Anda di halaman 1dari 18

PUSTAKA 1

1. Suroso
Agus,
Irigasi
dan
Bangunan
http://kk.mercubuana.ac.id/elearning/files_modul/11026-12-217834407103.doc,
September 2015

Air.
12

Perencanaan Bangunan (Lanjutan)


Bangunan Persilangan
Jalur saluran irigasi mulai dari intake hingga bangunan sadap terakhir kadang-kadang harus
berpotongan atau bersilangan dengan berbagai rintangan antara lain jalan, saluran/alur
alamiah, sungai bahkan jurang. Untuk itu diperlukan bangunan persilangan agar dapat
menyeberangkan debit yang dialirkan oleh saluran dari sisi hulu ke sisi hilirnya.
Bangunan Siphon
Bangunan siphon merupakan salah satu bangunan persilangan yang dibangun untuk
mengalirkan debit yang dibawa oleh saluran yang jalurnya terpotong oleh lembah dengan
bentang panjang atau terpotong oleh sungai. Bangunan siphon berupa saluran tertutup
yang dipasang mengikuti bentuk potongan melintang sungai atau lembah untuk
menyeberangkan debit dari sisi hulu ke sisi hilir. Bangunan siphon (berupa saluran tertutup
berpenampang lingkaran atau segi empat) dipasang dibawah dasar sungai, atau bisa juga
dipasang di atas permukaan tanah jika melintasi lembah (cekungan).
Konstruksi siphon jika penampang melintang berupa segi empat biasanya dibuat dari beton
bertulang (reinforced concrete), jika penampang melintang berupa lingkaran biasanya dibuat
dari baja. Untuk mencegah adanya sedimentasi pada saat debit di dalam siphon mengecil,
biasanya digunakan tipe pipa rangkap. Pada saat debit di dalam siphon mengecil, jalur satu
ditutup, jalur lainnya dibuka sehingga kecepatan aliran didalam siphon tetap bisa
mengangkut sediment ke hilirnya. Konstruksi siphon harus dipilih pada lokasi yang panjang
bentang sungainya minimum, agar biaya konstruksinya hemat, serta kehilangan energinya
kecil.
Didalam perencanaan siphon ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, antara lain :
(untuk kasus siphon melintasi dasar sungai)
1. Siphon harus mampu menahan gaya uplift pada saat kondisi airnya kosong.
Kondisi yang paling berbahaya pada konstruksi siphon adalah pada saat siphon
dalam keadaan kosong. Pada saat kondisi ini gaya uplift yaitu gaya yang disebabkan
oleh tekanan hidrostatis dari bawah konstruksi siphon, menekan konstruksi siphon ke

arah atas. Gaya ini cenderung mengangkat konstruksi siphon. Sedangkan untuk
mengimbanginya diperlukan gaya penahan yang arahnya vertikal ke bawah yaitu
gaya berat akibat berat sendiri konstruksi siphon dan gaya berat akibat berat lapisan
penutup siphon.
2. Siphon harus dibuat pada kedalaman yang cukup di bawah dasar sungai.
Pada kondisi ini konstruksi siphon harus aman terhadap bahaya gerusan tanah
dasar sungai (degradasi) maupun bahaya gerusan lokal akibat dasar sungai yang
terganggu. Jika konstruksi siphon berada terlalu dekat dengan permukaan dasar
sungai, maka tanah penutup di atas siphon kemungkinan akan terkikis. Untuk itu
konstruksi siphon harus dibuat pada kedalaman yang cukup terhadap dasar sungai.
Pada bagian dasar palung sungai, konstruksi siphon sebaiknya dalam posisi
horisontal dan panjangnya ke arah tebing sungai harus cukup, karena tebing sungai
keungkinan bisa juga terjadi erosi. , Sedangkan pada bagian lereng sungai bisa
dibuat miring. Lapisan penutup dasar sungai (di atas konstruksi siphon) sebaiknya
berupa pasangan gabion (bronjong).
3. Untuk mengurangi kehilangan energi maka lokasi siphon diusahakan pada bentang
sungai terpendek, serta memperkecil jumlah belokan pada konstruksi siphon.

Gambar 1. profil memanjang perlintasan sungai

Gambar 2. profil memanjang siphon

Berikut ini contoh perhitungan hidraulika bangunan siphon:


Data-data :

Debit saluran (Qmaksimum)

2.88 m3/dt

Lebar dasar saluran B

5.77 m

Kedalaman aliran h

1.27 m

Kecepatan aliran di sal. V

0.46 m/dt

Elevasi dasar saluran hilir

+13.09

Elevasi muka air hilir

+14.36

Panjang siphon

59.05 m

Penampang siphon

segi empat

Siphon melintasi sungai, sehingga konstruksi siphon diletakkan di bawah dasar


sungai.

Siphon direncanakan mempunyai 2 jalur (double barrel).

Gambar 3. Potongan melintang siphon

Kehilangan Tinggi Energi


Mayor Losses

Kehilangan Tinggi Energi Akibat Gesekan Pada Saluran


L V2
hf f . .
D 2g
Dimana : hf

= Kehilangan Tinggi Energi


V = Kecepatan di siphon

L
D
g
f

= Panjang siphon
= diameter
= Gaya gravitasi

2. g .n2
R1/ 3

Dimana :
f = frekuensi
g = gaya gravitasi
n = nilai kekasaran manning
R = jari-jari hidrolis

Gambar 2.2 Diagram Moody


Minor Losses
Kehilangan Tinggi Energi Pada Inlet
2

hf f .
f = Koefisien
V = Kecepatan di siphon
g = gaya gravitasi

V2
2g

Kehilangan Tinggi Energi pada Inlet yang Diakibatkan Transisi

hf

V
f.

2
2

V1
2g

f = Koefisien
V1 = Kecepatan di saluran (m/dt)
V2 = Kecepatan di siphon (m/dt)
Kehilangan Tinggi Energi pada Outlet yang Diakibatkan Transisi

ho 2 f .

2
2

V1
2g

f = Koefisien
V1 = Kecepatan di saluran ( m/dt)
V2 = Kecepatan di siphon ( m/dt)
Kehilangan Tinggi Energi pada Outlet
2

V
hf f . 2
2g
f = Koefisien
V = Kecepatan di siphon ( m/dt)
g

= gaya gravitasi

Kehilangan Tinggi Energi Seal Inlet

Merupakan kerugian pada fitting dan valve yang terdapat sepanjang


system perpipaan. Dapat dicari dengan menggunakan rumus :
h f =n k

V2
2g

Dimana :
hf = minor losses
n = jumlah fitting/valve untuk diameter yang sama
k = koefisien gesekan
V = kecepatan rata-rata aliran
g = gaya gravitasi

Kehilangan Tinggi Energi Trash Rack

Gambar 9. Trash Rack

Gambar 10. Kerja Trash Rack


Seperti terlihat pada gambar 10 pada penyempitan dapat terjadi kontraksi.
Kehilangan energy disini terjadi karena perlebaran sesudah penampang
yang tersempit, sehingga perumusan perlebaran tiba-tiba dapat dipakai
antara penampang 0 dan penampang 2, yaitu :

V
1
1 2 2
Cc
2g
hc =
Dimana :
hc = kehilangan tinggi
Cc = Koefisien kontraksi

Tabel 5. Nilai Cc
A2/A1

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5

0,6

0,7

0,8

Cc

0,624

0,632

0,643

0,659

0,681

0,712

0,755

0,813

..

V = kecepatan aliran
g

= gaya gravitasi

Kehilangan Tinggi Energi Total

= hf mayor losses + hf minor losses

Contoh Perencenaan Bangunan Siphon


Data-data yang digunakan dalam perencanaan Siphon adalah :

Lokasi
Bentuk Siphon
Jenis Siphon
Kondisi Aliran
Slope Saluran Transisi
Slope Dasar Siphon

: Saluran Primer FIFI Kiri


: Bulat
: Double Pipe
: Aliran Tertekan
: 0.00033
: 0.00033

Diketahui data Saluran :


Q = 1,988 m3/dt
h = 1,165 m
b = 2,912 m
z = 1,000 m
v = 0,605 m/dt
Pada siphon karena aliran tertekan maka,
H
H/D
D
D
D
Q
A

= h + v2/2g
= 1,165 + 0,605 2/2.9,81 = 1,181 m
1,5
H/1,5
1,181/1,5
0,787
= debit di saluran
= 1,988 m3/dt
= 2 . . . D2
= 2 . . 3,14 . (0,787)2 = 0,972 m2

0,9

1,0

0,892

1,000

Q 1,988

2,045 m 2
A 0,972

V
=
(kecepatan siphon disarankan kurang dari 3 m/dt, sesuai KP 04)
-

Panjang siphon direncanakan 20 m


Siphon direncanakan double pipe dengan jarak antar pipa 0,5 m, sehingga lebar
bagian siphon yaitu 2,074

Panjang saluran transisi :


Bb
2,912 2,074
L
. cot 12,5
.4,510 1,890 m
2
2
A

= . . D2
= . 3,14 . (0,787)2
= 0,486 m2

= . D
= 3,14 . 0,787
= 2,471 m

A
P
0,486
2,471

=
= 0,197 m
Perhitungan Kehilangan Tinggi Energi
A. Mayor Losses
Kehilangan Tinggi Energi Akibat Gesekan Pada Saluran

hf f .

L V2
.
D 2g

V = Kecepatan di siphon

= 1,5 m/dt

L = Panjang siphon

= 20 m

2. g .n2
f
R1 / 3

2 . 9,81. 0,02 2
0,013
0,197 1 / 3
=

D = 0,787 m
hf 0,013 .

20 2,955 2
.
0,147 m
0,787 2 . 9,81

B. Minor Losses

Kehilangan pada Inlet yang diakibatkan perubahan bentuk


Semi Angular Type
2

V
hf f . 2
2g
f

= Koefisien

= 0,25
0,605 2
hf 1 0,25 .
0,005 m
2 . 9,81

= Kecepatan di siphon

= 0,605m/dt

Kehilangan pada Inlet yang diakibatkan transisi


semi angular type
2
2
V V1
hf f . 2
2g

f
V1
V2

= Koefisien
= Kecepatan di saluran
= Kecepatan di siphon

= 0,50
= 0,605 m/dt
= 2,955 m/dt
2,955 2 0,605 2
hf 2 0,50.
0,213 m
2 . 9,81

Kehilangan pada Outlet diakibatkan perubahan bentuk


Semi Angular Type
2

V
hf f . 2
2g
f

= Koefisien

= 0,25
hf 1 0,25 .

= Kecepatan di siphon

= 2,955 m/dt

Kehilangan pada Outlet yang diakibatkan transisi


Bell mouth type

2,955 2
0,111 m
2 . 9,81

ho 2

f
V1
V2

= Koefisien
= Kecepatan di saluran
= Kecepatan di siphon

V
f.

2
2

V1
2g

= 0,20
= 0,605 m/dt
= 2,955 m/dt
2,955 2 0,605 2
ho 2 0,2.
0,085 m
2 . 9,81

Kehilangan Energi Akibat Kisi Penyaring


S
C .
b
0,15
1,8 .

0,175

4
3

. sin
4
3

. sin 45 o

=
= 1,036

Keterangan:
hf
V
g
c

s
b

: kehilangan tinggi energi (m)


: kecepatan melalui kisi-kisi (m/dt)
: percepatan gravitasi, m/dt2 (9,81)
: koefisien kisi penyaring
: faktor bentuk (1,8 untuk jeruji bulat)
: tebal jeruji (m)
: jarak bersih antar jeruji (m)
: sudut kemiringan dari bidang horizontal
0,605 2
hf 1,036.
0,019 m
2 . 9,81

Kehilangan Tinggi Total (Total Head Loss)

= hf mayor losses + hf minor losses


= 0,147 + 0,005 + 0,213 + 0,111 + 0,085 + 0,019
= 0,580 m

Bangunan Talang
Bangunan talang merupakan salah satu bangunan persilangan yang dibangun untuk
mengalirkan debit yang dibawa oleh saluran yang jalurnya terpotong oleh lembah dengan

bentang panjang atau terpotong oleh sungai. Bangunan talang berupa saluran terbuka yang
dipasang membentang dari tebing sisi hulu ke tebing sisi hilir. untuk menyeberangkan debit.
Aliran di dalam talang harus dalam kondisi yang stabil (Fr < 0.7) atau dalam kondisi sub
kritis Berikut ini contoh perhitungan hidraulik bangunan talang:
Data-data :

Debit saluran (Qmaksimum)

2.88 m3/dt

Kedalaman aliran di saluran =

1.27 m (sebelum bangunan talang)

Elevasi dasar saluran

+13.17 (sebelum bangunan talang)

Elevasi muka air di saluran

+14.44 (sebelum bangunan talang)

Panjang bentang talang L

31 m

Koefisien Strickler k

70

Kecepatan aliran v di dalam talang direncanakan 1.5 m/dt, sehingga luas penampang basah
talang menjadi :

Q 2.88

1.92.m 2
v
1.5

Lebar dasar talang menjadi :


A=Bxh
1.92 m2 = B x 1.27, sehingga B = 1.51 m
Kemiringan dasar bangunan talang yang diperlukan bisa dihitung dengan rumus kecepatan
aliran menurut Strickler :

v k .R 2 / 3 .i1 / 2

v
i
2/3
k .R

atau

Sedangkan :
P=B+2h
= 1.51 + (2 x 1.27)
= 4.05 m
R = A/P
= 1.92 / 4.05
= 0.47 m

Sehingga :

v
i
2/3
k .R

1.5
i
2/3
70.(0.47)

i = 0.0013
Bilangan Froude menjadi :

Fr

v
g .h

1.5
9.81.(1.27)
= 0.42 < 0.70 ok.

Kehilangan energi pada bagian peralihan antara saluran dan bagian talang dihitung dengan
rumus :

H masuk 0.20(vtalang vsaluran) 2 / 2 g


H masuk 0.20(1.5 0.46) 2 / 2 g
= 0.011 m
Elevasi muka air di talang bagian hulu = elevasi muka air di saluran
= +14.44 0.011 = 14.13
Elevasi dasar talang bagian hulu = elevasi muka air talang kedalaman aliran
= +14.13 1.27 = +13.16
Elevasi muka air di talang hilir = elevasi muka air talang hulu (i x L)
= +14.43 (0.0013 x 31) = +14.38
Elevasi dasar talang bagian hilir = elevasi muka air talang hilir kedalaman aliran
= +14.38 1.27 = +13.11

H keluar 0.40(vtalang vsaluran) 2 / 2 g


H keluar 0.40(1.5 0.46) 2 / 2 g
= 0.022 m

H keluar
Elevasi muka air di saluran hilir = elevasi muka air talang hilir
= +14.38 0.022 = +14.36
Elevasi dasar saluran hilir = elevasi muka air saluran hilir kedalaman aliran

= +14.36 1.27 = +13.09


Kehilangan energi total di talang manjadi :

H ixL H masuk H keluar


= (0.0013 x 31) + 0.011 + 0.022 = 0.073 dibulatkan 0.08 m
Berikut ini potongan memanjang bangunan talang.
Gambar 4. Potongan memanjang bangunan talang
+13.17
+13.16
+13.11
+13.09
+14.36
+14.38
+14.43
+14.44
i = 0.0013
1.27 m
1.27 m
1.27 m
L = 31 m
abutment
abutment

pilar

Bangunan Terjun
Bangunan terjun dibangun untuk mengatasi kemiringan medan yang terlalu curam,
sementara kemiringan yang dibutuhkan oleh saluran tergolong landai. Bangunan terjun
biasanya dibangun pada daerah yang kondisi topografinya memiliki kelerengan yang curam.
Ada 4 bagian dari bangunan terjun yaitu :

Bagian pengontrol, berada di hulu sebelum terjunan, berfungsi untuk mencegah


penurunan muka air yang berlebihan.

Bagian pembawa, berfungsi sebagai penghubung antara elevasi bagian atas dengan
bagian bawah.

Peredam energi, berfungsi untuk mengurangi energi yang dikandung oleh aliran
sesudah mengalami terjunan sehingga tidak berpotensi merusak konstruksi
bangunan terjun.

Perlindungan dasar bagian hilir, berfungsi untuk melindungi dasar dan dinding
saluran dari gerusan air sesudah mengalami terjunan.
Bagian Pengontrol
Bagian ini terletak sebelah hulu (sebelum terjunan), dengan adanya bagian pengontrol
ini, maka penurunan muka air yang berlebihan bisa dicegah. Ada 2 alternatif
mekanisme untuk mengendalikan muka air di bagian hulu, yaitu :

Memperkecil luas penampang basah.

Memasang ambang (sill) dengan permukaan hulu miring.


Untuk saluran yang kandungan sedimennya tinggi disarankan tidak memasang
ambang (sill), karena akan mempercepat sedimentasi di saluran bagian hulu.

Bagian Pembawa
Bagian ini berupa terjunan dengan bentuk terjunan tegak (vertikal) atau terjunan
miring. Jika beda tinggi (tinggi terjunan) lebih dari 1.5 m, maka bagian pembawa
berupa terjunan miring, jika beda tinggi (tinggi terjunan) kurang dari 1.5 m maka
dipakai bangunan terjun tegak (vertikal).
Peredam Energi
Peredam energi berfungsi untuk mengurangi potensi kerusakan akibat energi yang
terkandung dalam aliran, sehingga tidak merusak konstruksi bangunan terjun. Tipe
peredam energi yang akan dipilih tergantung dari bilangan Froude yang terjadi di
dalam aliran.

Berikut ini tipe peredam energi berupa kolam olakan USBR :


1. Kolam Olak USBR Type I

untuk bilangan Fr < 1.7

2. Kolam Olak USBR Type II

untuk bilangan Fr > 4.5

3. Kolam Olak USBR Type III

untuk 4.5 < Fr < 13

4. Kolam Olak USBR Type IV

untuk 2.5 < Fr < 4.5

Perlindungan Dasar
Segera sesudah aliran mengalami terjunan, kecepatan aliran tergolong masih tinggi
meskipun sudah dipasang bangunan peredam energi, sehingga masih diperlukan

perlindungan dasar saluran yang biasanya berupa pasangan bronjong (gabion) untuk
menghindari gerusan pada dasar saluran atau pada dinding saluran.
Berikut ini contoh perhitungan hidraulik bangunan terjun :
Pada suatu saluran irigasi akan dibangun bangunan terjun karena kondisi topografi yang
curam. Ddata-data dari saluran tersebut antara lain :

Debit rencana Q

7.57 m3/dt

Lebar dasar B

5.77 m

Kedalaman aliran y1

1.65 m

Kemiringan dasar saluran i

0.00014

Kemiringan dinding m

1.5 (sisi horizontal)

Koefisien Strickler k

42.5

Kondisi saluran banyak mengangkut sedimen.

Beda tinggi antara muka air di hulu dan hilir (terjunan ) z = 1.61 m

Kedalaman aliran sesudah terjunan y2 = 1.65 m.

Disyaratkan pada saat terjadi Q70, tidak diperbolehkan terjadi penurunan air.

Berikut ini sketsanya :

Gambar 5. Sketsa bangunan terjun


Tentukan dimensi bagian pengontrol.
Jawab :
Dibuat terlebih dulu kurva hubungan antara debit Q dengan kedalaman aliran y untuk
saluran tersebut.

Bagian pengontrol berupa penyempitan lebar dasar dengan penampang segi empat.
Besar Q70% = 70 % x Q rencana = 70% x 7.57 = 5.30 m3/dt
Kedalaman aliran berkaitan dengan debit Q70%, diplot di kurva ketemu y70 = 1.357 m
Maka :

A70

= B. y70 + m. y702

(5.77 x 1.36) + (1.5 x 1.362) = 10.59 m2

v70

= Q70% / A70

5.30 / 10.59 = 0.50 m/dt

1.357 + (0.502/2 x 9.81) = 1.37 m

H70

= y70 + v70 /(2g)

Untuk bagian pengontrol hubungan antara Q ~ H ditentukan dari humus berikut :

Q Cd 2 / 3 (2 / 3 g ) .B.H 1.5
Cd = 0.93 + 0.1 (H70/L)
L = panjang bagian pengontrol ( L = 1.5 m)
Untuk L = 1.50 m, maka pada saat Q70% :
Cd70 = 0.93 + 0.1 ( 1.37 / 1.50) = 1.021, sehingga lebar dasar bisa
dicari :
Q Cd 2 / 3 (2 / 3 g ) .B.H 1.5
5.3 1.021(2 / 3) (2 / 3 g ) .B.(1.37 )1.5
, maka B = 1.90 m

Gambar 6. Denah Bagian pengontrol