Anda di halaman 1dari 9

Anemia Defisiensi Besi

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Arjuna Utara/6 Jakarta Barat

Email: acies_uchih@hotmail.com

Abstrak
Anemia defisiensi besi merupakan jenis anemia yang paling sering dijumpai terutama di negara
berkembang. Sesuai namanya anemia jenis ini diakibatkan oleh kurangnya ketersediaan besi untuk
sintesis hemoglobin yang mempunyai berbagai macam fungsi salah satunya adalah mengangkut
oksigen ke jaringan. Gejala klinik yang tampak dapat berupa rasa lemah,pusing dan gangguan
beraktifitas. Penyebab yang mendasarinya bermacam-macam salah satunya adalah akibat
perdarahan kronis contohnya occult bleeding. Pemberian preparat besi dan penanggulangan
penyebab anemia akan menyembuhkan pasien.

Pendahuluan
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya besi yang diperlukan untuk
sintesis hemoglobin. Anemia ini merupakan bentuk anemia yang paling sering ditemui. Saat ini di
Indonesia anemia defeisiensi besi masih merupakan salah satu masalah gizi utama disamping
kekurangan kalori-protein, vitamin A dan yodium. Selain berfungsi sebagai sintesis hemoglobin , besi
juga juga berperan dalam metabolisme oksidatif, sintesis DNA, neurotransmitter dan proses
katabolisme yang dalam berkerjanya membutuhkan ion besi. Oleh sebab itu penting untuk mengetahui
gejala-gejala penyakit ini sehingga dapat membantu mengobati sebelum stadium lebih lanjut.
Anamnesis
Pada kasus anemia defisiensi besi ada beberapa pertanyaan yang dapat kita ajukan sebagai pembantu
menegakkan diagnosis.

Apakah merasa badan lemah, lesu, cepat lelah, mata berkunang-kunang serta telinga berdenging?

(anemic syndrome)
Apakah kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertikal dan menjadi cekung sehingga mirip seperti

sendok?
Apakah terdapat nyeri pada saat menelan ?
apakah terdapat penurunan aktivitas kerja?1,2

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan dalam menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi tidaklah
banyak. Yang dapat digunakan untuk menegakkan adalah pemeriksaan laboratorium dan gejala klinis.
Pemeriksaan fisik yang dapat dikerjakan dapat diambil dari gejala klinis :

pemeriksaan TTV
pemeriksaan pada konjungtiva pasien
melihat konjungtiva pasien apakah terlihat pucat atau tidak. Apabila terlihat pucat dapat dicurigai
pasien tersebut menderita anemia.
pemeriksaan pada kuku pasien
pada pasien yang menderita anemia defisiensi besi terdapat koilonychia (kuku sendok). Pada
kelainan ini kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertikal dan menjadi cekung sehingga mirip seperti
sendok. 2

Pemeriksaan laboratorium
Beberapa pemeriksaan laboratorium yang dapat diperiksa untuk menegakkan diagnosis anemia
defisiensi besi:

kadar hemoglobin dan indeks eritrosit


merupakan hal pertama yang penting untuk memutuskan pemeriksaan lebih lanjut dalam
menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi. Pada anemia jenis ini nilai indeks eritrosit MCV,
MCH dan MCHC menurun sejajar dengan penurunan Hb. Jumlah retikulosit normal, pada keadaan

berat akibat perdarahan jumlahnya meningkat.


konsentrasi besi serum dan TIBC (total iron binding capacity)
pada anemia jenis ini didapatkan Fe serum menurun dan TIBC meningkat. Pemeriksaan Fe serum
untuk menentukan jumlah besi yang terikat apda trasferin, sedangkan TIBC untuk mengetahui
jumlah transferin dalam darah. Perbandingan antara Fe serum dan TIBC (saturasi transferin) yang
dapat diperoleh dengan cara menghitung Fe serum/TIBC x 100% merupakan suatu nilai yang
menggambarkan suplai besi ke eritroid sumsum tulang dan sebagai penilaian terbaik untuk
mengetahui pertukaran besi antara plasma dan cadangan besi dalam tubuh. Bila saturasi transferin
(ST) < 16% menunjukkan suplai besi yang tidak adekuat untuk mendukung eritropoesis. ST <7%
diagnosis anemia defisiensi besi dapat ditegakkan, sedangkan pada kadar ST 7-16% dapat dipakai

untuk mendiagnosis apabila didukung nilai MCV yang rendah atau pemeriksaan lainnya.
feritin serum
jumlah cadangan besi tubuh dapat diketahui dengan memeriksa kadar feritin serum. Bila kadar

feritin < 10-12 g/l menunjukkan telah terjadi penurunan cadangan besi dalam tubuh.
apus darah tepi
didapatkan gambaran mikrositik hipokrom, anisositosis, dan poikilositosis (dapat ditemukan sel
pensil, sel target, ovalosit, mikrosit, dan sel fragmen)

pemeriksaan sum-sum tulang


pada pemeriksaan apus sum-sum tulang dapat ditemukan gambaran yang khas anemia defisiensi
besi yaitu hiperplasia sistem eritropoetik dan berkurangnya hemosiderin. Untuk mengetahui ada

atau tidaknya besi dapat diketahui dengan pewarnaan prussian blue.


Perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari penyebab anemia defisiensi besi.
Antara lain pemeriksaan feses untuk cacing tambang, sebaiknya dilakukan pemeriksaan
semikuantitatif, seperti misalnya pemeriksaan darah samar dalam feses, endoskopi,barium intake,
dan lain-lain tergantung dari dugaan penyebab defisiensi besi tersebut. 2,3

Kriteria diagnostik anemia defisiensi besi menurut WHO :


1.
2.
3.
4.

Kadar Hb kurang dari normal sesuai usia


Konsentrasi Hb eritrosit rata-rata < 31% (N: 32-35%)
Kadar Fe serum <50 g/dl (N:80-180 g/dl)
Saturasi transferin <15% (N: 20-50%) 3

Metabolisme zat besi


Jumlah zat besi yang diserap oleh tubuh dipengaruhi oleh jumlah besi dalam makanan,
vioavailabilitas besi dalam makanan dan pneyerapan oleh mukosa usus. Ada 2 cara penyerapan besi
dalam usus, yang pertama adalah penyerpaan dalam bentuk non heme (sekitar 90% berasal dari
makanan), yaitu besinya harus diubah dulu menjadi bentuk yadn diserap, sedangkan bentuk yang
kedua adalah bentuk heme (sekitar 10% berasal dari makanan) besinya dapat langsung diserap tanpa
memperhatikan cadangan besi dalam tubuh, asam lambung ataupun zat makanan yang dikonsumsi.
Besi non heme di lumen usus akan berikatan dengan apotransferin membentuk kompleks transferin
besi yang kemudian akan masuk ke dalam sel mukosa. Di dalam sel mukosa, besi akan dilepaskan dan
apotrasferin kembali ke dalam lumen usus. Selanjutnya sebagian besi bergabung dengan apoferitin
membentuk feritin, sedangkan besi yang tidak diikat oleh apoferitin akan masuk ke peredaran darah
dan berikatan dengan apotrasferin membentuk trasferin serum.
Penyerapan besi oleh tubuh berlangsung melalui mukosa usus halus, terutama di duodenum sampai
pertengahan jejunum, makin kea rah distal usus penyerapannya semakin berkurang. Besi dalam
makanan terbanyak ditemukan dalam bentuk senyawa besi non heme brupa kompleks senyawa besi
inorganic (feri/fe3+) yang oleh pnegaruh asam lambung, vitamin C , dan asam amino mengalami
redksi menjadi bentuk fero (fe2+). Bentuk fero ini kemudian diabsorpsi oleh sel mukosa usus dan
didalam sel usus bentuk fero ini mengalami oksidasi menjadi bentuk feri yang selanjutnya berikatan
dengan apoferitin menjadi feritin. Selanjutnya besi feritin dilepaskan ke dalam peredaran darah
setelah melalui reduksi menjadi bentuk fero dan didalam plasma ion fero dieroksidasi kembali
menjadi bentuk feri. Kemudian berikatan dengan 1 globulin membentuk transferin. Absorpsi besi non
heme akan menigkata pada penderita ADB. Trasnferin berfungsi untuk mengangkut besi dan
selanjutnya didistribusikan ke dalam jaringan hati, limpa dan sumsum tulang serta jaringan lain untuk

disimpan sebagai cadangan besi tubuh. di dalam sumsum tulang sebagian besi dilepaskan ke dalam
eritrosit (retikulosit) yang selanjutnya bersenyawa dengan porfirin membentuk ehme dan
pesenyawaan globulin dengan heme membentuk hemoglobin. Setelah eritrosit berumur 120 hari
fungsinya kemudian menurun dan selanjutnya dihancurkan didalam sel retikuloendotelial.
Hemoglobin mengalami proses degradasi menjadi bliverdin dan besi. Selanjutnya biliverdin akan
direduksi menjadi bilirubin, sedangkan besi akan masuk ke dalam plasma dan mengikuti siklus seperti
di atas atau akan tetap disimpan sebagai cadangan tergantung aktivitas eritropoesis.
Besi heme didalam lambung dipisahkan dari proteinnya oleh asalm lambun dan enzim proteosa.
Kemudian besi heme mengalami oksidasi menjadi hemin yang akan masuk ek dalam sel mukosa usus
secara utuh, kemudian akan dipecah oleh enzim hemeoksigenase menjadi ion feri bebas dan porfirin.
Selanjutnya ion feri bebas ini akan mengalmai siklus seperti di atas. 3
Working diagnosis
Pada kasus ini working diagnosis yang diambil adalah anemia defisiensi besi. Merupakan anemia
yang disebabkan oleh kurangnya besi yang diperlukan untuk sintesis hemoglobin. Merupakan bentuk
anemia yang paling sering ditemukan. Penyebab dan berbagai hal lebih lanjut mengenai anemia ini
akan dibahas.
Differential diagnosis
1) Thalasemia
Merupakan kelainan sintesis hemoblobin yang diturunkan akibat pengurangan produksi satu atau
lebih rantai globin. Secara klinis dibagi menjadi 3 grup:
Talasemia mayor sangat bergantung pada tranfusi
Talasemia minor/karier tanpa gejala
Talasemia intermedia 3
2) Anemia penyakit kronis.
Anemia yang ditemukan pada berbagai kelainan klinis kronis, contohnya : TBC. Gambaran klinis
yang ditimbulkan :
Kadar Hb berkisar 7-11 g/dl
Kadar Fe serum menurun idsertai TIBC yang rendah
Cadangan Fe jaringan tinggi
Produksi sel darah merah berkurang. 1
3) Anemia sideroblastik
Adalaha anemia mikrositik-hipokrom yang ditandai adanya sel-sel darah merah abnormal
(sideroblas) dalam sirkulasi dan sumsum tulang. Sideroblas membawa besi di mitokondria bukan
di molekul hemoglobin, sehingga tidak mampu untuk mengangkut oksigen ke jaringan. Pada
keadaan ini tidak terdapat defisiensi besi. 4

Derajat anemia

Anemia defisiensi

Anemia akibat

besi

penyakit kronik

Ringan sampai

Ringan

Thalasemia

Anemia
sideroblastik

Ringan

berat

Ringan sampai
berat

MCV

menurun

Menurun/N

menurun

Menurun/N

MCH

Menurun

Menurun <50

Normal/meningka

Normal/meningka

TIBC

Meningkat > 360

Menurun <300

Normal / turun

Normal / turun

Saturasi transferin

Menurun < 15%

Menurun/N 10-

Meningkat >20%

Meningkat >20%

Positif kuat

Positif dgn ring

20%
Besi sum-sum

Negatif

Positif

tulang

sideroblast

Protoporfirin

Meningkat

Meningkat

normal

Normal

Menurun < 20

Normal 20-200

Meningkat > 50

Meningkat > 50

g/dl

g/dl

g/dl

g/dl

Hb A2 meningkat

eritrosit
Feritin serum

Elektroforesis Hb

Etiologi
Terjadinya anemia defisiensi besi sangat ditentukan oleh kemampuan absorpsi besi, diit yang
mengandung besi, kebutuhan besi yang meningkat dan jumlah yang hilang.
Kekurangan besi dapat disebabkan:
1. kebutuhan yang meningkat secara fisiologis
pertumbuhan
pada periode pertumbuhan cepat yaitu pada umur 1 tahun pertama dan masa remaja kebutuhan
besi meningkat, sehingga pada periode ini insiden anemia defisiensi besi meningkat. Pada bayi
umur 1 tahun, berat badannya meningkat 3 kali dan massa hemoglobin dalam sirkulasi
mencapai 2 kali lipat dibanding saat lahir. Bayi premature denganpertumbuhan sangat cepat,
pada umur 1 tahun berat badannya dapat mencapai 6kali dan massa hemoglobin dalam sirkulasi

mencapai 3 kali dibanding saat lahir.


menstruasi

penyebab kurang besi yang sering terjadi pada anak perempuan adalah kehilangan darah lewat
menstruasi.
2. kurangnya besi yang diserap
masukan besi dari makanan yang tidak adekuat
seorang bayi pada 1 tahun pertama kehidupannya membutuhkan makanan yang banyak
mengandung besi. Bayi cukup bulan akan menyerap lebih kurang 200mg besi selama 1 tahun
pertama (0,5 mg/hari) yang terutama digunakan untuk pertumbuhannya. Bayi yang mendapat
ASI eksklusif jarang menderita kekurangan besi pada 6 bulan pertama. Hal ini disebabkan besi
yang terkandung di dalam ASI lebih mudah diserap dibandingkan susu yang terkandung susu
formula.
Diperkirakan sekitar 40% besi dalam ASI diabsorpsi bayi, sedangkan dari PASI hanya 10% besi

yang dapat diabsorbsi.


malabsorbsi besi
keadaan ini sering dijumpai pada anak kurang gizi yang mukosa ususnya mengalami perubahan
secara histologis dan fungsional. Pada orang yang telah mengalami gastrektomi parsial atau
total sering disertai anemia defisiensi besi walaupun penderita mendapat makanan yang cukup
besi. Hal ini disebabkan berkurangnya jumlah asam lambung dan makanan lebih cepat melalui

bagian atas usus halus, tempat utama penyerapan besi dan non heme.
3. Perdarahan
Kehilangan darah akibat perdarahan merupakan penyebab penting terjadinya anemia defisiensi
besi. Kehilangan darah akan mempengaruhi keseimbangan status besi. Kehilangan darah 1 ml akan
mengakibatkan kehilangan besi 0,5mg, sehingga kehilangan darah 3-4ml/hari dapat
mengakibatkan keseimbangan negatif besi.
Perdarahan dapat berupa perdarahan saluran cerna,ulkus peptikum, karena obat-obatan (NSAID)
dan infestasi cacing ( Necator americanus) yang menyerang usus halus bagian proksimal dan
menghisap darah dari pembuluh darah submukosa usus.
4. transfusi feto-maternal
kebocoran darah yang kronis kedalam sirkulasi ibu akan menyebabkan anemia defisiensi besi pada
akhir masa fetus dan pada awal masa neonatus.
5. Hemoglobinuria
Keadaan ini biasanya dijumpai pada anak yang memakai katup jantung buatan.
6. iatrogenic blood loss
pada anak yang banyak diambil darahnya di vena untuk pemeriksaan lab berisiko untuk terkena
penyakit ini.
7. idiopathic pulmonary hemosiderosis
ditandai dengan perdarahan paru yang hebat dan berulang serta adanya infiltrat pada paru yang
hilang timbul. Keadaan ini dapat menyebabkan kadar Hb menurun drastis hingga 1,5-3 g/dl dalam
24 jam.
8. latihan yang berlebihan
pada atlit yang berolahraga berat seperti olah raga lintas alam, sekitar 40% remaja perempuan dan
17% remaja laki-laki kadar feritin serumnya <10g/dl. 3
Gejala klinik

Diawali dengan gejala umum anemia dijumpai pada anemia defisiensi besi apabila kadar hemoglobin
turun di bawah 7-8 g/dl. Gejala ini berupa badan lemah, lesu, cepat lelah, mata berkunang-kunang,
serta telinga mendenging. Pada pemeriksaan fisik dijumpai pasien yang pucat, terutama pada
konjungtiva dan jaringan di bawah kuku.
Selain gejala-gejala di atas terdapat gejala-gejala khas anemia defisiensi besi yang tidak dijumpai
pada anemia jenis lain, yaitu:
koilonychia : kuku sendok (spoon nail), kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertikal dan menjadi

cekung sehingga mirip seperti sendok.


Atrofi papil lidah : permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena papil lidah menghilang
Stomatitis angularis (cheilosis) : adanya peradangan pada sudut mulut sehingga tampak sebagai

bercak berwarna pucat keputihan


Disfagia : nyeri menelan karena kerusakan epitel hipofaring
Atrofi mukosa gaster sehingga menimbulkan akhlorhidia
Pica: keinginan untuk memakan bahan yang tidak lazim, seperti : tanah liat, es, lem, dll.

Patofisiologi
Perdarahan menahun menyebabkan kehilangan besih sehingga cadangan besi makin menurun. Jika
cadangan besi menurun, keadaan ini disebut iron depleted state atau negative iron blaance. Keadaan
ini ditandai oleh penurunan kadara feritin serum, peningkatan absorbsi besi dalam usus, serta
pengecatan besi dalam sumsum tulang negatif. Apabila kekurangan besi berlanjut terus maka
cadangan besi menjadi kosong sama sekali, penyediaan besi untuk eritopoesis berkurang sehingga
menimbulkan gangguan pada bentuk eritrosit tetapi anemia secara klinis belum terjadi, keadaan ini
disebut sebagai : iron deficient erythropoesis. Pada fase ini kelainan pertama yang dijumpai adalah
peningkatan kadar free protoporfirin dalam eritrosit. Saturasi transferin menurun dan TIBC
meningkat. Apabila jumlah besi menurun terus maka eritropoesis semakin terganggu sehingga kadar
hemoglobin mulai menurun, akibatnya timbul anemia hipokromik mikrositer, disebut sebagai anemia
defisiensi besi. Pada saat ini juga terjadi kekurangan besi pada epitel serta pada beberapa enzim yang
dapat menimbulkan kelainan pada kuku epitel mulut dan faring serta berbagai gejala lainnya.

2,4

Penata laksanaan
a) Terapi kausal
Terapi terhadap penyebab perdarahan. Misalnya pada kasus perdarahan saluran cerna akibat
penggunaan obat-obat NSAID, dapat di ganti obat-obatan tersebut dengan golongan lain.
b) Pemberian preparat besi untuk mengganti kekurangan besi dalam tubuh
Terapi besi oral
Merupakan terapi pilihan pertama oleh karena efektif, murah dan aman. Preparat yang tersedia
salah satunya adalah sulfas ferosus, merupakan preparat pilihan pertama oleh karena paling
murah tetapi efektif. Dosis anjuran adalah 3x200 mg. Setiap 200mg sulfas ferosus mengandung

66mg besi elemental. Pemberian sulfas ferosus 3x200 mg mengakibatkan absorbsi besi 50 mg
per hari yang dapat meningkatkan eritropoesis 2-3 x normal.
Preparat besi oral sebaikna diberikan saat lambung kosong, tetapi efek samping lebih sering
dibandingkan dengan pemberian setelah makan. Pada pasien yang mengalami intoleransi,sulfas
ferosus dapat diberikan saat makan atau setelah makan. Efek samping utama adalah gangguan
gastrointestinal. Pengobatan besi diberikan 3-6 bulan. Dapat ditambahkan vitamin C untuk

membantu penyerapan besi.


Terapi besi parenteral
Bertujuan untuk mengembalikan kadar hemoglobin dan mengisi besi sebesar 500 sampai
1000mg. Dosis yang dapat diberikan dihitung melalui rumus:
Kebutuhan besi (mg) = (15-Hb sekarang)xBBx2,4 + 500 atau 1000 mg
Preparat yang tersedia ialah iron destran complex, iron ferric gluconate dan iron sucrose. Dapat
diberikan secara intramuskular dalam atau IV pelan. Pemberian secara IM memberiakn rasa
nyeri dan warna hitam pada kulit. Efek samping yang timbul adlaah reaksi anafilaksis,
meskipun jarang (0,6%). Efek samping lain adalah flebitis, sakit kepala, flushing, mual,muntah,

nyeri perut dan sinkop.


c) Tranfusi darah
Jarang diperlukan,hanya diberikan pada keadaan anemia yang sangat berat atau yang disertai
infeksi yang dapat mempengaruhi respons terapi. Pemberian RBC dilakukan secara perlahan
dalam jumlah yang cukup untuk menaikkan kadar Hb smapai tingkat aman sambil menunggu
respon terapi besi. Secara umum, untuk penderita anemia berat dengna kadar Hb < 4 g/dl hanya
diberi PRC dengan dosis 2-3 ml/kgBB persatu kali pemberian disertai pemberian diuretik seperti
furosemid. 2,3
Pencegahan
Tindakan pencegahan dapat berupa:

Pendidikan kesehatan :
Kesehatan lingkungan , misalnya tentang pemakaian jamban, perbaikan lingkungan kerja,

misalnya pemakaian alas kaki sehingga dapat mencegah penyakit cacing tambang.
Penyuluhan gizi untuk mendorong konsumsi makanan yang membantu absorbsi besi.
Pemberantasan infeksi cacaing tambang sebagai sumber perdarahan kronik yang paling sering
dijumpai di daerah tropik. Pengendalian infeksi cacing tambang dapat dilakukan dengan

pengobatan masal dengan obat cacing dan perbaikan sanitasi.


Suplementasi besi yaitu pemberian besi profilaksis pada segmen penduduk yang rentan, seperti ibu
hamil dan anak balita. Di Indonesia diberikan pada perempuan hamil dan anak balita memakai pil

besi dan folat.


Fortifikasi bahan makanan dengan besi, yaitu mencampurkan besi pada bahan makanan. Di negara
barat dilakukan dengan mencampur tepung untuk roti atau bubuk susu dengan besi.

Epidemiologi
Anemia defisiensi besi merupakan jenis anemia yang paling sering di jumpai baik di klinik maupun di
masyarakat. Anemia jenis ini merupakan jenis yang sangat sering dijumpai di negara berkembang.

Laki dewasa
Wanita tidak hamil
Wanita hamil

Afrika
6%
20%
60%

Amerika latin
3%
17-21%
39-46%

Indonesia
16-50%
25-48%
46-92%

Komplikasi
Nilai hemoglobin kurang dari 5g/100 ml dapat menyebabkan gagal jantung dan kematian
Prognosis
Baik bila penyebab anemia hanya karena ekkurangan besi saja dan diketahui penyebabnya serta
kemudian dilakukan penanganan yang adekuat. Gejala anemia dan manifestasi klinik lainnya akan
membaik dengan pemberian preparat besi.

Daftar pustaka
1. Davey patrick. At a Glance medicine. Jakarta : penerbit erlangga;2005. H. 78 79
2. Sudoyo Aru W,setiyohadi Bambang, Alwi Idrus, Simadibrata K Marcellus, Setiati Siti. Ilmu
Penyakit Dalam. Jakarta : FKUI;2006.h.634 40
3. Permono Bambang H, Sutaryo,Ugrasena IDG, Windiastuti Endang, Abdulsalam Maria. Buku ajar
hematologi-onkologi anak. Edisi ke 2. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia;2006.h.30 43
4. Corwin Elisabeth J. Buku saku patofisiologi. Edisi ke 3. Jakarta: penerbit buku kedokteran
EGC;2009.h.427 428.
5. L Harper James. Iron deficiency anemia. Diunduh dari :
http://emedicine.medscape.com/article/202333-treatment#aw2aab6b6b3, 16
april 2012.