Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang dapat ditemukan di
seluruh dunia terutama di daerah tropis termasuk Indonesia, disebabkan oleh
genus Leptospira yang patogen. Namun, adanya gejala dan tanda leptospirosis
yang tidak khas seperti demam, nyeri kepala, mual, dan muntah sering
dianggap sebagai penyakit infeksi virus. Sembilan puluh persen kasus
leptospirosis bermanifestasi sebagai penyakit demam akut dan mempunyai
prognosis baik, sedangkan 10% kasus lainnya mempunyai gambaran klinis
lebih berat sehingga menyebabkan kematian pada 10% kasus. Manifestasi
leptospira yang berat dan seringkali fatal dikenal sebagai penyakit Weil atau
leptospirosis ikterik, dengan gambaran klasik berupa demam, ikterus, gagal
ginjal, dan perdarahan. Organ lain yang dapat pula terkena adalah jantung,
paru, dan susunan syaraf pusat.
Titik sentral pcnyebab leptospirosis adalah urin hewan terinfeksi
Leptospira yang mencemari lingkungan. Gejala klinis yang tidak spesifik
memerlukan uji laboratorium untuk mendukung penentuan diagnosanya.
Upaya mengisolasi dan mengidentifikasi Leptospira sangat memakan waktu.
Diagnosis leptospirosis yang utama dilakukan secara serologis. Uji serologis
merupakan uji standar untuk konfirmasi diagnosis, menentukan prevalensi
dan studi epidemiologi. Vaksinasi pada hewan merupakan salah satu cara
pengendalian leptospirosis.
Pengembangan vaksin untuk hewan masih terus dilakukan di Indonesia
untuk memperoleh vaksin multivalen yang efektif karena Leptospira terdiri
dari banyak serovar. Penggunaan vaksin yang sesuai dikombinasikan dengan
perbaikan sanitasi lingkungan merupakan upaya pengendalian leptospirosis.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini yaitu :
1. Agen apa yang menyebabkan penyakit Leptospirosis?
2. Bagaimana sifat agen penyebab Leptospirosis?
3. Bagaimana penyebaran penyakit Leptospirosis?
4. Bagaimana patogenesis dan gejala klinis Leptospirosis?
5. Apa saja pemeriksaan lanjutan untuk diagnosis Leptospirosis?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu :
1. Menjelaskan etiologi penyakit Leptospirosis
2. Menjelaskan sifat agen penyebab Leptospirosis
3. Menjelaskan epidemiologi penyakit Leptospirosis
4. Menjelaskan patogenesis dan gejala klinis Leptospirosis
5. Menjelaskan pemeriksaan penunjang untuk diagnosis Leptospirosis

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Etiologi Penyakit Leptospirosis
Leptospirosis adalah penyakit zoonosis, disebabkan oleh infeksi bakteri
yang berbentuk spiral dari genus Leptospira. Leptospira yang termasuk dalam
ordo Spirochaeta. Leptospira merupakan organisme fleksibel, tipis, berlilit
padat, dengan panjang 5-15 m, disertai spiral halus yang lebarnya 0,1-0,2
m. Salah satu ujung bakteri ini seringkali bengkok dan membentuk kait.
Leptospira memiliki ciri umum yang membedakannya dengan bakteri
lainnya. Sel bakteri ini dibungkus oleh membran luar yang terdiri dari 3-5
lapis. Di bawah membran luar, terdapat lapisan peptidoglikan yang fleksibel
dan helikal, serta membran sitoplasma. Ciri khas Spirochaeta ini adalah lokasi
flagelnya, yang terletak diantara membran luar dan lapisan peptidoglikan.
Flagela ini disebut flagela periplasmik. Leptospira memiliki dua flagel
periplasmik, masing-masing berpangkal pada setiap ujung sel. Bergerak aktif
maju mundur dengan gerakan memutar sepanjang sumbunya. Bentuk dan
gerakannya dapat dilihat dengan mikroskop medan gelap atau mikroskop fase
kontras. Leptospira peka terhadap asam dan dapat hidup di dalam air tawar
selama kurang lebih satu bulan, tetapi di dalam air laut, air selokan dan air
kemih yang tidak diencerkan akan cepat mati (Kusmiyati, et. al., 2005).

Gambar 1. Leptospira interrogans

Leptospira merupakan Spirochaeta yang paling mudah dibiakkan,


tumbuh paling baik pada keadaan aerob pada suhu 28-30C dan pada pH 7,4.
Media yang bisa digunakan adalah media semisolid yang kaya protein,
misalnya media Fletch atau Stuart. Lingkungan yang sesuai untuk hidup
leptospira adalah lingkungan lembab seperti kondisi pada daerah tropis.
Berdasarkan spesifisitas biokimia dan serologi, Leptospira sp. dibagi
menjadi Leptospira interrogans yang merupakan spesies yang patogen dan
Leptospira biflexa yang bersifat tidak patogen (saprofit). Sampai saat ini telah
diidentifikasi lebih dari 200 serotipe pada L.interrogans. Serotipe yang paling
besar

prevalensinya

adalah

canicola,

grippotyphosa,

hardjo,

icterohaemorrhagiae, dan pomona.


Bakteri ini termasuk dalam ordo Spirochaetales, famili Leptospiraceae,
genus Leptospira. Leptospira dapat tumbuh di dalam media dasar yang
diperkaya dengan vitamin, asam lemak rantai panjang sebagai sumber karbon
dan garam amonium; tumbuh optimal pada suhu 28-30C dalam kondisi
obligat aerob. Sistem penggolongan Leptospira yang tradisional genus
Leptospira dibagi menjadi dua yaitu L. interrogans yang patogen dan L.
biflexa yang nonpatogen. L. interrogans dibagi menjadi serogrup dan serovar
berdasarkan antigen.

Gambar 2. Bakteri Leptospira sp. menggunakan mikroskop


elektron tipe scanning

Berdasarkan penelitian WVDL (Wisconsin Veterinary Diagnostic


Laboratory), terdapat enam serovar Leptospira yang biasanya menyerang
hewan kecil, yaitu bratislava, canicola, grippotyphosa, autumnalis,
icterohaemorrhagiae, dan pomona. Sevoar autumnalis lebih banyak
menyebabkan Leptospirosis akut pada anjing. Pengujian MAT (Microscopic
Agglutination Test) yang dilakukan untuk pemeriksaan darah anjing
menunjukkan hasil positif terhadap titer antibodi sevoar autumnalis, dan
menunjukkan hasil negatif terhadap titer antibodi enam sevoar lainnya yang
merupakan standar uji MAT. Hal tersebut menunjukkan bahwa sevoar
autumnalis menyebabkan penyakit klinis pada anjing yang diuji darahnya
(Sockett, 2015).
2.2 Epidemiologi Leptospirosis
Leptospirosis tersebar luas di seluruh dunia, terutama pada daerah
tropis. Di daerah dengan kejadian luar biasa leptospirosis ataupun pada
daerah yang memiliki faktor risiko tinggi terpapar leptospirosis, angka
kejadian leptospirosis dapat mencapai lebih dari 100 per 100.000 per tahun.
Di daerah tropis dengan kelembaban tinggi angka kejadian leptospirosis
berkisar antara 10-100 per 100.000 sedangkan di daerah subtropis angka
kejadian berkisar antara 0,1-1 per 100.000 per tahun. Case fatality rate (CFR)
leptospirosis di beberapa bagian dunia dilaporkan berkisar antara <5% - 30%.
Kejadian di Amerika berkisar antara 0,02-0,04 kasus per 100.000
penduduk. Daerah risiko tinggi adalah kepulauan Karibia, Amerika Tengah
dan Selatan, Asia Tenggara, dan kepulauan Pasifik. Leptospirosis kadangkala
dapat menyebabkan wabah. Leptospirosis lebih sering terjadi pada laki-laki
dewasa, mungkin disebabkan oleh paparan pekerjaan dan kegiatan seharihari. Angka mortalitas sekitar 10% pada jaundice leptospirosis.
Sumber infeksi pada manusia adalah akibat kontak secara langsung
dengan hewan terinfeksi Leptospira atau tidak langsung dengan urin hewan
yang terinfeksi juga melalui genangan air yang terkontaminasi urin yang
terinfeksi Leptospira. Leptospira masuk ke dalarn tubuh melalui kulit yang

terluka atau membrana mukosa. Pekerjaan merupakan faktor resiko yang


penting pada manusia. Kelompok yang beresiko adalah petani atau pekerja di
sawah, perkebunan tebu, tambang, rumah potong hewan, perawat hewan,
dokter hewan atau orang-orang yang berhubungan dengan perairan, lumpur
dan hewan baik hewan peliharaan ataupun satwa liar (Levett, 2001).
Pada manusia penyakit ini beragam, mulai subklinis, dengan gejala akut
sampai yang mematikan. Gejala klinisnya sangat beragam dan nonspesifik.
Gejala yang umum dijumpai adalah demam, sakit kepala, mual-mual, nyeri
otot, muntah . Kadang-kadang dijurnpai konjungtivitis, ikterus, anemia dan
gagal ginjal (Nazir, 2005).
Sebagai host (inang), pada hewan dan manusia, dapat dibedakan atas
maintenance host dan incidental host. Dalam tubulus ginjal maintenance host,
leptospirosis akan menetap sebagai infeksi kronik. Infeksi biasanya ditularkan
dari hewan ke hewan melalui kontak langsung . Biasanya, infeksi didapat
pada usia dini, dan prevalensi ekskresi kronik melalui urin meningkat dengan
bertambahnya umur hewan. Pada manusia, penularan melalui kontak tidak
langsung dengan - maintenance host. Luasnya penularan tergantung dari
banyak faktor yang meliputi iklim, kepadatan populasi, dan derajat kontak
antara maintenance host dan incidental host . Hal ini dan juga tentang serovar
penting untuk studi epidemiologi leptospirosis pada setiap daerah. Pada
manusia kejadian leptospirosis biasanya meningkat pada saat curah hujan
yang tinggi (Kusmiyati, et. al., 2005).
Hewan terpenting dalam penularan leptospirosis adalah jenis binatang
pengerat,

terutama

tikus.

Bakteri

leptospira

khususnya

spesies

L.

ichterrohaemorrhagiae banyak menyerang tikus besar seperti tikus wirok


(Rattus norvegicus) dan tikus rumah (Rattus diardii). Sedangkan hewan
peliharaan seperti kucing, anjing, kelinci, kambing, sapi, kerbau, dan babi
dapat menjadi hospes perantara dalam penularan leptospirosis. Transmisi
bakteri leptospira ke manusia dapat terjadi karena ada kontak dengan air atau
tanah yang tercemar urin hewan yang mengandung leptospira. Selain itu

penularan bisa juga terjadi karena manusia mengkonsumsi makanan atau


minuman yang terkontaminasi dengan bakteri leptospira.
2.3 Patogenesis
Transmisi infeksi leptospira ke manusia dapat melalui berbagai cara,
yang tersering adalah melalui kontak dengan air atau tanah yang tercemar
bakteri leptospira. Bakteri masuk ke tubuh manusia melalui kulit yang lecet
atau luka dan mukosa, bahkan dalam literatur disebutkan bahwa penularan
penyakit ini dapat melalui kontak dengan kulit sehat (intak) terutama bila
kontak lama dengan air. 6 Selain melalui kulit atau mukosa, infeksi leptospira
bisa juga masuk melalui konjungtiva. 17 Bakteri leptospira yang berhasil
masuk ke dalam tubuh tidak menimbulkan lesi pada tempat masuk bakteri.
Hialuronidase dan atau gerak yang menggangsir (burrowing motility) telah
diajukan sebagai mekanisme masuknya leptospira ke dalam tubuh.
Selanjutnya bakteri leptospira virulen akan mengalami multiplikasi di
darah dan jaringan. Sementara leptospira yang tidak virulen gagal
bermultiplikasi dan dimusnahkan oleh sistem kekebalan tubuh setelah 1 atau
2 hari infeksi. Leptospira virulen mempunyai kemampuan motilitas yang
tinggi, lesi primer adalah kerusakan dinding endotel pembuluh darah dan
menimbulkan vaskulitis serta merusak organ. Vaskulitis yang timbul dapat
disertai dengan kebocoran dan ekstravasasi sel.
Patogenitas leptospira yang penting adalah perlekatannya pada
permukaan sel dan toksisitas selular. Lipopolysaccharide (LPS) pada bakteri
leptospira mempunyai aktivitas endotoksin yang berbeda dengan endotoksin
bakteri gram negatif, dan aktivitas lainnya yaitu stimulasi perlekatan netrofil
pada sel endotel dan trombosit, sehingga terjadi agregasi trombosit disertai
trombositopenia.

Bakteri

leptospira mempunyai fosfolipase yaitu suatu

hemolisis yang mengakibatkan lisisnya eritrosit dan membran sel lain yang
mengandung fosfolipid.
Organ utama yang terinfeksi kuman leptospira adalah ginjal dan hati. Di
dalam ginjal bakteri leptospira bermigrasi ke interstisium tubulus ginjal dan

lumen tubulus. Pada leptospirosis berat, vaskulitis akan menghambat sirkulasi


mikro dan meningkatkan permeabilitas kapiler, sehingga menyebabkan
kebocoran cairan dan hipovolemia. Hipovolemia akibat dehidrasi dan
perubahan permeabilitas kapiler salah satu penyebab gagal ginjal. Pada gagal
ginjal tampak pembesaran ginjal disertai edema dan perdarahan subkapsular,
serta nekrosis tubulus renal. Sementara perubahan yang terjadi pada hati bisa
tidak tampak secara nyata. Secara mikroskopik tampak perubahan patologi
berupa nekrosis sentrolobuler disertai hipertrofi dan hiperplasia sel Kupffer.
2.4 Gejala Klinis
Pada hewan ternak ruminansia dan babi yang bunting, gejala abortus,
pedet lahir mati atau lemah sering muncul pada kasus leptospirosis . Pada
sapi, muncul demam dan penurunan produksi susu sedangkan pada babi,
sering

muncul

gangguan

reproduksi.

Pada

kuda,

terjadi

keratitis,

conjunctivitis, iridocyclitis, jaundice sampai abortus. Sedangkan pada anjing,


infeksi leptospirosis sering bersifat subklinik; gejala klinis yang muncul
sangat umum seperti demam, muntah, jaundice.
Gejala klinis leptospirosis pada sapi dapat bervariasi mulai dari yang
ringan, infeksi yang tidak tampak, sampai infeksi akut yang dapat
mengakibatkan kematian. Infeksi akut paling sering terjadi pada pedet/sapi
muda.
Berat ringannya gejala klinis tergantung dari serovar Leptospira yang
menginfeksi dan species hewan yang terinfeksi. Leptospira interrogans
serovar pomona pada sapi menyebabkan demam, depresi, anemia akut,
haemorrhagis, dan redwater ; serovar hardjo biasanya pada sapi bunting atau
laktasi menyebabkan demam, penurunan produksi susu dan abortus
(Kusmiyati, et. al., 2005).
2.5 Teknik Diagnosis
Adanya Leptospira di organ saluran genital, ginjal atau urin dari pasien
yang memperlihatkan gejala klinis dapat digunakan untuk mendiagnosa

leptospirosis. Mengisolasi Leptospira dengan cara membiakkan bakteri


adalah metode yang sangat sensitif, namun sering sulit dilakukan dan
membutuhkan waktu yang lama.
Polymerase chain reaction (PCR) juga digunakan untuk mendeteksi
keberadaan leptopsira di jaringan tubuh atau cairan tubuh. Teknik deteksi ini
cukup sensitif tetapi tidak dapat mengidentifikasi sampai serovar. Metode
biakan, PCR, dan immunuofluorescence merupakan metode yang sensitif
untuk mendeteksi Leptospira serovar hardjo pada urin sapi, tetapi kurang
sensitif apabila hanya menggunakan salah satu metode tersebut (Kusmiyati,
et. al., 2005).
Uji serologis di laboratorium sering digunakan untuk konfirmasi
diagnosa klinik, menentukan prevalensi kelompok dan melakukan studi
epidemiologi. Antibodi leptospira muncul beberapa hari setelah infeksi dan
bertahan selama beberapa minggu sampai beberapa bulan dan pada kasus
tertentu sampai beberapa tahun. Namun titer antibodi dapat turun hingga tidak
terdeteksi, biasanya pada hewan yang menderita leptospirosis kronik. Ada dua
uji serologis yang biasa digunakan yaitu Microscopic Agglutination Test
(MAT) dan Enzyme-Linked Immuno sorbent Assay (ELISA) (Kusmiyati, et.
al., 2005).

BAB III
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Leptospirosis adalah penyakit zoonosis, disebabkan oleh infeksi bakteri
yang berbentuk spiral dari genus Leptospira ordo Spirochaeta. Leptospira sp.
dibagi menjadi Leptospira interrogans yang bersifat patogen dan Leptospira
biflexa yang bersifat tidak patogen. Leptospira interrogans sevoar autumnalis
lebih banyak menyebabkan penyakit klinis pada anjing terutama penyakit
Leptospirosis akut pada anjing.
5.2 Saran
Perilaku hidup sehat perlu diterapkan untuk mencegah timbulnya
penyakit Leptospirosis pada manusia. Selain itu, program vaksinasi perlu
dilakukan untuk mencegah kejadian penyakit pada hewan.

DAFTAR PUSTAKA
Ketaren, H.S. 2009. Karakteristik dan Kondisi Lingkungan Rumah Penderita
Penyakit Leptospirosis pada beberapa Kabupaten/Kota di Provinsi NAD
Tahun 2007. Skripsi : Universitas Sumatera Utara.
Kusmiyati., Susan M.N., Supar. 2005. Leptospirosis pada Hewan dan Manusia di
Indonesia. WARTAZOA Vol. 15 No. 4.
Levett, P .N. 2001. Leptospirosis. Clinical Microbiol. Review, 14(2): 296-326.
Nazir, H. 2005. Diagnosis Klinis dan Penatalaksanaan Leptospirosis.
Disampaikan pada Workshop dan Training Penanggulangan Leptospirosis
bagi Dokter Puskesmas di Propinsi DKI Jakarta, Bapelkes Depkes Cilandak,
29 Maret 2005.
Setadi, B., et.al. 2001. Leptospirosis. Petunjuk Praktis : Sari Pediatri, Vol. 3, No.
3: 163-167.
Sockett, D. 2015. Leptospirosis in Dogs. WVDL (Wisconsin Veterinary
Diagnostic Laboratory) : Can Vet J 43:955-961.