Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA KLIEN


DEWASA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Komunikasi Keperawatan

Disusun oleh:
1.
2.
3.
4.

Dwi Agustin
Elfrida Dwiki F.
Robi Siti Nurjanah
Rosy Azizah Rizki

NIM: P07120111009
NIM: P07120111010
NIM: P07120111031
NIM: P07120111032

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
2012

KATA PENGANTAR

Pertamatama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah


SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua
sehingga makalah tentang Komunikasi Terapeutik pada Klien Dewasa ini dapat
selesai tepat pada waktunya. Makalah ini disusununtuk memenuhi tugas mata
kuliahKomunikasi Keperawatan.
Makalah ini dapat terselesaikan karena adanya bantuan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu, penyusun mengucapkan terima kasih kepada:
1. Maria H. Bakri, SKM, M.Kes. selaku Ketua Jurusan Keperawatan
Politeknik Kesehatan Yogyakarta.
2. Sri Hendarsih, S.Kp., M.Kes. selaku dosen pembimbing mata kuliah
Komunikasi Keperawatan.
3. Teman-teman yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sekalian sangat
penyusun harapkan.

Yogyakarta, April 2012


Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................................i
KATA PENGANTAR...............................................................................................ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah............................................................................1
B. Tujuan.......................................................................................................2
C. Manfaat.....................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................3
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.
K.
L.
M.

Pengertian Komunikasi...............................................................................
Komunikasi terapeutik.................................................................................
Tujuan Komunikasi Terapeutik ....................................................................
Manfaat Komunikasi Terapeutik .................................................................
Syarat-syarat Komunikasi Terapeutik .........................................................
Sikap Komunikasi Terapeutik......................................................................
Bentuk Komunikasi Terapeutik....................................................................
Hambatan Komunikasi Terapeutik...............................................................
Pengertian dewasa......................................................................................
Komunikasi dengan dewasa........................................................................
Materi komunikasi pada dewasa.................................................................
Suasana komunikasi pada dewasa.............................................................
Model komunikasi yang paling tepat diterapkan pada dewasa....................

BAB III STUDI KASUS............................................................................................


Data Pengkajian......................................................................................................
Tinjauan Kasus.......................................................................................................

Tabel Pengkajian............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................
LAMPIRAN.............................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk mempengaruhi tingkah laku
manusia, sehingga komunikasi dikembangkan dan dipelihara secara terusmenerus. Komunikasi bertujuan untuk memudahkan,melaksanakan, kegiatankegiatan tertentu dalam rangka mencapai tujuan optimal,baik komunikasi
dalam lingkup pekerjaan maupun hubungan antar manusia Kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi Bidang Kedokteran dan Keperawatan serta
perubahan konsep perawatan dari perawatan orang sakit secara individual
kepada

perawatan

paripurna

serta

peralihan

dari

pendekatan

yang

berorientasi medis penyakit kemodel penyakit yang berfokus pada orang yang
bersifat pribadi menyebabkan komunikasi menjadi lebih penting dalam
memberikan asuhan keperawatan. Perawat dituntut untuk menerapkan model
komunikasi yang tepat dan disesuaikan dengan tahap perkembangan pasien.
Pada orang dewasa mereka mempunyai sikap, pengetahuan dan
keterampilan yang lama menetap dalam dirinya sehingga untuk merubah
perilakunya sangat sulit. Oleh sebab itu perlu kiranya suatu model komunikasi
yang tepat agar tujuan komunikasi dapat tercapai dengan efektif. Bertolak dari
hal tersebut penulis membuat makalah yang mencoba menerapkan model
konsep komunikasi yang tepat pada dewasa.
B. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian komunikasi
2. Untuk mengetahui komunikasi terapeutik
3. Untuk mengetahui tujuan komunikasi terapeutik
4. Untuk mengetahui manfaat komunikasi terapeutik
5. Untuk mengetahui syarat-syarat komunikasi terapeutik
6. Untuk mengetahui sikap komunikasi terapeutik
7. Untuk mengetahui bentuk komunikasi terapeutik
8. Untuk mengetahui hambatan komunikasi terapeutik
9. Untuk mengetahui pengertian dewasa
10. Untuk mengetahui komunikasi dengan dewasa
11. Untuk mengetahui materi komunikasi pada dewasa
12. Untuk mengetahui suasana komunikasi pada dewasa
13. Untuk mengetahui model komunikasi yang paling tepat diterapkan pada
dewasa
C. Manfaat Penulisan
1. Bagi mahasiswa :
a. Dapat mengetahui pengertian komunikasi

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.

Dapat mengetahui komunikasi terapeutik


Dapat mengetahui tujuan komunikasi terapeutik
Dapat mengetahui manfaat komunikasi terapeutik
Dapat mengetahui syarat-syarat komunikasi terapeutik
Dapat mengetahui sikap komunikasi terapeutik
Dapat mengetahui bentuk komunikasi terapeutik
Dapat mengetahui hambatan komunikasi terapeutik
Dapat mengetahui pengertian dewasa
Dapat mengetahui komunikasi dengan dewasa
Dapat mengetahui materi komunikasi pada dewasa
Dapat mengetahui suasana komunikasi pada dewasa
Dapat mengetahui model komunikasi yang paling tepat diterapkan pada

dewasa
2. Bagi masyarakat umum
a. Dapat menambah ilmu pengetahuan
b. Dapat mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan komukasi pada
dewasa

BAB II
DASAR TEORI

A. Pengertian Komunikasi
Komunikasi adalah suatu hubungan atau kegiatan kegiatan yang
berkaitan dengan masalah hubungan atau dapat diartikan sebagai saling tukar
menukar pendapat serta dapat diartikan hubungan kontar antara manusia baik
individu maupun kelompok (Widjaja, 1986:13).
Komunikasi adalah elemen dasar dari
memungkinkan

seseorang

untukmenetapkan,

interaksi

manusia

yang

mempertahankan,

dan

meningkatkan kontak dengan orang lain (Potter & Perry,2005:301).


Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk mempengaruhi tingkah
laku manusia, sehingga komunikasi dikembangkan dan dipelihara secara
terus menerus. Komunikasi bertujuan untuk memudahkan, melancarkan,

melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu dalam rangka mencapai tujuan


optimal, baik komunikasi dalam lingkup pekerjaan maupun hubungan antar
manusia.
B. Komunikasi terapeutik
Pengertian Komunikasi Terapeutik Istilah komunikasi berasal dari bahasa
inggris yaitu Communication. Kata communucation itu sendiri berasal dari
kata latin communication yang artinya pemberitahuan atau pertukaran ide,
dengan

pembicara

mengharapkan

pertimbangan

atau

jawaban

dari

pendengarnya (Suryani, 2005). Terapeutik merupakan kata sifat yang


dihubungkan dengan seni dari penyembuhan (As Hornby dalam intan, 2005).
Maka disini dapat diartikan bahwa terapeutik adalah segala sesuatu yang
memfasilitasi proses penyembuhan. Sehingga komunikasi terapeutik itu
adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu
penyembuahan/pemulihan

pasien.

Komunikasi

terapeutik

merupakan

komunikasi profesional bagi perawat.


C. Tujuan Komunikasi Terapeutik
Dengan memiliki keterampilan berkomunikasi terapeutik, perawat akan
lebih mudah menjalin hubungan saling percaya dengan klien, sehingga akan
lebih efektif dalam mencapai tujuan asuhan keperawatan yang telah
diterapkan, memberikan kepuasan profesional dalam pelayanan keperawatan
dan akan meningkatkan profesi.
Tujuan komunikasi terapeutik (Purwanto, 1994) adalah :
1. Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan
dan fikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang
ada bila pasien percaya pada hal yang diperlukan.
2. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang
efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.

3. Memengaruhi orang lain, lingkungan fisik, dan dirinya sendiri.


D. Manfaat Komunikasi Terapeutik
Manfaat komunikasi terapeutik (Christina, dkk, 2003):
1. Mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dengan pasien
melalui hubungan perawat-klien.

2. Mengidentifikasi, mengungkapkan perasaan, dan mengkaji masalah serta


mengevaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat.

E. Syarat-syarat Komunikasi Terapeutik


Stuart dan Sundeen (dalam Christina, dkk 2003) mengatakan ada 2
persyaratan dasar untuk komunikasi terapeutik efektif :
1. Semua komunikasi harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi
maupun penerima pesan

2. Komunikasi yang diciptakan saling pengertian harus dilakukan terlebih


dahulu sebelum memberikan sarana, informasi maupun masukan.
F. Sikap Komunikasi Terapeutik
1. Berhadapan. Artinya dari posisi ini adalah, Saya siap untuk Anda.
2. Mempertahankan kontak mata.
3. Membungkuk ke arah klien. Posisi ini menunjukkan keinginan untuk
mengatakan atau mendengar sesuatu.
4. Mempertahankan sikap terbuka, tidak melipat kaki atau tangan. Hal ini
menujukkan keterbukaan untuk berkomunikasi.
5. Tetap rileks. Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara kettegangan
dan relaksasi dalam memberi respons kepada klien.
G. Bentuk Komunikasi Terapeutik
Bentuk komunikasi terdiri dari komunikasi verbal dan non verbal (Potter
dan Perry dalam Christina, dkk.,2003) :
1. Komunikasi verbal
Komunikasi verbal mempunyai

karakteristik

jelas

dan

ringkas.

Pembendaharaan kata mudah dimengerti, mempunyai arti denotatif dan


konotatif, intonasi mempengaruhi isi pesan, kecepatan bicara yang
memiliki tempo dan jeda yang tepat.
Syarat komunikasi verbal:
a. Jelas dan ringkas
Komunikasi berlangsung efektif, sederhana, pendek dan langsung.
Makin sedikit kata-kata yang digunakan, makin kecil terjadi
kerancuan. Ulang bagian yang penting dari pesan yang disampaikan.
Penerima pesan perlu mengetahui apa, mengapa, bagaimana,
kapan, siapa, dan di mana. Ringkas dengan menggunakan kata-kata
yang mengekspresikan ide secara sederhana.

b. Pembendaharaan Kata
Penggunaan

kata-kata

yang

mudah

dimengerti

oleh

pasien.

Komunikasi tidak akan berhasil jika pengirim pesan tidak mampu


menerjemahkan kata dan ucapan.

c. Arti denotatif dan konotatif


Perawat harus mampu memilih kata-kata yang tidak banyak
disalahtafsirkan, terutama sangat penting ketika menjelaskan tujuan

terapi, terapi dan kondisi klien. Arti denotatif memberikan pengertian


yang sama terhadap kata yang digunakan, sedangkan ati konotatif
merupakan perasaan, pikiran, atau ide yang terdapat dalam suatu
kata.

d. Intonasi Nada
Suara pembicaraan mempunyai dampak yang besar terhadap arti
pesan yang dikirimkan karena emosi seseorang dapat secara
langsung mempengaruhi nada suaranya.

2. Komunikasi non Verbal


Komunikasi non verbal berdampak yang lebih besar dari pada komunikasi
verbal. Stuart dan Sundeen dalam suryani, (2006) meengatakan bahwa
sekitar 7 % pemahaman dapat ditimbulkan karena kata-kata, sekitar 30%
karena bahasa paralinguistik dan 55% karena bahasa tubuh. Komunikasi
non verbal dapat disampaikan melalui beberapa cara yaitu :
a. Penampilan fisik
Penampilan fisik perawat mempengaruhi persepsi klien terhadap
pelayanan keperawatanyang diterima. Adapun contohnya adalah
cara berpakaian, dan berhias menunjukan kepribadiannya.
b. Sikap Tubuh dan Cara Berjalan
Perawat dapat menyimpulkan informasi yang bermanfaat dengan
mengamati sikap tubuh dan langkah klien.langkah dapat dipengaruhi
olehfaktor fisik, seperti rasa sakit, obat dan fraktur
c. Ekpresi wajah
Hasil penelitian menunjukan enam keadaan emosi utama yang
tampak melalui ekspresi wajah, terkejut, takut,marah, jijik bahagia
dan sedih. Ekspresi wajah sering digunakan sebagai dasar peenting
dalam menentukan pendapat interpersonal.
d. Sentuhan Kasih sayang,
dukungan emosional, dan perhatian diberikan melalui sentuhan.
Sentuhan merupakan bagian penting dalam hubungan perawat-klien,
namun harus memperhatikan norma sosial.
e. Metakomunikasi
Komunikasi tidak hanya tergantung pada pesan tetapi juga pada
hubungan

antara

pembicara

dengan

lawan

bicaranya.

Metakomunikasi adalah suatu komentar terhadap isi pembicaraan


dan sifat hubungan antara yang berbicara, yaitu pesan di dalam
pesan yang menyampaikan sikap dan perasaan pengirim terhadap
pendengar. Contoh: tersenyum ketika sedang marah.

H. Hambatan Komunikasi Terapeutik


1. Resisten
Upaya klien untuk tetap tidak menyadari aspek penyebab ansietas yang
dialaminya. Resisten sering merupakan akibat dari kertidaksediaan klien
untuk berubah ketika kebutuhan untuk berubah telah dirasakan. Perilaku
resisten biasanya diperliahatkan oleh klien selama fase kerja, karena fase
ini sangat banyak berisi proses penyelesaian masalah.
2. Transferens
Respons tidak sadar dimana klien mengalami perasaan dan sikap terhadap
perawat yang pada dasarnya terkait dengan tokoh dalam kehidupannya di
masa lalu. Sifat yang paling menonjol adalah ketidaktepatan respons klien
dalam intensitas dan penggunaan mekanisme pertahanan pengisaraan
(displecement) yang maladaptif.
3. Kontertransferens
Kebuntuan terapeutik yang dibuat oleh perawat bukan oleh klien.
Kontertransferens merujuk pada respons emosionel spesifik oleh perawat
terhadap klien yang tidak tepat dalam isi maupun konteks hubungan
terapeutik atau ketidaktepatan dalam intensitas emosi. Reaksi ini biasanya
berbentuk salah satu dari tiga jenis reaksi sangat mencintai, reaksi sangat
bermusuhan atau membenci dan reaksi sangat cemas sering kali
digunakan sebagai respons terhadap resisten klien.
Untuk menghadapi hambatan komunikasi terapeutik, perawat harus
siap untuk mengungkapakan perasaan emosional yang sangat kuat dalam
konteks hubungan perawat-klien (Hamid,1998). Awalnya, perawat harus
mempunyai pengetahuan tentang hambatan komunikasi terapeutik dan
mengenali perilaku yang menunjukkan adanya hambatan tersebut.

I.

Pengertian dewasa
Usia dewasa dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:
1. Dewasa Dini ( 18 tahun - 40 tahun )
Pada periode dewasa awal, penampilan dan kesehatan fisik mencapai
puncaknya dan periode yang sama penurun penampilan, kekuatan dan

kesehatan fisik pun mulai menurun. penampilan, kekuatan dan kesehatan


fisik dicapai pada periode permulaan dewasa awal dan menurun pada
akhir dewasa awal. dan puncak efisiensi fisik biasanya dicapai pada usia
pertengahan duapuluhan dan sesudah mana menjadi penurunan lambat
laun hingga awal usia 40-an. Kekhasan tingkah laku kognitif, orang
dewasa yang matang perkembangan kognitifnya lebih sistematis dalam
memecahkan masalah.
2. Dewasa Madya ( 40 tahun - 60 tahun )
Pada usia setengah baya kemampuan kognitif yang menurun adalah
kemampuan

mengingat,

berpikir,

mekanisme

yang

memerlukan

kecepatan dan keakuratan input melalui panca indra agar dapat


mengamati gerak, perbedaan, perbandingan dan pengelompokan atau
pengkategorian. Tentu saja tidak semua orang dewasa pertengahan
makin meningkat kemampuan kognitif pemecahan masalah.
Kondisi yang merumitkan penyesuaian diri terhadap perubahan pola
keluarga pada usia madya adalah perubahan fisik, hilangnya peran
sebagai orangtua, kurangnya persiapan, perasaan kegagalan, merasa
tidak berguna lagi, kekecewaan terhadap perkawinan dan merawat
anggota keluarga berusia lanjut.
3. Dewasa Akhir ( 60 - meninggal )
Perubahan fisik bukan lagi pertumbuhan tetapi pergantian dan
perbaikan sel sel tubuh. Pertumbuhan dan reproduksi sel sel
menurun, oleh karena itu peristiwa penurunan pertumbuhan dan
reproduksi sel sel menyebabkan terjadi banyak kegagalan pergantian
sel sel yang rusak, lamanya penyembuhan apabila lansia menderita
sakit. Orang yang sudah tua menjadi pelupa, reaksi terhadap rangsangan
yang semakin lamban.
J. Komunikasi dengan dewasa
Menurut Erikson 1985,pada orang dewasa terjadi tahap hidup intimasi VS
isolasi, dimana pada tahap ini orang dewasa mampu belajar membagi
perasaan cinta kasih,minat,masalah dengan orang lain. Orang dewasa sudah
mempunyai sikap-sikap tertentu,pengetahuan tertentu, bahkan tidak jarang
sikap itu sudah sangat lama menetap pada dirinya, sehingga tidak mudah
untuk merubahnya. Juga pengetahuan yang selama ini dianggapnya benar

dan bermanfaat belum tentu mudah digantikan dengan pengetahuan baru jika
kebetulan tidak sejalan dengan yang lama. Tegasnya orang dewasa bukan
seperti gelas kosong yang dapat diisikan sesuatu. Oleh karena itu dikatakan
bahwa kepada orang dewasa tidak dapat diajarkan sesuatu untuk merubah
tingkah lakunya dengan cepat. Orang dewasa belajar kalau ia sendiri dengan
belajar, terdorong akan tidak puas lagi dengan perilakunya yang sekarang,
maka menginginkan suatu perilaku lain dimasa mendatang, lalu mengambil
langkah untuk mencapai perilaku baru itu.
K. Materi komunikasi pada dewasa
a. Pekerjaan dan tugas: pembagian tugas,
b. deskripsi kerja dan transaksi kerja
c. Kegiatan kerumahtanggaan: pembagian

tugas

dalam

keluarga,

pendidikan terhadap anak


d. Kegiatan profesional: pembagian kerja
e. Kegiatan sosial: hubungan sosial, peran dan tugas sosial
L. Suasana komunikasi pada dewasa
a. Suasana hormat menghormati
Orang dewasa akan mampu berkomunikasi dengan baik apabila
pendapat pribadinya dihormati, ia lebih senang kalau ia boleh turut berfikir
dan mengemukakan pikirannya.
b. Suasana saling menghargai
Segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan, sistem nilai yang dan
mengesampingkan harga kendala dalam jalannya dianut perlu dihargai.
Meremehkan diri mereka akan dapat menjadi komunikasi.
c. Suasana saling percaya
Saling mempercayai bahwa apa yang disampaikan itu benar adanya akan
dapat membawa hasil yang diharapkan.
d. Suasana saling terbuka
Terbuka untuk mengungkapkan diri dan terbuka untuk mendengarkan
orang lain. Hanya dalam suasana keterbukaan segala alternatif dapat
tergali.
M. Model komunikasi yang paling tepat diterapkan pada dewasa

Model konsep komunikasi yang tepat dan dapat diterapkan pada klien
dewasa adalah model komunikasi interaksi King dan model komunikasi
kesehatan.
Model King memberikan penekanan pada proses komunikasi antara
perawat - klien. King menggunakan sistem perspektif untuk menggambarkan
bagaimana profesional kesehatan (perawat) untuk memberi bantuan kepada
klien. Pada dasarnya model ini meyakinkan bahwa interaksi perawat - klien
secara simultan membuat keputusan tentang keadaan mereka dan tentang
orang lain dan berdasarkan persepsi mereka terhadap situasi.
Komunikasi kesehatan adalah komunikasi yang difokuskan pada
transaksi antara professional kesehatan - klien. 3 (tiga) faktor utama dalam
proses komunikasi kesehatan yaitu Relationship, Transaksi, dan konteks
Kedua model tadi cocok diterapkan pada klien dewasa karena pada
kedua model komunikasi ini menunjukkan hubungan relationship yang
rnemperhatikan karakteristik dari klien dan melibatkan pengirim dan penerirna,
serta adanya umpan balik untuk mengevaluasi tujuan komunikasi.

BAB III
STUDI KASUS

Hari, tanggal
Jam
Oleh
Sumber data
Tempat
Metode

: Kamis, 19 April 2012


: 15.00 WIB
: Rosy Azizah Rizki
: Klien
: Rumah Ibu Purwanti
: Wawancara

A. Tahap Prainteraksi
1.
Mengumpulkan data tentang klien.

2.

Nama Klien
Umur
Alamat
Pekerjaan
Agama

: Ny. Purwanti
: 48 tahun
: Ngangkruk, Caturhajo, Sleman, Yogyakarta
: PNS
: Islam

Jenis kelamin
Pendidikan
Suku

: Perempuan
: S1
: Jawa

Masalah yang dihadapi klien


Ibu Purwanti berumur 48 tahun, Beliau adalah seorang guru Ekonomi
di sebuah SMA di Jawa Tengah. Beliau mengeluh sering pusing ketika
beliau banyak pikiran dan banyak pekerjaan. Selain itu, beliau juga
menyatakan sering pusing setelah mengkonsumsi makanan yang memicu
hipertensi, misalnya; makanan yang bersantan.
Namun, Beliau menyatakan belum pernah periksa ke dokter. Beliau
hanya meminta bantuan pada anaknya untuk mengukur tekanan
darahnya. Jika tekanan darahnya naik, beliau mengkonsumsi makanan
yang dapat menurunkan tekanan darah, misalnya:mentimun, melon, dan
semangka.
Bila beliau merasa belum teratasi pusingnya, beliau konsultasi kepada
adik perempuannya yang seorang perawat. Saudara perempuan Ibu
Purwanti ini menganjurkan untuk mengkonsumsi obat penurun tekanan
darah, yaitu captopril. Setelah mengkonsumsi obat tersebut, tekanan
darahnya turun, tetapi menimbulkan efek samping yakni merasa serakserak di tenggorokan. Lalu, beliau menghentikan mengkonsumsi obat

tersebut.
3.
Membuat rencana pertemuan dengan klien.
Kegiatan : Wawancara
Waktu
: 20 April 2012
Tempat : Rumah Ibu Purwanti
B. Tahap Orientasi
1.
Memberikan salam dan tersenyum pada klien.
2.
Melakukan validasi (kognitif, psikomotor dan afektif: biasanya
3.
4.
5.
6.
7.
8.

pada pertemuan lanjutan)


Memperkenalkan nama perawat
Menyakan nama panggilan klien
Menjelaskan peran perawat dan klien
Mengatakan tujuan dan mengingatkan kontrak waktu
Berjanji menjaga kehasiaan klien
Menjelaskan kegiatan

C. Tahap Kerja

1.
2.
3.
4.
5.

Memberikan kebebasan klien mengekspresikan perasaannya


Menanyakan cara koping klien.
Menyimpulkan permaslahan klien
Memberikan saran sekaligus memberikan pujian terhadap hal baik
yang dilakukan klien
Memberikan kesempatan kepada klien untuk bertanya

D. Tahap Terminal
1.
Evaluasi perasaan klien
2.
Evaluasi hasil
3.
Mengakhiri komunikasi dan membuat rencana tindak lanjut
E. Dimensi respon / perilaku non verbal minimal yang perlu ditunjukkan:
1.
Berhadapan
2.
Mempertahankan kontak mata
3.
Tersenyum pada saat yang tepat
4.
Membungkuk kea rah klien pada saat yang diperlukan
5.
Mempertahankan sikap terbuka ( tidak bersedekap,
memasukkan tangan ke kantung atau melipat kaki ).

Tabel Dialog
Fase
Orientas
i

Tindakan
Memperkenalkan
mengatakan
tujuan

diri, P
dan

Dialog
: Selamat malam Ibu. Ibu perkenalkan
saya Rosi mahasiswa Poltekkes jogja,

mengingatkan kontrak waktu.


(Ras:
menambah
kepercayaan klien serta klien
dapat leluasa lebih siap
dalam
mengungkapkan
perasaan)

yang kemarin sudah membuat janji


dengan Ibu untuk bertemu. Nah, Nanti
kita akan membahas lebih dalam
tentang masalah Ibu, tujuannya agar
masalah Ibu jelas sehingga saya
dapat
memberikan
saran
atau
alternatif
yang
tepat
untuk
menyelesaikan
masalah
Ibu.
Bagaimana sudah siap?
K

Berjanji menjaga kehasiaan P


pasien. (Ras: agar pasien
tanpa ragu mengungkapkan
perasaannya)

:Oh iya Mbak..saya sudah siap..


: Maaf ya Bu sebelumnya, Ibu tenang
saja, saya akan menjaga kerahasiaan
segala sesuatu yang ibu sampaikan
nanti..untuk
itu,
silahkan
Ibu
sampaikan saja segala sesuatu yang
ingin Ibu ceritakan,.bagaimana Ibu?

K : Iya mbak,.terima kasih.


Kerja

Memberikan kebebasan klien P : Ya silahkan Ibu bisa mulai


mengekspresikan
menyampaikan masalah Ibu,
perasaannya. (Ras: dengan
klien dapat mengungkapkan K : Jadi gini Mbak, saya itu sering pusing
perasaan
yang
kalau terlalu banyak pikiran, selain itu
dipendamnya, klien akan
jika saya makan makanan yang
lebih merasa lega dan kita
banyak santannya.
dapat merumuskan saran
yang tepat)
P : Oh begitu,sejak kapan ibu merasakan
hal itu?
K

: Sejak satu bulan terakhir ini mbak,


saya sering pusing pusing begini, dan
sudah saya titeni,
kalau banyak
pikiran pasti seperti ini e..banyak
kerjaan gitu lo mbak..

P : Apa ibu pernah periksa ke dokter?


K

: Belum mbak,.saya biasanya nyuruh


anak saya untuk mengukur tekanan
darah saya dan setelah ditensi
memang tekanan darah saya naik. Ya
saya pikir saya kena hipertensi mbak.

P : Oh..begitu ya Bu, tekanan darah Ibu


biasanya berapa Bu?
K : Biasanya hanya 120/80 tapi kalau pas

merasa pusing jadi 130/90 kadang


bisa sampai 160/90
P :Hm.. Apakah dahulu di keluaga Ibu ada
yang mempunyai penyakit hipertensi?
K : Tidak e mbak..di keluarga saya tidak
ada
yang
punya
riwayat
hipertensi,.malah sehat-sehat saja
kok orang jaman dulu ki.
Menanyakan cara koping
klien.
(Ras:
untuk
mengetahui kemampuan dan
hal yang telah dilakukan
klien. Selain itu juga untuk
merumuskan saran yang
tepat)

: Lalu usaha apa yang sudah ibu


lakukan
untuk
menangani
hal
tersebut?

K : Saya tanya kepada adik saya yang


perawat
mengenai
obat
yang
biasanya untuk orang darah tinggi itu
apa, dan dia menyarankan untuk
minum obat captopril,trus saya beli
obat itu di apotek, tetapi ternyata saya
tidak cocok minum obat itu,.
P : Hm..Tidak cocok bagaimana Bu?
K : Iya mungkin saya alergi obat Mbak,
setelah saya minum obat itu,
teggorokan saya serak-serak..
P

: Apakah Ibu masih melanjutkan


meminum obat itu?

: Tidak Mbak,ya dari pada membuat


saya sakit..

P : Lalu usaha lain apa yang Ibu lakukan?


K

Termina
si

Menyimpulkan permaslahan
klien (Ras: agar kita tidak
salah
dalam
menginterprestasikan
masalah klien maupun dalam
memberi saran )

: Saya biasanya makan semangka,


melon atau mentimun mbak, istirahat
dan
mengurangi
beban
pikiran..disamping itu, saya suruh
anak saya untuk memantau tekanan
darah saya.
P : Hm.. jadi ibu sering sakit kepala ketika
ibu banya pikiran, dan kemungkinan
hipertensi gitu ya bu?
K

:Iya Mbak..dan juga setelah


mengkonsumsi
makanan
yang
memicu hipertensi.

P : Oh ya..Dan usaha yang ibu lakukan


yaitu mengkonsumsi makanan yang
dapat menurunkan tekanan darah.

Memberikan saran sekaligus


memberikan pujian terhadap
hal baik yang dilaukan klien.
(ras:
pujian
dapat
meningkatkan kepercayaan
diri klien sehingga akan
berusaha lebih baik lagi)

K : Iya Mbak, sering makan semangka,


timun atau ,melon.
P : Baik Bu,usaha yang Ibu lakukan tadi
sudah
baik
ya
Bu,..dengan
mengkonsumsi buah buahan seperti
melon, semangka atau mentimun
dapat menurunkan tekanan.
K : Iya mbak, terima kasih
P

: Tapi Ibu, akan lebih baik lagi jika Ibu


coba periksa ke dokter dulu, dan jika
memang ibu ada alergi terhadap obat,
nanti Ibu bisa mencoba obat
alami..Tapi untuk memastikan saja
lebih
baik
Ibu
periksa
ke
dokter,apakah Ibu sakit hipertensi
atau bukan. Jika memang hipertensi,
Ibu
juga
bisa
mengkonsumsi
makanan yang rendah garam.
: Oh iya Mbak, besok saya akan
mencoba periksa ke dokter untuk
memastikan...Wah tapi saya biasanya
suka makana yag asin e Mbak..

P : Nah..gini aja bu, Ibu periksa ke dokter


untuk
memastikannya,
dan
selanjutnya kalau memang hipertensi,
Ibu bisa mengkonsumsi makanan
rendah garam.
K : Hm..Iya Mbak..
Memberikan
kesempatan P: Baiklah Bu, ada yang ingin Ibu
kepada klien untuk bertanya.
tanyakan lagi?
(Ras: dengan memberikan
kesempatan bertanya, untuk K : Tidak Mbak, terima kasih
memgetahui bahwa klien
paham dengan solusi yang
diberikan dan tidak ada
masalah yang mengganjal
klien)
Evaluasi perasaan klien. (ras:

P:

Hm..Bagaimana

perasaan

Ibu

dengan mengevaluasi kita


sekarang?
dapat
mengetahui
keberhasilan komunikasi kita K: Jadi lebih lega kok Mbak. sekali lagi
terhadap klien)
terima kasih.
Evaluasi
hasil P: Alhamdulillah kalau begitu. Jadi untuk
(Menyimpulkan permasalah
memastikan saja, sebaiknya Ibu
dan solusi yang dipilih oleh
periksa ke dokter, dan jika memang
klien).
penyakit
hipertensi
Ibu
bisa
(Ras: dengan menyimpulkan
mengkonsumsi
makanan
rendah
kita
dapat
memastikan
garam.
bahwa
klien
dapat
memahami dan menerima
K : Iya Mbak, saya paham kok..
solusi kita)
Mengakhiri komunikasi dan P: Baiklah Ibu, terima kasih karena ada
membuat rencana tindak
sudah percaya kepada saya. Ibu
lanjut.
(Ras:
dengan
sudah mau menceritakan masalah Ibu
membuat rencana tindak
kepada saya. Kalau ada sesuatu yang
lanjut
kita
dapat
ingin
ditanyakan
Ibu
bisa
mengevaluasi
keefektifan
menghubungi saya dan lain waktu
solusi
yang
telah
kita mungkin bisa bertemu lagi untuk
dilaksanakan oleh klien)
mengevaluasi
hasilnya
ataupun
merencanakan tindakan selanjutnya.
Semoga saran saya bermanfaat untuk
Ibu.
K: Iya mbak sama-sama.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang
memungkinkan seseorang untuk menetapkan, mempertahankan, dan
meningkatkan kontak dengan orang lain.
2. Komunikasi terapeutik itu adalah komunikasi yang direncanakan dan
dilakukan untuk membantu penyembuahan/pemulihan pasien.
3. Usia dewasa dibagi menjadi tiga tahap, yaitu dewasa dini ( 18 tahun - 40
tahun ), dewasa madya ( 40 tahun - 60 tahun ) dan dewasa akhir ( 60 meninggal )
4. Model konsep komunikasi yang tepat dan dapat diterapkan pada klien
dewasa adalah model komunikasi interaksi King dan model komunikasi
kesehatan.
5. Dibutuhkan ketrampilan dalam berkomunikasi dengan dewasa karena
Orang dewasa sudah mempunyai sikap-sikap tertentu dan pengetahuan
tertentu sehingga kepada orang dewasa tidak dapat diajarkan sesuatu
untuk merubah tingkah lakunya dengan cepat.

B. Saran
Saat berkomunikasi dengan dewasa, perawat sebaiknya lebih
pandai untuk menggali perasaan klien karena klien dewasa cenderung
menutup-nutupi masalah yang dihadapinya.

DAFTAR PUSTAKA

Arif.

2007.
Komunikasi
Dewasa.
http://arifolution.multiply.com/journal/item/50/Komunikasi_Dewasa?
&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem. Diunduh tanggal 20 April 2012.

Devita. I. 2008. Batas Usia Dewasa. http://irmadevita.com/2008/batas-usiadewasa. Diunduh tanggal 20 April 2012.
Gaskins. J.P. 2010. Komunikasik Keperawatan pada Tingkat Usia Dewasa.
http://jrpatrickgaskins.blogspot.com/2010/09/komunikasi-keperawatan-padatingkat.html. Diunduh tanggal 20 April 2012.
Iveh.
2009.
Komunikasi
pada
Klien
Dewasa.
http://iveh91.blogspot.com/2009/11/komunikasi-pada-klien-dewasa.html.
Diunduh tanggal 20 April 2012.
Joesafira.
2010.
Tahap
Perkembangan
pada
Usia
Dewasa.
http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/05/tahap-perkembangan-pada-usiadewasa.html. Diunduh tanggal 20 April 2012.
Musliha dan Siti Fatmawati. 2010. Komunikasi Keperawatan. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Puspitasari. A.S. 2010. Komunikasi Keperawatan pada Klien Dewasa.
http://catatancalonperawat.blogspot.com/2010/11/komunikasi-keperawatanpada-klien.html. Diunduh tanggal 20 April 2012.
Santoso, Nugroho Iman. 1989. Hubungan Antara Perawat dan Pasient. Jakarta:
Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan RI.