Anda di halaman 1dari 44

Sistem

Pendengaran
Anggiani Dewi Rahmawati, drg 1604 2114 0005
Faizal Hasan, drg
1604 2114 0006
Naninda Berliana Pratidina, drg1604 2114 0007
Yoana, drg
1604 2114 0008
Pembimbing: Dr. Sri Tjahajawati, drg., M.Kes, AIFM

Pendahuluan
Bicara merupakan proses belajar, mendengar dan mengamati. Pada
penyempurnaan bicara diperlukan integrasi neurologik, baik struktur
organ maupun fungsi yang normal.

Jumlah penderita gangguan pendengaran belum ada angka yang pasti di


Indonesia.

Berdasarkan Kepmenkes RI no 879/Menkes/SK/XI/2006 secara global


prevalensi gangguan pendengaran di dunia terdapat 0,1 0,13 % bayi
yang menderita tuli sejak lahir atau dari 1000 kelahiran terdapat 1-3 bayi
yang menderita tuli.

Pendahuluan
Jika di Indonesia angka kelahiran terdapat 2,6 %
maka terdapat 5000-10.000 bayi lahir tuli di Indonesia
setiap tahunnya.

Hal ini perlu mendapat perhatian khusus mengingat


pada usia ini merupakan masa kritis perkembangan
berbicara dan berbahasa.

Gambaran Anatomis

Bagian-bagian Telinga

Moore, 1999

Telinga

Moore, 1999

Tulang Pendengaran

Moore, 1999

Telinga Tengah dan


Dalam

Moore, 1999

Koklea

Moore, 1999

Fungsi Sistem
Pendengaran

Pendengaran adalah persepsi


saraf mengenai energi suara
Telinga hanya bertugas
mendeteksi suara, sedangkan
fungsi pengenalan dan
intersepsi diolah oleh sistem
saraf pusat dan di otak.

penghilang hambatan antara udara


(lingkungan kita) dan cairan
(telingan dalam)
Gelombang suara dihantarkan udara
mencapai cairan, 99,9 % energinya akan
dipantulkan > hanya 0,1 % energinya
diteruskan. Telinga tengah dapat
mengkompensasi kehilangan tersebut.

Respons tehadap perubahan tekanan


yang dihasilkan oleh gelombang suara di
permukaan luarnya dengan membran
yang berfungsi sebagai resonator yang
menghasilkan ulang getaran dari sumber
suara dan tulang pendengaran sebagai
sistem pengungkit yang mengubah
getaran resonan membran timpani
menjadi gerakan stapes terhadap skala
vestibulo koklea
Membran Timpani dan Tulang
Pendengaran

Bersifat protektif, mencegah


rangsangan berlebihan pada
reseptor-reseptor pendengaran
yang dihasilkan oleh gelombang
suara yang kuat
Refleks timpani

Membangkitkan impuls saraf


sebagai respons terhadap getaran
membran basilar
Organ Corti
Pemeliharaan komposisi elektrolit cairan
endolimfe (tinggi kalsium, rendah
natrium)
Stria Vaskularis

Menghasilkan potensi aksi di sarafsaraf pendengaran dan


meningkatkan pendengaran dengan
mempengaruhi pola getaran
membran basilaris
Sel Rambut Dalam dan Luar
Persepsi Frekuensi Suara dan
diskriminasi pola suara
Korteks Serebri

Mekanisme Pendengaran

Mekanisme Pendengaran

Mekanisme Pendengaran

(http://www.medicinesia.co
m)

Gelombang Suara
Bunyi atau suara yaitu serangkaian gelombang
yang merambat dari sumber suara sebagai akibat
perubahan kerapatan dan juga tekanan udara
Perubahan tekanan di membran timpani per
satuan waktu adalah serangkaian gelombang,
dan secara umum disebut gelombang suara.

(Ganong, 2013)

A adalah grafik nada murni


B memiliki amplitudo yang >
besar dan > keras dari pada A
C memiliki amplitudo yang
sama dengan A namun
frekuensinya lebih besar
sehingga nadanya lebih tinggi.

D adalah gelombang yang


mengalami pengulangan
secara teratur. Pola ini
terdengar sebagai suara
musik
E adalah gelombang yang
tidak memiliki pola
teratur, terdengar sebagai
bising

Perjalanan Gelombang
Perjalanan gelombang dibagi beberapa fase:
1. Fase mekanik
2. Fase elektrik
3. Fase analitik

Perjalanan Gelombang

(Ganong, 2013)

Garis-garis tebal dan terputusputus pendek mewakili


gelombang di dua saat. Garis
terputus-putus yang panjang
memperlihatkan amplop
gelombang yang terbentuk
menghubungkan puncakpuncak gelombang pada saat
yang berurutan.
Pergeseran membran basilaris
oleh gelombang yang dihasilkan
getaran stapes dengan frekuensi
yang diperlihatkan di bagian
atas masing-masing kurva

Penentuan Arah Asal


Suara
Mekanisme untuk proses deteksi arah datangnya
suara dimulai pada nuklei olivarius superior
dalam batang otak.
Nukleus olivaruis superior dibagi menjadi dua
bagian, (1) nukleus olivarius superior medial dan
(2) nukleus olivarius superior lateral.

Penentuan Arah Asal


Suara
Nukleus olivarius superior lateral bertanggung
jawab untuk mendeteksi arah datangnya suara
melalui perbedaan intensitas suara yang
mencapai kedua telinga.
Nukleus olivarius superior medial mempunyai
mekanisme spesifik untuk mendeteksi perbedaan
waktu antara sinyal akustik yang memasuki
kedua telinga.

Mekanisme Pendengaran

Kelainan Pendengaran

KELAINAN PENDENGARAN
Tuli biasanya dibagi menjadi tiga tipe :
Tuli saraf : tuli yang disebabkan oleh kerusakan
koklea, nervus auditorius, dan batang otak
sehingga terjadi kegagalan untuk memperkuat
gelombang suara sebagai impuls saraf secara
efektif pada koklea
Tuli konduksi : tuli yang disebabkan oleh kondisi
patologis pada kanalis auditorius eksternus dan
membran timpani (gangguan transmisi suara ke
dalam koklea)
Tuli campuran : bila tuli saraf dan konduksi terjadi
bersamaan

Pola lain TULI SARAF sering terjadi sebagai


berikut :
Tuli yang disebabkan oleh paparan berlebihan dan
berkepanjangan terhadap suara yang sangat keras
(ahli mesin pesawat terbang)
Tuli yang disebabkan oleh sensitivitas obat
terhadap organ Corti, sensitivitas terhadap
beberapa antibiotik seperti streptomisin, kanamisin,
dan kloramfenikol.

AUDIOMETER
Audiometer merupakan alat untuk menentukan
sifat kelainan pendengaran
Berbentuk earphone yang dihubungkan dengan
osilator elektronik yang mampu memancarkan
suara murni dari frekuensi rendah sanpai
frekuensi tinggi

(
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/1977101320050

UJI PENALA
Suatu perangkat penala yang memberikan skala
pendengaran dari frekuensi rendah hingga tinggi,
memudahkan survey kepekaan pendengaran.
Hertz (HZ) yang merupakan istilah siklus per
detik, sebagai satuan frekuensi.

Penala dipegang tangkainya dan salah satu


tangan garpu tala dipukul
Penala dipegang didekat telinga pasien dan
pasien melaporkan saat bunyi tidak lagi
terdengar
Garpu tala dipindahkan dekat telinga pemeriksa
dan dilakukan perhitungan selang waktu saat
bunyi antara saat bunyi tidak lagi didengar
pasien denga saat bunyi tidak lagi didengar
pemeriksa
Gambaran kasar tentang kepekaan pendengaran

UJI PENALA

(http://file.upi.edu/Direktori/FIP/197710132005012)

UJI RESPONS AUDITORIK BATANG OTAK


(Auditory Brain Stem Evoked Response = ABR)
Merupakan tes neurologik untuk fungsi pendengaran
batang otak terhadap rangsangan
Alat yang dapat digunakan untuk mendeteksi dini
adanya gangguan pendengaran (bayi dan anak-anak)
dan pasien dengan kondisi tertentu (koma, stroke)
yang tidak membutuhkan jawaban atau respons dari
pasien
Potensial listrik dari otak (kulit kepala) yang
dibangkitkan oleh bunyi
Respons listrik saraf kedelapan dan sebagian batang
otak yang timbul dalam 10-12 milidetik setelah suatu
rangsang pendengaran ditangkap oleh telinga dalam.
(Adams, 1997).

UJI RESPONS AUDITORIK BATANG OTAK


(ABR)

(http

AUDIOMETRI
PEDIATRIK
Perkembangan normal bicara dankomunikasi
bahasa, hubungan pribadi dan keluarga serta
pencapaian intelektual dan pendidikan sangat
bergantung pada pendengaran yang utuh
Pendengaran semua bayi dan anak dapat
dievaluasi dengan pengukuran pendengaran anak
dapat dibedakan dalam 2 kategori :
1) Audiometri bermain
2) Audiometri bicara

ALAT BANTU DENGAR


(HEARING AID)
Alat bantu dengar merupakan suatu alat elektronik
yang dioperasikan dengan batere, yang berfungsi
memperkuat dan merubah suara sehingga
komunikasi bisa berjalan dengan lancar .
Alat bantu dengar terdiri dari:
1. Microphone, merubah suara menjadi signal
elektronik.
2. Amplifier, berfungsi untuk memperkeras elektronik
signal dari mikrofon menjadi signal yang lebih besar.
3. Receiver (loudspeaker), merubah elektronik signal
yang sudah diperkeras menjadi suara.

Berikut ada empat jenis alat bantu pendengaran :


1. Behind The Ear (BTE)
2. In The Ear (ITE)
3. In The Canal (ITC)
4. Completely-in-the-Canal (CIC)

Behind The Ear (BTE)

In The Canal (ITC)

In The Ear (ITE)

Completely-in-the-Canal (CIC)
(FDA, 2009)

REHABILITASI
PENDENGARAN
Tujuan rehabilitasi pendengaran haruslah
memperbaiki efektivitas pasien dalam komunikasi
sehari-hari
Membaca gerak bibir dan latihan pendengaran
merupakan komponen tradisional dari rehabilitatif
pendengaran
Pasien harus dibantu untuk memenfaatkan secara
maksimal isyarat-isyarat visual sambil dapat
melatih diskriminisasi bicara

Kesimpulan
Dalam mencapai proses bicara yang normal,
dibutuhkan sistem pendengaran yang baik karena
tahapan berbicara dimulai dari proses
mendengar.
Perhatian khusus dan disiplin ilmu yang berbeda
diperlukan dalam menanggulangi permasalahan
berbicara.

Terima Kasih