Anda di halaman 1dari 18

METODE PENELITIAN

Efektivitas Madu dalam Mempercepat Penyembuhan Luka

Bakar

Pembimbing :
DR.dr. Anwar Watik Prakitnya, Phd

Oleh:
Robby Aji Aryadillah

2010730095

Hadyan Rahmat

2010730044

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
Jakarata Selatan
2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan Kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, karunia dan
kasih sayangNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Efektivitas
Madu dalam Penyembuhan Luka Bakar dengan baik dan lancar. Makalah ini diajukan
sebagai salah satu persyaratan untuk mengikuti pendidikan Program dokter Universitas
Muhammadiyah Jakarta Makalah ini dapat terselesaikan atas dukungan, bantuan dan
bimbingan dari banyak pihak. Untuk itu perkenankanlah peneliti mengucapkan terimakasih
kepada:
1. DR. dr. Anwar Watik Pratiknya Phd selaku dosen pembimbing
2. Rekan-rekan seperjuangan Mahasiswa Program Dokter Universitas Muhammadiyah Jakarta
3. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah membantu,

Yang telah memberikan semangat dan mendoakan peneliti hingga terselesaikannya Makalah
ini. Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan baik dari isi maupun
tulisan. Oleh sebab itu kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan demi
kesempurnaan Makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Jakarta, Januari 2012

Kelompok 2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................................2
DAFTAR ISI.........................................................................................................................................3
BAB I....................................................................................................................................................4
PENDAHULUAN.................................................................................................................................4
1.1

Latar Belakang Masalah........................................................................................................4

1.2

Rumusan Masalah..................................................................................................................4

1.3

Tujuan Masalah......................................................................................................................4

1.4

Manfaat Penelitian.................................................................................................................4

BAB II...................................................................................................................................................5
PEMBAHASAN...................................................................................................................................5
2.1 Kajian Pustaka.............................................................................................................................5
a.

Definisi dan etiologi luka bakar..........................................................................................5

b.

Derajat luka bakar...............................................................................................................5

c.

Penatalakasanaan luka bakar konvensional......................................................................5

2.2 Kerangka Teoritis......................................................................................................................5


2.3 Ringkasan dan Kerangka Berfikir...........................................................................................5
2.4

Hipotesis...............................................................................................................................6

BAB III..................................................................................................................................................7
METODOLOGI PENELITIAN............................................................................................................7
3.1

Rancangan Penelitian..........................................................................................................7

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian.......................................................................................................7


3.3 Subjek Penelitian.........................................................................................................................7
3.4. Pengumpulan Data......................................................................................................................7
3.5. Analisis Data...............................................................................................................................8
BAB IV.................................................................................................................................................9
PENUTUP.............................................................................................................................................9
4.1

Kesimpulan...........................................................................................................................9

4.2

Saran.....................................................................................................................................9

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Luka bakar atau combusio adalah kasus emergency yang sering ditemukan dalam
dunia kedokteran. Etiologi dari luka bakar dapat terjadi karena factor thermal, kimia, listrik
dan radiasi. Untuk itu luka bakar di klasifikasikan menjadi beberapa derajat sesuai dengan
luas dan dalamnya luka bakar. Dalam kasus emergency seperti ini berbeda dengan
penanganan kasus non emergency seperti penyakit pada umumnya. Dalam penanganan
pertama pasien dengan luka bakar khusunya derajat 3-4 maka perlu dilakukannya primary
survey dan secondary survey. Dalam pembagian luas luka bakar ada istilah rules of nine,
tujuannya adalah menentukan seberapa derajat dan keparahan luka bakar, sehingga berbeda
derajat berbeda pula penanganan. Penatalaksanaan pada luka bakar tergantung dari derajat
keparahan luka bakar, semakin cepat penanganan maka akan menurunkan risiko komplikasi
dan kecacatan hingga kematian.
Penyembuhan luka bakar membutuhkan waktu yang tidak sebentar sehingga
meningkatkan risiko kecacatan yang sangat tinggi sehingga diperlukan terapi yang dapat
mempercepat penyembuhan luka bakar, maka dari itu kami mencoba meneliti sejauh mana
efektifitas madu dalam mempercepat penyembuhan luka bakar.

1.2 Rumusan Masalah


Apakah madu dapat mempercepat penyembuhan luka bakar?
1.3 Tujuan Masalah
Untuk mengetahui apakah madu dapat mempercepat penyembuhan luka bakar.
1.4 Manfaat Penelitian
Dengan penelitian ini diharapkan pemanfaatan madu untuk pengobatan luka bakar
menjadi salah satu terapi pilihan untuk pengobatan luka bakar

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kajian Pustaka


2.1.1 Definisi dan etiologi luka bakar
Luka bakar adalah luka yang di sebakan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api,air
panas,listrik,bahan kimia dan radiasi; juga oleh sebab kontak dengan suhu rendah,luka bakar
ini bisa menyebabkan kematian ,atau akibat lain yang berkaitan dengan problem fungsi
maupunestetika.(KapitaSelektakedokteranedisi3jilid2).
Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan
petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam (Ilmu Bedah RSUD
Dr.Soetomo,2001.
Combustio adalah luka yang disebabkan oleh trauma termis, listrik, bahan kimia, dan
radiasi yang mengenai kulit maupun jaringan bawah kulit . ( Djohansjah Marzoeki, M.
Taufiek, M. Sjaifuddin Noer, Luka Bakar (Combustio) Pedoman Diagnosa dan Terapi
Lab/UPFIlmuBedahRSUDDr.Soetomo,Surabaya,1994)
Etiologi dari luka bakar yaitu:

Luka bakar suhu tinggi


- Gas
- Cairan
- Bahan padat luka bakar sengatan listrik
Bahan kimia
Luka baka radiasi.
2.1.2 Derajat luka bakar
Berdasarkan American Burn Association's, Luka bakar diklasifikasikan berdasarkan
kedalaman,luas permukaan, dan derajat berat ringannya luka bakar.
A. Berdasarkan kedalamannya
a. Luka bakar derajat I (superficial burns)
Luka bakar derajat ini terbatas hanya sampai lapisan epidermis. Gejalanya berupa
kemerahan pada kulit akibat vasodilatasi dari dermis, nyeri, hangat pada perabaan dan
pengisian kapilernya cepat. Pada derajat ini, fungsi kulit masih utuh. Contoh dari luka bakar
derajat 1 adalah bila kulit terpapar oleh sinar matahari terlalu lama atau tersiram air panas.
Proses penyembuhan terjadi sekitar 5-7 hari. Luka bakar derajat ini tidak menghasilkan

jaringan parut, dan pengobatannya bertujuan agar pasien merasa nyaman dengan
mengoleskan soothing salves dengan atau tanpa gel lidah buaya.
b. Luka bakar derajat II ( partial thickness burns)
Luka bakar derajat ini merupakan luka bakar yang kedalamannya mencapai batas
dermis. Bila luka bakar ini mengenai sebagian permukaan dermis (superficial partial
thickness). Lukabakar derajat II superficial ini tampak eritema, nyeri, pucat jika ditekan, dan
ditandai adanya bulla berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh darah karena
permeabilitas dindingnya meningkat. Luka ini mereepitelisasi dari struktur epidermis yang
tersisa pada rete ridge, folikel rambut dan keringat dalam 7-14 hari secara spontan. Setelah
penyembuhan, luka bakar ini dapat memiliki sedikit perubahan warna kulit dalam jangka
waktu yang lama.
Luka bakar derajat II yang mengenai bagian reticular dermis (deep partial thickness)
tampak lebih pucat, tetapi masih terasa nyeri jika di tusuk dengan jarum (pin prick test). Luka
bakar ini sembuh dalam 14-35 hari dengan reepitelisasi dari folikel rambut, dan keratinosit
kelenjar keringat, seringkali parut berat muncul sebagai akibat dari hilangnya dermis.
c. Luka bakar derajat III (full-thickness)
Kedalaman luka bakar ini mencapai seluruh dermis dan epidermis sampai ke lemak
subkutan. Luka bakar ini ditandai dengan eskar yang keras, tidak nyeri, dan warnanya hitam,
putih atau merah ceri. Tidak ada sisa epidermis ataupun dermis sehingga luka harus sembuh
dengan reepitelisasi dari tepi luka. Full thickness memerlukan eksisi dengan skin grafting.
d. Luka bakar derajat IV
Luka bakar derajat ini hingga mencapai organ di bawah kulit seperti otot, dan tulang.
LUAS LUKA BAKAR
Wallace membagi tubuh atas bagian bagian 9 % atau kelipatan dari 9 terkenal
dengan nama Rule of Nine atau Rule of Wallace.
Kepala dan leher - 9 %
Lengan - 18 %
Badan Depan - 18 %
Badan Belakang - 18 %
Tungkai - 36 %
Genitalia/perineum - 1 %
Total 100 %
KRITERIA BERAT RINGANNYA
(American Burn Association)
1. Luka Bakar Ringan.
-

Luka bakar derajat II <15 %


Luka bakar derajat II < 10 % pada anak anak
Luka bakar derajat III < 2 %

2. Luka bakar sedang


-

Luka bakar derajat II 15-25 % pada orang dewasa


Luka bakar II 10 20 5 pada anak anak
Luka bakar derajat III < 10 %

3. Luka bakar berat


-

2.1.3

Luka bakar derajat II 25 % atau lebih pada orang dewasa


Luka bakar derajat II 20 % atau lebih pada anak anak.
Luka bakar derajat III 10 % atau lebih
Luka bakar mengenai tangan, wajah, telinga, mata, kaki dan genitalia/perineum.
Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain.

Penatalakasanaan luka bakar konvensional?

Prehospital
Hal pertama yang harus dilakukan jika menemuikan pasien luka bakar di tempat
kejadian adalah menghentikan proses kebakaran. Maksudnya adalah membebaskan pasien
dari pajanan atau sumber dengan memperhatikan keselamatan diri sendiri. Kemudian
lepaskan semua bahan yang dapat menahan panas (pakaian, perhiasan, logam), hal ini untuk
mencegah luka yang semakin dalam karena tubuh masih terpajan dengan sumber. Bahan yang
meleleh dan menempel pada kulit tidak boleh dilepaskan. Air suhu kamar dapat disiramkan
ke atas luka dalam waktu 15 menit sejak kejadian,namun air dingin tidak boleh diberikan
untuk mencegah terjadinya hipotermia dan vasokonstriksi.
Resusitasi jalan napas
Resusitasi jalan napas bertujuan untuk mengupayakan suplai oksigen yang adekuat.
Pada luka bakar dengan kecurigaan cedera inhalasi, tindakan intubasi dikerjakan sebelum
edema mukosa menimbulkan manifestasi obstruksi Sebelum dilakukan intubasi, oksigen
100% diberikan menggunakan face mask. Intubasi bertujuan untuk mempertahankan patensi
jalan napas, fasilitaspemeliharaan jalan napas (penghisapan sekret) dan bronchoalveolar
lavage. Krikotiroidotomi masih menjadi diperdebatkan karena dianggap terlalu agresif dan
morbiditasnya lebih besar dibandingkan intubasi. Krikotiroidotomi dilakukan pada kasus
yang diperkirakan akan lama menggunakan endotracheal tube (ETT) yaitu lebih dari 2
minggu pada luka bakar luas yang disertai cedera inhalasi.
Kemudian dilakukan pemberian oksigen 2-4 L/menit melalui pipa endotrakeal. Terapi
inhalasi mengupayakan suasana udara yang lebih baik di saluran napas dengan cara uap air
menurunkan suhu yang menigkat pada proses inflamasi dan mencairkan sekret yang kental
sehingga lebih mudah dikeluarkan. Terapi inhalasi dengan Ringer Laktat hasilnya lebih baik
dibandingkan NaCl 0,9%. Dapat juga diberikan bronkodilator bila terjadi bronkokonstriksi
seperti pada cedera inhalasi yang disebabkan oleh bahan kimiawi dan listrik. Pada cedera
inhalasi perlu dilakukan pemantauan gejala dan tanda distres pernapasan. Gejala dan tanda

berupa sesak, gelisah, takipnea, pernapasan dangkal, bekerjanya otot-otot bantu pernapasan,
dan stridor. Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan adalah analisa gas darah serial dan
foto toraks.
Resusitasi cairan
Syok pada luka bakar umum terjadi dan merupakan faktor utama berkembangnya
SIRS dan MODS.
Tujuan resusitasi cairan pada syok luka bakar adalah:

Preservasi perfusi yang adekuat dan seimbang di seluruh pembuluh vaskuler


regional sehingga tidak terjadi iskemia jaringan
Minimalisasi dan eliminasi pemberian cairan bebas yang tidak diperlukan
Optimalisasi status volume dan komposisi intravaskuler untuk menjamin
survival seluruh sel
Minimalisasi respon inflamasi dan hipermetabolik dan mengupayakan
stabilisasi pasien secepat mungkin kembali ke kondisi fisiologis.

Jenis cairan
Terdapat tiga jenis cairan secara umum yaitu kristaloid (isotonik), cairan hipertonik
dan koloid.
Larutan kristaloid
Larutan kristaloid terdiri dari cairan dan elektrolit. Contoh larutan kristaloid adalah
Ringer laktat dan NaCl 0,9%. Komposisi elektrolit mendekati kadarnya dalam plasma atau
memiliki osmolalitas hampir sama dengan plasma. Pada keadaan normal, cairan ini tidak
banya dipertahankan di ruang intravaskuler karena cairan ini banyak keluar ke ruang
interstisial. Pemberian 1L Ringer laktat akan meingkatkan volume intravaskuler 300 ml.

Larutan hipertonik
Larutan hipertonik dapat meningkatkan volume intravaskuler 2,5 kali dan
penggunaannya dapat mengurangi kebutuhan cairan kristaloid.Larutan garam hipertonik
tersedia dalam beberapa konsentrasi yaitu NaCl 1,8%, 3%, 5%, 7,5% dan 10%. Osmolalitas
cairan ini melebihi cairan intraseluler sehingga akan cairan akan berpindah dari intraseluler
ke ekstravaskuler. Larutan garam hipertonik meningkatkan volume intravaskuler melalui
mekanisme penarikan cairan dari intraseluler.
Larutan koloid
Contoh larutan koloid adalah Hydroxy-ethyl starch (HES, Hetastarch, Hespan,
Hemacell) dan Dextran. Molekul koloid cukup besar sehingga tidak dapat melintasi membran
kapiler, oleh karena itu sebagian besar akan tetap dipertahankan di ruang intravaskuler. Pada
luka bakar dan sepsis, terjadi peningkatan permeabilitas kapiler sehingga molekul akan
berpindah ke ruang interstisium. Hal ini akan memperburuk edema interstisium yang ada.
HES merupakan suatu bentuk hydroxy-substituted amilopectin sintetik, HES berbentuk
larutan 6% dan 10% dalam larutan fisiologik. T1/2 dalam plasma selama 5 hari, tidak bersifat
toksik, memiliki efek samping koagulopati namun umumnya tidak menyebabkan masalah
klinis.HES dapat memperbaiki permeabilitas kapiler dengan cara menutup celah interseluler
pada lapisan endotel sehingga menghentikan kebocoran cairan, elektrolit dan protein.
Penelitian terakhir mengemukakan bahwa HES memiliki efek antiinflamasi dengan
menurunkan lipid protein complex yang dihasilkan oleh endotel, hal ini diikuti oleh perbaikan
permeabilitas kapiler. Efek antiinflamasi ini diharapkan dapat mencegah terjadiinya SIRS.
Pemberian cairan menurut formula Parkland adalah sebagai berikut:
Pada 24 jam pertama : separuh jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya
diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada bayi, anak, dan orang tua, kebutuhan cairan adalah
4ml. Bila dijumpai cedera inhalasi maka kebutuhan cairan 4ml ditambah 1% dari
kebutuhan.Bila dijumpai hipertermia, kebutuhan cairan ditambah 1% dari kebutuhan
Penggunaan zat vasoaktif (Dopamin atau Dobutamin) dengan dosis 3 mg/kgBB dengan
titrasiatau dilarutkan dalam 500ml Glukosa 5%, jumlah teteasan dibagi rata dalam 24 jam.
Pemantauan untuk menilai sirkulasi sentral melalui tekanan vena sentral (minimal
612cmH2O) dan sirkulasi perifer (sirkulasi renal). Jumlah produksi urin melalui kateter,
saatresusitasi (0,5-1ml/kgBB/jam)

dan hari1-2 (1-2 ml/kgBB/jam).

Jika produksi

urin<0,5ml/kgBB/jam maka jumlah cairan ditingkatkan 50% dari jam sebelumnya. Jika
produksiurin >1ml/kgBB/jam maka jumlah cairan dikurangi 25% dari jam sebelumnya.
Pemeriksaan fungsi renal (ureum, kreatinin) dan urinalisis (berat jenis dan sedimen)
Pemantauan sirkulasi splangnikus dengan menilai kualitas dan kuantitas cairan lembung

melalui pipa nasogastrik. Jika <200ml tidak ada gangguan pasase lambung, 200-400ml
adagangguan ringan, >400ml gangguan berat.
Perawatan luka
Perawatan luka dilakukan setelah tindakan resusitasi jalan napas, mekanisme bernapas
dan resusitasi cairan dilakuakan. Tindakan meliputi debridement, nekrotomi dan pencucian
luka. Tujuan perawatan luka adalah mencegah degradasi luka dan mengupayakan proses
epitelisasi. Untuk bulla ukuran kecil tindakannya konservatif sedangkan untuk ukuran besar
(>5cm) dipecahkan tanpa membuang lapis epidermis di atasnya. Untuk eskar yang melingkar
dan mengganggu aliran atau perfusi dilakukan eskarotomi. Pencucian luka dilakukan dengan
memandikan pasien dengan air hangat mengalir dan sabun mandi bayi. Lalu luka dibalut
dengan kasa lembab steril dengan atau tanpa krim pelembab. Perawatan luka tertutup dengan
oclusive dressing untuk mencegah penguapan berlebihan. Penggunaan tulle berfungsi sebagai
penutup luka yang memfasilitasi drainage dan epitelisasi. Sedangkan krim antibiotik
diperlukan untuk mengatasi infeksi pada luka.
Penggunaan antibiotik
Pemberian antibiotik pada kasus luka bakar bertujuan sebagai profilaksis infeksi dan
mengatasi infeksi yang sudah terjadi. Penggunaan antibiotik sebagai profilaksis masih
merupakan suatu kontroversi. Dalam 3-5 hari pertama populasi kuman yang sering dijumpai
adalah bakteri Gram positif non-patogen. Sedangkan hari 5-10 adalah bakteri Gram negatif
patogen. Dalam 1-3 hari pertama pasca cedera, luka masih dalam keadaan steril sehingga
tidak diperlukan antibiotik. Beberapa antibiotik topikal yang dapat digunakan adalah silver
sulfadiazin, povidone-iodine 10%, gentamicin sulfate, mupirocin, dan bacitracin/polymixin.
Eksisi dan grafting
Luka bakar derajat dua dalam dan tiga tidak dapat mengalami penyembuhan spontan
tanpa autografting. Jika dibiarkan, jaringan yang sudah mati ini akan menjadi fokus inflamasi
dan infeksi. Eksisi dini dan grafting saat ini dilakukan oleh sebagian besar ahli bedah karena
memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan debridement serial.

Setelah dilakukan

eksisi, luka harus ditutup, idealnya luka ditutup dengan kulit pasien sendiri. Pada luka bakar
seluas 20-30%, biasanya dapat dilakukan dalam satu kali operasi dengan penutupan oleh
autograft split-thickness yang diambil dari bagian tubuh pasien. Sebagian besar ahili bedah
melakukan eksisi pada minggu pertama, biasanya dalam satu kali operasi dapat dilakukan
eksisi seluas 20%. Eksisi tidak boleh melebihi kemampuan untuk menutup luka baik dengan
autograft, biologic dressing atau allograft.
2.1.4

Sejarah penggunaan madu

Lebah madu telah diketahui ada

Bangsa Mesir Kuno: memelihara

sejak 50 juta th yg lalu


Lukisan karang jaman batu: 6000

lebah madu lebih dari 4000 th, madu

honey

banyak digunakan sbg obat


The Ebers papyrus 1550 SM:

hunting.
Fungsi madu: suplemen makanan,

resep- resep madu untuk pemakaian luar


Madu digunakan untuk pengobatan

seremonial keagamaan, dan sbg obat


Bukti tertua penggunaan madu:

berbagai penyakit dicampur dgn herbal


Campuran digunakan utk terapi

tertulis pd keramik bangsa Samaria, 2000

kebotakan, luka, luka bakar, abses, pereda

SM

nyeri

SM

memperlihatkan

kegiatan

Penggunaan madu untuk infeksi

Penggunaan lain utk pasca bedah,

kulit dan luka/borok/;pengobatan peny

termasuk sunat, supositoria, mengurangi

mata dan telinga


Di Asia: literatur Cina 2000 SM,

peradangan, meredakan kaku sendi

madu bernilai sbg obat yg berharga


2.1.5

Kandungan madu yang dapat berkhasiat pada pengobatan luka bakar?


Fruktosa/Glukosa Fruktosa,
% Glukosa, % Maltosa, %
(sakarida tereduksi)
Sukrosa, % Gula,

Mineral (abu), % Asam


bebas (asam glukonat)
Nitrogen Air, % PH Total
keasaman, meq/kg
Protein, mg/100g
Vitamin:
A
B1 (thiamin)
B2 (riboflavin)
Asam nikotinat (niasin)
B6 (piridoksin)
Asam pantotenat

Asam folat
B12 (sianokobalamin)
C
D
E (tokoferol)
Biotin
Mineral:
Kalsium
Klor
Tembaga (copper)
Yodium
Besi
Magnesium
Fosfor
Kalium
Natrium
Seng

2.2 Kerangka Teoritis

Variable Bebas

Variable Luar

Infeksi

Usia

Nutrisi

Diabetes

(Terapi Madu)

Variable Tergantung
(Penyembuhan luka
Bakar derajat II)

2.3 Ringkasan dan Kerangka Berfikir


Identifikasi Variabel
Variabel Tergantung : Penyembuhan luka bakar derajat II.
Variabel Bebas

: Terapi Madu

Variabel Luar

: - Usia
- Infeksi
- Nutrisi
- Diabetes

Operasionalisasi Hipotesis

Variabel Bebas
Terapi Madu.

Level of Measurement Nominal


Menggunakan madu atau tidak menggunakan madu.
Definisi Operasional
Menggunakan madu sebagai terapi penyembuhan luka bakar derajat II
sebanyak 3 x 1 dalam 1 minggu.
Variabel Luar
Infeksi, usia, nutrisi, dan diabetes.

Level of Measurement Ordinal

Melihat faktor infeksi, usia, nutrisi, dan diabetes yang dapat memperpanjang
penyembuhan luka..

Definisi Operasional
Melihat seberapa jauh pengaruh variabel luar dapat memperpanjang penyembuhan
luka.

Variabel Tergantung
Penyembuhan luka bakar derajat II

Level of Measurement Ratio


Peningkatan waktu penyembuhan luka bakar derajat II dalam satu minggu.

Definisi Operasional
penyembuhan luka bakar derajat II yang diukur berdasarkan waktu penyembuhan
dalam satu minggu.

2.4 Hipotesis
Terapi madu dapat mempercepat penyembuhan luka bakar.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan cara memeberikan perlakuan


(memberikan madu pada bagian luka bakar derajat II) terhadap kelompok perlakuan
(penderita luka bakar derajat II) kemudian melihat hasilnya dalam waktu satu minggu.
Lalu dibandingkan dengan kelompok kontrol (penderita luka bakar derajat II) yang
dilakukan terapi konvensional.
Alasan pemilihan disain eksperimental ini adalah :
1. Jangka waktu penelitian relatif singkat.
2. Dapat menghemat tenaga dan biaya.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Peduli Kasih Pamulang, Tangerang Selatan, Banten.

3.3 Subjek Penelitian


Pasien dengan luka bakar derajat II
Usia pasien 25-30 thn
Diberikan terapi konvensional
30 penderita luka bakar karena terpajan suhu tinggi yang telah menderita selam 3
hari dibagi 2 secara random, 15 penderita sebagai subjek perlakuan dan 15 penderita
sebagai subjek kontrol.

3.4. Pengumpulan Data


Pra-konsumsi
Dilakukan pemeriksaan kondisi luka bakar terhadap penderita luka bakar yang telah
menderita selama 3 hari.

Pasca-konsumsi
Dilakukan pemeriksaan kondisi luka bakar terhadap penderita luka bakar (subjek
penelitian) yang telah diberikan madu terhadap luka bakar mereka.

3.5. Analisis Data


Data subjek perlakuan pra terapi madu.
Nama

Adam

Usi

Kondisi

Luka

27

Buruk

thn
Badu

25

Buruk

thn
Caca

30

Buruk

thn
Dede

28

Buruk

thn
Eman

25

Buruk

thn
Fati

29

Buruk

thn
Galih

27

Buruk

thn
Hadi

27

Buruk

thn
Ian

30

Buruk

thn
Juli

26
thn

Buruk

Kaji

25

Buruk

thn
Leo

29

Buruk

thn
Mani

29

Buruk

thn
N eo

25

Buruk

thn
O pi

30

Buruk

thn

Dari kelompok kontrol pra terapi madu.


Nama

Usia

Kondisi
Luka

Pare

27

Buruk

thn
Qisti

25

Buruk

thn
Refa

30

Buruk

thn
Sela

28

Buruk

thn
Tiva

25

Buruk

thn
Ujang

29

Buruk

thn
Vinda

27
thn

Buruk

Welas

27

Buruk

thn
Wand

30

thn

Yusi

26

Buruk

Buruk

thn
Zikra

25

Buruk

thn
Andi

29

Buruk

thn
Bani

29

Buruk

thn
Cakra

25

Buruk

thn
Dudi

30
thn

Buruk

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Mengkonsumsi gorengan secara berlebihan tidak mempengaruhi resiko timbulnya jerawat
4.2 Saran

Dari kesimpulan hasil penelitian diatas, dapat dikemukakan beberapa saran sebagai
berikut :
1. Bagi Mahasiswa
Bagi mahasiswa yang berjerawat di wajah agar lebih memperhatikan dari faktorfaktor lain yang mempengaruhi terhadap timbulnya jerawat dan jangan takut untuk
mengkonsumsi gorengan.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Peneliti lebih banyak menggunakan sumber pustaka dari internet karena sumber
pustaka yang tersedia di perpustakaan yang berkaitan dengan penelitian ini masih
kurang. Oleh karena itu diharapkan pihak lxvi institusi dapat menambah jumlah
referensi bukunya.
3. Bagi Masyarakat
Menambah pengetahuan bahwa tidak ada pengaruhnya mengkonsusmsi gorengan
secara berlebihan dengan resiko timbulnya jerawat pada wajah.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan dapat menjadi pertimbangan masukan dalam penelitian selanjutnya yang
meneliti tentang jerawat baik itu kaitannya dengan pola mengkonsumsi gorengan
maupun dengan yang lainnya.