Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering dihadapkan pada masalah
pengambilan keputusan. Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar,
guru harus mengambil keputusan apakah seorang siswa harus mengulang
materi tertentu, apakah seorang siswa pantas naik kelas ataukah harus tidak
lulus. Tentu saja bukan pekerjaan mudah untuk membuat keputusan tersebut.
Diperlukan berbagai pertimbangan yang matang agar diperoleh keputusan
yang benar dan tepat sehingga tidak merugikan siswa.1
Pengambilan keputusan yang benar dan tepat dilakukan dengan penilaian
yang valid. Penilaian yang valid dilakukan dengan pengukuran yang cermat
dan teliti oleh peneliti. Kaitannya dengan pendidikan, Penilaian juga
digunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang ada dalam proses
pembelajaran, sehingga dapat dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan.2
Siswa dinyatakan telah mencapai ketuntasan belajar untuk materi tertentu
jika siswa tersebut mampu atau telah memenuhi standar minimal yang telah
ditentukan satuan pendidikan. Kriteria ketuntasan minimal merupakan standar
acuan bagi guru untuk menilai siswa, apakah siswa tersebut mampu atau tidak
dalam mengikuti proses pembelajaran.
Akan tetapi dalam perkembangannya, banyak guru yang masih kurang
terampil dan bahkan belum memahami tentang aspek penilaian dan
bagaimana cara menentukan kriteria ketuntasan minimal (KKM). Pada
kenyataannya, guru hanya menerima KKM itu saja tanpa mengetahui
bagaimana cara menentukan KKM. Dalam makalah ini akan dibahas tentang
penilaian ditinjau dari aspek-aspek yang ada dan bagaimana cara menentukan
KKM.

B. Rumusan Masalah
1
Kusaeri dan Suprananto, Pengukuran dan Penilaian Pendidikan, (Yogyakarta: Graha
Ilmu, 2012), hlm. 3
2
Sudaryono, Dasar-dasar Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012),
hlm. 72

Bertolak pada latar belakang di atas, dapat diambil beberapa rumusan


masalah, sebagai berikut:
1. Apa definisi dari penilaian?
2. Apa saja aspek-aspek yang terkandung dalam penilaian?
3. Bagaimana cara menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)?

C. Tujuan
Dengan adanya pembahasan dalam makalih ini, ekspektasi yang dapat
diambil adalah:
1. Mendeskripsikan definisi penilaian.
2. Mendeskripsikan aspek-aspek yang terkandung dalam penilaian.
3. Mendeskripsikan cara menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

BAB II
PEMBAHASAN
A. Penilaian
2

1. Definisi Penilaian
Penilaian biasanya dimulai dengan kegiatan pengukuran. Segala sesuatu
yang akan dinilai lazimnya diukur dengan beberapa cara sesuai dengan
tujuan dan objek yang dinilai. Contohnya, jika mengukur sebuah lahan
tanah dengan tujuan untuk mengetahui luas permukaannya, maka pada
akhirnya nilai yang dapat ditentukan dari hasil pengukuran tersebut adalah
tanah tersebut luas atau sempit. Suharsimi Arikunto mendefinisikan menilai
adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik
buruk. Penilaian bersifat kualitatif.3 Menurut Anas Sudijono, Penilaian
berarti menilai sesuatu. Sedangkan menilai mengandung arti mengambil
keputusan terhadap sesuatu dengan mendasarkan diri atau berpegang pada
ukuran baik atau buruk, sehat atau sakit, pandai atau bodoh, dan
sebagainya.4
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penilaian merupakan suatu
prosedur sistematis yang mencakup kegiatan mengumpulkan, menganalisis
dan menginterpretasikan informasi yang dapat digunakan untuk membuat
kesimpulan tentang karakteristik seseorang atau objek. Secara khusus dalam
dunia pendidikan Groun dan Linn (1990:5) mendefinisikan penilaian
sebagai suatu proses sistematis yang mencakup kegiatan mengumpulkan,
menganalisis dan menginterpretasikan informasi untuk menentukan
seberapa jauh seorang siswa atau sekelompok siswa mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan, baik aspek pengetahuan, sikap maupun
keterampilan.5
Pendidikan dan penilaian mempunyai hubungan yang sangat erat. Hal ini
ditandai dengan adanya penilaian dalam setiap proses pendidikan, terutama
dalam dunia pendidikan formal. Definisi penilaian dalam pendidikan selalu
erat dengan setiap aspek yang berhubungan dengan pendidikan. Dalam
pendidikan, Penilaian didefinisikan sebagai proses pengumpulan dan
3

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara,

2009) hlm. 3
4
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rajagrafindo persada,
2006), hlm. 4-5
5
Kusaeri dan Suprananto, Pengukuran dan Penilaian Pendidikan, (Yogyakarta: Graha
Ilmu, 2012), hlm. 8

pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta


didik.6
2. Prinsip Penilaian
Beberapa hal penting yang menjadi prinsip penilaian adalah: (1) proses
penilaian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses
pembelajaran, bukan bagian terpisah dari proses pembelajaran (a part of not
a part from instruction); (2) penilaian harus mencerminkan masalah dunia
nyata (real world problem), bukan dunia sekolah (school work-kind of
problems); (3) penilaian harus menggunakan berbagai ukuran, metode dan
kriteria sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar; dan (4)
penilaian harus bersifat holistik yang mencakup semua aspek dari tujuan
pembelajaran (kognitif, afektif dan sensor-motorik) (Depdiknas, 2009:3).
Proses penilaian dan tindak lanjutnya dapat dilihat pada gambar berikut.7

Assesment
Pengukuran
Profil Peserta
Didik

Non
Pengukuran

Tindak Lanjut Hasil


Assesment
Penilaian dalam pendidikan atau lebih detailnya adalah penilaian hasil
belajar peserta didik didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:8
a. Sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan
kemampuan yang diukur.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007


tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah. Hlm. 5
7
Kusaeri..., Pengukuran..., 2012..., hlm. 9
8
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007
tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah. Hlm. 5

b. Objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang


jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai.
c. Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta
didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama,
suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
d. Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu komponen
yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
e. Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian.
f.

Menyeluruh dan berkesinambungan berarti penilaian oleh pendidik


mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai
teknik

penilaian

yang

sesuai,

untuk

memantau

perkembangan

kemampuan peserta didik.


g. Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap
dengan mengikuti langkah-langkah baku.
h. Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian
kompetensi yang ditetapkan.
i.

Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari


segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.

3. Tujuan Penilaian
Tujuan penilaian hendaknya diarahkan pada empat hal berikut: (1)
penelusuran (keeping track), yaitu untuk menelusuri agar proses
pembelajaran tetap sesuai dengan rencana, (2) pengecekan (checking up),
yaitu untuk mengecek kelemahan-kelemahan yang dialami oleh siswa
selama proses pembelajaran, (3) pencarian (finding out), yaitu untuk
mencari dan menemukan hal-hal yang menyebabkan terjadinya kelemahan
dan kesalahan dalam proses pembelajaran, dan (4) penyimpulan (summing
up), yaitu untuk menyimpulkan apakah siswa telah menguasai seluruh
kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum atau belum.9 Secara
sederhana, dari beberapa tujuan penilaian tersebut dapat diketahui
kesesuaian perencanaan pembelajaran dengan aplikasinya, kelemahan9

Kusaeri..., Pengukuran..., 2012..., hlm. 9

kelemahan siswa, penyebab kelemahan dan kesalahan pembelajaran serta


menarik kesimpulan tentang efektifitas pembelajaran terhadap kompetensi
siswa.
Suharsimi Arikunto berpendapat bahwa tujuan atau fungsi penilaian ada
beberapa hal:10
a. Penilaian berfungsi selektif
Dengan mengadakan penilaian, guru mempunyai cara untuk mengadakan
seleksi atau pemilihan terhadap siswanya.
b. Penilaian berfungsi diagnostik
Dengan mengadakan penilaian, guru mengetahui kebaikan dan
kelemahan siswa serta penyebab dari kelemahan tersebut, sehingga lebih
mudah dicari cara untuk mengatasi.
c. Penilaian berfungsi sebagai penempatan
Dengan mengadakan penilaian, guru akan mengetahui dimana seorang
siswa akan dikelompokkan berdasarkan pembagian kelompok belajar.
d. Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan
Dari beberapa fungsi penilaian diatas, pada dasarnya, penilaian
dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil
diterapkan.
4. Teknik dan Instrumen Penilaian
Dalam penilaian terdapat beberapa teknik dan instrumen penilaian:11
a. Penilaian hasil belajar oleh pendidik menggunakan berbagai teknik
penilaian berupa tes, observasi, penugasan perseorangan atau
kelompok, dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik
kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik.
b. Teknik tes berupa tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau tes kinerja.
c. Teknik observasi atau pengamatan dilakukan selama pembelajaran
berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran.
10

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara,


2009) hlm. 10-11
11
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007
tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah. Hlm. 8

d. Teknik penugasan baik perseorangan maupun kelompok dapat


berbentuk tugas rumah dan/atau proyek.
e. Instrumen penilaian hasil belajar yang digunakan pendidik memenuhi
persyaratan (a) substansi, adalah merepresentasikan kompetensi yang
dinilai, (b) konstruksi, adalah memenuhi persyaratan teknis sesuai
dengan bentuk instrumen yang digunakan, dan (c) bahasa, adalah
menggunakan bahasa yang baik dan benar serta komunikatif sesuai
dengan taraf perkembangan peserta didik.
f. Instrumen penilaian yang digunakan oleh satuan pendidikan dalam
bentuk ujian sekolah/madrasah memenuhi persyaratan substansi,
konstruksi, dan bahasa, serta memiliki bukti validitas empirik.
g. Instrumen penilaian yang digunakan oleh pemerintah dalam bentuk
UN memenuhi persyaratan substansi, konstruksi, bahasa, dan
memiliki bukti validitas empirik serta menghasilkan skor yang dapat
diperbandingkan antarsekolah, antardaerah, dan antartahun.
5. Mekanisme dan Prosedur Penilaian
Mekanisme dan prosedur dalam penilaian adalah:12
a. Penilaian hasil belajar pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
dilaksanakan oleh pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah.
b. Perancangan strategi penilaian oleh pendidik dilakukan pada saat
penyusunan silabus yang penjabarannya merupakan bagian dari
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
c. Ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan
kenaikan kelas dilakukan oleh pendidik di bawah koordinasi satuan
pendidikan.
d. Penilaian hasil belajar peserta didik pada mata pela jaran dalam
kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak
diujikan pada UN dan aspek kognitif dan/atau aspek psikomotorik
untuk kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dan
12

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007


tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah. Hlm. 9

kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan


oleh satuan pendidikan melalui ujian sekolah/madrasah untuk
memperoleh pengakuan atas prestasi belajar dan merupakan salah satu
persyaratan kelulusan dari satuan pendidikan.
e. Penilaian akhir hasil belajar oleh satuan pendidikan untuk mata
pelajaran kelompok mata pelajaran estetika dan kelompok mata
pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan ditentukan
melalui rapat dewan pendidik berdasarkan hasil penilaian oleh
pendidik.
f. Penilaian akhir hasil belajar peserta didik kelompok mata pelajaran
agama

dan

akhlak

mulia

dan

kelompok

mata

pelajaran

kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan oleh satuan pendidikan


melalui rapat dewan pendidik berdasarkan hasil penilaian oleh
pendidik dengan mempertimbangkan hasil ujian sekolah/ madrasah.
g. Kegiatan ujian sekolah/madrasah dilakukan dengan langkah-langkah:
(a) menyusun kisi-kisi ujian, (b) mengembangkan instrumen, (c)
melaksanakan ujian, (d) mengolah dan menentukan kelulusan peserta
didik dari ujian sekolah/madrasah, dan (e) melaporkan dan
memanfaatkan hasil penilaian.
h. Penilaian akhlak mulia yang merupakan aspek afektif dari kelompok
mata pelajaran agama dan akhlak mulia, sebagai perwujudan sikap
dan perilaku beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, dilakukan
oleh guru agama dengan memanfaatkan informasi dari pendidik mata
pelajaran lain dan sumber lain yang relevan.
i. Penilaian kepribadian, yang merupakan perwujudan kesadaran dan
tanggung jawab sebagai warga masyarakat dan warganegara yang baik
sesuai dengan norma dan nilai-nilai luhur yang berlaku dalam
kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, adalah bagian dari penilaian
kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian oleh guru
pendidikan kewarganegaraan dengan memanfaatkan informasi dari
pendidik mata pelajaran lain dan sumber lain yang relevan.

j. Penilaian mata pelajaran muatan lokal mengikuti penilaian kelompok


mata pelajaran yang relevan.
k. Keikutsertaan dalam kegiatan pengembangan diri dibuktikan dengan
surat keterangan yang ditandatangani oleh pembina kegiatan dan
kepala sekolah/madrasah.
l. Hasil ulangan harian diinformasikan kepada peserta didik sebelum
diadakan ulangan harian berikutnya. Peserta didik yang belum
mencapai KKM harus mengikuti pembelajaran remedi.
m. Hasil penilaian oleh pendidik dan satuan pendidikan disampaikan
dalam bentuk satu nilai pencapaian kompetensi mata pelajaran,
disertai dengan deskripsi kemajuan belajar. Kegiatan penilaian oleh
pemerintah dilakukan melalui UN dengan langkah-langkah yang
diatur dalam Prosedur Operasi Standar (POS) UN.
n. UN diselenggarakan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)
bekerjasama dengan instansi terkait.
o. Hasil UN disampaikan kepada satuan pendidikan untuk dijadikan
salah satu syarat kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan dan
salah satu pertimbangan dalam seleksi masuk ke jenjang pendidikan
berikutnya.
p. Hasil analisis data UN disampaikan kepada pihakpihak yang
berkepentingan untuk pemetaan mutu program dan/atau satuan
pendidikan serta pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan
pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan

6. Penilaian Oleh Pendidik


Penilaian

hasil

belajar

oleh

pendidik

dilakukan

secara

berkesinambungan, bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan belajar


peserta didik serta untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran.
Penilaian tersebut meliputi kegiatan sebagai berikut:13
13

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007


tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah. Hlm. 12

a. menginformasikan silabus mata pelajaran yang di dalamnya memuat


rancangan dan kriteria penilaian pada awal semester.
b. mengembangkan indikator pencapaian KD dan memilih teknik
penilaian yang sesuai pada saat menyusun silabus mata pelajaran.
c. mengembangkan instrumen dan pedoman penilaian sesuai dengan
bentuk dan teknik penilaian yang dipilih
d. melaksanakan tes, pengamatan, penugasan, dan/atau bentuk lain yang
diperlukan.
e. mengolah hasil penilaian untuk mengetahui kemajuan hasil belajar
dan kesulitan belajar peserta didik.
f. mengembalikan hasil pemeriksaan pekerjaan peserta didik disertai
balikan/komentar yang mendidik.
g. memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan pembelajaran.
h. melaporkan hasil penilaian mata pelajaran pada setiap akhir semester
kepada pimpinan satuan pendidikan dalam bentuk satu nilai prestasi
belajar peserta didik disertai deskripsi singkat sebagai cerminan
kompetensi utuh.
i. melaporkan hasil penilaian akhlak kepada guru Pendidikan Agama
dan

hasil

penilaian

kepribadian

kepada

guru

Pendidikan

Kewarganegaraan sebagai informasi untuk menentukan nilai akhir


semester akhlak dan kepribadian peserta didik dengan kategori sangat
baik, baik, atau kurang baik

7. Penilaian oleh Satuan Pendidikan


Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dilakukan untuk menilai
pencapaian kompetensi peserta didik pada semua mata pelajaran. Penilaian
tersebut meliputi kegiatan sebagai berikut:14

14

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007


tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah. Hlm. 13

10

a. menentukan KKM setiap mata pelajaran dengan memperhatikan


karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran, dan kondisi
satuan pendidikan melalui rapat dewan pendidik.
b. mengkoordinasikan ulangan tengah semester, ulangan akhir semester,
dan ulangan kenaikan kelas.
c. menentukan kriteria kenaikan kelas bagi satuan pendidikan yang
menggunakan sistem paket melalui rapat dewan pendidik.
d. menentukan kriteria program pembelajaran bagi satuan pendidikan
yang menggunakan sistem kredit semester melalui rapat dewan
pendidik.
e. menentukan nilai akhir kelompok mata pelajaran estetika dan kelompok
mata pelajaran pendidikan jasmani, olah raga dan kesehatan melalui
rapat dewan pendidik dengan mempertimbangkan hasil penilaian oleh
pendidik.
f. menentukan nilai akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak
mulia dan kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian
dilakukan melalui rapat dewan pendidik dengan mempertimbangkan
hasil penilaian oleh pendidik dan nilai hasil ujian sekolah/madrasah.
g. menyelenggarakan ujian sekolah/madrasah dan menentukan kelulusan
peserta didik dari ujian sekolah/madrasah sesuai dengan POS Ujian
Sekolah/ Madrasah bagi satuan pendidikan penyelenggara UN.
h. melaporkan hasil penilaian mata pelajaran untuk semua kelompok mata
pelajaran pada setiap akhir semester kepada orang tua/wali peserta didik
dalam bentuk buku laporan pendidikan.
i. melaporkan pencapaian hasil belajar tingkat satuan pendidikan kepada
dinas pendidikan kabupaten/kota.
j. menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan melalui
rapat dewan pendidik sesuai dengan kriteria:
1) menyelesaikan seluruh program pembelajaran.
2) memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh
mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;
kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; kelompok
11

mata pelajaran estetika; dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga,


dan kesehatan.
3) lulus ujian sekolah/madrasah.
4) lulus UN.
k. enerbitkan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) setiap
peserta didik yang mengikuti Ujian Nasional bagi satuan pendidikan
penyelenggara UN.
l. menerbitkan ijazah setiap peserta didik yang lulus dari satuan
pendidikan bagi satuan pendidikan penyelenggara UN
B. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
1. Definisi
Salah satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah
menggunakan acuan kriteria, yakni menggunakan kriteria tertentu dalam
menentukan kelulusan peserta didik. Kriteria paling rendah untuk
menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan dinamakan Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM). KKM yang dikembangkan dalam Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 merupakan penyempurnaan dari
Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) yang pernah diterapkan pada
kurikulum 2004 (KBK). Dalam peraturan menteri pendidikan nasional No.
20 tahun 2007 tentang standar penilaian pendidikan mendefinisikan bahwa
KKM Adalah kriteria ketuntasan belajar (KKB) yang ditentukan oleh satuan
pendidikan.15
Kriteria ketuntasan minimal ditetapkan oleh satuan pendidikan
berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran di satuan pendidikan
atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki karakteristik yang hampir
sama. Pertimbangan pendidik atau forum MGMP secara akademis menjadi
pertimbangan utama penetapan KKM.16
15

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007


tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah. Hlm. 7
16
Ahmad Sudrajat, Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) (PDF) dalam
https://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/08/penetapan-kkm.pdf Diakses pada 4 April
2015 pukul 01.42 wib hlm. 3

12

Kriteria ketuntasan minimal menjadi acuan bersama pendidik, peserta


didik, dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu pihak-pihak yang
berkepentingan terhadap penilaian di sekolah berhak untuk mengetahuinya.
Satuan pendidikan perlu melakukan sosialisasi agar informasi dapat diakses
dengan mudah oleh peserta didik dan atau orang tuanya. Kriteria ketuntasan
minimal harus dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar (LHB) sebagai
acuan dalam menyikapi hasil belajar peserta didik.17
2. Prinsip penetapan KKM
Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal perlu mempertimbangkan
beberapa ketentuan sebagai berikut:18
a. Penetapan KKM merupakan kegiatan pengambilan keputusan yang
dapat dilakukan melalui metode kualitatif dan atau kuantitatif. Metode
kualitatif dapat dilakukan melalui professional judgement oleh pendidik
dengan mempertimbangkan kemampuan akademik dan pengalaman
pendidik mengajar mata pelajaran di sekolahnya. Sedangkan metode
kuantitatif dilakukan dengan rentang angka yang disepakati sesuai
dengan penetapan kriteria yang ditentukan;
b. Penetapan nilai kriteria ketuntasan minimal dilakukan melalui analisis
ketuntasan

belajar

minimal

pada

setiap

indikator

dengan

memperhatikan kompleksitas, daya dukung, dan intake peserta didik


untuk mencapai ketuntasan kompetensi dasar dan standar kompetensi
c. Kriteria ketuntasan minimal setiap Kompetensi Dasar (KD) merupakan
ratarata dari indikator yang terdapat dalam Kompetensi Dasar tersebut.
Peserta didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan belajar untuk KD
tertentu apabila yang bersangkutan telah mencapai ketuntasan belajar
minimal yang telah ditetapkan untuk seluruh indikator pada KD
tersebut;
d. Kriteria

ketuntasan

minimal

setiap

Standar

Kompetensi

(SK)

merupakan rata-rata KKM Kompetensi Dasar (KD) yang terdapat


dalam SK tersebut;
17
18

Ahmad..., Penetapan...(pdf), hlm. 3


Ahmad..., Penetapan...(pdf), hlm. 5

13

e. Kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran merupakan rata-rata dari


semua KKM-SK yang terdapat dalam satu semester atau satu tahun
pembelajaran, dan dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar
(LHB/Rapor) peserta didik;
f. Indikator merupakan acuan/rujukan bagi pendidik untuk membuat soalsoal ulangan, baik Ulangan Harian (UH), Ulangan Tengah Semester
(UTS) maupun Ulangan Akhir Semester (UAS). Soal ulangan ataupun
tugas-tugas harus mampu mencerminkan/menampilkan pencapaian
indikator yang diujikan. Dengan demikian pendidik tidak perlu
melakukan pembobotan seluruh hasil ulangan, karena semuanya
memiliki hasil yang setara;
g. Pada setiap indikator atau kompetensi dasar dimungkinkan adanya
perbedaan nilai ketuntasan minimal.
3. Langkah-langkah Penentuan KKM
Penetapan KKM dilakukan oleh guru atau kelompok guru mata
pelajaran. Langkah penetapan KKM adalah sebagai berikut:19
a. Guru atau kelompok guru menetapkan KKM mata pelajaran dengan
mempertimbangkan tiga aspek kriteria yaitu kompleksitas, daya dukung,
dan intake peserta didik dengan skema sebagai berikut:

KKM
Indikator

KKM KD

KKM MP

KKM SK

Hasil penetapan KKM indikator berlanjut pada KD, SK hingga KKM


mata pelajaran;
b. Hasil penetapan KKM oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran
disahkan oleh kepala sekolah untuk dijadikan patokan guru dalam
melakukan penilaian;

19

Ahmad..., Penetapan...(pdf), hlm. 5

14

c. KKM yang ditetapkan disosialisaikan kepada pihak-pihak yang


berkepentingan, yaitu peserta didik, orang tua dan dinas pendidikan;
d. KKM dicantumkan dalam LHB pada saat hasil penilaian dilaporkan
kepada orang tua/wali peserta didik.
4. Penentuan Kriteria Ketuntasan Minimal
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penentuan kriteria ketuntasan
minimal adalah:20
a. Tingkat kompleksitas, kesulitan/kerumitan setiap indikator, kompetensi
dasar, dan standar kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik.
Suatu indikator dikatakan memiliki tingkat kompleksitas tinggi, apabila
dalam pencapaiannya didukung oleh sekurang-kurangnya satu dari
sejumlah kondisi sebagai berikut:
1) Guru yang memahami dengan benar kompetensi yang harus
dibelajarkan pada peserta didik;
2) Guru yang kreatif dan inovatif dengan metode pembelajaran yang
bervariasi;
3) Guru yang menguasai pengetahuan dan kemampuan sesuai bidang
yang diajarkan;
4) Peserta didik dengan kemampuan penalaran tinggi;
5) Peserta didik yang cakap/terampil menerapkan konsep;
6) Peserta didik yang cermat, kreatif dan inovatif dalam penyelesaian
tugas/pekerjaan;
7) Waktu yang cukup lama untuk memahami materi tersebut karena
memiliki tingkat kesulitan dan kerumitan yang tinggi, sehingga dalam
proses pembelajarannya memerlukan pengulangan/latihan;
8) Tingkat kemampuan penalaran dan kecermatan yang tinggi agar
peserta didik dapat mencapai ketuntasan belajar.
Contoh:
SK

: Iman Kepada Allah (Melalui Asmaul Husna)

KD

: Memahami makna Asmaul Husna

20

Ahmad..., Penetapan...(pdf), hlm. 5

15

Indikator

: Siswa mampu menjelaskan makna Asmaul Husna

b. Kemampuan Sumber Daya Pendukung dalam Penyelenggaraan


Pembelajaran pada Masing-Masing Sekolah
1) Sarana dan prasarana pendidikan yang sesuai dengan tuntutan
kompetensi yang harus dicapai peserta didik seperti perpustakaan,
laboratorium, dan alat/bahan untuk proses pembelajaran;
2) Ketersediaan

tenaga,

manajemen

sekolah,

dan

kepedulian

Stakeholders sekolah.
Contoh:
SK

: Memahami Tata Cara Bersuci

KD

: Mempraktekan Wudlu

Indikator

: Siswa mampu mempraktekkan Wudlu dengan baik


dan benar

Daya dukung untuk Indikator ini tinggi apabila sekolah mempunyai


sarana prasarana yang cukup untuk melakukan percobaan, dan guru
mampu menyajikan pembelajaran dengan baik. Tetapi daya dukungnya
rendah apabila sekolah tidak mempunyai sarana untuk melakukan
percobaan atau guru tidak mampu menyajikan pembelajaran dengan
baik.
c. Tingkat kemampuan (intake) rata-rata peserta didik di sekolah yang
bersangkutan
Penetapan intake di kelas X dapat didasarkan pada hasil seleksi pada saat
penerimaan peserta didik baru, Nilai Ujian Nasional/Sekolah, rapor SMP,
tes seleksi masuk atau psikotes; sedangkan penetapan intake di kelas XI
dan XII berdasarkan kemampuan peserta didik di kelas sebelumnya.
Contoh penetapan KKM
Untuk memudahkan analisis setiap indikator, perlu dibuat skala penilaian
yang disepakati oleh guru mata pelajaran. Contoh:
Aspek yang dianalisis
Kompleksitas

Kriteria dan Skala Penilaian


Tinggi <65
Sedang
65-79

Rendah
80-100
16

Daya Dukung

Tinggi
80-100
Tinggi
80-100

Intake Siswa

Sedang
65-79
Sedang
65-79

Rendah
<65
Rendah
<65

Atau dengan menggunakan poin/skor pada setiap kriteria yang


ditetapkan.
Aspek yang dianalisis
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake Siswa

Kriteria dan Skala Penilaian


Tinggi 1
Sedang 2
Tinggi 3
Sedang 2
Tinggi 3
Sedang 2

Rendah 3
Rendah 1
Rendah 1

Jika indikator memiliki kriteria kompleksitas tinggi, daya dukung tinggi


dan intake peserta didik sedang, maka nilai KKM-nya adalah:
1+3+2
X 100 = 66, 7
9
Nilai KKM merupakan angka bulat, maka nilai KKM-nya adalah 67.

Contoh:
Penentuan Kriteria Ketuntasan Minimal per KD & Indikator
Mata Pelajaran

: Shalat Jama Qashar

Kelas/Semester

: VII/Genap

SK

: Memahami Tata Cara Shalat Jama Qashar


Kriteria Pencapaian Ketuntasan Belajar
Siswa

KD/Indikator
Komplek
Sitas

Daya
Dukung

Intake

Kriteria
Ketuntasan
Minimal
Penget.

Prakt
.

72

72

1. Mempraktekkan shalat
Jama Qashar dengan

17

baik dan benar.

Rendah (80)

Tinggi (80)

Sedang (70)

76,6

a.

Niat

Sedang (70)

Tinggi (80)

Sedang (70)

73,3

b.

Gerakan

Tinggi (65)

Tinggi (80)

Rendah (65)

70

c.

Bacaan Shalat

Nilai KKM KD merupakan angka bulat, maka nilai KKM 72,47 dibulatkan
menjadi 72

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penilaian berarti menilai sesuatu. Sedangkan menilai mengandung arti
mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan mendasarkan diri atau
berpegang pada ukuran baik atau buruk, sehat atau sakit, pandai atau bodoh,
dan sebagainya. Penilaian bersifat kualitatif
Aspek-aspek yang terkandung dalam penilaian adalah:
1. Prinsip Penilaian
2. Tujuan Penilaian
3. Teknik dan instrumen
4. Mekanisme dan prosedur
18

5. Penilaian oleh pendidik


6. Penilaian oleh satuan pendidikan
Penentuan KKM hendaknya dilakukan dengan menggunakan beberapa
prinsip berikut: (1) Penentuan KKM dapat dilakukan melalui metode kualitatif
dan atau kuantitatif. Metode kualitatif oleh pendidik sesuai pengalaman
mengajar dan metode kuantitatif dilakukan dengan rentang angka yang
disepakati sesuai penetapan kriteria yang ditentukan; (2) Penetapan nilai
kriteria ketuntasan minimal dilakukan dengan memperhatikan kompleksitas,
daya dukung, dan intake peserta didik untuk mencapai ketuntasan kompetensi
dasar dan standar kompetensi; (3) Kriteria ketuntasan minimal setiap
Kompetensi Dasar (KD) merupakan rata-rata dari indikator yang terdapat
dalam Kompetensi Dasar; (4) Kriteria ketuntasan minimal setiap Standar
Kompetensi (SK) merupakan rata-rata KKM Kompetensi Dasar (KD) yang
terdapat dalam SK tersebut; (5) Kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran
merupakan rata-rata dari semua KKM-SK yang terdapat dalam satu semester
atau satu tahun pembelajaran, dan dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar
(LHB/Rapor) peserta didik; (6) Indikator merupakan acuan/rujukan bagi
pendidik untuk membuat soal-soal ulangan yang mencerminkan pencapaian
indikator; dan (7) Pada setiap indikator atau kompetensi dasar dimungkinkan
adanya perbedaan nilai ketuntasan minimal.
Sedangkan langkah-langkah yang harus ditempuh untuk menentukan KKM
adalah: (1) Guru atau kelompok guru menetapkan KKM mata pelajaran dengan
mempertimbangkan aspek kompleksitas, daya dukung, dan intake. (2) Hasil
penetapan KKM oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran disahkan oleh
kepala sekolah untuk dijadikan patokan guru dalam melakukan penilaian; (3)
KKM

yang

ditetapkan

disosialisaikan

kepada

pihak-pihak

yang

berkepentingan, yaitu peserta didik, orang tua dan dinas pendidikan; (4) KKM
dicantumkan dalam LHB pada saat hasil penilaian dilaporkan kepada orang
tua/wali peserta didik. Selanjutnya, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
penentuan KKM adalah tingkat kompleksitas, kemampuan sumber daya
pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran pada masing-masing sekolah

19

dan tingkat kemampuan (intake) rata-rata peserta didik di sekolah yang


bersangkutan.

DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 2009, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta:
Bumi Aksara
Kusaeri.dkk. 2012, Pengukuran dan Penilaian Pendidikan, Yogyakarta:
Graha Ilmu
Sudaryono. 2012, Dasar-dasar Evaluasi Pembelajaran, Yogyakarta:
Graha Ilmu
Sudijono, Anas. 2006, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta:
Rajagrafindo persada
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20
Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Hlm. 5
20

Sudrajat, Ahmad. Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) (PDF)


dalam
https://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/08/penetapan-kkm.pdf
Diakses pada 4 April 2015 pukul 01.42 wib hlm. 3

21