Anda di halaman 1dari 4

Pembahasan

Pada praktikum kali ini yaitu dilakukan pengujian kualitatif terhadap


sebuah produk jamu yang memiliki merek dagang tawon. Pengujian kualitatif
ini akan dilakukan dengan menggunakan metode sats-otto-gang. Dimana stat-ottogang itu sendiri merupakan metode pemisahan suatu zat aktif atau senyawa dalam
sediaan farmasi dari campuran matriks atau disebut juga dengan ekstraksi. Cara
analisis metode stas-otto-gang didasarkan pada pembagian senyawa kedalam fase
air dan fase yang tak tercamourkan dengan air, yakni fase organik. Pemisahan
sebagian besar campuran obat yang dilakukan dengan membaginya hanya
kedalam dua pelarut tidaklah cukup, pemisahan baru akan mantap jika diterapkan
kedua dari stas-otto-gang yaitu yang menyangkut penyangkutan ataupun
penguraian garam. Prinsip ini menyangkut kelarutan garam lebih bersifat hidrofil,
sedangkan asam atau basanya lebih lipofil. Kebasaan ataupun keasaman larutan,
serta keragaman sifat lipofil pelarut memungkinkan pemisahan lebih lanjut.
Langkah pertama yang dilakukan dalam identifikasi senyawa kimia dalam
sediaan jamu adalah pemisahan atau sering disebut dengan ekstraksi. Dimana
terlebih dahulu sampel ditimbang sebanyak 300 mg, kemudian dilarutkan dalam 5
ml aquadest, kemudian difiltrasi terlebih dahulu supaya proses ekstraksi tidak
terbentuk 3 fase. Setelah itu larutan jamu di cek pH nya dan pH yang di dapat
haruslah netral. Apabila pH jamu belum netral maka perlu ditambahkan NaHCO3
8%. Pada larutan jamu sampel kami memiliki pH netral sehingga tidak perlu
dilakukan penambahan NaHCO3 8%. Setelah itu kemudian larutan jamu di
tambahkan aquadest sampai volume 10 ml, lalu ditambahkan H2SO4 3N fungsi
penambahan H2SO4 3N adalah untuk membuat larutan jamu memiliki sifat asam
yaitu memiliki pH 1. Pengguanaan asam sulfat ini karena asam sulfat merupakan
asam organic kuat akan lebih mendesak kembali disosiasi obat yang besifat asam;
sama halnya dengan asam tartrat yang kadang-kadang ditambahkan. Yang tak
terekstraksi adalah asam organic bergugus hidrofil, misalnya asam tartat itu
sendiri, asam sitrat, berbagai asam amino, dan berbagai asam sulfonat. Tahap ini
adalah tahap pembentukan garam asam organik, berbagai jenis fenol dan zat netral
dalam suasana asam dapat diekstraksi dengan eter.

Kemudian proses ECC dilanjutkan dengan mencampurkan pelarut organik


yang memiliki sifat kepolaran berbeda dengan air yaitu mengunakan eter yang
bersifat non polar. Pada ECC ini dilakukan triplo hal ini dilakukan untuk
mengoptimalkan proses ekstraksi, supaya semua senyawa kimia dapat tertarik
sempurna oleh eter. Eter yang ditambahkan pada proses ECC ini sebanyak 15 ml.
hasil dari ECC ini yaitu berupa 2 campuran yang tidak saling menyatu karena
beda kepolaran dan berat jenis. Pada campuran ini fase air berada di bawah dan
fase eter berada di atas, hal ini terjadi karena air memiliki berat jenis yang lebih
besar dibadingkan dengan eter. Kemudian kedua campuran tersebut dipisahkan
antara fraksi air dan fraksi eter.
Kemudian pada fraksi eterdi basakan dengan 5 ml NaOH dan dilakukan
ekstraksi secara triplo. Pengocokan fraksi 1B daengan larutan NaOH atau larurtan
basa menyebabkan berbagai asam karbonat dan fenol masuk ke fase air dalam
bentuk garamnya, sedangkan dalam eter tertinggal berbagai zat netral yang
kelarutrannya tak dipengaruhi basa. Fase eter yang diperoleh dengan cara tersebut
dinyatakan sebagai fraksi IB. kemudian Fraksi air diasamkan kembali dengan
H2SO4 3N dan diekstraksi dengan 15 ml dan dilakukan triplo, kemudian dikocok
diperoleh dua faase yaitu fase eter dan fase air. fraksi IA yaitu fraksi eter yang
mengandung asam, berbagai fenol, dan senyawa yang dengan basa dari eter
masuk kedalam fase air. Kemudian untuk fraksi IA dapat dilakukan dengan
menggaramkan asam karbonat dengan larutan natrium bikarbonat dalam air
sedangkan fenol baru dpat digaramkan dengan alkali hidroksida.
Pada ekstrasksi dengan menggunakan eter dan penambahan asam sulfat
pada pemisahan fraksi 1, bukan hanya senyawa yang bersifat basa yang akan
tertinggal dalam fase air dan akan larut sebagai sulfat, tetapi dengan berbagia
asam, fenol dan senyawa netral yang sukar larut dalam eter.
Kemudian pada fase air yang diperoleh pada proses ekstraksi pertama kali,
fase air tersubut di ubah menjadi netral dengan menambahkan larutan NaHCO3
dan larutan asam tartat sampai pH 4-5 kemudian diekstraksi dengan menggunakan
kloroform sebanyak 15 ml dan dilakukan triplo. Dari proses ekstraksi ini
menghasilkan 2 fase yaitu fase air dan fase kloroform dalam suasana asam. Pada

fraksi II mengandung asam karbonat, fenol, senyawa netral yang larut dalam
klorofom serta berbagai basa lemah. Kemudian pada fase air dibasakan dengan
menambahkan NaOH 3 N sampai pH > 10. Basa akan dibebaskan yang kemudian
dapat diekstraksi dengan eter sebanyak 15 ml. dari proses ekstraksi tersebut
didapatkan larutan dengan 2 fase yaitu fase air dan fase eter. Dimana fraksi eter
adalah fraksi III yaitu fraksi eter dalam suasana basa. Pada tahap ini fenol tidak
dapat diekstraksi dari fase Na-alkali, sehingga harus dilakukan tahap selanjutnya
Kemudian pada fase air, diasamkan dengan asam sulfat 3 N dan NH4OH 6 N
sampai pH mencapai 9, lalu diekstrasksi dengan 15 ml kloroform-isopropanol
(3:1). Amoniak adalah basa lemah yang dengan fenol membentuk fenolat yang
larut dalam air. Pada pH 9 basa fenol dapat melarut paling baik dalam pelarut
organic dapat digunakan pelarut organic kloroform : isopropanol (3:1) dan
diperoleh fraksi IV dan fraksi V yaitu fase air (fraksi IV) dan fase kloroform
suasana amoniak. (fraksi V). pada fraksi IV yaitu fase air akan tertinggal senyawa
yang tak dapat dipisahkan dengan klorofom, sedangkan dalam Fraksi V ini akan
terdapat asam hidrofil ( misalnya asam hidroksilat dan asam sulfonat).
Setelah proses ekstrasi selesai dengan ditandai diperolehnya 5 fraksi, maka
tahap selanjutnya adalah menguapkan ke-5 fraksi tersebut dengan menggunakan
cawan uap. Kemudian Kristal yang terbentuk dilarutkan dngan menggunakan
pelarut methanol. Kemudian dari ke-5 larutan fraksi tersebut dilakukan uji
kualitatif dengan menggunakan berbagasi pereaksi yaitu

zweeker, FeCl 3,

libermen burchard, sulfuric acid, murexid. Dari ke-5 fraksi hanya terdapat 1 fraksi
yang positif mengandung senyawa kimia yaitu pada fraksi 1A yang positif
mengandung na-diklofenak. Hal ini membuktikan bahwa dalm jamu cap tawon
tersebut mengandung senyawa kimia yaitu na-diklofenak.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
1.

Metode pemisahan atau ekstraksi dapat dilakukan dengan metode stasotto-gang dimana metode ini akan memisahkan senyawa dari campuran

matriknya, didasarkan pada pembagian senyawa kedalam fase air dan fase
yang tak tercampurkan dengan air, yakni fase organik.
2.

Pada jamu tradisional yang memiliki merek dagang tawon mengandung


zat kimia yaitu Na-diklofenak yang terdapat pada fraksi 1A.
DAFTAR PUSTA

Basset, J. dkk. 1994. Vogel Kimia Analisis Kualitatif Organik. Edisi 4. Penerbit
buku kedokteran. Jakarta
Buhler,Volker. 1998. Generic Drug Formulations. BASF Fine Chemicals.
Raymond C Rowe, Paul J Sheskey and Sin C Owen.2006. Handbook of
Pharmaceutical Excipients Fift Edition. Pharmaceutical Press.