Anda di halaman 1dari 10

KONSTIPASI

I.

DEFINISI
Berbagai batasan konstipasi dapat kita temui dalam literatur, yang pada
umumnya didasarkan pada frekuensi defekasi yang jarang, konsistensi
feses yang keras dan kesulitan dalam pengeluaran feses. Beberapa penulis
menggunakan batasan sederhana: defekasi kurang dari 3 kali seminggu.
Yang lain lebih menekankan pada kesulitan pengeluaran feses tanpa
memperhitungkan frekuensi.(3)
North American Society of Pediatric Gastroenterology and Nutrition
(NASPGAN) 2006 mendefenisikan konstipasi sebagai kelambatan atau
kesulitan dalam defekasi yang terjadi dua minggu atau lebih dan cukup
membuat pasien menderita. Jadi ada dua komponen penting dalam definisi
ini: a) kelambatan artinya penurunan frekuensi defekasi kurang dari 3 kali
seminggu, b) kesulitan dalam defekasi. Seorang anak mungkin bisa buang
air besar setiap hari tetapi jika disertai kesulitan dalam pengeluaran feses
disebabkan karena konsistensinya (fesesnya keras dan besar), itu disebut
konstipasi. Di lain pihak, jika seorang anak defekasi dua atau tiga hari
sekali namun fesesnya lunak dan tidak ada kesulitan dalam buang air
besar, ini tidak disebut konstipasi.(1)
Kriteria ROMA II membedakan definisi konstipasi fungsional
kronik pada dewasa, anak dan bayi. Anak dikatakan mengalami konstipasi
kronik fungsional bila tidak ada bukti kelainan anatomi, endokrin, atau
metabolik dan terdapat gejala berikut selama minimal 2 minggu, yaitu
pada anak yang berusia kurang dari 4 tahun, terdapat frekuensi defekasi
kurang 3x seminggu atau bila terdapat nyeri saat defekasi dan retensi feses
walaupun frekuensi defekasi 3 kali seminggu atau lebih. Pada anak berusia
> 4 tahun.(1) Konstipasi ditegakkan bila terdapat minimal 2 kriteria berikut:
a) frekuensi defekasi 2 kali atau kurang dalam seminggu tanpa pemberian
laksatif.
b) terdapat 2 kali atau lebih episode solling/enkopresis setiap minggunya
1

c) terdapat periode pengeluaran feses dalam jumlah besar 7 30 hari.


d) teraba massa abdominal atau massa rektal pada pemeriksaan fisik.(1)
Frekuensi Normal Defekasi pada Bayi dan Anak
Umur

Nilai Rata-rata defekasi

Nilai Rata-rata defekasi

per minggu

per hari

5 40

2,9

0 3 bulan
ASI

Formula
5 28
2,0
6 12 bulan
5 28
1,8
1 3 tahun
4 21
1,4
> 3 tahun
3 14
1,0
(4)
Table 1. Frekuensi Normal Defekasi pada Bayi dan Anak.
II.

ETIOLOGI
Pada sebagian besar anak, penyebab konstipasi adalah fungsional,

karenanya tidak terdapat bukti obyektif untuk terjadinya suatu keadaaan patologis.
Hampir 95% konstipasi pada anak disebabkan oleh kelainan fungsional dan hanya
5% disebabkan oleh kelainan organik. Di antara penyebab organik, penyakit
Hirschprung adalah penyebab tersering dan paling penting. Walaupun demikian,
pada neonatus penyebab organik lebih sering dari pada penyebab fungsional. Bila
terjadi konstipasi pada neonatus harus dipikirkan penyebab organik terlebih
dahulu seperti penyakit Hirschprung dan hipothyroidism.(1)
Konstipasi fungsional sebagian besar berkaitan dengan rasa nyeri saat
defekasi yang mengakibatkan penahanan feses secara sadar oleh seorang anak
dengan harapan defekasi yang tidak menyenangkan dapat dihindari. Berbagai
kejadian dapat menyebabkan rasa nyeri saat defekasi seperti toilet training terlalu
dini, perubahan makanan, kurang minum, dan meningkatnya kehilangan cairan
(dehidrasi), asupan susu yang berlebihan (susu mengandung rendah serat dan
tinggi kalsium), intoleransi terhadap susu sapi dapat bermanifestasi konstipasi
(8%), sebagian besar IgE-mediated dengan karakteristik utamanya infiltrasi
eosinofil, kejadian yang menyebabkan stres, menderita penyakit yang lama, tidak

tersedianya toilet, atau penundaan defekasi karena anak tersebut terlalu sibuk.
Hal-hal tersebut di atas akan menyebabkan pemanjangan stasis feses dalam kolon,
dengan reabsorpsi cairan, dan peningkatan ukuran dan konsistensi feses.(1)
Penyebab Konstipasi pada Anak
Kausa
Idiopatik atau fungsional
Lesi sekunder pada anal

95%
Fisura Anal, lokasi anus yang terletak

Neurologikal

anterior, stenosis anal


Lesi spinal cord, cerebral

Endokrine / metabolic

penyakit Hirschsprung
Hypothyroidism, asidosis,

Obat-obatan

insipidus, hyperkalsemia
Anti konvulsi, antipsikotik, codein

palsy,
diabetes

mengandung anti diare, antasid


Tabel 2. Penyebab Konstipasi pada Anak.(1)
III.

PATOFISIOLOGI
Konstipasi dapat terjadi apabila salah satu atau lebih faktor yang terkait

dengan faktor anatomi dan fisiologi dalam proses mekanisme defekasi terganggu.
Gangguan dapat terjadi pada kekuatan propulsif, sensasi rektal ataupun suatu
obstruksi fungsional pengeluaran (functional outlet). Konstipasi dikatakan
idiopatik apabila tidak dapat dijelaskan adanya abnormalitas anatomik, fisiologik,
radiologik dan histopatologik sebagai penyebabnya.(5)
Proses defekasi yang normal memerlukan keadaan anatomi dan inervasi
yang normal dari rektum, otot puborektal dan sfingter ani. Rektum adalah organ
sensitif yang mengawali proses defekasi. Tekanan pada dinding rektum akan
merangsang sistem saraf intrinsik rektum dan menyebabkan relaksasi sfingter ani
interna, yang dirasakan sebagai keinginan untuk defekasi. Sfingter anal eksterna
kemudian menjadi relaksasi dan feses dikeluarkan mengikuti peristaltik kolon
melalui anus. Bila relaksasi sfingter interna tidak cukup kuat, maka sfingter anal
eksterna akan berkontraksi secara reflek, selanjutnya sesuai dengan kemauan. Otot

puborektal akan membantu sfingter anal eksterna sehingga keinginan defekasi


juga menghilang.(5)
Pada konstipasi, feses yang terkumpul di rektum dalam waktu lebih dari
satu bulan menyebabkan dilatasi rektum. Akibatnya mengurangi aktivitas
peristaltik yang mendorong feses keluar sehingga menyebabkan retensi feses yang
semakin banyak. Peningkatan volume feses pada rektum menyebabkan
kemampuan sensorik rektum berkurang sehingga retensi feses makin mudah
terjadi.(5)
Patofisiologi Defekasi
REKTU
M

Isi
usus

REFLEKS
DEFEKASI
HILANG

SARAF
INTRINSIK
RELAKSASI
SFINGTER
INTERNA
kuat
RELAKSASI
SFINGTER
EXTERNA
DEFEK
ASI

lema
h
KONSTRIKSI
SFINGTER
EXTERNA

LAMA
Otot
puborektal

KONSTRIKSI
ANUS

Gambar 1. Patofisiologi Defekasi.(1)


IV.

GEJALA DAN TANDA KLINIS


Pada anamnesis didapatkan riwayat berkurangnya frekuensi defekasi.

Dengan terjadinya retensi tinja, gejala dan tanda lain konstipasi berangsur muncul
seperti nyeri dan distensi abdomen, yang sering hilang sesudah defekasi. Penting
dicatat adanya riwayat tinja yang keras dan/atau tinja yang sangat besar yang
mungkin menyumbat saluran toilet. Seorang anak yang mengalami konstipasi
biasanya mengalami anoreksia dan kurangnya kenaikan berat badan, yang akan
mengalami perbaikan bila konstipasinya diobati. Upaya menahan tinja dapat
disalahtafsirkan sebagai upaya mengejan untuk defekasi. Inkontinensia urin dan
4

infeksi saluran kemih, seringkali berkaitan dengan konstipasi pada anak.


Kadangkala, retensi urin, megakistik, dan refluks vesikoureter ditemukan pada
anak dengan konstipasi kronis. Jika feses lama berada di rektum, lebih banyak
bakteri yang berkolonisasi di perineum sehingga akan meningkatkan risiko infeksi
saluran kemih. Penelitian menemukan bahwa dengan mengobati konstipasi akan
menurunkan risiko rekurensi dari infeksi saluran kemih.(1)
Pada pemeriksaan klinis didapatkan distensi abdomen dengan bising usus
normal, meningkat atau berkurang. Massa abdomen teraba pada palpasi abdomen
kiri dan kanan bawah dan daerah suprapubis. Pada kasus berat, massa tinja kadang
dapat teraba di daerah epigastrium. Fisura ani serta ampula rekti yang besar dan
lebar merupakan tanda penting pada konstipasi. Pemeriksaan fisik yang penting
yang membedakan konstipasi organik dan fungsional dapat dilihat pada Tabel 3.
Perbandingan antara Konstipasi Fungsional dengan Hirschsprung Disease
Gejala
Mekonium terlambat
Onset
Failure to thrive
Fecal incontinence
Riwayat adanya fissura
Distensi abdomen
Enterocolitis
Colok dubur

Konstipasi fungsional

Hirschsprung Disease

Jarang
Setelah 2 tahun
Jarang
Sering
Sering
Jarang
Tidak
Terdapat feses

Sering
Saat lahir
Sering
Hampir tidak pernah
Jarang
Sering
Bisa terjadi
Kosong
Tinja menyemprot bila

telunjuk dicabut
Gagal tumbuh
Jarang
Sering
Tabel 3. Perbandingan antara Konstipasi Fungsional dengan Hirschsprung
Disease(1)
V.

DIAGNOSIS
Langkah pertama yang penting dilakukan adalah menyingkirkan

kemungkinan pseudokonstipasi. Pseudokonstipasi merujuk pada keluhan orang


tua bahwa anaknya menderita konstipasi padahal tidak ada konstipasi. Pada
anamnesis perlu ditanyakan mengenai konsistensi tinja dan frekuensi defekasi.
5

Pada pemeriksaan fisik, palpasi abdomen yang cermat dan colok dubur perlu
dilakukan. Banyak orang tua mengeluh bayinya sering menggeliat, wajahnya
memerah, dan tampak mengejan kesakitan waktu berhajat. Semua itu normal dan
bukan pertanda adanya konstipasi. Bila tinja anak lunak dan pada pemeriksaan
fisik tidak ditemukan kelainan, maka tidak ada konstipasi berapa kalipun
frekuensi defekasi. Orang tua merasa anaknya memiliki masalah defekasi bila
tidak melihat anaknya defekasi dalam sehari. Oleh karena itu, sebelum
memikirkan berbagai etiologi konstipasi, penting sekali mengidentifikasi kasus
pseudokonstipasi dan memberi edukasi kepada orang tua mengenai hal ini. (1)
Bila memang terdapat konstipasi, langkah berikut adalah membedakan
apakah konstipasi berlangsung akut atau kronis. Dikatakan konstipasi akut bila
keluhan berlangsung kurang dari 1 4 minggu dan konstipasi kronis bila keluhan
berlangsung lebih dari 1 bulan.(1)
Penyebab konstipasi akut yang paling sering adalah konstipasi fungsional,
fisura ani, infeksi virus dengan ileus, diet, dan obat. Tetapi perlu dipikirkan
kelainan yang mengancam kehidupan, seperti obstruksi usus, dehidrasi dan
botulisme infantil. Salah satu penyebab tersering konstipasi akut adalah infeksi
virus. Infeksi virus dapat menyebabkan ileus nonspesifik dan berkurangnya
frekuensi defekasi. Anak juga mengalami anoreksia serta kehilangan banyak
cairan melalui saluran nafas dan demam.(1)
Pada konstipasi kronis keluhan berlangsung lebih dari 1 bulan. Konstipasi
kronis biasanya fungsional, tetapi perlu dipertimbangkan adanya penyakit
Hirschsprung karena berpotensi menimbulkan komplikasi yang serius.(1)

Pemeriksaan Penunjang
Beberapa pemeriksaan penunjang dilakukan pada kasus-kasus tertentu yang
diduga mempunyai penyebab organik.
1. Pemeriksaan foto polos abdomen untuk melihat kaliber kolon dan massa
tinja dalam kolon. Pemeriksaan ini dilakukan bila pemeriksaan colok
6

dubur tidak dapat dilakukan atau bila pada pemeriksaan colok dubur tidak
teraba adanya distensi rektum oleh massa tinja.(1)
2. Pemeriksaan barium enema untuk mencari penyebab organik seperti
Morbus Hirschsprung dan obstruksi usus.(8)
3. Pemeriksaan darah terutama pemeriksaan fungsi tiroid T4 dan TSH
dilakukan untuk memastikan diagnosis, apabila ditemukan kadar T4 rendah
disertai kadar TSH yang meningkat maka diagnosis bisa ditegakkan untuk
menyingkirkan diagnosis banding lainnya.(8)
4. Pemeriksaan radiologis berupa pemeriksaan osifikasi tulang (bone age).
Biasanya pada hipotiroidisme ada ketidak sesuaian antara bone age dan
chronological age.(7)
VI.

PENATALAKSANAAN

Tata laksana meliputi :

Edukasi orang tua. Edukasi pada orang tua ini dapat diberikan mengenai
pengertian konstipasi, meliputi penyebab, gejala maupun terapi yang dapat
diberikan. (6)

Evakuasi atau pembersihan skibala. Adalah awal yang sangat penting


untuk dilakukan sebelum memulai terapi rumatan. Skibala dapat
dikeluarkan dengan obat per oral atau per rectal. Pemberian obat secara
oral merupakan pengobatan yang tidak invasive namun memerlukan
ketaatan dalam meminum obat. Sebaliknya pemakaian obat melalui rectal
memberikan efek yang cepat namun memberikan efek psikologis yang
kurang baik pada anak dan dapat menimbulkan trauma pada anus. Obat
per oral yang biasa dipakai adalah mineral oil, larutan polietilen glikol,
laktulosa, sorbitol. Mineral oil (paraffin liquid) dengan dosis 1530ml/tahun umur (maksimum 240 ml sehari) kecuali pada bayi. Larutan
polietilen

glikol

diberikan

20ml/kg/jam

(maksimum

1000ml/jam)

diberikan melalui NGT selama 4 jam perhari. Evakuasi tinja dengan obat
per rectum dapat menggunakan enema fosfat hipertonik (3ml/kg BB 1-2
kali sehari maksimum 6 kali enema), enema garam fisiologis (6007

1000ml). Pada bayi digunakan enema gliserin 2-5ml. Evakuasi tinja


dilakukan selama 3 hari berturut-turut agar evakuasi tinja sempurna. (6)

Terapi rumatan untuk mencegah kekambuhan , yang meliputi :


1. Intervensi

diet,

anak

dianjurkan

banyak

minum,

serta

menkonsumsi karbohidrat dan serat. (6)


2. Modifikasi prilaku dan toilet training. Segera setelah makan anak
dianjurkan untuk buang air besar, beri waktu sekitar 10-15 menit
bagi anak untuk buang air besar. Bila dilakukan secara teratur akan
mengembangkan reflek gastrokolik pada anak. (6)
3. Pemberian laksatif seperti laktulosa, sorbitol dan paraffin liquid.
Apabila

terjadi

konstipasi

kronik,

rujuk

ke dokter

subspesialis

gastrohepatologi anak. (6)

Bedah
Diperlukan pada kasus Hirschsprung, striktura ani dan adanya kelainan
organik. (6)

Lain-lain (rujukan subspesialis, rujukan subspesialis lainnya, dll)


Bila terjadi konstipasi kronik lebih dari 3 bulan, rujuk ke konsultan
gastrohepatologi. (6)

VII.

PROGNOSIS
Keberhasilan pengobatan konstipasi sangat tergantung dari penyebabnya.

Anak dengan inkontinensia feses yang volunter tanpa disertai adanya mega
rektum dan impaksi (kemacetan) sangat resisten terhadap pengobatan. Anak
dengan keadaan seperti ini seringkali disertai gangguan tingkah laku yang berat,
8

dan memerlukan evaluasi dan pengobatan psikiatri. Selain itu, angka keberhasilan
tindakan pembedahan kolon pada penderita konstipasi yang intraktabel sangat
tergantung pada ketepatan diagnosis praoperasi. (6,7)

DAFTAR PUSTAKA
1. USU.Konstipasi.Availablefrom:repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/312
36/4/Chapter II.pdf

2. Mansjoer, Arif. Konstipasi. Kapita Selekta Kedokteran Gastroenterologi


Anak. Media Aesculapius FKUI. Jakarta :2000
3. Syarif, Badriul Hegar. Konstipasi Fungsional. Sari Pediatri Vol. 6. Penerbit
FKUI. Jakarta :2004
4. Wendy S. Biggs, M.D., William H. Dery, M.D. Evaluation and Treatment of
Constipation in Infants and Children, Michigan State University College of
Human Medicine, East Lansing, Michigan [online]. 2015 june 1;73(3):469477

[cited

2015

june

7].

Available

from:

http://www.aafp.org/afp/2015/0201/p469.html
5. Alpha Fardah A., IG. M. Reza Gunadi Ranuh, Subijanto Marto Sudarmo.
Konstipasi. Bag/ SMF Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran UNAIR
Surabaya

[online].

2015

[cited

2015

june

7].

Available

from:

http://www.pediatrik.com/isi03.php?
page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110cmis232.htm
6. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Konstipasi Standar Pelayanan Medis
Kesehatan Anak Edisi I 2004. Badan Penerbit IDAI. 2005.
7. Staf Pengajar Ilmu kesehatan Anak FKUI . Buku kuliah jilid 1 Ilmu
Kesehatan Anak hal 266. InfoMedika.Jakarta: 1985.
8. E. Behrman, Richard. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi 12 Bagian 3.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

10