya tidak lebih 0,005 – 0,02 ppm dan tidak melebihi 0,1 ppm dalam perairan eutrof. Sehingga fosfor dalam perairan alami, sering menjadi faktor pembatas utama dari pada Nitrogen atau dengan istilah lain fosfor lebih banyak berperan dari pada Nitrogen sebagai faktor pembatas pertumbuhan.

Lanjutan:
Lanjutan:

di perairan eutrof, N pada mulanya dapat sebagai faktor pembatas bagi organisme nabati yang tidak bisa menyerap N atmosfer. Kemudian dengan pemberian waktu yang cukup P dapat terlihat sebagai faktor pembatas utama, karena dengan penambahan P akan merangsang organisme nabati yang bisa menyerap N atmosfer dan biomas bertambah sebanding dengan pertambahan P.

Penelitian Welch (1980), tentang pengaruh air selokan terhadap biomas fitoplankton di danau Moses, melalui

hubungan hara N dan P dengan Clorofil a.
hubungan hara N dan P dengan Clorofil a.

Kesimpulan dari hasil penelitiannya

1. Nitrat berkurang sampai nol pada musim panas.

2. Selama ada fiksasi N oleh organisme nabati yang bisa menyerap N atmosfer, penambahan P itu sendiri hampir sama dengan penambahan N+P setelah beberapa hari.

3. Berlawanan dengan penambahan N itu sendiri dihasilkan pertumbahan yang rendah setelah P dipakai habis.

Perubahan konsentrasi fosfor didalam perairan akan

Menurut Josimura dalam Liaw (1969), Hubungan kandungan fosfat

kesuburan perairan sbb:
kesuburan perairan sbb:

No

Kandungan fosfat (ppm)

Kesuburan

1.

0,000 – 0,020

Rendah

2.

0,021 - 0,050

Cukup

3.

0,051 – 0,100

Baik

4.

0,101 – 0,200

Baik sekali

5.

0,201 +

Sangat baik sekali