Anda di halaman 1dari 5

1.

Indeks Massa Tubuh (IMT)


Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan alat

atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa, khususnya
yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Berat badan kurang
dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit infeksi, sedangkan berat badan lebih
akan meningkatkan resiko terhadap penyakit degeneratif. Oleh karena itu,
mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai
usia harapan hidup yang lebih panjang.
Pedoman ini bertujuan memberikan penjelasan tentang cara-cara yang
dianjurkan untuk mencapai berat badan normal berdasarkan IMT dengan
penerapan hidangan sehari-hari yang lebih seimbang dan cara lain yang sehat.
Untuk memantau indeks masa tubuh orang dewasa digunakan timbangan berat
badan dan pengukur tinggi badan.
Dengan IMT akan diketahui apakah berat badan seseorang dinyatakan
normal, kurus atau gemuk. Penggunaan IMT hanya untuk orang dewasa berumur
> 18 tahun dan tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil, dan
olahragawan.
Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut:
Berat Badan (Kg)
IMT

= ------------------------------------------------------Tinggi Badan (m) X Tinggi Badan (m)


Batas ambang IMT ditentukan dengan merujuk ketentuan FAO/WHO,

yang membedakan batas ambang untuk laki-laki dan perempuan. Disebutkan


bahwa batas ambang normal untuk laki-laki adalah: 20,125,0; dan untuk
perempuan adalah : 18,7-23,8. Untuk kepentingan pemantauan dan tingkat
defesiensi

kalori

ataupun

tingkat

kegemukan,

lebih

lanjut FAO/WHO

menyarankan menggunakan satu batas ambang antara laki-laki dan perempuan.


Ketentuan yang digunakan adalah menggunakan ambang batas laki-laki untuk
kategori kurus tingkat berat dan menggunakan ambang batas pada perempuan
untuk kategorigemuk tingkat berat. Untuk kepentingan Indonesia, batas ambang

dimodifikasi lagi berdasarkan pengalam klinis dan hasil penelitian dibeberapa


negara berkembang. Pada akhirnya diambil kesimpulan, batas ambang IMT untuk
Indonesia adalah sebagai berikut:
Kategori
IMT
Kekurangan berat badan tingkat berat < 17,0
Kekurangan berat badan tingkat 17,0 18,4

Kurus

ringan
Normal
Gemuk

Kelebihan berat badan tingkat ringan


Kelebihan berat badan tingkat berat

18,5 25,0
25,1 27,0
> 27,0

Jika seseorang termasuk kategori :


1

IMT < 17,0: keadaan orang tersebut disebut kurus dengan kekurangan berat badan
tingkat berat atau Kurang Energi Kronis (KEK) berat.

IMT 17,0 18,4: keadaan orang tersebut disebut kurus dengan kekurangan berat
badan tingkat ringan atau KEK ringan.
1.3

Kadar Gula Darah


Diabetes mellitus adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula

sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau
menggunakan insulin secara cukup. Insulin adalah hormon yang dilepaskan oleh
pankreas, yang bertanggungjawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang
normal. Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan
energi atau disimpan sebagai cadangan energi. Menurut kriteria diagnostik
PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) 2006, seseorang dikatakan
menderita diabetes jika memiliki kadar gula darah puasa >126 mg/dL dan pada tes
sewaktu >200 mg/dL.
Glukosa darah berasal dari absorbsi pencernaan makanan dan pembebasan
glukosa dari persediaan glikogen sel. Tingkat glukosa darah akan turun apabila
laju penyerapan oleh jaringan untuk metabolisme atau disimpan lebih tinggi
daripada laju penambahan. Penyerapan glukosa oleh sel-sel distimulus oleh
insulin, yang disekresikan oleh sel- dari pulau-pulau langerhans. Glukosa

berpindah dari plasma ke sel-sel karena konsentrasi glukosa dalam plasma lebih
tinggi daripada di dalam sel (Soewolo, 2000).
Diabetes biasanya menunjukkan konsentrasi glukosa abnormal yang tinggi
dalam darah, kondisi ini disebut hiperglikemia. Dalam keadaan yang sangat parah
atau diabetes yang tidak terkontrol, tingkat glukosa darah mungkin naik sampai
sebesar 100 mM atau 25 kali lebih besar dan nilai normalnya kira-kira 4 mM.
Seorang yang normal akan segera mencerna glukosa, konsentrasinya tidak akan
lebih kira-kira 9 atau 10 mM. Sebab bertambahnya konsentrasi gula darah
menyebabkan sekresi insulin oleh pankreas, yang selanjutnya menyebabkan
meningkatnya pengambilan glukosa oleh darah (Lehninger, 1994).
Pemeliharaan kadar glukosa darah merupakan faktor amat penting,
khususnya untuk menjaga fungsi sistem saraf. Kadar gula darah bervariasi,
tergantung status nutrisi. Kadar gula normal manusia, beberapa jam setelah makan
sekitar 80mg/ 100ml darah, tetapi sesaat sehabis makan meningkat sampai
120mg/100 ml. Glukosa bersama asam lemak adalah molekul-molekul bahan
bakar utama pemicu metabolisme makhluk hidup. Organ pengguna bahan bakar
terbanyak adalah hati, otak, jantung, otot, dan jaringan adiposa. Mekanisme
homeostatik

berperan

untuk

memasukkan

glukosa

ke

dalam

sel dan

penggunaannya oleh jaringan tubuh. Bila kadar gula turun, mekanisme pelepasan
gula simpanan glikogen dalam sel (atau dari glukoneogenesis) terbuka, sehingga
kadar normal tetap terpelihara (Anonimous, 2009).
Kadar gula darah sepanjang hari bervariasi dimana akan meningkat setelah
makan dan kembali normal dalam waktu 2 jam. Kadar gula darah yang normal
pada pagi hari setelah malam sebelumnya berpuasa adalah 70-110 mg/dL darah.
Kadar gula darah biasanya kurang dari 120-140 mg/dL pada 2 jam setelah makan
atau minum cairan yang mengandung gula maupun karbohidrat lainnya (Villee,
1999).
Kadar gula darah yang normal cenderung meningkat secara ringan tetapi
progresif (bertahap) setelah usia 50 tahun, terutama pada orang-orang yang tidak
aktif bergerak. Peningkatan kadar gula darah setelah makan atau minum
merangsang pankreas untuk menghasilkan insulin sehingga mencegah kenaikan

kadar gula darah yang lebih lanjut dan menyebabkan kadar gula darah menurun
secara perlahan (Lehninger, 1994).
Ada cara lain untuk menurunkan kadar gula darah yaitu dengan melakukan
aktivitas fisik seperti berolahraga karena otot menggunakan glukosa dalam darah
untuk dijadikan energi (Nogrady, 1992).
Ada tiga cara untuk mengukur kadar gula darah: (Anonimous, 2009).
1. Tes gula darah sewaktu.
Tes ini mengukur glukosa dalam darah yang diambil kapan saja, tanpa
memperhatikan waktu makan.
2. Tes gula darah puasa.
Tes ini menggunakan contoh darah yang diambil saat kita tidak makan
atau minum apa pun (kecuali air putih) selama sedikitnya delapan jam.
3. Tes toleransi glukosa.
Tes ini dimulai dengan tes gula darah puasa, kemudian kita diberikan
minuman yang manis yang mengandung gula dengan ukuran tertentu.
Kadar gula darah lalu diukur dengan menggunakan beberapa contoh darah
yang diambil pada jangka waktu yang tertentu. Di Indonesia, yang lebih sering
dilakukan adalah tes gula darah setelah makan. Juga dimulai dengan tes gula
darah puasa, kemudian kita diminta untuk makan seperti biasa, dan darah kita
akan diperiksa lagi dua jam kemudian. Jika gula darah kita terlalu tinggi, kita
mungkin diabetes. Terapi untuk diabetes meliputi mengurangi berat badan,
mengatur pola makanan, dan olahraga. Bisa juga termasuk obat atau suntikan
insulin (Guyton, 1997).
Menurut Villee (1999), bahwa sekresi insulin dan glukagon dikontrol oleh
kadar glukosa dalam darah. Jika kadar glukosa dalam darah naik (umpama setelah
makan), maka sekresi insulin terangsang dan bekerja untuk mengembalikan kadar
glukosa dalam keadaan normal.
Dalam otot rangka insulin akan meningkatkan pemasokan glukosa ke
dalam sel otot yang juga menstimulasi sintesis glikogen. Dengan demikian
simpanan glikogen dalam sel otot meningkat. Penyerapan asam amino ke dalam
hati, otot dan jaringa adipose juga meningkat setelah makan sebagai respon
adanya insulin (Susilawati,2009).

Kimball, John W. 1983. Biologi, Jilid 2. Jakarta: Penerbit Erlangga


Lehninger, Albert L. 1994. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 3. Jakarta: Erlangga
Nogrady, Thomas. 1992. Kimia Medisinal Terbitan Kedua. Bandung: Penerbit
ITB
Siswono, 2002. Glisemik Bahan Pangan Perspektif Baru-Pada Formulasi Produk
Pangan untuk Penderita Diabetes. http://www.gizi.net. Akses 18 mei 2009.
Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta: Proyek Pengembangan Guru
Sekolah Menengah IBRD Loan.
Susilowati, Retno. 2009. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan. Malang: fakultas
Sains dan teknologi UIN-Malang
Villee, Claude A. 1999. Zoologi Umum Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga