Anda di halaman 1dari 12

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman tomat (Solanum lycopersicum

L.) termasuk keluarga besar

Solanaceae, keluarga ini terdiri dari 2200 spesies yang banyak menghasilkan
karbohidrat, obat-obatan, bunga dan buah serta obat penyegar sekaligus
insektisida. Tanaman tomat sangat mudah terserang penyakit layu dimana jika
pemberantasannya menggunakan fungisida sintetis banyak menimbulkan masalah
yaitu bioakumulasi residu bahan kimia pada organisme bukan sasaran,
pencemaran lingkungan serta biaya produksi tinggi (Ashari, 1996).
Tanaman tomat dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi.
Lahan yang dapat dimanfaatkan untuk penanaman tomat meliputi lahan kering
dan lahan bekas sawah. Temperatur yang baik untuk pertumbuhan tomat adalah
21-28oC di siang hari dan 15o-20oC di malam hari. Derajat keasaman tanah (pH
tanah) yang diperlukan berkisar antara 5,5 sampai 6,5 (Adiyoga, 2004).
Dalam budidaya tomat terdapat masalah yang harus diatasi oleh petani
antara lain infeksi mikroba patogen penyebab penyakit. Penyakit yang disebabkan
oleh mikroba patogen seperti busuk daun (Phytophtora infestans), becak coklat
(Altenaria solani), kapang daun (Fulvia fulva), layu bakteri (Pseudomonas
solanacearum), layu fusarium (Fusarium oxysporum), mosaik tembakau (virus
Tobacco mosaic), busuk buah (Sclerotium rolfsii), kapang kelabu (Cercospora
sp.), busuk lunak (Erwinia carotovora), becak bakteri (Xanthomonas campestris)
(Semangun, 2000).
Salah satu mikroba patogen yang menyerang tanaman tomat adalah
Fusarium. Fusarium tahan hidup lama di dalam tanah tanpa inang. Gejala diawali

dengan terangnya pembuluh angkut pada permukaan terluar helaian daun dan
gugurnya tangkai daun, kemudian bagian dalam daun berubah menjadi kuning
dan mati Fusarium oxysporum menyebabkan layu benih, pemucatan pada tulang
daun, dan perebahan tangkai pada cabai sehingga dapat menghambat
pertumbuhan dan membunuh tanaman. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya
pencegahan terhadap serangan F. oxysporum. (Miller, 2004).
Salah satu penanganan layu Fusarium dengan menggunakan bakteri yang
menghasilkan antijamur. Sebagai contoh Bacillus subtilis yang menghambat
pertumbuhan layu Fusarium oxysporum f.sp. gladioli pada tanaman gladiol
(Wardhana

2009).

Burkholderia

cepacia

yang

menghambat

Fusarium

moniliforme (Hebbar et al. 1992), F. sumbucinum (Burkhead et al. 1994) dan


F. oysporum f.sp. cubense (Widono, dkk, 2003).
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk mengetahui penyakit
busuk buah ( Erwinia caratovora pv. carotovora (Jones) Dye ) Pada Tanaman
Tomat (Solanum lycopersicum L.)
Kegunaan Penulisan
Adapun kegunaan penulisan dari paper ini adalah : Sebagai salah satu
syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Dasar Perlindungan
Tanaman Sub Penyakit ,Program Studi Agroekoteknologi ,Fakultas Pertanian
,Universitas Sumatera Utara . Dan sebagai sumber informasi bagi pihak yang
membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Tanaman tomat diklasifikasikan sebagai berikut, Diviso : Spermatophyta,
Subdivisio : Angiospermae, Class : Dicotyledoneae Superorder : Asteridae, Order:
Polemoniales,

Family

Solanaceae

Genus

Lycopersion,

Species

Lycopersion esculentum Mill (Cahyono, 1998).


Tanaman tomat memiliki akar tunggang yang tumbuh menembus kedalam
tanah dan akar serabut yang tumbuh ke arah samping tetapi dangkal. Berdasarkan
sifat perakaran ini, tanaman tomat akan dapat tumbuh dengan baik jika ditanam
ditanah yang gembur dan porous (Campbell, 1994).
Batang tanaman tomat berbentuk persegi empat hingga bulat, berbatang
lunak tetapi cukup kuat, berbulu atau berambut halus dan diantara bulu bulu itu
terdapat rambut kelenjar. Batang tanaman tomat berwarna hijau, pada ruas ruas
atas batang mengalami penebalan, dan pada ruas bagian bawah tumbuh akar
akar pendek. Selain itu, batang tanaman tomat dapat bercabang dan apabila tidak
dilakukan pemangkasan akan bercabang banyak yang menyebar secara merata
(Black, 1991).
Bunga tanaman tomat berukuran kecil, berdiameter sekitar 2 cm dan
berwarna kuning cerah. Kelopak bunga yang berjumlah 5 buah dan berwarna
hijau terdapat pada bagian bawah atau pangkal bunga. Bagian lain pada bunga
tomat adalah mahkota bunga, yaitu bagian terindah dari bunga tomat. Mahkota
bunga tomat berwarna kuning cerah, berjumlah sekitar 6 buah dan berukuran
sekitar 1 cm. bunga tomat merupakan bunga sempurna, karena benang sari atau

tepung sari dan kepala benang sari atau kepala putik terletak pada bunga yang
sama. Bunganya memiliki 6 buah tepung sari dengan kepala putik berwarna sama
dengan mahkota bunga, yakni kuning cerah. Bunga tomat tumbuh dari batang
(cabang) yang masih muda ( Sastrahidayat, 1990).
Buah tomat memiliki bentuk bervariasi, tergantung pada jenisnya. Ada
buah tomat yang berbentuk bulat, agak bulat, agak lonjong, bulat telur (oval), dan
bulat persegi. Ukuran buah tomat juga sangat bervariasi, yang berukuran paling
kecil memiliki berat 8 gram dan yang berukuran besar memiliki berat sampai 180
gram. Buah tomat yang masi muda berwarna hujau muda bila sudah matang
warnanya menjadi merah. Buah tomat yang masih muda memiliki rasa getir dan
aromanya tidak enak, sebab masih mengandung zat lycopersicin yang berbentuk
lender. Aroma yang tidak sedap tersebut akan hilang dengan sendirinya pada saat
buah memasuki fase pematangan hingga matang. Rasanya juga akan berubah
menjadi manis agak masam yang menjadi ciri khas kelezatan buah tomat
(Wang, 2005).
Syarat Tumbuh
Iklim
Suhu yang diinginkan tomat yaitu siang hari 24C dan malam hari
antara 15C20C. Pada temperatur tinggi (diatas 32C) warna buah tomat
cenderung kuning, sedangkan pada temperatur yang tidak tetap (tidak stabil)
warna buah tidak merata. Temperatur ideal antara 24 C 28C. Curah hujan
antara 750125 mm/tahun, dengan irigasi yang baik (Balai pustaka statistik,
2000).

Intensitas cahaya matahari yang dibutuhkan tanaman tomat sekurangkurangnya 10-12 jam setiap hari. Cahaya matahari tersebut digunakan untuk
proses fotosintesis, pembentukan bunga, pembentukan buah, dan pemasakan
buah. Jika tanaman ternaungi alias kekurangan cahaya matahari akan berdampak
negative, misalnya umur panen menjadi lemas, tanaman tumbuh meninggi, dan
tanaman lebih gampang terkena cendawan (Anonymousa, 2011
Tanah
Tomat tumbuh dari dataran tinggi >750 mdpl, sesuai dengan jenis/varietas
yang diusahakan Kemasaman tanah sekitar 5.5 6.5, penyerapan unsur hara
terutama fosfat, kalium dan besi oleh tanaman tomat. Tanah yang baik untuk
budidaya tomat tanah yang subur yang kaya unsur hara (Jones et al ,1991)
Tomat bisa ditanam pada semua jenis tanah, seperti andosol, regosol,
latosol, ultisol, dan grumusol. Namun demikian, tanah yang paling ideal dari jenis
lempung berpasir yang subur, gembur, memiliki kandungan bahan organik yang
tinggi, serta mudah mengikat air (porous). Jenis tanah berkaitan dengan peredaran
dan ketersediaan oksigen di dalam tanah. Ketersediaan oksigen penting bagi
pernapasan akar yang memang rentan tehadap kekurangan oksigen. Kadar
oksigen yang mencukupi di sekitar akar bisa meningkatkan produksi buah.
Oksigen di sekitar akar bisa juga meningkatkan penyerapan unsur hara fosfat,
kalium, dan besi (Anonymousb, 2011).
Untuk pertumbuhannya yang baik, tanaman tomat membutuhkan tanah
yang gembur, kadar keasaman (pH) antara 5-6, tanah sedikit mengandung pasir,
dan banyak mengandung humus, serta pengairan yang teratur dan cukup mulai
tanam sampai waktu tanaman mulai dapat dipanen (Anonymousb, 2011).

PENYAKIT BUSUK BUAH ( Erwinia caratovora pv. carotovora (Jones) Dye )


PADA TANAMAN TOMAT (Solanum lycopersicum L.)
Biologi Penyakit
Sistematika

penyakit

tanaman

family

Solanaceae

busuk

lunak

(Erwinia carotovora pv. carotovora (Jones) Dye.) pada tanaman tomat


(Lycopersicum esculentum Mill) adalah sebagai berikut : Kingdom: Bacteria;
Divisio: Proteobacteria; Kelas :Gammaproteobacteria; Ordo :Enterobacteriales
Famili

: Enterobacteriaceae;

Genus : Erwinia;

Spesies :

Erwinia carotovora pv. carotovora (Jones) Dye (Avandy, et al, 2011).


Siklus Hidup
Bakteri Erwinia carotovora pv. carotovora (Jones) Dye. Adalah satusatunya bakteri patogenik tumbuhan yang bersifat anaerob fakultatif. Bakteri ini
mempunyai aktivitas pektolitik yang kuat dan menyebabkan busuk lunak pada
tanaman famili solanaceae. Bakteri ini menyerang jaringan tanaman pada
umumnya melalui pelukaan dan juga dapat melalui lubang alami.
(Hardiyanto, 2010)
Gejala serangan
Gejala serangan Erwinia carotovora pv. carotovora (Jones) Dye. lebih banyak
dijumpai pada tempat penyimpanan atau pada waktu pengangkutan (pasca panen)
daripada dilapangan. Gejala awal pada daun segar terjadi bercak-bercak berair
yang kemudian membesar dan berwarna coklat. Pada serangan lanjut, daun yang
terinfeksi

melunak,

(Sagala, 1998).

berlendir

dan

mengeluarkan

bau

yang

khas

Bakteri Erwinia caratovora pv. carotovora (Jones) Dye pada buah Tomat
Sumber: http://www.studentpaper.ub.ac.id/78525925/.
Penyakit busuk lunak tergolong penyakit yang serius. Gejala serangan
ditandai dengan munculnya bintik-bintik kecil berwarna kecoklatan di permukaan
daun. Bercak-bercak kecil berair tersebut kemudian berkembang menjadi
kecoklatan dan mengeluarkan bau busuk (Hakim, 2010).
Penyebab penyakit busuk lunak pada tanaman family Solanaceae adalah
Erwinia carotovora pv. carotovora (Jones) Dye. Ciri khas bakteri tersebut terlihat
dari sel bakteri yang berbentuk batang dengan ukuran (1,5-2,0) x (0,6-0,9) micron,
umumnya membentuk rangkaian sel seperti rantai, tidak mempunyai kapsul dan
tidak berspora. Bakteri bergerak menggunakan flagella yang terdapat di sekeliling
sel bakteri (flagella peritrichous). Bakteri bersifat gram negative. Suhu optimal
untuk perkembangan bakteri adalah 170C pada kondisi kelembapan rendah dan
suhu yang rendah maka perkembangan bakteri akan terhambat (Hakim, 2010).
Udara lembab dan suhu yang relatif rendah akan membantu mempercepat
pembusukan jaringan tanaman yang terinfeksi jaringan tanaman ini, berakibat
tanaman akan mati. Bakteri Erwinia carotovora pv. carotovora (Jones) Dye.
didataran rendah lebih banyak menimbulkan kerugian daripada didataran tinggi
(Sagala, 1998).
Pengendalian
Pengendalian penyakit busuk lunak pada sayur-sayuran masih dikhususkan
pada sanitasi dan kultur teknik. Semua sisa-sia tanaman dibersihkan dari sekitar

gudang penyimpanan dan dinding gudang harus didisinfeksi dengan larutan yang
mengandung formal dehida atau tembaga sulfat. Kemudian hanya menyimpan
hasil panen yang sehat saja. Jaringan sakit atau yang terinfeksi harus segera
dibuang dan dibakar. Hasil panen sebaiknya disimpan dalam keadaan kering dan
kelembapan dalam gudang dijaga tetap rendah untuk mencegah terjadinya infeksi.
Suhu diatur sekitar 40C untuk menghambat perkembangan bakteri jika terjadi
infeksi baru. Pengendalian terhadap penyakit busuk lunak ini antara lain :
(Asniah, 2006).
1. Sanitasi, yaitu menjaga kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman sakit
sebelum menanam.
2. Menanam dengan jarak yang tidak terlalu rapat untuk menghindari
kelembaban yang terlalu tinggi, terutama dimusim hujan.
3. Pada waktu pemeliharaan tanaman sejauh mungkin dihindari
terjadinya luka yang tidak perlu khususnya pada waktu menyiang.
4.

Pengendalian pasca panen dilakukan dengan :


a.

Mencuci tanaman dengan air yang mengandung kloroks.

b.

Mengurangi terjadinya luka dalam penyimpanan dan


pengangkutan.

c.

Menyimpan dalam ruangan yang cukup kering, mempunyai


Ventilasi cukup, sejuk dan difumigasi sebelumnya.

Ciri Fisik khas bakteri tersebut terlihat dari sel bakteri yang berbentuk
batang dengan ukuran (1,5-2,0) x (0,6-0,9) micron, umumnya membentuk
rangkaian sel seperti rantai, tidak mempunyai kapsul dan tidak berspora. Bakteri

bergerak menggunakan flagella yang terdapat di sekeliling sel bakteri


(flagella peritrichous). Bakteri bersifat gram negative (Hayward, 1991 ).
Bakteri Erwinia carotovora pv. carotovora (Jones) Dye. Adalah satusatunya bakteri patogenik tumbuhan yang bersifat anaerob fakultatif. Bakteri ini
mempunyai aktivitas pektolitik yang kuat dan menyebabkan busuk lunak pada
tanaman famili solanaceae. Bakteri ini menyerang jaringan tanaman pada
umumnya melalui pelukaan dan juga dapat melalui lubang alami
(Jones et al. 2004).

10

KESIMPULAN
1. Penyakit busuk lunak pada tanaman famili Solanaceae disebabkan oleh bakteri
. Erwinia carotovora pv. carotovora (Jones) Dye.
2. Erwinia carotovora pv. carotovora (Jones) Dye. memiliki gejala serangan yaitu
terdapat bercak berair pada daun segar dan pada buah terdapat bercak-bercak
hitam.
3. Pengendalian Intensitas serangan penyakit dapat dilakukan dengan cara sanitasi
pada lahan bekas terserang penyakit busuk lunak dan sanitasi pada gudang.
4. Bakteri Erwinia carotovora pv. carotovora (Jones) Dye. menyebabkan
kerugian pada tanaman tomat dan famili solanacea lainnya yakni pada masa
pra-panen dan pasca panen.
5. Salah satu penyebab kendala pengendalian penyakit ini adalah suhu, iklim dan
ketinggian tempat

11

DAFTAR PUSTAKA
Adiyoga, A. L. 2004. Ilmu Penyakit Tumbuhan II. Banyumedia Publising,
Malang.
AnonimusA.
2011.
Botani
Tanaman
Tomat.
diakses
dari
http://www.repository.usu.ac.id/simre/. Pada tanggal 4 April 2012 Pukul 18.00
wib.
AnonimusB. 2011. Morfologi Tomat. Diakses dari
http://www.studentpaper.ub.ac.id/78525925/. Pada tanggal 4 April 2012 Pukul
19.00 wib
Ashari, S. 1996. Hortikultura, Aspek Budidaya. Jakarta. UI press.
Asniah, K.A. 2006. Pengaruh Waktu Aplikasi VA Mikoriza dalam
Mengendalikan Penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxysporum) pada
Tanaman Tomat. Agriplus. Vol. 16. 1:12 17.
Avandy, U; Dewi, R.M.; dan Rahayu, S.K.,2011. Tugas Mata Kuliah
erlindungan Tanaman Penyakit Busuk Lunak Erwinia carotovora.
Diakses
dari
http://www.scribd.com/makalah-bakteri-busuklunak/829857/ . Pada tanggal 3 April 2012 pukul 17.00 wib
Balai Pustaka Statistik, 2002. Produksi Tanaman Padi, Palawija, Sayuran dan
Buah-Buahan di Sulawesi Tenggara. Kendari.
Black, L.L (ed.) 1991. Pepper Disease: A Field Guide. AVRDC Publication
No. 91-347, 98 p.
Cahyono B., 1998. Tomat (Budidaya dan Analisa Usaha Tani). K.UGM Press
Yogyakarta.
Campbell, .1994. Penyakit Pada Tanaman. UGM Press, Yogyakarta.
Hakim, C. 2010. Keefektifan Biopestisida Organik Cair untuk Mengendalikan
Penyakit Busuk Lunak yang Disebabkan oleh Erwinia carotovora pada
Anggrek Phalaenopsis sp. Bumi Aksara. Bandung.
Hardiyanto, 2010.Pengujian Ketahanan Anggrek Phalaenopsis terhadap Penyakit
Busuk Lunak yang disebabkan oleh Erwinia carotovora Secara In Vitro.
diakses dari http://repository.ipb.ac.id. Pada tanggal 3 April 2012 pukul 1
17.07 wib.
Hayward, AC. 1991. Biology and apidemiology of bacterial wilt caused by
Pseudomonas solanacearum. Ann Rev. Phytopathol ; 29 ; 65 87.

12

Jones JB, Lin, and Wang . 2004. Reclassification of the Xanthomonads associated
with bacterial spot disease of tomato and pepper. System. Appl. M
Microbial.
27:755-762.
Jones JP, , Lin, and Wang. (ed.) 1991. Compendium of Tomato Disease. APS
Press, 73 p.
Miller, G. 2004. Introductory Mycology. John Wiley & Sons, inc. Canada
America.
Sagala, U.S., 1998. Uji Potensi Antagonisme Pseudomonas fluorescens (Isolat
UKa dan UKd) terhadap Erwinia carotovora pv. carotovora Penyebab
Penyakit Busuk Lunak. ITB PPress, Yogyakarta.
Sastrahidayat, I.R., 1990. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta.
Semangun H., 2000. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Wang, J.F . 2005. Integrated Management of Tomato Bacterial Wilt.
AVRDC Publication No. 05-615. 12 p.
Widono, K, Hidayat, dan Fauzi .2003. Penyakit-penyakit penting tanaman
pangan.
Pendidikan
Program Diploma Satu Pengendalian Hama
Terpadu. Fakultas
Pertanian Universitas Brawijaya Malang.