Anda di halaman 1dari 14

Definisi perikanan

Berdasarkan ketentuan dalam Pasal (1) ayat (1) UndangUndang No. 31 Tahun 2004, perikanan dikatakan sebagai
semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan
dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya,
mulai dari pra-produksi, produksi, pengolahan sampai
dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem
bisnis perikanan. Kata pengelolaan dalam definisi ini bisa
dikatakan
sebagai
mengatur
pemanfaatan
atau
pengambilan (manajemen atau pengelolaan sumberdaya
alam ialah usaha pemanfaatan sumberdaya untuk
mencapai kesejahteraan generasi sekarang dan yang akan
datang)

Aktifitas perikanan sangat beragam dan berbeda antara


satu lokasi dengan lokasi lainnya.
Sebagai aktifitas primer, perikanan dibedakan kedalam
aktifitas penangkapan (capture fisheries) dan budidaya
(culture fisheries atau aquaculture).
Berdasarkan tempatnya, perikanan tangkap dibedakan
menjadi perikanan laut (marine capture fisheries) dan
perikanan darat (inland fisheries).
Dalam statistik, perikanan perairan umum digunakan untuk
menjelaskan perikanan darat (inland fisheries).
Perikanan Budidaya sering dibedakan berdasarkan
kombinasi lokasi kegiatan dengan bentuk usaha budidaya.
Di Indonesia, perikanan budidaya dibagi berdasarkan
kategori: Budidaya Laut (Marine Culture), Budidaya Tambak
(Brackish Water Culture), Kolam (Pond Culture), Karamba
(Cage Culture), Mina Padi (Rice-Cum Fish Culture) dan
Sawah Tambak.

Sumberdaya Ikan
Sumberdaya ikan terdiri dari ikan pelagis dan
ikan demersal, dimana,
ikan pelagis mencakup ikan pelagis besar dan
ikan pelagis kecil yang hidup di pemukaan laut
atau didekatnya (Djatikusumo 1975, Merta et al.
1998) Ikan pelagis yang banyak terdapat di
wilayah perairan dekat pantai adalah pelagis
kecil, misalnya teri, kembung, laying, selar dan
bentong (Merta et al 1998).

Sedangkan ikan demersal


Merupakan kelompok ikan yang hidup di dasar atau
dekat dasar perairan, dimana beberapa speciesnya
merupakan species ikan karang yang mempunyai nilai
ekonomis penting, yakni bambangan (Lutjanidae),
kerapu (Serranidae), Baronang (Siganidae) ekor kuning
(caesionidae) serta species-species ikan hias seperti
napoleon (Labridae) dan ikan konsumsi lainnya
(Aoyama 1973, Badrudin et al 1998, Djamali et al 1998).
Sumberdaya non ikan
Mengcakup kelompok dari krustase, moluska dan
rumput laut. Indonesia mempunyai lebih dari 83
species udang yang termasuk ke dalam suku
Penaeidae (Crosnier 1984).

ISTILAH-ISTILAH
PERIKANAN TANGKAP

FISHING

FISHING GEAR (ALAT TANGKAP)


FISHING GEAR MATERIAL (BAHAN ALAT TANGKAP)
FISHING BOAT (KAPAL PENANGKAP IKAN)
FISHING GROUND ( TEMPAT GEROMBOLAN IKAN)
FISHING PORT ( PELABUHAN PERIKANAN)
FISHING TECHNIQUE ( CARA OPERASIONAL
KAPAL)

FISHING GEAR

ALAT TANGKAP JARING


ALAT TANGKAP
PANCING
ALAT TANGKAP
DENGAN CAHAYA /
SINAR
ALAT TANGKAP
DENGAN LISTRIK
ALAT TANGKAP
JEBAGAN

FISHING GEAR MATERIALS


SEMUA BAHAN YANG TURUT SERTA MENJADI
SATU KESATUAN YANG MEMBENTUK ALAT
PENANGKAPAN IKAN SECARA LENGKAP
SEHINGGA DAPAT DIGUNAKAN DALAM OPERASI
PENANGKAPAN

ISTILAH DALAM FISHING

FISHING USAHA UNTUK MENANGKAP IKAN DAN HEWAN AKUATIK


LAIN UNTUK TUJUAN EKONOMI DAN EKSPLOITASI
ONE DAY FISHING WAKTU DIMANA PENANGKAPAN HANYA
DILAKUKAN DALAM SATU HARI

FISHING TRIP WAKTU YANG DIPERLUKAN DARI MULAI PERSIAPAN


KE LAUT SAMPAI KE PANGKALAN (TERGANTUNG DARI KEMAMPUAN
PERAHU)

ACTUAL FISHING DAY WAKTU DIMANA PENANGKAPAN BENARBENAR DILAKUKAN MULAI MENEBAR JARING DAN MENARIKNYA

FISHING TACTICS CARA PENANGKAPAN IKAN YANG DISESUAIKAN


DENGAN KELAKUAN IKAN DAN DAERAH PENANGKAPAN

FISHING POWER HASIL TANGKAPAN DARI DENSITAS IKAN DALAM


SATU SATUAN WAKTU

FISHING INTENSITY INTENSITAS PENANGKAPAN YANG


BERHUBUNGAN DENGAN FISHING EFFORT DALAM SUATU AREA
FISHING EFFORT JUMLAH TOTAL ALAT PENANGKAPAN YANG DIPAKAI
DALAM SATU-SATUAN WAKTU
EXPLOITATION FISHING KEGIATAN PENANGKAPAN YANG DILAKUKAN
PADA SUATU DAERAH YANG DAPAT DIBAGI ATAS KEGIATAN
PENANGKAPAN PADA DAERAH YANG BELUM DIKETAHUI DAN KEGIATAN
UNTUK TUJUAN SURVEY
EXPERIMENTAL FISHING PENANGKAPAN PERCOBAAN PADA SUATU
DAERAH YANG SUDAH DIKETAHUI
DEMONSTRATION FISHING KEGIATAN PENANGKAPAN UNTUK
MENYEBARLUASKAN ALAT PENANGKAPAN TERBAIK
SELECTIVITAS FISHING KOMPOSISI DARI PADA HASIL TANGKAPAN
PADA ALAT TERTENTU DITINJAU DARI JENIS DAN UKURAN ALAT

BAHAN JARING
SYARAT UMUM BENANG JARING :

MEMPUNYAI KETAHANAN YANG BESAR / TINGGI


SIFAT HALUS DAN FLEKSIBEL
MEMPUNYAI VISIBILITAS YANG TINGGI
PANJANG YANG CUKUP
SEDIKIT MENYERAP AIR
TAHAN TERHADAP KEBUSUKAN / TIDAK CEPAT RUSAK
SIFAT TRANSPARAN YANG CUKUP (SUPAYA TIDAK TERLIHAT
OLEH IKAN)

KLASIFIKASI SERAT
1. SERAT ALAM (NATURAL FIBRE) :
a. SERAT SELULOSE : KAPAS & RAMI
b. SERAT PROTEIN : RAMBUT KUDA
RAMBUT UNTA
WOOL & SUTERA
c. SERAT MINERAL : ASBES
2. SERAT BUATAN (SYNTHETIC FIBRE) :
a. POLYAMIDE : NYLON
b. POLYHIDROKARBON : POLYETHYLEN
POLYPROPILIN
c. POLYHIDROKARBON YANG DISUBSTITUSIKAN DENGAN HALOGEN :
# SARAN (POLYVINILIDEN CHLORIDA)
# VINILON (POLYVINIL ALKOHOL)
d. POLYHIDROKARBON YANG DISUBSTITUSIKAN DENGAN HIDRIKSIL :
VINILON

PERBEDAAN
No.

VEGETABLE FIBRE

SYNTHETIC FIBRE

1.

MUDAH BUSUK

SUKAR BUSUK

2.

TERDIRI DARI STAPLE FIBRE

TERDIRI DARI CONTINUES


FILAMEN

3.

TIDAK DIPENGARUHI OLEH SINAR


MATAHARI

ADA BEBERAPA YANG


DIPENGARUHI OLEH SINAR
MATAHARI

4.

KURANG KUAT

LEBIH KUAT

5.

MENYERAP AIR

SEDIKIT / TIDAK SAMA SEKALI

6.

TIDAK MENCAIR

MENCAIR PADA SUHU TERTENTU

7.

DALAM PROSES PEMBUATANNYA


TERGANTUNG PADA KONDISI FISIK
LINGKUNGAN

TIDAK TERGANTUNG MUSIM DAN


DAPAT DIPRODUKSI SECARA
MASSAL / BESAR

8.

TIDAK BEGITU MULUR

LEBIH MULUR

MENURUT BENTUKNYA :
1.

SERAT DENGAN SISIK PERMUKAAN


- RAMBUT KUDA
- RAMBUT UNTA, WOOL

2.

SERAT DENGAN TANDA MELINTANG DAN


PENGGELEMBUNGAN YANG JELAS : RAMI, HENEP,
FLAX

3.

SERAT DENGAN DENGAN PUNTIRAN : KAPAS,


SUTERA

4.

SERAT-SERAT LAIN YAITU SERAT YANG


TERMASUK DI ATAS.