Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

PERATURAN DAERAH TENTANG LARANGAN


MEROKOK
Disusun oleh:
Muhammad Padli
Nim: 3143111031

JURUSAN PPKN
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2015

DAFTAR ISI
Halaman judul......
Kata pengantar.
Daftar isi
BABI:PENDAHULUAN.
BABII:ANALISIS DAN PEMBAHASAN
BABIII:KESIMPULAN DAN SARAN..
DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nyalah
saya dapat menyelesaikan makalah ini. Tak lupa pula shalawat dan salam terus mengalir kepada
baginda Muhammad SAW, yang telah membawa alam ini dari kegelapan menuju kea lam yang
terang benderang seperti sekarang ini. Dan dari zaman kebodohan hingga zaman modern.
Makalah yang berjudulkan Pajak Pertambahan nilai, akhirnya terselesaikan dengan tepat waktu
dan semoga dapat memberi manfaat bagi teman-teman sekalian. Saya menyadarai bahwa
makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, saya berharap kritikan yang membangun
untuk kemajuan makalah ini. Saya juga manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dam
makhluk social yang tak dapat hidup sendiri tanpa masukan dari teman-teman.

BAB I:
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Manusia memiliki berbagai macam kebiasaan. Mulai dari berolahraga,

membaca,

menulis, mengarang, dan sebagainya. Diantara sekian banyak kebiasaan manusia, ada salah satu
kebiasaan manusia yang sangat merugikan bagi kesehatan mereka.Anehnya, kebiasaan yang
tidak baik ini sering dilakukan oleh masyarakat kita, yakni kebiasaan merokok. Merokok
sendiri bukanlah hal yang dianggap tabu oleh masyarakat kita,meskipun yang melakukannya
adalah anak yang masih duduk di bangku sekolah. Hal ini sangat memprihatinkan, karena
sebagaimana kita ketahui bahwa di dalam rokok terdapat banyak zat beracun yang nantinya akan
mengganggu kesehatan tubuh kita.
Merokok merupakan suatu pemandangan yang sangat tidak asing bagi bangsa ini.
Kebiasaan merokok dianggap dapat memberikan kenikmatan bagi si perokok, namun dilain
pihak merokok jugadapat menimbulkan dampak buruk bagi si perokok sendiri maupun orang-orang
disekitarnya. Berbagai kandungan zat yang terdapat di dalam rokok memberikan dampak negatif bagi
tubuh penghisapnya. Sebuah laporan yang dirilis World Health Organization (WHO) pada awal tahun
2008 memperkirakan bahwa 1 miliar orang di seluruh dunia akan meninggal akibat rokok apabila
pemerintah di berbagai negara tidak serius dalam mengatasi kondisi epidemik terhadap penggunaan
tembakau. Dalam kesempatan itu WHO juga merekomendasikan agar setiap negara melakukan enam
tindakan

guna

menekan

angka

perokok

dan

tindakan

merokok

di

masing-masing

wilayahnya. Pertama, memperbaiki kualitas data penggunaan tembakau di wilayahnya. Kedua, meniru
pelarangan keberadaan tembakau seperti di Irlandia. Dimana mereka melarang seluruh keberadaan
tembakau ditempat kerja. Ketiga, mengintensifkan upaya untuk membujuk dan membimbing para
perokok untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Sedangkan tiga tindakan lainnya mengenai upaya agar
para perokok tidak merokok di tempat umum. Namun rekomendasi yang paling ampuh yang ditawarkan
oleh WHO ialah agar setiap negara memberlakukan pajak yang sangat tinggi untuk tembakau hingga
sepuluh kali lipat.[1]

Menghirup asap rokok orang lain lebih berbahaya dibandingkan menghisap rokok sendiri.
Bahkan bahaya yang harus ditanggung perokok pasif tiga kali lipat dari bahaya perokok aktif.
Setyo Budiantoro dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) mengatakan,
sebanyak 25 persen zat berbahaya yang terkandung dalam rokok masuk ke tubuh perokok,

sedangkan 75 persennya beredar di udara bebas yang berisiko masuk ke tubuh orang di
sekelilingnya. Tidak ada batas aman terhadap Asap Rokok Orang Lain sehingga sangat penting
untuk menerapkan 100% Kawasan Tanpa Asap Rokok untuk dapat menyelamatkan
kehidupan. [2]
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Padang, Sumatera Barat, menyepakati
pengesahan Rancangan Peraturan Daerah tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) menjadi
peraturan daerah pada hari Selasa 20 Desember 2011. Dalam peraturan ini Pemerintah ingin
melindungi masyarakat yang tidak merokok dari bahaya asap rokok. Peraturan Daerah KTR
yang telah disahkan harus disosialisasikan oleh Pemerintah Kota Padang selama satu tahun pada
masyarakat.
Ada tujuh kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan Tanpa Rokok di antaranya fasilitas
pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat bermain anak, tempat ibadah,
angkutan umum, tempat kerja serta tempat umum lain Peraturan Daerah KTR juga mengatur
sanksi administratif dan ketentuan pidana bagi yang melanggar. Denda yang dikenakan kepada
masyarakat yang merokok di KTR paling rendah Rp50 ribu setiap kali pelanggaran. Sedangkan
bagi pimpinan SKPD yang tidak melakukan pengawasan di daerah KTR dikenakan denda Rp10
juta.[3]
Peraturan Daerah tentang kawasan tanpa rokok merupakan langkah untuk melindungi
masyarakat dari ancaman perokok aktif sehingga budaya dan kebiasaan masyarakat tersebut
dalam hal ini kebiasaan merokok mempengaruhi terciptanya aturan tentang larangan merokok di
tempat umum dengan dibuatnya kawasan tanpa rokok

BAB II:
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
1. Peraturan Yang Mengatur Tentang Larangan Merokok Ditempat Umum.
Sejak tahun 1999, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang
Pengamanan Rokok bagi Kesehatan, Indonesia telah memiliki peraturan untuk melarang orang
merokok di tempat-tempat yang ditetapkan. Peraturan Pemerintah tersebut, memasukkan
peraturan Kawasan Tanpa Rokok pada bagian enam Pasal 22 25. Pasal 25 memberikan
kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok. Namun
peraturan tersebut belum menerapkan 100% Kawasan Bebas Asap Rokok karena masih
dibolehkan membuat ruang khusus untuk merokok dengan ventilasi udara di tempat umum dan
tempat kerja. Dengan adanya ruang untuk merokok, kebijakan kawasan tanpa rokok nyaris tanpa
resistensi. Pada kenyataannya, ruang merokok dan ventilasi udara kecuali mahal, kedua hal
tersebut secara ilmiah terbukti tidak efektif untuk melindungi perokok pasif, disamping rawan
manipulasi dengan dalih hak azasi bagi perokok. [4]
Selanjutnya Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, juga
mencantumkan peraturan Kawasan Tanpa Rokok pada Bagian Ketujuh Belas, Pengamanan Zat
Adiktif, Pasal 115 ayat ( 1 ) Kawasan tanpa rokok antara lain:
a. Fasilitas pelayanan kesehatan;
b. Tempat proses belajar mengajar;
c. Tempat anak bermain;
d. Tempat ibadah;
e. Angkutan umum;
f. Tempat kerja; dan
g. Tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan.
Lalu pada ayat ( 2 ) Pemerintah daerah wajib menetapkan kawasan tanpa rokok di
wilayahnya. Sehingga menindak

lanjuti

pasal

25

Peraturan Pemerintah

Nomor19 Tahun 2003 tersebut beberapa pemerintah daerah telah mengeluarkan kebijakan
Kawasan Tanpa Rokok antara lain yaitu[5] :
1. DKI Jakarta

DKI Jakarta tidak mempunyai Peraturan Daerah Kawasan Tanpa Rokok secara eksklusif.
Peraturan Kawasan Dilarang Merokok hanya tercantum dalam Peraturan Daerah (PERDA) No. 2
Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara untuk Udara Luar Ruangan. Yang ada
hanya Peraturan Gubernur (Per-Gub) Nomor 75 Tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang
Merokok. DKI Jakarta belum menerapkan 100% Kawasan Tanpa Rokok karena dalam peraturan
tersebut masih menyediakan ruang untuk merokok.
2. Kota Bogor
Kota Bogor belum menerbitkan Peraturan Daerah Kawasan Tanpa Rokok secara
eksklusif. Pengaturan tertib Kawasan Tanpa Rokok tertuang dalam Peraturan Daerah No 8 Tahun
2006 tentang Ketertiban Umum, pasal 14 16. Kota Bogor juga belum menerapkan 100%
Kawasan Tanpa Rokok karena masih mencantumkan ruang untuk merokok.Kota Bogor
merencanakan akan menyusun Perda Kawasan Tanpa Rokok secara eksklusif.
3. Kota Cirebon
Peraturan Kawasan Tanpa Rokok di Kota Cirebon berbentuk Surat Keputusan Walikota
No 27A/2006 tentang Perlindungan Terhadap Masyarakat Bukan Perokok di Kota Cirebon.
Kota Cirebon merupakan kota pertama yang menerapkan 100% Kawasan Tanpa Rokok
yaitu tidak menyediakan ruang untuk merokok. Sayangnya peraturan tersebut belum berbentuk
Peraturan Daerah sehingga tidak ada sanksi dan tidak mengikat masyarakat.
4. Kota Surabaya
Kota Surabaya merupakan kota pertama yang mempunyai Peraturan Daerah Kawasan
Tanpa Rokok secara ekskusif, yaitu Peraturan Daerah Kota Surabaya No. 5 Tahun 2008 tentang
Kawasan Tanpa Rokok dan Kawasan Terbatas Merokok. Perda ini membagi 2 kawasan yaitu
Kawasan Tanpa Rokok yang menerapkan 100% Kawasan Tanpa Rokok dan Kawasan Terbatas
Merokok yang menyediakan ruang khusus untuk merokok.
Untuk melaksanakan Perda No 5 Tahun 2008, Kota Surabaya juga telah membuat
Peraturan Walikota Surabaya No 25 Tahun 2009 tentang Pelaksanaan Perda Kota surabaya
Nomor 5 Tahun 2008 tentang Kawasan Tanpa Rokok dan Kawasan Terbatas Merokok. Kawasan
Tanpa Rokok dan Kawasan Terbatas Merokok yang tercantum dalam Perda 5/2009 dirinci dan
dipertegas pada Perwali tersebut.
5. Kota Palembang

Kota Palembang merupakan Kota pertama di Indonesia yang memiliki Peraturan Daerah
Kawasan Tanpa Rokok secara eksklusif dan menerapkan 100% Kawasan Tanpa Rokok yaitu
tanpa menyediakan ruang merokok. Peraturan Daerah No. 07/2009 Tentang Kawasan Tanpa
Rokok Kota Palembang merupakan satu-satunya Perda Kawasan Tanpa Rokok di Indonesia yang
sesuai dengan standard internasional yaitu 100% Kawasan Tanpa Rokok dengan tidak
menyediakan ruang untuk merokok.
6. Kota Padang Panjang
Kota Padang Panjang memiliki Peraturan Daerah Kawasan Tanpa Rokok yaitu Peraturan
Daerah Kota Padang Panjang No 8 Tahun 2009 Tentang Kawasan Tanpa Asap Rokok dan
Kawasan Tertib Rokok. Peraturan Daerah ini dirinci dan dipertegas dengan Peraturan Walikota
Padang Panjang No.10 Tahun 2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Padang
Panjang No. 8 Tahun 2009 Tentang Kawasan Tanpa Asap Rokok dan Kawasan Tertib Rokok.
2. Pengaruh Peraturan Larangan Merokok Ditempat Umum Terhadap Kebiasan Merokok.
Salah satu perilaku yang semakin hari semakin berdampak negatif bagi lingkungan
adalah merokok. Merokok merupakan sebuah perilaku yang tidak sehat, selain berbahaya bagi
diri sendiri terlebih lagi pada orang lain yang memiliki hak untuk menghirup udara yang bersih
dan terhindar dari segala bahan cemaran yang dikeluarkan oleh asap rokok orang lain.Dengan
arti kata setiap orang berhak mendapatkan hak untuk sehat dalam kehidupan.
Merokok di tempat umum, yang disini bermakna sebagai tempat atau sarana yang
diselenggarakan oleh pemerintah, swasta atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi
masyarakat adalah melanggar hak orang lain untuk menikmati udara bersih dan menyebabkan
gangguan kesehatan pada orang yang tidak merokok.
Dalam membicarakan setiap masalah, misalnya mengenai masalah kesehatan, tidak akan
pernah lepas dari berbagai sistem hukum, yang dalam struktur hukumnya berarti menyangkut
tentang aparat atau kelembagaan yang bertanggungjawab atas terlaksananya berbagai kebijakan
tentang kesehatan, dalam substansi hukumnya berarti membicarakan tentang keberadaan aturan
hukum formil dan perundang-undangan yang mengatur tentang kebijakan tersebut, dan dalam
budaya hukumnya berarti bagaimana masyarakat memandang dan menjalani peraturan yang
telah ada tersebut. Jadi ketiga hal tersebut yang menjadi kerangka dan mendasari terlaksananya
berbagai sistem dalam tatanan berbangsa dan bermasyarakat, dalam berbagai masalah dan
rutinitas, termasuk pula pada berbagai hal yang menyangkut pada masalah kesehatan.[6]

Dalam UUD 1945 hal tentang kesehatan diatur dalam Pasal 34 ayat (3) yaitu Negara
bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum
yang layak serta Pasal 28H ayat (1) yaitu Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin,
bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan.
Namun

dalam

pelaksanaannya

larangan

merokok

ditempat

umum

belumlah

memberikan pengaruh yang besar kepada perokok yang masih senantiasa melakukan aktivitas
merokok ditempat umum atau tempat-tempat yang menurut aturan dilarang merokok, ini terjadi
karna berbagai faktor antara lain kurangnya sosialisasi dari pemerintah terhadap aturan larangan
merokok ditempat umum, sehingga pemerintah seolah-olah setengah hati dalam penerapan
aturan tersebut.
Selanjutnya kurangnya kesadaran dari masyarakat untuk untuk tidak merokok

ditempat

umum atau kawasan tanpa rokok, ini disebabkan kebanyakan perokok tidak mempedulikan
resiko yang ditimbulkan oleh rokok, mereka menganggap bahwa merokok hanya merupakan
suatu kebiasaan sesaat untuk memperoleh kesenangan, ketenangan, bahkan meningkatkan
kreativitas. Perokok juga beranggapan bahwa merokok dapat dihentikan dengan segera sewaktuwaktu kapanpun mereka ingin, meski dalam kenyataannya, ketergantungan terhadap kandungan
nikotin yang terdapat dalam sebatang rokok teramat sulit untuk dipulihkan. [7]
Hal ini semakin diperburuk oleh perilaku aparat yang belum bisa menjadikan dirinya
sebagai contoh, seperti misalnya pada Pemerintah Propinsi DKI Jakarta yang sejak
diberlakukannya kawasan dilarang merokok di tujuh tempat, justru para aparat yang masih
banyak merokok di tempat kerja dan mempertontonkannya pada masyarakat. Dalam sebuah
survei yang dilakukan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Forum Warga Kota
Jakarta (Fakta) di 110 kantor pemerintahan baik pusat maupun daerah di Ibukota, didapati
sebanyak 36,9 persen pegawai di kantor pemerintahan itu melanggar kawasan dilarang merokok,
dan 32,1 persen petugas keamanan dan 31 persen pengunjung juga turut melanggar. Survey
tersebut juga mendapati pengunjung yang melanggar dengan alasan tidak ada sanksi mencapai
31 persen, sementara pegawai 49,2 persen, dan petugas keamanan 36 persen [8]

BABIII:
KESIMPULAN DAN SARAN
C. PENUTUP
1. Kesimpulan
Pemberlakuan kawasan dilarang merokok hanyalah salah satu instrumen dalam
mengupayakan hak atas derajat kesehatan optimal dapat dirasakan oleh setiap orang kerena
perokok memiliki hak untuk merokok namun disisi lain masyarakat yang tidak merokok juga
tidak boleh terlanggar haknya untuk mendapatkan kesehatan yang dijamin oleh undang-undang.
Selain peraturan yang harus senantiasa ditinjau pelaksanaannya oleh setiap pihak yang
terkait, yang tidak kalah penting adalah memberikan pengetahuan dan pemahaman akan dampak
merokok yang sesungguhnya, sehingga setiap orang dapat melindungi haknya sendiri dan hak
orang lain dari bahaya laten yang ditimbulkan oleh rokok atas kesadarannya sendiri, bukan hanya
karena adanya sanksi atau hukuman belaka.
Kebiasan merokok yang dilakukan oleh masyarakat merupakan fenomena yang berdampak
secara luas baik dari segi kesehatan maupun dari segi hukum yaitu terciptanya aturan-aturan
yang mengatur kebiasaan merokok tersebut, ini terlihat dengan adanya aturan mengenai larangan
merokok ditempat umum dan diciptakannya kawasan tanpa rokok sehingga secara sosiologi
hukum kebiasaan masyarakat mempengaruhi terciptanya aturan hukum yang berlaku ditengahtengah masyarakat.
2.

Saran
Besarnya dampak buruk yang ditimbulkan oleh tembakau, maka diharapkan seluruh daerah
dapat pula membuat peraturan dan kebijakan yang mengatur tentang tembakau dan produkproduknya baik di tingkat propinsi maupun kabupaten / kota. Lalu hendaknya aparat pemerintah
sebagai pelaksana aturan larangan merokok ditempat umum dapat menjadi contoh dan suri
teladan yang baik dalam meerapkan aturan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

http://mandorkawat2009.wordpress.com/2009/09/22/merokok-salah-satu-unsur-pencemarlingkungan-membahayakan-kesehatan-manusia-2/).
http://magfirahamir.blogspot.com/2013/09/kawasan-tanpa-asap-rokok.html
http://eksposnews.com/view/2/29921/DPRD-Padang-Sahkan-Perda-LaranganMerokok.html#.Um6G_XCnrww diambil tanggal 28 Oktober 2013
http://sanitationhealth.blogspot.com/2012/01/stake-holder-terhadap-area-bebas-asap.html
http://evenalexchandra.webs.com/apps/blog/categories/show/1552239-sosiologi-hukum
http://hendry-poetra.blogspot.com/2012/09/contoh-makalah-tentang-pengaruh-rokok.html