Anda di halaman 1dari 8

TINJAUAN PUSTAKA DAUN TAPAK DARA

(Catharantus roseus (L.) G.Don)


Wulandari (21121185), Wempi Budiana, M.Si., Apt.

Abstrak
Tanaman Tapak Dara (Catharantus roseus (L.) G.Don) merupakan salah satu tanaman obat
yang digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional. Tumbuhan ini memiliki efek
farmakologi dan dapat diminum sebagai jamu dengan merebus daunnya. Berdasarkan
penelitian daun tapak dara mengandung senyawa alkaloid, saponin, flavanoid, dan tanin.
Tanaman tapak dara mengandung flavanoid yang berfungsi sebagai antioksidan, antidiabetik,
antikanker, antiseptik, dan antiinflamasi. Metode ekstraksi daun tapak dara dengan ekstraksi
maserasi. Aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH. Besarnya aktivitas
antioksidan ditentukan dengan nilai IC50. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol memiliki nilai
IC50 102,96 g/mL. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun tapak dara mempunyai
aktivitas sedang sebagai antioksidan.
Kata kunci : Daun tapak dara (catharantus roseus), Antioksidan, Flavanoid, DPPH

Abtrak
Perwinkle (Catharantus roseus (L.) G.Don) is one of the medicinal plants used by the
community as a traditional medicine. This plant has a pharmacological effect and can be
taken as herbal medicine by boiling the leaves. Based on research leaves perwinkle alkaloidcontaining compounds, saponins, flavonoids, and tannins. Perwinkle plant contains
flavonoids that act as antyoxidants, antydiabetic, antycancer, antyseptic, and antyinflammatory. Perwinkle leaves extraction method with maceration extraction. The
antyoxidant activity carried out by DPPH method. The amount of antyoxidant activity was
determined by IC50 value. Ethanol extract has antyoxidant activity IC50 value of 102.96
g/mL. These results indicate that the ethanol extract of the leaves of perwinkle has a
medium activity as antyoxidants.
Keywords: leaves of perwinkle (catharantus roseus), Flavonoids, Antyoxidants, DPPH

PENDAHULUAN
Tapak dara (Catharanthus roseus)
telah digunakan oleh masyarakat tradisional
sebagai obat sejak dahulu kala. Tumbuhan ini
memiliki efek farmakologi dan dapat diminum
sebagai jamu dengan merebus daunnya.
Tanaman ini telah dikenal selama berabadabad sebagai obat untuk diabetes di Eropa. Di
Hawaii, tanaman ini direbus untuk dibuat
poultice (tuam) atau menghangatkan bagian
tubuh yang nyeri dan digunakan sebagai
penghenti pendarahan. Penduduk Karibia biasa
menggunakan ekstrak bunganya untuk
membuat larutan pereda iritasi mata dan
infeksi.
Berdasarkan beberapa penelitian yang
pernah dilakukan, ekstrak tapak dara dapat
digunakan
sebagai
antikanker
dalam
percobaan secara in vivo dalam tubuh tikus.
Lebih lanjut, diketahui bahwa ada lebih dari
70 macam alkaloid yang ditemukan di akar,
batang, daun dan biji tapak dara, termasuk 28
bi-indole alkaloid. Lebih lanjut diketahui daun
tapak dara mengandung flavonoid yang
memiliki aktivitas antioksidan.
Adapun salah satu jenis flavonol yang ada
pada daun tapak dara yaitu isoflavon.
Isoflavon merupakan senyawa flavonoid yang
memiliki kemampuan menangkap radikal
bebas. Isoflavon bekerja dengan cara
teroksidasi oleh radikal bebas sehingga
terbentuk radikal isoflavon. Radikal isoflavon
tersebut kemudian berubah menjadi senyawa
yang lebih stabil, karena bereaksi dengan
senyawa isoiflavon lain. Isoflavon mampu
menstabilkan senyawa oksigen reaktif, karena
gugus hidroksil isoflavon yang sangat reaktif
mengubah senyawa radikal menjadi inaktif.
Dengan tertangkapnya radikal superoksida
tersebut, terjadinya reaksi amplifikasi dapat
dicegah sehingga efek reaktifitas radikal bebas
dapat diredam.
Tujuan penulisan KTI ini yaitu
mengetahui kandungan kimia yang terkandung
dalam tanaman tapak dara (Catharantus

roseus) dan manfaatnya sebagai obat


herbal untuk penyembuhan berbagai
penyakit, serta memberikan informasi
tentang tanaman tapak dara kepada
masyarakat untuk lebih menggunakan
obat herbal dari pada obat dengan
bahan
kimia
yang
terkandung
didalamnya yang mempunyai efek
samping didalam tubuh.

TINJAUAN PUSTAKA
Deskripsi tanaman tapak dara
Tapak Dara (Catharanthus roseus (L.)
G. Don.) tumbuhan ini berasal dari
Amerika tengah, tumbuh liar dan banyak
ditanam sebagai tanaman hias. Tumbuhan
semak menahun ini terdapat pada dataran
rendah sampai ketinggian 1800 m diatas
permukaan air laut, dapat tumbuh pada
bermacam-macam iklim, baik ditempat
terbuka maupun tertutup.
Tumbuhan ini dapat diperbanyak
dengan biji, setek batang, atau akar.
Habitus herba atau semak yang tumbuh
tegak, bercabang banyak, tinggi mencapai
120 cm. Batangnya berkayu pada bagian
bawah, bergetah putih, bentuk batang
bulat, berwarna merah tengguli, berambut
halus. Daunnya tunggal, agak tebal,
tersusun berhadapan bersilang, berbentuk
bundar memanjang atau bulat telur,
pangkal daun meruncing dan bertangkai,
kedua permukaan daun berambut halus.
Bunga tunggal, keluar dari ujung tangkai
dan ketiak daun dengan lima helai
mahkota bunga, bentuknya seperti
terompet, berwarna putih, ungu, merah
muda atau putih dengan warna merah
ditengahnya, tabung mahkota bunga
sepanjang 22-30 mm. Buahnya berupa
buah berbumbung berbulu, berisi banyak
biji yang berwarna hitam, menggantung
pada batang, warna buah hijau atau hijau
pucat.

d. Hepatitis
e. Perdarahan akibat turunnya jumlah
trombosit (Primary throm bocytopenic
purpura)
f. Malaria
g. Sukar buang air besar (sembelit)
h. Kanker : penyakit Hodgkins, chorionic
epithelioma, leukimia limfosit akut,
leukimia monositik akut, limfosarkoma, dan
retikulum sel sarkoma.
Gambar 1. Daun Tapak Dara
Klasifikasi tanaman Tapak Dara
(chatarantus roseus) dapat diklasifikasikan
sebagai beriikut :

2.

Akar berkhasiat mengatasi Haid yang


tidak teratur (Dalimartha, 2008).

Penggunaan Secara Tradisional

Sinonim

Herba 6-15 g direbus dalam 5 gelas air


hingga tersisa 2 gelas dengan api kecil.
Setelah dingin, disaring dan diminum
beberapa kali hingga habis dalam sehari.
Untuk penyakit kanker, bisa digunakan obat
suntiknya. Untuk pemakaian luar, daun
segar ditambah beras secukupnya lalu
ditumbuk halus sampai seperti bubur.
Balurkan pada luka yang tersiram air panas.
Untuk darah tinggi, kencing manis, leukimia
limfositik
akut dau tapak dara segar
sebanyak 15 g direbus dalam 5 gelas air
sampai tersisa 2 gelas. Setelah dingin
disaring, hasilnya diminum dua kali sama
banyak pagi dan sore (Dalimartha, 2008).

Vinca rosea, Linn., Lochnera rosea, Reich.,


Ammoallis rosea, Small.

Kandungan Daun Tapak Dara

Kingdom
Subkingdom
Super divisi
Divisio
Kelas
Sub Kelas
Ordo
Familia
Genus
Species

: Plantae
: Tracheobionta
: Spermatophyta
: Magnoliophyta
: Magnoliopsida
: Asteridae
: Gentianales
: Apocynaceae
: Catharanthus
: Catharanthus roseus (L.)
G.Don

Nama umum
Indonesia : Tapak dara, rutu-rutu, kembang
serdadu., Inggris : Madagascar periwinkle,
rose Periwinkle., Cina : chang chun hua,
Melayu : kemunting cina, Vietnam : hoa hai
dang, Pilipina : Tsitsirika.
Khasiat Daun Tapak Dara

1.

Herbanya berkhasiat mengatasi

a. Tekanan darah tinggi (Hipertensi)


b. Kencing manis (diabetes mellitus)
c. kencing sedikit (oliguria)

Berdasarkan penelitian yang telah ada


terhadap daun tapak dara bahwa tapak dara
mengandung senyawa fitokimia yakni
alkaloid vinka (vinkristin, vinblastin, dan
vinorelbin), flavonoid dan isoflavonoid.
Senyawa yang paling dominan yakni
alkaloid vinka yaitu vinkristin, vinblastin
dan vinorelbin. Zat itu merupakan bahan
organik yang mengandung nitrogen.
Sedangkan senyawa lainnya seperti
flavonoid memiliki sifat antioksidan,
antidiabetik, antikanker, antiseptik, dan antiinflamasi. Sedangkan akar tapak dara
mengandung alkaloid, saponin, flavanoid,
dan tanin ( Dalimartha, 2008).
1.

Alkaloid
Alkaloid merupakan golongan zat yang
tumbuhan sekunder yang terbesar. Alkaloid
memiliki kemampuan sebagai antibakteri.
Mekanisme yang diduga adalah dengan cara
mengganggu
komponen
penyusun
peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga
lapisan dinding sel tidak terbentuk secara
utuh dan
menyebabkan kematian sel
tersebut (Robinson, 1995).
2.

Saponin
Saponin mula-mula diberi nama
demikian karena sifatnya yang menyerupai
sabun (bahasa latin sapo berarti sabun).
Saponi adalah senyawa aktif permukaan
yang kuat yang menimbulkan busa jika
dikocok dalam air dan pada konsentrasi
rendah sering menyebabkan hemolisis sel
darah merah (Robinson, 1995). Berdasarkan
strukturnya, saponin ada dua jenis yaitu
steroid dan terpenoid. Saponin steroid
terdapat dalam tumbuhan monokotil dan
saponin terpenoid terdapat dalam tumbuhan
dikotil. Kelompok saponin glikosida , yang
glikon dan aglikon. Glikon adalah gula
sedangkan aglikon adalah sapogenin,
kelompoknya yaitu saponin netral dan
saponin asam. Steroid termasuk kelompok
saponin nentral, dan triterpenoid dari
saponin. Saponin bekerja sebagai antibakteri
dengan mengganggu stabilitas membran sel
bakteri sehingga menyebabkan bakterilisis,
jadi mekanisme kerja saponin termasuk

dalam
kelompok
antibakteri
yang
mengganggu permeabilitas membran sel
bakteri yang mengakibatkan kerusakan
membran sel dan menyebabkan keluarnya
berbagai komponen penting dari dalam sel
bakteri yaitu protein, asam nukleat dan
nukleotida.
3.

Flavonoid
Golongan terbesar flavonoid berciri
mempunyai
cincin
piran
yang
menghubungkan rantai tiga-karbon dengan
salah satu dari cincin benzena. Flavanoid
mencakup banyak pigmen yang paling
umum dan terdapat pada seluruh dunia
tumbuhan mulai dari fungus sampai
angiospermae. Aktivitas antioksidannya
mungkin dapat menjelaskan mengapa
flavonoid
tertentu
merupakan
komponenaktif tumbuhan yang digunakan
secara
tradisional
untuk
mengobati
gangguan funsi hati ( Robinson, 1995).
Adapun salah satu jenis flavonol yang
ada pada daun tapak dara yaitu isoflavon.
Isoflavon merupakan senyawa flavonoid
yang memiliki kemampuan menangkap
radikal bebas. Isoflavon bekerja dengan cara
teroksidasi oleh radikal bebas sehingga
terbentuk radikal isoflavon. Radikal
isoflavon tersebut kemudian berubah
menjadi senyawa yang lebih stabil, karena
bereaksi dengan senyawa isoiflavon lain.
Isoflavon mampu menstabilkan senyawa
oksigen reaktif, karena gugus hidroksil
isoflavon yang sangat reaktif mengubah
senyawa radikal menjadi inaktif. Dengan
tertangkapnya radikal superoksida tersebut,
terjadinya reaksi amplifikasi dapat dicegah
sehingga efek reaktifitas radikal bebas dapat
diredam.
4.

Tanin
Tanin merupakan salah satu senyawa
metabolit sekunder yang terdapat pada
tanaman dan disintesis oleh tanaman. Tanin
tergolong senyawa polifenol dengan
karakteristiknya yang dapat membentuk
senyawa kompleks dengan makromolekul
lainnya. Tanin dibagi menjadi dua kelompok

yaitu tanin yang mudah terhidrolisis dan


tanin terkondensasi. Tanin yang mudah
terhidrolisis merupakan polimer gallic atau
ellagic acid yang berikatan ester dengan
sebuah molekul gula, sedangkan tanin
terkondensasi merupakan polimer senyawa
flavanoid dengan ikatan karbon-karbon
( waghorn & McNabb, 2003; westendarp,
2006).

Ekstrak Simplisia
Ekstrak adalah sediaan yang diperoleh
dengan mengekstraksi senyawa aktif dari
simplisia nabati atau simplisia hewani
menggunakan
pelarut
yang
sesuai,
kemudian semua atau hampir semua pelarut
diuapkan dan masa atau serbuk yang tersisa
diperlakukan sedemikian rupa hingga
memenuhi standar baku yang telah
ditetapkan (Sudjadi, 1998).
a.

Tujuan Ekstraksi
Ekstraksi merupakan proses melarutkan
komponenkomponen kimia yang terdapat
dalam
suatu
bahan
alam
dengan
menggunakan pelarut yang sesuai dengan
komponen yang diinginkan. Pemilihan
pelarut harus memenuhi kriteria: murah, dan
mudah diperoleh, stabil secara fisika dan
kimia, bereaksi netral, tidak mudah
menguap dan tidak mudah terbakar, selektif,
tidak mempengaruhi zat berkhasiat,
diperbolehkan oleh peraturan (Harbone,
1996). Tujuan ekstraksi adalah untuk
menarik komponenkomponen kimia yang
terdapat dalam bahan alam baik dari
tumbuhan, hewan dengan pelarut organik
tertentu. Proses ekstraksi ini berdasarkan
pada kemampuan pelarut organik untuk
menembus dinding sel dan masuk dalam
rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat
aktif akan larut dalam pelarut organik dan
karena adanya perbedaan konsentrasi di
dalam dan konsentrasi di luar sel,
mengakibatkan terjadinya difusi pelarut
oragnik yang mengandung zat aktif ke luar
sel. Proses ini berlangsung terus menerus
sampai terjadi keseimbangan konsentrasi zat

aktif di dalam dan di luar sel (Sudjadi,


1998).
b.

Maserasi
Maserasi merupakan proses penyarian
senyawa kimia secara sederhana dengan
cara merendam simplisia atau tumbuhan
pada suhu kamar dengan menggunakan
pelarut yang sesuai sehingga bahan menjadi
lunak dan larut. Penyarian zat-zat berkhasiat
dari simplisia, baik simplisia dengan zat
khasiat yang tidak tahan pemanasan. Sampel
biasanya direndam selama 3-5 hari, sambil
diaduk sesekali untuk mempercepat proses
pelarutan komponen kimia yang terdapat
dalam sampel. Maserasi dilakukan dalam
botol yang berwarna gelap dan ditempatkan
pada tempat yang terlindung cahaya.
Ekstraksi dilakukan berulang-ulang kali
sehingga sampel terekstraksi secara
sempurna yang ditandai dengan pelarut pada
sampel berwarna bening. Sampel yang
direndam dengan pelarut tadi disaring
dengan kertas saring untuk mendapat
maseratnya. Maseratnya dibebaskan dari
pelarut dengan menguapkan secara in vacuo
dengan rotari evaporator (Sudjadi, 1998).
Antioksidan
Dalam pengertian kimia, senyawa
antioksidan adalah senyawa pemberi
elektron (electron donors), secara bologis,
pengertian antioksidan adalah senyawa yang
mampu menangkal atau meredam dampak
negatif oksidan dalam tubuh. Antioksidan
bekerja dengan cara mendorong satu
elektronnya kepada senyawa yang bersifat
oksidan sehingga aktivitas senyawa oksidasi
tersebut bisa dihambat.
Keseimbangan oksidan dan antioksidan
sangat penting karena berikatan dengan
fungsinya sistem imunitas tubuh. Kondisi
seperti ini terutama untuk menjaga integritas
dan fungsinya membran lipid, protein sel
dan asam nukleat serta mengontrol
transduksi signal dan ekspresi gen dalam
imun sel.

Berdasarkan
mekanisme
kerjanya
antioksidan
digolongkan
menjadi
3
kelompok yaitu antioksidan primer,
sekunder, dan tersier.
a. Antioksidan
primer
(antioksidan
endogenus)
Antioksidan primer disebut juga
antioksidan enzimatis. Suatu senyawa
dikatakan sebagai antioksidan primer,
apabila dapat memberikan atom hidrogen
secara cepat kepada senyawa radikal,
kemudian
radikal
antioksidan
yang
terbentuk segera berubah menjadi senyawa
yang lebih stabil. Antioksidan primer
bekerja
dengan
cara
mencegah
pembentukan senyawa radikal bebas baru
atau mengubah radikal bebas yang telah
terbentuk menjadi molekul yang kurang
reaktif.
Antioksidan primer meliputi enzim
superoksida dimutase (SOD), katalase,
glution peroksida (GSH-Px). Sebagai
antioksidan
enzim-enzim
tersebut
menghambat pembentukkan radikal bebas
dengan cara memutus reaksi berantai
(polimerisasi) kemudian mengubahnya
menjadi produk yang lebih stabil.
b. Antioksidan sekunder (antioksidan
eksogenus)
Antioksidan sekunder disebut juga
antioksidan eksogenus atau non-enzimatis.
Antioksidan dalam kelompok ini juga
disebut pertahanan preventif. Antioksidan
non-enzimatis dapat berupa komponen nonnutrisi dan komponen nutrisi dari sayuran
dan buah-buahan. Kerja sistem antioksidan
non-enzimatik yaitu dengan cara memotong
reaksi okidasi berantai dari radikal bebas
atau dengan cara menangkapnya. Akibatnya,
radikal bebas tidak akan berekasi dengan
komponen selular. Antioksidan sekunder
meliputi vitamin E, vitamin C, karoten,
flavanoid, asam urat, bilirubin, dan albumin.
Senyawa antioksidan dan non-enzimatis
bekerja dengan cara menangkap radikal
bebas (free radical scavenger), kemudian
mencegah reaktivitas amplifikasinya. Ketika

jumlah radikal bebas berlebihan, kadar


antioksidan non-enzimatik yang dapat
diamati dalam cairan biologis menurun.
c. Antioksidan Tersier
Kelompok antioksidan tersier meliputi
sistem enzim DNA-repair dan mentionin
sulfoksida reduktase. Enzim-enzim ini
berfungsi dalam perbaikan biomolekular
yang rusak. Akibat reaktivitas radikal bebas
kerusakan DNA yang terinduksi senyawa
radikal bebas didirikan oleh rusaknya single
dan double strand, baik gugus non-basa
maupun basa (Winarsi, 2007).

Pengertian Radikal Bebas


Radikal bebas merupakan suatu
senyawa asing yang masuk kedalam tubuh.
Radikal bebas tersebut dapat timbul akibat
berbagai proses kimia yang kompleks dalam
tubuh, polusi lingkungan, radiasi zat-zat
kimia, racun, makanan siap saji, dan
makanan yang digoreng pada suhu tinggi.
Jika jumlahnya berlebih, radikal bebas akan
memicu efek patologis. Radikal bebas yang
berlebih dapat menyerang apa saja terutama
yang rentan seperti lipid, protein dan
berimplikasi pada timbulnya berbagai
penyakit degeneratif. Oleh karena itu radikal
bebas harus dihalangi atau dihambat dengan
antioksidan.
Senyawa-senyawa
yang
mampu menghilangkan, membersihkan,
menahan efek radikal disebut antioksidan.
Antioksidan menstabilkan radikal bebas,
dan menghambat terjadinya reaksi berantai
dari pembentukan radikal bebas. Selain itu,
antioksidan juga berguna untuk mengatur
agar tidak terjadi proses oksidasi
berkelanjutan didalam tubuh (Widya selawa,
dkk, 2013).
Uji Antioksidan dengan DPPH

Potensi
antioksidan
penangkapan
radikal ditentukan dengan menggunakan
DPPH, suatu radikal sintetik yang stabil

dalam larutan air atau metanol dan mampu


menerima sebuah elektron atau radikal
hidrogen
untuk
menjadi
molekul
diamagnetik yang stabil. DPPH pada uji ini
ditangkap
oleh
antioksidan
yang
melepaskan hidrogen, sehingga membentuk
DPPH tereduksi (Dp-Hidrazin). Perubahan
warna violet DPPH menjadi kuning diikuti
penurunan serapan pada panjang gelombang
maksimum (517 nm) ini menunjukkan
adanya aktivitas antioksidan (Prastiwi,
2010).
Uji DPPH dilakukan seperti yang
dijelaskan oleh Unlu et al ( 2003). Pipet 50
ml ekstrak etanol Catharantus roseues.
Untuk mendapatkan nilai IC50, digunakan
berbagai konsentrasi yaitu 100, 50, 25,
12,5 ; 6,25 , 3,125 , 1,563 , 0,781 , 0,391
dan 0,195 mg / mL dimasukkan pada
lempeng dan kemudian ditambahkan 200 L
0,077 mmol / l DPPH ( Sigma Aldrich )
dengan metanol, dan campuran reaksi
dikocok kuat terus menerus dalam gelap
selama 30 menit pada suhu kamar,
selanjutnya aktivitas DPPH ditentukan
menggunakan
kuvet
spektrofotometri
dengan panjang gelombang di 517 nm.
PEMBAHASAN
Tanaman tapak dara ini tumbuh tegak,
bercabang banyak, tinggi mencapai 120 cm.
Batangnya berkayu pada bagian bawah,
bergetah putih, bentuk batang bulat,
berwarna merah tengguli, berambut halus.
Daunnya tunggal, agak tebal, tersusun
berhadapan bersilang, berbentuk bundar
memanjang atau bulat telur, pangkal daun
meruncing
dan
bertangkai,
kedua
permukaan daun berambut halus. Bunga
tunggal, keluar dari ujung tangkai dan ketiak
daun dengan lima helai mahkota bunga,
bentuknya seperti terompet, berwarna putih,
ungu, merah muda atau putih dengan warna
merah ditengahnya, tabung mahkota bunga
sepanjang 22-30 mm. Buahnya berupa buah
berbumbung berbulu, berisi banyak biji
yang berwarna hitam, menggantung pada
batang, warna buah hijau atau hijau pucat.

Berdasarkan penelitian daun tapak dara


mengandung senyawa golongan alkaloid
yaitu vinbalstin, vinkristin, vinkadiolin,
leurosidin, dan katarantin, sedangkan pada
akarnya mengandung flavanoid, alkaloid,
saponin, dan tanin. Saponin pada daun tapak
dara bekerja sebagai antibakteri dengan
mengganggu stabilitas membran sel bakteri
yang mengakibatkan kerusakan membran
sel dan menyebabkan keluarnya berbagai
komponen penting dari dalam sel bakteri
yaitu protein, asam nukleat dan nukleotida.
Senyawa-senyawa flavanoid umumnya
bersifat antioksidan dan banyak yang telah
digunakan sebagai salah satu komponen
bahan baku
obat-obatan. Mekanisme
alkaloid yang diduga adalah dengan cara
mengganggu
komponen
penyususn
peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga
pada lapisan dinding sel tidak terbentuk
secara utuh dan menyebabkan kematian sel
tersebut (Robinson, 1995).
Metode ekstraksi daun tapak dara
dilakukan dengan menggunakan metode
maserasi. Sampel biasanya direndam selama
3-5 hari, sambil diaduk sesekali untuk
mempercepat proses pelarutan komponen
kimia yang terdapat dalam sampel. Maserasi
dilakukan dalam botol yang berwarna gelap
dan ditempatkan pada tempat yang
terlindung cahaya. Ekstraksi dilakukan
berulang-ulang kali sehingga sampel
terekstraksi secara sempurna yang ditandai
dengan pelarut pada sampel berwarna
bening. Sampel yang direndam dengan
pelarut tadi disaring dengan kertas saring
untuk mendapat maseratnya. Maseratnya
dibebaskan dari pelarut dengan menguapkan
secara in vacuo dengan rotari evaporator
(Sudjadi, 1998).
Dari hasil penelitian yang ada, dilakukan
ekstraksi menggunakan etanol 96 %,
sebanyak 20 gram daun tapak dara segar dan
kering yang telah dibersihkan, diblender
kering, dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
500 mL, dan ditambahkan etanol 96 %
hingga perbandingan 1:10. Campuran
dimaserasi pada shaker selama 24 jam
dengan kecepatan 35 rpm. Setelah selesai,

campuran disaring menggunakan pompa


vakum dengan kertas saring Whatman
nomor 1. Filtratnya kemudian dihilangkan
pelarutnnya
menggunakan
rotavapor
(Leeonardus, dkk 2009).
Berdasarkan penelitian yang pernah
dilakukan uji DPPH dengan aktivitas radikal
bebas dari catharantus roseus, digunakan
sebagai positif kontrol dengan pengukuran
berbagai konsentrasi untuk mengetahui
aktivitas antioksidannya. IC50 adalah
konsentrasi dari aktivitas antioksidan radikal
bebas DPPH 50%. Dari hasil penelitian
yang ada menunjukkan ekstrak etanol
Catharantus roseus memilik aktivitas DPPH
dengan nilai IC50 nya 102.96 g/mL.
KESIMPULAN
Khasiat utama dari daun tapak dara
adalah untuk penyakit-penyakit yang kronis
dan untuk mengatasi haid yang tidak teratur.
Senyawa aktif yang terkandung dalam
daun tapak dara
adalah vinblastin,
vinkristin, vinkadiolin, leurosidin, dan
katarantin, dan pada akarnya mengandung
flavanoid, alkaloid, saponin, dan tanin.
Uji Aktivitas antioksidan dilakukan
dengan
metode
DPPH
yang
dari
penelitiannya catharantus roseus memiliki
antioksidan yang sedang dengan nilai IC50
102,96 g/mL.
DAFTAR PUSTAKA

Antolovich, Michael, Paul D. Prenzler,


Emilios
Patsalides,
Suzanne
McDonald, KevinRobards, 2002,
Methods for Testing Antioxidant
Activity, Analyst . 127: 183-198
Dalimartha, S. 2008. Atlas Tumbuhan Obat
Indonesia. Agro Media Pustaka.
Jakarta.
Ida Ayu Laksami, Puspita Dewi Damriyasa,
I ketut Anom Dada, 2013. Bioaktivitas
Ekstrak
Daun
Tapak
Dara
(Catharantus
roseus)
Terhadap
Periode Epitelisasi Dalam Proses

Penyembuhan
Wistar.

Luka

Pada

Tikus

Jatmiko Susilo, Oni Yulianta Wilisa, Ariadi.


Efek Sedasi Pemberian Peroral
Ekstrak Daun Tapak dara
(Catharantus roseus L.G. Don Pada
Mencit).
Prastiwi,
Rahmawai
dkk.
2010.
Perbandingan Daya Antioksidan
Ekstrak Metanol Daun Tembakau
(Nicotiana tabacum L.) dengan Rutin
Terhadap Radikal Bebas 1,1-diphenil2-Pikrihidrazil (DPPH). Pharmacy
Vol. 7 No. 1.
Robinson, T. 1995. Kandungan Organik
Tumbuhan Tinggi. Edisi keenam.
Terjemahan Padmawinata K. Penerbit
ITB : Bandung.
Sheeraz, dkk, 2013. Antimicrobial Activity
of Catharantus roseus.
Surya, dkk, 2013. Uji Efek Ekstrak Etanol
Daun Tapak Dara (Catharantus
roseus L) Terhadap Kadar Kolesterol
Total Darah Mencit Putih Jantan.
Wahyu, dkk, 2011. The Comparison
antioxidative
and
Proliferation
Inhibitor Properties of Piper betle L.,
Catharantus roseus (L) G.don,
Dendrophtoe petandra L., Curcuma
mangga Val. Ekstracts on T47D
Cancer Cell Line. International
Research Journal of Biochemistry and
Bioinformatic. Vol 1(2) pp. 022-088,
March 2011.
Winarsi, Hery. 2007. Antioksidan Alami
dan Radikal Bebas. Yogyakarta:
Kanisus.