Anda di halaman 1dari 18

Fungsi Circuit Breaker

Circuit breaker (CB) atau Pemutus Daya (PMT) adalah peralatan pada sistem
tenaga listrik yang berfungsi untuk memutuskan hubungan antara sisi
sumber tenaga listrik dan sisi beban yang dapat bekerja secara otomatis
ketika terjadi gangguan atau secara manual ketika dilakukan perawatan
atauperbaikanPemahamanDasar:
( Circuit breaker ini pada prinsipnya sama seperti fungsi MCB di meteran
listrik rumah kita. Jika terjadi korsleting listrik atau pemakaian listrik yang
berlebihan, maka otomatis seluruh aliran listrik dirumah akan terputus (mati)
). Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu PMT agar dapat melakukan
hal-hal diatas, adalah sebagai berikut:
1.

Mampu menyalurkan arus maksimum sistem secara terus-menerus.

2.

Mampu memutuskan dan menutup jaringan dalam keadaan berbeban


maupun terhubung singkat tanpa menimbulkan kerusakan pada
pemutus tenaga itu sendiri.

3.

Dapat memutuskan arus hubung singkat dengan kecepatan tinggi agar


arus hubung singkat tidak sampai merusak peralatan sistem, membuat
sistem kehilangan kestabilan, dan merusak pemutus tenaga itu sendiri.

Tentunya berbagai jenis dan type dari Circuit Breaker harus disesuaikan
dengan kondisi dan jumlah beban (arus dan tegangan) yang melaluinya
Dalam Ilmu listrik ada 3 macam tegangan, yaitu:
1.Tegangan LV (Low Voltage).Max.900V
2.Tegangan MV (Medium Voltage). 1KV-36KV

3.Tegangan HV (High Voltage) . 36KV-60KV


Ada 5 Macam Circuit Breaker yang sering dipakai
1.ACB(Air Circuit Breaker)
2.VCB(Vacum Circuit Breaker)
3.MCCB(Miniatur Control Circuit Breaker)
4.MCB(Miniatur Circuit Breaker)
5.MPCB(Miniatur Protection Circuit Breaker)
Low Voltage
Untuk jenis PMT tegangan rendah, kita tentunya sering menemukan jenis ini
pada panel pembagi beban (Besaran yg efektif berkisar 15 A s/d 1500 A).
Yang harus diperhatikan dalam jenis PMT ini adalah Tegangan efektif tertinggi
dan frekuensi daya jaringan dimana pemutus daya itu akan dipasang.
Nilainya tergantung pada jenis pentanahan titik netral sistem. Dan juga arus
maksimum kontinyu yang akan dialirkan melalui pemutus daya, dan nilai
arus ini tergantung pada arus maksimum sumber daya atau arus nominal
beban dimana pemutus daya tersebut terpasang.
High Voltage
Klasifikasi PMT untuk tegangan tinggi berdasarkan media insulator dan
material dielektriknya, adalah terbagi menjadi empat jenis, yaitu:
1.

Sakelar PMT Minyak: Sakelar PMT ini dapat digunakan untuk memutus
arus sampai 10 kA dan pada rangkaian bertegangan sampai 500 kV.

2.

Sakelar PMT Udara Hembus (Air Blast Circuit Breaker): Sakelar PMT ini
dapat digunakan untuk memutus arus sampai 40 kA dan pada
rangkaian bertegangan sampai 765 kV.

3.

Sakelar PMT vakum (Vacuum Circuit Breaker): Sakelar PMT ini dapat
digunakan untuk memutus rangkaian bertegangan sampai 38 kV.

4.

Sakelar PMT Gas SF6 (SF6 Circuit Breaker): Sakelar PMT ini dapat
digunakan untuk memutus arus sampai 40 kA dan pada rangkaian
bertegangan sampai 765 kV

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu PMT agar dapat melakukan
hal-hal diatas, adalah sebagai berikut:
1. Mampu menyalurkan arus maksimum sistem secara terus-menerus.
2. Mampu memutuskan dan menutup jaringan dalam keadaan berbeban
maupun terhubung
singkat tanpa menimbulkan kerusakan pada pemutus tenaga itu sendiri.
3. Dapat memutuskan arus hubung singkat dengan kecepatan tinggi agar
arus hubung singkat tidak sampai merusak peralatan sistem, membuat
sistem kehilangan kestabilan, dan merusak pemutus tenaga itu sendiri.
Setiap PMT dirancang sesuai dengan tugas yang akan dipikulnya, ada
beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam rancangan suatu PMT,
yaitu:
1. Tegangan efektif tertinggi dan frekuensi daya jaringan dimana pemutus
daya itu akan dipasang. Nilainya tergantung pada jenis pentanahan titik
netral sistem.
2. Arus maksimum kontinyu yang akan dialirkan melalui pemutus daya. Nilai
arus ini tergantung pada arus maksimum sumber daya atau arus nominal
beban dimana pemutus daya tersebut terpasang
3. Arus hubung singkat maksimum yang akan diputuskan pemutus daya
tersebut.
4. Lamanya maksimum arus hubung singkat yang boleh berlangsung. hal ini
berhubungan dengan waktu pembukaan kontak yang dibutuhkan.
5. Jarak bebas antara bagian yang bertegangan tinggi dengan objek lain
disekitarnya.
6. Jarak rambat arus bocor pada isolatornya.
7. Kekuatan dielektrik media isolator sela kontak.
8. Iklim dan ketinggian lokasi penempatan pemutus daya.
Tegangan pengenal PMT dirancang untuk lokasi yang ketinggiannya
maksimum 1000 meter diatas permukaan laut. Jika PMT dipasang pada lokasi
yang ketinggiannya lebih dari 1000 meter, maka tegangan operasi

maksimum dari PMT tersebut harus dikoreksi dengan faktor yang diberikan
pada tabel 1.
Tabel 1. Faktor Koreksi antara Tegangan vs Lokasi

Proses Terjadinya Busur Api


Pada waktu pemutusan atau penghubungan suatu rangkaian sistem tenaga
listrik maka pada PMT akan terjadi busur api, hal tersebut terjadi karena
pada saat kontak PMT dipisahkan , beda potensial diantara kontak akan
menimbulkan medan elektrik diantara kontak tersebut, seperti ditunjukkan
pada gambar 1.

Gambar 3.1 Pembentukan Busur Api

Arus yang sebelumnya mengalir pada kontak akan memanaskan kontak dan
menghasilkan emisi thermis pada permukaan kontak. Sedangkan medan
elektrik menimbulkan emisi medan tinggi pada kontak katoda (K). Kedua
emisi ini menghasilkan elektron bebas yang sangat banyak dan bergerak
menuju kontak anoda (A). Elektron-elektron ini membentur molekul netral
media isolasi dikawasan positif, benturan-benturan ini akan menimbulkan
proses ionisasi. Dengan demikian, jumlah elektron bebas yang menuju anoda
akan semakin bertambah dan muncul ion positif hasil ionisasi yang bergerak
menuju katoda, perpindahan elektron bebas ke anoda menimbulkan arus dan
memanaskan kontak anoda.
Ion positif yang tiba di kontak katoda akan menimbulkan dua efek yang
berbeda. Jika kontak terbuat dari bahan yang titik leburnya tinggi, misalnya
tungsten atau karbon, maka ion positif akan akan menimbulkan pemanasan
di katoda. Akibatnya, emisi thermis semakin meningkat. Jika kontak terbuat
dari bahan yang titik leburnya rendah, misal tembaga, ion positif akan
menimbulkan emisi medan tinggi. Hasil emisi thermis ini dan emisi medan
tinggi akan melanggengkan proses ionisasi, sehingga perpindahan muatan
antar kontak terus berlangsung dan inilah yang disebut busur api.
Untuk memadamkan busur api tersebut perlu dilakukan usaha-usaha yang
dapat menimbulkan proses deionisasi, antara lain dengan cara sebagai
berikut:
1. Meniupkan udara ke sela kontak, sehingga partikel-partikel hasil ionisai
dijauhkan dari sela kontak.
2. Menyemburkan minyak isolasi kebusur api untuk memberi peluang yang
lebih besar bagi proses rekombinasi.
3. Memotong busur api dengan tabir isolasi atau tabir logam, sehingga
memberi peluang yang lebih besar bagi proses rekombinasi.
4. Membuat medium pemisah kontak dari gas elektronegatif, sehingga
elektron-elektron bebas tertangkap oleh molekul netral gas tersebut.
Jika pengurangan partikel bermuatan karena proses deionisasi lebih banyak
daripada penambahan muatan karena proses ionisasi, maka busur api akan
padam. Ketika busur api padam, di sela kontak akan tetap ada terpaan
medan elektrik. Jika suatu saat terjadi terpaan medan elektrik yang lebih
besar daripada kekuatan dielektrik media isolasi kontak, maka busur api
akan terjadi lagi.

Macam dari Circuir Breaker.


*) O C B : Kontaknya tercelup kedalam minyak yang berguna untuk
memadamkan
busur api listrik.

*) Pemutus beban saluran udara : ( Air Beast Circuit Breaker )

Biasanya untuk batas tegangan 33 KV dampai dengan 765 KV.


Busur api dimatikan oleh semburan udara, dan semburan semburan udara
dapat berfungsi untuk membuka dan meutup kontak.

CARA KERJA PEMUTUS BEBAN MINYAK ( O.C.B. )


Pada saat terjadi gangguan arus lebih, maka relay pengaman akan bekerja
menggerakkan kontak pemutus beban tersebut dengan tenaga mekanis.
Untuk ukuran pemutus beban yang kecil, relay pengaman menggunakan
SELENOID dan tenaga mekanisnya diambil dari tekanan balik pegas.
Bila TRIPPING COIL mendapat aliran arus listrik, akibatnya LENGAN
PENAHAN akan terpukul sehingga ujung penahan akan bergerak turun dan
akan melepaskan PLUNGER, yang mendapat gaya tarik dari pegas pembuka
yang semula menaham KONTAK GERAK pada kondisi tertutup.
Kontak-kontak dari pemutus beban jenis ini ditempatkan dalam minyak
seperti pada gambar :

Keterangan :
1. Closing coil
2. Plunger
3. Tripping coil
4. Plunger

5. Penahan
6. Tongkat
7. Lengan

Ggr. A : OCB dalam keadaan


terhubung
Gbr B : OCB dalam keadaan
Akan terlepas/membuka
Gbr C : OCB dalam keadaan
terlepas membuka
CARA KERJA PEMUTUS BEBAN SEMBURAN UDARA
Pada saat terjadi gangguan arus lebih maka relay pengaman akan mendapat
rangsangan dan rangsangnya tersebut diteruskan ke RELAY BUKA dan KLEP
BUKA. Akibatnya dari kedua alat tersebut terbuka, maka akan menyebabkan
adanya usara mauk dari KOMPRESOR.
Udara yang bertekanan tinggi tersebut akan menekan PISTON kebawah
berarti akan menutuskan hubungan kontak dari pemutus beban tersebut.
Putusnya kontak tersebut akan mengakibatkan timbulnya bunga api listrik,
tetapi dengan lewatnya udara yang bertekanan tersebut bunga api akan
dihembus keluar lewat LUBANG PELEPASAN.

Dan apabila menutup kembali maka RELAY TUTUP bekerja dan juga KLEP
TUTUP nya, akibatnya udara dari kompresor masuk dan PISTON akan
bergerak keatas, dengan sendirinya kontak aka berhubungan lagi.

Keterangan :
T
: Terminal
Bb
: Batang Besi
P
: Piston

RB
RT
KB

: Relay Buka
: Relay Tutup
: Klep Buka

Rp

: Relay Pengaman

KT
: Klep Tutup
K
: Kompresor
Tekanan udara besanya 75 kg/cm dan mempunyai kapasitas pemutusnya
sampai
25.000 MVA.
*) Pemutus Hampa ( Vacum Circuit Breaker )
Kehampaan yang tinggi ( 10
mmhg )
Karena ruang yang hampa sekali itu memupyani daya isolasi yang sangat
tinggi.
Pada akhir ini baru dikembangkan untuk tegangan kurang dari 15 KV
*) Pemutus Beban Hembusan Magnit ( Magnetic Air Circuit Bteaker )
Busur api dihembus oleh arus yang akan diputus itu sendiri kedalam ruang
pemutus busur api.
Pemutus beban dipasang didalam kontak hubung tertutup
Biasanya jenis ini dipakai untuk tegangan dibawah 15 KV.

Breaker Juga bisa di modifikasi fungsi atau cara kerjanya.cara


memodifikasinya dengan menambahkan Acessories Breaker.
Macam- macam acessorie breaker sbb:
1. Shunt Release Tripping Switch (Shuntrip).
2. Under Voltage Tripping Switch (UVT).

3. Auxilliary Contact Normaly Open (NO) dan Normaly Close (NC).


4. Clossing Coil Release.
5. Motorized.
6. Door Coupling Rotary Handle dan masih banyak lagi macam atau jenisnya.
CIRCUIT BREAKER SWITCH

Circuit breaker adalah saklar yang dapat digerakan secara manual untuk
menghubungkan dan memutuskan arus listrik, namun dapat memutuskan
arus listrik secara otomatis apabila ambang batas arus listrik yang melewati
circuit breaker tersebut dilampaui (istilahnya Trip). Jadi Circuit Breaker

digunakan sebagai pengaman beban terhadap kelebihan arus listrik atau


beban. Setelah terjadi Trip Circuit Breaker dapat di reset lagi secara manual.
Namun jika Trip lagi sebaiknya dilakukan pemeriksaan penyebab terjadinya
Trip. Hal ini lebih baik dilakukan daripada direset berulang kali yang pada
akhirnya dapat menyebabkan kerusakan pada beban atau lebih buruk lagi
dapat terjadi ledakan.
Rentang arus maksimum dari Circuit breaker mulai dari beberapa Ampere
hingga ratusan Ampere. Circuit Breaker sering disingkat CB.

berbagai macam Simbol Circuit Breaker

Ada beberapa jenis Circuit Breaker yang umum digunakan berdasarkan cara
kejanya yaitu magnetik overload dan temperatur overload.
SISTIM CIRCUIT BREAKER MAGNETIK
Sistim Kerja
Sistim CB magnetik bekerja dengan prinsip apabila ada arus yang berlebih
akan menimbulkan medan elektromagnet yang akan menarik tuas
penghubung terminal sehingga hubungan antar terminal terputus.

Prinsip kerja CB magnetik dapat dijelaskan sebagai berikut. Perhatikan


gambar di atas. Arus dari sumber ke beban melalui tuas kontak pada Circuit
Breaker. Tuas kontak terdiri dari tuas kontak yang bisa bergerak dan tuas
kontak yang tidak bergerak atau diam. Pada saat arus mengalir di tuas
kontak akan timbul medan magnet pada tuas kontak tersebut. Karena arah
arus berlawanan, maka medan magnetpun akan berlawanan. Pada kondisi
normal medan magnet tidak cukup kuat untuk memisahkan titik kontak dan
arus tetap tersambung ke beban. Pada saat arus berlebihan maka medan
magnet dengan cepat bertambah kuat hingga mampu memisahkan titik
kontak, seperti terlihat pada gambar berikut

Tuas pengoperasian Circuit Breaker dihubungkan dengan tuas kontak


bergerak. Pada gambar berikut akan terlihat mekanisme on off dari Circuit
Breaker. Pegas berfungsi memberikan tekanan pada Tuas kontak bergerak
agar tekanan pada sambungan titik kontak menjadi kuat.

Peredam Arking
Pada saat titik kontak berpisah arus masih dapat mengalir saat jarak titik
kontak masih dekat. Arus mengalir melalui udara dalam bentuk arcing atau
kilatan listrik. Jika jarak titik kontak sudah cukup jauh maka arcing akan mati
hilang dengan sendirinya. Arcing ini dapat menyebabkan terjadinya panas
pada titik kontak yang dapat menyebabkan gosong dan merusak titik kontak
tersebut. Selain itu panas yang ditimbulkan juga dapat menyebabkan wadah
plastik dari CB menjadi getas dan mudah pecah.

Peredam arking menjadi penting untuk mencegah kerusakan Circuit Breaker.


Saat ini biasanya Circuit breaker dilengkapi dengan perdam arking berupa
plat besi berbentuk U yang disusun berlapis di sekitar titik kontak seperti
tampak pada gambar di atas. Pada saat terjadi arking maka arking akan
terbagi-bagi menjadi arking yang lebih kecil yang melalui plat besi tersebut.

Aneka magnetik Circuit Breaker

SISTIM CIRCUIT BREAKER THERMAL


Seperti Magnetik Circuit Breaker Thermal Circuit breaker juga dengan cara
arus listrik dari sumber ke beban juga dialirkan melalui tuas kontak
penghubung terminal dari Circuit Breaker. Pada Thermal Circuit Breaker Tuas
kontak penghubung terminal dibuat dari keping pelat bimetal. Untuk lbih
jelas dapat dilihat pada gambar berikut

Pada gambar di atas tombol berfungsi untuk menekan tuas penghubung


yang terbuat dari bimetal sehingga terminal terhubung dan arus dapat
melalui terminal. Arus listrik yang melewati bimetal membuat temperatur
bimetal bertambah hangat. Selama arus yang mengalir normal dan tidak
melebihi ambang batas yang ditentukan dari pelat bimetal maka tak akan
ada yang terjadi dan pelat bimetal tetap terhubung ke terminal. Sebaliknya
jika arus berlebih maka temperatur bimetal akan dengan cepat meningkat.
Karena sifatnya maka pelat bimetal akan melengkung jika terkena panas.
Melengkungnya pelat bimetal membuat hubungan terminal memlalui pelat
bimetal menjadi terputus.Sekali hubungan terputus maka hubungan antar
terminal tetap terputus meskipun arus listrik telah terputus dan pelat bimetal
telah kembali ke bentuk semula. Hal ini memang dirancang demikian agar
beban aman. Terminal dapat dihubungkan kembali dengan jalan menekan
tombol Circuit breaker secara manual.

Contoh Thermal Circuit Breaker


Trip Unit
Circuit breaker dengan kapasitas besar biasanya ditambahkan tombol trip
unit. Tombol ini berfungsi untuk mentripkan CB secara manual, tidak
menggunakan tuas on off. Jadi dengan adanya tombol trip memudahkan

mentripkan CB, terutama untuk CB dengan kapasitas besar. Karena ukuran


CB yang besar maka otomatis ukuran Tuas On-Off juga besar yang biasanya
cukup berat untuk menggeser tuas on-off tersebut. Dengan adanya tombol
trip maka CB dapat di tripkan dengan mudah. Hal ini berguna jika ada
indikasi gangguan pada beban namun masih belum menyebabkan CB Trip
maka Tombol Trip berfungsi sebagai Tombol emergency stop.

Circuit breaker dengan tombol Trip

CB dengan Curent Adjustment


Circuit breaker dengan kapasitas besar biasanya selain ditambahkan tombol
trip unit juga dilengkapi dengan setting variable untuk besar arus listrik
maksimum, Jadi selain nilai nominal arus listrik maksimum, circuit breaker
tersebut juga bisa diubah nilai arus listrik maksimumnya .