Anda di halaman 1dari 25

MONOPOLI TAKSI

Armedia Lintang
Diyah Pramita
Feriawan Aji Aryanto
Ila Nurhidayati
Muhammad Rifky Refinaldi

DI BANDARA
INTERNASIONAL
SULTAN HASANUDDIN
MAKASSAR

I. PENDAHULUAN

Video 1
Video 2

Jasa Taksi Bandara Pelayanan jasa taksi


yang dikelola oleh pihak pengelola
bandara
Pihak pengelola yakni PT. Angkasa Pura I
(selanjutnya disebut AP I) memiliki
layanan angkutan taksi di bandara yang
bernama Kopsidara (Koperasi Taksi
Bandar Udara Hasanuddin)
Taksi bandara dalam operasionalnya
diberikan kebebasan untuk mengangkut
penumpang dari dan ke bandara, mesin
agrometer tidak dipergunakan,
menggunakan tarif yang telah ditentukan
oleh koperasi taksi bandara.
Dugaan praktik monopoli dan persaingan
usaha tidak sehat oleh pihak pengelola
yakni PT. AP I

Komisi Pengawas Persaingan Usaha


(KPPU) melakukan pemeriksaan

adanya dugaan pelanggaran


terhadap Undang-Undang No. 5
Tahun 1999 tentang Larangan Praktik

Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak


Sehat. Dengan indikasi:
1. Pembatasan operator yang dilakukan
oleh AP I
2. Pembatasan unit armada operator
kecuali Taksi Kopsidara
3. Biaya operasional angkutan yang
ditetapkan secara berlebihan

Realisasinya, AP I membuka
kesempatan berusaha kepada 7
operator angkutan darat (taksi, sewa,
dan bus) yang sebelumnya pernah
mengajukan permohonan kepada AP I,
yakni:
1. Perusda Maros
: 10 taksi/sewa
2. CV. Anugerah Karya
: 10 taksi/sewa
3. PT. Bandar Avia Mandiri: 10 taksi/sewa
4. Primkopau Lanud Hasanuddin: 10 taksi
5. PT. Bosowa Utama
: 10 taksi
6. PT. Putra Transport Nusantara: 10 taksi
7. Perum Damri
: 2 bus

II. DASAR HUKUM

Undang-Undang No. 5 Tahun


1999 tentang Larangan Praktik
Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat:

Pasal 1 UU No. 5 Tahun 1999


1.
2.

3.

4.

5.

Angka (3): penguasaan yang nyata atas suatu pasar

bersangkutan oleh satu atau lebih pelaku usaha sehingga


dapat menentukan harga barang dan/atau jasa.
Angka (5): orang perorangan atau badan usaha, baik yang
berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum yang
didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam
wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri
maupun bersama-sama melalui perjanjian,
menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang
ekonomi.
Angka (6): persaingan antar pelaku usaha dalam
menjalankan kegiatan produksi dan/atau pemasaran
barang dan/atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak
jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan
usaha.
Angka (10): pasar yang berkaitan dengan jangkauan atau
daerah pemasaran tertentu oleh pelaku usaha atas barang
dan/atau jasa yang sama atau sejenis atau substitusi dari
barang dan/atau jasa tersebut
Angka (17): setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau
prestasi yang diperdagangkan dalam masyarakat untuk
dimanfaatkan oleh konsumen atau pelaku usaha.

Pasal 17 UU No. 5 Tahun 1999


(1) Pelaku usaha dilarang melakukan penguasaan
atas produksi dan/atau pemasaran barang
dan/atau jasa yang dapat mengakibatkan
terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan
usaha tidak sehat.
(2) Pelaku usaha patut diduga atau dianggap
melakukan penguasaan atas produksi dan/atau
pemasaran barang dan/atau jasa sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) apabila:
a. Barang dan/atau jasa yang bersangkutan belum
ada substitusinya; atau
b. Mengakibatkan pelaku usaha lain tidak dapat
masuk ke dalam persaingan usaha barang dan/atau
jasa yang sama; atau
c. Satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha
menguasai lebih dari 50% (lima puluh persen)
pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.

Pasal 19 UU No. 5 Tahun 1999


Mengatur mengenai penguasaan pasar menyebutkan bahwa:
Pelaku usaha dilarang melakukan satu atau beberapa kegiatan, baik
sendiri maupun bersama pelaku usaha lain, yang dapat
mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan
usaha tidak sehat berupa:
a) Menolak dan/atau menghalangi pelaku usaha tertentu
untuk melakukan kegiatan usaha yang sama pada pasar
bersangkutan; atau
b) Menghalangi konsumen atau pelanggan pelaku usaha
pesaingnya untuk tidak melakukan hubungan usaha dengan
pelaku usaha pesaingnya itu; atau
c) Membatasi peredaran dan/atau penjualan barang dan/atau
jasa pada pasar bersangkutan; atau
d) Melakukan praktik diskriminasi terhadap pelaku usaha
tertentu.

III. PERMASALAHAN

Kronologi Masalah
Sekretarian KPPU
menerima LPHM
tentang adanya
praktek monopoli
taksi bandara oleh
Kopsidara

Tim Pemeriksa
merekomendasika
n kepada Rapat
Komisi agar
pemeriksaan
dilanjutkan

KPPU menerbitkan
penetapan Nomor
82/KPPU/PEN/VII/
2009 tanggal 29
Juli 2009 untuk
melakukan
pemerikasaan
lebih lanjut (29 Jul
09- 9 Sep 09)

Tim KPPU
membuat Laporan
Pemeriksaan yang
berisi dugaan
pelanggaran pasal
17 dan pasal 19
huruf (a), (c) dan
(d) UU No. 5/1999
dan fakta-fakta
pelanggaran

Fakta-fakta pelanggaran
1

Tahun 1995 Koperasi Taksi Bandara (Kopsidara) mulai dioperasikan


di Sultan Hasanudin

Hanya taksi yang tergabung di Kopsidara yang diperbolehkan


beroperasi dan mengambil penumpang di Bandara Sultan
Hassanudin

Keberdaan Kopsidara diperkuat oleh SK Gub Sulsel No 194/2003

Dilakukan advokasi sehingga tgl 12 Des 08, PT AP I mengeluarkan


AP1.499/OP.90.2.5/2008/DU-B

Realisasinya PT AP I membuka kesempatan kepada 7 operator taksi

Berdasarkan Data Dinas Perhub Prov Sul Sel terdapat 5 operator


taksi yang tidak mendapat kesempatan untuk beroperasi di
Bandara

PT AP I Cabang Bandara Internasional Sultan Hasanudin


menetapkan pembatasan kuota masing-masing 10 unit/operator+
biaya operasional

Putusan KPPU No. 18/KPPU-I/2009

Diduga adanya
Pelanggaran pasal
17 dan pasal 19 UU
Nomor 5 Tahun
1999 terkait Jasa
Pelayanan Taksi

1. Menyatakan pihak AP I tidak


melanggar 17 UU No. 5/1999
dan Pasal 19 (c) UU No.
5/1999
3. KPPU memerintahkan AP I
memberikan kesempatan
operator taksi lain yg telah
mendapat perizinan dari dinas
perhubungan Sulawesi
Selatan untuk beroperasi di
bandara

23 maret 2011
KPPU mengajukan permohonan kasasi
kepada MA dan MA mengabulkan
permohonan kasasi KPPU

2. AP I melanggar Pasal 19
huruf (a) dan (b) UU No.
5/1999 tentang Larangan
Praktik Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak
Sehat.
4. Menghukum AP I
membayar denda sebesar
Rp. 1M yang harus disetor
ke Kas Negara

8 Maret 2010
KPPU mengajukan putusan No.
18/KPPU-I/2009 dan dinyatakan batal
oleh PN Makassar melalui keputusan
No. 01/Pdt.KPPU/2010/PN.Mks
tanggal 26-july-2010.

Pertimbangan Keputusan MA
(Mahkamah Agung)
1.

2.

3.

Bahwa 2 (dua) dari 7 (tujuh) operator yang beroperasi di


Bandara Internasional Sultan Hasanuddin (Primkopau Lanud
Hasanuddin dan CV. Anugerah Karya) belum mendapat izin
beroperasi dari Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan.
Bahwa terdapat operator taksi lain (PT. Lima Muda Nusantara
dan kawan-kawan) yang telah memiliki izin operasi dari Dinas
Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan justru tidak
memperoleh izin jasa layanan taksi dari termohon kasasi,
sehingga terbukti adanya diskriminasi.
Bahwa berdasarkan fakta hukum, PT. Angkasa Pura (Persero)
cabang Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar
salah menerapkan kebijakan, menghalangi pelaku usaha untuk
melakukan kegiatan usaha (hanya beberapa operator yang
diizinkan), sehingga menimbulkan diskriminasi dan monopoli
(melanggar Pasal 19 huruf (a) dan Pasal 19 huruf (d) UndangUndang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli
dan Persaingan Tidak Sehat).

Rumusan Masalah
Apakah ada dugaan
Pelanggaran Pasal 17
dan 19 huruf (a), (c),
dan (d) UU Nomor 5
Tahun 1999 yang
dilakukan oleh PT.
Angkasa Pura I
(Persero) Cabang
Bandara
Internasional Sultan
Hasanuddin terkait
Jasa Pelayanan
Taksi?

Bagaimana
keputusan KPPU
dalam memutuskan
masalah dalam kasus
monopoli taksi di
Bandara
International Sultan
Hassanudin
Makassar? Dan
analisis kelompok
kami?

IV. PEMBAHASAN

Dugaan Pelanggaran Pasal 17 UU No. 5/1999

Berdasarkan pasal 17 ayat 2 huruf


(c) yang menyatakan bahwa:
suatu pelaku usaha atau satu
kelompok pelaku usaha menguasai
lebih dari 50% pangsa pasar satu
jenis barang atau jasa tertentu

Pada Faktanya Taksi


Kopsidara menguasai lebih
dari 50% pangsa pasar di
Bandara Sultan
Hasanuddin Makassar

Sudah jelas PT
AP I
melanggar
pasal 17

Dugaan Pelanggaran Pasal 19 UU No. 5/1999

Berdasarkan pasal 19 huruf


(a) dan (d) yang dimana
adanya menghalangi dan
praktek diskriminasi terhadap
pelaku usaha lainnya

Pada faktanya Kopsidara


melakukan pembatasan
operator dan pengaturan
harga operasional dan
pembatasan jumlah armada.

Analisis kelompok:
Putusan KPPU No. 18/KPPUI/2009
AP I melanggar Pasal 19 huruf
(a) dan (b) UU No. 5/1999
tentang Larangan Praktik
Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat.

Setuju,
PT. AP I cabang Makassar
menguasai lebih dari 50%
pangsa pasar dengan 185 unit
dari kopsidara.

PT. AP I cabang Makassar terbukti


menetapkan biaya operasional
angkutan darat dibandara
International Sultan Hassanudin.
Pihak PT. AP I cabang Makassar
membatasai peredaran unit
operator bandara hanya sekitar
10 unit, sedangkan takti
kopsidara tidak ada pembatasan.

V. KESIMPULAN & SARAN

Kesimpulan
PT. AP I Cabang Makassar tidak
terbukti melanggar Pasal 17 dan Pasal
19 huruf (c) UU Nomor 5/1999.
PT. AP I Cabang Makassar terbukti
secara sah dan meyakinkan
melanggar Pasal 19 huruf (a) dan (d)
UU Nomor 5/1999.
KPPU dalam memutuskan ada atau
tidaknya pelanggaran tidak
menggunakan pendekatan per-se
illegal tetapi KPPU menilai keputusan
akhir dengan melihat beberapa
pertimbangan (rule of reason)

Saran
Memerintahkan PT. AP I Cabang
Bandara Sultan Hassanudin
Makassar membuka kesempatan
bagi operator taksi yang telah
memiliki Izin Operasi dari Dinas
Perhubungan Provinsi Sulawesi
Selatan untuk mendapatkan Izin
Berusaha di bandara.
Lebih memperketat penyeleksian
operator taksi di wilayah
Makassar yang ingin beroperasi
di bandara Sultan Hassanudin